Anda di halaman 1dari 28

BLOK MEKANISME PERTAHANAN TUBUH

PBL SKENARIO 1
MENCEGAH PENYAKIT DENGAN VAKSINASI


Kelompok A.18
Ketua : Abi Rafdi Zhafari (1102013002)
Sekretaris : Arlita Mirza Dian Prastiwi (1102013043)

Anggota :
Baiq Nadia Syauqi (1102012040)
Dyah Arum Maharani (1102012072)
Abdul Rahman (1102013001)
Gilang Anugrah (1102012097)
Annisa Widiautami Mulyana (1102013039)
Maya Intan Andriyani (1101012159)
Hamdan Muhammad (1102013120)


FAKULTAS KEDOKTERAN
JL.Letjen Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta 10510



SKENARIO
MENCEGAH PENYAKIT DENGAN VAKSINASI
Seorang bayi berumur 2 bulan mendapat vaksinasi BCG di lengan kanan atas untuk
mencegah penyakit dan mendapatkan kekebalan. Empat minggu kemudian bayi tersebut
dibawa kembali ke RS karena timbul benjolan di ketiak kanan. Setelah doktermelakukan
pemeriksaan didapatkan pembesaran nodus limfatikus di regio axilaris dekstra. Hal ini
disebabkan adanya reaksi terhadap antigen yang terdapat dalam vaksin tersebut dan
menimbulkan respon imun tubuh.























PERTANYAAN
1. Mengapa setelah diberi vaksin BCG terdapat reaksi antigen?
Jawab:
Karena vaksin mengandung virus yang dilemahkan dan membawa antigen yang
merangsanng antibodi di dalam tubuh agar dapat dikenali secara spesifik oleh antibodi
sehingga orang yang telah divaksin lebih kebal terhadap penyakit daripada orang yang
belum divaksin
2. Apa tujuan vaksinasi?
Jawab:
Untuk kekebalan tubuh secara buatan
3. Mengapa limfatikusnya membesar?
Jawab:
Karena terjadi proliferasi dari limfosit B dan limfosit T yang ada di nodus limfatikus
4. Apakah benjolan bisa timbul di daerah lain?
Jawab:
Karena yang terdekat dengan nodus limfatikus
5. Kapan vaksin BCG diberikan?
Jawab:
Sebelum 3 bulan
6. Apa syarat sebelum diberi vaksin?
Jawab:
Sesuai umur, kesehatan, asupan obat
7. Bagaimana cara kerja vaksin?
Jawab:
Jika ada antigen yang masuk, yang pertama adalah yang non spesifik, kalau sudah
terlihat jenisnya baru yang spesifik.

HIPOTESIS
Vaksin yang mengandung antigen, merangsang terbentuknya antibodi sehingga menimbulkan
respon imun tubuh. Respon imun dibagi menjadi 2, yaitu respon imun spesifik dan respon
imun non spesifik. Jenis vaksin yang digunakan adalah yang spesifik. Terjadinya respon yang
spesifik menyebabkan terjadinya proliferasi limfosit B dan limfosit T sehingga menimbulkan
pembesaran limfonodus di bagian regio axilaris dextra.








SASBEL
LO 1. Mengetahui dan Menjelaskan Organ Limfoid
1.1 Mikroskopik
1.2 Makroskopik
LO 2. Mengetahui dan Menjelaskan Antigen
2.1 Definisi Antigen
2.2 Klasifikasi Antigen
2.3 Fungsi Antigen
LO 3. Mengetahui dan Menjelaskan Antibodi
3.1 Definisi Antibodi
3.2 Struktur Antibodi
3.3 Klasifikasi Antibodi
3.4 Mekanisme
3.5 Fungsi
LO 4 Mengetahui dan Menjelaskan Respon Imun Tubuh
4.1 Definisi
4.2 Klasifikasi
4.3 Mekanisme
LO 5 Mengetahui dan Menjelaskan Vaksin
5.1 Definisi
5.2 Klasifikasi
5.3 Tujuan
5.4 Cara Kerja (indikasi dan kontra indikasi )
LO 6 Mengetahui dan Menjelaskan Pandangan Islam tentang Vaksin





LO 1. Mengetahui dan Menjelaskan Organ Limfoid
1.1 Makroskopik
A. Lien

Lien/ spleen/ limpa merupakan organ RES (Reticuloendothelial system) yg terletak di cavum
abdomen pada regio hipokondrium/ hipokondriaka sinistra. Lien terletak sepanjang costa IX,
X, dan XI sinistra dan ekstremitas inferiornya berjalan ke depan sampai sejauh linea aksillaris
media. Lien juga merupakan organ intra peritoneal.

Morfologi Lien
Lien memiliki 2 facies, facies diaphragmatica yg berbentuk konvex (cembung) dan facies
visceralis yg berbentuk konkaf (cekung)

Facies diaphragmatica lien berhadapan dg diaphragm dan costa IX- XI sinistra. Sedangkan
facies visceralis nya memiliki 3 facies, yaitu facies renalis yg berhadapan dg ren sinistra,
facies gastric yg berhadapan dg gaster, dan facies colica yg berhadapan dg flexura coli
sinistra. Ketiga facies tsb bertemu pd hilus lienalis. Dimana hilus lienalis merupakan tmp
keluar dan masuknya dari vasa. N. lienalis. Pd hilus lienalis, juga merupakan tmp
menggantung nya cauda pancreas.

Lien memiliki 2 margo, yaitu margo anterior dan margo posterior. Selain itu, lien jg memiliki
2 ekstremitas, yaitu ekstremitas superior, dan ekstremitas inferior.

Penggantung Lien
- Lig. Gastrosplenicum menghubungkan lien ke gaster
- Lig. Splenorenale ke dinding posterior



Pembuluh darah masuk daerah hilus lienalis adalah arteri lienalis dan darah vena masuk
melalui vena lienalis (vena port untuk dibawa ke hepar)

Vaskularisasi Lien
Lien di vaskularisasi oleh a. lienalis yg merupakan cabang dr truncus coeliacus/ triple hallery
bersama a. hepatica communis, dan a. gastric sinistra. Triple hallery sendiri merupakan
cabang dr aorta abdominalis yg dicabangkan setinggi Vertebra Thoracal XII Vertebrae
Lumbal I

Sedangkan v. lienalis meninggalkan hilus lienalis berjalan ke posterior dr cauda dan corpus
pancreas utk bermuara ke v. portae hepatis bersama dg v. mesenterica superior dan v.
mesenterica inferior.

Innervasi Lien
Lien di innervasi oleh persarafan simpatis oleh n. sympaticus sengmen Thoracal VI X dan
persarafan parasimpatisnya oleh n. Vagus (n. X)

Fungsi Lien:
- Organ limfoid terbesar
- Tmp pembentukan sel darah saat foetus
- Tempat perombakan Hb














B. Limfonodus/nodus limfatikus/kelenjar limfe


Ciri-ciri :

- Bentuk oval seperti kacang tanah, mempunyai pinggiran yang cekung disebut dengan
hilus
- Besarnya sebesar kepala peniti sampai sebesar buah kenari dan dapat diraba terutama
pada daerah leher, axilla, inguinale dan lain-lain
- Terletak disekitar pembuluh darah yang berfungsi memproduksi limfosit dan antibodi
untuk mencegah penyebaran infeksi lanjutan
- Daerah daerah tubuh yang memiliki nodus limfatikus
1. Daerah kepala dan leher bagian lateral dan belakang : yaitu di sepanjang
m.sternocleidomastoideus, lingual, pharynx, cavum nasi, palatum, muka, mandibula / dasar
mulut
2. Daerah extrimitas superior : manus, antebrachi,brachi dan regio axilaris
3. Daerah mamae di bawah m.pectoralis meliputi kulit dan otot
4. Daerah torax : meliputi dinding torax, jantung, pericardium dan paru, pleura, esophagus,
aliran limfe thorax dan kelenjarr mamae masuk ke dalam node limfatikus anterior dan
posterior
5. Daerah abdomen dan pelvis : meliputi daerah peritonium dan sekitar aorta dan vena cava
inferior dan pembuluh darah intestinum. Aliran limfe superficialis bagian depan dan lateral
dan belakang diatas pusat masuk, nn ll axilaris anterior dan posterior dan dibawah pusat, ke
nn limfatisi inguinalis superficial
6. Daerah extrimitas inferior : disepanjang arteri,vena tibialis, regio poplitea, regio inguinale,
alran limfe masuk limfonodus inguinale






C. Timus

Organ timus terletak di dalam Trigonum thymicum diantara batas-batas rongga pluera
terhadap Mediastinum.
Tymus relatif besar pada seorang dewasa muda, tapi pada orang yang berusia lebih
tua, tymus hampir sepenuhnya digantikan dengan jaringan adiposa.
Setelah pubertas, timus mengalami involusi dan setalah dewasa semakin kecil tetapi
masih berfungsi untuk menghasilkan limfosit T yang baru
Mempunyai 2 lobus(lobi dexter dan sinister), mempunyai bagian korteks dan medulla
berbentuk segitiga, gepang dan kemerahan
Pendarahan timus berasal dari arteria thymica yang merupakan cabang dari arteria
thyroidea inferior dan mamaria interna
Batas-batas anatomi :
1. Batas anterior: Manubrium sterni & rawan Costae
2. Batas atas: Regio Colli Inferior (trachea)









D. Tonsil


1. Tonsila palatine

Terletak pada dinding lateralis, orofaring dekstra dan sinistra
Terletak dalam satu lekukan yang dikenal dengan fossa tonsilaris, dasar dari lekukan
itu adal tonsil bed
Tonsil membuka ke cavum oris terdiri dari 12-15 crypta tonsilaris
Ditutupi oleh selapis jaringan ikat fibrosa yang berbentuk capsula
Persyarafan tonsil oleh N IX (Glossopharyngues) dan N palatinus (N V2)
Pendarahan berasal dari arteria tonsilaris cabang a.maxillaris externa (facialis) dan
arteria tonsilaris vabang a.pharyngica ascendens lingualis


2. Tonsila linguialis

Terletak dibelakang lidah, 1/3 bagian posterior, tidak mempunya papilla sehingga
terlihat permukaan berbenjol-benjol (folikel).
Pendarahan tonsil berasal dari arteria dorsalis lingue (cabang arteria lingualis), arteria
carotis eksterna

3. Tonsila pharyngealis

Terdapat di daerah nasofaring dibelakang pintu hidung belakang
Bila membesar disebut adenoid, dapat menyebabkan sesak nafas karena dapat
menyumbat pintu nares posterior (choanae), terletak di daerah nasopharynx, tepatnya
diatas torus tobarius dan OPTA

1.2 Mikroskopik

1. Limfonodus/nodus limphaticus/kelenjar limfe
o Organ bersimpai berbentuk bulat / mirip ginjal, terdiri dari jaringan limfoid.
o Tersebar diseluruh tubuh disepanjang jalannya pembuluh limfe
o Nodus ditemukan di ketiak dan di lipat paha, sepanjang pembuluh-pembuluh besar di
leher dan dalam jumlah besar di toraks dan abdomen terutama dalam mesenterium
o Limfonodus memiliki sisi konveks (cembung) dan konkaf (cekung) yg disebut hilus
tempat arteri dan saraf masuk dan vena keluar dr organ

o Korteks luar
Dibentuk oleh jaringan limfoid yang terdiri dari satu jaringan sel retikular dan
serat retikular yang dipenuhi oleh limfosit B
Di dalam jaringan limfoid korteks terdapat struktur berbentuk sferis yang disebut
nodulus limfatikus
Terdapat sinus subkapsularis, yang dibentuk oleh suatu jar.ikat longgar dari
makrofag, sel retikular dan serat reticular.

o Korteks dalam
Merupakan kelanjutan korteks luar, mengandung beberapa nodulus
Mengandung banyak limfosit T



o Medulla
Terdiri dari korda medularis yg merupakan perluasan korteks dalam
Banyak mengandung Limfosit B dan beberapa sel plasma
Korda medularis dipisahkan oleh struktur seperti kapiler yg berdilatasi sinus
limfoid medularis yang mengandung cairan limfe

o Limfe mengalir ke nodus limfatikus untuk membersihkannya dari partikel asing
sebelum kembali ke sirkulasi darah.
o Sewaktu cairan limfe mengalir melalui sinus, 99% atau lebih antigen dan kotoran
lainnya dipindahkan oleh aktivitas fagositosis makrofag.
o Infeksi dan perangsangan antigenik menyebabkan limfonodus yang terinfeksi
membesar dan membentuk pusat-pusat germinativum yang banyak dengan proliferasi
sel yang aktif.

2. Lien (Limfa)
o Merupakan tempat destruksi bagi banyak sel darah merah.
o Merupakan tempat pembentukan limfosit yang masuk ke dalam darah.
o Limpa bereaksi segera terhadap antigen yang terbawa darah dan merupakan organ
pembentuk antibodi penting
o Dibungkus oleh simpai jaingan ikat padat yang menjulurkan trabekula yang membagi
parenkim atau pulpa limpa menjadi kompartemen tidak sempurna
o Pulpa limpa tidak mempunyai pembuluh limfe
o Limpa dibentuk oleh jalinan kerja jaringan retikular yang mengandung sel limfoid,
makrofag dan sel-sel antigen-presenting
o Tidak memperlihatkan adanya daerah korteks dan medula yang jelas
o Kapsul pada limpa lebih tebal dibanding pada limfonodus

o Pulpa limpa

Pada permukaan irisan melalui limpa, tampak bintik-bintik putih dalam parenkim
nodulus limfatikus (pulpa putih/pulpa alba)
Pulpa alba terdapat dalam jaringan merah tua yang penuh dengan darah pulpa
merah/pulpa rubra.
Pulpa rubra terdiri atas bangunan memanjang yaitu korda limpa (korda billroth) yg
terdapat diantara sinusoid

o Pulpa putih

Terdiri dari jar. limfoid yang menyelubungi A. sentralis dan nodulus limfatikus
Sel-sel limfoid yang mengelilingi A. sentralis terutama Limfosit T dan
membentuk selubung periarteri.
Nodulus limfatikus terutama limfosit B
Diantara pulpa putih dan pulpa merah terdapat zona marginalis
o Pulpa merah: jar.retikular dengan ciri khas, yaitu adanya:

korda limpa yang terdiri dari sel dan serat retikular
makrofag
limfosit
sel plasma dan banyak unsur darah (eritrosit, trombosit, granulosit)
Banyak terdapat sinusoid

o Zona marginalis

Terdiri dari banyak sinus dan jar.ikat longgar.
Terdapat sedikit limfosit dan banyak makrofag yg aktif
Banyak mengandung antigen darah peran utama dalam aktivitas imunologis
limpa

o Fungsi limpa

Pembentukan limfosit
dibentuk dalam pulpa putih pulpa rubra sinusoid bercampur darah
Destruksi eritrosit
Dilakukan oleh makrofag dalam korda pulpa merah
Pertahanan organisme
Oleh karena kandungan limfosit B, limfosit T, sel antigen presenting dan
makrofag

3.Thymus
Timus memiliki suatu simpai jaringan ikat yg masuk ke dlm parenkim dan membagi
timus menjadi lobulus.
Setiap lobulus memiliki satu zona perifer gelap disebut korteks dan zona pusat yg
terang disebut medula korteks dan medula berisi sel-sel limfosit.
Sel limfosit berasal dr sel mesenkim yg menyusup ke dlm suatu epitel primordium dr
kantung faringeal ke 3 dan 4.
Korteks timus
limfosit T yg sangat banyak,
Sel retikular epitel yg tersebar
Bbrp makrofag
Medulla timus
Mengandung sel retikular dan limfosit
Sel2 ini menyebabkan medula tampak lebih pucat dibanding bgn korteks
Mengandung badan hassal (corpusculum tymicum) yang merupakan sel retikular epitel
gepeng yg tersusun konsentris , mengalami degenerasi dan mengandung granula keratohialin.
Timus mengalami involusi stlh pubertas
Timus ditempati oleh sel-sel yg dihasilkan dr sumsum tulang.
Sel-sel ini mulai menjalani diferensiasinya mjd sel T
Timus menghasilkan beberapa faktor pertumbuhan protein yg merangsang proliferasi
dan diferensiasi limfosit T








4 . Tonsil
I. Tonsila palatine


Terletak pada dinding lateral faring bagian oral
Permukaan tonsila palatina dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk
yang juga melapisi bagian mulut lainnya
Setiap tonsila memiliki 10-20 invaginasi epitel (epitel berlapis gepeng tanpa lapisan
tanduk) yang menyusup ke dalam parenkim membentuk kriptus yang mengandung
sel-sel epitel yg terlepas, limfosit hidup dan mati, dan bakteri dalam lumennya
Yang memisahkan jar.limfoid dari organ-organ berdekatan adalah satu lapis jaringan
ikat padat yamgg disebut simpai tonsila yg biasanya bekerja sebagai sawar terhadap
penyebaran infeksi tonsila
Di bawah tonsila palatina terdapat jar.ikat padat yang membentuk kapsul. Dari
kapsul terbentuk trabekula dengan pembuluh darah, dibawah kapsul terdapat serat
otot rangka

II. Tonsila lingualis


Lebih kecil dan lebih banyak
Terletak pada pangkal lidah
Ditutupi epitel berlapis gepeng
Masing-masing mempunyai sebuah kriptus

III. Tonsila faringea

Merupakan tonsila tunggal yang terletak dibagian supero-posterior faring.
Ditutupi epitel bertingkat silindris bersilia
Terdiri dari lipatan-lipatan mukosa dengan jar. Limfoid difus dan nodulus limfatikus
Tidak memiliki kriptus
Simpai lebih tipis dari T. palatina

LO 2. Mengetahui dan Menjelaskan Antigen
2.1 Definisi Antigen

Antigen atau imunogen merupakan bahan yang dikandung oleh berbagai kuman
patogen (bakteri, virus, jamur, parasit). Antigen poten alamiah terbanyak adalah
protein besar dengan berat molekul lebih dari 40.000 dalton dan kompleks mikrobial.
Glikolipid dan lipoprotein dapat bersifat imunogenik, berbeda halnya dengan lipid
yang dimurnikan.

Epitop/determinan antigen
Bagian dari antigen yang membuat kontak fisik dengan reseptor antibodi, dan
menginduksi pembentukan antibodi. Makromolekul dapat memiliki berbagai epitop
yang masing-masing menginduksi produksi antibodi spesifik yang berbeda.

Paratop
Bagian dari antibodi yang mengikat epitop atau TCR pada antigen.


2.2 Klasifikasi Antigen

1. Secara fungsional
a) Imunogen, yaitu molekul besar (disebut molekul pembawa).
b) Hapten, yaitu kompleks yang terdiri atas molekul kecil.

2. Menurut epitop
Unideterminan, univalen satu jenis determinan / epitop pada satu molekul
Unideterminan, multivalen satu jenis determinan, tapi dua atau lebih pada satu
molekul
Multideterminan, univalen banyak epitop, hanya satu tiap macamnya
Multideterminan, multivalen banyak detrminan, banyak dari tiap macam pada
satu molekul

3. Menurut spesifisitas
Heteroantigen dimiliki banyak spesies
Xenoantigen dimiliki spesies tertentu
Aloantigen (isoantigen) spesifik dalam satu spesies
Antigen organ spesifik organ tertentu
Autoantigen dimiliki alat tubuh sendiri
4. Menurut ketergantungan terhadap sel T
T dependent yaitu antigen yang memerlukan pengenalan oleh sel T dan sel
B untuk dapat menimbulkan respons antibodi. Sebagai contoh adalah
antigen protein.

T independent yaitu antigen yang dapat merangsang sel B tanpa bantuan
sel Tuntuk membentuk antibodi. Antigen tersebut berupa molekul besar
polimerik yang dipecah di dalam badan secara perlahan-lahan, misalnya
lipopolisakarida, ficoll, dekstran, levan, dan flagelin polimerik
bakteri.(Baratawidjaja 1991: 15).
5. Menurut sifat kimiawi
Hidrat arang (polisakarida)
Hidrat arang pada umumnya imunogenik. Glikoprotein dapat
menimbulkan respon imun terutama pembentukan antibodi. Respon imun
yang ditimbulkan golongan darah ABO, mempunyai sifat antigen dan
spesifisitas imun yang berasal dari polisakarida pada permukaan sel darah
merah.
Lipid
Lipid biasanya tidak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik bila diikat
oleh protein carrier. Lipid dianggap sebagai hapten, sebagai contoh adalah
sphingolipid.
Asam nukleat
Asam nukleat tdak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik bila diikat oleh
protein carrier. DNA dalam bentuk heliksnya biasanya tidak imunogenik.
Respon imun terhadap DNA terjadi pada penderita dengan SLE.
Protein
Kebanyakan protein adalah imunogenik dan pada umunya
multideterminan univalent. (Baratawidjaja 1991: 15)


2.3 Fungsi Antigen
Merangsang pembentukan antibodi
Berikatan dengan molekul antibodi sehingga membentuk seperti jarring
Menginfeksi tubuh sehingga menghasilkan respon kebal dengan memproduksi
antibodi

LO 3. Mengetahui dan Menjelaskan Antibodi
3.1 Definisi Antibodi
Antibodi adalah molekul protein besar berbentuk Y yang dibuat oleh sistem
kekebalan tubuh untuk mengidentifikasi dan menetralisir benda asing dan patogen,
seperti bakteri, virus, jamur, parasit, dan racun. Juga dikenal sebagai
immunoglobulin, antibodi yang diproduksi oleh sel-sel darah putih yang disebut
limfosit B, atau sel B.


3.2 Struktur Antibodi

Antibodi tersusun oleh 4 rantai polipeptida (2 rantai polipeptida berat atau "heavy
chain" dan 2 polipeptida ringan atau "light chain". Antibodi mempunyai bentuk
seperti huruf Y. Kedua lengan bagian atas disebut daerah variable, karena dapat
berubah-ubah sesuai dengan antigen yang diikat. Sedangkan lengan bagian bawah
disebut daerah constan, karena daerah tersebut tidak dapat berubah bentuk.
Ada 2 jenis rantai ringan yaitu kapda dan lambda. Sedangkan rantai berat tergantung
dari kelima jenis globulin ( IgM, IgG, IgA, IgE, IgD) enzim papain memecah molekul
antibodi menjadi 3 fragmen. Dua fragmen tetap memiliki sifat antibodi yang dapat
mengikat antigen secara spesifik dan bereaksi dengan determinan antigen serta hapten
yang disebut FAB (fragmen antigen binding). Fragmen ketiga dapat dikristalkan dan
disebut Fc dan tidak dapat mengikat antigen. Fc menunjukkan fungsi biologisnya
sesudah antigen diikat oleh Fab.




3.3 Klasifikasi Antibodi

Immunoglobin G (IgG)
Adalah immunoglobin utama pada serum manusia yang meliputi sekitar 7080% dari
seluruh immunoglobin. Setiap molekul IgG terdiri dari 2 rantai, yaitu rantai L dan 2
rantai H yang dihubungkan oleh ikatan sulfida (formula molekul H
2
L
2
). Karena
mempunyai 2 tempat pengikatan yang identik, immunoglobulin bersifat divalen.
Berdasarkan pada perbedaan anigenik rantai H dan pada jumlah dan lokasi ikatan
disulfida, ada 4 sub kelas IgG, yaitu IgG1, IgG2, IgG3, dan IgG4. Sebagian besar IgG
adalah IgG1 (65%). Antibodi IgG2 ditunjukkan pada antigen polisakarida yang
merupakan bagian sistem pertahanan penting terhadap bakteri berkapsul.
IgG merupakan antibodi terpenting pada respons imun sekunder dan juga merupakan
antibodi penting untuk pertahanan terhadap bakteri dan virus. IgG adalah satu-satunya
antibodi yang dapat melewati plasenta. Antibodi ini memberikan imunitas pasif yang
tinggi pada bayi baru lahir.
IgG yang tersebar merata di intravaskular dan ekstravaskular merupakan satu-satunya
kelas antibodi yang bersifat antitoksin. IgG dapat mengopsonosasi karena mempunyai
reseptor rantai H pada permukaan fagosit, sedangkan IgM tidak dapat secara langsung
mengopsonisasi karena tidak mempunyai reseptor rantai H pada permukaan fagosit.
Immunoglobin A (IgA)
Merupakan immunoglobin utama pada sekret, seperti kolostrum, saliva, air mata, dan
sekret saluran perrnapasan, gastrointestinal, dan genitalia. IgA melindungi membran
mukosa dari bakteri dan virus. Setiap molekul IgA sekretonik (berat molekul 400.000)
terdiri dari 2 unit H
2
L
2
, satu molekul rantai J (joining, penghubung), dan komponen
sekretonik. Komponen sekretonik adalah suatu polipeptida yang disintesis oleh sel-sel
epitel yang dilewati perjalanan IgA ke permukaan mukosa. Komponen sekretonik ini
juga memproteksi IgA dari degradasi di saluran intestinal. Dalam serum, IgA berada
dalam bentuk monomer H
2
L
2
(BM 170.000)
Immunoglobin M (IgM)
Adalah immunoglobin utama yang diproduksi pada awal respons primer. IgM dapat
ditemukan sebagai monomer pada permukaan hampir semua sel B dan tempatnya
berfungsi sebagai reseptor pengikatan antigen. Pada serum, IgM merupakan pentamer
yang terdiri dari 5 unit H
2
L
2
ditambah satu molekul rantai J (joining, penghubung).
Pentamer ini mempunyai 10 tempat pengikatan antigen dan 5-10 valensi. IgM
merupakan immunoglobin paling penting untuk aglutinasi, fiksasi komplemen, dan
reaksi antibodi lain. IgM merupakan antibodi penting untuk pertahanan terhadap virus
dan bakteri. IgM dapat diproduksi oleh janin pada beberapa infeksi tertentu. IgM
mempunyai aviditas tertinggi karena interaksinya dengan antigen dapat melibatkan ke
tempat terikatnya sekaligus.
Immunoglobin D (IgD)
Sejauh ini belum diketahui fungsi antibodi immunoglobulin ini. Yang diketahui
hanyalah fungsinya sebagai reseptor antigen karena dapat ditemukan pada permukaan
beberapa limfosi B. Jumlahnya dalam serum sangat terbatas.
Immunoglobulin E (IgE)
Regio Fc IgE berikatan dengan permukaan sel mast dan basofil. IgE yang terikat
berfungsi sebagai reseptor antigen (alergen) dan kompleks antigen-antibodinya
memicu terjadinya respons alergi melalui pelepasan mediator. Jumlah IgE pada serum
normal sangat sedikit (sekitar 0,004%), tetapi penderita reaksi alergi dapat
mempunyai IgE dalam jumlah yang sangat meningkat. IgE juga dapat dijumpai pada
sekresi eksterna. Konsentrasi IgE serum juga meningkat pada infeksi cacing. IgE tidak
dapat memfiksasi komplemen maupun melewati plasenta.





3.4 Mekanisme Antibodi


Untuk terjadinya pembentukan antibodi harus diawali dengan adanya antigen di
dalam tubuh.Yang nanti antigen tersebut akan di fagosit oleh makrofag. Apabila
makrofag ini tidak mampu mem fagositosis antigen dan antigen itu lolos dari sel
Makrofag. Maka makrofag ini akan berikatan dengan sel B yang akan menghasilkan
sel B memori ataupun berkembang menjadi sel plasma. Sel B yang berikatan dengan
makrofag akan teraktivasi dan membuat sel plasma untuk mensekresi antibody yang
spesifik.
Cara Pengikatan :
prinsipnya adalah terjadi pengikatan antigen oleh antibodi, yang selanjutnya antigen
yang telah diikat antibodi akan dimakan oleh sel makrofag. Berikut ini adalah cara
pengikatan antigen oleh antibodi.
1) Netralisasi
Antibodi menonaktifkan antigen dengan cara memblok bagian tertentu antigen.
Antibodi juga menetralisasi virus dengan cara mengikat bagian tertentu virus pada
sel inang. Dengan terjadinya netralisasi maka efek merugikan dari antigen atau
toksik dari patogen dapat dikurangi.

2) Penggumpalan
Penggumpalan partikel-partikel antigen dapat dilakukan karena struktur antibodi
yang memungkinkan untuk melakukan pengikatan lebih dari satu antigen. Molekul
antibodi memiliki sedikitnya dua tempat pengikatan antigen yang dapat bergabung
dengan antigen-antigen yang berdekatan. Gumpalan atau kumpulan bakteri akan
memudahkan sel fagositik (makrofag) untuk menangkap dan memakan bakteri
secara cepat.
3) Pengendapan
Prinsip pengendapan hampir sama dengan penggumpalan, tetapi pada pengendapan
antigen yang dituju berupa antigen yang larut. Pengikatan antigen-antigen tersebut
membuatnya dapat diendapkan, sehingga sel-sel makrofag mudah dalam
menangkapnya.
4) Aktifasi Komplemen
Antibodi akan bekerja sama dengan protein komplemen untuk melakukan
penyerangan terhadap sel asing. Pengaktifan protein komplemen akan menyebabkan
terjadinya luka pada membran sel asing dan dapat terjadi lisis. Sistem imun dapat
mengenali antigen yang sebelumnya pernah dimasukkan ke dalam tubuh, disebut
memori imunologi. Dikenal respon primer dan respon sekunder dalam sistem imun
yang berkaitan dengan memori imun. Berikut ini adalah gambaran respon primer
dan sekunder. Setelah injeksi antigen A yang kedua, respon imun sekunder jauh
lebih besar dan lebih cepat daripada respon primer. Dengan demikian respon
sekunder sebenarnya lebih penting peranannya dalam sistem imun.

3.5 Fungsi Antibodi
Fungsi antibodi, yaitu berikatan dengan molekul antigen membentuk rangkaian
seperti jaring. Antibodi dapat menghambat partikel-partikel virus. Untuk menginfeksi
saluran sel, virus pertama-tama harus bisa mengenali sel inangnya. Protein dari virus
mencocokkan bentuknya dengan molekul pada membran sel dari sel inang. Antibodi
dapat menutupi protein dari virus agar virus tersebut tidak bisa menginfeksi sel. Protein
yang disebut interferon juga bekerja melawan virus. Interferon diproduksi oleh sel yang
telah terinfeksi oleh virus. Interferon membuat sel-sel yang tidak terinfeksi menjadi
resisten terhadap serangan virus.



LO 4 Mengetahui dan Menjelaskan Respon imun tubuh
4.1 Definisi
Imunitas adalah resistensi terhadap penyakit terutama infeksi untuk mempertahankan
keutuhannya terhadap bahaya yang ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup.
System imun adalah sistem pertahanan manusia sebagai perlindungan terhadap infeksi
dari makromolekul asing atau serangan organisme, termasuk virus, bakteri, protozoa dan
parasit. Sistem kekebalan juga berperan dalam perlawanan terhadap protein tubuh dan
molekul lain seperti yang terjadi pada autoimunitas, dan melawan sel yang teraberasi
menjadi tumor.

Kemampuan sistem kekebalan untuk membedakan komponen sel tubuh dari komponen
patogen asing akan menopang amanat yang diembannya guna merespon infeksi patogen,
baik yang berkembang biak di dalam sel tubuh (intraselular) seperti misalnya virus,
maupun yang berkembang biak di luar sel tubuh (ekstraselular) - sebelum berkembang
menjadi penyakit.

Meskipun demikian, sistem kekebalan mempunyai sisi yang kurang menguntungkan.
Pada proses peradangan, penderita dapat merasa tidak nyaman oleh karena efek samping
yang dapat ditimbulkan sifat toksik senyawa organik yang dikeluarkan sepanjang proses
perlawanan berlangsung.
4.2 Klasifikasi
Sistem imun non spesifik ,natural atau sudah ada dalam tubuh (pembawaan)
Merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam melawan mikroorganisme. Disebut
nonspesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu. Terdiri dari:

a. Pertahanan fisik/mekanik
Kulit, selaput lendir , silia saluran pernafasan, batuk, bersin akan mencegah masuknya
berbagai kuman patogen kedalam tubuh. Kulit yang rusak misalnya oleh luka bakar
dan selaput lendir yang rusak oleh asap rokok akan meninggikan resiko infeksi.

b. Pertahanan biokimia
Bahan yang disekresi mukosa saluran nafas, kelenjar sebaseus kulit, kel kulit, telinga,
spermin dalam semen, mengandung bahan yang berperan dalam pertahanan tubuh
secara biokimiawi.asam HCL dalam cairan lambung , lisozim dalam keringat, ludah ,
air mata dan air susu dapat melindungi tubuh terhadap berbagai kuman gram positif
dengan menghancurkan dinding selnya. Air susu ibu juga mengandung laktoferin dan
asam neuraminik yang mempunyai sifat antibacterial terhadap E. coli dan
staphylococcus. Lisozim yang dilepas oleh makrofag dapat menghancurkan kuman
gram negatif dan hal tersebut diperkuat oleh komplemen.Laktoferin dan transferin
dalam serum dapat mengikat zan besi yang dibutuhkan untuk kehidupan kuman
pseudomonas.

c. Pertahanan humoral
Berbagai bahan dalam sirkulasi berperan pada pertahanan tubuh secara humoral.
Bahan-bahan tersebut adalah:

1) Komplemen

Komplemen mengaktifkan fagosit dan membantu destruktif bakteri dan parasit
karena:
a)Komplemen dapat menghancurkan sel membran bakteri
b)Merupakan faktor kemotaktik yang mengarahkan makrofag ke tempat bakteri
c)Komponen komplemen lain yang mengendap pada permukaan bakteri
memudahkan makrofag untuk mengenal dan memfagositosis (opsonisasi).

2) Interferon
Interferon adalah suatu glikoprotein yang dihasilkan oleh berbagai sel manusia
yang mengandung nukleus dan dilepaskan sebagai respons terhadap infeksi
virus.Interveron mempunyai sifat anti virus dengan jalan menginduksi sel-sel
sekitar sel yang terinfeksi virus sehingga menjadi resisten terhadap virus.
Disamping itu, interveron juga dapat mengaktifkan Natural Killer cell (sel NK). Sel
yang diinfeksi virus atau menjadi ganas akan menunjukkan perubahan pada
permukaannya. Perubahan tersebut akan dikenal oleh sel NK yang kemudian
membunuhnya. Dengan demikian penyebaran virus dapat dicegah.

3) Reactive Protein (CRP)
Peranan CRP adalah sebagai opsonin dan dapat mengaktifkan komplemen. CRP
dibentuk oleh badan pada saat infeksi. CRP merupakan protein yang kadarnya
cepat meningkat (100 x atau lebih) setelah infeksi atau inflamasi akut.
CRP berperanan pada imunitas non spesifik, karena dengan bantuan Ca++ dapat
mengikat berbagai molekul yang terdapat pada banyak bakteri dan jamur.

d. Pertahanan seluler
Fagosit/makrofag dan sel NK berperanan dalam sistem imun non spesifik seluller.

1) Fagosit
Meskipun berbagai sel dalam tubuh dapat melakukan fagositosis tetapi sel utama
yang berperaan dalam pertahanan non spesifik adalah sel mononuclear (monosit dan
makrofag) serta sel polimorfonuklear seperti neutrofil. Dalam kerjanya sel fagosit
juga berinteraksi dengan komplemen dan sistem imun spesifik. Penghancuran
kuman terjadi dalam beberapa tingakt sebagai berikut:
Kemotaksis, menangkap, memakan (fagosistosis), membunuh dan
mencerna.Kemotaksis adalah gerakan fagosit ketempat infekis sebagai respon
terhadap berbagai factor sperti produk bakteri dan factor biokimiawi yang dilepas
pada aktivasi komplemen.Antibody seperti pada halnya dengan komplemen C3b
dapat meningkatkan fagosistosis (opsonisasi). Antigen yang diikat antibody akan
lebih mudah dikenal oleh fagosit untuk kemudian dihancurkan. Hal tersebut
dimungkinkan oleh adanya reseptor untuk fraksi Fc dari immunoglobulin pada
permukaan fagosit.

2) Natural Killer cell (sel NK)
Sel NK adalah sel limfoid yang ditemukan dalam sirkulasi dan tidak mempunyai
cirri sel limfoid dari siitem imun spesifik, maka karenan itu disebut sel non B non T
(sel NBNT) atau sel poplasi ketiga. Sel NK dapat menghancurkan sel yang
mengandung virus atau sel neoplasma dan interveron meempunyai pengaruh dalam
mempercepat pematangan dan efeksitolitik sel NK.

Imunitas spesifik dapat terjadi sebagai berikut:

1) Alamiah

a) Pasif
Imunitas alamiah pasif ialah pemindahan antibody atau sel darah putih yang
disensitisasi dari badan seorang yang imun ke orang lain yang imun, misalnya
melalui plasenta dan kolostrum dari ibu ke anak.
b) Aktif
Imunitas alamiah katif dapat terjadi bila suatu mikoorgansme secara alamiah
masuk kedalam tubuh dan menimbulkan pembentukan antibody atau sel yang
tersensitisasi.




2) Buatan

a) Pasif
Imunitas buatan pasif dilakukan dengan memberikan serum, antibody, antitoksin
misalnya pada tetanus, difteri, gangrengas, gigitan ular dan difesiensi imun atau
pemberian sel yang sudah disensitisasi pada tuberkolosis dan hepar.

b) Aktif
Imunitas buatan aktif dapat ditimbulkan dengan vaksinasi melalui pemberian
toksoid tetanus, antigen mikro organism baik yang mati maupun yang hidup.

Sistem imun spesifik atau adaptasi
Mempunyai kemampuan untuk mengenal benda asing. Benda asing yang pertama kali
muncul dikenal oleh sistem imun spesifik sehingga terjadi sensitiasi sel-sel imun tersebut.
Bila sel imun tersebut berpapasan kembali dengan benda asing yang sama, maka benda asing
yang terakhir ini akan dikenal lebih cepat, kemudian akan dihancurkan olehnya. Oleh karena
sistem tersebut hanya mengahancurkan benda asing yang sudah dikenal sebelumnya, maka
sistem itu disebut spesifik.
sistem imun spesifik dapat bekerja sendiri untuk menghancurkan benda asing yang
berbahaya, tetapi umumnya terjalin kerjasama yang baik antara antibodi, komplemen, fagosit
dan antara sel T makrofag.

Sistem imun spesifik ada 2 yaitu:

a. Sistem imun spesifik humoral

Yang berperanan dalam sistem imun humoral adalah limfosit B atau sel B. sel B tersebut
berasal dari sel asal multipoten. Bila sel B dirangsang oleh benda asing maka sel tersebut
akan berproliferasi dan berkembang menjadi sel plasma yang dapat menbentuk zat anti atau
antibody. Antibody yang dilepas dapat ditemukan didalam serum.Funsi utama antibody ini
ialah untuk pertahanan tehadap infeksi virus, bakteri (ekstraseluler), dan dapat menetralkan
toksinnya.


b. Sistem imun spesifik selular

Yang berperanan dalam sistem imun spesifik seluler adalah limfosit T atau sel T. sel tersebut
juga berasal dari sel asal yang sama dari sel B. factor timus yang disebut timosin dapat
ditemukan dalam peredaran darah sebagai hormon asli dan dapat memberikan pengaruhnya
terhadap diferensiasi sel T diperifer. Berbeda dengan sel B, sel T terdiri atas beberapa sel
subset yang mempunyai fungsi berlainan. Fungsi utama sel imun spesifik adalah untuk
pertahanan terhadap bakteri yang hidup intraseluler, virus, jamur, parasit, dan keganasan.

4.3 Mekanisme
Istilah gabungan dari sistem yang terdiri dari kira-kira 20 protein, yang kebanyakan
merupakan prekursor enzim. Komplemen diaktifkan melalui 3 cara :
Jalur klasik
Diaktifkan oleh antibodi-antigen, antibodi yang berikan dengan antigen akan
membiarkan bagian tetapnya untuk berikatan dengan C1 komplemen, dan
melakukan rangkaian reaksi-reaksi yang diawali dengan pengaktifkan proenzim C1
itu sendiri.
Jalur alternatif
Sistem ini diaktifkan tanpa diperantarai antigen-antibodi, hal ini terutama terjadi
dalam respon molekul-molekul polisakarida yang besar dalam membran sel
mikroorganisme. Bahan beraksi dengan komplemen B dan D, menghasilkan bahan
pengaktif yang mengaktifkan faktor C3 untuk memulai rangkaian selanjutnya. Jalur
ini merupakan garis pertahanan pertama terhadap mikroorganisme, bahkan berfungsi
sebelum orang tersebut terimunisasi.
Jalur lektin
Sistem ini diaktifkan oleh ikatan manosa pada mikroba dengan manosa binding
lectin yang selanjutnya akan mengaktifkan sistem komplemen.


LO 5 Mengetahui dan Menjelaskan Vaksin dan Imunisasi
5.1 Definisi
Vaksin adalah antigen dapat berupa bibit penyakit yang sudah dilemahkan atau
dimatikan (bakteri, virus, riketsia) dan juga dapat berupa toksoid. Bila vaksin
diberikan kepada sasaran manusia, maka akan dapat menimbulkan kekebalan
spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu.
Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu
penyakit. Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini
berfungsi melindungi terhadap penyakit.

Imunisasi: pemindahan atau transfer antibodi [bahasa awam: daya tahan tubuh]
secara pasif. Antibodi diperoleh dari komponen plasma donor yang sudah sembuh
dari penyakit tertentu.

5.2 Klasifikasi

Klasifikasi vaksin
Jenis vaksin Penyakit Keuntungan Kerugian
Vaksin hidup Campak, parotitis,
polio(sabin), virus
rota, rubella, yellow
fever, tuberkolosis
Respon imun kuat,
sering seumur hidup
dengan bebrapa dosis
Memerlukan alat
pendingin untuk
menyimpan dan
dapat berubah
menjadi bentuk
virulen
Vaksin mati Kolera, influenza,
hepatitis A, pes,
polio, (salk), rabies
Stabil, aman
dibanding vaksin
hidup, tidak
memerlukan alat
Respons imun lebih
lemah dibanding
vaksin hidup,
biasanya diperlukan
pendingin. suntikan booster.
Toksoid Difteri, tetanus Respons imun dipacu
untuk mengenal
toksin bakteri

Subunit (eksotoksin
yang diinaktifkan)
Hepatitis B, pertusis,
S. pneumoni
Antigen spesifik
menurunkan
kemungkinan efek
samping
Sulit untuk
dikembangkan
Konjugat H. influenza B, S.
Pneumoni
Memacu sistem imun
bayi untuk mengenak
sistem teetentu

DNA Dalam uji klinis Respons imun
humoral dan selular
kuat, relatif tidak
mahal untuk
manufaktur
Belum diperoleh
Vektor rekombinan Dalam uji klinis Menyerupai infeksi
alamiah,menghasilkan
respon imun kuat.
Belumdiperoleh

Vaksin Virus
Kelas vaksin virus Catatan
Virus vaksin hidup Adenovirus
Cacar air
Campak
Parotitis
Polio
Rotavirus
Rubella
Caacr
Yellow fever
Imunisasi aktif menggunakan
galur tidak virulen yang
dilemahka. Efektif memacu
respons antibodi dan limfosit
sitotoksit
Virus vaksin mati Hepatitis A
Influenza
Polio
Rabies
Imunisasi aktif menggunakan
partikel virus panas atau
kimia yang tidak aktif.
Vaksinasi dapat
dikombinasikan dengan virus
lainnya (polivalen)
Vaksin subunit adenovirus Imunisasi aktif menggunakan
protein yang dimurnikan
Vaksin polipeptida Hepatitis B Imunisasi aktif menggunakan
sintesa urutan protein
polipeptida
Vaksin DNA
(hanya evaluasi)
HIV Penelitian: bermanfaat untuk
memacu respon Tc
Antibodi pasif Hepatitis A
Hepatitis B
Campak
Parotitis
Rabies
RSV
Penyuntikan antibodi yang
dimurnikan hasil dari sumber
lainnya. Hanya sementara
dan hanya sedikit bermanfaat
diberikan setelah awitan
penyakit.
Rubella
Varisella zoster


5.3 Tujuan
Tujuan vaksin: merangsang respon imunologi tubuh dalam membentuk antibodi
spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit yang dapat
dicegah dengan vaksin

Tujuan imunisasi: mengurangi angka penderita suatu penyakit yang dapat
membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian pada penderitanya

5.4 Cara Kerja (indikasi dan kontra indikasi )

Kekebalan aktif terjadi jika seseorang kebal terhadap suatu penyakit setelah
diberikan vaksinasi dengan suatu bibit penyakit. Jika kekebalan itu diperoleh
setelah orang mengalami sakit karena infeksi suatu kuman penyakit maka disebut
kekebalan aktif alami. Sebagai contohnya adalah seseorang yang pernah sakit
campak maka seumur hidupnya orang tersebut tidak akan sakit
Vaksin mengandung bibit penyakit yang telah mati atau dinonaktifkan, dimana
pada bibit penyakit tersebut masih mempunyai antigen yang kemudian akan
direspon oleh sistem imun dengan cara membentuk antibodi.


Sel B dan sel T (sel limfosit) ikut berperan dalam menghasilkan antibodi. Sel B (B
limfosit) membentuk sistem imunitas humoral, yaitu imunitas dengan cara
membentuk antibodi yang berada di darah dan limfa. Sel B berfungsi secara
spesifik mengenali antigen asing serta berperan membentuk kekebalan terhadap
infeksi bakteri, seperti Streptococcus, Meningococcus, virus campak, dan
Poliomeilitis. Antibodi ini kemudian melekat pada antigen dan melumpuhkannya.

Sel B ini juga mampu membentuk sel pengingat (memory cell). Sel ini berfungsi
untuk membentuk kekebalan tubuh dalam jangka panjang. Sebagai contoh jika
terdapat antigen yang sama masuk kembali ke dalam tubuh maka sel pengingat ini
akan segera meningkatkan antibodi dan membentuk sel plasma dalam waktu
cepat. Sel plasma adalah sel B yang mampu menghasilkan antibodi dalam darah
dan limfa.


Sel T (T limfosit) membentuk sistem imunitas terhadap infeksi bakteri, virus,
jamur, sel kanker, serta timbulnya alergi. Sel T ini mengalami pematangan di
glandula timus dan bekerja secara fagositosis. Namun T limfosit tidak
menghasilkan antibodi. T limfosit secara langsung dapat menyerang sel penghasil
antigen. Sel T kadang ikut membantu produksi antibodi oleh sel B.




LO 6 Mengetahui dan Menjelaskan Pandangan Islam tentang Vaksin
Imunisasi hukumnya boleh dan tidak terlarang, karena termasuk penjagaan diri dari penyakit
sebelum terjadi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa yang
memakan tujuh butir kurma ajwah, maka dia akan terhindar sehari itu dari racun dan
sihir(HR. Bukhari : 5768, Muslim : 4702).
Hadits ini menunjukkan secara jelas tentang disyariatkannya mengambil sebab untuk
membentengi diri dari penyakit sebelum terjadi. Demikian juga kalau dikhawatirkan terjadi
wabah yang menimpa maka hukumnya boleh sebagaimana halnya boleh berobat tatkala
terkena penyakit.





Boleh dalam kondisi darurat dalil firman Allah : Sesungguhnya Allah telah menjelaskan
kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu
memakannya. (QS. Al- Anam [6]:119)

Prinsip pengobatan dalam Islam:
1.Jika sakit wajib berobat karena perintah Allah.
2. Keyakinan Islam dan kaum muslimin bahwa setiap penyakit yang diturunkan Allah, juga
telah diturunkan obatnya kecuali kematian tidak ada obatnya. Masalahnya Apakah kematian
itu penyakit?
3. Dalam pandangan Islam Haram berobat dari barang dan benda yang haram. Karena semua
yang diharamkan dalam al-Quran, dapat memberikan efek kerusakan pada manusia.
Sebaliknya semua yang diperintahkan memiliki manfaat bagi manusia. Dengan demikian
semua yang merusak harahm hukumnya dalam Islam.
4. Jika apa yang telah dikemukakan di atas tentang fakta vaksin di dunia kedokteran Barat
yang penuh dengan konspirasi dan bahaya yang banyak, maka dapat dinyatakan bahwa
vaksin adalah haram hukumnya atau setidaknya makruh.



DAFTAR PUSTAKA

Friedrich Paulsen and Jens Waschke.2012. Atlas Anatomi Manusia Sobotta, ed. 23, jilid 2,
Jakarta: EGC.
Bratawidjaja Karnen dan Iris.2014.Imunologi Dasar Ed 11.Jakarta :Badan penerbit FKUI
http://www.analiskesehatan.web.id/2012/11/klasifikasi-antigen-dan-antibodi-sistem.html
http://prezi.com/syrtmdedofbj/sistem-kekebalan-imun/
http://www.dwidayadarma.com/pengenalan-vaksin.html
http://www.analiskesehatan.web.id/2012/11/jenis-jenis-sistem-imunologi-dan-sistem.html