Anda di halaman 1dari 10

Profil Endapan Nikel Laterit

Profil endapan nikel laterit yang terbentuk dari hasil pelapukan batuan ultrabasa secara umum
terdiri dari 4 (empat) lapisan, yaitu lapisan tanah penutup atau top soil, lapisan limonit, lapisan
saprolit, dan bedrock.
1. Lapisan tanah penutup
Lapisan tanah penutup biasa disebut iron capping. Material lapisan berukuran lempung,
berwarna coklat kemerahan, dan biasanya terdapat juga sisa-sisa tumbuhan. Pengkayaan Fe
terjadi pada zona ini karena terdiri dari konkresi Fe-Oksida (mineral Hematite dan Goethite), dan
Chromiferous dengan kandungan nikel relatif rendah. Tebal lapisan bervariasi antara 0 2 m.
Tekstur batuan asal sudah tidak dapat dikenali lagi.
2. Lapisan Limonit
Merupakan lapisan berwarna coklat muda, ukuran butir lempung sampai pasir, tekstur batuan
asal mulai dapat diamati walaupun masih sangat sulit, dengan tebal lapisan berkisar antara 1 10
m. Lapisan ini tipis pada daerah yang terjal, dan sempat hilang karena erosi. Pada zone limonit
hampir seluruh unsur yang mudah larut hilang terlindi, kadar MgO hanya tinggal kurang dari 2%
berat dan kadar SiO
2
berkisar 2 5% berat. Sebaliknya kadar Fe
2
O
3
menjadi sekitar 60 80%
berat dan kadar Al
2
O
3
maksimum 7% berat. Zone ini didominasi oleh mineral Goethit,
disamping juga terdapat Magnetit, Hematit, Kromit, serta Kuarsa sekunder. Pada Goethit terikat
Nikel, Chrom, Cobalt, Vanadium, dan Aluminium.
1. Lapisan Saprolit
Merupakan lapisan dari batuan dasar yang sudah lapuk, berupa bongkah-bongkah lunak
berwarna coklat kekuningan sampai kehijauan. Struktur dan tekstur batuan asal masih terlihat.
Perubahan geokimia zone saprolit yang terletak di atas batuan asal ini tidak banyak, H
2
O dan
Nikel bertambah, dengan kadar Ni keseluruhan lapisan antara 2 4%, sedangkan Magnesium
dan Silikon hanya sedikit yang hilang terlindi. Zona ini terdiri dari vein-vein Garnierite, Mangan,
Serpentin, Kuarsa sekunder bertekstur boxwork, Ni-Kalsedon, dan di beberapa tempat sudah
terbentuk limonit yang mengandung Fe-hidroksida.
1. Bedrock (Batuan Dasar)
Merupakan bagian terbawah dari profil nikel laterit, berwarna hitam kehijauan, terdiri dari
bongkah bongkah batuan dasar dengan ukuran > 75 cm, dan secara umum sudah tidak
mengandung mineral ekonomis. Kadar mineral mendekati atau sama dengan batuan asal, yaitu
dengan kadar Fe 5% serta Ni dan Co antara 0.01 0.30%.




[tutup]
Nikel laterit
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari

Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia
Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah
dirapikan, tolong hapus pesan ini.
Batuan induk bijih nikel adalah batuan peridotit. Menurut Vinogradov batuan ultra basa rata-rata
mempunyai kandungan nikel sebesar 0,2 %. Unsur nikel tersebut terdapat dalam kisi-kisi kristal
mineral olivin dan piroksin, sebagai hasil substitusi terhadap atom Fe dan Mg. Proses terjadinya
substitusi antara Ni, Fe dan Mg dapat diterangkan karena radius ion dan muatan ion yang hampir
bersamaan di antara unsur-unsur tersebut. Proses serpentinisasi yang terjadi pada batuan peridotit
akibat pengaruh larutan hydrothermal, akan mengubah batuan peridotit menjadi batuan
serpentinit atau batuan serpentinit peroditit. Sedangkan proses kimia dan fisika dari udara, air
serta pergantian panas dingin yang bekerja kontinu, menyebabkan disintegrasi dan dekomposisi
pada batuan induk.
Pada pelapukan kimia khususnya, air tanah yang kaya akan CO2 berasal dari udara dan
pembusukan tumbuh-tumbuhan menguraikan mineral-mineral yang tidak stabil (olivin dan
piroksin) pada batuan ultra basa, menghasilkan Mg, Fe, Ni yang larut; Si cenderung membentuk
koloid dari partikel-partikel silika yang sangat halus. Didalam larutan, Fe teroksidasi dan
mengendap sebagai ferri-hydroksida, akhirnya membentuk mineral-mineral seperti geothit,
limonit, dan haematit dekat permukaan. Bersama mineral-mineral ini selalu ikut serta unsur
cobalt dalam jumlah kecil.
Larutan yang mengandung Mg, Ni, dan Si terus menerus kebawah selama larutannya bersifat
asam, hingga pada suatu kondisi dimana suasana cukup netral akibat adanya kontak dengan
tanah dan batuan, maka ada kecenderungan untuk membentuk endapan hydrosilikat. Nikel yang
terkandung dalam rantai silikat atau hydrosilikat dengan komposisi yang mungkin bervariasi
tersebut akan mengendap pada celah-celah atau rekahan-rekahan yang dikenal dengan urat-urat
garnierit dan krisopras. Sedangkan larutan residunya akan membentuk suatu senyawa yang
disebut saprolit yang berwarna coklat kuning kemerahan. Unsur-unsur lainnya seperti Ca dan Mg
yang terlarut sebagai bikarbonat akan terbawa kebawah sampai batas pelapukan dan akan
diendapkan sebagai dolomit, magnesit yang biasa mengisi celah-celah atau rekahan-rekahan
pada batuan induk. Dilapangan urat-urat ini dikenal sebagai batas petunjuk antara zona
pelapukan dengan zona batuan segar yang disebut dengan akar pelapukan (root of weathering).
Faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan bijih nikel laterit ini adalah:
a. Batuan asal. Adanya batuan asal merupakan syarat utama untuk terbentuknya endapan nikel
laterit, macam batuan asalnya adalah batuan ultra basa. Dalam hal ini pada batuan ultra basa
tersebut: - terdapat elemen Ni yang paling banyak di antara batuan lainnya - mempunyai mineral-
mineral yang paling mudah lapuk atau tidak stabil, seperti olivin dan piroksin - mempunyai
komponen-komponen yang mudah larut dan memberikan lingkungan pengendapan yang baik
untuk nikel.
b. Iklim. Adanya pergantian musim kemarau dan musim penghujan dimana terjadi kenaikan dan
penurunan permukaan air tanah juga dapat menyebabkan terjadinya proses pemisahan dan
akumulasi unsur-unsur. Perbedaan temperatur yang cukup besar akan membantu terjadinya
pelapukan mekanis, dimana akan terjadi rekahan-rekahan dalam batuan yang akan
mempermudah proses atau reaksi kimia pada batuan.
c. Reagen-reagen kimia dan vegetasi. Yang dimaksud dengan reagen-reagen kimia adalah unsur-
unsur dan senyawa-senyawa yang membantu mempercepat proses pelapukan. Air tanah yang
mengandung CO2 memegang peranan penting di dalam proses pelapukan kimia. Asam-asam
humus menyebabkan dekomposisi batuan dan dapat mengubah pH larutan. Asam-asam humus
ini erat kaitannya dengan vegetasi daerah. Dalam hal ini, vegetasi akan mengakibatkan:
penetrasi air dapat lebih dalam dan lebih mudah dengan mengikuti jalur akar pohon-pohonan
akumulasi air hujan akan lebih banyak humus akan lebih tebal Keadaan ini merupakan suatu
petunjuk, dimana hutannya lebat pada lingkungan yang baik akan terdapat endapan nikel yang
lebih tebal dengan kadar yang lebih tinggi. Selain itu, vegetasi dapat berfungsi untuk menjaga
hasil pelapukan terhadap erosi mekanis.
d. Struktur. Struktur yang sangat dominan yang terdapat didaerah Polamaa ini adalah struktur
kekar (joint) dibandingkan terhadap struktur patahannya. Seperti diketahui, batuan beku
mempunyai porositas dan permeabilitas yang kecil sekali sehingga penetrasi air sangat sulit,
maka dengan adanya rekahan-rekahan tersebut akan lebih memudahkan masuknya air dan berarti
proses pelapukan akan lebih intensif.
e. Topografi. Keadaan topografi setempat akan sangat memengaruhi sirkulasi air beserta reagen-
reagen lain. Untuk daerah yang landai, maka air akan bergerak perlahan-lahan sehingga akan
mempunyai kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau
pori-pori batuan. Akumulasi andapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai
kemiringan sedang, hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk topografi.
Pada daerah yang curam, secara teoritis, jumlah air yang meluncur (run off) lebih banyak
daripada air yang meresap ini dapat menyebabkan pelapukan kurang intensif.
f. Waktu. Waktu yang cukup lama akan mengakibatkan pelapukan yang cukup intensif karena
akumulasi unsur nikel cukup tinggi.
Profil nikel laterit keseluruhan terdiri dari 4 zona gradasi sebagai berikut :
1. Iron Capping : Merupakan bagian yang paling atas dari suatu penampang laterit.
Komposisinya adalah akar tumbuhan, humus, oksida besi dan sisa-sisa organik lainnya. Warna
khas adalah coklat tua kehitaman dan bersifat gembur. Kadar nikelnya sangat rendah sehingga
tidak diambil dalam penambangan. Ketebalan lapisan tanah penutup rata-rata 0,3 s/d 6 m.
berwarna merah tua, merupakan kumpulan massa goethite dan limonite. Iron capping
mempunyai kadar besi yang tinggi tapi kadar nikel yang rendah. Terkadang terdapat mineral-
mineral hematite, chromiferous.
2. Limonite Layer : Merupakan hasil pelapukan lanjut dari batuan beku ultrabasa. Komposisinya
meliputi oksida besi yang dominan, goethit, dan magnetit. Ketebalan lapisan ini rata-rata 8-15 m.
Dalam limonit dapat dijumpai adanya akar tumbuhan, meskipun dalam persentase yang sangat
kecil. Kemunculan bongkah-bongkah batuan beku ultrabasa pada zona ini tidak dominan atau
hampir tidak ada, umumnya mineral-mineral di batuan beku basa-ultrabasa telah terubah menjadi
serpentin akibat hasil dari pelapukan yang belum tuntas. fine grained, merah coklat atau kuning,
lapisan kaya besi dari limonit soil menyelimuti seluruh area. Lapisan ini tipis pada daerah yang
terjal, dan sempat hilang karena erosi. Sebagian dari nikel pada zona ini hadir di dalam mineral
manganese oxide, lithiophorite. Terkadang terdapat mineral talc, tremolite, chromiferous, quartz,
gibsite, maghemite.
3. Silika Boxwork : putih orange chert, quartz, mengisi sepanjang fractured dan sebagian
menggantikan zona terluar dari unserpentine fragmen peridotite, sebagian mengawetkan struktur
dan tekstur dari batuan asal. Terkadang terdapat mineral opal, magnesite. Akumulasi dari
garnierite-pimelite di dalam boxwork mungkin berasal dari nikel ore yang kaya silika. Zona
boxwork jarang terdapat pada bedrock yang serpentinized.
4. Saprolite : Zona ini merupakan zona pengayaan unsur Ni. Komposisinya berupa oksida besi,
serpentin sekitar <0,4% kuarsa magnetit dan tekstur batuan asal yang masih terlihat. Ketebalan
lapisan ini berkisar 5-18 m. Kemunculan bongkah-bongkah sangat sering dan pada rekahan-
rekahan batuan asal dijumpai magnesit, serpentin, krisopras dan garnierit. Bongkah batuan asal
yang muncul pada umumnya memiliki kadar SiO2 dan MgO yang tinggi serta Ni dan Fe yang
rendah. campuran dari sisa-sisa batuan, butiran halus limonite, saprolitic rims, vein dari endapan
garnierite, nickeliferous quartz, mangan dan pada beberapa kasus terdapat silika boxwork,
bentukan dari suatu zona transisi dari limonite ke bedrock. Terkadang terdapat mineral quartz
yang mengisi rekahan, mineral-mineral primer yang terlapukkan, chlorite. Garnierite di lapangan
biasanya diidentifikasi sebagai kolloidal talc dengan lebih atau kurang nickeliferous serpentin.
Struktur dan tekstur batuan asal masih terlihat.
5. Bedrock : bagian terbawah dari profil laterit. Tersusun atas bongkah yang lebih besar dari 75
cm dan blok peridotit (batuan dasar) dan secara umum sudah tidak mengandung mineral
ekonomis (kadar logam sudah mendekati atau sama dengan batuan dasar). Batuan dasar
merupakan batuan asal dari nikel laterit yang umumnya merupakan batuan beku ultrabasa yaitu
harzburgit dan dunit yang pada rekahannya telah terisi oleh oksida besi 5-10%, garnierit minor
dan silika > 35%. Permeabilitas batuan dasar meningkat sebanding dengan intensitas
serpentinisasi.Zona ini terfrakturisasi kuat, kadang membuka, terisi oleh mineral garnierite dan
silika. Frakturisasi ini diperkirakan menjadi penyebab adanya root zone yaitu zona high grade
Ni, akan tetapi posisinya tersembunyi.
Menu navigasi
Buat akun baru
Masuk log
Halaman
Pembicaraan
Baca
Sunting sumber
Versi terdahulu

Halaman Utama
Perubahan terbaru
Peristiwa terkini
Halaman baru
Halaman sembarang
Komunitas
Warung Kopi
Portal komunitas
Bantuan
Wikipedia
Bagikan
Cetak/ekspor
Peralatan
Bahasa lain
Sunting interwiki
Halaman ini terakhir diubah pada 13.57, 7 April 2011.
Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Commons; ketentuan
tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.
Kebijakan privasi
Tentang Wikipedia
Penyangkalan
Developers
Tampilan seluler
Genesa Endapan Nikel Laterit
Maret 16, 2013 by sup4rdi | Leave a comment
Genesa Endapan Nikel Laterit
Proses Terbentuknya Endapan
Endapan nikel yang ada di daerah penelitian adalah jenis nikel laterit, yang merupakan hasil
pelapukan dari batuan ultrabasa. Menurut Vinogradov, batuan ultrabasa pada awalnya
mempunyai kandungan nikel rata-rata sebesar 0.2%. Tabel 3.1 adalah unsur-unsur yang
terkandung dalam batuan beku (Boldt, 1967).
Unsur yang terkandung dalam batuan beku
Batuan Persentase Kadar (%)
Ni FeO + Mg Al + Si
Peridotit 0,2000 43,5 45,9
Gabro 0,0160 16,6 66,1
Diorit 0,0040 11,7 73,4
Granit 0,0020 4,4 78,7
Proses terbentuknya nikel laterit dimulai dari peridotit sebagai batuan induk. Batuan induk ini
akan berubah menjadi serpentin akibat pengaruh larutan hidrotermal atau larutan residual pada
waktu proses pembentukan magma (proses serpentinisasi) dan akan merubah batuan peridotit
menjadi batuan Serpentinit atau batuan Serpentinit Peridotit
Selanjutnya terjadi proses pelapukan dan laterit yang menghasilkan serpentin dan peridotit lapuk.
Adanya proses kimia dan fisika dari udara, air, serta pergantian panas dan dingin yang kontinu,
akan menyebabkan disintegrasi dan dekomposisi pada batuan induk. Batuan asal yang
mengandung unsur-unsur Ca, Mg, Si, Cr, Mn, Ni, dan Co akan mengalami dekomposisi.
Air tanah yang mengandung CO
2
dari udara meresap ke bawah sampai ke permukaan air tanah
sambil melindi mineral primer yang tidak stabil seperti olivin, serpentin, dan piroksen. Air tanah
meresap secara perlahan dari atas ke bawah sampai ke batas antara zone limonit dan zone
saprolit, kemudian mengalir secara lateral dan selanjutnya lebih banyak didominasi oleh
transportasi larutan secara horizontal. Proses ini menghasilkan Ca dan Mg yang larut disusul
dengan Si yang cenderung membentuk koloid dari partikel-partikel silika yang sangat halus
sehingga memungkinkan terbentuknya mineral baru melalui pengendapan kembali unsur-unsur
tersebut. Semua hasil pelarutan ini terbawa turun ke bagian bawah mengisi celah-celah dan pori-
pori batuan.
Ca dan Mg yang terlarut sebagai bikarbonat akan terbawa ke bawah sampai batas pelapukan dan
diendapkan sebagai Dolomit dan Magnesit yang mengisi celah-celah atau rekahan-rekahan pada
batuan induk. Di lapangan, urat-urat ini dikenal sebagai batas petunjuk antara zona pelapukan
dengan zona batuan segar yang disebut dengan akar pelapukan (root of weathering).
Fluktuasi muka air tanah yang berlangsung secara kontinu akan melarutkan unsur-unsur Mg dan
Si yang terdapat pada bongkah-bongkah batuan asal di zone saprolit, sehingga memungkinkan
penetrasi air tanah yang lebih dalam. Dalam hal ini, zone saprolit akan bertambah ke dalam,
demikian juga dengan ikatan yang mengandung oksida MgO sekitar 30 50%-berat dan SiO
2

antara 35 40%-berat. Oksida yang masih terkandung pada bongkah-bongkah di zone saprolit
ini akan terlindi dan ikut bersama-sama dengan aliran air tanah, sehingga sedikit demi sedikit
zone saprolit atas akan berubah porositasnya dan akhirnya menjadi zone limonit. Sedangkan
bahan-bahan yang sukar atau tidak mudah larut akan tinggal pada tempatnya dan sebagian turun
ke bawah bersama larutan sebagai larutan koloid. Bahan-bahan seperti Fe, Ni, dan Co akan
membentuk konsentrasi residu dan konsentrasi celah pada zona yang disebut dengan zona
saprolit, berwarna coklat kuning kemerahan. Batuan asal ultramafik pada zone ini selanjutnya
diimpregnasi oleh Ni melalui larutan yang mengandung Ni, sehingga kadar Ni dapat naik hingga
7%-berat. Dalam hal ini, Ni dapat mensubstitusi Mg dalam Serpentin atau juga mengendap pada
rekahan bersama dengan larutan yang mengandung Mg dan Si sebagai Garnierit dan Krisopras.
Sementara Fe di dalam larutan akan teroksidasi dan mengendap sebagai Ferri-Hidroksida,
membentuk mineral-mineral seperti Goethit, Limonit, dan Hematit yang dekat permukaan.
Bersama mineral-mineral ini selalu ikut serta unsur Co dalam jumlah kecil. Semakin ke bawah,
menuju bed rock maka Fe dan Co akan mengalami penurunan kadar. Pada zona saprolit Ni akan
terakumulasi di dalam mineral Garnierit. Akumulasi Ni ini terjadi akibat sifat Ni yang berupa
larutan pada kondisi oksidasi dan berupa padatan pada kondisi silika.
Endapan laterit biasanya terbentuk melalui proses pelapukan kimia yang intensif, yaitu di daerah
dengan iklim tropis-subtropis. Proses pelindian batuan lapuk merupakan proses yang terjadi pada
pembentukan endapan laterit, dimana proses ini memiliki penyebaran unsur-unsur yang tidak
merata dan menghasilkan konsentrasi bijih yang sangat bergantung pada migrasi air tanah.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Endapan
Proses dan kondisi yang mengendalikan proses lateritisasi batuan ultramafik sangat beragam
dengan ukuran yang berbeda sehingga membentuk sifat profil yang beragam antara satu tempat
ke tempat lain, dalam komposisi kimia dan mineral, dan dalam perkembangan relatif tiap zona
profil. Faktor yang mempengaruhi efisiensi dan tingkat pelapukan kimia yang pada akhirnya
mempengaruhi pembentukan endapan adalah:
1. Iklim
Iklim yang sesuai untuk pembentukan endapan laterit adalah iklim tropis dan sub tropis, di mana
curah hujan dan sinar matahari memegang peranan penting dalam proses pelapukan dan
pelarutan unsur-unsur yang terdapat pada batuan asal. Sinar matahari yang intensif dan curah
hujan yang tinggi menimbulkan perubahan besar yang menyebabkan batuan akan terpecah-
pecah, disebut pelapukan mekanis, terutama dialami oleh batuan yang dekat permukaan bumi.
Secara spesifik, curah hujan akan mempengaruhi jumlah air yang melewati tanah, yang
mempengaruhi intensitas pelarutan dan perpindahan komponen yang dapat dilarutkan. Sebagai
tambahan, keefektifan curah hujan juga penting. Suhu tanah (suhu permukaan udara) yang lebih
tinggi menambah energi kinetik proses pelapukan.
2. Topografi
Geometri relief dan lereng akan mempengaruhi proses pengaliran dan sirkulasi air serta reagen-
reagen lain. Secara teoritis, relief yang baik untuk pengendapan bijih nikel adalah punggung-
punggung bukit yang landai dengan kemiringan antara 10 30. Pada daerah yang curam, air
hujan yang jatuh ke permukaan lebih banyak yang mengalir (run-off) dari pada yang meresap
kedalam tanah, sehingga yang terjadi adalah pelapukan yang kurang intensif. Pada daerah ini
sedikit terjadi pelapukan kimia sehingga menghasilkan endapan nikel yang tipis. Sedangkan pada
daerah yang landai, air hujan bergerak perlahan-lahan sehingga mempunyai kesempatan untuk
mengadakan penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan dan
mengakibatkan terjadinya pelapukan kimiawi secara intensif. Akumulasi andapan umumnya
terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan sedang, hal ini menerangkan bahwa
ketebalan pelapukan mengikuti bentuk topografi.
3. Tipe batuan asal
Adanya batuan asal merupakan syarat utama untuk terbentuknya endapan nikel laterit. Batuan
asalnya adalah jenis batuan ultrabasa dengan kadar Ni 0.2-0.3%, merupakan batuan dengan
elemen Ni yang paling banyak di antara batuan lainnya, mempunyai mineral-mineral yang paling
mudah lapuk atau tidak stabil (seperti Olivin dan Piroksen), mempunyai komponen-komponen
yang mudah larut, serta akan memberikan lingkungan pengendapan yang baik untuk nikel.
Mineralogi batuan asal akan menentukan tingkat kerapuhan batuan terhadap pelapukan dan
elemen yang tersedia untuk penyusunan ulang mineral baru.
4. Struktur
Struktur geologi yang penting dalam pembentukan endapan laterit adalah rekahan (joint) dan
patahan (fault). Adanya rekahan dan patahan ini akan mempermudah rembesan air ke dalam
tanah dan mempercepat proses pelapukan terhadap batuan induk. Selain itu rekahan dan patahan
akan dapat pula berfungsi sebagai tempat pengendapan larutan-larutan yang mengandung Ni
sebagai vein-vein. Seperti diketahui bahwa jenis batuan beku mempunyai porositas dan
permeabilitas yang kecil sekali sehingga penetrasi air sangat sulit, maka dengan adanya rekahan-
rekahan tersebut lebih memudahkan masuknya air dan proses pelapukan yang terjadi akan lebih
intensif.
5. Reagen-reagen Kimia dan Vegetasi
Reagen-reagen kimia adalah unsur-unsur dan senyawa-senyawa yang membantu mempercepat
proses pelapukan. Air tanah yang mengandung CO
2
memegang peranan paling penting di dalam
proses pelapukan secara kimia. Asam-asam humus (asam organik) yang berasal dari pembusukan
sisa-sisa tumbuhan akan menyebabkan dekomposisi batuan, merubah pH larutan, serta
membantu proses pelarutan beberapa unsur dari batuan induk. Asam-asam humus ini erat
kaitannya dengan kondisi vegetasi daerah. Dalam hal ini, vegetasi akan mengakibatkan penetrasi
air lebih dalam dan lebih mudah dengan mengikuti jalur akar pohon-pohonan, meningkatkan
akumulasi air hujan, serta menebalkan lapisan humus. Keadaan ini merupakan suatu petunjuk,
dimana kondisi hutan yang lebat pada lingkungan yang baik akan membentuk endapan nikel
yang lebih tebal dengan kadar yang lebih tinggi. Selain itu, vegetasi juga dapat berfungsi untuk
menjaga hasil pelapukan terhadap erosi.
6. Waktu
Waktu merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pelapukan, transportasi, dan
konsentrasi endapan pada suatu tempat. Untuk terbentuknya endapan nikel laterit membutuhkan
waktu yang lama, mungkin ribuan atau jutaan tahun. Bila waktu pelapukan terlalu muda maka
terbentuk endapan yang tipis. Waktu yang cukup lama akan mengakibatkan pelapukan yang
cukup intensif karena akumulasi unsur nikel cukup tinggi. Banyak dari faktor tersebut yang
saling berhubungan dan karakteristik profil di satu tempat dapat digambarkan sebagai efek
gabungan dari semua faktor terpisah yang terjadi melewati waktu, ketimbang didominasi oleh
satu faktor saja.
Ketebalan profil laterit ditentukan oleh keseimbangan kadar pelapukan kimia di dasar profil dan
pemindahan fisik ujung profil karena erosi. Tingkat pelapukan kimia bervariasi antara 10 50 m
per juta tahun, biasanya sesuai dengan jumlah air yang melalui profil, dan 2 3 kali lebih cepat
dalam batuan ultrabasa daripada batuan asam. Disamping jenis batuan asal, intensitas pelapukan,
dan struktur batuan yang sangat mempengaruhi potensi endapan nikel lateritik, maka informasi
perilaku mobilitas unsur selama pelapukan akan sangat membantu dalam menentukan zonasi
bijih di lapangan (Totok Darijanto, 1986).
Profil Endapan Nikel Laterit
Profil endapan nikel laterit yang terbentuk dari hasil pelapukan batuan ultrabasa secara umum
terdiri dari 4 (empat) lapisan, yaitu lapisan tanah penutup atau top soil, lapisan limonit, lapisan
saprolit, dan bedrock.
1. Lapisan tanah penutup
Lapisan tanah penutup biasa disebut iron capping. Material lapisan berukuran lempung,
berwarna coklat kemerahan, dan biasanya terdapat juga sisa-sisa tumbuhan. Pengkayaan Fe
terjadi pada zona ini karena terdiri dari konkresi Fe-Oksida (mineral Hematite dan Goethite), dan
Chromiferous dengan kandungan nikel relatif rendah. Tebal lapisan bervariasi antara 0 2 m.
Tekstur batuan asal sudah tidak dapat dikenali lagi.
2. Lapisan Limonit
Merupakan lapisan berwarna coklat muda, ukuran butir lempung sampai pasir, tekstur batuan
asal mulai dapat diamati walaupun masih sangat sulit, dengan tebal lapisan berkisar antara 1 10
m. Lapisan ini tipis pada daerah yang terjal, dan sempat hilang karena erosi. Pada zone limonit
hampir seluruh unsur yang mudah larut hilang terlindi, kadar MgO hanya tinggal kurang dari 2%
berat dan kadar SiO
2
berkisar 2 5% berat. Sebaliknya kadar Fe
2
O
3
menjadi sekitar 60 80%
berat dan kadar Al
2
O
3
maksimum 7% berat. Zone ini didominasi oleh mineral Goethit,
disamping juga terdapat Magnetit, Hematit, Kromit, serta Kuarsa sekunder. Pada Goethit terikat
Nikel, Chrom, Cobalt, Vanadium, dan Aluminium.
1. Lapisan Saprolit
Merupakan lapisan dari batuan dasar yang sudah lapuk, berupa bongkah-bongkah lunak
berwarna coklat kekuningan sampai kehijauan. Struktur dan tekstur batuan asal masih terlihat.
Perubahan geokimia zone saprolit yang terletak di atas batuan asal ini tidak banyak, H
2
O dan
Nikel bertambah, dengan kadar Ni keseluruhan lapisan antara 2 4%, sedangkan Magnesium
dan Silikon hanya sedikit yang hilang terlindi. Zona ini terdiri dari vein-vein Garnierite, Mangan,
Serpentin, Kuarsa sekunder bertekstur boxwork, Ni-Kalsedon, dan di beberapa tempat sudah
terbentuk limonit yang mengandung Fe-hidroksida.
1. Bedrock (Batuan Dasar)
Merupakan bagian terbawah dari profil nikel laterit, berwarna hitam kehijauan, terdiri dari
bongkah bongkah batuan dasar dengan ukuran > 75 cm, dan secara umum sudah tidak
mengandung mineral ekonomis. Kadar mineral mendekati atau sama dengan batuan asal, yaitu
dengan kadar Fe 5% serta Ni dan Co antara 0.01 0.30%.