Anda di halaman 1dari 18

PENDIDIKAN ANAK

MENURUT AL-GHAZALI DAN JOHN LOCKE

OLEH;
SUTEJA

ANGKATAN III
PROGRAM PASCARAJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SUNAN AMPEL SURABAYA
2000 M.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Usia tujuh tahun sampai duabelas tahun bagi seorang anak manusia, menurut
Khonstamn, merupakan fase intelek dimana anak sangat membutuhkan bantuan bagi
penyempurnaan akal atau fikirannya. Pada masa itu cara berfikir anak masih
bersifat persepsional, ia hanya dapat memahami hal-hal yang bersifat indrawi. Ciri
lain yang menonjol dari anak adalah dimilikinya daya ingat yang kuat dan kemampuan
menghafal memoratif . Bantuan yang dibutuhkan berupa bantuan dan bimbingan untuk
melatih dan membina kemampuan berfikir abstraks, tidak berfikir konkrit.
Perhatian anak sudah meluas kepada hal-hal yang ada diluar dirinya. Namun
demikian, perhatian itu lebih terpusat kepada hal-hal atau maslah-masalah indrawi
dan memandang sesuatu secara apa adanya. Kecenderungan terhadap benda-benda
tersebut sebenarnya memiliki hubungan erat dan saling mempengaruhi dengan
kecenderungan fisik jasmaniah yang dinamis dan aktif. Maka, sangat tepatlah bila
pendidikan memberikan bantuan melatih dan membiasakan pertumbuhan fisik secara
harmonis, sesuai dengan kecenderungan untuk bergerak aktif.
Dalam kehidupan sehari-hari anak lebih di pengaruhi oleh kecenderungan meniru yang
kuat. Pendidikan bertugas memberikan warna terhadap perilaku dan tindakan anak.
Pendidikan bertugas memberikan warna terhadap perilaku dan tindakan anak. Ciri
anak yang dinamis, mudah meniru dan modal berfikir persepsional tidak dapat
dibiarkan dengan sendirinya agar tidak tersesat jalan dan konteks moral condact
(istilah brameld). Pendidukan bertugas mencegah jangan sampai anak dimasuki
pikiran-pikiran buruk yang melandasi perbuatannya, dan terbiasa melakukan
tindakan moral yang baik dan terpuji. Dengan memperhatikan ciri-ciri kepribadian
tersebut, pendidikan bertugas membantu perkembangan seluruh aspek kepribadian anak
secara wajar dan harmonis.
Terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak pada usia tersebut, baik ahli didik

Timur maupun Barat telah memberikan formulasi yang baik setidaknya sebagai sebuah karya yang khas untuk masa dan generasinya. Fokus penelitian itu ialah perbedaan dan titik temu konsep pendidikn anak al-Ghazali dan John Locke. di kenal sebagai tokoh pendidikan empirisme yang memadukan pengetahuan denga pengalaman dan keseimbangan jasmani dan mental spiritual. kebajikan. Diantara tokoh dan ahli didik yang akan di jadikan pokok penelitian ialah al-Ghazali (1058-1011 M). nilai. Bagaimanakah konsep pendidikan anak menurut al-Ghazali? 2. Kebajikan adalah kemampuan memilih baik dari buruk dan dapat mengendalikan hawa nafsu serta dapat mengikuti petunjuk akal. Sedangkan pengetahuan dirumuskan sebagai sarana untuk dapat menemukan jati diri dan sarana dalam menentukan sikap hidup beragama. Reformasi lembaga sekolah harus diarahkan kepada terciptanya lembaga yang mampu menyediakan lingkungan. Orientasi itulah. Locke menghendaki pendidikan yang dapat menyediakan ide-ide baik. Kurikulum pendidikan menitikberatkan penguasaan ilmu-ilmu yang dapat mendekatkan diri kepada Tuhan dan dapat menghantarkan kepada kebahagiaan abadi. Ayyuha al-Walad dan Mizan al-‘Amal. disisi lain al-Ghazali lebih berorientasi kepada kehidupan ukhrawi dan Locke lebih memerankan pendidikan sebagai sebuah proses yang membantu menciptakan generasi yang siap hadir dalam bermasyarakat dengan bekal dan keterampilan khusus. Kedua tokoh itu. dimanakah titik temu kedua konsep pendidikan tersebut? 4. Sebagai tokoh pendidikan Locke dikenal sebagai ahli didik yang mengutamakaan faktor lingkungan alam dan sosial dalam rangka pembentukan kepribadian anak. kebijaksanaan dan lingkungan serta pengalaman bagi anak. Tought Concerning Education (1693). Konsep pendidikan untuk kedua tokoh pada zamannya memiliki kehendak sama dimana keduanya mengakui peranan dan pengaruh lingkungan sebagai faktor pembentuk kepribadian. John Locke (1632-1704 M). Bidayat al-Hidayah. kealiman. serta tidak menyebabkan kelelahan dan tidak mendatangkan kemalasan. Muatan kurikulum pendidikan al-Ghazali dan Locke sepintas tampak sebagai kurirkulum ideal yang memuat tiga muatan pokok yaitu. Conduct to Undarstanding and Thought on Education (1695). . melalui karya-karyanya. Dimanakah letak perbedaan dan titik temu kedua konsep tersebut? B. mengakui pengaruh lingkungan sebagai faktor yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak. mewakili tokoh Barat. Bagi Locke. pendidikan harus memperhatikan empat hal pokok yaitu. Locke mencanagkan sekolah dan lembaga pendidikan pada umumnya dapat beradaptasi dengan kepentingan anak sebagai anggota masyarakat yang hidup dalam realitas yang selalu berubah dan berkembang. pengetahuan dan keterampilan. Al-Ghazali. Pendidikan yang di kehendaki al-Ghazali pendidikan yang berorientasi kepada pencegahan anak dari pengaruh lingkungan dan pergaulan yang buruk. Namun demikian. Kealiman dan kesusilaan merupakan sesuatu yang harus dicapai dalam menciptakan individu yang dapat berkiprah dalam masyarakat. Rumusan dan Pembatasan Masalah 1. mewakili tokoh Timur. Sebagai tokoh yang secara langsung terlibat dalam kegiatan pendidikan. memberikan perhatian terhadap pendidikan anak dengan corak dan warna tasawwufnya. seperti Ihya’ ‘Ulum al-Din (ditulis di Damaskus antara 941 H. realitas. dengan karya-karyanya seperti Essay Concerning Human Understanding ( 1689-1690). sampai Dhu al-Hijjah 499 H/9 Desember 1097 sampai Juli 1106). kesusilaan dan pengetahuan. dimanakah letek perbedaan kedua konsep pendidikan tersebut? Beberapa pertanyaan tersebut pada dasarnya dapat dibatasi menjadi beberapa hal sebagai fokus penelitian. Bagaimanakah konsep pendidikan anak menurut John Locke? 3. yang menimbulkan pertanyaan kebenaran kedua konsep sebagai yang memiliki orientasi yang berbeda secara esensial. pada dasarnya. John Locke. walaupun sebatas kepada jenis permainan yang berfungsi sebagai selingan dan olah raga yang tidak melanggar norma-norma agama. setidaknya bagi penulis. al-Ghazali memberikan perhatian terhadap materi-materi yang mesti di berikan bagi usaha membantu pertumbuhan fisik jasmaniah. situasi praktis dan kesempatan bekerja.

. Bab II Gambaran Umum tentang Komponen pendidikan. Titik temu dan perbedaan konsep pendidikan anak menurut al-Ghazali dan John Locke. 3. Pendidikan Intelek b. tesis ini berisikan enam bab yang terdiri dari: 1. F. Tujuan dan Signifikasi Penelitian d. 2. Bab I Pendahuluan. Konsep pendidikan anak menurut John Locke. Penegasan Judul 1. Metodologi Penelitian Penelitian ini pada dasarnya mempergunakan metode studi dokumentasi dan studi kepustakaan dimana penelitian dilakukan dengan menelaah referen atau bahan bacaan yang berkaitan dengn masalah penelitian. Konsep pendidikan anak menurut al-Ghazali. Bab V Perbedaan dan Titik Temu Konsep al-Ghazali dan John Locke tentang pendidikan Anak. 4. E. mengkategorisasikan data yang telah diidentifikasikan 3. Metodologi Penelitian e. Mengidentifikasi data tentang pemikiran al-Ghazali dan John Locke pendidikan anak. Sistematika Penulisan f. Langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut: 1. didalamnya dipaparkan hal- hal yang menjadi stressing pendidikan yaitu: a. 5.C. serta kesesuaian ide-ide dimaksud dengan konsep al-Qur’an Hadith. Pendidikan Akhlak d. Sistematika Penulisan Dengan mengacu pada pedoman penulisan tesis Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya. Latar Belakang Masalah b. D. Dengan memperhatikan perbedaan-perbedaan konsep tersebut serta aspek-aspek kepribadian anak secara integral. Dengan mengetahui bebrapa hal tersebut diharapkan penelitian ini memberikan gambaran umum tentang pendidikan anak yang ideal di masa depan. Rumusan dan Pembatasan Masalah c. Pendidikan Jasmani dan Keterampilan 2. Pengesahan Judul Beberapa kata didalam buku yang perlu diperjelas ialah pendidikan dan anak. Tujuan dan Signifikasi Pendidikan Penelitian ini bertujuan untuk memeperoleh data tentang : 1. 3. perbedaan dan titik temu ide-ide al-Ghazali dan John Locke tentang pendidikan anak. Bab ini memaparkan ide- ide John Locke tentang pendidikan anak dan analisis penulis. Pendidikan Keimanan c. Pendidikan yang dimaksud adalah anak manusia yang berusia antara tujuh tahun sampai duabelas tahun. Bab IV Pemikiran John Locke tentang Pendidikan Anak. Bab VI Kesimpulan. diharapkan dapat memberikan solusi terhadap ketidaktepatan penyelenggaraan pendidikan yang cenderung memihak atau mengabaikan aspek kepribadian tertentu. terdiri dari: a. 2. Bab III Pemikiran al-Ghazali tentang pendidikan anak dan analisis penulis. Menganalisis data yang telah dikategorisasikan dengan mencari kesamaan.

sebagai bapak manusia. pencerdasan dan pemeliharaan kesehatan akal. Dalam bagian ini sudah tentu penulis juga memaparkan pendapat-pendapat para pemerhati dan ahli didik muslim. pendidikan keimanan dan pendidikan jasmani untuk dijadikan tolok ukur dalam mencermati konsep pendidikan anak dalam pandangan al-Ghazali dsan John Locke. melainkan lebih menciptakan kondisi berfikir liberal dimana manusia di beri kesempatan memikirkan hal-hal metafisik dan berakhir kepada kesimpulan tentang adanya Tuhan. dan 3. tanah bumi dan roh suci. perenungan dan pengkajian- pengkajian terhadap alam. radiks dan produktif. 2. Pendidikan Intelek dan pencerahan Pendidikan intelek pada dasarnya bertujuan membentuk pikiran dengan ilmu-ilmu shari’at dan peradaban modern. Adam. Pendidsikan intelek berfungsi sebagai usaha pencerdasan. Tanah merupakan . dengan demikian. dilukiskan telah berhasil dengan kelebihan intelektualitasnya. melampaui ketinggian malaikat-malaikat Tuhan dan sekaligus telah berhasil menghapuskan keraguan terhadap kopetensi manusia sebagai khalifah atau wakil Tuhan untuk menciptakan kesejahteraan umat manusia. Mohammad Fadil al-jamaliy meyakininya sebagai tujuan pendidikan yang harus dicapai sebelum manusia dapat sampai kepada pengenalan terhadap Tuhan. Pembinaan aspek intelek pada dasarnya bertugas mendewasakan aspek kognitif secara wajar. B. Pengalaman terhadap jati diri manusia seperti didiskripsikan al-Quran merupakan jalan paling efektif dalam pendidikan intelek. serta usaha pencerdasan sehingga terkondisikan tradisi berfikir kritis. Pendidikan intelek 1. Pendidikan keimanan Manusia lahir dari dua hakekat berbeda. Jalan yang ditempuh al-Qur’an dalam mempnjelaskan rububiyah Tuhan tidak sama sekali mengandung unsur pemaksaan dan keterikatan terhadap Zat-Nya semata-mata. Pertama. A.BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG KOMPONAN PENDIDIKAN Pembahasan dalam bagian ini bermaksud mendeskripsikan konsep al-Qur’an tentang pendidikan yang difokuskan kepada pendidikan intelek. Kedewasaan ini pada saatnya diharapkan dapat membantu mencapai kesempurnaan hidup yang sebenarnya. pemberdayaan dan pengajaran. Sasaran Pembinaan Ungkapan-ungkapan al-Qur’an mengenai pembinaan dan pendidikan aspek intelek setidaknya menjadi tiga hal pokok yang menjadi sasaran. sebagai sarana penganalan jati diri manusia melalui proses pengamatan. Hal ini sangat relavan dengan kelima wahyu yang pertama turun telah memproklamirkan kemuliaan berfikir sebagai sebuah pengembaran intelektual dalam memperkaya diri dengan peradaban. Keutamaan Akal Penghargaan dan penghormataan Islam terhadap akal tidak dapat disangsikan sebagai sesuatu yang sangat tinggi. Seluruh tujuan pendidikan qurani terletak kepada persoalan individu manusia dalam hubungannya dengan kedudukan dan dan tanggungjawab dalam kehidupan. Tiga persoalan pokok yang terkandung didalamnya. adalah persoalan pengajaran.

disamping kelebihan-kelebihan yang lainnya. Ketakinan adalah langkah awal menuju keimanan. Ia merupakan sesuatu yang wujud dan karenanya mesti dilatih. keyakinan. Pensucian itu pada dasarnya akan bermuara kepada empat sasaran pokok yang menjadi stressing pendidikan yaitu aspek keimanan. Hal ini sangat memungkinkan jika sejak anak- anak keyakinan dianggap sebagai sesuatu yang benar. Keyakinan. 2. Untuk mencapai kesempurnaan yang diinginkannya. Pendidikan Keimanan dan Penyempurnaan Hidup Pendidikan keimanan adalah instrumen penting untuk membantu kedewasaan dan kesempurnaan hidup sebagaimana dikehendaki Al-Qur’an. Keimanan merupakan hidayah ilahiyah dan saling mempengaruhi antaranya dan perilaku seseorang. Tujuan berikut yang hendak dicapai ialah ditemukannya materi dan pendekatan yang mesti diaplikasikan. Terhadap dimensi spiritual manusia Al-Qur’an memberi beberapa ketentuan sebagai petunjuk pensucian tetapi tidak sama sekali mengeliminir aspek-aspek lainnya. Dialah yang berkewajiban membentuk dirinya sendiri. dengan cara menerima jawaban- jawaban nonrasional. 1. dalam bidang spiritual ia memiliki kecenderungan untuk dekat dengan tuhan. Keyakinan keagamaan atau keimanan yang kuat menyebabkan manusia berjuang melawan kecenderungan-kecenderungan buruk. Adapun jenis dan sasaran pendidikan patut memperhatikan penyempurnaan intelek (ra’sun). Manusia dengan segala potensi dan keutamaan tersebut dituntut mampu mengarahkan dan mengembangkannya. aspek akhlak. dalam usaha meletakan dasar-dasar keagamaan yang diharapkan dapat memotivasi perilaku dan tindakan baik di masa mendatang. hasil latihan yang benar dan tepat. Tidak adanya latihan secara tepet dan benar mengakibatkan kerusakan-kerusakanyang sangat mengerikan seperti pemujaan terhadap berhala dan sejenisnya. kecenderungan yang satu membawa kepada substansi sedimenter. Kepercayaan beragama atau keimanan pada dasarnya merupakan sekumpulan jawaban yang didasarkan atau teologi. amal saleh dan kerja keras di jalan Allah. Dalam bidang intelek lebih tinggi dari makhluk lainnya. sedangkan roh adalah hakekat yang suci. hati nurani (qalb) dan ketrampilan (yad). serta memiliki kesadaran moral. Al-Qur’an memandang manusia sebagai makhluk dengan kelebihan beragam. atau ke dasar hakekatnya yang redah dan dimensi spiritual cenderung naik ke puncak spiritual yang tinggi yaitu Zat Maha Suci. manusia dituntut memiliki kepercayaan. Kepercayaa yang benar. Latihan yang tepat dan benar terhadap fitrah keagamaan akan dapat memberikan jawaban tegas tentang adanya dan esanya tuhan. kepercayaan dan keimanan adalah fenomena kejiwaan. Dengannya seseorang menangguhkan dan mengesampingkan kemampuan rasio. aspek intelek.simbol kerendahan dan kenistaan serta kotoran. Tinjauan kependidikan bermaksud mencari bentuk dan jenis usaha dan proses mendidik sebagai salah satu keniscayaan bagi tujuan kesempurnaan hidup.dan aspek fisik jasmani. Gabungan debu dan spirit suci manusia menjadi makhluk dua dimensi dengan dua arah. Fondasi awal yang akan membentuk landasan kuat dan jadi pendorong menuju tindakan dan perilaku baik. karena diajarkan dengan cara- cara yang benar. akan memberikan . Keyakinan atau kepercayaan terhadap keluhuran kehidupan spiritual yang diberikan sejak diri diharapkan dapat memotivisir lahir dan berkembang perilaku atau amal saleh dalam segala aspek kehidupan. Mansia sempurna adalah manusia yang berkeyakinan. ilmu ketuhanan atau penafsiran atas ketentuan-ketentuan gaib terhadap berbagai masalah mendasar yang ditimbulkan akal fikiran. pendidikan Keimanan dan Keesaan Tuhan Kecenderungan baik dan kecenderungan buruk adalah dua dimensi alamiah manusia. Keyakinan dapat merubah ilmu pengetahuan menjadi sangat bermanfaat. Keimanan ibarat sumber mata air yang darinya memancar akhlak dan perilaku baik. Keyakinan yang dimaksud adalah keyakinan yang timbul dari kesadaran dan kebebasan yang telah diberikan secara fitrah. Pada usia anak-anak penanaman penanaman kepercayaan atau keimanan terhadap nilai-nilai agama yang universal merupakan masa sangat effektif.

pendidikan bertugas memberikan teladan dan perumpamaan-perumpamaan akibat dari perilaku buruk yang melahirka kerugian dan kebinasaan. baik secara ekonomi atau sosial. keharusan menyembah dan beribadah kepada Tuhan.kepastian jawaban adanya Tuhan. . Pembinaan terhadap dua unsur pokok itu hendaknya dinerikan secara imbang dan harmonis. setidaknya dicegah agar tidak berkembang. Sedangkan potensi buruk harus di kompensasikan. Selain itu. Pengabdian terhadap Tuhan dan terhadap sesama sebagai dimensi kehambaan dan kekhalifahan secara langsung mensyaratkan keahlian dan ketrampilan. produktif dan mandiri untuk siap melayani kebutuhan masyarakat. Pemeliharaan diarahkan kepada upaya mentauhidkan Allah dan penbinaan nilai mengarah kepada bagaimana nilai keimanan membuahkan rasa persamaan dan keadilan. Sedangkan dasar-dasar yang khusus disebut kepercayaan. Pendidikan dan ketrampilan fisik secara umum diarahkan kepada usaha menciptakan individu-individu yang memenuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat dan bangsa. trampil. bahwa hakekat manusia adalah perpaduan antara unsur materi dan ammateri yang terdiri dari akal. 808 H. C. Sifat baik dibawa sejak anak-anak dan pendidikan bertugas menghidupkan. justru kepemilikan terhadap keahlian mengaplikasikan teori-teori merupakan keharusan mutlak. Bagi Ibn Kholdun (w. Oleh karena iti. Pendidikan jasmani dan ketrampilan bertugas mempersiapkan pribadi-pribadi yang sehat. Karenanya. Secara esensial pendidikan akhlak bermaksud untuk berupaya menghapus kesan keberpihakan islam terhadap mementingkan aspek ukhrawi semata-mata di satu sisi. melakukun motivasi dengan menanamkan rasa tidak suka terhadap keburukan dan kehinaan serta kerusakan dan kecelakaan. Dengan demikian kepercayaan kepada Tuhan merupakan penerapan secara kongkrit nilai-nilai keimanan dan keimanan itu sendiri adalah nilai universal. cakap. pendidikan pendidikan bertugas membina nilai-nilai keimanan yang tertanam. Dasar-dasar inilah yang disebut nilai. pemahaman pemahaman intelektual semata tidak mencukupi kebutuhan dasar hidup manusia. pendidikan akhlak lebih menampilkan diri sebagai sebuah prosrs mengatasi ketidakharmonisan kepemilikan ilmu pengetahuan dengan apa yang disebut dengan amal perbuatan keseharian. Pendidikan bertugas membentuk pribadu saleh dalam bermasyarakat kesalehan bermasyarakat tercermin dalam prilaku keseharian yang harmonis dan melahirkan timbal balik saling menguntungkan antar perseorangan dalam kelompok sosialnya. persoalan beragama adalah kebutuhan setiap individu. Pendidikan Jasmaniah dan Ketrampilan Konklusi yang tidak dapat dibantah kebenarannya dari berbegai nas al-Qur’an. keharusan menciptakan kesejahteraan dan bentuk-bentuk prilaku baik.) misalnya. menyuburkan serta mengembangkannya kedalam jiwa anak. membina aqidah islamiyah melalui cara-cara penalaran untuk memperkenalkan makna islam. Bertugas menjaga dan memelihara fitrah ketuhanan dan mengembangkannya. Kedua. pendidikan ketrampilan khusus semisal perkebunan. disamping kepemilikan terhadap sejumlah keilmuan teoritis. Pendidikan akhlak diharapkan mampu melahirkan pribadi-pribadi inklusif dan tidak eksklusif. 2. atau keberpihakan terhadap kesalehan individual disatu sisi dan mengesampingkan keharmonisan kehidupan bermasyarakat. Tugas Pendidikan Pendidikan keimanan bertumpu kepada persoalan dasar fitrah manusia. roh dan jiwa. Adapun beberapa langkah yang dapat ditenpuh ialah. tetepi tetap mampu mempertahankan nilai-nilai moral yang islami. iman dan ihsan. Secara berulang-ulang al-Qur’an menegaskan tugas kekhalifahan manusia mensyaratkan tidak saja keimanan yang kokoh dan moralitas tinggi serta penguasaan sejumlah teori. Untuk dapat menjadi khalifah yang dapat menciptakan kesejahteraan dan mensejahterakan alam. Pendidikan Akhlak Al-Qur’an menggariskan sifat dan pembawaan baik sebagai potensi dasar yang membutuhkan pembinaan dan pengembangan. technical skills.. Kedewasaan secara sosial sebagamana diisyaratkan al-Qur’an dan al-Hadith yang menjadi tugas pendidikan adalah terciptanya sumber daya manusia yang tidak menjadi beban bagi masyarakat. Selanjutnya. D. Dalam kehidupan nyata.

terutama . produktif dan mandiri serta mengembangkan ke arah dinamisasi sesuai perkembangan yang wajar.pertukangan. pembinaan keimanan anak. yaitu pembinaan akal anak. Manusia. hati nurani. yaitu kebahagian abadi di akhirat yang dapat dilalui dengan cara mendekatkan diri dan ma’rifat kepada Allah. Pendidikan ketrampilan pada dasarnya bertugas menyediakan sarana dan bukan umpan. bagian ini difokuskan pada empat aspek pembinaan. 1. Pembekalan ketrampilan tersebut setidaknya bertujuan untuk dapat menciptakan berbagai perangkat kehidupan dalam pemenuhan kebutuhan materi yang layak. berbuat dan menghidupi dirinya. Proses ini akan melahirkan kosekuensi berupa keharusan melakukan pencerahan dan penyadaran terhadap potensi yang dimiliki serta penyadaran terhadap eksistensi potensi alam yang disediakan untuk diolah menjadi kesejahteraan umat manusia. Mizan al-‘Amal. tanpa bergantung kepada uluran tangan orang lain. dapat dikemukakan bahwa tidak satupun karyanya yang mambahas secara sistematis mengenai pendidikan sebagaimana para ahli didik sesudahnya. pembinaan akhlak anak dan pembinaan aspek jasmaniyah. semenjak kanak-kanak dibedakan dari binatang karena dinamika dan progresifitas aktuvitasnya dalam memilih. Kimiya al-Sa’adah. BAB III PEMIKIRAN AL-GHAZALI TENTANG PENDIDIKAN ANAK A. Dengan karunia akal fikiran. Dengan menjadikan karya- karyanya tersebut sebagai sampel. Penghargaan al-Ghazali terhadap ilmu sebagai sesuatu yang suci sebenarnya merupakan obsesi al- Ghazali sebagai seorangsufi yang bercita-cita mewujudkan pribadi-pribadi peserta didik yang bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmu pengetahuannya. dan sejenisnya merupakan keniscayaan. Konsep tentang Pembinaan Akal Anak Gambaran sederhana tentang pemikiran al-Ghazali mengenai pendidikan. perbengkelan. dengan memperhatikan beberapa karyanya seperti Ihya ‘Ulum al-Din. insting dan potensi lahiriyah berupa tubuh jasmani manusia dipersiapkan untuk dapat hidup dengan potensi yang dimilikinya. Atas pentingnya menonjolkan yang hendak dicapai dari sebuah proses pendidikan. Pendidikan bertugas menyediakan peluang dan kesempatan untuk berproses menjadi kreatif. Pendidikan ketrampilan adalah proses pemberdayaan individu untuk dapat menggali dan mengembangkan potensi. serta kebutuhan- kebutuhan lain yang terkait dengan persoalan ekonomi. bagian ini mencoba mengemukakan beberapa poin pembahasaaan yang diharapkan mewakili konseppendidikan al-Ghazali. Ilmu pengetahuan dinilai sangat sakral oleh al-Ghazali sebagai sebuah sarana mencapai tujuan yang sangat muli. Materi Pengajaran Materi pengajaran pembinaan akal adalah sejumlah ilmu pengetahuan yang harus diberikan. Bidayat al-Hidayah dan Minhaj al-‘Abidin. ayyuha al-Walad.

Al-Ghazali tidak pernah memberikan peluang terabaikannya ilmu pemgetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan tegas dinyatakannya. pengajaran materi tauhid bertujuan untuk memperkenalkan pokok-pokok agama secara global.sehubungan dengan pelaksanaan kewajiban itu.untuk dapat melaksanakan kewajiban itu di syaratkan adanya ilmu pengetahuan sebagai sarana.menurutnya. dalam arti pihak yang mentransfer ilmu pengetahuan. Sedangkan pengetahuan dan pemahaman mengenai materi akhlak dimaksudkan agar anak memiliki jiwa Tuhan dan memiliki motif kuat beramal ikhlas dalam pengertian semata-mata mengharapkan rida Allah. untuk memelihara kemuliaan itu seorang pendidik dituntut memiliki sifat dan karakter baik. Meskipun al-Ghazli sangat menitikberatkan fungsiilmu sebagai srana kesempurnaan ukhrawi ia masih berperhatian terhadap hal-hal duniawi sehubungan dengan ilmu sebagai materi pengajaran. Pendidik.ilmu. dimata al-Ghazali. Ilmu syari’at yang di maksudkan ialah pengetahuan tentang hukum-hukum islam (fikih) yang membantu peroses pencapaian kemaslahatan duniawi dan kemaslahatan ukhrawi. pendidik memiliki dua tanggungjawab langsung yaitu tanggungjawab yang behubungan dengan ilmu pengetahuan dan tanggungjawab yang berhubungan dengan peesrta didik sebagai penerima informasi.anggota masyarakat. menyebarkan cahaya Tuhan serta menyuruh manusia berbuat baik.pribadi al-Ghazali sebenarnyatidak memungkiri realitas ini.ia tidak menutup diri dari realitas penghargaan terhadap ilmu. Konsistensi al-Ghazali untuk menciptakan peserta didik yang taat dan takwa. Sementara pengajaran materi hukum islam diformulasikannyasebagai upaya pembekalan kesadaran mengenal kewajiban yang mesti ditunaikan dan larangan yang mesti ditinggalkan. secara eksplisit dinyatakan bahea. Sebagai pembari informasi. ia di tuntut dapat memperlakukan ilmu pemgetahuan secara . Pendidik pendekatan agamis yang telah menjadi ciri khas pendekatan al-Ghazali turut mewarnai pemikirannya tentang status dan posisi seorang pendidik.warga negara dan hamba tuhan. Pendidik. Sehubungan dengan posisinya itu.sebagai seorang tokoh masyarakat yang telah banyak menghabiskan usianya dengan pergaulan masyarakat. Pendidik dan Peserta Didik a.mendorong keberaniannya memastikan ilmu-ilmu syari’at sebagai materi pengajaran prioritas. Mengenai jenis dan macam ilmu pengetahuan yang di jadikan bahan pengajaran al-Ghazali telah menggariskan bahwa. ilmu yang barmanfaat adalah ilmu yang dapat melahirkan rasa takut kepada Allah. Al-Ghazali selalu konsisten bahwa. Ilmu inilah yag harus diajarkan walaupun secara garis besar saja.secara umum al-Ghazali menggariskan bahwa ilmu-ilmu yang harus diajarkan terlebih dahulu sebagai prioritas ialah ilmu-ilmu yang memiliki relevansi paling dekat dengan kebutuhan anak sesuai perkembangan. Ilmu adalah bimbingan Tuhan yang dapat membuahkan prilaku ibadat dan dapat memberikan petunjuk apa yang mesti dijalani dan apa yaang mesti dijauhi.pada dasarnya setiap individu memiliki tugas sebagai peribadi.kepada Allah. Pertimbangan lain yang akan menguatkan betapa al-Ghazali memposisikan dan memfungsikan ilmu sangat mulia dan suci. kepemilikan ilmu pengetahuan harus selalu diikuti dengan tanggungjawab pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Ia ingin menjadikan ilmu sebagai sesuatu yang menuntut prilaku. 2. dengan berbagai macam sebutannya. tidak semata-mata diakui secara verbal. di depan al- Ghazali yang mendalami filsafat dan juga pendidik.dia tercatat sebagai salah seorang pemimpin tertinggi Madrasah Nizamiyah. adalah manusia manusia dewasa yang memiliki derajat dan kemuliaan tinggi dibawah kelompok nabi Allah. Sebagai pengajar. al-Ghazali berusaha untuk tidak menjadikan ilmu sebagai sesuatu yang benar-benar bebas dan terpisah dari segala kosekuensi yang harus diwujudkan ketika pengajaran selesai dilakukan. seorang pendidik adalah makhluk dewasa yang bersamanya anak dibantu dan dikembangkan kedewasaan berfikirnya. Termasuk ke dalam kategori ilmu yang mesti diajarkan sejak dini ialah ilmu tauhid dan ilmu akhlak. merupakan para pewaris nabi dengan tugas mulia mendidik.juga dapat memberikan efek bagi status sosial seseorang. Namun demikian.

menurut al-Ghazali. baginya. mendorong keberaniannya untuk memasukkan unsur-unsur agamis kedalam motif belajar. Pergaulan guru-murid harus di bangun menjadi pergaulan yang harmonis layaknya seorang anak dan orang tua kandung. Bagi al-Ghazali. Etika seorang pelajar atau peserta didik adalah salah satu buah jiwa sufistik al-Ghazali yang mewarnai pemikiran pendidikannya. Asumsi kuat terhadap posisi ilmu pengetahuan masih jelas terlihat ketika al-Ghazali menetapkan langkah-langkah yang harus ditempuh didalam proses pembelajaran. kemampuan memahami perbedaan individual peserta didik dan kemempuan memerankan diri sebagai pembukajalan didalam memahami informasi secara komprehensif dengan cara semudah-mudahnya. Ia berpendirian bahwa. pendidik adalah pihak yang mampu mrmahami relevansi materi pembelajaran denga peserta didik dan mampu bersikapnetral terhadap ilmu pengetahuan. dia harus memiliki dua syarat pokok yaitu. Al-Ghazali meyakini sepenuhnya jiwa dan fikiran anak yang bersih. Selain memiliki parhatian besar terhadap motivasi. pergaulan dan lingkungan. Faktor luar dari anak merupakan salah satu sumber pengetahuan dan akal menjadi berpotensi dengan bantuan dunia empiris. Akal akan menyimpan kesan dari hasil pengamatan dan penginderaan. Ia menghendaki kesiapan penuh peserta didik dalam menerima dan menyerap ilmu pengetahuan. Dengan demikian. Peserta didik. pembinaan aspek kognitif sangat ditentukan oleh faktor-faktor luar diri anak seperti pendidik. Untuk mencapai tujuan pembelajaran. Peserta didik. Motif belajar yang di nilainya telah sesuai dengan nilai-nilai agama diharapkan dapat menjadi peserta didik sebagai pribadi yang pandaidan tetap setia terhadap kemuliaan ilmu pengetahuan sebagai sarana mencapai kebahagiaan abadi. Konsentrasi dan motivasi kuat diharapkan tidak saja dapat mendorong keberhasilan pemahaman tetapi juga dapat membantu peserta didik memahami tujuan pembelajaran. peserta didik di tuntut untuk memiliki pemahaman yang benar terhadap tujuan. di stu sisi. serta tidak membeda-bedakan ilmu pengetahuan. harus memposisikan diri secara proporsional dengan jiwa dan semangat pengabdian dan penghormatan secara utuh kepada guru. selain harus bersikap netral terhadap ilmu pengetahuan. sebagai peserta didik perlu dilakukan kepadanya pembersihan dan pensucian sebelum memasuki proses pembelajaran. disamping faktor-faktor intarn anak. Kaitannya dengan peserta didiksebagai penerima informasi. Oleh karananya. diharuskan memahami sisi- sisi perbedaan dan persamaan. Konsistensinya yang kuat terhadap tujuan mulia belajar. Sebagai seorang sufi yang mengaku telah mendalami ajaran tasawwuf dan menguasai doktrin-doktrin guru sufi melalui tulisan dan pengajaransecara lisan. pendidik harus menyediakan sarana dan kemudahan bagi upaya penggalian dan pengembangan potensi bakat. yang dfalam pandangannya masih bersih. al-Ghazali yang di akhir hayatnya menjalani dunia tasawwuf. Namun demikian. minat dan kecenderungan yang dibawa peserta didik sejak dini. Peserta Didik Al-Ghazali memandsang anak sebagai manusia dengan fitrahnya yang suci dan dapat menerima pengaruh luar. pendidik berkewajiban menggali potensi dasar peserta didik dan mengembangkannya ke arah yang lebih baik. baik melalui pengamatan ataupun penyelidikan. dan karakteristik setiap ilmu pengetahuan. akibat kasalahpahaman dan kasalahan dalam . metode dan target pembelajaran setiap disiplin ilmu pengetahuan. b. pembelajaran pada dasarnya merupakan proses [enggalian setiap sesuatu yang telah ada dan dibawa oleh peserta didik. Hubungan kemanusiaan guru-murid semaksimal mungkin di uasahakan dapat mencegah lahirnya insiden-insiden yang menghambat tujuan dan target pembelajaran. Dengan bimbingan pendidik disarankan peserta didik memahami karakteristik ilmu pengetahuan dan tidak mengaplikasikan perbedaan-perbedaan kedalam kehidupan praktis sehari-hari yang di khawatirkan akan menimbulkan friksi-friksi dan persaingan negatif.proporsional dan profesional. pemikiran al-Ghazali tentang peserta didik selalu saja mengaitkan etika pergaulan guru- murid. al-Ghazali mencanangkan pentingnya pemberian motivasi. mencoba memasukkaa n apa yang di yakininya kedalam konsep pendidikannya. dan obsesinya yang kuat untuk tetap memelihara bawaan anak.dalam bahasa keseharian. Oleh karenanya.

Al-Ghazali semakin kokoh untuk mewujudkan keimanan yang tercermin dalam perilaku keseharian. bagi al-Gahazali. tendensi dan kecenderungan pribadi dan kelompok kepentingan yang memperjuangkan kepuasan materi dan duniawiah. Perpaduan ini merupakan kelaziman dari tujuan pembelajaran yang di formulasiaaakan sebagai usaha menciptakan pribadi yang taat. Metode Pendekatan Pebinaan aspek intelek bagi al-Ghazali selain berfungsi bagi usaha mencapai kebahagiaan dunia juga sangat menentukan pencapaian kebahagiaan ukhrawi. Sedangkan pembelajaran tentang tauhid bertujuan agar dapat mentauhidkan Tuhan secara benar. ilmu ketuhanan. Sasaran dan targetnya ialah berkembangnya fitrah keagamaan dan ketuhanan yang tercermin dalam amaliah sehari-hari berupa akhlak karimah dalam arti yang luas. tetapi perkembangan selanjutnya membutuhkan pembinaan dan pengembangan secara positif-konstruktif. Hal ini pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh keyakinannya tentang anak yang sangat rentan terhadap pengaruh luar dan berkecenderungan untuk berbuat baik dan buruk. Pembelajaran atau pendidikan keimanan sesungguhnya bukan merupakan sesuatu yang berdiri sendiri. tujuan itu di arahkan kepada terciptanya pribadi yang taat dan dekat dengan Tuhan. Secara tegas. Karakter pribadinya yang sufistik itu telah merasuk kuat kedalam pendekatan dan metode pembalajaran al-Ghazali sebagai sesuatu yanh khas meskipun masih membutuhkan penafsiran dan pengkajian lebih kritis. urgensi akhlak karimah dan orientasi tujuan ukhrawiah semakin mendukung kekhasan metode pendidikn al-Ghazali. Dibalik sifatnya yang umum. 3. kepadanya harus di lakukuan pembinaan dan penyempurnaan-penyempurnaan ke arah yang di kehendaki Tuhan. islam dan ihsan. Mengenai jenis-jenis ilmu pengetahuan yang di pilih al-Ghazali dalam proses pembelajaran ini ialah ilmu pengetahuan pendukung bagi kebahagiaan ukhrawi (ilmu fikih). berakhlak karimah dan dekat dengan Tuhan. Nampaknya ia tidak menghendaki pengukangan pengalaman sejarah masyarakatnya yang mempolotisir ilmu pengetahuan sebagai konsumsi politik. metode dan pendekatan al-Ghazali yang khas juga didapati dari warna religiusnya. Baginya. Pendekatan dan metode yang sangat khas. ayah dan ibu kandung. juga bertujuan untuk memperkanalkan pokok-pokok ajaran agama terutama mengenai ketuhanan secara global. Asumsi dasar ini selalu melekat dan manjadi ruh pendekatan dan metode paembalajarannya. Konsep tentang Pembinaan Keimanan Keimanan. Materi pemgajaran yang harus diberikan dalam proses pembelajaran ini pada dasarnya merupakan perpaduan antara materi pengajaran kategori ibadah. Pengetahuan tentang keimanan dan keberagaman menuntut aplikasi yang di dasari keikhlasan. adalah hidayah Tuhan yang dibawa semenjak lahir sebagai pemberian secara Cuma-Cuma. Hal lain. Selain itu. lingkungan kondusif yang harus diciptakan ialah lingkungan pergaulan dan suasana yang bersih dan bebas dari keburukan-keburukan. Proses pembelajaran ini tidak berhanti kepada pemahaman secara teoritis. ia telah berhasil memadukan fiqh dan tasawwuf. ketinggian derajat malaikat dapat di capai . serta penyadaran terhadap sesuatu yang mesti di jalankan dan hal-hal yang mesti di tinggalkan. teologi dan tasawwuf sehingga terbangunlah satu kesatuan antara iman. Sebagai seorang tokoh. Secara spesifik tujuan pembelajaran ilmu fikih ialah untuk membekali peserta didik dalam memahami dan menyadari hak-hak kewajiban sebagai pribadi di hadapan Tuhan. Secara khusus. B. ialah pendiriannya tentang pendidikan sebagai proses membershikan keburukan-keburukan dari dalam diri anak. akhlak dan keimanan. Konsistensinya yang kuat terhadap kemuliaan ilmu. yang masih mewarnai kekhasannya . ilmu akhlak yang berfungsi mensucikan hati dan ilmu-ilmu lain dari syari’at islam. Ketika anak memasuki usia tujuh tahun. Metode dan pendekatan pembelajaran al-Gahazali yang masih umum itu tampak jelas sekali dari dua pandekatan yang di rumuskannya sebagai usaha pencegahan dan pembiasaan. Secara alamiah tugas dan tanggungjawab mulia itu di bebankan kepada kedua orang tua.berkomunikasi. ialah usaha menciptakan lingkungan dan kondisi bagi tumbuh dan berkembangnya naluri keagamaan terutama pada usia anak-anak. dari konsepnya. Adapun tujuan pembelajaran materi akhlak ialah untuk membekali peserta didik dalam perjuangannya membersihkan hati dari pengaruh luar yang buruk.

Akhlak di rumuskan secara ketat sebagai pendidikan batin dan penanaman ajaran- ajaran agama secara normatif. Pendidikan. Pembelajaran ini lebih mengedepankan keyakinan dan pelaksanaan ajaran daripada pencerahan atau rasionalisasi ajaran. tetapi berakibat bagi lahirnya pribadi-pribadi yang eksklusif. ia mencari dan kemudian menemukan kepuasan jiwa melalui tasawwuf setelah melalui beberapa pengalaman pencarian kebenaran. C. ‫لذين آمنوا قوا انفسكم و اهلكم نارا‬ّ‫يها ا‬ ّ‫يا أ‬ Artinya: “Wahai orang-orang beriman. Bahkan. pembelajaran dan pendidikan keimanan al-Ghazali di pandang sebagai pembelajaran teologi Ash’ariyah dalam bentuk doktrinasi bernuansa etis-sufistis. 1. Dia sendiri menyadari telah menguasai doktrin-doktrin sufi melalui para guru besar sufi seperti al-Muhasibi (w. Al-Ghazali telah membangun akhlak sebagai etika sufistis yang telah mempengaruhi jiwanya secara dominan.S. Konsep akhlak al-Ghazali lebih terfokus pada masalah-masalah keagamaan dan sangat khas. Proses pembelajaran lebih bersifat idiologis dan pendidikan akidah. Pada saat itulah. Proses pembelajaran dan pendidikan akhlak yang di kehendaki al-Ghazali adalah proses moralisasi setiap komponen yang terkait. Konsep tentang Pembinaan Akhlak Bagi al-Ghazali pendidikan merupakan usaha penyelamatan anak sebagai peserta didik dari siksa neraka dengan cara menjauhkannya dari lingkungan dan pergaulan buruk. 262 H/ 875 M. pembelajaran ini lebih menonjolkan pendekatan doktriner yang di pandang tepat bagi proses pembelajaran bagi anak-anak.) dan al- Bastami (w. Konsep itu lebih mencerminkan telah merasuknya ajaran-ajaran sufi yang telah mendarah daging dan telah di pilihnya sebagai jalan hidup yangpaling benar. Karakter pribadi al-Ghazali dan kondisi sosial keagamaan masyarakatnya telah . Al-Tahrim:6). Dengan nerujuk pada ayat ke enam surat al-Tahrim dengan berani ia menyatakan bahwa. dialah peletak teologi Ash’ariyah sehingga menjadi teolog sangat berpengaruh. menyelamatkan anak dari kesengsaraan ukhrawi lebih utama daripada usaha menghindarkan anak dari kesengsaraan dunuawi.). Konsep itu tidak saja lahir sebagai konsekuensi dari pembatasan al-Ghazali tentang akhlak secara kaku. atau komponen pendidikan. bisa jadi. Pemahaman tersebut memberikan konsekuensi-konsekuensi logis terhadap perumusan materi pembelajaran. akibat ketidakpuasannya terhadap kenyataan masyarakat pada zamannya yang di penuhi konflik kepentingan dan kecenderungan materialis serta para prilaku ulama yang gemar bergaul dengan para penguasa dengan cara-cara tidak terhormat mengatas namakan agama. dalam pandangannya. Pemahaman al-Ghazali tentang hakekat pendidikan dan prioritas yang hendak di capai oleh proses pendidikan mewarnai setiap sub. Persepsi al-Ghazali bahwa. al-Junaid (w. kriteria pendidik dan peserta didik serta kondisi lingkungan yang ideal sebagai faktor pendukung tercapainya tujuan pendidikan. Dari beberapa pernyataan tersebut. Di mata kaum teolog dia di kenal sebagai penulis teologi yang paling menyenangkan dan mudah di dekati. Al-Ghazali adalah tokoh pendidikan yang kondang bagi generasi berikutnya sampai sekarang. Di sisi lain. peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”. 262 H/837 M. (Q. 66.oleh seseorang beriman yang secara ikhlas bersungguh-sungguh mengamalkan settiap ajaran agamanya dengan baik dan benar.). menjadikan rumusan pendidikannya sebagai upaya menanamkan akhlak terpuji dan mencabuti potensi buruk anak sampai ke akar-akarnya. metode pendekatan. 298 H/854 M. Dasar dan Tujuan Pembelajaran Secara alamiah pendidikan akhlak merupakan tanggung jawab dan kewajiban ibu bapak sebagai pendidik pertama bagi anak. Tetapi yang tidak bisa terlupakan bahwa. merupakan usaha membentuk pribadi-pribadi saleh. menyelamatkan anak dari siksa neraka adalah lebih utama di bandingkan usaha menyelamatkan anak dari kesengsaraan duniawi seperti kemiskinan harta benda. Alasan terakhir inilah yang sangat logis tentang konsep epndidikan keimanannya sebagai proses pembelajaran yang sangat khas dan dapat menciptakan peserta didik menjadi terbentuk sedemikian rupa semenjak dini.

Perilaku saleh dan keteladanan di harapkan akan dapat mempermudah dan membantu ketercapaian tujuan pendidikan. 2. Akhlak terpuji dan mulia merupakan cerminan keimanan dan sekaligus indikator keberhasilan pendidikan anak- anak. berbicara dan sebagainya. amanat dan sebagainya. memahami kecenderungan individual anak serta dapat berlaku persuasif dalam usaha mencegah anak dari pengaruh buruk. 3. shalat. e. yang di lakukan secara sadar dan di dasari keikhlasan. Akhlak pergaulan dengan ibu bapak. al-Ghazali menghendaki menghendaki pendidik sebagai wakil Tuhan setelah Nabi dengan mandat dan kuasa kekhalifahan yang memiliki ketegaran jiwa dengan hiasan akhlak terpuji dalam kehidupan sehari-hari. Al-Ghazali memang sangat mahir mendemonstrasikan kewajiban sehari-hari dengan kaidah-kaidah teologis sehingga dapat berjalan harmonis dengan aktivitas lahiriah dan dapat menyatu dengan kehidupan rohaniah secara mendalam. puasa dan sebagainya. Dari beberapa pernyataannya di temukan penekanan al-Ghazali terhadap tugas. di jaga dan di kembangkan. Formulasi tentang kriteria inilah yang mendorong keharusan pendidik sebagai bapak rohani. Akhlak yang bertujuan membantu pengendalian hawa nafsu dan kecenderungan buruk-destruktif. Pendidik atau guru adalah bapak rohani yang bertugas mendidik dan membersihkan jiwa dari akhlak tercela. guru dan teman-teman.berhasil melahirkan sosok tokoh pendidikan dengan corak khas sufistik. b. mampu bersikap adil. dalam warna sufistik. Dialah pribadi yang patut di teladani karena tidak mengumbar kata-kata melainkan mendahulukan teladan. Materi dan Metode Pembelajaran Asumsi dasar al-Ghazali tentang materi pembelajaran ialah sejumlah ilmu pengetahuan yang dapat menjamin adanya kedekatan dengan Tuhan sebagai prasyarat tercapainya kebahagiaan abadi. . Akhlak yang berkaitaaan dengan usaha peningkatan kepribadian dan pengembangan personaliti (kepribadian) seperti kejujuran. tidur. Obsesinya tentang kriteria ideal seorang pendidik. Akhlak yang berkaitan dengan usaha penyempurnaan pelaksanaan ibadah seperti bersuci. berpakaian. Seorang pendidik adalah pribadi dewasa yang dapat memerankan dirinya seperti ayah kandung dengan segala kebaikannya. Pendidik Pelaku utama pendidikan atau pendidik dengan berbagai sebutannya yang di kehendaki al-Ghazali pada dasarnya tidak terbatas kepada pendidik formal seperti guru atau dosen. Untuk mencapai tujuan itu ia menjadikan kebiasaan sehari-hari berupa kewajiban-kewajiban agama sebagai materi pembelajaran yang prioritas. Akhlak yang berhubungan dengan kebiasaan sehari-hari yang bersifat individual seperti etika makan. peran dan fungsi pendidik yang berkaitan dengan kompetensi dan memiliki kredibilitas serta integritas pribadi secara moral. serta selalu menunjukkan dan mencontohkan akhlak baik dan mulia. d. Obsesinya yang kuat untuk melahirkan pribadi-pribadi saleh nampak lebih mengutamakan aspek akhlak meskipun tetap memberikan aspek-aspek lainnya. minum. Kriteria pendidik tidak terbatasi oleh hal-hal yang berkaitan dengan kondisi jasmaniah. Di samping itu. Dengan mengacu kepada prikehidupan Nabi Muhammad sebagai wakil Tuhan. perkenalannya dengan dunia sufi telah di lakukannya sejak usia muda setelah ia mendalami studi filsafat dan isma’iliyah. Sebagai pewaris nabi pendidik tidak di perkenankan bergelut dengan urusan duniawi yang menyangkut penggajian dan pengupahan pekerjaan mendidik. c. Perhatian besar al-Ghazali terhadap pendidikan akhlak setidaknya dikarenakan konsistensi dan obsesinya menghidup-suburkan nilai-nilai agama. serta di jauhkan dari kemungkinan buruk dari luar. Pilihan terhadap masalah tersebut lahir atas keyakinan al-Ghazali sebagai fitrah dan potensi baik anak sebagai kekayaan rohaniah yang harus di bina. yang memerankan diri sebagai penerus dan pewaris para nabi yang menerangi masyarakat dengan cahaya Ilahi. dalam bentuk akhlak karimah. berjalan. di ungkapkannya sebagai etika seorang guru. Secara sederhana materi pilihan itu di gambarkan sebagai berikut: a. keadilan.

menjadi faktor penyabab ketidakseriusannya terhadap aspek jasmani dan ketrampilan fisik anak-anak.Secara umum. Dia adalah teolog. Lingkungan dengan segala potensinya harus di cermatisebagai komponen pendidikan yang tidak bisa di abaikan sama sekali. Lingkungan dan fitrah keberagamaan adalah dua dunia yang saling mempangaruhi. al-Ghazali berkeinginan menjadikan permainan dan ketrampilan fisik di berikan sebagai sebuah selingan saja. al-Ghazali hanya memberikan peluang terciptanya proses pembinaan aspek jasmani dan ketrampilan fisik sebagai koponen pendidikan. Sebagai lingkungan pendidikan masyarakat di gambarkannya sebagai komunitas yang penuh nuansa konflik dan friksi dari kepentingan dan kecenderungan politik pribadi dan golongan mengejar kebanggan duniawiah dan kemewahan materi. Keberfihakannya itu di munculkannya melalui kekhawatirannya terhadap lingkungan yang buruk sebagai ancaman fitrah keberagamaan. Konsep tentang Pendidikan Jasmani dan Ketrampilan Al-Ghazali menjalani kehidupannya melalui tahapan kebenaran adan hakekat kedamaian. Hal itu. metode pembalajaran atau pendidikan akhlak al-Ghazali terlihat sebagai sebuah pendikatan yang sangat simpel. dan terakhir sufi. Al-Ghazali sangat berfihak kepada kekuatan lingkungan. kerugian. obsesinya tentang pribadi- pribadi saleh yang tidak mengulang kembalinya masa lampau yang sangat memprihatinkan. Kondisi sosial masyarakat dan cita-cita al-Ghazali adalah dua dimensi yang sangat berseberangan. Al-Ghazali sangat berkeinginan keberhasilan pendidikannya dapat melahirkan pribadi-pribadi saleh. dia tidak sedemikian keras berkeinginan menjadikannya sebagai sistem tersendiri yang utuh. semakin memperkuat mengapa ia memilih metode pencegahan dalam pembinaan akhlak anak. Sedangngkan meeetode pembiasaan di harapkan dapat menimbulkan kesadaran berakhlak karimah dengan penuh rasa tanggung jawab. Limgkungan Pendidikan Al-Ghazali adalah tokoh pendidikan yang sangat konsen terhadap pengaruh pendidikan sebagai faktor yang dapat membentuk dan mewarnai kepribadian anak. baginya. Pemahamannya terhadap empiritas lingkingan dan pendiriannya bahwa. Penguasaan teori-teori bukanlah sesuatu yang di prioritaskan al-Ghazali. Sebagaimana para pemerhati dan ahli didik generasi sebelumnya. filosof. Sebagai kelanjutan dari metode pembiasaan di tetapkannya metode latihan dalam rangka memelihara kecenderunga baik anak. fqih. kehancuran dan kerusakan individual dan sosial. Meskipun demikian. konsep al-Ghazali tentang pembinaan aspek jasmani dan ketrampilan fisik tidak memiliki kejelasan dan keutuhan sebagai sebuah sistem yang memiliki sub-sub yang bermuara kepada satu titik. Pengaruk lingkungan yang buruk-destruktif menjadi penghambat ketinggian fitrah ke arah puncak kesempurnaan. Dinamika fitrah keberagamaan dan dinamika lingkungan adalah dua hal yang saling tarik menarik. Pendekatan dan metode itu ialah metode pencegahan dan pembiasaan. di harapkan akan lahir pemahaman yang benar terhadap urgensi kebaikan dan bahaya yang timbul dari perilaku buruk berupa penyesalan. Dengan mengacu kepada amanat hadith yang memerintahkan pengajaran dan latihan amanah. menjauhkan keburukan merupakan hal sulit dari mengajar kebaikan. dapat mempermudah kedewasaan dan kesempurnaan akhlak anak. demikian sebaliknya. Pribadi saleh sebagai akhir tujuan pendidikannya adalah pribadi yang saru antara pribadi dan perbuatan. 4. Fitrah keberagamaan pada saatnya akan naik dan turun ke titik paling ekstrim karena adanya pengaruh kuat lingkungan. memiliki integritas pribadi yang utuh. Jalan tasawwuf adalah pilihannya yang terakhir dan. Perhatiannya yang besar terhadap aspek mental spiritual mendorong keberaniannya memprioritaskan aspek akhlak yang harus di fahami sacara benar dan di realisasikan dalam praktek keseharian. Kebobrokan masyarakat dan pemerintahan pada masa al-Ghazali dan cita-cita dan mencegah terulang kembalinya kebobrokan itu. Selain itu. Secara . di yakininya sebagai jalan paling tepat memenuhi hasrat dan kehausan rohaniahnya. Konsekuensinya. menunggang kuda dan berenang . Pencegahan di maksudkan untuk menghindarkan anak sejak dini dari pengaru luar yang destruktif. Kondisi sosio-kultural umat al-Ghazali menetapkan jalan tasawwuf di nilainya sebagai zaman sangat memprihatinkan. D. seperti yang tergambar dalam rumusan pendidikannya.

” ( H. meski tidak di tindak lanjuti secara konkrit. 1092 M. Al-Ghazali tidak saja memperkecil perhatiannya tetapi juga memperkecil porsi olah fisik anak. Pengetahuan jiwa ialah pengetahuan yang di dapat melalui pengalaman dan . ‫رمايه‬ ّ‫ع‬ ّ ‫لموا أولدكم السباحه وال‬ Artinya: “ Ajarilah anak-anak kalian berenang dan memanah….). serta uasha mencegah sikap malas anak. Al- Ghazali berkeinginaan keras memposisikan dan memfungsikan jenis permainan dan olah raga sebagai pengisi waktu luang dan sebagai selingan untuk menghilangkan kejenuhan dan kebosanan anak. Karenanya ia menawarkan pola hidup sehat seperti tidur malam yamn cukup. dan al-Qurtubi (w. dalam dunia pendidikan. Namun demikian. Orientasi pendidikan al-Ghazali selalu saja bermuara kepada tujuan akhir kesempurnaan ilmu pengetahuan dan akhlak. tetpi bukan kebiasan tidur siang bagi ank karena akan melahirkan kemalasan. 1016 M.R. berolah raga dan sejenisnya bagi al- Ghazali bukan tujuan tetapi hanya instrumen. Beberapa uraian di atas menjelaskan bahwa perumusan al-Ghazali tantang materi dan metode pembinaan aspek jasmani dan ketrampilan fisik masih sangat umum dalam arti membutuhkan reinterpretasi dan rekontekstualisasi pesan-pesan universalnya. Untuk tujuan itulah ia menganjurkan menghindarkan ank dari kebiasaan tidur siang dan menikmati makanan yang lezat-lezat sebagai sebuah ketentuan yang harus di taati. bahwa jiwa manusia ketika di lahirkan maish dalam keadaan bersih bagaikan kertas putih. Perlu ada batasan waktu tersendiri dalam memberikan kesempaatan bermain. BAB IV PEMIKIRAN JOHN LOCKE TANTANG PEDIDIKAN ANAK A. Sebagai penganut dan pengamal setia ajaran guru-guru sufi.). masiiiih sempat memotivasinya untuk mencoba manawarkan beberapa kegiatan keseharian yang mesti di inadahkan anak. tabula rasa. Namun demikian kesempatan itu diusahakan agar jangan sampai menyita waktu belajar da menjadikan anak lalai dan lelah sehingga malas belajar.tegas hadith dimaksud memerintahkan para orang tua dan guru membina potensi dasar jasmani dan fisik anak sejak dini. Aspek pendidikan jasmani dan ketrampilan fisik tidak di seriusinya sebagai komponen pendidikan yang mesti di perlakukan secara proporsional. Al-Ghazali tidak berkeinginan menjadikannya sebagai sebuah komponen pendidikan yang utuh. Al-Ghazali menghendaki pertumbuhan fisik yang sehat dan normal. Idenya yang sangat abadi ialah.). 1012 M. Baginya tubuh dan jasmani fisik dengan berat badan tidak wajar atau gemuk menjadi pendorong lahirnya sikap malas dan kelambanan dalam beribadah. asumsi tentang perlunya kreativitas dan kekuatan fisik. Hal itu senafas dengan para generasi sebelumnya seperti al-Qabisi (w. Pemberian peluang untuk bermain dan berolah raga dimaksudkan agar dapat membangkitkan kembali gairah dan semangat belajar anak. al-Zarnuji (w. tergolong sebagai ahli dan tokoh empirisme modern yang pertama. Bermain. di samping mengkhawatirkan melemahnya stamina. al-Ghazali menawarkan di masukkannya nilai-nilai sufistik di dalam pendidikan ini. Ide tentang Pendidikan Intelek John Locke. Ahmad dari Ibn ‘Abbas ) Pendidikan jasmani baginya hanyalah sebagau aktifitas pengisi waktu luang atau selingan.

Pendidikan harus menyentuh secara langsung pengalaman hidup dan kebutuhan anak. Pernyataan di atas memberikan kesan kuat bahwa sumber belajar berupa lingkungan menjadi pusat perhatian Locke yang sangat besar. Pengamatan terhadap objek pengetahuan dan alam empiris dapat membantu keberhasilan proses pelatihan daya inagat dan daya kerja rasio. Karena. Pelatihan-pelatihan yang baik turut membantu mengembangkan dan memelihara akal fikiran sebagai potensi yang memberikan arti dan memaknai objek. Dengan kata lain. Pembelajaran dan pendidikan intelek secara khusus bertujuan membantu kerja fikir. ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang empiris dan hasil kerja induktif. Pembelajaran tidak semata-mata ingin menciptakan anak pandai. Orang tua dan pendidik bertugas menciptakan lingkungan yang mampu manjadi sumber inspirasi dan bahan pembelajaran. Dasar dan Tujuan Pembelajaran Tidak di sangsikan. . serta dapat mancegah lahirnya pemahaman anak secara verbalistik. dinamis. Lock menilai. dalam kaitannya memahami kesinambungan ide-ide dengan dunia empiris. Pendidikan harus di bangun atas dasar realitas dan realita merupakan sesuatu yang nyata dan berubah. Locke menghandaki di perolehnya ilmu pengetahuan ilmu pengetahuan secara empiris yang berinteraksi secara aktif dengan dunia dalam anak (introspective experience). Pengalaman iternal dan pengalaman eksternal adalah sumber pengetahuan yang dapat membentuk kepribadian. Realita dan kenyataan yang berkembang meruoakan karakter dan ciri khas pendidikan Locke. Hal ini di maksudkan agar anak tumbuh sebagai individu yang terbiasa berfikir kritis dan rasional terhadap kaidah dan norma-norma. menurut Locke.penginderaan terhadap dunia empiris. Anak tidak selamanya dapat mengemukakan ide-ide dengan baik tanpa dukungan praktek. Potensi dasar manusia berupa daya ingat dan pengamatan bila di lakukan pelatihan-palatihan kepadanya secara tepat. Pelatihan-pelatihan di tujukan untuk menciptakan keharmonisan pengalaman empiris dan potensi jiwa anak. sesuai dengan substansi pendidikan sebagai proses penyadaran pemahaman persoalan secara baik dan tepat. Selain lingkungan alam dan kenyataan sosial sehari-hari. Karena. Pelatihan di lakukan semenjak dini agar dapat membantu anak berfikir rasional. dunia empiris. di harapkan akan melahirkan kesanggupan-kesanggupan yang terlatih dan kerja induktif. saling menghormati dan saling mengerti antar sesama anggota keluarga. Dunia empiris harus benar-benar di jadikan sumber pembelajaran. Locke merupakan tokoh pendidikan empiris yang mengakui potensi dasar manusia dan pengaruh lingkunga empiris yang dinamis. serta aktif dalam mempergunakan nalar didalam mengamati kenyataan hidup. keyakinan. Keharmonisan dan kesesuaian antara keduanya dapat membentuk dan mengisi fikiran dengan ide-ide. Akal fikiran itu sendiri memiliki koneksi erat dengan objek alam dan dunia empiris. Karenanya ia menghendaki pendidikan harus dapat baradaptasi dengan kebutuhan dan kenyataan hidup anak sebagai peserta didik. Pembelajaran harus melibatkan daya cipta anak di dalam aktivitas pengamatan dalam dunia empiris. Locke menghandaki sejak dini anak-anak di biasakan berada dalam suasana rumah dan keluarga yang kondusif bagi lahirnya suasana saling pengertian. pada dasarnya pengetahuan manusia datang dari hasil pengalaman dan merupakan refleksi pengalaman itu sendiri. Ia berpendirian. Pembelajaran dan pendidikan anak dengan bertujuan meningkatkan kematangan berfikir dan wawasan. lingkungan empiris adalah sumber dan bahan pengajaran yang sangat menentukan. Penguasaan teori-teori atau ide-ide harus mendapatkan dukungan dunia empiris. kebiasaan berfikir bebas dan mandiri serta kemampuan mengekspresikan ide-ide tidak akan tercipta tanpa adanya dukungan dunia empiris yang nyata dan dinamis. Kemampuan aplikasi terhadap kunci-kunci pengetahuan teoritis harus di dukung pelatihan- pelatihan yang dinamis. lingkungan keluarga dan pergaulan mendapat perhatian yang sama. Hal ini. Pembelajaran juga bertujuan untuk membentuk peserta didik dan menempatkan akal sesuai posisi dan proporsinya. kehendak dan keinginan. tidak sekedar mengetahui dan mengikuti kaidah-kaidah empiris yang berlaku. di samping merupakan proses penyadaran terhadap pentingnya memahami apa yang menjadi miliknya berupa potensi persepsi. Usaha yang di lakukan secara baik dalam membantu membuka dan mengembangkan akal fikiran sangat membantu kehidupan anak. 1. fikiran.

Sebagai seorang tokoh yang sangat konsen terhadap penguasaan metodologi. Aktivitas membaca secara verbal akan melahirkan pemahaman hampa. anatomi tubuh dan lain-lain. Pendidik di tuntut mampu melakukan penyesuaian hidup anak secara realistis dan dinamis. Pemilihan materi pembelajaran pendidikan intelek dalam rumusan Locke sesungguhnya menunjuk pada konsistansinya terhadap rumusan dasar dan tujuan pndidikan Locke. matemetika dan . Pengajaran ini bertujuan meningkatkan intelektualitas dan kematangan daya fikir. hendaknya menyajikan materi tentang kealaman atau ilmu pengetahuan alam. Dengan demikian. Pendirian tersebut tentunya memberikan konsekuensi-konsekuensi terhadap pemilihan materi pembelajaran. Untuk itulah Locke menghandaki adanya pelatihan- pelatihan daya kerja akal secara baik dan cepat.2. perkembangan akal dan daya kerja intelek anak berkembang secara alamiah melalui tahapan-tahapan tertentu. Namun demikian. 3. Pengajaran membaca membutuhkan keahlian pendidik di dalam membimbing dan mengarahkan teknik membaca secara tepat. Sebagaimana manusia umumnya. serta dipandang sangat serius dalam bidang biologi. Pengajaran materi itu tidak semata-mata untuk menjadikan anak dapat menguasai pengetahuan semata-mata. dan pengetahuan merupakan konsistensi kesesuaian antara ide-ide. Selain sebagai lingkungan bagi anak atau peserta didik. Ia merupakan sesuatu yang bersifat empiris dan dinamis dari hasil kerja akal secara induktif. Pelatihan-pelatihan tentang pengamatan dan penginderaan secara umum. geografi. Dalam proses pembalajaran. Materi dan Metode Pembalajaran Ilmu pengetahuan. matematika dan membaca. Gejala-gejala alam atau dunia empiris merupakan salah satu objek ilmu pengetahuan. melainkan meahami proses atau cara memperoleh pengetahuan itu sebagai prioritas. Locke sangat memperhatikan urgensi membaca bagi anak. Pendidik Konsep pendidikan Locke yang memihak kapada pengaruh lingkungan dan dunia empiris dapat memberikan kejelasan posisi dan fungsi pendidik dalam proses pembelajaran. maka Locke menyarankan agar dilakukan proses pelatihan secara hati-hati. Sedangkan untuk membukakan wawasan. dapat di fahami dari pengalaman hidupnya yang secara praktik di nilai kualifaid dalam bidang kedokteran. Untuk membantu menambah wawasan anak. Dalam kerangka pembentukan peserta didik yang mampu mengetahui. tanpa di lakukan bimbingan dan pelatihan-pelatihan secara intensif. Locke menyadari tidak selamanya anak dapat mengemukakan ide-ide atau fikirannya secara baik. Locke menaruh perhatian sangat besar terhadap dunia empiris termasuk lingkungan alam. dipandang penting di ajarkannya materi-materi mengenai sejarah. kesesuaian antara pengalamana hidup dan kebutuhan anak. disamping bimbingan secara benar dan tepat. Hal ini menunjuk kepada pendiriannya tentang kesesuaian antara fikiran dengan objek alam sebagai yang memiliki hubungan atau koneksi erat satu dan lainnya. karena pada dasarnya akal dapat memaknai atau memberikan arti terhadap objek alam dan dunia luar. selain mengajarkan ilmu pengetahuan alam. bagi Locke. Kaitannya dengan proses pembelajaran materi ilmu pengetahuan alam. seorang pendidik bertugas menciptakan kondisi lingkungan yang dapat di jadikan sumber dan atau bahan belajar. pendidik bertugas dan di syaratkan mampu menciptakan kesesuaian-kesesuaian antara lingkungan dan peserta didik. meskipun secara akademis is tidak pernah maraih gelar kesarjanaan. Locke lebih menanamkan pentingnya metodologi daripada materi. Bimbingan bertujuan dapat membantu menjauhkan pemahaman secara verbal dalam kerangka pelatihan daya fikir. Locke menghendaki aktivitas membaca tidak sebatas kemampuan verbalistik. Lingkungan dan dunia empiris merupakan suatu kesatusn integral dengan anak. Dengan memasukan materi mengenai anatomi. Locke menghendaki pengajaran bahasa dan gramatikalnya. merupakan hasil dari pengalaman dan refleksi dari pengalaman itu sendiri. menyadari dan menginsafi batas-batas kemampuan fikir dan sekaligus ketepatan dan kesesuaian dalam mengamati suatu persoalan Locke menetapkan materi pengajaran matematika. locke dipandang mampu dalam bidang farmasi dan apoteker.

Namun demikian empirismenya membentuk keberanianya mengoreksi dan mengkritik ajaran-ajaran injil yang menurutnya di penuhi dengan dogma-dogma dan tidak rasional. Manusia ideal adalah manusia yang selalu mengandalikan diri dan memiliki harga diri . seyogyanya pendidik memulai dari dirinya menciptakan tradisi pergaulan yang di dasari kasih sayang dan suasana saling mengerti. bagi Locke. Locke menekankan penanaman kecintaan terhadap Tuhan sebagai prioritas. Kecitaan tarhadap Tuhan harus ditanamkan sejak dini secara rasional dan mesti dinyatakandalam prilaku sehari- hari. karenanya. dan mesti didekati secara rasional. Pendidikan adalah proses penyadaran dengan pendekatan dan metode yang baik dan tepat. Seorang pendidik. tegus secara moral. Tradisi dan suasana itu di harapkan dapat membantu persepatan perkembangan kedewasaan anak. Setiap pendidik. Locke mensyaratkan penguasaan teknik dan metodologi pemahaman materi. Sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya harus melakukan reformasi dengan sasaran dapat lebih mengutamakan pendidikan aspek . ia tetap konsisten dan terkait dengan pengalaman empiris. Penanaman kecintaan terhadap Tuhan diharapkan dapat melahirkan ketaatan dan kepatuhan rasional. harus menyadari bahwa dirinya harus berada di tengah-tengah keduanya dan dapat menyatukan pengalaman luar dengan pengalaman dalam peserta didik. B. di tuntut mampu memfasilitasi sarana-sarana pendukung ke arah penyadaran. Locke menaruh perhatian terhadap persoalan moral. Para orang tua dan pendidik di sekolah tidak dapat sepenuhnya membimbing dan mengawasi perilaku setiap peserta didiknya. ia tetap menekankan rasionalisasi. Oleh karenanya. Locke menghendaki pemahaman dan pengalaman agama yang terbentuk dari keterpaksaan dan ketakutan. saling menghargai dan salinh menghormati. Pendidikan moral harus di berikan semenjak dini kepada anak-anak. Kemampuan anak terhadap teori-teori atau ide-ide harus didukung oleh pengalaman empiris. dasamping syarat kemampuan menjadikan peserta didik mahir dalam bidang tersebut. merupakan ajaran fundamental semua agama-agama besar dunia. Ide tentang Pendidikan Agama dan Moral Locke adalah penganut kristen yang taat dan meyakini agamanya sebagai sesuatu yang rasional. bagi Locke. menurutnya. pendidikan moral yang ideal. Locke menghendaki kesadaran kesederhanaan dalam proses pendidikan keagamaan dalam arti jauh dari dogmatisme. seorang pendidik bertugas memadukan secara harmonis antara keduanya.kegiatan membaca. Karenanya. tradisi berfikir rasional dan kritis serta keaktifan mempergunakan nalar dalam mengamati kenyataan empiris yang selalu dinamis. sebagai tokoh empirisme. Para ahli mengakuinya sebagai penganut kristen yang puritan. Sesuai dengan tujuan pembelajaran untuk meletih daya fikir dan meningkatkan kematangan nalar. harus lahir dari dalam diri anak berdasarkan kebutuhan rasional. Secara realistis. Erat kaitannya dengan pendidikan keagamaan. sesuai dangan substansi pembelajaran sebagai proses penyadaran terhadap potensi diri. Namun demikian. kebiasaan berfikir bebas dan mandiri akan menjadi impian belaka manakala pendidik tidak mampu menciptakan lingkungan yang dinamis dan diterima anak sebai bagian dari kehidupan mereka. Sebagai penganut agama yang taat dan puritan. aspek-aspek pendidikan yang ppokok menjadi terabaikan sementara mereka tidak memiliki inisiatif belajar dari pengalaman. kehormatan dan kepatuhan. menurutnya dalah proses yang dapat memenuhi pencapaian idealisasi manusia menurut Locke. misalnya. seorang pendidik di tuntut memerankan diri sebagai pembimbing yang dapat dengan tepat dan benar melakukuan pelatihan-pelatihan secara hati-hati. Kecintaan terhadap Tuhan. Karenanya. Mereka harus di hindarkan dari dogma-dogma ajaran agama. Locke menunjuk masyarakatnya sebagai kenyataan yang tidak dapat disangkal. kasih sayang dan lemah lembut di dalam bertetangga dan bermasyarakat. Ilmu pengetahuan. Dalam pandangan Locke. di peroleh dari dunia empiris sebagai sumber pembelajaran dan dapat berinteraksi dengan dunia nyata. Penyadaran adalah kesadaran pemahaman terhadap setiap persoalan secara tepat. Pengamalan ajaran agama harus di hindarkan dari rasa keharusan atau kewajiban. Pemahaman dan pengalaman ajaran-ajaran agama. Sebagaimana di kehendaki Locke tentang pentingnya lingkunga keluarga. Tetapi sebagai tokoh empirisme.

moral sebagai fondasi dan tercegahnya nilai-nilai yang merusak agama. .