Anda di halaman 1dari 6

HUKUM ADAT

Hukum Adat

Pengertian Adat, Kebiasaan.
Kebiasaan : Tingkah laku (baik, buruk) yang dilakukan secara berulang-ulang
Adat : Tingkah laku yang baik
Hukum : Pedoman tingkah laku

Syarat-syarat dari hukum adat :
1. Berulang-ulang
2. Adanya sanksi apabila ada pelanggaran
3. Yakin, harus melaksanakan (sifatnya memaksa)

Pada abad ke 19 Hukum Adat sama dengan Hukum Agama, mengapa ? karena Adatrecht
dipengaruhi oleh sebuah teori yang dikemukakan oleh Van Den Berg dan Salmon Keyzer dengan
terori : Receptio In Complexu. Menurut teori ini maka Adat Istiadat dan Hukum sesuatu
golongan (hukum) masyarakat adalah resepsi seluruhnya dari agama yang dianut oleh golongan
masyarakat itu. Lebih jelasnya adalah Hukum Adat sesuatu golongan masyarakat adalah hasil
penerimaan bulat-bulat dari hukum agama yang dianut oleh golongan masyarakat itu.

Dibantah oleh De Atjeher dan Snouck Hurgronje yang menyatakan bahwa tidak semua hukum
agama itu diterima oleh hukum adat tetapi hanya bagian-bagian kehidupan manusia yang ada
kaiatannya dengan hidup batin manusia dan kepercayaan yakni hukum perkawinan dan hukum
waris.

Ter Haar membantah sebagian pendapat Snouck Hurgronje itu. Menurut Ter Haar hukum waris
tidak dipengaruhi oleh Islam, melainkan adalah tetap asli. Di Minangkabau hukum waris adalah
tetap asli yaitu suatu himpunan norma-norma yang cocok dengan susunan dan struktur
masyarakat dan alam Minangkabau.

Van Vollenhoven memberi ketegasan dan keterangan atas hal yang amat penting dan
menggoncangkan ini. Diterangkannya bahwa hal tersebut harus ditelaah dengan jalan meninjau
sejarah, yaitu harus ditinjau kembali sampai pada waktu Islam sebagai agama yang sedang
berkembang di Tanah Arab.

Hukum adat itu mempunyai unsur-unsur yaitu :
1. Unsur Asli dan
2. Unsur Keagamaan, walaupun pengaruh agama itu tidak begitu besar dan hanya dibeberapa
daerah saja.

Menurut Van Vollen Hoven, hukum adat yaitu :
1. Aturan tingkah laku yang positif
2. Di satu sisi ada sanksi
3. Dalam keadaan tidak dikodifikasikan, tidak disusun secara sistematis.

Menurut Van Vollenhoven, hukum adat ada 4 unsur antara lain :
1. Unsur Budaya (unsur asli)
2. Unsur Agama
3. Yang Tercatat
4. Bagian Asing (Unsur Asing)
Van Vollenhoven juga membagi lingkungan hukum adat sebanyak 19 lingkungan hukum adat
berdasarkan perbedaan dan kebiasaan.

Ter Haar
Ada 2 rumusan yang dikemukakan :
1. Hukum Adat (1930 teori keputusan)
Lahir dan dipelihara oleh keputusan-keputusan para para masyarakat hukum terutama keputusan
yang berwibawa dari kepala-kepala rakyat yang membantu pelaksanaan perbuatan
hukum/keputusan petugas hukum (Hakim) baik itu keputusan karena perselisihan, kesewenang-
wenangan atau masalah adat lainnya.

2. Hukum Adat (1937)
Hanya dapat diketahui dalam bentuk keputusan para fungsionaris hukum yang mempunyai
wibawa. Dalam hal ini bukan saja Hakim tetapi juga kepala adat, rapat desa, wali tanah, petugas-
petugas agama dan petugas desa lainnya. Keputusan tersebut bukan saja mengenai sengketa yang
resmi tetapi juga di luar itu yang berdasarkan kerukunan atau musyawarah.
(hal ini sesuai dengan teori ajaran keputusan oleh Beslissingenlor yaitu keputusan yang diambil
berdasarkan nilai-nilai hidup yang sesuai dengan nilai-nilai rohani dan hidup kemasyarakatan
anggota-anggota persekutuan hukum tersebut.

Soepomo
Istilah Hukum Adat :
- Sinonim dari hukum yang tidak tertulis didalam peraturan legislatif.
- Hukum yang hidup sebagai konvensi badan-badan hukum negara (parlemen dewan-dewan
propinsi dan lain-lain)
- Hukum yang timbul karena peraturan kebiasaan
- Hukum yang hidup sebagai peraturan kebiasaan yang dipertahankan di dalam pergaulan hidup
baik di kota maupun di desa (customary law)

Yang dimaksud dengan Konvensi adalah hukum tidak tertulis dan berlaku dimasyarakat
- Kebiasaan yang dilakukan secara berlangsung
- Aturan itu tidak bertentangan dengan UUD
- Sebagai pelengkap dari aturan dasar yang tertulis
- Aturan tersebut diterima oleh rakyat dan tidak bertentagan dengan kehendak rakyat.
- Hukum adat merupakan hukum yang tidak tertulis dan mengabarkan hukum adat yang tertulis
karena memang bagian yang tertulis sedikit sekali
(pernyataan Soepomo sama dengan Ter Haar)

Kusumadi Prodjosewojo
Hukum adat adalah keseluruhan aturan tingkah laku yang adat sekaligus hukum atau
keseluruhan hukum yang tidak tertulis. Dasar yang dipakai adalah pasal 32 s/d. 43 ayat 4 UUDS
1950.

Kesimpulannya :
Hukum adat adalah hukum yang mengatur tingkah laku manusia Indonesia dalam hubungannya
satu sama lain, baik yang merupakan keseluruhan kelaziman, kebiasaan dan kesusilaan yang
benar hidup di masyarakat adat, karena dianut dan dipertahankan oleh anggota masyarakat
maupun yang merupakan keseluruhan peraturan dan mengenal sanksi atas pelanggaran dan
ditetapkan dalam keputusan-keputusan para penguasa adat.

Sanksi-sanksi dalam hukum adat berupa :
- Keputusan penguasa adat atau hakim
- Celaan
- Tidak diajak bicara
- Tidak diberi tempat dalam upacara desa. Semua sikap masyarakat terhadap yang bersangkutan
merupakan hukuman/pidana atau sanksi sosial atas perbuatan tindak sosial menurut aturan
hukum adat.
Dari pidato pengukuhan sebagai Guru Besar dari F. D. Holleman menyimpulkan adanya 4 sifat
umum hukum adat Indonesia yang hal ini dipandang sebagai satu kesatuan yakni :
1. Bersifat Religius Magis
2. Sifat Comun/Komun Kebersamaan
3. Sifat Kontan/Tunai
4. Sifat Kongkrit

Ad.1. Menurut Kuncoroningrat sifat Religi Magis ini terlihat dalam masyarakat Indonesia bahwa
setiap perbuatan atau tingkah lakunya selalu dikaitkan dengan kepercayaan/hal-hal yang ghaib
guna memperoleh keselamatan hidup.

Ad.2. Dalam masyarakat Indonesia kepentingan umum selalu di dahulukan daripada kepentingan
pribadi. Ciri khas masyarakat yang terpencil hidup selalu tergantung pada alam atau tanah pada
umumnya. Jadi dalam hal ini Individualisme orang terdekat kebelakang.

Ad.3. Kontan/Tunai

Ad.4. Sifat kongkrit (segala sesuatu yang dilakukan secara nyata)
Di dalam alam tertentu senantiasa di coba dan di usahakan supaya hal-hal dimaksudkan,
diinginkan, dikehendaki atau akan dikerjakan dan ditransformasikan akan diberi ujud suatu
benda, diberi tanda yang kelihatan baik langsung atau hanya menyerupai objek yang dikehendaki
(simbol, benda magis dll)
Contoh :
Panjer : Untuk melakukan jual beli atau memindahkan hak atas tanah
Peningset : Dalam pertunangan atau akan melakukan perkawinan
Balas Dendam : Dengan cara membuat patung laku.

Sifat Hukum Adat lainnya adalah :
- Tidak tertulis / tidak dikodifikasikan
- Tradisional
- Dapat berubah
- Terbuka dan sederhana
- Sifat terang

Nilai Universal hukum adat :
a. Asas gotong royong/kebersamaan
b. Fungsi sosial manusia
c. Asas persetujuan sebagai dasar kekuasaan
d. Asas perwakilan dan masyarakat

Sumber Hukum Adat :
- Kebiasaan/adat istiadat
- Kebudayaan tradisional rakyat
Landasan berlakunya Hukum Adat
- Yuridis
masa penjajahan
landasannya :
Pasal 75 RR : Jika kepentingan sosial menghendaki maka mereka dapat menentukan hukum
yang berlaku.

Pasal 134 IS ayat 2 : Apabila timbul perkara antara orang Muslim dan adat maka
penyelesaiannya perkara tersebut diselenggarakan oleh Hakim agama kecuali Ordonansi
menentukan lain
Pasal 131 IS : Jika kepentingan umum menghendaki maka bagi mereka dapat diberlakukan
hukum yang baru (sintesa antara hukum adat dan hukum eropa)

setelah kemerdekaan
- UUD 1945 (UU No. 5 tahun 1960)
- UUDS (UU No. 1 tahun 1974)
- UUD RIS (UU No. 5 tahun 1979 dan UU No, 14 Tahun 1970)

Penggolongan Rakyat
- Suatu perbedaan rakyat kedalam berbagai golongan dengan konsekuensi bahwa hukum yang
berlaku bagi setiap golongan akan berbeda.

Tujuannya adalah untuk menentukan hak apa yang berlaku bagi setiap golongan.
Mengapa ada penggolongan adat ?
Hal ini ada kaitannya dengan penilaian pemerintah Belanda terhadap golongan selain Eropa
bahwa golongan Eropa lebih tinggi kedudukannya dibanding golongan lain.

Manfaat Penggolongan Rakyat
1. Bagi pemerintah Belanda untuk tetap berkuasa di Hindia Belanda karena rakyat tetap
terpecah-pecah sehingga mudah untuk dikuasai.
2. Bagi Pemerintah Indonesia secara langsung tidak ada manfaatnya untuk mengetahui bahwa
sampai sekarang masih ada hukum warisan penjajah.

Kerugiannya
Rakyat menjadi terpecah-pecah sehingga hal tersebut menghambat proses persatuan dan
kesatuan bangsa.

Instruksi Presidium Kabinet Ampera No. 31/V/IN/12/1966 tanggal 27 September 1966
menghapus Penggolongan Rakyat berdasarkan pasal 163 IS dan berlaku WNI dan WNA.

Yang disebut dengan Masyarakat adalah:
- Manusia yang hidup berkelompok
- Mempunyai perilaku-perilaku tertentu yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri

Masyarakat Hukum
- Ada kelompok manusia
- Merupakan pergaulan hidup
- Ada harta benda
- Ada norma yang dibuat dan ditentukkan oleh kelompoknya sendiri.





Masyarakat Hukum Adat
- Sama dengan ciri masyarakat hukum
- Kelompok tersebut timbul dengan sendirinya atau ada karena kodrat alam
- Anggota dari masyarakat hukum adat tidak mempunyai keinginan untuk membubarkan
kelompoknya.
- Ada rasa kesatuan diantara anggota sehingga rasa solidaritasnya tinggi
a. Merasa dari satu leluhur
b. Merasa dari satu daerah
c. Pecaya pada benda yang religius magis

Ketunggalan Silsilah
- Hanya dilalah dari satu orang leluhur yaitu pemuka yang menjadi peletak dasar garis keturunan
yang dihormati, dipuja dan punya kelebihan.
- Dilalah dari seorang terkemuka tanpa pembatasan generasi
- Dilalah melalui rantai keturunan istimewa yang menuju pada satu orang leluhur.
- Bisa juga melalui garis yang tidak berketentuan

Kewangsaan : dipangkalkan pada satu orang leluhur (mulia, hina) dalam rangka satu generasi
karena dapat bercabang dan dipangkalkan.
Persekutuan Hukum
Adalah suatu persekutuan hidup yang teratur, kekal.
- Mempunyai aturan-aturan hukum
- Mempunyai kekayaan material dan immaterial
- Mempunyai kesatuan penguasa
- Kesatuan lingkungan hidup berdasarkan hak bersama atas tanah, air, hutan dan bangunan dan
benda-benda keramat.
Misalnya :
Famili : di Minangkabau diketuai oleh Penghulu Andika terdiri dari beberapa bagian disebut
rumah/jurai mamak.
Desa : di Jawa terdiri dari satu golongan manusia yang mempunyai pengurus, wilayah dan harta
benda. Keluar bertindak sebagai satu kesatuan jadi tidak mungkin desa dibubarkan.

Persekutuan Hukum dibagi menjadi 3 yaitu :
- Genealogi
Keturunan Ayah (Patrilineal) Batak, Nias, Sumba
Keturunan Ibu (Matrilineal) Minangkabau
Keturunan ayah+ibu (Parental Jawa, Sunda, Aceh, Bali, Kalimantan

- Teritorial (hubungan daerah)
Syarat-syaratnya :
Harus tinggal dilingkungan daerah tersebut. Bisa keluar lingkungan untuk sementara waktu tanpa
harus kehilangan keanggotannya.

Dibagi dalam 3 jenis :
1. Persekutuan Desa
yaitu segolongan orang terikat pada suatu kediaman dan pejabat tinggal di Pusat
2. Persekutuan Daerah
Yaitu dalam satu daerah terletak
3. Perikatan Beberapa Desa
Yaitu apabila beberapa badan persekutuan kampung terletak bedekatan satu sama lain,
mengadakan pemufakatan untuk memelihara kepentingan bersama.
- mengadakan perairan bersama
- mengurus perkara/mengadakan perikatan

Organisasi Desa
1. Ketunggalan wilayah yang organisasinya didasarkan atas tradisi yang hidup dalam suasana
desa
2. Mempunyai badan tata urusan pusat yang berwibawa di lingkungan wilayahnya.

Fungsi Desa
a. Sebagai subjek dari hak rakyat
b. Merupakan masyarakat hukum yang paling utama

Paguyuban Hidup
Adalah suatu kebulatan kemasyarakat yang masing-masing anggota merasa kerasan omah
karena merasa mendapat jaminan untuk dapat memenuhi segala ketentuan/hasrat dan kebutuhan
yang wajar akan dipenuhi menurut keyakinan yang ada.

- Genealogi Teritorial
Gabungan antara Genealogi dan Terotirial