Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN SKILL LAB KONSERVASI GIGI

A. IDENTITAS PASIEN
Nama Penderita : Ny. Ratna
Pekerjaan : Pedagang
Alamat : Jalan Pandjajaran I/RT 04 No 208 Jember
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 62 tahun
Nama Operator : Meidi Kurnia Ariani

8 7 6 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 6 7 8
8 7 6 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 6 7 8

B. HASIL PEMERIKSAAN SUBYEKTIF (ANAMNESA)
Pasien bernama Ny. Ratna (62 tahun) datang ke RSGM Universitas
Jember dengan mengeluhkan gigi belakang kanan berlubang dan terasa sakit pada
saat makan makanan panas dan minum dingin sejak 1 tahun yang lalu. Pasien juga
mengeluhkan rasa sakit yang tiba-tiba 2 minggu yang lalu. Sebelumnya, pasien
pernah melakukan perawatan tumpatan pada gigi depan. Kondisi gigi pasien pada
saat datang tidak mengeluhkan adanya rasa sakit. Pasien datang ke RSGM
Universitas Jember ingin merawat giginya yang berlubang.
Kondisi umum pasien (riwayat medis) dapat dikatakan baik karena pasien
datang ke RSGM Universitas Jember dengan keadaan sehat, tidak memiliki
kelainan sistemik dan tidak memiliki alergi terhadap obat, bahan dan makanan.
Dari gejala subyektif (sebelum diperiksa) yang diungkapkan pasien
didapatkan hasil bahwa pasien pernah merasa sakit yang tajam dan linu pada saat
makan makanan panas dan minum dingin yang berlangsung selama 5 detik
kemudian menghilang. Pasien juga pernah merasa sakit pada saat mengunyah atau
terkena tekanan pada gigi yang rasa sakitnya hanya setempat. Selain itu, pasien
juga pernah merasa sakit spontan pada saat tidak melakukan aktivitas.

C. HASIL PEMERIKSAAN OBYEKTIF
a) Pemeriksaan ekstra oral
Pemeriksaan ekstra oral dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya
adalah dengan cara inspeksi dan palpasi. Inspeksi adalah suatu
pemeriksaan dengan cara melihat menggunakan indra pengelihatan untuk
memperhatikan keadaan tubuh pasien secara umum dan mengamati
kemungkinan adanya kelainan pada pasien. Sedangkan palpasi adalah
suatu pemeriksaan yang dilakukan dengan indra peraba untuk merasakan
kontur dari jaringan atau organ tubuh yang diperiksa dan merasakan
adanya pembesaran atau kelainan yang kemungkinan dapat terjadi
Pembengkakan kelenjar submandibula (+)
Pada saat dilakukan palpasi kelenjar submandibula, terdapat
adanya pembengkakan dan teraba pada kelenjar submandibula
sebelah kanan dan tidak terasa sakit. Pembengkakan ini letaknya
sama dengan gigi yang dikeluhkan pasien.
Pembengkakan submental (-)
b) Pembengkakan intra oral (-)
c) Fistula (-)
d) Gigi karies
Profunda (+)
Sebelum dilakukan pemeriksaan, dilakukan pembersihan kavitas terlebih
dahulu dengan menggunakan ekskavator dan three way syringe. Setelah
bersih kemudian dilakukan pengukuran kedalam karies dengan
menggunakan probe. Probe masuk dengan kedalaman 4,5mm. Pada gigi
44 terlihat mahkota pada bagian mesial dan distal sudah hilang. Kondisi
pada gigi 44 mengalami karies profunda yaitu karies yang sudah mengenai
lebih dari setengah dentin dan kadang-kadang sudah mengenai pulpa.
e) Tekanan sakit (-)
Tes tekanan dilakukan dengan menggunakan handle dari kaca mulut yang
ditekan pada gigi searah sumbu vertical gigi. Tes tekanan dilakukan pada
gigi tetangga terlebih dahulu yaitu gigi 43 kemudian gigi 44 dan gigi 45.
Pada saat dilakukan tes tekanan pada gigi 44 pasien tidak memberikan
respon sakit. Hal ini menunjukkan bahwa tidak adanya keradangan pada
jaringan periodontal.
f) Perkusi sakit (-)
Tes perkusi dilakukan dengan cara mengetukkan handle dari kaca mulut
yang dipegang paralel atau tegak lurus terhadap mahkota pada permukaan
insisal atau oklusal mahkota. Untuk memperoleh perbandingan, dapat
dilakukan tes perkusi pada gigi senama. Pada saat dilakukan tes perkusi
pada gigi 44 pasien tidak memberikan respon sakit. Hal ini menunjukkan
bahwa tidak adanya inflamasi pada jaringan periodontal.
g) Palpasi sakit (-)
Tes palpasi dilakukan untuk menentukan seberapa jauh proses inflamasi
telah meluas dengan cara meraba mukosa dan gingiva dengan
menggunakan ujung jari. Tes palpasi ini hendaknya memakai juga paling
sedikit satu gigi pembanding. Pada saat dilakukan tes palpasi, pasien tidak
mengeluhkan rasa sakit dan tidak ditemukan adanya fluktuasi dan
perubahan konsistensi.
h) Gigi berubah warna (-)
Pada gigi 44 tidak terjadi perubahan warna karena gigi tersebut belum
mengalami nekrosis.
i) Kegoyangan gigi (-)
Kegoyangan gigi menandakan adanya kerusakan pada struktur jaringan
penyangga gigi yaitu sementum dan ligamentum periodontal serta tulang
alveolar. Pada gigi 44 tidak terjadi kegoyangan yang menandakan tidak
adanya kerusakan pada jaringan penyangganya.
j) Gingiva sekitar gigi
Hiperemis dan retraksi (+)
Terlihat hiperemia gingiva disekitar gigi 44 serta kontur dari
margin gingiva membulat dan agak mengkilat. Hal ini
menunjukkan adanya keradangan yang disebabkan karena plak
ataupun kalkulus.
Terlihat adanya retraksi gingiva atau penurunan letak margin
gingiva dari Cemento Enamel Junction (CEJ) sebesar 1-2 mm. Hal
ini dapat menyebabkan gigi menjadi sensitif bila terkena
rangsangan.

Tes Vitalitas
Test vitalitas gigi hanya dapat memberikan informasi bahwa masih
ada jaringan syaraf yg mengantar impuls sensori. Tes vitalitas yang
dilakukan pada gigi yang belum mengalami perforasi adalah tes thermal
yang meliputi aplikasi dingin dengan panas pada gigi yang berfungsi untuk
menetukan sensitivitas terhadap perubahan termal. Sebelum dilakukan tes
thermal, gigi dikeringkan terlebih dahulu dengan menggunakan cotton
palate ataupun three way syringe.
Tes dingin
Langkah awal yang dilakukan adalah tes dingin. Tes dingin
dilakukan dengan menggunakan chlor ethyl yang disemprotkan pada
cotton palate hingga terbentuk bunga es yang kemudian diaplikasikan pada
kavitas gigi 44. Ketika cotton palate dimasukkan ke dalam kavitas gigi 44,
pasien memberikan respon rasa sakit yang menandakan bahwa tes termal
dingin (+) dan hilang pada saat cotton palate dikeluarkan dari dalam
kavitas.
Tes panas
Setelah tes dingin dilakukan, langkah selanjutnya adalah tes panas. Tes
panas dilakukan dengan menggunakan guttap percha yang dilewatkan di atas
api bunsen yang kemudian guttap percha tersebut diaplikasikan pada sepertiga
cervical gigi 44. Ketika guttap percha ditempelkan, pasien memberikan respon
rasa sakit yang menandakan bahwa tes termal panas (+) dan hilang pada saat
guttap percha dilepaskan.
Hasil dari tes thermal yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa gigi
44 masih dalam keadaan vital karena pasien memberikan respon saat
dilakukan tes thermal dingin dan panas yang menunjukkan masih adanya
syaraf yg mengantar impuls sensori. Dalam kasus ini tidak perlu dilakukan tes
jarum miller dan tes kavitas karena gigi masih dalam keadaan vital. Tes jarum
miller dan tes kavitas dilakukan apabila karies telah mencapai pulpa atau
perforasi.

D. GAMBARAN RADIOGRAFIK
Pemeriksaan radiografik dilakukan setelah pemeriksaan subyektif dan
pemeriksaan obyektif dilakukan. Gambaran radiografik sangat membantu
dokter gigi dalam menegakkan diagnosa, rencana perawatan, dan panjang
kerja yang akan dilakukan. Teknik radiografik yang dilakukan adalah teknik
periapikal. Pada kasus ini, gigi 44 belum mengalami perforasi sehingga tujuan
dari pemeriksaan radiografik adalah untuk menentukan rencana perawatan
yang akan dilakukan pada gigi 44. Pada rontgen foto gigi 44 didapatkan:
Ruang pulpa/saluran akar
Atropi (+)
Atropi pada ruang pulpa/saluran akar berhubungan dengan usia
pasien. Usia mengakibatkan perubahan penting pada pulpa.
Deposisi terus-menerus jaringan dentin selama kehidupan pulpa
dan dentin reparatif terhadap stimuli mengurangi ukuran kamar
pulpa dan saluran akar dan disamping itu mengurangi volume
pulpa.
Akar
Bengkok (+)
Pada pemeriksaan radiografik didapatkan akar pada gigi 44
bengkok.
Lamina dura
Normal (+)
Gambaran radiografik lamina dura adalah garis radiopak tipis yang
yang mengelilingi akar gigi, menyambung dengan tulang korteks
pada puncak alveolar (alveolar crest). Pada gambaran radiografik
didapatkan lamina dura nomal.
Daerah periapikal
Radiolusen, berbatas jelas (+)
Pada gambaran radiografik didapatkan berupa lesi bulat berbatas
jelas di regio apikal gigi dan gambaran radiolusen melekat pada
bagian apikal gigi. Gambaran ini menunjukkan adanya kista
radikuler.

Dari gambaran radiografik yang didapatkan terlihat pada jaringan
periodontal adanya resorpsi dari puncak tulang alveolar. Resorpsi dari puncak
tulang alveolar tidak lebih dari panjang dari akar dan tidak ada lamina dura
yang terputus. Berdasarkan keadaan tersebut, gigi 44 dapat diindikasikan untuk
dilakukan perawatan. Pada gambaran radiografik didapatkan juga adanya kista
radikuler dengan diameternya masih kecil yang dapat ditangani dengan bahan-
bahan sterilisasi.

E. DIAGNOSA KLINIK
Dari pemeriksaan yang telah dilakukan, diagnosa dari kasus ini adalah
nekrosis pulpa totalis karena terdapat kista radikuler pada apikal gigi 44 . Apabila
terdapat kelainan periapikal pada gigi yang berakar tunggal, dapat dikatakan
nekrosis pulpa totalis. Pada gambaran radiografik terlihat adanya kavitas yang
telah mecapai atap pulpa.

F. RENCANA PERAWATAN
Rencana perawatan pada gigi 44 dengan diagnosa nekrosis pulpa adalah
endo intrakanal dengan teknik pengisian step back. Endo intrakanal adalah
pengangkatan seluruh jaringan pulpa yang sudah mati seluruhnya. Endo intrakanal
merupakan perawatan untuk jaringan pulpa yang telah mengalami kerusakan yang
bersifat irreversibel atau untuk gigi dengan kerusakan jaringan keras yang luas.
Teknik pengisisan step back adalah teknik preparasi saluran akar yang dilakukan
pada saluran akar yang bengkok dan sempit pada 1/3 apikal.
Pada apikal gigi terdapat kista radikuler yang dapat dilakukan perawatan
karena diameter dari kista radikuler masih kecil dan belum melebihi 1/3 apikal.
Perawatan pada kista radikuler ini dapat dilakukan dengan menggunakan obat
sterilisasi seperti eugenol dan CaOH.
Restorasi yang digunakan adalah restorasi tetap ridgemond karena kondisi
gigi pada kasus memiliki saluran akar yang sempit,kecil dan mahkota dari gigi 44
kecil.

G. PROGNOSIS
Prognosis pada kasus ini dapat dikatakan baik karena pasien tidak
memiliki kelainan sistemik dan tidak alergi alergi terhadap obat, bahan dan
makanan. Selain itu, kondisi umum dari pasien baik. Kondisi dari rongga mulut
juga mendukung untuk dilakukan perawatan. Namun, terdapat penyulit pada
kondisi gigi dengan saluran akar yang sempit dan bengkok.





LAPORAN SKILL LAB KONSERVASI GIGI





BLOK ORAL DIAGNOSA DAN RENCANA PERAWATAN
Dosen Pembimbing : drg. Sri Lestari, M.Kes


oleh :
Meidi Kurnia Ariani (121610101068)


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
2014