Anda di halaman 1dari 15

METODE KUARTER

Disusun oleh:
Nama : Noor Shiva Sari B1J011094
Bambang Pradiyanto B1J011116
Muhamad Caisar Aditya B1J011117
Muhamad Reza Putratama B1J011166

Kelompok : 18

Asisten : Yeni






LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI TUMBUHAN





KEMENTERIAN KEBUDAYAAN DAN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014

I. PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Vegetasi yaitu kumpulan dari beberapa jenis tumbuhan yang tumbuh
bersama-sama pada satu tempat di mana antara individu-individu penyusunnya
terdapat interaksi yang erat, baik di antara tumbuh-tumbuhan maupun dengan
hewan-hewan yang hidup dalam vegetasi dan lingkungan tersebut. Dengan kata
lain, vegetasi tidak hanya kumpulan dari individu-individu tumbuhan melainkan
membentuk suatu kesatuan dimana individu-individunya saling tergantung satu
sama lain, yang disebut sebagai suatu komunitas tumbuh-tumbuhan (Anwar,
1995). Hutan merupakan masyarakat tumbuh-tumbuhan yang dikuasai oleh
pohon-pohon yang menempati suatu tempat dimana terdapat hubungan timbal
balik antara tumbuhan tersebut dengan lingkungannya. Pepohonan yang tinggi
sebagai komponen dasar dari hutan memegang peranan penting dalam menjaga
kesuburan tanah dengan menghasilkan seresah sebagai sumber hara penting bagi
vegetasi hutan (Harun, 1993).
Dewasa ini sumber daya hutan baik hutan alam maupun hutan tanaman
yang ada di hampir sebagian besar wilayah Indonesia telah mengalami penurunan
fungsi secara drastis dimana hutan tidak lagi berfungsi secara maksimal sebagai
akibat dari ekploitasi kepentingan manusia baik yang disengaja maupun yang
tidak disengaja. Oleh karena itu penyelamatan fungsi hutan dan perlindunganya
sudah saatnya menjadi tumpuan harapan bagi kelangsungan jasa produksi ataupun
lingkungan untuk menjawab kebutuhan mahkluk hidup (Marsono, 2004). Pohon
merupakan organisme yang kompleks. Pohon berasal dari pembiakan vegetatif
atau dari sel telur yang telah dibuahi yang kemudian tumbuh menjadi emberio
yang terselubung dalam suatu biji yang mungil, pohon tumbuh menjadi suatu
organisme terbesar yang hidup di alam. Pohon dibedakan menjadi stadium
seedling, sapling, pole, dan pohon dewasa terutama untuk keperluan inventarisasi.
Hutan memiliki kualitas yang masih baik jika dalam 1 ha minimal terdapat 250
individu, namun juga tetap diperhatikan keberadaan anakan dan seedling. Hutan
merupakan komponen habitat terpenting bagi kehidupan oleh karenanya kondisi
masyarakat tumbuhan di dalam hutan baik komposisi jenis tumbuhan, dominansi
spesies, kerapatan nmaupun keadaan penutupan tajuknya perlu diukur. Ada
berbagai metode yang dapat di gunakan untuk menganalisa vegetasi ini.
Diantaranya dengan menggunakan metode kuadran atau sering disebut dengan
kuarter. Metode ini sering sekali disebut juga dengan plot less method karena
tidak membutuhkan plot dengan ukuran tertentu, area cuplikan hanya berupa titik
(Harun, 1993).
Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan
bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Ekologi hutan
satuan yang diselidiki adalah suatu tegakan, yang merupakan asosiasi konkrit.
Analisis vegetasi dapat digunakan untuk mempelajari susunan dan bentuk
vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan :
1. Mempelajari tegakan hutan, yaitu tingkat pohon dan permudaannya.
2. Mempelajari tegakan tumbuh-tumbuhan bawah, yang dimaksud tumbuhan
bawah adalah suatu jenis vegetasi dasar yang terdapat dibawah tegakan hutan
kecuali permudaan pohon hutan, padang rumput/alang-alang dan vegetasi
semak belukar (Kimmins, 1987).
Hal yang dipelajari dalam vegetasi, dibedakan antara studi floristic dengan
analisis vegetasi. Studi floristic data yang diperoleh berupa data kualitatif, yaitu
data yang menunjukan bagaimana habitus dan penyebaran suatu jenis tanaman.
Sedangkan analisis vegetasi data yang diperoleh berupa data kualitatif dan
kuantiatif. Data kuantitatif menyatakan jumlah, ukuran, berat kering, berat basah
suatu jenis. Frekuensi temuan dan luas daerah yang ditumbuhinya. Data
kuantitatif di dapat dari hasil penjabaran pengamatan petak contoh lapangan,
sedangkan data kualitatif didapat dari hasil pengamatan dilapangan berdasarkan
pengamatan yang luas (Syafei, 1990). Dalam mempelajari komunitas tumbuhan
tidak dapat dilakukan penelitian pada seluruh area yang ditempati komonitas,
terutama apabila area itu cukup luas. Oleh karena itu kita dapat melakukan
penelitian disebagian area komunitas tersebut dengan syarat bagian tersebut dapat
mewakili sebagian komonitas yang ada. Untuk memahami luas, metode manapun
yang di pakai untuk menggambarkan suatu vegetasi yang penting adalah harus di
sesuaikan dengan tujuan luas atau sempitnya suatu area yang diamati.
Analisis vegetasi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu metode kuadrat,
transek garis dan berpusat pada satu titik (kuarter). Praktikum kali ini dilakukan
analisis vegetasi dengan metode kuarter. Metode kuarter umunya dilakukan bila
vegetasi tingkat pohon saja yagng jadi bahan penelitiaan. Metode ini mudah dan
lebih cepat digunan untuk mengetahui komposisi, dominasi pohon dan menksir
volumenya. Metode ini sering sekali disebut juga dengan plot less method karena
tidak membutuhkan plot dengan ukuran tertentu, area cuplikan hanya berupa titik.
Metode ini cocok digunakan pada individu yang hidup tersebar sehingga untuk
melakukan analisa denga melakukan perhitungan satu persatu akan
membutuhkanwaktu yang sangat lama, biasanya metode ini digunakan untuk
vegetasi berbentuk hutan atau vegetasi kompleks lainnya (Anonim, 2001).


B. Tujuan
Tujuan praktikum metode kuarter adalah untuk mengetahui kondisi hutan
apakah masih bagus atau rusak.















II. MATERI DAN METODE
A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah tali rafia, gunting,
meteran, alat tulis dan kamera. Bahan yang digunakan adalah vegetasi tumbuhan
di Kebun Raya Baturraden.
B. Lokasi
Praktikum ini dilakukan di kawasan Kebun Raya Baturraden.
C. Metode
1. Lokasi pengukuran dipilih yang terdapat vegetasi pohon dengan diameter >10
cm.
2. Garis imajiner berupa satu garis vertikal dan satu garis horizontal yang
terpusat pada satu titik pengukuran dibuat sehingga terdapat 4 buah kuadran.
3. Setiap kudran dipilih satu pohon yang jaraknya paling dekat dengan titik
pengukuran dan diukur jarak pohon tersebut dari titik pengukuran.
4. Keliling pohon terdekat diukur.
5. Satu titik poin terdiri dari empat kuadran, selanjutnya dibuat lima titik poin
dan diukur jarak pohon terdekat serta keliling pohon.
6. Spesies pohon tiap titik poin dicatat beserta diameter dan jarak dari titik
pengukuran.
7. Kalkulasi data metode kuarter dihitung meliputi: nama spesies, kehadiran
spesies pohon di titik poin, jumlah individu pohon dari semua titik poin, total
area basal, frekuensi relatif (F), kelimpahan relatif (D), dominansi relatif
(DO), nilai penting, jarak total, jarak rata-rata, jumlah individu pohon per
hektar, rata-rata area basal per pohon dan area basal per hektar.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Tabel 1. Data Spesies Pohon dengan Metode Quarter
Spesies Point
1 2 3 4 5
Neolitsea
cassiaefolia
Diameter (cm) 14.64
Distance (m) 3
Viburnum
lutescens
Diameter (cm) 70.06 63.70 66.88
44.59 56.37
58.92 85.99
48.09
Distance (m) 8 3.7 1.7
5.5 8.5
6.2 3.7
4.9
Litsea
diversifolia
Diameter (cm) 20.70 21.02
Distance (m) 11 11.57
Alangium
rotundifolium
Diameter (cm) 15.29 15.61
15.92
Distance (m) 15 3.8
3.3
Bridelia
stupularis
Diameter (cm) 18.79
Distance (m) 4.05
Elaoecarpus
glaber
Diameter (cm) 19.75
Distance (m) 8
Morinda
citrifolia
Diameter (cm) 8.92
Distance (m) 9.97
Carallia
brahciata
Diameter (cm) 10.83
12.42
Distance (m) 6.70
8.58
Elaoecarpus
sphaericus
Diameter (cm) 7.64
Distance (m) 6.85

Tabel 2. Kalkulasi data metode quarter
Spesies No
point
of
occu
renc
e
No
of
tree
s
Total
Basal
Area
(cm
2
)
Relative
Frequen
cy (F)
Relativ
e
Density
(D)
Relative
Dominanc
e (DO)
Importan
ce value
(F+D+D
O)
Neolitsea 1 1 168.2 6.7 4.3 0.62 11.62
cassiaefolia 5
Viburnum
lutescens
3 8 2494
9.96
20 35 91.46 146.46
Elaoecarpus
glaber
2 2 306.2 13 8.7 1.12 22.82
Litsea
diversifolia
3 3 683.2 20 13 2.50 35.5
Alangium
rotundifoliu
m
2 3 573.7
6
13 13 2.10 28.1
Bridelia
stupularis
1 1 277.1
6
6.7 4.3 1.02 12.02
Morinda
citrifolia
1 1 62.46 6.7 4.3 0.23 11.23
Carallia
brahciata
1 2 213.1
6
6.7 8.7 0.78 16.18
Elaoecarpus
sphaericus
1 2 45.82 6.7 8.7 0.17 15.57
Total 15 23 2727
9.97
99.5 100 100 299.5

Jarak Total: 134.03 m
Jarak Rata-rata: 5.83 m
Jumlah Pohon per hektar: 294
Total Area Basal: 27279.97 cm
2
Rata-rata Area Basal per pohon: 1186.09 cm
2

Area Basal per hektar: 348710.46 cm
2
Hasil vs pustaka mohon ditambahkan ke pembahasan !! atau dibikin paragrap
sendiri tntg hasilnya ya!!



B. Pembahasan
Vegetasi sebagai salah satu komponen dari ekosistem yang dapat
menggambarkan pengaruh dari kondisi-kondisi fakta lingkungan yang mudah
diukur dan nyata. Vegetasi tingkat pohon, tiang, dan sapihan untuk mengalisisnya
digunakan metode kuadrat antara lain lingkaran, bujur sangkar, atau segi empat.
Hal utama dalam mendeskripsikan vegetasi harus dimulai dari suatu titik pandang,
bahwa vegetasi merupakan suatu pengelompokkan dari suatu tumbuhan yang
hidup di suatu kawasan tertentu, yang mungkin dikarakterisasi baik oleh spesies
sebagai komponennya maupun oleh kombinasi dan struktur serta fungsi sifat-
sifatnya yang mengkarakterisasi gambaran vegetasi secara umum (Youssef et al.,
2009).
Menurut Michael (1994) bahwa metode kuarter adalah metode analisa
vegetasi yang menggunakan daerah persegi panjang sebagai sampel uniknya.
Ukuran yang digunakan yaitu untuk semak dan pohon digunakan kuarter diameter
anti meter. Kerapatan, ditentukan berdasarkan jumlah individu suatu populasi
jenis tumbuhan di dalam area kuarter. Kesulitan dalam menentukan batasan
individu tumbuhan, kerapatan dapat ditentukan dengan cara pengelompokan
berdasarkan criteria tertentu (kelas kerapatan). Kerimbunan, ditentukan
berdasarkan penutupan daerah cuplikan oleh populasi jenis tumbuhan. Apabila
dalam penentuan kerapatan dijabarkan dalam bentuk kerapatan, maka untuk
kerimbunannya pun lebih baik dipergunakan kelas kerimbunan. Frekuensi,
ditentukan berdasarkan kerapatan dari jenis tumbuhan dijumpai dalam sejumlah
area cuplikan (n), dibandingkan dengan seluruh atau seluruh cuplikan yang dibuat
(N), biasanya dalam bentuk %.
Metode kuarter umumnya dipergunakan untuk pengambilan contoh
vegetasi tumbuhan jika hanya vegetasi fase pohon yang menjadi objek kajiannya.
Metode ini mudah dikerjakan, dan lebih cepat jika akan dipergunakan untuk
mengetahui komposisi jenis, tingkat dominansi, dan menaksir volume pohon.
Syarat penerapan metode kuarter adalah distribusi pohon yang diteliti harus acak.
Metode kuarter atau metode titik pusat kuarter merupakan metode sampling tanpa
petak contoh yang dapat dilakukan secara efisien karena dalam pelaksanaannya di
lapangan tidak memerlukan waktu lama dan mudah dikerjakan (Kusmana, 1997
dalam Indrayanto, 2006).
Metode kuarter pada umumnya dilakukan jika hanya vegetasi tingkat
pohon saja yang menjadi bahan penelitian. Metode ini mudah dan lebih cepat
digunakan untuk mengetahui komposisi, dominansi pohon dan menaksir
volumenya. Ada dua macam metode yang umum digunakan (Basri, 2009) :
a. Point-quarter
Metode yang penentuan titik-titik terlebih dahulu ditentukan disepanjanggaris
transek. Jarak satu titik dengan lainnya dapat ditentukan secara acak atau
sistematis. Masing-masing titik dianggap sebagai pusat dari arah kompas,
sehingga setiap titik didapat empat buah kuarter. Masing-masing kuarter inilah
dilakukan pendaftaran dan pengukuran luas penutupan satu pohon yang terdekat
dengan pusat titik kuarter. Selain itu diukur pula jarak antara pohon terdekat
dengan titik pusat kuarter.
b. Wandering-quarter
Suatu metode dengan cara membuat suatu garis transek dan menetapkan titik
sebagai titik awal pengukuran. Ditentukan satu kuarter (sudut 90) dengan
menggunakan kompas yang berpusat pada titik awal tersebut dan membelah garis
transek dengan dua sudut sama besar. Kemudian dilakukan pendaftaran dan
pengukuran luas penutupan danjarak satu pohon terdekat dengan titik pusat
kuarter. Penarikan contoh sampling dengan metode-metode diatas umumnya
digunakan pada penelitian-penelitian yang bersifat kuantitatif .
Praktikum mengenai metode kuarter kali ini dilakukan di kawasan Kebun
Raya Baturaden yang terletak di Desa Kemutuk Lor, Kecamatan Baturaden,
Kabupaten Banyumas dan berada sekitar 14 Km dari Kota Purwokerto, dan
terletak sekitar 1,5 km dari gerbang utama Wana Wisata Baturaden. Kebun Raya
ini berada di kaki Gunung Slamet Petak 1 dan 3, RPH Baturaden, BKPH Gn.
Slamet Barat KPH Banyumas Timur dibatasi sebelah utara Petak 4 dan 5 hutan
produksi terbatas, sebalah barat petak 2 hutan produksi terbatas, sebelah selatan
petak 1 lokawisata Baturaden dan bumi Perkemahaan, sebelah timur petak 6 hutan
produksi terbatas. Topografi mulai landai sampai berbukit dengan kemiringan
20% s/d 70% dan ketinggian + 600-750 m dpl dengan jenis tanah umumnya jenis
latosol berwarna merah kecoklatan. Kebun Raya Baturaden kaya akan berbagai
potensi flora sebagaimana fungsi Kebun Raya sebagai konservasi berbagai spesies
tumbuhan. Jenis-jenis flora yang berada dalam kawasan Kebun Raya Baturaden
yang telah diidentifikasi oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) adalah
damar (Agathis borneensis), puspa (Schima wallichii), rasamala (Altingia
excelsa), mahoni (Switenia macrophylla), kaliandra (Callyandra sp), paku-
pakuan, kantong semar dan jenis-jenis anggrek. Jenis flora yang lainnya masih
dalam identifikasi oleh LIPI sebagai yang bertanggung jawab dalam pengelolaan
Kebun Raya di Indonesia.
Tumbuhan yang dominan pada kawasan Kebun raya Baturraden adalah :
1. Damar (Agathis dammara (Lamb.) Rich)
Pohon damar (Agathis dammara (Lamb.) Rich.) adalah sejenis pohon
anggota tumbuhan runjung (Gymnospermae) yang merupakan tumbuhan asli
Indonesia. Damar menyebar di Maluku, Sulawesi, hingga ke Filipina(Palawandan
Samar). Jenis ini umumnya tumbuh pada dataran tinggi (300 1.200 m dpl)
dengan kelembaban 3.000 4.000 mm/tahun. Temperatur rata-rata tahunan 25
300 C. Pada dataran rendah, jenis ini ditemukan pada tanah berbatu seperti pasir
podzolik (pada hutan kerangas), ultrabasa, tanah kapur, dan batuan endapan. Di
Jawa, tumbuhan ini dibudidayakan untuk diambil getahatau hars-nya. Getah
damar ini d iolah untuk dijadikan kopal (Nurhasybi dan Sudrajat 2001).
Tinggi pohon agathis dapat mencapai 55 m, panjang batang bebas cabang
12-25 m, diameter 150 cm atau lebih, bentuk batang silindris dan lurus. Tajuk
berbentuk kerucut dan warna hijau dengan percabangan mendatar melingkari
batang. Kulit luar berwarna kelabu sampai coklat tua, mengelupas kecil-kecil
berbentuk bundar atau bulat telur. Pohon tidak berbanir, mengeluarkan damar
yang lazim disebut kopal (Martawijaya et al.1981). Menurut Tjitrosoepomo
(2010), klasifikasi Pohon Damar adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Class : Dicotyledoneae
Ordo : Araucariales
Family : Araucariaceae
Genus : Agathis
Spesies : Agathis dammara Warb.
2. Palem (Arenga sp.)
Pohon palem (Arenga sp.) termasuk suku Arecaceae (pinang-pinangan),
merupakan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) yaitu biji buahnya
terbungkus daging buah.Tanaman aren banyak terdapat mulai mulai dari pantai
timur India sampai ke Asia Tenggara. Di Indonesia tanaman ini banyak terdapat
hampir di seluruh wilayah Nusantara.Batang palem tidak berduri,tidak bercabang,
tinggi mencapai 25 m, diameter 65 cm (mirip pohon kelapa). Pohon ini mulai
berbunga mulai dari umur 6-12 tahun. Umur produktif 2-5 tahun. Pohon ini dalam
pertumbuhannya berguna sebagai perlindunganerosi terutama tebing-tebing
sungai dari bahaya tanah longsor maupun sebagai unsur porduksi (Badan
Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Perkebunan, 1998).
Di Indonesia dapat tumbuh baik dan mampu berproduksi pada daerah-
daerah yang tanahnya subur pada ketinggian 500-800 m di atas permukaan laut.
Tanaman ini tidak memerlukan syarat khusus untuk pertumbuhannya, mulai tanah
liat, berlumpur sampai dengan berpasir; dengan keasaman harus cukup rendah.
Tempat tumbuh yang paling baik 500-800 m dpl, curah hujan > 1200 mm. (Badan
Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Perkebunan. 1998).
Klasifikasi Pohon Palem menurut Tjitrosoepomo (2010) adalah sebagai
berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Tracheophyta
Classis : Monocotyledoneae
Ordo : Arecales
Family : Arecaceae
Genus : Arenga
Species : Arenga sp.
3. Dysoxylum sp.
Pohon kecil sampai menengah dengan kulit keriput yang halus berwarna
abu-abu, pertumbuhan baru berkarat vili. Daun imparipinnate, 20-60 cm;
selebaran 11-19, bulat telur-lonjong sampai lonjong-elips, panjang 5-17 cm. 20-40
mm lebar, puncak acuminate, dasar terkadang asimetris, permukaan atas biasanya
berbulu, permukaan bawah halus, domatia biasanya sebagai kecil rambut-jumbai;
tangkai daun 3-8 cm, petiolules lateral 2-4 mm. Malai 15-25 cm. Petals 12-14
mm, krim, halus. Malai 5-35 cm. Kelopak 8-10 mm, keputihan, glabrous untuk
jarang berbulu. Kapsul obovoid untuk bulat, 15 20 mm, coklat kekuningan,
glabrous, berkutil; kulit buah kemerahan.
Klasifikasi Dysoxylum sp. menurut Anonim (2011), adalah :
Kingdom : Plantae
Phylum : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Order : Sapindales
Family : Meliaceae
Genus : Dysoxylum
Spesies : Dysoxylum sp.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jumlah spesies di dalam suatu daerah
menurut Indrayanto (2006) adalah :
a. Iklim
Fluktuasi iklim yang musiman merupakan faktor penting dalam membagi
keragaman spesies.Suhu maksimum yang ekstrim, persediaan air, dan
sebagainya yang menimbulkan kemacetan ekologis (bottleck) yang membatasi
jumlah spesies yang dapat hidup secara tetap di suatu daerah.
b. Keragaman Habitat
Habitat dengan daerah yang beragam dapat menampung spesies yang
keragamannya lebih besar di bandingkan habitat yang lebih seragam.
c. Ukuran
Daerah yang luas dapat menampung lebih besar spesies di bandingkan dengan
daerah yang sempit.Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa hubungan
antara luas dan keragaman spesies secara kasaradalah kuantitatif. Rumus
umumnya adalah jika luas daerah 10 x lebih besar dari daerah lain maka daerah
itu akan mempunyai spesies yang dua kali lebih besar.
Kurniawan (2008) juga menyebutkan bahwa faktor-faktor lingkungan
yaitu iklim, edafik (tanah), topografi dan biotik antara satu dengan yang lain
sangat berkaitan erat dan sangat menentukan kehadiran suatu jenis tumbuhan di
tempat tertentu, namun cukup sulit mencari penyebab terjadinya kaitan yang erat
tersebut. Persebaran suatu jenis tumbuhan secara tidak langsung dipengaruhi oleh
interaksi antara vegetasi dengan suhu, kelembaban udara, dan kondisi topografi
seperti ketinggian dan kedalaman tanah. Kondisi lingkungan tertentu, setiap jenis
tumbuhan tersebar dengan tingkat adaptasi yang beragam, sehingga menyebabkan
hadir atau tidaknya suatu jenis tumbuhan pada lingkungan tersebut.

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan didapatkan kesimpulan bahwa kondisi
hutan di kawasan kebun raya Baturraden masih baik yaitu dengan jarak pohon per
hektar 5.83 m dan jumlah pohon besar per hektarnya mencapai 294.


DAFTAR REFERENSI
Anonim. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Laboratorium Biologi.
UMM. Malang.
Anwar, 1995. BiologiLingkungan. Ganexa exact. Bandung.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Perkebunan. 1998. Buku
Panduan Kehutanan Indonesia. Departemen Kehutanan dan Perkebunan
Indonesia. Jakarta.
Basri M. 2009. Identifikasi Vegetasi Hutan Melalui Digesta Rumen Anoa di
Hutan Tompu-Raranggonau dan Hutan Dungi Dungi Taman Nasional
Lore Lindu. Vol. 16 (1) : 60-66.
Harun, 1993. Ekologi Tumbuhan. Bina Pustaka. Jakarta.
Indrayanto. 2006. Ekologi Hutan. PT. Bumi Aksara : Jakarta.
Kimmins, J.P. 1987. Forest Ecology. New York : MacMillan Publishing
Company.
Kurniawan, Parikesit. 2008. Persebaran Jenis Pohon di Sepanjang Faktor
Lingkungan di Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Jawa Barat. Vol (9) :
4.

Marsono, Djoko. 2004. Konservasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan
Hidup.Yogyakarta : BIGRAF Publishing bekerjasama dengan Sekolah
Tinggi Teknik Lingkungan (STTL).
Martawijaya, A., I. Kartasujana, K. Kadir, dan S.A. Prawira. 1981. Atlas Kayu
Indonesia. Jilid I. Balai Penelitian Hasil Hutan. Bogor.
Nurhasybi, Dede Sudrajat. 2001. Informasi Singkat Benih. Damar (Agathis
loranthifoia Salisb.) dalam Atlas Benih Tanaman Hutan Indonesia. Jilid I.
Balai Teknologi Perbenihan. Bandung.
Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung. ITB.
Tjitrosoepomo, G. 2010. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta:
UniversitasGadjah Mada.
Youssef, Ashraf M., Amal A. Morsy, Hosny A. Mossallam and Ahmed H. Abd
Al Latif. 2009. Structure of the common plant population along Alamain-
Wadi El-Natrun desert road. Aust J Basic Appl Sci, 3, 177-193.