Anda di halaman 1dari 23

1

BAGIAN ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN REFERAT


FAKULTAS KEDOKTERAN APRIL 2014
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR



PITIRIASIS VERSIKOLOR



OLEH :


Abdul Gafur Zulkarnain, S.Ked
10542 0059 09



PEMBIMBING :

Dr.dr. Hj. Sitti Musafirah Sp.KK



DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2014


2

HALAMAN PENGESAHAN


Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa :
Nama : Abdul Gafur Zulkarnain, S.Ked
NIM : 10542 0059 09
Judul Referat : Pitiriasis Versikolor
Telah menyelesaikan tugas tersebut dalam rangka kepaniteraan klinik pada
bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Makassar.




Makassar, April 2014

Pembimbing



(Dr. dr. Hj. Sitti Musafirah Sp.KK)







3

KATA PENGANTAR



Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena segala limpahan rahmat dan
hidayah-Nya serta segala kemudahan yang diberikan dalam setiap kesulitan
hamba-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan Referat ini dengan judul
Pitiriasis Versikolor. Tugas ini ditulis sebagai salah satu syarat dalam
menyelesaikan Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
Berbagai hambatan dialami dalam penyusunan referat ini. Namun berkat
bantuan saran, kritikan, dan motivasi dari pembimbing serta teman-teman
sehingga tugas ini dapat terselesaikan.
Secara khusus penulis sampaikan rasa hormat dan terima kasih banyak
kepada Dr. dr. Hj. Sitti Musafirah Sp.KK, selaku pembimbing yang telah banyak
meluangkan waktu dengan tekun dan sabar dalam membimbing, memberikan
arahan dan koreksi selama proses penyusunan tugas ini hingga selesai.
Penulis menyadari bahwa lapsus ini masih jauh dari yang diharapkan oleh
karena itu dengan kerendahan hati penulis akan senang menerima kritik dan saran
demi perbaikan dan kesempurnaan tugas ini.
Semoga Referat ini bermanfaat bagi pembaca umumnya dan penulis secara
khusus.


Makassar, April 2014



Penulis



4

BAB I
PENDAHULUAN

Pitiriasis versiolor adalah infeksi jamur superfisial kronik, umumnya tidak
memberikan keluhan subjektif kecuali secara kosmetik dan terdapat pada lapisan
tanduk yang disebabkan oleh flora normal kulit yaitu Malassezia furfur atau
Pityrosporum Orbiculare yang berubah menjadi patogen yang dipengaruhi oleh
beberapa faktor predisposisi misalnya suhu, kelembabapan udara, keringat,
defisiensi imun dan genetik. Infeksi ini bersifat menahun, ringan, dan biasanya
tanpa peradangan. Sinonim dari pitiriasis versikolor adalah Tinea Versikolor,
Dermatomikosis furfurase, Kromofitosis, Liver Spots, Tinea Flava, Pitiriasis
Versikolor tropika, Akromia Parasitic, Panu.
1,2,3

Pitiriasis Versikolor adalah penyakit universal bisa didapatkan didaerah
beriklim sedang, bahkan lebih sering lagi terdapat di daerah beriklim oleh karena
tingginya temperatur dan kelembaban. Penyakit ini menyerang semua ras,
Menyerang umur terutama dewasa muda, sedangkan umur kurang dari 1 tahun
sangat jarang ditemukan Malassezia furfur. terbanyak pada usia 16-40 tahun.
Tidak terdapat perbedaan frekuensi antara pria dan wanita. Kelainan kulit
pitiriasis versikolor berupa bercak putih sampai cokelat, merah, dan hitam. Di atas
lesi tampak skuama halus terutama dijumpai pada bagian atas dada, lengan atas
tungkai atas, leher, muka, hingga kulit kepala yang berambut. Pada kulit yang
5

terang, lesi berupa makula cokelat muda dengan skuama halus dipermukaan. Pada
kulit gelap penampakan yang khas berupa bercak hipopigmentasi.
2,3

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan
mikroskopis langsung, dan pemeriksaan dengan lampu wood. Pitiriasis versikolor
cenderung untuk kambuh sehingga pengobatan harus dilakukan secara
menyeluruh, tekun dan konsisten
1,2













6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


II.1 Definisi
Pitiriasis Versikolor adalah infeksi jamur superfisial pada lapisan korneum
kulit yang bersifat ringan, menahun dan biasanya tidak terdapat keluhan subyektif.
Pitiriasis Versikolor ditandai dengan adanya makula di kulit, skuama halus,
disertai gatal.
4,5

II.2 Epidemiologi
Di Amerika serikat dilaporkan bahwa penderita berusia 20-30 tahun
perbandingan 1,09% pria dan 0,6% wanita. Insiden yang akurat di Indonesia
belum ada namun diperkirakan 40-50% dari populasi dinegara tropis terkena
penyakit ini, sedang negara subtropis yaitu Eropa tengah dan Utara hanya 0,5-1%
dari semua penyakit jamur.

Pitiriasis Versikolor banyak dijumpai di daerah tropis
oleh karena tingginya temperatur dan kelembaban. Menyerang pria dan wanita.
5,6

II.3 Etiologi
Pityrosporum ovale (juga dikenal sebagai Pityrosporum Orbiculare dan
Malassezia furfur) yaitu jamur bersifat lipofilik yang normal berada pada lapisan
keratin kulit dan folikel rambut setiap orang umur 15 tahun atau lebih tua. Ini
7

adalah organisme oportunis yang menyebabkan pitiriasis versikolor, Pityrosporum
folliculitis, dan melibatkan patogenesis dermatitis seboroik. Infeksi Pityrosporum
tidak menular, tetapi pertumbuhan flora kulit yang cepat akan menjadi beberapa
kondisi yang menguntungkan.
7

Timbulnya penyakit maupun cepatnya pertumbuhan dari organisme
Malassezia Furfur ini dipengaruhi oleh banyak faktor predisposisi, dengan adanya
faktor predisposisi ini maka organisme akan berubah dari bentuk saprofit
kebentuk patogen. Faktor tersebut terbagi menjadi faktor eksogen yaitu
kelembaban, cuaca panas, pakaian yang tertutup rapat, tingginya konsentrasi
karbondioksida, dan faktor endogen yaitu adanya penyakit seboroik dermatitis,
penyakit infeksi kronis lainnya, pengobatan imunosupresif, malnutrisi,
hiperhidrosis, herediter, keadaan umum yang jelek, diabetes Melitus, dan
pemakaian antibiotik jangka panjang. Sedangkan faktor penularan dari seseorang
ke orang lain dapat terjadi melalui kontak langsung atau melalui perantara,
contohnya pakaian atau tempat tidur.
4,5

II.4 Patomekanisme
Pada kulit terdapat flora normal yang berhubungan dengan timbulnya
pitiriasis versikolor ialah pityrosporum orbiculare yang berbentuk bulat atau
pitirosporum ovale yang berbentuk oval. Keduanya merupakan organisme yang
sama, dapat berubah sesuai dengan lingkungannya, misalnya suhu, media, dan
kelembaban. Selama jamur ini masih dalam bentuk ragi maka kulit akan tetap
seperti biasa atau normal. Dengan adanya faktor-faktor predisposis yaitu faktor
8

eksogen dan endogen maka jamur akan cepat bermultipikasi dan berubah bentuk.
Jamur mengalami transformasi dari bentuk ragi kebentuk hifa yang disebut
sebagai Malassezia furfur, dimana bentuk ini akan berubah sifat dari flora normal
menjadi patogen, yang didapatkan pada skuama dari lesi ptiriasis versikolor.
Malazzesia furfur bermultiplikasi dengan cepat sehingga akan dihasilkan sel-sel
tunas yang berkelompok dan terbentuknya filamen-filamen.
8,9,10

Jamur ini hanya dapat berkembang pada daerah kulit yang mempunyai
kelenjar sebasea seperti bagian dada, punggung, lengan bagian atas, dan tidak
pernah didapatkan pada telapak kaki atau telapak tangan karena tidak mempunyai
kelenjar tersebut. Tumbuh secara optimal, tidak hanya pada lingkungan aerobik,
lingkungan mikro aerofilik tetapi juga pada kondisi yang anaerobik. Jamur ini
menyerang keratinosit sehingga terjadi proses keratolitik yang selanjutnya akan
tampak adanya lesi pada kulit, dimulai dengan makula kecil lalu membesar dan
dapat berkonfluensi.
8,9

Dengan proses biosintesa, lipoperoksidase dari jamur yang terdapat pada
kulit yang mengandung lemak (sebum) akan menghasilkan asam dikarboksilat,
utamanya asam azelic yang diketahui toksik terhadap melanosit, yaitu
menimbulkan kerusakan pada melanosit, hancurnya melanosom, dan menghambat
enzim tirosinase pada jalur produksi melanin sehingga pada kulit tersebut akan
tampak gambaran hipopigmentasi atau hipomelanosis. Malassezin adalah reseptor
agonis hidrokarbon yang menstimulasi apoptosis pada melanosit. Gambaran
hiperpigmentasi umumnya disebabkan oleh

meningkatnya ketebalan dari lapisan
9

keratin atau stratum korneum, adanya sel-sel inflamasi yang bertindak sebagai
stimulus ke melanosit yang akhirnya menimbulkan banyak pigmen.
9

II.5 Gambaran Klinik
Kelainan kulit pitiriasis versikolor sangat superfisial; dan tersering
ditemukan di badan. Lesi kulit berupa bercak putih sampai coklat, merah, hitam.
Di atas lesi terdapat sisik halus.
8

Bentuk lesi tidak teratur, dapat berbatas tegas atau difus. Sering didapatkan
lesi bentuk folikular atau lebih besar, atau bentuk numular meluas membentuk
plakat. Kadang-kadang dijumpai bentuk campuran, yaitu folikular dengan
numular, folikular dengan plakat ataupun folikular, atau numular dan plakat.
5,8





Gambar 1: Tine versikolor. tampak makula hipopigmentasi batas tidak tegas
9

Pada umumnya, pitiriasis versikolor tidak memberikan keluhan pada
penderita. Kadang-kadang terdapat gatal yang ringan, tetapi biasanya penderita
datang berobat karena alasan kosmetik yang disebabkan bercak hipopigmentasi.
8

Variasi warna lesi pada penyakit ini tergantung pada pigmen normal kulit
penderita, paparan sinar matahari, dan lamanya penyakit. Kadang-kadang warna
10

lesi sulit dilihat, tetapi skuamanya dapat dilihat dengan pemeriksaan goresan pada
permukaan lesi dengan kuret atau kuku jari tangan (coup dangle of besnier).
Kekambuhan sering terjadi setelah pengobatan apabila pada suatu keadaan
terdapat faktor predisposisi.

Tempat predileksi penyakit terutama yang ditutupi
pakaian seperti dada, punggung, perut, lengan atas, paha, leher, muka, dan kulit
kepala berambut.
7,8,9

II.6 Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan
mikroskopis langsung, dan pemeriksaan dengan lampu wood.
8

Gambaran klinis Pitiriasis versikolor ditegakkan berdasarkan adanya makula
hipopigmentasi, hiperpigmentasi, atau kemerahan yang berbatas tegas ditutupi
skuma halus. Pada pemeriksaan mikroskopis langsung, dengan larutan KOH 10-
20%, tampak hifa pendek bersepta, kadang-kadang bercabang, atau hifa yang
terpotong-potong dengan spora yang berkelompok, yang akan lebih mudah dilihat
dengan penambahan zat warna tinta parker blue-black atau biru laktofenol.
Gambaran ragi dan miselium tersebut sering dilukiskan sebagai meatball and
spghetti. Pada pemeriksaan lampu wood memberikan efloresensi berwarna kuning
keemasan.
6

Pengambilan skuama dapat dilakukan dengan kerokan menggunakan skalpel
tumpul atau menggunakan selotip (cellotape) yang dilekatkan pada lesi.
Pembuktian dengan biakan Malassezia. furfur tidak diagnostik karena Malassezia
furfur merupakan flora normal kulit.
6

11

II.7 Pemeriksaan Laboratorium
1. Lampu wood
8,10

Lampu wood (lampu ultra violet gelombang panjang, black light) adalah
suatu gelas lampu wood yang terdiri dari barium silikat yang mengandung 9%
nikel oksida, bersifat opak terhadap sinar UV kecuali berkas cahaya dari panjang
gelombang 320-400 nm.
Lampu wood dapat digunakan dalam keadaan seperti
1. Menemukan dan mengontrol jamur kulit kepala
2. Penemuan Infeksi jamur lain
Pitiriasis versikolor dapat berfloresensi kuning muda sampai keemasan.
Pemeriksaan lampu wood memungkinkan untuk melihat dengan lebih jelas
perubahan pigmentasi yang menyertai kelainan ini.





Gambar 2 : pemeriksaan lampu wood pada pitiriasis versikolor
9

3. Penemuan Infeksi Bakteria
Eritrasma suatu infeksi intertriginosa yang disebabkan oleh
Corynebacterium minitissimum, berfloresensi merah batayang cerah atau
orange merah jambu. Psedemonas aeroginosa, menyebabkan infeksi yang
12

berefloresensi hijau kekuningan karena piosianin. Dapat ditemukan
sebelum terjadi pernanahan yang jelas sehingga bermanfaat dalam seleksi
penderita luka bakar terhadap infeksi.
4. Penentuan kelainan-kelainan pigmen
5. Penentuan obat
6. Aneka ragam penggunaan lain
2. Pemeriksaan sediaan Langsung kerokan lesi
8,10

Identifikasi jamur melaui pemeriksaan langsung dari kerokan kulit lesi merupakan
hal penting dalam menegakkan diagnosis. Pengambilan bahan pemeriksaan yaitu
skuma dari lesi dapat dilakukan beberapa cara:
1. Jika lesi yang akan dikerok nampak kotor atau maserasi maka dibersihkan
terlebih dahulu.
2. Kerok skuama dengan menggunakan skalpel atau tepi dari gelas obyek
atau kuku jari (coup dongle) atau selotipe untuk melepaskan sisik dari
lesi. Tempelka pada kaca objek dan ditetesi larutan KOH 10-20% dan
ditutup oleh kaca penutup. Dibiarkan 10 menit agar jaringan mengalami
hidrolisis.
3. Preparat lalu diperiksa dibawa mikroskop, dimana pada pemeriksaan ini
akan tampak
Hifa atau miselium dengan bentuk pendek, lurus, atau bengkok, kadang
bercabang, bersepta memberikan gambaran cigar-butt.
13

Spora berukuran 4-8 mm, berbentuk bulat, sferis, lonjong, atau globoid
dan berkelomok. Sering ditemukan hifa bersama kelompok spora dan
membentuk gambaran spaghetti dan meatballs atau bacon dan egs.
Sel tunas (budding cells) dan germ tube.



Gambar 3: tampak gambaran spagetti and meatballs dari preparat KOH Malassezia
9,14

Spesies Malassezia mempunyai hifa bersepta yang biasanya tidak
bercabang. Kira-kira berukuran 3 m dalam diameter. Konidia terlihat
mengelilingi seltunas (budding sel) kira-kira berukuran 3m dalam diameter. Hifa
dan konidia terlihat seperti gambaran menyerupai spagetty and meatballss.
9,14

3. Pemeriksaan biakan
Malassezia furfur adalah jamur yang bersifat lipofilik yang tidak lazim
dikultur. Spesies Malassezia ini tidak dapat tumbuh kecuali asam lemak
ditambahkan kedalam medium. Temperatur yang diperlukan yaitu 35
O
C sampai
37
O
C.
14

Biakan dilakukan dengan mengkultur skuama dari kerokan kulit lesi.
Walaupun tidak penting untuk diagnosis, namun dapat memperlihatkan gambaran
tersendiri. Biakan dilakukan dengan cara khusus yaitu dengan lapisn lemak atau
olive oil atau lanolin oleh karena jamur bersifat lipofilik. Koloni yang tumbuh
14

berbentuk soliter, sedikit meninggi, bulat berwarna krem kuning, mengkilap, dan
lama kelamaan akan menjadi kering dan keabu-abuan coklat.
4

II. 8 Penatalaksanaan
Pengobatan harus dilakukan secara menyeluruh, tekun, dan konsisten.
Khusus (topikal)
5

Obat topikal berupa sampo lebih mudah digunakan untuk seluruh tubuh,
kecuali wajah dan genital, misalnya selenium sulfide 1,8%, 15-30 menit
sebelum mandi, 1x/sehari, atau sampo ketokonazole 2%. Obat topikal lain
seperti bila bentuk makular diberikan Salep whitfield atau larutan natrium
tiosulfit 20% dioleskan setiap hari. Salep whitfield adalah campuran asam
salisil 6% dan 12%. Asam salisil bersifat keratolitik dan asam benzoat
bersifat fungistatik. Efek sampingnya dapat berupa iritasi ringan lokal pada
tempat pemakaian. Bila bentuk folikular dapat dipakai tiosulfas natrikus 20-
30%. Obat-obat anti jamur golongan imidazol (ekonazol, mikonazol,
klotrimazol) dalam krim atau salep 1-2% juga berkhasiat.
8,11

Pada kasus yang memerlukan pengobatan sistemik dapat digunakan obat
antijamur sistemik seperti
5,11

Ketokonazole 200 mg/hari selama 10 hari.
5

Ketokonazole adalah termasuk dalam golongan imidazol. Ketokonazole
dikontraindikasikan pada penderita hipersensitif, ibu hamil, dan menyusui,
serta penyakit hepar akut.
11

Itrakonazole 100 mg/hari selama 2 minggu.
5

15

Itrakonazole merupakan obat antijamur keluarga azol yang baru. Obat ini
adalah suatu triazol sintetik dan juga efek samping endokrinologinya lebih
kecil dibanding ketokonazole. Obat ini mempunyai spektrum anti jamur
yang lebih luas.
12

Gejala sisa hipopigmentasi akan menghilang secara perlahan.
1

II. 9 Diagnosis Banding
1. Pitiriasis Alba
Bentuk dermatitis yang tidak spesifik dan belum diketahui penyebabnya.
Ditandai dengan skuama halus yang menghilang serta meninggalkan area yang
depigmentasi. Menurut pendapat para ahli diduga adanya infeksi streptococcus,
tetapi belum dapat dibuktikan. Pitiriasis alba juga merupakan manifestasi
dermatitis non spesifik, yang belum diketahui penyebabnya. Sabun dan sinar
matahari bukan merupakan faktor yang berpengaruh.
5,10
Pitiriasis alba sering dijumpai pada anak berumur 3-16 tahun (30-40%).
Wanita dan pria sama banyak. Lesi berbentuk bulat, oval, atau plakat tidak teratur.
Setelah eritema menghilang, lesi yang dijumpai hanya depigmentasi dengan
skuama halus. Bercak biasanya multipel 4-20 dengan diameter antara - 2 cm.
Pada anak-anak lokasi kelainan pada muka (50-60%), paling sering disekitar
mulut, dagu, pipi, serta dahi. Lesi dapat juga dijumpai pada ekstremitas dan
badan. Dapat simetri pada bokong, paha atas, punggung, dan ekstensor lengan,
tanpa keluhan.
8, 10

16





Gambar 4 Tampak makula hipopigmentasi pada daerah pipi
2. Morbus Hansen
Merupakan penyakit infeksi mikobakterium yang bersifat kronik dan
progresif, mula-mula menyerang sistem saraf tepi, dan kemudian terdapat
manifestasi klinik. Penyebab Mycobacterium Leprae, basil tahan asam, kelompok
umur terbanyak adalah 25-35 tahun, frekuensi wanita dan pria sama.
5

Lesi diawali dengan bercak putih bersisik halus pada bagian tubuh, tidak
gatal, kemudian membesar dan meluas. Jika saraf sudah terkena, penderita
mengeluh kesemutan/baal pada bagian tertentu, ataupun kesukaran menggerakkan
anggota badan yang berlanjut dengan kekakuan sendi. Rambut alispun dapat
rontok.
5

Lokalisasi bisa seluruh bagian tubuh. Efloresensi pada Tipe I : makula
hipopigmentasi berbatas tegas, anestesi, pemeriksaan bakteriologi (-); tes
lepromin (+). Pada Lepra tipe t uberculoid (TT) tampak makula eritematosa bulat
atau lonjong, permukaan kering, batas tegas anastesi, bagian tengah sembuh,
bakteriologi (-); tes lepromin positif kuat. Ada beberapa hal penting dalam
menentukan diagnosa banding lepra yaitu:
13

17

Kelainan kulit/lesi dapat berbentuk bercak keputihan (hipopigmentasi)
atau kemerahan (erithematous ) yang mati (anestesi).
Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf. Gangguan
fungsi saraf ini merupakan akibat dari peradangan kronis saraf tepi
(neuritis perifer) bisa berupa mati rasa (gangguan fungsi sensoris),
kelemahan otot atau kelumpuhan (gangguan fungsi motoris), Kulit
kering dan retak (gangguan fungsi otonom)
Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit (BTA
positif)



Gambar 5. Kusta tipe indeterminan




Gambar 6. Kusta tipe Tipe TT plakat berbatas tegas di tengahnya hipopigmentasi



18

3. Vitiligo
Vitiligo adalah kondisi idiopatik yang terlokalisasi pada area tanpa adanya
melanosit akibat makula depigmentasi. Dapat mengenai seluruh bagian tubuh
yang mengandung sel melanosit, misalnya rambut dan mata.
10

Dapat mengenai semua ras dan kelamin. Awitan terbanyak sebelum umur 20
tahun. Ada pengaruh faktor genetik. Pada penderita vitiligo, 5% akan mempunyai
anak dengan vitiligo. Penyebab belum diketahui, berbagai faktor pencetus sering
dilaporkan, misalnya krisis emosi dan trauma fisis.
5
Ada 4 tipe gambaran berdasarkan luas dan distribusinya. Focal, generalisata,
universal, dan acrofasial. Pada umumnya pola generalisata. Sering pada daerah
muka, bagian atas dada, tangan bagian dorsal, aksila, dan paha.
15

Gejala klinis berupa makula berwarna putih dengan diameter beberapa
milimeter sampai beberapa sentimeter, bulat atau lonjong dengan batas tegas,
tanpa perubahan epidermis yang lain. Kadang-kadang terlihat makula
hipopigmentasi selain makula apigmentasi. Di dalam makula vitiligo dapat
ditemukan makula dengan pigmentasi normal atau hiperpigmentasi perifolikular.
Kadang ditemukan tepi lesi yang meninggi eritem dan gatal, disebut inflamatoar.
Predileksi bagian ekstensor tulang terutama di atas ibu jari, mulut dan hidung,
tibialis anterior dan pergelangan tangan bagian fleksor. Lesi bilateral dapat simetri
ataupun asimetri. Mukosa jarang terkena, kadang-kadang mengenai genital
eksterna, puting susu, bibir, ginggiva.
8

19




Gambar 7 tampak makula hipopigmentasi pada daerah lutut dan tangan
4. Pitiriasis Rosea
Erupsi papuloskuamosa akut yang sering dijumpai. Morfologi khas berupa
makula eritematosa lonjong dengan diameter terpanjang sesuai dengan lipatan
kulit serta ditutupi oleh skuama halus.

Penyebabnya belum diketahui secara pasti.
Berbagai penelitian dilakukan mengemukakan hipotesis bahwa penyebabnya
virus, dan untuk mencari kemungkinan virus, dan untuk kemungkinan reaktivasi
virus herpes (HHV 6 dan HHV 7). Insiden tertinggi pada umur 15 dan 40 tahun.
Prevalensi terbanyak pada musim semi dan musim gugur.
10,15

Timbul bercak seluruh tubuh tertutama daerah yang tertutup pakaian
berbentuk bulat panjang mengikuti lipatan kulit. Diawali suatu bercak yang besar
disekitarnya terdapat bercak agak kecil. Ukuran bercak dari seujung jarum pentul
sampai sebesar uang logam. Dapat didahului oleh gejala prodromal ringan seperti
badan lemah, sakit kepala, dan sakit tenggorokan.
5

Efloresensi berupa makula eritroskuamosa anular dan soliter, berbentuk
lonjong denga tepi hampit tidak nyata meninggi dan bagian sentral bersisik, agak
berkeringat. Sumbu panjang lesi sesuai dengan garis lipatan kulit dan kadang-
kadang menyerupai gambaran pohon cemara terbalik. Lesi inisial (herald patch :
medallion) biasanya solitar, bentuk oval, anular, berdiameter 2-6 cm. Jarang
20

terdapat lebih dari 1 herald patc. Dapat tersebar diseluruh tubuh, terutama pada
tempat yang tertutup pakaian.
5,15




Gambar 8 tampak lesi numular dan makula eritematosa. Lesi awal yang agak meninggi (herald patch)
II.10 Prognosis
Prognosis baik apabila pengobatan dilakukan menyeluruh, tekun, dan
konsisten. Jamur penyebab pitiriasis versikolor merupakan bagian dari flora
normal dan kadang tertinggal dalam folikel rambut. Hal ini yang mengakibatkan
tingginya angka kekambuhan. Perjalanan penyakit umumnya berlangsung kronik
dan hilang timbul bertahun-tahun serta bila tidak diobati lesi akan menetap dan
meluas. Respon terhadap pengobatan umumnya baik, tetapi pengobatan yang
sifatnya permanen sukar dicapai. Penyakit ini mempunyai angka kekambuhan
yang tinggi yaitu sekitar 60% penderita akan mengalami kekambuhan pada tahun
pertama dan sekitar 80% pada tahun kedua.
8






21

BAB III
KESIMPULAN


Pitiriasis Versikolor adalah infeksi jamur superfisial pada lapisan korneum
kulit yang bersifat ringan, menahun dan biasanya tidak terdapat keluhan subyektif.
Pitiriasis Versikolor ditandai dengan adanya makula di kulit, skuama halus,
disertai gatal. Pitiriasis Versikolor adalah penyakit universal tapi lebih banyak
dijumpai di daerah tropis oleh karena tingginya temperatur dan kelembaban.
Menyerang hampir semua usia terutama remaja, terbanyak pada usia 16-40 tahun.
Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita. Diagnosis dapat ditegakkan
berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan mikroskopis langsung, dan
pemeriksaan dengan lampu wood. Penatalaksanaan meliputi terapi topikal dan
sistemik. Perjalanan penyakit umumnya berlangsung kronik dan hilang timbul
bertahun-tahun serta bila tidak diobati lesi akan menetap dan meluas. Respon
terhadap pengobatan umumnya bai, tetapi pengobatan yang sifatnya permanen
sukar dicapai. Penyakit ini mempunyai angka kekambuhan yang tinggi yaitu
sekitar 60% penderita akan mengalami kekambuhan pada tahun pertama dan
sekitar 80% pada tahun kedua.



22

DAFTAR PUSTAKA


1. Emmy S Sjamsoe Dail. Penyakit Kulit Yang Umum di Indonesia: Sebuah
Panduan Bergambar. Medikal Multimedia Indonesia. Hal 33

2. Robin graham-Brown,Tony Burns. Lecture Notes: Dermatologi edisi 8.
Erlangga.2005. Hal 33-35

3. Tony Burns, Stephen Breathnach, Neil Cox eds. Rooks Texbook of
Dermatology eight edition. Wiley-Blackwell. 2010. Hal 36.10-13

4. Amiruddin Dali, Ilmu Penyakit Kulit, Makassar: Bagian Ilmu Penyakit Kulit
dan Kelamin Fakultas Kedokteran Hasanuddin, 2003: Hal 65-74.

5. Siregar R.S, Editor. Penyakit Jamur dalam Atlas Berwarna Saripati Penyakit
Kulit 2
th
Ed. EGC : Jakarta : 2004. Hal 10-12,154-158

6. Donna partogi, Pitiriasis versikolor dan diagnosis bandingnya. Dept Ilmu
Kesehatan Kulit dan Kelamin FK USU. 2008, Hal 2-5.

7. Fitzpatrick TB et al, Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology, 4
th
edition. McGraw-Hill 2001: Hal 722-725.

8. Sjahrial. Infeksi Jamur Kulit In : Ilmu Penyakit Kulit. Harahap M, Editor.
Jakarta: Hipokrates; 2000. Hal 73-74.

9. Fitzpatrick TB, Freedberg, Eisen, Wolf K, eds Dermatology in General
Medicine, edisi 8, New York: McGraw-Hill 2012 : 3281-3280.

10. Djuanda, Prof.DR.Adhi, dkk, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 5.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2009: Hal 100-101,333-
334.

11. Staf pengajar departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Sriwijaya.
Kumpulan Kuliah Farmakologi edisi 2. EGC, 2010 Hal 222-23.

23


12. Mary J. Mycek, Richard A. Harvey. Farmakologi Ulasan Bergambar edisi 2.
Widya Medika. 2010. Hal 344-346

13. Bagian ilmu kesehatan kulit dan kelamin. Program Pengendalian Penyakit
Kusta Untuk Kepaniteraan Klinik. 2013 Hal: 9-12

14. Fisher F. Superficial Patogen, Blastomucycete, Malassezia furfur in
Fundamental of Diagnostic Mycology. Saunders An Imprint of Elsevier
Science. 1998. Hal 108-10.

15. Odom RB, James W.D Berger. Vitiligo in Disease Of the Skin. A Harcourt
Health Science Company. 2000. Hal 1065-1066.