Anda di halaman 1dari 6

a.

Jenis-jenis Tindak Tutur Menurut Searle


Jenis-jenis tindak tutur yang dikemukakan oleh Searle satu per satu akan dijelaskan
berikut ini.
1) Asertif (Assertives)
Pada ilokusi ini penutur terikat pada kebenaran proposisi yang diungkapkan,
misalnya, menyatakan, mengusulkan, membual, mengeluh, mengemukakan pendapat,
melaporkan. Dari segi sopan santun ilokusi-ilokusi ini cenderung netral. Tetapi ada
perkecualian misalnya, membual biasanya dianggap tidak sopan. Dari segi semantik ilokusi
asertif bersifat proposisional.

2) Direktif (Directives)
Ilokusi ini bertujuan menghasilkan suatu efek berupa tindakan yang dilakukan oleh
penutur. Misalnya, memesan, memerintah, memohon, menuntut, memberi nasihat. Jenis
ilokusi ini sering dapat dimasukkan ke dalam kategori kompetitif (competitive) karena itu
mencakup juga ketegori-ketegori ilokusi yang membutuhkan sopan santun negatif. Namun di
pihak lain terdapat juga beberapa ilokusi direktif seperti, mengundang yang secara intrinsik
memang sopan. Agar istilah direktif tidak dikacaukan dengan ilokusi-ilokusi langsung dan
taklangsung, digunakan istilah impositif (impositive) khususnya untuk mengacu pada ilokusi
kompetitif dalam kategori direktif ini.

3) Komisif (commissives)
Ilokusi ini membuat penutur (sedikit banyak) terikat pada suatu tindakan di masa
depan, misalnya, menjanjikan, menawarkan, berkaul. Jenis ilokusi ini cenderung berfungsi
menyenangkan dan kurang bersifat kompetitif, karena tidak mengacu pada kepentingan
penutur tetapi pada kepentingan mitra tutur.
4) Ekspresif (expressives)
Fungsi ilokusi ini ialah untuk mengungkapkan atau mengutarakan sikap psikologis
penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi, misalnya, mengucapkan terima kasih,
mengucapkan selamat, memberi maaf, memuji, mengucapkan belasungkawa, dan sebagainya.
Sebagaimana juga dengan ilokusi komisif, ilokusi ekspresif cenderung menyenangkan,
karena itu secara instrinsik ilokusi ini sopan, kecuali tentunya ilokusi-ilokusi ekspresif seperti
mengecam, dan menuduh.

5) Deklaratif (declaratives)
Berhasilnya pelaksanaan ilokusi ini akan mengakibatkan adanya kesesuaian antara isi
proposisi dengan realitas, misalnya mengundurkan diri, membabtis, memecat, memberi
nama, menjatuhkan hukuman, mengucilkan/membuang, mengangkat (pegawai), dan
sebagainya. Searle mengatakan bahwa tindakan-tindakan ini merupakan kategori tindak ujar
yang sangat khusus, karena tindakan-tindakan ini biasanya dilakukan oleh seseorang yang
dalam sebuah kerangka acuan kelembagaan diberi wewenang untuk melakukannya. Contoh
klasik ialah hakim yang menjatuhkan hukuman pada pelanggar undang-undang, pendeta yang
membabtis bayi, pejabat yang memberi nama pada sebuah kapal baru, dan sebagainya.
Sebagai suatu tindakan kelembagaan (dan bukan sebagai tindakan pribadi) tindakan-tindakan
tersebut hampir tidak melibatkan sopan santun).
b. Jenis-jenis Tindak Tutur Menurut Kreidler
Jenis-jenis tindak tutur yang dikemukakan oleh Kreidler satu per satu akan dijelaskan
berikut ini.
1) Asertif (Assertive Utterances)
Kreidler (1998: 183) menyatakan bahwa pada tindak tutur asertif para penutur dan
penulis memakai bahasa untuk menyatakan bahwa mereka mengetahui atau mempercayai
sesuatu. Bahasa asertif berkaitan dengan fakta. Tujuannya adalah memberikan informasi.
Tindak tutur ini berkaitan dengan pengetahuan, data, apa yang ada atau diadakan, atau telah
terjadi atau tidak terjadi. Dengan demikian, tindak tutur asertif bisa benar bisa salah dan
biasanya dapat diverifikasi atau disalahkan.
Tindak tutur asertif dibagi menjadi dua, yaitu tindak tutur asertif langsung dan tak
langsung (Kreidler, 1998: 183). Tindak tutur asertif langsung diawali dengan kata saya atau
kami dan diikuti dengan verba asertif. Sedangkan tindak tutur asertif tak langsung juga diikuti
dengan verba asertif yang merupakan tuturan yang dituturkan kembali oleh penutur. Yang
termasuk verba asertif antara lain mengatakan, mengumumkan, menjelaskan, menunjukkan,
menyebutkan, melaporkan, dan sebagainya.
2) Performatif (Performative Utterances)
Tindak tutur performatif merupakan tindak tutur yang menyebabkan resminya apa
yang dinamakan. Tuturan performatif menjadi sah jika dinyatakan oleh seseorang yang
berwenang dan dapat diterima. Verba performatif antara lain bertaruh, mendeklarasikan,
membabtis, menamakan, menominasikan, menjatuhkan hukuman, menyatakan,
mengumumkan.
Biasanya ada pembatasan-pembatasan terhadap tindak tutur performatif. Pertama,
subjek kalimat harus saya atau kami. Kedua, verbanya harus dalam bentuk kala kini. Dan
yang paling penting penutur harus diketahui memiliki otoritas untuk membuat pernyataan dan
situasinya harus cocok. Tindak tutur performatif terjadi pada situasi formal dan berkaitan
dengan kegiatan-kegiatan resmi.
3) Verdiktif (Verdictive Utterances)
Tindak tutur verdiktif merupakan tindak tutur di mana penutur membuat penilaian
atas tindakan orang lain, biasanya mitra tutur. Penilaian-penilaian ini termasuk merangking,
menilai, memuji, memaafkan. Yang termasuk verba verdiktif adalah menuduh, bertanggung
jawab, dan berterima kasih. Verba-verba ini berada pada kerangka Saya . Anda atas .
Karena tindak tutur ini menampilkan penilaian penutur atas perbuatan petutur sebelumnya,
maka tindak tutur ini bersifat retrospektif.
4) Ekspresif (Expressive Utterances)
Jika tindak tutur verdiktif berkaitan dengan apa yang telah dilakukan oleh mitra tutur,
tindak tutur ekpresif bermula dari kegiatan sebelumnya atau kegagalan penutur, atau
mungkin akibat yang ditimbulkan atau kegagalannya. Maka dari itu tindak tutur ekspresif
bersifat retrospektif dan melibatkan penutur. Verba-verba tindak tutur ekpresif antara lain
mengakui, bersimpati, memaafkan, dan sebagainya.
5) Direktif (Directive Utterances)
Tindak tutur direktif merupakan tindak tutur di mana penutur berusaha meminta mitra
tutur untuk melakukan perbuatan atau tidak melakukan perbuatan. Jadi, tindak tutur direktif
menggunakan pronomina you sebagai pelaku baik hadir secara eksplisit maupun tidak.
Tindak tutur direktif bersifat prospektif, artinya seseorang tidak bisa menyuruh orang
lain suatu perbuatan pada masa lampau. Seperti tindak tutur yang lain, tindak tutur direktif
mempresuposisikan suatu kondisi tertentu kepada mitra tutur sesuai dengan konteks.
Misalnya, tuturan Lift this 500 pound weight tidak masuk akal jika disampaikan kepada
seseorang yang tidak mampu mengangkat beban tersebut.
Ada tiga macam tindak tutur direktif: commands (perintah), requests (permohonan)
dan suggestions (anjuran).
6) Komisif (Commissive Utterances)
Tindak tutur komisif merupakan tindak tutur yang menyebabkan penutur melakukan
serangkaian kegiatan. Hal ini termasuk berjanji, bersumpah, mengancam dan berkaul. Verba
tindak tutur komisif antara lain menyetujui, bertanya, menawarkan, menolak, berjanji,
bersumpah, dan sebagainya.
Verba-verba tersebut bersifat prospektif dan berkaitan dengan komitmen penutur
terhadap perbuatan di masa akan datang. Predikat komisif adalah predikat yang dapat
digunakan untuk menjalankan seseorang (atau menolak menjalankan seseorang) terhadap
perbuatan masa akan datang. Subjek kalimat sebagian besar adalah Saya dan kami. Lebih
lanjut verbanya harus dalam bentuk kala kini dan ada mitra tutur.
7) Fatis (Phatic Utterances)
Tindak tutur fatis bertujuan untuk menciptakan hubungan antara penutur dan mitra
tutur. Tindak tutur fatis memiliki fungsi yang kurang jelas jika dibandingkan dengan enam
jenis tindak tutur sebelumnya, namun bukan berarti bahwa tindak tutur fatis ini tidak penting.
Tuturan-tuturan fatis ini termasuk ucapan salam, ucapan salam berpisah, cara-cara
yang sopan seperti thank you, you are welcome, excuse me yang tidak berfungsi verdiktif atau
ekspresif.

c. Jenis-jenis Tindak Tutur Berdasarkan Teknik Penyampaian dan Interaksi Makna
Selain tersebut di atas, tindak tutur dapat diklasifikasikan berdasarkan teknik
penyampaian dan interaksi makna. I Dewa Putu Wijana (1996: 30) mengemukakan
berdasarkan teknik penyampaiannya, tindak tutur dapat diklasifikasikan menjadi tindak tutur
langsung dan tindak tutur tidak langsung. Berdasarkan interaksi makna, tindak tutur dapat
diklasifikasikan menjadi tindak tutur literal dan tindak tutur nonliteral. Jenis-jenis tindak
tutur ini akan dijelaskan berikut ini.
1) Tindak Tutur Langsung dan Tidak Langsung
Tindak tutur langsung merupakan tindak tutur di mana penutur menuturkan tuturan
secara langsung. Artinya, jika penutur menuturkan tuturan dengan menggunakan kalimat
berita untuk memberitakan sesuatu, kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu dan kalimat
perintah untuk menyatakan perintah, maka tuturan yang dihasilkan merupakan tuturan
langsung. Sebaliknya, jika kalimat-kalimat tersebut digunakan untuk menyatakan maksud
lain maka tuturan yang dihasilkan merupakan tuturan tidak langsung. Berikut ini contoh-
contoh tuturan langsung dan tidak langsung dengan konteks politik.
(10) Laporan Pertanggungjawaban Bupati diterima.
(11) Di Desa Sorogaten Kecamatan Tulung terjadi perusakan pasar.
(12) Bagaimana kalau pekat segera diberantas supaya pelakunya jera?
(13) Masalah KKN sebaiknya segera kita tangani.
Tuturan (10) dan (11) berbentuk kalimat deklaratif atau kalimat berita. Sesuai dengan
fungsi konvensionalnya, kalimat berita digunakan untuk memberitakan sesuatu (informasi).
Kalau dicermati tuturan (10) dan (11) tersebut penutur memberitakan informasi kepada mitra
tutur. Dengan demikian, tuturan (10) dan (11) tersebut dikategorikan sebagai tuturan
langsung.
Tuturan (12) berbentuk kalimat interogatif sedangkan tuturan (13) berbentuk kalimat
deklaratif. Secara konvensional, kalimat interogatif digunakan untuk menanyakan sesuatu
dan kalimat deklaratif, seperti dikemukakan sebelumnya, digunakan untuk menyampaikan
berita. Namun demikian, tuturan (12) tidak menanyakan sesuatu. Pada tuturan (12) tersebut
penutur mengajak mitra tutur untuk segera memberantas pekat supaya pelakunya jera. Pada
tuturan (13) penutur juga mengajak mitra tutur untuk segera menangani masalah KKN.
Dengan demikian, tuturan (12) dan (13) dikategorikan sebagai tuturan tidak langsung.
2) Tindak Tutur Literal dan Nonliteral
Tindak tutur literal merupakan tindak tutur di mana penutur menyampaikan
maksudnya sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya, sedangkan tindak tutur
nonliteral merupakan tindak tutur di mana penutur menyampaikan maksudnya tidak sama
atau berlawanan dengan makna kata-kata yang menyusunnya. Tuturan-tuturan berikut ini
merupakan contoh tuturan literal dan nonliteral, masih dengan konteks politik.
(14) Penanganan masalah pakaian dinas luar biasa cepatnya. Sampai-sampai kita
semua bosan menunggunya.
(15) Laporan Pertanggungjawaban Bupati disusun dengan sangat rapi sehingga kita
semua dapat membaca dengan sangat cepat dan enak.
(16) Rapat Paripurna dimulai 30 menit setelah jam 9 karena para anggota datang on
time.
(17) Siaran langsung Rapat Paripurna oleh RSPD membantu masyarakat mengetahui
perkembangan Dewan dengan sangat cepat sehingga masyarakat dapat segera
menyampaikan tanggapannya.
Pada tuturan (14) dan (16) maksud disampaikan dengan tidak menggunakan makna
sebenarnya dari kata-kata yang merangkainya. Tuturan yang berbunyi Penanganan masalah
pakaian dinas luar biasa cepatnya. Sampai-sampai kita semua bosan menunggunya adalah
janggal jika diartikan sesuai dengan kata-kata yang menyusunnya. Dari tuturan tersebut dapat
diketahui bahwa sebenarnya penanganan masalah pakaian dinas berjalan lamban. Maksud
tersebut dapat diketahui dari tuturan berikutnya yang berbunyi Sampai-sampai kita semua
bosan menunggunya. Pada tuturan (16) tidak mungkin Rapat Paripurna bisa terlambat 30
menit yang disebabkan karena para anggota datang on time. Sehingga dengan demikian,
tuturan (14) dan (16) dikategorikan sebagai tuturan nonliteral.
Pada tuturan (15) dan (17) penutur menyampaikan maksudnya sesuai dengan makna
kata-kata yang menyusun tuturan-tuturan itu. Laporan Pertanggungjawaban Bupati disusun
dengan sangat rapi sehingga kita semua dapat membaca dengan sangat cepat dan enak
memang demikian maksudnya. Demikian pula, siaran langsung Rapat Paripurna oleh RSPD
membantu masyarakat mengetahui perkembangan Dewan dengan sangat cepat sehingga
masyarakat dapat segera menyampaikan tanggapannya memiliki maksud seperti apa yang
terdapat pada makna kata-kata yang menyusunnya. Dengan demikian, tuturan (15) dan (17)
di atas dikategorikan sebagai tuturan literal.