Anda di halaman 1dari 34

1

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Prostat
I.1.1. Anatomi Prostat
Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior buli-buli, di
depan rektum dan membungkus uretra posterior. Bentuknya seperti buah kemiri
dengan ukuran 4x3x2,5 cm dan beratnya kurang lebih 20 gram. Prostat adalah
kelenjar yang terdiri atas jaringan fibromuskular dan glandular yang terbagi dalam
beberapa daerah atau zona, yaitu zona perifer, zona sentral, zona transisional, zona
preprostatik sfingter, dan zona anterior (Basuki, 2011)
Prostat memiliki lapisan pembungkus yang disebut dengan kapsul, kapsul ini
terdiri dari 2 lapisan, yaitu true capsule dan false capsule. True capsule adalah
lapisan fibrosa tipis pada bagian luar prostat, sedangkan
Inervasi otonomik simpatik dan parasimpatik prostat berasal dari pleksus
prostatikus atau pleksus yang menerima masukan serabut parasimpatik dari korda
spinalis S2-S4, dan simpatik dari nervus hipogastrikus (T10 L2) dan mempersarafi
bagian dari prostat yang banyak terdapat reseptor adrenergic alfa, yaitu otot polos,
kapsula prostat, dan leher buli-buli (Basuki, 2011)

2


I.1.2. Histologi Prostat
Secara histopatologis kelenjar prostat terdiri atas komponen stroma dan
kelenjar. Komponen stroma ini terdiri atas otot polos, fibroblast, pembuluh darah,
saraf, dan jaringan ikat lainnya)/ Selain itu prostat memiliki 3 zona berbeda, yaitu
zona sentral, zona transisi, dan zona perifer. 25% bagian dari prostat adalah zona
sentral, 70% nya zona perifer yang secara klinis merupakan tempat terbanyak dari
karsinoma prostat, sisanya adalah zona transisi yang secara klinis merupakan tempat
terbanyak terjadinya benigna prostat hyperplasia. (Basuki, 2011

Prostat tersusun atas kelenjar-kelenjar tubuloalveolar yang tersusun atas epitel
selapis kubus atau epitel silindris berlapis semu dan dibungkus oleh lapisan
fibromuskular. Sekat yang terdapat pada kapsul prostat berpenetrasi ke dalam
kelenjar dan membagi prostat menjadi 2 lobus. Kelenjar prostat mengahasilkan
cairan prostat yang dikeluarkan selama ejakulasi, struktur dan fungsi prostat sendiri
tergantung pada kadar testosterone tubuh.
3


I.1.3. Fisiologi Prostat
Prostat menghasilkan cairan yang merupakan salah satu komponen cairan
ejakulat. Cairan ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan bermuara di uretra
posterior untuk kemudian dikeluarkan bersama cairan semen yang lain pada saat
ejakulasi. Volume cairan prostat lebih kurang 25% dari seluruh volume ejakulat.
Rangsangan parasimpatik meningkatkan sekresi kelenjar pada epitel prostat,
sedangkan rangsangan simpatik menyebabkan pengeluaran cairan prostat ke dalam
uretra posterior, seperti pada saat ejakulasi. Selain itu rangsangan simpatik
menyebabkan dipertahankan tonus otot polos tersebut (Basuki, 2011)
Prostat menghasilkan cairan basa yang dapat menetralisasi keasaman pH
sekret vagina, karena sperma tidak tahan akan lingkungan asam, memproduksi
enzim, serta menghasilkan prostat spesifik antigen (PSA). PSA hanya dihasilkan
oleh kelenjar prostat, karena itu pengukuran kadar PSA dalam darah dapat dijadikan
skrining tes untuk mendeteksi adanya kanker prostat. Peningkatan kadar PSA dalam
darah dapat mengindikasikan adanya kanker prostat, benigna prostat hyperplasia,
serta infeksi prostat (Sherwood, 2010)



I.2. Benigna Prostat Hiperplasia
I.2.1. Definisi
Pengertian BPH adalah : pembesaran progresif dan kelenjar prostat (secra umum pada
pria lebih dari 50 th ) menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretal dan pembatasan
aliran urinarius. (Kapoor, 2012)
4


I.2.2. Etiologi
Penyebab pasti pembesaran prostat belum diketahui dengan jelas, namun
terdapat beberapa teori yang dikemukakan, diantaranya :
a. Teori DHT (dihidrotestosteron) : testosterone dengan bantuan enzim 5 alfa
reduktase dikonversi menjadi DHT yang merangsang pertumbuhan kelenjar
prostat.
b. Teori Reawakening : teori ini berdasarkan kemampuan stroma untuk
merangsang pertumbuhan epitel. Menurut Mc Neal, seperti pada embrio, lesi
primer BPH adalah penonjolan kelenjar yang kemudian bercabang
menghasilkan kelenjar-kelenjar baru disekitar prostat, ia menyimpulkan bahwa
hal tersebut merupakan reawakening dari induksi stroma yang terjadi saat
dewasa.
c. Teori stem cell hypotesis. Isaac dan Coffey mengajukan teori ini berdasarkan
asumsi bahwa pada kelenjar prostat, selain ada hubungannya dengan stroma
dan epitel, juga ada hubungan antara jenis-jenis sel epitel yang ada di dalam
jaringan prostat. Stem sel akan berkembang menjadi sel aplifying, yang
keduanya tidak tergantung pada androgen. Sel amplifying akan berkembang
menjadi sel transit yang tergantung secara mutlak pada androgen, sehingga
dengan adanya androgen sel ini akan berproliferasi dan menghasilkan
pertumbuhan prostat yang normal
d. Teori growth factors. Teori ini berdasarkan adanya hubungan interaksi antara
unsur stroma dan unsur epitel prostat yang berakibat BPH. Faktor pertumbuhan
ini dibuat oleh sel-sel stroma di bawah pengaruh androgen. Adanya ekspresi
berlebihan dari epidermis growth factor (EGF) dan atau fibroblast growth
factor (FGF) dan atau adanya penurunan ekspresi transforming growth factor-
5

(TGF - ), akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan pertumbuhan
prostat dan menghasilkan pembesaran prostat.
Namun demikian diyakini ada 2 faktor penting terjadinya BPH, yaitu DHT dan
penuaan. Pada proses penuaan, kadar testosterone serum menurun disertai
meningkatnya konversi testosterone menjadi estrogen pada jaringan adiposa.
Estrogen berperan dalam proses pembesaran stroma yang selanjutnya merangsang
pembesaran epitel. (Rizki, 2008)

I.2.3. Epidemiologi
Penyakit ini hanya terjadi pada laki-laki dengan gejala-gejala awal muncul
pada usia 30an. Pada usia 50an, sekitar 50% laki-laki mengalami penyakit ini dan
gejalanya akan terus tampak seiring bertambahnya usia (Kapoor, 2012). Berdasarkan
angka autopsy, perubahan mikroskopik pada prostat sudah dapat ditemukan pada
usia 30 40 tahun (De Jong, 2003)
I.2.4. Faktor Resiko
Faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya BPH antara lain :
a. Kadar Hormon
Kadar hormon testosteron yang tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko
BPH. Testosteron akan diubah menjadi androgen yang lebih poten yaitu
dihydrotestosteron (DHT) oleh enzim 5-reductase, yang memegang peran
penting dalam proses pertumbuhan sel-sel prostat (Guess, 1995).
b. Usia
6

Sesuai dengan pertambahan usia, kadar testosteron mulai menurun secara perlahan
pada usia 30 tahun dan turun lebih cepat pada usia 60 tahun keatas. Selain itu pada
usia tua terjadi kelemahan umum termasuk kelemahan pada buli (otot detrusor)
dan penurunan fungsi persarafan. Perubahan karena pengaruh usia tua
menurunkan kemampuan buli-buli dalam mempertahankan aliran urin pada proses
adaptasi oleh adanya obstruksi karena pembesaran prostat, sehingga menimbulkan
gejala (Rizki, 2008).
c. Ras
Orang dari ras kulit hitam memiliki risiko 2 kali lebih besar untuk terjadi BPH
dibanding ras lain. Orang-orang Asia memiliki insidensi BPH paling rendah
(Roehborn, et al, 2002).
d. Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga pada penderita BPH dapat meningkatkan risiko terjadinya
kondisi yang sama pada anggota keluarga yang lain. Semakin
banyak anggota keluarga yang mengidap penyakit ini, semakin besar risiko
anggota keluarga yang lain untuk dapat terkena BPH (Roehborn, et al, 2002).
e. Obesitas
Obesitas akan membuat gangguan pada prostat dan kemampuan seksual, terutama
pada pria, penimbunan lemak lebih banyak terjadi di bagian abdomen. Beban di
perut itulah yang menekan otot organ seksual, sehingga lama-lama organ seksual
kehilangan kelenturannya, selain itu deposit lemak berlebihan juga akan
mengganggu kinerja testis. Pada obesitas terjadi peningkatan kadar estrogen yang
berpengaruh terhadap pembentukan BPH melalui peningkatan sensitisasi prostat
terhadap androgen dan menghambat proses kematian sel-sel kelenjar prostat
(Walsh, et al, 1992).
f. Pola Diet
Kekurangan mineral penting seperti seng, tembaga, selenium berpengaruh pada
fungsi reproduksi pria. Terutama seng, karena defisiensi seng berat dapat
menyebabkan pengecilan testis yang selanjutnya berakibat penurunan kadar
testosteron. Selain itu, makanan tinggi lemak dan rendah serat juga membuat
penurunan kadar testosteron. Risiko lebih besar terjadinya BPH adalah
mengkonsumsi margarin dan mentega, yang termasuk makanan yang mengandung
lemak jenuh. Konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh yang tinggi
7

(terutama lemak hewani), lemak berlebihan dapat merusak keseimbangan hormon
yang berujung pada berbagai penyakit (Walsh, et al, 1992).
g. Aktivitas Seksual
Kalenjar prostat adalah organ yang bertanggung jawab untuk pembentukan
hormon laki-laki. BPH dihubungkan dengan kegiatan seks berlebihan dan alasan
kebersihan. Saat kegiatan seksual, kelenjar prostat mengalami peningkatan
tekanan darah sebelum terjadi ejakulasi. Jika suplai darah ke prostat selalu tinggi,
akan terjadi hambatan prostat yang mengakibatkan kalenjar tersebut bengkak
permanen. Seks yang tidak bersih akan mengakibatkan infeksi prostat yang
mengakibatkan BPH. Aktivitas seksual yang tinggi juga berhubungan dengan
meningkatnya kadar hormon testosterone (Rahardjo, 1999).
h. Kebiasaan Merokok
Nikotin dan konitin (produk pemecahan nikotin) pada rokok meningkatkan
aktifitas enzim perusak androgen, sehingga menyebabkan penurunan kadar
testosteron (Walsh, et al, 1992).
i. Kebiasaan Minum Alkohol
Konsumsi alkohol akan menghilangkan kandungan zink dan vitamin B6 yang
penting untuk prostat yang sehat. Zink sangat penting untuk kelenjar prostat.
Prostat menggunakan zink 10 kali lipat dibandingkan dengan organ yang lain.
Zink membantu mengurangi kandungan prolaktin di dalam darah. Prolaktin
meningkatkan penukaran hormon testosteron kepada DHT (NKUDIC, 2006).
j. Olahraga
Para pria yang tetap aktif berolahraga secara teratur, berpeluang lebih sedikit
mengalami gangguan prostat, termasuk BPH. Dengan aktif olahraga, kadar
dihidrotestosteron dapat diturunkan sehingga dapat memperkecil risiko gangguan
prostat. Selain itu, olahraga akan mengontrol berat badan agar otot lunak yang
melingkari prostat tetap stabil. Olahraga yang dianjurkan adalah jenis yang
berdampak ringan dan dapat memperkuat otot sekitar pinggul dan organ seksual.
Olahraga akan mengurangi kadar lemak dalam darah sehingga kadar kolesterol
menurun (Yatim, 2004).
k. Penyakit Diabetes Melitus
Laki-laki yang mempunyai kadar glukosa dalam darah > 110 mg/dL mempunyai
risiko tiga kali terjadinya BPH, sedangkan untuk laki-laki dengan penyakit
Diabetes Mellitus mempunyai risiko dua kali terjadinya BPH dibandingkan
8

dengan laki-laki dengan kondisi normal. Penelitian terdahulu didapatkan Odds
Ratio (OR) pada penderita Diabetes Mellitus adalah 2,25 (95%, CI : 1,23-4,11) (
























I.2.5. Patofisiologi











Iritasi Obstruksi
Timbul gejala
Pembesaran prostat
Peningkatan proliferasi sel prostat
Peningkatan sensitisasi
reseptor androgen
Hambatan apoptosis
Testosterone di jaringan perifer dikonversi
menjadi estrogen
Testosterone
Dihidrotestosteron (DHT),
dibantu oleh 5 alfa reduktase
Penuaan
9


































Urgensi
Pielonefritis
Refluks
Sistitis
Keluhan iritasi >,
hematuria
Dapat
membentuk
batu di VU
Refluks vesiko ureter
Retensi kronik
Inkontinensia paradoks
Tek.vesika > tek.sfingter dan obstruksi
Sedangkan urin terus diproduksi dan tekanan vesika meningkat
Tidak bisa miksi
Lama kelamaan terjadi obstruksi total
Anyang-anyangan Residual urin
Retensi urin
Dekompensasi vesika
10


















I.2.6. Gejala Klinis
a. Gejala obstruksi :
Hesitancy saat mulai berkemih harus menunggu lama
Loss of force pancaran kencing lemah
Intermittency pancaran kencing terputus-putus
Residual urine tidak lampias saat selesai berkemih
Double voiding rasa ingin kencing lagi sesudah kencing
Terminal dribbling keluarnya sisa kencing pada akhir berkemih
Straining mengedan saat berkemih
b. Gejala iritasi
Polakisuria frekuensi kencing yang tidak normal
Nocturia terbangun di tengah malam karena sering kencing
Urgency sulit menahan kencing
Disuria rasa sakit saat kencing
Hematuria kencing berdarah (kadang-kadang)
I.2.7. Diagnosa
Diagnosa ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Pada anamnesa dapat ditentukan score IPSS (International
Prostate Symptom Score).
Gagal ginjal
11


Jika didapatkan score antara 0 7 gejala ringan dengan terapi watchful
waiting, 8 19 sedang dengan terpai medikamentosa, dan 20 35 berat dengan
terapi pembedahan. Selanjutnya pemeriksaan fisik yang dapat langsung melihat
tanda dari terjadinya BPH adalah rectal toucher (RT). Pada RT yang dinilai adalah
konsistensi prostat, pada BPH konsistensinya kenyal. Apakah terdapat asimetri atau
tidak, nodul pada prostat, batas atas teraba atau tidak.

12

Untuk menentukan derajat besar obstruksi dapat dilakukan dengan
menentukan jumlah sisa urin setelah miksi spontan lalu diukur dengan kateter/ USG
setelah miksi (uroflowmetri), jika terdapat sisa >100 cc, maka itu adalah batas
indikasi melakukan intervensi pada BPH. Pada pencitraan, pembesaran prostat akan
terlihat sebagai lesi defek isian kontras pada dasar kandung kemih/ dasar VU pada
sistogram tampak terangkat atau ujung distal ureter membelok keatas berbentuk
seperti mata kail (De Jong, 2003)
Adapun derajat BPH berdasarkan Wim De Jong (2003) adalah :
Derajat Rectal Toucher Sisa Volume Urin
I Penonjolan prostat, batas
atas mudah diraba
< 50 ml
II Penonjolan prostat jelas,
batas atas dapat dicapai
50 100 ml
III Batas atas prostat tidak
teraba
>100ml
IV - Retensi urin total

I.2.8. Diagnosa Banding
a. Kelemahan detrusor vesica urinaria (gangguan neurologis)
a. Kelainan medulla spinalis
b. Neuropati DM
c. Pasca bedah radikal di pelvis
d. Farmakologis (obat penenang, penghambat parasimpatolitik)
b. Kekakuan leher vesica urinaria fibrosis
c. Resistensi uretra
a. Hipertrofi prostat ganas/jinak
b. Kelainan yang menyumbat uretra
c. Uretralitiasis
d. Uretritis akut/kronik
I.2.9. Penatalaksanaan
13


Watchful waiting
Watchful waiting artinya pasien tidak mendapatkan terapi apapun tetapi perkem-
bangan penyakitnya keadaannya tetap diawasi oleh dokter. Pilihan tanpa terapi ini
ditujukan untuk pasien BPH dengan skor IPSS dibawah 7, yaitu keluhan ringan yang
tidak menggangu aktivitas sehari-hari. Beberapa guidelines masih menawarkan
watchful waiting pada pasien BPH bergejala dengan skor sedang (IPSS 8-19). Pasien
dengan keluhan sedang hingga berat (skor IPSS > 7), pancaran urine melemah (Qmax <
12 mL/detik), dan terdapat pembesaran prostat > 30 gram tentunya tidak banyak
memberikan respon terhadap watchful waiting. Pada watchful waiting ini, pasien tidak
mendapatkan terapi apapun dan hanya diberi penjelasan mengenai sesuatu hal yang
mungkin dapat memperburuk keluhannya, misalnya (1) jangan banyak minum dan
mengkonsumsi kopi atau alkohol setelah makan malam, (2) kurangi konsumsi makanan
atau minuman yang menyebabkan iritasi pada buli-buli (kopi atau cokelat), (3) batasi
penggunaan obat-obat influenza yang mengandung fenilpropanolamin, (4) kurangi
makanan pedas dan asin, dan (5) jangan menahan kencing terlalu lama.
Setiap 6 bulan, pasien diminta untuk datang kontrol dengan ditanya dan diperiksa
tentang perubahan keluhan yang dirasakan, IPSS, pemeriksaan laju pancaran urine,
maupun volume residual urine. Jika keluhan miksi bertambah jelek daripada
sebelumnya, mungkin perlu difikirkan untuk memilih terapi yang lain

Medikamentosa
Pasien BPH bergejala biasanya memer-lukan pengobatan bila telah mencapai
tahap tertentu. Pada saat BPH mulai menyebabkan perasaan yang mengganggu dan
membahayakan, direkomendasikan untuk medikamentosa. Dalam menentukan
pengobatan perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu dasar pertimbangan terapi
medikamentosa, jenis obat yang digunakan, pemilihan obat, dan evaluasi selama
pemberian obat. Perlu dijelaskan pada pasien bahwa harga obat-obatan yang akan
14

dikonsumsi tidak murah dan akan dikonsumsi dalam jangka waktu lama. Dengan
memakai piranti skoring IPSS dapat ditentukan kapan seorang pasien memer-lukan
terapi. Sebagai patokan jika skoring >7 berarti pasien perlu mendapatkan terapi medi-
kamentosa atau terapi lain. Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk:
mengurangi resistensi otot polos prostat sebagai komponen dinamik atau mengurangi
volume prostat sebagai komponen statik.
1. Antagonis adrenergik reseptor yang dapat berupa:
a. preparat non selektif: fenoksibenzamin
b. preparat selektif masa kerja pendek: prazosin, afluzosin, indoramin
c. preparat selektif masa kerja lama: doksazosin, terazosin, tamsulosin
2. Inhibitor 5 redukstase, yaitu finasteride dan dutasteride
3. Fitofarmaka
Antagonis reseptor adrenergik-
Pengobatan dengan antagonis adrenergik bertujuan menghambat kontraksi otot
polos prostat sehingga mengurangi resistensi tonus leher buli-buli dan uretra.
Fenoksibenzamine adalah obat antagonis adrenergik- non selektif yang pertama kali
diketahui mampu memperbaiki laju pancaran miksi dan mengurangi keluhan miksi.
Namun obat ini tidak disenangi oleh pasien karena menyebabkan komplikasi sistemik
yang tidak diharapkan, di antaranya adalah hipotensi postural dan menyebabkan
penyulit lain pada sistem kardiovaskuler. Diketemukannya obat antagonis adrenergic
1 dapat mengurangi penyulit sistemik yang diakibatkan oleh efek hambatan pada-2
dari fenoksibenzamin. Beberapa golongan obat antagonis adrenergik 1 yang selektif
mempunyai durasi obat yang pendek (short acting) di antaranya adalah prazosin yang
diberikan dua kali sehari, dan long acting yaitu, terazosin, doksazosin, dan tamsulosin
yang cukup diberikan sekali sehari.
Dibandingkan dengan plasebo, antagonis adrenergik- terbukti dapat
memperbaiki gejala BPH, menurunkan keluhan BPH yang mengganggu, meningkatkan
kualitas hidup (QoL), dan meningkatkan pancaran urine. Rata-rata obat golongan ini
mampu memperbaiki skor gejala miksi hingga 30-45% atau 4-6 poin skor IPSS dan
Qmax hingga 15-30% dibandingkan dengan sebelum terapi. Perbaikan gejala meliputi
keluhan iritatif maupun keluhan obstruktif sudah dirasakan sejak 48 jam setelah
pemberian obat. Golongan obat ini dapat diberikan dalam jangka waktu lama dan
belum ada bukti-bukti terjadinya intoleransi dan takhipilaksis sampai pemberian 6 - 12
bulan. Dibandingkan dengan inhibitor 5 reduktase, golongan antagonis adrenergik-
15

lebih efektif dalam memperbaiki gejala miksi yang ditunjukkan dalam peningkatan skor
IPSS, dan laju pancaran urine. Dibuktikan pula bahwa pemberian kombinasi antagonis
adrenergik- dengan finasteride tidak berbeda jika dibandingkan dengan pemberian
antagonis adrenergik- saja. Sebelum pemberian antagonis adrenergik- tidak perlu
memperhatikan ukuran prostat serta memperhatikan kadar PSA; lain halnya dengan
sebelum pemberian inhibitor 5- reduktase.
Berbagai jenis antagonis adrenergik menunjukkan efek yang hampir sama
dalam memperbaiki gejala BPH. Meskipun mempunyai efektifitas yang hampir sama,
namun masing-masing mempunyai tolerabilitas dan efek terhadap sistem
kardiovaskuler yang berbeda. Efek terhadap sistem kardiovaskuler terlihat sebagai
hipotensi postural, dizzines, dan asthenia yang seringkali menyebabkan pasien
menghentikan pengobatan. Doksazosin dan terazosin yang pada mulanya adalah suatu
obat antihipertensi terbukti dapat memperbaiki gejala BPH dan menurunkan tekanan
darah pasien BPH dengan hipertensi. Sebanyak 5-20% pasien mengeluh dizziness
setelah pemberian doksazosin maupun terazosin, < 5% setelah pemberian tamsulosin,
dan 3-10% setelah pemberian plasebo. Hipotensi postural terjadi pada 2-8% setelah
pemberian doksazosin atau terazosin dan kurang lebih 1% setelah pemberian
tamsulosin atau plasebo. Dapat dipahami bahwa penyulit terhadap system kardiovasuler
tidak tampak nyata pada tamsulosin karena obat ini merupakan antagonis adrenergic
yang superselektif, yaitu hanya bekerja pada reseptor adrenergik-1A. Penyulit lain
yang dapat timbul adalah ejakulasi retrograd yang dilaporkan banyak terjadi setelah
pemakaian tamsulosin, yaitu 4,5-10% dibandingkan dengan plasebo 0- 1%.
Lepor menyebutkan bahwa efektifitas obat golongan antagonis adrenergik-
tergantung pada dosis yang diberikan, yaitu makin tinggi dosis, efek yang diinginkan
makin nyata, namun disamping itu komplikasi yang timbul pada system kardiovaskuler
semakin besar. Untuk itu sebelum dilakukan terapi jangka panjang, dosis obat yang
akan diberikan harus disesuaikan dahulu dengan cara meningkat-kannya secara
perlahan-lahan (titrasi) sehingga diperoleh dosis yang aman dan efektif. Dikatakan
bahwa salah satu kelebihan dari golongan antagonis adrenergik-1 A(tamsulosin)
adalah tidak perlu melakukan titrasi seperti golongan obat yang lain. Tamsulosin masih
tetap aman dan efektif walaupun diberikan hingga 6 tahun.



16

Inhibitor 5 -redukstase
Finasteride adalah obat inhibitor 5- reduktase pertama yang dipakai untuk
mengobati BPH. Obat ini bekerja dengan cara menghambat pembentukan
dihidrotestosteron (DHT) dari testosteron, yang dikatalisis oleh enzim 5 - redukstase
di dalam sel-sel prostat. Beberapa uji klinik menunjukkan bahwa obat ini mampu
menurunkan ukuran prostat hingga 20-30%, meningkatkan skor gejala sampai 15% atau
skor AUA hingga 3 poin, dan meningkatkan pancaran urine. Efek maksimum
finasteride dapat terlihat setelah 6 bulan. Pada penelitian yang dilakukan oleh
McConnell et al (1998) tentang efek finasteride terhadap pasien BPH bergejala,
didapatkan bahwa pemberian finasteride 5 mg per hari selama 4 tahun ternyata mampu
menurunkan volume prostat, meningkatkan pancaran urine, menurunkan kejadian
retensi urine akut, dan menekan kemungkinan tindakan pembedahan hingga 50%.
Finasteride digunakan bila volume prostat >40 cm3. Efek samping yang terjadi
pada pemberian finasteride ini minimal, di antaranya dapat terjadi impotensia,
penurunan libido, ginekomastia, atau timbul bercak-bercak kemerahan di kulit.
Finasteride dapat menurunkan kadar PSA sampai 50% dari harga yang semestinya
sehingga perlu diperhitungkan pada deteksi dini kanker prostat.

Fitofarmaka
Beberapa ekstrak tumbuh-tumbuhan tertentu dapat dipakai untuk memperbaiki
gejala akibat obstruksi prostat, tetapi data-data farmakologik tentang kandungan zat
aktif yang mendukung mekanisme kerja obat fitoterapi sampai saat ini belum diketahui
dengan pasti. Kemungkinan fitoterapi bekerja sebagai: anti-estrogen, antiandrogen,
menurunkan kadar sex hormone binding globulin (SHBG), inhibisi basic fibroblast
growth factor (bFGF) dan epidermal growth factor (EGF), mengacaukan metabolism
prostaglandin, efek anti-inflam-masi, menurunkan outflow resistance, dan memperkecil
volume prostat. Di antara fito-terapi yang banyak dipasarkan adalah: Pygeum
africanum, Serenoa repens, Hypoxis rooperi, Radix urtica dan masih banyak lainnya.

Terapi intervensi
Terapi intervensi dibagi dalam 2 golongan, yakni teknik ablasi jaringan prostat
atau pembedahan dan teknik instrumentasi alternatif. Termasuk ablasi jaringan prostat
adalah: pembedahan terbuka, TURP, TUIP, TUVP, laser prostatektomi. Sedangkan
17

teknik instrumentasi alternatif adalah interstitial laser coagulation, TUNA, TUMT,
dilatasi balon, dan stent uretra.

Pembedahan
Mungkin sampai saat ini solusi terbaik pada BPH yang telah mengganggu adalah
pembedahan, yakni mengangkat bagian kelenjar prostat yang menyebabkan obstruksi.
Cara ini memberikan perbaikan skor IPSS dan secara obyektif meningkatkan laju
pancaran urine. Hanya saja pembedahan ini dapat menimbulkan berbagai macam
penyulit pada saat operasi maupun pasca bedah. Indikasi pembedahan yaitu pada BPH
yang sudah menimbulkan komplikasi, diantaranya adalah: (1) retensi urine karena
BPO, (2) infeksi saluran kemih berulang karena BPO, (3) hematuria makroskopik
karena BPE, (4) batu buli-buli karena BPO, (5) gagal ginjal yang disebabkan oleh BPO,
dan (6) divertikulum bulibuli yang cukup besar karena BPO. Guidelines di beberapa
negara juga menyebutkan bahwa terapi pembedahan diindikasikan pada BPH yang
telah menimbulkan keluhan sedang hingga berat, tidak menunjukkan perbaikan setelah
pemberian terapi non bedah, dan pasien yang menolak pemberian terapi
medikamentosa. Terdapat tiga macam teknik pembedahan yang direkomendasikan di
berbagai negara, yaitu prostatektomi terbuka, insisi prostat transuretra (TUIP), dan
reseksi prostat transuretra (TURP).
Prostatektomi terbuka merupakan cara yang paling tua, paling invasif, dan paling
efisien di antara tindakan pada BPH yang lain dan memberikan perbaikan gejala BPH
98%. Pembedahan terbuka ini dikerjakan melalui pendekatan transvesikal yang mula-
mula diperkenalkan oleh Hryntschack dan pendekatan retropubik yang dipopulerkan
oleh Millin. Pendekatan transvesika hingga saat ini sering dipakai pada BPH yang
cukup besar disertai dengan batu buli-buli multipel, divertikula yang besar, dan hernia
inguinalis. Pembedahan terbuka dianjurkan pada prostat volumenya diperkirakan lebih
dari 80-100 cm3. Dilaporkan bahwa prostatektomi terbuka menimbulkan komplikasi
striktura uretra dan inkontinensiaurine yang lebih sering dibandingkan dengan TURP
ataupun TUIP. Prosedur TURP merupakan 90% dari semua tindakan pembedahan
prostat pada pasien BPH. Menurut Wasson et al (1995) pada pasien dengan keluhan
derajat sedang, TURP lebih bermanfaat daripada watchful waiting. TURP lebih sedikit
menimbulkan trauma dibandingkan prosedur bedah terbuka dan memerlukan masa
pemulihan yang lebih singkat. Secara umum TURP dapat memper-baiki gejala BPH
hingga 90%, meningkatkan laju pancaran urine hingga 100%.
18

Komplikasi dini yang terjadi pada saat operasi sebanyak 18-23%, dan yang paling
sering adalah perdarahan sehingga membutuhkan transfusi. Timbulnya penyulit
biasanya pada reseksi prostat yang beratnya lebih dari 45 gram, usia lebih dari 80
tahun, ASA II-IV, dan lama reseksi lebih dari 90 menit. Sindroma TUR terjadi kurang
dari 1%. Penyulit yang timbul di kemudian hari adalah: inkontinensia stress <1%
maupun inkontinensia urge 1,5%, striktura uretra 0,5- 6,3%, kontraktur leher buli-buli
yang lebih sering terjadi pada prostat yang berukuran kecil 0,9-3,2%, dan disfungsi
ereksi. Angka kematian akibat TURP pada 30 hari pertama adalah 0,4% pada pasien
kelompok usia 65-69 tahun dan 1,9% pada kelompok usia 80-84 tahun. Dengan teknik
operasi yang baik dan manajemen perioperatif (termasuk anestesi) yang lebih baik pada
dekade terakhir, angka morbiditas, mortalitas, dan jumlah pemberian transfuse
berangsur-angsur menurun.
TUIP atau insisi leher buli-buli (bladder neck insicion) direkomendasikan pada
prostat yang ukurannya kecil (kurang dari 30 cm3), tidak dijumpai pembesaran lobus
medius, dan tidak diketemukan adanya kecurigaan karsinoma prostat. Teknik ini
dipopulerkan oleh Orandi pada tahun 1973, dengan melakukan mono insisi atau
bilateral insisi mempergunakan pisau Colling mulai dari muara ureter, leher buli-buli-
sampai ke verumontanum. Insisi diperdalam hingga kapsula prostat. Waktu yang
dibutuhkan lebih cepat, dan lebih sedikit menimbulkan komplikasi dibandingkan
dengan TURP. TUIP mampu memperbaiki keluhan akibat BPH dan meningkatkan
Qmax meskipun tidak sebaik TURP.
Cara elektrovaporisasi prostat hampir mirip dengan TURP, hanya saja teknik ini
memakai roller ball yang spesifik dan dengan mesin diatermi yang cukup kuat,
sehingga mampu membuat vaporisisai kelenjar prostat. Teknik ini cukup aman, tidak
banyak menimbulkan perdarahan pada saat operasi, dan masa mondok di rumah sakit
lebih singkat.

Laser Prostatektomi
Energi laser mulai dipakai sebagai terapi BPH sejak tahun 1986, yang dari tahun
ke tahun mengalami penyempurnaan. Terdapat 4 jenis energi yang dipakai, yaitu:
Nd:YAG, Holmium: YAG, KTP: YAG, dan diode yang dapat dipancarkan melalui
bare fibre, right angle fibre, atau intersitial fibre. Kelenjar prostat pada suhu 60-65
0
C
akan mengalami koagulasi dan pada suhu yang lebih dari 100
0
C mengalami vaporisasi.
Jika dibandingkan dengan pembedahan, pemakaian Laser ternyata lebih sedikit
19

menimbulkan komplikasi dan penyembuhan lebih cepat, tetapi kemampuan dalam
meningkatkan perbaikan gejala miksi maupun Qmax tidak sebaik TURP.
Disamping itu terapi ini membutuhkan terapi ulang 2% setiap tahun.
Kekurangannya adalah: tidak dapat diperoleh jaringan untuk pemeriksaan patologi
(kecuali pada Ho:YAG), sering banyak menimbulkan disuria pasca bedah yang dapat
berlangsung sampai 2 bulan, tidak langsung dapat miksi spontan setelah operasi, dan
peak flow rate lebih rendah dari pada pasca TURP.
Penggunaan pembedahan dengan energy Laser telah berkembang dengan pesat
akhir-akhir ini. Penelitian klinis memakai Nd:YAG menunjukkan hasil yang hampir
sama dengan cara desobstruksi TURP, terutama dalam perbaikan skor miksi dan
pancaran urine. Meskipun demikian efek lebih lanjut dari Laser masih belum banyak
diketahui. Teknik ini dianjurkan pada pasien yang memakai terapi antikoagulan dalam
jangka waktu lama atau tidak mungkin dilakukan tindakan TURP karena kesehatannya.

Tindakan invasif minimal
Termoterapi
Termoterapi kelenjar prostat adalah pemanasan > 45
o
C sehingga menimbulkan
nekrosis koagulasi jaringan prostat. Gelombang panas dihasilkan dari berbagai cara,
antara lain adalah: (1) TUMT (transurethral microwave thermotherapy), (2) TUNA
(transurethral needle ablation), (3) HIFU (high intensity focused ultrasound), dan (4)
Laser. Makin tinggi suhu di dalam jaringan prostat makin baik hasil klinik yang
didapatkan, tetapi makin banyakini seringkali tidak memerlukan mondok di rumah
sakit, namun masih harus memakai kateter dalam jangka waktu lama. Sering kali
diperlukan waktu 3-6 minggu untuk menilai kepuasan pasien terhadap terapi ini. Pada
umumnya terapi ini lebih efektif daripada terapi medikamnetosa tetapi kurang efektif
dibandingkan dengan TURP. Tidak banyak menimbulkan perdarahan sehingga cocok
diindikasikan pada pasien yang memakai terapi antikoagulansia.
Energi yang dihasilkan oleh TUMT berasal dari gelombang mikro yang
disalurkan melalui kateter ke dalam kelenjar prostat sehingga dapat merusak kelenjar
prostat yang diinginkan. Jaringan lain dilindungi oleh sistem pendingin guna
menghindari dari kerusakan selama proses pemanasan berlangsung. Morbiditasnya
rendah dan dapat dikerjakan tanpa pembiusan. TUMT terdiri atas energi rendah dan
energi tinggi. TUMT energi rendah diperuntukkan bagi adenoma yang kecil dan
obstruksi ringan, sedangkan TUMT energi tinggi untuk prostat yang besar dan
20

obstruksi yang lebih berat. TUMT energi tinggi menghasilkan respon terapi yang lebih
baik, tetapi menimbulkan morbiditas yang lebih besar daripada yang energi rendah.
Teknik TUNA memakai energi dari frekuensi radio yang menimbulkan panas sampai
mencapai 100
0
C, sehingga menyebabkan nekrosis jaringan prostat. Sistem ini terdiri
atas kateter TUNA yang dihubungkan dengan generator yang dapat membangkitkan
energi pada frekuensi radio 490 kHz. Kateter dimasukkan ke dalam uretra melalui
sistoskopi dengan pemberian anestesi topikal xylocaine sehingga jarum yang terletak
pada ujung kateter terletak pada kelenjar prostat. TUNA dapat memperbaiki gejala
hingga 50-60% dan meningkatkan Qmax hingga 40-50% Pasien sering kali masih
mengeluh hematuria, disuria, kadang-kadang retensi urine, dan epididimoorkitis.
Energi panas yang ditujukan untuk menimbulkan nekrosis prostat pada HIFU
berasal dari gelombang ultrasonografi dari transduser piezokeramik yang mempunyai
frekuensi 0,5-10 MHz. Energi dipancarkan melalui alat yang diletakkan transrektal dan
difokuskan ke kelenjar prostat. Teknik ini memerlukan anestesi umum. Data klinis
menunjukkan terjadi perbaikan gejala klinis 5060% dan Qmax rata-rata meningkat
40 50%. Efek lebih lanjut dari HIFU belum diketahui, dan sementara tercatat bahwa
kegagalan terapi terjadi sebanyak 10% setiap tahun.

Stent
Stent prostat dipasang pada uretra prostatika untuk mengatasi obstruksi karena
pembesaran prostat. Stent dipasang intraluminal di antara leher buli-buli dan di sebelah
proksimal verumontanum sehingga urine dapat leluasa melewati lumen uretra
prostatika. Stent dapat dipasang secara temporer atau permanen. Yang temporer
dipasang selama 6-36 bulan dan terbuat dari bahan yang tidak diserap dan tidak
mengadakan reaksi dengan jaringan. Alat ini dipasang dan dilepas kembali secara
endoskopi. Stent yang telah terpasang bisa mengalami enkrustasi, obstruksi,
menyebabkan nyeri perineal, dan disuria.

Pengawasan berkala
Semua pasien BPH setelah mendapatkan terapi atau petunjuk watchful waiting
perlu mendapatkan pengawasan berkala (follow up) untuk mengetahui hasil terapi serta
perjalanan penyakitnya sehingga mungkin perlu dilakukan pemilihan terapi lain atau
dilakukan terapi ulang jika dijumpai adanya kegagalan dari terapi itu. Secara rutin
dilakukan pemeriksaan IPSS, uroflometri, atau pengukuran volume residu urine pasca
21

miksi. Pasien yang menjalani tindakan intervensi perlu dilakukan pemeriksaan kultur
urine untuk melihat kemungkinan penyulit infeksi saluran kemih akibat tindakan itu.
Jadwal pemeriksaan tergantung pada terapi yang dijalani oleh pasien seperti terlihat
pada tabel.

I.2.9. Komplikasi
Batu saluran kemih
Infeksi saluran kemih
Hidroureter, Hidronefrosis
Gagal ginjal













22

BAB II
LAPORAN KASUS

II.1 Identitas Pasien
Nama : Tn.N
Usia : 60 tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Alamat : Ngesal 02/06 Delik Tuntang
Pekerjaan : Petani
Agama : Islam
Status Pernikahan : Sudah Menikah
Tanggal Masuk : 07 Februari 2014

II.2 Anamnesa
Keluhan utama : BAK tidak lancar
Riwayat Penyakit Sekarang : BAK tidak lancar dirasakan sekitar 3 hari SMRS yang
terjadi secara tiba-tiba. Pasien merasa tidak memerlukan waktu lama untuk mulai
BAK, dan masih sering merasa tidak puas jika BAK. ada sisa setelah BAK. Selama
BAK tidak ada darah (+), pasir (-), nanah (-).Pasien merasa nyeri saat BAK (+), terasa
panas (+) dan nyeri hilang setelah BAK. Kadang pasien juga meraa nyeri pada perut.

Riwayat Penyakit Dahulu : keluhan yang sama sebelumnya (-), riwayat kencing
manis (-), riwayat darah (-) , alergi (-), infeksi saluran kemih (-), batu saluran kemih (-
).
Riwayat Penyakit Keluarga : keluhan yang sama (-), riwayat tumor (-), riwayat
kencing manis (-),riwayat darah tinggi (-), infeksi Saluran Kemih (-), batu saluran
kemih (-).
Riwayat Pengobatan : sudah berobat ke Puskesmas 3 hari yang lalu dan sudah diberi
obat dan sudah dipasang DC.
Kebiasaan : minum air putih 4 gelas/hari, minum kopi dan teh (-), jarang makan
sayur, merokok 1 bungkus/hari dengan jenis rokok kretek, riwayat konsumsi alkohol
(-), olahraga sangat jarang, BAB dbn
23

Skor IPSS : 15 (obstruksi sedang)
International Prostate Symptom Score
No Pertanyaan Tidak
pernah
<1x
Dlm
5x
Kurang
dr
setengah
Kadang-
kadang
sktr
(50%)
>1/2 Hampir
selalu
skor
1. Selama
sebulan
terakhir, brp
srg anda
merasa tidak
lampias saat
selesai
berkemih ?
0 1 2 3 4 5 2
2. Selama
sebulan
terakhir, brp
srg anda
harus kencing
dalam waktu
kurang dari
2jam stlh
selesai
berkemih?
0 1 2 3 4 5 2
3. Selama
sebulan
terakhir, brp
srg anda
mendapatkan
bahwa pipis
anda terputus-
putus ?
0 1 2 3 4 5 2
4. Selama 0 1 2 3 4 5 2
24

sebulan
terakhir, brp
srg anda
merasakan
sulit untuk
menahan
kencing ?
5. Selama
sebulan
terakhir, brp
srg anda
merasa
pancaran
kencing anda
lemah?
0 1 2 3 4 5 2
6. Selama
sebulan
terakhir, brp
srg anda
harus
mengedan
untuk mulai
berkemih ?
0 1 2 3 4 5 2
7. Selama
sebulan
terakhir, brp
srg anda
harus bangun
untuk
berkemih
sejak mulai
tidur pada
malam hari
Tidak
ada
1x 2x 3x 4x 5x/lebih 3x
25

hingga
bangun di
pagi hari ?
0 1 2 3 4 5 3

II.3 Pemeriksaan Fisik
Status generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis (GCS : E
4
V
5
M
6
)
Tanda Vital : Tekanan Darah 200/180 mmHg
Nadi 88 x/menit
RR 24 x/menit, regular
Suhu 36,5
o
C (axilla)
Kepala : mesocephal, rambut merata, tidak mudah dicabut
Mata :konjungtiva palpebra pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil
isokor (3mm/3mm)
Telinga : sekret (-/-), darah (-/-), nyeri tekan mastoid (-/-)
Hidung : simetris, deviasi septum (-), sekret (-/-), keluar darah (-/-
),napas cuping hidung (-),
Mulut : sianosis (-), mukosa normal, gusi berdarah (-), tonsil (T1/T1),
faring hiperemis (-)
Leher : trakea di tengah, pembesaran KGB (-), nyeri tekan (-), JVP
tidak meningkat
Thorax : simetris saat statis dan dinamis, retraksi (-)
Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis tidak kuat angkat, thrill (-)
Perkusi : batas jantung kesan tidak melebar
Auskultasi : BJ I-II normal, regular, bising (-)
Pulmo
Inspeksi : ekspansi dinding dada simetris
Palpasi : fremitus taktil simetris, nyeri tekan (-)
26

Perkusi : sonor
Auskultasi : vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen
Inspeksi : distensi (-), massa (-), luka bekas operasi (-)
Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi : timpani seluruh lapang abdomen
Palpasi : supel, nyeri tekan (-), defense muskular (-)
Ekstremitas atas : akral hangat, CRT < 2 detik
Ekstremitas bawah : akral hangat, CRT < 2 detik
Genitalia eksterna : terpasang pungsi suprapubik

II.4 Diagnosa Banding
Tumor Prostat suspect jinak Benigna Prostat Hiperplasia (BPH)
suspect ganas Ca Prostat


II.5 Pemeriksaan Penunjang
Hasil Laboratorium :
Tanggal : 10 November 2013

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
Hematologi
darah rutin :

Hemoglobin 12.1 11,5 14,5 g/dl
Leukosit 11,8 4,0 10 ribu
Eritrosit 3,58 4,5 5,8 juta
Hematokrit 31,2 40 50 %
Trombosit 351 150 400 ribu
MCV 87,2 82 98 mikro m3
MCH 33,8 >=27
MCHC 38,8 32 36 g/dl
RDW 11,4 10 16 %
MPV 7,2 7 11 mikro m3
27

Limfosit 2,1 1,0 4,5 10
3
/mikroL
Monosit 0,6 0,2 1 10
3
/mikroL
Granulosit 4,1 2,5 7 10
3
/mikroL
Limfosit % 17.5 25 40 %
Monosit % 4,9 2 8 %
Granulosit % 63,8 50 80 %
PCT 0,253 0,2 0,5 %
PDW 17,0 10 18 %
Golongan Darah B
Clotting Time 3 : 00 3-5 (menit:detik)
Bleeding Time 1: 00 1-3 (menit:detik)
Kimia Klinik
GDS

98

70 110 mg/dl
Ureum 21,7 10 50 mg/dl
Creatinin 1,21 0,62 1,1 mg/dl
SGOT 96 0 50 U/L
SGPT 173 0 50 IU/L
Serologi
HbsAg

Non Reaktif

Non Reaktif

Hasil USG Abdomen :
1. Pembesaran prostat volume 45 cc, berat 37 gr
2. Sistitis
3. Tak tampak kelainan pada organ intraabdomen lainnya secara pemeriksaan
usg.

28





II.6 Diagnosa Kerja
Benigna Prostat Hyperplasia (BPH) dengan skor IPSS = 15


II.7 Terapi
Infus RL 20 tpm
Inj. Cefotaxim 3x1 gram
Inj. Ranitidine 2x1 amp
Inj. Ketorolac 3x1 amp
Finasteride tab 5 mg 1x1
Konsul ke Sp.B untuk dilakukan tindakan pembedahan


29

II.8. Prognosis
Dubia ad bonam































30

BAB III
ANALISA KASUS

III.1 S (Subjective)
BAK tidak lancer dirasakan sekitar 3 hari SMRS yang terjadi secara tiba-tiba.
BAK tidak lancar dirasakan sekitar 3 hari SMRS yang terjadi secara tiba-tiba. Pasien
merasa tidak memerlukan waktu lama untuk mulai BAK, dan masih sering merasa
tidak puas jika BAK. ada sisa setelah BAK. Selama BAK tidak ada darah (+), pasir (-
), nanah (-).Pasien merasa nyeri saat BAK (+), terasa panas (+) dan nyeri hilang
setelah BAK. Kadang pasien juga merasa nyeri pada perut. Pasien sering BAK pada
malam hari dengan frekuensi 3-4x, nyeri saat BAK (+), terasa panas (+) dan nyeri
hilang setelah BAK. Keluhan sulit BAK secara tiba-tiba bisa disebabkan oleh
beberapa hal, bisa karena batu saluran kemih ataupun masalah prostat. Di antara
keluhan pasien tersebut terdapat beberapa gejala obstruksi pada BPH seperti dan
residual urin (masih terasa ada sisa). BAK yang sering pada malam hari (nocturia)
merupakan salah satu gejala dari iritasi saluran kemih pada BPH, begitu juga dengan
disuria (nyeri saat berkemih). Adanya riwayat BAK yang berwarna merah
kemungkinan bisa disebabkan karena infeksi saluran kemih atau batu.

III.2 O (Objective)
Dilakukan pemeriksaan fisik pada pasien dari kepala sampai dengan
ekstremitas. Pada pemeriksaan tanda vital, tekanan darah pasien sangat tinggi, namun
hasil lainnya dalam batas normal. Status generalis lainnya juga dalam batas normal.
Dari hasil USG abdomen didapatkan adanya pembesaran prostat dengan volume 45 cc
dan berat 37 gram. Setelah diagnosa tegak, untuk mengetahui masuk kedalam tingkat
keparahan apakah gejala pasien untuk penyakit BPH dilakukan tanya jawab lagi dan
pasien diminta mengisi IPSS. Dari IPSS didapatkan skor 15, dimana pasien masuk
kedalam kategori sedang. Dan terapi yang diberikan biasanya hanya medika mentosa,
namun jika diperlukan pembedahan dapat dikonsul kan ke ahli bedah.



31

III.3 A (Assesment)
Diagnosa yang diambil adalah benign prostat hiperplasia dengan derajat
keparahan gejala BPH yang dirasakan pasien masuk ke dalam kategori sedang.

III.4 P (Planning)
Infus RL 20 tpm
Untuk mengatasi fungsi sirkulasi yang terganggu akibat perdarahan yang terus
menerus. Komposisi dari RL (Ringer Laktat) ini sama dengan cairan sel tubuh,
karena itu disebut juga larutan isotonik.
Inj Cefotaxime 2x500 mg
Cefotaxime adalah antibiotik spektrum luas golongan sefalosporin generasi
ketiga yang mempunyai efek bakterisidal dengan cara menghambat sintesis
mukopeptida dinding sel bakteri. Cefotaxime merupakan pilihan lini pertama
terhadap bakteri yang resisten terhadap penisilin karena cefotaxime stabil
terhadap hidrolisis beta-laktamase
Inj. Ranitidine 2x1 amp
Pemberian ranitidin adalah untuk penyeimbang efek samping dari pemberian
ciprofloxacin, karena ciprofloxacin dapat mengakibatkan gangguan GIT serta
menyebabkan mual. Ranitidin adalah obat golongan antasida yang diindikasikan
untuk status hipersekresi setelah OP, hipersekresi patologis, dan tukak peptik.
Dosisnya adalah 50 mg tiap 6-8 jam dengan pemberian secara iv.
Inj Ketorolac 3x10 mg
Ketorolac adalah salah satu dari obat anti inflamasi non steroid (NSAID), yang
biasa digunakan untuk analgesik, antipiretik dan anti inflamasi. Indikasi
penggunaan ketorolac adalah untuk inflamasi akut dalam jangka waktu
penggunaan maksimal selama 5 hari. Obat ini menghambat enzim
siklooksigenase sehingga konversi asam arakidonat menjadi PG2 terganggu.
Ketorolak merupakan penghambat siklooksigenase yang non selektif. Selain
menghambat sintese prostaglandin, juga menghambat tromboksan A2.
Finasteride tab 5 mg 1x1
Obat ini diindikasikan untuk terapi simtomatik hyperplasia prostat jinak. Obat ini
bekerja dengan cara menghambat pembentukan dihidrotestosteron (DHT) dari
testosteron, yang dikatalisis oleh enzim 5 - redukstase di dalam sel-sel prostat.
32

Konsul ke Sp.B untuk dilakukan tindakan pembedahan
Jenis pembedahan yang dapat dilakukan ada banyak, bisa dengan prostatektomi
terbuka, TURP (Trans Uretra Resection Prostatektomi), TUIP (Trans Uretra
Insision Prostatektomi), TULP (Trans Uretra Laser Prostatektomi).


























33

DAFTAR PUSTAKA

Arlina, P dan Evaria. 2013. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi Edisi 12. PT.
Medidata Indonesia; Jakarta
Basuki B. Purnomo. 2011. Dasar dasar Urologi. CV. Sagung Seto : Jakarta
Bridge Sophie Bain. 2006. Obesity and Diabetes Increase Risk For BPH :
Presented at AUA. Atlanta, GA.URL : http://www.docguide.com. Diakses 29 Juli 2013
Guess.1995. Epidemiology and Natural History of Benign Prostatic Hiperplasia.
Urological clinic of north America, volume 22, no 2. Mei. 1995.
Junqueira, L.C and Carneiro, J. 2007. Basic Histology Text and Atlas 11
th
Edition.
McGraw-Hills Access Medicine.
Kapoor, A. 2012. Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) Management in the Primary
Care Settings. Can J Urol 2012;19(Suppl 1) 10-17
National Kidney and Urologic Diseases Informatioan Clearinghouse
(NKUDIC). 2006. Prostat Enlargement : Benign Prostatic Hiperplasia. NIH 2006.
Publication no.06-3012. URL : http://www.kidney.niddk.nih.sor. Diakses 29 Juli 2013
Rahardjo D. 1999. Prostat: kelainan-kelainan jinak, diagnosis dan penanganan. 1
st

ed. Jakarta: Asian Medical;1999.
Rizki, A. 2008. Faktor-faktor Risiko Terjadinya Pembesaran Prostat Jinak. Studi
kasus di RS dr. Kariadi, RS Roemani dan RSI Sultan Agung Semarang. [Tesis]
Roehborn, Calus G, McConnell, John D. 2002. Etiology, Pathophysiology, and
Natural History of Benign prostatic hyperplasia. In : Campbells Urology. 8th ed. W.B.
Saunders ; p. 1297-1330
Sherwood, L. 2010. Human Physiology : From Cells to Systems, Seventh Edition.
Brooks/Cole:USA
Walsh, Patrick C. 1992. Benign prostatic hyperplasia. In : Campbells Urology. 6
th

ed. W.B. Saunders ; p.1009-1025
34

Yatim F. 2004. Pengobatan terhadap penyakit usia senja, andropause dan kelainan
ginjal. Jakarta : Pustaka Populer Obor.