Anda di halaman 1dari 29

1

Pelaporan Keuangan Interim


A. Pengertian Laporan Interim Sesuai PSAK No 3 revisi 2009 sebagai berikut :
Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan yang diterbitkan di antara dua
laporan keuangan tahunan. Laporan keuangan interim harus dipandang sebagai bagian yang
integral dari periode tahunan. Dapat disusun secara bulanan, triwulanan atau periode lain yang
kurang dari setahun dan mencakupi seluruh komponen laporan keuangan sesuai standar
akuntansi keuangan.
Laporan Interim diberlakukan untuk perusahaan yang diwajibkan untuk menyajikan
laporan keuangan interim oleh peraturan perundangan, misalnya Pasar modal, dan lain-lain. Dan
juga untuk industri yang telah diatur dalam standar akuntansi keuangan industri yang
bersangkutan, misalnya perbankan, maka harus mengikuti standar khusus tersebut.

Ada dua pandangan tentang Laporan Interim yaitu :
1. Pandangan yang menganggap periode interim sebagai dasar periode akuntansi dan
menyimpulkan bahwa hasil operasi tiap periode ditentukan dengan cara yang sama
seperti pada periode tahunan.
2. Pandangan yang menganggap periode interim sebagai bagian yang integral dengan
periode tahunan.
Pernyataan ini dikembangkan berdasarkan pandangan kedua yang menganggap laporan
keuangan interim sebagai bagian integral dengan periode tahunan.

B. Pengakuan dan Pengukuran
Pengakuan dan Pengukuran Sesuai PSAK No 3 revisi 2009 sebagai berikut :
Pengakuan dan pengukuran unsur yang sama antara pelaporan keuangan interim dengan
pelaporan keuangan tahunan adalah:

Dasar pengakuan pendapatan Sesuai PSAK No 3 revisi 2009 sebagai berikut :
Kebijakan akuntansi dasar pelaporan pada periode interim, kecuali jika ada perubahan
dalam standar akuntansi. Penyajian penggolongan aktiva sebagai lancar dan tidak lancar, dan
kewajiban sebagai jangka pendek dan jangka panjang.

2

Beban dan Biaya
Beban yang dapat dihubungkan dengan pendapatan ditentukan atas dasar yang sama
dengan dasar yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan tahunan kecuali untuk
persediaan :
Perusahaan yang dalam periode mengungkapkan hal tersebutinterim menggunakan
estimasi laba kotor dalam laporan keuangan interim.
Perusahaan yang melakukan penilaian persediaan berdasarkan biaya standar tidak perlu
melaporkan penyimpangan atau selisih dengan biaya aktual yang terjadi, jika selisih
biaya tersebut tidak material atau diharapkan bisa diselesaikan pada akhir tahun.
Pengaruh dari penyimpangan yang tidak direncanakan dan tidak diperkirakan harus
dilaporkan pada akhir periode interim dengan prosedur yang sama seperti yang
digunakan pada akhir tahun.
Kerugian yang disebabkan penurunan harga pasar dan pemulihan harga tidak boleh
ditangguhkan untuk dibebankan ke periode di luar periode penurunan harga tersebut.
Biaya dan beban lain-lain untuk periode pelaporan interim, biaya dan beban lain-lain
termasuk biaya produksi dibebankan atas dasar yang sama seperti periode tahunan.

Pendapatan dan beban musiman Sesuai PSAK No 3 revisi 2009 sebagai berikut :
Laporan keuangan interim memberi gambaran pendapatan dan beban periode interim
tersebut. Laporan keuangan interim tertentu diperbandingkan dengan periode sebelumnya
memberi manfaat yang lebih besar bagi para pemakai laporan dalam contoh kondisi-kondisi
sebagai berikut:
Laporan keuangan interim diperbandingkan dengan laporan keuangan interim periode
sebelumnya, untuk mengetahui kecenderungan (trend) posisi keuangan dan kinerja.
Laporan keuangan interim diperbandingkan dengan interim yang sama dalam periode
akuntansi yang lalu, untuk mengetahui kecenderungan berulang (cyclical) musiman dari
kegiatan usaha.
Laporan keuangan interim diperbandingkan dengan laporan keuangan kumulatif dari
awal tahun buku sampai dengan tanggal laporan keuangan interim untuk mengetahui
kontribusi atau pengaruh periode interim yang dilaporkan pada periode berjalan.
Laporan keuangan interim diperbandingkan dengan laporan keuangan tahun buku yang
3

lalu, untuk mendapat gambaran pengaruh dan kinerja interim tersebut terhadap posisi
keuangan, kinerja dan arus kas periode akuntansi yang lalu.

Penyisihan Pajak Penghasilan
Pada akhir tiap periode interim, perusahaan harus membuat taksiran pajak penghasilan
untuk dibebankan pada periode interim. Perhitungan pajak penghasilan periode interim harus
sesuai dengan kebijakan akuntansi tentang pajak penghasilan yang dianut pada akhir tahun.

Pos dan Transaksi Luar Biasa
Penghapusan segmen usaha, penggabungan usaha, pos luar biasa, dan kejadian yang tidak
biasa dan tidak sering terjadi harus dibebankan pada periode interim saat terjadinya dan
tidak boleh dibebankan pada periode lain.
Pos luar biasa harus diungkapkan secara terpisah dan dimasukkan dalam laporan laba
rugi periode interim saat pos luar biasa terjadi. Dalam menentukan materialitas, pos luar
biasa harus dihubungkan langsung dengan estimasi pendapatan tahunan.
Peristiwa atau kejadian yang tidak biasa dan tidak sering terjadi dan berpengaruh material
terhadap hasil operasi tetapi tidak dapat dikelompokkan dalam pos luar biasa juga harus
dilaporkan dan diungkapkan secara terpisah dalam laporan laba rugi periode interim.
Kewajiban kontinjen dan ketidakpastian lain yang diperkirakan dapat mempengaruhi
kewajaran penyajian data keuangan pada tanggal neraca harus diungkapkan dalam
laporan keuangan interim dengan cara yang sama seperti dalam laporan keuangan
tahunan. Pengungkapan tersebut harus diulang dalam laporan keuangan interim
berikutnya dan dalam laporan keuangan tahunan sampai kewajiban kontinjen itu
terselesaikan.

Perubahan Akuntansi
Penghapusan segmen usaha, penggabungan usaha, pos luar biasa, dan kejadian yang tidak
biasa dan tidak sering terjadi harus dibebankan pada periode interim saat terjadinya dan
tidak boleh dibebankan pada periode lain.
Pos luar biasa harus diungkapkan secara terpisah dan dimasukkan dalam laporan laba
rugi periode interim saat pos luar biasa terjadi. Dalam menentukan materialitas, pos luar
biasa harus dihubungkan langsung dengan estimasi pendapatan tahunan.
4

Peristiwa atau kejadian yang tidak biasa dan tidak sering terjadi dan berpengaruh material
terhadap hasil operasi tetapi tidak dapat dikelompokkan dalam pos luar biasa juga harus
dilaporkan dan diungkapkan secara terpisah dalam laporan laba rugi periode interim.
Kewajiban kontinjen dan ketidakpastian lain yang diperkirakan dapat mempengaruhi
kewajaran penyajian data keuangan pada tanggal neraca harus diungkapkan dalam
laporan keuangan interim dengan cara yang sama seperti dalam laporan keuangan
tahunan. Pengungkapan tersebut harus diulang dalam laporan keuangan interim
berikutnya dan dalam laporan keuangan tahunan sampai kewajiban kontinjen itu
terselesaikan.

C. Penyajian
Penyajian Laporan Keuangan Interim Sesuai PSAK No 3 revisi 2009 sebagai berikut :
Laporan keuangan interim meliputi neraca, laporan laba rugi dan saldo laba interim,
laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan interim harus disajikan
secara komparatif dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Perhitungan laba-rugi interim
harus mencakup periode sejak awal tahun buku sampai dengan periode interim terakhir yang
dilaporkan (year-to-date).
Laporan keuangan interim harus menggolongkan aktiva sebagai kelompok lancar dan
tidak lancar, dan kewajiban sebagai kelompok jangka pendek dan jangka panjang sesuai laporan
keuangan tahunan. Khusus untuk perusahaan tertentu seperti bank dan asuransi yang mempunyai
metode khusus dalam penggolongan aktiva, maka penggolongan aktiva harus dilakukan sesuai
dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku.
Apabila perusahaan melaporkan ringkasan informasi keuangan pada tanggal laporan
keuangan interim, data berikut merupakan data minimum yang harus dilaporkan:
pendapatan atau penjualan kotor, beban, estimasi pajak penghasilan, pos luar biasa
(termasuk pengaruh terhadap pajak penghasilan yang terkait), pengaruh kumulatif
perubahan akuntansi, perubahan akuntansi dan laba bersih
data laba bersih per saham untuk setiap periode interim yang disajikan
pendapatan dan beban musiman
perubahan yang penting dalam taksiran pajak penghasilan
pelepasan suatu segmen usaha, pos luar biasa, transaksi tidak biasa dan tidak sering
5

terjadi
kewajiban kontinjen
perubahan akuntansi dan
perubahan yang material pada unsur laporan arus kas.
Suatu perubahan kebijakan akuntansi harus diterapkan secara retrospektif dengan
melaporkan jumlah setiap penyesuaian yang terjadi yang berhubungan dengan periode
sebelumnya sebagai suatu penyesuaian pada saldo laba awal periode (retained earnings), kecuali
jika jumlah tersebut tidak dapat ditentukan secara wajar. Informasi komparatif harus dinyatakan
kembali, kecuali jika untuk melaksanakannya dianggap tidak praktis. Pengaruh perubahan
akuntansi terhadap hasil keuangan untuk periode interim pada periode interim berikutnya harus
diungkapkan.
Laporan keuangan interim terakhir, misalnya triwulan keempat tidak perlu disusun
karena pada dasarnya laporan keuangan tersebut dapat digantikan dengan laporan keuangan
tahunan. Dalam hal laporan keuangan interim triwulan keempat hendak diterbitkan, maka
penerbitannya dilakukan bersamaan dengan penerbitan laporan keuangan tahunan. Di samping
itu, isi dari laporan keuangan interim triwulan keempat harus merupakan selisih dari laporan
keuangan tahunan dan laporan keuangan interim sebelumnya tahun yang bersangkutan.

D. Initial Public Offering (IPO)
Initial Public Offering atau biasa disebut IPO merupakan penawaran perdana atas saham
umum sebuah perusahan ke publik atau investor umum. IPO sering dikeluarkan oleh perusahaan
yang lebih kecil dan lebih muda, yang mencari modal untuk berkembang, tetapi juga bisa
dilakukan oleh perusahaan swasta besar yang ingin diperdagangkan secara publik. Bagi suatu
perusahaan (Emiten), IPO secara finansial merupakan sarana memperoleh modal untuk
pengembangan bisnis dan juga sebagai parameter bahwa perusahaan tersebut telah menjalankan
keterbukaan dalam pengelolaan perusahaan yang dampaknya dapat dilihat dari citra perusahaan.
Keuntungan dalam melakukan IPO antara lain adalah signifikan akses untuk
mendapatkan modal investasi yang lebih besar; kredibilitas sebagai hasil dari dukungan dan
sponsor dari sebuah perusahaan investasi perbankan; beberapa harga saham yang mendukung
setelah perusahaan private terdaftar secara publik; serta cakupan analisis dan laporan penelitian
membantu masyarakat tetap dapat mendapatkan informasi.
6

Sementara kerugian dari Penawaran Umum Perdana antara lain mencakup kesuksesan
IPO yang bergantung pada bankir investasi dan kondisi pasar; IPO membutuhkan biaya yang
lebih besar dari penawaran umum langsung dan seringkali juga lebih besar dari penggabungan
reverse, tidak termasuk biaya komisi; serta signifikan persyaratan dari manajemen untuk
mengadakan rapat, panggilan konferensi dan roadshow.

Pihak-pihak yang Terlibat dalam Proses IPO
Initial Public Offering (IPO) Sebuah perusahaan yang akan go public dimana perusahaan tersebut
melakukan initial public offering (IPO) sahamnya melalui perusahaan sekuritas yang menjadi penjamin emisi
danmelalui agen-agen penjual yang ditunjuk. IPO adalah kegiatan penawaran efek yang dilakukanoleh emiten
untuk menjual efek kepada masyarakat (publik) melalui pasar modal.
Investor bisa melakukan pembelian dengan memesan melalui penjamin emisi ataupun agen penjual.
Padaumumnya, jumlah saham yang didapatkan biasanya cenderung lebih sedikit dari pesanan. Halini karena
minat investor untuk membeli saham saat IPO biasanya sangat besar sehingga dilakukan penjatahan.
Proses Initial Public Offering (IPO)
Di Indonesia, prosedur sebuah perusahaan untuk go public mengikuti tiga tahapan utama yang
ditetapkan oleh Badan Pengawas Pasar Modal- LK (BAPEPAM-LK). Tahap pertama adalah persiapan diri,
kemudian tahap kedua adalah memperoleh ijin registrasi dari BAPEPAM-LK, dan ketiga adalah melakukan
penawaran perdana ke publik dan memasuki pasar sekunder dengan mencatatkan efeknya di bursa. Pihak-pihak
yang terlibat dalam IPO :
Perusahaan Efek, bertindak sebagai penjamin, pelaksana dan membantu emisi. Penjamin
Emisi Efek adalah pihak yang membuat kontrak emiten untuk melakukan penawaran
umum bagi kepentingan emiten dengan atau tanpa kewajiban untuk membeli sisa efek yang
tidak terjual. Contohnya adalah PT Mandiri Sekuritas, PT Bahana Securities, PT Danareksa
Sekuritas dan PT DBS Vickers Securities.
Profesi penunjang, mencakup akuntan publik (auditor independen) untuk melakukan audit
atas laporan keuangan perusahaan emiten; notaris yang membuat akta-akta perjanjian; dan
konsultan hukum.
Lembaga Penunjang, seperti wali amanat, penanggung, biro administrasi efek dan
kustodian sebagai tempat penitipan efek.

7


Proses Penawaran Umum Perdana
Sebelum melakukan emisi, perusahaan terlebih dahulu menyiapkan dokumen-dokumen
emisi. Setelah semua dokumen yang diperlukan untuk emisi telah lengkap, emiten mengadakan
kontrak pendahuluan dengan bursa efek dan menandatangani perjanjian-perjanjian emisi. Di
Bapepam, semua dokumen emisi yang telah diterima diperiksa kelengkapannya dan juga
dievaluasi, baik dari segi kelengkapannya, kecukupan dan kejelasan informasi, keterbukaan,
maupun aspek hukum, akuntansi, keuangan, dan manajemen. Dalam waktu maksimum 45 hari
kerja jika Bapepam tidak menyampaikan komentar, permintaan perubahan/tambahan informasi
maka Pernyataan Pendaftaran emiten dianggap efektif. Setelah proses tersebut selesai, maka
perusahaan dapat mulai melaksanakan penawaran saham perdana. Calon investor yang tertarik
dapat mengajukan pesanan kepada penjamin emisi melalui agen penjualan yang ditunjuknya.
Masa ini berlangsung selama minimal 3 hari kerja dan selesai selambat-lambatnya 60 hari
setelah efektifnya Pernyataan Pendaftaran. Berakhirnya masa penawaran disusul dengan
penjatahan efek. Penjatahan efek adalah pengalokasian efek pesanan para investor sesuai dengan
jumlah yang tersedia. Efek yang sudah dialokasikan kemudian diserahkan kepada investor dalam
bentuk surat saham kolektif. Sedangkan proses pencatatan efek dimulai dari pengajuan
permohonan pencatatan ke bursa oleh emiten, tentunya berdasarkan Persyaratan Pencatatan Efek
yang berlaku di Bursa Efek Indonesia.
Faktor-faktor utama yang menentukan keberhasilan suatu proses IPO adalah pemilihan
waktu, strategi penawaran dan penetapan harga. Dalam penetapan harga itu sendiri, ada dua hal
utama yang harus diperhatikan penjamin emisi, yaitu:
Memastikan alokasi jatah saham IPO diberikan kepada investor berkualitas. Baik pihak
pemegang kendali saham maupun penjamin emisi tidak ingin saham publik yang dilepas
melalui IPO tersebut diberikan kepada investor-investor yang tidak berkualitas.
Memastikan perdagangan saham di pasar sekunder usai pencatatan (listing) berjalan stabil
atau tidak langsung jatuh karena adanya aksi profit taking.
Banyaknya hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan IPO membuat sebuah
perusahaan (calon emiten) sebaiknya memiliki rencana yang komprehensif, tidak hanya pada
saat melakukan emisi, namun juga setelah proses tersebut. Hal ini untuk memastikan IPO yang
dilakukan benar-benar berhasil dan sesuai dengan tujuan perusahaan.
8


Persiapan Untuk Going Public :
Secara garis besar, persiapan yang harus dilakukan adalah:
1. Rencana go public harus dibawa dan disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham(RUPS).
2. Perusahaan menyediakan pakar-pakar pasar modal dan institusi-institusi pendukunguntuk membantu
penyediaan dokumen-dokumen yang dibutuhkan, yaitu:
Underwriter(penjamin emisi) yang akan mempersiapkan segala sesuatunyaberkaitan dengan proses
penempatan saham di pasar primer.
Profesi-profesi yang terdiri dari: kantor akuntan publik yang independen untuk mengaudit laporan
keuangan selama dua tahun terakhir dengan pendapat unqualified opinion, notaris publik yang
akan mempersiapkan dokumen persetujuan daripemegang sahamdan persetujuan lainnya yang
berkaitan dengan going public
danhasil dari rapat-rapat yang dilakukan, konsultan hukum untuk menyediakan opini-opini yang
berhubungan dengan hukum, dan perusahaan penilai (appraisalcompany) yang akan menilai
kembali (jika diperlukan) aktiva-aktiva yang dimilikioleh perusahaan.
Institusi-institusi pendukung: trustee, penjamin (guarantor), Biro Administrasi Sekuritas, dan
kustodian.
3. Mempersiapkan semua dokumen yang diperlukan untuk penawaran ke public
4. Mempersiapkan kontrak awal dengan bursa.
5. Mengumumkan ke public.
6. Menandatangani perjanjian-perjanjian yang berhubungan dengan going public.
7. Untuk yang akan menjual obligasi, perusahaan harus mendaftarkannya ke agen peringkatuntuk
mendapatkan peringkat untuk obligasi yang ditawarkan. Agen peringkat yangditunjuk adalah PT
Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) yang didirikan pada tanggal21 Desember 1993.
8. Mengirimkan pernyataan registrasi dan dokumen-dokumen pendukung lainnya keBAPEPAM-LK

Registrasi di BAPEPAM
Setelah semua dokumen masuk ke BAPEPAM, maka BAPEPAM melakukan sebagai berikut:
1.Menerima pernyataan registrasi dan dokumen-dokumen pendukung dari perusahaan yang akan going
public dan dari underwriter.
2.Pengumuman terbatas di BAPEPAM-LK
9

3.Mempelajari dokumen-dokumen yang diperlukan.
4.Deklarasi pernyataan registrasi efektif berlaku yang didasarkan pada tiga hal utama, yaitukelengkapan
dokumen, kebenaran dan kejelasan informasi dan pengungkapan (disclosure) tentang aspek-aspek legalitas,
akuntansi, keuangan dan manajemen. Jikaselama 30 hari BAPEPAM tidak memberi jawaban, maka
pernyataan registrasi otomatisefektif.

Pencatatan di Bursa
Setelah BAPEPAM-LK mendeklarasikan keefektifan dari pernyataan registrasi,selanjutnya
underwriter dapat menjual saham perdana tersebut di pasar primer. Setelah penawaran perdana selesai, emiten
(perusahaan yang going public) dapat melakukan proses-proses berikut ini untuk mencantumkan sahamnya di
pasar sekunder (bursa).
1. Emiten mengisi dan menyerahkan aplikasi yang formulirnya disediakan oleh BEI untuk permintaan
mencantumkan sahamnya di bursa efek.
2. BEI akan mengevaluasi aplikasi ini berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan.
3. Jika aplikasi ini memenuhi kriteria yang disyaratkan, BEI akan menyetujuinya.
4. Emiten kemudian harus membayar biaya jasa pencantuman (listing fee). Biaya jasapencantuman terdiri
dari dua macam, yaitu biaya jasa pencantuman awal (initial listing fee) dan biaya jasa pencantuman
tahunan (annual listing fee). Untuk initial listing fee ditentukan sebesar minimum Rp 10 juta dan
maksimum Rp 150 juta (jika ada tambahan listing berikutnya dibebankan biaya tambahan sebesar
minimum sebesar Rp 1 juta untuk setiap kelipatan Rp 1 milyar dari kapitalisasi pasarnya dengan
minimum Rp 10 juta danmaksimum sebesar Rp 150 Juta). Untuk annual listing fee ditentukan sebesar
Rp.500.000,- untuk setiap Rp 1 milyar dari nominal sahamnya, minimum Rp 5 juta danmaksimum Rp
100 juta.5.
5. BEI kemudian akan mengumumkan pencantuman dari saham ini.
6. Saham yang sudah tercantum ini sudah siap untuk diperdagangkan.
Laporan-laporan yang harus dipersiapkan untuk IPO adalah laporan Rutin yang terdiri dari Laporan
Keuangan Tahunan, Laporan Keuangan Tengah Tahunan, Laporan Triwulanan, dan Laporan Penggunaan Dana
Hasil Emisi; Laporan Berkala yaitu laporan mengenai terjadinya setiap kejadian penting dan relevan; dan Laporan
lainnya yang mencakup laporan mengenaiperubahan anggaran dasar, rencana RUPS/RULB, perubahan susunan
direksi dan komisaris, dan mengenai penyimpangan proyeksi yang dipublikasikan lebih dari 10%. Selain itu
perusahaan juga mempersiapkan Prospektus. Prospektus adalah suatu bentuk promosi emiten atas perusahaannya.
10

Emiten akan memasukkan ke dalam prospektus informasi-informasi yang relevandengan bisnis perusahaan
sebagaimana yang disyaratkan oleh Bapepam, dengan harapan dapat menarik banyak calon investor.

Penjamin Emisi Efek (Underwriter)
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.8 tahun 1995 tentang pasar Modal,emiten adalah
pihak yang melakukan penawaran umum. Sebuah perusahaan yang akan go public di mana perusahaan tersebut
melakukan Initial Public Offering (IPO) sahamnya melalui perusahaan sekuritas yang menjadi penjamin
emisi dan melalui agen-agen penjual yang ditunjuk.Penjamin emisi efek adalah pihak yang membuat kontrak
dengan Emiten untuk melakukanPenawaran Umum bagi kepentingan bagi kepentingan Emiten dengan atau
tanpa kewajibanuntuk membeli sisa Efek yang tidak terjual.
Perusahaan tentunya tidak menginginkan jika dalam pelaksanaan penawaran perdanatimbul keraguan,
apakah efek yang dilepas ke para investor terjual habis atau tidak, bila setelah dilepas efek tersebut tidak
terjual habis, maka ini merupakan bencana bagi perusahaan, hal mana selain mengakibatkan
kerugian sebab biaya-biaya yang telah dikeluarkan tidak dapatditarik kembali, juga akan menjatuhkan reputasi
perusahaan. Untuk itulah maka diperlukanperusahaan efek yang bertindak sebagai penjamin emisi efek
(underwriter) perusahaan, yang umumnya dalam praktek di Indonesia, dalam penawaran umum perdana praktis
semuapenjaminan emisi di lakukan dengan sistem penjaminan full commitment. Maka peran dan tanggung
jawab underwriter dalam perjanjian full commitment di pasar perdana sangatlah penting.
Peran underwriter dimulai sejak hari pertama emiten berniat menawarkan sahamnyakepada
masyarakat. Peran underwriter mulai dari membantu emiten menyiapkan penawaranumum, melakukan due
diligence, menyiapkan pernyataan pendaftaran, sampai kepada prosespenawaran umum perdana. Underwriter
dalam perjanjian full commitment bertanggung jawabatas sisa efek yang tidak terjual, sesuai dengan ketentuan
dalam kontrak penjaminan emisi efek yang tunduk kepada UUPM dan KUH Perdata.
Adapun kategori penyimpangan oleh underwriter pada proses penawaran umum perdana,antara lain:
masalah penjatahan saham yang dapat berakibat pada benturan kepentingan (conflict of interest), manipulasi
harga dalam upaya stabilisasi, dan penyimpangan bentuk penjaminanemisi oleh underwriter dan emiten. Akibat
hukum yang dikenakan terhadap ketiga kategori penyimpangan ini ditentukan dalam UUPM dan PP No. 45
Tahun 1995, yaitu berupa sanksiadministratif dan denda. Mengenai perselisihan antara para pihak dalam
perjanjian penjaminanemisi efek, akan diselesaikan secara musyawarah, jika tidak tercapai persesuaian paham,
makadiajukan ke Pengadilan Negeri atau diselesaikan melalui Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia(BAPMI)

11


E. Right Issue (Hak memesan efek terlebih dahulu)
1. Pengertian dan Tujuan Right Issue
Right issue lebih dikenal dengan istilah hak memesan efek terlebih dahulu yaitu hak yang
melekat pada saham yang memungkinkan para pemegang saham yang ada untuk membeli Efek
baru, termasuk saham, Efek yang dapat dikonversikan menjadi saham dan waran, sebelum
ditawarkan kepada Pihak lain. Ketika terjadinya right issue maka pemegang saham lama
(existing shareholder) memiliki hak terlebih dahulu (pre-emptive right) atas saham baru yang
dikeluarkan perusahaa, biasanya ditawarkan dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar
menurut perbandingan jumlah saham yang dimiliki oleh masing-masing pemegang saham lama.
Hak memesan efet terlebih dahulu bersifat hak tersebut wajib dapat dialihkan, bila
pemegang saham lama tidak menggunakan haknya, maka ia dapat menjual haknya di bursa
pada jadwal yang telah ditentukan namun jika pemegang saham tidak melaksanakan haknya
maka konsekuensinya adalah porsi kepemilikannya menjadi terdilusi (berkurang) karena
penambahan saham perusahaan tidak diikuti oleh penambahan kepemilikan pemegang saham
yang bersangkutan. Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu merupakan hak yang dapat dialihkan
dan dibuktikan dengan :
a. catatan pemilikan dalam Daftar Pemegang Saham Perusahaan atau Biro Administrasi
Efek
b. Sertifikat Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk
pemegang saham yang terdaftar pada tanggal tertentu. Sertifikat tersebut wajib tersedia
sebelum dimulai dan selama periode perdagangan
c. kupon yang dapat dilepas dari surat saham; atau
d. konfirmasi atau laporan rekening Efek yang diterbitkan oleh Kustodian.
Right issue (HMETD) terkait erat dengan Pre-emptive Right (hak yang dimiliki oleh
pemegang saham untuk mempertahankan persentase kepemilikannya). Sebagaimana diatur
dalam Peraturan Bapepam No. IX D.1 tentang hak memesan efek terlebih dahulu khususnya
dalam butir 2 disebutkan bahwa Apabila suatu perusahaan yang telah melakukan Penawaran
Umum saham atau Perusahaan Publik bermaksud untuk menambah modal sahamnya, termasuk
melalui penerbitan Waran atau Efek konversi, maka setiap pemegang saham wajib diberi Hak
12

Memesan Efek Terlebih Dahulu atas Efek baru dimaksud sebanding dengan persentase
pemilikan mereka.
Perusahaan melakukan rights issue dengan tujuan memperoleh penambahan modal secara
murah, yang biasanya digunakan untuk ekspansi usaha, akuisisi Perusahaan lain, modal kerja dan
membayar hutang. Beberapa emiten perbankan melakukan right issue untuk memperkuat
struktur modal dan meningkatkan rasio kecukupan modal (CAR). Rights issue memberikan
sentimen positif jika dana yang diperoleh dikembangkan untuk proyek yang menjanjikan imbal
hasil yang tinggi, baik itu proyek investasi baru, akuisisi perusahaan lain atau peningkatan modal
kerja. Tapi kalau cuma untuk bayar utang, hal ini mengirimkan sentimen negatif ke pasar bahwa
manajemen kesulitan untuk membayar utang atau terbebani dengan beban bunga yang tinggi.
Maka imbal hasil bagi investor agak diragukan kalau hasil right issue sekedar untuk bayar utang.
Pada umumnya rights issue dibenci pasar dan dapat menyebabkan penurunan nilai saham.
Lembaga-lembaga yang terkait dalam penawaran umum terbatas (right issue) yaitu
1. Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal)
Berdasarkan pasal 5 huruf d Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang pasar modal,
Bapepam menetapkan persyaratan dan tata cara pernyataan pendaftaran serta
menyatakan, menunda atau membatalkan efektifnya pernyataan pendaftaran.
2. Bursa Efek Indonesia (BEI)
Sebagai pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan atau sarana untuk
mempertemukan penawaran jual dan beli efek pihak-pihak lain dengan tujuan
memperdagangkan efek diantara mereka (pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 8
Tahun 1995 tentang Pasar Modal).
3. Lembaga Penyimpanan Dan Penyelesaian (LPP)
PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai pihak yang menyelenggarakan jasa
penyimpanan dan penyelesaian yang memenuhi standar internasional dengan tujuan agar
transaksi bursa berjalan teratur, wajar dan efisien dengan menerapkan beberapa hal yaitu:
1. Mengimplementasikan sistem penyelesaian transaksi melalui pemindahbukuan
2. Menyediakan layanan lintas batas
3. Mengimplementasikan rekomendasi IOSCO, delivery vs payment, dan siklus
penyelesaian transaksi yang lebih pendek.
4. Menyediakan rencana kelangsungan usaha dan fasilitas penanggulangan bencana
13

5. Berpartisipasi dalam pengembangan pasar modal yang likuid dan efesien.
Lembaga penunjang Pasar Modal yang berkaitan dengan Penawaran Umum Terbatas
(Right Issue) yaitu:
a. Biro Administrasi Efek, adalah pihak yang berdasarkan kontrak emiten melaksanakan
pencatatan pemilikan efek dan pembagian hak yang berkaitan dengan pembagian
efek.
b. Kustodian, adalah pihak yang memberikan jasa penitipan efek dan harta lain,
termasuk menerima deviden, bunga dan hak-hak lain, menyelesaikan transaksi efek,
dan mewakili pemegang rekening yang menjadi nasabahnya.
Profesi penujang pasar modal yang terkait dengan penawaran umum terbatas (right issue) yaitu:
1. Akuntan publik, fungsi utama akuntan public dalam rangka penawaran umum terbatas
adalah untuk melaksanakan pemeriksaan (audit) berdasarkan standar audit yang
ditetapkan oleh IAI, dalam hal ini tanggung jawab akuntan public adalah membantu
emiten dalam proses emisinya, yakni berupa penyusunan prospektus dan laporan tahunan,
yang mencakup laporan keuangan audit, disajikan secara jelas serta membantu emiten
dalam memenuhi persyaratan mengenai keterbukaan dengan mengungkapkan informasi
dan fakta material yang relevan kepada masyarakat.
2. Notaris, ruang lingkupnya yaitu menyusun anggaran dasar para pelaku pasar modal,
menyiapkan dan membuat akta-akta dalam rangka penawaran umum terbatas serta
membuat berita acara rapat mengenai hal tersebut.
3. Penasehat Hukum, ruang lingkup tugas penasehat hukum dalam rangka penawaran umum
terbatas, adalah memberikan pendapat hukum mengenai perseroan (emiten) serta
membantu nasabah dalam melakukan kegiatannya agar sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
4. Penilai, ruang lingkup tugas penilai adalah melakukan penilaian terhadap aktiva tetap
perusahaan, menentukan nilai wajar atas suatu aktiva emiten dan menyusun standar kerja
profesi dalam rangka untuk menyeragamkan metode penilaian.



14

2. Pengertian Pre- Emptive Right dan Kaitannya dengan Right Issue
Pre- Emptive Right merupakan hak yang dimiliki oleh pemegang saham lama untuk
didahulukan dalam mengambil bagian dalam penerbitan saham baru yang dikeluarkan oleh
perseroan ketika ada peningkatan modal ditempatkan (Berdasarkan pasal 33 ayat 1 Undang-
undang 40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas, dikatakan bahwa paling sedikit 25% dari
modal dasar harus ditempatkan dan disetor penuh), secara proporsional sesuai dengan jumlah
saham yang dimilikinya, jika perusahaan membutuhkan dana melebihi modal dasar, maka
sebelum melakukan penawaran umum terbatas, perusahaan tersebut harus mengubah anggaran
dasarnya dengan menambah modal dasar perusahaan tersebut melebihi dana/modal yang
dibutuhkan oleh perusahaan sehingga dapat melaksanakan right issue.
Pre- Emptive Right diberikan agar pemegang saham lama diberi kesempatan untuk
mempertahankan presentase kepemilikan sahamnya dalam suatu perseroan, dengan tujuan
melindungi pemegang saham dari dilusi nilai dan pengendalian saat saham tersebut diterbitkan.
Pre- Emptive Right menurut Undang-undang No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
menyebutkan bahwa seluruh saham yang dikeluarkan untuk penambahan modal harus terlebih
dahulu ditawarkan kepada setiap pemegang saham seimbang dengan kepemilikan saham untuk
klasifikasi saham yang sama dan dalam hal saham yang akan dikeluarkan untuk penambahan
modal merupakan saham yang diklasifikasinya belum pernah dikeluarkan, yang berhak membeli
terlebih dahulu adalah seluruh pemegang saham sesuai dengan perimbangan jumlah saham yang
dimiliki.
Adapun tujuan dari adanya Pre- Emptive Right adalah:
a. Agar pemilik saham lama dapat mempertahankan kekuasaan pengendalian atas
perusahaan, pemegang saham lama dapat mencegah manajemen perusahaan untuk
menjual saham baru dengan harga lebih rendah dari harga pasar kepada pemegang
saham baru.
b. Untuk mencegah penurunan nilai kekayaan pemilik saham setelah right issue
dilaksanakan, untuk itu pemegang saham harus berhati-hati bila perusahaan
menerbitkan saham baru, karena pemegang saham harus memperhitungkan seberapa
besar dilusi yang dapat terjadi terhadap saham yang dimilikinya.


15

3. Ketentuan Pelaksanaan Right I ssue
Ketentuan yang diperlukan untuk menambah modal perseroan melalui penerbitan hak
memesan efek terlebih dahulu (right issue) sebagai berikut:
1. Harga pelaksanaan right issuetidak boleh lebih rendah dari nilai nominal.
2. Pengumuman oleh perusahaan kepada para pemegang saham
Dalam peraturan Bapepam Nomor IX D.1 tentang Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu
(HMETD) disebutkan bahwa untuk dapat melaksanakan RUPS dalam rangka penambahan
modal dengan HMETD, emiten harus telah mengajukan pernyataan pendaftaran dan dokumen
pendukungnya kepada Bapepam dalam bentuk serta mencakup informasi yang ditetapkan dalam
penawaran umum dengan hak memesan efek terlebih dahulu sesuai dengan peraturan Bapepam
No. IX D.2 tentang pedoman mengenai bentuk dan isi pernyataan pendaftaran dalam rangka
penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu, hal ini merupakan pengumuman oleh perusahaan
kepada para pemegang saham yang dilakukan paling selambat-lambatnya 28 hari sebelum
RUPS, adapun informasi yang harus disampaikan antara lain:
a. Nama lengkap Emiten atau Perusahaan Publik, alamat kantor pusat, telepon, teleks,
faksimili, E-mail dan kotak pos;
b. Uraian mengenai Efek yang timbul sebagai akibat dari pelaksanaan penerbitan Hak
Memesan Efek Terlebih Dahulu.
c. Tanggal Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS);
d. Tanggal pencatatan pemegang saham yang mempunyai Hak Memesan Efek Terlebih
Dahulu pada Daftar Pemegang Saham atau nomor kupon untuk menentukan Hak
Memesan Efek Terlebih Dahulu;
e. Tanggal terakhir dari pelaksanaan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu dengan
pemberitahuan bahwa hak yang tidak dilaksanakan pada tanggal tersebut tidak berlaku
lagi dan tanggal terakhir pembayaran.
f. Periode perdagangan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu;
g. Harga pelaksanaan Efek;
h. Rasio Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atas saham yang ada;
i. Tata cara pemesanan Efek;
j. Uraian mengenai perlakuan Efek yang tidak dibeli oleh yang berhak dan Hak Memesan
Efek Terlebih Dahulu dalam bentuk pecahan;
16

k. Pernyataan mengenai tata cara pengalihan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu;
l. Tata cara penerbitan dan penyampaian bukti Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu serta
Efek;
m. Nama Bursa Efek tempat diperdagangkannya Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu dan
saham yang mendasarinya tercatat (jika ada);
n. Rencana Emiten atau Perusahaan Publik untuk mengeluarkan atau tidak mengeluarkan
saham atau Efek lain yang dapat dikonversikan menjadi saham dalam waktu 12 (dua
belas) bulan setelah tanggal efektif;
o. Nama lengkap Pihak yang bertindak sebagai pembeli siaga (jika ada);
p. Dampak dilusi dari penerbitan Efek baru;
q. Penggunaan dana hasil Penawaran Umum dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu;
r. Ringkasan analisis dan pembahasan oleh manajemen; dan
s. Informasi tentang tempat Prospektus dapat diperoleh.
Dokumen- dokumen yang dibutuhkan dalam right issue yaitu:
a) Rencana jadwal Penawaran Umum Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu;
b) Perjanjian yang menetapkan pembelian Efek yang tidak dipesan melalui penawaran Hak
Memesan Efek Terlebih Dahulu (jika ada);
c) Perjanjian perwaliamanatan (jika ada);
d) Perjanjian penanggungan (jika ada);
e) Informasi penggunaan dana dari hasil Penawaran Umum sebelumnya;
f) Laporan Keuangan
1. laporan Akuntan berkaitan dengan laporan keuangan yang disajikan;
2. menyajikan laporan keuangan untuk jangka waktu 2 (dua) tahun terakhir terdiri dari:
a. Neraca
b. laporan laba rugi;
c. laporan perubahan Ekuitas;
d. laporan arus kas;
e. catatan atas laporan keuangan; dan
f. laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan
g. keuangan jika dipersyaratkan, seperti laporan komitmen dan kontinjensi untuk
Emiten atau Perusahaan Publik yang bergerak dalam bidang perbankan. Dalam
17

hal efektifnya Pernyataan Pendaftaran melebihi 180 (seratus delapan puluh) hari
dari laporan keuangan terakhir, maka laporan keuangan tahunan terakhir harus
dilengkapi dengan laporan keuangan interim yang telah diaudit, sehingga jangka
waktu antara tanggal efektif Pernyataan Pendaftaran dan tanggal laporan
keuangan interim tidak melampaui 180 (seratus delapan puluh) hari;
g) Surat dari Akuntan (comfort letter) sehubungan dengan perubahan keadaan keuangan
Emiten atau Perusahaan Publik yang terjadi setelah tanggal laporan keuangan yang
diaudit oleh Akuntan.
h) Surat pernyataan dari Emiten atau Perusahaan Publik di bidang akuntansi
i) keterangan lebih lanjut tentang prakiraan dan atau proyeksi, jika dicantumkan dalam
Prospektus.
j) Kebijakan dividen serta riwayat pembayaran dividen.
k) Laporan pemeriksaan dan pendapat dari segi hukum (sehubungan dengan perubahan yang
terjadi setelah tanggal dikeluarkannya pendapat hukum sebelumnya dan hal yang
berkaitan dengan penggunaan dana hasil Penawaran Umum)
l) surat pencabutan pembatasan-pembatasan (negative covenant) yang dapat merugikan
kepentingan pemegang saham publik dari kreditu
m) Dokumen-dokumen sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Nomor IX.E.1 tentang
Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu atau Peraturan Nomor IX.E.2 tentang
Transaksi Material Dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama Perusahaan, dalam hal
penggunaan dana untuk ekspansi termasuk pembelian aktiva.
n) Pernyataan Profesi Penunjang Pasar Modal sesuai dengan Formulir Nomor IX.C.1-4
Lampiran 4 Peraturan Nomor IX.C.1; dan
o) Informasi lain sesuai dengan permintaan Bapepam yang dipandang perlu dalam
penelaahan Pernyataan Pendaftaran, sepanjang dapat diumumkan kepada masyarakat
tanpa merugikan kepentingan emiten atau perusahaan publik.

Bapepam dapat memperoleh informasi lain yang tidak merupakan bagian dari Pernyataan
Pendaftaran dan tidak dimaksudkan untuk diumumkan kepada masyarakat karena dapat
merugikan kepentingan Emiten atau Perusahaan Publik atau Pihak yang terafiliasi seperti:
a. NPWP dari anggota komisaris, direksi dan pemegang saham utama;
18

b. fotokopi KTP dan atau bukti kewarganegaraan bagi Warga Negara Indonesia, dan
fotokopi paspor atau tanda bukti lain bagi Warga Negara Asing;
c. fotokopi anggaran dasar para pemegang saham yang bukan perorangan;
d. surat pernyataan yang dibubuhi meterai Rp 2.000,00 (dua ribu rupiah) dari anggota
komisaris dan direksi tentang keterlibatan atau tidaknya dalam kasus hukum
e. keterangan lain yang diterima oleh Bapepam dari Pihak yang terlibat dalam suatu
Penawaran Umum untuk mendukung kecukupan dan ketelitian dari pengungkapan yang
diwajibkan.
3. Menyediakan prospektus bagi pemegang saham

Selambat-lambatnya 28 hari sebelum RUPS dilaksanakan prospektus yang dikeluarkan
adalah prospektus pendahuluan mengenai penawaran HMETD, bentuk dan isi prospectus harus
sesuai dengan Peraturan Bapepam Nomor IX. D.3. Adapun bentuk dan isi dari prospektus yaitu:
1. nama lengkap Emiten atau Perusahaan Publik, alamat kantor pusat, telepon, teleks,
faksimili, E-mail dan kotak pos.
2. Uraian mengenai Efek yang timbul sebagai akibat dari pelaksanaan penerbitan Hak
Memesan Efek Terlebih Dahulu.
3. Tanggal Rapat Umum Pemegang Saham;
4. Tanggal daftar pemegang saham yang berhak memperoleh Hak Memesan Efek
Terlebih Dahulu.
5. Tanggal terakhir dari pelaksanaan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu dengan
pemberitahuan bahwa hak yang tidak dilaksanakan pada tanggal tersebut tidak
berlaku lagi dan tanggal terakhir pembayaran.
6. Periode perdagangan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu.
7. Harga pemesanan Efek
8. Rasio Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atas saham yang ada.
9. Tata cara pemesanan Efek
10. Uraian mengenai perlakuan Efek yang tidak dibeli oleh yang berhak dan Hak Memesan Efek
Terlebih Dahulu dalam bentuk pecahan.
11. Pernyataan mengenai tata cara pengalihan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu
12. Tata cara penerbitan dan penyampaian bukti Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu
serta surat Efek.
19

13. Nama Bursa Efek tempat diperdagangkannya Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu
dan saham yang mendasarinya tercatat (jika ada).
14. Rencana Emiten atau Perusahaan Publik untuk mengeluarkan atau tidak
mengeluarkan saham atau Efek lain yang dapat dikonversikan menjadi saham dalam waktu
12 (dua belas) bulan setelah tanggal efektif.
15. Nama lengkap Pihak yang bertindak sebagai pembeli siaga (jika ada).
16. pernyataan berikut dalam huruf cetak besar yang dapat secara langsung menarik
perhatian para pembaca:
a. BAPEPAM TIDAK MEMBERIKAN PERNYATAAN MENYETUJUI ATAU
TIDAK MENYETUJUI EFEK INI, TIDAK JUGA MENYATAKAN
KEBENARAN ATAU KECUKUPAN ISI PROSPEKTUS INI. SETIAP
PERNYATAAN YANG BERTENTANGAN DENGAN HAL-HAL TERSEBUT
ADALAH PERBUATAN MELANGGAR HUKUM.
b. EMITEN ATAU PERUSAHAAN PUBLIK BERTANGGUNG JAWAB
SEPENUHNYA ATAS KEBENARAN SEMUA KETERANGAN, DATA, ATAU
LAPORAN DAN KEJUJURAN PENDAPAT YANG TERCANTUM DALAM
PROSPEKTUS.
17. Pernyataan bahwa sehubungan dengan Penawaran Umum, setiap Pihak terafiliasi
dilarang untuk memberikan keterangan atau pernyataan mengenai data yang tidak
diungkapkan dalam Prospektus, tanpa persetujuan tertulis dari Emiten atau
18. Perusahaan Publik; pernyataan bahwa sehubungan dengan Penawaran Umum, setiap Pihak
terafiliasi dilarang untuk memberikan keterangan atau pernyataan mengenai data yang tidak
diungkapkan dalam Prospektus, tanpa persetujuan tertulis dari Emiten atau
Perusahaan Publik;
19. Pernyataan ringkas dalam huruf cetak besar yang dapat secara langsung menarik perhatian
para pembaca tentang faktor risiko yang material yang mungkin mempunyai dampak
merugikan bagi pemodal; dan
20. Pernyataan ringkas dalam huruf cetak besar yang dapat secara langsung menarik
perhatian para pembaca tentang dampak dilusi dari penerbitan efek baru.


20

4. Mengadakan RUPS
Untuk mempertimbangkan dan menyetujui alasan-alasan dan rencana penawaran umum
terbatas tersebut, dengan memperhatikan kondisi keuangan perusahaan yang telah diumumkan
sebelumnya dalam prospektus, sesuai dengan prinsip keterbukaan , hal ini sesuai dengan pasal 41
ayat 1 Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas.
5. Penelitian atau penelahan oleh Bapepam
Sampai pemberian pernyataan dinyatakan efektif. Pernyataan efektif ini diberikan oleh
Ketua Bapepam. Tahap ini sangat menentukan karena dari sinilah dapat diketahui apakah efek
yang diterbitkan perusahaan dapat ditawarkan kepada masyarakat sebagai pemegang saham atau
tidak. Sebelum dinyatakan efektif, Bapepam melakuka penelahan sesuai dengan ketentuan yang
berlaku terhadap dokumen-dokumen yang sekurang-kurangnya terdiri dari surat pernyataan
pendaftaran, prospectus dan dokumen lain yang diperlukan sebagai bagian dari pernyataan
pendaftaran. Pernyataan pendaftaran yang diajukan baru dapat menjadi efektif setelah
memperoleh persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS tentang penawaran HMETD.
Setelah pernyataan pendaftaran menjadi efektif, maka emiten dapat mulai melakukan penawaran
rightnya (pelaksanaan right) sesuai dengan jadwal pelaksanaan penawaran umum terbatas yang
dicantumkan dalam pengumuman rightnya.

4. Harga Teoritis Akibat Right Issue
Nilai dari hak memesan efek terlebih dahulu (HMTED) yang sah akan berbeda-beda dari
HMTED yang satu dengan yang lainnya berdasarkan kekuatan permintaan dan penawaran yang
ada pada saat ditawarkan.
Rumus untuk menghitung harga teoretis saham yang melakukan right issue :
Harga Teoretis = ((RSL x KAC) + (RSB x HPL)) / (RSL + RSB)
Dimana:
RSL = Rasio Saham Lama
RSB = Rasio Saham Baru
HPL = Harga Pelaksanaan
KAC = Kurs Akhir Cum-Date (Harga Saham pada saat Cum-Date)
Contoh :
Multistrada Arah Sarana Tbk. (MASA) melakukan Right Issue dengan perbandingan 2:1 pada
21

harga pelaksanaan Rp 500 (setiap pemegang 2 saham lama memperoleh hak untuk membeli 1
saham baru diharga Rp500). Yang mendapatkan hak adalah pemegang saham yang tercatat pada
waktu tertentu dan tanggal transaksi pembelian tertentu (masa Cum HMETD). Bila harga pada
Cum HMETD adalah Rp 600 maka harga teoritis pada saat Ex HMETD (perdagangan tanpa
Right) adalah sebagai berikut :
RSL = 2
RSB = 1
HPL = 500
KAC = 600
Harga Teoretis = ((RSL x KAC) + (RSB x HPL)) / (RSL + RSB)
Harga Teoretis = ((2 x 600) + (1 x 500)) / (2 + 1) = Rp 570 (hasil pembulatan)
Dengan harga teoritis sebesar Rp 570 berarti terjadi penurunan Rp 30 per saham.

5. PENAMBAHAN MODAL TANPA HAK MEMESAN EFEK TERLEBIH
DAHULU

Emiten atau Perusahaan Publik dapat menambah modal tanpa memberikan Hak Memesan
Efek Terlebih Dahulu kepada pemegang saham sebagaimana ditentukan dalam angka 2
Peraturan Nomor IX.D.1, sepanjang ditentukan dalam anggaran dasar, dengan ketentuan sebagai
berikut:
a. Jika dalam jangka waktu 2 (dua) tahun, penambahan modal tersebut paling banyak
10 % (sepuluh perseratus) dari modal disetor; atau
b. Jika tujuan utama penambahan modal adalah untuk memperbaiki posisi keuangan
perusahaan yang mengalami salah satu kondisi sebagai berikut:
1) bank yang menerima pinjaman dari Bank Indonesia atau lembaga pemerintah lain
yang jumlahnya lebih dari 100% (seratus perseratus) dari modal disetor atau kondisi
lain yang dapat mengakibatkan restrukturisasi bank oleh instansi Pemerintah yang
berwenang
2) perusahaan selain bank yang mempunyai modal kerja bersih negatif dan
mempunyai kewajiban melebihi 80% (delapan puluh perseratus) dari aset perusahaan
tersebut pada saat RUPS yang menyetujui penambahan modal; atau
22

3) perusahaan yang gagal atau tidak mampu untuk menghindari kegagalan atas
kewajibannya terhadap pemberi pinjaman yang tidak terafiliasi dan jika pemberi
pinjaman tersebut atau pemodal tidak terafiliasi menyetujui untuk menerima saham
atau obligasi konversi perusahaan untuk menyelesaikan pinjaman tersebut.

Emiten atau Perusahaan Publik yang akan melakukan penambahan modal tanpa Hak
Memesan Efek Terlebih Dahulu wajib mengumumkan informasi kepada pemegang saham paling
lambat 14 (empat belas) hari sebelum RUPS yang antara lain memuat:
1. Mekanisme penambahan modal tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu, yaitu
melalui Penawaran Umum atau tanpa melalui Penawaran Umum beserta alasannya;
2. Analisis dan pembahasan manajemen perusahaan mengenai kondisi keuangan
Perusahaan sebelum dan sesudah penambahan modal tanpa Hak Memesan Efek
Terlebih Dahulu serta pengaruhnya terhadap pemegang saham setelah penambahan
modal; dan
3. alasan bahwa penambahan modal tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu
merupakan pilihan terbaik bagi seluruh pemegang saham; dengan memenuhi Prinsip
Keterbukaan.














23

Kasus
Pengungkapan informasi material
Perusahaan Gas Negara

Kasus yang dialami oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk yang berindikasi bermula pada
jatuhnya dalam penjualan saham dibursaefek. Terjadinya pada periode 12 september 2006
sampai dengan 11 januari 2007. Terdapat indikasi terjadinya pelangaran terhadap peraturan
undang-undang pasar modal pada transaksi penjualan saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk.
Semuanya terjadi bermula dari penurunan secara signifikan harga saham PT Perusahaan Gas
Negara Tbk di Bursa Efek Jakarta, yaitu dari Rp 9.650,00 (harga penutupan pada tanggal 11
januari 2006) menjadi Rp 7.400,00 per lembar saham pada tanggal 12 januari 2007.
Dugaan adanya insider tradingsangat terasa pada saat harga saham PGN anjlok pada
harga Rp 7.400,00. Jatuhnya harga sahamtersebut dilihat tidak wajar, karena merujuk pada harga
sebelumnya Rp 9.650,00 berarti telah jatuh sebanyak 23,36%. Melihat dengan jatuhnya harga
saham dalam penjualan dibursa efek, patut diduga bahwa adanya kesalahan atau pun kesengajaan
dalam hal transaksi yang dilakukan oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk.
Pada masa periode 12 September 2006 sampai dengan 11 Januari 2007, yang dimana
telah terjadi penurunan dalam penjualan saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk diduga
dikarenakan adanya tindakan Insider tradingyang dilakukan. Namun, pembuktian terhadap
dugaan insider trading tidaklah gampang, membutuhkan waktu yang cukup lama, karena
keterbatasan teknologi yang tertinggal kemajuannya dibandingkan pada perkembangan pasar.
Pada masa periode tersebut, yaitu 12 September 2006 sampai dengan 11 Januari 2007
terdapat adanya perdagangan saham yangdilakukan oleh para pihak orang dalam perusahaan.
Mereka yang termasuk orang dalam telah melakukan transaksi saham perusahaan PT
Perusahaan Gas NegaraTbk antara lain adalah:
a. Adil Abas sebagai Direktur Pengembangan sebagaimanatercantum dalam laporan
keuangan PT Perusahaan Gas Negara Tbk tertanggal 31 Desember 2005 dan 31
Desember 2006.
b. W. M. P. Simandjuntak sebagai Direktur Utama sebagaimana tercantum dalam
laporan keuangan PT Perusahaan Gas Negara Tbktertanggal 31 Desember 2005
24

dan sebagai anggota Komisaris sesuai laporan keuangan tertanggal 31 Desember
2006.
c. Nursubagjo Prijono, sebagai Direktur Pengusahaan sebagaimana tercantum dalam
laporan keuangan PT Perusahaan Gas Negara Tbktertanggal 31 Desember 2005.
d. Widyatmiko Bapang.
e. Iwan Heriawan.
f. Djoko Saputro.
g. Hari Pratoyo.
h. Rosichin.
i. Thohir Nur Ilhami.
Selain dugaan terjadinya praktek haram insider tradingpada transaksi saham PT
Perusahaan Gas Negara Tbk, terdapat juga indikasi terjadinya pelanggaran prinsip keterbukaan
informasi yang di lakukan. Penurunan harga saham yang signifikan tersebut sangat erat
hubungannya dengan siaran pers yang dilakukan manajemen PT Perusahaan Gas Negara Tbk
sehari sebelum (11 januari 2007). Dalam siaran pers tersebut dinyatakan bahwa terjadikoreksi
atas rencana besarnya volume gas yang akan dialirkan, yaitu mulai dari (paling sedikit) 150
MMSCFD menjadi 30 MMSCFD. Dan terdapat Pernyataan bahwa tertundanya gas ini yang
semula akan dilakukan pada akhir Desember 2006 tertunda menjadi Maret 2007.Penundaan
proyek komersialisasi pemipaan gas PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dari Sumatra Selatan
sampai Jawa Barat dan yang membuat informasi ini berhubungan erat dengan kasus anjloknya
harga saham PGN, yaitu manajemen PT Perusahaan Gas Negara Tbk baru menjelaskan
penundaan komersialisasi gas pada 11 Januari 2007.

Landasan Hukum yang Mengaharuskan Prinsip Keterbukaan dalam Pasar Modal
Keterbukaan ini diharuskan karena pada dasarnya para calon investor (pemodal)
mempunyai hak untuk mengetahui secara detail mengenai segala sesuatu tentang bisnis
perusahaan, di mana mereka akan menempatkan uangnya, maka untuk itu harus dapat dimengerti
bahwa hal tersebut juga merupakan suatutahap dari peralihan dari perusahaan privat
menjadiperusahaan publik, yang merupakan suatu hal yang sangat menantang bagi pemilik dan
manajemennya.
25

Selanjutnya Keputusan Ketua BAPEPAM Nomor: Kep-86/PM/1996 dan Peraturan
Nomor X.K.1 menyatakan :
informasi atau fakta material yang diperkirakan dapat mempengaruhi efek atau keputusan
investasi pemodal, antara lain hal-hal sebagai berikut :
a. Penggabungan usaha, pembelian saham, peleburan usaha, atau pembentukan usaha
patungan ;
b. Pemecahan saham atau pembagian deviden saham;
c. Pendapatan dari deviden yang luar biasa sifatnya;
d. Perolehan atau kehilangan kontrak penting;
e. Produk atau penemuan baru yang berarti;
f. Perubahan dalam pengendalian atau perubahan pentingdalam manajemen;
g. Pengumuman pembelian kembali atau pembayaran efek yang bersifat utang;
h. Penjualan tambahan efek kepada masyarakat atau secara terbatas yang material
jumlahnya;
i. Pembelian, atau kerugian penjualan aktiva yang material;
j. Perselisihan tenaga kerja yang relatif penting;
k. Tuntutan hukum yang penting terhadap perusahaan danatau direktur dan komisaris
perusahaan;
l. Pengajuan tawaran untuk pembelian efek perusahaan lain;
m. Penggantian akuntan yang mengaudit perusahaan;
n. Penggantian wali amanat;
o. Perubahan tahun fiskal perusahaan.

Ketentuan tentang prinsip keterbukaan juga diatur dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun
1995 tentang Pasar Modal, Pasal 86 Butir 1 yaitu : Emiten yang pernyataan pendaftarannya
telah manjadi efektif atau perusahaan publik wajib menyampaikan laporan secara berkala kepada
Bapepam dan mengumumkan laporan tersebut kepada masyarakat; dan menyampaikan laporan
kepada Bapepam dan mengumumkan kepada masyarakat tentang peristiwa material yang dapat
memengaruhi harga efek selambat-lambatnya pada akhir hari kerja ke-2 (kedua) setelah
terjadinya peristiwa tersebut.
26

Pada pasal 86 butir 1 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995, mempunyai unsur-unsur,
yaitu :
1. Peristiwa material yang dapat mempengaruhi harga efek
2. Segera diumumkan selambat-lambatnya pada akhir kerja ke-2 (kedua) setelah
terjadinya peristiwa tersebut
3. Wajib menyampaikan laporan kepada Bapepam dan masyarakat
Landasan Hukum yang Melarang praktek Insider Trading dalam Pasar Modal
Dalam pasal 95, 96, dan 97 UUPM ditentukan bahwa pihak yang mempunyai informasi
orang dalam, baik dia merupakan orang dalam atau bukan dilarang melakukan pembelian atau
penjualan atas efek emitenatau perusahaan publik dimaksud atau perusahaan lain yang
melakukan transaksi dengan emiten atau perusahaan publik yang bersangkutan. Selian itu juga
dilarang mempengaruhipihak lain untuk melakukan pihak lain untuk melakukan pembelian atau
penjualan atas efek yang dimaksud atau memberi informasi orang dalam kepada pihak mana pun
yang patut diduganya dapat menggunakan informasi dimaksud untuk melakukan pembelian atau
penjualan atas efek.
Larangan mengenai praktek insider tradingtelah diatur dalam UU Pasar Modal Bab XI,
yang mengatur mengenai Penipuan, Manipulasi Pasar dan Perdagangan Orang Dalam. Aturan
mengenai perdagangan orang dalam diatur dalam pasal 95 sampai dengan pasal 99.
Ringkasan Putusan
Badan Pengawas Pasar Modal dan lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mengumumkan hasil
pemeriksaan terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal yang
di lakukan oleh PT Perusahaan Gas Negara (persero) Tbk. (PT PGN), sebagai berikut :
1. Bapepam-LK telah melakukan pemeriksaan terhadap dokumen dan pihak-pihak terkait
dengan pelanggaran pasal 86 undang-undang pasar modal jo Peraturan Nomor X.K.1
tentang Keterbukaan Informasi yang harus segera diumumkan kepada publik yang
dilakukan oleh PT PGN.
2. Atas pelanggaran Pasal 86 Undang-undang Pasar Modal jo. Peraturan Nomor X.K.1yang
dilakukan oleh PT PGN ditemukan bukti sebagai berikut :
a. Terdapat keterlambatan pelaporan keterbukaan informasi atas penundaan proyek
pipanisasi yang dilakukan oleh PT PGN sebanyak 35 hari
3. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka BAPEPAM-LK menetapkan sebagai berikut:
27

a. Sanksi denda sebesar Rp 35.000.000,00 kepada PT Perusahaan Gas Negara Tbk
atas pelanggaran Pasal 86 Undang-undang Pasar Modal jo. Peraturan Nomor
X.K.1
b. Sanksi denda sebesar Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) kepada Direksi PT
PGN yang menjabat pada periode bulan juli 2006 yaitu Sutikno, adil abas, Djoko
Pramono, WMP Simanjuntak dan Nursubagjo Prijon
4. Keputusan pengenaan sanksi sebagaimana butir 3 huruf b di atas, didasarkan pada
pertimbangan sebagai berikut :
a. Segera memberikan kepastian hukum kepada industri Pasar Modal dalam rangka
memelihara kepercayaan publik terhadap Pasar Modal Indonesia
b. Memberikan efek jera kepada pelaku Pasar Modal Khususnya manajemen Emiten,
agar lebih cermat dan bertanggung jawab atas kebenaran dari keterangan yang
diberikan kepada publik.
5. Disamping pengenaan sanksi di atas, Bapepam-LK masih melanjutkan pemeriksaan
terhadap indikasi adanya perdagangan saham berdasarkan informasi orang dalam yang
diduga dilakukan oleh pihak orang dalam PT.PGN dan pihak-pihak yang terkait dengan
transaksi yang dilakukan oleh perusahaan Efek Anggota Bursa (insider trading).
Ringkasan Putusan
Badan Pengawas Pasar Modal dan lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mengumumkan hasil
pemeriksaan terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal yang
di lakukan oleh PT Perusahaan Gas Negara (persero) Tbk. (PT PGN), sebagai berikut :
6. Bapepam-LK telah melakukan pemeriksaan terhadap dokumen dan pihak-pihak terkait
dengan pelanggaran pasal 86 undang-undang pasar modal jo Peraturan Nomor X.K.1
tentang Keterbukaan Informasi yang harus segera diumumkan kepada publik yang
dilakukan oleh PT PGN.
7. Atas pelanggaran Pasal 86 Undang-undang Pasar Modal jo. Peraturan Nomor X.K.1yang
dilakukan oleh PT PGN ditemukan bukti sebagai berikut :
b. Terdapat keterlambatan pelaporan keterbukaan informasi atas penundaan proyek
pipanisasi yang dilakukan oleh PT PGN sebanyak 35 hari
8. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka BAPEPAM-LK menetapkan sebagai berikut:
28

c. Sanksi denda sebesar Rp 35.000.000,00 kepada PT Perusahaan Gas Negara Tbk
atas pelanggaran Pasal 86 Undang-undang Pasar Modal jo. Peraturan Nomor
X.K.1
d. Sanksi denda sebesar Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) kepada Direksi PT
PGN yang menjabat pada periode bulan juli 2006 yaitu Sutikno, adil abas, Djoko
Pramono, WMP Simanjuntak dan Nursubagjo Prijon
9. Keputusan pengenaan sanksi sebagaimana butir 3 huruf b di atas, didasarkan pada
pertimbangan sebagai berikut :
c. Segera memberikan kepastian hukum kepada industri Pasar Modal dalam rangka
memelihara kepercayaan publik terhadap Pasar Modal Indonesia
d. Memberikan efek jera kepada pelaku Pasar Modal Khususnya manajemen Emiten,
agar lebih cermat dan bertanggung jawab atas kebenaran dari keterangan yang
diberikan kepada publik.
10. Disamping pengenaan sanksi di atas, Bapepam-LK masih melanjutkan pemeriksaan
terhadap indikasi adanya perdagangan saham berdasarkan informasi orang dalam yang
diduga dilakukan oleh pihak orang dalam PT.PGN dan pihak-pihak yang terkait dengan
transaksi yang dilakukan oleh perusahaan Efek Anggota Bursa (insider trading).













29

DAFTAR RUJUKAN

http://kenziesebastian.com/right-issue-dan-cara-menghitungnya/ diakses tanggal 17 Desember
2013.
http://119221-T 25248- Right issue- analisis-Ertri Wianti// diakses tanggal 17 Desember 2013
Peraturan Bapepam Nomor IX A.1-IX 14 tentang IPO.
Peraturan Bapepam Nomor IX D.1 Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu. Kep-26/PM/2003.

Peraturan bapepam nomor ix d.2 Tentang Pedoman Mengenai Bentuk Dan Isi
PernyataanPendaftaran Dalam Rangka Penerbitan Hak Memesan Efek terlebih dahulu. kep
08/pm/2000.

Peraturan Bapepam Nomor IX D.3 . Pedoman mengenai bentuk dan Isi prospektus dalam rangka
Penerbitan hak memesan efek Terlebih dahulu. Kep-09/PM/2000.

Peraturan Bapepam Nomor IX D.4 . Penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih
dahulu. Kep- /BL/2009.

Pedoman Standar Akutansi Keuangan (PSAK) No 3 edisi revisi tahun 2009.

Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas.

Undang-Undang Nomor Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.