Anda di halaman 1dari 9

Tektonostratigrafi daerah mentawai.

Secara garis besar, tektonik daerah mentawai dikontrol oleh salah satu patahan utama
Sumatera, Sesar Mentawai. Sesar ini berada dibatas luar ofre-arc basin Sumatera atau
disebelah Timur daru fore-arc islands Sumatera. Sesar ini diinterpretasikan berbeda beda
oleh beberapa ahli, sebagai sesar normal, sesar transform atau rversed. Pada daerah di Selatan
Nias, struktur yang ada merupakan sebuah Homoklin oleh Sieh dan Natawidjaja (2000)
sedangkan menurut Karig dkk (1980) merupakan fault-flexure. Namun kemudian
diinterpretasikan bahwa pergerakan tektonik Sumatera ini mengakibatkan akumulasi stress
pada beberapa titik dibagian fore-arc Islands Sumatera yang dapat mennyebabkan Gempa
Bumi.
Kepulauan Mentawai sendiri merupakan bagian dari fore-arc islands Sumatera.
Rangkaian ini merupakan daratan yang tersingkap akibat adanya thrusting dari pembentukkan
prisma akresi di sepanjang jalur subduksi Pulau Sumatera.

seting subduksi Sumatera (A.D.B, 1983)
Prisma akresi ini terbentuk oleh subduksi yang terjadi antara Lempeng Eurasia
dengan Lempeng India-Australia dengan arah yang oblique. Selain terbentuk prisma akresi,
subduksi ini akan menghasilkan banyak dextral strike-slip fault yang kemudian berkembang
dan mengakibatkan terbentuknya pull apart basin di Sumatera. Akibat lain adalah melebarnya
Sunda Shelf dari yang dahulu merupakan core-nya

Peta elemen struktur dan kehadiran hidrokaron di Fore-arc Sumatra
Sebagian blok Mentawai merupakan outer-arc ridge di sebelah Barat dan fore-arc
basin di sebelah timur yang merupakan bagian dari cekungan Bengkulu. Daerah outer-arc
ridge terbentuk secara tektonik akibat subduksi lempeng samudera Hindia di bawah lempeng
benua Eurasia membentuk prisma akresi. Daerah fore-arc basin terbentuk akibat pasangan
sesar geser dekstral (sesar Sumatera dan sesar Mentawai) yang mengakomodasi pembentukan
pull-apart basin di blok ini
Kegiatan tektonik ini telah berlangsung sejak Oligosen, ketika terjadi tumbukan
antara Lempeng India-Australia dengan Lempeng Eurasia. Bersamaan dengan pembentukkan
sedimen dalam parit, batuan-batuan asal benua dan batuan di bagian kerak bumi yang lebih
dalam membentuk bancuh. Pada Miosen Akhir hingga Pliosen Awal, terbentuk batuan
sedimen atau yang merupakan endapan kubangan di antara tinggian bancuh dan selama fase
ini kegiatan tektonik menunjukkan pencenangan kuat di bagian bawah berangsur berkurang
ke bagian atas. Hal ini berlangsung bersamaan dengan terjadinya pendangkalan lingkungan
pengendapannya. Pada Pleistosen Akhir, terjadi fase tektonik yang menyebabkan batuan yang
berumur tua terlipat dan tersesarkan. Kegiatan tektonik ini diduga masih berlangsung hingga
saat ini, ditunjukkan dari terangkatnya terumbu koral yang masih tumbuh.
Menurut Mangga dkk (1994), diketahui bahwa struktur geologi yang ada pada P.
Siberut (anggota Kepulauan Mentawai) adalah berupa lipatan, sesar dan kekar. Lipatan
asimetri yang terdapat pada P. Siberut memiliki bidang sumbu yang miring ke timur laut.
Lipatan ini juga banyak yang kemudian berkembang menjadi sesar naik yang umumnya
berarah barat laut tenggara dengan kemiringan bidang sesar sekitar 30-50 ke arah timur

Berdasarkan penemuan-penemuan karakteristik fore-arc basin di dunia (Dickinson dan
Seely,1979) serta referensi lain yang berkaitan dengan kondisi batuan sumber dan batuan
reservoar cekungan busur muka adalah sbb.:
1. Sedimen yang berada pada prisma akresi umumnya tersusun oleh sedimen-sedimen yang
over compacted.
2. Source rock di bagian barat cekungan kurang berperan sebagai batuan sumber sebab
banyak diendapkan endapan turbidit dan trench fill deposit
3. Sedimen pengisi cekungan busur muka dominan berasal dari kontinen dan umurnya relatif
muda (Miocene).


Stratigrafi dari Mentawai Fore Arc Basin(Yulihanto,2000 dalam Awang Harun Satyana;
2010)

Sub surface stratigrafi dari Mentawai Basin (Yulihanto,2000 dalam Awang Harun Satyana;
2010)
Stratigrafi Daerah Mentawai
Cekungan Mentawai terbentuk pada masa Paleogen. Cekungan Mentawai ini
merupakan bagian dari Cekungan Bengkulu. Jika di lihat dari stratigrafinya yang berumur
Paleogen, Cekungan Mentawai memiliki prodak mirip dengan yang ada pada Cekungan
Sumatera Tengah.
Secara umum, stratigrafi Kepulauan Mentawai terbagi menjadi dua kelompok
terpisah, rekaman pertama menyusun P. Siberut dan yang kedua menyusun P. Sipora &
Pagai.

Tabel 1. Kolom stratigrafi P. Siberut (Mangga dkk, 1994)

P. Siberut, dari bawah ke atas (lihat Tabel 1):
1. Tarikan Melange/Bancuh (Tmbt)
Tersusun oleh bongkahan dari berbagai jenis batuan; greywacke, serpih, konglomerat,
batupasir malih, napal, tuf, batulanau malih, rijang, filit, sekis mika, amfibolit, kuarsit,
piroksenit, serpentinit, dunit terserpentin, hornblendit dan batugamping. Satuan ini
tersingkap dengan baik di sepanjang Sungai Tarikan, Sungai Saibi dan Sungai Mauku,
Siberut Utara. Umur melange/bancuh ini diketahui dari kandungan fosil foraminifera
besar dan plankton serta benton di dalam bongkah batugamping, napal dan
batulempung tufan yang tergerus. Fosil foraminifera besar yang berhasil diidentifikasi
menunjukkan umur Oligosen Akhir Miosen Awal (Te bawah Te atas), fosil
tersebut diantaranya adalah Lepidocyclina sp., Spiroclypeus sp. dan Miogypsinoides
sp. yang mencirikan lingkungan laut dangkal. Sedangkan fosil plankton dan benton
yang berhasil diidentifikasi adalah Globoquadrina altispira, Globorotalia Siakensis,
Gyroidina sp., dan Nodosaria sp. Kumpulan fosil plankton dan benton tersebut
menunjukkan umur Oligosen Miosen Tengah. Sehingga disimpulkan bahwa umur
satuan ini adalah Miosen Tengah Miosen Akhir (Mangga dkk, 1994).
2. Formasi Sagulubek (Tmpsa)
Bagian bawah terdiri atas tuf, bagian tengah terdiri atas perselingan antara batupasir
bermika, serpih, batulanau, batulempung, batupasir gampingan dan batugamping
dengan lensa batupasir gampingan. Bagian atas terdiri dari batupasir, batulempung,
batupasir gampingan, batulempung gampingan dan sisipan tipis lignit. Fomasi ini
berlapis baik dan terlipat kuat; memiliki arah jurus barat laut tenggara. Formasi ini
mengandung fosil foraminifera (Plankton: Globorotalia margaritae, Globorotalia
pleisotumiida, Globorotalia extremus dan Globorotalia acostaensis. Benton:
Nodosaria sp., Planulina sp. dan Uvigerina sp. Kumpulan fosil ini menunjukkan
umur Miosen Akhir Pliosen Akhir (N15 N21) dengan lingkungan
pengendapannya adalah laut dalam (zona batial). Ketebalan formasi ini diduga
mencapai 700-1.250 meter dan kontak dengan Tarikan Melange/Bancuh secara
tektonik, serta dengan Fromasi Kalea secara menjemari (Tabel 1). Formasi ini
tersingkap baik di Sungai Sagulubek, memiliki umur yang sama dengan Formasi
Tolopulai di P. Pagai dan Formasi Nias di P. Nias.
3. Formasi Saibi (Tmps)
Tersusun oleh tuf, batulempung, batulempung tufan, napal, batupasir tufan dan
batupasir gampingan. Formasi ini berlapis baik dan terlipat kuat. Memiliki ketebalan
600-1000 meter. Dengan Tarikan Melange/Bancuh memiliki kontak tektonik dan
menjemari dengan Formasi Sagulubek (Tabel 1). Formasi ini mengandung fosil
foraminifera plankton Pulleniatina primalis dan Sphaeroidinellopsis yang
menunjukkan umur Miosen Akhir Pliosen Awal (N13 N19) dan lingkunagn
pengendapan laut dalam (zona batial). Seumur dengan Formasi Maonai di P. Pagai.
4. Formasi Kalea (QTpk)
Tersusun atas perselingan napal, batupasir, batulempung, batulempung tufan, tuf
dengan konkresi batupasir gampingan. Formasi ini berlapis baik dan terlipat lemah.
Mengandung fosil foraminifera plankton dan benton antara lain Sphaeroidinellopsis
seminula, Sphaeroidinellopsis subdehiscens, Globigerinoides conglobatus,
Globorotalia tosaensis, Pulleniatina obliquiloculata dan Calcarina sp. Kumpulan
fosil ini menunjukkan umur Miosen Akhir Pleistosen (N17 N22). Ketebalan
formasi ini antara 150-750 meter, menumpang tak selaras diatas formasi ini adalah
batugamping koral Kuarter. Formasi ini tersingkap baik di Sungai Kalea. Seumur
dengan Formasi Batumonga di P. Pagai.
5. Batugamping koral (Qcl)
Terdiri atas batugamping koral, kalsirudit dan kalkarenit.
6. Endapan rawa (Qs)
Terdiri atas pasir, lanau, lempung dan gambut.
7. Aluvial (Qa)
Terdiri atas lempung, pasir, kerikil, kerakal dan bongkah hasil rombakan dari batuan
yang lebih tua.

P. Sipora & Pagai, dari bawah ke atas (lihat Tabel 2):
1. Melange/Bancuh dengan batuan ultramafik (Tomb & Tomu)
Tersusun oleh bongkah-bongkah dari berbagai jenis batuan; greywacke, serpih,
konglomerat, batupasir kuarsa, arkose serpentinit, piroksenit, dunit terserpentinkan
gabro, lava basalt, tufa, rijang merah, kalsilutit, batupasir malih, sabak, filit, sekis
mika, amfibolit, gneiss, granit, diorit, granodiorit, diabas, andesit dan batugamping
numulites dalam masa dasar pasir berbutir sangat halus dan scaly clay.
2. Formasi Tolopulai (Tmt)
Terdiri atas batupasir, batupasir tufaan, batulanau, batulempung dan batupasir
bermika, dengan sisipan konglomerat dan batugamping.
3. Formasi Maonai (Tmm)
Perselingan batupasir tufaan, batulanau tufaan, batupasir, batulempung tufaan dan
batupasir gampingan.
4. Formasi Batumonga (Tmpb)
Perselingan napal, batupasir gampingan, batugamping pasiran dan batulempung
tufaan.
5. Formasi Simatobat (Qs)
Batugamping terumbu, kalsirudit, kalkarenit dan konglomerat anekabahan.
6. Batugamping koral (Qcl)
Batugamping koral (bersifat terumbu, sebagian berkeping).
7. Aluvial (Qa)
Lempung, pasir, kerikil, kerakal dan bongkah hasil rombakan batuan yang lebih tua.

Tabel 2. Kolom stratigrafi P. Sipora & Pagai (Budhitrisna dan Mangga, 1990)

Barber, A.J., Crow, M.J. & Milsom, J.S. 2005. Sumatra: Geology, Resources and Tectonic
Evolution. London: The Geological Society.
Karig, D.E., Lawrence, M.B., Moore, G.F. & Curray, J.R. 1980. Structural framework of the
fore-arc basin, NW Sumatra. London: Journal of the Geological Society.


Slide Petroleum Geology of Indonesia : Current Knowledge RegularHAGI
CourseYogyakarta, 2 6 August 20107 , Awang Harun Satyana
Mangga, S.A., Burhan, G., Sukardi & Suryanila, E. 1994. Peta Geologi Lembar Siberut,
Sumatera. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi
Barber, A.J., Crow, M.J. & Milsom, J.S., 2005, Sumatra: Geology, Resources and Tectonic
Evolution, Geological Society, London, Memoirs 31.
Hariadi, N., Soeparjadi, R.A., 1975, Exploration of The Mentawai Block-West Sumatra,
Proceedings Indonesian Petroleum Association, 11 pages.