Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peternakan unggas merupakan sektor industri peternakan yang tetap
mampu bertahan bahkan dalam tahun 2009 ketika krisis global yang belum
berlalu ketika terjadi penurunan daya beli yan kemudian mendorong
substitusi pangan ke produk unggas, industri perunggasan masih mampu
bertahan. Dimana saat itu produk unggas yang tetap bertahan adalah ayam
dan telur, yang termasuk sebagai protein hewani yang harganya relatif murah
dibandingkan harga daging sapi atau yang lainnya. Hampir setiap negara di
dunia memiliki ternak ayam karena ayam mempunyai daya adaptasi yang
relatif tinggi sehingga mampu hidup di hampir seluruh dunia. Ayam
dikembangkan di daerah dengan populasi penduduk relatif tinggi.
Ayam atau nama latinya Gallus gallus domesticus adalah jenis unggas
paling populer untuk diternakan. Ayam merupakan satu hewan ternak yang
mempunyai banyak manfaat, mulai dari binatang hias, penghasil kompos dari
kotoran/fesesnya, tulangnya digunakan sebagai bahan tepung tulang,
penghasil daging yang mempunyai gizi tinggi serta rambutnya dapat
digunakan sebagai bahan kerajinan serta masih banyak lagi manfaat yang
lainnya.
Namun hingga pertengahan 2009 pasar dalam negeri mengalami
kelebihan pasokan ayam mencapai 27%. Hal ini mengakibatkan harga ayam
di pasar lokal menjadi tertekan. Sedangkan pada tahun sebelumnya kondisi
kelebihan pasokan hanya sekitar 5% saja. Selain itu, industri peternakan ayam
juga menghadapi permasalahan kenaikan harga pakan dan biaya produksi
yang diikuti dengan kenaikan harga ayam hidup. Hal ini terkait dengan daya
beli masyarakat yang sangat tergantung terhadap pendapatan. Sejauh ini daya
beli masyarakat terhadap produk perunggasan dalam pemenuhan gizi (protein
hewani) masih rendah bila dibandingkan dengan gaya hidup masyarakat yang
sangat konsumtif.


B. Rumusan Masalah
Adapun masalah yang dibahas dalam makalah ini dirumuskan sebagai
berikut.
1. Jenis-jenis ayam yang ada.
2. Cara budidaya kelinci
3. Kegiatan pasca panen

C. Ruang Lingkup
Makalah ini membahas mengenai:
1. Mengetahui jenis-jenis ayam
2. Mengetahui cara beternak
3. Mengetahui kegiatan pasca panen, pengolahan dan pemasaran.

D. Manfaat Penulisan
Sebagai informasi bahwa ayam sebagai pengembang ilmu pengetahuan pada
matakuliah Pengantar Agroindustri.


















BAB II
METODE PENULISAN

A. Objek Penulisan
Objek penulisan mencakup tentang pemeliharaan ternak khususnya
ayam. Dalam suatu peternakan ada tiga faktor utama yang sangat penting
yang dikenal dengan Segitiga Emas (Breeding, Feeding, and
Management). Ketiga faktor ini satu sama lain harus selalu berhubungan dan
saling menunjang, disampaing faktor lainnya yang saling mendukung dari
ketiga faktor tersebut yaitu kesehatan dan pencegahan penyakit serta
pemasaran yang tidak boleh diabaikan dengan begitu saja.

B. Dasar Pemilihan Objek
Objek yang dipilih adalah mengenai kegiatan industri peternakan ayam.

C. Metode Pengumpulan Data
Dalam penulisan makalah ini, penulis secara umum mendapatkan
bahan tulisan dari berbagai referensi, baik dari tinjauan kepustakaan berupa
buku-buku atau dari sumber media internet yang terkait dengan kegiatan
industri peternakan ayam.

D. Metode Analisis
Penyusunan makalah ini berdasarkan metode deskriptif analisis, yaitu
dengan mengidentifikasi permasalahan berdasarkan fakta dan data yang ada,
menganalisis permasalahan berdasarkan pustaka dan data pendukung lainnya,
serta mencari alternatif pemecahan masalah.







BAB III
ISI dan PEMBAHASAN
A. Jenis-Jenis Ayam
Di Indonesia dikenal istilah ayam ras dan ayam bukan ras (buras, atau
kampung). Dalam pengertian "ayam ras" menurut istilah itu yang dimaksud
sebenarnya adalah ras yang dikembangkan untuk usaha komersial massal,
seperti Leghorn ("lehor"). Ke dalam kelompok ayam buras terdapat pula ras
lokal ayam yang khas namun tidak dikembangkan untuk usaha komersial
massal. Ayam-ayam ras lokal demikian sekarang mulai dikembangkan
(dimurnikan) sebagai ayam sabung, ayam timangan (pet), atau untuk acara
ritual. Berikut ini adalah ras lokal ayam di Nusantara yang telah
dikembangkan untuk sifat/penampilan tertentu:
- Ayam pelung, ras lokal dan unggul dari Priangan (Kabupaten Cianjur)
yang memiliki kokokan yang khas (panjang dan bernada unik), termasuk
ayam hias.
- Ayam kedu (termasuk ayam cemani), ras lokal dan mulia dari daerah
Kedu dengan ciri khas warna hitam legam hingga moncong dan
dagingnya, termasuk ayam pedaging dan ayam hias.
- Ayam nunukan, ras lokal dan mulia dari Nunukan, Kalimantan Timur.
Dengan bentuk badan tegap dan ukuran besar, keturunan ayam aduan,
termasuk ayam pedaging dan hias.

1. Ayam Kedu
Merupakan ayam lokal yang berkembang di Kabupaten Magelang dan
Temanggung atau eks. Kersidenan Kedu (Jawa Tengah). Berdasarkan
penampilan dan warnanya ayam kedu dibedakan menjadi empat jenis
yaitu:
a. Ayam kedu hitam
Ayam kedu hitam mempunyai penampilan fisik hamper hitam
semua, tetapi kalau diamati secara teliti warnanya tidak terlalu
hitam . Penampilan kulit pantat dan jengger masih mengandung
warna kemerah-merahan. Bobot ayam kedu hitam jantan dewasa
antara 2 Kg 2,5 Kg, sedangkan yang betinanya hanya 1,5 Kg.
Ayam ini sering disamakan dengan ayam cemani karena tampak
serba hitam.

Gambar 1 Ayam Kedu Hitam



b. Ayam kedu cemani
Ayam kedu cemani memiliki penampilan sosok tubuh hitam
mulus, termasuk paruh, kuku, telapak kaki, lidah, telak (langit-
langit mulut), bahkan daging dan tulangnya juga hitam. Sosok
tubuh ayam kedu jantan dewasa tinggi besar dan bobotnya antara
3 Kg- 3,5 Kg, sedangkan yang betina dewasa berbobot antara 2
Kg- 2,5 Kg.

Gambar 2. Ayam Kedu Cemani


c. Ayam kedu putih
Ayam kedu putih ditandai dengan warna bulu putih mulus, jengger
dan kulit mukanya berwarna merah, sedangkan kakinya berwarna
putih atau kekuning-kuningan. Jenggernya tegak berbentuk wilah.
Bobot ayam jantan kedu putih dewasa mencapai 2,5 Kg.
Sedangkan bobot ayam kedu putih betina 1,2 Kg 1,5 Kg.

Gambar 3. Ayam Kedu Putih

d. Ayam kedu merah
Ayam kedu merah ditandai dengan warna bulu hitam mulus, tetapi
kulit muka dan jengger berwarna merah, sedangkan kulit
badannya berwarna putih. Sosok tubuh ayam kedu merah tinggi
besar dengan bobot ayam jantan dewasa 3 Kg-3,5 Kg, Sedangkan
bobot ayam betina 2 Kg-2,5Kg.

Gambar 4. Ayam Kedu Merah


2. Ayam Nunukan
Ayam nunukan disebut juga ayam Tawao. Ayam ini merupakan ayam
lokal yang berkembang dipulau Tarakan, Kalimantan Timur. Ayam
nunukan diperkirakan berasal dari Cina. Karakteristik ayam nunukan
adalah warna bulunya merah cerah atau merah kekuning-kuningan,
bulu sayap dan ekor tidak berkembang sempurna. Sementara paruh
dan kakinya berwarna kuning atau putih kekuning-kuningan dengan
jengger dan pial berwarna merah cerah. Jenggernya berbentuk wilah
dan bergerigi delapan.

Stadium anak ayam sampai umur 45 hari cenderung berbulu kapas.
Berat badan ayam nunukan jantan dewasa 3,4 Kg 4,2 Kg, sedangkan
yang betina 1,6 Kg 1,9 Kg.

Gambar 5. Ayam Nunukan

3. Ayam Pelung
Ayam pelung merupakan ayam lokal yang berkembang di Kabupaten
Cianjur dan Sukabumi (Jawa Barat). Ayam pelung memiliki sosok
tubuh besar dan tegap, temboloknya tampak menonjol. Kakinya
panjang, kuat, dan pahanya berdaging tebal. Ayam pelung jantan
memiliki Jengger berbentuk wilah yang besar, tegak, bergerigi nyata
dan berwarna merah cerah. Ayam pelung betina mempunyai jengger,
tetapi jengger terseebut tidak berkembang dengan baik. Ayam pelung
jantan dewasa mempunyai bobot badan berkisar antara 3,5 Kg 5,5
Kg, sedangkan yang betina 2,5 Kg 3,5 Kg.

Gambar 6. Ayam Pelung

4. Ayam Sumatera
Ayam Sumatra merupakan ayam lokal dari Sumatra Barat.
Penampilan perawakannya tegap, gagah ,tetapi ukuran tubuhnya kecil.
Ayam Sumatra jantan berkepala kecil, tetapi tengkoraknya lebar.
Pipinya penuh (padat), keningnya tebal, dan pialnya menggantung ke
bawah. Paruh ayam Sumatra umumnya pendek dan kukuh berwarna
hitam, dengan cuping kecil dan berwarna hitam. Ayam Sumatra
memiliki jengger berbentuk wilah dan berwarna merah. Kulit muka
juga berwarna merah atau hitam, ditumbuhi bulu halus yang jarang.
Bobot ayam Sumatra jantan dewasa 2 Kg, sedangkan yang betina 1,5
Kg.

Gambar 6. Ayam Belenggek

5. Ayam Belenggek
Ayam belenggek berasal dari Sumatra Barat, tepatnya dipedalaman
Kabupaten Solok. Ayam ini pandai berkokok dengan suara yang
merdu dan iramanya bersusun-susun, panjang sampai terdiri atas 6-12
suku kata. Semakin panjang suku katanya, semakin panjang
kokoknya.

Gambar 7. Ayam Belenggek

6. Ayam Gaok
Ayam gaok bersal dari madura dan Pulau Puteran, Kabupaten
Sumenep. Keistimewaan ayam gaok yaitu kokoknya memiliki suara
panjang yang hampir sama dengan ayam pelung yang terdapat di
Cianjur (Jawa Barat). Ayam Gaok jantan dewasa memiliki bobot
badan mencapai 4 Kg, sedangkan yang betina 2 - 2,5 Kg. Ayam Gaok
jantan memiliki tampilan tubuh besar, tegap dan gagah. Jenggernya
besar berbentuk wilah dan berwarna merah, dengan pial yang besar
dan warnanya merah. Kakinya berwarna kuning [6]. Bulunya
didominasi oleh warna kuning kehijau-hijauan (wido), namun ada
juga yang berwarna lain, seperti merah dan hitam.

Gambar 8. Ayam Gaok

7. Ayam Ras Pedaging
Ayam ras pedaging disebut juga broiler, yang merupakan jenis ras
unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki
daya produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging ayam.
Sebenarnya ayam broiler ini baru populer di Indonesia sejak tahun
1980-an dimana pemerintah mencanangkan panggalakan konsumsi
daging ruminansia yang pada saat itu semakin sulit keberadaannya.
Hingga kini ayam broiler telah dikenal masyarakat Indonesia dengan
berbagai kelebihannya. Hanya 5-6 minggu sudah bisa dipanen.
Dengan waktu pemeliharaan yang relatif singkat dan menguntungkan,
maka banyak peternak baru serta peternak musiman yang
bermunculan diberbagai wilayah Indonesia.

Ayam ras pedaging yang sehari-hari kita mengenalnya dengan sebutan
ayam broiler, merupakan jenis ayam ras unggulan hasil dari
persilangan ras ayam yang memiliki produktivitas dan ketahanan
tinggi,terutama dalam produktivitas daging. Hanya dalam 5 - 6
minggu saja jenis ayam ini bisa dipanen, karena masa pemeliharaan
yang relatif singkat ayam jenis ini sangat digemari oleh peternak tidak
heran jika setiap tahunya muncul peternak-peternak musiman di
wilayah Indonesia. Namun saat isu flu burung masuk pertama kali di
Indonesia pada tahun 2005 produksi ayam jenis ini sempat menurun.


Gambar 8. Ayam Broiler

Dengan berbagai macam strain ayam ras pedaging yang telah beredar
dipasaran, peternak tidak perlu risau dalam menentukan pilihannya.
Sebab semua jenis strain yang telah beredar memiliki daya
produktifitas relatif sama. Artinya seandainya terdapat perbedaan,
perbedaannya tidak menyolok atau sangat kecil sekali.

Dalam menentukan pilihan strain apa yang akan dipelihara, peternak
dapat meminta daftar produktifitas atau prestasi bibit yang dijual di
Poultry Shoup. Adapun jenis strain ayam ras pedaging yang banyak
beredar di pasaran adalah: Super 77, Tegel 70, ISA, Kim cross,
Lohman 202, Hyline, Vdett, Missouri, Hubbard, Shaver Starbro,
Pilch, Yabro, Goto, Arbor arcres, Tatum, Indian river, Hybro,
Cornish, Brahma, Langshans, Hypeco-Broiler, Ross, Marshallm,
Euribrid, A.A 70, H&N, Sussex, Bromo, CP 707.












B. Breeding
a. Pemilihan bibit dan calon induk
Untuk menciptakan indukan unggul berkualitas dengan
produktifitas tinggi perlu adanya pemilihan induk sebagai andalan untuk
dikembangkan. Biasanya dalam pemilihan induk ini dapat dibedakan
menjadi 2 kategori yakni untuk budidaya pedaging unggul dan petelur
unggul. Untuk pedaging biasanya dipilih pejantannya sedangkan petelur
dipilih dari betinanya. Adapun cara memilih induk yang baik ditunjukkan
meneliti bagian-bagian tubuh ayam kampung dengan ciri-ciri sebagai
berikut :

Ciri-Ciri Induk Pejantan Ayam Pedaging Yang Unggul
1. Bentuk Fisik Ayam
a. Badan
Badan atau tubuh ayam besar, tegap, dan kekar menjadi
pilihan untuk dikembangkan. Dengan alasan tubuh besar
mampu menghasilkan daging yang besar pula.
b. Kaki
Kaki biasanya dipilih yakni berwarna kuning, kekar, dan
sisiknya rapi. Dengan alasan tulang badan juga besar dan kaki
kuning lebih diminati ketimbang kaki putih atau hitam.
Banyak orang percaya bahwa kaki kuning akan menimbulkan
kaldu bila dimasak seperti soto, sup dan lain sebagainya.
c. Bulu
Bulu sering dijadikan sarana daya tarik ketika masih hidup.
Bentuk bulu pun diusahakan cari dengan warna dasar yakni
hitam. Ada kalanya warna bulu juga menjadi petimbangan
dengan alasan warna bulu tertentu memiliki kualitas genetik
bagus ketimbang warna lain. Kami lebih memilih warna hitam
seperti wiring kuning sebagai andalan dengan alasan masih
menjadi incaran bila mencari induk pejantan. Anda dapat
melihat berbagai jenis bulu pada artikel kami sebelumnya pada
macam-macam bulu ayam kampung . Selain warna bulu
bentuk bulu tersusun rapi mencirikan ayam tersebut sehat.

2. Tingkah Laku
Ayam yang sehat memiliki tingkah laku yang sehat, aktif dan tidak
menyendiri dari golongannya.

3. Umur Ayam
Kesesuaian umur dan ukuran ayam sangat penting dalam
pemilihan induk. Karena banyak faktor yang mengganggu
sehingga kadang ukuran ayam tidak sesuai dengan umurnya atau
seringkali disebut bantet. Maka ayam ini sulit untuk tumbuh besar.

4. Jenis Kelamin
Penentuan jenis kelamin untuk target perkawinan yang ditentukan.

5. Keturunan Ayam

6. Produktifitas Induk Ayam
7. Tahan Penyakit

Ciri-Ciri Induk Betina Ayam Petelur Unggul
a. Badan
Badan besar mencirikan induk mampu bertelur dengan banyak serta
besar
b. Kepala
Pada bagian kepala sering dijadikan pedoman yaitu jengger. Jengger
merupakan bagian tubuh ayam kampung dan jika jengger betina lebih
lebar dan besar mampu bertelur di atas rata-rata ayam kampung asli
yakni 12-14 butir
c. Bulu
Ciri petelur unggul yakni berbulu mengkilat kehijauan atau halus.
Biasanya untuk bulu berwarna hitam lebih mudah dikenali. Bulu
tertata rapi berarti tanda kalau ayam itu sehat.
d. Kaki
Seperti kaki untuk pedaging kaki dipilih untuk warna kuning agak
kemerahan.
e. Umur
Umur betina terbaik yaitu masih dalam masa produksi antara umur 9
bulan hingga 1 tahun 5 bulan.

Tips memilih induk betina ayam kampung unggul untuk praktiknya
adalah sebagai berikut :
1. Lihatlah beberapa ciri-ciri fisik seperti di jelaskan di atas.
2. Pegang tubuh ayam dengan kedua tangan dan bandingkan bila ada
beberapa pilihan
3. Untuk mengetahui masa produksi tekan di bawah dubur ayam, jika
terasa keras itu tanda ayam betina sudah tua.
4. Tanda ayam tidak mengeram dengan baik adalah bentuk jengger
yang kecil dan pesek.
5. Dari penampakan tubuh ayam betina terlihat panjang dan tidak
kerdil
6. Ciri lain ayam bertelur besar adalah paruh pendek dan kaki besar
serta ada ujung hitam di bulu ekor
7. Cari ayam betina bersih, jika ditemukan kotoran maka dipastikan
ayam betina tersebut sakit cirinya adalah hidung, mata tanpa air, dubur
bersih.
8. Saat di pegang mata tidak merem dan berusaha berontak.
























b. Perawatan bibit dan calon induk perawatan
Anak ayam memerlukan pertumbuhan yang seimbang antara
supply makanan dan tempat perlindungan dari induknya yang selalu
melindunginya dari suhu atau udara yang dingin. Terkadang anak ayam
yang dirawat bersama induknya juga mengalami pertumbuhan yang
lambat. Berarti hal tersebut dapat disimpulkan bahwa anak ayam juga
memerlukan supply pangan yang sehat dan bergizi.
Perawatan anak ayam bisa dilakukan dengan cara disapih (dipisahkan
dari induknya dengan menggunakan penghangat buatan/induk buatan).
Yang dimaksud dengan induk buatan yaitu anak ayam yang baru saja
menetas langsung diangkat dari eraman sang induk lalu ditempatkan
disebuah box atau kandang yang tertutup rapat dan disertai dengan lampu
pijar atau lampu dop.
Perawatan dengan cara ini akan lebih cepat dan akurat pertumbuhannya
dibanding perawatan bersama sang induk karena lebih mandiri dan tidak
manja, sehinggan rangsangan nafsu makan akan timbul dengan
sendirinya. Alternatif ini sangat cocok apabila dilakukan oleh peternak
skala besar karena sudah melakukan grading dan mudah dalam
perawatannya.
1. Sediakan kandang atau box untu anak ayam berumur sehari 2bln
dengan ukuran= P.120 cm x L.100 cm x T.70 cm untuk 10 ekor anak
ayam maksimal 15 ekor anak ayam.
2. Anak ayam yang baru menetas langsung dipisahkan dari induknya
dan diberi lampu pijar atau dop sebagai pemanas ganti
induknya.Pasang lampu pijar/dop 60 watt sampai anak ayam berumur
2 minggu setelah itu lampu diganti dengan 40 watt. Dan jangan lupa
kandang diberi alas yang kering dan terasa hangat.
3. Setelah anak ayam berumur satu minggu pemberian makan dan
minumnya mulai digantung setinggi leher anak ayam agar ayamnya
kelak mempunyai kuda-kuda kaki yang kokoh,akan kuat mendorong
lawan dan akan membentuk body ayam yang sempurna sebagai
petarung sejati. Semakin besar dan tinggi anak ayam diiringi juga
dengan semakin dinaikkan/ditinggikan juga tempat makan dan
minumnya.
4. Sediakan makanan pokpan yang dicampur dengan susu bubuk putih
sebagai tambahan gizi yang baik untuk postur tubuh dan tulang yang
ideal pada nantinya. Lalu siapkan juga air minumnya yang dicampur
dengan vitachik yang kaya akan vitamin.




c. Sistem pemuliabiakan
Untuk mendapatkan keturunan yang lebih baik dan
mempertahankan sifat yang spesifik maka pembiakan dibedakan dalam 3
kategori yaitu:
a. In breeding (silang dalam), untuk mempertahankan dan
menonjokkan sifat spesifik misalnya bulu, proporsi daging.
b. Cross Breeding (silang luar), untuk mendapatkan keturunan lebih
baik/menambah sifat-sifat unggul.
c. Pure Line Breeding (silang antara bibit murai), untuk mendapat
bangsa/jenis baru yang diharapkan memiliki penampilan yang
merupakan perpaduan 2 keungggulan bibit.

d. Reproduksi dan perkawinan ayam
Umur dewasa kelamin adalah rentang waktu antara menetasnya
telur menjadi anak ayam sampai dengan ayam tersebut mulai bertelur
untuk pertama kalinya (betina). Sedangkan bagi ayam jantan, hal ini
ditandai dengan keluarnya cairan sperma dari organ-organ reproduksi.
Umur dewasa ayam antara 7-8 bulan. Pada saat itu organ-organ
reproduksi sudah mulai bekerja dan menghasilkan hormon untuk
memperbanyak keturunan.

e. Proses kelahiran
Jika sel-sel telur ayam dibuahi sperma dari pejantan, maka telur ketika
dierami induk betina akan berisi embrio (janin). Telur tersebut akan
menetas sesudah 21 hari dierami. Sejak mengalami dewasa kelamin,
induk betina akan menghasilkan sejumlah telur dalam satu periode
peneluran. Adapun yang disebut periode peneluran adalah masa-masa
dimana induk betina mulai bertelur sampai dengan tibanya masa
mengeram.













C. Feeding
Ayam membutuhkan pakan untuk kebutuhan hidup pokok dan produksi.
Bahan pakan untuk ayam secara garis besar dibagi menjadi 2, yaitu
sumber energi dan sumber protein. Ransum adalah salah satu faktor
masukan (input) yang sangat menentukan keberhasilan usaha ternak
ayam, karena biaya ransum ini merupakan komponen biaya terbesar
sekitar 60% dari biaya produksi usaha tersebut. Untuk itu setiap petani
peternak yang mengharapkan hasil yang baik, harus memberikan
perhatian terhadap pakan yang diberikan kepada ternak yang dipelihara
baik dari segi kuantitas maupun kualitas, artinya pakan yang harus
mengandung zat-zat nutrisi yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan
ayam yang dipelihara.
Pada kenyataan, sampai sekarang patokan kebutuhan zat-zat nutrisi untuk
ayam belum ada yang mantap. Dengan demikian, setiap petani peternak
masih menggunakan susunan (formula) yang berbeda-beda tergantung
pada tersedianya bahan-bahan pakan yang dilokasinya serta biaya yang
dimiliki. Lain halnya dengan usaha ternak ayam ras yang sudah
mempunyai teknologi mapan dalam hal pengadaan pakan dengan
kandungan zat-zat nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan ayam yang
dipelihara. Adanya teknologi tentang patokan kebutuhan zat-zat nutrisi
ayam ras ini sangat membantu pengadaan dan penyusunan ransum ayam
walaupun masih tingkat upaya, melalui penelitian-penelitian seperti
pengujian (adopsi) untuk mendapatkan dan membuat suatu patokan
kebutuhan ayam .

1. Dedak
Dedak yang berasal dari limbah olahan padi ini sangat cocok dijadikan
bahan pakan (biasa disebut juga bekatul). Sebab, kandungan energi
metabolismenya berkisar antara 700-2.500 kkal/kg dan kandungan
seratnya 12%. Kandungan tersebut cukup tinggi sebagai bahan pakan.
Berbeda dengan ayam ras yang pemakaiannya dibatasi antara 5-10%,
bahan pakan ini bisa dipakai untuk ayam kampung maksimal 65%.

Gambar 9. Dedak

2. Onggok
Onggok yang berasal dari limbahan olahan singkong menjadi tepung
tapioka ini cukup banyak juga kandungan metabolismenya 2.956 kkal/kg.
Namun, pemakaian maksimalnya dibatasi hanya 5-10% saja.

Gambar 10. Onggok

3. Pollard
Pollard yang merupakan limbah olahan gandum menjadi tepung terigu ini
juga cocok dijadikan bahan pakan ayam kampung (biasa disebut dedak
gandum). Namun, harap dicatat, penggunaannya mesti sangat dibatasi.
Ya, meskipun kandungan energi metabolismenya berkisar antara 1.140-
2.600 kkal/kg, tapi kandungan serat yang dimilikinya dapat membuat
ayam mencret.


Gambar 11. Pollard

4. Jagung Kuning
Di Indonesia dikenal tiga jenis jagung, yakni: jagung merah, jagung putih,
dan jagung kuning. Tapi, jagung kuning-lah yang memiliki kandungan
nutrisi paling besar dibandingkan dua lainnya. Sementara itu, kandungan
metabolismenya mencapai 3.360 kkal/kg. Sayangnya, harganya lumayan
mahal (terlebih jika digunakan peternak ayam pemula). Karena itu,
pemakaiannya dibatasi 20-40% saja dari total ransum. Demi
penghematan.

Gambar 12. Jagung Kuning

a. Zat Pakan
Ayam membutuhkan zat pakan yang tersedia cukup dalam ransumnya
untuk kebutuhan hidup pokok, produksi dan keperluan proses metabolisme
di dalam tubuh. Zat-zat tersebut antara lain; karbohidrat, protein, lemak,
mineral, vitamin dan air.
1. Karbohidrat
Sebagai sumber energi bagi ayam. Kelebihan energi akan disimpan
dalam bentuk glikogen dan lemak. Dalam kondisi kurang pakan lemak-
lemak tersebut mengalami pemecahan menjadi sumber energi bagi
keperluan fisiologi tubuh.
2. Protein
Fungsi protein dalam ransum ayam adalah sebagai zat pembangun.
Ayam muda membutuhkan protein untuk pertumbuhan. Ayam bunting
dan induk eram membutuhkan protein dalam ransum untuk
perkembangan embrio, pertumbuhan anak.
3. Lemak
Fungsi lemak adalah sebagai sumber energi dalam ransum ayam.
Pemberian 2-3% kadar lemak dalam ransum sudah mencukupi
kebutuhan hidupnya
4. Vitamin
Vitamin dibutuhkan untuk pertumbuhan normal, hidup pokok dan
mengatur metabolisme.
Vitamin A dibutuhkan kelinci untuk memelihara jaringan, alat
reproduksi dan untuk pembentukan tulang rawan.
Vitamin D dalam tubuh kelinci sangat erat hubungannya dengan
metabolisme mineral Ca dan P. Defisiensi vitamin D akan
memperlihatkan gejala osteoporosis (pengeroposan tulang), sedang
pemberian yang berlebih akan mengakibatkan pengapuran jaringan
ginjal dan saluran pembuluh darah.
Vitamin E dibutuhkan kelinci untuk memelihara jaringan (sel-sel)
tubuh dan dalam sintesa hormon-hormon reproduksi.
Vitamin K dibutuhkan kelinci dalam proses reproduksi normal,
pembekuan darah.
5. Mineral
Mineral merupakan unsur paling diperlukan dalam semua fase
pertumbuhan ayam. Kebutuhan paling tinggi terhadap meineral
didapatkan pada induk eram dan anak ayam pada awal periode
pertumbuhan.
6. Air
Zat makanan terpenting. Sebagai penghantar panas, pelarut zat makan,
berperan dalam reaksi enzimatis, dan berperan sebagai sistem syaraf.

D. Manajemen/Tatalaksana
1. Perkandangan
- Suhu dan kelembaban yang nyaman untuk ayam dewasa adalah 25-28
derajat celcius dan 60-70%. Namun saat masa brooding (indukan), suhu
yang nyaman untuk anak ayam berkisar 33-29 derajat celcius (berkurang
secara periodik sejalan dengan bertambahnya umur). Ayam akan langsung
memberikan respon saat suhu melebihi zona nyaman (comfort zone)
diantaranya dengan membuka sayap, mencari tempat dingin dan panting
(megap-megap).
- Sirkulasi Udara. Sistem ventilasi udara yang baik akan menjaga kualitas
udara tetap optimal bagi ayam. Udara kotor yang bercampur dengan
amonia dan CO2 akan bisa terbuang keluar kandang digantikan dengan
oksigen. Pengaturan buka tutup tirai, lebar dan tinggi lantai maupun jarak
antar kandang sangat berpengaruh terhadap sistem ventilasi udara.
- Kepadatan. Standar kepadatan ayam yang ideal adalah 15 kg/m2 atau
setara dengan 6-8 ekor ayam pedaging dan 12-14 ekor ayam petelur
grower (pullet) per m2 nya. Kepadatan yang berlebih akan menyebabkan
pertumbuhan ayam terhambat (kerdil) karena terjadi persaingan untuk
mendapatkan ransum, air minum maupun oksigen.
- Ketersediaan ransum dan air minum. Ransum dan air minum menjadi
kebutuhan utama bagi ayam untuk bisa tumbuh dan berkembang.
Keduanya harus tersedia dalam jumlah dan kualitas yang sesuai dengan
kebutuhan.
- Kebersihan. Kandang yang bersih akan meminimalkan tantangan bibit
penyakit. Seketat apapun program vaksinasi dan pengobatan yang
dijalankan namun jika tidak diimbangi dengan kegiatan pembersihan dan
desinfeksi kandang, maka kemungkinan untuk terjadi outbreak penyakit
semakin besar. Setidaknya lakukan pembersihan tempat ransum dan air
minum setiap hari, serta penyemprotan desinfektan setiap 3-4 hari sekali.

2. Pemberian pakan
Pemberian pakan yang cukup, seimbang dan tidak berlebih akan
meningkatkan kualitas ayam.

3. Pembersihan
Dibersihkan dan didesinfeksi secara rutin. Tidak hanya bagian dalam
kandang, tapi juga termasuk luar kandang melimputi selokan, air tidak
tergenang, semak-semak, secara rutin minimal 1x seminggu.

4. Pencahayaan
Hewan pada alam liarnya juga membutuhkan siklus siang dan malam.

5. Kesehatan
Pemberian program vaksinasi. Sanitasi, ransum yang baik, dan
pembersihan lingkungan secara rutin. Perlakuan karantina bagi ayam yang
terserang penyakit

6. Panen
Pembuatan jadwal kandang yang akan dipanen sesuai ukuran berat dan
tempat yang akan digunakan juga persiapan alat-alat pendukung lainnya.
Pemindahan alat-alat seperti tempat minum, pakan, dan yang lainnya pada
saat panen. Dan pengggunaan timbangan untuk menimbang hasil panen.
Waktu yang tepat untuk melakukan penimbangan yakni pada saat
matahari terik sekitar jam 12-2 siang, akan menyebabkan tingkat stres
ayam memuncak sehingga banyak ayam yang lemas bahkan mati.
Pada saat pascapanen kesalahan yang sering dilakukan oleh para peternak
ayam broiler komersial adalah tidak mengumpulkan semua peralatan
kandang dan sesegera mungkin membersihkannya. Selain hal tersebut
aktivitas pascapanen yang dilakukan adalah menimbang pakan yang
tersisa dan mencatatnya serta menghitung total ayam dan total berat ayam
yang dijual, serta melakukan evaluasi perhitungan prestasi produksi ayam.
Buatlah laporan mengenai data hasil panen dengan hati-hati agar tidak
terjadi kesalahan pada pencatatan data akhir. Hal ini berpengaruh
terhadap penentuan kebijakan karena laporan yang up to date dan akurat
dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti kecurangan
selama satu siklus pemeliharaan. Mudah-mudahan, dengan pelaksanaan
tahapan yang dilakukan dengan baik akan memberikan hasil yang baik
pula.
7. Pengolahan
8. Pemasaran
BAB IV
KESIMPULAN dan SARAN

A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA