Anda di halaman 1dari 60

UPAYA MENINGKATAN AKTIVITAS GURU

DALAM MEWUJUDKAN PEMBELAJARAN BERKUALITAS

DI SDN 2 TAWANGBANTENG KECAMATAN SUKARATU

KABUPATEN TASIKMALAYA

KARYA ILMIAH

Diajukan dalam rangka mengikuti Pemilihan Pengawas Berprestasi

dalam rangka mengikuti Pemilihan Pengawas Berprestasi Oleh: HENDRA NURAENDRA, M.Pd NIP: 196112211983051001 UPTD

Oleh:

HENDRA NURAENDRA, M.Pd NIP: 196112211983051001

UPTD PENDIDIKAN TK, SD, PLS KECAMATAN LEUWISARI

KABUPATEN TASIKMALAYA

ABSTRAK

HENDRA NURAENDRA, M.Pd (2012) Upaya Meningkatkan Aktivitas Guru Dalam Mewujudkan Pembelajaran Berkualitas Di SDN 2 Tawang Banteng Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya. Proses pembelajaran merupakan salah satu bagian dari proses pendidikan, dimana pendidikan merupakan sarana yang strategis bagi meningkatnya kualitas kehidupan manusia. Proses pembelajaran merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pendidikan yang secara umum menempati posisi sentral dalam mendorong individu dan masyarakat untuk mencapai kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan. Aktivitas adalah merupakan bentuk kegiatan perilaku dan nalar yang disadari dalam mewujudkan suatu kehendak, kegiatan ini sebagai penopang tercapainya bentuk pekerjaan dan sangat mempengaruhi akan warna pekerjaan.

Perhatian merupakan banyak sedikitnya kesadaran dalam diri individu yang menyertai kegiatan yang sedang dilakukan atau diartikan pula suatu proses pemusatan energi psikis terhadap objek tertentu. Perhatian adalah kegiatan yang dilakukan seseorang dalam hubungannya dengan pemilihan rangsangan yang datang dari lingkungannya. Kualitas dan kuantitas yang dihasilkan oleh anak sebagai manipestasi dari pendidikan, ini semua tergantung pada kemampuan guru itu sendiri.

Guru memegang peranan penting sebagai pelaksana operasional pembelajaran. Guru dalam pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar perlu mengetahui dengan jelas, aktivitas apa yang harus dilaksanakannya, agar proses belajar mengajar dalam pelaksanaannya terarah dan tepat pada sasarannya. Guru sebagai perantara dalam usaha untuk memperoleh perubahan tingkah laku siswa. Berhasil tidaknya suatu proses belajar, akan banyak tergantung dari sampai berapa jauh guru telah mampu memainkan peranan tersebut.

Tulisan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang aktivitas dan perhatian guru terhadap siswa dalam mewujudkan pembelajaran yang berkualitas. Dan secara khususnya ingin mengetahui sejauhmana kegiatan guru dalam mempersiapkan diri untuk terlaksananya pembelajaran yang berkualitas, dalam arti pembelajaran yang mampu mendongkrak hasil prestasi siswa dalam belajar.

Populasi penelitian seluruh guru yang ada di SDN 2 Tawang Banteng. Adapun sampel yang diambil yaitu semua guru yang ada di sekolah tersebut sejumlah 10 orang. Pengumpulan data menggunakan angket yang diisi oleh responden dan hasil wawancara dengan semua guru tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas dan perhatian guru terhadap siswa dalam mewujudkan pembelajaran yang berkualitas cukup tinggi prosentasenya. Hal ini terbukti dengan adanya bukti pekerjaan dalam bentuk ketatalaksanaan, kegairahan dan aktivitas anak dalam mengikuti pembelajaran, dan terdokumentasi- kannya hasil prestasi belajar anak.

i

PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Illahi Robbi atas rahmat dan

karunia-Nya,

penulis

dapat

menyelesaikan

karya

ilmiah

yang

berjudul

Upaya

Meningkatkan Aktivitas Guru Dalam Mewujudkan Pembelajaran Berkualitas

Di SDN 2 Tawang Banteng Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya

Adapun

tujuan

penulisan

karya

ilmiah

ini

untuk

memenuhi

salah

satu

persyaratan dalam mengikuti Pemilihan Pengawas Berprestasi di Lingkungan Dinas

Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2014.

Selain dari itu terkandung harapan semoga hasil penelitian ini bisa bermanfaat

dan

sebagai

bahan

kajian

dalam

menentukan

kebijakan

tercapainya

program

peningkatan mutu pendidikan dilingkungan SDN 2 Tawang Banteng Kecamatan

Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya.

Penyusunan karya ilmiah ini termotivasi oleh adanya tugas dan fungsi penulis

membina tenaga pendidikan lainnya terutama rekan guru dalam peningkatan mutu

pembelajaran yang bisa berimplikasi terhadap peningkatan kualitas pendidikan di

SDN 2 Tawang Banteng Kecamatan Sukaratu sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

Kurikulum sebagai salah satu substansi pendidikan perlu dicermati oleh

pelaku pendidikan di daerah, baik dalam pengembangan perangkat pelaksanaan yang

mutlak

merupakan

pijakan

dalam

proses

pembelajaran,

maupun

implementasi

perangkat tersebut oleh guru di sekolah. Guru atau sekolah mempunyai kewenangan

dan kewajiban untuk merancang dan menentukan hal-hal yang berkenaan dengan

pembelajaran, seperti hal apa yang akan diajarkan, mengelola pengalaman belajar,

menentukan cara mengajar, bagaimana anak belajar, dan menilai keberhasilan dalam

proses dan hasil pembelajaran. Core bisnis pendidikan bermuara pada pembelajaran.

Guru merupakan sosok strategis sebagai ujung tombak yang paling depan

dalam ketercapaian peningkatan mutu pendidikan sebab ditangan gurulah proses

pembelajaran

berlangsung.

Tugas

guru

sarat

dengan

beban,

tapi

sangatlah

 

ii

membanggakan dan mengharumkan, sebab di tangan guru awal kecerdasan dan

kesejahteraan bangsa dimulai.

Dalam penyusunan karya ilmiah ini penulis banyak mengalami hambatan dan

kesulitan, namun atas bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, Alhamdulillah dapat

diselesaikan. Untuk itu kepada semua pihak penulis mengucapkan banyak terima

kasih, semoga amal baik semua pihak mendapat ridho dan imbalan yang berlipat

ganda dari Alloh Yang Maha Kuasa. Aamiin.

iii

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK

i

PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

BAB IPENDAHULUAN

1

A. Latar Belakang Masalah

1

B. Rumusan dan Batasan Masalah

4

BAB II TINJAUAN TEORITIS

5

A.Administrasi Pembelajaran

5

B. Ruang Lingkup

7

C. Jam Kerja

7

D. Uraian Tugas Guru

8

E. Perhatian Dalam Proses Pembelajaran

10

F. Aktivitas Guru dalam Proses Pembelajaran

18

BAB III METODOLOGI DAN PROSEDUR PENELITIAN

33

A. Metode Penelitian

33

B. Populasi dan Sampel

33

C. Alat Pengumpul Data

34

D. Prosedur Penelitian

34

BAB IV HASIL DAN PENGOLAHAN PENELITIAN

36

A. Teknik Pengolahan Data

36

B. Pengolahan Data

36

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

51

A. Kesimpulan

51

B. Saran-saran

52

DAFTAR PUSTAKA

54

iv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menunjukkan bahwa

kita sebagai abdi negara dan bangsa berkewajiban untuk mencerdaskan bangsa.

Hal ini bisa tercapai hanya melalui pendidikan yang berkualitas. Pendidikan

merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan

proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi

dirinya. Pendidikan amat penting sebagai wahana dalam ikhtiar membangun

manusia berkualitas. Usaha tersebut harus ditandai dengan meningkatnya proses

belajar

dan

mengajar

untuk

mewujudkan

kecerdasan,

pengetahuan

dan

keterampilan yang dilandasi nilai-nilai luhur kehidupan yang terefleksikan dalam

kehidupan sehari-hari secara konsisten.

Proses

beiajar

mengajar

merupakan

salah

satu

bagian

dari

proses

pendidikan,

dimana

pendidikan

merupakan

sarana

yang

strategis

bagi

meningkatnya

kualitas

kehidupan

manusia,

yang

bisa

dilihat

dari

derajat

kesejahteraan, menurunnya kemiskinan dan kebodohan serta terbukanya berbagai

pilihan dan kesempatan dalam mengembangkan diri di masa yang akan datang.

Dengah demikian proses belajar mengajar secara umum menempati posisi sentral

dalam mendorong individu dan masyarakat untuk mencapai kemajuan dalam

berbagai aspek kehidupan.

Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, unsur guru memegang

peranan

penting

sebagai

pelaksana

operasi

digaris

terdepan.

Guru

dalam

pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar perlu mengetahui dengan jelas,

aktivitas apa yang harus dilaksanakannya, agar proses belajar mengajar dalam

pelaksanaannya terarah dan tepat pada sasarannya.

Perkembangan

dan

perubahan

yang

terjadi

dalam

kehidupan

masyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh

1

2

perubahan global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni dan

budaya.

Perkembangan

dan

perubahan

perlunya perbaikan sistem pembelajaran.

secara

terus

menerus

ini

menuntut

Atas dasar tuntutan mewujudkan masyarakat seperti itu diperlukan

upaya peningkatan mutu pendidikan yang harus dilakukan secara menyeluruh

mencakup pengembangan dimensi manusia Indonesia seutuhnya, yakni aspek-

aspek

moral,

akhlak,

budi

pekerti,

perilaku,

pengetahuan,

kesehatan,

keterampilan dan seni. Pengembangan aspek-aspek tersebut bermuara pada

peningkatan dan pengembangan kualitas pembelajaran.

Didalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran, kedudukan guru

cukup memegang peranan penting, karena tugas guru di sekolah bukan hanya

membekali

murid

dengan

ilmu

pengetahuan

saja,

tetapi

guru

harus

pula

memperhatikan berbagai aspek lainnya, umpamanya kondisi emosional atau

kondisi

psikis

murid

seperti

yang

dikemukakan

oleh

Whiterington

dalam

bukunya “Educational Psychology- (Psikologi Pendidikan)" yang diterjemahkan

oleh M. Buchori (1982: 55-56) bahwa:

"Perbedaan-perbedaan juga terdapat timbul sebagai akibat faktor-faktor emosional dan kesalahan-kesalahan pedagogis. Cara mengajar yang jelek dapat timbul sebagai akibat dari ketaksanggupan untuk mengetahui kesukarankesukaran yang dihadapi pengajar. Mengajar bukan semata- mata menerangkan suatu pelajaran saja. Dalam mengajar guru harus juga memperhatikan kondisi emosional dan psikis pelajar. Sikapnya, cita- citanya, semuanya ini terletak dalam daerah situasi pengajaran".

Dan uraian di atas tergambarlah bahwa tugas guru demikian luasnya,

tidak hanya memberikan materi pelajaran semata-mata, tetapi dengan tugasnya

harus mengetahui segala aspek dan kondisi yang ada pada diri anak. Walaupun

dalam pelaksanaan proses belajar mengajar banyak sekali rintangan dan halangan

yang

menghambat

dalam

pelaksanaannya,

seorang

guru

harus

dapat

menghindarkan semua hambatan dan memusatkan perhatian hanya kepada anak

beserta seluruh latarbelakang pribadinya. Sebagaimana menurut pendapat Slamet

3

(1988 : 107) bahwa perhatian adalah kegiatan yang dilakukan seseorang dalam

hubungannya dengan pemilihan rangsangan yang datang dari lingkungannya.

Kualitas dan kuantitas yang dihasilkan oleh anak sebagai manipestasi

dari pendidikan, itu semua tergantung pada kemampuan guru itu sendiri. Maka

dari itu guru memegang peranan penting, karena sebagai mediator dalam pendidikan,

seperti dikemukakan oleh Moh. Surya:

"Guru sebagai perantara dalam usaha untuk memperoleli perubahan tingkah laku siswa. Berhasil tidaknya suatu proses belajar, akan banyak tergantung dari sampai berapajauh guru telah mampu memainkan perhatian tersebut" Kompetensi profesional guru, selain dapat menguasai seluruh metoda

dan teknik mengajar, juga harus memperhatikan unsur kedisiplinan yang masih

banyak terabaikan, sebagaimana pendapat Udi Turmudi sebagai berikut:

"Kenyataan sekarang banyak guru yang mengajar dalam kelas asal mengajar saja biar anak memperhatikan atau tidak, bukan persoalan, pokoknya bahan telah disampaikan. Atau dilain pihak, guru menuliskan sejumlah soal dalam papan tulis, anak disuruh mengerjakannya, sedangkan guru entah kemana. ini jelas memperlihatkan ketidakdisiplinan dari pihak guru sendiri, yang tidak memungkinkan menumbuhkan disiplin pada diri anak, karena guru memberikan contoh yang keliru".

Secara keseluruhan dari uraian di atas merupakan gambaran bahwa

peranan guru amat penting dalam memperhatikan peserta didik selama

pelaksanaan pembelajaran, apalagi dari beberapa pendapat di atas kondisi

guru dalam pembelajaran saat ini memungkinkan kurang berkualitas. Penyebab

secara umum menurut hasil survei LPMP Pusat (Depdiknas, 2003).

1. Pendidikan diselenggarakan untuk kepentingan penyelenggaraan (guru) bukan untuk peserta didik.

2. Kuantitas, kualitas, pemerataan dan kesejahteraan guru dan meratanya penempatan guru sangat lemah untuk menjadi perhatian karena manajerial pendidikan bernuansakan birokratis politis.

3. Pembelajaran yang diselenggarakan bersifat pemindahan isi (content transmission). Pola mengajar hanya menyampaikan pokok bahasan.

4. Kualitas pengajaran hanya diukur dari daya serap kurikulum. Pembelajaran tidak diarahkan kepada partisipatori total dari peserta didik.

5. Pembelajaran selalu mereduksi teks yang ada dengan harapan tidak salah melangkah. Teks atau buku acuan dianggap segalanya dalam meningkatkan hasil pembelajaran.

4

B. Rumusan dan Batasan Masalah

Dan permasalahan penelitian tersebut, maka penulis akan batasi

kepada masalah penelitian secara khusus dalam tataran ruang lingkup peranan dan

perhatian guru dalam pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas yang meliputi

kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

1. Apakah aktivitas guru dalam pembuatan administrasi proses belajar mengajar

dapat mewujudkan pembelajaran?

2. Apakah aktivitas guru dalam persiapan awal proses belajar mengajar

berkualitas?

3. Apakah guru dalam pelaksanaan proses belajar mengajar berkualitas?

4. Apakah aktivitas guru pada akhir proses belajar mengajar berkualitas?

5. Apakah aktivitas guru setelah melaksanakan evaluasi berkualitas?

BAB II TINJAUAN TEORITIS

A.Administrasi Pembelajaran

Pengertian

1. Program

Pembahasan mengenai program tidak dapat dilepaskan dengan

aspek kebijakan. Menurut Dye (1992), kebijakan atau yang dalam hal ini

adalah kebijakan publik secara prinsip dapat diartikan sebagai “Whatever

government choose to do or not to do“. Hal tersebut diperkuat oleh

Hogwood dan Gunn (1986) yang menyebutkan bahwa kebijakan publik

adalah seperangkat tindakan pemerintah yang didesain untuk mencapai

hasil-hasil tertentu.

Sedangkan pengertian program itu sendiri, menurut Jones (1984),

program

adalah

cara

yang

disahkan

untuk

mencapai

tujuan.

Dalam

pengertian tersebut menggambarkan bahwa program-program

adalah

penjabaran dari langkah-langkah dalam mencapai tujuan itu sendiri.

2. Silabus

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata

pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi

dasar,

materi

pokok/pembelajaran,

kegiatan

pembelajaran,

indikator,

penilaian,

alokasi

waktu,

dan

sumber/bahan/alat

belajar.

Silabus

merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke

dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator

pencapaian kompetensi untuk penilaian.

Silabus merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang

kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas, dan penilaian hasil belajar.

Silabus berisikan komponen pokok yang dapat menjawab pertanyaan

berikut:

5

6

1. Kompetensi yang akan ditanamkan kepada peserta didik melalui suatu kegiatan pembelajaran

2. Kegiatan yang harus dilakukan untuk menanamkan/membentuk kompetensi tersebut.

3. Upaya yang harus dilakukan untuk mengetahui bahwa kompetensi tersebut sudah dimiliki peserta didik. Silabus bermanfaat sebagai pedoman sumber pokok dalam

pengembangan pembelajaran lebih lanjut, mulai dari pembuatan rencana

pembelajaran, pengelolaan kegiatan pembelajaran, dan pengembangan

 

sistem penilaian.

3.

RPP

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

(RPP) adalah rencana yang

menggambarkan prosedur dan

pengorganisasian

pembelajaran

untuk

mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi

dan dijabarkan dalam silabus. Maka ringkasnya RPP adalah rencana

operasional kegiatan pembelajaran setiap atau beberapa KD dalam setiap

tatap muka di kelas. Lingkup RPP paling

luas mencakup 1 (satu)

Komptensi Dasar

yang

terdiri

atas

1

(satu) indikator atau beberapa

indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih.

RPP

harus

berupa

kegiatan

konkret

setapak

demi

setapak

yang dilakukan oleh guru di kelas dalam mendampingi peserta didik.

Satu

hal

yang

amat

penting

dalam

penyusunan

RPP adalah

bahwa

kegiatan

pembelajaran

harus

diarahkan

agar

berfokus

pada

peserta

didik, sedangkan

guru

berperan

sebagai

pendamping,

fasilitator.

Artinya,

ketika

guru

memilih

pendekatan,

metode,

materi,

pengalaman

belajar,

interaksi

peserta

didik

berinteraksi

dan

mendampinginya.

belajar

mengajar

harus memungkinkan

aktif, sedang

guru memfasilitasi

dan

7

B. Ruang Lingkup

Kewajiban guru sesuai Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang

Guru dan Dosen Pasal 35 ayat (1) mencakup kegiatan pokok yaitu merencanakan

pembelajaran,

melaksanakan

pembelajaran,

menilai

hasil

pembelajaran,

membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan. Pasal

35 ayat (2) Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

menyatakan bahwa beban kerja guru sekurang-kurangnya 24 jam tatap muka dan

sebanyak-banyaknya 40 jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu.

Dalam melaksanakan tugas pokok yang terkait langsung dengan proses

pembelajaran, guru hanya melaksanakan tugas mengampu 1 (satu) jenis mata

pelajaran

saja,

pendidiknya.

sesuai

dengan

kewenangan

yang

tercantum

dalam

sertifikat

Disamping itu, guru sebagai bagian dari manajemen sekolah, akan terlibat

langsung dalam kegiatan manajerial tahunan sekolah, yang terdiri dari siklus

kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Rincian kegiatan tersebut antara

lain

penerimaan

siswa

baru,

penyusunan

kurikulum

dan

perangkat

lainnya,

pelaksanaan pembelajaran termasuk tes/ulangan, Ujian Nasional (UN), ujian

sekolah, dan kegiatan lain. Tugas tiap guru dalam siklus tahunan tersebut secara

spesifik ditentukan oleh manajemen sekolah tempat guru bekerja.

C. Jam Kerja

Sebagai tenaga profesional, guru baik PNS maupun bukan PNS dalam

melaksanakan tugasnya berkewajiban memenuhi jam kerja yang setara dengan

beban kerja pegawai lainnya yaitu 37,5 (tiga puluh tujuh koma lima) jam kerja (@

60 menit) per minggu. Dalam melaksanakan tugas, guru mengacu pada jadwal

tahunan atau kalender akademik dan jadwal pelajaran. Kegiatan tatap muka dalam

satu tahun dilakukan kurang lebih 38 minggu atau 19 minggu per semester.

Kegiatan tatap muka guru dialokasikan dalam jadwal pelajaran yang disusun

secara mingguan.

8

D. Uraian Tugas Guru

1. Merencanakan Pembelajaran

Guru wajib membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada

awal tahun atau awal semester, sesuai dengan rencana kerja sekolah. Kegiatan

penyusunan RPP ini diperkirakan berlangsung selama 2 (dua) minggu atau 12

hari kerja. Kegiatan ini dapat diperhitungkan sebagai kegiatan tatap muka.

2. Melaksanakan Pembelajaran

Kegiatan

pembelajaran

adalah

kegiatan

dimana

terjadi

interaksi

edukatif antara peserta didik dengan guru, kegiatan ini adalah kegiatan tatap

muka yang sebenarnya. Guru melaksanakan tatap muka atau pembelajaran

dengan tahapan kegiatan berikut.

a. Kegiatan awal tatap muka

Kegiatan awal tatap muka antara lain mencakup kegiatan pengecekan

dan atau penyiapan fisik kelas, bahan pelajaran, modul, media, dan

perangkat administrasi.

Kegiatan awal tatap muka dilakukan sebelum jadwal pelajaran yang

ditentukan, bisa sesaat sebelum jadwal waktu atau beberapa waktu

sebelumnya tergantung masalah yang perlu disiapkan,

awal

Kegiatan

tatap

muka

diperhitungan

setara

dengan

1

jam

pelajaran.

b. Kegiatan tatap muka

Dalam kegiatan tatap muka terjadi interaksi edukatif antara peserta

didik

dengan

guru

dapat

dilakukan

secara

face

to

face

atau

menggunakan

media

lain

seperti

video,

modul

mandiri,

kegiatan

observasi/ekplorasi.

Kegiatan tatap muka atau pelaksanaan pembelajaran yang dimaksud

dapat dilaksanakan antara lain di ruang teori/kelas, laboratorium,

studio, bengkel atau di luar ruangan.

9

Waktu pelaksanaan atau beban kegiatan pelaksanaan pembelajaran

atau tatap muka sesuai dengan durasi waktu yang tercantum dalam

struktur kurikulum sekolah.

c.

Membuat resume proses tatap muka

Resume merupakan catatan yang berkaitan dengan pelaksanaan tatap

muka yang telah dilaksanakan. Catatan tersebut dapat merupakan refleksi,

rangkuman, dan rencana tindak lanjut.

Penyusunan resume dapat dilaksanakan di ruang guru atau ruang lain

yang disediakan di sekolah dan dilaksanakan setelah kegiatan tatap muka.

Kegiatan resume proses tatap muka diperhitungan setara dengan 1 jam

pelajaran.

3.

Menilai Hasil Pembelajaran

Menilai hasil pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan untuk

memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil

belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan,

sehingga menjadi informasi yang bermakna untuk menilai peserta didik

maupun dalam pengambilan keputusan lainnya.

Pelaksanaan penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non

tes. Penilaian non tes dapat dibagi menjadi pengamatan dan pengukuran sikap

serta penilaian hasil karya dalam bentuk tugas, proyek fisik, atau produk jasa.

a. Penilaian dengan tes.

Tes dilakukan secara tertulis atau lisan, dalam bentuk ujian akhir

semester, tengah semester atau ulangan harian, dilaksanakan sesuai

kalender akademik atau jadwal yang telah ditentukan.

Tes tertulis dan lisan dilakukan di dalam kelas.

Penilaian

hasil

test,

dilakukan

di

luar

jadwal

dilakukan di ruang guru atau ruang lain.

pelaksanaan

test,

Penilaian test tidak dihitung sebagai kegiatan tatap muka karena

10

waktu pelaksanaan tes dan penilaiannya menggunakan waktu tatap

muka.

b. Penilaian non tes berupa pengamatan dan pengukuran sikap.

E. Perhatian Dalam Proses Pembelajaran

1. Pengertian Perhatian

Perhatian

merupakan

suatu

gejala

psikologis.

Dalam

kehidupan

sehari-hari istilah perhatian sering digunakan tetapi tidak selalu dalam arti

yang sama. Hal ini tergantung pada ruang lingkup penggunaannya. Dalam

lapangan psikologi para ahli mengemukakan pendapat yang bermacam

ragam. Hal tersebut tergantung pada pandangan dan keyakinan masing-

masing. Walaupun terdapat perbedaan, secara umum menunjukkan adanya

kesamaan pendapat yaitu adanya aktivitas yang disadari dalam kegiatan

yang sedang dilakukan dan terarah kepada satu tujuan, seperti halnya

dikemukakan

oleh

mengkonsentrasikan "

objek".

Kartini

Kartono

(1984:59)

berikut:

diri, mengarahkan aktivitas psikhis pada suatu titik

Ada hal yang penting dalam rumusan perhatian, yaitu aktivitas psikhis

yang terkonsentrasi dan tertuju pada suatu objek. Dalam hal ini energi

psikis dipusatkan pada suatu objek. Segala aktivitas akan tertuju kepada

suatu objek sehingga objek lain diabaikan, seperti dikemukakan Djasman

Adimiharja (1982:54), bahwa: Perhatian merupakan tingkah laku aktif,

suatu

proses

yang

beradaptasi

dengan

lingkungan.

Kita

dikatakan

menunjukkan perhatian bila aktivitas alat indra difokuskan pada beberapa

perangsa tertentu.

Perhatian sebagai suatu aktivatas psikis dalam menerima rangsangan

melalui

alat

indra,

baik

indra

perasa,

penglihatan,

penciuman

dan

11

sebagainya. Penerimaan rangsangan tersebut disertai dengan minat dan

kemauan individu yang menimbulkan tingkah laku.

Dalam proses kegiatan yang sedang berlangsung akan lebih efektif,

bila disertai dengan perhatian yang tinggi. Dikemukakan oleh Kartini

Kartono (1984: 143) bahwa "

minat dan perhatian yang terarah serta

terbimbing, orang jadi selalu sibuk dan aktif berbuat sehingga muncul rasa

berarti dan bahagia".

Perhatian merupakan sesuatu yang penting dalam proses penyeleksian

bermacam-macam rangsangan yang diterima indra sesuai dengan minat

dalam dirinya. Manifestasi perhatian tak dapat diamati secara langsung,

tetapi ditafsirkan melalui tingkah laku yang tampak. Seperti dikemukakan

oleh Bimo Walgito (1985 : 53) bahwa "Pemusatan dari seluruh aktivitas

individu yang ditujukan pads st!atu atau sekumpulan objek".

Perhatian juga merupakan proses mental terhadap stimulus, yang dapat

memberikan

pengaruh

terhadap

individu

dalam

memberikan

respon

terhadap suatu objek yang diharapkan. Hal ini sebagaimana dikemukakan

Jalaludin Rachmat (1986:65) bahwa "Perhatian adalah proses mental ketika

stimulus lainnya melemah".

Selanjutnya Gojali (1967: 116) menyatakan bahwa "Perhatian adalah

keaktifan yang dipertinggi, jiwa itu pun semata-mata tertuju pada suatu

objek atau sekumpulan objek".

Faktor psikis turut menyusun proses perhatian seseorang, dan perlu

dipahami syarat-syarat

perhatiannya.

Berkenaan

dengan

itu,

Ema

Zain (1973 : 136) mengemukakan sebagai berikut:

 

Syarat-syarat perhatian adalah:

a)

Inhibisi

atau

penghambatan

yaitu

perangsang

yang

tak

ada

12

sangkut-pautnya dengan objek perhatian harus dihambat.

b) Apersepsi menghubungkan suatu objek yang baru dengan isi jiwa yang telah ada.

c) Adaptasi yaitu penyesuaian diri dengan objek.

d) Kemauan terhadap suatu objek.

e) Perasaan-perasaan yang ditimbulkan oleh objek.

f) Luas perhatian tidak terlalu banyak.

g) Harus dijaga kekuatannya jangan terjadi kegoncangan atau disebut siliasi.

Berdasarkan batasan dan pengertian yang telah diungkapkan, dapat

disimpulkan

bahwa perhatian

merupakan

banyak

sedikitnya

kesadaran

dan

pemusatan energi psikis yang menyertai suatu aktivitas yang sedang berlangsung.

Pada umumnya perhatian tertuju pada suatu objek.

Timbulnya perhatian bermacam cara tergantung kepada kesiapan individu.

Untuk mengetahui cara timbulnya perhatian perlu memahami dulu jenis-jenisnya,

dimana jenis perhatian ada 3 macam, yaitu berdasarkan timbulnya, berdasarkan luas

objeknya, dan berdasarkan intensitasnya.

Pada umumnya timbul perhatian pada individu tidak lama tergantung pada

individu itu sendiri, tergantung situasi dan kondisi, dan tergantung kemauan dan

kemampuannya,

sebagaimana

dikemukakan

oleh

Kaswan

(1984:23)

pada

intinya

perhatian dapat dibedakan berdasarkan timbulnya, luas objeknya dan intensitasnya.

a. Berdasarkan Cara Timbulnya

Pada hakikatnya tiap individu dalam menerima berbagai rangsangan muncul

perhatian. Ada yang timbul secara spontan, disengaja, dan karena kebiasaan.

Perhatian spontan timbulnya secara langsung tanpa paksaan atau keharusan, hal

tersebut semata-mata karena menyenangi dan keingintahuan atau paksaan. Contoh,

pada suatu saat sekumpulan pejabat sedang mengadakan rapat, para anggotanya

diharuskan mendengarkan penjelasan pimpinan (perhatian disengaja), tetapi secara

tiba-tiba datang orang gila berteriak-teriak, semua anggota rapat serempak melihat

pada

orang

gila

tersebut

(perhatian

spontan).

Perhatian

karena

kebiasaan,

dipengaruhi

oleh

kebiasaan

yang

dilakukan

individu

dalam

memperhatikan

sesuatu tergantung pads kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan. Contoh, seorang

13

olahragawan akan menaruh perhatian pada sebidang lapangan rumput, untuk

bermain

sepakbola,

sedangkan

menggembala ternak.

b. Berdasarkan Luas Objeknya

peternak

cenderung

akan

tertarik

untuk

Berdasarkan luas objeknya perhatian ada 3 (tiga) macam, yaitu perhatian

konsentratif,

perhatian

distributif

dan

perhatian

sembarang.

Perhatian

konsentratif merupakan suatu perhatian yang terpusat pada suatu objek

tertentu.

Contoh

seorang

anak

sedang

membaca

sebuah

buku

di

perpustakaan, maka perhatiannya akan

terpusat pada buku yang sedang

dibacanya.

Sedangkan

perhatian

distributive

merupakan

ketidakajegan

seseorang sehingga tersebar kepada berbagai hal yang dapat dilihat, diraba

atau didengarnya. Perhatian sembarang yaitu perhatian yang relatif pendek dan

tidak menetap kepada suatu objek.

c. Atas Dasar Intensitasnya

Perhatian yang dipengaruhi oleh besar kecilnya atau tinggi rendahnya

kesadaran individu yang menyertai aktivitas yang sedang dilakukan. Setiap

individu mempunyai intensitas perhatian yang berbeda dalam menaruh perhatian

terhadap objek yang lama.

Dengan diketahuinya jenis jenis perhatian, individu dapat meningkatkan

perhatian agar tercapai tujuan yang diharapkan. Namun dalam meningkatkan

perhatian tersebut banyak faktor-faktor yang mempengaruhinya, baik yang terdapat

di dalam maupun di luar diri individu itu sendiri.

Ada

beberapa

faktor

yang

mempengaruhi

perhatian

seseorang,

karena

stimulus yang dapat diterima individu bermacam-macam. Rangsangan tersebut

mula-mula diterima oleh alat indra yang kemudian diseleksi. Bila rangsangan

yang diterima sesuai dengan dirinya, maka rangsangan tersebut akan disalurkan

melalui saraf ke otak. Perhatian akan menyertai alat indra dalam menerima

rangsangan. Rangsangan tersebut tidak mungkin sernuanya diterima oleh alat

14

indra, karena alat indra individu terbatas kemampuannya. Kemampuan individu

dalam

memperhatikan

berbagai

objek

dipengaruhi

oleh

berbagai

faktor

sebagaimana dikemukakan Singgih D. Gunarsa (1983: 107) bahwa:

"Perhatian dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat dibagi dalam dua golongan besar yaitu faktor luar dan faktor dalam. Termasuk faktor luar adalah faktor-faktor yang terdapat pada objek yang diamati yaiiu : intensitas atau ukuran, kontras, pengulangan dan gerakan. Sedangkan yang termasuk faktor dalam adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri sebagai pengamat, yaitu: motif, kesediaan dan harapan.

Sebagaimana yang dikemukakan di atas, jadi faktor-faktor yang mempengaruhi

perhatian individu adalah faktor luar dan faktor dalam:

a. Faktor Luar

Yang dimaksud faktor luar adalah segala rangsangan yang datangnya dari

objek yang diamati, yang termasuk ke dalam faktor luar antara lain:

1)

Kuat lemah rangsangan (intensitas) dan ukuran

Objek yang diamati lebih diperhatikan bila menyimpang dan kebiasaan

(sangat besar, sangat tinggi, sangat pendek dan sangat kecil) dari benda-

benda lainnya.

2) Kontras

Sesuatu yang berbeda dengan yang ada disekelilingnya. Misalnya sangat

cantik diantara orang-orang yang jelek, atau sangat serak diantara orang-

orang yang merdu dan sebagainya.

3) Pengulangan

Suatu

objek

yang

gerakannya

berulang dalam

waktu

tertentu,

akan

menarik perhatian, namun kalau berulangnya terus-menerus tak terbatas

waktu, tak akan menarik perhatian lagi. Contoh, suara petasan yang

berangkai, suara kentongan tanda bahaya dan lain-lain. Hal ini semua akan

menarik perhatian tapi apabila tukang pandal besi memukul-mukul besi

dan pagi sampai sore tak menarik perhatian lagi.

15

4) Gerakan

Suatu

benda

yang

bergerak-gerak

akan

menarik

perhatian,

misalnya

mainan yang bergerak-gerak diantara mainan-mainan yang diam pada

etalase toko.

b. Faktor Dalam

Yang dimaksud faktor dalam adalah berbagai hal yang berhubungan

dengan diri individu yang bersangkutan, yang termasuk pada faktor ini antara lain:

1)

Motif

Motif merupakan daya pendorong dalam diri individu untuk melakukan

kegiatan,

tercapai

tidaknya

suatu

tujuan

banyak

ditentukan

oleh

besar

kecilnya

motif

dari

individu

yang

bersangkutan,

Rochman

Natawidjaya

(1978:46) mengemukakan bahwa, "Motif, ialah setiap kondisi atau keadaan

seseorang atau sesuatu organisme yang menyebabkan kesiapannya untuk

memulai atau melanjutkan suatu atau serangkaian tingkah laku perbuatannya".

2)

Kesediaan

 

Perhatian akan lebih terpusat bila adanya kesediaan dari individu dalam

menghadapi sesuatu objek. Contoh: suatu instruksi akan lebih diperhatikan

bila adanya kesediaan dari orang yang diberi instruksi/perintah. Instruksi tak

akan diperhatikan bila yang diperintahnya sedang sibuk atau sedang bingung.

3) Harapan

Sesuatu

objek yang menjadi harapan akan lebih diperhatikan dibanding

dengan objek lain yang bukan harapannya. Maka makin besar harapan

terhadap sesuatu objek makin tinggi pula intensitas perhatiannya. Contoh:

seseorang yang mengharapkan punya kekasih yang cantik, baik hati dan pakai

kerudung, tiba-tiba menemukan gadis seperti tersebut, maka hal tersebut akan

lebih diperhatikannya.

16

4) Gangguan terhadap perhatian

Yang dimaksud dengan gangguan terhadap perhatian yaitu adanya perangsang

lain yang mengganggu terhadap perhatian individu, pada waktu individu

tersebut sedang memperhatikan sesuatu objek. Misalnya: guru-guru sedang

memperhatikan ceramah kepala sekolah, tiba-tiba perhatiannya terganggu

oleh suara gemuruh kelas yang ambruk. Supaya perhatian tetap terpusat

kepada suatu objek, maka gangguan yang merintangi perhatian harus diatasi.

Adapun usaha untuk mengatasi gangguan perhatian seperti dikemukakan oleh

F. Patty (Kaswan, 1982: 96) sebagai berikut:

Beberapa cara untuk mengatasi gangguan perhatian ini:

1) memperkuat motivasi 2) memperkuat usaha dalam menjalankan tugas 3) membiasakan diri dalam membantu in attention terhadap gangguan perhatian

Dengan memperhatikan pendapat di atas menunjukkan bahwa gangguan

terhadap

perhatian

dapat

diatasi,

diantaranya

dengan

memperkuat

motivasi,

memberikan

pengertian

dan

terhadap

pelaksanaan

proses

sebagainya.

Untuk

belajar

mengajar

di

meningkatkan

dalam

kelas

perhatian

guru

harus

diberikan

motivasi melalui rapat-rapat, penataran-penataran, memberikan tanggung jawab/

pengakuan dan meningkatkan kesejahteraannya.

2. Peranan dan Fungsi Perhatian dalam Proses Pembelajaran

Peranan guru sangat besar dalam pelaksanaan proses belajar mengajar,

karena guru sebagai penanggung jawab utama pada proses belajar mengajar di

kelas. Guru merupakan sentral serta sumber kegiatan belajar mengajar. Guru harus

penuh inisiatif dan kreatif dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, karena

gurulah yang mengetahui secara pasti situasi dan kondisi kelas, terutama keadaan

siswa dengan

segala latar belakangnya.

Proses

belajar mengajar merupakan

komponen

utama

bahkan

bisa

dikatakan

bahwa

proses

belajar

mengajar

merupakan inti dari seluruh komponen pendidikan, walaupun guru bukan satu-

17

satunya sebagai sumber pendidikan. Seperti yang dikemukakan oleh Nanang

Fattah (2000:81) bahwa:

"Proses Belajar Mengajar (PBM) yang sesuai dengan kebutuhan merupakan bentuk belajar yang menghadapkan siswa dengan atau sejumlah sumber belajar secara individual atau sekelompok, tidak hanya sebatas cara konvensional seperti guru menjelaskan materi kepada siswa dalam kelas. Proses belajar mengajar yang efektif adalah suatu kondisi yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir dan berbeda pendapat dengan guru, sehingga terjadi interaktif”.

Karena sangat kompleksnya tanggung jawab guru dan semakin cepatnya

perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga guru selain dapat menguasai kelas dan

sebagai figur yang digugu dan ditiru juga harus lebih cepat menangkap berbagai

perkembangan ilmu pengetahuan namun tetap jadi guru sebagai pendidiklah yang

menjadi dominan.

Sejak digulirkannya MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), pelaksanaan

proses belajar mengajar tak lagi bersifat sentralistik, tetapi diserahkan ke daerah

sesuai

dengan

kebutuhan

dengan

istilah

kebersamaan

dalam

tujuan

dan

keseragaman dalam

penyajian,

dengan

pengertian

cara melaksanakan

proses

belajar

mengajar

disesuaikan

dengan

kebutuhan

daerah

namun

harus

tetap

mengacu kepada standar kurikulum sekolah.

Kecepatan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan menurut para

ahli belum bisa menggantikan posisi guru, karena guru sebagai kunci dalam

pelaksanaan interaksi proses belajar mengajar yang fungsi utamanya dalam proses

belajar

mengajar

yaitu

adanya

perubahan

tingkah

laku

pada

diri

anak.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Suprayekti (2003: 4) bahwa:

"Belajar secara umum dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku akibat interaksi individu dengan lingkungan. Proses perubahan perilaku ini tidak terjadi dengan sendirinya terjadi karena proses kematangan. Proses yang sengaja direncanakan agar terjadi perubahan prilaku ini disebut dengan proses belajar. Proses ini merupakan suatu aktivitas psikis/mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan yang relatif konstan dan berbekas. Perubahan-perubahan prilaku ini merupakan hasil belajar yang mencakup ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik”.

18

F. Aktivitas Guru dalam Proses Pembelajaran

1. Aktivitas Awal Pelaksanaan Proses Pembelajaran

Sebelum melaksanakan proses belajar mengajar, seorang guru perlu

mempersiapkan seluruh perangkat

yang diperlukan dalam proses belajar

mengajar yaitu berupa administrasi pengajaran. Dimana makna administrasi

pengajaran adalah keseluruhan proses penyelenggaraan kegiatan di bidang

pengajaran yang bertujuan agar seluruh kegiatan pengajaran terlaksana secara

berhasil guna dan berdaya guna. Administrasi pengajaran berfungsi sebagai

pedoman

dalam

pengelolaan

pengajaran

agar

terencana,

terorganisir,

terlaksana dan, terawasi dengan baik. Administrasi pengajaran berkaitan erat

dengan proses belajar mengajar. Berdasarkan pedoman penyusunan kalender

pendidikan yang diterbitkan oleh dinas pendidikan sebagai kegiatan awal

sebelum melaksanakan proses belajar mengajar perlu melakukan persiapan

mengajar.

Persiapan mengajar mencakup semua kegiatan yang dilakukan dalam

mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan sebelum melaksanakan proses

belajar mengajar, bertujuan untuk:

1) Menjabarkan kegiatan dan bahan yang akan disajikan guru dalam tahap pelaksanaan pengajaran. 2) Memberikan arah tugas yang harus ditempuh dalam proses belajar mengajar.

3)

Mempermudah guru dalam melaksanakan tugasnya.

4)

Sebagai dasar untuk pengawasan dan penilaian pelaksanaan pengajaran.

Pada kurikulum KTSP yang dimaksud dengan persiapan mengajar

adalah seperangkat rencana dan pelaksanaan pembelajaran beserta

penilaiannya, dijabarkan ke dalam bentuk silabus yang didalamnya terdiri dan

komponen komponen yang saling berkaitan, adapun komponen silabus terdiri

dari:

1) Kompetensi dasar adalah target kompetensi yang harus dicapai, hal tersebut sudah tertera dalam kurikulum KTSP. 2) Hasil belajar adalah keadaan kemampuan siswa setelah memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam satu kompetensi.

19

3)

4) Pengalaman belajar adalah pelaksanaan proses belajar mengajar dengan langkah-langkah yang lebih terinci yang dilakukan oleh anak itu sendiri. 5) Alokasi waktu yang merupakan penjatahan beberapa waktu yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran materi tersebut. 6) Sarana dan prasarana sebagai pendukung terlaksananya dengan baik pembelajaran tersebut. 7) Penilaian yang merupakan alat ukur ketercapaian dan keberhasilan pembelajaran tersebut.

Indikator adalah kompetensi dasar yang lebih terarah dan spesifik.

Jadi apabila seorang guru akan mengajar tanpa menjabarkan kurikulum ke

dalam program pengajaran yang direalisasikan ke dalam silabus, sangat sulit

untuk menyajikan materi pelajaran.

2. Aktivitas Keterlaksanaan Pembelajaran Berkualitas

Setelah administrasi pengajaran disiapkan hasil penjabaran dan kurikulum

berupa program pengajaran yang direalisasikan ke dalam bentuk silabus, langkah

berikutnya adalah menyajikan kedalam proses belajar mengajar yang didalamnya

terjadi

interaksi

antara

guru

dengan

murid

dalam

usaha

mencapai

target

kompetensi yang terdapat dalam kurikulum KTSP.

Pemberlakukan kurikulum KTSP merupakan salah satu langkah strategis

guna memantapkan pelaksanaan pembelajaran. Hal ini sesuai dengan prinsip-

prinsip yang melandasi kegiatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik,

"mengembangkan

kreativitas

peserta

didik,

menciptakan

kondisi

yang

menyenangkan dan menyediakan pengalaman yang beragam dengan belajar

centered ini, beberapa model pembelajaran telah dikembangkan disesuaikan

dengan melalui berbuat(Depdiknas, 2003 : 3).

Peran guru sebagai transformator harus diubah menjadi seorang fasilitator

yaitu

menciptakan

kesempatan

atau

peluang

agar

peserta

didik

dapat

mengeksplorasi

gagasan,

mengajukan

pertanyaan

dan

lebih

jauhnya

dapat

menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan arahan dan bimbingan aktif guru.

Di dalam kelas yang berpusat pada siswa (student centered) peran guru adalah

membantu siswa menemukan fakta, konsep, atau prinsip. Siswa membangun

20

pengetahuan di dalam benaknya sendiri. Guru membantu (mediator) proses ini

agar informasi bisa bermakna dan sangat relevan.

Untuk mewujudkan keterlaksanaan proses pembelajaran yang bersifat

student

centered

ini,

beberapa

model

pembelajaran

telah

dikembangkan

disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran tertentu dengan menggunakan

berbagai pendekatan dan metode serta dilandasi teori-teori belajar, misalnya

pembelajaran dengan pendekatan kontekstual yang harus diimplementasikan

menurut kurikulum KTSP.

1)

Makna Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual sebagai terjemahan dari Contextual Teaching

and Learning (CTL) mempunyai dua sisi kepentingan yaitu sebagai pilosofis

dan

sebagai

strategi.

Sebagai

pilosofis

merupakan

konsep

belajar

yang

membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi nyata

siswa, baik fisik maupun mental. Dan sebagai strategi memadukan teknik-

teknik tertentu untuk memotivasi siswa lebih akktif dan kreatif memadukan

antara pengetahuan yang dimilikinya dalam penerapan melalui pengamalan

nyata sehari-hari (Husen. S. KTSP: 9).

Dalam pembelajaran kontekstual peserta didik didorong untuk membuat

hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam

kehidupan sehari-hari. Pengetahuan dan keterampilan peserta didik diperoleh

dari usaha peserta didik mengkonstruksi pengetahuan, dan keterampilan baru

ketika belajar. Perlu dipahami bahwa pembelajaran kontekstual bukan berarti

guru harus mengkontekskan setiap materi ajar ke dalam situasi nyata yang

berupa fisik, tetapi dapat juga dengan masalah yang disimulasikan, yang

artinya dengan menarik segala imajinasi yang dekat dengan alam pikiran

peserta

didik

untuk

dijadikan

bahan

belajar

(Sri

Wardhani,

2002).

Pembelajaran

kontekstual

sebagai

suatu

konsepsi

yang

membantu

guru

menghubungkan isi materi pelajaran dengan situasi dunia nyata yang berguna

21

untuk memotivasi peserta didik dalam membuat hubungan-hubungan antara

pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan (Benchard. Dit_ PLP, KTSP).

Menurut

pendapat

Zahonk,

1995

(dalam

Dit.

PLP,

2003)

yang

dikembangkan Husen (LPMP, KTSP : 10) ada lima elemen yang perlu

diperhatikan dalam praktik pembelajaran kontekstual, yaitu:

1)

2) Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara

Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge)

mempelajari secara keseluruhan kemudian memperhatikan detailnya.

3) Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) yaitu dengan cara menyusun:

a. Konsep sementara (hipotesis)

b. Melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan (validasi)

c. Merevisi konsep tersebut dan mengembangkannya.

4)

Mempraktikan

pengetahuan

dan

pengalaman

tersebut

(applying

knowledge)

5)

Melakukan

refleksi

(reflecting

knowledge)

terhadap

strategi

pengembangan pengetahuan tersebut.

2) Strategi Pembelajaran Konsekstual

Pembelajaran yang dilaksanakan dengan strategi kontekstual (CTL) menurut

Slamet

Mulyana

(LPMP

Bahasa,

KTSP:

14)

memiliki

karakteristik

sebagai

berikut:

1) Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks yang otentik, artinya pembelajaran diarahkan agar peserta didik memiliki keterampilan memecahkan masalah dalam konteks nyata atau pembelajaran diupayakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting). 2) Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik (learning by doing) 3) Pembelajaran dilakukan melalui kerja kelompok, berdiskusi saling mengoreksi (learning in a group) 4) Kebersamaan, kerjasama saling memahami (learning to know each other deepy) 5) Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, dan produktif (learning to ask, to inquiry, to work together). 6) Pembelajaran dilaksanakan dengan cara menyenangkan (learning as an enjoy ancivity).

Pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen utama dalam setiap

pelaksansan

pembelajarannya,

yaitu

konstruktivisme

(contctructivism),

bertanya

(questioning),

menemukan

(inquiry),

masyarakat

belajar

(learning

community),

22

pemodelan

(modeling),

refleksi

(reflection),

dan

penilaian

otentik

(authentic

assessment).

(1) Konstruktivisme (constructivism)

Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosopis) pembelajaran

kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh peserta didik sedikit demi

sedikit, tahap demi tahap kemudian hasilnya diperluas dengan konteks terbatas

tidak sekoyong-konyong, bahkan prosesnya kadangkala tidak terlalu mulus dan

selalu mendapat halangan dan rintangan.

Dalam konstruktivisme seorang guru harus memperhatikan hal-hal (LPMP,

KTSP) sebagai berikut :

a. Mengakui adanya konsepsi awal pengetahuan yang dimiliki peserta didik melalui pengalaman sebelumnya.

b. Menekankan kepada kemampuan minds on (berpikir) dan hands on (keterampilan), perpaduan logika dan kinestika.

c. Mengakui bahwa dalam proses pembelajaran terjadi perubahan konseptual.

d. Mengakui bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif

e. Mengutamakan terjadinya interaksi sosial.

(2) Bertanya (questioning)

Bertanya merupakan induk dari strategi pembelajaran kontekstual yang

kadang kala bisa disebut awal dan jantung dari pengetahuan sehingga merupakan

aspek terpenting dan pembelajaran. Seorang bertanya bisa karena ingin tahu,

menguji,

menginformasi,

mengapersepsi,

mengarahkan

dan

menggiring,

mengaktifkan skemata, menghakimi, mengklarifikasi, memfokuskan, dan bisa

menghindari kesalahpahaman. Pengetahuan dapat dibangun mulai dari bertanya.

(3) Menemukan (inquiry)

Menemukan

retensinya

kuat,

merupakan

bagian

daya

ingatnya

lama,

inti

dari

bahkan

kegiatan

pembelajaran

agar

akan

menunculkan

kepuasan

tersendiri bagi peserta didik dibandingkan hanya melalui pewarisan. Dengan

menemukan kemampuan berpikir mandiri (kognitif tingkat tinggi, kritis, kreatif,

inovatif

dan

improvisasi)

akan

terlatih

sehingga

kondisi

selanjutnya

akan

23

terbiasa. Inquiri mempunyai siklus observasi, bertanya, menduga, kolekting dan

konsklusi (Husen, KTSP:15)

(4) Masyarakat Belajar (learning community)

Konsep masyarakat belajar menyarankan agar hasil belajar diperoleh dari

hasil kerjasama dengan orang lain, peserta didik dengan peserta didik, peserta

didik dengan guru, atau peserta didik dengan lingkungan sekitarnya. Dalam

pelaksanaan

pembelajaran

kontekstual

guru

disarankan

untuk

membentuk

kelompok belajar agar terjadi interaksi dalam hal yang pandai membantu yang

lemah, yang tahu memberi tahu yang belum tahu, yang cepat mendorong

temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan segera memberi usul dan

sebagainya.

(5) Pemodelan (modeling)

Pemodelan akan lebih membantu dalam pembelajaran kontekstual. Pada

pendekatan kontekstual harus ada model yang dapat ditiru, diadaptasi dan

dimodifikasi. Dengan adanya model untuk dicontoh biasanya konsep akan lebih

mudah dipahami atau bahkan bisa menimbulkan ide baru. Pemodelan bisa

dilakukan oleh guru atau dari peserta didik yang dipandang mampu membantu

memberi kejelasan kepada peserta didik lainnya, misalnya siswa ditunjuk untuk

mendemonstrasikan

menggunakan

termometer

dihadapan

temannya.

Siswa

tersebut adalah model. Siswa lain menggunakan model tersebut sebagai standar

kompetensi yang harus dicapai.

(6) Refleksi (reflection)

Refleksi adalah berpikir kembali tentang materi yang baru dipelajari,

merenungkan kembali aktivitas yang telah dilakukan, atau mengevaluasi kembali

bagaimana belajar yang telah dilakukan. Refleksi berguna untuk evaluasi diri,

koreksi, perbaikan, atau peningkatan diri. Kegiatan refleksi dapat direalisasikan

dengan pertanyaan langsung tentang hal-hal yang diperoleh peserta didik pada

hari itu rangkuman), catatan atau jurnal dibuku peserta didik untuk memperbaiki

24

kegagalan,

kesan

dan

saran

peserta didik

mengenai

pembelajaran

hari

itu

(learning how to learn) hasil karya dan sebagainya.

(7) Penilaian Otentik (authentic assessment)

Pada pelaksanaan pembelajaran kontekstual penilaian harus memberikan

gambaran perkembangan belajar peserta didik secara komprehensif. Penilaian

harus berkenaan dengan seluruh aktivitas pembelajaran, meliputi proses dan

produk hasil pembelajaran, sehingga seluruh usaha peserta didik mendapat

penghargaan. Hakikat penilaian yang diwujudkan merupakan penilaian atas

usaha peserta didik yang berkenaan dengan pembelajaran, bukan merupakan

hukuman atau hadiah. Macam penilaian otentik adalah membuat catatan harian

melalui observasi untuk menilai aktivitas dan motivasi peserta didik, wawancara

atau angket untuk menilai afektif, portopolio untuk menilai seluruh hasil kerja

peserta didik, tes untuk menilai tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi

bahan ajar.

Kata

kunci

penilaian

otentik

adalah

"Apakah

peserta

didik

belajar,

bagaimana usahanya?", dan bukan melalui pertanyaan "Apakah yang sudah

dikuasai peserta didik?" (Husen, LPMP, KTSP: 18).

Pendapat lain tentang stretegi pembelajaran kontekstual yaitu menurut

Center of Occupation Research and Development (CORD) ada lima strategi

berjenjang dalam pembelajaran kontekstual, yang disingkat REACT yaitu:

(1) Realiting; yaitu belajar yang dikaitkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata. (2) Experiencing; yaitu belajar ditekankan kepada penggalian (eksplorasi), penemuan (discovery), dan penciptaan (invention) (3) Applying; yaitu belajar bilamana pengetahuan dipresentasikan di dalam konteks pemanfaatannya. (4) Cooperating; yaitu belajar melalui konteks komunikasi inter personal, pemakaian bersama. (5) Transferring; yaitu belajar melalui pemanfaatan pengetahuan di dalam situasi atau konteks baru (Nurhadi, 2003 : 23).

25

3) Model Pembelajaran Kontekstual

Sesuai dengan karakteristik pembelajaran kontekstual yaitu berpusat pada

anak, aktif, kreatif, memecahkan masalah, mempraktikan dan sebagainya, maka

alternatif model pembelajaran berbasis kontekstual adalah sebagai berikut :

a. Model Cooperative Learning (CL)

Struktur tujuan kooperatif dapat terjadi hanya jika siswa lain dengan siapa mereka

bekerja

sama

dapat

mencapai

tujuan.

Tiap-tiap

individu

ikut

andil

menyumbangkan pencapaian tujuan. Siswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai

jika dan hanya jika siswa lain juga mencapai tujuan. Model cooperative ini

mengutamakan keberhasilan dengan kebersamaan. Fase-fase model Cooperative

Learning (fase yang dikembangkan LPMP, KTSP)

No

Fase-Fase

 

Perilaku Guru

1

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Menyampaikan semua tujuan ingin dicapai

yang

2

Menyajikan informasi

Menyajikan

informasi dengan demonstrasi

atau lewat bacaan

 

3

Pengorganisasian kelas / pengelompokan belajar

Penjelasan

bentuk kelompok, membantu

dalam transisi kerja secara efisien

 

4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Membimbing kelompok belajar saat bekerja menyelesaikan tugas

5

Evaluasi

Mengevaluasi hasil kinerja

siswa

atau

kelompok untuk mempresentasikan hasil

6

Penghargaan

Menghargai hasil upaya/belajar individu atau kelompok

b. Model Problem Baseed Instruction (PBI)

Salah satu indikasi adanya transfer belajar adalah kemampuan menggunakan

informasi

dan

keterampilan

untuk

memecahkan

masalah-masalah

yang

kadangkala setiap hari dihadapi. Intisari model pembelajaran ini mengarah kepada

melatih anak untuk berkemampuan memecahkan masalah.

Fase-fase

model

Problem

Bassed

Instructiolni

dikembangkan oleh LPMP, KTSP).

(PBI)

Fase

yang

No

Fase-Fase

Perilaku Guru

1

Orientasi terhadap Masalah

Menjelaskan kompetensi dasar, memotivasi siswa

26

No

Fase-Fase

 

Perilaku Guru

   

agar terlibat pada aktivitas pemecahan masalah

2

Pengorganisasian/

Membantu

mendefinisikan, mengorganisasikan

pengelompokkan

tugas belajar yang berhubungan dengan masalah

3

Membimbing

Mendorong

aktivitas untuk mengumpulkan

penyelidikan

Informasi sesuai masalah, melaksanakan

eksperimen/uji data untuk

mendapatkan

penjelasan pemecahan masalah

4

Mengembangkan

Membantu

dalam merencankan, menyiapkan

menyajikan produk

produk seperti laporan,video, model dan membantu dalam pembagian tugas

5

Menganalisis dan mengevaluasi

Membantu dalam melakukan refleksi dan evaluasi terhadap proses penyelidikan

c. Model Pembelajaran Langsung (direct instruction)

Model pembelajaran langsung dirancang secara khusus untuk menunjang

proses

belajar

peserta

didik

berkenaan

dengan

pengetahuan

prosedural

dan

deklaratif yang tersetruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi

selangkah (konstruktivisme).

Pembelajaran langsung tidak sama dengan metode ceramah tetapi metode

ceramah dan resitasi (mengecek pemahaman dengan tanya jawab) berhubungan

erat

dengan

model

pembelajaran

langsung

(Husen,KTSP:36).

Pembelajaran

langsung memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang cukup rinci terutama

dalam analisis tugas. Pembelajaran langsung berpusat pada guru, tetapi harus

menjamin

keterlibatan

peserta

didik

melalui

kerja

mental

dalam

menangani

informasi baru yang diterimanya. Jadi lingkungan belajar harus diciptakan agar

berorientasi pada tugas-tugas yang diberikan pada siswa.

Fase

dan

peran

guru

dikembangkan LPMP, KTSP)

dalam

pembelajaran

langsung

(Fase

yang

No

Fase-Fase

Perilaku Guru

1

Penyampaian tujuan

Menyampaikan kompetensi dasar, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar

27

No

Fase-Fase

Perilaku Guru

2

Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan

Mendemonstrasikan keterampilan atau menyajikan informasi tahap demi tahap

3

Membimbinglatihan

Memberikan latihan secara terbimbing

4

Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik

Mengecek kemampuan peserta didik dan memberikan umpan balik

5

Memberikan latihan dan penerapan konsep

Mempersiapkan latihan untuk peserta didik dengan menerapkan konsep yang dipelajari pada kehidupan sehari-hari

4) Teknik Pembelajaran Kontekstual

Dalam pelaksanaan model pembelajaran, guru dapat memilih teknik yang

sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Beberapa teknik yang dapat digunakan

antara lain:

(1) Student Team Achievement Divisions (STAD, Slavin, 1980)

Bagian esensial dari pendekatan ini adalah adanya kerjasama anggota kelompok.

Siswa bekerja di kelompok untuk belajar dari temannya serta "mengajar"

temannya.

a) Buatlah kelompok (3-5) orang secara heterogen.

b) Diskusikan bersama bahan belajar dalam kelompok

c) Bahan belajar tiap kelompok bisa berbeda.

d) Tiap anggota kelompok saling membantu (tutorial, sharing)

e) Presentasi hasil kerja kelompok.

f) Kuis individual terjadwal.

g) Buat skor perkembangan/kemajuan belajar tiap siswa.

h) Umumnya rekor tim dan individual.

(2) Jigsaw

Bagian esensial dari pendekatan ini adalah adanya pemberian motivasi kepada

siswa untuk selalu mengevaluasi proses pembelajaran mereka. Ciri pembelajaran

tipe Jigsaw (LPMP, 2003) adalah:

a) Buatlah kelompok (4-6) siswa secara heterogen dengan sebutan jigsaw/asal

b) Bentuk kelompok ahli dengan anggota terdiri dari wakil kelompok jigsaw, kelompok ini disebut counterpart group (CG)

c) Berikan bahan belajar terdiri dari beberapa bagian

d) Tiap kelompok CG membahas bagian tertentu dengan berbeda

e) Tiap anggota CG mempelajari bahan belajar yang sama

f) Tiap kelompok CG kembali ke kelompok jigsaw/asal

28

g) Pelaksanaan tutorial per bagian dilaksanakan oleh anggota CG di kelompok jigsaw/asal

h) Kuis individual terjadwal

i) Buatlah skor perkembangan tiap siswa

j) Umumkan hasil kuis

(3) Investigasi kelompok

Tipe

ini

menyiapkan

siswa

dengan

lingkup

studi

yang

luas

serta

berbagai

pengalaman belajar untuk memberikan tekanan pada kreatif positif para siswa.

Model ini mempunyai empat karakteristik (LPMP, 2003):

Pertama; kelas harus dibagi kelompok yang heterogen.

Kedua; kelompok tersebut dihadapkan kepada materi pembahasan yang kompleksitasnya tinggi, dengan harapan mengembangkan meningkatnya daya keingintahuan (kuriositas) dan saling ketergantungan positif diantara mereka.

Ketiga; di dalam kelompoknya mereka terlibat komunikasi aktif untuk meningkatkan keterampilan belajar. Komunikasi positif diharapkan terjadi dalam perencanaan, investigasi, pelaksanaan investigasi, analisa dan sintesis hasil investigasi untuk pembuatan laporan, serta evaluasi proses dan hasil.

Keempat; guru bertindak sebagai sumber belajar dan pimpinan tak langsung, memberikan arahan dan klarifikasi bila diperlukan, dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. (4) Think pair Share (TPS)

Teknik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sendiri serta

bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan lain dari teknik ini adalah adanya

optimalisasi partisipasi siswa. Ciri pembelajaran dengan tipe ini (LPMP, 2003):

a) Sajikan materi secara klasikal

b) Berikan problem (pendalaman, perluasan, aplikasi)

c) Bahas secara berpasangan (think-pairs)

d) Presentasikan hasil kelompok (share)

e) Buat skor perkembangan individual

f) Umumkan hasil kuis

(5) Numbered Head Together (NHT)

Teknik ini mengembangkan ketergantungan positif antara siswa. Mereka yang

berkemampuan

tinggi

harus

bersedia

membantu,

meskipun

mereka

tidak

dipanggil untuk menjawab. Bantuan yang diberikan dengan motivasi sebagai

tanggung jawab untuk meraih nama baik kelompok. Hal ini dilakukan untuk

memotivasi yang lemah agar tidak takut dalam belajar. Ciri NHT (LPMP, 2003):

29

a) Buatlah kelompok yang heterogen (4-5 orang)

b) Tiap kelompok diberi nomor

c) Berikan persoalan materi bahan ajar

d) Bekerja dalam kelompok untuk mencapai mupakat

e) Presentasikan hasil kerja kelompok

f) Kuis individual

g) Buat skor perkembangan individual

h) Umumkan hasil kuis

(6) Teams Games Tournamen (TGT)

Teknik ini merupakan teknik pembelajaran

yang menekankan kepada pola

turnamen sehiagga anak dibawa untuk berkompetensi, kegiatannya seperti STAD

di atas, tetapi yang membedakan kompetisi dengan cara membandingkan antar

kemampuan anggota tim/kelompok (De Varies cs, 78).

(7) Circle of Learning (Learning together ; Jhonson and Jhonson)

Yang dianggap istimewa dalam tipe ini adalah adanya ketergantungan dalam arti

positif. Dalam kegiatannya masing-masing anggota kelompok mendapatkan

kesempatan untuk memberikan kontribusi dan mendengarkan pemikiran dan

pendapat anggota yang lainnya. Adapun ciri pembelajarannya (LPMP, 2003):

a) Kelompok heterogen (5-6 anggota)

b) Giliran berbicara semua anggota kelompok

c) Mendengarkan dan memberi kontribusi

d) Mengajukan pertanyaan

e) Presentasi dan kesimpulan rangkuman

(8) Co-op co-op

Teknik

ini

identik

dengan

investigasi

kelompok.

Orientasi

pada

tugas

pembelajaran yang kompleks, siswa berupaya mempelajari bahan yang telah

ditugaskan, setiap siswa mempunyai tugas sesuai dengan topiknya. Teknik ini

memerlukan

cara

dan

keterampilan

nalar

yang

cukup

tinggi,

termasuk

menganalisis dan melakukan sintesis bahan pelajaran. Adapun ciri pembelajaran

ini (dikembangkan oleh LPMP, 2003) adalah:

a) Memunculkan masalah

b) Diskusi kelas

c) Seleksi tim/ topik

d) Seleksi siswa yang berkemampuan sesuai bagian masalah

e) Seleksi topik dalam kelompok

f) Presentasi topik

30

g) Presentasi kelompok

h) Evaluasi oleh siswa dengan bimbingan Saat pelaksanaan proses belajar mengajar guru benar-benar melibatkan siswa

secara aktif dalam menafsirkan dan memahami materi, ikut serta memecahkan

berbagai masalah. Dengan kepiawaian guru dalam menyajikan materi pelajaran tidak

terasa bahwa siswa sedang benar-benar mengidentifikasikan dirinya dengan guru,

karena bagi siswa SD saat itu guru sebagai sosok yang dianggap benar segala-galanya

dan

tidak

pernah

melakukan

kesalahan,

mengalahkan figur orang tuanya sendiri.

3. Aktivitas Akhir Pembelajaran

bahkan

tidak

jarang

figur

guru

dapat

Selanjutnya langkah-langkah yang perlu ditempuh setelah proses belajar

mengajar selesai, guru harus melakukan evaluasi, analisis hasil evaluasi dan

melakukan tindak lanjut hasil evaluasi.

1) Melaksanakan Evaluasi

Kegiatan akhir dari proses belajar diantaranya adalah melaksanakan evaluasi

untuk memperoleh, menganalisis dan menafsirkan data tentang proses hasil belajar

siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, untuk menjadi

bahan informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan, pemberian umpan

balik, pemberian informasi kepada siswa tentang tingkat keberhasilan belajarnya,

juga untuk memberikan laporan kepada orang tuanya.

Penilaian dapat dilakukan dengan cara tes dan non tes yang mencakup aspek

kemampuan, pengetahuan, keterampilan dan sikap. Pelaksanaan penilaian dapat

dilakukan dengan berbagai cara, bisa dilaksanakan sebelum proses belajar mengaiar,

yang disebut free test maksudnya untuk mengetahui sejauh mana bahan lalu telah

dikuasai siswa, bisa dilaksanakan saat proses belajar mengajar sedang berlangsung

atau penilaian proses dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara lisan

dimana

tes

lisan

memiliki

kelebihan

yaitu

dapat

menilai

kemampuan

dan

meningkatkan pengetahuan yang dimiliki siswa, sikap serta kepribadiannya, karena

31

berhadapan langsung, tes ini juga menolong siswa yang mengalami kesulitan

memahami soal, karena bisa bertanya langsung. Sedangkan kelemahannya ialah

subjektivitasnya sangat tinggi, juga waktu yang diperlukan cukup lama untuk dapat

mengetes seluruh siswa. Selain tes lisan ada juga melalui tes pembuatan, dan

kunjungan rumah (observasi).

Tes

perbuatan

merupakan

tes

yang

pelaksanaannva

dinyatakan

dengan

perbuatan atau penampilan yang dilakukan sejak siswa melakukan persiapan,

melaksanakan, sampai hasil akhir yang dicapai. Untuk penilaian ini umumnya

diperlukan sebuah format pengamatan yang bentuknya dibuat sedemikian rupa

sehingga guru dapat menuliskan nilai pada tempat yang sudah disediakan.

Teknik penilaian observasi dilakukan guru untuk mendapat informasi tentang

siswa dengan cara mengamati tingkah laku dan kemampuannya selama kegiatan

observasi

berlangsung.

Dalam

kegiatan

observasi

perlu

dipersiapkan

format

pengamatan diantaranya berisi prilaku-prilaku, batas waktu pengamatan.

2) Analisis Hasil Evaluasi

Kegiatan menganalisis hasil evaluasi yaitu berupa kegiatan menganalisa butir soal, agar diperoleh soal yang bermutu. Soal yang bermutu adalah soal yang dapat memberikan informasi setepat-tepatnya sesuai dengan tujuan yang diharapkan sejak penyusunan administrasi pembelajaran, diantaranya untuk menentukan siswa mana yang sudah sesuai dengan tuntutan kompetensi atau belum mencapai harapan yang tertera dalam kompetensi. Bila sudah memperoleh standar kompetensi berarti siswa tersebut sudah belajar tuntas, namun apabila siswa belum mencapai standar kompetensi yang diujikan berarti siswa belum belajar tuntas dan perlu diadakan perbaikan-perbaikan melalui tindakan lanjutan yang berupa remidial. Dengan cara menganalisa hasil evaluasi akan diketahui butir-butir soal mana yang belum dikuasai siswa dan soal-soal yang sudah dikuasai siswa dengan cara membandingkan soal-soal yang dijawab oleh siswa dengan benar dan soal- soal yang dijawab oleh siswa tapi masih salah. Bila standar yang dijawab oleh siswa belum mencapai minimal 60% berarti guru harus melaksanakan penjelasan

32

ulang pada materi yang belum dikuasai siswa. Namun apabila soal-soal yang

dijawab oleh siswa telah mencapai lebih dari 60% berarti pokok bahasan pada

materi pelajaran perlu dilanjutkan. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan

oleh Safari (2003:84) "Soal yang bermutu adalah soal yang dapat memberikan

informasi setepat-tepatnya sesuai dengan tujuannya diantaranya dapat menentukan

siswa mana yang sudah atau belum menguasai materi yang diajarkan".

3) Melaksanakan Remidial Hasil Pelajaran

Bagi siswa yang lambat belum mencapai ketuntasan dalam belajar masih

diberikan kesempatan untuk menguasai materi pelajaran maka diadakan

pembelajaran remidial sesuai dengan yang dikemukakan oleh Made Alit Mariana

(2003 : 6) sebagai berikut:

"Dalam pelaksanaannya tidak semua siswa mencapai ketuntasan dalam belajar, artinya ada siswa yang tidak mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan dalam pelaksanaan pembelajaran yang biasa dilaksanakan. Untuk memberikan kesempatan agar siswa yang lambat

mencapai ketuntasan menguasai materi pelajaran

".

Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar peranan guru harus memahami

pribadi serta potensi yang dimiliki siswa secara tepat, kesulitan-kesulitan apa yang

dihadapi

siswa

yang

sebenaraya,

siswa

harus

diberi

kesempatan

untuk

mengembangkan

potensi

yang

dimilikinya,

guru diharapkan

bisa

merancang

ketuntasan belajar yang harus dicapai siswa, seperti dikemukakan oleh MA

Mariana (2003 : 6) yaitu:

a) Penentuan ketuntasan pokok bahasan materi pelajaran yang harus dituntaskan oleh siswa.

b) Merencanakan ketuntasan yaitu dengan cara memenggal berupa bagianbagian pokok bahasan yang harus dicapai siswa yang berurutan.

c) Pembelajaran untuk ketuntasan yaitu guru merancang hal-hal yang akan dipelajari siswa sebagai acuan dalam belajar tuntas, cara siswa mempelajarinya agar tuntas.

d) Penentuan peringkat pencapaian siswa, yaitu melaksanakan evaluasi terhadap pencapaian siswa, terutama pencapaian secara individual. Siswa dibuat peringkatnya berdasarkan pada hal-hal yang telah dipelajarinya atau dikuasainya sesuai dengan standar kompetensi yang ditentukan.

BAB III

METODOLOGI DAN PROSEDUR PENELITIAN

A.Metode Penelitian

Dalam memecahkan masalah penelitian sangat perlu menggunakan

metode yang tepat dan sesuai dengan masalah yang diteliti, agar masalah tersebut

bisa akurat dalam pemecahannya. Berdasarkan hal tersebut, penulis

menggunakan metode penelitian deskriptif. Mengenai hal ini Suryabrata

(1983:19) mendefinisikan metode penelitian deskriptif sebagai berikut:

" penelitian

pecandraan (deskripsi) mengenai situasi-situasi sebagai berikut:

deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk membuat

Penelitian deskriptif mengambil masalah atau memusatkan perhatian kepada masalah-masalah aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian dilaksanakan. Mengingat sifatnya yang demikian maka penelitian deskriptif dalam pendidikan lebih berfungsi untuk pemecah masalah praktis pendidikan sedikit sekali fungsinya dalam pengembangan ilmu. Mengacu pada penjelasan di atas, dengan metode deskriptif ini penulis

berusaha menggambarkan atau melukiskan situasi-situasi atau kejadian pada

masa sekarang dan penulis berusaha memperoleh informasi secara lengkap

tentang masalah yang hendak diteliti dengan menggunakan langkah-langkah

yang tepat. Langkah-langkah ini tidak terbatas pada proses penyimpulan data

saja,

tetapi

meliputi

analisis,

diperoleh. Sehingga penelitian

masalah yang diteliti.

B.Populasi dan Sampel

interpretasi

ini

dapat

dan

kesimpulan

dari

data

yang

menjelaskan

atau menggambarkan

Populasi dan sampel merupakan sumber yang sangat penting untuk

penulisan karya ilmiah. Populasi dan sampel merupakan sumber data dalam

penelitian. Sehubungan populasinya hanya 10 (sepuluh) orang maka agar akurat

penelitian ini seluruh populasi dijadikan sampel penelitian. Dalam hal ini adalah

guru SDN 2 Tawang Banteng UPTD Pendidikan TK, SD dan PLS Kecamatan

Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya.

33

34

C. Alat Pengumpul Data

Untuk

sebagai berikut:

mengumpulkan

1. Wawancara

data

dalam

penelitian

ini

menggunakan

alat

Wawancara ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan yang dapat berguna

dan menunjang tujuan penelitian.

2. Pemeriksaan Dokumen

Pemeriksaan

dokumen

merupakan

alat

yang

lebih

spesifik

pembuktian

pekerjaan guru dalam masalah penelitian ini, sehingga hasil penelitian lebih

akurat akan kebenaran data dalam menjawab tujuan penelitian.

3. Angket

Angket atau quesioner adalah seperangkat pertanyaan dan pernyataan yang

harus dijawab oleh responden. Jenis angket yang digunakan adalah angket

tertutup.

D. Prosedur Penelitian

1. Penyusunan Angket

a. Merumuskan spesifikasi data

b. Menuangkan ke dalam kisi-kisi penyusunan angket

c. Menyusun angket

d. Uji coba angket

2. Pelaksanaan Pengumpulan Data

a. Penyerahan angket Angket diserahkan kepada seluruh guru untuk diisi, dalam waktu relatif singkat angket tersebut dikumpulkan lagi, ditampung kembali untuk dilakukan pengolahan selanjutnya.

b. Melakukan wawancara dengan guru-guru di kelas sambil melihat

dokumen yang ada dan dimiliki serta dibuat olehnya setiap hari (waktu

tertentu)

35

3. Pengolahan data

a. Memeriksa data, setelah angket terkumpul dari sampel sumber data, maka

angket diseleksi untuk diperiksa keabsahannya.

b. Tabulasi data, memberikan nilai pada tiap-tiap butir pernyataan dalam angket

sesuai dengan jawaban responden, kemudian nilai yang masih mentah

tersebut dibuat dalam bentuk tabel.

c. Penafsiran data, yaitu untuk menjelaskan data yang sudah diperoleh

berdasarkan prosentase dari alternatif jawaban. Adapun rumus

yang

digunakan untuk menafsirkan data adalah sebagai berikut:

F x100 = %

N

Keterangan :

F

= Frekuensi jawaban

N

= Jumlah responden

100

= Bilangan tetap

%

= Prosentase yang dicari

BAB IV

HASIL DAN PENGOLAHAN PENELITIAN

A. Teknik Pengolahan Data

Teknik perhitungan data dimaksudkan untuk mengolah data yang diperoleh

sehingga dapat memberikan arti yang diharapkan yaitu dapat menggambarkan

tentang aktivitas yang berupa perhatian guru terhadap siswa dalam proses belajar

mengajar di SDN 2 Tawang Banteng UPTD Pendidikan TK, SD dan PLS

Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya.

B. Pengolahan Data

1. Jawaban responden atas pertanyaan tentang perlengkapan administrasi apakah

yang perlu dipersiapkan sebelum proses belajar mengajar? Hasil jawaban yang

masuk sebagaimana pada tabel di bawah ini :

Tabel 1

No

Alternatif Jawaban

f

%

a

Alat peraga, jadwal pelajaran, materi pelajaran, buku sumber, kurikulum, kalender pendidikan dll

8

80

b

Meja kursi siswa, ruang belajar, ruang kepala sekolah

1

10

c

Papan tulis, alat tulis, perlengkapan laboratorium, ruang perpustakaan

1

10

 

Jumlah

10

100

Berdasarkan

tabel

di

atas

sebagian besar

yaitu

mencapai

80% bahwa

mengajar adalah alat peraga, jadwal pelajaran, materi pengajaran, buku sumber,

kurikulum, kalender pendidikan. Sebagian kecil (10%) pendapat responden yaitu

meja kursi siswa, ruang belajar, ruang kepala sekolah, dan ada pula (10%)

responden menentukan papan tulis, alat tulis, perlengkapan laboratorium, ruang

perpustakaan sebagai kelengkapan administrasi belajar.

Maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar administrasi pengajaran yang

perlu dipersiapkan oleh guru sebelum proses belajar mengajar adalah alat peraga,

jadwal pelajaran, materi pengajaran, buku sumber, kurikulum, kalender pendidikan.

36

37

2. Jawaban responden atas pertanyaan tentang kegiatan apa yang dilakukan dalam

menyiapkan perencanaan pengajaran sebelum proses belajar mengajar dimulai?

Hasil jawaban yang masuk sebagaimana pada tabel di bawah ini:

Tabel 2

No

 

Alternatif Jawaban

 

f

%

 

a

Menyusun program pengajaran, memperhatikan jadwal pelajaran, mengkaji materi, menentukan model pembelajaran, dan menyusun lembar proses penilaian

 

4

40

b

Mengabsen siswa, menarik tabungan, membersihkan kelas

5

50

c

Membariskan, memeriksa kuku dan gigi siswa

 

1

10

 

Jumlah

 

10

100

 

Berdasarkan

tabel

di

atas

sebagian

besar

50%

guru

dalam

menyapkan

perencanaan

pengajaran

sebelum

proses belajar mengajar dimulai

adalah

yaitu

mengabsen siswa, menarik tabungan, membersihkan kelas. Sebagian kecil (40%)

menyusun program pengajaran, memperhatikan jadwal pelajaran, mengkaji materi,

menentukan model pembelajaran, dan menyusun lembar proses penilaian, dan paling

kecil (10%) membariskan, memeriksa kuku dan gigi siswa.

Maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden dalam menyiapkan

rencana pengajaran adalah mengutamakan mengabsen siswa, menarik tabungan,

membersihkan kelas.

3. Jawaban responden atas pertanyaan tentang dengan siapa berkonsultasi dalam

mempersiapkan perlengkapan dan perencanaan pengajaran? Hasil jawaban yang

masuk sebagaimana pada tabel di bawah ini:

Tabel 3

No

Alternatif Jawaban

f

%

a

Rekan guru-guru

7

70

b

Dengan penjaga sekolah

-

-

c

Dengan kepala sekolah

3

30

 

Jumlah

10

100

38

Sebagian besar guru mempersiapkan perlengkapan dan perencanaan pengajaran

berkonsultasi dengan rekan guru dan sebagian kecil dengan kepala sekolah dan tak

ada seorangpun yang berkonsultasi dengan penjaga.

Maka dapat disimpulkan bahwa responden dalam mempersiapkan perlengkapan

dan perencanaan pengajaran 70% berkonsultasi dengan rekan guru-guru. Dan hanya

30% yang berkonsultasi dengan kepala sekolah. Hal ini menunjukan guru masih

kurang berani melakukan konsultasi dengan atasan.

4. Jawaban responden atas pertanyaan tentang dalam pembuatan silabus/model

pembelajaran, siapa yang menjadi teman bekerjasama (berkonsultasi) ? Hasil jawaban

yang masuk sebagaimana pada tabel di bawah ini:

Tabel 4

No

Alternatif Jawaban

f

%

a

Rekan guru-guru

3

30

b

Kepala Sekolah

4

40

c

Pengawas TK/SD

2

20

d

Pemandu Mata Pelajaran di Gugus

1

10

 

Jumlah

10

100

Sebagian besar (40%) responden dalam membuat model pembelajaran/ silabus

selalu berkonsultasi dengan kepala sekolah, sebagian (30%) dengan teman guru-guru,

yang berkonsultasi dengan Pengawas TK/SD hanya (20%) dan yang memanfaatkan

pemandu mata pelajaran di gugus sekitar (10%).

Maka dapat

disimpulkan

bahwa

guru-guru masih

kurang memanfaatkan

pemandu mata pelajaran dalam membuat silabus/model pembelajaran, hal ini terlihat

dari analisa tabel di atas.

5. Jawaban responden atas pertanyaan tentang apa yang perlu disiapkan dalam

menyiapkan perencanaan penilaian proses? Hasil jawaban yang masuk sebagaimana

pads tabel di bawah ini:

39

Tabel 5

No

 

Alternatif Jawaban

 

f

%

 

a

Lembar kerja siswa

 

2

20

b

Lembar soal tes tertulis

 

1

10

c

Lembar kebutuhan siswa

 

1

10

d

Lembar pengamatan

 

5

20

e

Lembar kumpulan pekerjaan siswa

 

1

10

 

Jumlah

 

10

100

 

Secara

umum

(50%)

dalam

menyiapkan

perencanaan

penilaian

proses

menyiapkan lembar pengamatan, responden yang menyiapkan lembar kerja siswa

hanya (20%), yang menyiapkan lembar kebutuhan siswa (10%) juga untuk masing-

masing lembar soal tes dan lembar kumpulan pekerjaan siswa.

Maka dapat disimpulkan bahwa guru-guru dalam menyiapkan alat untuk

penilaian proses lebih berminat untuk mempersiapkan lembar pengamatan, bahkan

bisa dikatakan masih kurang minat untuk membuat lembar kerja siswa.

7.Jawaban responden atas pertanyaan tentang apa yang dilakukan dalam persiapan

awal pelaksanaan proses belajar mengajar ? Hasil jawaban yang masuk sebagaimana

pads tabel di bawah ini:

Tabel 6

No

Alternatif Jawaban

f

%

a

Mengatur siswa

3

30

b

Mengelola kelas

1

10

c

Mengabsen siswa

1

10

d

Menarik tabungan

4

40

e

Langsung pelaksanaan proses belajar mengajar

1

10

 

Jumlah

10

100

Sebagian

besar

(40%)

pada

responden

menarik

uang

tabungan,

awal

pelaksanaan

(30%)

responden

proses

belajar

mengajar

mengatur

siswa,

yang

40

melakukan pengabsenan, yang mendahulukan mengelola kelas dan yang langsung

melaksanakan pembelajaran masing-masing (10%).

Maka

dapat

disimpulkan

bahwa

umumnya

kegiatan

guru

pada

awal

pelaksanaan proses belajar mengajar adalah menarik tabungan dari siswa.

7. Jawaban responden atas pertanyaan tentang apa yang dilakukan pada awal

pelaksanaan proses belajar mengajar? Hasil jawaban yang masuk sebagaimana pada

tabel di bawah ini:

Tabel 7

No

Alternatif Jawaban

f

%

a

Mengecek kehadiran, mencatat dan mengumpulkan informasi data siswa

5

50

b

Langsung mengajar

3

30

c

Memilih materi pelajaran yang akan disampaikan

2

20

 

Jumlah

10

100

Sebagian kecil (20%) responden pada awal pelaksanaan proses belajar

mengajar melakukan kegiatan memilih materi yang akan disampaikan, sebagian besar

(50%) mengecek kehadiran, mencatat dan mengumpulkan informasi data siswa, dan

yang langsung melakukan pembelajaran hanya (30%) dari responden.

Maka dapat disimpulkan bahwa umumnya guru-guru SDN 2 Tawang Banteng

pada awal pelaksanaan proses belajar mengajar mengecek kehadiran, mencatat dan

mengumpulkan informasi data siswa.

8. Jawaban responden atas pertanyaan tentang pendekatan pembelajaran yang

disiapkan sejak awal penyusunan perangkat pembelajaran? Hasil jawaban yang

masuk sebagaimana pada tabel di bawah ini :

Tabel 8

<