Anda di halaman 1dari 17

REFERAT

SPONDILOLISTESIS





OLEH :
Satiti Endah Dwi W, S.Ked J 500090004
Ilham Hariyadi, S.Ked J 500090023
Nugroho Tri Wibowo, S.Ked J 500090052


PEMBIMBING:
dr. Farhat, Sp.OT, M.Kes



KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU PENYAKIT BEDAH
RSUD DR HARJONO PONOROGO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013

REFERAT
SPONDILOLISTESIS

OLEH :
Satiti Endah Dwi W, S.Ked J 500090004
Ilham Hariyadi, S.Ked J 500090023
Nugroho Tri Wibowo, S.Ked J 500090052

Telah disetujui dan disahkan oleh bagian Program Pendidikan Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pada hari , tanggal 2013

Pembimbing:
dr. Farhat, Sp.OT, M.Kes ( )


dipresentasikan dihadapan:
dr. Farhat, Sp.OT, M.Kes ( )


Disahkan Ka. Program Profesi :
dr.Dona Dewi Nirlawati ( )



KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU PENYAKIT BEDAH
RSUD DR HARJONO PONOROGO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013

DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 3 2
A. DEFINISI ........................................................................................... 3
B. EPIDEMIOLOGI .............................................................................. 3
C. ETIOPATOFISIOLOGI ................................................................... 3
D. GEJALA KLINIS .............................................................................. 5
E. DIAGNOSIS ....................................................................................... 6
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG ..................................................... 10
G. PENATALAKSANAAN ................................................................... 11
H. KOMPLIKASI .................................................................................. 12
I. PROGNOSIS ..................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA










BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Spondilolistesis adalah subluksasi ke depan dari satu korpus vertebrata
terhadap korpus vertebrata lain dibawahnya. Hal ini terjadi karen adanya defek
antara sendi pacet superior dan inferior (pars interartikularis). Spondilolis
adalah adanya defek pada pars interartikularis tanpa subluksasi korpus
vertebrata. (Japardi, 2002)
Spondilolis dan spondilolistesis terjadi pada 5% dari populasi.
Kebanyakan penderita tidak menunjukkan gejala atau gejalanya hanya
minimal, dan sebagian besar kasus dengan tindakan konservatif memberikan
hasil yang baik. Spondilolistesis dapat terjadi pada semua level vertebrata, tapi
yang paling sering terjadi pada vertebrata lumbal bagian bawah. (Japardi,
2002)
Spondilolistesis berasal dari bahasa Yunani, yakni spondylo (vertebrata)
dan olisthesis (slip), jadi secara harfiah berarti vertebrata yang bergeser.
Deskripsi kelainan ini pertama kali ditulis pada tahun 1782 oleh Herbiniaux
seorang ahli obstetri dari Belgia, yang mencatat suatu keadaan dislokasi
lumbal kedepan terhadap sakrum yang menghambat proses persalinan. Kilian
(1854) menggunakan istilah spondilolistesis untuk keadaan diatas (pergeseran
vertebrata lumbal terhadap sakrum diatas). Klasifikasi spondilolistesis pertama
dibuat oleh Newman (1963) dan disempurnakan tahun 1976 menjadi Wiltse
Newman MacNab classification, yang terdiri dari: Dysplastic, Isthmic,
Degenerative, Traumatic dan Patological. (Japardi, 2002)
Gejalanya berupa nyeri pinggang yang semakin hebat bila berdiri,
berjalan,atau berlari, dan berkurang bila beristirahat. Biasanya otot biceps
femur,semitrendinosus, semimembranosis dan grasilis tegang sehingga

ekstensi tungkai terbatas. Foto rontgen memberikan gambaran yang
jelas menunjukkan kelainanvertebra. Kelainan ini mngkin tidak bergejala
sehingga perlu pemeriksaan klinis danradiologis berkala. Adanya pergeseran yang
progresif. Adanya pergeseran yang progresif merupakan indikasi untuk melakukan
stabilisasi. Nyeri pinggang yangringan biasanya dapat diatasi dengan
pemakaian alat penguat lumbosacral. (Joong, 2004)


























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. Definisi
Spondilolistesis merupakan pergeseran kedepan korpus vertebra
dalam hubungannya dengan sacrum, atau kadang dihubungan dengan
vertebra lain. Kelainan terjadi akibat hilangnya kontinuitas-pars
intervertebralis sehingga menjadi kurang kuat untuk menahan pergeseran
tulang berakang. (Joong, 2004)

II. Epidemiologi
Spondilolistesis mengenai 5-6% populasi pria, dan 2-3% wanita.
Karena gejala yang diakibatkan olehnya bervariasi, kelainan tersebut
sering ditandai dengan nyeri pada bagian belakang (low back pain), nyeri
pada paha dan tungkai. (www.emedicine.com)
Spondilolisthesis degeneratif memiliki frekuensi tersering karena
secara umum populasi pastinya akan mengalami penuaan. Paling sering
melibatkan level L4-L5. Sampai 5,8% pria dan 9,1% wanita memiliki
listhesis tipe ini. (Joong, 2004)


III. Etiopatofisiologi
Etiologi spondilolistesis sampai saat ini belum diketahui dengan
pasti. Konsep umum masih terfokus pada faktor predisposisi yakni
konginetal dan trauma. (Japardi, 2002)
Penyebab dari sindrom ini adalah malformasi persimpangan
lumbosakral (kecil bagian belakang dan bagian belakang panggul) yang
kecil, sendi facet tidak kompeten, yang dapat bersifat kongenital (bawaan),
disebut sebagai spondilolisthesis displastik, atau mungkin terjadi selama
masa remaja karena patah tulang atau cedera pada salah satu tulang-tulang
belakang dari kegiatan olahraga terkait seperti angkat berat, berlari,

berenang, atau sepak bola yang menyebabkan seseorang memiliki
spondilolisthesis isthmic. (Joong. 2004)
Ada lima jenis utama dari Spondilolisthesis dikategorikan oleh
sistem klasifikasi Wiltse:
1. Dysplastic
Dijumpai kelainan kongenital pada sacrum bagian atas atau neral
arch L5. Permukaan sakrum superior biasanya bulat (rounded) dan
kadang disertai dengan spina bifida.
2. Isthmic atau spondilolitik
Tipe ini disebabkan oleh karena adanya lesi pada pars
interartikularis. Tipe ini merupakan tipe spondilolistesis yang paling
sering. Tipe ini mempunyai tiga sub:
- Lytic: ditemukan pemisahan (separation) dari pars, terjadi karena
fatique fracture dan paling sering ditemukan pada usia dibawah
50 tahun
- Elongated pars interarticularis: terjadi oleh karena mikro fraktur
dan tanpa pemisahan pars
- Acute pars fracture: terjadi setelah suatu trauma yang hebat.
3. Degenerative
Secara patologis dijumpai proses degenerasi. Lebih sering terjadi
pada level L4-L5 daripada L5-S1. Ditemukan pada usia sesudah 40
tahun. Pada wanita terjadi empat kali lebih sering dibandingkan pria.
Pada kulit hitam terjadi tiga kali lebih sering dibandingkan kulit putih.
4. Traumatic
Tipe ini terjadinya bersifat skunder terhadap suatu proses trauma
pada vertebrata yang menyebabkan fraktur pada sebagian pars
interartikularis. Tipe ini terjadi sesudah periode satu minggu atau lebih
dari trauma. Acute pars fracture tidak termasuk tipe ini.
5. Pathologis
Jenis terakhir Spondilolisthesis, yang juga yang paling langka,
disebut spondilolisthesis patologis. Jenis Spondilolisthesis terjadi

karena kerusakan pada elemen posterior dari metastasis (kanker sel-sel
yang menyebar ke bagian lain dari tubuh dan menyebabkan tumor)
atau penyakit tulang metabolik. Jenis ini telah dilaporkan dalam kasus-
kasus penyakit Paget tulang (dinamai Sir James Paget, seorang ahli
bedah Inggris yang menggambarkan gangguan kronis yang biasanya
menghasilkan tulang membesar dan cacat), tuberkulosis (penyakit
menular mematikan yang biasanya menyerang paru-paru tetapi dapat
menyebar ke bagian lain dari tubuh), tumor sel raksasa, dan metastasis
tumor.

Diagnosis yang tepat dan identifikasi jenis atau kategori
Spondilolisthesis adalah penting untuk memahami serta keparahan dari
pergeseran yang terbagi menjadi 5 kelas sebelum pengobatan yang
tepat untuk kondisi tersebut dapat disarankan.
(www.spondylolisthesis.org )


IV. Gejala klinis
Presentasi klinis dapat bermacam-macam, tergantung pada jenis
pergeseran dan usia pasien. Selama tahun-tahun awal kehidupan,
presentasi klinis dapat berupa nyeri punggung bawah ringan yang sesekali
dirasakan pada panggul dan paha posterior, terutama saat beraktivitas.
Gejala jarang berkorelasi dengan tingkat pergeseran, meskipun mereka
disebabkan ketidakstabilan segmental. Tanda neurologis seringkali
berkorelasi dengan tingkat selip dan melibatkan motorik, sensorik, dan
perubahan refleks yang sesuai untuk pelampiasan akar saraf (biasanya S1).
(Syaiful, 2008)
Gejala yang paling umum dari spondylolisthesis adalah:
1. Nyeri punggung bawah.
Hal ini sering lebih memberat dengan latihan terutama dengan ekstensi
tulang belakang lumbal.

2. Beberapa pasien dapat mengeluhkan nyeri, mati rasa, kesemutan, atau
kelemahan pada kaki karena kompresi saraf. Kompresi parah dari saraf
dapat menyebabkan hilangnya kontrol dari usus atau fungsi kandung
kemih.
3. Keketatan dari paha belakang dan penurunan jangkauan gerak dari
punggung bawah.

Pasien dengan spondilolistesis degeneratif biasanya lebih tua dan
datang dengan nyeri punggung, radikulopati, klaudikasio neurogenik, atau
kombinasi dari gejala-gejala tersebut. Pergeseran yang paling umum
adalah di L4-5 dan kurang umum di L3-4. Gejala-gejala radikuler sering
hasil dari stenosis recessus lateral dari facet dan ligamen hipertrofi dan/
atau disk herniasi. Akar saraf L5 dipengaruhi paling sering dan
menyebabkan kelemahan ekstensor halusis longus. Stenosis pusat dan
klaudikasio neurogenik bersamaan mungkin atau mungkin tidak ada.

V. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan gambaran klinis, pemeriksaan fisik,
dan pemeriksaan radiologis.
a. Gambaran klinis
Nyeri punggung (back pain) pada regio yang terkena merupakan
gejala khas. Umumnya nyeri yang timbul berhubungan dengan aktivitas.
Aktivitas membuat nyeri makin bertambah buruk dan istirahat akan dapat
menguranginya. Spasme otot dan kekakuan dalam pergerakan tulang
belakang merupakan ciri spesifik.
Gejala neurologis seperti nyeri pada bokong dan otot hamstring
tidak sering terjadi kecuali jika terdapatnya bukti adanya subluksasi
vertebra. Keadaan umum pasien biasanya baik dan masalah tulang
belakang umumnya tidak berhubungan dengan penyakit atau kondisi
lainnya.
b. Pemeriksaan fisik

Postur pasien biasanya normal, bilamana subluksasio yang terjadi
bersifat ringan. Dengan subluksasi berat, terdapat gangguan bentuk postur.
Pergerakan tulang belakang berkurang karena nyeri dan terdapatnya
spasme otot.
Penyangga badan kadang-kadang memberikan rasa nyeri pada
pasien, dan nyeri umumnya terletak pada bagian dimana terdapatnya
pergeseran/keretakan, kadang nyeri tampak pada beberapa segmen distal
dari level/tingkat dimana lesi mulai timbul.
Ketika pasien diletakkan pada posisi telungkup (prone) di atas
meja pemeriksaan, perasaan tidak nyaman atau nyeri dapat diidentifikasi
ketika palpasi dilakukan secara langsung diatas defek pada tulang
belakang.
Nyeri dan kekakuan otot adalah hal yang sering dijumpai. Pada
banyak pasien, lokalisasi nyeri disekitar defek dapat sangat mudah
diketahui bila pasien diletakkan pada posisi lateral dan meletakkan kaki
mereka keatas seperti posisi fetus (fetal position). Defek dapat diketahui
pada posisi tersebut.
Fleksi tulang belakang seperti itu membuat massa otot paraspinal
lebih tipis pada posisi tersebut. Pada beberapa pasien, palpasi pada defek
tersebut kadang-kadang sulit atau tidak mungkin dilakukan.
Pemeriksaan neurologis terhadap pasien dengan spondilolistesis
biasanya negatif. Fungsi berkemih dan defekasi biasanya normal,
terkecuali pada pasien dengan sindrom cauda equina yang berhubungan
dengan lesi derajat tinggi.
c. Pemeriksaan radiologis
Foto polos vertebra lumbal merupakan modalitas pemeriksaan
awal dalam diagnosis spondilosis atau spondilolistesis. X ray pada pasien
dengan spondilolistesis harus dilakukan pada posisi tegak/berdiri.
Film posisi AP, Lateral dan oblique adalah modalitas standar dan
posisi lateral persendian lumbosacral akan melengkapkan pemeriksaan
radiologis.

Posisi lateral pada lumbosacral joints, membuat pasien berada
dalam posisi fetal, membantu dalam mengidentifikasi defek pada pars
interartikularis, karena defek lebih terbuka pada posisi tersebut
dibandingkan bila pasien berada dalam posisi berdiri.
Pada beberapa kasus tertentu studi pencitraan seperti Bone scan
atau CT scan dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis. Pasien dengan
defek pada pars interartikularis sangat mudah terlihat dengan CT scan.
Bone scan ( SPECT scan) bermanfaat dalam diagnosis awal reaksi
stress/tekanan pada defek pars interartikularis yang tidak terlihat baik
dengan foto polos.
Scan positif menunjukkan bahwa proses penyembuhan tulang telah
dimulai, akan tetapi tidak mengindikasikan bahwa penyembuhan yang
definitif akan terjadi.
CT scan dapat menggambarkan abnormalitas pada tulang dengan
baik, akan tetapi MRI sekarang lebih sering digunakan karena selain dapat
mengidentifikasi tulang juga dapat mengidentifikasi jaringan lunak
(diskus, kanal, dan anatomi serabut saraf) lebih baik dibandingkan dengan
foto polos. Xylography umumnya dilakukan pada pasien dengan
spondilolistesis derajat tinggi.
Spondilolistesis dibagi berdasarkan derajatnya berdasarkan
persentase pergeseran vertebra dibandingkan dengan vertebra di dekatnya,
yaitu:
1. Derajat I: pergeseran kurang dari 25%
2. Derajat II diantara 26-50%
3. Derajat III diantara 51-75%
4. Derajat IV diantara 76-100%
5. Derajat V, atau spondiloptosis terjadi ketika vertebra telah
terlepas dari tempatnya.
( www.emedicine.medscape.com )


Gambar 1. Pengukuran Derajat Spondilolisthesis

Gambar 2. Spondilolisthesis Grade I


Gambar 3. Spondilolisthesis Traumatik Grade IV.

VI. Pemeriksaan penunjang

Berikut adalah pemeriksaan-pemeriksaan yang menunjang
diagnosis spondilolisthesis:
a. X-ray
Pemeriksaan awal untuk spondilolistesis yaitu foto AP, lateral, dan
spot view radiograffi dari lumbal dan lumbosacral junction. Foto oblik
dapat memberikan informasi tambahan, namun tidak rutin dilakukan. Foto
lumbal dapat memberikan gambaran dan derajat spondilolistesis tetapi
tidak selalu membuktikan adanya isolated spondilolistesis.

b. SPECT
SPECT dapat membantu dalam pengobatan. Jika SPECT positif
maka lesi tersebut aktif secra metabolik.

c. Computed tomography (CT) scan
CT scan dengan potongan 1 mm, koronal ataupun sagital, dapat
memeberikan gambaran yang lebih baik dari spondilolistesis. CT scan juga
dapat membantu menegakkan penyebab spondilolistesis yang lebih serius.

d. Magnetic resonance imaging (MRI)
MRI dapat memperlihatkan adanya edema pada lesi yang akut.
MRI juga dapat menentukan adanya kompresi saraf spinal akibat stenosis
dadri kanalis sentralis.

e. EMG
EMG dapat mengidentifikasi radikulopati lainnya atau
poliradikulopati (stenosis), yang dapat timbul pada spondilolistesis.

VII. Penatalaksanaan
A. Non operative
Pengobatan untuk spondilolistesis umumnya konservative.
Pengobatan non operative diindikasikan untuk semua pasien tanpa

defisit neurologis atau defisit neurologis yang stabil. Hal ini dapat
merupakan pengurangan berat badan, stretching exercise, pemakaian
brace, pemakain obat anti inflamasi. Hal terpenting dalam manajemen
pengobatan spondilolistesis adalah motivasi pasien. (Japardi, 2002)
Terapi konservatif ditujukan untuk mengurangi gejala dan juga
termasuk:
Modifikasi aktivitas, bedrest selama eksaserbasi akut berat.
Analgetik (misalnya NSAIDs).
Latihan dan terapi penguatan dan peregangan.
Bracing
Angka keberhasilan terapi non-operatif sangat besar, terutama pada
pasien muda. Pada pasien yang lebih tua dengan pergeseran ringan (low
grade slip) yang diakibatkan oleh degenerasi diskus, traksi dapat
digunakan dengan beberapa tingkat keberhasilan.

B. Operative
Pasien dengan defisit neurologis atau pain yang mengganggu
aktifitas, yang gagal dengan non operative manajemen diindikasikan
untuk operasi.
Bila radiologis tidak stabil atau terjadi progresivitas slip dengan
serial x-ray disarankan untuk operasi stabilisasi. Jika progresivitas slip
menjadi lebih 50% atau jika slip 50% pada waktu diagnosis, ini indikasi
untuk fusi. Pada high grade spondilolistesis walaupun tanpa gejala fusi
harus dilakukan. Dekompresi tanpa fusi adalah logis pada pasien
dengan simptom oleh karena neural kompresi. Bila manajemen
operative dilakukan pada adolescent, dewasa muda maka fusi harus
dilakukan karena akan terjadi peningkatan slip yang bermakna bila

dilakukan operasi tanpa fusi. Jadi indikasi fusi antara lain: usia muda,
progresivitas slip lebih besar 25%, pekerja yang sangat aktif, pergeseran
3mm pada fleksi/ekstensi lateral x-ray. Fusi tidak dilakukan bila multi
level disease, motivasi rendah, aktivitas rendah, osteoporosis, habitual
tobacco abuse. Pada habitual tobacco abuse angka kesuksesan fusi
menurun. Brown dkk mencatat pseudoarthrosis (surgical non union)
rate 40% pada perokok dan 8% pada tidak perokok. Fusi insitu dapat
dilakukan dengan beberapa approach:
1. anterior approach
2. posterior approach (yang paling sering dilakukan)
3. posterior lateral approach
(Japardi, 2002)

VIII. Komplikasi
Progresifitas dari pergeseran dengan peningkatan tekanan ataupun
penarikan (traction) pada saraf spinal, bisa menyebabkan komplikasi. Pada
pasien yang membutuhkan penanganan dengan pembedahan untuk
menstabilkan spondilolistesis, dapat terjadi komplikasi seperti nerve root
injury (<1%), kebocoran cairan serebrospinal (2%-10%), kegagalan
melakukan fusi (5%-25%), infeksi dan perdarahan dari prosedur
pembedahan (1%-5%). Pada pasien yang perokok, kemungkinan untuk
terjadinya kegagalan pada saat melakukan fusi ialah (>50%). Pasien yang
berusia lebih muda memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita
spondilolistesis isthmic atau congenital yang lebih progresif. Radiografi
serial dengan posisi lateral harus dilakukan setiap 6 bulan untuk
mengetahui perkembangan pasien ini.

(Japardi, 2002)

IX. Prognosis
Pasien dengan fraktur akut dan pergeseran tulang yang minimal
kemungkinan akan kembali normal apabila fraktur tersebut membaik.
Pasien dengan perubahan vertebra yang progresif dan degenerative

kemungkinan akan mengalami gejala yang sifatnya intermiten. Resiko
untuk terjadinya spondilolistesis degenerative meningkat seiring dengan
bertambahnya usia, dan pergeseran vertebra yang progresif terjadi pada
30% pasien. Bila pergeseran vertebra semakin progresif, foramen neural
akan semakin dekat dan menyebabkan penekanan pada saraf (nerve
compression) atau sciatica hal ini akan membutuhkan pembedahan
dekompresi.

(Japardi, 2002)

























DAFTAR PUSTAKA

Vookshor A. 2007. Spondilolisthesis, spondilosis and spondylisis.
www.eMedicine.com diakses pada 18 Desember 2013.

http://www.spondylolisthesis.org diakses pada 18 Desember 2013

Syaanin, Syaiful. 2008. Neurosurgery of Spondylolisthesis. Padang: RSUP. Dr. M.
Djamil/FK-UNAND Padang.

Irani,Z. Spondylolisthesis Imaging http://emedicine.medscape.com/article/396016-
overview#showall diakses pada 18 Desember 2013

Japardi, I. 2002. Spondilolistesis. Dalam USU digital Library. Fakultas
Kedokteran, Bagian Bedah, Universitas Sumatera Utara

Anda mungkin juga menyukai