Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Saat ini masih banyak manusia-manusia yang hidup di dunia ini yang tidak
meyakini kebenaran Al-Quran. Sebagian besar dari mereka yang tidak meyakini
kebenaran Al-Quran ini karena tidak pernah mau menyimak dan mengkaji Al-
Quran. Sehingga mereka belum mengetahui bukti-bukti kebenarannya, dan betapa
tingginya ajaran islam yang terdapat di dalam Al-Quran yang dibawa oleh Nabi
Muhammad SAW.

TUJUAN PENYUSUNAN
1. Mengharap ridho Allah SWT,
2. Mendakwahkan kebenaran kandungan Al-Quran
3. Meningkatkan keyakinan dan amaliah penulis dalam menjalankan agama Islam.

BATASAN MASALAH
Masalah-masalah yang dibahas dalam tugas ini hanya mencakup Bukti
kebenaran Al-Quran, serta ketinggian ajaran Islam.

METODE PENULISAN
Kami menggunakan al-Quran sebagai sumber utama dan pedoman dalam
penyusunan tugas ini, dan beberapa sumber lain sebagai data pembantu. Kami
juga melampirkan beberapa pendapat atau fatwa yang Insyaallah dapat
dipertanggungjawabkan.

BAB II

1
PEMBAHASAN

BUKTI KEBENARAN AL-QURAN


SAINS MODERN DALAM AL-QURAN

Benar kiranya jika Al Qur’an disebut sebagai mukjizat. Bagaimana tidak, ternyata
ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan di abad ke 7 masehi di mana ilmu
pengetahuan belum berkembang (saat itu orang mengira bumi itu rata dan
matahari mengelilingi bumi), sesuai dengan ilmu pengetahuan modern yang baru-
baru ini ditemukan oleh manusia.

Penciptaan alam semesta


Sebagai contoh ayat di bawah:

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit


dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami
pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang
hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” [Al Anbiyaa:30]

Saat itu orang tidak ada yang tahu bahwa langit dan bumi itu awalnya satu.
Ternyata ilmu pengetahuan modern seperti teori Big Bang menyatakan bahwa
alam semesta (bumi dan langit) itu dulunya satu. Kemudian akhirnya pecah
menjadi sekarang ini.

Langit yang mengembang (Expanding Universe)


Dalam Al Qur’an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih
terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut
ini:

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya
Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47)

Menurut Al Qur’an langit diluaskan/mengembang. Dan inilah kesimpulan yang


dicapai ilmu pengetahuan masa kini.

Sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang secara
terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat. Para ilmuwan menyamakan

1
peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan balon yang sedang
ditiup.

Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di


dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada
sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan
perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa
alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus
“mengembang”.

Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi
Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam
semesta senantiasa bergerak dan mengembang.

Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun
1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom
Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling
menjauhi.

Gunung yang Bergerak


“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya,
padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.” [QS 27:88]

14 abad lampau seluruh manusia menyangka gunung itu diam tidak bergerak.
Namun dalam Al Qur’an disebutkan gunung itu bergerak.

Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka
berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih
rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang
ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua
pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian
bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak
saling menjauhi.

2
Para ahli geologi
memahami kebenaran
pernyataan Wegener
baru pada tahun 1980,
yakni 50 tahun setelah
kematiannya.
Sebagaimana pernah
dikemukakan oleh
Wegener dalam sebuah
tulisan yang terbit tahun
1915, sekitar 500 juta
tahun lalu seluruh tanah
daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang
dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.

Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-
masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa
ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua
raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia,
kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia
terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada


permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun.
Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah
daratan dan lautan di Bumi.

Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan
di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:

Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi
atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama,
dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik,
lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan
dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1

3
hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak,
dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun,
misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert
Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton,
Massachusetts, 1985, s. 30)

Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah
telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan
awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau
“gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic
Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)

Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta
ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan
dalam Al Qur’an.

“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan
hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali
bukanlah kamu yang menyimpannya.” (Al Qur’an, 15:22)

Asal mula kejadian manusia

Manusia diciptakan oleh Allah SWT. Berasal dari tanah liat kering yang
berasal dari lumpur hitam.
Firman Allah SWT. Dalam surat al-Hijr:
“ Dan sesunguhnya Kami telah menciptakn manusia ( Adam) dari tanah liat
kering (yang berasal ) dari Lumpur hitam yang diberi bentuk.”
Pernyataan Allah ini relevan dengan pendapat Prof. DR. Carrel (non
Islam) yang menyatakan, “Manusia itu benar-benar terbuat dari lumpur.”
Setelah Nabi Adam dan Hawa tercipta, selanjutnya Allah SWT .
Menciptakan manusia dari sperma.
Firman Allah dalam surat an-Nahl:4
“Dia telah menciptakan Manusia dari sperma, tiba-tiba menjadi pembantah yang
nyata.”

4
Ide tentang setetes air sperma ini sesuai dengan sains yang kita ketahui
sekarang. Kemudian proses kejadian manusia seperti yang dititurkan Allah SWT.
Dalam surat Al-Hajj:5
“Wahai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur)
maka (ketahuilah) bahwasanya Kami telah menjadikan kamu dari tanah,
kemudian dari setetes sperma, kemudian dari segumpal darah (sesuatu yang
melekat) kemudian dari segumpal daging yang tidak sempurna keadaannya dan
yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada semua…”
Perkembangan embrio di dalam rahim relevan dengan apa yang diketahui
oleh manusia tentang tahap-tahap embrio dan tidak mengandung hal-hal yang
dapat dikritik oleh sains modern.

Segala Sesuatu diciptakan Berpasang-pasangan


Al Qur’an yang berulang-ulang menyebut adanya pasangan dalam alam tumbuh-
tumbuhan, juga menyebut adanya pasangan dalam rangka yang lebih umum, dan
dengan batas-batas yang tidak ditentukan.

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya


baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun
dari apa-apa yang mereka tidak ketahui.” [Yaa Siin 36:36]

Kita dapat mengadakan hipotesa sebanyak-banyaknya mengenai arti hal-hal yang


manusia tidak mengetahui pada zaman Nabi Muhammad. Hal-hal yang manusia
tidak mengetahui itu termasuk di dalamnya susunan atau fungsi yang berpasangan
baik dalam benda yang paling kecil atau benda yang paling besar, baik dalam
benda mati atau dalam benda hidup. Yang penting adalah untuk mengingat
pemikiran yang dijelaskan dalam ayat itu secara rambang dan untuk mengetahui
bahwa kita tidak menemukan pertentangan dengan Sains masa ini.

Meskipun gagasan tentang “pasangan” umumnya bermakna laki-laki dan


perempuan, atau jantan dan betina, ungkapan “maupun dari apa yang tidak mereka
ketahui” dalam ayat di atas memiliki cakupan yang lebih luas. Kini, cakupan
makna lain dari ayat tersebut telah terungkap. Ilmuwan Inggris, Paul Dirac, yang
menyatakan bahwa materi diciptakan secara berpasangan, dianugerahi Hadiah
Nobel di bidang fisika pada tahun 1933. Penemuan ini, yang disebut “parité”,

2
menyatakan bahwa materi berpasangan dengan lawan jenisnya: anti-materi. Anti-
materi memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan materi. Misalnya, berbeda
dengan materi, elektron anti-materi bermuatan positif, dan protonnya bermuatan
negatif. Fakta ini dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:

“…setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan … dan


hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan
dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap
tempat.”

Semua ini menunjukkan bahwa unsur besi tidak terbentuk di Bumi, melainkan
dibawa oleh meteor-meteor melalui letupan bintang-bintang di luar angkasa, dan
kemudian “dikirim ke bumi”, persis sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut.
Jelas bahwa fakta ini tak mungkin diketahui secara ilmiah pada abad ke-7, di saat
Al Qur’an diturunkan.

Makhluk Hidup di Angkasa

Sampai hari ini, sains modern belum mampu membuktikan secara pasti ada
tidaknya makhluk hidup di luar bumi. Memang sering kita dengar adanya laporan
di suatu tempat pernah didatangi makhluk dari luar angkasa. Tetapi laporan-
laporan itu belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Kontroversi adanya makhluk
hidup di luar angkasa ini akan terus berkembang sampai betul-betul dapat
dibuktikan ada atau tidaknya makhluk tersebut. Namun bila kita lihat dalam al-
Quran Allah telah mengisyaratkan adanya makhluk hidup di langit yang kerjanya
sujud kepada Allah SWT. Firman-Nya dalam surat Ar-Radu :15

“dan kepada Allahlah sujud (patuh segala apa yang ada di langit dan bumi baik
dengan kemauan sendiri maupun terpaksa dan sujud pula baying-bayangnya pada
waktu pagi dan petang hari.”

Tentang siapa makhluk Allah yang dijelaskan dalam ayat tersebut tidak
ada penjelasan secara pasti. Ada yang menduga malaikat, jin, atau makhluk
lainnya. Hanya Allah Yang Mahatahu. Yang pasti sains modern sampai saat ini
belum mampu mengungkap misteri tersebut.

3
Air Laut Tidak Saling Bercampur

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara
keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (QS. Ar-
Rahmaan, 55: 19-20) !

Pada ayat di atas ditekankan bahwa dua badan air bertemu, tetapi tidak saling
bercampur akibat adanya batas. Bagaimana ini dapat terjadi? Biasanya, bila air
dari dua lautan bertemu, diduga airnya akan saling bercampur dengan suhu dan
konsentrasi garam cenderung seimbang. Namun, kenyataan yang terjadi berbeda
dengan yang diperkirakan. Misalnya, meskipun Laut Tengah dan Samudra
Atlantik, serta Laut Merah dan Samudra Hindia secara fisik saling bertemu, airnya
tidak saling bercampur. Ini karena di antara keduanya terdapat batas. Batas ini
adalah gaya yang disebut “tegangan permukaan”.

Langit Tujuh Lapis

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.” (QS. Ath-
Thaalaq, 65: 12) !

Dalam al-Qur’an Allah menyebutkan tujuh surga atau langit. Ketika ditelaah,
atmosfer bumi ternyata terbentuk dari tujuh lapisan. Di atmosfer terdapat suatu
bidang yang memisahkan lapisan dengan lapisan. Berdasarkan Encyclopedia
Americana (9/188), lapisan-lapisan yang berikut ini bertumpukan, bergantung
pada suhu.

Lapisan pertama TROPOSFER: Lapisan ini mencapai ketebalan 8 km di kutub


dan 17 km di khatulistiwa, dan mengandung sejumlah besar awan. Setiap
kilometer suhu turun sebesar 6,5C, bergantung pada ketinggian. Pada salah satu
bagian yang disebut tropopause, yang dilintasi arus udara yang bergerak cepat,
suhu tetap konstan pada 57C.

Lapisan kedua STRATOSFER: Lapisan ini mencapai ketinggian 50 km. Di sini


sinar ultraviolet diserap, sehingga panas dilepaskan dan suhu mencapai 0C.
Selama penyerapan ini, dibentuklah lapisan ozon yang penting bagi kehidupan.

Lapisan ketiga MESOSFER: Lapisan ini mencapai ketinggian 85 km. Di sini suhu
turun hingga 100C.

1
Lapisan keempat TERMOSFER: Peningkatan suhu berlangsung lebih lambat

Lapisan kelima IONOSFER: Gas pada lapisan ini berbentuk ion. Komunikasi di
bumi menjadi mungkin karena gelombang radio dipantulkan kembali oleh
ionosfer.

Lapisan keenam EKSOSFER: Karena berada di antara 500 dan 1000 km,
karakteristik lapisan ini berubah sesuai aktivitas matahari.

Lapisan ketujuh MAGNETOSFER: Di sinilah letak medan magnet bumi.


Penampilannya seperti suatu bidang besar yang kosong. Partikel subatom yang
bermuatan energi tertahan pada suatu daerah yang disebut sabuk radiasi Van
Allen.

Gunung Mencegah Gempa Bumi

“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan
gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan
kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang.” (QS.
Luqman, 30: 10)

“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-
gunung sebagai pasak?” (QS. An-Naba’, 78: 7)

Informasi yang diperoleh melalui penelitian geologi tentang gunung sangatlah


sesuai dengan ayat al-Qur’an. Salah satu sifat gunung yang paling signifikan
adalah kemunculannya pada titik pertemuan lempengan-lempengan bumi, yang
saling menekan saat saling mendekat, dan gunung ini “mengikat” lempengan-
lempengan tersebut. Dengan sifat tersebut, pegunungan dapat disamakan seperti
paku yang menyatukan kayu.

Selain itu, tekanan pegunungan pada kerak bumi ternyata mencegah pengaruh
aktivitas magma di pusat bumi agar tidak mencapai permukaan bumi, sehingga
mencegah magma menghancurkan kerak bumi.

Segala sesuatu berputar sesuai garis edarnya.


Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan
bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.

2
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan.
Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al
Qur’an, 21:33)

Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi
bergerak dalam garis edar tertentu:
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha
Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:38)

2
2.MUKJIZAT AL-QURAN
Al-Qur'an sebagai Mukjizat

Al-Qur'an merupakan satu-satunya kitab samawi yang dengan jelas dan tegas
menyatakan bahwa tidak seorang pun yang mampu mendatangkan kitab
sepertinya, meskipun seluruh manusia dan jin berkumpul untuk melakukan hal itu.
Bahkan, mereka tidak akan mampu sekalipun untuk menyusun, misalnya, sepuluh
surat saja, atau malah satu surat pendek sekalipun yang hanya mencakup satu
baris saja.

Oleh karena itu, Al-Qur'an menantang seluruh umat manusia untuk melakukan hal
itu. Dan banyak sekali ayat-ayat Al-Qur'an yang menekankan tantangan tersebut.
Sesungguhnya ketidakmampuan mereka untuk mendatangkan hal yang sama dan
memenuhi tantangan tersebut merupakan bukti atas kebenaran kitab suci itu dan
risalah Nabi Muhammad saw dari Allah SWT.

Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa Al-Qur'an telah membuktikan


pengakuannya sebagai mukjizat. Sebagaimana Rasul saw, pembawa kitab ini,
tersebut telah menyampaikannya kepada umat manusia sebagai mukjizat yang
abadi dan bukti yang kuat atas kenabiannya hingga akhir masa.

Hari ini—setelah 14 abad berlalu—bahana suara Ilahi itu masih terus menggema
di tengah umat manusia melalui media-media informasi dan sarana-sarana
komunikasi, baik dari kawan maupun lawan. Itu semua merupakan hujjah atas
mereka.

Dari sisi lain, nabi Islam, Muhammmad saw—sejak hari pertama dakwahnya—
senantiasa menghadapi musuh-musuh Islam dan para pendengki yang sangat
keras. Mereka telah mengerahkan seluruh tenaga dan kekuatan untuk memerangi
agama Ilahi ini. Setelah putus asa lantaran ancaman dan tipu daya mereka tidak
berpengaruh sama sekali, mereka berusaha melakukan pembunuhan dan
pengkhianatan. Akan tetapi, usaha jahat itu pun mengalami kegagalan berkat
inayah Allah SWT dengan cara menghijrahkan Nabi saw ke Madinah secara
rahasia pada malam hari.

3
Setelah hijrah, Rasul saw menghabiskan sisa-sisa umurnya yang mulia dengan
melakukan berbagai peperangan melawan kaum musyrikin dan antek-antek
mereka dari kaum Yahudi. Dan semenjak wafatnya hingga hari ini, orang-orang
munafik dari dalam dan musuh-musuh Islam dari luar senantiasa berusaha
memadamkan cahaya Ilahi ini. Mereka telah mengerahkan segenap kekuatan
dalam rangka ini. Seandainya mereka mampu menciptakan sebuah kitab sepadan
Al-Qur'an, pasti mereka akan melakukannya, tanpa ragu sedikitpun.

Di zaman modern sekarang ini, dimana kekuatan adidaya dunia melihat bahwa
Islam adalah musuh terbesar yang sanggup mengancam kekuasaan arogan
mereka, maka itu mereka senantiasa berusaha memerangi Islam dengan segala
kekuatan dan sarana yang mereka miliki berupa materi, strategi, politik, dan
informasi. Seandainya mereka mampu menjawab tantangan Al-Qur'an, dan
sanggup menulis satu baris saja yang menandingi satu surat pendek darinya, pasti
mereka sudah melakukannya dan menyebarkannya melalui media informasi
dunia. Karena memang cara semacam itu (menyebarkan informasi ke seluruh
dunia) merupakan usaha yang paling mudah dan paling efektif dalam menghadapi
Islam dan menahan perluasannya.

Atas dasar uraian di atas, setiap manusia berakal yang mempunyai kesadaran yang
cukup merasa yakin—setelah memperhatikan hal-hal tersebut—bahwa Al-Qur'an
merupakan kitab samawi yang istimewa, yang tidak mungkin ditiru atau
dipalsukan, dan tidak mungkin pula bagi setiap individu atau kelompok manapun
untuk mendatangkan kitab yang sepadan dengannya, sekalipun mereka
mengerahkan seluruh kekuatan dan telah menjalani pendidikan dan pelatihan demi
hal itu.

Artinya, kitab suci itu memiliki ciri-ciri kemukjizatan, yaitu luar biasa, tak bisa
ditiru dan dipalsukan, dan diturunkan sebagai bukti atas kebenaran kenabian
seseorang. Tampak jelas bahwa Al-Qur'an merupakan bukti yang paling akurat
dan kuat atas kebenaran klaim Muhammad saw sebagai nabi Allah. Dan agama
Islam yang suci adalah hak dan karunia Ilahi yang paling besar bagi umat Islam.
Al-Qur'an diturunkan sebagai mukjizat abadi hingga akhir masa, kandungannya
merupakan bukti atas kebenarannya. Sebegitu sederhananya argumentasi ini

2
hingga dapat dipahami oleh setiap orang dan dapat diterima tanpa mempelajarinya
secara khusus.

Unsur-Unsur Kemukjizatan Al-Qur'an

Setelah secara global kita mengetahui bahwa Al-Qur'an merupakan kalam dan
mukjizat Ilahi, kami akan menjelaskan lebih luas lagi unsur-unsur kemukjizatan
kitab suci ini.

1. Kefasihan dan Keindahan Al-Qur'an

Unsur pertama kemukjizatan Al-Qur'an ialah kefasihan dan balaghah-nya.


Artinya, untuk menyampaikan maksud dan tujuan dalam setiap masalah, Allah
SWT menggunakan kata dan kalimat yang paling lembut, indah, ringan, serasi,
dan kokoh. Melalui cara tersebut, Dia menyampaikan makna-makna yang
dimaksudkan kepada para mukhathab (audiens), yaitu melalui sastra yang paling
baik dan mudah dipahami.

Tentunya, tidak mudah memilih kata dan kalimat yang akurat dan sesuai dengan
makna-makna yang tinggi dan mendalam kecuali bagi orang yang telah
menguasai sepenuhnya ciri-ciri kata, makna yang dalam dan hubungan imbal
balik antara kata dan maknanya agar dapat memilih kata dan ungkapan yang
paling baik dengan memperhatikan seluruh dimensi, kondisi dan kedudukan
makna yang dimaksudkan. Pengetahuan lengkap tentang hal itu tidak mungkin
dapat dicapai oleh siapapun kecuali dengan bantuan wahyu dan ilham Ilahi

Sesungguhnya setiap manusia dapat mengetahui sejauh mana kandungan Al-


Qur'an yang mencakup nada malakuti dan irama yang syahdu. Setiap orang yang
mengetahui bahasa Arab, ilmu kefasihan dan keindahannya (Balaghah), pasti
dapat menyentuh keunggulan sastra Al-Qur'an.

Adapun untuk mengetahui kemukjizatan Al-Qur'an dari unsur balaghah,


kefasihan dan keindahan bahasanya, tidaklah mudah kecuali bagi orang-orang
yang memiliki pengalaman dan spesialisasi di dalam pelbagai ilmu sastra Arab
dan melakukan perbandingan antara keistimewaan-keistimewaan Al-Qur'an dan
berbagai macam bahasa yang fasih dan baligh, serta menguji kemampuan mereka
dengan melakukan analogi dalam hal itu. Pekerjaan semacam ini tidak sulit

3
dilakukan kecuali oleh para penyair dan sastrawan Arab, karena keistimewaan
orang-orang Arab yang paling menonjol pada masa diturunkannya Al-Qur'an ialah
ilmu Balaghah dan sastra. Puncak kemahiran mereka pada masa itu tampak ketika
mereka mengadakan pemilihan bait-bait kasidah dan syair—setelah diadakan
penelitian dan penilaian—yang merupakan kegiatan seni dan sastra yang paling
besar.

2. Ke-ummi-an Nabi saw

Kendati ukurannya tidaklah besar, Al-Qur'an adalah kitab suci yang mancakup
berbagai pengetahuan, hukum-hukum dan syariat, baik yang bersifat personal
maupun sosial. Untuk mengkaji secara mendalam setiap cabang ilmu tersebut
memerlukan kelompok-kelompok yang terdiri dari para ahli di bidangnya masing-
masing, keseriusan yang tinggi dan masa yang lama agar dapat diungkap secara
bertahap sebagian rahasianya, dan agar hakikat kebenarannya bisa digali lebih
banyak, meski hal itu tidak mudah, kecuali bagi orang-orang yang betul-betul
memiliki ilmu pengetahuan, bantuan dan inayah khusus dari Allah SWT.

Al-Qur'an mengandung berbagai ilmu pengetahuan yang paling tinggi, paling


luhur dan berharga nilai-nilai akhlaknya, paling adil dan kokoh undang-undang
pidana dan perdatanya, paling bijak tatanan ibadah, hukum-hukum pribadi dan
sosialnya, paling berpengaruh dan bermanfaat nasehat-nasehat dan wejangannya,
paling menarik kisah-kisah sejarahnya, dan paling baik metode pendidikan dan
pengajarannya. Singkat kata, Al-Qur'an mengandung seluruh dasar-dasar yang
dibutuhkan oleh setiap manusia untuk merealisasikan kebahagiaan mereka di
dunia dan akhirat. Semuanya itu dirangkai dengan susunan yang indah dan
menarik yang tidak ada bandingannya, sehingga semua lapisan masyarakat dapat
mengambil manfaat darinya sesuai dengan potensi mereka masing-masing.

Terangkumnya semua ilmu pengetahuan dan hakikat di dalam sebuah kitab seperti
ini mengungguli kemampuan manusia biasa. Akan tetapi yang lebih
mengagumkan dan menakjubkan adalah bahwa kitab agung ini diturunkan kepada
seorang manusia yang tidak pernah belajar dan mengenyam pendidikan sama
sekali sepanjang hidupnya, serta tidak pernah—walaupun hanya sejenak—

2
memegang pena dan kertas. Ia hidup dan tumbuh besar di sebuah lingkungan yang
jauh dari kemajuan dan peradaban.

Yang lebih mengagumkan lagi, selama 40 tahun sebelum diutus menjadi nabi, ia
tidak pernah terdengar ucapan mukjizat semacam itu. Sedangkan ayat-ayat Al-
Qur'an dan wahyu Ilahi yang beliau sampaikan pada masa-masa kenabiannya
memiliki metode dan susunan kata yang khas dan berbeda sama sekali dari
seluruh perkataan dan ucapan pribadinya. Perbedaan yang jelas antara kitab
tersebut dengan seluruh ucapan beliau dapat disentuh dan disaksikan oleh seluruh
masyarakat dan umatnya. Sekaitan dengan ini, Allah SWT berfirman, "Dan kamu
tidak pernah membaca sebelum satu bukupun dan kamu tidak pernah menulis
satu buku dengan tanganmu. Karena jika kamu pernah membaca dan menulis,
maka para pengingkar itu betul-betul akan merasa ragu [terhadap Al-Qur'an]".
(QS. Al-'Ankabut: 48)

Pada ayat yang lainnya Allah SWT berfirman, "Katakanlah, 'Jikalah Allah
menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak pula
memberi tahukannya kepadamu.' Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu
beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya?"
(QS.Yunus: 16)

Dan kemungkinan besar bahwa ayat 23 surah Al-Baqarah yang menegaskan,


"Dan jika kalian masih merasa ragu terhadap apa yang kami turunkan kepada
hamba Kami, maka buatlah yang serupa dengannya," menunjukan unsur
kemukjizatan ini. Yakni, kemungkinan besar kata ganti "nya" yang terdapat pada
kata "serupa dengannya" itu kembali kepada kata "hamba Kami".

Kesimpulannya, barangkali kita berasumsi—tentu mustahil—bahwa ratusan


kelompok yang terdiri dari para ilmuan yang ahli di bidangnya masing-masing
bekerja sama dan saling membantu itu mampu membuat kitab yang serupa dengan
Al-Qur'an. Namun, tidak mungkin bagi satu orang yang ummi (tidak belajar baca-
tulis sama sekali) mampu melakukan hal tersebut. Dengan demikian, kedatangan
Al-Qur'an dengan segenap keistimewaan dan keunggulannya dari seorang yang
ummi merupakan unsur lain dari kemukjizatan kitab suci itu.

3. Konsistensi Kandungan Al-Qur'an

2
Al-Qur'an adalah sebuah kitab suci yang Allah turunkan selama 23 tahun dari
kehidupan Nabi Muhammad saw, yaitu masa-masa yang penuh dengan berbagai
tantangan, ujian dan berbagai peristiwa yang pahit maupun yang manis. Akan
tetapi, semua itu sama sekali tidak mempengaruhi konsistensi dan kepaduan
kandungan Al-Qur'an serta keindahan susunan katanya. Kepaduan dan ketiadaan
ketimpangan dari sisi bentuk dan kandungannya merupakan unsur lain dari
kemukjizatan Al-Qur'an. Allah SWT berfirman, "Apakah mereka tidak
merenungkan Al-Qur'an. Seandainya Al-Qur'an itu datang dari selain Allah, pasti
mereka akan menemukan banyak pertentangan." (QS. An-Nisa': 82)

Penjelasannya: minimalnya, setiap manusia menghadapi dua perubahan. Pertama,


pengetahuan dan pengalamannya itu akan bertambah dan berkembang. Semakin
bertambah dan berkembangnya pendidikan, pengetahuan, pengalaman, dan
kemampuannya, akan semakin mempengaruhi ucapan dan perkataannya. Sudah
sewajarnya akan terjadi perbedaan yang jelas di antara ucapan-ucapannya itu
sepanjang masa dua puluh tahun.

Kedua, berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan seseorang akan


berdampak pada berbagai kondisi jiwa, emosi dan sensitifitasnya, seperti putus
asa, harapan, gembira, sedih, gelisah, dan tenang. Perbedaan kondisi-kondisi
tersebut berpengaruh besar dalam cara pikir seseorang, baik pada ucapannya
maupun pada perbuatannya. Dan, dengan banyak dan luasnya perubahan tersebut,
maka ucapannya pun akan mengalami perbedaan yang besar. Pada hakikatnya,
terjadinya berbagai perubahan pada ucapan seseorang itu tunduk kepada
perubahan-perubahan yang terjadi pada jiwanya. Dan hal itu pada gilirannya
tunduk pula kepada perubahan kondisi lingkungan dan sosialnya.

Kalau kita berasumsi bahwa Al-Qur'an itu ciptaan pribadi Nabi saw sebagai
manusia yang takluk kepada perubahan-perubahan tersebut, maka—dengan
memperhatikan berbagai perubahan kondisi yang drastis dalam kehidupan beliau
—akan tampak banyaknya kontradiksi dan ketimpangan di dalam bentuk dan
kandungannya. Nyatanya, kita saksikan bahwa Al-Qur'an tidak mengalami
kontradiksi dan ketimpangan itu.

3
Maka itu, kepaduan, konsistensi dan ketiadaan kontradiksi di dalam kandungan
Al-Qur'an serta ihwal kemukjizatannya ini merupakan bukti lain bahwa kitab
tersebut datang dari sumber ilmu yang tetap dan tidak terbatas, yakni Allah
Yangkuasa atas alam semesta, dan tidak tunduk pada fenomena alam dan
perubahan yang beraneka ragam

4
3.BERITA GAIB DALAM AL-QURAN
Ramalan Kemenangan Romawi atas Persia

“Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat
dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun
(lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang).” (Al
Qur’an, 30:1-4)

Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi, hampir tujuh tahun
setelah kekalahan hebat Bizantium Kristen di tangan bangsa Persia, ketika
Bizantium kehilangan Yerusalem. Kemudian diriwayatkan dalam ayat ini bahwa
Bizantium dalam waktu dekat menang. Padahal, Bizantium waktu itu telah
menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya mustahil baginya untuk
mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan
kembali. Tidak hanya bangsa Persia, tapi juga bangsa Avar, Slavia, dan Lombard
menjadi ancaman serius bagi Kekaisaran Bizantium. Bangsa Avar telah datang
hingga mencapai dinding batas Konstantinopel. Kaisar Bizantium, Heraklius,
telah memerintahkan agar emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan
dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang. Banyak gubernur memberontak
melawan Kaisar Heraklius dan dan Kekaisaran tersebut berada pada titik
keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang
semula dikuasai oleh Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia. (Warren Treadgold,
A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s.
287-299.)

Diselamatkannya Jasad Fir’aun

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat
menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu” [QS 10:92]

Maurice Bucaille dulunya adalah peneliti mumi


Fir’aun di Mesir. Pada mumi Ramses II dia
menemukan keganjilan, yaitu kandungan garam
yang sangat tinggi pada tubuhnya. Dia baru

6
kemudian menemukan jawabannya di Al-Quran, ternyata Ramses II ini adalah
Firaun yang dulu ditenggelamkan oleh Allah swt ketika sedang mengejar Nabi
Musa as.

Injil & Taurat hanya menyebutkan bahwa Ramses II tenggelam; tetapi hanya Al-
Quran yang kemudian menyatakan bahwa mayatnya diselamatkan oleh Allah swt,
sehingga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Perhatikan bahwa Nabi Muhammad saw hidup 3000 tahun setelah kejadian
tersebut, dan tidak ada cara informasi tersebut (selamatnya mayat Ramses II)
dapat ditemukan beliau (karena di Injil & Taurat pun tidak disebut). Makam
Fir’aun, Piramid, yang tertimbun tanah baru ditemukan oleh arkeolog Giovanni
Battista Belzoni tahun 1817. Namun Al-Quran bisa menyebutkannya karena
memang firman Allah swt (bukan buatan Nabi Muhammad saw).

Kemampuan manusia “menaklukkan” ruang angkasa

Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi)
penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya
kecuali dengan kekuatan.[ QS 55:33]

Ayat diatas mengisyaratkan bahwa suatu saat nanti, manusia akan mampu
“manaklukkan” ruang angkasa dengan kekuatan yang besar. Ayat yang turun
limabelas abad yang lalu ini akhirnya terbukti pada abad ke-duapuluh satu ini.
Saat ini, telah banyak astronaut yang mampu menaklukkan ruang angkasa dengan
pesawat ulan-alik. Al-Quran yang t urun abad ke-enam menunjukkan suatu
kejadian yang terjadi pada abad ke-duapuluh satu. Hal ini tentu menjadi bukti
akan kebenaran Al-Quran, dan bahwa Al-Quran itu firman Allah.

Jaminan Allah terhadap keselamatan Nabi SAW

…Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia…[QS 5:67]

Ayat diatas adalah merupakan jaminan Allah terhadap keselamatan Rasulullah


Muhammad SAW. Ketika mendengar maka sudah tentu akan menjadikan musuh-
musuh beliau menjadi tertantang untuk membunuhnya. Seandainya ayat ini buatan
Muhammad, maka sudah bisa dipastikan ayat ini akan terbantahkan. Karena

7
bangsa Quraisy Arab jahiliyah dikenal sebagai bangsa prajurit dengan keahlian
berperang.

Namun karena ayat ini adalah firman Allah, maka ayat ini terbukti kebenarannya.
Yaitu hingga akhir hayatnya, Nabi Muhammad SAW selalu lolos dari berbagai
percobaan pembunuhan. Dan akhirnya, beliau meninggal karena sakit, dan bukan
karena dibunuh.

Cahaya Allah tidak mampu dipadamkan

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut


(ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain
menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak
menyukai. [QS 9:32]

Usaha orang kafir memadamkan cahaya Allah telah berlangsung sejak zaman
Rasulullah hingga saat ini, bahkan samppai akhir dunia nanti. Namun, jaminan
Allah yang terdapat pada surat At-Taubah ayat 32 diatas masih terbukti. Yakni,
hingga saat ini agama Islam sebagai cahaya Allah masih terus bersinar di seluruh
dunia, bahkan jumlah pemeluknya semakin bertambah melebihi jumlah pemeluk
agama lain.

2
4.KETINGGIAN AJARAN AL-QURΆN
Ajaran Al-Quran adalah ajaran yang samgat mulia dan tidak ada yang lebih mulia
darinya, dari berbagai sudut pandang. Baik itu di bidang aqidah, syariah dan
akhlaq.

Di bidang Aqidah, ajaran Al-Quran adalah ajaran Tauhid (ber-Tuhan satu). Ajaran
ini sangat agung jika dibandingkan dengan ajaran agama lain yang pada dasarnya
adalah polytheisme. Karena dengan ber-Tuhan satu, menunjukkan kemahakuasaan
Tuhan, dan tidak bisa ter-Bantahkan bahwa tuhan memang maha kuasa.

Di samping itu, Al-Quran juga tidak mengenal dosa warisan. Hal ini
punmenunjukkan ketinggian ajaran Al-Quran. Karena hal Al-Quran menyatakan
bahwa setiap manusia lahir dalamm keadaan suci. Dan hal ini pun menunjukkan
keadilan dalam Islam, bahwa setiap manusia bertanggung jawab atas amalnya
masing masing.

Dalam bidang syariah, ketinggian Al-Quran disbanding kitab suci agama lain
adalah bahwa setiap sendi kehidupan telah diatur dalam Al-Quran. Dari mulai
bangun tidur, hingga tidur lagi. Jika dibandingkan dengan syariat (baca:hukum)
buatan manusia, keunggulan syariat Islam adalah bahwa syariat Islam selalu
berprinsip keadilan dan rahmatan lin ‘alamin, dengan batasan Halal dan Haram.
Sehingga hal ini akan dapat mensejahterakan semua kelompok masyarakat.

Dalam bidang Akhlaq, dapat kita lihat pada diri Rasulullah. Karena menurut
‘Aisyah RA, “Akhlaq beliau adalah akhlaq Al-Quran”. Keagungan beliau diakui
dengan jujur oleh banyak tokoh orientalis barat diantaranya:

JULES MASSERMAN, psikoanalis terkemuka dari Amerika Serikat:

“Leaders must fulfill three functions--provide for the well-being of the led,
provide a social organization in which people feel relatively secure, and provide
them with one set of beliefs. People like Pasteur and Salk are leaders in the first
sense. People like Gandhi and Confucius, on one hand, and Alexander, Caesar and
Hitler on the other, are leaders in the second and perhaps the third sense. Jesus and
Buddha belong in the third category alone. Perhaps the greatest leader of all

4
times was Mohammed, who combined all three functions. To a lesser degree,
Moses did the same.”

LAMARTINE, politikus ternama dari Perancis:

“Philosopher, orator, apostle, legislator, warrior, conqueror of ideas, restorer of


rational dogmas, of a cult without images; the founder of twenty terrestrial
empires and of one spiritual empire, that is Muhammad. As regards all standards
by which human greatness may be measured, we may well ask, is there any man
greater than he?”

THOMAS CARLYLE, sastrawan terkenal dari Inggris:

“A poor shepherd people, roaming unnoticed in its deserts since the creation of
the world; a Hero-Prophet was sent down to them with a word they could believe.
See, the unnoticed becomes world-notable, the small has grown world-great.
Within one century afterwards, Arabia is at Grenada on this hand, at Delhi on that
—glancing in valour and splendour and the light of genius, Arabia shines through
long ages over a great section of the world. Belief is great, live-giving. The history
of a Nation becomes fruitful, soul-elevating, great, so soon as it believes. These
Arabs, the man Mahomet, and that one century—is it not as if a spark had fallen,
one spark, on a world of what seemed black unnoticeable sand; but lo, the sand
proves explosive powder, blazes heaven-high from Delhi to Grenada! I said, the
Great Man was always as lightning out of Heaven; the rest of men waited for
him like fuel, and then they too would flame.”

5
Bab III
Simpulan dan Saran

SIMPULAN
Setelah merenungi segala keajaiban dan keistimewaan Al-Quran itu, sudah
dapat dipastikan bahwa tidak mungkin Al-Quran adalah ciptaan manusia. Lebih
tidak mungkin lagi jika diciptakan Muhammad yang ummi. Maka, sudah pasti
kitab Al-Quran adalah firman Allah. Dan jika Al-Quran adalah firman Allah,
maka pasti Islam pun adalah agama yang benar. Karena Allah lah satu-satunya
Tuhan yang pantas disembah
Untuk itu kita harus mempercayai segala ajaran yang berada di dalam Al-
Quran, karena Al-Quran diturunkan sebagai pedoman seluruh umat Islam yang
ada dimana pun dan dapat digunakan kapan pun hingga akhir zaman.

SARAN
1. Sebagai umat Islam kita harus menyempurnakan ke-Islaman kita
dengan keimanan. Salah satu unsur keimanan itu, adalah iman kepada
kitab Allah. Terutama Al-Quran, karena kita adalah ummat
Muhammad dengan kitab Al-Quran sebagai kitab suci.
2. Setelah percaya, kita harus menjalankan segala perintah yang telah
tercantum di dalam Al-Quran, untuk dapat selamat dunia akhirat
melalui ajaran Allah SWT.

6
DAFTAR PUTAKA
As Sewed, Muhammad Umar. Memahami prinsip dasar Islam. Cirebon: Dhiya’us
Sunnah
Deedat, Ahmeed. Dialog Islam Kristen. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar
Muchtarom. Pesan Moral Al-Quran dan Bukti Kebenarannya. Bandung : Cahaya
Gemilang.
Naik, Zakir Abdul Karim. Concept of God in Major Religion. Jakarta: IRF
Syihab, Quraisy. Mukjizat Al Qur’an. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar