Anda di halaman 1dari 9

Teknik Radiografi

Proses Pembacaan Film



I. Tujuan
Menyiapkan film yang siap dipakai dalam radiografi (Loading Film).
Melakukan proses film yang telah dilakukan penyinaran radiografi sesuai dengan prosedur
standart.
Mengukur densitas film serta menentukan sensitifitas radiograp yang telah dihasilkan.

II. Dasar Teori
Radiografi dengan film merupakan cara klasik dalam pembentukan bayangan/gambar suatu benda
uji. Perbedaan penyerapan radiasi yang melalui benda uji ditentukan tebal dan kerapatan benda uji,
yang selanjutnya dideteksi dan direkam dalam film sebagai perbedaan tingkat kehitaman (densitas).
Film radiografi terdiri atas bahan dasar (base) dan emulsi tempat terjadinya interaksi radiasi pengion
atau cahaya dengan bahan aktif Kristal perak bromide dan gelatin sebagai lapisan pelindung,
supercoating.
Base terbuat dari selulosa yang bersifat bening dan lentur, berfungsi untuk:
Memberi struktur yang kuat tempat melapisi emulsi.
Mempertahankan bentuk selama pemakaian dan pemrosesan film agar tidak terjadi distorsi
bayangan/gambar.
Film radiografi dikatakan baik bila parameter : densitas cukup, distorsi minimal, definisi tajam serta
kontras yang tinggi dapat terpenuhi, sehingga film akan mampu mendekteksi diskontinyuitas yang
kecil. Dalam teknik radiografi pemilihan film tergantung pada benda uji tebal dan jenis material,
serta kualitas yang diinginkan.
Film radiografi industri, tersedia dalam beberapa macam kemasan, antara lain :
Film lembaran : kemasan yang banyak dijumpai. Setiap lembar film diapit dengan kertas
pelindung yang memisahkan film yang satu dengan yang lain. Film dikemas dalam kotak
karton yang kedap cahaya.
Kemasan Amplop : film yang telah dikemas dalam amplop kertas kedap cahaya. Dalam
penggunaannya film tidak perlu dikeluarkan dari amplop sehingga meniadakan waktu
loading dan terhindar dari debu dan noda jari tangan.
Kemasan amplop dengan screen timbal oksida : film ini sudah dilengkapi dengan screen
timbal oksida yang mengapitnya dan terbungkus dalam amplop kertas, sehingga terjadi
kontak yang baik antara film dengan screen.
Kemasan Roll : film ini memiliki bentuk panjang yang sangat ekonomis untuk radiografi las
melingkar.
Film harus ditangani dengan hati-hati untuk menghidarkan regangan atau tegangan fisik pada film
akibat tekanan, bengkokan, lipatan atau gesekan kontaminasi bahan kimia atau tersentuh jari
basahyang mengakibatkan cacat film atau artifac. Radiografi dapat diterima sebagai alat uji tak rusak
(UTR) harus memiliki kualitas yang baik dan bebas dari cacat film.
III. Alat dan Bahan
Alat
1. Ruang gelap dan fasilitasnya
2. Larutan pemroses film (developer,stop bath,fixer,mixer)
3. Termometer
4. Stop Watch
5. Screen
6. Hanger,viewer,Densitometer
Bahan
1. Film Radiografi AGFA D7, 10
2. Lakban, gunting

IV. Cara Kerja
a. Pemasangan Film (Loading Film)
Nyalakan lampu penerangan dan bersihkan ruangan proses film.
Siapkan film radiografi (masih dalam kemasan), screen Film, kaset dan lakban pada meja
loading.
Pastikan kaset tidak rusak dan screen dalam kondisi bersih dan baik.
Atur dan ingat susunan peralatan tersebut (Film,Screen,kaset,lakban) sehingga mudah
diambil dalam kondisi gelap.
Matikan lampu penerangan dan gunakan lampu intensitas rendah (safe light).
Biarkan mata menyesuaikan selama beberapa menit.
Keluarkan film dari kemasan dan amplop pengbungkus, ambil selapis film.
Lepaskan kertas pengapit pelan-pelan, ambil filmnya.
Tempatkan film diantara screen Pb (atas dan bawah), kemudian masukkan film yang
berscreen dalam kaset dengan mulut saling menutup.
Untuk mencegah kebocoran, lakban ujung kasetnya.
Tutup kembali amplop film dan masukkan dalam kemasan kardusnya.
Nyalakan lampu penerang, lalu rapid an bersihkan meja loading dari sampah
b. Pembongkaran film (Unloading Film) dan Proses Film
Bawa kaset film yang telah diradiografi keruang proses film. Nyalakan lampu
penerangan ruang proses film.
Aduk larutan developer dan fixer (masing-masing larutan punya pengaduk dan jangan
dicampur), kemudian ukur temperature larutan developernya.
Dari pengukuran temperature tersebut lihat dalam table (lampiran 3.1), waktu yang
diperlukan untuk pengembangan film developer.
Bersihkan tangan, siapkan hanger kering pada meja loading dengan mulut bagian depan.
Matikan lampu penerangan dan gunakan lampu intensitas rendah (safelight).
Biarkan mata menyesuaikan selama beberapa menit.
Buka lakban penutup kaset film, keluarkan screen dan filn dari kaset.
Ambil film, pegang bagian tepi dan pasan pada hanger.
Masukkan hanger dan film pada larutan developer untuk proses pengembangan film
dengan waktu yang telah ditentukan, sambil diagitasi (naik turun).
Selesai waktu pengembangan, tiriskan sebentar kemudian masukkan dalam stop bath
untuk menghentikan prose pegembangan film, kira-kira setengah waktu developer.
Dalam stop bath agitasi tetap dilakukan.
Selesai waktu stop bath,tiriskan sebentar, kemudian masukkan dalam fixer untuk
penetapan bayangan pada film, dengan waktu kira-kira 2 kali waktu developer dan
lakukan agitasi. Pada keadaan di fixer, lampu penerangan boleh dinyalakan.
Selesai waktu fixer, tiriskan sebentar, kemudian masukkan dalam air untuk pencucian
film.
Lakukan pencucian film dengan air kran, sambil digosok dengan jari sehingga fim tidak
licin (peret).
Bilas dengan drying agent, bila tidak tersedia dapat digubahkan atau diberi sedikit
sampo, kemudian dilakukan pengeringan.

c. Pembacaan Film
Siapkan viewer dan densitometer.
Nyalakan viewer dan atur kuat penerangannya.
Pasang film hasil radiografi yang telah kering, perhatikan bentuk bayangan radioagraf.
Amati bayangan penetrameter, amati kawat terkecil pad alas yang tampak dalam
radiograf.
Dengan densitometer, ukur desitas pad alas di sekitar kawat terkecil yang manpak
sbagai densitas penetrameter (Dp)
Ukur densitas pada base material sebagai densitas material.
Ukur densitas pada las pada kondisi paling terang dan gelap
Amati cacat yang tergambar dalam radiograf, tentukan jenisnya.
Bila pengamatan telah selesai, matikan densitometer dan viewer.
Rapi dan bersihkan ruang baa film tersebut.

PERHITUNGAN
Pipa kecil
Teknik yang digunakan yang digunakan adalah DWDI karena lebih kecil dari 3,5
Diameter dalam (ID) : 52,6 mm = 2,07
Diameter luar (OD) : 61 mm = 2,4
Lebar las (LL) : 7,3 mm = 0,29
Tebal pipa = OD DD = 61 52,6 = 8,4 mm

SFDmin = (


) pada DWDI t yang digunakan
= (

) 61 untuk SFDmin adalah OD


= 5 x 61
= 305 mm SFD tegak harus lebih besar dari SFDmin
Dimisalkan SFDtegak = 600 mm
Teknik DWDI elips
Pergeseran (P) =

x SFD tegak + 2 LL
=

x 600 mm + 2(7,3)
= 120 + 14,6
= 134,6 mm
SFDelips =


= 614,91 mm

Densitas = 2
KV = a + bx a dan b dilihat pada tabel
= 75 + (8,4)4,5 x = OD - ID
= 112,8 kV
Menurut table kV yang digunakan adalah 120 kV (dipilih berdasarkan grafik)
120 kV
Log y = 0.10333x + 0.26777
= 0.10333(8,4) + 0.26777
= 1.135742
Y = 13.66916544 mA.menit

Untuk menghasilkan mA maka berdasarkan alat yang diketahui arus yang mengukur 5 mA.
Maka : y =



Y = waktu penyinaran grafik

Wp = (


)
2
x Wp grafik
= (

)
2
x 2,73 menit
= 2,1 menit
Maka waktu penyinarannya 2,1 menit.
Penetrameter
T = 4,2 mm, maka
1. Source side :
No. 5 set A = 0,2 mm , 2 kawat yang keluar yaitu no 5 dan 6
2. Film side :
No. 4 set A = 0,16 mm , 3 kawat yang dikeluarkan yaitu no 4,5 dan 6

Perhitungan Densitas dan Sensitifitas
D material = 2,4
D las = 1,60 ; 1,52 ; 1,68
D penny = 1,62
Variasi densitas
VDmax =

x 100%
=


= 3,70%
VDmin =

x 100%
=

x 100%
= -6,17%
Sensitifitas
Sensitifitas =


x 100%
=


= 1,55 %










PEMBAHASAN
Dalam praktikum Radiografi Industri ini praktikan langsung melakukan 2 (dua)
praktikum yakni Teknik Radiografi dengan Sumber Radiasi Pesawat Sinar-X dan Teknik
Radiografi Proses dan Pembacaan Film. Praktikum Teknik Radiografi dengan Sumber Radiasi
Pesawat Sinar-X bertujuan untuk membuat gambar radiografi lasan besi bentuk plat dan pipa
yang sensitifitasnya sesuai dengan standart, dengan menggunakan radiasi dari Pesawat Sinar-X
dan menentukan jenis dan lokasi cacat lasan dari radiograf yang dihasilkan. Sedangkan tujuan
praktikum Teknik Radiografi Proses dan Pembacaan Film adalah untuk menyiapkan film yang
siap dipakai dalam radiografi (loadin film); melakukan proses film yang telah dilakukan
penyinaran radiografi sesuai dengan prosedur standart dan mengukur densitas film serta
menentukan sensitifitas radiograp yan telah dihasilkan.
Pada praktikum pertama yakni Teknik Radiografi dengan Sumber Radiasi Pesawat Sinar-
X pada dasarnya sebelum melakukan praktikum terlebih dahulu melakukan persiapan-persiapan
antara lain : menentukan teknik radiografi dalam hal ini memakai DWDI karena spesimennya
pipa dengan diameter kurang dari 3,5. Kemudian melakukan pengukuran dan perhitungan
terhadap specimen yang akan di radiografi, perhitungan yang dilakukan meliputi
SDFminimal,SDF elips, pergeseran, densitas,tegangan kerja Pesawat Sinar-X, waktu penyinaran
dan jenis penetrameter yang digunakan. Kemudian pemberian tanda pada specimen yang akan di
radiografi sesuai dengan kode-kode yang telah ditentukan. Setelah persiapan telah selesai
langkah berikutnya proses radiografi. Pada proses ini kV dan waktu penyinaran disesuaikan
dengan perhitungan, untuk specimen yang saya radiografi tegangan kerja yang digunakan 120
kV dan lama waktu penyinarannya 2,1 menit = 2 6. Kemudian letakkan kaset dan specimen
pada arah focal spot Pesawat Sinar-X dengan jarak dan sudut kemiringan yang telah ditentukan
sesuai dengan perhitungan. Sesuai prosedur untuk penggunakan Pesawat Sinar-X, pada saat
penggunaan ini wajib diukur tingkat kebocoran sinar-X pada setiap sudut yang telah ditentukan
oleh asisten dan hasilnya dicacat pada log book. Setelah selesai proses radiografi dilakukan
penganbilan film dan specimen, jangan lupa lakukan pengukuran pada ruangan pesawat sinar-X
tersebut. Kalau sudah aman dari radiasi ambil film dan spesimennya tersbut.
Pada praktikum yang kedua yakni praktikum Teknik Radiografi Proses dan Pembacaan
Film. Pada dasarnya praktikum ini melanjutkan praktikum sebelumnya. Dimana setelah
pengambilan film dari proses radiografi untuk selanjutnya adalah tahap pencucian film. Dalam
proses ini film dibawa ketempat/ruang pencucian film, dimana saat proses pencucian ruangan
harus dalam keadaan gelap, karena jika terang film akan terbakar. Sebelum melakukan proses
pencucian dilakukan terlebih dahulu persiapan antara lain : menentukan waktu pencucian pada
setiap larutan dengan cara mengetahui suhu developernya, kemudian lihat table hubungan waktu
pencelupan developer (dalam menit) terhadap suhu developer (dalam fahrenhait). Setelah
didapatkan waktu pencelupan film ke developer selanjutnya mengukur waktu pencelupan pada
larutan yang lain, yakni developer : stop bath : fixer : washer = 1 : : 2 : . Pada praktikum ini
sesuai suhu developer 80 F, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk proses agitasi dideveloper
adalah 2 menit, jadi sesuai perbandingan untuk stop bath, fixer dan washer berturut-turut 1,4
dan 1. Setelah persiapan dilakukan langkah selanjutnya menyiapkan hanger ke meja loading.
Kemudian lampu dimatikan dan digantikan dengan lampu intensitas rendah (safelight). Baru
dilakukan proses unloading film. Selanjutnya film diletakkan pada pada hanger, lalu siapkan stop
wacth untuk pengukuran waktu. Baru lakukan proses agitasi/pencelupan pada masing-masing
larutan sesuai waktu yang telah dibahas sebelumnya. Setelah pencucian selesai dilakukan untuk
selanjutkan film dikeringkan pada mesin pengering dan ditunggu sampai film benar-benar
kering. Setelah kering film dicek dengan viewer untuk melihat apakah terdapat cacat atau tidak.
Dan hasil dari viewer telah saya lampirkan beserta laporan teknis. Dan dari viewer tadi dapat
terlihat bahwa film yang telah diproses ternyata pada specimen terdapat slag berupa tungsten
pada las, selain itu jg terdapat under cut pada lasannya. Setelah menentukan cacatnya dengan
viewer langkah selanjutnya dilakukan pengukuran densitas, yakni dengan cara menentukan
terlebih dahulu densitas materialnya, densitas las yang diambil 3 titik masing-masing diantara
kawat penny dan densitas kawat penny pada lasan. Pada praktikum ini nilai densitas film yang
saya proses secara berturut-turut Dmaterial = 2,40 ; D las : 1,61 ; 1,52 ; 1,68 dan D penny = 1,62.
Dari data tersebut selanjutnya dilakukan pengukuran variasi densitas seperti pada perhitungan
yang hasilnya adalah VDmax = 3,7 % dan VDmin = -6,17%. Itu artinya variasi densitasnya
memenuhi karena untuk variasi densitas rangenya adalah -15% - 30%. Namun karena densitas
las tidak memenuhi standart yang ditentukan, yakni minimal 1,8 sedangkan densitas film yang
saya proses paling tinggi densitasnya adalah 1,68. Itu artinya film tersebut statusnya direject. Hal
ini mungkin disebabkan karena waktu penyinaran dan tegangan kerja (kV) pesawat sinar-X
kurang. Selain itu bisa juga karena kereakatifan developer yang sudah dibawah standart. Setalah
menghitung densitas langkah selanjutnya adalah menghitung sensitifitas, yakni dengan cara
mengamati pada viewer jumlah kawat yang keluar pada penny. Pada film saya kawat yang keluar
ada 4 sedangkan penny yang digunakan set A 2 kawat, itu artinya sensitifitasnya
bagus/terpenuhi. Karena kawat yang keluar 4, maka diameter kawat yang ke4 tersebut menjadi
acuan untuk perhitungan sensitifitas sesuai dengan perhitungan diatas. Diameter kawat ke4
adalah 0,13 mm. sehingga sensitifitasnya 1,55%.













KESIMPULAN
1. Film direject karena densitas film kurang, yakni 1,68 (yang tertinggi).
2. Factor yang mempengaruhi diterima ataupun direjectnya suatu film a.l. :
a. Tegangan kerja Pesawat Sinar-X
b. Waktu penyinaran (WP)
c. Tingkat reaktifitasan developer
3. Variasi densitas maksimun = 3,7% dan variasi densitas minimum = -6,17%. Artinya
variasi densitas terpenuhi karena masih dalam ketentuan range (-15% - 30%).
4. Sensitifitas film adalah 1,55% karena kawat yang keluar 4 dan tebal bahan 8,4 mm.
Artinya diterima (<= 2%).
5. Terdapat cacat slag (tungsten), undercut dam porosity. Namun cacat artefak tidak ada

DAFTAR PUSTAKA
1. Marjanto, Djoko. Petunjuk Praktikum Radiografi Industri. 2013, STTN-BATAN,
Yogyakarta.






Mengetahui Yogyakarta, 19 November 2013
Asisten Praktikan


(Drs. Djoko Marjanto) (Frendy H Kurniawan)