Anda di halaman 1dari 28

1

PRESENTASI KASUS Appendisitis Kronis


KEPANITERAAN KLINIK
Ilmu Bedah Rumah Sakit Husada
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara


Topik : Appendisitis Kronis
Dokter Pembimbing : dr. Med. Lie. A. Dharmawan, Sp.B.Sp.BTKV
Nama Mahasiswa : Ridwan Setiawan
NIM : 406081025


I. IDENTITAS
IDENTITAS PASIEN
Nama : An. C. E
Umur : 8 tahun.
Jenis kelamin : Perempuan.
Alamat : Diketahui.
Agama : Islam.
Status : Belum Kawin.
Pendidikan : Belum tamat SD
Tanggal masuk RS Husada : 4 Mei 2010, pukul 06.
30


II. ANAMNESIS
Diambil dari: Autoanamnesa pada tanggal 4 Mei 2010 pukul 11.
00
WIB.
Keluhan Utama:
Nyeri perut kanan bawah yang hilang timbul sejak 1 tahun sebelum masuk RS Husada.

Keluhan Tambahan:
Mencret 1 hari SMRS






2

Riwayat Penyakit Sekarang:
Sejak 1 tahun sebelum masuk Rumah Sakit Husada pasien merasakan nyeri pada perut
kanan bawah yang timbul kadang-kadang. Nyeri yang dirasakan seperti ditusuk-tusuk,
berlangsung hilang timbul. Nyeri tidak menjalar ke pinggang kanan. Pasien tidak mengalami
demam, tidak mual, tidak muntah, tidak ada penurunan nafsu makan. 1 hari yang lalu nyeri
perut kanan bawah tersebut kambuh lagi lalu ibu pasien membawa ke Poliklinik Rumah
Sakit Husada dan disarankan untuk dioperasi. 1 hari sebelum masuk Rumah Sakit Husada
pasien mengalami mencret 1x. Pasien belum mengalami siklus menstruasi.
Pasien sudah pernah berobat sebelumnya namun tidak disarankan untuk operasi.

Riwayat BAK : Lancar, warna kuning jernih, tidak nyeri, tidak ada darah.
Riwayat BAB : Lancar, warna kuning kecoklatan, tidak nyeri dan tidak ada darah.
Riwayat makan : Porsi cukup, 3x sehari.


Riwayat Penyakit Dahulu:
Riwayat sakit maag, asma, alergi, penyakit paru-paru, dan penyakit jantung
disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga:
Riwayat asma, alergi penyakit paru-paru, dan jantung disangkal.
III. PEMERIKSAAN FISIK ( 4 Mei 2010 , 10.
30
)
A. STATUS GENERALIS

1. Keadaan Umum
Os tampak sakit sedang.
2. Kesadaran
Compos mentis; GCS : E = 4, M = 6, V = 5 (15)
3. Tanda-tanda Vital
Tekanan darah : -
Nadi : 100 x/mnt, reguler, isi cukup.
Suhu : 36,5
0
C.
Pernapasan : 20 x/mnt, reguler, torakoabdominal.
Berat badan : 24 kg
4. Aspek Kejiwaan
Tingkah laku wajar.
3

5. Kulit
Warna kulit kuning kecoklatan, Pertumbuhan rambut merata, Suhu raba normal,
Turgor baik, Ikterus tidak ada.
6. Kelenjar Getah Bening
Submandibula, supraklavikula, lipat paha, leher, dan ketiak tidak membesar.
7. Kepala
Bentuk normal, normocephal, simetris, rambut berwarna hitam terdistribusi merata
dan tak mudah dicabut, tak teraba benjolan.
8. Mata
Bentuk normal, simetris, Pelpebra Superior dan Inferior tidak udem, mata tidak
exophtalmus dan enophtalmus, Kelopak tidak ptosis, Konjungtiva tidak anemis, Sklera
tidak ikterik, Kornea jernih, Pupil bulat isokor, diameter 3 mm, Refleks Cahaya +/+,
lapangan penglihatan normal, Deviatio konjugae tidak ada, Visus tidak diperiksa,
Gerakan mata normal ke segala arah.
9. Hidung
Bentuk normal, tidak ada deviasi septum nasi, sekret -/-.
10. Telinga
Bentuk normal, CAE lapang, Tuli -/-, Serumen -/-, Sekret -/-, membran timpani utuh.
11. Mulut
Bentuk normal, Perioral sianosis (-), bibir tidak kering, Gigi-geligi utuh, Lidah tidak
kotor, Faring tidak hiperemis, Tonsil T1-T1 tenang.
12. Leher
Bentuk normal, trakea di tengah, Kelenjar Tiroid dan Kelenjar Limfe tidak membesar.
13. Thorax
Paru-paru

(I) Bentuk normal, tampak simetris dalam statis dan dinamis, retraksi
suprasternal (-).
(Pa) Stem fremitus kanan kiri sama kuat.
(Pe) Sonor pada kedua lapang paru.
(A) Suara nafas vesikuler, ronchi -/-, wheezing -/-.
Jantung
Inspeksi : Tidak tampak pulsasi ictus cordis.
Palpasi : Teraba pulsasi ictus cordis di ICS V MidClavicular Line Sinistra.
4

Perkusi : Redup ; Batas atas : ICS II parasternal line sinistra.
Batas kanan : ICS IV midsternal line
Batas kiri : ICS V midclavicular line sinistra.
Auskultasi : Bunyi Jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-).
14. Abdomen
Liihat status lokalis bedah.
15. Ekstremitas sup et inf
Bentuk normal, deformitas (-), oedema (-).
16. Genitalia Eksterna : Perempuan.
17. Colok Dubur (atas indikasi) : pasien menolak.

B. STATUS LOKALIS BEDAH
Regio Abdomen
Inspeksi : Tampak datar, turgor baik, jaringan parut (-), tidak tampak gambaran
vena dan usus, tidak tampak benjolan.
Palpasi : Defans Muskular (-), Nyeri tekan Mc Burney (+), nyeri lepas Mc Burney
(-) Rovsing sign (-), Blumberg sign (-), Psoas sign (), Obturator sign (-).
Hepar Lien tidak teraba membesar.
Perkusi : Timpani.
Auskultasi : BU (+).
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG :
Laboratorium ( 29 April 2010 )
Hematologi
Hb : 13,1 g/dl ( N = 11,0 15,0 g/dl ).
Ht : 38 vol% ( N = 37 47 vol% ).
Leukosit : 9 ribu/ul ( N = 5 10 ribu/ul ).
Trombosit : 245 ribu/ul ( N = 150 440 ribu/ul ).
Eritrosit : 5,02 juta/ul ( N = 4,20 5,40 juta/ul ).
PT : 14 kontrol 13 ( N = 12 16 ).
APTT : 39 kontrol 38 ( N = 27 42 ).
Elektrolit
Kalium : 4,5 mmol/l ( N = 3,1 5,1 mmol/l ).
5

Natrium : 145 mmol/l ( N = 136 145 mmol/l ).
Klorida : 113 mmol/l ( N = 95 105 mmol/l ).

Appendicogram ( 28 April 2010 )
Kesimpulan : - Pasase kontras lancar sampai colon.
- Appendiks tidak terisi kontras.
6

RESUME

Anamnesis:
Telah diperiksa seorang anak perempuan berusia 8 tahun bernama An. C.E dengan
keluhan kadang-kadang nyeri perut kanan bawah sejak 1 tahun sebelum masuk Rumah
Sakit Husada. Nyeri yang dirasakan pasien seperti ditusuk-tusuk, berlangsung hilang timbul.
Nyeri tidak menjalar ke pinggang kanan. Pasien tidak mengalami demam. Mual (-), muntah
(-), penurunan nafsu makan (-) . 1 hari yang lalu nyeri perut kanan bawah tersebut kambuh
lagi lalu ibu pasien membawa ke poliklinik Rumah Sakit Husada dan disarankan untuk
dioperasi. 1 hari SMRS pasien mengalami mencret 1x. Pasien belum mengalami siklus
menstruasi.
Pasien sudah pernah berobat sebelumnya namun tidak disarankan untuk operasi.
BAK dan BAB dalam batas normal.
RPD : disangkal
Pemeriksaan Fisik:

A. Status Generalis
Pasien tampak sakit sedang, kesadaran Compos Mentis, Nadi 100 x/mnt, Suhu 36,5
0

C, Pernapasan 20 x/mnt, berat badan 24 kg.
Pemeriksaan kepala, kulit, mata, hidung, telinga, mulut, leher, thorax, genitalia eksterna
dalam batas normal.
Pemeriksaan Abdomen lihat status lokalis bedah.
B. Status Lokalis Bedah Regio Abdomen
Inspeksi : Tampak datar, turgor baik, jaringan parut (-), tidak tampak gambaran
vena dan usus, tidak tampak benjolan.
Palpasi : Defans Muskular (-), Nyeri tekan Mc Burney (+), nyeri lepas Mc Burney
(-), Rovsing sign (-), Blumberg sign (-), Psoas sign (-), Obturator sign (-).
Hepar Lien tidak teraba membesar.
Perkusi : Timpani.
Auskultasi : BU (+).


7

Diagnosis kerja dan dasar diagnosis
1. Diagnosa Pra Bedah:
Susp. Appendisitis Kronis.

2. Diagnosa Banding:
Divertikulitis Meckeli.
Limfadenitis Mesenterika
Kolik Ureter kanan (Urolithiasis).
Penatalaksanaan
Operatif : Appendektomi.

Medikamentosa : IVFD RA + 1 amp Neurosanbe ( vit B1 100 mg, B6 100 mg,
B12 5000 mcg ) drip.
Antibiotik.
Antagonis H
2
Ranitidine.
Analgetik ( Post Operatif ).
Non Medikamentosa :
Mobilisasi bertahap setelah pasien sadar gerakan kaki (fleksi & ekstensi),
miring kanan & kiri bergantian, duduk, dll.
Pemberian makanan per oral dimulai dengan minum sedikit-sedikit jika sudah
ada aktivitas usus ( Flatus (+) & Bising Usus (+) ).
Jika pemberian minum pasien tidak kembung lanjut pemberian makanan per
oral dimulai dengan yang lunak.
Laporan Operasi ( 4 Mei 2010, pkl 11.
00
12.00)
1. Pasien terlentang dan dilakukan anestesi umum oleh ahli anestesi
2. Asepsis dan antiseptik daerah operasi dan sekitarnya
3. Insisi transversal sepanjang 3 cm di daerah Mc Burney menembus kutis, subkutis,
fascia, otot dipisahkan secara tumpul
4. Dilakukan Appendektomi
Caecum dicari dan keluarkan letak appendiks dicari dan didapatkan
retrocaecal (appendiks ada perlengketan, appendiks hiperemis)
mesoappendiks dipotong
Pangkal appendiks diikat 2 kali (jarak antara ke 2 ikatan tersebut cm).
8

Di bagian distal dari ikatan pada pangkal appendiks diklem dengan Kocher dan
diantara klem Kocher dan ikatan tersebut Appendiksnya dipotong dengan pisau
Sisa appendiks dicocol Betadine kemudian ditanam di dalam dinding caecum
(dorong ke dalam dengan pinset)
5. Tutup peritoneum dan otot dengan dijahit
6. Jahit otot
7. Siram dengan Betadine dan keringkan
8. Jahit jaringan lemak
9. Jahit subkutikuler
10. Tutup jahitan dengan steri strip dan kassa + plester.
Hasil Patologi Anatomi ( 7 Mei 2010 )
Makroskopik : appendiks ukuran 6 x 0,4 cm warna putih dilekati lemak pada pemotongan
padat putih kecoklatan.
Mikroskopik : appendisitis kronik

Diagnosa Pasca Bedah:
Appendisitis Kronis

Prognosis
Ad Vitam : Bonam.
Ad Fungsionam : Bonam.
Ad Sanationam : Bonam.











9

PEMBAHASAN UMUM

Pendahuluan
Appendiks disebut juga umbai cacing, istilah usus buntu yang dikenal di masyarakat
awam adalah kurang tepat karena usus buntu sebenarnya adalah caecum. Organ yang tidak
diketahui fungsinya ini sering menimbulkan masalah kesehatan.
Appendisitis adalah peradangan dari appendiks vermivormis dan merupakan
kegawatdaruratan bedah abdomen yang paling sering ditemukan. Peradangan akut
appendiks memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya
berbahaya.
Anatomi dan Fisiologi
Appendiks merupakan organ berbentuk tabung dengan panjang kurang lebih 10 cm
(3-15 cm), berpangkal di caecum dan merupakan pertemuan ketiga taenia coli. Lumennya
sempit di bagian proksimal dan melebar di bagian distal. Namun demikian, pada bayi,
appendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit ke arah ujungnya
keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden appendisitis pada usia itu. Letak
appendiks dapat bermacam-macam, yaitu: iliacal, retrocaecal intraperitoneal (65%) atau
retroperitoneal dan antecaecal, pelvical. Appendiks belum diketahui secara pasti fungsinya,
sehingga operasi pengangkatan appendiks tidak menyebabkan gangguan fungsi pencernaan.

Appendiks dipersarafi oleh persarafan
parasimpatis yang berasal dari cabang N. Vagus
yang mengikuti arteri mesenterika superior dan
arteri appendikularis dan persarafan simpatis
yang berasal dari N. Thoracalis X. Oleh karena
itu, nyeri viseral pada appendistis bermula di
sekitar umbilikus.
Perdarahan appendiks berasal dari A. Appendikularis yang merupakan arteri tanpa
kolateral sehingga jika arteri ini tersumbat (misalnya karena trombosis pada infeksi)
maka appendiks akan mengalami gangren.

10

Appendiks menghasilkan lendir sebanyak 1-2 ml per hari. Lendir ini normalnya
dicurahkan ke dalam lumen lalu mengalir ke dalam caecum. Hambatan aliran lendir di
muara appendiks tampakya berperan dalam terjadinya appendisitis.
Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymphoid
Tissue) di sepanjang saluran cerna termasuk appendiks adalah IgA, yang berfungsi sebagai
pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi
sistem imun tubuh karena jumlah jaringan limfe disini kecil sekali jika dibandingkan dengan
jumlahnya di saluran cerna dan diseluruh tubuh.
Jaringan limfoid pertama kali muncul pada appendiks sekitar 2 minggu setelah lahir.
Jumlahnya meningkat selama pubertas, dan menetap saat dewasa dan kemudian berkurang
mengikuti umur. Setelah usia 60 tahun, tidak ada jaringan limfoid lagi di appendiks dan
terjadi penghancuran lumen appendiks komplit.
Epidemiologi
Appendisitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak kurang dari 1
tahun jarang dilaporkan. Pada bayi appendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya
dan menyempit ke arah ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden
appendisitis pada usia itu.
Insiden tertinggi pada kelompok umur 20 30 tahun, setelah itu menurun. Insiden
pada lelaki dan perempuan umumnya sebanding.
Sekitar 7 % orang-orang di Negara barat mengalami appendisitis pada suatu waktu
ketika mereka hidup dan sekitar 250.000 appendiktomi pada appendisitis akut dilakukan
untuk tiap-tiap tahun di Amerika. Insidensinya telah menurun secara stabil selama kurun
waktu 25 tahun terakhir, hal ini diduga disebabkan oleh meningkatnya penggunaan
makanan berserat dalam menu sehari-hari. Namun insidensi di negara-negara berkembang
yang pada kurun waktu sebelumnya sangat sedikit angka insidensinya tapi sekarang sudah
mulai naik sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan perubahan gaya hidup manusianya.






11

Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat
dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya appendisitis. Konstipasi akan menaikan
tekanan intra caecal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional appendiks dan
meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semuanya ini akan mempermudah
timbulnya appendisitis akut.
Etiologi
Penyebab pasti belum diketahui, beberapa faktor pencetus antara lain:
Sumbatan lumen appendiks.
Hiperplasia jaringan limfe.
Fekolith.
Benda asing, misalnya cacing Askaris.
Tumor.
Erosi mukosa appendiks, misalnya oleh E. Hystolitica.
Striktur karena fibrosis akibat perdangan sebelumnya.
Kebiasaan makan makanan yang rendah serat.
Cara Penjalaran Infeksi
1. Melalui usus/Enterogenous
2. Melalui darah.
3. Dari sekitarnya
Patofisiologi

Appendicitis terjadi karena adanya sumbatan/obstruksi lumen appendiks oleh hiperplasia
kelenjar limfe, fecolith / faeces, benda asing, striktur akibat peradangan sebelumnya atau tumor
yang menyebabkan mukus yang di produksi oleh mukosa menumpuk dan mengalami
bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak namun elastisitas dinding appendiks
mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Dengan
adanya tekanan yang meningkat, drainage saluran limfe terganggu sehingga terjadi oedem
appendiks dan apabila disertai infeksi oleh kuman/bakteri akan menyebabkan ulserasi mukosa
appendiks, yang disebut Fase Acute Focal Appendicitis dengan gejala nyeri pada ulu hati yang
disertai mual dan muntah.

Bila sekresi mucus berlanjut dan tekanan intralumen terus meningkat, dapat terjadi
sumbatan vena yang mengakibatkan terjadinya oedem, trombosis dan ischemia serta bakteri
akan menembus dinding appendiks. Peradangan yang timbul akan mengenai peritoneum
setempat. Fase ini disebut fase Acute Suppurative Appendicitis dengan gejala nyeri di daerah
perut kanan bawah (titik Mc Burney).


12

Bila kemudian aliran arteri terganggu maka akan terjadi infark dinding appendiks yang
diikuti dengan gangren. Fase ini disebut appendicitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh
ini pecah maka akan terjadi appendicitis perforasi.

Bila semua proses diatas berjalan tidak terlalu cepat, maka pada saat terjadi peradangan
omentum dan usus akan bergerak ke arah appendiks dan melokalisasi peradangan dengan
membentuk infiltrat appendikularis. Peradangan appendiks tersebut dapat menjadi abses
(appendicular abcess) apabila tidak diterapi.

Perforasi pada anak-anak mudah terjadi, karena omentum lebih pendek, appendiks lebih
panjang, dindingnya lebih tipis dan daya tahan tubuh yang masih kurang maka memudahkan
terjadinya perforasi.

Sedangkan pada orang tua, perforasi mudah terjadi karena daya tahan tubuh yang
menurun, gangguan pembuluh darah/arteriosclerosis, serta perubahan anatomi
appendiks berupa penyempitan lumen.
Manifestasi Klinis
Keluhan appendisitis biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilikus atau
periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. Dalam 2 12 jam nyeri akan beralih ke
kuadran kanan bawah ke titik McBurney, yang akan menetap dan diperberat bila berjalan
atau batuk. Terdapat juga keluhan anoreksia, malaise, dan demam yang tidak terlalu tinggi.
Biasanya juga terdapat konstipasi, tetapi kadang-kadang terjadi diare, mual, dan muntah.
Pada konstipasi yang diberikan obat pencahar akan berbahaya karena bisa mempermudah
terjadinya perforasi.

Bila letak appendiks retrocaecal di luar rongga perut, karena letaknya letaknya
terlindung oleh caecum, tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada
tanda rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih ke arah perut sisi kanan atau nyeri timbul
pada saat berjalan karena kontraksi m. Psoas Mayor yang menegang dari dorsal.

Appendiks yang terletak di rongga pelvis, bila meradang, dapat menimbulkan gejala
dan tanda rangsangan sigmoid atau rektum sehingga peristaltik meningkat, pengosongan
rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang. Jika appendiks tadi menempel ke
kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kencing, karena rangsangan
dindingnya.

Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap.
Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan semakin progresif, dan
dengan pemeriksaan seksama akan dapat ditunjukkan satu titik dengan nyeri maksimal.

13

Perkusi ringan pada kuadran kanan bawah dapat membantu menentukan lokasi nyeri. Nyeri
lepas dan spasme biasanya juga muncul. Bila tanda Rovsing, Psoas, dan Obturator positif,
akan semakin menyakinkan diagnosis klinis appendisitis.

Gejala appendisitis akut pada anak tidak spesifik. Gejala awalnya sering hanya rewel
dan tidak mau makan. Anak sering tidak bisa melukiskan rasa nyerinya. Dalam beberapa jam
kemudian akan timbul muntah-muntah dan anak menjadi lemah dan letargik. Karena gejala
yang tidak khas tadi. Sering appendisitis diketahui setelah perforasi. Pada bayi, 80-90%
appendisitis baru diketahui setelah terjadi perforasi.

Pada beberapa keadaan, appendisitis agak sulit didiagnosis sehingga tidak ditangani
pada waktunya dan terjadi komplikasi. Misalnya, pada orang berusia lanjut yang gejalanya
sering samar-samar saja sehingga lebih dari separuh penderita baru dapat didiagnosis
setelah perforasi.

Pada kehamilan, keluhan utama appendisitis adalah nyeri perut, mual, dan muntah.
Yang perlu diperhatikan ialah, pada kehamilan trimester pertama sering juga terjadi mual
dan muntah. Pada kehamilan lanjut, caecum dan appendiks terdorong ke kraniolateral
sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan.
Gejala Appendisitis:
Nyeri samar-samar dan tumpul (nyeri visceral) di epigastrium yang terkadang
disertai mual, muntah dan anoreksia.
Nyeri di perut daerah kanan bawah di titik Mc Burney yang dirasakan lebih tajam
dan jelas yaitu nyeri tekan, nyeri lepas dan nyeri ketok.
Konstipasi.
Demam (biasanya subfebris, yaitu antara 37,5-38,5 C).
Lekositosis.









14

Pembagian Appendisitis:

1. Appendisitis akut tanpa perforasi (Simple Appendicitis Acuta).
2. Appendisitis akut dengan perforasi:
Lokal peritonitis.
Abses.
Pritonitis umum.
3. Appendisitis kronika.
Simple Appendicitis Acuta
Terdiri dari 2 macam : Non Obstruktif dan Obstruktif.
Simple Appendicitis Acuta Non Obstruktif:
Biasanya yang mula-mula terserang oleh bakteri adalah mukosa (Catarrhal Appendicitis)
menyebar keluar dinding appendix menjadi udem dan pembuluh darah vasodilatasi
(merah) hemoragik infarks nekrosis kecil-kecil (ganggren) ulkus kecil-kecil serosa
terkena (serosa appendiks = serosa peritoneum) memberikan reaksi untuk mengeluarkan
fibrin eksudat yang putih omentum begerak menuju appendix untuk melokalisir/radang
(LOCALIZED PERITONITIS).
Jika sembuh, jaringan appendix diganti dengan jaringan ikat sehingga dapat
menimbulkan obstruksi. Ini akan menimbulkan CHRONIC APPENDICITIS atau APPENDICITICIS
ACUTA lagi.
Gejala-gejala:
Pada awalnya mengeluh tidak enak disekitar epigastrium umbilicus dan sering disertai
dengan enek, anorexia, malaise dan muntah (VISCERAL PAIN).
Nyeri menjalar ke kanan bawah disertai rasa sakit yang jelas. Rasa sakit di kanan bawah
disebabkan karena infeksi sudah menerobos peritonium visceral, kemudian peritonium
parietale (PARIETAL PAIN = nyeri karena terkena peritonium parietale). Jika appendix
RETRO-CAECAL/PELVINAL maka gejala-gejala parietal pain terlambat.
Simple Appendicitis Acuta Obstruktif:
Terjadi jika ada obstruksi, misalnya fekalit, pembelokan atau desakan dari luar.
Obstruktif di lumen appendix tetapi appendix tetap memproduksi mucous tekanan intra
luminal meningkat vaskularisasi dinding appendix terganggu (mula-mula sistim vena
terganggu karena tekanannya lebih rendah) vena membengkak memperburuk

15

sirkulasi sistem arteri terganggu dinding mati gangren bakteri keluar
PERITONITIS.
Meso Appendix adalah bagian yang paling mudah terkena karena bagian ini paling
sedikit mendapat pendarahan.

Gejala-gejala: mendadak dan bersifak kolik (hilang timbul).

Jika infeksi ringan dapat timbul MUCOCELE.
Jika infeksi berat dapat timbul PERFORASI.
Jika infeksi sangat hebat dapat terjadi PERFORASI (FULMINATING) dan akhirnya timbul
PERITONITIS GENERALISATA. Ini disebut APPENDICITIS TIPE FULMINATING.
Appendisitis Dengan Perforasi

KALAU TERJADI PERFORASI DAPAT MENYEBABKAN:
1. Localized Peritonitis.
Kalau terlokalisir sempurnya menjadi appendicitis infiltrat. Kalau tidak terlokalisir
sempurna menjadi appendicitis abses.
1. Generalized Peritonitis.
Gejala Appendicitis Acuta dengan Peritonitis Lokal:
Terjadi perforasi tetapi tubuh masih bisa melokalisir sehingga timbul peritonitis
lokal/abses.
Gejala-gejala lebih jelas, yaitu: pasien tampak toksis/lebih sakit, nadi cepat, panas
meningkat, nafas mulai berbau, lidah kotor.
Gejala Appendicitis Acuta dengan Peritonitis Generalisata:
Pasien tampak payah, sakit berat (toksis), perforasi menjalar ke seluruh abdomen, perut
nyeri dan tegang di seluruh abdomen walaupun punctum maximum mungki di sebelah
kanan, nyeri dan febris tinggi, kedaan umum jelek. Karena fungsiolesa maka fungsi usus
terhenti (tidak berkontraksi) sehingga terjadi pembentukkan gas perut kembung
paralitik ileus muntah-muntah (regurgitasi)



16

Appendicitis Kronis
Gejala klinis:
1. Reccurent/Interval Appendicitis:
Penyakit sudah berulang ulang dan ada interval bebas.
Biasanya pada anamnesa ada appendicitis acuta kemudian sembuh, setelah
beberapa lama kumat lagi tapi lebih ringan.
Gejala utama dari kumat I dan kumat II dst adalah gejala DYSPEPSI (diare, mual-mual,
enek, tidak enak makan).
Pemeriksaan klinis: Nyeri di titik Mc Burneys tapi tidak ada defence.
2. Reccurent Appendicular Colic:
Ada obstruksi pada lumen appendixnya.
Gejala utama: kolik, tetapi tidak ada panas. Kolik disekitar umbilicus/ ke arah lateral/
epigastrium.
Pemeriksaan fisik: Nyeri tekan di Appendix
Diagnosa Appendicitis :
Berdasarkan hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik (inspeksi, palpasi, perkusi dan
auskultasi) dan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan penunjang lainnya adalah USG.
Untuk appendicitis kronis dapat dilakukan apendikogram.
Pada pemeriksaan fisik didapat:
a. Inspeksi
Perut tidak ada gambaran spesifik. Kembung sering terlihat pada penderita dengan
komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada massa atau abses
periappendikuler.

b. Palpasi
Nyeri terbatas pada regio iliaca kanan, bias disertai dengan nyeri lepas. Nyeri pada
seluruh perut ditemukan pada appendicitis perforasi. Defence muscular menunjukkan
adanya rangsangan peritoneum parietal. Nyeri tekan perut kanan bawah merupakan
kunci diagnosis.
Nyeri ketok (+), nyeri tekan (+) nyeri lepas (+) pada titik Mc Burney.

Defance Muskular (+).


17

Rovsing Sign (+) : nyeri kanan bawah pada penekanan abdomen bagian kiri karena
adanya udara dalam rongga abdomen.

Blumberg Sign (+) : nyeri kanan bawah bila tekanan sebelah kiri dilepaskan.

Psoas Sign (+) : rangsangan m.psoas dengan hiperekstensi atau fleksi aktif sendi
panggul kanan. Bila nyeri berarti appendiks terletak di daerah retrocaecal.



The psoas sign. Pain on passive extension of the right thigh. Patient lies on left side. Examiner extends
patient's right thigh while applying counter resistance to the right hip (asterisk).

Obturator sign (+) : gerakan fleksi daan endorotasi sendi panggul pada posisi
terlentang, pada appendicitis pelvica menimbulkan nyeri.


The obturator sign. Pain on passive internal rotation of the flexed thigh. Examiner moves lower leg laterally
while applying resistance to the lateral side of the knee (asterisk) resulting in internal rotation of the femur.

Rectal Toucher : nyeri terbatas sewaktu dilakukan RT menandakan daaerah infeksi
dapat dicapai dengan jari telunjuk, misalnya pada appendicitis pelvica. Biasanya
nyeri tekan pada jam 9-12.

Tenhorn Test (+) : dilakukan jika pasien laki-laki. Testis kanan pasien ditarik ke kaudal
dan pasien mengeluh sakit di perut kanan bawah.




18

c. Perkusi
Timpani, pada peritonitis umum terdapat nyeri di seluruh abdomen, pekak hati
,menghilang. Padaa appendicitis retrosekum atau retroileum nyeri pada pinggang kanan
atau angulus kostovertebralis punggung.
d. Auskultasi
Peristaltik usus sering normal. Peristaltik hilang karena ileus paralitik pada peritonitis
generalisata akibat appendisitis perforasi.
Pemeriksaan Penunjang:

1. Pemeriksaan jumlah lekosit : lekositosis (> 10.000/UL) (90% kasus) dan umumnya
disertai pergeseran ke kiri dalam hitung jenis, namun ada juga yang normal (5%).
LED meningkat pada appendisitis infiltrat.

2. USG abdomen : dilakukan setelah terjadi infiltrate appendikularis.
Pada appendisitis akut tidak dapat terlihat pada USG abdomen, yang dapat terlihat
hanya pada appendisitis infiltrat. USG abdomen digunakan untuk menyingkirkan
diagnosa banding Kista Ovarium, Kehamilan Ektopik Terganggu, dan Abses Tuboovarium.




Ultrasonogram showing longitudinal section (arrows) of inflamed appendix.

3. Pada urinalisa didapat < 30 sel lekosit atau eritrosit per lapang pandang besar, hal ini
untuk membedakan dengan kelainan ginjal atau saluran kemih.

4. Apendikogram (Barium enema) : hanya untuk kasus appendicitis kronis.
Foto barium Penggunaan foto barium sangat berbahaya, kita tidak dapat
memperediksi apakah appendisits itu perforasi atau tidak, jika penggunaan foto barium
pada saat perforasi makan akan berbahaya yang menyebabkan terjadinya peritonitis.



19

Diagnosa Banding Appendisitis Akut:

Gastroenteritis akut adalah kelainan yang sering dikacaukan dengan appendisitis.
Pada kelainan ini muntah dan diare lebih sering. Demam dan lekosit akan meningkat jelas
dan tidak sesuai dengan nyeri perut yang timbul. Lokasi nyeri tidak jelas dan berpindah-
pindah. Hiperperistaltik merupakan gejala yang khas. Gastroenteritis biasanya berlangsung
akut, suatu observasi berkala akan dapat menegakkan diagnosis.

Limfadenitis mesenterikum juga dapat menunjukkan gejala dan tanda yang identik
dengan appendisitis. Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak, biasanya didahului
infeksi saluran nafas. Lokasi nyeri diperut kanan tidak konstan dan menetap, jarang terjadi
true muscle guarding.

Divertikulitis meckeli juga menunjukkan gejala yang hampir sama. Lokasi nyeri
mungkin lebih ke medial, tetapi ini bukan kriteria diagnosis yang dapat dipercaya. Karena
kedua kelainan ini membutuhkan tindakan operasi, maka perbedaannya bukanlah hal
penting.

Enteritis regional, amubiasis, ileitis akut, perforasi ulkus duodeni, kolik ureter,
urolitiasis pielum/ureter kanan.

Pada perempuan adalah (PID / pelvic inflamantory disease) salpingitis akut,
Kehamilan Ektopik Terganggu (KET), Endometriosis, Ruptured Ovarian Follicle dan Kista
Ovarium Terpuntir (Torsi Kista Ovarium Kanan) juga sering dikacaukan dengan appendisitis.
Lokasi anatomic asal dari nyeri periumbilical dan regio bagian kanan bawah sebagai differensial
diagnosis Appendicitis .

Periumbilical
Appendicitis
Obstruksi usus halus
Gastroenteritis
Mesenteric ischemia


20

Kuadran Kanan Bawah
Penyebab Gastrointestinal Penyebab Gynecologis
Appendicitis Tumor Ovarium
Inflammatory bowel disease Penyakit Radang Panggul
Diverculitis sisi kanan Penyebab Ginjal
Gastroenteritis Pyelonephritis
Hernia Inguinalis Perinephritic abscess

Nephrolithiasis

Endometriosis

Gejala yang sering timbul :
Nyeri, hebatnya nyeri ditentukan oleh lokasi endometriosis
Nyeri pada saat menstruasi (Dismenorrhea).
Nyeri selama dan sesudah hubungan intim (Dyspareuni).
Nyeri ovulasi.
Nyeri saat coitus (Dyspareunia).
Perdarahan
Perdarahan banyak dan lama pada saat menstruasi (Menometrorrhagia).
Spotting sebelum menstruasi.
Menstruasi yang tidak teratur.
Darah menstruasi yang berwarna gelap yang keluar sebelum menstruasi atau
di akhir menstruasi.
Keluhan BAB dan BAK
Nyeri pada saat buang air besar. Sulit BAB.
Darah pada feces.
Diare, konstipasi dan kolik.
Nyeri sebelum, pada saat dan sesudah BAK.
Pada Vaginal toucher : benjolan-benjolan tidak teratur.



21

Kehamilan Ektopik Terganggu

Gejala Klinik:
Amenorrhea atau terlambat haid (haid teratur).
Sinkop/gejala akut abdomen.
Nyeri perut terutama unilateral. Nyeri hebat pada perut bagian bawah, nyeri
tersebut dapat terasa tajam awalnya kemudian perlahan-lahan menyebar ke seluruh
perut. Nyeri bertambah hebat bila bergerak.
Perdarahan pervaginam.
Tanda syok : hipotensi, takikardia, pucat, ekstremitas dingin.
Pemeriksaan ginekologi : cavum douglasi menonjol, nyeri tekan dan goyang cerviks.
Pregnancy test (+)

Diagnosis Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)
Walaupun diagnosanya agak sulit dilakukan, namun beberapa cara ditegakkan, antara
lain dengan melihat:
1. Anamnesis dan gejala klinis
Riwayat terlambat haid, gejala dan tanda kehamilan muda, dapat ada atau tidak ada
perdarahan per vaginam, ada nyeri perut kanan / kiri bawah. Berat atau ringannya nyeri
tergantung pada banyaknya darah yang terkumpul dalam peritoneum.

2. Pemeriksaan fisis
Didapatkan rahim yang juga membesar, adanya tumor di daerah adneksa.
Adanya tanda-tanda syok hipovolemik, yaitu hipotensi, pucat dan ekstremitas dingin,
adanya tanda-tanda abdomen akut, yaitu perut tegang bagian bawah, nyeri tekan dan
nyeri lepas dinding abdomen.
Pemeriksaan ginekologis Pemeriksaan dalam: seviks teraba lunak, nyeri tekan,
nyeri pada uteris kanan dan kiri.

3. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium : Hb, Leukosit, urine B-hCG (+).
Hemoglobin menurun setelah 24 jam dan jumlah sel darah merah dapat meningkat.
USG :
Tidak ada kantung kehamilan dalam kavum uteri
Adanya kantung kehamilan di luar kavum uteri

22

Adanya massa komplek di rongga panggul
4. Kuldosentesis : suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah dalam kavum Douglas
ada darah.
5. Diagnosis pasti hanya ditegakkan dengan laparotomi.
6. Ultrasonografi berguna pada 5 10% kasus bila ditemukan kantong gestasi di luar uterus.
Ruptur Ovarian Follicle
Ruptured ovarian follicle :
Terjadi pada pertengahan antara 2 siklus haid.
Sakit tidak begitu hebat.
Pendarahan cavum abdomen nyeri (defence muscular +).
Pada masa reproduksi.
Salphyngitis/Adnexitis
Salphyngitis/adnexitis.
Umumnya dari luar/bawah, misalnya karena coitus, maka kanan & kiri akan
terkena.
Gejala utama : Flour Albus.
Biasanya panas tinggi sekali dari permulaan.
Pada pemeriksaan vagina : adnexa membengkak dan nyeri.
Kolik Ureter (Urolithiasis)

Nyeri yang dirasakan hebat, periodik dan hilang timbul.
Nyeri menjalar sampai ke pinggang.
Biasanya pada kolik ureter (batu saluran kemih) terdapat hematuria, sukar
kencing, dan kencing keluar batu.

Pada pemeriksaan fisik:
Defans muskular (-).
Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan nyeri ketok di daerah kosto-
vertebra, teraba ginjal pada sisi yang sakit akibat hidronefrosis, ditemukan
tanda-tanda gagal ginjal, retensi urine dan jika disertai infeksi didapatkan
demam/menggigil.


23

Pemeriksaan sedimen urine menunjukan adanya lekosit, hematuria dan dijumpai
kristal-kristal pembentuk batu. Pemeriksaan kultur urine mungkin menunjukkan
adanya pertumbuhan kuman pemecah urea.
Pemeriksaan faal ginjal bertujuan mencari kemungkinan terjadinya penurunan
fungsi ginjal.
USG menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambaran struktur
anatomi ginjal. Teknik ini sederhana, tidak menimbulkan nyeri dan aman.
USG bisa digunakan untuk:
Mempelajari ginjal, ureter dan kandung kemih; dengan gambaran yang baik
meskipun ginjal tidak berfungsi baik.
Mengukur laju pembentukan urin pada janin yang berumur lebih dari 20
minggu dengan cara mengukur perubahan volume kandung kemih. Dengan
demikian bisa diketahui fungsi ginjal janin.
Pada bayi baru lahir, USG merupakan cara terbaik untuk mengetahui adanya
massa di dalam perut, infeksi saluran kemih dan kelainan bawaan pada
sistem kemih.
Memperkirakan ukuran ginjal dan mendiagnosis sejumlah kelainan ginjal,
termasuk perdarahan ginjal.
Menentukan lokasi yang terbaik guna mengambil contoh jaringan untuk
keperluan biopsi.
USG merupakan metode diagnostik terbaik untuk penderita gagal ginjal stadium
lanjut, yang ginjalnya tidak dapat mengambil atau mentolerir zat radioopak.
Kandung kemih yang terisi dengan urin bisa terlihat dengan jelas pada USG.

Penatalaksanaan:

Sebelum operasi perlu dilakukan observasi dalam 8-12 jam setelah timbulnya
keluhan, tanda dan gejala appendisitis sering kali masih belum jelas. Dalam keadaan ini
observasi ketat perlu dilakukan. Pasien diminta melakukan tirah baring dan dipuasakan.
Laksatif tidak boleh diberikan bila dicurigai adanya appendisitis ataupun bentuk peritonitis
lainya. Pemeriksaan abdomen dan rektal serta pemeriksaan darah (leukosit dan hitung jenis
lekosit) diulang secara periodik. Foto abdomen dan thorak tegak dilakukan untuk mencari

24

kemungkinan adanya penyulit lain. Pada kebanyakan kasus, diagnosis ditegakkan dengan
lokalisasi nyeri di daerah kanan bawah dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan.
Tindakan yang paling tepat dan terbaik bila diagnosis klinis sudah jelas adalah
appendektomi, yang bisa dilakukan secara terbuka maupun dengan cara laparoskopi. Pada
appendektomi terbuka, incisi McBurney paling banyak dipilih oleh ahli bedah. Satu sayatan
akan dibuat 5 cm di perut kanan bawah, sayatan akan lebih besar jika appendisitis sudah
mengalami perforasi. Pada penderita yang diagnosisnya tidak jelas bila tersedia laparoskop,
tindakan laparoskopi diagnostik pada kasus meragukan dapat segera menentukan akan
dilakukan operasi atau tidak. Indikasi untuk appendektomi adalah appendisitis akut,
appendicitis infiltrat dalam stadium tenang, appendisitis kronis dan appendisitis perforata.
Komplikasi:
Komplikasi yang paling sering ditemukan pada appendisitis akut adalah perforasi dan
massa periappendikular. Perforasi dapat berupa perforasi bebas maupun perforasi pada
massa appendikular (appendisitis yang mengalami perdindingan dengan dibungkus oleh
omentum, usus halus, dan caecum).
Adanya perforasi ditandai dengan demam tinggi, nyeri hebat yang meliputi seluruh
perut, spasme otot dinding perut, nyeri tekan dan defence muscular seluruh perut,
peristaltik usus yang menurun sampai menghilang, malaise dan lekositosis. Penanganan dari
perforasi yaitu dilakukan operasi untuk menutup asal perforasi, yaitu dengan laparatomi
dengan incisi yang panjang dengan tujuan memudahkan pencucian rongga peritoneum dari
pus, pengeluaran fibrin yang adekuat, serta pencucian kantong nanah. Dapat juga secara
laparoskopi. Sedangkan massa periappendikular ditandai dengan adanya massa yang teraba
di kuadran kanan bawah/regio iliaka kanan yang cenderung menggelembung ke arah rectum
atau vagina, disertai nyeri dan demam. Penanganannya adalah pemberian antibiotika
kombinasi, baru dilakukan appendektomi 6 8 minggu kemudian.
Komplikasi yang lainnya adalah thrombophlebitis supuratif dari sistem portal, abses
subphrenicus, fokal sepsis intraabdominal dan obstruksi interstinal karena perlengketan.
Sedangkan menurut mulai terjadinya komplikasi, komplikasi appendistis dapat dibagi
menjadi tiga yaitu komplikasi segera, intermediate, komplikasi lanjut.
Komplikasi segera diantaranya adalah perdarahan, trombosis, peritonitis,
perlengketan, dilatasi lambung akut.
Komplikasi intermediate salah satu contohnya adalah abses di daerah pelvinal,
prerectal, perimetritis, subfrenik, dapat pula terjadi pyelopielitis, hemofilia, tromboflebitis
femoralis, emboli pulmo, fistel luka operasi.

25

Untuk komplikasi lanjut yang dapat terjadi adalah hernia incisional, perlengketan usus
atau streng ileus.
Prognosa
Dengan diagnosis dan pembedahan yang cepat, tingkat mortalitas dan morbiditas
penyakit ini sangat kecil. Angka kematian lebih tinggi pada anak dan orang tua. Apabila
appendiks tidak diangkat, dapat terjadi serangan berulang.







26

DAFTAR PUSTAKA

Sjamsuhidayat R, Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah: Usus halus, Appendiks, Kolon dan
Anorektum. Jakarta : 1997. Edisi Revisi : 865-875.
McILRATH D. C: Kelainan Bedah Appendiks Vermiformis dan Divertikulum Meckel, Buku
Ajar Bedah D.C. Sabiston, Bag 2:1-12, 1994
Way L. W: Appendix, Current Surgical Diagnosis & Treatment, ed 2: 668-673, 2003
Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, jilid II. Penerbit: Medis Aesculapius. FKUI.
Hal 307 313.
Dudley H.A.F Appendisitis Akut dalam Hamilton Bailey Ilmu Bedah Gawat Darurat. Edisi
11. Gajah Mada Unv Press. 1002. Hal 441 452.
Marijata. 2006. Pengantar Dasar Bedah Klinis. Unit Pelayanan Kampus. FK UGM.
Jogjakarta. Hal :273-81
Prof. dr. Hanifa W, dkk., IlmuKebidanan, Edisi kedua, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta, 1992, Hal. 323-334.
Appendectomy available from : http://www.emedicine.com/
Acute Appendicitis, availabel at : http://www.aafp.org/afp/
Appendicitis, availabel at : http://digestive.niddk.nih.gov/ddiseases/pubs/

27

PEMBAHASAN KHUSUS BEDAH

Pada pasien An. C.E berusia 8 tahun didiagnosa appendicitis kronik, karena :

Pada anamnesa terdapat riwayat keluhan nyeri perut kanan bawah sejak 1 tahun sebelum
masuk RS Husada. Nyeri yang dirasakan pasien seperti ditusuk-tusuk, berlangsung hilang
timbul. Nyeri tidak menjalar ke pinggang. Demam (-), Mual (-), muntah (-). Sebelumnya
pasien sudah pernah mengalami sakit seperti ini. Terakhir, 1 hari yang lalu nyeri perut kanan
bawah tersebut kambuh lagi . Hal ini menunjukkan pasien menderita appendisitis akut.
Dikatakan kronik, karena pasien merasakan nyeri perut kanan bawah ini selama 1 tahun
terakhir dan hilang timbul.
Status lokalis bedah regio abdomen
Pada Palpasi :
o Defance musculer (-)
o Nyeri tekan Mc Burney (+)
o Nyeri lepas Mc Burney (-)
o Rovsing sign (-)
o Blumberg sign (-)
o Psoas sign (-)
o Obturator sign(-)
Pemeriksaan penunjang
Appendicogram ( 28 April 2010 ) Kesimpulan :
Pasase kontras lancar sampai colon.
Appendiks tidak terisi kontras.
Diagnosa banding :
a. Divertikulitis Meckeli.
Pasien ini tidak didiagnosa Divertikulitis Meckeli karena:
Hasil appendikogram : Appendisitis kronik.
Biasanya baru ditemukan saat operasi.
b. Limfadenitis mesenterika
Pasien ini tidak didiagnosa Limfadenitis Mesenterika karena :
Tidak ada infeksi saluran nafas

28

c. Kolik Ureter.
Pasien ini tidak didiagnosa Kolik Ureter karena:
Pada pasien ini nyeri tidak menjalar ke pinggang. Sedangkan pada kolik ureter
nyeri menjalar sampai ke pinggang.

Pada pasien ini tidak ada keluhan BAK. Biasanya pada kolik ureter (batu saluran
kemih) terdapat hematuria, sukar kencing dan kencing keluar batu.

Pada pemeriksaan fisik:
Regio Costovertebra Angle (CVA) Kanan Kiri
Massa tidak teraba tidak teraba
Nyeri tekan - -
Nyeri Ketok - -
Ballotement - -
Appendicogram ( 28 April 2010 ) Kesimpulan:
Pasase kontras lancar sampai colon.
Appendiks tidak terisi kontras.
Penatalaksanaan pada pasien ini:
Operatif : Appendektomi.
Medikamentosa : IVFD RA + 1 amp Neurosanbe drip.
Antibiotik.
Antagonis H
2
Ranitidine.
Analgetik ( Post Operatif ).
Non Medikamentosa :
Mobilisasi bertahap setelah pasien sadar gerakan kaki (fleksi & ekstensi),
miring kanan & kiri bergantian, duduk, dll.
Pemberian makanan per oral dimulai dengan minum sedikit-sedikit ( 50 cc) tiap
jam jika sudah ada aktivitas usus (Flatus + & Bising Usus +).
Jika pemberian minum pasien tidak kembung lanjut pemberian makanan per
oral dimulai dengan yang lunak.