Anda di halaman 1dari 16

1

PENDAHULUAN


Lethal Dose adalah suatu besaran yang diturunkan secara statistik, guna
menyatakan dosis tunggal sesuatu senyawa yang diperkirakan dapat mematikan atau
menimbulkan efek toksik yang berarti pada 50% hewan coba setelah perlakuan. LD
merupakan tolak ukur kuantitatif yang sering digunakan untuk menyatakan kisaran
dosis letal.
Beberapa pendapat menyatakan tidak setuju, bahwa LD masih dapat
digunakan untuk uji toksisitas akut. Namun demikian, ada juga beberapa kalangan
yang masih setuju,bahwa LD masih dapat digunakan untuk uji toksisitas akut
dengan pertimbangan antara lain :
Jika lakukan dengan baik, uji toksisitas akut tidak hanya mengukur LD,
tetapi juga memberikan informasi tentang waktu kematian, penyebab
kematian, gejala gejala sebelum kematian, organ yang terkena efek, dan
kemampuan pemulihan dari efek nonlethal.
Hasil uji ini dapat digunakan untuk pertimbangan pemilihan design penelitian
subakut.
Hasil uji ini dapat langsung digunakan sebagai perkiraan risiko suatu senyawa
terhadap konsumen atau pasien.
Uji LD tidak membutuhkan waktu yang lama.
Hasil dari uji LD yang harus dilaporkan selain jumlah hewan yang mati,
juga harus disebutkan durasi pengamatan. Bila pengamatan dilakukan dalam 24 jam
setelah perlakuan, maka hasilnya tertulis LD 24 jam. Namun seiring
perkembangan, hal ini sudah tidak diperhatikan lagi, karena pada umumnya tes LD
dilakukan dalam 24 jam pertama sehingga penulisan hasil tes LD saja sudah
cukup untuk mewakili tes LD yang diamati dalam 24 jam.
2

Bila dibutuhkan, tes ini dapat dilakukan lebih dari 14 hari. Contohnya, pada
tricresyl phosphat, akan memberikan pengaruh secara neurogik pada hari 10 14,
sehingga bila diamati pada 24 jam pertama tidak akan menemukan hasil yang berarti.
Dan apabila demikian maka penulisan hasil harus disertai dengan durasi pengamatan.
Pada umumnya, semakin kecil nilai LD, semakin toksik senyawa tersebut.
Demikian juga sebaliknya, semakin besar nilai LD, semakin rendah toksisitasnya.
Potensi ketoksikan akut senyawa pada hewan coba dibagi menjadi beberapa kelas,
adalah sebagai berikut :

No. Kelas LD (mg/KgBB)
1 Luar biasa toksik 1 atau kurang
2 Sangat toksik 1 50
3 Cukup toksik 50 500
4 Sedikit toksik 500 5000
5 Praktis tidak toksik 5000 15000
6 Relatif kurang berbahaya lebih dari 15000

Beberapa hal yang dapat mempengaruhi nilai LD antara lain spesies, strain,
jenis kelamin, umur, berat badan, gender, kesehatan nutrisi, dan isi perut hewan coba.
Teknis pemberian juga mempengaruhi hasil, yaitu meliputi waktu pemberian, suhu
lingkungan, kelembaban dan sirkulasi udara. Selain itu, kesalahan manusia juga dapat
mempengaruhi hasil ini. Oleh karena itu, sebelum melakukan penelitian, kita harus
memperhatikan faktor faktor yang mempengaruhi hasil ini.





3

TINJAUAN PUSTAKA


Toksisitas akut didefinisikan sebagai kejadian keracunan akibat pemaparan
bahan toksik dalam waktu singkat, yang biasanya dihitung dengan menggunakan nilai
LC50 atau LD. Nilai ini didapatkan melalui proses statistik dan berfungsi
mengukur angka relatif toksisitas akut bahan kimia. Toksisitas akut dari bahan kimia
lingkungan dapat ditetapkan secara eksperimen menggunakan spesies tertentu seperti
mamalia, bangsa unggas, ikan, hewan invertebrata, tumbuhan vaskuler dan alga. Uji
toksisitas akut dapat menggunakan beberapa hewan mamalia, namun yang dianjurkan
untuk uji LD diantaranya tikus, mencit dan kelinci (Ibrahim dkk., 2012).
Menurut Adreanus dkk. (2002), penentuan LD merupakan tahap awal untuk
mengetahui keamanan bahan yang akan digunakan manusia dengan menentukan
besarnya dosis yang menyebabkan kematian 50% pada hewan uji setelah pemberian
dosis tunggal. LD bahan obat mutlak harus ditentukan karena nilai ini digunakan
dalam penilaian rasio manfaat (khasiat) dan daya racun yang dinyatakan sebagai
indeks terapi obat (LD/ DE50). Makin besar indeks terapi, makin aman obat
tersebut jika digunakan.
Uji LD adalah suatu pengujian untuk menetapkan potensi toksisitas akut
LD, menilai berbagai gejala toksik, spektrum efek toksik, dan mekanisme
kematian. Tujuan Uji LD adalah untuk mendeteksi adanya toksisitas suatu zat,
menentukan organ sasaran dan kepekaannya, memperoleh data bahayanya setelah
pemberian suatu senyawa secara akut dan untuk memperoleh informasi awal yang
dapat digunakan untuk menetapkan tingkat dosis yang diperlukan (Ibrahim dkk.,
2012).
Menurut Angelina dkk. (2008) dalam (Ariens, 1986), uji toksisitas akut adalah
suatu pengujian untuk menetapkan potensi toksisitas akut LD, menilai berbagai
gejala toksik, spektrum efek toksik, dan mekanisme kematian menurut. Tujuan
4

toksisitas akut adalah untuk mendeteksi adanya toksisitas suatu zat, menentukan
organ sasaran dan kepekaannya, memperoleh data bahayanya setelah pemberian suatu
senyawa secara akut dan untuk memperoleh informasi awal yang dapat digunakan
untuk menetapkan tingkat dosis yang diperlukan untuk uji toksisitas selanjutnya.
Disamping itu data kematian yang diperoleh ditentukan nilai LD pada mencit jantan
dan betina.
Hal serupa menurut pendapat Jenova (2009), uji toksisitas akut adalah salah
satu uji pra-klinik. Uji ini dirancang untuk mengukur derajat efek toksik suatu
senyawa yang terjadi dalam waktu singkat, yaitu 24 jam setelah pemberiannya dalam
dosis tunggal. Tolak ukur kuantitatif yang paling sering digunakan untuk menyatakan
kisaran dosis letal atau toksik adalah dosis letal tengah (LD). Terdapat 3 metode
yang paling sering digunakan untuk menghitung harga LD yaitu metode grafik
Lithfield & Wilcoxon, metode kertas grafik probit logaritma Miller dan Tainter, dan
metode rata rata bergerak Thompson-Weil yang didasarkan pada kekerabatan antara
peringkat dosis dan % hewan yang menunjukan respon. Sedangkan data kualitatif
yang diperoleh meliputi penampakan klinis, morfologis, dan mekanisme efek toksik.
Sedangkan Adreanus dkk. (2002) berpendapat bahwa, ada berbagai metode
perhitungan LD yang umum digunakan antara lain metode Miller-Tainter, metode
Reed-Muench, dan metode Krber. Dalam metode Miller-Tainter digunakan kertas
grafik khusus yaitu kertas logaritma-probit yang memiliki skala logaritmik sebagai
absis dan skala probit (skala ini tidak linier) sebagai ordinat. Pada kertas ini dibuat
grafik antara persen mortalitas terhadap logaritma dosis. Metode Reed-Muench
didasarkan pada nilai kumulatif jumlah hewan yang hidup dan jumlah hewan yang
mati. Diasumsikan bahwa hewan yang mati dengan dosis tertentu akan mati dengan
dosis yang lebih besar, dan hewan yang hidup akan hidup dengan dosis yang lebih
kecil. Metode Krber prinsipnya menggunakan rataan interval jumlah kematian
dalam masing-masing kelompok hewan dan selisih dosis pada interval yang sama.
5

Uji toksisitas akut dapat dipengaruhi oleh respon biologik hewan uji seperti
jenis kelamin. Contoh respon tubuh akibat jenis kelamin yaitu nilai LD digoxin
yang diuji pada tikus jantan diperoleh angka 56 mg/kg bb, sementara untuk tikus
betina 94 mg/kg bb (Ibrahim dkk., 2012 ; dalam Buck, dkk. 1976). (Ibrahim dkk.,
2012) penggunaaan jenis kelamin hewan dalam penelitian uji toksisitas bervariasi.
merekomendasikan hewan sejenis, namun beberapa menganjurkan penggunaan
hewan jantan dan betina. Hewan uji (mencit dan tikus) yang digunakan dalam uji
toksisitas direkomendasikan umur 8-12 minggu sementara untuk kelinci 12 minggu.
Pada prinsipnya, penelitian uji toksisitas akut bertujuan untuk mengetahui dosis
relatif toksisitas akut terhadap produk obat herbal.
Dari hasil penelitian Jenova (2009), tidak ada satupun mencit yang mati
setelah dilakukan perlakuan. Dengan hasil tersebut, data tidak dapat diproses dengan
menggunakan SPSS 15 for Windows. Berdasarkan kesepakatan yang diambil para
ahli, jika dosis maksimal tidak menimbulkan kematian hewan coba, maka LD
dinyatakan dengan LD semu dengan mengambil dosis maksimal. Sehingga dalam
penelitian ini LD diketahui sebagai LD semu, yaitu 2000 mg/KgBB. Hasil ini
tidak dapat dimasukkan dalam kriteria Loomis, karena LD yang didapat bukan
merupakan LD yang sesungguhnya. Namun dosis 2000 mg/KgBB merupakan
konversi dosis maksimal pada manusia ke mencit berdasarkan ratio luas permukaan
tubuh. Berdasarkan kesepakatan para ahli, bila pada dosis maksimal tidak ada
kematian pada hewan coba, maka jelas senyawa tersebut termasuk dalam kriteria
Praktis Tidak Toksik. Sehingga dosis maksimal pada manusia yang dikonversikan
menjadi 2000mg/KgBB pada mencit, di mana dosis tersebut tidak menimbulkan
kematian pada seluruh hewan coba, termasuk dalam kriteria Praktis Tidak Toksik
dalam kriteria Loomis (1978).



6

PEMBAHASAN


Tujuan dilakukan penentuan LD adalah untuk mencari besarnya dosis
tunggal yang membunuh 50% dari sekelompok hewan coba dengan sekali
pemberian bahan uji. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
1. Metode Weil
Rumus : Log m = log D + d (f+1)
Dimana : m = Nilai LD
D = Dosis terkecil yang digunakan
D = Log dari kelipatan dosis (Log R)
F = Suatu faktor dalam table Weil

2. Metode Grafik Probit
Hewan uji diberi dosis-dosis yang menurun secara ekponensial sehingga data
presentasi kematian berupa garis linier. Taraf kepercayaan dapat diperoleh
dengan menggunakan rumus:


()




Dimana : = Batas kepercayaan LD
LD = Dosis yang menyebabkan kematian
S = Simpangan baku rata-rata LD
N = Jumlah hewan keseluruhan dalam kelompok hewan uji
dengan presentase kematian antara 75%-93%
7

S = Simpangan baku LD
= Dosis yang menyebabkan kematian lebih dari 84% hewan
uji
= Dosis yang menyebabkan kematian lebih dari 16% hewan
uji

3. Metode Farmakope Indonesia III
Rumus : m = a b (Pi 0,5)
Dimana : m = Log LD
a = Logaritma dosis terendah yang dapat menyebabkan
kematian dalam suatu kelompok
b = Selisih logaritma dosis yang berurutan
Pi = Jumlah hewan uji yang mati setelah menerima dosisi I,
dibagi dengan seluruh hewan uji yang menerima dosis.
Syarat yang harus dipenuhi dalam metode ini adalah perlakuan
menggunakan seri dosis dengan pengenceran berketetapan tetap. Jumlah
hewan percobaan tiap kelompok harus sama dan dosisi diatur sedemikian rupa
sehingga memberikan efek kematian 0%-100%.
Contoh menentukan nilai LD dari beberapa penelitian, sebagai berikut.
1. Penelitian Ibrahim dkk. (2012) tentang Uji Lethal Dose 50% (LD)
Poliherbal (Curcuma xanthorriza, Kleinhovia hospita, Nigella sativa,
Arcangelisia flava dan Ophiocephalus striatus) Pada Heparmin
Terhadap Mencit (Mus musculus).
Materi hewan coba yang digunakan dalam penelitian umumnya cukup
14 ekor mencit galur Swiss, jenis kelamin jantan dan betina, umur 3 bulan
dengan berat rata-rata 25-30 gram. Mencit bisa diperoleh dari unit layanan
penjualan hewan coba seperti di Biofarma, Unit pra klinik LPPT, dll. Mencit
dikandangkan menggunakan fasilitas kandang yang memenuhi syarat dengan
8

suhu pemeliharaan 26 1 0C, dan kelembaban 65 5 %. Mencit sebelum
diberi perlakuan diadaptasikan dahulu terhadap kondisi penelitian selama 1
minggu. Pakan mencit diharapkan standar berbentuk pellet misalnya jenis
Extra Fortuna (Produksi PT. Multiphala Agrinusa) serta air minum diberikan
pada mencit uji secara ad libitum.
Selanjutnya, membuat rancangan percobaan LD berdasarkan metode
Weil (1952). Maksud dari LD adalah dalam dosis dimana 50% dari populasi
spesies tertentu mati. Untuk menentukan LD, terlebih dahulu dilakukan
penelitian dengan menggunakan 2 ekor mencit pada tiap kelompok. Uji ini
dimaksudkan untuk mendapatkan dosis antara di mana kedua mencit tidak
mengalami kematian dan dosis yang mengakibatkan kedua mencit mengalami
kematian. Tahapan yang sesungguhnya, mencit dipuasakan makan sebelum
diperlakukan namun tetap diberi minum selama 4 jam sebelum perlakuan dan
2 jam sesudah perlakuan. Selanjutnya sediaan produk bahan herbal diberikan
secara oral dengan dosis tertentu misalnya 312,5; 625; 1250; 2500; 5000; dan
10000 mg/Kg BB. Untuk contoh pemberian dosis seperti diatas, hewan uji
dibagi ke dalam 7 kelompok perlakuan sebagai berikut: kelompok A: kontrol,
diberi makan dan minum standar; oral;kelompok B sampai dengan G secara
berturut-turut diberi dosis : 312,50 mg, 625 mg, 1250 mg, 2500 mg, 5000 mg
dan 10000 mg/Kg BB/per oral.
Penentuan LD dilakukan dengan melihat data kematian mencit pada
setiap kelompok perlakuan mulai dosis 312,5 10000 mg/Kg BB selama 48
jam. Data kematian dari setiap kelompok diolah menjadi data kumulatif yang
kemudian dijadikan persentase kematian. Hasil persentase kematian kemudian
diolah menurut metode Reed-Muench dengan interpolasi linier untuk
mendapat LD dan standar error (SE). Sedangkan metode penetapan sifat
toksik dilakukan setelah perlakuan dengan bahan uji pada dosis tunggal,
9

jumlah kematian hewan uji yang mati diamati selama 24 jam. Apabila
diperlukan, pengamatan kematian hewan uji dapat diikuti sampai hari ke-15.
Uji LD terhadap sediaan heparmin dilakukan untuk mengetahui pada
dosis berapa sediaan heparmin dapat memberikan efek toksik. Efek tersebut
ditandai dengan adanya kematian pada mencit yang telah diberikan sediaan
heparmin. Pada pengamatan hewan coba setelah perlakuan didapatkan hasil
bahwa tidak terdapat gejala-gejala toksik yang timbul setelah pemberian
sediaan heparmin. Adanya penurunan aktivitas motorik pada kelompok III
hanya terjadi 30 menit setelah perlakuan, sedangkan pada kelompok IV
hingga 1 jam setelah serlakuan. Setelah itu aktivitas motorik semua mencit
kembali normal. Hasil pengamatan selama 24 jam perlakuan tidak
menunjukkan adanya hewan coba yang mati melebihi 50% dari jumlah hewan
pada tiap kelompok (10 ekor) baik pada kelompok kontrol maupun kelompok
perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian dosis secara oral sediaan
heparmin sampai dengan dosis maksimum yang masih dapat diberikan secara
teknis pada hewan uji (20g/kgBB) atau sekitar 179 kali dosis yang lazim
dipakai pada manusia, tidak menimbulkan kematian pada hewan coba. Dosis
tertinggi tersebut dinyatakan sebagai LD semu. Berdasarkan kriteria Frank
(1996), hasil tersebut mempunyai makna toksikologi bahwa potensi
ketoksikan akut sediaan heparmin termasuk dalam kategori praktis tidak
toksik (>15000mg).

2. Penelitian Jenova (2009) tentang Uji Toksisitas Akut yang Diukur Dengan
Penentuan LD Ekstrak Herba Putri Malu (Mimosa pudica L.) Terhadap
Mencit Balb/C.
Latar Belakang: Putri malu (Mimosa pudica L.) lazim dipakai di
masyarakat sebagai ramuan tradisional penurun panas, penenang, antibatuk
dan antiradang, namun belum ada penelitian untuk meneliti standar keamanan
10

sediaan putri malu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek
toksisitas akut ekstrak putri malu pada mencit Balb/c yang diukur secara
kuantitatif dengan LD.
Metode: Penelitian eksperimental laboratorik dengan rancangan
penelitian post test only group design. Sampel 30 ekor mencit Balb/c jantan
yang dibagi menjadi 1 kelompok kontrol dan 4 kelompok perlakuan, masing-
masing terdiri atas 6 ekor mencit. Kelompok kontrol hanya mendapat
aquadest, kelompok Perlakuan I (P1) diberi suspensi sediaan uji ekstrak putri
malu dengan dosis 5 mg/kgBB. Kelompok Perlakuan II (P2), mendapat
suspensi sediaan uji dengan dosis 50 mg/kgBB. Kelompok Perlakuan III (P3)
diberi suspensi sediaan uji dengan dosis 500 mg/kgB, sedangkan untuk
kelompok perlakuan IV (P4) diberikan dosis tertinggi 2000 mg/kgBB mencit.
Sediaan uji diberikan secara oral dengan hanya satu kali pemberian pada awal
masa penelitian.
Hasil: Nilai LD ekstrak putri malu adalah lebih besar dari 2000
mg/kgBB. Juga tidak muncul spektrum efek toksik pada hewan coba selama
pengamatan.
Kesimpulan: Ekstrak herba putri malu adalah bahan yang praktis tidak
toksik berdasarkan kriteria Loomis (1978) dan tidak ada gejala klinis
ketoksikan akut yang signifikan yang terjadi pada seluruh hewan coba.
Di dalam penelitian ini, dosis tertinggi pada percobaan adalah 2000
mg/KgBB. Sedangkan dosis maksimal yang diijinkan untuk percobaan
dengan menggunakan mencit adalah 5000 mg/KgBB, sehingga belum
mencapai dosis maksimal yang dianjurkan dan belum menimbulkan kematian
hewan coba pada percobaan ini. Pada penelitian ini ada beberapa spektrum
gejala toksik Loomis yang tidak diamati seperti jntung, apnea, dispnea,
defekasi, kencing, salivasi, secret hidung, dan suhu badan. Hal ini dikarenakan
keterbatasan sarana untuk menilai gejala gejala di atas. Selain itu hasil
11

penelitian ini masih perlu dieksplorasi lebih lanjut dengan penelitian potensi
toksisitas untuk tingkat subkronis dan kronis serta rentang dosis yang lebih
besar dan variasi dosis yang lebih banyak untuk mengetahui potensi
ketoksikan yang sesungguhnya dari ekstrak herba putri malu.

3. Penelitian Adreanus dkk. (2002) tentang Toksisitas Akut dan Penentuan
LD Oral Ekstrak Air Daun Gandarusa (Justicia gendarussa Burm. F.)
pada Mencit Swiss Webster.
Telah dilakukan uji toksisitas akut ekstrak air daun gandarusa (Justicia
gendarussa Burm F.) pada mencit Swiss Webster dan penentuan dosis letal
median (LD) oral dengan empat metode perhitungan. Hasil menunjukkan
bahwa ekstrak air daun gandarusa memiliki efek toksik pada sistem saraf
pusat. Nilai LD oral dengan metode Miller- Tainter, metode Reed-Muench,
metode Krber, dan metode perhitungan menurut Farmakope Indonesia edisi
3 pada mencit jantan sama dengan nilai pada mencit betina yaitu masing-
masing 21,00, 21,03, 22,50 dan 21,60 g/kg bobot badan. Metode Miller-
Tainter menghasilkan nilai LD terkecil.
Nilai LD oral ekstrak air daun gandarusa antara mencit jantan dan
betina tidak ada perbedaan, artinya mencit jantan dan betina memiliki
kepekaan yang sama terhadap bahan tersebut dengan demikian tidak ada
pengaruh variasi jenis kelamin. Nilai LD sebaiknya diambil dari hasil
perhitungan yang memberikan nilai terkecil karena semaki kecil nilai LD
menunjukkan tingkat toksisitas yang semakin tinggi sehingga penggunaan
nilai LD terkecil akan lebih menjamin keamanannya. Perhitungan LD
dengan metode Miller-Tainter menghasilkan nilai terkecil dibanding ketiga
metode lainnya yaitu 21,00 g/kg bb. Hasil perhitungan LD dengan beberapa
metode perhitungan.

12

4. Penelitian Angelina dkk. (2008) tentang Penentuan LD Daun Cinco
(Cyclea barbata Miers.) Pada Mencit.
Telah dilakukan uji toksisitas akut dari ektrak etanol dari daun Cyclea
barbata Miers. (Cb) pada hewan uji mencit. Ekstrak diberikan secara oral
dengan 4 tingkatan dosis yang berbeda yaitu 300 mg/kg bb, 1500 mg/kg bb,
3000 mg/kg bb dan 30000 mg/kg bb. Efek toksik ekstrak dievaluasi
berdasarkan pengamatan terhadap tingkah laku, reflek spinal, sistem syaraf
pusat, urinasi dan defekasi serta jumlah hewan yang mati. Periode
pengamatan dilakukan selama 14 hari. Dari penelitian yang dilakukan
menunjukkan bahwa ekstrak sampai dosis tertinggi yaitu 30000 mg/kg bb
tidak menyebabkan efek toksik yang bermakna serta tidak ada kematian.
Dengan demikian LD semu dari ekstrak daun cyclea barbata Miers. pada
mencit lebih besar dari 30000 mg/kg bb.
Sampai dengan dosis terbesar 30000 mg/kg bb pada pemberian dosis
tunggal oral Cb tidak ditemukan adanya kematian sampai 14 hari setelah
pemberian dosis tunggal oral bahan uji, sehingga nilai LD dari dosis tunggal
oral Cb tidak dapat dihitung, karena untuk menghitung LD harus ada hewan
uji yang mati sehingga hanya dapat dinyatakan nilai LD semu ekstrak Cb
lebih besar dari 30000 mg/kg bb pada mencit jantan maupun mencit betina.
Gambaran perkembangan bobot badan mencit selama 14 hari setelah
pemberian dosis tunggal oral bahan uji untuk Cb terlihat pada gambar 1
(mencit jantan). Dari gambar 1 terlihat bahwa peningkatan bobot badan
mencit jantan kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol tidak berbeda
secara signifikan dari hari ke hari selama 14 hari pengamatan.. Dari
pengolahan data secara statistik dengan menggunakan one-way anova
memberikan hasil bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara kenaikan
bobot badan kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol (p>0,05). Pada
gambar 2 (mencit betina) terlihat kenaikan bobot badan yang lebih besar
13

dibandingkan dengan kenaikan bobot badan mencit jantan. Tetapi kenaikan
antar kelompok perlakuan tidak berbeda bermakna dengan kelompok kontrol
(p>0,05).
Dengan demikian dapat dinyatakan dosis tunggal oral keempat ekstrak
sampai dosis 30000 mg/kg bb tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan
perkembangan bobot badan mencit jantan dan mencit betina selama 14 hari
pengamatan setelah pemberian bahan uji. Terjadinya penurunan bobot badan
dalam sehari yang tidak mencapai 5 % tanpa menunjukkan pengaruh prilaku
pada hewan uji, adalah umum terjadi akibat perlakuan.

5. Penelitian Sundari dkk. (2009) tentang Toksisitas Akut (LD) dan Uji
Gelagat Ekstrak Daun Teh Hijau(Camellia sinensis (linn.) Kunze) Pada
Mencit.
Minuman teh yang selama ini biasa dinikmati masyarakat adalah
bentuk seduhan yaitu daun teh yang telah diolah di pabrik sesuai jenisnya,
diberi air matang yang mendidih. Menikmati teh juga dapat divariasikan
dengan menambahkan gula, susu, daun mint, air jeruk lemon, kapulaga atau
batang serai. Selain sebagai minuman dalam bentuk seduhan, daun the hijau
dapat dibuat dalam bentuk ekstrak etanol yang selanjutnya dapat diuji
khasiatnya sebagai obat untuk beberapa penyakit degeneratif. Untuk
mengetahui kcamanan penggunaan bentuk ekstrak etanol daun teh hijau
tersebut, dilakukan uji toksisitas akut (LD) dengan cara Weil, CS. dan uji
gelagat dengan cara Paget G.E. & Barnes, J.M.
Rumus Perhitumgan LD5o menurut Weil C.S.
Log m = log D +d ( f + 1 )
dimana:
m = LD,
D = dosis terkecil = 2,21 mg / 10 g bb. pada mencit
14

d = logR = log dari kelipatan dosis =1,4
d = log 1,4 = 0, 146 (membulatan d = 0,15)
f = sesuatu faktor dari tabel =0,16667
Hasil percobaan toksisitas akut (LD) tahap II (tahap penentuan).
Terlihat bahwa LD bahan uji (ekstrak etanol 70% daun teh hijau (Camellia
sinensis Linn.) didapat nilai 3,303 mg/10 g bb. (2,120 - 5,140 mg/10 g bb.).
Setelah diekstrapolasi nilai pada tikus per oral menurut Gleasson dkk.,
menunjukkan bahwa bahan uji termasuk golongan practically non toxic
(PNT). Untuk (LD) oral didapatkan harga 23.121 mg/kg bb. yang ternyata
lebih besar dari 15.000 mg/kg bb.


















15


KESIMPULAN


Lethal Dose adalah suatu besaran yang diturunkan secara statistik, guna
menyatakan dosis tunggal sesuatu senyawa yang diperkirakan dapat mematikan atau
menimbulkan efek toksik yang berarti pada 50% hewan coba setelah perlakuan. LD
merupakan tolak ukur kuantitatif yang sering digunakan untuk menyatakan kisaran
dosis letal.
Tujuan dilakukan penentuan LD adalah untuk mencari besarnya dosis
tunggal yang membunuh 50% dari sekelompok hewan coba dengan sekali pemberian
bahan uji.
Toksisitas akut didefinisikan sebagai kejadian keracunan akibat pemaparan
bahan toksik dalam waktu singkat, yang biasanya dihitung dengan menggunakan nilai
LC50 atau LD. Nilai ini didapatkan melalui proses statistik dan berfungsi mengukur
angka relatif toksisitas akut bahan kimia.
Terdapat 3 cara untuk menentukan nilai LD, yaitu metode Weil, Grafik
Probit, dan Farmakope Indonesia III. LD bahan obat mutlak harus ditentukan
karena nilai ini digunakan dalam penilaian rasio manfaat (khasiat) dan daya racun
yang dinyatakan sebagai indeks terapi obat (LD/ DE50). Makin besar indeks terapi,
makin aman obat tersebut jika digunakan.







16

DAFTAR PUSTAKA


Andreanus, A., Soemardji, Endang Kumolosasi, Cucu Aisyah. 2002. Toksisitas Akut
dan Penentuan LD Oral Ekstrak Air Daun Gandarusa (Justicia
gendarussa Burm. F.) pada Mencit Swiss Webster. Jurnal Matematika
dan Sains Vol. 7 No. 2, Oktober 2002, hal 57 62. Bandung.
Angelina, Marissa., Sri Hartati, Indah D. Dewijanti, Sofna D.S. Banjarnahor, dan Lia
Meilawati. 2008. Penentuan LD Daun Cinco (Cyclea barbata Miers.)
Pada Mencit. Makara, Sains, Volume 12, no. 1, April 2008: 23-26.
Tangerang.
Ariens, E.J. Toksikologi Umum Pengantar, terjemahan J.R. Wattimena, Gadjah Mada
Univ. Press, Yogyakarta, 1986.
Ibrahim, Mansur., Akhyar Anwar, Nur Ihsani Yusuf. 2012. Uji Lethal Dose 50%
(LD) Poliherbal (Curcuma xanthorriza, Kleinhovia hospita, Nigella
sativa, Arcangelisia flava dan Ophiocephalus striatus) Pada Heparmin
Terhadap Mencit (Mus musculus). Research and Development PT. Royal
MedicaLink PharmaLab.
Jenova, Rika. 2009. Uji Toksisitas Akut yang Diukur Dengan Penentuan LD
Ekstrak Herba Putri Malu (Mimosa pudica L.) Terhadap Mencit Balb/C.
Laporan Akhir Penelitian Karya Tulis Ilmiah. Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro. Semarang.
Loomis TA. Essential of toxicology. 3rd ed. Philadelpia: Lea & Febiger; 1987. p. 198
202.
Sundari, Dian., Budi Nuratmi, M. Wien Winarno. 2009. Toksisitas Akut (LD) dan
Uji Gelagat Ekstrak Daun Teh Hijau(Camellia sinensis (linn.) Kunze)
Pada Mencit. Artikel Media Penelit. dan. Pengembang. Kesehat. Volume
XIX Nomor 4 Tahun 2009.