Anda di halaman 1dari 23

ATTENTION DEFICIT/HYPERACTIVITY DISORDER

(ADHD)























DISUSUN OLEH:

Ade Rahmawati Siregar, M.Psi, psikolog
NIP. 19810403 200502 200 1











FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2012

Universitas Sumatera Utara
ATTENTION DEFICIT/HYPERACTIVITY DISORDER
(ADHD)


















DISUSUN OLEH:

Ade Rahmawati Siregar, M.Psi, psikolog
NIP. 19810403 200502 200 1






DIKETAHUI OLEH:
DEKAN FAKULTAS PSIKOLOGI USU




Prof. Dr. Irmawati, psikolog
NIP. 19530131 198003 2 001




FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2012
Universitas Sumatera Utara
KATA PENGANTAR


Segala puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat, nikmat, serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan karya tulis ini. Penulis menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dalam penulisan makalah ini, karena itu penulis berharap mendapat
masukan dari para pembaca untuk penyempurnaan tulisan ini.
Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada
Rektor Universitas Sumatera Utara dan Dekan Fakultas Psikologi Universitas
Sumatera Utara yang telah memberi penulis kesempatan untuk mengabdikan diri
di lingkungan Universitas Sumatera Utara. Penulis juga mengucapkan terimakasih
kepada para mahasiswa dan rekan-rekan sejawat di tempat penulis bekerja atas
dukungan dan hangatnya persaudaraan.
Akhir kata penulis berharap semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat
memberikan sumbangan yang berarti bagi semua pihak.


Medan, 20 J anuari 2012



Ade Rahmawati S, M.Psi, psikolog
NIP. 19810314 200501 2 003
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR ISI


SAMPUL DEPAN .......

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI ...............

BAB I. PENDAHULUAN ...............................................................................

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................
1. Definisi ADHD. ...................................................................
2. Pembagian Tipe dalam ADHD...............................
3. Kriteria ADHD........................................................
4. Karakteristik terkait ADHD..................................
5. Penyebab ADHD.....................................................
6. Assesmen ADHD.....................................................

BAB III. KESIMPULAN ........................................

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................













i

ii

iii

1

5
5
6
9
11
13
15

17

19


Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

Attention Deficit/Hyperactivity Disorder atau yang dikenal luas dengan
istilah ADHD merupakan gangguan yang cukup banyak terjadi pada anak-anak
selama kurun waktu satu abad. Pada masa lalu para ahli klinis menyebut ADHD
dengan istilah organic drivennes, minimal brain dysfunction, hyperkinetic
syndrome atau attention deficit disorder (Conners & J ett, 2001).
Dalam beberapa tahun terakhir ini, ADHD menjadi sorotan dan perhatian
utama di kalangan medis ataupun di masyarakat umum. Berdasarkan data dari
National Institutes of Health pada tahun 1998, prevalensi kejadian ADHD di
dunia sekitar 3-10%. Di Amerika sebanyak 3-7% anak usia sekolah mengalami
masalah ini, sedangkan di negara J erman, Kanada dan Selandia Baru sekitar 5-
10%. Sementara di Asia penelitian terhadap anak ADHD masih sangat sedikit,
namun diperkirakan anak dengan masalah ADHD sekitar 3-10 % dari populasi
anak usia sekolah (Singhi & Malhi,1998). Di Indonesia hingga saat ini belum ada
perkiraan prevalensi kejadian anak yang mengalami ADHD, meskipun sebenarnya
gangguan ini cukup banyak terjadi (J udarwanto,2008). Terdapat kecenderungan
lebih banyak anak laki-laki yang mengalami ADHD dibanding anak perempuan.
Secara epidemologis rasio adalah 2:1 hingga 10:1 (Gelfand & Drew,2003).
Berdasarkan DSM IV TR (2000), seorang anak dapat dikatakan ADHD
bilaterdapat enam atau lebih gejala-gejala inattention, hyperactity- impulsivity dan
sudah berlangsung sejak usia di bawah 7 tahun dan terjadi pada setiap situasi baik
di rumah, sekolah maupun lingkungan.
Universitas Sumatera Utara
Conners & J ett (2001) mengatakan seseorang dapat dikatakan mengalami
ADHD bila ia sudah berada dalam lingkungan sekolah formal. Alasannya adalah
pada usia yang lebih muda, anak-anak memang terlihat aktif karena adanya
dorongan dalam diri mereka untuk mengekplorasi lingkungannya. Pada usia ini
anak memang belajar banyak dari lingkungannya untuk merasakan keberadaan
dirinya sendiri dalam lingkungan. Anak juga mempunyai rasa ingin tahu yang
kuat akan apa saja yang terjadi di lingkungan. Namun saat memasuki usia sekolah
formal, seorang anak dituntut untuk memiliki keterampilan lainnya antara lain
kemampuan untuk konsentrasi untuk menyelesaikan tugasnya. Dari sinilah terlihat
adanya anak-anak yang mengalami ADHD.
Wenar & Kerig (2000), juga menambahkan bahwa tidak seperti
karakteristik anak normal, anak ADHD juga memiliki keaktifan yang berlebihan
dan kehilangan orientasi dalam tugas. Sebenarnya adanya perilaku aktif, enerjik,
sangat gembira, dan berganti-ganti aktivitas yang dilakukan oleh anak adalah
sesuatu yang biasa. Hal tersebut dilakukan untuk mengeksplorasi lingkungan yang
menyenangkan bagi mereka. Akan tetapi hal ini berbeda pada anak ADHD.
Mereka cenderung mudah bosan terhadap tugas-tugas yang dikerjakan dalam
waktu lama, mudah sekali kehilangan perhatian serta bertindak tanpa berpikir
panjang dan sering sekali disertai dengan reaksi emosional seperti impulsif. Selain
itu anak ADHD juga mengalami kesulitan dalam mendengar instruksi. Mereka
sebenarnya tidak mengalami kesulitan dalam memahami apa yang dijelaskan
namun lebih pada ketidakmampuan untuk mendengar sesuatu yang tidak menarik
perhatiannya dalam waktu lama. Kondisi-kondisi inilah yang kemudian disebut
dengan istilah ADHD (Gelfand & Drew,2003).
Universitas Sumatera Utara
Dampak dari ADHD menurut Green & Chee (1996) adalah munculnya
beberapa masalah antara lain akademik, relasi sosial serta masalah emosi dalam
penyesuaian diri dan kemampuannya. Dibandingkan dengan anak normal, anak
ADHD biasanya lebih mudah cemas dan rendah diri. Anak ADHD juga mudah
mengalami gangguan psikosomatik (gangguan kesehatan yang disebabkan actor
psikologis) seperti sakit kepala dan sakit perut. Hal ini berkaitan dengan
rendahnya toleransi terhadap frustasi, sehingga bila mengalami kekecewaan,
mereka mudah emosional. Hambatan-hambatan tersebut membuat anak menjadi
kurang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Anak ADHD juga
sering dipandang nakal atau bandel oleh lingkungan sehingga sering
mengalami penolakan dari keluarga maupun teman-temannya. Akibatnya anak
mengalami kegagalan bersosialisasi sehingga membuat anak merasa bahwa
dirinya buruk, tidak mampu dan ditolak lingkungan.
Sementara itu dalam bidang akademik, anak ADHD cenderung tidak
mampu mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru dengan baik.
Konsentrasinya yang mudah terganggu sehingga membuat anak tidak dapat
menyerap materi pelajaran secara keseluruhan. Rentang perhatian yang pendek
membuat anak ingin cepat selesai bila mengerjakan tugas-tugas sekolah.
Kecenderungan berbicara sehingga mengganggu teman yang diajak berbicara dan
guru akan menyangka bahwa anak tidak memperhatikan pelajaran (Green &
Chee,1996).
Berdasarkan pendahuluan tersebut penulis ingin mencoba menjelaskan apa
dan bagaimana gangguan ini sehingga dapat menambah pengetahuan serta
menghapus kesimpangsiuran yang ada selama ini di masyarakat.

Universitas Sumatera Utara






















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Universitas Sumatera Utara
1. Definisi ADHD
Attention Deficit/Hyperactivity Disorder atau dikenal luas dengan istilah
ADHD merupakan salah satu jenis gangguan yang terjadi cukup banyak pada
anak-anak. Sattler (1987) mendefinisikan ADHD sebagai suatu sindrom perilaku
yang ditandai dengan inattention, impulsivity dan hyperactivity. Selain itu terdapat
sindrom lain yang menyertai ADHD, yaitu mood yang labil, self esteem rendah
dan toleransi rendah terhadap frustasi.
Pada tahun 2003, Gerald & Drew menambahkan bahwa perhatian anak
ADHD sering tidak terfokus, berfluktuasi pada situasi dan tempat serta mudah
teralih oleh pikirannya sendiri. Pada umumnya anak ADHD tidak memiliki
kontrol diri juga tidak terencana dalam bekerja walaupun mereka tahu benar-salah
tetapi mereka cenderung tidak dapat menahan dirinya dan selalu bergerak serta
sulit melakukan aktivitas dengan tenang.
Sementara itu ADHD didefinisikan oleh American Psychiatric Association
pada tahun 2000 (dalam Mash & Wolfe,2005) sebagai berikut:
ADHD describe children who display persistent age inappropriate
symptoms of inattention, hyperactivity and impulsivity that are sufficient cause
imparment in major life activities.

Berdasarkan uraian dapat disimpulkan ADHD adalah suatu gejala yang
ditampilkan anak secara menetap dan tidak sesuai dengan rata-rata anak
seusianya, yang berupa kesulitan dalam memfokuskan perhatian, hiperaktif, dan
impulsif sehingga mengakibatkan berbagai permasalahan dalam kehidupan sehari-
hari seperti tidak memiliki kontrol diri juga tidak terencana dalam bekerja, serta
cenderung tidak dapat menahan dirinya dan selalu bergerak sehingga sulit
melakukan aktivitas dengan tenang.

Universitas Sumatera Utara
2. Pembagian tipe dalam ADHD
Mash & Wolfe (2005) membagi ADHD dalam tiga tipe yaitu:
i. Predominantly inattentive type.
Anak yang didiagnosis dengan tipe ADHD memiliki beberapa karakteristik
khusus, diantaranya adalah:
a. Mempunyai masalah yang signifikan dalam memusatkan perhatian.
b. Anak dengan tipe ini dideskripsikan tidak memiliki perhatian dan
suka mengantuk.
c. Suka berkhayal.
d. Mudah bingung.
e. Mudah merasa bosan.
f. Memiliki kasus kesulitan belajar.
g. Memiliki kesulitan dalam memulai, mengatur dan merencanakan
suatu tugas.
h. Tidak menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan.
i. Memproses informasi dengan lamban dan sangat sulit untuk
mengingat informasi yang ada di memori.
j. J ika ada pemberian instruksi secara lisan maupun tulisan, mereka
mempunyai kesulitan untuk mengerti apa yang seharusnya mereka
lakukan dan biasanya banyak melakukan kesalahan.
k. Pemalu dan merasa teracuh
ii. Predominantly hyperactive-impulsive
Anak dengan tipe ini memiliki beberapa karakteristik, yaitu:
Hyperactive:
Universitas Sumatera Utara
a. Selalu melakukan gerakan tertentu, seperti berlarian dan memanjat
secara berlebihan dalam situasi yang tidak seharusnya.
b. Enerjik.
c. Tidak dapat duduk tenang, lebih sering loncat dan jatuh dari kursi,
berdiri di atas bangku.
d. Merasa resah sehingga sering melakukan gerakan-gerakan yang
tidak perlu seperti membuat suara-suara yang mengganggu dan
aneh, mengetuk-ngetukkan kaki atau tangan, berjalan-jalan di
ruangan.
e. Memiliki kesulitan untuk tetap dalam ruang lingkup pribadi, sering
sekali mengganggu ruang lingkup pribadi orang lain.
Impulsivity :
a. Bermasalah dalam menahan satu perilaku dan dalam
mempertahankan suatu perilaku.
b. Sering sekali berbicara tanpa diminta atau tidak pada gilirannya.
c. Kesulitan untuk menunjukkan tangannya ketika ingin bertanya.
d. Kesulitan untuk menunggu giliran.
e. Menunjukkan sikap menantang.
f. Cenderung lebih agresif.
g. Seringkali mengalami kecelakaan kecil seperti memar di lutut,
kena goresan kecil di lengan, sering menyenggol atau memecahkan
barang.
h. Terburu-buru dalam menyelesaikan tugas sehingga sering
melakukan kesalahan dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.
Universitas Sumatera Utara
i. Lebih banyak mengeluarkan respon terlebih dahulu terhadap suatu
pertanyaan atau tugas, baru kemudian berpikir mengenai
pertanyaan atau tugas tersebut.
iii. Combined type
Tipe ini merupakan gabungan karakteristik tipe predominantly hyperactive
impulsive dan predominantly inattentive type.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa anak ADHD
memiliki gangguan dalam hal pemusatan perhatian dan hiperaktivitas yang dibagi
atas 3 kategori yaitu: Predominantly inattentive type, Predominantly
hyperactivity-impulsivity type dan Combined type.
3. Kriteria ADHD
Kriteria anak mengalami ADHD, menurut DSM IV TR adalah:
i. Meliputi gejala pada nomor a atau b, sebagai berikut:
a. ADHD dengan ciri-ciri dominan inattention adalah jika terdapat 6 atau lebih
gejala-gejala inattention yang sedikitnya terjadi selama 6 bulan yang bersifat
maladaptive dan tidak sesuai dengan taraf kemampuannya. Adapun ciri-ciri
inattention tersebut adalah:
1. Sulit berkonsentrasi terhadap detail atau melakukan kesalahan akibat
kecerobohan baik di sekolah atau aktivitas lain.
2. Tidak suka kegiatan berpikir terus menerus.
3. Tidak suka mendengarkan pada saat diajak bicara.
4. Tidak mengikuti instruksi dan gagal dalam menyelesaikan tugasnya di
sekolah.
5. Sulit mengorganisasikan tugas dan aktivitas.
Universitas Sumatera Utara
6. Sering menolak dan tidak menyukai tugas-tugas yang membutuhkan
usaha mental seperti pekerjaan sekolah maupun pekerjaan rumah.
7. Sering kehilangan barang-barang yang penting untuk tugas dan
aktivitasnya.
8. Perhatian mudah terpecah bila ada rangsangan lain.
9. Sering lupa pada kegiatan hariannya.

b. ADHD dengan ciri-ciri dominan pada hyperactivity-impulsivity adalah jika 6
atau lebih gejala hyperactivity-impulsivity terjadi sedikitnya selama 6 bulan
yang bersifat maladaptive dan tidak sesuai dengan taraf kemampuannya.
Adapun ciri-ciri hyperactivity adalah:
1. Bermain terus dengan tangannya seperti mengetuk-ngetuk jari tangan di
meja atau kaki saat duduk.
2. Tidak bisa duduk lama dengan tenang.
3. Lari atau memajat pada situasi yang tidak tepat.
4. Sulit mengikuti kegiatan dengan tenang.
5. Selalu bergerak sehingga terkesan tidak kenal lelah.
6. Bicara berlebihan.
Adapun ciri-ciri impulsivity adalah sebagai berikut:
1. Terlalu cepat menjawab, seperti menjawab pertanyaan saat pertanyaan
belum selesai disampaikan.
2. Sulit menunggu giliran.
3. Sering menganggu atau menginterupsi orang lain, seperti menganggu
dengan ikut campur kegiatan orang lain tanpa diminta.
Universitas Sumatera Utara
ii. Beberapa gejala hyperactivity-impulsivity atau inattention sudah terjadi
sebelum usia 7 tahun
iii. Gejala-gejala di atas tersebut terjadi dalam 1 atau lebih situasi, misalnya di
sekolah, di rumah atau lingkungan sosial.
iv. Secara signifikan menghambat fungsi sosial, akademis dan pekerjaan.
v. Gejala yang terjadi bukan karena Pervasive Developmental Disorder, Psikotik,
Skizophrenia dan bukan gangguan mental lainnya, seperti gangguan mood,
gangguan kecemasan, gangguan disosiatif atau gangguan kepribadian.

4. Karakteristik tambahan terkait dengan ADHD
Flick (1998) mengemukakan bahwa selain karakteristik utama ADHD
yaitu inattention, impulsivity, dan hyperactivity terdapat karakteristik tambahan
yang meliputi:
i. Disorganization
Merupakan manifestasi dalam penampilan fisik atau cara anak melakukan
hal-hal penting seperti tidak adanya catatan dari sekolah,buku atau hal-hal
penting lainnya. Sementara beberapa anak ADHD ada yang
mengembangkan rutinitas yang obsesif kompulsif untuk mengatasi
kesulitannya dalam mengorganisasikan diri dalam tugas-tugasnya.
ii. Poor peer/sibling relation
Anak ADHD seringkali tidak dapat menangkap sinyal-sinyal sosial,
berperilaku impulsif, bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu sehingga
kurang dapat diterima baik oleh lingkungannya, meskipun sebenarnya
mereka ingin dapat diterima oleh lingkungannya.

Universitas Sumatera Utara
iii. Aggressive behavior
Agresivitas anak ADHD termanifestasi secara verbal maupun dalam
perilakunya.
iv. Poor self concept/self esteem
Anak ADHD sering mendapat respon negatif dari teman sebayanya,
sehingga hal ini menimbulkan rasa frustrasi bagi dirinya sendiri. Label-label
negatif ini dapat membuat persepsi diri anak menjadi buruk dan makin
membuatnya gagal dalam menyesuaikan diri terhadap situasi sosial dan
akademik.
v. Sensation-seeking behavior
Anak ADHD sering menunjukkan perilaku mencari suatu sensasi senang
atau bangga misalnya suka akan hal-hal berbahaya seperti memanjat.
vi. Daydreaming
Perilaku ini muncul dalam bentuk seperti: bosan, tidur di kelas, banyak
bicara atau keluar dari tempat duduknya.
vii. Poor coordination
Anak ADHD mempunyai kesulitan dalam koordinasi motorik halus,
sehingga membuat anak ADHD memiliki masalah dalam menulis. Namun
beberapa anak ADHD juga dijumpai memiliki koordinasi motorik kasar
yang kurang baik.
viii. Memory problem
Tampak dari perilakunya yang sering lupa dalam hal, benda-benda yang
dibutuhkan setiap hari dan sering merasa kehilangan barang-barang.
ix. Persistent obsessive thinking
Universitas Sumatera Utara
Perilaku yang sering mengulang permintaan, pertanyaan dan tidak lupa akan
permintaan maupun pertanyaan jika belum merasa puas atau terpenuhi
keinginannya.
x. Inconsistency
Merupakan ciri khas dari anak ADHD, pada satu hari mereka dapat
mengerjakan tugasnya dengan baik tetapai di lain hari mereka tidak dapat
memenuhi tugas-tugasnya. Pola seperti ini dapat berdampak terhadap
kegagalanya dalam belajar di sekolah.

5. Penyebab ADHD
Mash & Wolfe (2005) mengemukakan beberapa hal penyebab ADHD,
yaitu:
i. Genetik
Seorang anak dari orang tua yang mengalami ADHD atau memiliki saudara
kandung yang ADHD, mempunyai kemungkinan sebanyak 2-8 kali terlahir
sebagai individu yang mengalami ADHD. Apabila terdapat anak kembar
monozigot, jika salah satunya mengalami ADHD, maka saudara kembarnya
memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami ADHD dibandingkan
anak kembar dizigot. Keterlibatan genetik dan kromosom memang masih
belum diketahui secara pasti. Namun ternyata gen-gen yang memiliki
reseptor dopamine atau mereproduksi serotonin seperti DRD4, DRD5, DAT,
DBH, 5-HTT, dan 5-HTR1B,
ii. Kehamilan, kelahiran dan awal perkembangan.
kini banyak dikaitkan sebagai penyebab
ADHD.
Universitas Sumatera Utara
Komplikasi di masa kehamilan ataupun pada saat kelahiran, prematur, berat
badan yang rendah di masa kelahiran, kurang gizi, mengalami penyakit
tertentu di masa bayi.
iii. Diet dan alergi.
Ketidakmampuan tubuh anak untuk diet terhadap jenis makanan/zat tertentu
ataupun alergi terhadap zat tertentu dapat meningkatkan ADHD atau
setidaknya menyebabkan suatu gejala yang mirip dengan ADHD. Misalnya
alergi terhadap penguat rasa makanan, pengawet makanan. Akan tetapi gula
ternyata tidak menyebabkan ADHD. Meskipun demikian pengaruh diet dan
alergi terhadap ADHD masih kontroversi.
iv. Neurobiologi.
Adanya kerusakan neurobiologis, yaitu brain abnormalities. Brain
abnormalities adalah suatu keadaan dimana otak anak tidak dapat berfungsi
dengan baik saat ia harus menerima atau merespon sebuah stimulus. Bentuk
otak yang brain abnormalities sebenarnya sama seperti bentuk otak normal,
namun karena terjadi sesuatu hal menyebabkan otak tidak dapat berfungsi
dengan baik. Salah satu penyebab terjadinya brain abnormalities adalah
anoxia atau kurangnya suplai oksigen dan tingginya kadar karbon diaksoda.
v. Pengaruh keluarga dan lingkungan
Meskipun pengaruh role model dari keluarga terhadap timbulnya ADHD
masih belum jelas, namun ternyata hal ini dapat memperburuk gejala ADHD
yang telah ada. Selain itu terdapat hubungan antara pengaruh kekerasan dan
trauma emosional terhadap gejala ADHD yang telah ada.


Universitas Sumatera Utara
6. Assemen ADHD
Flick (1998) mengemukakan bahwa untuk menegakkan diagnosis ADHD,
disamping panduan dari DSM IV-R, harus ada assemen terstruktur:
i. Anamnesis terhadap anak, orangtua, guru dan orang-orang lain yang
signifikan.
ii. Observasi di rumah, sekolah dan saat pemeriksaan.
iii. Pemeriksaan medis.
iv. Pemeriksaan neuropsikologis.
v. Melakukan wawancara terstruktur.
Khusus dalam pemeriksaan neuropsikologis maupun tes kemampuan, meliputi:
a. Ability test, seperti Weschler intelligence Scale for Children (WISC).
b. Achievement test, seperti The Weschler Individual Achievement Test .
c. Executive control, seperti The Trail Making Test, The Stroop Color Word
Test dan The Wisconsin Card Sorting Test.
d. Kemampuan visual-motorik, seperti Tes Bender Gestalt, VMI dan The
Minnesota Perception-Diagnostic Test.
e. Memori, seperti The Wide Range Assesment of Memory and Learning
(WRAML).
f. Kemampuan pemusatan perhatian, seperti Continuous Performance Test
(CPT), Gordon Diagnostic System, Test of Variables of Attention (TOVA),
The Intermediate Visual and Auditory Continuous Performance Test
(IVA) dan The Conners Continous Performance Test.
g. Kemampuan sosial, seperti The Social Rating System dan The Walker Mc-
Donnell Scale of Social Competence and School Adjustment.
Universitas Sumatera Utara
h. Kemampuan visual-spatial, seperti The Minnesota Perception-Diagnostic
Test, The Motor-Free Visual Perception Test-Revised dan The Jordan
Left-Right Reversal Test-Revised.
i. Kemampuan bahasa, seperti Test of Language Development-Primary dan
Test of Language Development-Intermediate.
j. Perilaku emosi, seperti CBCL dan The Personality Inventory for Children
(PIC).


















Universitas Sumatera Utara
BAB III
KESIMPULAN

ADHD adalah suatu sindrom perilaku yang ditandai dengan inattention,
impulsivity dan hyperactivity dan sudah berlangsung sejak usia di bawah 7 tahun
dan terjadi pada setiap situasi baik di rumah, sekolah maupun lingkungan sosial.
Seseorang dapat dikatakan mengalami ADHD bila ia sudah berada dalam
lingkungan sekolah formal. Alasannya adalah pada usia yang lebih muda, anak-
anak memang terlihat aktif karena adanya dorongan dalam diri mereka untuk
mengekplorasi lingkungannya. Pada usia ini anak memang belajar banyak dari
lingkungannya untuk merasakan keberadaan dirinya sendiri dalam lingkungan.
Anak juga mempunyai rasa ingin tahu yang kuat akan apa saja yang terjadi di
lingkungan. Namun saat memasuki usia sekolah formal, seorang anak dituntut
untuk memiliki keterampilan lainnya antara lain kemampuan untuk konsentrasi
untuk menyelesaikan tugasnya. Dari sinilah terlihat adanya anak-anak yang
mengalami ADHD.
Dalam pengklasifikasiannya ADHD terbagi atas 3 tipe yaitu (1) tipe
dominan inattentive, (2) tipe dominan hyperactivity-impulsivity dan (3) tipe
kombinasi keduanya. Sebenarnya anak ADHD bukan anak yang kurang perhatian
tetapi perhatian yang tidak terfokus serta mudah terdistraksi oleh pikirannya
sendiri. Sementara anak ADHD yang tipe dominan impulsivity umumnya kurang
memiliki perencanaan, walau mereka terkadang mengetahui konsep benar-salah
tetapi mereka cenderung tidak bisa menahan dirinya sehingga berakibat menjadi
celaka. Pada anak hyperactivity menunjukkan perilaku selalu bergerak dan
kurang terkontrol sehingga sulit melakukan aktivitas dengan seperti menulis.
Universitas Sumatera Utara
Untuk melakukan assesmen terhadap anak ADHD bukan merupakan hal
yang mudah karena seringkali gejala ADHD juga ditemui pada anak normal.
Disamping itu banyak gangguan perilaku lain yang gejalanya hamper tumpang
tindih dengan gejala ADHD seperti gangguan medis tertentu, Autisme dan
sebagainya. Oleh karena itu untuk menegakkan diagnosis ADHD perlu mengikuti
serangkaian pemeriksaan dan pengukuran seperti wawancara dengan guru dan
orangtua, melakukan beberapa tes psikologis serta melakukan observasi dengan
cermat.
Demikianlah gambaran sekilas mengenai ADHD pada anak, semoga
makalah ini bermanfaat bagi masyarakat.















Universitas Sumatera Utara
DAFTAR PUSTAKA
American Academy of Pediatrics. (2001) Clinical Practice Guideline: Treatment
of the School-Aged Child With Attention Deficit Hyperactivity Disorder.
Pediatrics Vol. 108 No. 4. USA.

American Psychology Association, (2001). Publication Manual,fifth
Edition.Washington, DC:APA Press..

Barkley, R.A., Murphy, K.P., & Bush, T (2001). Time perception and
reproduction in young adults with attention deficit hyperactivity disorder.
J ournal Neuropsychology,15,351-360.

Bauermeister, J .J , Matos, M., Reina, G., Salas, C.C, Marinez, J .V, Cumba,E., &
Barkley, R.A. (2005). Comparison of the DSM-IV combined and inattentive
types of ADHD in a school based sample of latino/Hispanic children. J ournal
of child psychology and psychiatry 46:2,pp 166-179.

Conners, C.K & J ett, J .L (2001). ADHD in adults and children: The Latests
Assesment and Treatment Strategies. Compact Clinicals, Kansas City.
USA.

Flick, G.L ( 1998). ADD/ADHD Behavior Change Resourrces Kit. The Center for
Applied Reseach in Education. New York.

Flint, J .L (2001). Teaching Exceptional Children. Vol.33.No.4. pp 62 69.
Gelfand, D.M & Drew, C.J (2003). Understanding Child Behavior Disorders. The
Fourth Edition. Thomsom Wadsworth. USA.

Green, C & Chee, K.(1996). Understanding Attention Deficit Disorder.
Doubleday.Sydney.

Haugaard, J .J . (2008). Child Psychopathology. Mc.Graw Hill. New York
J udarwanto, W. (2008). Deteksi Dini ADHD.
http://.www. putrakembara.org/rm/adhd2.sthml.

Marnat, G.G (1997). Handbook of Psychological Assesment. Third Edition. J ohn
Wiley & Sons Inc. Singapore

Mash, E.J & Barkley, R.A (1996), Child Psychopathology. The Guilford Press,
New York. Landon.

Mash, E.J & Wolfe, D.A (2005), Abnormal Child Psychology. Third Edition.
Wadsworth a division of Thomson Learning, Inc. USA.

Papalia, D.E & Olds,S.W. (1998), Human Development . Seventh Edition. USA:
MG Graw Hill.

Universitas Sumatera Utara
Sattler, J . M, (1987). Assesment For Children. Third Edition. J erome M. Sattler
Publisher. San Diego.


Wenar, C. & Kerig, P. (2000). Developmental Psychopathology from Infancy
Through Adolescence. Fourth Edition. MG Graw Hill.
Universitas Sumatera Utara