Anda di halaman 1dari 8

4.

1 Erodibilitas Tanah
4.1.1 Pengertian dan Karakteristik
Erodibilitas tanah merupakan kepekaan tanah terhadap erosi. Kepekaan tanah yang
dimaksud yaitu mudah tidaknya tanah tererosi. Menurut Arsyad (1989:96), kepekaan tanah
berkaitan dengan karakteristik fisik dan interaksi kimia tanah. Sifat tanah yang mempengaruhi
erosi mencakup (1) sifat-sifat tanah yang mempengaruhi laju infiltrasi, permeabilitas dan
kapasitas menahan air, dan (2) sifat-sifat yang mempengaruhi ketahanan dan strukutr tanah
terhadap dispersi dan pengikisan oleh butir-butir hujan yang jatuh dan aliran permukaan.
Wischmeier (1969) menyatakan bahwa erodibilitas alami (inherent) tanah merupakan sifat
kompleks yang tergantung pada laju infiltrasi tanah dan kapasitas tanah untuk bertahan terhadap
penghancuran agregat serta pengangkutan oleh hujan dan aliran permukaan.mudah tidaknya
tanah tersebut tererosi.

4.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Erodibilitas Tanah
Ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam penentuan nilai erodibilitas tanah yaitu tekstur
tanah, bahan organik, struktur tanah, permeabilitas tanah, kedalaman tanah, tingkat kesuburan
tanah.(Arsyad, 1989; Arzi, 2012; Utomo; 1989). Secara umum tanah dan kandungan debu tinggi,
liat rendah dan bahan organik rendah adalah yang paling mudah tererosi (Wischmeier dan
Mannering, 1969).
1. Tekstur
Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah, ditentukan berdasarkan perbandingan
butir-butir (fraksi) pasir (sand), debu (silt) dan liat (clay). Fraksi pasir berukuran 2 mm 50
lebih kasar disbanding debu (50 - 2 ) dan liat (lebih kecil dari 2 . Tanah-tanah bertekstur
kasar yang mempunyai kapasitas infiltrasi yang tinggi dan terletak pada lapisan tanah dalam,
peluang erosi sangat kecil. Akan tetapi, jika terjadi aliran permukaan (runoff), tanah yang
bertekstur pasir halus akan mudah tererosi.
2. Bahan Organik
Menurut Arsyad (1989:99), bahan organik sangat berperan pada proses pembentukan dan
stabilitas strukutur tanah. Bahan organik yang masih berupa daun, ranting, dan sebagainya
yang belum hancur yang menutupi permukaan tanah merupakan pelindung tanah terhadap
kekuatan perusak butir-butir hujan yang jatuh. Bahan organik tersebut juga menghambat
aliran permukaan. Sehingga kecepatan alirannya lebih lambat dan relatif tidak merusak.
Bahan organik yang sudah mengalami pelapukan mempunyai kemampuan menyerap dan
menahan air tinggi, sampai dua-tiga kali berat keringnya. Akan tetapi, kemampuan menyerap
air in hanya merupakan factor kecil dalam mempengaruhi kecepatan aliran permukaan.
Pengaruh utama bahan organik adalah memperlambat aliran permukaan, meningkatkan
infiltrasi, dan memantapkan agregat tanah.
3. Struktur Tanah
Bentuk dan stabilitas agregat, serta persentase tanah yang teragregasi sangat berperan
dalam menentukan tingkat kepekaan tanah terhadap erosi. Menurut Arsyad (1989;96), tanah-
tanah dengan tingkat agregasi tinggi, berstruktur kersai atau granular, sarang, tingkat
penyerapan airnya lebih tinggi dari pada tanah yang tidak berstruktur atau susunan butir-butir
primernya lebih rapat.
Klasifikasi struktur menurut Wischmeier et al. (1971, dalam Utomo, 1989:31) dapat
dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.2.2a Klasifikasi Struktur
Tipe Struktur Tanah Kelas
Granular sangat halus (very fine granular) 1
Granular halus (fine granular) 2
Granular sedang dan besar (medium, coarse granular) 3
Gumpal, lempeng, pejal (blocky, platy, massif) 4
Sumber: Wischmeier et al. (1971, dalam Utomo, 1989:31)
4. Kedalaman dan sifat lapisan tanah
Karakteristik profil tanah yang sangat menentukan tingkat erodibilitas tanah adalah
kedalaman tanah dan sifat lapisan tanah, Kedalaman tanah sampai lapisan kedap atau bahan
induk akan menentukan jumlah air yang meresap ke dalam tanah, sedangkan sifat lapisan
tanah sangat berpengaruh terhadap laju peresapan air kedalam tanah. Selanjutnya, jumlah dan
laju peresapan air ke dalam tanah sampai lapisan kedap sangat menentukan besarnya aliran
permukaan, dan hal ini sangat menentukan daya rusak dan daya angkut dari aliran
permukaan. Jadi, tanah yang dalam dan memiliki permeabilitas yang cukup tinggi
berpeluang kecil terhadap erosi. Nilai berdasarkan klasifikasi tanah dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 4.2.2b Klasifikasi Permeabilitas Tanah
Kelas Permeabilitas Tanah Kelas Permeabilitas (cm/jam)
Cepat (rapid) 1 >12,5
Sedang sampai cepat (moderate to rapid) 2 6,25 12,5
Sedang (moderate) 3 2,00 6,25
Sedang sampai lambat (moderate to slow) 4 0,50 2,00
Lambat (slow) 5 0,125 0,50
Sangat lambat (very slow) 6 <0,125
Sumber: Wischmeier et al. (1971, dalam Utomo, 1989:31)

5. Kesuburan tanah
Pengaruh kesuburan tanah terhadap erodibilitas tanah berpangkal pada kaitannya dengan
pertumbuhan tanaman. Pada tanah yang relatif lebih subur, pertumbuhan tanaman akan
relatif lebih baik. Hal ini akan berdampak pada tingkat kemampuan penyerapan air oleh
tanah, seperti yang telah dijelaskan pada uraian tentang kedalaman dan sifat pelumasan
tanah. Kepekaan suatu tanah terhadap erosi atau nilai erodibilitas suatu tanah juga ditentukan
oleh : (1) ketahanan tanah terhadap daya rusak dari luar, dan (2) kemampuan tanah untuk
menyerap air.
Ketahanan tanah tanah akan menentukan mudah tidaknya massa tanah dihancurkan oleh
air, baik air hujan maupun limpasan permukaan. Kemampuan serap tanah akan menentukan
volume limpasan permukaan yang mengikis dan mengangkut hancuran massa tanah. Jadi
makin mudah massa tanah dihancurkan makin tinggi nilai erodibilitasnya. Demikian pula
makin sukar tanah meresap air, makin besar volume limpasan permukaan, makin besar massa
tanah yang terkikis dan terangkut, sehingga nilai K juga semakin tinggi.
4.1.3 Klasifikasi Nilai K
Nilai erodibiltas tanah diberi simbol K. Nilai K menggambarkan kemudahan massa tanah
untuk tererosi. Menurut Utomo (1989:28), nilai erodibiltas bervariasi antara 0,0 sampai dengan
0,99 ton/KJ. Semakin tinggi nilai erodibilitas, tanah akan mudah tererosi. Nilai erodibiltas tanah
dapat dilihat pada tabel 4.2.1
Tabel 4.1.1a Jenis Tanah dan Nilai Faktor Erodibilitas
Tanah (K)

No Jenis Tanah Nilai K
1. Latosol coklat kemerahan dan litosol 0,43
2. Latosol kuning kemerahan dan litosol 0,36
3. Komplek mediteran dan litosol 0,46
4. Latosol kuning kemerahan 0,56
5. Grumusol 0,20
6. Aluvial 0,47
7. Regosol 0,40
8. Latosol 0,31
Sumber: Kironto, 2003 (dalam Tunas)

Klasifikasi Nilai K menurut Arsyad dapat dilihat pada tabel 4.1.1b

Tabel 4.1.1b Klasifikasi Nilai K
Kelas Nilai K Tingkat erodibiltas
1 0,00 0,10 Sangat rendah
2 0,11 0,20 Rendah
3 0,21 0,32 Sedang
4 0,33 0,40 Agak Tinggi
5 0,44 0,55 Tinggi
6 0,56 0,64 Sangat Tinggi
(Sumber: Arsyad, 1989;103; Sutedjo et al., 1987;110)

4.2 Prakiraan Besarnya Erosi
Dalam terjadinya erosi dan sehubungan dengan proses-proses terjadinya yang alamiah
maupun dipercepat, dengan demikian dapat disebutkanfaktor yang mempengaruhi besarnya laju
erosi yaitu: (1) iklim, menentukan nilai indeks erosivitas hujan; (2) tanah dan sifatnya dapat
menetukan besar kecilnya laju pengikisan (erosi) dan dinyatakan sebagai faktor erodibilitas
tannah (kepekaan tanah terhadap erosi atau mudah dan tidaknya tanah itu tererosi); (3) topografi,
menentukan tentang kecepatan lajunya air di permukaan yang mampu mengangkut atau
menghanyutkan partikel-partikel tanah; (4) tanaman penutup tanah (vegetasi), memiliki sifat
melindungi tanah dari timpaan-timpaan keras titik-titik curah hujan ke permukaannya selain itu
dapat memperbaiki susunan tanah dengan bantuan akar-akarnya yang menyebar; (5)
kegiatan/perlakuan-perlakuan manusia, dapat mempercepat terjadinya erosi karena perbuatan-
perbuatan yang negatif.
Faktor erosivitas hujan dan erodibilitas tanah dimanfaatkan sebagai satu kesatuan faktor
untuk memperhitungkan besarnya erosi dan faktor-faktor lainnya dianggap sebagai satu kesatuan
faktor pula. D. Gabriels dalam thesisnya (Studie van het Watererosi process door Middel van
Regenval Simulatie of alle dan niet Kunsmatig, Geschikturende Gronden) mengemukakan
semacam rumus sebagai berikut:
E (tanah yang terkikis/ hilang) = Erosivitas x Erodibilitas
Metode lain untuk menentukan erosi adalah USLE, metode ini merupakan suatu model
parametrik untuk memprediksi erosi dari suatu bidang tanah.USLE memungkinkan perencana
menduga laju rata-rata erosi suatu tanah tertentu pada suatu kecuraman lereng dengan pola hujan
tertentu untuk setiap macam pertanaman dan tindakan pengelolaan (tindakan konservasi tanah)
yang mungkin dilakukan (Arsyad, 1989). Prediksi erosi dengan metode USLE diperoleh dari
hubungan antara faktor-faktor penyebab erosi itu sendri yaitu:
A = R x K x LS x C x P
A = Banyaknya tanah tererosi (ton ha-1 yr-1)
R = faktor curah hujan dan aliran permukaan (Erosivitas) (MJ mm ha-1 hr-1 yr
K = faktor erodibilitas tanah (ton ha hr MJ-1 mm-1 ha-1)
LS = faktor panjang dan kemiringan lereng (dimensionless)
C = faktor vegetasi penutup tanah dan pengelolaan tanaman (dimensionless)
P = faktor tindakan-tindakan khusus konservasi tanah (dimensionless)
keterangan :
a. Erosivitas (R) hujan adalah daya erosi hujan pada suatu tempat. Nilai erosivitas hujan
dapat dihitung berdasarkan data hujan yang diperoleh dari penakar hujan otomatik dan
dari penakar hujan biasa. Adapun persamaan yang digunakan dalam menentukan tingkat
erosivitas hujan adalah:
R = 6; 119(RAIN)
1,21
(DAY S)
- 0,47
(MAX P)
0,53
R : indeks erosivitas rata-rata bulanan
RAIN : curah hujan rata-rata bulanan (cm)
DAYS : jumlah hari hujan rata-rata perbulan
MAX P : curah hujan maksimum selama 24 jam dalam 1 bulan (cm)
(Bols, 1978 dalam Arsyad, 1989)
b. Erodibilitas (K) tanah adalah mudah tidaknya tanah mengalami erosi, yang ditentukan
oleh berbagai sifat fisik dan kimia tanah. Nilai K dapat dilakukan dengan menggunakan
nomograph atau rumus Wischmeier et al. (1971) sebagai berikut :

)( ) ( ) ( )
Keterangan:
K = erodibiltas tanah
M = ukuran butir/partikel (% debu + % pasir halus)
a = persentase kandungan bahan organik
b = kelas struktur tanah
c = kelas permeabilitas tanah

Tabel 2.3 Nilai M untuk Beberapa Kelas Tekstur
Kelas Tekstur Nilai M Kelas Tekstur Nilai M
Lempung berat 210 Pasir 3035
Lempung sedang 750 Pasir geluhan 1245
Lempung pasiran 1213 Geluh lempungan 3770
Lempung ringan 1685 Geluh pasirian 4005
Geluh lempung 2160 Geluh 4390
Pasir lempung debuan 2830 Geluh debuan 6330
Geluh lempungan 2830 Debu 8245
Campuran merata 4000
Sumber: RLKT DAS Citarum, 1987 (dalam Asdak, 2002)

c. Faktor panjang dan kemiringan lereng (LS) yaitu nisbah antara besarnya erosi dari tanah
dengan contoh suatu panjang lereng tertentu terhadap erosi dari tanah dengan panjang
lereng 72,6 kaki (22.13 m) di bawah keadaan yang identik. Sedangkan faktor kecuraman
lereng, yaitu nisbah antara besarnya erosi yang terjadi dari suatu tanah kecuraman lereng
tertentu, terhadap besarnya erosi dari tanah dengan lereng 9% di bawah keadaan yang
identik. Secara umum persamaan untuk menentukan panjang lereng adalah (Laen and
Moldenhauer, 2003):
L = ()
m

Dimana L adalah faktor panjang lereng, adalah panjang lereng (m) dan m adalah
eksponensial dari panjang lereng yang berkisar antara 0.2-0.6, di Indonesia yang sering
digunakan adalah nilai 0.5, sedangkan persamaan untuk menentukan faktor kemiringan
lereng menggunakan persamaan (Arsyad, 1989):
S = (0,0138 + 0,00965 + 0,00138

)
Dimana S adalah faktor kemiringan lereng dan adalah kemiringan lereng (%). Persamaan
di atas sangat sulit diterapkan pada SIG berbasis pixel karena variabilitas panjang lereng
yang sangat kompleks. Moore and Burch (1986) dalam Kinnell (2008) telah
mengembang suatu persamaan untuk mencari nilai LS dengan memanfaatkan data DEM
pada SIG. Adapun persamaan itu adalah:
LS = (X x CZ /22,13)
0,4
x (sin /0,0896)
1,3

Dimana:
LS : Faktor Lereng
X : Akumulasi Aliran
CZ : Ukuran pixel
: Kemiringan lereng (%)
Akumulasi aliran merupakan nilai pixel yang dipengaruihi oleh aliran dari pixel
dilerengatas. Pengolahan data DEM untuk mendapatkan nilai LS didalam penelitian ini
menggunakan perangkat lunak ArcView 3.3 dengan bantuan extensions Spatial Analyst
dan Terrain Analysis.
d. Faktor vegetasi penutup tanah dan pengelolaan tanaman (C) yaitu nisbah antara besarnya
erosi dari suatu areal dengan vegetasi dan pengelolaan tanaman tertentu terhadap
besarnya erosi dari tanah yang identik dan tanpa tanaman. Data sebaran spasial dari
faktor ini diperoleh dari Adnyana (2006).
e. Faktor tindakan-tindakan khusus konservasi tanah (P) yaitu nisbah antara besarnya erosi
dari tanah yang diberi perlakuan tindakan konservasi khusus seperti pengolahan tanah
menurut kontur, penanaman dalam strip atau teras terhadap besarnya erosi dari tanah
yang diolah searah lereng dalam keadaan yang identik. Data sebaran spasial dari faktor
ini diperoleh dari Adnyana (2006).

DAFTAR PUSTAKA
Arzi, Z. 2012. Prediksi Erosi Menggunakan Metode USLE di Gunung Sanggabuana Jawa
Barat. Skripsi. Jakarta: Universitas Indonesia
Arsyad. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Cetakan Kedua. Bogor: UPT Produksi Media
Lembaga Sumber Daya Informasi IPB
Asdak, C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah aliran Sungai. Cetakan I. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press
As-syakur, A., R. 2008. Prediksi Erosi Dengan Menggunakan Metode USLE Dan Sistem
Informasi Geografis (SIG) Berbasis Piksel Di Daerah Tangkapan Air Danau Buyan. Jurnal
PIT MAPIN XVII PPLH. Universitas Udayana
Iriyani, A. 2008. Analisa Laju Erosi DAS Beringin dengan Metode USLE. Skripsi. Semarang:
Universitas Katolik Soegijapranta
Kartasapoetra, A., G., Kartasapoetra, G., Sutedjo, M. 2000. Teknologi Konservasi Tanah dan
Air. Jakarta: PT Rineka Cipta
Utomo, W., H. 1989. Konservasi Tanah di Indonesia. Jakarta: CV Rajawali
Tunas, I.,G. 2005. Prediksi Erosi Lahan Das Bengkulu dengan Sistem Informasi Geografis
(SIG). Jurnal SMARTek, Vol. 3, No. 3: 137 - 145