Anda di halaman 1dari 11

1

A B
1. Tujuan
Setelah praktikum mahasiswa mampu memanipulasi material cetak
alginat dengan benar dan melakukan pengujian recovery from deformation
material cetak alginat.

2. Alat dan Bahan
a. Bahan
i. 7 gr bubuk alginat
ii. 19 ml air





Gambar 2,1 a. Bubuk Alginat, b. Air
b. Alat
i. Mangkuk karet
ii. Spatula
iii. Ring besar dan kecil
iv. Lempeng kaca besar dan kecil
v. Timbangan digital
vi. Waterbath
vii. Alat uji recovery from deformation

3. Cara Kerja
3.1 Menentukan setting time alginat
Mengambil data dari praktikum setting time material cetak alginat.
3.2 Pembuatan sampel
a. Sebelum praktikum dimulai alat dan bahan dipersiapkan terlebih
dahulu.
2



Gambar 3.1 Mempersiapkan alat dan bahan

b. Ring besar diletakkan di atas lempeng kaca besar
c. Menuangkan air sebanyak 19 ml dalam mangkuk karet, kemudian
dimasukkan bubuk alginat sebanyak 7 gr, diaduk dengan cara memutar
dan menekan spatula pada dinding mangkuk karet dengan cara memutar
mangkok karet secara perlahan. Diaduk sampai menjadi adonan halus
selama 30 detik (sesuai aturan pabrik).
d. Ring besar diisi dengan adonan alginat setinggi ring.
e. Ring kecil ditekan ke dalam ring besar sampai dasar ring kecil
menyentuh lempeng kaca. Alginat akan naik ke permukaan ring bahkan
keluar ring. Permukaan alginat diratakan menggunakan spatula
ditunggu selama 30 detik.
f. Lempeng kaca kecil ditekankan pada permukaan atas ring untuk
mengeluarkan kelebihan adonan alginat dan dilakukan fiksasi.

Gambar 3.2 Lempang kaca kecil diletakkan diatas ring
3

g. Ring dan lempeng kaca dimasukkan ke dalam waterbath suhu 37
0
C
selama waktu setting time yang telah ditentukan (sesuai 3.3.1).

Gambar 3.3 Ring dan lempeng kaca dimasukkan kedalam waterbath

h. Sampel dikeluarkan dari waterbath.
i. Sampel dikeluarkan dari ring.
3.3 Pengukuran recovery from deformation
a. Sampel alginat diletakkan di atas meja alat deformasi. Permukaan atas
sampel alginat ditutup dengan lempeng kaca kecil.

Gambar 3.4 Sampel alginat diletakkan di alat deformasi

b. Melakukan uji recovery from deformation, dengan cara:
1. Lama setting time + 45 detik: jarum indikator diturunkan sampai
berkontak dengan lempeng kaca.
2. Lama setting time + 55 detik: jarum indikator dibaca. Nilai indikator
dicatat sebagai nilai A, kemudian jarum diangkat ke atas lagi.
3. Lama setting time + 60 detik: sampel ditekan dengan menurunkan
tuas. Penekanan dilakukan selama 5 detik, kemudian tuas dilepas
kembali.
4. Lama setting time + 90 detik: jarum indikator diturunkan sampai
berkontak dengan lempeng kaca di atas sampel.
4

5. Lama setting time + 100 detik: jarum indikator dibaca dan dicatat
nilai yang terbaca sebagai nilai B.
6. Recovery from deformation material cetak alginat dihitung dalam %
dengan rumus:
100% x (1-(A-B) )
Panjang awal (mm)
4. Hasil Praktikum
Tabel 4. 1 Hasil Praktikum Recovery from Deformation Material Cetak Alginate
Kelompok A1

Percobaan
A
(mm)
B
(mm)

Recovery From
Deformation

Deformasi
Permanen
1 4,12 4,03 99,5% 0,45%
2 5,97 5,10 95,65% 4,35%
3 4,79 4,74 99,75% 0,25%
4 4,83 4,86 99,8% 0,20%
Rata-rata 4,53%

Keterangan:
0.0 bubuk alginat dimasukan kedalam air dan diaduk sampai homogen
0.30 adonan dimasukkan kedalam ring
1.00 cetakan alginat dimasukan kedalam waterbath
3.00 cetakan alginat dikeluarkan dari waterbath
3.45 jarum diturunkan
3.55 jarum indikator dibaca dan dicatat sebagai nilai A
4.00 tuas diturunkan selama 5 detik
4.05 jarum diangkat
4.30 jarum diturunkan
4.40jarum dibaca dan dicatat sebagai nilai B

5

5. Pembahasan
5.1 Landasan Teori
Material cetak dibutuhkan untuk pembuatan model kerja antara lain untuk
membuat gigi tiruan lengkap, gigi tiruan sebagian, dan model studi ortodonsi.
Bahan yang digunakan adalah material cetak alginat. Material ini termasuk
hidrokoloid irreversible yang berbahan dasar garam dari asam alginat yang
terbuat dari ganggang cokelat (Anusavice 2003, p.239-240).
Alginat adalah bahan irreversible impression elastis. Substansi dasar
alginat poliglikosida dari D-manuronat dan asam L-gulonic yang tidak larut dalam
air. Biasanya, bubuk alginat memiliki bahan pengisi yaitu kalsium sulfat sebagai
reagen dan natrium atau kalium fosfat sebagai retarder. Dengan perangkat
pencampuran yang tersedia, alginat dimanipulasi baik secara manual maupun
menggunakan alat, tergantung pada tipe perangkatnya (Wostmann, MDD and
Powers, JM. 2008).
Gel alginat memiliki sifat mekanik rendah dan memiliki fungsi utama
ketika pelepasan pada daerah deep undercut, khususnya di daerah interproksimal
dan subgingiva. ISO Standar 1564 dan 1563 menyaratkan elastic recovery untuk
bahan alginat lebih dari 95% (McCabe, JF, 2008, hal 156, 160-161).
Tabel 5.1 Perbandingan Persyaratan antara Reversible and Irreversible Hydrocolloid Impression
Materials (ISO 1564 and ISO 1563)

Reversible (agar) Irreversible (alginate)
Strain in compression
(%)
4 min,15max 5 min 20 max
Recovery from
deformation (%)
96,5 min 95 min
Detail reproduction
(mm)
0,02 0,05
Compatibility with
gypsum (mm)
0,05 0,05
Resistance to tearing
(N/mm)
0,75 -
Compressive strength - 0,35
6

(MPa)
Sumber : McCabe, JF, 2008, hal 156

Tabel 5.2 Tipe Sifat Alginat dan Agar Hydrocolloid Tipe Impression Materials

Sumber : Craig and Powers, 2002, hal 336

Recovery From Deformation
Saat dicetakkan kedalam rongga mulut pasien, material cetak harus memiliki
sifat elastis terutama untuk mencetak daerah undercut. Bentuk gigi yang tidak
beraturan dan cenderung membesar pada bagian atas membuat cetakan menjadi
tidak dapat dikeluarkan apabila material cetak yang digunakan tidak memiliki
sifat elastis. Namun material cetak harus mampu kembali ke bentuk semula agar
sesuai dengan keadaan rongga mulut pasien. Itulah mengapa recovery from
deformation merupakan syarat penting yang harus dimiliki oleh material cetak.
Spesifikasi American National Standard/American Dental Association
(ANSI/ADA) untuk material cetak alginat mensyaratkan nilai recovery from
deformation sekurang-kurangnya sebesar 95%. (Sunarintyas and Irnawati 2009, p.
128)
Tabel 5.3 Nilai recovery from deformation material alginat dengan kompresi 10% selama 30 detik
(Craig and Powers 2002, p.336)

7

Berdasarkan tabel diatas, alginat dengan kompresi 10% selama 30 detik akan
memiliki recovery from deformation sebesar 98,2%. Berdasarkan spesifikasi ADA
No. 18, alginat harus memiliki deformasi permanen kurang dari 3% apabila di
kompresi sebesar 10 % selama 30 detik.
Deformasi permanen lebih rendah (elastic recovery tinggi) terjadi ketika (1)
persentase tekanan lebih rendah, (2) cetakan berada di bawah tekanan dengan
waktu yang lebih singkat, dan (3) waktu recovery lebih lama, yaitu sekitar 8 menit
ke atas setelah pelepasan beban. Secara klinis, faktor-faktor ini dijadikan
persyaratan tentnag jumlah alginat yang diperlukan antara tray dan gigi,
penyimpanan alginat yang sesuai di dalam tray dan kecepatan pengeluaran
cetakan dari mulut. (Craig and Powers 2002, p. 337)


Gambar 5.1. Deformasi permanen (%) terhadap waktu dengan variasi besar
kompresi (Craig and Powers 2002)
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya recovery from
deformation, diantaranya yaitu:
8

1. Komposisi alginat
Penambahan bahan-bahan tertentu dapat mempengaruhi besarnya
recovery from deformation. Beberapa penelitian menyebutkan
bahwa penambahan bahan-bahan seperti sari pati beras atau
polisakarida daun cincau dapat memperbesar recovery from
deformation alginat.
2. Lama penyimpanan
Semakin lama alginat disimpan dalam suhu ruang semakin
berkurang juga kemampuan recovery from deformation dari alginat
meskipun tidak terlalu signifikan seperti dapat dilihat pada tabel
5.2 (Sunarintyas and Irnawati 2009).
Tabel 5.2 Pengaruh lama penyimpanan terhadap recovery from deformation alginat
merek Tulip (TU) dan Aroma Fine (AF)

3. Kecepatan saat melepas cetakan.
Semakin cepat waktu pelepasan cetakan dari dalam rongga mulut,
semakin besar pula kemampuan material cetak alginat untuk dapat
kembali ke keadaan semula.
5.2 Analisis Implikasi
Percobaan kali ini adalah uji recovery from deformation material cetak
alginat, yaitu merupakan suatu uji yang dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui kemampuan material cetak dalam pengembalian bentuk setelah
pemberian tekanan. Dalam uji tersebut impression alginat akan diberikan tekanan
9

seperti yang terjadi dalam mulut pasien dan kemudian diamati kemampuan alginat
untuk kembali ke bentuk asalnya.
Manipulasi pada percobaan ini adalah dengan mencampur 3,5 gram bubuk
alginat dengan 9,5 ml air. Kemudian di aduk selama 30 detik. Adonan kemudian
dimasukkan cincin besar yang bagian bawahnya diberi alas kaca sampai bagian
dan bagian tengahnya dimasukkan cincin dengan ukuran yang lebih kecil.
Kelebihan adonan diratakan dengan kaca bagian atasnya kemudian dimasukkan ke
dalam waterbath. Saat mencapai menit ke 3 (setting time) adonan dikeluarkan dari
waterbath, kemudian cincin dilepas dan adonan mulai di uji dengan alat
deformasi.
Pengadukan yang tidak sempurna menyebabkan campuran tidak tercampur
sempurna, sehingga reaksi kimia yang berlangsung selama pengadukan tidak
seragam dan akan terjadi porus. Semakin banyak porus mengakibatkan recovery
from deformation.
Alginat mendapat tekanan atau gaya tertentu sesaat setelah setting time
sehingga air terjebak yang akan memberikan suatu gaya reaksi (stress) diikuti oleh
strain atau regangan. Stress ini menyebabkan alginat bersifat elastis sehingga
memiliki kemampuan recovery from deformation. Efek dari alginat ketika diberi
tekanan dapat dilihat saat pengujian dengan menggunakan alat uji recovery from
deformation.
Pada praktikum terdapat beberapa kesalahan sehingga membuat hasil
praktikum tidak selalu sempurna. Recovery from deformation yang terjadi
memang sangat kecil dan relatif sama, hal ini dikarenakan alat ukur dial indicator
yang tidak terlalu spesifik dalam menunjukkan angka perubahan. Pengadukan
material cetak alginat yang dilakukan bergantian menyebabkan hasil pengadukan
yang berbeda-beda sehingga memungkinkan terjadinya variasi deformasi.
Percobaan ini dilakukan sebanyak empat kali dengan suhu tetap air pada
waterbath 37
o
C. Dari empat kali percobaan yang dilakukan, didapatkan persentase
deformasi material cetak alginat yang berbeda-beda. Persentase terbesar yang
didapatkan adalah 4,35 % pada percobaan 2 dan persentase terendah adalah 0,20
% pada percobaan 4. Besar prosentase deformasi ditentukan oleh keadaan
permukaan yang akan dicetak, atau mendapat tekanan. Setelah itu, ketika
10

dilakukan snap-removal maka dimensi alginat (hidrosol) akan mengalami
recovery. Jika semakin besar presentasi recovery maka semakin bagus sifat
alginatnya.
Sifat evaporasi dan sinerisis, serta penyerapan cairan melalui imbibisi
dapat mempengaruhi besar recovery from deformation. Walaupun besar
presentase deformasi dengan recovery-nya berbanding lurus pada keadaan normal,
tetapi dengan penyimpanan yang salah pasca pencetakan dapat menyebabkan
tidak terjadinya recovery yang diharapkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi
recovery meliputi pengadukan, temperatur, kedalaman undercut (karena semakin
dalam undercut maka semakin besar jumlah compression strain), lamanya waktu
recovery, rasio W/P (penurunan rasio air dan bubuk bahan cetak alginat dapat
mengakibatkan setting time semakin cepat, sehingga recovery from
deformationnya semakin baik), dan faktor alat pengukur.

6. Kesimpulan
Recovery from deformation pada alginat dengan kompresi 20% adalah
sebesar 99,8%. Hasil ini sesuai dengan spesifikasi American National
Standard/American Dental Association (ANSI/ADA) untuk material cetak alginat
mensyaratkan nilai recovery from deformation sekurang-kurangnya sebesar 95%.








11

DAFTAR PUSTAKA

Anusavice, KJ 2003, Science of Dental Materials, 11
th
ed, St Louis, WB Saunders
Co, pp.239-41.
Craig and Powers. 2002. Restorative dental Materials. 11
th
ed. Philadelphia :
Mosby. pp. 336-337.
McCabe, JF and Angus WG Walls. 2008. Applied Dental Materials. 9
th
ed..
Victoria Blackwel Inc. pp 156, 160-161.
Wostmann, MDD and Powers, JM. 2008. Impressioning Compendium. USA : 3M
ESPE Global. pp.19.
Sunarintyas, S and Irnawati,D. 2009. Storage Duration Effect on Deformation
Recovery of Repacked Alginates. Vol.42, No.3. pp.127-128.