Anda di halaman 1dari 6

TOPICAL PAPER

NATURAL ENVIRONMENT

ASAP ROKOK SEBAGAI SALAH SATU POLUSI UDARA YANG


PALING BERBAHAYA

Pengajar:
Prof. Drs. Shalihuddin Djalal Tandjung, Msc., Ph.D.

Ade Kurniawan Dwi P.

08/270990/PEK/12390
EKSEKUTIF ANGKATAN 21 A

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
JAKARTA
2009
ASAP ROKOK SEBAGAI SALAH SATU POLUSI UDARA YANG PALING
BERBAHAYA

Salah satu permasalahan dalam lingkungan alam kita adalah masalah polusi udara yang
banyak disebabkan oleh gas buangan dari kendaraaan bermotor. Pada dasarnya setiap manusia
memiliki potensi untuk ikut member kontribusi pada kerusakan lingkungan dan berdampak pada
pemanasan global yang berakibat pada akhirnya kepada gangguan kesehatan bagi manusia.

Para ilmuwan memperkirakan bahwa peningkatan suhu bumi, atau yang diistilahkan
sebagai global warming, pada akhirnya akan mempengaruhi banyak hal seperti pasokan makanan
dunia, perubahan tingkat permukaan air laut, serta terjadinya penyebaran penyakit tropis serta
iklim yang berubah-ubah cuaca yang ekstrim serta bencana alam. Zat-zat yang berbahaya dari
asap kendaraan bermotor antara lain karbon monoksida (CO), partikulat matter dan nitrogen
dioksida (N02).

Pemerintah DKI baru-baru ini mengeluarkan UU Nomor 14/1992 yang telah direvisi
menjadi UU Nomor 22/2009 serta Perda nomor 02/2005 tentang uji emisi kendaraan bermotor.
Adapun tujuan diberlakukannya peraturan ini adalah untuk menekan kadar gas buang yang
dihasilkan dari pembakaran kendaraan bermotor di wilayah DKI Jakarta, jadi setiap kendaraan
bermotor ddi wilayah DKI Jakarta wajib menjalani test uji emisi dan mendapatkan stiker tanda
lulus. Bagi sebagian masyarakat DKI peraturan ini dinilai terlambat dan ditanggapi dengan
pesimis bahkan ada yang menyebut dengan bisnis korupsi gaya baru. Hal ini berkaitan dengan
banyaknya peraturan – peraturan yang telah dikeluarkan namun pada pelaksanaannya tidak
konsisten sebut saja sebelum peraturan uji emisi ini diberlakukan sudah pernah ada peraturan
pembatasan kepemilikan kendaraaan atau pengenaan pajak yang lebih mahal bagi pemilik
kendaraan lebih dari satu dan pemberlakuan shift kendaraaan yang boleh melewati jalan protokol
berdasarkan nomor polisi dua angka terakhir. Kedua peraturan tersebut sampai saat ini tidak lagi
terdengar dan tidak jelas apakah masih berlaku atau sudah dicabut.

Menurut Tandjung ( 2001 ) pemerintah Indonesia harus mempunyai regulasi yang dapat
mengarahkan kebiasaan masyarakat yang concern pada tanggungjawab terhadap penghijauan
lingkungan sebagai sebuah absorber untuk menyerap segala macam energi dan menggantikan
kerusakan – kerusakan lingkungan yang ditimbulkan dari polusi udara tersebut. Salah satu yang
mungkin diperlukan adalah peraturan yang mengharuskan penjual kendaraan bermotor untuk
menanam satu pohon untuk setiap kendaraan bermotor yang terjual.

Baru-baru ini Pemerintah Indonesia berani menargetkan penurunan gas emisi sampai
dengan 26% pada tahun 2012 dan jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Dunia hal ini
merupakan suatu hal yang berani karena disaat neraga-negara lain sedang merencanakan akan
mengurangi gas emisi tersebut, pemerintah Indonesia sudah berani menargetkannya.

Selain polusi udara yang disebabkan oleh kendaraaan bermotor, sebenarnya polusi yang
memberikan dampak langsung pada kesehatan bagi manusia dan dianggap lebih berbahaya
adalah Asap Rokok. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia ( KUBI ) bahwa asap rokok atau
hasil pembakaran yang tidak melalui filterisasi hingga ambang normal bagi kesehatan manusia/
mahluk hidup termasuk dalam kategori polusi / polutan. Tanpa disadari, asap rokok juga
memiliki andil yang cukup kuat dalam polusi udara dan kerusakan lingkungan. logam-logam
berat seperti arsenik, kadmium, dan timbal telah dideteksi dalam asap rokok,dengan
menunjukkan bahwa unsur-unsur toksik ini bisa merambat sampai jarak berbeda-beda dalam
aliran udara. Rokok yang sedang terbakar menghasilkan lebih dari 4.000 zat kimia; banyak
diantaranya yang bersifat toksik dan sekitar 40 menyebabkan kanker. Senyawa-senyawa ini tetap
berada di udara sebagai asap tembakau lingkungan yang dihirup oleh orang lain di kawasan
tersebut.

Merokok bagi sebagian masyarakat Indonesia sudah menjadi candu. Padahal penggunaan
rokok/tembakau menimbulkan dampak buruk dari segi sosial, ekonomi, dan kesehatan. Karena
itu, dampak negatifnya kini telah menjadi isu kesehatan masyarakat global (dunia) sehingga
perlu diperhatikan upaya pengendaliannya. Semakin banyak orang yang merokok baik
dikalangan anak-anak, para remaja termasuk kaum perempuan dan remaja putri, akan
mengancam produktivitas masyarakat dan semakin dini orang mulai merokok, maka semakin
cepat orang tersebut terkena kanker paru-paru

Menurut Global Youth Tobbaco Survey, terungkap 12,6% pelajar setingkat SMP adalah
merokok, dan yang sebanyak 30,9% pelajar perokok tersebut mulai merokok sebelum umur 10
tahun dan 3,2% dari mereka sudah tergolong kecanduan. Hasil lain dari penelitian tersebut,
sebanyak 64,2% pelajar SMP menyatakan mereka terkena asap rokok orang lain (perokok pasif )
di rumah mereka sendiri. Selain itu, diketahui bahwa sebanyak 81% pelajar SMP terkena asap
rokok orang lain justru di tempat-tempat umum.

Di Indonesia sendiri terjadi fenomena yang memprihatinkan karena menurut penelitian


bahwa pengeluaran rumah tangga miskin untuk membeli rokok lebih besar dari yang dikeluarkan
oleh rumah tangga kaya sehingga perokok miskin akan semakin tenggelam dengan
kemiskinannya ambil contoh jika sakit akibat rokok maka terpaksa akan berhutang, kalaupun
mempunyai Jaminan Kesehatan Masyarakat ( Jamkesmas ) berarti Negaralah yang akan
menanggung beban biaya tersebut yang tidak hanya si perokok saja namun gangguan
kesehatanpun dapat dialami oleh keluarga yang serumah karena asap rokoknya ( menjadi
perokok pasif ). Disinyalir tingginya perokok dari masyarakat miskin dipicu oleh harga rokok
yang cenderung murah dan gencarnya iklan rokok disetiap sudut jalan dan dari media – media
elektronik walaupun iklan – iklan tersebut telah mencantumkan bahaya merokok namun tidak
menimbulkan efek ketakutan.

Bagi pemerintah Indonesia permasalahan ini cukup sulit dipecahkan, secara mudahnya
jika ingin menghilangkan kebiasaan merokok cukup dengan membatasi peredaran rokok atau
menaikkan harga rokok masalah akan terpecahkan atau dapat meminimalkan bahayanya namun
karena kenyataan bahwa tidak kurang dari 20 juta penduduk Indonesia bergantung pada industri
rokok nasional serta sumbangan terhadap negara berupa cukai dan pajak-pajak dari deretan
bisnis inipun sangat besar. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek. Pada tahun 1998,
penyerapan tenaga kerja termasuk di berbagai sektor terkait mencapai 6,4 juta orang. Dengan
efek ganda sekitar 10 persen, berarti kehidupan paling tidak 20 juta penduduk Indonesia
tergantung pada industri rokok. Ini antara lain terdapat pada aktivitas usaha yang menunjang
kegiatan pabrik seperti usaha penitipan sepeda, penitipan motor, kantin dan rumah pondokan
pekerja, kegiatan antar-jemput pegawai, serta kegiatan lain semisal pengerjaan dan perawatan
fasilitas pabrik seperti gedung dan jaringan jalan. Di samping itu, industri rokok juga mendorong
berkembangnya industri dan jasa lain seperti percetakan, periklanan, perdagangan, transportasi,
dan penelitian.

Sumbangan pada pemasukan negara yang berwujud cukai rokok pada tahun 1998 saja
mencapai Rp 7,5 trilyun. Belum lagi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan
(PPh) selain itu industri rokok juga mendorong peningkatan surplus perdagangan komoditas
tembakau dan hasil olahannya yang mencapai 147,79 juta dollar AS.

Berbagai macam usaha telah dilakukan untuk membatasi polusi udara yang disebabkan
oleh asap rokok ini, pemerintah DKI misalnya sudah berusaha untuk membatasi para perokok
dengan mengeluarkan Peraturan Gubernur no 75 tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang
Merokok. Namun apa daya 43,9% pelanggar aturan ini malah instansi Pemprov DKI sendiripun
(Kompas |Kamis 16April 2009 | Hal. 25)

Pemerintah Indonesia baru-baru ini juga sedang menghadapi kasus yang berkaitan
dengan industri rokok yaitu hilangnya ayat 2 Pasal 113 Undang-Undang Kesehatan yang
berbunyi “ Zat adiktif sebagaimana dimaksud ayat 1 meliputi tembakau, produk yang
mengandung tembakau, padat, cairan, dan gas yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat
menimbulkan kerugian bagi dirinya dan atau masyarakat sekelilingnya”

Belajar dari hal tersebut hendaknya pihak yang berwenang harus bersikap tegas untuk
menegakkan peraturan-peraturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah baik pusat maupun
daerah. Bagi masyarakat yang sadar akan hidup sehat sangat menyayangkan jika pemerintah
tidak tegas dalam menindak para perokok yang tidak mematuhi peraturan yang telah dikeluarkan
karena semua usaha yang dilakukan akan sia-sia walaupun dilema yang dihadapi pemerintah
akan tanggung jawab dalam hal pengembangan dan keberlangsungan industri rokok yang
menjadi sandaran hidup berjuta orang di Indonesia menjadi prioritas tetapi disisi lain ada hak-
hak sebagian masyarakat yang harus dilindungi, hak untuk hidup sehat.

Setiap tanggal 5 Juni, masyarakat dunia memperingati hari lingkungan hidup. Pada
peringatan hari lingkungan ini, setiap orang diajak untuk merenungkan kembali tentang ancaman
global yang terkait dengan kerusakan lingkungan atau pemanasan global. Semua orang memang
berpotensi untuk ikut memberikan kontribusi dalam hal kerusakan lingkungan tetapi semua
orang pun juga punya potensi untuk ikut memberikan kontribusi dalam hal menjaga dan
memperbaiki lingkungan dari kerusakan yang dapat dimulai dari hal-hal kecil dan dalam skala
kecil pula misalnya dimulai dari lingkungan keluarga, rumah tangga untuk membiasakan hidup
sehat dengan mewujudkan rumah yang bebas asap rokok kemudian terus memperluas
dilingkungan kantor dan seterusnya.
Daftar Pustaka

Hardinsyah. 2009. Peran CSR dalam mengatasi kemiskinan [ makalah ] Seminar Nasional CSR
untuk Pengentasan Kemiskinan. Hotel Ritz Carlton, Jakarta : CFCD dan Depsos

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2001). Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI)
Balai Pustaka. Jakarta

Pusat Komunikasi Publik ( 2008 ). Lindungi Generasi Muda dari Bahaya Rokok. [ Berita ]
Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. 3 Juni 2008

Tandjung, S.D. 2001. Ekologi, Ekosistem, Lingkungan dan Sumberdaya. Pidato Pengukuhan
Guru Besar. Senat Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

www.bps.go.id diakses tanggal 28 Oktober 2009

www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2004060101014124 diakses tanggal 28 Oktober 2009

Anda mungkin juga menyukai