Anda di halaman 1dari 43

1

BLOK KEDOKTERAN KOMUNITAS


SKENARIO 2







KEJADIAN PENYAKIT DAN PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT

KELOMPOK B- 09
Ketua : Ratri Zahra Kirana (1102011222)
Sekretaris : Raisa Desyta Adliza (1102011220)
Anggota : Mandasari mansur (11020102)
Nadia Fitrisia (1102011187)
Nadira Danata (1102011188)
Randy Prayogo (1102011222)
Wenny Artha Mulia (1102011289)
Widya Amalia Swastika (1102011290)
Vicianty Meista Sari (1102011288)


TAHUN AJARAN 2014/2015
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI




2

SKENARIO II

KEJADIAN PENYAKIT DAN PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT

Pada tahun 2011, ditetapkan KLB (Kejadian Luar Biasa) Demam Berdarah Dengue di
Kota Pekanbaru. Pernyataan resmi ini disampaikan Pejabat Walikota Pekanbaru setelah
mendengar laporan Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru dalam rapat koordinasi. Pada bulan
Februari tahun 2010 terdapat sebanyak 202 kasus dan bulan Februari tahun 2011 mencapai 450
kasus. Hal ini menunjukkan peningkatan sebesar kurang lebih dua kali lipat dari periode tahun
sebelumnya. IR (Incidence Rate) DBD menurut WHO di Indonesia adalah sebesar <50 per
100.000 penduduk dengan CFR (Case Fatality Rate) 0,2. Kematian yang terjadi pada kasus DBD
disebabkan masih kurangnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap gejala DBD.
Seringkali pasien datang ke puskesmas dalam stadium lanjut, dimana terdapat perdarahan
spontan dan syok. Pada stadium demam terdapat kebiasaan masyarakat yang cenderung untuk
mengobati diri sendiri dengan cara membaluri badan dengan bawang merah yang dicampur
minyak goreng terlebih dahulu kemudian membeli obat penurun panas di warung atau toko obat.
Masyarakat tidak mengerti kalau pada saat mulai demam harus segera dibawa ke Puskemas.
Karena adanya KLB tersebut, Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (EP) ke
lapangan untuk mengetahui penyebab terjadinya KLB. Berdasarkan hasil penyelidikan
epidemiologi tersebut, Puskesmas melakukan tindakan yang diperlukan untuk menanggulangi
KLB.
Banyaknya penderita DBD di Puskesmas membutuhkan obat-obatan dan cairan infus bagi pasien
yang jumlahnya sangat banyak, sementara persediaan di Puskesmas juga terbatas. Untuk
mengatasi hal tersebut Puskesmas melakukan rujukan kesehatan masyarakat ke Dinas Kesehatan
Kota Pekanbaru.
Program penanggulangan DBD yang berjalan seharusnya bukan hanya dikerjakan oleh
Puskesmas sendiri secara lintas program, tetapi juga dikerjakan secara lintas sektoral demi untuk
meningkatkan mutu pelayanan. Pada saat yang bersamaan, terjadi ledakan kasus Campak di
Puskesmas setempat. Ternyata cakupan imunisasi Campak dalam 3 tahun terakhir selalu berada
pada kisaran <50%.
Dalam pertemuan lintas sektoral, tokoh agama juga terlibat dalam ikut urun rembuk penyelesaian
masalah kesehatan di masyarakat. Tokoh agama menyampaikan, bahwa dalam pandangan islam
menciptakan kemaslahatan insani yang hakiki adalah merupakan salah satu tujuan syariat Islam
dan hukum menjaga kesehatan dan berobat adalah wajib.












3

SASARAN BELAJAR

LI 1. Memahami dan menjelaskan tentang KLB
LO 1.1 Memahami dan menjelaskan definisi tentang KLB
LO 1.2 Memahami dan menjelaskan kriteria tentang KLB
LO 1.3 Memahami dan menjelaskan Metode tentang KLB
LO 1.4 Memahami dan menjelaskan Tujuan tentang KLB
LO 1.5 Memahami dan menjelaskan Pencegahan tentang KLB

LI 2. Memahami dan menjelaskan tentang Penyelidikan Epidemiologi
LO 2.1 Memahami dan menjelaskan Definisi penyelidikan epidemiologi
LO 2.2 Memahami dan menjelaskan Tujuan penyelidikan epidemiologi
LO 2.3 Memahami dan menjelaskan Langkah-langkah penyelidikan epidemiologi

LI 3. Memahami dan menjelaskan tentang Aspek social budaya dalam perilaku pengobatan

LI 4. Memahami dan menjelaskan tentang Program Puskesmas

LI 5. Memahami dan menjelaskan tentang Rujukan Kesehatan

LI 6. Memahami dan menjelaskan Tujuam syariat islam dan hukum menjaga kesehatan dan
berobat
























4

LI 1. Memahami dan menjelaskan tentang KLB

LO 1.1 Memahami dan menjelaskan definisi tentang KLB

KLB (Kejadian Luar Biasa) menurut Departemen Kesehatan RI (2004) adalah: Timbulnya atau
meningkatnya kejadian kesakitan dan/atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada
suatu daerah dalam kurun waktu tertentu dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada
terjadinya wabah.

Peraturan Menteri Kesehatan RI No . 949/ MENKES/SK/VII/2004.
Kejadian Luar Biasa (KLB) : timbulnya atau meningkatnya kejadianKesakitan atau kematian
yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu

Undang-Undang Wabah , 1969:
Wabah : adalah peningkatan kejadian kesakitan/kematian, yang
meluas secara cepat baik dalam jumlah kasus maupun luas daerah
penyakit, dan dapat menimbulkan malapetaka.
Kejadian Luar Biasa (KLB) : adalah timbulnya suatu kejadian kesakitan/kematian dan
atau meningkatnya suatu kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara
epidemiologis pada suatu kelompok penduduk dalam kurun waktu tertentu

KLB dapat terjadi dalam lingkup:
1. penyakit menular, misalnya diare, kolera, meningitis, flu burung, dll.
2. penyakit tidak menular, misalnya cedera/kecelakaan, intoksikasi bahan berbahaya,
bencana alam, gangguan kejiawaan dll

Batasan KLB meliputi arti yang luas, yang dapat diuraikan sebagai berikut :
Meliput semua kejadian penyakit, dapat suatu penyakit infeksi akut kronis ataupun
penyakit non infeksi.
Tidak ada batasan yang dapat dipakai secara umum untuk menentukan jumlah penderita
yang dapat dikatakan sebagai KLB. Hal ini selain karena jumlah kasus sangat tergantung
dari jenis dan agen penyebabnya, juga karena keadaan penyakit akan bervariasi menurut
tempat (tempat tinggal, pekerjaan) dan waktu (yang berhubungan dengan keadaan iklim)
dan pengalaman keadaan penyakit tersebut sebelumnya.
Tidak ada batasan yang spesifik mengenai luas daerah yang dapat dipakai untuk
menentukan KLB, apakah dusun desa, kecamatan, kabupaten atau meluas satu propinsi
dan Negara. Luasnya daerah sangat tergantung dari cara penularan penyakit tersebut.
Waktu yang digunakan untuk menentukan KLB juga bervariasi. KLB dapat terjadi dalam
beberapa jam, beberapa hari atau minggu atau beberapa bulan maupun tahun.


LO 1.2 Memahami dan menjelaskan kriteria tentang KLB

KLB meliputi hal yang sangat luas seperti sampaikan pada bagian sebelumnya, maka untuk
mempermudah penetapan diagnosis KLB, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Dirjen
5

PPM&PLP No. 451-I/PD.03.04/1999 tentang Pedoman Penyelidikan Epidemiologi dan
Penanggulangan KLB telah menetapkan criteria kerja KLB yaitu :
1. Timbulnya suatu penyakit/menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal
2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus menerus selama 3 kurun waktu berturut-
turut menurut jenis penyakitnya.
3. Peningkatan kejadian/kematian > 2 kali dibandingkan dengan periode sebelumnya
4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan >2 kali bila dibandingkan
dengan angka rata-rata per bulan tahun sebelumnya
5. Angka rata-rata perbulan selama satu tahun menunjukkan kenaikkan > 2 kali
dibandingkan angka rata-rata per bulan tahun sebelumnya.
6. CFR suatu penyakit dalam satu kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikkan 50 % atau
lebih dibanding CFR periode sebelumnya.
7. Proporsional Rate penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikkan > 2
kali dibandingkan periode yang sama dan kurun waktu/tahun sebelumnya.
Beberapa penyakit khusus : Kholera, DHF/DSS
Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah endemis)
Terdapat satu/lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut
dinyatakan bebas dari penyakit tersebut
Beberapa penyakit yang dialami 1 atau lebih penderita :
a. Keracunan makanan
b. Keracunan pestisida

Suatu kejadian penyakit atau keracunan dapat dikatakan KLB apabila memenuhi kriteria sebagai
berikut:
1. Timbulnya suatu penyakit/kesakitan yang sebelumnya tidak ada/tidak
diketahui.
2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus menerus selama 3 kurun
waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu, dst)
3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali atau lebih dibandingkan
periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat
atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dalam tahun
sebelumnya.
5. Angka rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan 2 kali
lipat atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dalam tahun
sebelumnya.
6. Case fatality rate dari suatu penyakit dalam kurun waktu tertentu
menunjukkan 50% atau lebih dibandingkan CFR dari periode sebelumnya.
7. Proporsional rate (PR) penderita baru dari periode tertentu menunjukkan
kenaikan 2 kali lipat atau lebih dibandingkan periode yang sama dalam
kurun waktu/tahun sebelumnya.
8. Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah endemis)
9. Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu
sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang
bersangkutan.
6

10. Beberapa penyakit yang dialami 1 (satu) atau lebih penderita : keracunan
makanan dan keracunan pestisida.
11. Dalam menentukan apakah ada wabah, perlu diperhatikan hal-hal sebagai
berikut dengan membandingkan jumlah yang ada saat itu dengan jumlah
beberapa minggu atau bulan sebelumnya.
12. Menentukan apakah jumlah kasus yang ada sudah melampaui jumlah yang
diharapkan.

Sumber informasi bervariasi :
1. Catatan hasil surveilans
2. Catatan keluar rumah sakit statistik kematian, register, dan lain-lain.
3. Bila data local tidak ada dapat digunakan rate dari wilayah di dekatnya atau data nasional
4. Boleh juga dilaksanakan survey di masyarakat menentukan kondisi penyakit yang
biasanya ada.
Pseudo-epidemik :
1. Perubahan cara pencatatan dan pelaporan penderita
2. Adanya cara diagnosis baru
3. Bertambahnya kesadaran penduduk untuk berobat
4. Adanya penyakit lain dengan gejala yang serupa
5. Bertambahnya jumlah penduduk yang rentan

Istilah-istilah yang sering terdapat dalam kejadian luar biasa :
1. OUTBREAK adalah Suatu episode dimana terjadi dua atau lebih penderita suatu
penyakit yang sama dimana penderita tersebut mempunyai hubungan satu sama lain.
2. EPIDEMI adalah Keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit) yang
ditemukan pada suatu daerah tertentu dalam waktu yang singkat frekuensinya meningkat.
3. PANDEMI adalah Keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit),
frekuensinya dalam waktu singkat meningkat tinggi dan penyebarannya telah mencakup
wilayah yang luas.
4. ENDEMI adalah Keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit),
frekuensinya pada wilayah tertentu menetap dalam waktu lama berkenaan dengan adanya
penyakit yang secara normal biasa timbul dalam suatu wilayah tertentu.


LO 1.3 Memahami dan menjelaskan Metode tentang KLB

1.UKURAN MORBIDITAS
Ukuran atau angka morbiditas adalah jumlah penderita yang dicatat selama 1 tahun per 1000
jumlah penduduk pertengahan tahun. Angka ini dapat digunakan untuk menggambarakan
keadaan kesehatan secara umum, mengetahui keberahasilan program program pemberantasan
penyakit, dan sanitasi lingkungan serta memperoleh gambaran pengetahuan pendudukterhadap
pelayanan kesehatan. Secara umum ukuran yang banyak digunakan dalam menentukan
morbiditas adalah angka, rasio, dan proporsi. Ukuran kesakitan dan kematian yang lazim dipakai
dalam penyelidikan-penyelidikan epidemiologi disebut rate. Sebelumnya, perhatikan hal-hal
berikut:
7

Untuk penyususnan rate diperlukan 3 elemen yakni, jumlah orang yang terserang
penyakit atau yang meninggal, jumlah penduduk dari mana penderita berasal
(reference population), dan waktu atau periode dimana orang-orang terserang
penyakit.
Apabila pembilang terbatas pada umur, seks, atau golongan tertentu, maka
penyebut juga harus terbatas pada umur, seks, atau golongan yang sama
Jika penyebut terbatas pada mereka yang dapat terserang atau terjangkit penyakit,
maka penyebut tersebut dinamakan populasi yang mempunyai risiko (population
at risk)
a) Incidence rate
Adalah jumlah kasus baru yang terjadi di kalangan penduduk selama periode waktu tertentu.







b) attack rate





c) prevalence rate





d) period prevalence





Period prevalence terbentuk dari prevalence pada suatu titik waktu ditambah kasus-kasus baru
(incidence) dan kasus-kasus yang kambuh selama periode observasi.

e) cause disease spesific death rate
contoh: kematian karena TBC





2.UKURAN MORTALITAS
1.Case Fatality Rate (CFR)
CFR adalah perbandingan antara jumlah kematian terhadap penyakit tertentu yang terjadi dalam
1 tahun dengan jumlah penduduk yang menderita penyakit tersebut pada tahun yang sama\
Rumus:


P = Jumlah kematian terhadap penyakit tertentu
T = jumlah penduduk yang menderita penyakit tersebut pada tahun yang sama
8

Perhitungan ini dapat digunakan uutk mengetahui tingakat penyakit dengan tingkat keamtia yang
tinggi. Rasio ini dapat dispesifikkan menjadi menurut golongan umur, jenis kelamin, tingkat
pendidikan dan lain-lain

2.Crude Death Rate (CDR)
Angka keamtian kasar adalah jumlah keamtian ang dicata selama 1 tahun per 1000 penduduk
pada pertengahan tahun yang sama. Disebut kasar karena akngka ini dihitung secatra menyeluruh
tanpa memperhatikan kelompok-kelompok tertentu di dalam populasi denga tingkat kematian
yang berbeda-beda.
U7




Manfaat CDR:
- Sebagai gambaran status kesehatan masyarakat
- Sebagai gambaran tingkat permasalahan penyakit dalam masyarakat
- Sebagai gambaran kondisi sosial ekonomi
- Sebagai gambaran kondisi lingkungan dan biologis
- Untuk menghitung laju pertumbuhan penduduk

3.Age Spesific Death Rate (ASDR)
contoh: ASDR pada golongan umur 20-30 tahun





Manfaat ASDR sebagai berikut:
- Untuk mengetahui dan menggambarkan derajat kesahatan masyarakat dengan
melihat kematian tertinggi pada golongan umur
- untuk membandingkan taraf kesehatan masyarakat di bebagai wilayah
- untuk menghitung rata-rata harapan hidup

4.Under Five Mortality Rate (UFMR)
Angka kematian Balita adalah gabungan antara angka kematian bayi dengan angka kematian
anak umur 1-4 tahun yaitu jumlah kematian balita yang dicatat selam satu tahun per 1000
penduduk balita pada tahun yang sama.
Rumus:



M = Jumlah kematian balita yang dicatat selama satu tahun
R = Penduduk balita pada tahun yang sama
k = Konstanta
Angka kematian balita sangat penting untuk mengukur taraf kesehatan masyarakat karena angka
ini merupakan indikator yang sensitif untuk sataus keseahtan bayi dan anak

9

5.Neonatal Mortality Rate (NMR)
Neonatal adalah bayi yang berumur kurang dari 28 hari. Angka Kematian Neonatal adalah
jumlah kematian bayi yang berumur kurang dari 28 hari yang dicatata selama 1 tahun per 1000
kelahiran hidup pada tahun yang sama.
Rumus:



di = Jumlah kematian bayi yang berumur kurang dari 28 hari
B = Kelahiran hidup pada tahun yang sama
k = konstanta
Manfaat dari angka kematian neonatal adalah sebgai berikut:
- untuk mengetahuai tinggi rendahnya perawatan post natal
- Untuk mengetahui program Imuninsasi
- Untuk pertolongan persalina
- untuk mengetahui penyakit infeksi

6.Perinatal Mortality Rate (PMR)
Angka kematian perinatal adalah jumlah kematian janin yang dilahirkan pada usia kehamilan
berumur 28 minggu atau lebih ditambah kematian bayi yang berumur kurang dari 7 hari yang
dicatat dalam 1 tahun per 1000 kelahiran kelahiran hidupn pada tahun yang sama.
Rumus:


P = jumlah kematian janin yang dilahirkan pada usia kehamilan berumur 28 minggu
M =ditambah kematian bayi yang berumur kurang dari 7 hari
R = 1000 kelahiran kelahiran hidupn pada tahun yang sama.

Manfaat dari angka kematian perinatal adalah untuk menggambarkan keadaan kesehatan
masyarakat terutama kesehatan ibu hamil dan bayi. Faktor yang mempengaruhi tinggnya PMR
adalah sebagai berikut:
- Banyak bayi dengan berat badan lahir rendah
- Status gizi ibu dan bayi
- Keadaan sosial ekonomi
- Penyakit infeksi terutama ISPA
- Pertolongan persalinan

7.Infant Mortality Rate (IMR)
Angka Kematian Bayi adalah perbandingan jumlah penduduk yang berumur kurang dari 1 tahun
yang diacat selama 1 tahun dengan 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.
Rumus:



d0 = Jumlah penduduk yang berumur kurang dari 1 tahun
B = Jumlah lahir hidup pada thun yang sama
k = Konstanta
10

Manfaat dari perhitungan angka kematian bayi adalah sebagai berikut:
- Untuk mengetahui gambaran tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang
berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi
- Untuk Mengetahui tingkat pelayanan antenatal
- Untuk mengetahui status gizi ibu hamil
- Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
dan Program Keluaga berencana (KB)
- untuk mengetahui kondisi lingkungan dan social ekonomi

8.Maternal Mortality Rate (MMR)
Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan
masa nifas yang dicatat selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.
Rumus:



I = adalah jumlah kematian ibu akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas
T = Kelahiran hidup pada tahun yang sama.
k = konstanta
Tinggi rendahnya angka MMR tergantung kepada:
- Sosial ekonomi
- Kesehatan ibu sebellum hamil, persalinan, dan masa nasa nifas
- Pelayanan terhadap ibu hamil
- Pertolongan persalinan dan perawatan masa nifas

waktu singkat tetapi kurang sensitif untuk:
Membandingkan tingkat fertilitas dua wilayah
Mengukur perubahan tingkat fertilitas karena perubahan pada tingkat
kelahiran ak


LO 1.4 Memahami dan menjelaskan Tujuan tentang KLB

Setiap penyelidikan KLB selalu mempunyai tujuan utama yang sama yaitu mencegah
meluasnya (penanggulangan) dan terulangnya KLB di masa yang akan datang (pengendalian),
dengan tujuan khusus :
a. Diagnose kasus-kasus yang terjadi dan mengidentifikasi penyebab penyakit
b. Memastikan keadaan tersebut merupakan KLB
c. Mengidentifikasikan sumber dan cara penularan
d. Mengidentifikasi keadaan yang menyebabkan KLB
e. Mengidentifikasikan populasi yang rentan atau daerah yang berisiko akan terjadi KLB (CDC,
1981; Bres, 1986).

Faktor yang mempengaruhi timbulnya Kejadian Luar Biasa (KLB)
1. Herd Immunity yang rendah
11

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya KLB/Wabah adalah Herd Immunity.
Secara umum dapat dikatakan bahwa herd immunity ialah kekebalan yang dimiliki oleh sebagian
penduduk yang dapat menghalangi penyebaran. Hal ini dapat disamakan dengan tingkat
kekebalan individu yaitu makin tinggi tingkat kekebalan seseorang, makin sulit terkena penyakit
tersebut. Demikian pula dengan herd immunity, makin banyak proporsi penduduk yang kebal
berarti makin tinggi tingkat herd immunity-nya hingga penyebaran penyakit menjadi semakin
sulit.
Kemampuan mengadakan perlingangan atau tingginya herd immunity untuk menghindari terjadi
epidemi bervariasi untuk tiap penyakit tergantung pada:
1. Proporsi penduduk yang kebal,
2. Kemampuan penyebaran penyakit oleh kasus atau karier, dan
3. Kebiasaan hidup penduduk.
Pengetahuan tentang herd immunity bermanfaat untuk mengetahui bahwa menghindarkan
terjadinya epidemi tidak perlu semua penduduk yang rentan tidak dapat dipastikan, tetapi
tergantung dari jenis penyakitnya, misalnya variola dibutuhkan 90%-95% penduduk kebal.

2. Patogenesitas
Kemampuan bibit penyakit untuk menimbulkan reaksi pada pejamu sehingga timbul sakit.

3. Lingkungan Yang Buruk
Seluruh kondisi yang terdapat di sekitar organisme tetapi mempengaruhi kehidupan
ataupun perkembangan organisme tersebut.


LO 1.5 Memahami dan menjelaskan Pencegahan tentang KLB

Upaya penanggulangan ini meliputi pencegahan penyebaran KLB, termasuk pengawasan
usaha pencegahan tersebut dan pemberantasan penyakitnya. Upaya penanggulangan KLB yang
direncanakan dengan cermat dan dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait secara
terkoordinasi dapat menghentikan atau membatasi penyebarluasan KLB sehingga tidak
berkembang menjadi suatu wabah (Depkes, 2000).
Penanggulangan KLB dikenal dengan nama Sistem Kewaspadaan Dini (SKD-KLB), yang dapat
diartikan sebagai suatu upaya pencegahan dan penanggulangan KLB secara dini dengan
melakukan kegiatan untuk mengantisipasi KLB. Kegiatan yang dilakukan berupa pengamatan
yang sistematis dan terus-menerus yang mendukung sikap tanggap/waspada yang cepat dan tepat
terhadap adanya suatu perubahan status kesehatan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan adalah
pengumpulan data kasus baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi terjadi KLB secara
mingguan sebagai upaya SKD-KLB. Data-data yang telah terkumpul dilakukan pengolahan dan
analisis data untuk penyusunan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi (Dinkes Kota
Surabaya, 2002).
Berdasarkan Undang-undang No. 4 tahun 1984 tentang wabah penyakit menular serta Peraturan
Menteri Kesehatan No. 560 tahun 1989, maka penyakit DBD harus dilaporkan segera dalam
waktu kurang dari 24 jam. Undang-undang No. 4 tahun 1984 juga menyebutkan bahwa wabah
adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat, yang jumlah
penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah
tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Dalam rangka mengantisipasi wabah secara dini,
12

dikembangkan istilah kejadian luar biasa (KLB) sebagai pemantauan lebih dini terhadap kejadian
wabah. Tetapi kelemahan dari sistem ini adalah penentuan penyakit didasarkan atas hasil
pemeriksaan klinik laboratorium sehingga seringkali KLB terlambat diantisipasi (Sidemen A.,
2003).
Badan Litbangkes berkerja sama dengan Namru 2 telah mengembangkan suatu sistem surveilans
dengan menggunakan teknologi informasi (computerize) yang disebut dengan Early Warning
Outbreak Recognition System (EWORS). EWORS adalah suatu sistem jaringan informasi yang
menggunakan internet yang bertujuan untuk menyampaikan berita adanya kejadian luar biasa
pada suatu daerah di seluruh Indonesia ke pusat EWORS secara cepat (Badan Litbangkes,
Depkes RI). Melalui sistem ini peningkatan dan penyebaran kasus dapat diketahui dengan cepat,
sehingga tindakan penanggulangan penyakit dapat dilakukan sedini mungkin. Dalam masalah
DBD kali ini EWORS telah berperan dalam hal menginformasikan data kasus DBD dari segi
jumlah, gejala/karakteristik penyakit, tempat/lokasi, dan waktu kejadian dari seluruh rumah sakit
DATI II di Indonesia (Sidemen A., 2003)

Upaya pencegahan perluasan KLB meliputi:
Pengobatan penderita sebagai sumber penularan penyakit penyebab KLB
Perbaikan kondisi lingkungan sebagai sumber penyebaran penyakit
Meningkatkan daya tahan tubuh dengan perbaikan gizi dan imunisasi

Bahwa suatu wabah telah terjadi perlu dikonfirmasikan terlebih dahulu untuk kemudian perlu
dicarikan cara atau langkah penanggulangannya yang efektif dan efisien.
Secara garis besarnya langkah-langkahnya kurang lebih sebagai berikut :
1. Tegakkan diagnosa penyakit(atau masalah kesehatan) dengan benar.
2. Menetapkan apakah kondisi (terutama frekwensi) sudah dapat dikategorikan mewabah
(epidemis)
3. Deskripsikan penyebaran wabah menurut orang, tempat, dan waktu, atau menguraikan
pertanyaan 5W+1H.
4. Apakah dari uraian pada tahap deskriptif tersebut dapat tersusun gambaran Natural
History yang kemudian dapat dikenali gaps of knowledge yang dapat dipakai untuk
menyusun hipotesa tentang terjadinya dan penyebarannya wabah tersebut.
5. Menyusun strategi penanggulangannya dan menkankan pada upaya preventif dan
diagnosa dini dengan cara pemutusan mata rantai penularan.
6. Menyusun laporan dari semua data menjadi hasil laporan.

Stakeholder yang dapat berperan pada kasus penyakit ini adalah :
1. Dinas Kesehatan Kota/kabupaten (DKK). Peranannya yang dapat dilakukan adalah sebagai
berikut :
Penentuan atau pengambilan keputusan sebagai kebijakan yang akan dilaksanakan terkait
denganmasalah malaria. Misalnya, kebijakan DKK dalam penanggulangan dan
pemberantasan malaria melalui pendekatan roll back malaria (RBM) yang
dioperasionalkan melalui Gerakan Berantas Kembali atau GEBRAK malaria.
Penyebaran informasi yang terkait dengan di daerah rawan/berpotensi terjadinya atau
munculnya kasus malaria dan daerah endemis malaria, serta langkah-langkah yang harus
diambil pada saat kasus muncul.
2. Puskesmas; Peranan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
13

Menegaskan kembali program-program pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan
yang tersendat atau tidak berjalan akibat adanya beberapa faktor tertentu.
Melakukan program-program yang bersifat teknis. Misalnya, deteksi dini melalui metode
mass fever survey dan mass blood survey, fogging, melaksanakan program 3M++,
penyuluhan, dan beberapa program pencegahan, penanggulangan, dan pemberantasan
lainnya.
3. Stakeholder Kunci
Stakeholder ini mempunyai peran yang tidak klalah penting. Adapun hal-hal yang dapat
dilakukan oleh stakeholder ini diantaranya adalah
4. Key person dapat lebih meyakinkan masyarakat mengenai pentingnya program-program
dari puskesmas atau DKK.
Key person dianggap sebagai panutan atau contoh yang dianut masyarakat tersebut.
Sehingga adanya hubungan antara dinas atau lembaga kesehatan dengan key person
mempermudah berjalannya program-program yang dijalankan

Pencegahan terjadinya wabah/KLB adalah :
A.Pencegahan tingkat pertama
1. Menurunkan faktor penyebab terjadinya wabah serendah mungkin dengan cara desinfeksi,
pasteurisasi, sterilisasi yang bertujuan untuk menghilangkan mikroorganisme penyebab penyakit
dan menghilangkan sumner penularan.
2. Mengatasi/modifikasi lingkungan melalui perbaikan lingkungan fisik seperti peningkatan air
bersih, sanitasi lingkungan, peningkatan lingkungan biologis seperti pemberntasan serangga dan
binatang pengerat serta peningkatan lingkungan sosial seperti kepadatan rumah tangga.
3. Meningkatkan daya tahan pejamu meliputi perbaikan status gizi,kualitas hidup penduduk,
pemberian imunisasi serta peningkatan status psikologis.

B. Pencegahan tingkat kedua
Sasaran pencegahan ini terutama ditunjukkan pada mereka yang menderita atau dianggap
menderita (suspek) atau yang terancam akan menderita (masa tunas) dengan cara diagnosis dini
dan pengobatan yang tepat agar dicegah meluasnya penyakit atau untuk mencegah timbulnya
wabah serta untuk segera mencegah proses penyakit lebih lanjut serta mencegah terjadinya
komplikasi.

C. Pencegahan tingkat ketiga
Bertujuan untuk mencegah jangan sampai penderita mengalami cacat atau kelainan permanen,
mencegah bertambah parahnya suatu penyakit atau mencegah kematian akibat penyakit tersebut
dengan dilakukannya rehabilitasi.

D. Strategi pencegahan penyakit
Dilakukan usaha peningkatan derajad kesehatan individu dan masyarakat, perlindungan terhadap
ancaman dan gangguan kesehatan, pemeliharaan kesehatan, penanganan dan pengurangan
gangguan serta masalah kesehatan serta rehabilitasi lingkungan




14

LI.2 Memahami dan menjelaskan tentang Penyelidikan Epidemiologi


LO 2.1 Memahami dan menjelaskan tentang definisi Penyelidikan Epidemiologi

Penyelidikan epidemiologi (PE) adalah rangkaian kegiatan untuk mengetahui suatu
kejadian baik sedang berlangsung maupun yang telah terjadi, sifatnya penelitian, melalui
pengumpulan data primer dan sekunder, pengolahan dan analisa data, membuat kesimpulan dan
rekomendasi dalam bentuk laporan.

LO 2.2 Memahami dan menjelaskan tentang tujuan Penyelidikan Epidemiologi

Mendapatkan besaran masalah yang sesunguhnya, Mendapatkan gambaran klinis dari
suatu penyakit, Mendapatkan gambaran kasus menurut variabel Epidemiology, Mendapatkan
informasi tentang faktor risiko (lingkungan, vektor, perilaku, dll) dan etiologi, Dari ke empat
tujuan di tersebut dapat dianalisis sehingga dapat memberikan suatu penanggulangan atau
pencegahan dari penyakit itu.

LO 2.3 Memahami dan menjelaskan tentang Langkah langkah Penyelidikan Epidemiologi

A. Tahap survey pendahuluan :
a. Memastikan adanya KLB
b. Menegakkan diagnose
c. Buat hypotesa sementara (penyebab, cara penularan, faktor yang mempengaruhi)
B. Tahap pengumpulan data :
a. Identifikasi kasus kedalam variable epid (orang, tempat, waktu)
b. Uji hipotesis
c. Menentukan kelompok yang rentan
C. Tahap pengolahan data :
a. Lakukan pengolahan menurut variable epid, menurut ukuran epid, dan nilai statistic.
b. Lakukan analisa data menurut variable epid, ukuran epid, dan nilai statistic.
Bandingkan dengan nilai yang sudah ada.
c. Buat interpretasi hasil analisa
d. Buat laporan hasil penanggulangan
D. Tentukan tindakan penanggulangan dan pencegahan :
a. Tindakan penanggulangan :
- Pengobatan penderita
- Isolasi kasus
b. Tindakan pencegahan :
- Survailans yang ketat
- Perbaikan mutu lingkungan
- Perbaikan status kesehatan masyarakat
1. Indikasi
a. Pencegahan dan penanggulangan
b. Laporan masyarakat, politik, serta kepentingan legal aspek
c. On the job training
15

d. Penelitian
e. Masalah program pemberantasan

LI.3 Memahami dan Menjelaskan tentang Aspek social budaya dalam perilaku pengobatan

1. Definisi Perilaku
- Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai
bentangan yang sangat luas, contohnya berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja,
kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa
yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik
yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo,
2003).
- Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), merumuskan bahwa
perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan
dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap
organisme, dan kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut
teori S-O-R atau Stimulus Organisme Respon.
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua
(Notoatmodjo, 2003) :
a. Perilaku tertutup (convert behavior)
Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau
tertutup (convert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian,
persepsi, pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus
tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.

b. Perilaku terbuka (overt behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap
stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek, yang dengan mudah dapat
diamati atau dilihat oleh orang lain.

2. Klasifikasi Perilaku Kesehatan
Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2003) adalah suatu respon seseorang (organisme)
terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit, sistim pelayanan
kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan. Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat
diklasifikasikan menjadi 3 kelompok :
a. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance).
Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar
tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit.
b. Perilaku pencarian atau penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan, atau sering disebut
perilaku pencairan pengobatan (health seeking behavior). Perilaku ini adalah menyangkut
upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan.
c. Perilaku kesehatan lingkungan
Adalah apabila seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya,
dan sebagainya.

3. Domain Perilaku
16

Menurut Bloom, seperti dikutip Notoatmodjo (2003), membagi perilaku itu didalam 3 domain
(ranah/kawasan), meskipun kawasan-kawasan tersebut tidak mempunyai batasan yang jelas dan
tegas. Pembagian kawasan ini dilakukan untuk kepentingan tujuan pendidikan, yaitu
mengembangkan atau meningkatkan ketiga domain perilaku tersebut, yang terdiri dari ranah
kognitif (kognitif domain), ranah affektif (affectife domain), dan ranah psikomotor (psicomotor
domain).
Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan dan untuk kepentingan pengukuran
hasil, ketiga domain itu diukur dari :
a. Pengetahuan (knowlegde)
Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan
terhadap suatu objek tertentu. Tanpa pengetahuan seseorang tidak mempunyai dasar untuk
mengambil keputusan dan menentukan tindakan terhadap masalah yang dihadapi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang :
- Faktor Internal : faktor dari dalam diri sendiri, misalnya intelegensia, minat, kondisi
fisik.
- Faktor Eksternal : faktor dari luar diri, misalnya keluarga, masyarakat, sarana.
- Faktor pendekatan belajar : faktor upaya belajar, misalnya strategi dan metode dalam
pembelajaran.

Ada enam tingkatan domain pengetahuan yaitu :
- Tahu (Know) : Tahu diartikan sebagai mengingat kembali (recall) terhadap suatu materi
yang telah dipelajari sebelumnya.
- Memahami (Comprehension) : Suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara
benar.
- Aplikasi : Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.
- Analisis : Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek
kedalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi dan ada
kaitannya dengan yang lain.
- Sintesa : Sintesa menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan baru.
- Evaluasi : Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melaksanakan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu materi / objek.
b. Sikap (attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus
atau objek. Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap mempunyai tiga komponen pokok :
- Kepercayaan (keyakinan), ide, konsep terhadap suatu objek
- Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek
- Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave)
Seperti halnya pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan :
- Menerima (receiving) : Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan
memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek).
- Merespon (responding) : Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
17

- Menghargai (valuing) : Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan
suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
- Bertanggung jawab (responsible) : Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah
dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi.

c. Praktik atau tindakan (practice)
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk mewujudkan
sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang
memungkinkan, antara lain adalah fasilitas dan faktor dukungan (support) praktik ini mempunyai
beberapa tingkatan :
- Persepsi (perception) : Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan
tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktik tingkat pertama.
- Respon terpimpin (guide response) : Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan
yang benar dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktik tingkat
kedua.
- Mekanisme (mecanism) : Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan
benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah
mancapai praktik tingkat tiga.
- Adopsi (adoption) : Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah
berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasi tanpa mengurangi
kebenaran tindakan tersebut.
Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara langsung yakni dengan wawancara terhadap
kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari atau bulan yang lalu (recall).
Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau
kegiatan responden.
Menurut penelitian Rogers (1974) seperti dikutip Notoatmodjo (2003), mengungkapkan bahwa
sebelum orang mengadopsi perilaku baru didalam diri orang tersebut terjadi proses berurutan
yakni :
- Kesadaran (awareness) : Dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui
terlebih dahulu terhadap stimulus (objek)
- Tertarik (interest) : Dimana orang mulai tertarik pada stimulus
- Evaluasi (evaluation) : Menimbang-nimbang terhadap baik dan tidaknya stimulus
tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
- Mencoba (trial) : Dimana orang telah mulai mencoba perilaku baru.
- Menerima (Adoption) : Dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
4. Asumsi Determinan Perilaku
Menurut Spranger membagi kepribadian manusia menjadi 6 macam nilai kebudayaan.
Kepribadian seseorang ditentukan oleh salah satu nilai budaya yang dominan pada diri orang
tersebut. Secara rinci perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai gejala
kejiwaan seperti pengetahuan, keinginan, kehendak, minat, motivasi, persepsi, sikap dan
sebagainya.
Namun demikian realitasnya sulit dibedakan atau dideteksi gejala kejiwaan tersebut dipengaruhi
oleh faktor lain diantaranya adalah pengalaman, keyakinan, sarana/fasilitas, sosial budaya dan
sebagainya. Proses terbentuknya perilaku dapat diilustrasikan pada gambar berikut :
18



Bagan 5. Determinan perilaku
Beberapa teori lain yang telah dicoba untuk mengungkap faktor penentu yang dapat
mempengaruhi perilaku khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, antara lain :
1. Teori Lawrence Green (1980)
Green mencoba menganalisis perilaku manusia berangkat dari tingkat kesehatan. Bahwa
kesehatan seseorang dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yaitu faktor perilaku (behavior causes) dan
faktor diluar perilaku (non behavior causes).
Faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh :
- Faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap,
kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.
- Faktor pendukung (enabling factor), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia
atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya
puskesmas, obat-obatan, alat-alat steril dan sebagainya.
- Faktor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku
petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok referensi dari
perilaku masyarakat.

2. Teori Snehandu B. Kar (1983)
Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan bertitik tolak bahwa perilaku merupakan fungsi
dari :
- Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan
kesehatannya (behavior itention).
- Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya (social support).
- Adanya atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan
(accesebility of information).
- Otonomi pribadi orang yang bersangkutan dalam hal mengambil tindakan atau
keputusan (personal autonomy).
- Situasi yang memungkinkan untuk bertindak (action situation).
3. Teori WHO (1984)
WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang berperilaku tertentu adalah :
a. Pemikiran dan perasaan (thougts and feeling), yaitu dalam bentuk pengetahuan, persepsi,
sikap, kepercayaan dan penilaian seseorang terhadap objek (objek kesehatan).
- Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.
- Kepercayaan sering atau diperoleh dari orang tua, kakek, atau nenek. Seseorang
menerima kepercayaan berdasarkan keyakinan dan tanpa adanya pembuktian terlebih
dahulu.
19

- Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek. Sikap sering
diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain yang paling dekat. Sikap membuat
seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau objek lain. Sikap positif terhadap
tindakan-tindakan kesehatan tidak selalu terwujud didalam suatu tindakan tergantung
pada situasi saat itu, sikap akan diikuti oleh tindakan mengacu kepada pengalaman
orang lain, sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasar pada banyak
atau sedikitnya pengalaman seseorang.
b. Tokoh penting sebagai Panutan. Apabila seseorang itu penting untuknya, maka apa yang
ia katakan atau perbuat cenderung untuk dicontoh.
c. Sumber-sumber daya (resources), mencakup fasilitas, uang, waktu, tenaga dan
sebagainya.
d. Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan penggunaan sumber-sumber didalam suatu
masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup (way of life) yang pada umumnya
disebut kebudayaan. Kebudayaan ini terbentuk dalam waktu yang lama dan selalu
berubah, baik lambat ataupun cepat sesuai dengan peradapan umat manusia
(Notoatmodjo, 2003).

LI.4. Memahami Dan menjelaskan tentang Program Puskesmas

1. Pelayanan kesehatan
A. Sistem terdiri dari :
a. Input : Subsistem yang akan memberikan segala masukan untuk berfungsinya sebuah
sistem, seperti sistem pelayanan kesehatan :
- Potensi masyarakat
- Tenaga kesehatan
- Sarana kesehatan
b. Proses : Kegiatan yg berfungsi untuk mengubah sebuah masukan menjadi sebuah
hasil yg diharapkan dari sistem tersebut, yaitu berbagai kegiatan dalam pelayanan
kesehatan.
c. Output : Hasil yang diperoleh dari sebuah proses, Output pelayanan kesehatan :
pelayanan yang berkualitas, efektif dan efisien serta terjangkau oleh seluruh lapisan
masyarakat sehingga pasien sembuh & sehat optimal.
d. Outcome/Dampak : Akibat yang dihasilkan sebuah hasil dari sistem, relative lama
waktunya. Dampak sistem Pelayanan kesehatan adalah masyarakat sehat, angka
kesakitan & kematian menurun.
e. Umpan balik (feedback) : Suatu hasil yang sekaligus menjadikan masukan dan ini
terjadi dari sebuah sistem yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi, berupa
kualitas tenaga kesehatan
f. Lingkungan : Semua keadaan di luar sistem tetapi dapat mempengaruhi pelayanan
kesehatan.

B. Tingkat Pelayanan Kesehatan
Menurut Leavel & Clark dalam memberikan pelayanan kesehatan harus memandang pada
tingkat pelayanan kesehatan yg akan diberikan, yaitu :
20

a. Health promotion (promosi kesehatan) : Merupakan tingkat pertama dalam
memberikan pelayanan melalui peningkatan kesehatan, Contoh : kebersihan
perorangan, perbaikan sanitasi lingkungan.
b. Specifik protection (perlindungan khusus) : Masyarakat terlindung dari bahaya/
penyakit2 tertentu. Cth : Imunisasi, perlindungan keselamatan kerja
c. Early diagnosis and prompt treatment (diagnosis dini & pengobatan segera) : Sudah
mulai timbulnya gejala penyakit, Cth : survey penyaringan kasus.
d. Disability limitation (pembatasan cacat) : Dilakukan untuk mencegah agar pasien
atau masyarakat tidak mengalami dampak kecacatan akibat penyakit yang
ditimbulkan.
e. Rehabilitation (rehabilitasi) : Dilaksanakan setelah pasien didiagnosa sembuh. Sering
pada tahap ini dijumpai pada fase pemulihan terhadap kecacatan seperti latihan-
latihan yang diberikan pada pasien.

C. Lembaga pelayanan kesehatan
- Rawat jalan
- Institusi
- Hospice
- Community Based Agency
D. Lingkup sistem pelayanan kesehatan
- Tertiary health service : tenaga ahli/subspesialis (RS tipe A atau B)
- Secondary health care : RS yg tersedia tenaga spesialis
- Primary health care : Puskesmas, balai kesehatan

Rumah sakit dapat dibagi dalam beberapa jenis menurut kategorinya :
- Menurut pemilik : pemerintah, swasta
- Menurut filosofi yang dianut : profit hospital dan non profit hospital
- Menurut jenis pelayanan yang diselenggarakan : General Hospital dan Specialty
Hospital
- Menurut lokasi (pemerintah) : pusat, provinsi dan kabupaten

Menurut kemampuan yang dimiliki rumah sakit di Indonesia dapat digolongkan dalam beberapa
kategori :
- Rumah sakit tipe A : Specialis dan sub specialis lebih luas, Top referral hospital
- Rumah sakit tipe B : Specialis dan sub specialis terbatas, pelayanan rujukan dari
kabupaten
- Rumah sakit tipe C : Spesialis terbatas, Pelayanan rujukan dari Puskesmas
- Rumah sakit tipe D : Pelayanan rujukan dari Puskesmas
- Rumah sakit tipe E : (rumah sakit khusus) : RS Jiwa, RS Jantung, RS Paru, kanker,
Kusta.

Puskesmas dibina oleh Dinas Kesehatan kabupaten/kota terkait kegiatan upaya
kesehatan masyarakat (UKM)
Puskesmas dibina oleh rumah sakit kabupaten/kota terkait upaya kesehatan
perorangan (UKP)
Sedang dalam proses untuk penggabungan UKM dan UKP
21


- UKM
Pemerintah dan peran serta aktif masyarkat dan swasta.
Mencakup: promkes, pemeliharaan kes, P2M, keswa, pengendalian penyakit tdk menular,
sanitasi dasar, gizi masyarakat.
- UKP
dapat diselenggarakan oleh masyarakat, swasta dan Pemerintah .
Mencakup: promkes, pencegahan, pengobatan rwt jalan, pengobt rwt inap, rehabilitasi

E. Faktor yang mempengaruhi pelayanan kesehatan
- Ilmu pengetahuan & teknologi baru
- Pergeseran nilai masyarakat
- Aspek legal dan etik
- Ekonomi
- Politik

F. Masalah sistem pelayanan kesehatan
- Upaya Kesehatan
- Pembiayaan Kesehatan
- Sumber Daya Manusia Kesehatan
- Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Makanan
- Manajemen dan Informasi Kesehatan
- Pemberdayaan Masyarakat
G. Undang- undang sistem pelayanan kesehatan
- Landasan Adil, yaitu Pancasila
- Landasan Konstitusional, yaitu UUD 1945, khususnya: Pasal 28 A, setiap orang
berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.
Pasal 28 A ayat (1), setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan
22


PUSKESMAS
1. Definisi
- Dr AZRUL AZWAR, MPH ( 1990 )
Pusat Kesehatan Masyarakat : adalah suatu keseatuan organisasi fungsional yang
langsung memberikan pelayanan secara menyeluruh kepada masyarakat dalam suatu
wilayah kerja tertentu dalam bentuk-bentuk usaha kesehatan pokok.
- DEPARTEMEN KESEHATAN RI 1981
Pusat Kesehatan Masyarakat ( Puskesmas ) adalah : suatu kesatuan organisasi
Kesehatan
yang langsung memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terintegrasi di
masyaakat disuatu wilayah kerja tertentu dalam usaha-usaha kesehatan pokok
- DEPARTEMEN KESEHATAN RI 1987
Puskesmas adalah sebagai pusat pembangunan kesehatan masyarakat serta
menyelenggarakan pelayanan kesehatan terdepan dan terdekat dengan masyarakat
dalam bentuk kegiatan pokok yang menyeluruh dan terpadu di wilayah kerjanya.
- Menurut Kepmenkes RI No.128/Menkes/SK/II/2004
Puskesmas adalah UPTD Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab
menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.

2. Visi, Misi, Tujuan, dan Fungsi puskesmas
a. Visi
- Tercapainya kecamatan sehat
23

- Masyarakat yang hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, memiliki kemampuan
untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta
memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
b. Misi
- Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya.
- Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah
kerjanya.
- Memelihara dan meningkatkan mutu pemerataan dan keterjangkauan pelayanan
kesehatan yang diselenggarakannya.
- Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat
beserta lingkungannya.
c. Tujuan
Mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional yakni; meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di
wilayah kerja puskesmas.
d. Fungsi Puskesmas
Pusat pembangunan berwawasan kesehatan.
Mengupayakan program-program pembangunan yang berwawasan kesehatan,yaitu :
- Berupaya menggerakkan lintas sektor dan dunia usaha di wilayah kerjanya agar
menyelenggarakan pembangunan yang berwawasan kesehatan.
- Aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap
program pembangunan di wilayah kerjanya.
- Mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan
penyembuhan dan pemulihan.
- Pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat.

Berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga, dan masyarakat :
a. Memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat
untuk hidup sehat.
b. Berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk pembiayaan.
c. Ikut menetapkan, menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan.

Pusat pelayanan kesehatan strata pertama.
Yaitu menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan
berkesinambungan yang meliputi :
- Pelayanan kesehatan masyarakat (public goods)
- Pelayanan kesehatan perorangan(private goods)

3. Program Pokok Puskesmas
- Promosi Kesehatan
- Kesehatan Lingkungan
- Pencegahan Pemberantasan Penyakit Menular
- Kesehatan Keluarga Dan Reproduksi
- Perbaikan Gizi Masyarakat
- Penyembuhan Penyakit Dan Pelayanan Kesehatan

24

3.1.Promosi Kesehatan
A. Pengertian
Penyuluhan Kesehatan Masyarakat adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau
menciptakan kondisi bagi perorangan, kelompok dan masyarakat, dalam berbagai tatanan,
dengan membuka jalur komunikasi, menyediakan informasi, dan melakukan edukasi, untuk
meningkatkan pengetahuan, sikap dan prilaku, dengan melakukan advokasi, pembinaan suasana
dan gerakan pemberdayaan masyarakat untuk mengenali, menjaga/memelihara, meningkatkan
dan melindungi kesehatannya.
B. Tujuan
Tercapainya perubahan prilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan
memelihara prilaku sehat, serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang
optimal.
C. Sasaran
a. Pelaksanaan posyandu dan Pembinaan kader
b. Penyuluhan Kesehatan
- Penyuluhan dalam gedung
- Penyuluhan luar gedung
- Kelompok posyandu
- Penyuluhan masyarakat
- Anak sekolah
- Penyuluhan perorangan : PHN
c. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
d. Advokasi program kesehatan dan program prioritas
Kampanye program prioritas antara lain : vitamin A, narkoba, P2M DBD, HIV, malaria, diare
e. Promosi kesehatan tentang narkoba
f. Promosi tentang kepesertaan jamkesmas
g. Pembinaan dana sehat/jamkesmas

3.2.Kesehatan Lingkungan
A. Pengertian
Berdasarkan teori Blum, lingkungan merupakan salah satu faktor yang pengaruhnya paling besar
terhadap status kesehatan masyarakat di samping faktor pelayanan kesehatan, faktor genetik dan
faktor prilaku. Bahaya potensial terhadap kesehatan yang diakibatkan oleh lingkungan dapat
bersifat fisik, kimia maupun biologi. Sejalan dengan kebijaksanaanParadigma Sehat yang
mengutamakan upaya-upaya yang bersifat promotif, preventif dan protektif. Maka upaya
kesehatan lingkungan sangat penting. Semua kegiatan kesehatan lingkungan yang dilakukan
oleh para staf Puskesmas akan berhasil baik apabila masyarakat berperan serta dalam
pelaksanaannya harus mengikut sertakan masyarakat sejak perencanaan sampai pemeliharaan.
B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Kegiatan peningkatan kesehatan lingkungan bertujuan terwujudnya kualitas lingkungan yang
lebih sehat agar dapat melindungi masyarakat dari segala kemungkinan resiko kejadian yang
dapat menimbulkan gangguan dan bahaya kesehatan menuju derajat kesehatan keluarga dan
masyarakat yang lebih baik.
b. Tujuan Khusus
25

- Meningkatkan mutu lingkungan yang dapat menjamin masyarakat mencapai
derajat kesehatan yang optimal
- Terwujudnya pemberdayaan masyarakat dan keikut sertaan sektor lain yang
bersangkutan, serta bertanggung jawab atas upaya peningkatan dan pelestarian
lingkungan hidup.
- Terlaksananya peraturan perundangan tentang penyehatan lingkungan dan
permukiman yang berlaku.
- Terselenggaranya pendidikan kesehatan guna menunjang kegiatan dalam
peningkatan kesehatan lingkungan dan pemukiman.
- Terlaksananya pengawasan secara teratur pada sarana sanitasi perumahan,
kelompok masyarakat, tempat pembuatan/penjualan makanan, perusahaan dan
tempat-tempat umum.
C. Kegiatan
Kegiatan-kegiatan utama kesehatan lingkungan yang harus dilakukan Puskesmas meliputi:
- Penyehatan air
- Penyehatan makanan dan minuman
- Pengawasan pembuangan kotoran mannusia
- Pengawasan dan pembuangan sampah dan limbah
- Penyehatan pemukiman
- Pengawasan sanitasi tempat umum
- Pengamanan polusi industri
- Pengamanan pestisida
- Klinik sanitasi

3.3.Pencegahan Pemberantasan Penyakit Menular
A. Penyakit Menular
Adalah penyakit yang disebabkan oleh agent infeksi atau toksinnya, yang beraasal dari sumber
penularan atau reservoir, yang ditularkan/ ditansmisikan kepada pejamu (host) yang rentan.
B. Kejadian Luar Biasa (KLB)
Adalah kejadian kesakitan atau kematian yang menarik perhatian umum dan mungkin
menimbulkan kehebohan/ketakutan di kalangan masyarakat, atau menurut pengamatan
epidemiologik dianggap adanya peningkatan yang berarti (bermakna) dari
kejadiankesakitan/kematian tersebut kepada kelompok penduduk dalam kurun tertentu.
C. Wabah Penyakit Menular
Adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah
penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah
tertentu serta dapat mennnimbulkan malapetaka (U.U. No. 4 tahun 1984 tentang wabah penyakit
yang mennular)
D. Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular (P2M)
Penanggulangan KLB penyakit menular dilaksanakan dengan upaya-upaya:
a. Pengobatan, dengan memberikan pertolongan penderita, membangun pos-pos
kesehatan di tempat kejadian dengan dukungan tenaga dan sarana obat yang
memadai termasuk rujukan.
b. Pemutusan rantai penularan atau upaya pencegahan misalnya, abatisasi pada KLB,
DBD, Kaporisasi pada sumur-sumur yang tercemar pada KLB diare, dsb.
26

c. Melakukan kegiatan pendukung yaitu penyuluhan , pengamatan/pemantauan
(surveinlans ketat) dan logistik.
d. Program Pencegahan
Adalah mencegah agar penyakit menular tidak menyebar didalam masyarakat, yang dilakukan
antara lain dengan memberikan kekebalan kepada host melalui kegiatan penyuluhan kesehatan
dan imunisasi.
e. Cara Penularan Penyakit Menular
Dikenal beberapa cara penularan penyakit menular yaitu:
- Penularan secara kontak
- Penularan melalui vehicle seperti melalui makanan dan minuman yang tercemar
- Penularan melalui vector
- Penularan melalui suntikan, transfusi, tindik dan tato.
f. Surveilans Evidemiologi Penyakit Menular
Adalah suatu kegiatan pengumpulan data/informasi melalui pengamatan terhadap
kesakitan/kematian dan penyebarannya serta faktor-faktor yang mempengaruhinya secar
sistematik, terus menerus dengan tujuan untuk perencanaan suatu program, mengevaluasi hasil
program, dan sistem kewaspadaan dini. Secara singkat dapat dikatakan: Pengumpulan
Data/Informasi Untuk Menentukan Tindakan (Surveillance For Action).

g. Program Pemberantasan Penyakit Menular
- Program imunisasi
- Program TB paru dengan kegiatan penemuan penderita TBC
- Program malaria dengan angka insiden malaria (AMI)
- Program ISPA dengan frekuensi penemuan dan penaggulangan pneumonia
- Program diare meliputi frekuensi penanggulangan diare
- Program rabies
- Program Surveilans
- Pemberantasan P2B2 demam berdarah

3.4.Kesehatan Keluarga dan Reproduksi
A. Pengertian
Kesehatan Keluarga adalah wujud keluarga sehat, kecil bahagia dan sejahtra dari suami istri,
anak dan anggota keluarga lainnya (UU RI no 23 th 1992)
Kesehatan Reproduksi adalah kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh. Bukan hanya
bebas dari penyakit dan kecacatan, dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem
reproduksi, fungsi serta prosesnya.(WHO)
B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Meningkatkan kesadaran kemandirian wanita dan keluarganya dalam mengatur biologik
keluarga termasuk fungsi reproduksinya serta berperan serta aktif dalam mencegah dan
menyelesaikan masalah kesehatan keluarga serta meningkatkan kualitas hidup keluarga
b. Tujuan Khusus
- Peran serta aktif wanita dan keluarganya dalam mencegah dan memecahkan
masalah kesehatan keluarga dan masalah reproduksi
27

- Memberikan informasi, edukasi terpadu mengenai seksualitas dan kesehatan
reproduksi, manfaat dan resiko dari: obat, alat, perawatan, tindakan serta
kemampuan memilih kontrasepsi dengan tepat
- Melaksanakan pelayanan kesehatan reproduksi yang berkualitas
- Melaksanakan pelayanan kontrasepsi yang aman dan efektif
- Kehamilan dap persalinan yang direncanakan dan aman
- Pencegahan dan penanganan engguguran kandungan yang tidak dikehendaki
- Pelayanan infertilitas
- Informasi secara menyeluruh tentang pengaruh defisiensi hormon di usia lanjut
pada usia lanjut penapisan masalah malignasi
C. Kebijaksanaan Penyelenggaraan Pembinaan Kesehatan Keluarga dan Reproduksi
Sesuai dengan intervensi nasional penanggulangan masalah kesehatan reproduksi di
indonesia berdasarkan rekomendasi strategi regional WHO untuk negara-negara Asia
Tenggara, maka kegiatan pelayanan reproduksi adalah:
- Kesehatan Ibu Dan Anak
- Kesehatan Anak Usia Sekolah
- Kesehatan Remaja, termasuk pencegahan serta penanganan PMS (Penyakit
Menular akibat Hubungan Seks, HIV/AIDS)
- Keluarga Berencana
- Kesehatan Usia Lanjut (Program Pengembangan Puskesmas)
D. Indikator keberhasilan
Indikator keberhasilan program di wilayah kerja dinilai dari:
- Angka Kematian Bayi
- Angka Kematian Ibu
- Prosentase Ibu Hamil Yang Mempunyai Berat Badan Dan Tinggi Yang Normal
- Prosentase Ibu Hamil Dengan Anemia
- Prosentase Balita Dengan Berat Badan Dan Tinggi Sesuai Umur




3.4.1. Kesehatan ibu dan anak
A. Pengertian
Adalah upaya kesehatan primer yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan kesehatan ibu
dalam menjalankan fungsi reproduksi yang berkualitas serta upaya kelangsungan hidup,
pengembangan dan perlindungan bayi, anak bawah lima tahun (BALITA) dan anak usia pra
sekolah dalam proses tumbuh kembang.
Prioritas pelayanan KIA dewasa ini adalah meningkatkan derajat kesehatan ibbu dan anak dalam
rangka menurunkan angka kematian ibu dan anak.
Pelayanan KIA Puskesmas terdiri dari :
a. Pelayanan kesehatan asuhan kebidanan di wilayah Puskesmas
b. Pelayanan kesehatan bagi bayi, balita dan anak pra sekolah
B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Terciptanya pelayanan berkualitas denagn partisipasi penuh pengguna jasa dan keluarganya
dalam mewujudkan bahwa setiap ibu mempunyai kesempatan yang terbaik dalam hal waktu dan
28

jarak antar kehamilan, melahirkan bayi sehat yang aman dalam lingkungan yang kondusif sehat,
denagn asuhan antenatal yang ade kuat, dengan gizi serta persiapan menyusui yang baik.
b. Tujuan Khusus
a. Memberikan pelayanan kebidanan dasar dan KIE kepada ibu hamil termasuk KB
berupa pelayanan antenatal, pertolongan persalinan dan pelayanan nifas serta
perawatan bayi baru lahir.
b. Memberikan pertolongan pertama penanganan kedaruratan kebidanan dan neonatal
serta merujuk ke fasilitas rujukan primer (RS Dati II) sesuai kebutuhan
c. Memantau cangkupan pelayanan kebidanan dasar dan penagganan kedaruratan
kebidanan neonatal
d. Meningkatkan kualitas pelayanan KIA secara berkelanjutan
e. Menumbuhkan, mengoptimalkan dan memelihara peran serta masyarakat dalam
upaya KIA
f. Memberikan pelayanan kesehatan neonatal esensial seluruh bayi baru lahir yang
meliputi usaha pernafasan spontan, menjaga bayi tetap hangat, menyusui dini dan
eksklusif, mencegah interaksi serta tata laksana neonatal sakit
g. Melaksanakan pemeliharaan kesehatan kepada seluruh balita dan anak pra sekolah
yang meliputi perawatn bayi baru lahir, pemeriksaan kesehatan rutin pemberian
imunisasi dan upaya perbaikan gizi
h. Melaksanakan secara dini pelayanan program dan stimulasi tumbuh kembang pada
seluruh balita dan anak pra sekolah yang melipui perkembangan motorik,
kemampuan berbicara dan kognitif serta sosialisasi dan kemandirian anak
i. Melaksanakan management terpadu balita sakit yang datang berobat ke fasilitas
rawat jalan termasuk pelayanan pra rujukan dan tindak lanjutnya
C. Sasaran
Adalah ibu, bayi, balita, anak usia pra sekolah dan keluarga yang tinggal dan beraada di wilayah
kerja Puskesmas serta yang berkunjung ke Puskesmas.

3.4.2. Kesehatan Anak Usia Sekolah
A. Pengertian
Upaya terpadu lintas program dan lintas sektoral dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan
serta membentuk prilaku hidup sehat anak usia sekolah yang berada di sekolah dan perguruan
agama. Anak usia sekolah (7-21 tahun) sesuai proses tumbuh kembang di bagi 3 subkelompok
yaitu:
- Pra-remaja (7-9 tahun)
- Remaja (10-19 tahun)
- Dewasa Muda (20-21 tahun)




B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Meningkatkan derajat kesehatan peserta didik, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan
perkembangan yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia
seutuhnya
29

b. Tujuan Khusus
- Memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk melaksanakan prinssip hidup
sehat serta berpartisipasi aktif di dalam usaha peningkatan kesehatan sekolah,
perguruan agama, di rumah tangga maupun di lingkungan masyarakat
- Memiliki daya hayat dan daya tangkal terhadap pengaruh buruk, penyalah gunaan
narkotika dan bahan berbahaya, alkohol, rokok dan sebagainya
- Meningkatnya mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan bagi peserta didik ddik
sekolah dan diluar sekolah
- Terciptanya lingkungan kehidupan sehat di sekolah
C. Sasaran
Masyarakat sekolah dari tingkat pendidik dasar sampai dengan tingkat pendidikan menengah
termasuk perguruan agama,beserta lingkungannya, serta perguruan tinggi (tingkat 1 dan 2)

3.4.3. Kesehatan Remaja
A. Pengertian
Adalah pembinaan yang meliputi perencanaan, penilaian, pembimbingan dan pengendalian
segala upaya untuk meningkatkan status kesehatan remaja dan peningkatan peran serta aktif
remaja dalam perawatan kesehatan diri dan kesehaatan keluarga, dengan dukungan kerjasama
lintas program dan lintas ssektoral
B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Meningkatnya kemampuan hidup sehat remaja sebagai unsur kesehatan keluarga, guna membina
kesehatan diri dan lingkungannya dalam rangka meningkatkan ketahanan diri, prestasi dan peran
aktifnya dalam pembangunan nasional
b. Tujuan Khusus
- Meningkatkan pengetahuan remaja tentang perkembangan biologik yang terjadi
pada dirinya
- Menurunnya angka kehamilan dikalangan remaja
- Menurunnya angka kematian bayi dan ibu akibat kehamilan remaja
- Menurunnya angka kejadian Penyakit akibat hubungan seksual(PHS) di kalangan
remaja
- Meningkatnya peran serta aktif keluarga dan masyarakat dalam upaya pembinaan
kesehatan remaja.
C.Sasaran untuk wilayah Puskesmas
a. Sasaran Remaja
- Remaja berusia 10-19 tahun dan belum kawin dalam institusi pendidikan formal
dan non formal di wilayah Puskesmas
- Remaja berusia 10-19 tahun dan belum kawin dalam kelompok pekerja
- Remaja berusia 10-19 tahun dalam kelompok masyarakat (Olahraga, Kesenian,
PMI Remaja, Pramuka, Karang Taruna)
- Sasaran Pembina Remaja

3.4.4. Keluarga Berencana
A. Pengertian
Adalah upaya kesehatan primer yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan kesehatan
pasangan usia subur dalam menjalankan fungsi reproduksi yang berkualitas.
30

Prioritas pelayanan KB dewasa ini adalah meningkatkan derajat kesehatan pasangan usia subur
dan keluarganya dalam pengaturan kehamilan, baik jumlah dan waktu kehamilan serta jarak
antar kehamilan guna menurunkan angka kelahiran nasional
B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Adalah terciptanya pelayanan yang berkualitas dengan penuh pengguna jasa pelayanan dan
keluarganya dalam mewujudkan bahwa setiap pasangan usia subur mempunya kesempatan yang
terbaik dalam mengatur jumlah, waktu dan jarak antar kehamilan guna merencanakan dan
mewujudkan suatu keluarga kecil, bahagia dan sejahtra.
b. Tujuan Khusus
- Memberikan pelayanan kontrasepsi yang berkualitas dan KIE kepada pasangan usia
subur dan keluarganya
- Memberikan pertolongan pertama/penanganan efek samping dan kegagalan metode
kontrasepsi serta merujuk ke fasilitas rujukan primer (RS Dati II) sesuai dengan
kebutuhan
C.Sasaran
- Sasaran pelayanan KB adalah pasangan usia subur
- Calon pasangan usia subur
- Pasangan usia subur dengan wanita yang akan memasuki masa menoupaus
- Keluarga yang tinggal dan berada di wilayah kerja Puskesmas
- WUS yang datang pada pelayanan rawat jalan Puskesmas yang dalam fase intervensi
pelayanan KB.

3.5.Perbaikan Gizi masyarakat
A. Pengertian
Adalah kegiatan untuk mengupayakan peningkatan status gizi masyarakat dengan pengelolaan
terkoordinasi dari berbagai profesi kesehatan serta dukungan peran serta aktif masyarakat
B. Program
Upaya Perbaikan Gizi Puskesmas meliputi:
a. Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK)
b. Upaya Perbaikan Gizi Institusi (UPGI)
c. Upaya Penanggulangan Kelainan Gizi Yang Terdiri Dari:
- Pencegahan Dan Penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY)
- Pencegahan Dan Penanggulangan Anemia Besi (AGB)
- Pencegahan Dan Penanggulangan Kurang Kalori Energi Protein (KEP) Dan
Kurang Energi Kronis (KEK)
- Pencegahan Dan Penaggulangan Kekurangan Vitamin A (KVA)
- Pencegahan Dan Penaggulangan Masalah Kekurangan Gizi Mikro Lain
- Pencegahan Dan Penaggulangan Masalah Gizi Lebih
d.Sistem Kewaspadaan Pangan Dan Gizi (SKPG)

C.Tujuan
a. Tujuan Umum : Menanggulangi masalah gizi dan meningkatkan status gizi masyarakat
b. Tujuan Khusus
31

- Meningkatkan kemampuan dan peran serta masyarakat, keluarga dan seluruh
anggotanya untuk mewujudkan prilaku gizi yang baik dan benarsesuai denagn gizi
seimbang
- Meningkatkan perhatian dan upaya peningkatan status gizi warga dari berbagai
institusi pemerintahan serta swasta
- Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan petugas gizi/petugas Puskesmas
lainnya dalam merencanakan, melaksanakan, membina, memantau dan
mengevaluasi upaya perbaikan gizi masyarakat

3.6.Penyembuhan Penyakit dan Pelayanan Kesehatan

1.Pelayanan Medik Rawat Jalan
A. Pengertian
Adalah pelayanan medik yang dilakukan oleh pelaksana pelayanan (dokter) baik secara sendiri
ataupun atas koordinasi bersama dengan sesama profesi maupun pelaksana penunjang pelayanan
kesehatan lain sesuai dengan wewenangnya, untuk menyelesaikan masalah kesehatan dan
menyembuhkan penyakit yang ditemukan dari pengguna jasa pelayanan kesehatan, dengan tidak
memandang umur dan jenis kelamin, yang dapat diselenggarakan pada ruang praktek.
B. Tujuan
a. Tujuan Umum :
Tujuan pelayanan medik rawat jalan adalah terwujudnya pengguna jasa dan keluarganya yang
partisipatif, sehat sejahtera, badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap anggota keluarga
hidup produktif secara sosial dan ekonomi dengan baik
b. Tujuan Khusus
- Meningkatkan kemampuan dan peran serta masyarakat, keluarga dan seluruh
anggotanya untuk mengatasi masalah kesehatannya sendiri, trutama melalui
peningkatan kesehatan dasar dan pencegahan penyakit
- Meningkatkan kesehatan pengguna jasa pelayanan, dan komunikasi yang
dilayani oleh Puskesmas
C. Sasaran
Sasaran pelayanan medik rawat jalan yang diselenggarakan Puskesmas adalah semua anggota
masyarakat dengan tidak memandang umur, dan tidak membedakan strata sosial.

2. Pelayanan Kedaruratan Medik
A. Pengertian
Adalah pelayanan medik terdepan yang merupakan penatalaksanaan kecelakaan dan keadaan
kedaruratan medik berkenaan dengan perubahan keadaan baik fisiologik, anatomik dan mental
psikologikal dari pengguna jasa pelayanan, yang terjadi mendadak, yang tindakan mengatasinya
harus segera dilaksanakan di mulai dari tempat kejadian sampai dengan pelayanan medik untuk
menyelamatkan kehidupan.
B. Tujuan
Tujuan pelayanan kecelakaan dan kedaruratan medik adalah memberikan pertolongan medik
segera dengan menyelesaikan masalah kritis yang ditemukan untuk mengambil fungsi vital
tubbuh serta meringankan penderitaaan dari pengguna pelayanan.
C. Prinsip Kerja
32

Pelayanan kedaruratan medik mempunyai prinsip-prinsip kerja khusus yang harus dilaksanakan,
yaitu:
- Pertolongan harus cepat dan tepat
- Pertolongan harus memenuhi standar pelayanan tingkat primer

3. Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut
A. Pengertian
Adalah pelayanan gigi dan mulut yang dilakukan oleh pelaksana pelayanan medik ataupun
kesehatan yang berwenang dalam bidang kesehatan gigi dan mulut, yang dilaksanakan sendiri
atau bersama menurut fungsinya masing-masing, gguna mengantisifasi proses penyakit gigi dan
mulut dan permasalahannya secara keseluruhan, yang dapat dilaksanakan dalam prosedur
pelayanan di kamar praktek dan dengan pembinaan kesehatan wilayah setempat.
Pelayanan kesehatan gigi dan mulut meliputi:
a. Pelayanan kesehatan gigi dasar paripurna yang terintegrasi dengan program-program
lain di Puskesmas adalah pelayanan kesehatan gigi esensial yang terbanyak di
butuhkan oleh masyarakat dengan mengutamakan upaya peningkatan dan
pencegahan penyakit gigi.
b. Pelayanan kesehatan gigi khusus adalah upaya perlindungan khusus, tindakan,
pengobatan dan pemulihan masalah kesehatan gigi dan mulut serta pelayanan asuhan
sistemik kesehatan gigi dan mulut.
B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Tujuan pelayanan kesehatan gigi dan mulut adalah meningkatkannya partisipasi anggota
masyarakat dan keluarganya untuk bersama-sama mewujudkan tercapainya derajat kesehatan
gigi dan mulut masyarakat yang optimal
b. Tujuan Khusus
- Meningkatnya kesadaran, sikap dan prilaku masyarakat dalam kemampuan
pemeliharaan diri di bilang kesehatan gigi dan mulut dalam mencari
pertolongan sedini mungkin
- Meningkatkan kesehatan gigi pengguna jasa pelayanan, keluarga dan
komunikasinya
- Terselenggaranya pelayanan medik gigi dan mulut yang berkualitas serta
melibatkan partisipasi keluarga terhadap perawatan untuk:
c. Sasaran
Kelompok rentan untuk mendapatkan pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut yaitu:
- Anak sekolah dasar (upaya kesehatan gigi sekolah)
- kelompok ibu hamil dan menyusui
- Anak pra sekolah
- Kelompok masyarakat lain berpenghasilam rendah
- Lansia

3.7.Imunisasi
A. Definisi
Imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan, kekebalan seseorang secara aktif
terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit
atau sakit ringan. (Depkes RI, 2005).
33

B. Tujuan imunisasi
adalah diharapkan anak menjadi lebih kebal terhadap penyakit sehingga dapat menurunkan
angka mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan.(A.Aziz, 2008)
C. Jenis Imunisasi Dasar, dan Pemberian
a. Imunisasi pasif (passive immunization)
Imunisasi pasif ini adalah Immunoglobulin jenis imunisasi ini dapat mencegah
penyakitcampak (measles pada anak-anak).
b. Imunisasi aktif (active immunization)Imunisasi yang diberikan pada anak adalah :
- BCG, untuk mencegah penyakit TBC
- DPT, untuk mencegah penyakit-penyakit diptheri, pertusis dan tetanus
- Polio, untuk mencegah penyakit poliomilitis
- Campak, untuk mencegah penyakit campak (measles)
- Hepatitis B, untuk mencegah penyakit hepatitis B (Notoatmodjo. 1997)

Keberhasilan pemberian imunisasi pada anak dipengerhui oleh beberapa faktor, diantaranya
yaitu :
- Tingginya kadar antibodi pada saat dilakukan imunisasi
- Potensi antigen yang disuntikkan
- Waktu pemberian imunisasi
- Status nutrisi terutama protein karena protein diperlukan untuk sintesis
antibodi

D. Jadwal Imunisasi TT ibu hamil
a. Bila ibu hamil sewaktu caten (calon pengantin) sudah mendapat TT sebanyak 2 kali,
maka kehamilan pertama cukup mendapat TT 1 kali, dicatat sebagai TT ulang dan
pada kehamilan berikutnya cukup mendapat TT 1 kali saja yang dicatat sebagai TT
ulang juga.
b. Bila ibu hamil sewaktu caten (calon pengantin) atau hamil sebelumnya baru
mendapat TT 1 kali, maka perlu diberi TT 2 kali selama kehamilan ini dan
kehamilan berikutnya cukup diberikan TT 1 kali sebagai TT ulang
c. Bila ibu hamil sudah pernah mendapat TT 2 kali pada kehamilan sebelumnya, cukup
mendapat TT 1 kali dan dicatat sebagai TT ulang.

34



E. Cara pemberian dan dosis
a. Sebelum digunakan, vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi
homogen.
b. Untuk mencegah tetanus/tetanus neonatal terdiri dari 2 dosis primer yang
disuntikkan secara intramuskular atau subkutan dalam, dengan dosis pemberian 0,5
ml dengan interval 4 minggu. Dilanjutkan dengan dosis ketiga setelah 6 bulan
berikutnya. Untuk mempertahankan kekebalan
terhadap tetanus pada wanita usia subur, maka dianjurkan diberikan 5 dosis. Dosis ke empat dan
ke lima diberikan dengan interval minimal 1 tahun setelah pemberian dosis ke tiga dan ke empat.
Imunisasi TT dapat diberikan secara aman selama masa kehamilan bahkan pada periode
trimester pertama.
c. Di unit pelayanan statis, vaksin TT yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama
4 minggu
d. Di posyandu, vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari
berikutnya

F. Efek Samping : Efek samping jarang terjadi dan bersifat ringan, gejalanya seperti lemas
dan kemerahan pada lokasi suntikan yang bersifat sementara dan kadang-kadang gejala
demam. (Depkes RI, 2005).

G. Kontraindikasi Vaksin TT : Ibu hamil atau WUS yang mempunyai gejala-gejala berat
(pingsan) karena dosis pertama TT. (Depkes RI, 2005).

H. Kerusakan Vaksin : Keterpaparan suhu yang tidak tepat pada vaksin TT menyebabkan
umur vaksin menjadi berkurang dan vaksin akan rusak bila terpapar /terkena sinar
matahari langsung. (Depkes RI, 2005).

35

I. Perencanaan Program Vaksinansi
Pada program imunisasi menentukan jumlah sasaran merupakan suatu unsur yang paling penting.
Menghitung jumlah sasaran ibu hamil didasarkan 10 % lebih besar dari jumlah bayi. Perhitungan
ini dipakai untuk tingkat pusat, propinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan desa.

J. Sasaran Imunisasi Ibu Hamil = 1,1 x Jumlah bayi


LI.5 Memahami dan menjelaskan tentang Rujukan kesehatan

1. Definisi
Penyerahan Tanggungjawab dari satu pelayanan kesehatan ke pelayanan kesehatan lain. Secara
lengkap : suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan
tanggungjawab timbal balik terhadap suatu kasus penyakit/masalah kesehatan, secara vertikal
dari unit yang berkemampuan kurang ke unit yang lebih mampu atau secara horizontal yaitu
antar unit-unit yang setingkat kemampuannya.
Jenis rujukan ada 2 :
1. rujukan medis berkaitan upaya penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan
pasien. Hal ini berkaitan dengan pasien, pengetahuan dan bahan-bahan pemeriksaan.
2. rujukan kesehatan masyarakat berkaitan dengan upaya pencegahan penyakit dan
peningkatan kesehatan. Misalnya rujukan teknologi, sarana, operasional


2. Tujuan rujukan
dihasilkannya pemerataan upaya kesehatan dalam rangka penyelesaian masalah
kesehatan secara berdaya dan berhasil guna
meningkatkan mutu, cakupan dan efisiensi pelayanan kesehatan secara terpadu
pasien mendapatkan pertolongan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih mampu
sehingga jiwanya dapat terselamatkan, dengan demikian dapat menurunkan AKI dan
AKB
3. Syarat
A. Syarat rujukan
Adanya unit yang mempunyai tanggung jawab baik yang merujuk maupun yang menerima
rujukan :
a. Adanya pencatatan tertentu :
- Surat rujukan
- Kartu Sehat bagi klien yang tidak mampu
- Pencatatan yang tepat dan benar
36

- Kartu monitoring rujukan ibu bersalin dan bayi (KMRIBB)
b. Adanya pengertian timbal balik antar yang merujuk dan yang menerima rujukan
c. Adanya pengertian tugas tentang system rujuikan
d. Sifat rujukan horizontal dan vertical (kearah yang lebih mampu dan lengkap).

B. Kriteria rujukan
a. Rujukan harus dibuat oleh orang yang mempunyai kompetensi dan wewenang
untuk merujuk, mengetahui kompetensi sasaran/tujuan rujukan dan mengetahui
kondisi serta kebutuhan objek yang dirujuk.
b. Rujukan dan rujukan balik mengacu pada standar rujukan pelayanan medis Daerah
c. Agar rujukan dapat diselenggarakan tepat dan memadai, maka suatu rujukan
hendaknya memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
- Adanya unit yang mempunyai tanggungjawab dalam rujukan, baik yang merujuk
atau yang menerima rujukan.
- Adanya Tenaga kesehatan yang kompeten dan mempunyai kewenangan
melaksanakan pelayanan medis dan rujukan medis yang dibutuhkan.
- Adanya pencatatan/kartu/dokumen tertentu berupa :
Formulir rujukan dan rujukan balik sesuai contoh.
Kartu Jamkesmas, Jamkesda dan kartu Assuransi lain.
Pencatatan dan dokumen hasil pemeriksaan penunjang
Adanya pengertian timbal balik antara pengirim dan penerima rujukan.
Adanya pengertian petugas tentang sistem rujukan.
Rujukan dapat bersifat horizontal dan vertikal, dengan prinsip mengirim ke
arah fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih mampu dan lengkap.
d. Untuk menjamin keadaan umum pasien agar tetap dalam kondisi stabil selama
perjalanan menuju ketempat rujukan, maka :
- sarana transportasi yang digunakan harus dilengkapi alat resusitasi, cairan infus,
oksigen dan dapat menjamin pasien sampai ke tempat rujukan tepat waktu;
- pasien didampingi oleh tenaga kesehatan yang mahir tindakan kegawat daruratan;
- sarana transportasi/petugas kesehatan pendamping memiliki sistem komunikasi;
e. Rujukan pasien/specimen ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi dan
atau lengkap hanya dapat dilakukan apabila :
- dari hasil pemeriksaan medis, sudah terindikasi bahwa keadaan pasien tidak dapat
diatasi;
- pasien memerlukan pelayanan medis spesialis dan atau subspesialis yang tidak
tersedia di fasilitas pelayanan semula;
- pasien memerlukan pelayanan penunjang medis yang lebih lengkap yang tidak
tersedia di fasilitas pelayanan semula;
- pasien atau keluarganya menyadari bahwa rujukan dilaksanakan karena alasan
medis;
- rujukan dilaksanakan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat yang diketahui
mempunyai tenaga dan sarana yang dibutuhkan menurut kebutuhan medis
atau penunjang medis sesuai dengan rujukan kewilayahan;
- rujukan tanpa alasan medis dapat dilakukan apabila suatu rumah sakit
kelebihan pasien ( jumlah tempat tidur tidak mencukupi);
37

- rujukan sebagaimana dimaksud huruf f dirujuk ke rumah sakit yang setara
atau sesuai dengan jaringan pelayanannya;
- khusus untuk pasien Jamkesda dan pemegang Assuransi Kesehatan lainnya,
harus ada kejelasan tentang pembiayaan rujukan dan pembiayaan di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Tujuan Rujukan
- khusus untuk pasien Jamkesda hanya dapat dirujuk ke rumah sakit yang setara
yaitu ke PPK1 atau PPK 2 lainnya yang mengadakan kerjasama dengan Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat;
f. Fasilitas Pelayanan Kesehatan/tenaga kesehatan dilarang merujuk dan menentukan
tujuan rujukan atas dasar kompensasi/imbalan dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

4. Sistem lintas program dan sektoral
Keterpaduan lintas program : upaya memadukan penyelenggaraaan berupa pelayanan kesehatan
yang menjadi tanggungjawab Puskesmas.
Contoh :
a. MTBS ( Manajemen Terpadu Balita Sakit) : keterpaduan KIA dengan P2M, gizi,
promosi kesehatan, pengobatan
b. UKS (Upaya Kesehatan Sekolah)
c. Puskesmas keliling
d. Posyandu

Keterpaduan lintas sektor : upaya memadukan penyelenggaraan berbagai upaya
Pusjesmas dengan berbagai program dari sektor terkait tingkat kecamatan, termasuk
organisasi kemasyarakatan dan dunia usaha. Contoh :
a. Upaya kesehatan sekolah : keterpaduan sektor kesehatan dengan camat,
lurah/kepala desa, pendidikan, agama
b. Upaya promosi kesehatan : keterpaduan sektor kesehatan dengan camat,
lurah/kepala desa, pendidikan, agama
c. Upaya kesehatan ibu dan anak : : keterpaduan sektor kesehatan dengan camat,
lurah/kepala desa, pendidikan, agama
d. Upaya perbaikan gizi : keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kepala
desa, pendidikan, agama, dunia usaha
e. Upaya pembiayaan dan jaminan kesehatan : keterpaduan sektor kesehatan dengan
camat, lurah/kepala desa, pendidikan, agama
f. Upaya kesehatan kerja : keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kepala
desa, pendidikan, agama, tenaga kerja, dunia usaha

Jenis pelayanan kesehatan:
a. Pelayanan kesehatan tingkat pertama (primary health care)
Untuk masyarakat yang sakit ringan dan masyarakat yang sehat untuk meningkatkan kesehatan
mereka atau promosi kesehatan. Bentuk pelayanan : puskesmas, puskesmas pembantu,
puskesmas keliling, Balkesmas. Puskesmas pembantu : unit pelayanan kesehatan yang sederhana
dan berfungsi menunjang dan membantu memperluas jangkauan Puskesmas
b. Pelayanan kesehatan tingkat kedua (secondary health care) diperlukan pasien
yang rawat inap, yang sudah tidak bisa ditanganti tingkat pelayanan kesehatan
38

sekunder. Bentuk pelayanan : Rumah Sakit tipe C, memerlukan tersedianya
tenaga-tenaga spesialis
c. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga (tertiary health care) diperlukan pasien yang
tidak bisa ditangani pelayanan kesehatan sekunder, memerlukan tenaga-tenaga
superspesialis. Bentuk pelayanan : Rumah Sakit A dan B

Persiapan yang harus diperhatikan dalam melakukan rujukan , disingkat
BAKSOKU yang dijabarkan sebagai berikut :
c. B (bidang) : pastikan ibu/bayi/klien didampingi oleh tenaga kesehatan yang
kompeten dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan kegawatdaruratan
d. A (alat) : bawa perlengkapan dan bahan bahan yang diperlukan, seperti spuit, infus
set, tensimeter, dan stetoskop
e. K (keluarga) : beritahu keluarga tentang kondisi terakhir ibu (klien) dan alas an
mengapa ia dirujuk. Suami dan anggota keluarga yang lain harus menerima Ibu
(klien) ke tempat rujukan.
f. S (surat) : beri surat ke tempat rujukan yang berisi identifikasi ibu (klien), alasan
rujukan, uraian hasil rujukan, asuhan, atau obat obat yang telah diterima ibu (klien)
g. O (obat) : bawa obat obat esensial diperlukan selama perjalanan merujuk
h. K (kendaraan) : siapkan kendaraan yang cukup baik untuk memungkinkan ibu
(klien) dalam kondisi yang nyaman dan dapat mencapai tempat rujukan dalam waktu
cepat
i. U (uang) : ingatkan keluarga untuk membawa uang dalam jumlah yang cukup untuk
membeli obat dan bahan kesehatan yang di perlukan di tempat rujukan




5. Alur rujukan




39

LI.6. Memahami dan Menjelaskan Tujuan syariat islam dan hukum menjaga kesehatan dan
berobat

1. Wabah
Islam memandang konsep pencegahan tersebarnya penyakit dengan melakukan sistem karantina.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda, "Jika kalian mendengar wabah-wabah di suatu negeri,
maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada,
maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu." (HR. Bukhari Muslim). Selain itu, Nabi SAW
juga bersabda, "Orang yang melarikan diri dari tempat wabah adalah seperti orang yang
melarikan diri dari pertempuran di jalan Allah. Dan barangsiapa yang sabar dan tetap di
tempatnya, maka dia akan diberi pahala dengan pahala seorang yang mati di jalan Allah".

A. Menjaga kesehatan dan berobat
Sudah menjadi semacam kesepakatan, bahwa menjaga agar tetap sehat dan tidak terkena
penyakit adalah lebih baik daripada mengobati, untuk itu sejak dini diupayakan agar orang tetap
sehat. Menjaga kesehatan sewaktu sehat adalah lebih baik daripada meminum obat saat sakit.
Dalam kaidah ushuliyyat dinyatakan: Dari Ibn Abbas, ia berkata, aku pernah datang
menghadap Rasulullah SAW, saya bertanya: Ya Rasulullah ajarkan kepadaku sesuatu doa yang
akan akan baca dalam doaku, Nabi menjawab: Mintalah kepada Allah ampunan dan kesehatan,
kemudian aku menghadap lagipada kesempatan yang lain saya bertanya: Ya Rasulullah ajarkan
kepadaku sesuatu doa yang akan akan baca dalam doaku. Nabi menjawab: Wahai Abbas,
wahai paman Rasulullah saw mintalah kesehatan kepada Allah, di dunia dan akhirat. (HR
Ahmad, al-Tumudzi, dan al-Bazzar)
a. Pertama Mengatur Pola Makan dan Minum
Dalam ilmu kesehatan atau gizi disebutkan, makanan adalah unsur terpenting untuk menjaga
kesehatan. Kalangan ahli kedokteran Islam menyebutkan, makan yang halalan dan thayyiban.
Al-Quran berpesan agar manusia memperhatikan yang dimakannya, seperti ditegaskan dalam
ayat
maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.(QS. Abasa : 24 )

Dalam 27 kali pembicaraan tentang perintah makan, al-Quran selalu menekankan dua sifat, yang
halal dan thayyib, di antaranya dalam :

(Q.S Al-Baqarah : 168)
Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan
janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan; karena sesungguhnya syetan itu adalah
musuh yang nyata bagimu"
40

dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thayib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu
dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya( Q.S. Al-Maidah: 88)

Maka, makanlah dari rizki yang diberikan Allah kepadamu yang halal lagi baik, dan
bersyukurlah atas nikmat Allah jika benar ibadah(pengabdian)-mu hanya kepada-Nya semata
(An-Nahl :114)

b. Kedua Keseimbangan Beraktivitas dan Istirahat
Perhatian Islam terhadap masalah kesehatan dimulai sejak bayi, di mana Islam menekankan bagi
ibu agar menyusui anaknya, di samping merupakan fitrah juga mengandung nilai kesehatan.
Banyak ayat dalam al-Quran menganjurkan hal tersebut.
Nabi pernah berkata kepadaku: Hai hamba Allah, bukankah aku memberitakan bahwa kamu
puasa di szam? hari dan qiyamul laildimalam hari, maka aku katakan, benarya Rasulullah,
Nabi menjawab: Jangan lalukan itu, berpuasa dan berbukalah, bangun malam dan tidurlah,
sebab, pada badanmu ada hak dan pada lambungmujuga ada hak (HR Bukhari dan Muslim).

c. Ketiga Olahraga sebagai Upaya Menjaga Kesehatan
Aktivitas terpenting untuk menjaga kesehatan dalam ilmu kesehatan adalah melalui kegiatan
berolahraga. Kata olahraga atau sport (bahasa Inggris) berasal dari bahasa Latin Disportorea atau
deportore, dalam bahasa Itali disebut deporte yang berarti penyenangan, pemeliharaan atau
menghibur untuk bergembira. Olahraga atau sport dirumuskan sebagai kesibukan manusia untuk
menggembirakan diri sambil memelihara jasmaniah.
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari
kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan
musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang
Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu najkahkanpadajalan Allah niscaya akan dibalas
dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS.Al-Anfal :6o):



d. Keempat Anjuran Menjaga Kebersihan
Ajaran Islam sangat memperhatikan masalah kebersihan yang merupakan salah satu aspek
penting dalam ilmu kedokteran. Dalam terminologi Islam, masalah yang berhubungan dengan
kebersihan disebut dengan al-Thaharat. Dari sisi pandang kebersihan dan kesehatan, al-thaharat
merupakan salah satu bentuk upaya preventif, berguna untuk menghindari penyebaran berbagai
jenis kuman dan bakteri. Imam al-Suyuthi, Abd al-Hamid al-Qudhat, dan ulama yang lain
menyatakan, dalam Islam menjaga kesucian dan kebersihan termasuk bagian ibadah sebagai
bentuk qurbat, bagian dari taabbudi, merupakan kewajiban, sebagai kunci ibadah, Nabi
bersabda: Dari Ali ra., dari Nabi saw, beliau berkata: Kunci shalat adalah bersuci(HR Ibnu
Majah, al-Turmudzi, Ahmad, dan al-Darimi)
41


2. BEROBAT
A. HUKUM BEROBAT
a. Pendapat pertama mengatakan bahwa berobat hukumnya wajib, dengan alasan
adanya perintah Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam untuk berobat dan asal
hukum perintah adalah wajib, ini adalah salah satu pendapat madzhab Malikiyah,
Madzhab Syafiiyah, dan madzhab Hanabilah.
b. Pendapat kedua mengatakan sunnah/ mustahab, sebab perintah Nabi shallallahu
alaihi wa sallam untuk berobat dan dibawa kepada hukum sunnah karena ada
hadits yang lain Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan
bersabar, dan ini adalah madzhab Syafiiyah.
c. Pendapat ketiga mengatakan mubah/ boleh secara mutlak , karena terdapat
keterangan dalil- dalil yang sebagiannya menunjukkan perintah dan sebagian lagi
boleh memilih, (ini adalah madzhab Hanafiyah dan salah satu pendapat madzhab
Malikiyah).
d. Pendapat kelima mengatakan makruh, alasannya para sahabat bersabar dengan
sakitnya, Imam Qurtubi rahimahullah mengatakan bahwa ini adalah pendapat
Ibnu Masud, Abu Dardaradhiyallahu anhum, dan sebagian para Tabiin.
e. Pendapat ke enam mengatakan lebih baik ditinggalkan bagi yang kuat
tawakkalnya dan lebih baik berobat bagi yang lemah tawakkalnya, perincian ini
dari kalangan madzhab Syafiiyah.

B. BEROBAT HUKUMNYA BERBEDA-BEDA
1. Menjadi wajib dalam beberapa kondisi:
a. Jika penyakit tersebut diduga kuat mengakibatkan kematian, maka
menyelamatkan jiwa adalah wajib.
b. Jika penyakit itu menjadikan penderitanya meninggalkan perkara wajib
padahal dia mampu berobat, dan diduga kuat penyakitnya bisa sembuh,
berobat semacam ini adalah untuk perkara wajib, sehingga dihukumi wajib.
c. Jika penyakit itu menular kepada yang lain, mengobati penyakit menular
adalah wajib untuk mewujudkan kemaslahatan bersama.
d. Jika penyakit diduga kuat mengakibatkan kelumpuhan total,
atau memperburuk penderitanya, dan tidak akan sembuh jika dibiarkan, lalu
mudhorot yang timbul lebih banyak daripada maslahatnya seperti berakibat
tidak bisa mencari nafkah untuk diri dan keluarga, atau membebani orang lain
dalam perawatan dan biayanya, maka dia wajib berobat untuk kemaslahatan
diri dan orang lain.

2. Berobat menjadi sunnah/ mustahab
Jika tidak berobat berakibat lemahnya badan tetapi tidak sampai membahayakan diri dan orang
lain, tidak membebani orang lain, tidak mematikan, dan tidak menular , maka berobat menjadi
sunnah baginya.
3. Berobat menjadi mubah/ boleh
Jika sakitnya tergolong ringan, tidak melemahkan badan dan tidak berakibat seperti kondisi
hukum wajib dan sunnah untuk berobat, maka boleh baginya berobat atau tidak berobat.
4. Berobat menjadi makruh dalam beberapa kondisi
42

- Jika penyakitnya termasuk yang sulit disembuhkan, sedangkan obat yang
digunakan diduga kuat tidak bermanfaat, maka lebih baik tidak berobat karena
hal itu diduga kuat akan berbuat sis- sia dan membuang harta.
- Jika seorang bersabar dengan penyakit yang diderita, mengharap balasan
surga dari ujian ini, maka lebih utama tidak berobat, dan para ulama
membawa hadits Ibnu Abbas dalam kisah seorang wanita yang bersabar atas
penyakitnya kepada masalah ini.
- Jika seorang fajir/rusak, dan selalu dholim menjadi sadar dengan penyakit
yang diderita, tetapi jika sembuh ia akan kembali menjadi rusak, maka saat itu
lebih baik tidak berobat.
- Seorang yang telah jatuh kepada perbuatan maksiyat, lalu ditimpa suatu
penyakit, dan dengan penyakit itu dia berharap kepada Alloh mengampuni
dosanya dengan sebab kesabarannya.
Dan semua kondisi ini disyaratlkan jika penyakitnya tidak mengantarkan kepada kebinasaan, jika
mengantarkan kepada kebinasaan dan dia mampu berobat, maka berobat menjadi wajib.
5. Berobat menjadi haram
Jika berobat dengan sesuatu yang haram atau cara yang haram maka hukumnya haram, seperti
berobat dengan khomer/minuman keras, atau sesuatu yang haram lainnya.




























43

DAFTAR PUSTAKA