Anda di halaman 1dari 6

Titrasi Permanganometri

2014

Laporan Kimia Analitik II Page 1

Titrasi Permanganometri
Kamis, 8 Mei 2014
Raisa Soraya*
Naryanto, Melinda Indana Nasution, Septiwi Tri Pusparini, Faisal Amanilah
Jurusan Pendidikan Imu Pengetahuan Alam
Program Studi Pendidikan Kimia
Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta
2014
ABSTRAK
Titrasi permanganometri adalah salah satu bagian dari titrasi redoks (reduksi-oksidasi).
Oksidasi merupakan suatu proses dimana bilangan oksidasi unsur bertambah dan di mana
elektron terlihat di sisi kanan dari setengah persamaan oksidasi. Reduksi merupakan suatu
proses di mana bilangan oksidasi unsur menurun dan di mana elektron terlihat di sisi kiri dari
setengah persamaan oksidasi. Kalium permanganat adalah oksidator kuat karena memiliki
nilai potensial sel yang besar. Pada pembakuan larutan standar kalium permanganat asam
oksalat dan asam sulfat dipanaskan terlebih dahulu untuk mempercepat reaksi oksidasi Mn
2+
.
Namun, pada penentuan kadar besi tidak perlu dipanaskan terlebih dahulu karena reaksi
oksidasi Fe
3+
berlangsung cepat. Penambahan asam sulfat pada masing-masing percobaan
yaitu Pembakuan KMnO
4
dan Penentuan Kadar Fe dalam FeSO
4
adalah untuk menambah
suasa asam. Dari percobaan diperoleh bahwa konsentrasi kalium permanganat adalah 0,219M
dan kadar besi pada FeSO
4
adalah sebesar 0,0236M
Kata kunci: Titrasi Permanganometri, Reduksi-oksidasi.

INTRODUCTION
Titrasi permanganometri adalah salah satu bagian dari titrasi redoks (reduksi-oksidasi).
Rekasinya adalah merupakan serah terima elektron yaitu elektron diberikan oleh pereduksi
Titrasi Permanganometri
2014

Laporan Kimia Analitik II Page 2

(proses oksidasi) dan diterima oleh pengoksidasi (proses reduksi). Oksidasi adalah pelepasan
elektron oleh suatu zat, sedangkan reduksi adalah pengambilan elektron oleh suatu zat.
Reaksi oksidasi ditandai dengan bertambahnya bilangan oksidasi sedangkan reduksi
sebaliknya.
Kalium permanganat secara luas digunakan sebagai larutan standar oksidimetri dan ia
dapat bertindak sebagai indikatornya sendiri (autoindikator). Perlu diketahui bahwa larutan
Kalium permanganat sebelum digunakan dalam proses permanganometri harus distandarisasi
terlebih dahulu, untuk menstandarisasi kalium permanganat dapat dapat dipergunakan zat
reduktor seperti asam oksalat, natrium oksalat, kalium tetra oksalat, dan lain-lain, (Syarif
Hamdani. 2012).
Kalium permanganat telah banyak dipergunakan sebagai agen pengoksidasi selama
lebih dari 100 tahun. Reagen ini dapat diperoleh dengan mudah, tidak mahal, dan tidak
membutuhkan indikator terkecuali untuk larutan yang teramat encer. Satu tetes 0,1 N
permanganat memberikan warna merah muda yang jelas pada volume dari larutan yang biasa
dipergunakan dalam sebuah titrasi. Warna ini dipergunakan untuk mengindikasi kelebihan
reagen tersebut. Permanganat menjalani beragam reaksi kimia, karena mangan dapat hadir
dalam kondisi-kondisi oksidasi +2, +3, +4, +6, dan +7 (Underwood, 1999).
Larutan yang terdiri atas campuran MnSO
4
.4H
2
O 67 gram, asam fosfat pekat 130ml
dalam 1cm
3
air suling; digunakan untuk mencegah terbentuknya warna kuning ion Fe(III)
dalam titrasi permanganometri,(A.Hadyana Pudjaatmaka.2002).
Titrasi redoks adalah titrasi yang melibatkan proses oksidasi dan reduksi. Kedua proses
ini selalu terjadi secaraan, bersama dan merupakan bagian yang sangat penting di dalam ilmu
kimia. Segala sesuatunya mulai dari reaksi ionik yang sederhana hingga proses pembentukan
energi di dalam mitokondria manusia, bergantung pada reaksi ini. Dalam titrasi redoks,
persamaan reaksinya disetarakan bukan dengan menghitung jumlah mol atom yang bereaksi,
tetapi dengan menghitung jumlah elektron yang dipindahkan dalam proses, (Donald
Cairns.2004).
Reaksi oksidasi-reduksi adalah reaksi yang dihasilkan dari proses oksidasi dan reduksi
yang terjadi secara serentak (Petrucci, 1987 : 41). Oksidasi merupakan suatu proses dimana
bilangan oksidasi unsur bertambah dan di mana electron terlihat di sisi kanan dari setengah-
persamaan oksidasi. Reduksi merupakan suatu proses di mana bilangan oksidasi unsur
menurun dan di mana electron terlihat di sisi kiri dari setengah persamaan reduksi. Baik
Titrasi Permanganometri
2014

Laporan Kimia Analitik II Page 3

setengah reaksi oksidasi maupun reduksi harus ada bersama-sama. Selanjutnya, jumlah
keseluruhan electron yang menyangkut reaksi oksidasi harus sama dengan jumlah
keseluruhan electron yang menyangkut proses reduksi (Petrucci. 1987 : 2)
MATERIAL AND METHOD
Alat:
Erlenmeyer 250 ml
Pipet tetes
Buret
Statif dan ring
Gelas ukur
Penangas air
Penjepit kayu
Bahan:
KMnO
4

12 mL H
2
SO
4

10 mL asam oksalat 0, 1 N
10 mL larutan cuplikan Fe
2+

Prosedur Percobaan:
Pembakuan larutan KMnO
4
dengan larutan asam oksalat
1. Dipipet 10 mL asam oksalat 0, 1 N, dimasukkan ke erlenmeyer 250 mL
2. Ditambahkan 10 mL H
2
SO
4

3. Dipanaskan 70C - 80C
4. Dititrasi larutan panas ini dengan KMnO4
Penentuan kadar besi secara permanganometri
1. Dipipet 10 mL larutan cuplikan Fe
2+
, dimasukkan ke erlenmeyer 250 mL
2. Ditambahkan 2 mL H
2
SO
4

3. Dititrasi larutan panas ini dengan KMnO
4

4. Dihitung konsentrasi Fe
3+


RESULT AND DISCUSSION
Reaksi Pengamatan
Asam Oksalat +H2SO4 Larutan tak berwarna
Asam Oksalat +H2SO4 + 5ml;4,1ml KMnO4 Warna larutan berubah menjadi merah rose
FeSO4 + H2SO4 Warna larutan cokelat dalam erlenmeyer
FeSO4 + H2SO4 + 1,7ml;1,5ml KMnO4 Warna larutan berubah menjadi merah rose
Titrasi Permanganometri
2014

Laporan Kimia Analitik II Page 4

Pembakuan KMnO
4

Rata-rata KMnO
4
= (5+4,1)/2 = 4,55 ml
M
1
V
1
= M
2
V
2

10 . 0,1 = M2 . 4,55
M
2
=1/4,55
= 0,219 M
Konsentrasi KMnO
4
= 0,219 M

Penentuan Kadar Fe dalam FeSO
4

Rata-rata KMnO
4
= (1,7+1,5)/2 = 1,6 ml
M
1
V
1
= M
2
V
2

0,219 . 1,6 = M
2
. 15
M
2
= 0,3504/15
= 0,02336 M
Kadar besi pada larutan mencapai 0,02336 M

Pembahasan
Pada percobaan, ketika memasukkan larutan KMnO
4
harus dilakukan di tempat gelap
karena KMnO
4
mudah terurai oleh cahaya. KMnO
4
adalah oksidator yang kuat karena
memiiki nilai potensial sel yang besar beratri KMnO
4
mudah direduksi sehingga memiliki
sifat oksidator. Kalium permanganat jika digunakan sebagai oksidator dalam larutan alkalis
kuat, maka ada 2 kemungkinan reaksi, yaitu pertama: reaksi yang berjalan relatif cepat:
MnO
4
-
+ e
-
MnO
4
2-

dan reaksi kedua yang berlangsung relatif lambat:
MnO
4
2-
+ 2H
2
O + e
-
MnO
2
+ 4OH
-

potensialstandar reakasi yang pertama E0 = 0,56 volt, sedangkan pada reaksi kedua sebesar
E0 = 0,60 volt. Dengan mengatur suasana sebaik-baiknya (misalnya menambah ion barium
yang dapat membentuk endapan barium manganat) maka reaksi pertama dapat berjalan baik
sekali
Pada saat pembakuan kalium permanganat digunakan asam oksalat sebagai zat baku
primer. Asam oksalat adalah asam organik sehingga bereaksi lambat dengan kalium
permanganat oleh karena itu dipanaskan terlebih dahulu sebelum dititrasi dengan kalium
permanganat. Asam oksalat dikatakan zat baku primer dikarenakan asam oksalat merupakan
Titrasi Permanganometri
2014

Laporan Kimia Analitik II Page 5

zat yang stabil, memiliki Mr tinggi dan memiliki kriteria lainnya sebagai standar primer,
dengan reaksi:
C
2
O
4
2-
2CO
2
+ 2e x5
MnO
4
-
+ 8H
+
+5e
-
Mn
2+
+ 4H
2
O x2
5 C
2
O
4
2-
+ 2MnO
4
-
+ 16H
+
2Mn
2+
+ 8H
2
O + 10CO
2

Asam Sulfat merupakan asam yang paling cocok digunakan sebagai pelarutnya karena
jika digunakan asam klorida maka kemungkinan akan terjadi reaksi seperti di bawah ini:
2MnO
4
-
+ 16H
+
+ 10Cl
-
2Mn + 5Cl
2
+ 8H
2
O
dengan demikian, sebagian permanganatnya digunakan untuk pembentukan klorin. Reaksi ini
terutama terjadi dengan garam-garam besi. Adanya mangan dioksida dapat mempercepat
peruraian permanganat karena mangan dioksida tersebut memperbanyak pembentukan
mangan dioksida sehingga peruraian bertambah cepat.
Dalam membuat larutan baku kalium permanganat harus dijaga faktor-faktor yang
dapat menyebabkan penurunan yang besar dari kekuatan larutan baku tersebut, antara lain
dengan pemanasan dan penyaringan untuk menghilangkan zat-zat yang mudah dioksidasi.

Besi (Fe
2+
) sangat mudah dioksidasi menjadi Fe
3+
sehingga digunakan larutan kalium
permanganat sebagai titer atau larutan standar. Saat membuat titran, Fe2+ ditambahkan asam
sulfat untuk menghindari reaksi hidrolisis yaitu reaksi antara logam dengan air yang dapat
menghasilkan endapan Fe
2+
+ H
2
O > Fe(OH)
2

(s)
Jika yang terbentuk adalah endapan Fe(OH)
2
maka saat dititrasi dengan kalium
permanganat endapan Fe(OH)
2
akan tetap terbentuk dan dapat mempersulit untuk mengetahui
kadar Fe dalam FeSO
4

Fungsi penambahan asam sulfat adalah untuk menambah suasana asam. Jadi ketika
dititrasi dengan kalium permanganat titik ekuivalen dengan mudah dapat diketahui.
Fe
2+
Fe
3+
+ e
-
x5
MnO
4
-
+ 8H
+
+ 5e
-
Mn
2+
+ 4H
2
O x1
5Fe
2+
+ MnO
4
-
+ 8H+ Mn
2+
+ 4H
2
O + 5Fe
3+

Karena reaksi oksidasi Fe
2+
dengan kalium permanganat berlangsung cepat maka tidak
diperlukan perlakuan pemanasan pada titran. Titik ekuivalen diketahui dari berubahnya
warna dari tidak berwarna menjadi berwarna rose. Mencari titik ekuivalen pada percobaan
titrasi permanganometri ini sulit dikarenakan pada saat titrasi (kalium permanganat) yang
diteteskan berlebih dan percobaan dilakukan di tempat yang gelap sehingga warna yang
Titrasi Permanganometri
2014

Laporan Kimia Analitik II Page 6

didapatkan adalah ungu bukan warna rose. Hal ini disebabkan kekurang telitian praktikan
dalam menentukan titik ekuivalen.

CONCLUSION
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Titrasi permanganometri adalah salah satu bagian dari titrasi redoks (reduksi-
oksidasi).
2. ion MnO
4
-
bertindak sebagai oksidator. Ion MnO
4
-
akan berubah menjadi ion
Mn
2+
dalam suasana asam. Teknik titrasi ini biasa digunakan untuk menentukan
kadar oksalat.
3. Oksidasi pada besi oleh kalium permanganat berlangsung secara cepat.
Sehingga tidak perlu katalis ataupun pemanasan untuk mempercepat reaksi.
4. Konsentrasi KMnO
4
yang diperoleh adalah sebesar 0,219 M
5. Kadar Fe daam FeSO
4
yang diperoleh adalah sebesar 0,0236M

REFERENCE LIST
Cairns, Donald. 2004. Intisari Kimia Farmasi Edisi 2. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Petrucci, Ralph, H. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Jilid 3 Edisi Keempat .
Jakarta: Erlangga.
Pudjaatmaka, A.Hadyana. 2002. Kamus Kimia. Jakarta: Balai Pustaka
Underwood. 1999. Analisis Kimia Kuantitatif/6. Jakarta : Erlangga
Hamdani, Syarif, dkk. 2012. Panduan Praktikum Kimia Analisis. Sekolah Tinggi
Farmasi Indonesia : Bandung