Anda di halaman 1dari 26

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hipertensi merupakan silent killer (pembunuh diam-diam) yang secara luas dikenal
sebagai penyakit kardiovaskular yang sangat umum. Dengan meningkatnya tekanan darah dan
gaya hidup yang tidak seimbang dapat meningkatkan faktor risiko munculnya berbagai penyakit
seperti arteri koroner, gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal. Salah satu studi menyatakan pasien
yang menghentikan terapi anti hipertensi maka lima kali lebih besar kemungkinannya terkena
stroke.
1

Sampai saat ini hipertensi tetap menjadi masalah karena beberapa hal, antara lain
meningkatnya prevalensi hipertensi yang belum mendapat pengobatan maupun yang sudah
diobati tetapi tekanan darahnya belum mencapai target, serta adanya penyakit penyerta dan
komplikasi yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortilitas.
2

Data epidemiologis menunjukkan bahwa dengan makin meningkatnya poulasi usia lanjut,
maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan besar akan bertambah, dimana baik
hipertensi sistolik maupun kombinasi hipertensi sistolik dan diastolik sering timbul pada lebih
dari separuh orang yang berusia >65 tahun. Selain itu, laju pengendalian tekanan darah yang
dahulu terus meningkat, dalam dekade terakhir tidak menunjukkan kemajuan lagi. Dan
pengendalian tekanan darah ini hanya mencapai 34% dari seluruh pasien hipertensi.
2













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi
American Society of Hypertension (ASH), pengertian hipertensi adalah suatu sindrom atau
kumpulan gejala kardiovaskuler yang progresif, sebagai akibat dari kondisi lain yang kompleks
dan saling berhubungan.
Menurut WHO tekanan darah dianggap normal bila sistoliknya 120-140 mmHg dan
diastoliknya 80-90 mmHg sedangkan dikatakan Hipertensi bila lebih dari 140/90 mmHg dan
diantara nilai tersebut dikatakan normal tinggi. Batasan ini berlaku bagi orang dewasa diatas 18
tahun.
Hipertensi merupakan suatu keadaan terjadinya peningkatan tekanan darah yang memberi
gejala berlanjut pada suatu target organ tubuh sehingga bisa menyebabkan kerusakan lebih berat
seperti stroke (terjadi pada otak dan berdampak pada kematian yang tinggi), penyakit jantung
koroner (terjadi pada kerusakan pembuluh darah jantung) serta penyempitan ventrikel kiri / bilik
kiri (terjadi pada otot jantung). Selain penyakit tersebut dapat pula menyebabkan gagal ginjal,
diabetes mellitus dan lain-lain.


2.2 Epidemiologi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi diderita oleh hampir semua golongan masyarakat di
seluruh dunia. Jumlah mereka yang menderita hipertensi terus bertambah;
terdapat sekitar 50 juta (21,7%) orang dewasa Amerika yang menderita hipertensi, Thailand
17%, Vietnam 34,6%, Singapura 24,9%, Malaysia 29,9%. Di Indonesia, prevalensi hipertensi
berkisar 6-15%.
1

Menurut perkiraan, sekitar 30% penduduk dunia tidak terdiagnosa adanya hipertensi
(underdiagnosed condition). Hal ini disebabkan tidak adanya gejala atau dengan gejala ringan
bagi mereka yang menderita hipertensi. Sedangkan, hipertensi ini sudah dipastikan dapat
merusak organ tubuh, seperti jantung (70% penderita hipertensi akan merusak jantung), ginjal,
otak, mata serta organ tubuh lainnya. Sehingga, hipertensi disebut sebagai silent killer.
1
Batasan hipertensi ditetapkan dan dikenal dengan ketetapan JNC VII (The Seventh Report
of The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of Hight
Blood Pressure). Ketetapan ini juga telah disepakati Badan Kesehatan Dunia (WHO), organisasi
hipertensi International (ISH), maupun organisasi hipertensi regional, termasuk Indonesia
(InaSH).
6

Penderita hipertensi yang tidak terkontrol sewaktu - waktu bisa jatuh kedalam keadaan
gawat darurat. Diperkirakan sekitar 1-8% penderita hipertensi berlanjut menjadi Krisis
Hipertensi, dan banyak terjadi pada usia sekitar 30-70 tahun. Tetapi krisis hipertensi jarang
ditemukan pada penderita dengan tekanan darah normal tanpa penyebab sebelumnya.
Pengobatan yang baik dan teratur dapat mencegah insiden krisis hipertensi menjadi kurang dari 1
%.
1,2


2.3 Etiologi
Penyebab hipertensi terbagi menjadi dua, yaitu esensial dan sekunder. Sebanyak 90 %
hipertensi esensial dan hanya 10 % yang penyebabnya diketahui seperti penyakit ginjal, kelainan
pembuluh darah, dan kelainan hormonal.
5

Hipertensi primer didefinisikan jika penyebab hipertensi tidak dapat diidentifikasi. Ketika
tidak ada penyebab yang dapat di identifikasi, sebagian besar merupakan interaksi yang
kompleks antara genetic dan interaksi lingkungan. Biasanya hipertensi esensial terjadi pada usia
antara 25-55 tahun dan jarang pada usia di bawah 20 tahun.
6

Hipertensi sekunder dapat disebabkan oleh sleep apnea, obat-obatan, gangguan ginjal,
coarctation aorta,pheochromocytoma, penyakit tiroid dan paratiroid.
7


2.3.1 Penyakit ginjal
Penyakit ginjal adalah penyebab terbanyak pada hipertensi sekunder. Hipertensi dapat
timbul dari penyakit diabetes nefropati ataupun inflamasi glomerulus, penyakit intertisial
tubulus, dan polikista ginjal. Kebanyakan kasus berhubungan dengan peningkatan volume
intravascular atau peningkatan system renin-angiotensin-alodesteron.
8




2.3.2 Renal vascular hypertension
Arteri stenosis ginjal dapat muncul pada 1-2 % pasien hipertensi. Penyebabnya pada orang
muda adalah fibromuscular hyperplasia. Penyakit pembuluh darah ginjal yang lain adalah karena
aterosklerosis stenosis dari arteri renal proksimal. Mekanisme hipertensinya berhubungan dengan
peningkatan renin berlebih karena pengurangan dari aliran darah ke ginjal. Hipertensi pembuluh
darah ginjal harus dicurigai jika terdapat keadaan seperti berikut: (1) terdapat pada usia sebelum
20 tahun atau sesudah usia 50 tahun. (2) bruit pada epigastrik atau artery renal. (3) jika terdapat
penyakit atrerosklerosis dari arteri perifer, 15-25 % pasien dengan aterosklerosis tungkai bawah
yang simtomatik terdapat artery stenosis ginjal. (5) terjadi penurunan fungsi ginjal setelah
pemberian penghambat ACE.
8


2.3.3 Hiperaldosteron primer
Penyakit ini timbul karena sekresi yang berlebihan dari aldosteron oeh korteks adrenal.
Pada pasien hipertensi dengan hipokalemia, krn pengeluaran kalium yang berlebih melalui urin
(biasanya > 40 mEq/L).
9


2.3.4 Sindrom Cushing
Pada penderita sindroma Cushing, hipertensi timbul sekitar 75-85 %. Patogenesis tentang
terjadinya hipertensi pada sindroma Cushing masih tidak jelas. Mungkin dihubungkan dengan
retensi garam dan air dari efek mineralocorticoid karena glukokortikoid berlebih.
9


2.3.5 Pheochromocytoma
Tumor yang mensekresikan katekolamin yang berada di medulla adrenal dan menyebabkan
hipertensi sekitar 0,05 %.
8


2.3.6 Coarctation of the aorta
Coarctation of the aorta merupakan penyakit jantung congenital tersering yang
menyebabkan hipertensi. Insiden sekitar 1-8 per 1000 kelahiran.
8





2.4 Klasifikasi

Tabel 1 Klasifikasi Hipertensi
7



Pada tabel 1 merupakan klasifikasi hipertensi pada usia 18 tahun atau lebih. Penggunaan
klasifikasi ini ini didasarkan dengan pengukuran tekanan darah dua atau lebih.
7



2.5 Faktor Risiko
Faktor risiko hipertensi dapat dibagi menjadi dua, yaitu faktor risiko yang reversible dan
irreversibel. Faktor risiko yang reversibel adalah usia, ras Afrika-Amerika, dan riwayat keluarga
yang memiliki hipertensi. Sedangkan faktor risiko yang bersifat reversible adalah prehipertensi,
berat badan berlebih, kurang aktivitas, konsumsi makanan yang mengandung natrium tinggi,
merokok, dan sindroma metabolik.
3


2.5.1 Usia
Tekanan darah meningkat seiring dengan berjalanya usia. Tekanan sistolik meningkat
sesuai dengan usia, sedangkan tekanan diastolik tidak berubah mulai dekade ke-5. Hipertensi
sistolik isolasi merpakan jenis hipertensi yang paling ditemukan pada orang tua.
3


2.5.2 Ras Afrika-Amerika
Hipertensi lebih sering terdapat pada ras AFrika-Amerika dibandingkan dengan orang kulit
putih, dan pada kedua ras tersebut biasanya lebih banyak pada golongan sosioekonomi rendah.
3


2.5.3 Berat Badan Berlebih
Semakin tinggi berat badan, semakin banyak darah yang dibutuhkan untuk memenuhi
kebutuhan oksigen dan utrisi jaringan. Volume darah meningkat di dalam pembuluh darah dan
terjadi peningkatan tekanan dinding arteri.
3


2.5.4 Kurang Aktivitas
Orang yang kurang aktivitas cenderung memiliki denyut jantung yang lebih banyak.
Semakin tinggi denyut jantung, semakin berat jantung harus bekerja pada setiap kontraksi dan
lebih kuat tekanan pada arteri.
3


2.5.5 Konsumsi Tinggi Natrium
Konsumsi makanan yang mengandung banyak natrium dapat menyebabkan tertahannya air
di dalam pembuluh darah, sehingga meningkatkan tekanan darah. Kalium membantu
menyeimbangkan banyaknya natrium di dalam sel. Jika kurang mengkonsumsi natrium, maka
akan banyak terakumulasi natrium di dalam darah.
3


2.5.6 Merokok
Zat-zat kimia pada rokok dapat menyebaban kerusakan pada dinding arteri yang
menyebabkan penyempitan arteri sehingga dapat meningkatkan tekanan darah.
3


2.5.7 Sindroma Metabolik
Sindroma metabolik didefinsikan sebagai jika tiga dari criteria terpenuhi: lingkar perut
membesar (pria: > 100 cm, wanita: 90 cm), gula puasa darah terganggu (normal < 126 md/dl),
peningkatan tekanan darah 130/85 mmHg, trigliserida plasma 150 mg/dl, atau kolesterol HDL
<40 mg/dL , <50 mg/dL pada wanita. Di hipotesiskan bahwa resistensi insulin mungkin
merupakan patofisiologi teradinya sindroma metabolik.
3


2.6 Patofisiologi
Tekanan dibutuhkan untuk mengalirkan darah dalam pembuluh darah yang dilakukan oleh
aktivitas memompa jantung (Cardiac Output) dan tonus dari arteri (peripheral resisten). Faktor-
faktor ini menentukan besarnya tekanan darah. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi cardiac
output dan resistensi perifer. Hipertensi terjadi karena kelainan dari salah faktor tersebut.
10


Gambar 1 Patofisiologi Hipertensi
10




,
Cardiac output berhubungan dengan hipertensi, peningkatan cardiac output secara logis timbul
dari dua jalur, yaitu baik melalui peningkatan cairan (preload) atau peningkatan kontraktilitas
dari efek stimulasi saraf simpatis. Tetapi tubuh dapat mengkompensasi agar cardiac output tidak
meningkat yaiutu dengan cara meningkatkan resistensi perifer.
10

Selain itu konsumsi natrium berlebih dapat menyebabkan hipertensi karena peningkatan volume
cairan dalam pembuluh darah dan preload, sehingga meningkatkan cardiac output.
10


Gambar 2 Patofisiologi Natrium dan Kalium pada Hipertensi
11




2.7 Manisfestasi Klinis
Gejala yang paling sering muncul adalah nyeri kepala. Hypertensi yang meningkat dengan
cepat dapat menimbulkan gejala seperti somnolen, bingung, gangguan penglihatan, mual dan
muntah.
8


Pada aldosteronism primer, pasien merasakan lemas otot, polyuria, da nocturia karena
hypokalemia. Hipertensi kronik sering menyebabkan pembesaran jatung kiri, yang dapat
menimbulkan gejala sesak napas yang berhubungan dengan aktivitas dan paroxysmal nocturnal
dyspnea. Keterlibatan cerebral karena stroke yang disebabkan oleh trombosis atau hemoragik
dari mikroaneurisma.
8


Pada pemeriksaan fisik harus diperhatikan bentuk tubuh, termasuk berat dan tinggi badan.
Pada pemeriksaan awal, tekanan darah diukur pada kedua lengan, dan lebih baik dikukur pada
posisi terlentang, duduk, dan berdiri untuk mengevaluasi hipotensi postural. Dilakukan palpasi
leher untuk mempalpasi dari pembesaran tiroid dan penilaian terhadap tanda hipotiroid atau
hipertiroid. Pemeriksaan pada pembuluh darah dapat dilakukan dengan funduskopi, auskultasi
untuk mencari bruit pada arteri karotis. Retina merupakan jaringan yang arteri dan arteriolnya
dapat diperiksa dengan seksama. Seiring dengan peningkatan derajat beratnya hipertensi dan
penyakit aterosklerosis, pada pemeriksaan funduskopi dapat ditemukan peningkatan reflex
cahaya arteriol, hemoragik, eksudat, dan papiledema. Pemeriksaan pada jantung dapat ditemukan
pengerasan dari bunyi jantung ke-2 karena penutuan dari katup aorta dan S4 gallop. Pembesaran
jantung kiri dapat dideteksi dengan iktus kordis yang bergeser ke arah lateral.
8


2.8 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang rutin yang direkomendasikan sebelum memulai terappi termasuk
elektrokardiogram 12 lead, urinalisis, glukosa darah, dan hematokrit, kalium serum, kreatinin,
dan profil lipid ( termasuk HDL kolesterol, LDL kolesterol, dan trigliserida. Test tambahan
termasuk pengukuran terhadap ekskresi albumin atau albumin/ kreatinin rasio.
8









Tabel 2 Pemeriksaan penunjang untuk skrening etiologi hipertensi
7


2.9 Diagnosis
Konfirmasi dari hipertensi berdasarkan pada pemeriksaan awal, dan pemeriksaan pada dua
kali follow-up dengan setidaknya dua kali pengukuran pada setiap kali follow-up.










Gambar 3 Algoritma Diagnosis Hipertensi
12












2.10 Komplikasi

2.10.1 J antung
Penyakit jantung merupakan penyebab yang tersering menyebabkan kematian pada pasien
hipertensi. Penyakit jantung hipertensi merupakan hasil dari perubahan struktur dan fungsi yang
menyebabkan pembesaran jantung kiri disfungsi diastolik, dan gagal jantung.
8

2.10.2 Otak

Hipertensi merupakan faktor risiko yang penting terhadap infark dan hemoragik otak.
Sekitar 85 % dari stroke karena infark dan sisanya karena hemoragik. Insiden dari stroke
meningkat secara progresif seiring dengan peningkatan tekanan darah, khususnya pada usia > 65
tahun. Pengobatan pada hipertensi menurunkan insiden baik stroke iskemik ataupun stroke
hemorgik.
8

2.10.3 Ginjal
Hipertensi kronik menyebabkan nefrosklerosis, penyebab yang sering terjadi pada renal
insufficiency. Pasien dengan hipertensif nefropati, tekanan darah harus 130/80 mmHg atau lebih
rendah, khususnya ketika ada proteinuria.
8


2.11 Prognosis
WHO membuat tabel stratifikasi dan membuat tiga kategori risiko yang berhubungan
dengan timbulnya kejadian penyakit kardiovaskular selama 10 tahun ke depan: (1) risiko rendah,
kurang dari 15 %. (2) risiko menengah , sekitar 15-20 %. (3) risiko tinggi, lebih dari 20 %.
13








Tabel 3 Faktor yang Mempengaruhi Prognosis
13

Tabel 4 Prognosis
13


2.12 Penatalaksanaan Hipertensi

2.12.1 Target Tekanan Darah

Menurut Joint National Commission (JNC) 7, rekomendasi target tekanan darah yang
harus dicapai adalah < 140/90 mmHg dan target tekanan darah untuk pasien penyakit ginjal
kronik dan diabetes adalah 130/80 mmHg. American Heart Association (AHA)
merekomendasikan target tekanan darah yang harus dicapai, yaitu 140/90 mmHg, 130/80 mmHg
untuk pasien dengan penyakit ginjal kronik, penyakit arteri kronik atau ekuivalen penyakit arteri
kronik, dan 120/80 mmHg untuk pasien dengan gagal jantung. Sedangkan menurut National
Kidney Foundation (NKF), target tekanan darah yang harus dicapai adalah 130/80 mmHg untuk
pasien dengan penyakit ginjal kronik dan diabetes, dan < 125/75 mmHg untuk pasien dengan > 1
g proteinuria (Cohen, 2008).

2.12.2 Algoritme Penanganan Hipertensi

Algoritme penanganan hipertensi menurut JNC 7 (2003), dijelaskan pada

skema dibawah ini:

























Modifikasi Gaya Hidup
Tak mencapai sasaran TD (<140/90 mmHg atau <130/80
mmHg pada penderita DM atau penyakit ginjal kronik

Pilihan obat untuk terapi permulaan
Hipertensi tanpa Indikasi Khusus

Hipertensi

Indikasi Khusus

Hipertensi derajat 1

( TD sistolik 140 -159

mmHg atau TD
diastolik 90 - 99 mmHg )

Umumnya diberikan
diuretik gol.
Thiazide.Bisa
dipertimbangkan
pemberian penghambat
EKA, ARB, penyekat ,
antagonis Ca atau
kombinasi

Hipertensi derajat 2

TD sistolik (
160
mmHg

atau TD
diastolik
100 mmHg)

Umumnya diberikan
kombinasi 2 macam
obat (biasanya diuretik
gol. Thiazide dan
penghambat EKA, atau
ARB atau penyekat ,
atau antogonis Ca

Obat - obatan untuk
indikasi khusus.
Obat anti hiipertensi
lainnya (diuretik,
penghambat EKA,
ARB, penyekat ,
antagonis Ca) sesuai
yang diperlukan
Sasaran Tekanan Darah tak Tercapai

Optimalkan dosis atau penambahan jenis obat sampai target tekanan
darah

tercapai. Pertimbangkan konsultasi dengan spesialis hipertensi




2.12.3 Modifikasi Gaya Hidup

Pelaksanaan gaya hidup yang positif mempengaruhi tekanan darah memiliki implikasi baik
untuk pencegahan dan pengobatan hipertensi. Promosi kesehatan modifikasi gaya hidup
direkomendasikan untuk individu dengan pra-hipertensi dan sebagai tambahan terhadap terapi
obat pada individu hipertensi. Intervensi ini untuk risiko penyakit jantung secara keseluruhan.
Meskipun dampak intervensi gaya hidup pada tekanan darah akan lebih terlihat pada orang
dengan hipertensi, dalam percobaan jangka pendek, penurunan berat badan dan pengurangan
NaCl diet juga telah ditunjukkan untuk mencegah perkembangan hipertensi. Pada penderita
hipertensi, bahkan jika intervensi tersebut tidak menghasilkan penurunan tekanan darah yang
cukup untuk menghindari terapi obat, jumlah obat atau dosis yang dibutuhkan untuk mengontrol
tekanan darah dapat dikurangi. Modifikasi diet yang efektif menurunkan tekanan darah adalah
mengurangi berat badan, mengurangi asupan NaCl, meningkatkan asupan kalium, mengurangi
konsumsi alkohol, dan pola diet yang sehat secara keseluruhan (Kotchen, 2008).
Mencegah dan mengatasi obesitas sangat penting untuk menurunkan tekanan darah dan
risiko penyakit kardiovaskular. Rata-rata penurunan tekanan darah 6,3/3,1 mmHg diobseravsi
setelah penurunan berat badan sebanyak 9,2 kg. Berolah raga teratur selama 30 menit seperti
berjalan, 6-7 perhari dalam seminggu, dapat menurunkan tekanan darah. Ada variabilitas
individu dalam hal sensitivitas tekanan darah terhadap NaCl, dan variabilitas ini mungkin
memiliki dasar genetik. Berdasarkan hasil meta-analisis, menurunkan tekanan darah dengan
membatasi asupan setiap hari untuk 4,4-7,4 g NaCl (75-125 meq) menyebabkan penurunan
tekanan darah 3.7-4.9/0.9-2.9 mmHg pada hipertensi dan penurunan lebih rendah pada orang
darah normal. Konsumsi alkohol pada orang yang mengkonsumsi tiga atau lebih minuman per
hari (minuman standar berisi ~ 14 g etanol) berhubungan dengan tekanan darah tinggi, dan
penurunan konsumsi alkohol dikaitkan dengan penurunan tekanan darah. Begitu pula dengan
DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) meliputi diet kaya akan buah-buahan,
sayuran, dan makanan rendah lemak efektif dalam menurunkan tekanan darah (Kotchen, 2008).





Tabel 2.4. Modifikasi gaya hidup untuk mencegah dan mengatasi hipertensi
Modifikasi Rekomendasi Penurunan potensial
TD sistolik
Diet natrium Membatasi diet natrium tidak
lebih dari 2400 mg/hari atau 100
meq/hari
2-8 mmHg
Penurunan Berat
Badan
Menjaga berat badan normal;
BMI = 18,5-24,9 kg/
5-20 mmHg per
10 kg
penururnan
badan
berat
Olahraga aerobik Olahraga aerobik secara teratur,
bertujuan untuk melakukan
aerobik 30 menit
Latihan sehari-hari dalam
seminggu. Disarankan pasien
berjalan-jalan 1 mil per hari di
atas tingkat aktivitas saat ini
4-9 mmHg
Diet DASH Diet yang kaya akan
buahbuahan, sayuran, dan
mengurangi jumlah lemak jenuh
dan total
4-14 mmHg
Membatasi
konsumsi alkohol
Pria 2 minum per hari, wanita
1 minum per hari
2-4 mmHg

Jadi, modifikasi gaya hidup merupakan upaya untuk mengurangi tekanan darah, mencegah
atau memperlambat insiden dari hipertensi, meningkatkan efikasi obat antihipertensi, dan
mengurangi risiko penyakit kardiovaskular (National Institutes of Health, 2003).

2.12.4 Terapi Farmakologi

Jenis-jenis obat antihipertensi untuk terapi farmakologis hipertensi yang dianjurkan oleh
JNC 7 adalah:
a. Diuretika, terutama jenis Thiazide (Thiaz) atau Aldosteron Antagonist
b. Beta Blocker (BB)
c. Calcium Chanel Blocker atau Calcium antagonist (CCB)
d. Angiotensin Converting Enzym Inhibitor (ACEI)
e. Angiotensin II Receptor Blocker atau A receptor antagonist/blocker (ARB)

Untuk sebagian besar pasien hipertensi, terapi dimulai secara bertahap, dan target tekanan
darah tercapai secara progresif dalam beberapa minggu. Dianjurkan untuk menggunakan obat
antihipertensi dengan masa kerja panjang atau yang memberikan efikasi 24 jam dengan
pemberian sekali sehari. Pilihan apakah memulai terapi dengan satu jenis obat antihipertensi atau
dengan kombinasi tergantung pada tekanan darah awal dan ada tidaknya komplikasi. Jika terapi
dimulai dengan satu jenis obat dan dalam dosis rendah, dan kemudian tekanan darah belum
mencapai target, maka langkah selanjutnya adalah meningkatkan dosis obat tersebut, atau
berpindah ke antihipertensif lain dengan dosis rendah. Efek samping umumnya bisa dihindari
dengan menggunakan dosis rendah, baik tunggal maupun kombinasi. Sebagian besar pasien
memerlukan kombinasi obat antihipertensi untuk mencapai target tekanan darah, tetapi terapi
kombinasi dapat meningkatkan biaya pengobatan dan menurunkan kepatuhan pasien karena
jumlah obat yang harus diminum bertambah (Yogiantoro, 2006).
Kombinasi obat yang telah terbukti efektif dan dapat ditoleransi pasien adalah:
a. CCB dan BB
b. CCB dan ACEI atau ARB
c. CCB dan diuretika
d. AB dan BB
e. Kadang diperlukan tiga atau empat kombinasi obat










Tabel 2.5. Indikasi dan Kontraindikasi Kelas-kelas Utama Obat Antihipertensi Menurut
ESH (European Society of Hypertension) (2003).
Kelas Obat Indikasi Kontraindikasi
Mutlak Tidak Mutlak
Diuretika
(Thiazide)
Gagal jantung kongestif,
usia lanjut, isolated systolic
hypertension, ras Afrika
gout Kehamilan
Diuretika (Loop) Insufisiensi ginjal, gagal
jantung kongestif

Diuretika
(anti
aldosteron)
Gagal jantung kongestif,
pasca infark miokardium
Gagal ginjal,
hiperkalemia

Penyekat Angina pektoris, pasca
infark miokardium, gagal
jantung kongestif,
kehamilan, takiaritmia
Asma, penyakit
paru obstruktif
menahun, A-V
block (derajat 2
atau 3)
Penyakit
pembuluh darah
perifer,
intoleransi
glukosa, atlit
atau pasien yang
aktif secara fisik
Calcium
Antagonist
Usia lanjut, isolated systolic
hypertension, angina
Takiaritmia,
gagal jantung
(dihydropiridine) pektoris, penyakit
pembuluh darah
perifer, aterosklerosis
karotis, kehamilan
kongestif
Calcium
Antigonist
(verapamil,
diltiazem)
Angina pektoris,
aterosklerotis karotis,
takikardia supraventrikuler
A-V block
(derajat 2 atau
3), gagal jantung
kongestif

Pengahambat
ACE
Gagal jantung kongestif,
disfungsi ventrikel kiri,
pasca infark miokardium,
non-diabetik nefropati
Kehamilan,
hiperkalemia,
stenosis arteri
renalis bilateral

Angiotensin II
receptor
antagonist (AT1-
blocker)
Nefropati DM tipe 2,
mikroalbuminuria diabetik,
proteinuria, hipertropi
ventrikel kiri, batuk karena
ACEI
Kehamilan,
hiperkalemia,
stenosis arteri
renalis bilateral

-Blocker Hiperplasia prostat (BPH),
hiperlipidemia
Hipotensi
ortostatis
Gagal jantung
kongestif








Tabel 2.6. Tatalaksana Hipertensi Menurut JNC 7
Klasifikasi
Tekanan
Darah
TDS
(mmHg)
TDD
(mmHg)
Perbaikan
Pola Hidup
Terapi Obat Awal
Tanpa
Indikasi yang
Memaksa
Dengan
Indikasi yang
Memaksa
Normal < 120 Dan < 80 Dianjurkan
ya

Prehipertensi 120-139 Atau 80- ya Tidak indikasi Obat-obatan
89 obat untuk indikasi
yang memaksa
Hipertensi
derajat 1
140-159 Atau 90-
99
ya Diuretika jenis
Thiazide untuk
sebagian besar
kasus dapat
dipertimbangka
n ACEI, ARB,
BB, CCB, atau
kombinasi
Obat-obatan
untuk indikasi
yang memaksa
obat
antihipertensi
lain
(diuretik
a,
ACEI, ARB,
BB, CCB)
sesuai
kebutuhan
Hipertensi
derajat 2
160 Atau
100
ya Kombinasi 2
obat untuk
sebagian besar
kasus
umumnya
diuretika jenis
Thiazide dan
ACEI atau
ARB atau BB

atau
CCB



Tabel 6 Pilihan obat pada Indikasi Khusus
7

Indikasi Khusus Diuretik B Blocker ACEI ARB CCB Antialdosteron
Gagal Jantung + + + + +
Pasca MCI + + +
Risiko tinggi PJK + + +
Diabetes Mellitus + + + + +
Penyakit ginjal
kronik
+ + +
Cegah stoke
berulang
+ +


2.12.5 Pengobatan pada Indikasi Khusus

Penyakit jantung Iskemik

Penyakit jantung iskemik merupakan kerusakan organ target yang paling sering ditemukan
pada pasien dengan hipertensi. Pada hipertensi dengan angina pectoris stabil obat pilihan
pertama b-blocker dan sebagai alternative calcium channel blocker (CCB). Pada pasien dengan
sindroma koroner akut (angina pectoris tidak stabil atau infark miokard), pengobatan hipertensi
dimulai dengan BB dan ACEI dan kemudian dapat ditambahkan anti hipertensi lain bila
diperlukan. Pada pasien pasca infark miokard, ACEI, BB, dan antagonis aldosteron terbukti
sangat mengutungkan tanpa melupakan penatalaksaan profil lipid yang intensif dan penggunaan
aspirin.
7


Gagal Jantung

Gagal Jantung dalam bentuk disfungsi ventrikel sistolik dan diastolic terutama disebabkan
oleh hipertensi dan penyakit jantung iskemik. Sehingga penatalaksaan hipertensi dan profil lipid
yang agresif merupakan upaya terjadinya gagal jantung. Pada pasien asimptomatik dengan
terbukti disfungsi ventrikel rekomendasinya adalah ACEI dan BB. Pada pasien simptomatik
dengan disfungsi ventrikel atau penyakit jantung end stage direkomendasikan untuk
menggunakan ACEI, BB dan ARB bersama dengan pemberian diuretik loop.
7


Penyakit Arteri Perifer

Kelas I
Pemberian antihipertensi pada PAP ekstrimitas inferior dengan tujuan untuk mencapai target
tekanan darah <140/90 mmHg atau target tekanan darah < 130/80 mmHg (untuk diabetes). BB
merupakan agen hipertensi yang efektif dan tidak merupakan kontraindikasi untuk pasien
hipertensi dengan PAP.
7


Kelas IIa
Penggunaan ACEI pada pasien simptomatik PAP ekstrimitas bawah beralasan untuk
menurunkan kejadian kardiovaskular.
7


Kelas IIb
Penggunaan ACEI pada pasien asimptomatik PAP ekstrimitas bawah dapat dipertimbangkan
untuk menurunkan kejadian kardiovaskular. Antihipertensi dapat menurunkan perfusi tungkai
dan berpotensi mengeksaserbasi klaudikasio ataupun iskemia tungkai kronis. Kemungkinan
tersebut harus diperhatikan saat memberikan antihipertensi. Namun sebagian besar pasien dapat
mentoleransi terapi hipertensi tanpa memperburuk symptom PAP dan penanggulangan sesuai
pedoman diperlukan untuk tujuan menurnkan risiko kejadian kardiovaskular.
7


Gangguan Fungsi Ginjal

Hipertensi dengan gangguan fungsi ginjal
Pada keadaan ini penting diketahui derajat gangguan fungsi ginjal ( CCT, kreatinin) dan derajat
proteinuri. PAda CCT < 25 ml/menit diuretic golongan thiazid (kecuali metolazon) tidak efektif.
Pemakaian golongan ACEI/ ARB perlu memperhatikan penurunan fungsi ginjal dan kadar
kalium. Pemakaian golongan BB dan CCB relative aman.
7


Hipertensi akibat gangguan ginjal/ adrenal
Pada gagal ginjal terjadi penumpukan garam yang membutuhkan penurunan asupan
garam/diuretic golongan furosemid/diaslisis. Penyakit ginjal renovaskuler baik stenosis arteri
renalis maupun aterosklerosis renal dapat ditanggulangi secara intervensi (stening/opererasi)
ataupun medical (pemakaian ACEI dan ARB tidak dianjurkan bila diperlukan terapi obat).
Aldosteronisme primer (baik adenoma maupun hyperplasia kelenjar adrenal) dapat ditanggulangi
secara medical (dengan obat antialdosteron) ataupun intervensi. DIsamping hipertensi, derajat
proteinuri ikut menentukan progresi gangguan fungsi ginjal, sehingga proteinuri perlu
ditanggulangi secara maksimal dengan pemberian ACEI/ARB dan CCB golongan non
hdihidropiridin. Pedoman pengobatan hipertensi dengan gangguan fungsi ginjal: (1) tekanan
darah diturunkan sampai <130/80 mmHg (untuk mencegah progresi gangguan fungsi ginjal). (2)
bila ada proteinuria dipakai ACEI/ARB (sepanjang tak ada kontraindikasi).(3)bila proteinuria >
1g/24 jam tekanan darah diusahakan lebih rendah ( 125/75 mmHg).(4)perlu diperhatikan untuk
perubahan fungsi ginjal pada pemakaian ACEI/ARB (kreatinin tidak boleh naik > 20%) dan
kadar kalium (hiperkalemia).
7



Usia Lanjut

Pengobatan dimulai jika: (1) tekanan sistolik 160 mmHg bila kondisi harapan hidup baik.
(2) Tekanan sistolik 140 bila disertai DM atau merokok atau disertai factor risiko lainya. Obat-
obat yang biasanya dipakai meliputi diuretic (HCT) 12,5 mg, terbukti mencegah komplikasi
terjadinya penyakit jantung kongestif. Keuntunganya murah dan dapat mencegah kehilangan
kalsium tulang. Target tekanan sistolik < 140 mmHg dan target tekanan diastolic sekitar 85-90
mmHg.
7

Stroke Iskemik Akut

Tidak direkomendasikan terapi hipertensi pada stroke iskemik akut, kecuali terdapat
hipertensi berat dan menetap yaitu > 220 mmHg atau diastolik > 120 mmHg dengan tanda-tanda
ensefalopati atau disertai kerusakan target organ lain.
7


Stroke Hemoragik Akut

Bila tekanan darah sistolik > 230 mmHg atau tekanan darah sistolik > 140 mmHg: berikan
nicardipin/ diltiazem/nimodipin drip dan dititrasi dosisnya sampai dengan tekanan darah sistolik
160 mmHg dan tekanan darah diastolic 90 mmHg.
7


Diabetes

Indikasi pengobatan jika tekanan darah sistolik 130 mmHg dan atau tekanan diastolik
80 mmHg. Sasaran target penurunan tekanan darah: (1) tekanan darah < 130/80 mmHg. (2) bila
disertai proteinuria 1 g/24 jam, target 125/75 mmHg.
7



































Daftar Pustaka

1. Gunawan, Hipertensi, Jakarta: PT Gramedia, 2001; 10.
2. World Health Organization. The World Health Report 2002: Risk to Health 2002.
Geneva: World Health Organization.
3. Thomas M. Habermann, , Amit K. Ghosh. Mayo Clinic Internal Medicine Concise
Textbook. 1st edition. Canada: Mayo Foundation for Medical Education and
Research:2008.
4. Staessen A Jan, Jiguang Wang, Giuseppe Bianchi, W.H. Birkenhager, Essential
Hypertension, The Lancet,2003; 1629-1635.
5. Soenarta Ann Arieska, Konsensus Pengobatan Hipertensi. Jakarta: Perhimpunan Hipertensi
Indonesia (Perhi), 2005; 5-7.
6. Cowley AW Jr. The genetic dissection of essential hypertension. Nat Rev Genet. 2006
Nov;7(11):82940. [PMID: 17033627]
7. Chobanian AV et al. The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure: the JNC 7 report. JAMA.
2003 May 21;289(19):256072.
8. Kasper, Braunwald, Fauci, et al. Harrisons principles of internal medicine 17
th
edition.
New York: McGrawHill:2008
9. McPhee, Stephen J, et al. Current Medical Diagnosis and Treatment 2009. New York:
McGrawHill: 2009
10. Norman M. Kaplan. Kaplan's Clinical Hypertension 9
th
edition. Philadelphia, USA:
Lippincott Williams & Wilkins:2006
11. Horacio J, Nicolaos E. Sodium and Potassium in the Pathogenesis of Hypertension.N
Engl J Med 2007;356:1966-78
12. Institute for Clinical Systems Improvement (ICSI). Hypertension Diagnosis and
Treatment. Bloomington (MN): Institue for Clinical Systems Improvement (ICSI); 2008
October
13. 2003 World Health Organization (WHO)/International Society of Hypertension (ISH)
statement on management of hypertension. J Hypertens 2003;21:1983-1992