Anda di halaman 1dari 25

TK-4094 PERANCANGAN PABRIK KIMIA

LAPORAN I
BASIS PERANCANGAN
5/02/2014 RCA Issued for Internal Review PV ZM MKT/PJG
TANGGAL
DISIAPKAN
OLEH
PENJELASAN CHECK APPR. PEMBIMBING
PRODUKSI BIOAVTUR MELALUI PROSES HIDRODEOKSIGENASI CKPO

B.1.1.03
Zenzen Muttakin 13010003
Paul Victor 13010075
Rosa Citra Aprilia 13010089
Revisi ke- :
LAPORAN I
0 25
B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

2 dari 25


Daftar Isi
1 INFORMASI UMUM 3
1.1 PENGANTAR 3
1.2 NAMA PROJEK 3
1.3 LOKASI 3
1.4 RUANG LINGKUP 3
1.5 FILOSOFI PERANCANGAN 3
1.6 DATA LOKASI UMUM 3
1.6.1 KOORDINAT DAN LINGKUNGAN SEKITAR 3
1.6.2 PETA 4
1.7 DATA METEOROLOGI 4
2 DATA PERANCANGAN PROSES 5
2.1 UMPAN 5
2.1.1 KETERSEDIAAN BAHAN BAKU 5
2.1.2 KOMPOSISI UMPAN 5
2.1.3 KONDISI UMPAN 6
2.2 PRODUK 6
2.2.1 SPESIFIKASI PRODUK 6
2.2.2 SPESIFIKASI PRODUK SAMPING 6
2.2.3 SPESIFIKASI LIMBAH BUANGAN 7
2.3 SISTEM UTILITAS 7
2.3.1 SISTEM PENYEDIAAN PANAS 7
2.3.2 SISTEM PENYEDIAAN AIR 7
2.3.3 STANDART KUALITAS AIR PROSES 7
2.3.4 MEDIA PENDINGIN 8
2.3.5 MEDIA PEMANAS 8
3 INFORMASI LINGKUNGAN 9
3.1.1 GAS BUANG 9
3.1.2 LIMBAH CAIR 9
3.1.3 LIMBAH PADAT 10
4 BASIS PEMILIHAN BAHAN 11
5 PERHITUNGAN KEEKONOMIAN SEDERHANA (GPM) 11
6 NERACA MASSA & ENERGI (BFD) 12
APPENDIX A KAJIAN LOKASI PABRIK 13
APPENDIX B FILOSOFI PERANCANGAN 15
APPENDIX C KAJIAN KETERSEDIAAN BAHAN BAKU 19
APPENDIX D KAJIAN PRODUK 21
APPENDIX E KAJIAN KEEKONOMIAN 24
APPENDIX F KAJIAN NERACA MASSA 25

B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

3 dari 25


1 INFORMASI UMUM
1.1 Pengantar
Basis perancangan ini disusun sebagai basis studi konseptual dalam perancangan pabrik
bioavtur melalui proses dehidrooksigenasi dengan bahan baku CKPO (Crude Kernel Palm Oil).
1.2 Nama Projek
Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO
1.3 Lokasi
Lokasi pabrik berada di Perbaungan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
1.4 Ruang Lingkup
Basis perancangan ini meliputi:
1. Studi ketersediaan dan spesifikasi bahan baku.
2. Studi basis dan filosofi konseptual perancangan.
3. Studi spesifikasi produk utama dan limbah buangan.
4. Kajian kebijakan dan institutional support.
5. Kajian keekonomian sederhana atau Gross Profit Margin (GPM).
6. Kajian neraca massa dan energi.
1.5 Filosofi Perancangan
Umur Pabrik : 20 tahun
Rasio turndown : 40%
1.6 Data Lokasi Umum
1.6.1 Koordinat dan Lingkungan Sekitar
Lokasi pabrik berada di Perbaungan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara dengan
koordinat 2
o
57 - 3
o
16 Lintang Utara dan 98
o
33 - 99
o
27 Bujur Timur. Lokasi pabrik berada
diantara bahan baku yaitu berjarak 80 km dari pabrik CKPO PTPN III dan IV dan berjarak 110 km
pabrik CKPO PTPN II. Selain itu lokasi pabrik juga tidak jauh dari bandara udara internasional
Kuala Namu yaitu berjarak 20 km.
B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

4 dari 25


1.6.2 Peta

Gambar 1 Peta Lokasi Pabrik
1.7 Data Meteorologi
Kecepatan udara : 1,8 m/s
Kelembaban udara : 83%
Tekanan udara : 1009,5 hPa
Temperatur rata-rata : 27,5
o
C

B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

5 dari 25


2 Data Perancangan Proses
2.1 Umpan
2.1.1 Ketersediaan bahan baku

Gambar 2 Perkiraan Produksi Minyak Inti Sawit
2.1.2 Komposisi Umpan

Tabel 1 Properti dari CKPO (asam laurat)
Bentuk: Cairan
1. Berat Molekul 639 kg/kmol
2. Kerapatan 880 kg/m3

Tabel 2 Properti dari air
Bentuk : Cairan
1. Berat Molekul 18 kg/kmol
2. Kerapatan 1000 kg/m3
3. Tekanan kritik 22,064 MPa

Tabel 3 Properti dari H
2
Bentuk : Gas
1. Berat Molekul 2 kg/kmol
2. Kerapatan 0,085 kg/m3
3. Tekanan kritik 12,98 Bar
232000
233000
234000
235000
236000
237000
(
T
o
n
)

Tahun
B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

6 dari 25


2.1.3 Kondisi Umpan
Laju umpan masuk (CKPO) = 100 ton/day
Laju hidrogen masuk = 3,8 ton/day
Tekanan masuk = 1.200 1.800 psig

2.2 Produk
2.2.1 Spesifikasi Produk
Produk utama yang dihasilkan adalah bioavtur. Spesifikasi bioavtur yang ingin dicapai dapat
dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Spesifikasi Bioavtur
No. Spesifikasi Nilai
1. Densitas (kg/m
3
) (20
o
C) 749,2
2. Titik beku/
o
C -58,6
3. Titik asap/mm >32
4. Titik flash (tertutup)/
o
C 50
5. Viskositas kinematik
(20
o
C) 1,833
(-20
o
C) 4,582
6. Kandungan aromatik/% 0
7. Kandungan olefin/% 0
8. Kandungan sulfur/% 0,0001

2.2.2 Spesifikasi Produk Samping
Produk samping yang dihasilkan pada proses ini yaitu LPG dan naphtha.
Tabel 5 Spesifikasi Naphta
Spesifikasi Nilai
Flash point (
o
C) -21,7
Auto Ignition Temperature (
o
C) 225
Boiling point (
o
C) 26, 7 -148,9
Tekanan uap (68
o
C) (hPa) 758 - 896


B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

7 dari 25


Tabel 6 Spesifikasi LPG
(Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, 2009)
Spesifikasi Nilai
Densitas (kg/m
3
) (60
o
F)
Tekanan uap (100
o
F) (psig) 145
Kandungan sulfur (grains/100 cuft) 15
Kandungan air 0

2.2.3 Spesifikasi Limbah Buangan
Pada proses produksi bioavtur ini dihasilkan CO
2
dan H
2
O sebagai bahan buangan terbesar,
namun H
2
O dapat diolah kembali untuk digunakan pada proses. Bahan buangan lainnya, seperti
limbah gas (SO
2
, H
2
S, atau NO
2
), dan limbah padat (sulfur cake) dapat dilihat pada bagian
informasi lingkungan.
Tabel 7 Spesifikasi CO
2

Rumus molekul CO
2

Massa molar 44,01 g mol
1

Densitas 1562 kg/m
3
(padat, 1 atm, 78.5 C)
770 kg/m3 (cair, 56 atm, 20 C)
1,977 kg/m3 (gas, 1 atm, 0 C)
Titik leleh -78 C, 194,7 K, -109 F (subl.)
Titik didih -57 C, 216,6 K, -70 F (at 5.185 bar)
Kelarutan di air 1,45 g/L pada 25 C, 100 kPa
Keasaman (pKa) 6,35, 10,33
Viskositas 0,07 cP pada 78.5 C

2.3 Sistem Utilitas
2.3.1 Sistem penyediaan panas
Sumber penyediaan panas : Steam dari boiler
Sumber penyediaan panas start-up : HP separator downstream dengan fuel gas treater.
Jumlah gas yang digunakan : 8% volume dari volume gas outlet HP Separator.
2.3.2 Sistem penyediaan air
Sumber air : Air sungai
Lokasi : Sungai Ular yang berlokasi 8 km dari lokasi pabrik

2.3.3 Standart Kualitas Air Proses
Kualitas De-mineralized Water dengan parameter pada Tabel 8.

B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

8 dari 25


Tabel 8 Kualitas air proses
No. Parameter Nilai
1. Conductivity @25
o
C (after ion exchange) Max 5 S/cm
2. pH 6.8-7.2
3. Hardness Max 0.1 ppm(w) CaCO
3

4. Total CO
2
Max 1.0 ppm(w) CO
2

5. Chloride Max 0.1 ppm(w) Cl
6. Silica Max 0.1 ppm(w) SiCO
3

7. Total Iron / Total Copper / Permanganate Trace
8. Oxygen Max 0.1 ppm(w) O
3


2.3.4 Media Pendingin
Media pendingin yang digunakan adalah air pendingin dari air sungai.
2.3.5 Media Pemanas
Media pemanas yang digunakan adalah kukus.


B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

9 dari 25


3 INFORMASI LINGKUNGAN
3.1.1 Gas Buang
Gas buang yang dihasilkan pada proses ini ditunjukkan pada Tabel 9, dan syarat baku mutu
emisi sumber tidak bergerak ditujukkan pada Tabel 10.
Tabel 9 Gas Effluent dan Batas Emisi
Sumber Metode Pengolahan Batas Emisi/Regulasi
Internal combustion
equipment

Dibuang ke atmosfer
PER/MENLH/13/2009
Inseneration unit
Vent Unit dan Ambient Air
PP/41/1999
KEP/MENLH/50/1996

Tabel 10 Syarat baku mutu emisi sumber tidak bergerak
(Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 13 Tahun 1995)
Parameter
Batas maksimum
(mg/m3)
Gas klorin (Cl
2
) 10
Nitrogen oksida (NO
2
) 1000
Sulfur dioksida (SO
2
) 800
Total sulfur tereduksi (H2S) 35
Partikel 350

3.1.2 Limbah Cair
Limbah cair yang dihasilkan ada proses ini ditunjukkan pada Tabel 11, dan syarat kualitas air
buangan industri domestik ditunjukkan pada Tabel 12.
Tabel 11 Liquid Effluent dan Batas Emisi
Sumber Metode Pengolahan Batas Emisi/Regulasi
Oily Process Water Drain Diolah di WTP Kep/MENLH/112/2003
Spent Acid dan Spent
Caustic dari de-mineralized
water treatment package
Diolah di neutralization pit,
kemudian dicampur
Produced Water
pH 6-8
Sludge avtur Insenerasi Per/MENLH/18/2009 tentang B3


B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

10 dari 25


Tabel 12 Syarat kualitas air buangan industri domestik
(Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 112 Tahun 2003)
Parameter Batasan
pH 6-10
BOD 100 mg/L
TSS 100 mg/L
Lemak dan minyak 10 mg/L

3.1.3 Limbah Padat
Limbah padat yang dihasilkan pada proses ini ditunjukkan pada Tabel 13.
Tabel 13 Solid Effluent dan Batas Emisi
Sumber Metode Pengolahan Batas Emisi/ Regulasi
Sulfur cake Diolah menjadi sulfur -


B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

11 dari 25


4 BASIS PEMILIHAN BAHAN
Material yang digunakan adalah carbon steel karena senyawa yang akan ditangani tidak mengandung
zat yang korosif. Walaupun proses yang terjadi berada pada tekanan dan temperatur yang tinggi, namun
kondisi ini masih berada di bawah batas kemampuan bahan carbon steel.

5 PERHITUNGAN KEEKONOMIAN SEDERHANA (GPM)
HARGA BAHAN BAKU

Harga CKPO Rp/kg 14000
GHV CKPO MJ/kg 40
Laju pengumpanan CKPO tpd 100
Biaya CKPO MiliarRp/yr 462
Harga Gas Alam Rp/MMBTU 47160
Laju pengumpanan Gas Alam Tpd 11

MMBTU/d 541,75
Biaya Gas Alam MiliarRp/yr 8,43
BIAYA PEGAWAI MiliarRp/yr 94
BIAYA LAIN-LAIN MiliarRp/yr 94
BIAYA PRODUKSI
KESELURUHAN MiliarRp/yr 658
PENJUALAN AVTUR

Harga Avtur Rp/kg 27000
GHV Avtur MJ/kg 42
Laju Produks Avtur tpd 80
Penjualan Avtur MiliarRp/yr 739
Penjualan keseluruhan avtur MiliarRp/yr 81

B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

12 dari 25


6 NERACA MASSA & ENERGI (BFD)

Preheater
600-650
o
F Trigliserida
1200-1800 psig
H2
First Stage HDO Reactor
Reaction:
Trigliserida + H2 --> Fatty Alcohols +
Ester + Water
Air Cooler
Fatty alcohols
Ester
Hidrogen
water
Separator
H2
Fatty alc.
Ester
Heater
550
o
F
Second Stage HDO Reactor
Reaction :
Ester + H2 --> n-Parafin + Propane +
Water
and
Fatty Alcohol + H2 --> n-Parafin + Water
Separator
n-Parafin
Water
Hidrogen
Propane
Produk
(n-Parafin)
Separator
H2
Water
Propane
Water
Water
Air Cooler
Water
Hidrogen
Propane
Hydrocracking
Reactor
Naphtha
Bioavtur
Scrubber
H2
Mark Up
H2
H2

Gambar 3 Block flow diagram dari hidrodeoksigenasi CKPO

B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

13 dari 25


Appendix A Kajian Lokasi Pabrik

Penentuan lokasi pabrik ini berdasarkan beberapa faktor yang diharapkan dapat berguna dalam operasional pabrik.
Beberapa faktor diantaranya yaitu faktor kemudahan memperoleh bahan baku, memasarkan produk, mendapatkan
sarana pendukung dan faktor penunjang lainnya. Kajian penentuan lokasi akan dijelaskan lebih lengkap pada
bagian ini.

Gambar 4 Peta lokasi pabrik

Kemudahan dalam Memperoleh Bahan Baku
Salah satu provinsi penghasil minyak inti sawit terbesar di Indonesia adalah di Sumatera Utara. Hal itu di tunjukkan
dengan adanya 3 PTPN yang beroperasi di propinsi tersebut, yaitu PTPN II, PTPN III, PTPN IV. Dengan adanya 3
sumber bahan baku tersebut diharapkan tidak akan terjadi kekurangan bahan baku saat pabrik telah didirikan.
Selain itu, PTPN sendiri berencana akan terus menambah jumlah pabrik pengolah minyak kelapa sawit dan inti
kelapa sawit dari waktu kewaktu.
Selain itu juga, lokasi dari pabrik yang akan didirikan jaraknya tidak jauh dari lokasi PTPN. Dari lokasi pabrik
pengolah minyak inti kelapa sawit yang dimiliki oleh PTPN III dan IV jaraknya hanya sekitar 80 km dan dari
pabrik pengolah minyak inti kelapa sawit milik PTPN II hanya sekitar 110 km. Kedekatan tersebut diharapkan
dapat lebih menjamin keamanan ketersediaan pasokan bahan baku karena faktor resiko di jalan yang berkurang.

B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

14 dari 25


Kemudahan dalam Pemasaran
Lokasi pabrik yang akan dibangun sangat dekat dengan lokasi bandar udara internasional kualanamu yang memiliki
potensi menjadi salah satu bandar udara terbesar di dunia. Bandara kualanamu juga diperkirakan akan padat denagn
lalu lintas udara sebanyak 10.000 penerbangan per tahun. Jarak yang dekat ini akan memberikan peluang suksesnya
pabrik dalam hal pemasaran produk, karena harga bioavtur yang ditawarkan akan lebih kompetitif disebabkan
biaya yang digunakan untuk transportasi pngiriman bahan baku lebih rendah.
Kemudahan Mendapatkan Sarana Pendukung
Pada lokasi ini, sarana pendukung tambahan akan didapatkan dengan mudah, yaitu faktor utilitas dan transportasi.
Terdapat sungai dan pantai laut yang jaraknya tidak jauh dari lokasi pabrik sehingga utilitas air penukar panas dan
air proses tersedia secara melimpah. Selain itu juga dapat digunakan sebagai tempat pembuangan air hasil proses.
Pasokan energi listrik juga tersedia, sehingga kebutuhan akan energi listrik bisa terpenuhi.
Faktor yang tidak kalah penting yaitu kemudahan transportasi untuk pendistribusian produk atau pengiriman bahan
baku. Lokasi pabrik ini berada di jalur utama sumatera utara sehingga pengiriman bahan baku maupun produk
dapat dilakukan dengan resiko mengalami masalah di jalan yang rendah. Selain itu terdapat juga jalur kereta api
yang dapat digunakan untuk pengiriman bahan baku. Lokasi pabrik juga dekat dengan pelabuhan kuala tanjung
yang dapat digunakan sebagai jalur ekspor.

B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

15 dari 25


Appendix B Filosofi Perancangan

Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui proses fotosintetik, baik berupa produk
maupun buangan. Contoh biomassa antara lain adalah tanaman, pepohonan, rumput, ubi, limbah
pertanian, limbah hutan, tinja dan kotoran ternak. Selain digunakan untuk tujuan primer serat, bahan
pangan, pakan ternak, minyak nabati, bahan bangunan dan sebagainya, biomassa juga digunakan
sebagai sumber energi (bahan bakar). Umum yang digunakan sebagai bahan bakar adalah biomassa
yang nilai ekonomisnya rendah atau merupakan limbah setelah diambil produk primernya.
Sumber energi biomassa mempunyai beberapa kelebihan antara lain merupakan sumber energi yang
dapat diperbaharui (renewable) sehingga dapat menyediakan sumber energi secara
berkesinambungan (suistainable). Di Indonesia, biomassa merupakan sumber daya alam yang sangat
penting dengan berbagai produk primer sebagai serat, kayu, minyak, bahan pangan dan lain-lain yang
selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik juga diekspor dan menjadi tulang punggung
penghasil devisa negara.
Beberapa alternatif proses untuk memproduksi bioavtur dari biomassa adalah sebagai berikut
Pirolisis biomassa
Pirolisis tergolong ke dalam thermochemical process yang pada umumnya terdiri dari enam tahap :
1. Chopping and grinding
Proses grinding merupakan proses yang mahal dan intensif energi. Biaya grinding dapat
mencapai $11/MT biomassa (Sokhansanj dkk, 2006) bergantung dari jenis peralatan dan kondisi
umpan.
2. Drying
Kandungan air dalam umpan menghasilkan peningkatan kebutuhan panas dan menurunkan
perolehan produk. Untuk proses pirolisis, dianjurkan kandungan air tidak melebihi 7% (Bridgwater
dkk, 2003), maka dari itu umpan perlu dikeringkan terlebih dahulu.
3. Fast pyrolysis
Fast pyrolisis pada biomassa merupakan proses yang melibatkan pertukaran panas yang tinggi,
waktu tinggal rendah, dan temperatur hingga 500C.
4. Gas cleanup
Gas yang dihasilkan dari reaktor pirolisis membawa partikulat dengan diameter yang beragam.
Berbeda dengan partikel yang terbawa dari reaktor gasifikasi, partikel dari reaktor pirolisis
memiliki ukuran yang jauh lebih kecil yaitu sekitar 25 mikron. Ukuran partikel akan menentukan
desain peralatan filter atau siklon. Partikel yang dihasilkan dari pemisahan (char) dapat
diumpankan ke dalam pembakaran yang menghasilkan panas.
5. Oil collection
Terdapat banyak metoda yang dapat digunakan untuk mendapatkan bio-oil dari gas hasil reaktor
pirolisis. Untuk mendapatkan yield yang besar, proses kondensasi harus dilakukan secepat
mungkin untuk menghindari reaksi sekunder dalam gas yang mengurangi perolehan minyak.
Pendinginan yang umum dilakukan adalah dengan indirect heat exchanger dengan media
pendingin air proses dan menghasilkan steam.
B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

16 dari 25


6. Hydrotreating
Hydrotreating merupakan proses eksotermik bertujuan untuk menghilangkan pengotor pada
pengolahan downstream minyak. Hydrotreating dilakukan dalam atmosfer kaya hidrogen (95%-
mol atau 5% massa) dengan kondisi operasi tekanan antara 7-10 MPa dan temperatur 300-
400C dengan katalis cobalt-molybdenum. Hydrocracking pada umumnya dilakukan setelah
hydrotreating untuk mendapatkan fraksi hidrokarbon lebih ringan sesuai yang diingikan dari fraksi
hidrokarbon berat melalui pemutusan ikatan (adisi hidrogen). Hidrokarbon panjang seperti C30
dapat dipecah untuk menjadi C12 (diesel) dan C8 (gasoline).
Kekurangan dari proses pirolisis biomassa adalah rendemen yang diperoleh cukup rendah, selain itu
kondisi tekanan dan temperatur proses yang diperlukan cukup tinggi. Proses ini juga menghasilkan
limbah tar dan zat volatil yang berbahaya untuk lingkungan.
Gasifikasi
Gasifikasi biomassa adalah konversi dari turunan senyawa organik berupa karbon melalui oksidasi
parsial menjadi produk gas berupa syngas dengan komposisi utama berupa hidrogen dan karbon
monoksida dan komposisi lain seperti karbon dioksida, air, metana, dan nitrogen. Empat tahap
penting dalam proses gasifikasi adalah pengeringan, devolatilisasi, pembakaran, dan reduksi. Tahap
pengeringan berguna untuk menghilangkan moisture. Devolatilisasi dilakukan dengan pemanasan
dengan menggunakan oksigen sehingga terbentuk CO dan CO2. Tahap pembakaran bersifat
eksotermik, sehingga menghasilkan panas untuk tahap reduksi. Tahap reduksi mencakup reaksi
pada Tabel 14.
Tabel 14 Reaksi gasifikasi
Nama
Reaksi
Water gas
C + H2O CO + H2
Boudouard
C + O2 2CO
Water-Gas-Shift
CO + H2O CO2 + H2
Methanation
CO + 3H2 CH4 + H2O


Sintesis Fischer-Tropsch
Reaksi pertumbuhan rantai Fischer Tropsch dapat menghasilkan produk hidrokarbon ringan (C
1
dan
C
2
), LPG (C
3
-C
5
), nafta (C
5
-C
12
), diesel (C
13
-C
19
), dan wax (C
20+
). Mekanisme utama dalam reaksi FT
adalah sebagai berikut:
CO + 2H2 -CH2- + H2O
Produk dari Fischer Tropsch merupakan hidrokarbon yang panjangnya berbeda. Selektivitas rantai
panjang (SC5+) diperlukan untuk mencapai jumlah maksimum hidrokarbon rantai panjang.
Terdapat tiga reaktor yaitu fluidized bed reactor, fixed bed reactor, dan slurry reactor. Penelitian
selama ini menunjukkan fixed reactor dan slurry reactor sangat menjanjikan untuk reaksi Fischer
Tropsch. Kelebihan masing-masing reaktor tergantung pada jenis biomassa yang digunakan. Namun
dari segi sensitivitas terhadap inert (relevan untuk biomassa yang diharapkan menghasilkan
karakteristik gas dengan yang diperoleh dari gas alam) reaktor slurry lebih menguntungkan.
Kekurangan slurry adalah perlunya ditambahkan unit pemisahan wax dan katalis.

B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

17 dari 25


Proses Hidrodeoksigenasi
Proses hidrodeoksigenasi adalah sebuah proses yang digunakan untuk menghasilkan hidrokarbon
dari biomassa. Kandungan oksigen yang terdapat pada biomassa dapat menurunkan kualitas produk
bahan bakar dan heating value dari biomassa tersebut. Pada proses hidrodeoksigenasi, oksigen
yang terkandung di dalam biomassa dihilangkan melalui reaksi katalitik dengan hidrogen. Reaksi ini
dapat dilakukan menggunakan fixed-bed catalytic reactor dengan katalis NiMo atau CoMo
tersulfurisasi. Reaksi yang terjadi pada proses hidrodeoksigenasi adalah sebagai berikut :

Gambar 5 Reaksi Hidrodeoksigenasi Asam Laurat

Proses yang digunakan untuk produksi bioavtur dari CKPO ini adalah proses hidrodeoksigenasi yang secara
umum terbagi menjadi empat tahap seperti yang ditampilkan pada Gambar 6.

Gambar 6 Tahap hidrodeoksigenasi
1. Pre-treatment
Pada tahap pre-treatment, umpan yang berupa trigliserida dipompa hingga mencapai tekanan
operasi yaitu sebesar 1200-1800 psig. Gas H
2
kemudian ditambahkan ke dalam aliran yang lalu
dipanaskan pada sebuah heat exchanger dengan aliran produk 2
nd
stage HDO reactor sebagai fluida
pemanas. Aliran ini kemudian dipanaskan lebih lanjut menggunakan heater hingga mencapai 315-
350 C.
2. 1
st
stage HDO reactor
Pada reaktor tahap 1, terjadi proses perekahan dari trigliserida menjadi fatty alcohol dan gugus ester
yang lebih kecil, mekanisme reaksi katalitik yang terjadi ditampilkan pada Gambar 7.

Pre-treatment
1
st
stage HDO
reactor

2
nd
stage HDO
reactor
Hydrocracking
B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

18 dari 25



Gambar 7 Gambar perekahan trigliserida
3. 2
nd
stage HDO reactor
Pada reaktor tahap 2, terjadi proses hydrogenolysis dimana atom-atom oksigen yang tersisa pada
fatty alcohol dan produk diester intermediat dihilangkan. Reaksi yang terjadi ditampilkan pada
Gambar 8.

Gambar 8 Reaksi hydrogenolysis
4. Hydrocracking
Pada tahap hydrocracking, produk keluaran reaktor tahap 2 yang berupa n-paraffin mengalami
perengkahan sehingga menjadi gugus-gugus hidrokarbon yang lebih kecil, sehingga kemudian
diperoleh produk akhir bioavtur (C
10
-C
15
) dan naphtha (C
5
-C
6
).

Dasar Turndown Ratio
Turndown ratio yang digunakan untuk pabrik ini adalah 40%. Alasan pemilihan angka ini adalah karena
angka ini merupakan nilai optimal yang dapat mengantisipasi perubahan kapasitas produksi dengan
cukup baik.
Dasar Asumsi Pabrik Bekerja 330 Hari/Tahun
Pabrik bekerja 330 hari dalam setahun (360 hari) dengan 30 hari vakum yang digunakan untuk
perawatan/maintenance pabrik.
Dasar Umur Pabrik 20 Tahun
Pabrik diasumsikan berumur 20 tahun sesuai dengan usia peralatan dan mesin yang digunakan pabrik
pada umumnya yaitu sekitar 15 20 tahun.
B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

19 dari 25


Appendix C Kajian Ketersediaan Bahan Baku

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak sawit dan inti kelapa sawit terbesar di dunia
dengan produksi 20 juta ton pada tahun 2010 dan diprediksi pada tahun 2010 akan mencapai 40 juta
ton. Hal itu memberikan kesempatan kepada Indonesia untuk terus mengembangkan dan
memanfaatkan sektor tersebut secara maksimal. Peta persebaran industri kelapa sawit dapat dilihat
pada Gambar 9.

Gambar 9 Peta persebaran industri kelapa sawit di Indonesia
Perlu kita ketahui bahwa salah satu provinsi penghasil minyak sawit dan minyak inti kelapa sawit terbesar di
Indonesia adalah Sumatera Utara. Menurut BPS Sumatera Untara, di provinsi ini tandan buah segar sawit yang
dihasilkan pertahunnya rata-rata sebesar 5 juta ton. Data produksi tandan buah segar sawit dapat dilihat pada
Gambar 10.

Gambar 10 Data produksi tandan buah segar sawit di Sumatera Utara
0
1000000
2000000
3000000
4000000
5000000
6000000
2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
t
o
n

tahun
B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

20 dari 25


Selain itu di provinsi ini terdapat 3 PTPN penghasil minyak sawit dan minyak init kelapa sawit, yaitu PTPN II , III
dan IV. Setiap PTPN memiliki pabrik pengolahan kelapa sawit yang menghasilkan minyak inti kelapa sawit. Di
PTPN II yang berlokasi di Langkat, Sumatera Utara, minyak inti kelapa sawit yang dihasilkan rata-rata mencapai
27.500 ton per tahun, sedangkan di PTPN III dan PTPN IV yang berlokasi di Kabupaten Simalungun, Sumatera
Utara, masing-masing mengahsilkan minyak inti kelapa sawit rata-rata sebesar 81.000 ton dan 125.000 ton per
tahun. Bahkan pada tahun 2012 ketiga PTPN tersebut berhasil memproduksi minyak inti sawit sebesar 236.589 ton.
Jumlah itu mengalami peningkatan dari tahun 2011 sebesar 4,17%, dan diprediksikan bahwa ketiga PTPN tersebut
akan terus menambah jumlah pabrik ataupun kapasitas pabrik pengolah minyak inti sawit.

B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

21 dari 25


Appendix D Kajian Produk

Avtur atau yang lebih umum disebut Aviation Fuel adalah produk hasil pengolahan minyak bumi yang
digunakan sebagai sumber tenaga pada pesawat terbang. Avtur merupakan bahan bakar yang memiliki
kualitas lebih tinggi apabila dibandingkan dengan bahan bakar yang digunakan untuk proses
pembakaran, pemanasan, atau transportasi darat karena kondisi kerja yang harus dipenuhi terbilang
spesifik. Bahan bakar yang digunakan untuk pesawat terbang memerlukan penambahan beberapa zat
aditif untuk mencegah pembekuan dan ledakan pada kondisi-kondisi temperatur yang ekstrim.
Avtur yang umum digunakan saat ini adalah produk hasil pengembangan dari avtur berbasis illuminating
kerosine yang sebelumnya digunakan sebagai bahan bakar mesin dengan turbin gas. Mesin-mesin jenis
ini membutuhkan bahan bakar yang dapat menghasilkan proses pembakaran yang baik dan memiliki
kandungan energi yang tinggi. Avtur yang paling banyak digunakan di pasaran adalah tipe JET A-1 and
Jet A. Beberapa tipe avtur yang beredar di pasaran antara lain:
Jet A-1
Jet A-1 memiliki flash point minimum sebesar 38 C (100F) dan freeze point maksimum sebesar
-47 C.
Jet A
Jet A memiliki freeze point maksimum yang lebih tinggi daripada Jet A-1 yaitu sebesar -40 C.
Avtur tipe Jet A biasanya hanya tersedia di Amerika Serikat.
Jet B
Jet B adalah tipe avtur yang banyak digunakan pada daerah yang memiliki cuaca sangat dingin.
Avtur tipe ini juga dapat digunakan sebagai alternatif terhadap Jet A-1 namun karena sifatnya
yang mudah terbakar penggunaannya sangat terbatas.
TS-1
TS-1 adalah tipe avtur yang banyak digunakan di Rusia dan memiliki nilai flash point minimum
sebesar 28 C dan freeze point maksimum 50 C.
JP-4
JP-4 banyak digunakan untuk pesawat militer. Tipe JP-4 memiliki kesamaan dengan tipe Jet-B
dengan penambahan aditif penghambat korosi dan anti-icing.
JP-8
JP-8 adalah bahan bakar pesawat militer yang setara dengan tipe Jet A-1 dengan penambahan
aditif penghambat korosi dan anti-icing.
JP-5
JP-5 banyak digunakan untuk kapal perang pembawa pesawat terbang militer (aircraft carrier),
dan merupakan tipe kerosin yang memiliki flash point tinggi.

Secara kimia, komponen yang terkandung dalam bahan bakar avtur terdiri dari:
Hidrokarbon parafinik (C
n
H
2n+2
),
Monoolefik (C
n
H
2n
),
Naftenik (Sikloalkan, C
n
H
2n
),
B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

22 dari 25


masing-masing pada rentang C10 hingga C15. Sebagai contoh, bahan bakar avtur JP-8 memiliki
komposisi 43% n-dodekana, 27% iso-setana, 15% metilsikloheksan, dan 15% 1-metilnaftana.
Perbandingan sifat fisik bioavtur, campuran 1:1 bioavtur dengan avtur konvensional, dan avtur
konvensional (jet fuel no.3) ditunjukkan oleh Tabel 15.
Tabel 15 Perbandingan Spesifikasi Avtur dengan Bioavtur

Parameter


Bio-jet

Bio-jet:
Conventional
jet
(1:1)
Jet fuel No.3
(GB6537-2006)

Massa jenis (kg/m
3
)(20
o
C) 749,2 776,9 775-830
Batas distilasi
IBP 165,9 161,8
10% 182,1 178,4 205
20% 187,8 183,6
50% 206,6 201,1
90% 246,3 238,7
FBP 259,3 254,8 300
Titik beku/
o
C -58,6 -61,3 -47
Titik asam/mm >32 29,7 25
Flash point (Closed)/C 50 48 38
Viskositas
kinematik/(mm
2
/s)
(20C) 1,833 1,762 1,25
(-20C) 4,582 4,284 8
Kandungan aromatik /% 0,01 8,3 <25,0
Kandungan olefin /% 0 0,4 5
Kandungan sulfur
keseluruhan 0,0001 <0,04 0,2

Tahun 2011 lalu tercatat bahwa Indonesia menduduki peringkat keenam tercepat di dunia dalam
pertumbuhan jumlah perjalanan internasional. International Air Transport Association (IATA)
memperkirakan, selama periode 2010 2014 laju pertumbuhan penerbangan di Indonesia bisa
mencapai 10 persen per tahun (Tempo, 2011). Total penggunaan avtur untuk kebutuhan penerbangan
dunia mencapai 73 triliun galon/tahun. Harga bahan bakar ini pun terus merangkak naik dari tahun ke
tahun. Kenaikan ini tentunya juga merupakan dampak dari naiknya harga minyak dunia.

Pengembangan bahan bakar pesawat terbang yang berbasis biofuel sudah mulai berjalan di negara
maju terutama kawasan Uni Eropa dan Amerika Serikat. Pesawat terbang sebagai moda transportasi
udara menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca lantaran menggunakan avtur, bahan bakar berbasis
minyak fosil. Semakin banyaknya jumlah pesawat terbang dan konsumsi avtur adalah ancaman bagi
kelestarian lingkungan.
Di Indonesia, Kementerian Perhubungan telah memiliki Keputusan Menteri Perhubungan KP. 201 Tahun
2013 untuk penurunan gas emisi rumah kaca. Salah satu strateginya adalah mendorong pemakaian
bioavtur untuk pesawat terbang. Realisasi dari strategi ini sudah terbukti dengan pembuatan MoU antara
Kementerian Perhubungan dan Kementerian Energi Sumberdaya Mineral mengenai pemanfaatan bahan
bakar nabati pada pesawat udara (Aviation Biofuel) dan Energi Terbarukan (Renewable Enegy) secara
berkelanjutan pada bandar udara (bandara).
B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

23 dari 25


Di dunia, pengembangan avtur berbasis nabati masih berasal dari minyak kedelai, camelina, biji jarak
dan kanola. Selain itu, adapula yang menggunakan alcohol-to-jet berbasis etanol dan direct sugar-to-
hydrocarbon. Indonesia merupakan negara pertama yang akan menggunakan bahan bakar avtur
berbasis sawit. Target campuran biodiesel dengan avtur akan meningkat secara bertahap mulai dari 2%
pada tahun 2016, selanjutnya meningkat sebesar 3% pada tahun 2020 dan 5% pada tahun 2025.
Pemanfaatan bioavtur mulai diimplementasikan pada tahun 2016 yaitu dengan mencampur (blending) 2
persen biofuel dengan avtur atau setara dengan 95 ribu kiloliter (kL). Jumlah ini masih terbilang kecil
sebesar 0,02% dari total kebutuhan avtur Pertamina yang mencapai 4,8 juta kL di tahun yang sama.
Pada 2020, kebutuhan avtur dalam negeri diproyeksikan akan mencapai 5,8 juta kL dengan campuran
3% biofuel (175 ribu kL). Selain pesawat, pemanfaatan energi terbarukan (renewable energy) digunakan
pada bandar udara yang sebesar 7.5 MW pada 2020.
Pada tahun ini, Pertamina diproyeksikan menyerap biodiesel sebesar 5,3 juta kL untuk disuplai kepada
sektor transportasi dan pembangkit listrik. Namun, dari jumlah tersebut baru 23% yang dapat dipenuhi
melalui tender tahap pertama. Untuk itu, Pertamina berencana menggelar tender ulang yang digunakan
untuk menyerap sisa kebutuhan.
Avtur konvensional memiliki beberapa kekurangan, selain berasal dari sumber daya yang tak terbarukan
dan harganya yang terus merangkak naik, emisi gas CO
2
yang dihasilkan avtur pun tergolong besar.
Perbandingan emisi CO
2
yang dihasilkan oleh avtur/kerosin konvensional dengan berbagai bioavtur
ditunjukkan oleh Gambar 11. Oleh karena itu, pengembangan bioavtur sangat perlu untuk dilakukan.

Gambar 11 Perbandingan emisi gas CO
2
yang dihasilkan oleh berbagai bahan bakar pesawat
(Sumber: UOP Literature SINOPEC Biojet Fuel Technology)

B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

24 dari 25


Appendix E Kajian Keekonomian

Jika dilihat dari grafik harga CKPO, diperkirakan harga CKPO akan terus naik. Pada perhitungan
perancangan ini digunakan basis harga CKPO sebesar Rp 5.500,00/kg, sedangkan harga jual bioavtur
diasumsikan Rp 20.000,00/kg. Harga CKPO merupakan harga curah, sedangkan harga bioavtur
diasumsikan hanya sebesar Rp 20.000,00/kg karena diperkirakan pabrik yang memproduksi bioavtur
akan banyak. Biaya pegawai dan lain-lain diasumsikan masing-masing sebesar 20% dari total biaya
pembelian bahan baku. Jumlah bioavtur yang diproduksi diasumsikan sebesar 80% dari jumlah bahan
baku CKPO.

Gambar 12 Harga Palm Kernel Oil

B.1.1.03 Produksi Bioavtur Melalui Proses Hidrodeoksigenasi CKPO

25 dari 25


Appendix F Kajian Neraca Massa

Dari perhitungan neraca massa yang telah dilakukan, diambil basis perhitungan sebesar 100 ton umpan
CKPO (C
39
H
74
O
6
) dan diasumsikan besarnya H
2
yang direaksikan selalu berlebih. Reaksi HDO pada
reaktor II menghasilkan 79,94 ton C
12
H
26
, 6,89 ton C
3
H
8
, dan 16,93 ton air. C
3
H
8
dialirkan ke reaktor
sebagai bahan bakar, air dialirkan ke unit water treatment untuk diolah, sedangkan n-parafin (C
12
H
26
)
dialirkan ke reaktor untuk dilakukan hydrocracking. Keluaran reaktor hydrocracking berupa bioavtur dan
naphtha yang masing-masing berjumlah ...