Anda di halaman 1dari 21

1

SKENARIO 3


Dr. Ahmad, 31 tahun, praktek di sebuah klinik dokter keluarga. Klinik ini dikelola
dengan baik sehingga dalam waktu yang relatif singkat mengalami kemajuan yang cukup
pesat dan dikenal luas di masyarakat. Suatu hari kedatangan seorang pasien, Ny, A, 38 tahun
dengan kehamilan trimester 1 pada G5P2A2. Pasien ingin melakukan pemeriksaan kehamilan
secara rutin di klinik Dr. Ahmad karena pasien mendapat informasi bahwa pelayanan di
klinik ini baik. Pasien mempunyai keluhan sering mual, muntah, lemas , cepat lelah dan
sesak. Dokter kemudian melakukan pemeriksaan fisik bersama bidan. Pada pemeriksaan
ditemukan bahwa kandungan dalam kondisi yang baik namun ibu tampak pucat, takikardi,
murmur, takipnea, dan terdapat nyeri tekan epigastrium.
Dr. Ahmad menyarankan agar pasien mengikuti pemeriksaan ANC yang teratur dan
menjelang partus kelak pasien akan dirujuk ke spesialis Obgyn yang sudah bekerja sama
dengan klinik dokter keluarga tersebut. Pasien menanyakan ke dokter tentang pilihan
pembiayaan proses persalinan, mengingat kemungkinan membutuhkan biaya yang lebih
besar.


2

Sasaran Belajar

1. Memahami dan menjelaskan prosedur standar pemeriksaan dokter keluarga
2. Memahami Dan Menjelaskan manajemen klinik dokter keluarga
3. Memahami Dan Menjelaskan Hubungan Kerjasama Antara Dokter Keluarga Dengan
Mitra Kerjanya
4. Memahami Dan Menjelaskan Tentang Konsultasi Dan Rujukan
- Definisi Konsultasi Dan Rujukan
- Karakteristik Konsultasi Dan Rujukan
- Manfaat Konsultasi Dan Rujukan
- Tatacara Konsultasi Dan Rujukan
5. Memahami Dan Menjelaskan Tentang Pembiayaan Kesehatan
- Jenis Pembiayaan Kesehatan
- Sistem Pembiayaan Kesehatan
- Tujuan/Manfaat Pembiayaan Kesehatan
- Prinsip Pembiayaan Kesehatan
- Sumber Pembiayaan Kesehatan
6. Memahami Dan Menjelaskan Pembiayaan Kesehatan Menurut Agama Islam

3

1. Memahami dan menjelaskan tentang prosedur standar pemeriksaan dokter
keluarga

1. Anamnesis
2. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
3. Penegakkan diagnosis dan diagnosis banding
4. Prognosis
5. Konseling : membantu pasien (dan keluarga) untuk menentukan pilihanterbaik penatalaksanaan
untuk pasien sendiri.
6. Konsultasi : jika diperlukan, dokter keluarga dapat melakukan konsultasike dokter lain (dokter
keluarga lain, dokter keluarga konsultan, dokterspesialis, atau dinas kesehatan) yang dianggap lebih
berpengalaman.
7. Rujukan
8. Tindak lanjut
9. Pengobatan rasional
10. Pembinaan keluarga : dilakukan bila dinilai bahwa penatalaksanaan pasienakan lebih baik jika
adanya partisipasi keluarga.

2. Memahami dan menjelaskan tentang manajemen klinik dokter keluarga

Jenis Klinik DK
Klinik DK
Kelas A (Ideal)
- 24 jam
- Kedaruratan dan kejadian luar biasa
- Pelayanan rawat jalan
- Pelayanan rawat inap sehari
- Bedah minor
- Konseling
- Preventif dan promotif
- Kunjungan ke- dan perawatan di rumah pasien
- Pemeriksaan penunjang
- Penyediaan obat
- Pendidikan, riset, dan pengembangan
Kelas B (Optimum)
- 24 jam
- Kedaruratan dan kejadian luar biasa
- Pelayanan rawat jalan
- Pelayanan rawat inap sehari
- Bedah minor
- Konseling
- Preventif dan promotif
- Kunjungan ke- dan perawatan di rumah pasien
- Pemeriksaan penunjang
- Penyediaan obat
- Pendidikan, riset, dan pengembangan
Kelas C (minimum)
- 24 jam
4

- Kedaruratan dan kejadian luar biasa
- Pelayanan rawat jalan
- Pelayanan rawat inap sehari
- Bedah minor
- Konseling
- Preventif dan promotif
- Kunjungan ke- dan perawatan di rumah pasien
- Pemeriksaan penunjang
- Penyediaan obat
- Pendidikan, riset, dan pengembangan

Standard pelayanan
Syarat SDM dalam klinik dokter keluarga:
Dokter: 2
Bidan: 1
Asisten analis: 1 (honor)
Asisten apoteker: 1
Staf administrasi dan keuangan: 1
OB: 1
1. Ruang tunggu :
Bersih
Terang
Ventilasi baik
Lantai tidak licin
Tidak berbau
Tidak bising
Suhu nyaman
Terpisah dari pasien infeksius

1. Kerahasiaan dan privasi
Ruang konsultai terpisah dari ruang tunggu
Sistem yang menjamin kerahasiaan medik
Menjamin kerahasiaan pasien setelah pelayanan

2. Bangunan dan interior
Merupakan bangunan permanen atau semi permanen yang dirancang sesuai pelayanan
medis strata pertama yang aman dan terjangkau
Memiliki ruang :
o Ruang administrasi
o Ruang tunggu
5

o Ruang pemeriksaan
o Kamar kecil
o Dapat melindungi dari panas dan hujan
o Relatif mudah diberishkan
o Mempunyai ventilasi cukup atau ber ac
o Mempunyai sinar yang cukup

3. Alat komunikasi
Memiliki alat komunikasi yang biasa digunakan masyarakat sekitar

4. Papan nama
Poisis papan nama mudah dibaca
Tidak ada hiasan maupun lampu warna
Ukuran minimal 40x60cm maksimal 60x90cm
Warna dasar putih dengan huruf balok warna hitam
Memuat nama dokter,sip,alamat praktek ,dan jadwal praktek.

5. Peralatan klinik
Memiliki alat alat pemeriksaan fisik sebagai berikut :
o Alat tes sensasi kulit
o Auriskop
o Lampu senter dan kepala
o Palu refleks
o Peak flow meter
o Ophtalmoscop
o Penekan lidah
o Pengukur tinggi badan
o Snellen chart
o Spekulum vagina
o Stetoskop
o Tensimeter
o Termometer
o Timbangan badan
o Memiliki alat laboratorium
o Alat monitoring gula darah
o Alat pengukur kadar hemoglobin
o Alat pemulas sediaan gram
o Alat pemulas sediaan basah
o Gelas obyek dan penutup
o Mikroskop


6

Memiliki alat tidanakan sebagai berikut
o Bak instrumen mental
o Benang otot dan sutra
o Forsep hemostatik
o Gunting perban
o Jarum kulit
o Jarum suntik
o Kapas,perban,plester
o Minor set
o Peralatan resusitasi

Tas dokter untuk perawatan rumah
o Alat penekan lidah forsep hemostat
o Jarum suntik
o Kapas dan alkohol
o Lampu senter
o Obat2an
o Pali refleks
o Spuit
o Stetoskop
o Tensimeter
o Termometer
o Peralatan luka
o Kasa
o Antiseptik
o Larutan irigasi
o Perangkat intravena
o Kateter


Persediaan obat
o Adrenalin
o Kortokosteroid
o Antihistamin
o Analgetik
o Anti asma
o Anti konvulsan
o Cairan infus
o Parasetamol
o Nsaid
o Obat luka
o Anti konvulsan
o Spasmolitik
7

o Anestesi lokal
o Metode kontrasepsi

Manajemen klinik

Peningkatan Kemampuan & Pengembangan Staf
o Bentuk: Kursus, pelatihan, pendidikan formal,dll
o Bentuk Lain: Selia Bestari (peer review) di antara sesama staf (medis dan non-
medis) Pengaturan: Bisa dibuat perjanjian tersendiri
o Proses: berdasarkan permintaan karyawan atau kebutuhan KDK
Untuk tenaga medis
o PKB (pendidikan kedokteran berkelanjutan) Seminar, Simposium, Lokakarya.
o Peer Review: Pembahasan kasus secara EBM
o Kursus singkat untuk satu ketrampilan tertentu (ATLS, ACLS, EKG,
Kepemimpinan, dll)
o Pendidikan formal (S2 Aktuaria, S2 Kesehatan Kerja, dll)
Untuk paramedis
o Kursus keperawatan
o Peer Review: Diskusi kelompok
o membahas satu masalah (rutin)
o Kursus Manajemen pengelolaan
o keperawatan di klinik (asuhan keperawatan,dll)
o Pendidikan formal seperti Akademi Keperawatan, Akademi Kebidanan, dll
Untuk tenaga non-medis
o Kursus penggunaan alat tertentu
o Kursus Manajemen laboratorium,
o Pemeriksaan Kesehatan Berkala
o Pendidikan Formal seperti Akademi Penata Rontgen, AKK, Kursus
perpajakan

3. Hubungan Kerjasama Antara Dokter Keluarga Dengan Mitra Kerjanya
Bentuk komunikasi/kerjasama antara dokter dan teman sejawatnya di lakukan dalam
berbagai hal seperti :
Merujuk pasien.
Pada pasien rawat jalan, karena alasan kompetensi dokter dan keterbatasan
fasilitas pelayanan, dokter yang merawat harua merujuk pasiennya pada teman sejawat
lainnya.
Bekerjasama dengan sejawat.
Dokter harus memperlakukan teman sejawat tanpa membeda-bedakan jenis kelamin,
ras,usia, kecacatan, agama, status sosial atau perbedaan kompetensi yang dapat
merugikanhubungan profesional antar sejawat.
Bekerja dalam tim.
Asuhan kesehatan selalu di ingatkan melalui kerjasama dalam tim multidisiplin.
8

Mengatur dokter pengganti.
Ketika seorang dokter berhalangan, dokter tersebut harus menentukan dokter
pengganti serta mengatur proses mengalihkan yang efektif dan komunikatif dengan
dokter pengganti.
Mematuhi tugas.
Seorang dokter yang bekerja pada institusi pelayanan atau pendidikan kedokteran
harus mematuhi tugas yang digariskan pimpinan institusi, termasuk sebagai dokter
pengganti.
Pendelegasian wewenang.
Pendelegasian wewenang kepada perawat, peseta prograrm pendidikan spesialis,
mahasiswa kedokteran dalam hal pengobatan atau perawatan atas nama dokter yang
merawat, harus disesuaikan dengan kompetensi dalam melaksanakan prosedur dan terapi
yang sesuai dengan peraturan baru.

Komunikasi dokter Profesi lain :
Kolaborasi dokter perawat
Komunikasi dokter-Apoteker

Kolaborasi Prinsip : Perencanaan
Pengambilan keputusan bersama
Berbagi saran / ide
Kebersamaan
Tanggung gugat

Pendekatan Praktik Hirarkis
Dokter Registerd nurse Pemberi pelayanan lain Pasien
Menekankan komunikasi satu arah
Kontak Dokter dengan pasien terbatas
Dokter merupakan tokoh yang dominan
Cocok untuk diterapkan di keadaan tertentu, sepert IGD
Pendekatan ini sekarang masih dominan dalam praktik dokter di Indonesia

Model kolaboratif tipe II :
9







Lebih berpusat pada pasien
Semua pemberi pelayanan harus
bekerjasama
Ada kerja sama dengan pasien
Tidak ada pemberi pelayanan yang
mendominasi secara terus-menerus

4. Memahami dan menjelaskan tentang konsultasi dan rujukan

Definisi
Konsultasi adalah upaya meminta bantuan profesional terkait penangan suatu kasus
penyakit yang sedang ditangani oleh seorang dokter, kepada dokter lain yang lebih
ahli di bidangnya. Namun kewenangan penanganan masih berada pada dokter
keluarga yang bersangkutan.
Rujukan adalah upaya melimpahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan
kasus penyakit yang sedang ditangani oleh seorang dokter kepada dokter lain yang
sesuai.
Konsultasi dapat dilakukan mendahului rujukan, namun tidak jarang langsung
melakukan rujukan. Meskipun demikian, ada kalanya keduanya dipergunakan
bersama-sama.
Rujukan dalam pelayanan kedokteran ini umumnya kepada pelayan yang lebih tinggi
ilmu, peralatan dan strata yang lebih tinggi dalam rangka mengatasi kasus atau
problem tersebut.

Karakteristik
6. Ruang lingkup kegiatan : konsultasi memintakan bantuan profesional dari pihak ke
tiga. Rujukan melimpahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan kasus
penyakit yang sedang dihadapi kepada pihak ketiga.
7. Kemampuan dokter : konsultasi ditujukan kepada dokter yang lebih ahli atau yang
lebih berpengalaman. Pada rujukan hal ini tidak mutlak.
8. Wewenang dan tanggung jawab : konsultasi wewenang dan tanggung jawab tetap
pada dokter yang meminta konsultasi. Pada rujukan sebaliknya.

Macam-macam Rujukan :
Rujukan medis:
Rujukan pasien (transfer of patient)
Rujukan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge)
Registerd
nurse
Pemberi
pelayanan
lain
DOKTER
PASIEN
10

Rujukan bahan (transfer of specimens)
Rujukan kesehatan:
Rujukan tenaga
Rujukan sarana
Rujukan operasional

Manfaat Konsultasi dan Rujukan :
1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan (bila sistemnya berjalan sesuai dengan
yang seharusnya)
2. Kebutuhan dan tuntutan kesehatan pasien akan terpenuhi (terbentuk team work)

Masalah Konsultasi dan Rujukan
1. Rasa kurang percaya pasien terhadap dokter (bila rujukan/konsultasi inisiatif dokter)
2. Rasa kurang senang pada diri dokter (bila rujukan/ konsultasi atas permintaan pasien)
3. Bila tidak ada jawaban dari konsultasi
4. Bila tidak sependapat dengan saran/tindakan dokter konsultan
5. Bila ada pembatas (sikap/ perilaku,biaya, transportasi)
6. Apabila pasien tidak bersedia untuk dikonsultasikan dan ataupun dirujuk.

Tata Laksana Konsultasi dan Rujukan
Dasarnya adalah kepatuhan terhadap kode etik profesi yg telah disepakati bersama,
dan sistem kesehatan terutama sub sistem pembiayaan kesehatan yang berlaku.
Konsultasi (McWhinney, 1981):
a. Penjelasan lengkap kepada pasien alasan untuk konsultasi
b. Berkomunikasi secara langsung dengan dokter konsultan (surat, formulir khusus,
catatan di rekam medis, formal/ informal lewat telefon)
c. Keterangan lengkap tentang pasien
d. Konsultan bersedia memberikan konsultasi

Tata Cara Rujukan
Pasien harus dijelaskan selengkap mungkin alasan akan dilakukan konsultasi dan
rujukan. Penjelasan ini sangat perlu, terutama jika menyangkut hal-hal yang peka,
seperti dokter ahli tertentu.
Dokter yang melakukan konsultasi harus melakukan komunikasi langsung dengan
dokter yang dimintai konsultasi. Biasanya berupa surat atau bentuk tertulis yang
memuat informasi secara lengkap tentang identitas, riwayat penyakit dan penanganan
yang dilakukan oleh dokter keluarga.
Keterangan yang disampaikan tentang pasien yang dikonsultasikan harus selengkap
mungkin. Tujuan konsultasi pun harus jelas, apakah hanya untuk memastikan
diagnosis, menginterpretasikan hasil pemeriksaaan khusus, memintakan nasihat
pengobatan atau yang lainnya.
11

Sesuai dengan kode etik profesi, seyogianya dokter dimintakan konsultasi wajib
memberikan bantuan profesional yang diperlukan. Apabila merasa diluar keahliannya,
harus menasihatkan agar berkonsultasi ke dokter ahli lain yang lebih seuai.
Terbatas hanya pada masalah penyakit yang dirujuk saja
Tetap berkomunikasi antara dokter konsultan dan dokter yg meminta rujukan
Perlu disepakati pembagian wewenang dan tanggungjawab masing-masing pihak

Pembagian Wewenang dan Tanggung Jawab
1. I nterval referral, pelimpahan wewenang dan tanggung jawab penderita sepenuhnya
kepada dokter konsultan untuk jangka waktu tertentu, dan selama jangka waktu
tersebut dokter tsb tidak ikut menanganinya.
2. Collateral referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita
hanya untuk satu masalah kedokteran khusus saja.
3. Cross referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita
sepenuhnya kepada dokter lain untuk selamanya.
4. Split referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita
sepenuhnya kepada beberapa dokter konsultan, dan selama jangka waktu pelimpahan
wewenang dan tanggungjawab tersebut dokter pemberi rujukan tidak ikut campur.



5. Memahami dan menjelaskan tentang pembiayaan kesehatan

Terdapat 3 jenis pembiayaan kesehatan berdasarkan ideologi negara di dunia, yaitu :
1. Sosialis (welfare state). Pada negara-negara tersebut, negara mempunyai kewajiban
penuh untuk memenuhi biaya kesehatan. Bisa juga disebut tanggungan negara 100%.
2. Liberalis-kapitalis. Di sini biaya kesehatan diserahkan pada mekanisme pasar atau
pemerintah tidak menanggung biaya kesehatan) sehingga pelayanan kesehatan
menjadi berorientasi pada keuntungan semata.
3. Kombinasi antara sosialis dan kapitalis. Biaya kesehatan pada negara yang mengacu
sistem pembiayaan kombinasi ditanggung oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Berdasarkan dari jenis pembiayaan kesehatan tersebut, dapat ditentukan Indonesia
mengikuti sistem kombinasi dimana pihak pemerintah, swasta, dan masyarakat sama-sama
menanggung beban pembiayaan kesehatan.
12

Macam-macam biaya kesehatan:
Tergantung dari jenis dan kompleksitas pelayanan kesehatan yang diselenggarakan
dan atau dimanfaatkan. Hanya saja disesuaikan dengan pembagian pelayanan kedokteran,
maka biaya kesehatan tersebut. Secara umum dapat dibedakan atas dua macam yakni:
1. Biaya pelayanan kedokteran
Biaya yang dimaksud adalah yang dibutuhkan intuk menyelenggarakan dan
atau memanfaatkan pelayanan kedokteran. Yakni yang tujuan utamanya untuk
mengobati penyakit serta memulihkan kesehatan penderita.
2. Biaya pelayanan kesehatan masyarakat
Biaya yang dimaksud adalah yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan dan
atau memanfaatkan pelayanan kesehatan masyarakat. Yakni yang tujuan utamanya
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta untuk mencegah penyakit.

Biaya kesehatan dapat dilihat dari dua sudut:
1. Penyedia pelayanan kesehatan (health provider)
Besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat menyelenggarakan upaya
kesehatan dan lebih menunjuk pada seluruh biaya investasi (investment cost) dan
biaya operasional (operational cost). Ini merupakan persoalan utama dari pihak
pemerintah atau swasta yakni pihak-pihak yang menyelenggarakan upaya kesehatan.
2. Pemakai jasa kesehatan (health consumer)
Besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat memanfaatkan jasa
pelayanan.ini menjadi persoalan utama para pemakai jasa pelayanan.

Unsur-unsur Pembiayaan Kesehatan
Dana
Dana digali dari sumber pemerintah baik dari sektor kesehatan dan sektor lain terkait,
dari masyarakat, maupun swasta serta sumber lainnya yang digunakan untuk
mendukung pelaksanaan pembangunan kesehatan. Dana yang tersedia harus
mencukupi dan dapat dipertanggung-jawabkan.
Sumber daya
Sumber daya pembiayaan kesehatan terdiri dari: SDM pengelola, standar, regulasi dan
kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya
penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung
terselenggaranya pembangunan kesehatan.
Pengelolaan Dana Kesehatan
Prosedur/Mekanisme Pengelolaan Dana Kesehatan adalah seperangkat aturan yang
disepakati dan secara konsisten dijalankan oleh para pelaku subsistem pembiayaan
kesehatan, baik oleh Pemerintah secara lintas sektor, swasta, maupun masyarakat
yang mencakup mekanisme penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan dana
kesehatan.



13

Tujuan Pembiayaan Kesehatan
Tersedianya pembiayaan kesehatan dengan jumlah yang mencukupi, teralokasi secara adil
dan termanfaatkan secara berhasil-guna dan berdaya-guna, untuk menjamin terselenggaranya
pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya.

Pokok utama dalam pembiayaan kesehatan adalah:
a) Mengupayakan kecukupan dan kesinambungan pembiayaan kesehatan pafa tingkat
pusat dan daerah
b) Mengupayakan pengurangan pembiayaan OOP dan meniadakan hambatan
pembiayaan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terutama kelompok miskin dan
rentan melalui pengembangan jaminan
c) Peningkatan efisiensi dan efektifitas pembiayaan kesehatan

Organisasi kesehatan dunia (WHO) memberi fokus strategi pembiayaan kesehatan yang
memuat isu-isu pokok, tantangan, tujuan utama kebijakan dan program aksi itu pada
umumnya adalah dalam area sebagai berikut:
a. Meningkatkan investasi dan pembelanjaan publik dalam bidang kesehatan
b. Mengupayakan pencapaian kepesertaan semesta dan penguatan permeliharaan
kesehatan masyarakat miskin
c. Pengembangan skema pembiayaan praupaya termasuk didalamnya asuransi kesehatan
sosial (shi)
d. Penggalian dukungan nasional dan internasional
e. Penguatan kerangka regulasi dan intervensi fungsional
f. Pengembangan kebijakan pembiayaan kesehatan yang didasarkan pada data dan fakta
ilmiah
g. Pemantauan dan evaluasi.

Prinsip Subsistem Pembiayaan Kesehatan Indonesia
1. Jumlah dana untuk kesehatan harus cukup tersedia dan dikelola secara berdaya-guna,
adil dan berkelanjutan yang didukung oleh transparansi dan akuntabilitas.
2. Dana pemerintah diarahkan untuk pembiayaan upaya kesehatan masyarakat dan
upaya kesehatan perorangan bagi masyarakat rentan dan keluarga miskin.
3. Dana masyarakat diarahkan untuk pembiayaan upaya kesehatan perorangan yang
terorganisir, adil, berhasil-guna dan berdaya-guna melalui jaminan pemeliharaan
kesehatan baik berdasarkan prinsip solidaritas sosial yang wajib maupun sukarela,
yang dilaksanakan secara bertahap.
4. Pemberdayaan masyarakat dalam pembiayaan kesehatan diupayakan melalui
penghimpunan secara aktif dana sosial untuk kesehatan (misal: dana sehat) atau
memanfaatkan dana masyarakat yang telah terhimpun (misal: dana sosial keagamaan)
untuk kepentingan kesehatan.
5. Pada dasarnya penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan pembiayaan kesehatan di
daerah merupakan tanggung jawab pemerintah daerah. Namun untuk pemerataan
14

pelayanan kesehatan, Pemerintah menyediakan dana perimbangan (maching grant)
bagi daerah yang kurang mampu.

Sumber Biaya Kesehatan:
Pemerintah, swasta, masyarakat, sumber lain(hibah, pinjaman dari luarnegri).
1. Seluruhnya bersumber dari anggaran pemerintah
Tergantung dari bentuk pemerintahan yang dianut, ada ditemukan suatu negara yang
menanggung biaya kesehatan sepenuhnya (cuma-cuma), pada negara seperti ini tidak
ditemukan pelayanan kesehatan swasta.
2. Sebagian ditanggung oleh masyarakat
Masyarakat diajak berperan serta, baik dalam menyelenggarakan upaya kesehatan
ataupun pada waktu memanfaatkan jasa pelayanan kesehatan. Dapat ditemukan
pelayanan kesehatan swasta,dalam hal ini masyarakat diharuskan membayar
pelayanan kesehatan yang dimanfaatkannya.

Asuransi Kesehatan
Suatu mekanisme pengalihan resiko (sakit) dari resiko perorangan menjadi resiko
kelompok. Dengan cara mengalihkan resiko individu menjadi resiko kelompok, beban
ekonomi yang harus dipikul oleh masing-masing peserta asuransi akan lebih tetapi
mengandung kepastian karena memperoleh jaminan.

Unsur-unsur asuransi kesehatan:
ada perjanjian
ada pembelian perlindungan
ada pembayaran premi oleh masyarakat

Jenis-jenis asuransi kesehatan di Indonesia:
a) Asuransi kesehatan sosial (social health insurance) asuransi ini memegang teguh
prinsipnya bahwa kesehatan adalah sebuah pelayanan sosial, pelayanan kesehatan
tidak boleh semata-mata diberikan berdasarkan status sosial masyarakat sehingga
semua lapisan berhak untuk memperoleh jaminan pelayanankesehatan. contoh:
PT.askes, PT.jamsostek
Prinsip kerja:
Keikutsertaannya bersifat wajib
Menyertakan tenaga kerja dan keluarganya
Iuran/premi berdasarkan persentase gaji/pendapatan. Idealnya harus dihitung 5%
dari GDP
Premi untuk tenaga kerja ditanggung bersama (50%) oleh pemberi kerja dan tenaga
kerja.
Premi tidak ditentukan oleh resiko perorangan tetapi didasarkan pada
resikokelompok (collective risk sharing)
Tidak diperlukan pemeriksaan awal
15

Jaminan pemeliharaan kesehatan yang diperoleh bersifat menyeluruh
(universal coverage)
Peran pemerintah sangat besar untuk mendorong berkembangnya asuransi
kesehatansosial di Indonesia. Semua pegawai negeri diwajibkan untuk mengikuti
asuransi kesehatan
b) Asuransi kesehatan komersial perorangan (private voluntary health
insurance) jenis asuransi ini dapat dibeli preminya baik individu maupun segmen
masyarakat kelas menengah keatas.
Prinsip kerja:
Kepersertaan bersifat perorangan dan sukarela
Iuran/premi berdasarkan angka absolut, ditetapkan berdasarkan jenis
tanggunganyang dipilih.
Premi berdasarkan atas resiko perorangan dan ditentukan faktor usia, jenis
kelamin, jenis pekerjaan.
Dilakukan pemeriksaan kesehatan awal
Santunan diberikan sesuai kontrak
Peranan pemerintah relatif kecil
c) Asuransi kesehatan komersial kelompok (regulated private health insurance) ini
merupakan alternatif lain sistem asuransi kesehatan komersial
Prinsip-prinsip dasar:
Keikutsertaan bersifat sukarela berkelompok
Iuran/preminya dibayar berdasarkan atas angka absolut
Perhitugan premi bersifat community rating yang berlaku untuk
kelompok masyarakat
Santunan (jaminan pemeliharaan kesehatan) diberikan sesuai dengan kontrak
Tidak diperlukan pemeriksaan awal
6. Memahami dan menjelaskan pembiayaan kesehatan menurut agama islam
Penyelenggaraan kesehatan dalam pandangan Islam termasuk pengertian riayatus
suun (pelayanan umum) yang wajib dilakukan oleh negara atas seluruh rakyatnya, baik
muslim maupun non muslim, kaya ataupun miskin. Seluruh biaya yang diperlukan secara
wajib di tanggung oleh Baitul Mal (kas negara). Adapun peran non-pemerintah (swasta)
dalam pembiayaan kesehatan bukanlah hal yang utama.
Negara bertanggung jawab menjamin pemenuhan kebutuhan dasar itu. Nabi saw
Bersabda : Imam (Khalifah) laksana pengembala dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya (
HR al-Bukhari). Tidak terpenuhinya atau terjaminnya kesehatan dan pengobatan akan
mendatangkan dharar bagi masyarakat. Oleh karena itu, penyediaan layanan kesehatan
menjadi tanggung jawab dan kewajiban negara (Khilafah). Khilafah wajib membangun
berbagai rumah sakit, klinik, laboratorium medis, apotik , pusat dan lembaga litbang
kesehatan, sekolah kedokteran , apoteker, perawat, bidan dan sekolah lainnya yang
menghasilkan tenaga medis, serta berbagai sarana prasarana kesehatan dan pengobatan
lainnya.
Semua pelayanan kesehatan dan pengobatan harus dikelola sesuai dengan aturan
syariah. Juga harus memperhatikan faktor ihsan dalam pelayanan yaitu wajib memenuhi 3
16

(tiga) prinsip baku yang berlaku umum untuk setiap pelayanan masyarakat dalam sistem
Islam: pertama, sederhana dalam peraturan (tidak berbelit-belit). Kedua, cepat dalam
pelayanan. Ketiga, profesional dalam pelayanan, yakni dikerjakan oleh orang yang kompeten
dan amanah
Konsep dasar asuransi syariah adalah tolong menolong dalam kebaikan dan
ketakwaan (al birri wat taqwa). Konsep tersebut sebagai landasan yang diterapkan dalam
setiap perjanjian transaksi bisnis dalam wujud tolong menolong (akad takafuli) yang
menjadikan semua peserta sebagai keluarga besar yang saling menanggung satu sama lain di
dalam menghadapi resiko, yang kita kenal sebagai sharing of risk, sebagaimana firman Allah
SWT yang memerintahkan kepada kita untuk taawun (tolong menolong) yang berbentuk al
birri wat taqwa (kebaikan dan ketakwaan) dan melarang taawun dalam bentuk al itsmi wal
udwan (dosa dan permusuhan).
Firman Allah dalam surat al-Baqarah 188, 'Dan janganlah kalian memakan harta di
antara kamu sekalian dengan jalan yang bathil, dan janganlah kalian bawa urusan harta itu
kepada hakim yang dengan maksud kalian hendak memakan sebagian harta orang lain
dengan jalan dosa, padahal kamu tahu." Hadist Nabi Muhammad SAW, "Mukmin terhadap
mukmin yang lain seperti suatu bangunan memperkuat satu sama lain," Dan "Orang-orang
mukmin dalam kecintaan dan kasih sayang mereka seperti satu badan. Apabila satu anggota
badan menderita sakit, maka seluruh badan merasakannya.

Sistem Pembiayaan Kesehatan Dalam Islam
Asuransi Syariah (Takaful)
1) Arti Kata Takaful
Secara bahasa, takaful ( ) berasal dari akar kata ( ) yang artinya menolong,
memberi nafkah dan mengambil alih perkara seseorang. Dalam Al-Qur'an tidak dijumpai kata
takaful, namun ada sejumlah kata yang seakar dengan kata takaful, seperti dalam :
QS. Thoha/ 20 : 40


"(yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga
Fir'aun): 'Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?"
QS. Annisa/ 04 : 85 :


"Dan barangsiapa yang memberi syafa'at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian
(dosa) daripadanya.."
Asuransi Syariah (Ta'min, Takaful atau Tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan
tolong menolong diantara sejumlah orang/ pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan /
atau tabarru' yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui
akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.
Akad yang sesuai dengan syariah adalah yang tidak mengandung gharar (penipuan),
maysir (perjudian), riba, dzulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram dan maksiat.



17

2) Cikal Bakal Asuransi Syariah
a. Al-Aqila ( )
Yaitu saling memikul atau bertanggung jawab untuk keluarganya. Jika salah satu
anggota suku terbunuh oleh anggota suku yang lain, pewaris korban akan dibayar dengan
uang darah (diyat) sebagai konpensasi saudara terdekat dari terbunuh. Saudara terdekat dari
pembunuh disebut aqilah. Lalu mereka mengumpulkan dana (al-kanzu) yang diperuntukkan
membantu keluarga yang terlibat dalam pembunuhan tidak sengaja.
b. Al-Muwalah ( )
Yaitu perjanjian jaminan. Penjamin menjamin seseroang yang tidak memiliki waris
dan tidak diketahui ahli warisnya. Penjamin setuju untuk menanggung bayaran dia, jika orang
yang dijamin tersebut melakukan jinayah. Apabila orang yang dijamin meninggal, maka
penjamin boleh mewarisi hartanya sepanjang tidak ada ahli warisnya.

Penyelenggaraan kesehatan dalam pandangan Islam termasuk pengertian riayatus
suun(pelayanan umum) yang wajib dilakukan oleh negara atas seluruh rakyatnya, baik
muslim maupun non muslim, kaya ataupun miskin. Seluruh biaya yang diperlukan secara
wajib di tanggung oleh Baitul Mal (kas negara). Adapun peran non-pemerintah (swasta)
dalam pembiayaan kesehatan bukanlah hal yang utama.
Negara bertanggung jawab menjamin pemenuhan kebutuhan dasar itu. Nabi saw
Bersabda: Imam (Khalifah) laksana pengembala dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya (
HR al-Bukhari).

Beberapa perbedaan asuransi syariah dengan asuransi konvensional, di antaranya
adalah sebagai berikut:
Akad (Perjanjian)
- Setiap perjanjian transaksi bisnis di antara pihak-pihak yang melakukannya harus
jelas secara hukum ataupun non-hukum untuk mempermudah jalannya kegiatan bisnis
tersebut saat ini dan masa mendatang. Akad dalam praktek muamalah menjadi dasar
yang menentukan sah atau tidaknya suatu kegiatan transaksi secara syariah. Hal
tersebut menjadi sangat menentukan di dalam praktek asuransi syariah. Akad antara
perusahaan dengan peserta harus jelas, menggunakan akad jual beli (tadabuli) atau
tolong menolong (takaful).
- Akad pada asuransi konvensional didasarkan pada akad tadabuli atau perjanjian jual
beli. Syarat sahnya suatu perjanjian jual beli didasarkan atas adanya penjual, pembeli,
harga, dan barang yang diperjual-belikan. Sementara itu di dalam perjanjian yang
diterapkan dalam asuransi konvensional hanya memenuhi persyaratan adanya penjual,
pembeli dan barang yang diperjual-belikan. Sedangkan untuk harga tidak dapat
dijelaskan secara kuantitas, berapa besar premi yang harus dibayarkan oleh peserta
asuransi utnuk mendapatkan sejumlah uang pertanggungan. Karena hanya Allah yang
tahu kapan kita meninggal. Perusahaan akan membayarkan uang pertanggunggan
sesuai dengan perjanjian, akan tetapi jumlah premi yang akan disetorkan oleh peserta
tidak jelas tergantung usia. Jika peserta dipanjangkan usia maka perusahaan akan
untung namun apabila peserta baru sekali membayar ditakdirkan meninggal maka
18

perusahaan akan rugi. Dengan demikian menurut pandangan syariah terjadi cacat
karena ketidakjelasan (gharar) dalam hal berapa besar yang akan dibayarkan oleh
pemegang polis (pada produk saving) atau berapa besar yang akan diterima pemegang
polis (pada produk non-saving).

Gharar (Ketidakjelasan)
- Definisi gharar menurut Madzhab Syafii adalah apa-apa yang akibatnya tersembunyi
dalam pandangan kita dan akibat yang paling kita takuti.
- Gharar/ketidakjelasan itu terjadi pada asuransi konvensional, dikarenakan tidak
adanya batas waktu pembayaran premi yang didasarkan atas usia tertanggung,
sementara kita sepakat bahwa usia seseorang berada di tangan Yang Mahakuasa. Jika
baru sekali seorang tertanggung membayar premi ditakdirkan meninggal, perusahaan
akan rugi sementara pihak tertanggung merasa untung secara materi. Jika tertanggung
dipanjangkan usianya, perusahaan akan untung dan tertanggung merasa rugi secara
financial. Dengan kata lain kedua belah pihak tidak mengetahui seberapa lama
masing-masing pihak menjalankan transaksi tersebut. Ketidakjelasan jangka waktu
pembayaran dan jumlah pembayaran mengakibatkan ketidaklengkapan suatu rukun
akad, yang kita kenal sebagai gharar. Para ulama berpendapat bahwa perjanjian jual
beli/akad tadabuli tersebut cacat secara hukum.
- Pada asuransi syariah akad tadabuli diganti dengan akad takafuli, yaitu suatu niat
tolong-menolong sesama peserta apabila ada yang ditakdirkan mendapat musibah.
Mekanisme ini oleh para ulama dianggap paling selamat, karena kita menghindari
larangan Allah dalam praktik muamalah yang gharar.
- Pada akad asuransi konvensional dana peserta menjadi milik perusahaan asuransi
(transfer of fund). Sedangkan dalam asuransi syariah, dana yang terkumpul adalah
milik peserta (shahibul mal) dan perusahaan asuransi syariah (mudharib) tidak bisa
mengklaim menjadi milik perusahaan.

- Tabarru dan Tabungan

Tabarru berasal dari kata tabarraa-yatabarra-tabarrawan, yang artinya sumbangan
atau derma. Orang yang menyumbang disebut mutabarri (dermawan). Niat
bertabbaru bermaksud memberikan dana kebajikan secara ikhlas untuk tujuan saling
membantu satu sama lain sesama peserta asuransi syariah, ketika di antaranya ada
yang mendapat musibah. Oleh karena itu dana tabarru disimpan dalam rekening
khusus. Apabila ada yang tertimpa musibah, dana klaim yang diberikan adalah dari
rekening tabarru yang sudah diniatkan oleh sesama peserta untuk saling menolong.
Menyisihkan harta untuk tujuan membantu orang yang terkena musibah sangat
dianjurkan dalam agama Islam, dan akan mendapat balasan yang sangat besar di
hadapan Allah, sebagaimana digambarkan dalam hadist Nabi SAW,"Barang siapa
memenuhi hajat saudaranya maka Allah akan memenuhi hajatnya."(HR Bukhari
Muslim dan Abu Daud).
Untuk produk asuransi jiwa syariah yang mengandung unsur saving maka dana yang
19

dititipkan oleh peserta (premi) selain terdiri dari unsur dana tabarru terdapat pula
unsur dana tabungan yang digunakan sebagai dana investasi oleh perusahaan.
Sementara investasi pada asuransi kerugian syariah menggunakan dana tabarru
karena tidak ada unsur saving. Hasil dari investasi akan dibagikan kepada peserta
sesuai dengan akad awal. Jika peserta mengundurkan diri maka dana tabungan beserta
hasilnya akan dikembalikan kepada peserta secara penuh.
Prof. Mustafa Ahmad Zarqa berkata bahwa dalam asuransi konvensional terdapat
unsur gharar yang pada gilirannya menimbulkan qimar. Sedangkan al qimar sama
dengan al maisir. Muhammad Fadli Yusuf menjelaskan unsur maisir dalam asuransi
konvensional karena adanya unsur gharar, terutama dalam kasus asuransi jiwa.
Apabila pemegang polis asuransi jiwa meninggal dunia sebelum periode akhir polis
asuransinya dan telah membayar preminya sebagian, maka ahliwaris akan menerima
sejumlah uang tertentu. Pemegang polistidak mengetahui dari mana dan bagaimana
cara perusahaan asuransi konvensional membayarkan uang pertanggungannya. Hal ini
dipandang karena keuntungan yang diperoleh berasal dari keberanian mengambil
risiko oleh perusahaan yang bersangkutan. Muhammad Fadli Yusuf mengatakan,
tetapi apabila pemegang polis mengambil asuransi itu tidak dapat disebut judi. Yang
boleh disebut judi jika perusahaan asuransi mengandalkan banyak/sedikitnya klaim
yang dibayar. Sebab keuntungan perusahaan asuransi sangat dipengaruhi oleh banyak
/sedikitnya klaim yang dibayarkannya.

Riba
- Dalam hal riba, semua asuransi konvensional menginvestasikan dananya dengan
bunga, yang berarti selalu melibatkan diri dalam riba. Hal demikian juga dilakukan
saat perhitungan kepada peserta, dilakukan dengan menghitung keuntungan di depan.
Investasi asuransi konvensional mengacu pada peraturan pemerintah yaitu investasi
wajib dilakukan pada jenis investasi yang aman dan menguntungkan serta memiliki
likuiditas yang sesuai dengan kewajiban yang harus dipenuhi. Begitu pula dengan
Keputusan Menteri Keuangan No. 424/KMK.6/2003 Tentang Kesehatan Keuangan
Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Semua jenis investasi yang diatur
dalam peraturan pemerintah dan KMK dilakukan berdasarkan sistem bunga.
- Asuransi syariah menyimpan dananya di bnak yang berdasarkan syariat Islam dengan
sistem mudharabah. Untuk berbagai bentuk investasi lainnya didasarkan atas
petunjuk Dewan Pengawas Syariah. Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imron ayat
130,"Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu memakan riba yang memang
riba itu bersifat berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu
mendapatkan keberuntungan." Hadist, "Rasulullah mengutuk pemakaian riba,
pemberi makan riba, penulisnya dan saksinya seraya bersabda kepada mereka semua
sama."(HR Muslim)

Dana Hangus
- Ketidakadilan yang terjadi pada asuransi konvensional ketika seorang peserta karena
suatu sebab tertentu terpaksa mengundurkan diri sebelum masa reversing period.
20

Sementara ia telah beberapa kali membayar premi atau telah membayar sejumlah
uang premi. Karena kondisi tersebut maka dana yang telah dibayarkan tersebut
menjadi hangus. Demikian juga pada asuransi non-saving atau asuransi kerugian jika
habis masa kontrak dan tidak terjadi klaim, maka premi yang dibayarkan akan hangus
dan menjadi milik perusahaan.
- Kebijakan dana hangus yang diterapkan oleh asuransi konvensional akan
menimbulkan ketidakadilan dan merugikan peserta asuransi terutama bagi mereka
yang tidak mampu melanjutkan karena suatu hal. Di satu sisi peserta tidak punya dana
untuk melanjutkan, sedangkan jika ia tidak melanjutkan dana yang sudah masuk akan
hangus. Kondisi ini mengakibatkan posisi yang dizalimi. Prinsip muamalah melarang
kita saling menzalimi, laa dharaa wala dhirara ( tidak ada yang merugikan dan
dirugikan).
- Asuransi syariah dalam mekanismenya tidak mengenal dana hangus, karena nilai
tunai telah diberlakukan sejak awal peserta masuk asuransi. Bagi peserta yang baru
masuk karena satu dan lain hal mengundurkan diri maka dana/premi yang sebelumnya
dimasukkan dapat diambil kembali kecuali sebagian kecil dana yang dniatkan sebagai
dana tabarru (dana kebajikan). Hal yang sama berlaku pula pada asuransi kerugian.
Jika selama dan selesai masa kontrak tidak terjadi klaim, maka asuransi syariah akan
membagikan sebagian dana/premi tersebut dengan pola bagi hasil 60:40 atau 70:30
sesuai kesepakatan si awal perjanjian (akad). Jadi premi yang dibayarkan pada awal
tahun masih dapat dikembalikan sebagian ke peserta (tidak hangus). Jumlahnya
sangat tergantung dari hasil investasinya.

21

DAFTAR PUSTAKA

Anies. 2006. Kedokteran Keluarga & Pelayanan Kedokteran yang Bermutu. Semarang.

Gani A. Pembiayaan Kesehatan. FKM UI. 1996

Sistem Pembiayaan Kesehatan Indonesia. 2010

Tristantoro L. Prinsip-Prinsip Asuransi Kesehatan Untuk Mahasiswa Kedokteran Dan
Residen. FK UGM.