Anda di halaman 1dari 40

ANALISA PENYEBAB KERUSAKAN

I NPUT SHAFT PADA FI NAL DRI VE UNIT GD 825A-2


DI PT. KOMATSU REMANUFACTURING ASIA



PROPOSAL

KARYA TULIS INI DIAJUKAN SEBAGAI SALAH SATU SYARAT
UNTUK MEMPEROLEH GELAR AHLI MADYA DARI
POLITEKNIK NEGERI BALIKPAPAN























MOCHAMMAD ICHWAN IRAWAN
NIM : 100309155091




POLITEKNIK NEGERI BALIKPAPAN
JURUSAN TEKNIK MESIN ALAT BERAT
BALIKPAPAN
2014



DAFTAR ISI
Halama
LEMBAR PERSETUJUAN............................................................................... i
KATA PENGANTAR .......................................................................................
ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................
iv
DAFTAR GAMBAR .........................................................................................
vii
DAFTAR TABEL ..............................................................................................
viii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .........................................................................................
1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................
3
1.3 Batasan Masalah.......................................................................................
3
1.4 Tujuan ......................................................................................................
3
1.5 Manfaat ....................................................................................................
3
1.6 Sistematika Penulisan...............................................................................
4
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Pengenalan unit motor grader grader ......................................................
5
2.2 Final drive motor grader secara umum ...................................................
6
2.3 Komponen Wheel Rear Axle ....................................................................
7
2.3.1 Fungsi Transmisi .............................................................................
7
2.3.2 Fungsi Drive Shaft ..........................................................................
8
2.3.3 Fungsi Rear Axle .............................................................................
8
2.3.4 Fungsi Final Drive ..........................................................................
8
2.4 Cara Kerja Sistem Final Drive dan Tandem ............................................
9
2.5 Planetary gear set ....................................................................................
9
2.6 Bearing .....................................................................................................
10
2.7 Sifat-sifat mekanika bahan ......................................................................
23
2.8 Gaya gesekan ..........................................................................................
24
2.9 Analisa Patahan .......................................................................................
25
2.10 Pengamatan Rupture ...............................................................................
26
2.11 Fatigue Rupture ......................................................................................
26
2.12 Brittle Fracture. .....................................................................................
27
2.13 Spindle Fracture ......................................................................................
29
2.14 Maintenance ............................................................................................
32
2.14.1 Tujuan mainteence .......................................................................
32
2.14.2 klasifikasi maintenance ................................................................
32
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian .........................................................................................
34
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ..................................................................
34
3.3 Metode Pengumpulan Data ......................................................................
34
3.4 Instrumen Penelitian.................................................................................
35
3.5 Diagram Alir Metode Penelitian ..............................................................
36
3.5.1 Tahap Persiapan .............................................................................
37
3.5.2 Tahap Pengumpulan Data ................................................................
37
3.5.3 Tahap Pengelompokan Data ............................................................
38
3.5.4 Tahap Analisa dan Kesimpulan .......................................................
38

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN LAMPIRAN






DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar1.1 Diagram component in 2013
2
Gambar 2.1 Motor Grader GD 825A-2 5
Gambar 2.2 Final drive secara umum 6
Gambar 2.3 Komponen Wheel Rear Axle 7
Gambar 2.4 Tandem di motor grader 9
Gambar 2.5 planetary gear 10
Gambar 2.6 Bearing. 11
Gambar 2.7 bearing pada input shaft 11
Gambar 2.8 fatigue crack growth 27
Gambar 2.9 Characteistics Brittle 27
Gambar 2.10 Contoh Characteistics Brittle 28
Gambar 2.11 Contoh Brittle fracture of wrought part 28
Gambar 2.12 Contoh patahan Spindle 29
Gambar 2.13 View dari dekat patahan spindle 30
Gambar 2.14 Zoom dari fillet spindle 30
Gambar 2.15 Rekahan spindle lebih dekat 31
















DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Proses dis-assembly GD 825A-2 12
Tabel 2.2 Proses assembly GD 825A-2 17
Tabel 3.1 Pengumpulan data dan metode pengumpulan
data
35




























BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam era globalisasi ini, pertambangan batu bara merupakan salah satu
sektor yang terbesar di indonesia dan berperan meningkatkan sistem
perekonomian di indonesia. Kekayaan alam yang begitu banyak harus bisa
dikelola oleh pemerintah dan hasilnya dapat dinikmati oleh masyarakat indonesia.
Job site yang merupakan lokasi pertambangaan batu bara. Salah satu unit yang
menunjang produksi penambangan yaitu Motor Grader (GD), dimana Motor
Grader berfungsi sebagai alat untuk membuat jalan, seperti membentuk jalan,
meratakan jalan dan finishing, karena Motor Grader GD 825A-2 di lengkapi
beberapa alat-alat perlengkapan kerja yang terpasang pada Motor Grader GD
825A-2 yang digunakan untuk memenuhi pekerjaan-pekerjaan tersebut. Salah
satu alat perlengkapan kerja tersebut yang utama adalah blade yang berfungsi
meratakan tanah pada saat melakukan grading. dalam penerapan di lapangan tidak
mungkin keadaan unit selalu dalam keadaan baik, pasti ada seusatu hal yang
menyebabkan unit tersebut mengalami kerusakan. dan salah satu komponen yang
sering mengalami keusakan adalah final drive. Apabila hal tersebut terjadi, maka
harus segera dilakukan overhaul pada final drive tersebut. dan final drive tersebut
harus segera di kirim ke perusahaan manufacturing agar bias dilakukan proses
disassembly untuk mengetahui kerusakan apa yang terjadi dalam final drive
tersebut.
Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang remanufacturing ini adalah
tempat saat penulis melakukan OJT (On The Job Training) di PT.KOMATSU
REMANFUACTURING ASIA Balikpapan, perusahaan ini bergerak di bidang
remanufacturing khusus untuk komponen dari jenis-jenis komatsu baik unit heavy
duty dump truck, dozer, grader, serta wheel loader. Salah satu upaya yag
dilakukan oleh PT.KOMATSU REMANUFACTURING ASIA agar menjaga
target produksinya tetap tercapai adalah dengan cara meminimalisirkan kerusakan
pada komponen suatu unitnya apabila komponen tersebut sering break down agar
komponen tersebut menjadi lebih siap dan layak pakai dalam jangka waktu yang
lama. Saat penulis melakukan OJT (On The Job Training) di PT.KOMATSU
REMANUFACTURING ASIA, penulis mengamati beberapa kerusakan yang
terjadi pada komponen-komponen yang datang dari site. Salah satu komponen
yang mengalami kerusakan tersebut dan dikirim ke perusahaan ini adalah
kerusakan terjadi permasalahan di bagian Final drive pada Motor Grader. Salah
satu permasalahan yang membuat penulis tertarik adalah Input Shaft Broken pada
Unit Grader GD825A-2.
Penulis mengumpulkan data-data waktu unit melaksanakan schedule
overhoul yaitu pada unit Motor Grader GD 825A-2 selama tahun 2013, agar
pembaca dapat mengerti apakah unit tersebut sedang dalam kondisi bermasalah
atau normal. Unit Motor Grader dalam tahun 2013 yang melaksanakan perbaikan
di PT.Komatsu Remanufacturing Asia.

Gambar 1.1 :Diagram component in 2013
Keterangan Grafik :
A. Keterangan Sumbu :
1. Sumbu X Menunjukan kondisi komponen.
2. Sumbu Y Menunjukan volume atau jumlah komponen.

Dari grafik di atas dapat disimpulkan pada tahun 2013 untuk komponen
final drive Motor Grader GD 825A-2 yaitu grafik menunjukan komponen
mengalami shaft broken terdapat 2 unit, sementara mengalami shaft worn terdapat
2 unit dan unit dengan kondisi normal terdapat 5 unit. Selain itu mahalnya
komponen shaft yang baru dan produksi jumlah komponen yang terbatas serta
lamanya waktu pemesanan shaft yang baru, maka penulisan pada tugas Akhir ini
0
1
2
3
4
5
6
Shaft broken Shaft worn normal condition
2013
penulis menetapkan judul sebagai berikut ANALISIS PENYEBAB
KERUSAKAN I NPUT SHAFT PADA FI NAL DRI VE UNI T GD 825A-2
PT.KOMATSU REMANUFACTURI NG ASI A.


1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa penyebab Input Shaft pada unit GD825A-2 patah ?
1.2.1 Bagaimanakah cara meminimalisasi penyebab Input Shaft patah pada unit
GD 825A-2?

1.3 Batasan masalah
Dalam penyusunan tugas akhir ini penulis membatasi permasalahan, hanya
membahas pada final drive GD 825A-2 dengan penyajian data sampel tanpa
melakukan pengujian bahan di laboratorium atau menggunakan alat uji.

1. 4 Tujuan Penelitian
1. Menumbuh kembangkan sikap professional yang diperlukan mahasiswa
untuk memasuki lapangan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya.
2. Agar penulis dapat memahami bagaimana cara menganalisa penyebab
terjadinya kerusakan final drive pada unit Motor Grader GD 825A-2
3. Agar pembaca mendapat wawasan lebih dalam tentang apa itu final drive
dan apa pengaruhnya pada sebuah sistem power train pada Alat Berat.




1. 5 Manfaat Penelitian
1. Untuk Mahasiswa
Menambah ilmu pengetahuan terhadap penyerapan teknologi baru dari
lapangan kerja yang tidak diperoleh dibangku perkuliahan.
2. Untuk Perusahaan
Memperkecil resiko kerusakan yang mungkin terjadi pada suatu unit alat
berat, yang tentu dapat mengurangi efisiensi waktu kerja dari sebuah
perusahaan, terlebih jika waktu yang terbuang oleh unit tersebut sangat
berhubungan dengan cost.
3. Untuk Ilmu Pengetahuan
Memperluas pandangan pembaca terhadap ilmu pengetahuan baru yang
diterapkan pada dunia kerja khususnya pada aplikasi alat berat.

1.6 Sistematika Penulisan
Metode penulisan terdiri dari lima bab, yang masing-masing terdiri dari
beberapa sub bab, yaitu :
BAB I PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan
penulisan, teknik pengumpulan data, waktu dan tempat pengumpulan data, serta
sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Berisi tentang dasar-dasar teori yang dipakai penulis dalam menyelesaikan
tugas akhir.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Berisi tentang jenis penelitian,tempat dan waktu penelitian serta metode
pengumpulan data.
BAB IV PEMBAHASAN
Memuat tentang pembahasan masalah dan permasalah yang di angkat.


BAB V PENUTUP
Penutup dengan sub bab yang berisi tentang kesimpulan dari masalah yang
diangkat dan saran.

DAFTAR PUSTAKA.

LAMPIRAN


BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengenalan Unit Motor Grader

Gambar 2.1 Motor Grader GD 825A-2
Motor grader berfungsi sebagai alat untuk membuat jalan,seperti membentuk
jalan, meratakan jalan dan finishing, karena Motor Grader GD 825A-2 di
lengkapi beberapa alat-alat perlengkapan kerja yang terpasang pada Motor Grader
GD 825A-2 yang di gunakan untuk memenuhi pekerjaan-pekerjaan tersebut.


2.2 Final drive motor grader secara umum
Ketika Motor Grader beroperasi dengan blade membentuk sudut
kea arah depan atau dengan articulate chassis, maka akan terbentuk reaksi
dalam hal ini. Gaya yang timbul dari arah depan akan di paksa di teruskan
ke sisi samping dan mesin akan cenderung berputar ( berbelok ) ke kanan
atau ke kiri tergantung pada sudut yang terjadi saat mesin beroperasi.
Dengan hal ini mesin membutuhkan kemampuan untuk menahan (gaya
dari depan) dan mesin mampu berjalan dengan lurus ke depan, sehingga
secara umum, motor grader di desain tidak memakai differential.

Gambar 2.2 Final drive secara umum

Namun Motor Grader GD 825A-2 adalah tipe artikulit, sehingga
ketika mesin beroperasi dengan beban hanya menumpu di bagian salah
satu sisi (di artikulasikan), roda-roda belakang cenderung slip ke samping.
Dengan alasan ini ,mesin di lengkapi dengan differential untuk
meningkatkan kemampuan menahan keausan pada ban. Pengontrolan
pengoperasian differential sangat sederhana, dengan menekan switch yang
ada di operators compartment.




2.3 Komponen Wheel Rear Axle






Gambar 2.3. Komponen power train dan rear axle di motor grader
(6) Transmission
(17) Rear axle
(18) Drive shaft
(19) Final drives
(20) Tandem
(21) Chain assembly
(22) Wheel group
(23) Parking brake.
2.3.1 Fungsi Transmisi
Secara umum transmisi sebagai salah satu komponen sistem pemindah
tenaga (power train)mempunyai fungsi sebagai berikut :
1. Meneruskan tenaga / putaran mesin dari kopling ke poros propeler.
2. Merubah momen yang dihasilkan mesin sesuai dengan kebutuhan (beban mesin
dan kondisi jalan).
3. Memungkinkan kendaraan dapat berjalan mundur (reserve) pada kendaraan
lebih dari 2 roda.

2.3.2 Fungsi Drive Shaft
differential dengan roda akan berubah sesuai dengan perubahan sudut
antara bodi kendaraan terhadap permukaan jalan selama bergerak.

2.3.3 Fungsi Rear axle
Rear axle akan menyangga beban dan meneruskan tenaga penggerak
keroda belakang yang disebut juga driving axle. Bagiannya yaitu rear axle
housing, axle shaft dan bearing roda. Selain itu ada rear axle yang tidak
meneruskan tenaga atau dead axle. Rear axle tipe rigid digunakan pada kendaraan
sedang dan heavy-duty.

2.3.4 Fungsi Final drive
Final drive/gardan terdiri dari drive pinion geaar dan ring gear. drive
pinion gear dibuat lebih kecil dri ring gear, karena untuk mereduksi putaran agar
diperoleh momen putar yang lebih besar, dan fungsi dari drive pinion sendiri
adalah untuk memberi putaran awal yang diderikan oleh poros propeler yang
nantinya akan diteruskan oleh ring gear putarannya.ring gear (gigi matahari) itu
sendiri akan meriduksi putaran yang diberikan oleh pinion gear yang nantinya
akan memutar side gear (roda gigi samping)yang akan mengubah gerak putar
menjadi gerak lurus pada sistem final drive.
Sebuah final drive final drive adalah bagian dari sistem transmisi daya antara
poros drive dan diferensial. Fungsinya adalah untuk mengubah arah daya yang
ditransmisikan oleh poros melewati 90 derajat ke as roda mengemudi. Pada saat
yang sama. Memberikan pengurangan tetap antara kecepatan poros penggerak dan
poros penggerak roda. Pengurangan atau rasio gigi dari drive akhir ditentukan
dengan membagi jumlah gigi pada gigi cincin dengan jumlah gigi pada gigi
pinion.






Gambar 2.4 Tandem di motor grader

2.4 Cara Kerja Sitstem Final Drivedan Tandem
Final drive adalah sebuah sistem planetary gear yang dapat meningkatkan
torsi ke roda, dan final drive mentransfer torsi ke roda. Setiap roda digerakkan
oleh rantai yang menghubungkan kendaraan roda gigi akhir ke sproket roda pada
setiap poros roda. Final drive ini juga memberikan titik tumpu point untuk setiap
roda tandem. Differential menggerakan sun gear dan shaft. Planet gear
digerakkan oleh Sun gear Planet gear berputar pada bagian dalam ring
gear.Planet gear mengerakan Carrier. Carrier meneruskan putaran ke poros
output kedua sprocket bergerak ke masing-masing poros output dari final drive.
Sprocket ini berada di tengah tandem yang bergerak di antara roda. Chain yang
berada di antara center dan sprocket roda menggerakan setiap roda pada tandem
drive. Wheel spindle yang splined ke wheel sproket. Wheel sproket melanjutkan
putaran ke wheel spindle .Tandem housing dihubungkan dengan baut ke Pivot
housing. Pivot Housing memungkinkan roda untuk berosilasi tandem perumahan.
dua memakai cincin, mesin cuci dan dua segel adalah antara drive perumahan
terakhir dan poros perumahan.Roda rumah spindle juga mengandung komponen
untuk rem pelayanan.Komponen rem yang dilumasi dan didinginkan oleh minyak
ditandem perumahan. Minyak ini disebarkan oleh gerakan roda. Kompensator
dapat digunakan untuk memeriksa keausan untuk komponen rem.


2.5 Planetary gear set
Planetary gear set digunakan pada berbaga sistem, contohnya
torque divider, planetary transmission, final drive dan lainlain.
Dinamakan planetary gear set karena operasinya menyerupai
sistetatasurya. Berikut adalah gambar komponen-komponen planetary gear
set.

Gambar 2.5 planetary gear



a)Komponen pada planetary gear set adalah:
1. Planet gear disebut juga planetary gear, pinion atau idler
gear. Selain berputar pada porosnya, planet gear juga
berputar mengelilingi sun gear.
2. Carrier
3. Ring gear
4. Sun gear disebut juga centered gear.

Agar planetary gear dapat bekerja syaratnya yaitu:
Diberi input putaran
Salah satu komponen harus ditahan (ring gear, carrier atau
sun gear).


2.6 Bearing
Bearing adalah suatu komponen yang berfungsi untuk mengurangi
gesekan pada machine atau komponen-komponen yang bergerak dan
saling menekan antara satu dengan yang lainnya, atau mengurangi gesekan
data keausan serta hilangnya tenaga akibat bagian yang saling berputar.







Gambar 2.6.
Bearing.

Bila gerakan dua permukaan yang saling berhubungan terhambat,
maka akan menimbulkan panas. Hambatan ini dikenal sebagai gesekan
(friction). Gesekan yang terus menerus akan menyebabkan panas yang
makin lama semakin meningkat dan menyebabkan keausan pada
komponen tersebut. Gesekan yang tidak terkontrol dapat menyebabkan
kerusakan pada komponen dan alat tidak bisa bekerja.
Bearing digunakan untuk menahan / menyangga komponen-komponen
yang bergerak. Bearing biasanya dipakai untuk menyangga perputaran
pada shaft, dimana terjadi sangat banyak gesekan.

gambar 2.7 bearing pada input shaft


Tabel 2.1 Proses Disassembly final drivegrader GD825A-2
No Langkah kerja Gambar
1 Lepaskan baut (11), kemudian lepaskan
drive shaft (12) dari coupling

2 Tarik keluar coupling (13) dari pinion
shaft

3 Lepaskan tube (14) bersama dengan o-
ring

4 1) lepaskan pipe (17) bersama dengan o-
ring

5 Lepaskan tube (19) dan (20) kemudian
lepaskan flanges (21) dan (22)

6 Lepaskan side case mounting bolts (23)
dan 24 washer (24), kemudian gantung
dan lepaskan side case assembly (25)
dari center case

7 Lepaskan bolt (26) kemudian lepaskan
plate (27)

8 Gantung dan lepas carrier assembly

9 Lepaskan holder (34) dan shim (35)

10 Lepaskan sprocket (36) dari shaft

11 Lepas bearing (37) dari shaft

12 1) tarik keluar rear axle shaft
assembly (38)
2) lepaskan bolts (39), washer (40)
dan plate (41)

15 Lepaskan washer (42), o-ring(43) dan
shim (44)

16 Gantung dan lepaskan flange (45)

17 1)Tarik keluar bushing (47)
2)lepaskan washer (49) dari side case
(48)

18 Tarik keluar bearing (51) dari shaft (50)

19 Lepaskan ring gear (52) dari center
case

20 Lepaskan snap ring (53) from axle
shaft, kemudian lepaskan collar (54)
dan sun gear (55)

21 Lepaskan axle shaft (56) dari center
case

22 Remove cover (57)


23 Lepaskan bevel pinion assembly (58)
bersama dengan shim

24 Gantung bevel gear assembly (60)

25
1) lepaskan bolts (65), kemudian
lepaskan cage (62) dan (63)
2) lepaskan shim (64)
cek nomor dan ketebalan dari shim
di kiri dan kanan,dan simpan pada
tempat yang aman.
3) naikkan bevel gear assembly dan
lepaskan dari center case (61)
4) lepaskan bolts (67), kemudian
lepaskan gear (66)






Tabel 2.11 Proses assembly final drive GD 825A-2
1 Pasang bevel pada cover ceter case.

2 Pasang washer pada bagian belakang cover center
case.

3 Pasang set gear, kemudian pasang sross shaft
pada bagian atas set gear.

4 Assembly pinion gear untuk di pasang pada
center case.

5 Pasang pinion gear di ke 4 sisi shaft.

6 Pasang set gear di bagian atas.

7 Pasang bagian case untuk melengkapi center case
tersebut.


8 Tumpuk plate dan disc dengan di selingi oleh oli.

9 Pasang piston dan coover case bagian atas.

1
0
Pasang bearing inner ke pinion, tetapi bearing
panasi terlebih dahulu agar memuai.

1
1
-Kemudian pasang case yang telah terpasang outer
bearing ,setelah itu pasang bearing inner di cage.
-Setelah itu just dengan cara di tekan sampai
mendapatkan starting torque 1,3kg/m3.




1
2
Case shaft flange di olesi lnp.
lnp berfungsi sebagai pelumas flange agar tidak
terjadi keausan,karena grader tidak di lengkapi
dengan suspensi.



1
3
Gabungkan case shaft flange dengan pasangannya
bagian atas.

1
4
-Setelah itu pasang bushing warna hitam.
-Kemudian pasang plate,kemudian kencangkan 4
bolt torque 30-40 kg,agar bushing rapat untuk
menentukan ketebalan shim.

1
5
Selanjutnya lepas 4 bolt dan bushing di ukur dengan
depth .kemudian hasil ukuran dept di tambah 0.1.


1
6
Setelah itu pasang shim sesuai dengan hasil
pengukuran 0.5,0.2,0.1. Pasang plate dengan
keseluruhan baut dengan bolt torque 36 kg
(96kg/m3).


1
7
-Selanjutnya shaft di beri bearing yang telah di
panasi dan di beri spacer.
-Kemudian gabungkan shaft dengan carrier , pasang
holder dan bolt 36.dengan torque 96 kg/m3.


1
8
Gabungkan carrier dan flange.



1
9
Pasang sprocket.


2
0
Pasang holder di sprocket tetapi jangan terlalu
kencang , untuk di pasang shim dan menentukan
rotating torque.kencangkan dengan bolt 24.


2
1
Lakukan pengejustan dengan cara rotating torque
1.3 kg/m3.
(rotating torque > 1,5kg/m3 di tambah shim )
(rotating torque < 1.3 kg/m3 di kurangi shim)


2
2
Center case assy pasang di housing.

2
3
Cage di pasang di samping kanan kiri housing.
-Setelah itu pasang shim di ke 2 cage , semisal
pemasangan pertama 2 mili.
-Jika rotating torque center sudah di dapat 1,3
kg/m3 dengan catatan bearing inne rdi center case
tidak ada yang bunyi pada saat di putar . Setelah itu
angkat case assy.

2
4
Cage di pasang di samping kanan kiri housing
- Selanjutnya pasang shim di ke 2 cage ,semisal
pemasangan pertama 2 mili.
-Jika rotating torque center sudah di dapat 1,3
kg/m3 dengan catatan bearing inne rdi center case
tidak ada yang bunyi pada saat di putar .setelah itu
angkat case assy.


2
5
Pasang gear pada sisi kanan dan kiri housing.


2
6
Pasang shaft , sun gear dan ring gear.


2
7
Pasang final drive assy.



2
8
Pasang coupling ke pinion shaft.

3
9
Pasang drive shaft ke coupling.






2.7 Sifat-sifat mekanik bahan
Deformasi terjadi bila bahan mengalami gaya. Regangan (strain) e,
adalah besar deformasi persatuan panjang, dan tegangan (stress) s , adalah
gaya persatuan luas. Selama deformasi, bahan menyerap energi sebagai
akibat adanya gaya yang bekerja sepanjang jarak deformasi. Kekuatan
(strength) adalah ukuran besar gaya yang diperlukan untuk mematahkan atau
merusak suatu bahan. Keuletan (ductility) dikaitkan dengan besar regangan
permanen sebelum perpatahan, sedangkan ketangguhan (toughness) dikaitkan
dengan jumlah energy yang diserap bahan sampai terjadi perpatahan. Seorang
insinyur perancang menetapkan persyaratan yang harus dipenuhi oleh sifat-
sifat mekanik tersebut. Untuk pipa baja, misalnya umumnya dipersyaratkan
kekuatan yang tinggi. Dapat juga dipersyaratkaan keuletan yang tinggi untuk
meningkatkan ketangguhan. Karena kekuatan dan keuletan umumnya tidak
sejalan, ahli mekanik tersebut kadang kala harus memadu keduanya untuk
mencapai optimasi persyaratan. (Candra Irawan).
Regangan elastic yang merupakan satu-satunya gejala deformasi
dibawah kekuatan luluh, akan terus naik dengan naiknya tegangan sampai
terjadi deformasi plastic. Regangan elastic ini mampu balik, sedangkan
regangan plastic tidak. Deformasi plastic pada umumnya terlokalisasi pada
daerah susut.
a) Keuletan atau besar regangan plastic sampai perpatahan,
dapat dinyatakan dalam presentasi perpanjangan.
Sebagaimana halnya regangan besaran ini tidak berdimensi.
b) Kekuatan dan kekerasan ialah ketahanan suatu bahan
terhadap deformasi plastic atau tegangan pada waktu patah.
c) Kekerasan di definisikan sebagai ketahanan bahan terhadap
penetrasi pada permukaannya.
d) Ketangguhan adalah suatu energi yang diperlukan untuk
mematahkan bahan.


2.8 Gaya Gesekan
Gaya gesekan adalah gaya yang timbul akibat persentuhan langsung
antara dua permukaan benda, arah gaya gesekan berlawanan dengan
kecenderungan arah gerak benda. Besarnya gaya gesekan ditentukan oleh
kehalusan atau kekasaran permukaan benda yang bersentuhan.
1. Gaya gesekan yang terjadi sewaktu benda tidak bergerak disebut
gaya gesekan statis.
2. Gaya gesekan yang terjadi sewaktu benda bergerak disebut gaya
gesekan kinetis.
Besar gaya gesekan statis lebih besar dari gaya gesekan kinetis.

2.9 Analisa Patahan
Patah atau yang lebih dikenal dengan kata rupture pada dunia
teknik, dapat disebabkan oleh gaya luar secara spontan. Dalam banyak
kasus patah disebabkan oleh kelelahan pada area dimana stress lebih
besar dari batas kelelahan dan terjadi dalam waktu yang lama.
Untuk mata yang terlatih bentuk rupture akan menceritakan
sejarah terjadinya patah tersebut. Pengamatan yang hati-hati terhadap
bentuk patahan akan menjelaskan banyak faktor berguna, seperti
patah ini karena fatigue rupture atau forced rupture, titik mula patah,
arah main stress, besar stress, dan lain-lain. Dalam teknik mesin ada
ilmu yang menginvestigasi dan menganalisa kerusakan dari suatu
komponen berdasarkan data-data yang ada. Jenis-jenis failure :
a) Rupture (putus, patah) :
Forced rupture adalah jenis kerusakan yang disebabkan oleh
aplikasi beban satu arah secaratiba-tiba.
Fatigue rupture (70% penyebab kerusakan pada metal part),
adalah kerusakan dimana patahan berasal dari crack
membesar secara perlahan akibat aplikasi beban berulang-
ulang dalam waktu yang lama.
b) Surface deterioration (kerusakan permukaan)
Wear adalah berkurangnya lapisan material akibat kontak
antara dua permukaan atau lebih.
Surface fatigue adalah terkelupasnya permukaan disebabkan
oleh stress yang melebihi batas lelah.
Plastic yielding adalah deformasi akibat beban yang besar.





2.10 Pengamatan Rupture
Penyebab sejarah terjadinya rupture dapat ditunjukkan
pada permukaan yang patah. Tampilan permukaan yang
patah ditentukan oleh:
a) Bidang geser dan deformasi plastic, menceritakan apakah
rupture tersebut disebabkan oleh gaya yang tiba-tiba atau
kelelahan bahan.
b) Bentuk garis ombak (beach mark), menunjukkan bentuk
dan besarnya tegangan (stress), juga kekersan material.
c) Posisi, jumlah dan bentuk stress nuclei beach mark dan
lokasi dari final zone, menentukan tipe stress, arah stress,
rupture starting point dan besarnya stress raiser. Stress
raiser adalah nama umum untuk menyebut faktor
penyebab konsentrasi stress.

2.11 Fatigue Rupture
Fatigue rupture dapat diketahui dengan cara melihat
ciri-ciri yang dimiliki yaitu, retakan yang terjadi perlahan
lahan selama beberapa jam, hari dan bulan atau tahun.
Kerusakan yang halus, tanda retakan dan warna yang
cerah atau mengkilat. Perbedaan antara fatigue rupture
dengan forced rupture dapat diketahui dengan cara
menganalisa posisi nucleus atau awal crack dan arah main
stress atau arah bergeraknya crack.
Nucleus atau awal mula crack dapat diketahui dengan
cara melihat titik dimana beach mark mengembang
(convergen), dan posisinya bersebrangan dengan final
rupture zone, juga nucleus biasanya berada pada titik
dimana rachet mark mengembang.




Gambar 2.8 fatigue crack growth
2.12 Brittle Fracture

Gambar 2.9.Characteistics Brittle
Brittle Fracture biasanya adalah hasil dari kegagalan lainnya dan tidak
terkait dengan akar masalah. Jenis patahan berlangsung sangat cepat,
memecahkan part dan terpisah dalam sepersekian detik dan dapat muncul kristal.
Permukaan patahan mungkin kasar saat disentuh dan jika pecahan yang dipasang
kembali bersama-sama, pada bagian itu akan memiliki original penampilan
artinya sedikit atau tidak ada deformasi plastis yang terjadi selama mengalami
kerusakan atau fracture.
Material yang ditempa yang mengalami perpatahan getas biasanya
meninggalkan cerah warna permukaan dan kilauan seperti berlian ketika diputar
dalam terang. Logam lembut cenderung membentuk chevrons, fitur permukaan
berbentuk V titik tersebut seperti tanda panah ke situs dimulainya retak. Bahan
yang keras dapat membentuk chevrons, tetapi chevrons sangat sulit untuk
ditemukan tanpa pembesaran dan pencahayaan sudut. Bahan cor yang mengalami
patah getas memberikan patah tumpul atau gelap. Chevrons jarang terlihat pada
patahan tersebut yang tamapak dipermukaanya membuat ini sangat sulit untuk
ditemukan.

Gambar 2.10. Contoh Characteistics Brittle

Bahan Besi iron ini sudah mengalami benturan, benturan dari beban berat
ini membuat patahan yang kasar,sehingga permukaan patahan tidak memiliki
chevrons untuk menunjukjan dimana mulainya retakan awal.


Gambar 2.11. Contoh Brittle fracture of wrought part

Pada bagian baja tempa juga telah mengalami benturan atau hantaman,
sekali lagi benturan beban membuat patah getas (brittle fracture). Perhatikan
chevrons yang berbeda yang mengarah ke awal retak. Wajah fraktur memiliki
tekstur kasar, dan cerah dan berkilau.


2.13 Spindle Fracture

Gambar 2.12.Contoh patahan Spindle
Ini fraktur kelelahan jelas menunjukkan beach marks menjauh dari
initiation sites dengan fraktur akhir rapuh ditunjukkan oleh chevrons memancar
menjauh dari beach mark tanda terakhir.Flat, fraktur halus di bawah menunjukkan
pertumbuhan retak lambat sedangkan Kasar, rapuh akhirfraktur di atas
menunjukkan retakan cepat pertumbuhan.

Gambar 2.13.View dari dekat patahan spindle
Pandangan lebih dekat dari roda 988B fraktur spindle menunjukkan
dan beach mark dan ratchet marks di bagian kelelahan, dan chevrons di final
brittle fraktur sebagian mengalami kegagalan. Sangat mudah untuk melihat
perbedaan dalam permukaan kekasaran antara tumbuh lambat "kelelahan fraktur
lentur" dan cepat rapuh fraktur akhir.

Gambar 2.14. Zoom Dari Fillet spindle
Ini menutup satu rachet mark pada permukaan fraktur spindle jelas
menunjukkan retakan kelelahan individu tumbuh di antara mereka. Beach marks
tumbuh dari dalam permukaan pada tingkat yang berbeda memproduksi Rachet
marks di antara irisan. Sebagian retak dan terus tumbuh( menjalar), sehingga
mereka (irisan) bergabung dan membentuk celah tunggal. Perhatikan bahwa tidak
ada kekurangan material dan ada precracks di permukaan. Kelelahan tampaknya
sudah mulai tepat dipermukaan fillet spindle.
Analisa gambar :
analisa rekahan - Kelelahan individu retakan tumbuh antara ratchet menandakan -
Ratchet hasil menandakan dari beberapa kelelahan retak tumbuh dari permukaan
pada tingkat yang berbeda - Kelelahan individu retak akhirnya bergabung dan
kemudian ratchet mark hilang - Tidak ada kekurangan atau precracks berarti
fraktur dimulai pada permukaan pada bagian.






Gambar 2.15. rekahan
spindle lebih dekat




Sebelum menyelesaikan analisis kegagalan ini, pastikan untuk memeriksa kedua
bagian dari fraktur karena detail mungkin rusak pada satu wajah fraktur namun
terjaga dengan baik pada yang lain. Dalam hal ini, melihat yang lain fraktur wajah
hanya menegaskan tanda-tanda jalan yang ditemukan pada hari pertama wajah.
Kelelahan tampaknya telah dimulai pada permukaan fillet. Fakta tentang bagian
pemuatan harus diperoleh untuk menentukan apakah misalignment atau kondisi
lainya yang menyebabkan abnormal beban tinggi pada poros shaft



2.14 MAI NTENANCE (PERAWATAN)
Maintenance adalah suatu kegiatan service untuk mencegah
timbulnya keausan tidak normal (kerusakan) sehingga umur alat dapat
mencapai atau sesuai umur yang direkomendasikan oleh pabrik.

2.14.1. Tujuan
Agar suatu alat selalu dalam keadaan siaga siap pakai (High
Avaibility : berdaya guna Physic yang tinggi).
Agar suatu alat selalu dalam kondisi yang prima, berdaya guna
mekanis yang paling baik (Best Performance).
Mencegah gangguan produksi.
Mengurangi biaya perbaikan yang lebih besar.

2.14.2. Klasifikasi Maintenance
1. Preventive Maintenance
Preventive Maintenance adalah perawatan yang
dilakukan dengan tujuan untuk mencegah kemungkinan
timbulnya gangguan atau kerusakan pada alat / machine.
Perawatan ini dilakukan tanpa perlu menunggu tanda-tanda
terjadinya kerusakan.

2. Periodic Maintenance
Periodic Maintenance pelaksanaan service yang harus
dilakukan setelah peralatan bekerja untuk jumlah jam operasi
tertentu. Jumlah kerja jam ini adalah sesuai dengan jumlah
yang ditunjukkan oleh pencatat jam operasi (service meter)
yang ada pada alat tersebut.








BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini dirancang sebagai field researh yaitu penelitian lapangan
yang melibatkan pengumpulan data primer atau informasi baru dan terkait dengan
kondisi nyata yang ada di lapangan dengan metode observasi deskriptif melalui
observasi.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penulis melakukan penelitian dan pengumpulan data pada saat On The Job
Training di PT. Komatsu Remanufacturing Asia Balikpapan. Waktu penelitian
dilaksanakan selama 5 bulan yang dimulai pada tanggal 8 Juni sampai dengan 29
November 2013.

3.3 Metode Pengumpulan Data
Dalam penyusunan laporan Tugas Akhir ini, penulis mengumpulkan data
berdasarkan pada teori-teori yang di peroleh selama di bangku kuliah dan pada
saat On The Job Training di PT. Komatsu Remanufacturing Asia Balikpapan.
Pengumpulan data-data dari hasil job dan intreview dengan Quality Analysis
(QA).Dan mengambil dari Failure Analisis Report (FAR), Emergency Trouble
Rreport (ETR), serta buku-buku Referensi lainnya.
Dalam pengumpulan data, ada beberapa teknik yang di terapkan oleh
penulis, yaitu sebagai berikut :
1. Observasi yaitu pengamatan, pengambilan foto-foto dan pencatatan
secara sistematis langsung pada objek yang dituju, untuk memperoleh
data atau informasi yang di perlukan dalam menganalisa
permasalahan.
2. Dokumentasi yaitu dengan pengumpulan data-data dari mempelajari,
Emergency Trouble Rreport (ETR), Internet dan lain-lain yang
berhubungan dengan masalah yang diangkat, sebagai pedoman dan
refrensi.
3. Melakukan wawancara dengan Quality Analysis (QA)

Tabel 3.1 Pengumpulan data dan metode Pengumpulan data
kelompok
Data
Data Jenis Data Metode/Sumber
Kualitatif Data kerusakan Primer 1. Wawancara
Quality
Analysis (QA)

Landasan Teori sekunder Buku
referensi,internet,shop
manual
Kuantitatif Input shaft broken primer Observasi Lapangan
Emergency Trouble
Rreport (ETR)
Sekunder Laporan Mekanik

3.4 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan,
memeriksa, menyelidiki suatu masalah, atau mengumpulkan, mengolah,
menganalisa dan menyajikan data-data secara sistematis serta objektif dengan
tujuan memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis.
Alat alat untuk penelitian :
1. Alat tulis
2. Failure Analysis Report dan Service Manual
3. Kamera
4. Tools
5. Komputer
6. Majun
7. Chemical
8. Sarung Tangan
3.5 Diagram alir metode penelitian




TAHAP PERSIAPAN





TAHAP PENGUMPULAN DATA







TAHAP PENGELOMPOKAN DATA


TAHAP ANALISA DAN
KESIMPULAN

Gambar 3.1 Diagram Alir Masalah


3.5.1 Tahap Persiapan
Memulai identifikasi dan rumusan masalah objek yang akan diteliti guna
mempersiapkan perlengkapan yang digunakan pada saat melakukan penelitian
objek tersebut.

3.5.2 Tahap Pengumpulan Data
Studi Lapangan
1. Dokumentasi
Dokumentasi yaitu pengumpulan data-data dari mempelajari shop
manual, dan lain-lain, yang berhubungan dengan permasalahan yang
terjadi pada inpu shaft broken.
2. Observasi
Mulai
Identifikasi dan
Rumusan Masalah
Observasi Dokumentasi
Studi Lapangan
llLapangaLapangan
Studi Literatur

Service manual Internet
Identifikasi
Variabel
Data primer
1. Input shaft broken
2. Photo Trouble
Data sekunder
1. Emergency Trouble
Report (ETR)
2. Finding Analysis Report
Pengolahan data

Analisa Permasalahan

Selesai
Kesimpulan dan Saran

Observasi yaitu pengamatan. Pengambilan foto-foto dan pencatatan
secara sistematis secara tidak langsung pada kerusakan yang terjadi
pada input shaft. Agar dapat memperoleh data-data atau informasi,
yang diperlukan untuk menganalisis permasalahan yang terjadi pada
input shaft.
Studi Literatur
1. Service Manual
Service Manual adalah sebagai sumber pedoman untuk menganalisis
suatu masalah.Untuk mengetahui komponen final drive, komponen
final drive serta cara assembly dan dissasembly yang benar. Maka shop
manual sangat diperlukan sekali untuk membantu dalam penyelesaiaan
suatu analisa.
2. Internet
Internet juga sangat diperlukan untuk menambahkan referensi dan hal-
hal lain yang bisa menjadi bahan pertimbangan dalam menganalisis
suatu kerusakan.


3.5.3 Tahap Pengelompokan Data
Data Primer
1. Input shaft broken
Mengumpulkan data - data komponen input shaft yang mengalami
kerusakan pada saat pembongkaran dan inspection component.
2. Photo Trouble
Pengambilan gambar pada komponen input shaft yang rusak sebagai
bukti penelitian.
3. Data wawancara
Sebagai bukti wawancara dari technician tentang penyebab terjadinya
kerusakan pada input shaft broken.
Data Sekunder
1. ETR (Emergency Trouble Report)
Bukti laporan pekerjaan bahwa komponen tersebut mengalami
kerusakan.
3.5.4 Tahap Analisa dan Kesimpulan
Pengolahan Data
Berdasarkan data-data yang telah di dapat, kemudian data-data tersebut
diolah, untuk menentukan langkah awal dalam menganalisis suatu
permasalahan.Kemudian data-data tersebut di olah untuk bisa menemukan
suatu permasalahan yang terjadi.
Analisa Permasalahan
Setelah melakukan pengolahan data-data tersebut di analisis untuk
menentukan kerusakan yang terjadi sesuai dengan fakta yang terjadi di
lapangan.
Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan temuan-temuan yang ada di lapangan, penulis dapat
menyimpulkan suatu penyabab kerusakan yang terjadi pada input shaft
tersebut. Kemudian setelah selesai menyimpulkan sesuatu si penulis
selanjutnya penulis membuat saran agar kerusakan dapat di minimalisir
untuk menghemat biaya service.