Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I
PENDAHULUAN


Sebagaimana diketahui bahwa negara Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi yang
berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu. Tingginya tingkat krisis yang dialami negri kita ini
diindikasikan dengan laju inflasi yang cukup tinggi. Sebagai dampak atas inflasi, terjadi
penurunan tabungan, berkurangnya investasi, semakin banyak modal yang dilarikan ke luar
negeri, serta terhambatnya pertumbuhan ekonomi. Kondisi seperti ini tak bisa dibiarkan untuk
terus berlanjut dan memaksa pemerintah untuk menentukan suatu kebijakan dalam
mengatasinya. Sejak era orde baru mulai terlihat kondisi Indonesia terus mengalami
kemerosotan, terutama dalam bidang ekonomi. Tingginya krisis ekonomi ini diindikasikan
dengan laju inflasi yang cukup tinggi. Sebagai dampak atas inflasi, terjadi penurunan tabungan,
berkurangnya investasi, semakin banyak modal yang dilarikan ke luar negeri, serta terhambatnya
pertumbuhan ekonomi.
Inflasi rupiah dan peningkatan besar harga bahan makanan menimbulkan kekacauan di
Negara Indonesia. Pada tahun 1998, presiden Soeharto memecat Gubernur Bank Indonesia,tapi
ini tidak cukup berjalan baik. Soeharto pun dipaksa mundur sebagai presiden Indonesia pada
pertengahan 1998 setelah sebelumnya terjadi kerusuhan. Inilah puncak terjadinya krisis moneter
di Indonesia. Mundurnya Soeharto diperkirakan dapat meredakan krisis moneter, akan tetapi
juga tidak dapat berhasil. Rupiah tetap Rp. 11.000/Dollar. Kecenderungan melemahnya rupiah
semakin menjadi ketika terjadi penembakan mahasiswa Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998 dan
aksi penjarahan pada tanggal 14 Mei 1998. Kurs Rupiah terjun bebas mencapai Rp.
17.000/Dollar AS paling rendah dalam sejarah.
Sejak dilanda krisis ekonomi yang berat sejak tahun 1997, proses pemulihan ekonomi
Indonesia terus berjalan. Namun, proses pemulihan ekonomi Indonesia tersebut dirasakan masih
lambat, bila dibandingkan dengan Negara-negara lain yang terkena krisis seperti Malaysia,
Thailand, dan Korea Selatan. Keterlambatan pemulihan ekonomi tersebut tidak terlepas dari
hambatan-hambatan yang cukup kompleks baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Di
dalam negeri, proses restrukturasi utang (khususnya korporasi) belum sepenuhnya tuntas, fungsi
intermediasi perbankan belum berjalan sesuai harapan dan stimulus fiscal belum optimal untuk

2
mendorong investasi. Sementara itu, perkembangan ekonomi dunia pun belum mampu
memberikan dukungan yang positif terhadap ekonomi dalam negeri. Selain permasalahan
tersebut, masih dijumpainya faktor risiko, baik berupa risiko ekonomi maupun keuangan, serta
ketidakpastian kondisi sosial politik, terutama untuk mendukung investasi. Lemahnya
kredibilitas hokum dan lembaga peradilan juga menjadi penghambat sehingga semakin
memperberat upaya mewujudkan kondisi ekonomi yang lebih baik. (Sabirin, 2002:22)
Kebijakan moneter adalah upaya untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang
tinggi secara berkelanjutan dengan tetap mempertahankan kestabilan harga atau proses
mengatur persediaan uang sebuah negara untuk mencapai tujuan tertentu seperti menahan inflasi,
mencapai pekerja penuh atau lebih sejahtera. Untuk mencapai tujuan tersebut Bank Sentral atau
Otoritas Moneter berusaha mengatur keseimbangan antara persediaan uang dengan persediaan
barang agar inflasi dapat terkendali, tercapai kesempatan kerja penuh dan kelancaran dalam
pasokan atau distribusi barang.
Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :
Kebijakan Moneter Ekspansif / Monetary Expansive Policy Adalah suatu kebijakan
dalam rangka menambah jumlah uang yang edar
Kebijakan Moneter Kontraktif / Monetary Contractive Policy Adalah suatu kebijakan
dalam rangka mengurangi jumlah uang yang edar. Disebut juga dengan kebijakan uang
ketat (tight money policy)
Kebijakan moneter dengan menerapkan target inflasi yang diambil oleh pemerintah
mencerminkan arah ke sistem pasar. Artinya, orientasi pemerintah dalam mengelola
perekonomian telah bergeser ke arah makin kecilnya peran pemerintah. Tujuan pembangunan
bukan lagi semata-mata pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi lebih kepada pertumbuhan
ekonomi yang berkelanjutan.








3
BAB II
PEMBAHASAN


A. PENGERTIAN KEBIJAKAN MONETER
Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang bertujuan untuk
mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga,
pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca pembayaran)
serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi yang dapat diukur
dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional yang
seimbang. Apabila kestabilan dalam kegiatan perekonomian terganggu, maka kebijakan moneter
dapat dipakai untuk memulihkan (tindakan stabilisasi). Pengaruh kebijakan moneter pertama kali
akan dirasakan oleh sektor perbankan, yang kemudian ditransfer pada sektor riil.
Kebijakan moneter didefinisikan dengan rencana dan tindakan otoritas moneter yang
terkoordinasi untuk menjaga keseimbangan moneter, dan kestabilan nilai uang, mendorong
kelancaran produksi dan pembangunan, serta memperluas kesempatan kerja guna meningkatkan
taraf hidup rakyat.
Wikipedia memberikan definisi kebijakan moneter dengan sebuah proses yang dilakukan
oleh pemerintah, bank sentral, atau otoritas moneter dari sebuah negara untuk mengontrol,
penawaran uang, ketersediaan uang, tingkat bunga, dalam rangka mencapai seperangkat tujuan
orientasi kepada pertumbuhan dan stabilitas ekonomi. Dimana biasanya kebijakan moneter
dikenal sebagai pilihan antara kebijakan ekspansi atau kebijakan kontraksi.
Jadi dapat disimpulkan dari pengertian di atas bahwa kebijakan moneter adalah semua
upaya atau tindakan bank sentral untuk mempengaruhi perkembangan moneter (uang beredar,
suku bunga, kredit dan nilai tukar) untuk mencapai tujuan ekonomi tertentu. Sebagai bagian dari
kebijakan ekonomi makro, maka tujuan kebijakan moneter adalah untuk membantu mencapai
sasaran-sasaran makroekonomi antara lain: pertumbuhan ekonomi, penyediaan lapangan kerja,
stabilitas harga dan keseimbangan neraca pembayaran. Keempat sasaran tersebut merupakan
tujuan/sasaran akhir kebijakan moneter (final target).


4
Idealnya, semua sasaran akhir kebijakan moneter harus dapat dicapai secara bersamaan dan
berkelanjutan. Namun, pengalaman di banyak negara termasuk di Indonesia menunjukkan bahwa
hal yang dimaksud sulit dicapai, bahkan ada kecenderungan bersifat kontradiktif. Misalnya
kebijakan moneter yang kontraktif untuk menekan laju inflasi dapat berpengaruh negatif
terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan kesempatan kerja.

B. TUJUAN KEBIJAKAN MONETER
Bank Indonesia memiliki tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.
Tujuan ini sebagaimana tercantum dalam UU No. 3 tahun 2004 pasal 7 tentang Bank Indonesia.
Hal yang dimaksud dengan kestabilan nilai rupiah antara lain adalah kestabilan terhadap harga-
harga barang dan jasa yang tercermin pada inflasi. Untuk mencapai tujuan tersebut, sejak tahun
2005 Bank Indonesia menerapkan kerangka kebijakan moneter dengan inflasi sebagai sasaran
utama kebijakan moneter (Inflation Targeting Framework) dengan menganut sistem nilai tukar
yang mengambang (free floating). Peran kestabilan nilai tukar sangat penting dalam mencapai
stabilitas harga dan sistem keuangan. Oleh karenanya, Bank Indonesia juga menjalankan
kebijakan nilai tukar untuk mengurangi volatilitas nilai tukar yang berlebihan, bukan untuk
mengarahkan nilai tukar pada level tertentu.
Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk melakukan
kebijakan moneter melalui penetapan sasaran-sasaran moneter (seperti uang beredar atau suku
bunga) dengan tujuan utama menjaga sasaran laju inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah.
Secara operasional, pengendalian sasaran-sasaran moneter tersebut menggunakan instrumen-
instrumen, antara lain operasi pasar terbuka di pasar uang baik rupiah maupun valuta asing,
penetapan tingkat diskonto, penetapan cadangan wajib minimum, dan pengaturan kredit atau
pembiayaan. Bank Indonesia juga dapat melakukan cara-cara pengendalian moneter berdasarkan
Prinsip Syariah.

Secara umum tujuan dari kebijakan moneter antara lain:
Mengedarkan mata uang sebagai alat pertukaran (medium of exchange) dalam
perekonomian.
Mempertahankan keseimbangan antara kebutuhan likuiditas perekonomian dan stabilitas
tingkat harga.

5
Distribusi likuiditas yang optimal dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi yang
diinginkan pada berbagai sektor ekonomi
Membantu pemerintah melaksanakan kewajibannya yang tidak dapat terealisasi melalui
sumber penerimaan yang normal.
Menjaga kestabilan Ekonomi Artinya pertumbuhan arus barang dan jasa seimbang
dengan pertumbuhan arus barang dan jasa yang tersedia.
Menjaga kestabilan Harga .Harga suatu barang merupakan hasil interaksi antara jumlah
uang yang beredar dengan jumlah uang yang tersedia di pasar.
Meningkatkan kesempatan kerja ,Pada saat perekonomian stabil pengusaha akan
mengadakan investasi untuk menambah jumlah barang dan jasa sehingga adanya
investasi akan membuka lapangan kerja baru sehingga memperluas kesempatan kerja
masyarakat.
Memperbaiki neraca Perdagangan Kerja Masyaraka Dengan jalan meningkatkan ekspor
dan mengurangi impor dari luar negeri yang masuk ke dalam negeri atau sebaliknya.

C. FUNGSI KEBIJAKAN MONETER
Dari pengertian kebijakan moneter adalah suatu kebijakan yang diambil oleh pemerintah
(Bank Sentral) untuk menambah dan mengurangi jumlah uang yang beredar.
Sejak tahun 1945, kebijakan moneter hanya digunakan sebagai kebijakan ekonomi untuk
mencapai stabilitas ekonomi jangka pendek. Adapun kebijakan fiscal digunakan dalam
pengendalian ekonomi jangka panjang. Namun pada saat ini kebijakan moneter merupakan
kebijakan utama yang dipergunakan untuk pengendalian ekonomi jangka pendek dan jangka
panjang. Untuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar, pemerintah dapat melakukan
kebijakan uang ketat dan kebijakan uang longgar.
1. Tight Money Policy, yaitu kebijakan Bank Sentral untuk mengurangi jumlah uang yang
beredar dengan cara :
a. Menaikan suku bunga
b. Menjual surat berharga
c. Menaikan cadangan kas
d. Membatasi pemberian kredit

6
2. Easy Money Policy, yaitu kebijakan yang dilakukan oleh Bank Sentral untuk menambah
jumlah uang yang beredar dengan cara :
a. Menurunkan tungkat suku bunga
b. Membeli surat-surat berharga
c. Menurunkan cadangan Kas
d. Memberikan kredit longgar.

Mengingat tugas spesifik yang diemban oleh Bank Indonesia, Bank Indonesia tidak
sepenuhnya dapat mengendalikan inflasi, terutama tekanan inflasi yang berasal dari sisi
penawaran (cost push inflation). Bank Indonesia, melalui kebijakan moneter, dapat
mempengaruhi inflasi dari sisi permintaan, seperti investasi dan konsumsi masyarakat. Misalnya,
kebijakan kenaikan suku bunga dapat menge-rem pengeluaran masyarakat dan pemerintah
sehingga dapat menurunkan permintaan secara keseluruhan yang pada akhirnya dapat
menurunkan inflasi. Selain itu, kenaikan suku bunga ini dapat menguatkan nilai tukar melalui
peningkatan (positive) interest rate differential. Demikian juga, Bank Indonesia dapat
mempengaruhi ekspektasi masyarakat melalui kebijakan yang konsisten dan kredibel.
Harapannya adalah sasaran (target) inflasi Bank Indonesia diacu oleh masyarakat dan pelaku
ekonomi sehingga inflasi yang terjadi dapat sama atau mendekati sasaran inflasi. Apabila kondisi
ini terjadi, maka biaya pengendalian moneter dapat diminimalkan.
Secara teori, kebijakan moneter dapat ditransmisikan melalui berbagai jalur (channel),
yaitu jalur suku bunga, jalur kredit perbankan, jalur neraca perusahaan, jalur nilai tukar, jalur
harga aset, dan jalur ekspektasi. Dengan melewati jalur-jalur tersebut, kebijakan moneter akan
ditransmisikan dan berpengaruh ke sektor finansial dan sektor riil setelah beberapa waktu
lamanya (lag of monetery policy).
Selain kebijakan moneter yang bersifat langsung seperti di atas, bank sentral juga dapat
mempengaruhi tujuan akhirnya secara tidak langsung, yaitu melalui berbagai regulasi dan
himbauan (moral suassion) kepada sektor perbankan guna mempercepat mekanisme transmisi
kebijakan moneter. Dalam melaksanakan pengendalian moneter Bank Indonesia diberikan
kewenangan dalam menggunakan instrumen moneter berupa tetapi tidak terbatas pada operasi
pasar terbuka (open market operation), penetapan tingkat diskonto (discount rate), penetapan
giro wajib minimum (minimum reserve requirement), dan pengaturan kredit atau pembiayaan.

7
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar kebijakan moneter dapat mencapai
keberhasilan dalam pelaksanaannya. Prasyarat tersebut meliputi:
1. Indepensi Bank Sentral.
Sebenarnya tak ada Bank Sentral yang bisa bersifat benar-benar independen tanpa campur
tangan dari pemerintah. Namun demikian, ada instrumen kebijakan yang tidak dipengaruhi
oleh pemerintah, misalnya melalui kebijakan fiskal.
2. Fokus terhadap sasaran.
Pengendalian inflasi hanyalah salah satu di antara beberapa sasaran lain yang hendak dicapai
oleh Bank Sentral. Sasaran-sasaran lain kadang-kadang bertentangan dengan sasaran
pengendalian inflasi, misalnya sasaran pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja, neraca
pembayaran, dan kurs. Oleh karena itu, seharusnya bank Sentral tidak menetapkan sasaran
lain dan berfokus pada sasaran utama pengendalian inflasi.
3. Capacity to forecast inflation.
Bank Sentral mutlak harus mempunyai kemampuan untuk memprediksi inflasi secara
akurat, sehingga dapat menetapkan target inflasi yang hendak dicapai.
4. Pengawasan instrument
Bank Sentral harus memiliki kemampuan untuk mengawasi instrumen-instrumen kebijakan
moneter.
5. Pelaksanaan secara konsisten dan transparan.
Dengan pelaksanaan target inflasi secara konsisten dan transparan, maka kepercayaan
masyarakat terhadap kebijakan yang ditetapkan semakin meningkat.

D. KERANGKA OPERASI KEBIJAKAN MONETER
Kerangka operasi kebijakan moneter terdiri dari instrumen-instrumen moneter, sasaran
operasional, sasaran antara, dan sasaran akhir.
a. Instrumen-instrumen moneter
Kebijakan moneter dapat dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan moneter, yaitu
antara lain :
1. Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation)
Instrumen ini merupakan alat kebijakan moneter yang terpenting karena merupakan
determinan utama antara perubahan tingkat suku bunga dengan monetary base serta menjadi

8
sumber utama untuk mempengaruhi fluktuasi jumlah uang beredar. Operasi pasar terbuka
meliputi tindakan menjual atau membeli surat berharga pemerintah (government securities).
Jika ingin menambah jumlah uang beredar, pemerintah akan membeli surat berharga
pemerintah. Namun, bila ingin jumlah uang yang beredar berkurang, maka pemerintah akan
menjual surat berharga pemerintah kepada masyarakat. Surat berharga pemerintah antara
lain yaitu SBI (Sertifikat Bank Indonesia) dan SBPU (Surat Berharga Pasar Uang).
Operasi pasar terbuka memiliki dua pengaruh utama terhadap kondisi pasar uang
yaitu pertama, menaikkan cadangan bank-bank umum yang turut dalam transaksi. Hal ini
dikarenakan dalam pembelian surat berharga misalnya, bank sentral akan menambah
cadangan bank umum yang menjual surat berharga tersebut, akibatnya bank umum dapat
menambah jumlah uang yang beredar (melalui proses penciptaan kredit). Pada saat bank
sentral menjual surat-surat berharga di pasar terbuka, cadangan bank-bank umum akan
menurun. Berikutnya bank-bank ini dipaksa untuk mengurangi penyaluran kreditnya,
dengan demikian akan mengurangi jumlah uang beredar. Pengaruh yang kedua, tindakan
pembelian atau penjualan surat berharga akan mempengaruhi harga (dan dengan demikian
juga tingkat bunga) surat berharga, sehingga mengakibatkan menurunnya jumlah uang
beredar dan meningkatkan tingkat suku bunga.
Berdasarkan tujuannya, operasi pasar tebuka dibagi menjadi dua jenis yaitu:
Dynamic open market operation
Bertujuan untuk mengubah jumlah cadangan dan monetary base.
Defensif open market operation
Bertujuan untuk mengontrol faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi jumlah
cadangan dan monetary base.
2. Tingkat Diskonto (Discount Rate)
Kebijakan ini meliputi tindakan untuk mengubah tingkat bunga yang harus dibayar
oleh bank umum dalam hal meminjam dana dari bank sentral. Kebijakan ini pada dasarnya
bertujuan untuk mempengaruhi tingkat diskonto yang selanjutnya akan berpengaruh
terhadap jumlah uang beredar melalui perubahan tingkat bunga pinjaman. Dengan
menaikkan diskonto, maka biaya untuk meminjam dana dari bank sentral akan naik sehingga
akan mengurangi keinginan bank umum untuk melakukan peminjaman ke bank sentral.
Akibatnya, jumlah uang yang beredar dapat ditekan atau dikurangi. Di samping itu, posisi

9
jumlah cadangan juga dapat dipengaruhi melalui instrumen ini. Apabila tingkat diskonto
mengalami kenaikan, maka akan meningkatkan biaya pinjaman pada bank. Peningkatan
jumlah cadangan ini merupakan indikasi bahwa bank sentral menerapkan kebijakan moneter
yang ketat.
3. Penetapan giro wajib minimum (minimum reserve requirement)
Rasio cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan
memainkan jumlah dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah.
Apabila cadangan wajib minimum diturunkan, maka akan mengakibatkan terjadinya
peningkatan jumlah deposito sehingga jumlah uang beredar cenderung meningkat dan
sebaliknya apabila cadangan wajib minimum dinaikkan, maka akan mengurangi jumlah
deposito yang akhirnya akan menurunkan jumlah uang yang beredar. Sehingga untuk
menambah jumlah uang, pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib. Untuk menurunkan
jumlah uang beredar, pemerintah menaikkan rasio.
4. Himbauan Moral (Moral Persuasion)
Himbauan moral merupakan kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar
dengan jalan memberi imbauan kepada pelaku ekonomi. Kebijakan ini dilakukan oleh Bank
Indonesia dengan meminta atau mengimbau bank-bank untuk selalu mempertimbangkan
kondisi makro ekonomi maupun kondisi mikro masing-masing bank dalam menyusun
rencana ekspansi kredit yang realitas. Kebijakan persuasi moral ini pada dasarnya
dimaksudkan untuk mendorong perbankan agar senantiasa menerapkan prinsip kehati-hatian
dalam memberikan kredit, untuk mengurangi jumlah uang beredar dan menghimbau agar
bank meminjam uang lebih ke bank sentral untuk memperbanyak jumlah uang beredar pada
perekonomian namun dengan tetap memberikan kebebasan bagi perbankan untuk tumbuh
dan berkembang berdasarkan mekanisme pasar.
Kredit selektif
Politik bank sentral untuk mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara
memeperketat pemberian kredit.
Politik sanering
Politik sanering ini dilakukan bila sudah terjadi hiper inflasi. Kebijakan ini pernah
dilakukan oleh Bank Indonesia pada tanggal 13 Desember 1965 yang melakukan
pemotongan uang dari Rp 1.000 menjadi Rp 1.

10

b. Sasaran operasional (Operational Target)
Variabel sasaran operasional digunakan untuk mengarahkan sasaran antara. Penetapan sasaran
operasional tergantung pada jalur mana yang diyakini efektif dalam transmisi kebijakan moneter.
Kriteria sasaran operasional antara lain:
Dipilih dari variabel moneter yang memiliki hubungan yang stabil dengan sasaran.
Dapat dikendalikan oleh bank sentral.
Tersedia lebih segera dibanding sasaran antara, akurat dan tidak sering direvisi

c. Sasaran antara (intermediate target)
Hubungan antara sasaran operasional dan sasaran akhir kebijakan moneter bersifat tidak
langsung dan kompleks. Untuk alasan itu, para ahli moneter dan praktisi bank sentral
mendesain simple rule untuk membantu pelaksanaan kebijakan moneter dengan cara
menambahkan indikator yang disebut sebagai sasaran antara. Sasaran antara merupakan
indikator untuk menilai kinerja keberhasilan kebijakan moneter, sasaran ini dipilih dari variabe-
variabel yang memiliki keterkaitan stabil dengan inflasi, cakupannya luas, dapat dikendalikan
oleh bank sentral, tersedia relatif cepat, akurat dan tidak sering direvisi, antara lain agregat
moneter mencakup M1 (uang kartal dan uang giral) dan M2 (jumlah uang beredar), kredit
perbankan, dan nilai tukar.

d. Sasaran akhir (final target)
Tujuan atau sasaran akhir kebijakan moneter tergantung pada tujuan yang dimandatkan
oleh undang-undang bank sentral suatu negara. Misalnya Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 3 Tahun
2004 tentang BI secara eksplisit mencantumkan bahwa tujuan akhir kebijakan moneter adalah
mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah (stabilitas moneter). Taylor (1995) menyatakan
bahwa mekanisme transmisi kebijakan moneter adalah mekanisme transmisi kebijakan moneter
merupakan jalur-jalur yang dilalui oleh kebijakan moneter dalam mempengaruhi sasaran akhir
kebijakan moneter yaitu inflasi.


11




E. TINJAUAN ATAS KERANGKA KEBIJAKAN MONETER BANK INDONESIA
Kestabilan Harga vs Pertumbuhan Ekonomi
Beberapa dasawarsa yang lalu, kebijakan moneter secara aktif digunakan untuk
mendorong perekonomian dan lapangan pekerjaan, agar laju pertumbuhan ekonomi berada pada
tingkat potensialnya. Peran Bank Indonesia sebagai bank sentral dalam konteks pengelolaan
perekonomian secara makro, lebih difokuskan pada menjaga kestabilan harga. Dalam Undang-
Undang No. 23/1999 tentang Bank Indonesia, terdapat pemikiran ulang dalam memformulasikan
tujuan kebijakan moneter yang jauh lebih focus dari UU sebelumnya, yaitu memelihara
kestabilan nilai rupiah.
Dari sudut pandang bank sentral, rasionalitas utama dari penerapan single objective
kestabilan harga didasarkan pada relevansi sasaran tersebut sebagai tujuan kebijakan moneter.
Dalam jangka panjang. Kebijakan yang dapat dilakukan oleh suatu bank sentral melalui sisi
permintaan, hanya dapat mempengaruhi nilai nominal uang, sedangkan aktivitas riil
perekonomian ditentukan disektor riil, misalnya melalui kebijakan yang dapat mempengaruhi
produktivitas.
Pemerintah lebih mengutamakan pertumbuhan ekonomi, khususnya di Indonesia lebih
didorong oleh tingkat konsumsi masyarakat. Dengan demikian, dapat memberikan tantangan
tersendiri bagi Bank Indonesia dalam menjaga kestabilan harga dan pencapaian target inflasi
yang ditetapkan. Paradigma kebijakan moneter sering disebut activist monetary policy.
Paradigma ini tidak lepas dari keyakinan bahwa dalam jangka panjang terdapat trade off antara

12
pengangguran dan inflasi, atau dikenal sebagai kurva Philips (Mankiw, 2000 : 335-337). Artinya
dalam jangka panjang, bank sentral dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara permanen
dengan mengorbankan inflasi pada tingkat tertentu.
Dalam manajemen perekonomian secara makro, biasanya pilihan kebijakan yang
ditawarkan terbatas pada kebijakan ekonomi jangka pendek yang dapat meningkatkan
permintaan agregat. Atas pandanngan tersebut, pendukung sasaran tunggal inflasi cenderung
menyimpulkan bahwa trade off yang mungkin terjadi hanya bersifat jangka pendek. Dalam
jangka panjang, pencapaian kestabilan harga justru akan mendukung pencapaian pertumbuhan
ekonomi yang berkesinambungan. Dengan sasaran inflasi yang sesuai (compatible), kebijakan
moneter dapat diarahkan untuk memengaruhi aggregate demand agar sejalan dengan kapasitas
perekonomian dari sisi supply (Sabirin, 2002:4).
I nflation Targeting Framework (ITF)sebagai Kerangka Kebijakan Moneter
Kerangka kerja ini diterapkan secara formal sejak Juli 2005, setelah sebelumnya
menggunakan kebijakan moneter yang menerapkan uang primer (base money) sebagai sasaran
kebijakan moneter. Kinerja perekonomian pada masa lalu tidak terlalu menggembirakan. Tidak
lama setelah krisi moneter menghantam Indonesia, ada perubahan yang mendasar dalam
perumusan kebijakan moneter Indonesia. Jika sebelum krisis kebijakan moneter diarahkan untuk
meralisasikan beberapa tujuan, seperti pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja, stabilitas harga,
dan tujuan-tujuan pembangunan yang lebih luas , maka kebijakan saat ini hanya memiliki satu
tujuan, yaitu menjaga dan mewujudkan tingkat inflasi yang rendah atau disebut sebagai
kebijakan moneter dengan sasaran tunggal (inflasi) (Ismail, 2003 : 1).
Untuk mencapai sasaran inflasi, kebijakan moneter dilakukan secara forward looking,
artinya perubahan stance kebijakan moneter dilakukan melaui evaluasi apakah perkembangan
inflasi ke depan masih sesuai dengan sasaran inflasi yang telah dicanangkan. Dalam kerangka
kerja ini, kebijakan moneter juga ditandai oleh transparansi dan akuntabilitas kebijakan kepada
publik. Secara operasional, stance kebijakan moneter dicerminkan oleh penetapan suku bunga
kebijakan (BI Rate) yang diharapkan akan memengaruhi suku bunga pasar uang dan suku bunga
deposito dan suku bunga kredit perbankan. Perubahan suku bunga ini pada akhirnya akan
memengaruhi output dan inflasi.
Dalam terminolog moneter, kerangka kerja kebijakan yang didasarkan pada pencapaian
suatu target inflasi yang diumumkan kepada publik secara eksplisit disebut sebagai inflation

13
targeting framework. Target inflasi dapat dipandang sebagai suatu anchor kebijakan yang akan
menentukan respon kebijakan yang diambil oleh bank sentral. Mengimplementasikan kebijakan
inflation targeting tidak semudah yang dibayangkan. Hal ini disebabkan karena banyaknya faktor
moneter dan non-moneter yang sulit dikendalikan bank sentral sebagai institusi yang
bertanggung jawab atas implementasi kebijakan moneter (Ismail, 2003 : 1).
Setiap periode Bank Indonesia mengevaluasi apakah proyeksi inflasi ke depan masih
sesuai dengan sasaran yang ditetapkan. Proyeksi ini dilakukan dengan sejumlah model dan
sejumlah informasi yang dapat menggambarkan kondisi inflasi ke depan. Jika proyeksi inflasi
sudah tidak kompatibel dengan sasaran, Bank Indonesia melakukan respon dengan menggunakan
instrumen yang dimiliki. Misalnya jika proyeksi inflasi telah melampaui sasaran, maka Bank
Indonesia akan cenderung melakukan pengetatan moneter.
Secara reguler, Bank Indonesia menjelaskan kepada publik mengenai asesmen terhadap
kondisi inflasi dan outlook ke depan serta keputusan yang diambil. Jika sasaran inflasi tidak
tercapai maka diperlukan penjelasan kepada publik dan langkah-langkah yang akan diambil
untuk mengembalikan inflasi sesuai dengan sasarannya.
Dalam kondisi ekonomi yang sedang krisis, pemerintah menempuh kebijakan yang
cenderung ekspansif, guna mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi yang cepat. Namun hal
ini cenderung memberikan tekanan-tekanan terhadap inflasi. Sementara di sisi lain melalui
penetapan inflation targeting bank sentral cenderung mengarah pada kebijakan untuk
menciptakan inflasi yang rendah dan stabil. Dalam kerangka inflation targeting, otoritas moneter
memiliki kebebasan dalam menentukan stance kebijakan yang akan diambil, tetapi kebebasan
tersebut dibatasi oleh komitmen untuk mencapai suatu sasaran inflasi tertentu.
Pada umumnya, implementasi kebijakan moneter dalam mencapai sasaran akhir, baik
sasaran pengendalian inflasi, maupun pertumbuhan ekonomi, dapat dilakukan melalui dua target
pendekatan,yaitu quantity targeting dan price targeting. Dengan kata lain, strategi kebijakan
moneter berbasis pada pengendalian uang beredar atau suku bunga.

F. IMPLIKASI KEBIJAKAN MONETER
1. Pertumbuhan Ekonomi
Dari sisi permintaan, sumber utama pertumbuhan ekonomi masih akan ditopang oleh
kegiatan konsumsi. Sementara itu, mengingat kondisi global yang belum terlalu kondusif,

14
pertumbuhan ekspor dan investasi diperkirakan belum akan mengalami peningkatan yang
cukup berarti. Sedangkan dari sisi penawaran, seluruh sektor ekonomi diperkirakan akan
mengalami peningkatan kegiatan yang positif, seperti sector industry pengolahan, sector
perdagangan, dan sector pengangkutan menjadi penyumbang utama pertumbuhan
ekonomi (Laporan BI, 2003 : 16).
2. Laju Inflasi
Di bidang inflasi, meskipun mengalami tekanan permintaan, secara umum
pekembangannya sudah mulai menunjukkan kecenderungan tekanan harga yang tidak
terlalu tinggi.
3. Nilai Tukar
Secara umum, nilai tukar rupiah pada Triwulan IV-2003 bergerak relatif stabil dengan
kecenderungan melemah.
4. Suku Bunga
Seiring dengan membaiknya indikator-indikator ekonomi dan moneter, terutama
berkurangnya tekanan inflasi dan nilai tukar relatif stabil dalam negeri berdampak positif
terhadap suku bunga. Penurunan suku bunga SBI tidak serta merta menurunkan suku
bunga pinjaman perbankan. Hal ini berarti fungsi intermediasi perbankan di Indonesia
tampaknya belum pulih sepenuhnya.
5. Uang primer
Dalam pengendalian moneter, Bank Indonesia memiliki sasaran operasional, yaitu
mempertahankan level uang primer agar sesuai dengan kebutuhan riil perekonomian dan
konsisten dengan pencapaian target inflasi.
6. Perbankan
Secara umum, kinerja sector perbankan belum menunjukkan perbaikan yang berarti.
Meskipun beberapa indikator perbankan, yakni pengumpulan dana pihak ketiga (DPK)
dan permodalan meningkat, namun indikator-indikator lain, seperti komposisi aktiva
produktif, perkembangan kredit, dan penyaluran kredit baru masih belum optimal.
Perkembangan dan prospek ekonomi moneter dewasa ini mengharuskan adanya upaya
untuk menjaga momentum keberhasilan yang dicapai. Untuk itu, kebijakan moneter yang
ditempuh perlu diupayakan secara konsisten lewat penyerapan kelebihal likuiditas melalui
Operasi Pasar Terbuka (OPT), agar uang primer tetap berada pada level dibawah indikatif

15
targetnya sehingga tidak menimlbulkan tekanan baru pada inflasi dan nilai tukar. Dengan
berbagai perkembangan dan perubahan yang mnedasar dalam perekonomian dan sector
keuangan telah menyebabkan paradigm lama kebijakan moneter melalui transmisi uang beredar
perlu dikaji ulang. Transmisis kebijakan moneter melalui kuantitas, seperti uang beredar dan
kredit diyakini tidak sekuat pada masa lalu. Mekanisme transmisi melalui harga, seperti suku
bunga dan nilai tukar, diyakini lebih mendekati kenyataan yang terjadi di Indonesia dewasa ini
dan di masa mendatang.
Dibidang perbankan, dalam rangka mendukung efektivitas kebijakan moneter, focus
utama kebijakan perbankan masih dikonsentrasikan kepada kelanjutan program restrukturisasi
perbankan serta meningkatkan fungsi intermediasi perbankan. Selain itu, peningkatan
pengawasan bank sebagai upaya untuk memelihara Capital Adequacy Ratio (CAR) bank-bank
yang telah mencapai 8%, khususnya terhadap bank-bank yang struktur permodalannya masih
rentan terhadap pengaruh kenaikan suku bunga, melemahnya nilai tukar, dan penurunan kualitas
kredit. Upaya pemulihan ekonomi dan menjaga kestabilan sistem keuangan sangat tergantung
kepada dukungan aspek diluar ekonomi, seperti keamanan, sosial dan politik dalam negeri. Oleh
karena itu, sebagai bagian dari kerangka kebijakan makroekonomi secara keseluruhan, kebijakan
Bank Indonesia di bidang moneter, perbankan, dan sistem pembayaran tidak dapat dipisahkan
dengan keselarasan kebijakan fiscal dan sektor riil.

G. KEBIJAKAN MONETER DAN PERBANKAN
Perkembangan moneter dan perbankan di Indonesia sejak orde baru pada dasarnya dapat
digolongkan dalam 3 periode, yaitu:
Periode stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi. Kebijakan moneter dan perbankan pada
periode stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi di awal orde baru pada dasarnya untuk
mengatasi kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan saat itu. meskipun tidak ada
angka inflasi yang pasti dan disepakati namun berbagai pengamat memperkirakan tingkat
inflasi berkisar 650% per tahun, suatu angka yang fantastis dibandingkan dengan kondisi
perekonomian negara-negara tetangga saat itu. Untuk menghambat laju inflasi tersebut
pemerintah mengupayakan pengendalian tingkat inflasi kebatas yang lebih aman,
meningkatkan ekspor, dan mencukupkan sandang bagi masyarakat. Dalam rangka
mengendalikan inflasi diambil dua kebijakan pokok. Pertama mengubah kebijakan

16
anggaran defisit menjadi anggaran berimbang. Kedua, menjalankan kebijakan kredit yang
sangat ketat dan kualitatif. Pada periode ini pula pemerintah, sebagai bagian dari
penataan kembali ekonomi, dilakukan pula penataan sistem perbankan dengan
mengeluarkan Undang-undang No. 14 Tahun 1967 tentang Pokok-pokok Perbankan dan
Undang-undang No. 13 Tahun 1968 tentang Bank Indonesia.
Periode saat ekonomi ditunjang sektor minyak. Kebijakan pemerintah dalam upaya
mobilisasi dana masyarakat sebagai sumber pembiayaan pembangunan disertai dengan
penyediaan Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) yang berbunga rendah
memperbesar kemampuan perbankan dalam penyaluran kredit. Penyediaan KLBI dalam
jumlah besar akibat besarnya penerimaan negara dari hasil ekspor minyak pada
pertengahan dekade 1970-an yang dikenal dengan istilah boom minyak, mendorong
tingginya kembali tingkat inflasi. Kebijakan moneter yang ditempuh pada periode boom
minyak ini antara lain:
a. Menetapkan pagu kredit (credit ceiling) dan aktiva lainnya.
b. Menaikkan bunga kredit.
c. Menaikkan bunga deposito.
d. Menaikkan ketentuan cadangan likuiditas wajib.
Periode deregulasi perbankan. Memasuki dekade 1980-an ekonomi Indonesia mengalami
resesi sebagai dampak dari resesi dunia. Produk domestik bruto turun drastis menjadi
hanya 2,2% dibandingkan rata-rata 7,7% pada tahun-tahun sebelumnya, bahkan pernah
mencapai 9,9% pada tahun 1980. Sementara itu, neraca pembayaran terus meburuk dan
bahkan terjadi defisit sebesar USD 1,930 juta pada tahun 1982. Untuk mengatasi kondisi
ekonomi yang semakin memburuk tersebut, pemerintah melakukan perubahan kebijakan
di bidang ekonomi termasuk moneter dan perbankan. Kebijakan-kebijakan yang
ditempuh pemerintah pada saat itu antara lain:
a. Penyesuaian nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat pada bulan
Maret 1983 dari Rp 700 menjadi Rp 970.
b. Penjadwalan ulang proyek-proyek yang menggunakan devisa dalam jumlah
besar.
c. Melakukan deregulasi sektor moneter dan perbankan dengan berbagai jenis
paket kebijakan.

17

H. PEMULIHAN EKONOMI MELALUI KEBIJAKAN MONETER DI INDONESIA
Krisis moneter indonesia
Krisis yang melanda bangsa Indonesia, menjadi awal terpuruknya sebuah negara dengan
kekayaan alam yang melimpah ini. Dari awal 1998, sejak era orde baru mulai terlihat
kebusukannya Indonesia terus mengalami kemerosotan, terutama dalam bidang ekonomi. Nilai
tukar semakin melemah, inflasi tak terkendali, juga pertumbuhan ekonomi yang kurang
berkembang di negara ini.
Pada Juni 1997, Indonesia terlihat jauh dari krisis. Tidak seperti Thailand, Indonesia
memiliki inflasi yang rendah, perdagangan surplus lebih dari 900 juta dolar, persediaan mata
uang luar yang besar, lebih dari 20 milyar dolar, dan sektor bank yang baik. Tapi banyak
perusahaan Indonesia banyak meminjam dolar AS. Di tahun berikut, ketika rupiah menguat
terhadap dolar, praktisi ini telah bekerja baik untuk perusahaan tersebut level efektifitas
hutang mereka dan biaya finansial telah berkurang pada saat harga mata uang lokal meningkat.
Pada Juli, Thailand megambangkan baht, Otoritas Moneter Indonesia melebarkan jalur
perdagangan dari 8 persen ke 12 persen. Rupiah mulai terserang kuat di Agustus. Pada 14
Agustus 1997, pertukaran floating teratur ditukar dengan pertukaran floating-bebas. Rupiah jatuh
lebih dalam. IMF datang dengan paket bantuan 23 milyar dolar, tapi rupiah jatuh lebih dalam
lagi karena ketakutan dari hutang perusahaan, penjualan rupiah, permintaan dolar yang kuat.
Rupiah dan Bursa Saham Jakarta menyentuh titik terendah pada bulan September. Moodys
menurunkan hutang jangka panjang Indonesia menjadi junk bond.
Meskipun krisis rupiah dimulai pada Juli dan Agustus, krisis ini menguat pada November
ketika efek dari devaluasi di musim panas muncul di neraca perusahaan. Perusahaan yang
meminjam dalam dolar harus menghadapi biaya yang lebih besar yang disebabkan oleh
penurunan rupiah, dan banyak yang bereaksi dengan membeli dolar, yaitu: menjual rupiah,
menurunkan harga rupiah lebih jauh lagi.
Inflasi rupiah dan peningkatan besar harga bahan makanan menimbulkan kekacauan di
negara ini. Pada Februari 1998, Presiden Suharto memecat Gubernur Bank Indonesiaa, tapi ini
tidak cukup. Suharto dipaksa mundur pada pertengahan 1998 dan B.J. Habibie menjadi
presidenSampai 1996, Asia menarik hampir setengah dari aliran modal negara berkembang.
Tetapi,Thailand, Indonesia dan Korea Selatan memiliki current account deficit dan

18
perawatan kecepatan pertukaran pegged menyemangati peminjaman luar dan menyebabkan ke
keterbukaan yang berlebihan dari resiko pertukaran valuta asing dalam sektor finansial dan
perusahaan.
Pelaku ekonomi telah memikirkan akibat Daratan Tiongkok pada ekonomi nyata sebagai
faktor penyumbang krisis. RRT telah memulai kompetisi secara efektif dengan eksportir Asia
lainnya terutaman pada 1990-an setelah penerapan reform orientas-eksport. Yang paling penting,
mata uang Thailand dan Indonesia adalah berhubungan erat dengan dollar, yang naik nilainya
pada 1990-an. Importir Barat mencari pemroduksi yang lebih murah dan menemukannya di
Tiongkok yang biayanya rendah dibanding dollar.

Pemulihan ekonomi pasca krisis moneter
Kestabilan harga dan nilai tukar merupakan prasyarat bagi pemulihan ekonomi karena tanpa
itu aktivitas ekonomi masyarakat, sektor usaha, dan sektor perbankan akan terhambat. Oleh
karena itu, tidaklah berlebihan kiranya jika fokus utama kebijakan moneter Bank Indonesia
selama krisis ekonomi ini adalah mencapai dan memelihara kestabilan harga dan nilai tukar
rupiah. Apalagi Undang-undang No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia secara jelas
menyebutkan bahwa tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai
rupiah yang di dalamnya mengandung pengertian kestabilan harga (laju inflasi) dan kestabilan
nilai tukar rupiah. Dengan perkataan lain, sesuai dengan UU No. 23 tahun 1999 sasaran
kebijakan moneter Bank Indonesia hanya satu (single objective), yaitu memelihara kestabilan
nilai rupiah. Hal ini berbeda dengan Undang-undang tentang Bank Sentral yang lama, yaitu UU
No. 13 tahun 1968, yang menuntut Bank Indonesia untuk memenuhi beberapa sasaran sekaligus
(multiple objectives), yakni mendorong kegiatan ekonomi, memperluas kesempatan kerja, dan
memelihara kestabilan nilai rupiah, yang pencapaiannya pada hakekatnya dapat saling bertolak
belakang, terutama dalam jangka pendek.
Untuk mencapai tujuan di atas, Bank Indonesia hingga saat ini masih menerapkan
kerangka kebijakan moneter yang didasarkan pada pengendalian jumlah uang beredar atau yang
di kalangan akademisi dikenal sebagai quantity approach. Di dalam kerangka tersebut Bank
Indonesia berupaya mengendalikan uang primer (base money) sebagai sasaran operasional
kebijakan moneter. Dengan jumlah uang primer yang terkendali maka perkembangan jumlah
uang beredar, diharapkan juga ikut terkendali. Selanjutnya, dengan jumlah uang beredar yang

19
terkendali diharapkan permintaan agregat akan barang dan jasa selalu bergerak dalam jumlah
yang seimbang dengan kemampuan produksi nasional sehingga harga-harga dan nilai tukar dapat
bergerak stabil.
Dengan menggunakan kerangka kebijakan moneter seperti telah diuraikan di atas, Bank
Indonesia pada periode awal krisis ekonomi, terutama selama tahun 1998, menerapkan kebijakan
moneter ketat untuk mengembalikan stabilitas moneter. Kebijakan moneter ketat terpaksa
dilakukan karena dalam periode itu ekspektasi inflasi di tengah masyarakat sangat tinggi dan
jumlah uang beredar meningkat sangat pesat.
Di tengah tingginya ekspektasi inflasi dan tingkat risiko memegang rupiah, upaya
memperlambat laju pertumbuhan uang beredar telah mendorong kenaikan suku bunga domestik
secara tajam. Suku bunga yang tinggi diperlukan agar masyarakat mau memegang rupiah dan
tidak membelanjakannya untuk hal-hal yang tidak mendesak serta tidak menggunakannya untuk
membeli valuta asing.
Upaya pemulihan kestabilan moneter melalui penerapan kebijakan moneter ketat yang
dibantu dengan upaya pemulihan kepercayaan masyarakat kepada perbankan nasional mulai
memberikan hasil positif sejak triwulan IV 1998. Pertumbuhan uang beredar yang melambat dan
suku bunga simpanan di perbankan yang tinggi telah mengurangi peluang dan hasrat masyarakat
dalam memegang mata uang asing sehingga tekanan depresiasi rupiah berangsur surut. Sejak
pertengahan tahun 1998 nilai tukar rupiah terhadap USD cenderung menguat dan kemudian
bergerak relatif stabil selama tahun 1999.
Sesuai dengan sistem nilai tukar mengambang yang diterapkan sejak 14 Agustus 1997,
perkembangan nilai tukar rupiah lebih banyak ditentukan oleh mekanisme pasar. Di dalam
sistem tersebut, penguatan nilai tukar rupiah yang terjadi sejak pertengahan 1998 hingga akhir
1999 lebih banyak disebabkan oleh meredanya tekanan permintaan valas sejalan dengan
terkendalinya jumlah uang beredar dan turunnya ekspektasi inflasi.
Bank Indonesia hanya melakukan penjualan valas melalui mekanisme pasar pada harga
pasar untuk mensterilisasi atau menyedot kembali ekspansi moneter yang berasal dari
pembiayaan defisit anggaran pemerintah dan bukan terutama itujukan untuk mengarahkan nilai
tukar rupiah ke suatu tingkat tertentu. Pelaksanaan penjualan valas itu pun tidak sampai
membahayakan posisi cadangan devisa Bank Indonesia karena menggunakan devisa yang

20
berasal dari penarikan hutang luar negeri pemerintah yang memang diperuntukkan untuk
mendukung pembiayaan defisit anggaran pemerintah.
Nilai tukar rupiah yang menguat serta didukung oleh pasokan dan distribusi barang-
barang kebutuhan pokok yang membaik telah mendorong penurunan laju inflasi sejak awal
triwulan IV 1998. Bahkan, laju inflasi bulanan yang sempat mencapai 12,67% pada bulan
Februari 1998, mencatat angka negatif atau deflasi dalam bulan Oktober 1998. Deflasi tersebut
kemudian berlanjut sebanyak tujuh kali berturut-turut selama periode Maret September 1999.
Dengan perkembangan tersebut, laju inflasi selama tahun 1999 hanya mencapai 2,0%, jauh lebih
rendah daripada laju inflasi selama tahun 1998 yang mencapai 77,6%. Berarti Indonesia telah
berhasil mengelakkan bahaya hiperinflasi yang sempat mengancam selama paruh pertama 1998.
Dalam perkembangan selanjutnya, laju inflasi yang sangat rendah dan nilai tukar rupiah
yang telah jauh menguat dibandingkan di masa puncak krisis telah memberikan ruang gerak bagi
Bank Indonesia untuk memperlonggar kebijakan moneter dan mendorong penurunan suku bunga
domestik. Sebagai cerminan kebijakan moneter yang agak longgar, pertumbuhan tahunan sasaran
indikatif uang primer yang sebelumnya terus diturunkan hingga mencapai 11,2% pada Juni 1999,
sejak awal semester II 1999 mulai dinaikkan hingga mencapai 15,7% pada Maret 2000. Sejalan
dengan itu, suku bunga SBI 1 bulan yang selama ini menjadi patokan (benchmark) bagi bank-
bank terus menurun dari level tertinggi 70,58% pada September 1998 menjadi 11,0% pada akhir
April 2000. Penurunan suku bunga SBI yang cukup tajam itu diikuti oleh suku bunga pasar uang
antarbank (PUAB) dan simpanan perbankan dengan laju penurunan yang hampir sama.
Adapun para ekonom sepakat ciri-ciri suatu Negara yang rentan terhadap krisis moneter
adalah apabila Negara tersebut:
1. Memiliki jumlah hutang luar negeri yang cukup besar
2. Mengalami inflasi yang tidak terkontrol
3. Defisit neraca pembayaran yang besar
4. Kurs pertukaran mata uang yang tidak seimbang
5. Tingkat suku bunga yang diatas kewajaran




21
DAFTAR PUSTAKA

http://kinantiarin.wordpress.com/kebijakan-moneter/
http://organisasi.org/definisi-pengertian-kebijakan-moneter-dan-kebijakan-fiskal-instrumen-
serta-penjelasannya
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/06/kebijakan-moneter-derfinisi-dan.html
http://thestory4u.wordpress.com/2010/09/16/kebijakan-moneter-indonesia-pasca-krisis-
subprime-mortgage-di-us/
http://www.bi.go.id
Sabirin, Syahril. 2002. Kebijakan Moneter Bank Indonesia Dalam Mendukung Proses Pemulihan
Ekonomi. Makalah disampaikan pada kuliah umum di Universitas Airlangga: Surabaya
Yustika, Ahmad Erani. 2006. Perekonomian Indonesia: Deskripsi, Preskripsi, dan Kebijakan.
Banyumedia Publishing : Malang



















22
LAMPIRAN







23