Anda di halaman 1dari 15

PERANAN ZAT PENGATUR TUMBUH SEBAGAI HERBISIDA

Oleh :
Risa : B1J012055
Ika Syiami Fitri : B1J012127
Bayu Tri Atmaji : BIJ012197
Rombongan : II
Kelompok : 3
Asisten : Hendri





LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN II






KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Penggunaan zat pengatur tumbuh dalam kultur jaringan tanaman sangat
penting, yaitu untuk mengontrol organogenesis bagian tunas dan akar serta
pembentukan kalus. Ada dua golongan zat pengatur tumbuh tanaman yang sering
digunakan dalam kultur jaringan, yaitu sitokinin dan auksin. Zat pengatur tumbuh
yang termasuk golongan sitokinin antara lain BA (benzil adenin), kinetin (furfuril
amino purin), 2-Ip (dimethyl allyl amino purin), dan zeatin. Zat pengatur tumbuh
yang termasuk dalam golongan auksin antara lain IAA (indole acetic acid), NAA
(naphtalene acetic acid), IBA (indole butiric acid), 2.4-D (2.4-dichlorophenoxy
acetic acid), dicamba (3,6-dicloro-o-anisic acid), dan picloram (4-amino-3,5,6-
tricloropicolinic acid). Auksin mempunyai peran ganda tergantung pada struktur
kimia, konsentrasi, dan jaringan tanaman yang diberi perlakuan. Auksin umumnya
digunakan untuk menginduksi pembentukan kalus, kultur suspensi, dan akar
dengan memacu pemanjangan dan pembelahan sel di dalam jaringan kambium.
Auksin dalam konsentrasi yang relatif tinggi diperlukan untuk memacu
pembentukan kalus embriogenik dan struktur embrio somatik. Zat pengatur
tumbuh tanaman berperan penting dalam mengontrol proses biologi dalam
jaringan tanaman. Perannya antara lain mengatur kecepatan pertumbuhan dari
masing-masing jaringan dan mengintegrasikan bagian-bagian tersebut agar
menghasilkan bentuk yang kita kenal sebagai tanaman. Aktivitas zat pengatur
tumbuh di dalam pertumbuhan tergantung dari jenis, struktur kimia, konsentrasi,
genotip tanaman serta fase fisiologi tanaman (Lestari, 2011). Masing-masing
pestisida memiliki kandungan zat aktif terte ntu, sesuai dengan peruntukannya
dalam pemberantasan hama pertanian (Elvinawati, 2011).
Gulma merupakan salah satu organisme pengganggu tanaman yang juga
memegang peranan penting dalam sistem produksi tanaman, karena dapat
memenangi persaingan dengan tanaman pokok untuk mendapatkan kebutuhan
unsur hara, air, cahaya, dan ruang tumbuh, sehingga secara tidak langsung dapat
menurunkan produksi. Beberapa spesies gulma menjadi inang bagi serangga hama
maupun patogen (penyebab penyakit) bagi tanaman pokok (Tjokrowardojo,
2010). Delapan jenis gulma indikator, yang terdiri dari golongan rumput seperti
Setaria plicata, Paspalum conjugatum dan Axonopus compressus. Golongan teki
adalah Cyperus kyllingia dan Cyperus rotundus. Golongan daun lebar Asystasia
gangetica, Borreria latifolia,dan Richardia brasiliensis (Pratama et al., 2013).

B. Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah untuk mengetahui pengaruh berbagai
konsentrasi 2,4-D sebagai herbisida.



















II. MATERI DAN METODE
A. Materi
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah 2,4-D dengan
konsenterasi 0 ppm, 1000 ppm, 2000 ppm, dan 3000 ppm.
Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah bak plastik,
patok, gelas piala, gelas ukur, batang pengaduk, tali rafia, label, Erlenmeyer,
magnetic stirrer dan sprayer.

B. Metode
1. Tanah yang ditumbuhi gulma berdaun sempit dan berdaun lebar disiapkan.
2. Tanah berukuran 30 cm x 30 cm dibuat dengan patok yang ditempatkan
disetiap sudut.
3. Patok yang sudah ditancapkan diikat dengan tali rafia pada bagian atasnya.
4. Bagian yang dibatasi dengan tali rafia diberi garis, sehingga terbentuk daerah
segi empat.
5. Gulma berdaun sempit dan berdaun lebar yang ada didalam segi empat
dihitung dan dicatat.
6. Gulma disemprot dengan herbisida 2,4-D dengan konsenterasi 0 ppm, 1000
ppm, 2000 ppm dan 3000 ppm selama 2 minggu, kemudian diamati perubahan
yang terjadi.











III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Tabel 1. Anova Herbisida
Sumber
Keragaman Db JK KT Fhitung
Ftabel
0.05 0.01
Petak
Utama
Kelompok 2 2415.25 1207.625 1.908073471 ns 5.14 10.92
2,4-D (A) 3 100.3333 33.44444 0.052842941 ns 4.75 9.78
Galat A 6 3797.417 632.9028
Anak Petak
Gulma (B) 1 5581.5 5581.5 33.91291139 ** 5.31 11.25
AB 3 1520.833 506.9444 3.080168776 ns 4.06 7.59
Galat B 8 1316.667 164.5833
TOTAL 23

Keterangan :
Jika fhit > f0.05= berbeda
nyata/signifikan
Jika fhit > f0.01= sangat berbeda
nyata/signifikan
jika fhit < f0.05 = tdk berbeda
nyata/nonsignifikan

Tabel 2. MP x SP x U
Sub
Plot
(B)
Main Plot
(A)
Ulangan
Total Rataan 1 2 3
Gulma
Daun
Lebar
kontrol 92 7 5 104 34.66666667
2,4-D 1000
ppm 17 3 10 30 10
2,4-D 2000
ppm 31 19 24 74 24.66666667
2,4-D 3000
ppm 35 16 8 59 19.66666667
Subtotal 175 45 47 267 89
Gulma
Daun
Sempit
kontrol 67 29 25 121 40.33333333
2,4-D 1000
ppm 47 65 68 180 60
2,4-D 2000
ppm 60 38 72 170 56.66666667
2,4-D 3000
ppm 62 47 53 162 54
Subtotal 236 179 218 633 211
TOTAL 411 224 265 900 300

Tabel 3. Uji Lanjut BNJ
PERBANDINGAN PETAK UTAMA PADA GULMA DAUN LEBAR (1)
Perlaku
an
Rata-
Rata
kontrol
2,4-D 1000
ppm
2,4-D 2000
ppm 2,4-D 3000 ppm
34.666
67 10
24.666666
67
19.666666
67
Kontrol
34.666
67 0
2,4-D
1000
ppm
24.666
67 -10
n
s 0
2,4-D
2000
ppm
19.666
67 -15
n
s
9.6666666
67 * 0
2,4-D
3000
ppm 89
54.333
33 * 79
n
s
64.333333
33 * 0

PERBANDINGAN PETAK UTAMA PADA GULMA DAUN SEMPIT (2)
Perlakuan
Rata-
Rata
kontrol 2,4-D 1000 ppm 2,4-D 2000 ppm
2,4-D
3000
ppm
40.33333 60 56.66666667 54
Kontrol 40.33333 0
2,4-D
1000 ppm 60 19.66667 * 0
2,4-D
2000 ppm 56.66667 16.33333 *
-
3.333333333 ns 0
2,4-D
3000 ppm 54 13.66667 * -6 ns
-
2.666666667 ns 0








PERBANDINGAN DUA RAATAN ANAK PETAK (3)
Sub Plot
kontrol 2,4-D 1000 ppm 2,4-D 2000 ppm 2,4-D 3000 ppm

Gulma Daun
Lebar 34.66667 24.66667 19.66667 89
Gulma Daun
Sempit 40.33333 60 56.66667 54
Selisih 5.666667 ns -35.3333 ns -37 ns 35 ns


Grafik Konsentrasi Herbisida 2,4-D yang Efektif Membunuh Gulma










225
210
244
221
190
200
210
220
230
240
250
kontrol 2,4-D 1000
ppm
2,4-D 2000
ppm
2,4-D 3000
ppm
HERBISIDA Konsentrasi 2,4-D yang
Efektif Membunuh Gulma
HERBISIDA Konsentrasi 2,4-D
yang Efektif Membunuh
Gulma







Gambar 1. Herbisida kontrol 0 minggu Gambar 2. Herbisida 3000 ppm 0 minggu








Gambar 3. Herbisida kontrol 1 minggu Gambar 4. Herbisida 3000 ppm 1 minggu








Gambar 4. Herbisida kontrol 1 minggu Gambar 5. Herbisida 3000 ppm 1 minggu






B. Pembahasan

Hasil yang didapatkan adalah F hitung sebesar 33.91291139 dan F tabel
5.31 dan 11.25 , sehingga F hitung > F tabel. Hal ini berarti pemberian herbisida
berpengaruh nyata terhadap gulma. Berdasarkan data yang didapat untuk gulma
berdaun lebar adalah 29.66666667 %, sedangkan untuk gulma berdaun sempit
adalah 70.33333333 %, hal ini berarti herbisida 2,4-D efektif untuk mematikan
gulma berdaun lebar. Hal ini sesuai dengan pernyataan menurut Rukmana dan
Sugandi (1999) bahwa herbisida jenis 2,4 D sangat toksis pada gulma berdaun
lebar. Mekanisme 2,4-D sebagai herbisida di dalam tumbuhan adalah dengan cara
penyerapan daun dan akar, kemudian ditranslokasikan dan akan terakumulasi
pada jaringan-jaringan muda (jaringan meristem) pada pucuk dan akar. Herbisida
2,4 D bekerja sebagai penghambat pertumbuhan. Bentuk garam diserap oleh akar,
sedangkan bentuk esternya diserap oleh daun (Djojosumarto, 2005). Menurut
Joshi et al., (2012) bahwa sejumlah herbisida telah banyak digunakan untuk
mengontrol gulma. 2,4-D (asam 2,4-diklorophenoksiasetat) mengandung senyawa
fenoksi diklorinasi digunakan sebagai herbisida pada konsentrasi tinggi untuk
mengendalikan berbagai jenis gulma berdaun lebar di rumput, kebun, sawah
pertanian dan kehutanan. Herbisida 2,4-D bekerja secara sistemik dan selektif,
terserap melalui daun dalam bentuk ester dan juga dapat terabsorpsi lewat akar
dalam bentuk garam, sehingga dapat mematikan gulma (Ngawit, 2007). Chairul
et al., (2000) menjelaskan bahwa efektifitas 2,4-D sebagai herbisida tersebut harus
diserap oleh tanaman gulma dan ditranslokasikan ke tempat lain seperti akar,
batang dan daun tanaman.
Gulma adalah tumbuhan yang tumbuh di suatu tempat dalam waktu
tertentu dan pertumbuhannya tidak dikehendaki oleh manusia. Keberadaan gulma
tidak dikehendaki karena bersaing dengan tanaman yang dibudidayakan dan
dibutuhkan biaya pengendalian cukup besar. Gulma mampu bersaing efektif
selama jangka waktu kira-kira 1/4-1/3 dari umur tanaman semusim (annual crops)
sejak awal pertumbuannya. Gulma tumbuh lebih awal dan lebih padat daripada
tanaman budidaya pada lahan kering, sehingga gulma seringkali menjadi masalah
utama setelah faktor air dalam sistem produksi tanaman di lahan kering, terutama
tanaman semusim (pangan dan sayuran) (Chairul et al., 2000) .
Gulma merupakan kendala utama untuk produksi tanaman karena dapat
menyebabkan kompetisi dalam penyerapan cahaya, kelembaban, dan penyerapan
nutrisi. Pengelolaan gulma dapat diatasi dengan penggunaan herbisida untuk
menekan pertumbuhannya. Herbisida merupakan senyawa allelopati, yaitu
senyawa kimia yang diproduksi oleh tanaman dan dapat menghambat
pertumbuhan suatu spesies tanaman. Fenomena allelopati ini dapat memberikan
alternatif pengendalian gulma biologis. Senyawa alami / alelokimia dengan
aktivitas phytotoxic mereka , struktur molekul baru, dan biodegradasi cepat
merupakan cara kerja untuk herbisida baru . Beberapa alelokimia dari jamur ,
lumut , tanaman atau organisme hidup lainnya telah diakui sebagai herbisida
alami (Araniti et al, 2012).
Gulma golongan berdaun lebar (broad leaved) sebagian besar termasuk
tumbuhan berkeping dua (Dicotyledonae) dari berbagai family. Ciri-ciri umum
gulma berdaun lebar yaitu batang tubuh tegak dengan percabangannya, adapula
yang tumbuh merambat. Daun tunggal ataupun majemuk, helaian daun bulat/bulat
telur, bertulang daun melengkung atau menjari dan tepi daun rata, bergerigi atau
bergelombang. Duduk daun berhadapan atau berselang-seling. Bunga tunggal atau
majemuk tersusun dalam suatu karangan bunga. Contoh gulma berdaun lebar
adalah Borreria alata, Ageratum conyzoides, Synedrella nodiflora (Araniti et al,
2012).
Daun gulma daun lebar dibntuk pada meristem apical yang sangat sensitive
pada senyawa kimia. Stomata pada daun gulma daun lebar banyak terdapat pada
daun bagian bawah yang memungkinkan caira herbisida dapat masuk. Gulma
daun lebar memiliki bentuk daun yang lebih luas, sehingga luas permukaan daun
yang kontak dengan herbisida lebih besar. Gulma daun sempit berkedudukan
vertical dan memiliki luas permukaan daun lebih kecil. Analisis vegetasi akan
menunjukka bahwa gulma daun sempit merupakan gulma yang dominan
dibandingkan gulma daun lebar. Hal ini disebabkan karena gulma daun sempit
umumnya bereproduksi secara vegetatif dengan stolon dan rhizome yang maijmpu
bertahan di dalam tanah dan akan tumbuh kembali jika kondisi sudah baik
(Araniti et al, 2012). .
Herbisida berdasarkan cara kerjanya dibagi menjadi dua, yaitu herbisida
sistemik dan herbsisida kontak. Herbisida kontak adalah herbisida yang cepat
mematikan atau membunuh jaringan-jaringan atau bagian gulma yang terkena
larutan herbisida ini terutama bagian gulma yang berwarna hijau. Herbisida jenis
ini bereaksi sangat cepat dan efektif jika digunakan untuk memberantas gulma
yang masih hijau, serta gulma yang masih memiliki sistem perakaran tidak meluas
(Tjokrowardojo et al, 2010)..
Bahan aktif herbisida kontak hampir tidak ada yang ditranslokasikan pada
jaringan tumbuhan. Bahan aktif herbisida tersebut ditranslokasikan melalui
phloem. Karena hanya mematikan bagian gulma yang terkena, pertumbuhan
gulma dapat terjadi sangat cepat. Dengan demikian, rotasi pengendalian menjadi
singkat. Herbisida kontak memerlukan dosis dan air pelarut yang lebih besar agar
bahan aktifnya merata ke seluruh permukaan gulma dan diperoleh efek
pengendalian aktifnya yang lebih baik (Tjokrowardojo et al, 2010).
Herbisida kontak juga yang bekerja dengan cara menghasilkan radikal
hidrogen peroksida yang memecahkan membran sel dan merusak seluruh
konfigurasi sel. Herbisida kontak hanya mematikan bagian tanaman hidup yang
terkena larutan, jadi bagian tanaman dibawah tanah seperti akar atau akar rimpang
tidak terpengaruhi, dan bagian tanaman didapat kembali dan proses kerja pada
herbisida ini pun sangat cepat. Herbisida ini hanya mampu membasmi gulma yang
terkena semprotan saja, terutama bagian yang berhijau daun dan aktif
berfotosintesis (Tjokrowardojo et al, 2010).
Keistimewaannya, dapat membasmi gulma secara cepat, 2-3 jam setelah
disemprot gulma sudah layu dan 2-3 hari kemudian mati. Sehingga bermanfaat
jika waktu penanaman harus segera dilakukan. Kelemahannya, gulma akan
tumbuh kembali secara cepat sekitar 2 minggu kemudian dan bila herbisida ini
tidak menyentuh akar maka proses kerjanya tidak berpengaruh pada gulma.
Contoh herbisida kontak adalah paraquat diklorida (Syakir, 2008).
Herbisida berdasarkan selektifitasnya, herbisida yang digunakan untuk
mengendalikan gulma secara kimia pada lahan pertanian dapat dibedakan
menjadi: herbisida selektif dan herbisida non-selektif. Herbisida selektif adalah
herbisida yang jika diaplikasikan pada berbagai jenis tumbuhan hanya akan
mematikan species tertentu gulma dan relatif tidak mengganggu tanaman yang
dibudidayakan misalnya herbisida berbahan aktif 2, 4 D yang mematikan gulma
daun lebar dan relatif tidak mengganggu tanaman serelia. Herbisida non-
selektif adalah herbisida yang bila diaplikasikan pada beberapa jenis tumbuhan
melalui tanah atau daun dapat mematikan hampir semua jenis tumbuhan termasuk
tanaman yang dibudidayakan misalnya herbisida berbahan aktif arsenikal, klorat
dan karbon disulfide (Nurjanah, 2003).
Menurut (Syakir, 2008) faktor yang mempengaruhi respon tanaman
terhadap herbisida adalah sebagai berikut :
1. Jenis herbisida
2. Formulasi herbisida
Formulasi herbisida adalah bentuk herbisida yang dapat mempengarui
daya larut, daya penguapan, daya meracun pada tanaman dan sifat-sifat
lainnya. Pada umumnya hanya sejumlah kecil herbisida yang diperlukan
untuk mengendalikan gulma secara efisien. Tetapi justru ini yang sangat
perlu agar jumlah yang kecil itu dapat disebabkan secara errata keseluruh
gulma yang ada. Apabila tidak merata atau terlalu sedikit, tidak adapat
mematikan gulma, sedang bila terlalu banyak mungkin dapat menjadi
racun bagi tanaman budidaya. Oleh karena itu, herbisida harus
diformulasikan sedemikian rupa agar mudah mengaturnya, aman dan
efektif.
3. Ukuran butiran semprot
4. Volume semprotan
Sedangkan menurut Pratama et al., (2013) waktu pemakaian (pra
pengolahan, pra tanam, pra tumbuh atau pasca tumbuh) Faktor yang
mempengaruhui keberhasilan pemberian herbisida adalah jenis gulma yang diberi
herbisida, karena gulma dari spesies yang sama terkadang memberikan respon
yang berbeda terhadap herbisida tertentu. Apalagi antarjenis gulma walaupun
dalam satu golongan tertentu, respon yang ditunjukkan sering berbeda. Setiap
golongan gulma memiliki respon yang berbeda atas penerimaan herbisida.
Herbisida memiliki efektivitas yang beragam berdasarkan cara kerjanya.
Tanggapan gulma terhadap herbisida memang sangat tergantung pada jenis
herbisidanya serta fase pertumbuhan gulma juga sangat berpengaruh.
Keberhasilan penggunaan herbisida sangat ditentukan oleh dosis herbisida,
waktu aplikasi yang tepat dan cara pemberian herbsida yang tepat untuk menjamin
pestisida tersebut mencapai sasaran yang dimaksud, dengan kata lain tidak ada
herbisida yang dapat berfungsi dengan baik kecuali jika diaplikasikan dengan
tepat. Aplikasi herbisida yang tepat dapat didefinisikan sebagai aplikasi herbisida
yang semaksimal mungkin terhadap sasaran dan ditentukan pada saat yang tepat,
dengan liputan hasil semprotan yang merata dari jumlah herbisida yang telah
ditentukan sesuai dengan anjuran dosis. Cara pemakaian herbisida yang sering
dilakukan oleh petani, salah satunya adalah dengan penyemprotan (spraying).
Cara ini merupakan metode yang paling banyak digunakan (Wudianto,1999).



















IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :
1. Asam 2,4-diklorofenoksiasetat (2,4-D) 4-D merupakan jenis herbisida yang
bersifat sistemik dan selektif, herbisida ini terserap melalui daun dalam bentuk
ester dan juga dapat terabsorpsi lewat akar dalam bentuk garam dengan cara
ditranslokasikan pada akar dan daun hingga terakumulasi pada jaringan-
jaringan muda (jaringan meristem) pada pucuk dan akar, sehingga dapat
menghambat pertumbuhan gulma melalui penghambatan proses metabolisme.
B. Saran
Sebaiknya ada pembagian khusus dalam pengamatan dan perlakuan
penyemprotan bagi setiap praktikan, sehingga data tidak berceceran.


















DAFTAR PUSTAKA
Araniti. F, A. Sorgona, A. Lupini, M. R. Abena Voli. 2012. Screening of
Mediterranean wild plant species for allelopathic activity and their use as
bio-herbicides. Allelopathy Journal 29 (1): 107-124 (2012).

Chairul, S. M., Mulyadi dan Idawati. 2000. Translokasi herbisida 2,4-D-
14
C pada
tanaman gulma dan padi pada sistem persawahan, Jakarta.

Djojosumarto, P. 2005. Panduan Lengkap Pestisida dan Aplikasinya. Agromedia,
Jakarta.

Elvinawati. 2011. Ozonolisis untuk degradasi asam 2,4-Diklorofenoksiasetat (2,4-
D) dalam pestisisda santamin 865 SL. Jurnal Exacta 9(2):32-37.

Joshi., S.C, Tibrewal., P, Sharma., A, dan Sharma., P. 2012. Evaluation Of Toxic
Effect Of 2,4-D (2,4-Dichlorophenoxyacetic Acid) On Fertility and
Biochemical Parameters Of Male Reproductive System Of Albino Rats.
International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences 4(3):338-
342.

Ngawit, I.K. 2007. Efikasi Beberapa Jenis Herbisida Terhadap Tanaman Penutup
Tanah Legumenosa di Jalur Tanaman Kopi Muda. Jurnal Agroteksos
(17)2:104-113.

Nurjanah, Uswatun. 2003. Pengaruh Dosis Herbisida Glifosfat dan 2,4-D
Terhadap Pergeseran Gulma dan Tanaman Kedelai Tanpa Olah Tanah.
Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Indonesiaa. Volume 5, No. 1.

Pratama., A.F, Susanto., H, dan Sembodo., D.R.J. 2013. Respon Delapan Jenis
Gulma Indikator Terhadap Pemberian Cairan Fermentasi Pulp Kakao.
Jurnal Agrotek Tropika 1(1):80-85.

Rukmana, R dan Suganda. 1999. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Kanisius,
Yogyakarta.
Syakir, Muhammad. 2008. Pemanfaatan limbah sagu sebagai pengendalian gulma
pada lada perdu. Jurnal Littri Vol. 14 No. 3 : 107-112.
Tjokrowardojo., A.S, Maslahah., N, dan Gusmini. 2010. Pengaruh Herbisida Dan
Fungi Mikoriza Arbuskula Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman
Produksi. Jurnal Bul.Littro 21(2):103-116.

Wudianto. 1999. Pengendalian Gulma di Perkebunan. Kanisius, Yogyakarta.