Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR ILMU HAMA TANAMAN



ACARA V
TEKNIK PENGAMATAN POPULASI ORGANISME PENGGANGGU DAN
MUSUH ALAMI, DAN ANALISIS KERUSAKAN
























Disusun oleh:






LABORATORIUM ENTOMOLOGI TERAPAN
JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2013
Nama : Dwi Hutami Agustiningrum
NIM : 12308
Golongan : A3
Co. Ass : Jatu Barmawati
Radiyani Mirza Alfarisi

ACARA V
TEKNIK PENGAMATAN POPULASI ORGANISME PENGGANGGU DAN MUSUH
ALAMI, DAN ANALISIS KERUSAKAN

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hama merupakan salah satu kendala yang perlu diantisipasi perkembangannya karena
dapat menimbulkan kerugian bagi petani. Untuk mengantisipasi perkembangan hama, perlu
dilakukan pengendalian yang sesuai. Pengendalian tersebut dilakukan untuk meminimalisir
kerugian yang dapat terjadi dengan memperhatikan keadaan lingkungan. Oleh karena itu, perlu
dilakukan pengelolaan hama terpadu (PHT).
Pengendalian hama terpadu merupakan pengelolaan agroekosistem dengan memadukan
berbagai teknik pengendalian hama sedemikian rupa sehingga populasi hama tetap berada di
bawah ambang ekonomi sehingga tidak menyebabkan kerugian yang berarti. Dalam PHT perlu
dilakukan pengamatan terhadap populasi hama yang ada pada lingkungan pertanaman.
Pengamatan tersebut bertujuan untuk memperoleh data yang diperlukan sehingga dapat
diperoleh keputusan, apakah pengendalian hama perlu dilakukan atau tidak.
Apabila populasi hama belum mencapai ambang ekonomi, maka perlu dilakukan
pencegahan agar populasi hama tidak meningkat. Pencegahan dapat dilakukan dengan
melakukan perbaikan pada lingkungan pertanaman, serta menambah populasi musuh alami di
lingkungan pertanaman. Akan tetapi, apabila populasi hama telah mencapai ambang ekonomi,
maka perlu dilakukan pengambilan keputusan mengenai pengendalian yang cepat dan tepat
sehingga populasi hama dapat ditekan, kerugian dapat berkurang, serta lingkungan pertanaman
tetap terjaga.



B. Tujuan
1. Mengetahui teknik pengamatan populasi hama dan kerusakannya.
2. Mengetahui metode pelaporan hama dan pengambilan keputusan tindakan pengendalian.

II. TATA CARA PRAKTIKUM
Praktikum Dasar-dasar Ilmu Hama Tanaman acara V yang berjudul Teknik
Pengamatan Populasi Organisme Pengganggu Dan Musuh Alami, Dan Analisis Kerusakan
dilaksanakan pada Rabu, 17 April 2013. Adapun alat-alat yang digunakan, yaitu alat tulis.
Bahan-bahan yang diperlukan, yaitu preparat awetan dan hidup dari predator, parasitoid, dan
patogen. Kegiatan dilakukan di lahan padi dan palawija/sayuran. Pada kegiatan ini diamati
populasi organisme pengganggu dan tingkat serangan. Lahan yang akan diamati dipilih dan
diambil 20-25 sampel tanaman secara acak dengan pola diagonal pada lahan. Pengamatan hama
dilakukan secara mutlak, yaitu pengamatan langsung individu-individu yang ditemukan pada
setiap unit sampel (tanaman) pada saat itu, kemudian dihitung jumlahnya.
Setelah itu, dilakukan pengamatan secara relatif, yaitu dengan menggunakan alat
pengumpul sampel, seperti jaring serangga. Jaring diayunkan pada bagian pucuk tanaman
sebanyak 20 kali (10 kali ke kiri dan 10 kali ke kanan), organisme yang tertangkap dikumpulkan
dan dipindahkan ke dalam kantung plastik untuk pengamatan selanjutnya. Dari masing-masing
sampel yang dikumpulkan, kemudian dipisahkan antara organisme yang berstatus pengganggu
(hama), bermanfaat (musuh alami), dan organisme lain. Persentase masing-masing dicatat dalam
lembar pengamatan. Kemudian dilakukan pengamatan intensitas serangan akibat organisme
pengganggu secara mutlak (misalnya penggerek batang), yaitu dengan diamati tanaman yang
terserang penggerek batang sebanyak 20 rumpun (N=20), kemudian dilakukan perhitungan
intensitas serangan dengan rumus sebagai berikut.

=








Setelah itu, dilakukan pula pengamatan tingkat serangan relatif akibat organisme
pengganggu yang makan pada daun, seperti belalang hijau (Oxypa sp.) pada 20 rumpun tanaman
sampel (N=20), kemudian dilakukan perhitungan tingkat serangan dengan rumus sebagai
berikut.

Keterangan:
IS : intensitas kerusakan (%)
ai : jumlah batang terserang pada rumpun ke-i
bi : jumlah batang tidak terserang pada rumpun ke-i
N : jumlah rumpun/unit sampel (20)
Keterangan:
IS : intensitas kerusakan (%)
vi : skor kerusakan (0, 1, 2, 3, dan 4), dengan ketentuan sebagai berikut : (0) tanpa
kerusakan; (1) kerusakan > 0 dan < 25; (2) kerusakan > 25% dan < 50%; (3)
kerusakan > 50% dan < 75%; (4) kerusakan > 75%
ni : jumlah unit sampel bergejala serangan dalam skor v
N : jumlah unit sampel (20)
Z : skor tertinggi (4)














III. HASIL PENGAMATAN

A. Pengamatan Populasi Mutlak
No.
Rumpu
n
Jumlah
Batang
Jumlah
Sundep/
Beluk
Jumlah
Kepik
Padi
Jumlah
Weren
g
Batang
Jumlah
Weren
g Daun
Jumlah
Belalang
Jumlah
Thrips
Jumlah
Keong
1 23 0 4 3 2 1 2 0
2 18 0 3 2 3 2 3 0
3 16 0 2 4 5 2 1 0
4 16 0 3 3 4 1 0 0
5 17 2 0 1 0 1 8 0
6 18 4 3 0 2 0 10 0
7 18 5 0 1 0 0 7 0
8 18 5 3 2 2 2 2 0
9 14 0 0 0 0 0 0 0
10 12 0 1 0 0 0 0 0
11 24 0 3 0 0 0 0 0
12 18 0 1 0 0 0 0 0
13 20 0 5 0 0 1 0 2
14 17 0 0 0 0 1 0 0
15 19 0 0 0 0 0 0 0
16 15 0 0 0 0 0 0 0
17 22 3 0 0 0 0 2 0
18 24 4 4 0 0 0 0 0
19 12 10 0 0 0 2 1 0
20 22 15 0 0 0 4 1 0
Total 363 48 32 16 18 17 37 2



B. Pengamatan Populasi Relatif
No.
Ayunan
Jumlah
Kupu /
Ngengat
Jumlah
Ulat
Jumlah
Kepik
Padi
Jumlah
Wereng
Batang
Jumlah
Wereng
Daun
Jumlah
Belalang
Jumlah
Thrips
1 0 0 18 1 2 2 0
2 0 0 33 4 3 2 20
3 0 0 7 5 0 3 0
4 0 0 4 3 2 12 0
5 0 0 16 0 4 3 0
No.
Ayunan
Jumlah
Kumbang
Koksi
Jumlah
Laba-
Laba
Jumlah
Lalat
Jumlah Kepik
Predator Ulat
Jumlah
Capung
Jarum
Jumlah
Tomcat
1 5 23 0 0 0 0
2 0 0 0 0 0 0
3 0 0 0 0 0 0
4 18 1 9 2 5 3
5 1 0 3 0 1 0



C. Pengamatan Organisme Bermanfaat (Musuh Alami)
No.
Rump
un
Jumla
h
Batan
g
Jumlah
Kumban
g Koksi
Jumlah
Belalan
g
Semba
h
Jumla
h
Laba -
Laba
Jumlah
Kumba
ng
Paederu
s
Jumlah
Kepik
Predato
r Ulat
Jumla
h
Hama
Terken
a
Patoge
n
Jumlah
Hama
Terkena
Parasitoi
d
1 23 2 0 5 2 2 0 0
2 18 1 1 4 3 3 0 0
3 16 2 0 5 4 4 0 0
4 16 1 1 6 3 3 0 0
5 17 2 0 0 21 0 0 2
6 18 3 0 2 1 0 0 0
7 18 2 0 0 0 0 2 0
8 18 4 0 0 1 0 0 0
9 14 2 0 5 0 2 0 0
10 12 1 1 4 0 3 0 0
11 24 2 0 5 0 4 0 0
12 18 1 1 6 0 3 0 0
13 20 2 0 5 0 2 0 0
14 17 1 1 4 0 3 0 0
15 19 2 0 5 0 4 0 0
16 15 1 1 6 0 3 0 0
17 22 2 0 5 0 2 0 0
18 24 1 1 4 0 3 0 0
19 12 2 0 5 0 4 0 0
20 22 1 1 6 0 3 0 0
Total 363 35 8 82 35 48 2 2

D. Pengamatan Organisme Lain
No.
Rumpun
Jumlah
batang
Jenis 1
(Capung
Jarum)
Jenis 2
(Semut)
Jenis 3
(Diptera)
1 23 0 4 8
2 18 0 3 0
3 16 1 5 0
4 16 0 2 0
5 17 0 2 0
6 18 0 2 0
7 18 0 0 0
8 18 0 1 0
9 14 0 10 0
10 12 0 0 0
11 24 0 0 0
12 18 0 0 0
13 20 0 0 0
14 17 0 0 0
15 19 0 0 0
16 15 0 0 0
17 22 0 0 0
18 24 0 0 0
19 12 0 0 0
20 22 0 0 0
Total 363 1 29 8




E. Perbandingan Rerata Hama, Musuh Alam, dan Organisme Lain

Hama
Pengganggu
Musuh
Alami
Organisme
Lain
Rerata 24,29 30,29 12,67






F. Intensitas Serangan Mutlak
No.
Rumpun
Jumlah
Batang
Jumlah
Sundep/Beluk
ISM (%)
1 23 0 0,00
2 18 0 0,00
3 16 0 0,00
4 16 0 0,00
5 17 2 11,76
6 18 4 22,22
7 18 5 27,78
8 18 5 27,78
9 14 0 0,00
10 12 0 0,00
11 24 0 0,00
12 18 0 0,00
13 20 0 0,00
14 17 0 0,00
15 19 0 0,00
16 15 0 0,00
17 22 3 13,64
18 24 4 16,67
19 12 10 83,33
20 22 15 68,18
Total 363 48 271,36
Rerata 18,15 2,4 13,57

=

x 100%
=
(

)(

)(

)(

)(

)(

)(

)(

)(

)(

)
(

)(

)(

)(

)(

)(

)(

)(

)(

)(


x100%
=

x 100%
=


= 13,57%
G. Intensitas Serangan Relatif
No.
Rumpun
Jumlah
Batang
Jumlah
Sundep/Beluk
Skor
ISR
(%)
1 23 0 0 12,5
2 18 0 0 12,5
3 16 0 0 12,5
4 16 0 0 12,5
5 17 2 1 12,5
6 18 4 1 12,5
7 18 5 2 12,5
8 18 5 2 12,5
9 14 0 0 12,5
10 12 0 0 12,5
11 24 0 0 12,5
12 18 0 0 12,5
13 20 0 0 12,5
14 17 0 0 12,5
15 19 0 0 12,5
16 15 0 0 12,5
17 22 3 1 12,5
18 24 4 1 12,5
19 12 10 3 12,5
20 22 15 4 12,5
Total 363 48
Keterangan: Skor 0: 0 = 12
Skor 1: 1 4 = 4
Skor 2: 5 8 = 2
Skor 3: 9 12 = 1
Skor 4: 13 15 = 1



x 100%
=

x 100%
= 12,5%

IV. PEMBAHASAN
Hama penggerek batang padi menyerang pada fase larva. Serangan yang dilakukan
pada stadium vegetatif menimbulkan gejala yang disebut sundep, yaitu matinya pucuk tanaman
karena titik tumbuh dimakan larva. Pucuk tersebut mula-mula berwarna kuning kemerahan
kemudian kering dan mati. Serangan pada stadium generatif menimbulkan gejala beluk, yaitu
malai menjadi hampa, berwarna putih, dan berdiri tegak karena tangkai malai putus digerek
(Prasetiyo, 2002). Pada kasus di lapangan yang diamati dapat diketahui bahwa serangan yang
terjadi berupa sundep karena tanaman padi masih berada pada fase vegetatif.
Hama didefinisikan sebagai hewan yang memakan tumbuhan yang diusahakan sehingga
menimbulkan kerugian bagi petani. Kerugian akibat serangan hama sangat dirasakan saat jumlah
penduduk semakin meningkat sehingga kebutuhan akan produksi pertanian semakin meningkat.
Untuk mengatasi serangan hama diperlukan pengendalian yang tepat. Pengendalian hama yang
tepat juga memperhatikan lingkungan tempat pertanaman. Pengendalian hama yang juga melihat
aspek ekologi disebut Pengelolaan Hama Terpadu (PHT).
Dalam PHT, diperlukan adanya monitoring atau pemantauan. Pemantauan ini bertujuan
untuk memperoleh pertimbangan mengenai keputusan yang dapat diambil untuk mengendalikan
hama. Pemantauan dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap populasi hama yang ada
di lingkungan pertanaman. Pengamatan populasi hama dibedakan menjadi tiga, yaitu
pengamatan populasi mutlak, pengamatan populasi relatif, dan pengamatan indeks populasi.
Populasi mutlak merupakan jumlah populasi hama berdasarkan pengamatan dalam unit satuan
luas, habitat berupa tanaman, kelompok tanaman, ataupun bagian tanaman, contohnya apabila
dalam satu rumpun padi ditemukan 10 ekor hama, maka dapat dikatakan populasi mutlaknya 10
ekor per rumpun. Populasi relatif merupakan adalah hasil pengamatan dalam satuan usaha dalam
pengambilan sampel, contohnya dengan ayunan jaring atau perangkap sehingga apabila
diperoleh jumlah hama 15 ekor dalam 10 kali ayunan, maka dikatakan populasi relatifnya 15
ekor per 10 kali ayunan. Indeks populasi merupakan hasil pengamatan yang dilakukan tidak
langsung ada individu hama, tetapi dilakukan pada hasil kegiatan yang ditimbulkan oleh hama,
seperti kerusakan atau sarang yang dibuat oleh hama.
Pada praktikum ini dilakukan pengamatan terhadap populasi mutlak dan populai relatif.
Populasi mutlak diamati secara langsung pada rumpun padi di area persawahan seluas 100 m
2

dengan pola diagonal. Populasi relatif diamati dengan menggunakan jaring yang diayunkan 10
kali ke kanan dan ke kiri pada areal persawahan seluas 100 m
2
dengan pola diagonal. Pada
pengamatan populasi mutlak, serangga hama maupun musuh alami yang terbang lebih sulit
diamati karena akan dengan mudah berpindah saat didekati. Hal ini berbeda dengan pengamatan
populasi relatif karena penggunaan jaring dapat memerangkap serangga yang akan terbang
melarikan diri sehingga dapat dikatakan bahwa pengamatan populasi mutlak cocok bagi hama
yang tidak terbang, sedangkan pengamtan populasi relatif cocok bagi hama yang dapat terbang.
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, diperoleh intensitas serangan mutlak (ISM)
sebesar 13,57% dan intensitas serangan relatif (ISR) sebesar 12,5%. Bedasarkan nilai tersebut,
dapat diketahui bahwa kerusakan yang terjadi masih ringan (< 25%). Nilai tersebut tidak terlalu
berbeda, hanya saja nilai ISM diperoleh dari mengamati dan menghitung langsung hama pada
rumpun padi, sedangkan nilai ISR diperoleh dengan jaring serangga sehingga terdapat
kemungkinan hama tidak terjaring semua.
Untuk menentukan pengendalian yang tepat, diperlukan data ambang ekonomi
mengenai hama yang menyebabkan gejala sundep. Ambang ekonomi bukan harga yang tetap,
tetapi berfluktuasi bergantung pada harga gabah dan pestisida. Bila harga gabah meningkat maka
ambang ekonomi akan turun dan sebaliknya, tetapi bila harga insektisida naik maka ambang
ekonomi akan naik dan sebaliknya (Baehaki, 2009). Menurut Novizan (2002), ambang ekonomi
untuk hama penggerek batang padi penyebab sundep, yaitu > 1 kelompok telur/10 m
2
atau
intensitas serangan rata-rata sebesar 10%. Nilai ambang ekonomi tersebut lebih rendah
dibandingkan dengan nilai ISM dan ISRnya. Hal ini berarti sudah dibutuhkan pengendalian
terhadap lokasi persawahan tempat sampel diambil. Akan tetapi, keputusan tersebut masih
terlalu dini karena masih ada berbagai aspek yang perlu diperhatikan, seperti musuh alami dan
organisme lain bukan hama di sekitar pertanaman.
Pada pengamatan yang dilakukan, ditemukan berbagai jenis hama. Hama tersebut, yaitu
kepik padi, wereng batang, wereng daun, belalang, thrips, dan keong. Dari semua jenis hama
yang ditemukan, kepik padi merupakan yang paling banyak jumlahnya. Akan tetapi, kepik padi
biasa menyerang pada fase generatif sehingga pada fase vegetatif keberadaannya belum
mengkhawatirkan dan masih dapat dicegah. Adapun hama yang menyerang pada fase vegetatif,
yaitu wereng batang, wereng daun, belalang, thrips, dan keong. Akan tetapi jumlah keong yang
hanya sedikit belum menghawatirkan dan masih dapat dihilangkan secara manual.
Pada pengamatan yang dilakukan, ditemukan berbagai jenis musuh alami, yaitu
kumbang koksi, belalang sembah, laba-laba, kumbang paederus, dan kepik predator ulat.
Masing-masing musuh alami memiliki mangsa yang berbeda-beda. Menurut Rukmana (2002),
kumbang koksi merupakan predator bagi thrips. Belalang sembah dan laba-laba dapat menjadi
predator bagi belalang. Kumbang paederus dapat menjadi predator bagi wereng. Kepik predator
ulat merupakan predator bagi larva ngengat dan kupu-kupu, tetapi tidak ditemukannya ulat pada
saat pengamatan memungkinkan kepik tersebut tidak menetap hanya pada area persawahan yang
diamati, melainkan terbang bebas ke area pertanaman lain di sekitar persawahan.
Menurut Nanao dan Nanao (1996), kumbang koksi makan dengan cara menghisap
cairan tubuh mangsanya. Seekor kumbang koksi diketahui dapat menghabiskan 1.000 ekor kutu
daun sepanjang hidupnya. Kumbang koksi dewasa dapat hidup selama sekitar dua sampai empat
bulan. Hal ini berbeda dengan masa hidup thrips dewasa yang hanya dua bulan (Lingga, 2006).
Belalang sembah dapat menghasilkan tiga ratus butir telur dalam satu masa
reproduksinya. Belalang sembah merupakan pemangsa yang cepat. Dalam waktu beberapa
menit, belalang sembah dapat memangsa dua serangga. Belalang sembah dapat hidup hingga
satu hingga dua bulan (Widiyastuti, 2012). Belalang dewasa yang merupakan hama biasanya
dapat hidup selama satu bulan. Hal ini berbeda dengan predatornya, yaitu belalang sembah yang
dapat hidup hingga dua bulan. Selain itu, terdapat juga laba-laba yang juga merupakan musuh
alami bagi belalang. Menurut Behrman et al. (2000), laba-laba dapat hidup selama berbulan-
bulan walau tanpa makan sekalipun.
Kumbang paederus merupakan serangga yang tersebar secara luas di dunia. Serangga
ini merupakan predator bagi wereng di pertanaman padi. Kumbang ini dapat hidup hingga tiga
bulan. Kumbang betina dapat menghasilkan 100-150 butir telur setiap bertelur. Dalam sehari,
kumbang ini dapat memangsa 7-9 ekor wereng (Manley, 2007). Wereng memiliki masa hidup
sekitar satu bulan. Sekali bertelur, wereng dapat menghasilkan sekitar 300 butir telur. Saat
menjadi nimfa dan imago inilah wereng batang coklat menghisap cairan dari batang padi.
(Pathak dan Khan, 1994).
Berdasarkan perbandingan siklus hidup antara musuh alami dengan hama, dapat
dikatakan bahwa jumlah predator masih lebih banyak daripada hama yang ada. Kemampuan
makan seekor musuh alami pun lebih tinggi apabila dibandingkan dengan perkembangan seekor
hama. Selain itu, apabila dilihat dari perbandingan rerata populasi hama, musuh alami, dan
organisme lain yang berada di area persawahan tempat pengambilan sampel juga dapat
diperhitungkan. Adapun rerata populasi hama sebesar 24,29, musuh alami sebesar 30,29, dan
organisme lain sebesar 12,67. Hal ini menunjukkan bahwa rerata populasi musuh alami masih
jauh lebih besar daripada hama.
Berdasarkan analisis ambang ekonomi yang dilakukan, dapat dikatakan bahwa
pengendalian bisa dilakukan dengan pestisida. Akan tetapi, apabila dilihat juga bagaimana
musuh alaminya dapat dikatakan belum diperlukannya penggunaan pestisida. Hal ini disebabkan
oleh jumlah musuh alami yang lebih banyak daripada hamanya. Selain itu, kemampuan makan
musuh alami lebih cepat daripada perkembangan hama. Penggunaan pestisida dikhawatirkan
ikut membunuh musuh alami yang sudah ada sehingga pengendalian tidak efektif.
Menurut Baehaki (2009), Teknologi pengendalian menggunakan ambang kendali
berdasarkan manipulasi musuh alami dapat mengurangi pemakaian insektisida dan
meningkatkan pendapatan. Insektisida yang direkomendasikan dapat digunakan untuk
pengendalian hama jika ambang ekonomi terkoreksi yang ditentukan telah terlampaui.
Pengendalian hama berdasarkan manipulasi musuh alami menghemat penggunaan insektisida
33-75%, meskipun pada musim hujan dengan kelimpahan hama wereng cukup tinggi. Dengan
cara ini, hasil padi di tingkat petani meningkat 36% dengan peningkatan keuntungan 53,7%.




V. KESIMPULAN
1. Teknik pengamatan hama secara mutlak yaitu pengamatan langsung terhadap populasi hama
pada unit satuan luas, habitat berupa tanaman, kelompok tanaman, ataupun bagian tanaman
dan teknik pengamatan secara relatif yaitu pengamatan populasi hama menggunakan alat
pengumpul (jaring serangga).
2. Metode pelaporan hama yang digunakan adalah secara mutlak dan secara relatif.
3. Kerusakan yang ditemukan tergolong ringan karena IS lebih kecil daripada 25%.
4. Jumlah rerata musuh alami yang ditemukan lebih besar dari ada rerata populasi hama dan
rerata populasi organisme lain.
5. Berdasarkan hasil analisis, pengendalian yang dapat dilakukan adalah menggunakan musuh
alami.

DAFTAR PUSTAKA

Baehaki, S. E. 2009. Strategi pengendalian hama terpadu tanaman padi dalam perspektif praktek
pertanian yang baik (good agricultural practices). Pengembangan Inovasi Pertanian 2:
65-78.

Behrman, R. E., R. M. Kliegman, dan A. M. Arvin. 2000. Nelson Textbook Of Pediatrics.
Elsevier, London.

Lingga, L. 2006. Kastuba; Tanaman Penyemarak Hari Raya. AgroMedia Pustaka, Jakarta.

Manley, G. V. 2007. Paederus fuscipes [col.: Staphylinidae]: a predator of rice fields in West
Malaysia. Entomophaga 22: 47-59.

Nanao, J. dan K. Nanao. 1996. Seri Misteri Alam 3: Kumbang Koksi. PT Elex Media
Komputindo, Jakarta.

Pathak, M. D. dan Z. R. Khan. 1994. Insects Pest of Rice. International Rice Research Institute,
Manila.

Prasetiyo, Y. T. 2002. Budi Daya Padi Sawah Tanpa Olah Tanah. Kanisius, Yogyakarta.

Rukmana, R. 2002. Usaha Tani Cabai Rawit. Kanisius, Yogyakarta.

Widiyastuti, S. 2012. Belalang Sembah, Predator Pintar Menyamar. <http://www.pei-
pusat.org/opini/132-belalang-sembah-predator-pintar-menyamar-sri-widiyastuti>.
Diakses pada 6 April 2012.