Anda di halaman 1dari 3

Transplantasi organ adalah sebuah metode terapeutik yang memiliki potensi paling

tinggi dalam meningkatkan taraf hidup pasien kegagalan organ. Walaupun saat ini
transplantasi masih belum menjadi pilihan utama bagi sebagian besar rakyat Indonesia,
namun dengan beberapa usaha seperti menciptakan infra dan suprastruktur berupa sistem
transplantasi dan pendekatan edukasi mendasar kepada masyarakat luas, di masa mendatang
metode ini dapat menjadi ujung tombak penyelamatan kualitas hidup pasien pasca kegagalan
organ.
Transplantasi organ dapat dikategorikan menjadi 4 berdasarkan donornya:
1. Pertama, autograft, yaitu transplantasi organ yang berasal dari dirinya sendiri;
2. Kedua, isograft, yang berasal dari manusia yang memiliki kesamaan genetik, seperti
kembar identik;
3. Ketiga, allograft, yang berasal dari manusia yang memiliki perbedaan genetik,
contohnya orangtua, anak, atau orang lain; dan
4. Ke empat, xenograft, yang berasal spesies lain atau benda buatan manusia.
Transplantasi juga dapat dibagi 2 berdasarkan keadaan donator organ, yaitu donor hidup
(living donor) dan donor mati (deceased donor).
Indikasi utama transplantasi adalah kegagalan organ yang irreversible, dimana fungsi
organ tersebut tidak dapat dikembalikan seperti semula. Pada organ ginjal, penyebab
kegagalan sering terkait dengan umur pasien, seperti pada pasien pediatrik, deformitas dan
kelainan genetik adalah penyebab utamanya,sedangkan glomerulonephritis dan penyakit
cystic kidney merupakan alasan terbanyak kegagalan ginjal pada usia lanjut.
Secara statistik, kebutuhan akan ginjal menempati peringkat pertama, berdasarkan data
dari organisasi Eurotransplant, jumlah organ dari deceased donor yang didonasikan per
tahunnya 3738 organ (49.9%), kemudian liver di tempat kedua, 1739 organ (23.2%), dan
jantung di tempat ketiga, 1111 organ (14.8%). Selain ketiga organ tersebut, masih ada organ
lain yang dapat ditransplantasikan, seperti paru-paru, usus, dan pankreas
Eurotransplant adalah sebuah organisasi yang beranggotakan Belanda, Belgia,
Luxemburg, Jerman, Austria, Slovenia, dan Kroasia, yang memediasi antara donor dan
resipien organ dan mengkhususkan diri dalam pengalokasian dan pendistribusian organ.
Badan ini juga menyediakan berbagai data transplantasi termasuk angka kebutuhan organ
dalam bentuk waiting list patient dan kebutuhan per organ.
Kenyataannya, sulitnya mengakses data kegagalan organ di Indonesia menyebabkan
ignoransi publik terhadap jumlah kegagalan organ di Indonesia yang mungkin melebihi
jumlah angka di atas, karena jumlah penduduk Indonesia 237,641,326 jiwa pada tahun 2010
menurut BPS, sedangkan jumlah penduduk negara anggota Eurotransplant hanya
124,880,241 jiwa pada survei tahun 2009. Jadi, dapat dibayangkan kemungkinan jumlah
kegagalan organ yang mungkin diderita oleh penduduk Indonesia saat ini, tetapi sayangnya,
sebagian besar kasusnya tak tercatat dan tak tertolong karena minimnya infrastruktur dan
donasi organ.
Praktisi transplantasi saat ini lebih menganjurkan transplantasi organ yang berasal dari
living donor daripada deceased donor karena organ yang berasal dari living donor memiliki
organ survival rates yang lebih baik daripada organ yang berasal dari deceased donor,
terutama organ ginjal.
Resipien ginjal yang berasal dari deceased donor saat ini memiliki probabilitas 90%
untuk tetap mempertahankan ginjalnya dalam rentang waktu 1 tahun dan mereka memiliki
10-15 tahun dalam keadaan bebas dialisis.
Sedangkan, pasien yang menerima ginjal dari living donor, memiliki 95% peluang untuk
tetap memiliki ginjal mereka dalam setahun, dengan setengah populasi dapat
mempertahankan umur ginjalnya hingga 20 tahun pasca operasi
Ada beberapa persyaratan ekstra selain persyaratan di atas untuk melakukan transplantasi
organ dari living donor: resiko minimum terhadap donor, donor harus mendapatkan informasi
tentang resiko jangka pendek maupun panjang, keputusan untuk mendonasikan organ murni
keputusan sukarela oleh donor, dan terakhir, probabilitas kesembuhan resipien harus tinggi.
Sebelum operasi donor dan resipien diharuskan melakukan berbagai macam tes, seperti
tes psikologi untuk menilai kondisi mental donor dan resipien dan apakah mereka melakukan
tindakan ini murni atas dasar kebaikan bagi sesama (altruisme) atau komersial.
Berbagai negara Eropa telah meratifikasi undang-undang yang mengatur perdagangan
organ sebagai tindakan ilegal. Kemudian, dokter penanggung jawab dan laboratorium
melakukan pemeriksaan awal, untuk memverifikasi riwayat kesehatan donor dan resipien.
Pemeriksaan awal : sejarah kesehatan secara singkat, seperti umur dan tinggi/berat badan,
riwayat diabetes, kanker, hipertensi, dan gangguan ginjal, dan terakhir kebiasaan merokok.
Kemudian evaluasi laboratorium terhadap tekanan darah, protein urin, dan golongan darah
dan human leukocyte antigen (HLA)
Kontra indikasi tersebut adalah perbedaan golongan darah ABO, usia yang terlampau
lanjut ataupun muda, obesitas, dan pasien dengan diabetes dan atau hipertensi.
Setelah operasi, pemeriksaan secara intensif dilakukan kepada resipien untuk mendeteksi
adanya reaksi penolakan (rejection), organ yang non-fungsional, dan infeksi pasca operasi.
Dokter bersama dengan laboratorium akan melakukan observasi secara ketat selama 2
minggu di rumah sakit dan sampai 1 tahun sejak pasien pulang, setelah itu pasien diwajibkan
melakukan kontrol secara berkala dan diharapkan terus berkonsultasi tentang kondisinya.
Secara perlahan, kondisi resipien akan membaik daripada saat sebelum transplantasi, akan
tetapi hal ini bukan berarti kondisi tubuh pasien kembali ke kondisi semula. Resipien akan
menjadi lebih rentan terhadap infeksi sebagai efek samping dari obat imunosupresan yang
digunakan untuk menekan penolakan tubuh terhadap organ baru. Selain itu masih ada lagi
resiko lain sebagai akibat dari kegagalan organ sebelum proses transplantasi seperti penyakit
kardiovaskuler dan efek samping dari transplantasi dan obat-obatnya, seperti hipertensi dan
diabetes. Oleh karena itu, sebelum pasien pulang akan disarankan oleh dokter untuk memulai
gaya hidup dan diet sehat untuk menjaga kondisi tubuhnya.

Sabiston, David.2011. Buku Ajar Bedah Edisi ke 3. EGC.Jakarta.
http://who.int/transplantation/en/ ( diakses pada 30 April 2014, pukul 18:16 )
http://who.int/transplantation/activities/GlobalGlossaryonDonationTransplantation.pdf ( di akses
pada 30 April 2014, pukul 01:03 )