Anda di halaman 1dari 35

Mekanisme Kerja dan Fungsional Organ serta Saluran Pencernaan

Abstrak
Indonesia merupakan negara yang mempunyai prevalensi yang cukup besar, untuk terpapar
penyakit pencernaan. Penyakit pencernaan yang paling sering menyerang adalah diare, dimana
penyakit pencernaan jenis ini memiliki prevalensi 10-18% di seluruh Indonesia dimana dari
semua itu 10-11% diantaranya disebabkan sanitasi yang kurang baik dan kebersihan yang kurang
ditata rapi. Pencernaan merupakan kata yang selalu digambarkan kebanyakan orang mengenai
penyakit yang menyerang lambung, tetapi sebenarnya penyakit pencernaan bisa saja menyerang
baik itu organ pencernaan maupun saluran pencernaan. Penyakit pencernaan tidak hanya
disebabkan karena adanya bakteri, akan tetapi bisa saja disebabkan oleh kandungan dari
makanan itu sendiri, dan juga rangsang dari luar tubuh. Seperti yang kita ketahui nutrisi dan
mineral bagi tubuh dipasok dan diambil dari saluran pencernaan, oleh karena itu sangat penting
bagi seseorang untuk memperhatikan kesehatan dari sistem pencernaan.
Kata kunci : Kesehatan, Pencernaan, Mineral, Nutrisi

Abstract
Indonesia is a country that has a big chance to get a digestive desease, diarrhea is the most
digestive desease in Indonesia. Where this digestive desease has 10-18% prevalences in
Indonesia. Where in the prevalences 10-11% is caused by bad sanitation and wrong health
arrangement. Digestive is a word that always be pictured as a desease that attack stomach, but
actually digestive desease can attack digestive organ and alimentary tract. Digestive is not only
caused by bacterium, but that can be caused by the food compotition and trigger from body
outside. That we know nutrition and mineral for the body is supplied and taken from food.
Because that, really important for the humans to give attention for their health from digestive
desease.
Tinjauan Pustaka
Page 2 of 35

Keyword: Health, Digestive, Mineral, Nutrition
1. Pendahuluan
Pencernaan adalah suatu alur proses pemecahan dan pemanfaatan hal-hal yang berguna
bagi tubuh, memecahkan makanan menjadi bentuk-bentuk yang sangat sederhana, dimana semua
bahan itu dapat diserap langsung oleh tubuh di dalam usus, dan disebarkan ke seluruh tubuh
melalui peredaran darah.
Proses pencernaan sudah terjadi sejak makanan masuk ke dalam mulut, dan proses
pencernaan berakhir ketika makanan tersebut telah menjadi feses yang kemudian diekskresikan
melalui anus.
Seperti yang kita ketahui bahwa manusia memerlukan energi dalam proses kehidupan,
manusia dapat bergerak dan beraktifitas dikarenakan adanya pasokan nutrisi dan mineral, yang
kemudian dipecah menuju bentuk paling sederhana yang kemudian diolah menjadi sumber
energi.
Tujuan dari pembuatan tinjauan pustaka ini ialah untuk mengedukasi khalayak umum
mengenai tingginya prevalensi kejadian penyakit pencernaan yang ada dengan mengenal lebih
dalam kaitan fisiologis yang akan dibahas baik Struktur Makro/Mikroskopis Saluran Pencernaan
dan Organ Pencernaan, Saluran Pencernaan Tambahan, Sistem dan Mekanisme Kerja
pencernaan yang berlangsung di dalam tubuh.

2. 7 Jumps
2.1. Identifikasi Istilah yang Tidak Diketahui
- Tidak ada
2.2. Rumusan Masalah
- Nyeri ulu hati yang disertai dengan mual.







Page 3 of 35


2.3. Analisis Masalah

















2.4.Hipotesis
- Keluhan timbul dikarenakan adanya gangguan encernaan
2.5. Tujuan Pembelajaran
- Dapat memahami, mengerti dan menjelaskan kembali mengenai anatomi, mekanisme
organ jantung, vaskularisasi jantung dan enzim jantung







Rumusan
Masalah
Mekanisme Pencernaan
Makroskopis
Pencernaan
Karborhidrat,
Protein dan
Lemak
Mikroskopis
Pengaturan
Fungsi
Pencernaan

Hormon yang
Berperan

Fungsi

Struktur
Organ
Pencernaan
Enzim yang
Berperan
Letak dan
Batas Organ
Pencernaan
Page 4 of 35


3. Pembahasan

Struktur Mikroskopis

Esophagus

Gambar 15. Esofagus bagian atas.
5

Esofagus adalah tabung berongga panjang yang dindingnya terdiri atas lapisan mukosa,
submukosa, muskularis eksterna dan adventisia.
5

Mukosa terdiri atas epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk; di bawahnya terdapat
selapis tipis jaringan ikat, yaitu lamina propria; dan selapis serat-serat otot polos memanjang,
yaitu muskularis mukosa yang terpotong melintang atau oblik. Papila jaringan ikat di dalam
lamina propria melekukkan permukaan bawah epitel.
5

Submukosa adalah lapisan luas jaringan ikat tak teratur, padat, sering mengandung sel-sel
lemak. Kelenjar esofageal propria terdapat di submukosa dengan interval di sepanjang esofagus.
Kelenjar ini adalah kelenjar mukosa tubuloasinar dan duktus ekskretorius yang berjalan
menembus muskularis mukosa dan lamina propria dan bermuara ke dalam lumen esofagus.
5

Di bawah submukosa terdapat muskularis eksterna, terdiri atas dua lapisan otot yang
terlihat jelas. Lapisan dalam sirkular dan pada sediaan potongan melintang esofagus ini
terpotong memanjang. Lapisan luar berjalan longitudinal dan serat-seratnya terutama terpotong
melintang.
5

Page 5 of 35

Muskularis eksterna esofagus sangat bervariasi pada spesies berbeda. Pada manusia,
sepertiga bagian atas esofagus terutama terdiri atas otot rangka. Sepertiga bagian tengah terdiri
atas otot polos dan otot rangka; sepertiga bagian bawah hanya dibentuk oleh otot polos.
5

Adventisia esofagus terdiri atas jaringan ikat longgar yang menyatu dengan adventisia
trakea dan struktur sekitarnya. Jaringan lemak, pembuluh darah besar dan saraf membentuk
berkas neurovaskular yang terdapat di adventisia.
5
\

Gaster

Gambar 16. Gaster bagian fundus dan korpus.
5

Gaster manusia dibagi dalam tiga bagian: kardia, fundus dan korpus, dan pilorus. Fundus
dan korpus adalah bagian lambung yang terluas.
5

Mukosa gaster terdiri atas tiga lapisan: epitel, lamina propria, dan mukosa muskularis.
Permukaan lumen mukosa ditutupi epitel selapis silindris. Epitel ini juga meluas ke dalam dan
melapisi foveola gastrika yang merupakan invaginasi epitel permukaan. Di daerah fundus gaster,
foveola ini tidak dalam dan masuk ke dalam mukosa sampai kedalaman seperempat tebalnya. Di
bawah epitel permukaan terdapat lapisan jaringan ikat longgar, yaitu lamina propria, yang
mengisi celah-celah di antara kelenjar gastrika.
5

Kelenjar gaster berhimpitan di dalam lamina propria dan menempati seluruh tebal
mukosa. Kelenjar-kelenjar ini bermuara ke dalam dasar foveola gastrika. Epitel permukaan
mukosa gaster mengandung jenis sel yang sama, dari daerah kardia sampai ke pilorus; namun
terdapat perbedaan-regional pada jenis sel yang menyusun kelenjar gastrika. Dengan pembesaran
yang lebih lemah, dua jenis sel dapat dikenali di kelenjar gaster pada fundus gaster. Sel parietal
Page 6 of 35

asidoflik terlihat pada bagian atas kelenjar; sel zimogen (chief cell) yang lebih basofilik
menempati bagian lebih ke bawah.
5

Lapisan tebal tepat di bawah mukosa muskularis adalah submukosa. Pada lambung
kosong, lapisan ini meluas sampai ke dalam ruge. Submukosa mengandung jaringan ikat tidak
teratur yang lebih padat dengan lebih banyak serat kolagen dibandingkan dengan lamina propria.
Selain unsur normal sel-sel jaringan ikat, submukosa mengandung banyak pembuluh limf,
kapiler, arteriol besar, dan venul.
5

Pada gaster, muskularis eksterna terdiri atas tiga lapis otot polos, masing-masing
terorientasi dalam bidang berbeda: lapisan oblik di dalam, sirkular di tengah, dan longitudinal, di
luar. Di antara lapisan otot polos sirkular dan longitudinal, terdapat pleksus saraf mienterikus
(Auerbach) ganglia parasimpatis dan serat saraf.
5

Lapisan paling luar dinding gaster adalah serosa. Lapisan ini adalah lapisan tipis jaringan
ikat yang menutupi muskularis eksternal. Di luarnya, lapisan ini ditutupi selapis mesotel gepeng
peritoneum viseral. Jaringan ikat yang ditutupi peritoneum viseral dapat mengandung banyak sel
lemak.
5

Duodenum

Gambar 17. Duodenum.
5

Dinding duodenum terdiri atas empat lapisan: mukosa dengan epitel pelapisnya, lamina
propria, dan mukosa muskularis; jaringan ikat submukosa di bawahnya dengan kelenjar duodenal
(Brunner) mukosa; kedua lapisan otot polos muskularis eksterna; dan serosa (peritoneum
viseral). Lapisan-lapisan ini menyatu dengan lapisan yang serupa pada gaster, usus halus, dan
usus besar.
5

Usus halus ditandai banyak tonjolan mirip jari yang disebut vili; epitel pelapis berupa
selapis sel silindris dengan mikrovili yang membentuk striated borders; sel-sel goblet yang
terpulas pucat; dan kelenjar intestinal tubular pendek (kripti Lieberkuhn) di dalam lamina
Page 7 of 35

propria. Kelenjar duodenal di dalam submukosa menjadi ciri duodenum bagian awal. Kelenjar
ini tidak terdapat pada bagian lain usus halus maupun usus besar.
5

Vili merupakan modifikasi permukaan mukosa. Ruang antarvili terlihat di antara vili.
Epitel pelapis menutupi setiap vilus dan berlanjut ke dalam kelenjar intestinal. Setiap vilus
berpusatkan lamina propria, berkas serat otot polos yang berasal dari muskularis mukosa dan
sebuah pembuluh limf sentral disebut lakteal.
5

Lamina propria mengandung kelenjar intestinal; kelenjar ini bermuara ke dalam ruang
antarvili. Pada irisan tertentu suatu duodenum, kelenjar submukosa duodenal terlihat meluas
sampai ke dalam lamina propria. Lamina propria juga mengandung serat-serat jaringan ikat halus
dengan sel retikulum, jaringan limfoid difus.
5

Di duodenum, hampir seluruh submukosanya diisi oleh kelenjar duodenal tubular yang
sangat bercabang. Kelenjar duodenal mencurahkan isinya ke bagian dasar kelenjar intestinal.
5

Pada potongan melintang sediaan duodenum biasa, muskularis eksterna terdiri atas
lapisan sirkular dalam dan lapisan longitudinal luar otot polos. Juga tampak sarang sel-sel
ganglion parasimpatis pleksus saraf mienterikus (Auerbach) di dalam jaringan ikat di antara
kedua lapisan otot muskularis eksterna. Pleksus saraf di antara kedua lapisan otot ini ditemukan
di seluruh usus halus dan besar. Sarang sel ganglion serupa, namun dalam jumlah lebih kecil,
ditemukan di submukosa di usus halus dan besar.
5

Serosa (peritoneum viseral) mengandung sel-sel jaringan ikat, pembuluh darah, dan sel-
sel lemak) serosa adalah lapisan terluar duodenum.
5


Jejunum-Ileum

Gambar 18. Jejunum-Ileum potongan melintang.
5

Page 8 of 35

Jejunum dan ileum serupa dengan duodenum bagian atas. Perkecualiannya adalah tidak
ada kelenjar duodenal (Brunner) yang hanya terbatas pada bagian atas duodenum. Vili memiliki
ukuran dan bentuk yang bervariasi pada bagian-bagian usus halus berbeda, namun hal ini tidak
selalu jelas pada sediaan histologik. Di bagian akhir ileum, terdapat kumpulan limfonoduli (plak
Peyer) dengan interval tertentu.
5
Banyak vili yang membentuk sebuah lipatan permanen besar usus halus, yaitu plika
sirkularis. Baik mukosa maupun submukosa ikut membentuk plika sirkularis. Di dalam lumen,
setiap vilus memiliki struktur khas: epitel pelapis silindris dengan mikrovili dan sel goblet, pusat
lamina propria dengan jaringan limfoid difus, dan berkas-berkas serat otot polos mukosa
muskularis.
Di dalam vili juga terdapat sebuah lakteal sentral dan pembuluh darah kecil. Kelenjar
intestinal (kripti Lieberkuhn) meluas ke dalam lamina propria. Kelenjar ini berhimpitan, dan
pada gambar terlihat terpotong memanjang dan melintang. Kelenjar intestinal bermuara ke dalam
ruang antarvili. Tampak sebuah limfonodulus meluas dari lamina propria mukosa ke dalam
submukosa, menerobos mukosa muskularis di sekitarnya.
5

Usus Besar

Gambar 19. Dinding kolon.
5

Keempat lapisan dindingnya adalah mukosa, submukosa, muskularis eksterna, dan
serosa. Lapisan-lapisan ini berlanjut dengan lapisan yang terdapat di usus halus. Sediaan ini
menampakkan sebuah lipatan temporer mukosa dan submukosa.
5

Tak ada vili pada kolon. Mukosanya berlekuk-lekuk oleh kelenjar intestinal tubular
panjang (kripti Lieberkuhn) yang menerobos lamina propria sampai muskularis mukosa.
5

Page 9 of 35

Lamina propria, seperti pada usus halus, mengandung banyak jaringan limfoid difus.
Sebuah limfonodus terlihat di lamina propria bagian dalam. Limfonodus yang lebih besar dapat
menembus mukosa muskularis, masuk ke dalam submukosa.
5

Tampilan dan distribusi mukosa muskularis, submukosa, dan serosa sesuai untuk saluran
cerna. Lapisan memanjang muskularis eksterna disusun berupa untaian serat otot polos yang
disebut taenia koli.
5

Serosa menutupi kolon transversum dan kolon sigmoid; tetapi kolon asendens dan
desendens letaknya retroperitoneal dan lapisan luar permukaan posteriornya adalah adventisia.
5

Hati

Gambar 20. Hati primata.
5

Pada hati primata atau manusia, septa jaringan ikat di antara lobuli hati tidak jelas.
Akibatnya, sinusoid hati lobulus satu dapat berhubungan langsung dengan sinusoid lobulus lain.
Selain perbedaan ini, daerah porta tetap mengandung cabang-cabang vena porta, arteria hepatika,
dan duktus biliaris.
5

Di pusat setiap lobulus hati, terdapat vena sentral. Sinusoid hati terlihat di antara
lempeng-lempeng sel hati yang memancar dari vena sentral ke arah tepi lobulus hati. Banyak
cabang pembuluh interlobular dan duktus biliaris terlihat di daerah porta lobulus hati.
5








Page 10 of 35

Pankreas

Gambar 22. Pankreas.
5

Pankreas memiliki unsur eksokrin maupun endokrin yang menempati sebagian besar
kelenjar. Pankreas eksokrin yang merupakan bagian terbesar dari kelenjar, terdiri atas asini
serosa yang berhimpitan, tersusun dalam banyak lobulus kecil. Lobuli dikelilingi septa intra dan
interlobular, dengan pembuluh darah, duktus, saraf, dan kadang-kadang badan Pacini.
5

Sebuah asinus pankreas terdiri atas sel-sel zimogen penghasil-protein berbentuk piramid
mengelilingi sebuah lumen sentral yang kecil. Duktus ekskretorius meluas ke dalam setiap asinus
dan tampak sebagai sel sentroasinar yang terpulas pucat di dalam lumennya. Produk sekresi asini
dikeluarkan melalui duktus interkalaris (intralobular) yang sempit.
Sel sentroasinar berlanjut sebagai epitel duktus interkalaris. Duktus interkalaris kemudian
berlanjut sebagai duktus interlobular yang terdapat di dalam septa jaringan ikat yang terdapat di
antara lobuli. Duktus interlobular dilapisi epitel selapis kuboid yang makin tinggi dan menjadi
berlapis pada duktus yang lebih besar.
5


Struktur Makroskopis
Oesophagus
Oesophagus merupakan sebuah tabung otot yang dapat kolaps, panjangnya sekitar 25 cm,
yang menghubungkan pharynx dengan gaster. Sebagian besar oesophagus terletak di dalam
thorax. Oesophagus masuk ke abdomen melalui lubang yang terdapat pada crus dextrum
diaphragma. Setelah berjalan sekitar 1,25 cm, oesophagus masuk ke lambung di sebelah kanan
garis tengah. Di anterior oesophagus berhubungan dengan facies posterior lobus hepatis sinister
dan di posterior dengan crus sinistrum diaphragma. Nervus vagus sinistra dan dextra masing-
masing terletak pada permukaan anterior dan posterior oesophagus.
4

Page 11 of 35

Pendarahan oesophagus adalah cabang-cabang Dari arteria gastrica sinistra. Venae
dialirkan ke vena gastrica sinistra, cabang vena porta. Persarafannya adalah nervus gastrica
anterior dan posterior (nervus vagus) dan cabang-cabang simpatis pars thoracalis truncus
symphaticus.
4

Secara anatomi tidak terdapat sphincter pada ujung bawah oesophagus. Namun, lapisan
sirkular otot polos pada daerah ini berperan secara fisiologis sebagai sebuah sphincter. Sewaktu
makanan berjalan turun melalui oesophagus, terjadi relaksasi otot yang terdapat pada ujung
bawah oesophagus lebih dahulu dari gelombang peristaltik sehingga makanan masuk ke gaster.
Kontraksi tonik sphincter ini mencegah isi lambung mengalami regurgitasi ke dalam
oesophagus.
4


Gaster

Gambar 2. Gaster bagian luar.
4

Gambar 3. Gaster bagian dalam.
4
Page 12 of 35

Gaster merupakan bagian saluran pencernaan yang melebar dan mempunyai tiga fungsi:
menyimpan makananpada orang dewasa gaster mempunyai kapasitas sekitar 1500 ml;
mencampur makanan dengan getah lambung untuk membentuk chymus yang setengah cair; dan
mengatur kecepatan pengiriman chymus ke usus halus sehingga pencernaan dan absorpsi yang
efisien dapat berlangsung.
4

Gaster terletak di bagian atas abdomen, terbentang dari permukaan bawah arcus costalis
sinistra sampai regio epigastrica dan umbilicalis. Sebagian besar gaster terletak di bawah costae
bagian bawah. Secara kasar gaster berbentuk huruf J dan mempunyai dua lubang, ostium
cardiacum dan ostium pyloricum; dua curvatura, curvatura major dan curvatura minor; dan dua
dinding, paries anterior dan paries posterior.
4

Gaster relatif terfiksasi pada kedua ujungnya, tetapi di antara ujung-ujung tersebut gaster
sangat mudah bergerak. Gaster cenderung terletak tinggi dan transversal pada orang pendek dan
gemuk dan memanjang vertikal pada orang yang tinggi dan kurus (gaster berbentuk huruf J).
Bentuk gaster sangat berbeda-beda pada orang yang sama dan tergantung pada isi, posisi tubuh,
dan fase pernapasan.
4

Gaster dibagi menjadi bagian-bagian berikut: Fundus gastricum berbentuk kubah, menon-
jol ke atas dan terletak di sebelah kiri ostium cardiacum. Biasanya fundus berisi penuh udara.
Corpus gastricum terbentang dari ostium cardiacum sampai incisura angularis, suatu lekukan
yang selalu ada pada bagian bawah curvatura minor. Anthrum pyloricum terbentang dari incisura
angularis sampai pylorus. Pylorus merupakan bagian gaster yang berbentuk tubular. Dinding otot
pylorus yang tebal membentuk musculus sphincter pyloricus. Rongga pylorus dinamakan canalis
pyloricus.
4

Curvatura minor membentuk pinggir kanan gaster dan terbentang dari ostium cardiacum
sampai pylorus. Curvatura minor digantung pada hepar oleh omentum minus. Curvatura major
jauh lebih panjang dibandingkan curvatura minor dan terbentang dari sisi kiri ostium cardiacum,
melalui kubah fundus, dan sepanjang pinggir kiri gaster sampai ke pylorus. Ligamentum
gastrolienale terbentang dari bagian atas curvatura major sampai ke lien, dan omentum majus
terbentang dari bagian bawah curvatura major sampai ke colon transversum.
4

Ostium pyloricum dibentuk oleh canalis pyloricus yang panjangnya sekitar 2,5 cm.
Tunica muscularis stratum circulare yang meliputi gaster jauh lebih tebal di daerah ini dan
membentuk musculus sphincter pyloricus secara anatomis dan fisiologis. Pylorus terletak pada
Page 13 of 35

planum transpyloricum, dan posisinya dapat dikenali dengan adanya sedikit kontriksi pada
permukaan lambung. Musculus sphincter pyloricus mengatur kecepatan pengeluaran isi gaster ke
duodenum.
4

Intestinum Tenue
Duodenum


Gambar 4. Bagian-bagian duodenum.
4

Duodenum merupakan saluran berbentuk huruf C dengan panjang sekitar 25 cm yang
merupakan organ penghubung gaster dengan jejunum. Duodenum adalah organ penting karena
merupakan tempat muara dari ductus choledochus dan ductus pancreaticus. Dudoneum
melengkung di sekitar caput pancreatis. Satu inci (2,5 cm) pertama duodenum menyerupai
gaster, yang permukaan anterior dan posteriornya diliputi oleh peritoneum dan mempunyai
omentum minus yang melekat pada pinggir atasnya dan omentum majus yang melekat pada
pinggir bawahnya. Bursa omentalis terletak di belakang segmen yang pendek ini. Sisa duodenum
yang lain terletak retroperitoneal, hanya sebagian saja yang diliputi oleh peritoneum.
4

Duodenum terletak pada regio epigstrica dan umbilicalis dan untuk tujuan deskripsi
dibagi menjadi empat bagian.
4

Pars Superior Duodenum panjangnya 5 cm, mulai dari pylorus dan berjalan ke atas dan
belakang pada sisi kanan vertebra lumbalis l. Jadi bagian ini terletak pada planum
transpyloricum.
4

Pars Descendens Duodenum, bagian kedua duodenum panjangnya 8 cm dan berjalan
vertikal ke bawah di depan hilum renale dextra, di sebelah kanan vertebrae lumbales II dan III.
Page 14 of 35

Kira-kira pertengahan arah ke bawah, pada margo medialis, ductus choledochus dan ductus
pancreaticus menembus dinding duodenum.
4

Pars Horizontalis Duodenum panjangnya 8 cm dan berjalan horizontal ke kiri pada
planum subcostale, berjalan di depan columna vertebralis dan mengikuti pinggir bawah caput
pancreatis.
4

Pars Ascendens Duodenum panjangnya 5 cm dan berjalan ke atas dan ke kiri ke flexura
duodenojejunalis. Flexura ini difiksasi oleh lipatan peritoneum, ligamentum Treitz, yang melekat
pada crus dextrum diaphragma.
4


Jejunum dan Ileum
Jejunum dan ileum panjangnya 6 meter, dua per lima bagian atas merupakan jejunum.
Masing- masing bagian mempunyai gambaran yang berbeda, tetapi dapat perubahan yang
bertahap dari bagian yang satu ke bagian yang lain. Jejunum dimulai pada duodenojejunalis dan
ileum berakhir pada junctura ileocaecalis.
4

Lengkung-lengkung jejunum dan ileum dapat bergerak dengan bebas dan melekat pada
dinding posterior abdomen dengan perantaraan lipatan peritoneum yang berbentuk kipas dan
dikenal sebagai mesenterium. Pinggir bebas lipatan yang panjang meliputi usus halus yang bebas
bergerak. Pangkal lipatan yang pendek melanjutkan diri sebagai peritoneum parietale pada
dinding posterior abdomen sepanjang garis yang berjalan ke bawah dan ke kanan dari sisi kiri
vertebra lumbalis II ke daerah articulatio sarcoiliaca dextra. Radix mesenterii ini memungkinkan
keluar dan masuknya cabang-cabang arteria dan vena mesenterica superior, pembuluh limf, serta
saraf-saraf ke dalam ruangan di antara kedua lapisan peritoneum yang membentuk mesenterium.
4


Page 15 of 35

Gambar 5. Beberapa Perbedaan Eksternal dan Internal antara
Jejunum dan Ileum.
4

Pada orang hidup, jejunum dapat dibedakan dari ileum berdasarkan gambaran berikut ini:
4
1. Lengkung-lengkung jejunum terletak pada bagian atas cavitas peritonealis di bawah sisi
kiri mesocolon transversum; ileum terletak pada bagian bawah cavitas peritonealis dan di
dalam pelvis.
2. Jejunum lebih lebar, berdinding lebih tebal, dan lebih merah dibandingkan ileum.
Dinding jejunum terasa lebih tebal; karena lipatan yang lebih permanen pada tunica
mucosa, plicae circulares lebih besar, lebih banyak, dan tersusun lebih rapat pada
jejunum; sedangkan pada bagian atas ileum plica circulares lebih kecil dan lebih jarang;
dan di bagian bawah ileum tidak ada plicae circulares.
3. Mesenterium jejunum melekat pada dinding posterior abdomen di atas dan kiri aorta,
sedangkan mesenterium ileum melekat di bawah dan kanan aorta.
4. Pembuluh darah mesenterium jejunum hanya membentuk satu atau dua arcade dengan
cabang- cabang panjang dan jarang yang berjalan ke dinding intestinum tenue. Ileum
menerima banyak pembuluh darah pendek yang berasal dari tiga atau empat atau lebih
arcade.
5. Pada ujung mesenterium jejunum, lemak disimpan dekat radix dan jarang ditemukan di
dekat dinding jejunum. Pada ujung mesenterium ileum, lemak disimpan di seluruh
bagian sehingga lemak ditemukan mulai dari radix sampai dinding ileum.
6. Kelompok jaringan limfoid (lempeng Peyer) terdapat pada tunica mucosa ileum bagian
bawah sepanjang pinggir antimesenterica. Pada orang hidup, lempeng Peyer dapat dilihat
dari luar pada dinding ileum.
Hepar

Gambar 8. Hepar tampak depan.
4

Page 16 of 35


Gambar 9. Hepar tampak belakang.
4

Hepar merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh dan mempunyai banyak fungsi. Hepar
bertekstur lunak, lentur, dan terletak di bagian atas cavitas abdominalis tepat di bawah
diaphragma. Sebagian besar hepar terletak di profunda arcus costalis dextra, dan
hemidiaphragma dextra memisahkan hepar dari pleura, pulmo, pericardium, dan cor. Hepar
terbentang ke sebelah kiri untuk mencapai hemidiaphragma sinistra. Permukaan atas hepar yang
cembung melengkung di bawah kubah diaphragma. Facies visceralis, atau posteroinferior,
membentuk cetakan visera yang letaknya berdekatan sehingga bentuknya menjadi tidak
beraturan. Permukaan ini berhubungan dengan pars abdominalis oesophagus, gaster, duodenum,
flexura coli dextra, ren dextra dan glandula suprarenalis dextra, serta vesica biliaris.
4

Hepar dapat dibagi menjadi lobus hepatis dexter yang besar dan lobus hepatis sinister
yang kecil oleh periekatan ligamentum peritoneale, ligamentum falciforme. Lobus hepatis dexter
terbagi lagi nenjadi lobus quadratus dan lobus caudatus oleh adanya vesica biliaris, fissura
ligamenti teretis, vena cava inferior, dan fissura ligamenti venosi.
4

Ligamentum faiciforme, yang merupakan lipatan ganda peritoneum, berjalan ke atas dari
umbilicus ke hepar. Ligamentum ini mempunyai piggir bebas berbentuk bulan sabit dan
mengandung ligamentum teres hepatis yang merupakan sisa vena umbilicalis. Ligamentum
faiciforme berjalan ke permulaan anterior dan kemudian ke permukaan superior hepar dan
akhirnya membelah menjadi dua lapis. Lapisan kanan membentuk lapisan atas ligamentum coro-
narium; lapisan kiri membentuk lapisan atas ligamentum triangulare sinistrum. Bagian kanan
ligamentum coronarium dikenal sebagai ligamentum triangulare dextrum. Perlu diketahui bahwa
lapisan peritoneum yang membentuk ligamentum coronarium terpisah satu dengan yang lain,
meninggalkan sebuah daerah yang tidak diliputi peritoneum. Daerah ini disebut area nuda.
4

Page 17 of 35

Pembuluh-pembuluh darah yang mengalirkan darah ke hepar adalah arteria hepatica pro-
pria (30%) dan vena portae hepatis (70%). Arteria hepatica propria membawa darah yang kaya
oksigen ke hepar, dan vena porta membawa darah yang kaya akan hasil metabolisme pencernaan
yang diabsorbsi dari tractus gastrointestinalis. Darah arteria dan vena dialirkan ke vena centralis
masing-masing lobuli hepatis melalui sinusoid hepar. Venae centrales mengalirkan darah ke vena
hepatica dextra dan sinistra, dan vena- vena ini meninggalkan pars posterior hepar dan bermuara
langsung ke dalam vena cava inferior.
4


Vesica Vellea

Gambar 10. Vesica biliaris.
4

Vesica vellea adalah sebuah kantong berbentuk buah pir yang terletak pada permukaan
bawah (facies visceralis) hepar. Vesica vellea dibagi menjadi fundus, corpus, dan collum. Fundus
vesicae biliaris berbentuk bulat dan biasanya menonjol di bawah margo inferior hepar,
penonjolan ini merupakan tempat fundus bersentuhan dengan dinding anterior abdomen setinggi
ujung cartilago costalis IX dextra. Corpus vesicae biliaris terletak dan berhubungan dengan
facies visceralis hepar dan arahnya ke atas, belakang, dan kiri. Collum vesicae biliaris
melanjutkan diri sebagai ductus cysticus, yang berbelok ke dalam omentum minus dan berga-
bung dengan sisi kanan ductus hepaticus communis untuk membentuk ductus choledochus.
4







Page 18 of 35

Pancreas

Gambar 11. Berbagai bagian pancreas.
4

Pancreas merupakan kelenjar eksokrin dan endokrin. Bagian eksokrin kelenjar
menghasilkan sekret yang mengandung enzim-enzim yang dapat menghidrolisis protein, lemak,
dan karbohidrat.
4

Pancreas merupakan organ yang memanjang dan terletak pada epigastrium dan kuadran
kiri atas. Strukturnya lunak, berlobulus, dan terletak pada dinding posterior abdomen di belakang
peritoneum. Pancreas menyilang planum transpyloricum. Pancreas dapat dibagi dalam caput,
collum, corpus, dan cauda.
4

Caput pancreatis berbentuk seperti cakram dan terletak di dalam bagian cekung
duodenum. Sebagian caput meluas ke kiri di belakang arteria dan vena mesenterica superior serta
dinamakan processus uncinatus.

Collum pancreatis merupakan bagian pancreas yang mengecil
dan menghubungkan caput dan corpus pancreatis. Collum pancreatis terletak di depan pangkal
vena portae hepatis dan tempat dipercabangkannya arteria mesenterica superior dari aorta.

Corpus pancreatis berjalan ke atas dan kiri, menyilang garis tengah. Pada potongan melintang
sedikit berbentuk segitiga.

Cauda pancreatis berjalan ke depan menuju ligamentum lienorenale
dan mengadakan hubungan dengan hilum lienale.
4


Mekanisme Sistem Pencernaan
Faring dan Esofagus
Motilitas yang berkaitan dengan faring dan esofagus adalah menelan. Sebagian besar dari
kita berpikir bahwa menelan adalah tindakan terbatas memindahkan makanan keluar mulut
menuju esofagus. Namun, menelan sebenarnya adalah keseluruhan proses memindahkan
makanan dari mulut melalui esofagus hingga ke lambung.
2
Page 19 of 35

Menelan dimulai ketika suatu bolus, atau gumpalan makanan yang telah dikunyah atau
encer, secara sengaja didorong oleh lidah ke belakang mulut menuju faring. Tekanan bolus
merangsang reseptor-reseptor tekanan faring, yang mengirim impuls aferen ke pusat menelan
yang terletak di medula batang otak. Pusat menelan kemudian secara refleks mengaktifkan dalam
urutan yang sesuai otot-otot yang terlibat dalam proses menelan. Menelan adalah refleks yang
paling rumit di tubuh. Menelan dimulai secara volunter, tetapi sekali dimulai maka gerakan ini
tidak bisa dihentikan.
2

Gambar 23. Tahap orofaring waktu menelan.
6

Lambung
Lambung melakukan tiga fungsi utama:
2

1. Fungsi terpenting lambung adalah menyimpan makanan yang masuk sampai makanan
dapat disalurkan ke usus halus dengan kecepatan yang sesuai untuk pencernaan dan
penyerapan yang optimal. Usus halus adalah tempat utama pencernaan dan penyerapan,
maka lambung perlu menyimpan makanan dan menyalurkannya secara mencicil ke
duodenum dengan kecepatan yang tidak melebihi kapasitas usus halus.
2. Lambung mengeluarkan asam hidroklorida (HC1) dan enzim yang memulai pencernaan
protein.
3. Melalui gerakan mencampur lambung, makanan yang tertelan dihaluskan dan dicampur
dengan sekresi lambung untuk menghasilkan campuran cairan kental yang dikenal
sebagai kimus. Isi lambung harus diubah menjadi kimus sebelum dapat dialirkan ke
duodenum.
Page 20 of 35

Dimulai dari motilitas, lambung memiliki motilitas yang kompleks dan berada di bawah
banyak sinyal regulatorik. Empat aspek motilitas lambung adalah pengisian, penyimpanan,
pencampuran, dan pengosongan.
2

Ketika kosong, lambung memiliki volume sekitar 50 ml, tetapi volume lambung dapat
bertambah hingga sekitar 1 liter saat makan. Sewaktu makan, lipatan lambung menjadi lebih
kecil dan nyaris mendatar sewaktu lambung sedikit melemas setiap kali makanan masuk, seperti
ekspansi bertahap kantung es yang sedang diisi. Relaksasi refleks lambung sewaktu menerima
makanan ini disebut relaksasi reseptif. Relaksasi ini meningkatkan kemampuan lambung
menampung tambahan volume makanan dengan hanya menyebabkan sedikit peningkatan
tekanan lambung.
2

Sekelompok sel pemacu yang terletak di regio fundus bagian atas lambung menghasilkan
potensial gelombang lambat yang menyapu ke bawah sepanjang lambung menuju sfingter
pilorus dengan frekuensi tiga kali per menit. Pola ritmik depolarisasi spontan ini (irama listrik
dasar atau BER lambung) terjadi terus-menerus dan mungkin disertai oleh kontraksi lapisan otot
polos sirkular. Lapisan otot polos ini dapat mencapai ambang oleh aliran arus dan mengalami
potensial aksi, bergantung pada tingkat eksitabilitas lapisan tersebut, yang pada gilirannya
memulai gelombang peristaltik yang menyapu ke seluruh lambung seiring BER dengan frekuensi
tiga kali per menit.
2

Sekali dimulai, gelombang peristaltik menyebar melalui fundus dan korpus ke antrum
dan sfingter pilorus. Karena lapisan otot di fundus dan korpus tipis maka kontraksi di bagian ini
lemah. Ketika mencapai antrum, gelombang kontraksi menjadi jauh lebih kuat karena otot di sini
lebih tebal.
2

Karena di fundus dan korpus gerakan mencampur berlangsung lemah maka makanan
yang disalurkan ke lambung dari esofagus disimpan di bagian korpus yang relatif tenang tanpa
mengalami pencampuran. Daerah fundus biasanya tidak menyimpan makanan tetapi hanya
mengandung kantung gas. Makanan secara bertahap disalurkan dari korpus ke antrum, tempat
berlangsungnya pencampuran.
2

Kontraksi peristaltik antrum yang kuat mencampur makanan dengan sekresi lambung
untuk menghasilkan kimus. Setiap gelombang peristaltik antrum mendorong kimus maju menuju
sfingter pilorus. Kontraksi tonik sfingter pilorus normalnya menyebabkan sfingter ini nyaris
tertutup. Lubang yang terbentuk cukup besar untuk dilalui oleh air dan cairan lain tetapi terlalu
Page 21 of 35

kecil untuk kimus kental kecuali jika kimus didorong oleh kontraksi peristaltik antrum yang kuat.
Bahkan demikianpun dari 30 ml kimus yang dapat ditampung oleh antrum, biasanya hanya
beberapa mililiter isi antrum yang terdorong ke duodenum pada setiap gelombang peristaltik.
Sebelum lebih banyak kimus yang terperas keluar, gelombang peristaltik mencapai sfingter
pilorus dan menyebabkan sfingter ini berkontraksi lebih kuat, menutup pintu keluar dan
mencegah mengalirnya kimus lebih lanjut ke duodenum. Massa kimus antrum yang sedang
terdorong maju tetapi tidak dapat masuk ke duodenum tertahan mendadak di sfingter yang
tertutup dan memantul balik ke dalam antrum, hanya untuk didorong kembali ke sfingter dan
memantul balik oleh gelombang peristaltik baru. Gerakan maju mundur ini mencampur kimus
secara merata di antrum.
2

Gambar 24. Gerak mencampur dan mengosongkan lambung.
6

Hal yang menyebabkan mengapa berbagai rangsang di duodenum ini perlu menunda
pengosongan lambung:
2

1. Lemak. Lemak dicerna dan diserap lebih lambat daripada nutrien lain. Selain itu,
pencernaan dan penyerapan lemak berlangsung hanya di dalam lumen usus halus. Karena
itu, ketika lemak sudah ada di duodenum, pengosongan lambung lebih lanjut ke dalam
duodenum terhenti sampai usus halus selesai memproses lemak yang ada di dalamnya.
Lemak adalah perangsang paling kuat untuk menghambat motiiitas lambung.
2. Asam. Karena lambung mengeluarkan asam hidroklorida (HC1), maka kimus yang
masuk ke duodenum sangat asam. Kimus ini dinetralkan oleh natrium bikarbonat yang
disekresikan ke dalam lumen duodenum terutama dari pankreas. Asam yang belum
ternetralkan akan mengiritasi mukosa duodenum dan menginaktifkan enzim-enzim
pencernaan pankreas yang disekresikan ke dalam lumen duodenum. Karena itu, jika asam
Page 22 of 35

yang belum ternetralkan di duodenum akan menghambat pengosongan lebih lanjut isi
lambung yang asam sampai netralisasi selesai.
3. Hipertonisitas. Sewaktu molekul-molekul protein dan tepung dicerna di lumen duodenum
terjadi pembebasan sejumlah besar molekul asam amino dan glukosa. Jika penyerapan
molekul asam amino dan glukosa ini tidak mengimbangi kecepatan pencernaan protein
dan karbohidrat maka sejumlah besar molekul akan tetap berada di kimus dan
meningkatkan osmolaritas isi duodenum. Osmolaritas bergantung pada jumlah molekul
yang ada, bukan ukurannya, dan satu molekul protein dapat diuraikan menjadi beberapa
ratus molekul asam amino, yang masing-masing memiliki aktivitas osmotik setara
dengan molekul protein semula. Hal yang sama berlaku untuk satu molekul besar tepung,
yang menghasilkan banyak molekul glukosa berukuran kecil namun dengan aktivitas
osmotik setara. Karena dapat berdifusi bebas menembus dinding duodenum maka air
masuk ke lumen duodenum dari plasma jika osmolaritas duodenum meningkat. Air dalam
jumlah besar yang masuk ke usus dari plasma akan menyebabkan peregangan usus dan
gangguan sirkulasi karena berkurangnya volume plasma. Untuk mencegah efek-efek ini,
pengosongan lambung secara refleks dihambat jika osmolaritas isi duodenum mulai
meningkat. Karena itu, jumlah makanan yang masuk ke duodenum untuk dicerna lebih
lanjut menjadi partikel- partikel yang lebih kecil dan aktif osmotis berkurang sampai
proses penyerapan memiliki kesempatan untuk menyusul.
4. Peregangan. Kimus yang terlalu banyak di duodenum akan menghambat pengosongan isi
lambung lebih lanjut agar duodenum memiliki waktu untuk memproses kelebihan volume
kimus yang sedang ditampungnya sebelum duodenum menerima kimus tambahan.
Sel-sel yang mengeluarkan getah lambung berada di lapisan dalam lambung, mukosa
lambung, yang dibagi menjadi dua daerah berbeda: mukosa oksintik, yang melapisi korpus dan
fundus; dan daerah kelenjar pilorus (pyloric gland area, PGA), yang melapisi antrum. Permukaan
luminal lambung berisi lubang-lubang kecil (foveola) dengan kantung dalam yang terbentuk oleh
pelipatan masuk mukosa lambung. Bagian pertama dari invaginasi ini disebut foveola gastrica,
yang di dasarnya terletak kelenjar lambung. Berbagai sel sekretorik melapisi bagian dalam
invaginasi ini, sebagian eksokrin dan sebagian endokrin atau parakrin.
2

Di dinding foveola gastrica dan kelenjar mukosa oksintik ditemukan tiga jenis sel
sekretorik eksokrin lambung:
2

Page 23 of 35

Sel mukus melapisi foveola gastrica dan pintu masuk kelenjar. Sel-sel ini mengeluarkan
mukus encer.
Bagian lebih dalam di kelenjar lambung dilapisi oleh chief cell dan sel parietal. Chief cell
yang jumlahnya lebih banyak menghasilkan prekursor enzim pepsinogen.
Sel parietal (atau oksintik) mengeluarkan HCl dan faktor intrinsik.
Sekresi eksokrin ini semuanya dibebaskan ke dalam lumen lambung. Secara kolektif,
berbagai sekresi ini membentuk getah lambung.
2

Meskipun HCl sebenarnya tidak mencerna apapun, namun zat ini melakukan fungsi-
fungsi spesifik yang membantu pencernaan:
2
1. Mengaktifkan prekursor enzim pepsinogen menjadi enzim aktif, pepsin, dan membentuk
medium asam yang optimal bagi aktivitas pepsin.
2. Membantu memecahkan jaringan ikat dan serat otot, mengurangi ukuran partikel makanan
besar menjadi lebih kecil.
3. Menyebabkan denaturasi protein; yaitu, menguraikan bentuk final protein yang berupa
gulungan (pelipatan) sehingga ikatan peptida lebih terpajan ke enzim.
4. Bersama lisozim liur, mematikan sebagian besar mikroorganisme yang tertelan bersama
makanan, meskipun sebagian tetap lolos dan terus tumbuh dan berkembang di usus besar
Permukaan mukosa lambung ditutupi oleh suatu lapisan mukus yang berasal dari sel
epitel permukaan dan sel mukus. Mukus ini berfungsi sebagai sawar protektif terhadap beberapa
bentuk cedera yang dapat mengenai mukosa lambung:
2

Berkat sifat pelumasannya, mukus melindungi mukosa lambung dari cedera mekanis.
Mukus membantu mencegah dinding lambung mencerna dirinya sendiri, karena pepsin
terhambat jika berkontak dengan lapisan mukus yang menutupi bagian dalam lambung.
Karena bersifat basa, mukus membantu melindungi lambung dari cedera asam karena
menetralkan HCl di dekat lapisan dalam lambung, tetapi tidak mengganggu fungsi HCl di
lumen. Lapisan mukus di permukaan sel mukosa memiliki pH sekitar 7.
Laju sekresi lambung dibagi menjadi tiga fase-fase: sefalik, lambung, dan usus.
2

Fase sefalik sekresi lambung merujuk kepada peningkatan sekresi HC1 dan pepsinogen
yang terjadi melalui mekanisme umpan sebagai respons terhadap rangsangan yang bekerja di
kepala bahkan sebelum makanan mencapai lambung. Memikirkan, mencicipi, mencium,
mengunyah, dan menelan makanan meningkatkan sekresi lambung oleh aktivitas vagus melalui
Page 24 of 35

dua cara. Pertama, stimulasi vagus terhadap pleksus intrinsik mendorong peningkatan sekresi
ACh, yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan sekresi HC1 dan pepsinogen oleh sel
sekretorik. Kedua, stimulasi vagus pada sel G di dalam PGA menyebabkan pembebasan gastrin,
yang pada gilirannya semakin meningkatkan sekresi HC1 dan pepsinogen, dengan efek HC1
mengalami potensiasi oleh pelepasan histamin yang dipicu gastrin.
2

Fase lambung sekresi lambung berawal ketika makanan benar-benar mencapai lambung.
Rangsangan yang bekerja di lambung meningkatkan sekresi lambung melalui jalur-jalur eferen
yang tumpang tindih. Sebagai contoh, protein di lambung, perangsang paling kuat, merangsang
kemoreseptor yang mengaktifkan pleksus saraf intrinsik, yang selanjutnya merangsang sel
sekretorik. Selain itu, protein menyebabkan pengaktifan serat vagus ekstrinsik ke lambung.
Aktivitas vagus semakin meningkatkan stimulasi saraf intrinsik pada sel sekretorik dan memicu
pelepasan gastrin. Protein juga secara langsung merangsang pengeluaran gastrin. Gastrin adalah
perangsang kuat bagi sekresi HC1 dan pepsinogen lebih lanjut serta juga menyebabkan
pengeluaran histamin, yang semakin meningkatkan sekresi HC1. Melalui jalur-jalur ini, protein
menginduksi sekresi getah lambung yang sangat asam dan kaya pepsin, melanjutkan pencernaan
protein yang menjadi pemicu proses ini.
2

Fase sekresi usus mencakup faktor-faktor yang berasal dari usus halus yang
mempengaruhi sekresi lambung. Sementara fase-fase lain bersifat eksitatorik, fase ini inhibitorik.
Fase usus penting untuk menghentikan aliran getah lambung sewaktu kimus mulai mengalir ke
dalam usus halus.
2


Pankreas dan Empedu
Pankreas adalah sebuah kelenjar memanjang yang terletak di belakang dan di bawah
lambung, di atas lengkung pertama duodenum. Kelenjar campuran ini mengandung jaringan
eksokrin dan endokrin. Bagian eksokrin yang predominan terdiri dari kelompok-kelompok sel
sekretorik mirip anggur yang membentuk kantung yang dikenal sebagai asinus, yang
berhubungan dengan duktus yang akhirnya bermuara di duodenum.
2

Pankreas eksokrin mengeluarkan getah pankreas yang terdiri dari dua komponen: enzim
pankreas yang secara aktif disekresikan oleh sel asinus yang membentuk asinus dan larutan cair
basa yang secara aktif disekresikan oleh sel duktus yang melapisi duktus pankreatikus.
Komponen encer alkalis banyak mengandung natrium bikarbonat.
2

Page 25 of 35

Seperti pepsinogen, enzim-enzim pankreas disimpan di dalam granula zimogen setelah
diproduksi, kemudian dilepaskan dengan eksositosis sesuai kebutuhan. Enzim-enzim pankreas
ini penting karena hampir mencerna makanan secara sempurna tanpa adanya sekresi pencernaan
lain. Sel-sel asinus mengeluarkan tiga jenis enzim pankreas yang mampu mencerna ketiga
kategori makanan: enzim proteolitik untuk pencernaan protein, amilase pankreas untuk
pencernaan karbohidrat, dan lipase pankreas untuk mencerna lemak.
2

Tiga enzim proteolitik utama pankreas adalah tripsinogen, motripsinogen, dan
prokarboksipeptidase, yang masing-masing disekresikan dalam bentuk inaktif. Setelah
tripsinogen disekresikan ke dalam lumen duodenum, bahan ini diaktifkan menjadi bentuk
aktifnya yaitu tripsin oleh enterokinase, suatu enzim yang terbenam di membran luminal sel-sel
yang melapisi mukosa duodenum. Tripsin kemudian secara otokatalisis mengaktifkan lebih
banyak tripsinogen. Seperti pepsinogen, tripsinol gen harus tetap inaktif di dalam pankreas untuk
mencegah enzim proteolitik ini mencerna protein sel tempat ia terbentuk. Karena itu, tripsinogen
tetap inaktif sampai zat ini mencapai lumen duodenum, di mana enterokinase memicu proses
pengaktifan, yang kemudian berlanjut secara otokatalitik.
2

Kimotripsinogen dan prokarboksipeptidase, enzim proteolitik pankreas lainnya, diubah
oleh tripsin menjadi bentuk aktif, masing-masing adalah kimotripsin dan karboksipeptidase, di
dalam lumen duodenum. Karena itu, jika enterokinase telah mengaktifkan sebagian dari tripsin
maka tripsin kemudian melaksanakan proses pengaktifan selanjutnya.
2

Masing-masing dari enzim proteolitik ini menyerang ikatan peptida yang berbeda.
Produk akhir yang terbentuk dari proses ini adalah campuran rantai peptida pendek dan asam
amino. Mukus yang disekresikan oleh sel usus melindungi dinding usus halus dari pencernaan
oleh enzim-enzim proteolitik yang aktif tersebut.
2

Seperti amilase liur, amilase pankreas berperan dalam pencernaan karbohidrat dengan
mengubah polisakarida menjadi maltosa. Amilase disekresikan dalam getah pankreas dalam
bentuk aktif, karena amilase aktif tidak membahayakan sel sekretorik. Sel-sel ini tidak
mengandung polisakarida.
2

Lipase pankreas sangat penting karena merupakan satu-satunya enzim di seluruh saluran
cerna yang dapat mencerna lemak. Lipase pankreas menghidrolisis trigliserida makanan menjadi
monogliserida dan asam lemak bebas, yaitu satuan lemak yang dapat diserap. Seperti amilase,
Page 26 of 35

lipase disekresikan dalam bentuk aktif karena tidak ada risiko pencernaan diri oleh lipase.
Trigliserida bukan komponen struktural sel pankreas.
2


Hati
Hati adalah organ metabolik terbesar dan terpenting di tubuh; organ ini dapat dipandang
sebagai pabrik biokimia utama tubuh. Perannya dalam sistem pencernaan adalah sekresi garam
empedu, yang membantu pencernaan dan penyerapan lemak. Hati juga melakukan berbagai
fungsi yang tidak berkaitan dengan pencernaan, termasuk yang berikut:
2

1. Memproses secara metabolis ketiga kategori utama nutrien (karbohidrat, protein, dan
lemak) setelah zat-zat ini diserap dari saluran cerna.
2. Mendetoksifikasi zat sisa tubuh dan hormon serta obat dan senyawa asing lain.
3. Membentuk protein plasma.
4. Menyimpan glikogen, lemak, besi, tembaga, dan banyak vitamin.
5. Mengaktifkan vitamin D, yang dilakukan hati bersama dengan ginjal.
6. Mengeluarkan bakteri dan sel darah merah tua, berkat adanya makrofag residennya.
7. Mengekskresikan kolesterol dan bilirubin, bilirubin adalah produk penguraian yang
berasal dari destruksi sel darah merah tua.
Meskipun memiliki beragam fungsi kompleks ini namun tidak banyak spesialisasi
ditemukan di antara sel-sel hati. Setiap hepatosit melakukan beragam tugas metabolik dan
sekretorik yang sama. Spesialisasi ditimbulkan oleh organel-organel yang berkembang maju di
dalam setiap hepatosit. Satu-satunya fungsi hari yang tidak dilakukan oleh hepatosit adalah
aktivitas fagosit yang dilaksanakan oleh makrofag residen yang dikenal sebagai sel Kupffer.
2

Lubang duktus biliaris ke dalam duodenum dijaga oleh sfingter Oddi, yang mencegah
empedu masuk ke duodenum kecuali sewaktu pencernaan makanan. Ketika sfingter ini tertutup,
sebagian besar empedu yang disekresikan oleh hati dialihkan balik ke dalam kandung empedu,
suatu struktur kecil berbentuk kantung yang terselip di bawah tetapi tidak langsung berhubungan
dengan hati. Karena itu, empedu tidak diangkut langsung dari hati ke kandung empedu. Empedu
disimpan dan dipekatkan di kandung empedu di antara waktu makan. Setelah makan, empedu
masuk ke duodenum akibat efek kombinasi pengosongan kandung empedu dan peningkatan
sekresi empedu oleh hati.
2

Page 27 of 35

Empedu mengandung beberapa konstituen organik, yaitu garam empedu, kolesterol,
lesitin, dan bilirubin dalam suatu cairan encer alkalis serupa dengan sekresi NaHCO
3
pankreas.
Meskipun empedu tidak mengandung enzim pencernaan apapun namun bahan ini penting dalam
pencernaan dan penyerapan lemak, terutama melalui aktivitas garam empedu.
2

Garam empedu secara aktif disekresikan ke dalam empedu dan akhirnya masuk ke
duodenum bersama dengan konstituen empedu lainnya. Setelah ikut serta dalam pencernaan dan
penyerapan lemak, sebagian besar garam empedu diserap kembali ke dalam darah oleh
mekanisme transpor aktif khusus yang terletak di ileum terminal. Dari sini garam empedu
dikembalikan ke sistem porta hati, yang meresekresikannya ke dalam empedu. Daur ulang garam
empedu ini antara usus halus dan hati disebut sirkulasi enterohepatik.
2

Istilah efek deterjen merujuk kepada kemampuan garam empedu untuk mengubah
globulus (gumpalan) lemak besar menjadi emulsi lemak yang terdiri dari banyak butiran lemak
dengan garis tengah masing-masing 1 mm yang membentuk suspensi di dalam kimus cair
sehingga luas permukaan yang tersedia untuk tempat lipase pankreas bekerja bertambah.
Gumpalan lemak terdiri dari molekul trigliserida yang belum tercerna. Untuk mencerna lemak,
lipase harus berkontak langsung dengan molekul trigliserida. Karena tidak larut dalam air maka
trigliserida cenderung menggumpal menjadi butir-butir besar dalam lingkungan usus halus yang
banyak mengandung air. Jika garam empedu tidak mengemulsifikasi gumpalan besar lemak ini,
maka lipase dapat bekerja hanya pada permukaan gumpalan besar tersebut dan pencernaan lemak
akan sangat lama.
2

Garam empedu memiliki efek deterjen serupa dengan deterjen yang anda gunakan untuk
membersihkan lemak ketika mencuci piring. Molekul garam empedu mengandung bagian yang
larut lemak plus bagian larut air yang bermuatan negatif. Garam empedu terserap di permukaan
butiran lemak yaitu, bagian larut lemak garam empedu larut dalam butiran lemak, meninggalkan
bagian larut air yang bermuatan menonjol dari permukaan butiran lemak tersebut. Gerakan
mencampur oleh usus memecah-mecah butiran lemak besar menjadi butiran-butiran yang lebih
kecil. Butiran-butiran kecil ini akan cepat bergabung kembali jika tidak ada garam empedu yang
terserap di permukaannya dan menciptakan selubung muatan negatif larut air di permukaan
setiap butiran kecil. Karena muatan yang sama saling tolak-menolak, maka gugus-gugus ber-
muatan negatif di permukaan butiran lemak menyebabkan butiran tersebut saling menjauh. Daya
tolak listrik ini mencegah butir-butir kecil kembali bergabung membentuk gumpalan lemak besar
Page 28 of 35

sehingga menghasilkan emulsi lemak yang meningkatkan permukaan yang tersedia untuk kerja
lipase.
2

Garam empedu bersama dengan kolesterol dan lesitin berperan penting dalam
mempermudah penyerapan lemak melalui pembentukan misel. Seperti garam empedu, lesitin
memiliki bagian yang larut lemak dan bagian yang larut air, sementara kolesterol hampir sama
sekali tak larut dalam air. Dalam suatu misel, garam empedu dan lesitin bergumpal dalam
kelompok-kelompok kecil dengan bagian larut lemak menyatu di bagian tengah membentuk inti
hidrofobik, sementara bagian larut air membentuk selubung hidrofllik di sebelah luar. Misel,
karena larut dalam air berkat selubung hidrofiliknya, dapat melarutkan bahan tak larut air di
bagian tengahnya. Karena itu misel merupakan wadah yang dapat digunakan untuk mengangkut
bahan-bahan tak larut air melalui isi lumen yang cair. Bahan larut lemak terpenting yang
diangkut di dalam misel adalah produk-produk pencernaan lemak serta vitamin larut lemak, yang
semuanya diangkut ke tempat penyerapannya dengan cara ini. Jika tidak menumpang di dalam
misel yang larut air ini, berbagai nutrien ini akan mengapung di permukaan kimus, dan tidak
pernah mencapai permukaan absorptif usus halus.
2
Bilirubin adalah pigmen kuning yang menyebabkan empedu berwarna kuning. Di dalam
saluran cerna, pigmen ini dimodifikasi oleh enzim-enzim bakteri, menghasilkan warna tinja yang
coklat khas. Jika tidak terjadi sekresi bilirubin, seperti ketika duktus biliaris tersumbat total oleh
batu empedu, tinja berwarna putih keabuan. Dalam keadaan normal sejumlah kecil bilirubin
direabsorpsi oleh usus kembali ke darah, dan ketika akhirnya diekskresikan di urin, bilirubin ini
berperan besar menyebabkan warna urin kuning. Ginjal tidak dapat mengekskresikan bilirubin
sampai bahan ini telah dimodifikasi ketika mengalir melewati hati dan usus.
2

Usus Halus
Segmentasi, metode motilitas utama usus halus sewaktu pencernaan makanan,
mencampur dan mendorong kimus secara perlahan. Segmentasi terdiri dari kontraksi otot polos
sirkular yang berulang dan berbentuk cincin di sepanjang usus halus; di antara segmen-segmen
yang berkontraksi terdapat daerah-daerah rileks yang mengandung sedikit bolus kimus. Cincin
kontraktil terbentuk setiap beberapa sentimeter, membagi usus halus menjadi segmen-segmen
seperti rangkaian sosis. Cincin kontraktil ini tidak menyapu di sepanjang usus seperti halnya
gelombang peristaltik. Setelah suatu periode singkat, segmen-segmen yang berkontraksi
Page 29 of 35

melemas, dan kontraksi berbentuk cincin ini muncul di bagian-bagian yang sebelumnya
melemas. Kontraksi baru mendorong kimus di bagian yang semula rileks untuk bergerak ke
kedua arah ke bagian-bagian yang kini melemas di sampingnya. Karena itu, segmen yang baru
melemas menerima kimus dari kedua segmen yang berkontraksi tepat di belakang dan depannya.
Segera setelah itu, bagian-bagian yang berkontraksi dan melemas kembali berganti. Dengan cara
ini, kimus dipotong, digiling, dan dicampur secara merata.
2

Pencampuran yang dilakukan oleh segmentasi memiliki fungsi rangkap yaitu mencampur
kimus dengan getah pencernaan yang disekresikan ke dalam lumen usus halus dan memajankan
semua kimus ke permukaan absorptif mukosa usus halus.
2

Segmentasi tidak saja melakukan pencampuran tetapi juga secara perlahan menggerakkan
kimus menelusuri usus halus. Bagaimana hal ini dapat terjadi, ketika setiap kontraksi segmental
mendorong kimus ke kedua arah. Kimus secara perlahan bergerak maju karena frekuensi
segmentasi menurun di sepanjang usus halus. Sel-sel pemacu di duodenum secara spontan
mengalami depolarisasi lebih cepat daripada sel-sel serupa yang ada di bagian hilir usus, dengan
kontraksi segmentasi terjadi di duodenum pada kecepatan 12 kali per menit dibandingkan dengan
hanya 9 kali per menit di ileum terminal. Karena segmentasi terjadi lebih sering di bagian atas
usus halus daripada di bagian bawah, maka secara rerata, lebih banyak kimus yang terdorong
maju daripada yang terdorong mundur. Karenanya, kimus secara perlahan bergerak dari bagian
atas ke bagian bawah usus halus, dengan terdorong maju-mundur selama perjalanannya agar
terjadi pencampuran yang merata dan penyerapan Mekanisme propulsif yang lambat ini
menguntungkan karenag menyediakan cukup waktu bagi berlangsungnya proses pencernaan dan
penyerapan. Isi usus halus biasanya memerlukan 3 sampai 5 jam untuk melintasi usus halus.
2

Di permukaan luminal sel-sel epitel usus halus terdapat tonjolan-tonjolan khusus seperti
rambut, mikrovilus, yang membentuk brush border. Membran plasma brush border mengandung
tiga kategori enzim yang melekat ke membran:
2

1. Enterokinase, yang mengaktifkan enzim pankreas tripsinogen.
2. Disakaridase (maltase, sukrase, dan laktase), yang menuntaskan pencernaan karbohidrat
dengan menghidrolisis disakarida yang tersisa (masing-masing maltosa, sukrosa, dan
laktosa) menjadi monosakarida konstituennya.
3. Aminopeptidase, yang menghidrolisis fragmen-fragmen peptida kecil menjadi
komponen-komponen asam aminonya sehingga pencernaan protein selesai.
Page 30 of 35

Karena itu, pencernaan karbohidrat dan protein dituntaskan di brush border.
2

Semua produk pencernaan karbohidrat, lemak, dan protein, serta sebagian besar
elektrolit, vitamin, dan air, normalnya diserap oleh usus halus. Hanya penyerapan kalsium dan
besi yang biasanya disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Karena itu, semakin banyak makanan
yang dikonsumsi, semakin banyak yang akan dicerna dan diserap, seperti yang telah dirasakan
oleh orang-orang yang berupaya keras mengontrol berat badan mereka.
2

Sebagian besar penyerapan terjadi di duodenum dan jejunum, hanya sedikit yang terjadi
di ileum, bukan karena ileum tidak memiliki kemampuan menyerap tetapi karena sebagian besar
penyerapan telah diselesaikan sebelum isi usus mencapai ileum. Usus halus memiliki kapasitas
absorptif cadangan yang besar. Jika ileum terminal diangkat maka penyerapan vitamin B
12
dan
garam empedu akan terganggu, karena mekanisme transpor khusus untuk kedua bahan ini hanya
terdapat di bagian ini.
2

Terdapat invaginasi dangkal, yang dikenal sebagai kriptus Lieberkuhn, melekuk masuk
ke dalam permukaan mukosa di antara vilus. Tidak seperti feveola gastrica, kriptus-kriptus
internal ini tidak mengeluarkan enzim pencernaan, tetapi mengeluarkan air dan elektrolit, yang
bersama dengan mukus yang dikeluarkan oleh sel-sel di permukaan vilus, membentuk sukus
enterikus.
2

Selain itu, kriptus berfungi sebagai tempat pembibitan. Sel-sel epitel yang melapisi
usus halus terlepas dan diganti dengan kecepatan tinggi akibat tingginya aktivitas mitotik sel
punca di kriptus. Sel-sel baru yang secara terus-menerus diproduksi di kriptus bermigrasi naik ke
vilus dan mendorong sel-sel tua di ujung vilus ke dalam lumen. Dengan cara ini, lebih dari 100
juta sel usus dilepaskan setiap menit. Perjalanan keseluruhan dari kriptus ke puncak adalah
sekitar tiga hari, sehingga lapisan epitel usus halus diganti setiap sekitar tiga hari.
2

Sel-sel baru mengalami beberapa perubahan sewaktu bermigrasi ke atas vilus.
Konsentrasi enzim-enzim brush border meningkat dan kapasitas untuk menyerap membaik,
sehingga sel-sel di ujung vilus memiliki kemampuan mencerna dan menyerap tertinggi. Tepat
setelah berada di puncak, sel-sel ini kemudian didorong oleh sel-sel baru yang bermigrasi.
Karena itu, isi lumen terus-menerus terpajan ke sel-sel yang berperangkat optimal untuk
menuntaskan proses. Pencernaan dan penyerapan secara efisien. Selain itu, seperti di lambung,
pertukaran cepat sel-sel di usus halus adalah hal yang esensial karena kondisi lingkungan lumen
usus yang keras. Sel-sel yang terpajan ke isi lumen yang abrasif dan korosif mudah rusak dan
Page 31 of 35

tidak berumur panjang sehingga mereka harus terus-menerus diganti oleh sel baru yang masih
segar.
2

Selain sel punca, sel Paneth juga ditemukan di kriptus. Sel Paneth memiliki fungsi
pertahanan yaitu menjaga sel punca. Sel-sel ini menghasilkan dua bahan kimia yang mengusir
bakteri: lisozim, enzim pelisis bakteri yang juga terdapat di liur; dan defensin, protein kecil
dengan kemampuan antibakteri.
2


Penyerapan Karbohidrat

Gambar 25. Penyerapan karbohidrat.
6

Karbohidrat makanan dicerna di usus halus untuk diserap terutama dalam bentuk
disakarida maltosa, sukrosa, dan laktosa. Disakaridase yang terletak di membran brush border sel
epitel usus meneruskan penguraian disakarida ini menjadi unit-unit monosakarida yang dapat
diserap yaitu glukosa, galaktosa, dan fruktosa.
2

Glukosa dan galaktosa diserap oleh transpor aktif sekunder, di mana pembawa kotranspor
di membran luminal memindahkan monosakarida dan Na
+
dari lumen ke dalam interior sel usus.
Bekerjanya pembawa kotranspor ini, yang tidak secara langsung menggunakan energi,
bergantung pada gradien konsentrasi Na
+
yang tercipta oleh pompa Na
+
-K
+
basolateral yang
menggunakan energi. Glukosa setelah dipekatkan di sel oleh pembawa kotranspor, meninggalkan
sel menuruni gradien konsentrasi melalui pembawa pasif di membran basolateral untuk masuk ke
darah di dalam vilus. Selain terjadi penyerapan glukosa melalui sel oleh pembawa kotranspor,
terdapat bukti bahwa cukup banyak glukosa melintasi sawar epitel melalui taut erat yang bocor
di antara sel-sel epitel. Fruktosa diserap ke dalam darah hanya dengan difusi terfasilitasi.
2

Page 32 of 35

Penyerapan Protein

Gambar 26. Penyerapan protein.
6

Baik protein yang dicerna (dari makanan) maupun protein endogen (di dalam tubuh) yang
masuk ke lumen saluran cerna dari tiga sumber berikut dicerna dan diserap:
2

1. Enzim pencernaan, yang semuanya adalah protein, yang disekresikan ke dalam lumen.
2. Protein di dalam sel yang terdorong hingga lepas dari vilus ke dalam lumen selama
proses pertukaran mukosa.
3. Sejumlah kecil protein plasma yang normalnya bocor dari kapiler ke dalam lumen saluran
cerna.
Sekitar 20 sampai 40 g protein endogen masuk ke lumen setiap hari dari ketiga sumber
ini. Jumlah ini dapat berjumlah lebih dari jumlah protein yang berasal dari makanan. Semua
protein endogen harus dicerna dan diserap bersama dengan protein makanan untuk mencegah
terkurasnya simpanan protein tubuh. Asam-asam amino yang diserap dari protein makanan dan
endogen terutama digunakan untuk membentuk protein baru di tubuh.
2

Protein yang disajikan ke usus halus untuk diserap terutama berada dalam bentuk asam
amino dan beberapa potongan kecil peptida. Asam amino diserap menembus sel usus oleh
transpor aktif sekunder, serupa dengan penyerapan glukosa dan galaktosa. Karena itu, glukosa,
galaktosa, dan asam amino semuanya mendapat tumpangan gratis untuk masuk dari transpor
Na
+
yang membutuhkan energi. Peptida kecil memperoleh jalan masuk melalui pembawa yang
berbeda dan diuraikan menjadi asam-asam amino konstituennya oleh aminopeptidase di
membran brush border atau oleh peptidase intrasel. Seperti monosakarida, asam amino masuk ke
anyaman kapiler di dalam vilus.
2

Page 33 of 35


Penyerapan Lemak

Gambar 27. Penyerapan lemak.
6

Misel adalah partikel larut air yang dapat mengangkut produk-produk akhir pencernaan
lemak di dalam interiornya yang larut lemak. Setelah misel mencapai membran luminal sel
epitel, monogliserida dan asam lemak bebas secara pasif berdifusi dari misel menembus
komponen lemak membran sel epitel untuk masuk ke interior sel ini. Setelah produk-produk
lemak meninggalkan misel dan diserap menembus membran sel epitel, misel dapat menyerap
monogliserida dan asam lemak bebas lain, yang telah dihasilkan dari pencernaan molekul
molekul trigliserida lain dalam emulsi lemak.
2

Garam-garam empedu secara terus-menerus mengulangi fungsi melarutkan lemak di
sepanjang usus halus sampai sel mua lemak terserap. Kemudian garam-garam empedu itu sendiri
direabsorpsi di ileum terminal oleh transpor aktif khusus. Ini adalah suatu proses yang efisien,
karena garam empedu dalam jumlah relatif sedikit sudah dapat mempermudah pencernaan dan
penyerapan lemak dalam jumlah besar, dengan setiap garam empedu melakukan fungsi
pengangkutannya berulang-ulang sebelum akhirnya direabsorbsi.
2

Setelah berada di interior sel epitel, monogliserida dan asam lemak bebas diresintesis
menjadi trigliserida. Trigliserida-trigliserida ini menyatu menjadi butiran-butiran lalu dibungkus
Page 34 of 35

oleh suatu lapisan lipoprotein, yang menyebabkan butiran lemak tersebut larut air. Butiran lemak
besar yang telah dibungkus ini, dikenal dengan kilomikron, dikeluarkan oleh eksositosis dari sel
epitel ke dalam cairan interstisium di dalam vilus. Kilomikron kemudian masuk ke lakteal sentral
dan bukan ke kapiler karena perbedaan struktural antara kedua pembuluh ini. Kapiler memiliki
membran basal yang mencegah kilomikron masuk, tetapi pembuluh limfe tidak memiliki
penghalang ini. Karena itu, lemak dapat diserap ke dalam pembuluh limfe tetapi tidak dapat
langsung ke dalam darah.
2


Usus Besar
Kolon normalnya menerima sekitar 500 ml kimus dari usus halus per hari. Karena
sebagian besar pencernaan dan penyerapan telah diselesaikan di usus halus maka isi yang
disalurkan ke kolon terdiri dari residu makanan yang tak tercerna, komponen empedu yang tidak
diserap, dan cairan. Kolon mengekstraksi H
2
O dan garam dari isi lumennya. Apa yang tertinggal
dan akan dikeluarkan disebut feses. Fungsi utama usus besar adalah untuk menyimpan tinja
sebelum defekasi. Selulosa dan bahan lain yang tak tercerna di dalam diet membentuk sebagian
besar massa dan karenanya membantu mempertahankan keteraturan buang air.
2
Lapisan otot polos longitudinal luar tidak mengelilingi usus par secara penuh. Lapisan ini
terdiri dari tiga pita otot longitudinal yang terpisah, taeniae coli, yang berjalan di sepanjang usus
besar. Taeniae coli ini lebih pendek daripada otot polos sirkular dan lapisan mukosa di bawahnya
jika kedua lapisan ini dibentangkan datar. Karena itu, lapisan- lapisan di bawahnya disatukan
membentuk kantung atau haustra, seperti rok panjang mengembang yang diikat di bagian
pinggang yang menyempit. Haustra bukanlah sekedar kumpulan permanen yang pasif; haustra
secara aktif berganti lokasi akibat kontraksi lapisan otot polos sirkular.
2

Sebagian penyerapan berlangsung di dalam kolon, tetapi 3 dengan tingkatan yang lebih
rendah daripada di usus halus. Karena permukaan lumen kolon cukup halus maka luas
permukaan absorptifnya jauh lebih kecil daripada usus halus. Selain itu kolon tidak dilengkapi
oleh mekanisme transpor khusus seperti yang dimiliki oleh usus halus. Jika motilitas usus halus
yang tinggi menyebabkan isi usus cepat masuk ke kolon sebelum absorpsi nutrien tuntas maka
kolon tidak dapat menyerap sebagian besar bahan ini dan bahan akan keluar sebagai diare.
2

Page 35 of 35

Kolon dalam keadaan normal menyerap garam dan H
2
O. Natrium diserap secara aktif, Cl
-

mengikuti secara pasif menuruni gradien listrik, dan H
2
O mengikuti secara osmosis. Kolon
menyerap sejumlah elektrolit lain serta vitamin K yang disintesis oleh bakteri kolon.
2

Melalui absorpsi garam dan H
2
O terbentuk massa 1 tinja yang padat. Dari 500 g bahan
yang masuk ke kolon setiap hari dari usus halus, kolon normalnya menyerap sekitar 350 ml,
meninggalkan 150 g feses untuk dikeluarkan dari tubuh setiap hari. Bahan feses ini biasanya
terdiri dari 100 g H
2
O dan 50 g bahan padat, termasuk selulosa yang tidak tercerna, bilirubin,
bakteri, dan sejumlah kecil garam.
2


Kesimpulan
Rasa nyeri ulu hati dan disertai rasa mual yang dialami oleh karyawati tersebut. sesuai
skenario berindikasi besar pada gangguan fungsional saluran dan organ pencernaan. Hal ini
dapat dibutikan dengan menapak langsung sisi fisiologis yang dapat di gali seperti diterangkan
diatas mengenai kondisi anatomi saluran dan organ pencernaan, kondisi fisiologisnya dan kaitan
yang ada dengan baik. Dengan demikian kondisi dengan kasus yang sama di dunia dapat
dipahami dengan dalam dan dengan cermat mengambil keputusan mengambil penanganan medis
lebih lanjut.
Daftar Pustaka
1. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC; 2003.h.281.
2. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi ke-6. Jakarta: EGC; 2011.h.641-
92
3. Kamus saku kedokteran dorlan. Edisi ke-28. Jakarta: EGC; 2011. dysphagia; h. 356.
4. Snell RS. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Jakarta: EGC; 2006.
5. Eroschenko VP. Atlas histologi di fiore dengan korelasi fungsional. Edisi ke-9. Jakarta:
EGC; 2003.h.148-.
6. Sherwood L. Human physiology from cell to system. Eight Editon. Belmont:
Brooks/Cole; 2012.