Anda di halaman 1dari 13

1

HALOGEN
I. TUJUAN
Membandingkan unsur sifat dan reaksi unsur halogen
Mempelajari beberapa cara pembuatan senyawa halogen
II. TEORI
Unsur halogen termasuk unsur non logam yang sangat reaktif dengan
konfigurasi electron pada kulit terluar ns
2
np
2
. Unsur-unsur ini cenderung
menangkap satu electron untuk mencapai kestabilan gas mulia sehingga
merupakan oksidator kuat. Kerana kereaktifannya unsur ini tak terdapat sebagai
atom bebas dialam. Umumnya terdapat sebagai garam ionic jika bersenyawa
dengan unsur logam. Kereaktifan unsur halogen makin menurun dengan naiknya
nomor atom, begitupun dengan sifat oksidatornya serta nilai
keelektronegatifannya.
Flor (F) dan clor (Cl) pada suhu kamar berwujud gas, Br berwujud cair
sedangkan Iod dan astatin berwujud padat. khusus Asatatin merupakan unsur
radioaktif sehingga keberadaannya di alam sangat sedikit. titik didih dan titik
leleh unsur tersebut naik dengan bertambahnya nomor atom. Pembuatan halogen
umumnya dilakukan dengan mengoksidasi ion halide dalam senyawa garam
dengan menggunakan suatu oksidator kuat seperti KMnO
4
, batu kawi, K
2
Cr
2
O
7

dan sebagainya. cara ini tidak berlaku bagi pembuatan F
2
dan Astain. Cukup
banyak senyawa halogen yang bermaanfaat bagi manusia dan umumnya dapat
dibuat dengan reaksi kimia biasa ataupun reaksi redoks.
(Tim Kimia Anorganik, 2014 : 9-10)
Unsur-unsur halogen VIIA, yaitu fluor, klor, brom dan iod, tidak terdapat
bebas di alam, tetapi bersenyawa dengan unsur lain karena reaktif. Unsur halogen
disebuthalogen (Yunani; halogen = garam), karena umumnya ditemukan dalam
bentuk garam anorganik. Hal dalam bentuk bebas selalu berupa diatomik, karena
tiap atom memerlukan 1 elektron untuk membentuk ikatan kovalen.
Kenaikan titik didih dan leleh dengan bertambahnya nomor atom, dijelaskan
dengan fakta bahwa molekul-molekul yang lebih besar mempunyai gaya tarik
2

menarik Van der waals yang lebih besar daripada yang mempunyai molekul-
molekul yang lebih kecil.
(3)
Karena kelektronegatifan halogen relatif lebih besar
dibandingkan unsur lain, maka halogen bersifat menarik elektron atau
pengoksidasi. Kemampuan mengoksidasi halogen berkurang dari atas ke bawah.
Akibatnya unsur yang di atas dapat mengoksidasi unsur yang berada
dibawahnya, tetapi tidak sebaliknya.
(Syukri. 1999: 276)
Unsur-unsur halogen mempunyai konfigurasi elektron ns
2
np
5
dan merupakan
unsur-unsur yang paling elektronegatif, oleh karena itu selalu mempunyai
bilangan oksidasi (-1), kecuali fluor yang selalu univalen, unsur-unsur ini dapat
juga mempunyai bilangan oksidasi (+1), (+III), (+V) dan (+VII). Bilangan
oksidasi (+IV) dan (+VI) merupakan anomali, terdapat dalam oksida ClO
2
,
Cl
2
O
6
, dan BrO
3
.
(1)
Kecenderungan kuat dari atom F dan Cl untuk menarik
elektron mengakibatkan bentuk yang sering ditemukan di alam adalah bentuk ion
F
-
dan Cl
-
, serta kesulitan dalam pembuatan unsur murni dari bentuk ionnya.
( Achmad Hiskia. 1991: 146)
Dengan perkecualian He, Ne dan Ar, semua unsur dalam tabel berkala
membentuk halida. Halida ionik atau kovalen adalah senyawaan umum yang
paling penting. Mereka sering paling mudah dibuat dan digunakan secara meluas
bagi sintesis senyawa lain. Dalam hal suatu unsur mempunyai lebih dari satu
valensi, halida seringkali dikenal sebagai senyawaan tingkat oksidasi. Terdapat
juga kimiawi senyawaan halogen organik yang luas dan beragam, senyawaaan
fluor, teristimewa dalam hal F menggantikan H secara sempurna yang memilki
sifat-sifat khusus.
(Cotton & Wilkinson. 1989: 223)
Asal kata halogen adalah bahasa Yunani yang berarti produksi garam dengan
reaksi langsung dengan logam. Karena kereaktifannya yang sangat tinggi,
halogen ditemukan di alam hanya dalam bentuk senyawa. Konfigurasi elektron
halogen adalahns
2
np
5
, dan halogen kekurangan satu elektron untuk membentuk
struktur gas mulia yang merupakan kulit tertutup. Jadi atom halogen
3

mengeluarkan energi bila menangkap satu elektron. Jadi, perubahan entalpi
reaksi X(g) + e X
-
(g) bernilai negatif. Walaupun afinitas elektron
didefinisikan sebagai perubahan energi penangkapan elektron, tanda positif
biasanya digunakan. Agar konsisten dengan perubahan entalpi, sebenarnya tanda
negatif yang lebih tepat.
Afiinitas elektron khlorin (348.5 kJmol
-1
) adalah yang terbesar dan fluorin
(332.6 kJmol
-1
) nilainya terletak di antara afinitas elektron khlorin dan bromin
(324.7 kJmol
-1
). Keelektronegativan fluorin adalah yang tertinggi dari semua
halogen.
Karena halogen dihasilkan sebagai garam logam, unsurnya dihasilkan dengan
elektrolisis. Fluorin hanya berbilangan oksidasi -1 dalam senyawanya, walaupun
bilangan oksidasi halogen lain dapat bervariasi dari -1 ke +7. Astatin, At, tidak
memiliki nuklida stabil dan sangat sedikit sifat kimianya yang diketahui.
Fluorin memiliki potensial reduksi tertinggi (E = +2.87 V) dan kekuatan
oksidasi tertinggi di anatara molekul halogen. Flourin juga merupakan unsur non
logam yang paling reaktif. Karena air akan dioksidasi oleh F
2
pada potensial
yang jauh lebih rendah (+1.23 V) gas flourin tidak dapat dihasilkan dengan
elektrolisis larutan dalam air senyawa flourin. Karena itu, diperlukan waktu yang
panjang sebelum unsur flourin dapat diisolasi, dan F. F. H. Moisson akhirnya
dapat mengisolasinya dengan elektrolisis KF dalam HF cair. Sampai kini flourin
masih dihasilkan dengan reaksi ini.
Khlorin, yang sangat penting dalam industri kimia anorganik, dihasilkan
bersama dengan natrium hidroksida. Reaksi dasar untuk produksi khlorin adalah
elektrolisis larutan NaCl dalam air dengan proses pertukaran ion. Dalam proses
ini gas khlorin dihasilkan dalam sel di anoda dan Na
+

Bromin didapatkan dengan oksidasi Br
-
dengan gas khlorin dalam air
garam. Mirip dengan itu, iodin dihasilkan dengan melewatkan gas khlorin
melalui air garam yang mengandung ion I
-
. Karena gas alam yang didapatkan di
Jepang ada bersama di bawah tanah dengan air garam yang mengandung I
-
,
(Ismiariningsih,2013)
4

III. PROSEDUR PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
Alat
Tabung reaksi
Pembakar Bunsen
Beker gelas 100mL
Kaca arloji
Spatula
Bahan
Mangan (IV) oksida
Brom
Kertas Indikator
Air Brom
Karbon tetra klorida
Kalium permanganate
I
2

Klor (Sumber Klor)
HCl pekat
3.2 Skema Kerja
3.2.1 Pembuatan Halogen
Pembuatan halogen didasarkan atas oksidasi ion halide
2 X ----------------------> X
2
+ 2e
Reaksi antara mangan (IV) oksida atau kalium dengan asam klorida,
asam bromide atau asam yodida



Dipanaskan 1mL
Diteteskan beberapa tetes pada setengah sendok
KMnO
2

Asam klorida pekat
dengan sesendok KMnO
2
HASIL
5

3.2.2 Sifat Fisik Halogen
Dibuat suatu table untuk membandingkan warna, wujud pada suhu
kamar, titik leleh dan titik didih dari Flour, Klor, Brom, dan Yod.

3.2.3 Sifat Kimia Halogen
a. Reaksi halogen dengan air


Dialirkan dalam 5mL air beberapa detik
Diuji pH larutan dengan kertas indikator




Dimasukkan dalam tabung reaksi sebanyak 5ml
Ditambahkan 1 tetes


Dibandingkan halogen yang lebih mudah melaru, pH
larutan dan sifat sebagai pengelantang

b. Kelarutan halogen dalam karbon tetraklorida

Dikocok 3ml dengan 1mL krbon tetraklorida
Diulangi eksperimen dengan 3mL air Brom dengan
satu Kristal kecil yod


HASIL
Gas Klor
Air
Lautan Brom
HASIL
Air Klor
HASIL
6

3.2.4 Pembuatan Senyawa Halogen
a. Pembuatan kaporit dan kalium khlorat
1. Pembuatan Kaporit


Dilarukan dalam 10mL air untuk membuat bubur


Dimasukkan dalam gelas kimia
Digerus hingga membentuk bubur,
Ditambahkan air tetes demi tetes bila amsih kental


Dibuat dengan mereaksikan KMnO
4
dengan HCl
atau dengan mereaksikan NaCl, MnO
2
dan asam
sulfat pekat
Dialirkan gas klor kedalam nya sampai jenuh


Dikisatkan hingga semua airnya menguap,


2. Pembuatan kalium khlorat


Dilarutkan dalam 25ml aquades
Dimasukkan dalam gelas piala 100mL


Didihkan diatas spritus
5 gram CaO
Bubur
HASIL
Gas klor
Larutan
KOH 5 gram
Larutan
7

Dialirkan gas klor yang baru dibuat ke dalam gelas
piala
Diuji larutan tersebut dengan kertas lakmus merah
Dihentikan pengaliran gas klor jika larutan sudah
tidak bersifat basa lagi


Didinginkan
Disaring Kristal yang terbentuk


b. Pembuatan asam Bromida (HBr)



Dimasukkan dalam tabung 1
Ditutup tabung dengan sumbat yang dilengkapi
pipapengalir gas


Dimasukkan dalam tabung 2
Dipanaskan tabung 1 dan dialirkan gas yang terjadi
pada tabung 2
Diamati apa yang terjadi




Campuran
HASIL
0,5 gram KBr dan
0,5mL asam posfat
Larutan perak
HASIL
8

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pangamatan dan Perhitungan
Tabel pengamatan
No Perlakuan Hasil
1 A. Pembuatan Halogen
1. I mL asam klorida pekat + 1
gram MnO
2
(dipanaskan)







2. 0,5 gram KMnO
4
+ 7 tetes
asam klorida

Sebelum dipanaskan warna
campuran menjadi hitam, setelah
dilakukan pemanasan didasar
tabung terdapat endapan berwarna
abu-abu , berbau menyengat dan
terdapat gelembung-gelembung
gas dari campuran yang naik
kepermukaan tabung

Ketika KMnO
4
diletakkan pada
kaca arloji, warna KMnO
4
itu
hitam. Kemudian ditambahkan
dengan HCl pekat ditambahkan ke
dalam KMnO
4
langsung terjadi
reaksi pada KMnO
4
dimana
menghasilkan gelembung-
gelembung gas dan keluar asap
yang mengeluarkan aroma busuk
yang sangat menyengat. Setelah
didiamkan lama warna campuran
berubah menjadi ungu.
2 B. Sifat Kimia Halogen
Kelarutan halogen dalam
Karbontetraklorida

Saat kedua bahan dimasukkan
dalam tabung reaksi campuran
9

Air klor 1,5 mL + CCl
4
0,5 mL dikocok, sehingga menghasilkan
larutan yang keruh. Saat
didiamkan beberapa saat, terlihat
ada endapan yang bening didasar
tabung reaksi. Larutan menjadi
dua lapisan, dimana lapisan bawah
berwarna bening (endapan) dan
lapisan atas keruh berwarna pink
muda
3 C. Pembuatan senyawa halogen
Pembuatan asam bromide
(HBr)
Tabung 1 diisi dengan 0,5gram
KBr dan 0,5mL asam posfat
(dipanaskan)
Tabung II diisi dengan 2mL
larutan perak nitrat

Sebelum dipanaskan Larutan
perak dalm tabung II berwarna
bening. Setelah dilakukan
pemanasan pada tabung I yana
kemudian uapnya dialirkan pada
tabung II larutan perak nitrat yang
awalnya bening berubah warna
menjadi pink muda

4.2 Pembahasan
Percobaan tentang halogen ini bertujuan untuk membandingkan unsur sifat
dan reaksi unsur halogen dan mempelajari beberapa cara pembuatan senyawa
halogen. Percobaan yang pertama yaitu, pembuatan halogen. Dalam percobaan
ini dilakukan dua perlakuan yaitu, menggunakan MnO
2
dan KMnO
4
. Untuk
perlakuan pertama mencampurkan 1 mL asm klorida pekat dengan 1 gram MnO
2

dengan dipanaskan, hasil yang diperoleh sebelum dipanakan warna campuran
menjadi hitam, kemudian setelah dilakukan pemanasan didasar tabung reaksi
terdapat endapan berwarna abu-abu , berbau menyengat dan terdapat gelembung-
gelembung gas dari campuran yang naik kepermukaan tabung. Yang kedua yaitu
mereaksikan KMnO
4
dengan HCl, ini 0,5 gram KMnO
4
dalam kaca arloji

ketika
10

ditambahkan 7 tetes HCl menghasilkan langsung terjadi reaksi pada KMnO
4

dimana menghasilkan gelembung-gelembung gas dan keluar asap yang
mengeluarkan aroma busuk yang sangat menyengat. Setelah didiamkan lama
warna campuran berubah menjadi ungu. Bau menyengat ini merupakan produk
dari reaksi yaitu gas klor (Cl
2
) dengan persamaan reaksi :


Dari persamaan reaksi di atas diketahui bahwa ion Cl
-
pada HCl dioksidasi
menjadi gas Cl
2
, sedangkan KMnO
4
direduksi menjadi MnCl
2
.

Reaksi ini
berlangsung spontan di mana nilai E
o
adalah positif.

Reduksi : 2MnO
4-
+ 16H
+
+ 10e
-
2Mn
2+
+ H
2
O E
o
=1,51 V
Oksidasi : 10Cl
-
5Cl
2
+ 10e
-
E
o
=-1,36 V
2MnO
4-
+ 16H
+
+ 10Cl
-
2Mn
2+
+ 5Cl
2

+ H
2
O E
o
=0,15 V
Semua halogen mempunyai E
0
positif. Hal ini menunjukkan bahwa unsur
halogen merupakan osidator dan mempunyai kecenderungan daya oksidasi
semakin lemah dengan urutan: F , Cl, Br, I semakin lemah.
Harga E
0
yang diperoleh dari

reaksi HCl pekat dengan KMnO
4
menghasilkan nilai
positif yang berarti bahwa reaksi berlangsung spontan. Suatu reaksi dapat
dikatakan spontan atau tidak dapat dilihat dari kualitas dan ketepatan gas Cl
2
yang
terbentuk. Juga secara teoritis dilihat dari potensial elektrode standar (E
o
).
F
2
+ 2e
-
2F
-
E
o
= +2,87 V
Cl
2
+ 2e
-
2Cl
-
E
o
= +1,36 V
Br
2
+ 2e
-
2Br
-
E
o
= +1,07 V
I
2
+ 2e
-
2I
-
E
o
= +0,54 V
Dari data di atas dapat diketahui bahwa F
2
merupakan oksidator kuat, dan semakin
ke bawah maka daya oksidasi semakin lemah dalam segolongan. Hal inilah yang
menyebabkan unsur halogen bagian atas dapat mendesak unsur halogen di
bawahnya tetapi tidak dapat sebaliknya, seperti:
F
2
+ 2Cl
-
2F
-
+ Cl
2




2KMnO
4
+ 16HCl 2MnCl
2
+ 2KCl + 5Cl
2
+ 8H
2
O


11

I
2
+ 2F
-
tidak ada reaksi
Dengan menurunnya daya oksidasi halogen berarti menunjukkan semakin kuat
daya reduksi halida, dengan kecenderungan daya reduksi:
I
-
> Br
-
> Cl
-
> F
-

Adapun sifat oksidator pada unsur-unsur halogen dipengaruhi oleh
keelektronegatifan yang semakin menurun dari F ke I sehingga flour memiliki
keelektronegatifan yang besar dibandingkan unsur halogen lain, yaitu Cl, Br, dan
I.
Dalam percobaan halogen ini banyak perlakuan yang tidak dilakukan karena
bahan yang seharusnya digunakan tidak ada.sehingga praktikan hanya melakukan
3 perlakuan. Namun, berdasarkan literature yang praktikan peroleh untuk
percobaan mengenai reaksi kimia halogen yaitu reaksi halogen dengan air. Dalam
hal ini praktikan Pertama-tama mengalirkan gas klor ke dalam 120 mL air
sehingga akan menghasilkan air klor yang mengandung klor terlarut atau Cl
2
(aq).
Pada saat diuji dengan kertas indikator, pH larutan justru tidak dapat ditentukan.
Hal ini mungkin dikarenakan gas klor yang dialirkan merupakan gas klor murni.
Bila gas klorin dialirkan ke dalam air maka klorin akan mengalami reaksi
disproporsionasi dan reaksi tersebut berada dalam kesetimbangan yang membuat
di dalam air masih tetap ada gas klorin sebagai Cl
2
yang disebut air klor.
Persamaan reaksi yang terjadi adalah:
Cl
2
(g) + H
2
O HCl (aq) + HClO (aq)
Kemudian direaksikan juga air brom dengan air dan menghasilkan larutan
homogen dengan warna bias kuning dan pH = 4. Sedangkan kristal iod yang
direaksikan dengan air menghasilkan larutan tidak homogen karena kristal iod
melarut sangat lambat dengan warna bias orange dan pH = 5.
Air klor mengandung klor terlarut dan campuran dua asam yang terbentuk jika
klor direaksikan dengan air, yaitu asam klorida dan asam hipoklorit. Unsur-unsur
halogen jika dibandingkan sesuai kemudahannya melarut maka dari atas ke bawah
dalam satu golongan akan semakin berkurang. Flourin akan langsung bereaksi
menghasilkan gas oksigen, klorin akan mengalami reaksi disproporsionasi yang

12

masih tetap mengandung gas klorin sebagai Cl
2
, namun Br
2
dan I
2
tidak bereaksi
dalam air dan larutannya disebut air bromin dan air iodin. Selanjutnya untuk
percobaan kelarutan halogen dalam karbon tetraklorida menghasilkan larutan yang
keruh. Saat didiamkan beberapa saat, terlihat ada endapan yang bening didasar
tabung reaksi. Larutan menjadi dua lapisan, dimana lapisan bawah berwarna
bening (endapan) dan lapisan atas keruh berwarna pink muda
Percobaan selanjutnya yaitu pembuatan senyawa halogen. Percobaan ini yang
praktikan lakukan adalah pembuatan Asam Bromida (HBr) yaitu dengan
mengalirkan gas dari tabung reaksi 1 yang di panaskan ke dalam tabung reaksi
yang kedua. Diman tabung reaksi pertama berisi 0,5 gram KBr dan 0,5 mL larutan
asam posfat, tabung reaksi ke dua berisi 2 mL larutan perak nitrat. Hasil dari reaksi
ini adalah sebelum dipanaskan larutan perak dalam tabung II berwarna bening.
Setelah dilakukan pemanasan pada tabung I yana kemudian uapnya dialirkan pada
tabung II larutan perak nitrat yang awalnya bening berubah warna menjadi pink
muda. Reaksi yang terjadi yaitu :
3KBr + H3PO4 3HBr + K3PO4
3HBr + 3AgNO3 3AgBr + 3HNO3

V. KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Gas klor dapat dibuat dengan mereaksikan HCl pekat dengan KMnO
4

dengan reaksi sebagai berikut:
2KMnO
4
(aq) + 16HCl(aq) 2MnCl
2
(s) + 2KCl(aq) + 5Cl
2
(g) + 8H
2
O(aq)
2. Pembuatan senyawa halogen, salah satunya pembuatan asam bromide,
dengan cara mengalirkan uap dari pemanasan KBr dan asam posfat pasa
perak nitrat.



13

5.2 Saran
Diharapkan untuk percobaan selanjutnya, alat dan bahan yang seharusnya
digunakan sudah terpenuhi, agar paraktikum dapat berjalan lancer sesuai
prosedur.

VI. DAFTAR PUSTAKA
Cotton & Wilkinson. 1989. Kimia Anorganiuk Dasar. Jakarta : UI Press
Hiskia, Achmad. 1991. Kimia Unsur dan Radiokimia. Bandung: ITB
Ismiariningsih. 2013. Halogen. diakses tanggal 28 April 2014
http://ismiariningsih.blogspot.com/2013/04/laporan-praktikum-halogen.html
Syukri. 1999. Kimia Dasar 3. Bandung : ITB
Tim Kimia Anorganik. 2014. Penuntun Praktikum Kimia Anorganik. Jambi:
Universitas Jambi