Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kepentingan usaha pertambangan dan pelestarian lingkungan tak ubahnya bagaikan
sebuah paradoks. Di satu sisi pertambangan dibutuhkan demi pembangunan, tetapi di sisi lain
lingkungan jadi rusak akibat aktivitas pertambangan yang tidak menerapkan teknologi
bersamaan dengan pengelolaan lingkungan yang baik.
Dampak kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan pertambangan salah
satunya adalah pembbuangan tailing ke perairan atau daratan. Ketika tailing dari hasil
pertambangan dibuang di badan air atau daratan limbah unsur pencemar kemungkinan
tersebar di sekitar wilayah tersebut dan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan.
Bahaya pencemaran lingkungan oleh arsen (As), merkuri (Hg), timbal (Pb), dan
kadmium (Cd) mungkin terbentuk jika tailing yang mengandung unsur-unsur tersebut tidak
ditangani secara tepat. Terutama di wilayah tropis dimana tingginya tingkat pelapukan
kimiawi dan aktivitas biokimia akan menunjang percepatan mobilisasi unsur-unsur
berpotensi racun. Salah satu akibat yang merugikan dari arsen bagi kehidupan manusia
adalah apabila air minum mengandung unsur tersebut melebihi nilai ambang batas; dengan
gejala keracunan kronis yang ditimbulkannya pada tubuh manusia berupa iritasi usus,
kerusakan syaraf dan sel.
Salah satu perusahaan tambang di Indonesia yang banyak memberikan kerusakan bagi
lingkungan akibat limbah tailing-nya adalah PT. Freeport yang mengangkangi tambang emas
terbesar di dunia dengan cadangan terukur kurang lebih 3046 ton emas, 31 juta ton tembaga,
dan 10 ribu ton lebih perak tersisa di pegunungan Papua.
Prediksi buangan tailing dan limbah batuan hasil pengerukan cadangan terbukti
hingga 10 tahun ke depan adalah 2.7 milyar ton. Sehingga untuk keseluruhan produksi di
wilayah cadangan terbukti, PT. Freeport Indonesia akan membuang lebih dari 5 milyar ton
limbah batuan dan tailing. Untuk menghasilkan 1 gram emas di Grasberg, yang merupakan
wilayah paling produktif, dihasilkan kurang lebih 1.73 ton limbah batuan dan 650 kg tailing.
Bisa dibayangkan, jika Grasberg mampu menghasilkan 234 kg emas setiap hari, maka akan
dihasilkan kurang lebih 15 ribu ton tailing per hari. Jika dihitung dalam waktu satu tahun
mencapai lebih dari 55 juta ton tailing dari satu lokasi saja.
Berdasarkan fakta di atas sudah sewajarnya kita membahas lebih lanjut mengenai apa
Maksud dan Tujuan
Maksud dari disusunnya makalah ini adalah untuk manganalisis mengenai dampak dan
upaya pengelolaan limbah dari aktivitas tambang yang dikaitkan dengan strategi pengelolaan
lingkungan hidup.
Sedangkan tujuan dari disusunnya makalah ini adalah untuk :
Mengetahui jenis limbah yang dihasilkan oleh aktivitas tambang di P.T. Freeport
Indonesia.
Menganalisis dampak dari limbah yang dihasilkan oleh P.T. Freeport Indonesia.
Menganalisis upaya yang bisa dilakukan untuk menghindari kerusakkan akibat limbah
tambang P.T. Freeport Indonesia dikaitkan dengan strategi pengelolaan lingkungan hidup.
Menyadari pentingnya strategi pengelolaan lingkungan hidup untuk menangani
masalah pencemaran lingkukngan hidup.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Limbah Tambang
Tailing adalah satu jenis limbah yang dihasilkan oleh kegiatan
tambang. Selain tailing kegiatan tambang juga menghasilkan limbah lain
seperti; limbah batuan keras (overburden), limbah minyak pelumas,
limbah kemasan bahan kimia dan limbah domestik. Limbah-limbah itu
baru satu bagian dari permasalahan pertambangan yang ada.
Tailing, dalam dunia pertambangan selalu menjadi masalah serius.
Limbah yang menyerupai lumpur, kental , pekat, asam dan mengandung
logam-logam berat itu berbahaya bagi keselamatan makhluk hidup.
Apalagi jumlah tailing yang dibuang oleh setiap perusahaan tambang
mencapai ribuan ton perhari. Bahkan dibeberapa tempat penambangan
seperti PT. Freeport Indonesia jumlah tailing yang dibuang mencapai
ratusan ribu ton setiap hari.
Dalam kegiatan pertambangan skala besar, pelaku tambang selalu
mengincar bahan tambang yang tersimpan jauh di dalam tanah, karena
jumlahnya lebih banyak dan memiliki kualitas lebih baik.Untuk mencapai
wilayah konsentrasi mineral di dalam tanah, perusahaan tambang
melakukan penggalian dimulai dengan mengupas tanah bagian atas yang
disebut tanah pucuk (top soil). Top Soil kemudian disimpan di suatu
tempat agar bisa digunakan lagi untuk penghijauan pasca penambangan.
Setelah pengupasan tanah pucuk, penggalian batuan tak bernilai
dilakukan agar mudah mencapai konsentrasi mineral. Karena tidak
memiliki nilai, batu-batu itu dibuang sebagai limbah dan disebut limbah
batuan keras (overburden).
Tahapan selanjutnya adalah menggali batuan yang mengandung
mineral tertentu, untuk selanjutnya dibawa ke processing plant dan
diolah. Pada saat pemrosesan inilah tailing dihasilkan. Sebagai limbah sisa
batuan dalam tanah, tailing pasti memiliki kandungan logam lain ketika
dibuang. Tailing hasil penambangan emas biasanya mengandung mineral
inert (tidak aktif). Mineral itu antara lain; kwarsa, klasit dan berbagai jenis
aluminosilikat. Walau demikian tidak berarti tailing yang dibuang tidak
berbahaya, sebab tailing hasil penambangan emas mengandung salah
satu atau lebih bahan berbahaya beracun seperti; Arsen (As), Kadmium
(Cd), Timbal (pb), Merkuri (Hg) Sianida (Cn) dan lainnya. Logam-logam
yang berada dalam tailing sebagian adalah logam berat yang masuk
dalam kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Pada awalnya
logam itu tidak berbahaya jika terpendam dalam perut bumi. Tapi ketika
ada kegiatan tambang, logam-logam itu ikut terangkat bersama batu-
batuan yang digali, termasuk batuan yang digerus dalam processing
plant. Logam-logam itu berubah menjadi ancaman ketika terurai di alam
bersama tailing yang dibuang.

2.1 Arsen (As)


Unsur ini merupakan salah satu hasil sampingan dari proses pengolahan bijih logam
non-besi terutama emas, yang mempunyai sifat sangat beracun dengan dampak merusak
lingkungan.
Terdapat lebih dari 25 mineral mengandung As berupa arsenida atau sulfida dengan
mineral-mineral yang dikenal seperti: arsenopirit (FeAsS), lollingit (FeAs2), smaltit (CoAs2),
nikolit (NiAs), tennantit (Cu8As3S7), enargit (Cu3AsS4), proustit (Ag3AsS), realgar
(As4S4), dan orpimen (As2S3). As digunakan untuk campuran logam lain (Pb) dalam
pembuatan shot (partikel bundar berukuran pasir) dan insektisida berbentuk arsenat–Ca dan
Pb. Arsen putih (As2O3) biasanya digunakan untuk membasmi rumput liar; sementara
senyawa arsenik tertentu dimanfaatkan dalam peleburan gelas, pengawet kayu dan kulit,
bahan pencelup, pigmen, obat-obatan, petasan/kembang api, dan bahan kimia.
Penambangan cebakan logam mengandung As dan pembuangan tailing dengan
keterlibatan atmosfir akan mempercepat mobilisasi unsur tersebut dan selanjutnya memasuki
sistem air permukaan atau merembes ke dalam akifer-akifer air tanah setempat. Akibat
merugikan dari arsen bagi kesehatan manusia adalah apabila terkandung >100 ppb dalam air
minum; dengan gejala keracunan kronis berupa iritasi usus, kerusakan syaraf dan sel,
kelainan kulit atau melanoma serta kanker usus. Ini terjadi di negara-negara yang
memproduksi emas dan logam dasar di antaranya Afrika selatan, Zimbabwe, India, Thailand,
Cina, Filipina, dan Meksiko.

2.2 Merkuri (Hg)


Semua cebakan merkuri terbentuk dari larutan hidrotermal di dalam segala jenis batuan
yang diakibatkan oleh kegiatan vulkanisma Tersier. Hg juga dapat terbentuk sebagai unsur
jejak (trace element) pada kebanyakan cebakan mineral lainnya. Mineral-mineral yang
mengandung merkuri (Hg) adalah sinabar, metasinabarit, kalomel, terlinguait, eglestonit,
montroidit, dan merkuri murni. Pada usaha pertambangan logam mulia dengan metoda
pengolahan amalgamasi, merkuri atau quicksilver (berbentuk cair) digunakan dalam jumlah
besar sebagai bahan pelarut/penangkap emas dan perak (Jensen et al., 1981). Proses
pengolahan ini menjadi sorotan karena menghasilkan tailing dengan kandungan Hg
signifikan.
Merkuri (Hg) yang terbentuk sebagai fraksi halus, unsur jejak, dan ion seharusnya
diwaspadai apabila terakumulasi dalam jumlah signifikan karena dapat berdampak merugikan
bagi lingkungan hidup. Unsur ini telah dikenal sebagai bahan bersifat racun mematikan
apabila:
1. Terdapat dengan kandungan melebihi ambang batas dalam biji-bijian, binatang
pemakan biji-bijian tersebut dan tubuh ikan yang berada dalam air tercemar merkuri.
Kasus penimbunan senyawa merkuri oleh ikan karena binatang ini mengkonsumsi
organisma planktonik mengandung ion-ion merkuri dalam air tercemar tersebut.
Ikan atau jenis makanan apapun dengan kandungan > 0,5 ppm Hg harus dilarang
dipasarkan dan termasuk air dengan kandungan < 1 mg Hg/dm3.
2. Berupa senyawa metil-merkuri yang dihasilkan oleh proses metilasi dalam air sungai
dan danau berpH rendah, yang berlangsung berkesinambungan atau sewaktu-waktu.
Senyawa ini terbentuk karena melarutnya Hg2+ dari sedimen melalui pertukaran ion
pada lingkungan air berkonsentrasi tinggi ion hidrogen dan kemudian meningkatnya
sintesis metil-merkuri oleh mikro-organisma. Konsentrasi senyawa tersebut dalam
organisma aquatik beraneka ragam karena tergantung kegiatan metabolisma dan
rata-rata rentang hidup dari spesies organisma bersangkutan; sementara pada tubuh
ikan mencapai 60–90% karena daya serapnya yang tinggi. Keracunan oleh merkuri
nonorganik terutama mengakibatkan terganggunya fungsi ginjal dan hati.
Disamping itu akan mengganggu sistem enzim dan mekanisma sintetik apabila berupa
ikatan dengan kelompok sulfur di dalam protein dan enzim. Merkuri (Hg) organik dari jenis
metil-merkuri dapat memasuki placenta dan merusak janin pada wanita hamil, mengganggu
saluran darah ke otak serta menyebabkan kerusakan otak.

2.3 Timbal (Pb)


Unsur Pb umumnya ditemukan berasosiasi dengan Zn - Cu dalam tubuh bijih. Logam
ini penting dalam industri modern yang digunakan untuk pembuatan pipa air karena sifat
ketahanannya terhadap korosi dalam segala kondisi dan rentang waktu lama. Pigmen Pb juga
digunakan untuk pembuatan cat, baterai, dan campuran bahan bakar bensin tetraethyl (Jensen
et al., 1981). Pemanfaatan pada bahan bakar bensin telah mengalami penurunan karena
menimbulkan dampak terhadap lingkungan.
Bijih logam timbal (Pb) dapat terbentuk dalam cebakan-cebakan seperti stratabound
sulfida massif, replacement, urat, sedimentasi, dan metasomatisma kontak dengan mineral-
mineral utama terdiri atas: galena (PbS), cerusit (PbCO3), anglesit (PbSO4), wulfenit
(PbMoO4), dan piromorfit [Pb5(PO4, AsO4)3Cl]. Larutan pembawa Pb diantaranya: air
connate, air meteorik artesian, dan larutan hidrotermal yang naik ke permukaan; dengan
sebagian besar Pb berasal dari larutan hidrotermal yang membentuk cebakan bijih pada suhu
rendah, berupa pengisian rongga batuan induk.
Pb dalam batuan berada pada struktur silikat yang menggantikan unsur kalsium/Ca, dan
baru dapat diserap oleh tumbuhan ketika Pb dalam mineral utama terpisah oleh proses
pelapukan. Pb di dalam tanah mempunyai kecenderungan terikat oleh bahan organik dan
sering terkonsentrasi pada bagian atas tanah karena menyatu dengan tumbuhan, dan
kemudian terakumulasi sebagai hasil pelapukan di dalam lapisan humus.
Diperkirakan 95% Pb dalam sedimen (nonorganik dan organik) dibawa oleh air sungai
menuju samudera. Pb relatif dapat melarut dalam air dengan pH < 5 dimana air yang
bersentuhan dengan timah hitam dalam suatu periode waktu dapat mengandung > 1 µg
Pb/dm3; sedangkan batas kandungan dalam air minum adalah 50 µg Pb/dm3.
Luasnya penyebaran unsur Pb di alam sebagian besar disebabkan oleh limbah
kendaraan bermotor. Unsur ini mengalami peningkatan ketika melibatkan atmosfir dan
kemudian mencemari tanah serta tanaman. Di daerah padat penduduk (urban), anakanak
menyerap lebih banyak Pb daripada orang dewasa; terutama pada mereka yang kekurangan
gizi dan mempunyai perilaku mengkomsumsi makanan tidak bersih atau berdebu, yang dapat
mengandung beberapa ribu ppm (1.000 – 3.000 µg Pb/kg). Di London Barat, banyak anak-
anak teridentifikasi menderita keracunan akut oleh Pb (O’Neill, 1994).
Mengacu kepada kejadian diatas, maka dispersi unsur Pb dapat juga terjadi akibat
pembuangan tailing dari usaha pertambangan logam. Hal ini harus diwaspadai karena dapat
mencemari lingkungan dengan akibat timbulnya berbagai penyakit berbahaya atau bahkan
kematian. Dampak lebih jauh dari keracunan Pb adalah dapat menyebabkan hipertensi dan
salah satu faktor penyebab penyakit hati. Ketika unsur ini mengikat kuat sejumlah molekul
asam amino, haemoglobin, enzim, RNA, dan DNA; maka akan mengganggu saluran
metabolik dalam tubuh. Keracunan Pb dapat juga mengakibatkan gangguan sintesis darah,
hipertensi, hiperaktivitas, dan kerusakan otak.

2.4 Kadmium (Cd)


Kadmium merupakan hasil sampingan dari pengolahan bijih logam seng (Zn), yang
digunakan sebagai pengganti seng. Unsur ini bersifat lentur, tahan terhadap tekanan, memiliki
titik lebur rendah serta dapat dimanfaatkan untuk pencampur logam lain seperti nikel, perak,
tembaga, dan besi. Senyawa kadmium juga digunakan bahan kimia, bahanMineral-mineral
bijih yang mengandung kadmium diantaranya adalah sulfida green ockite (= xanthochroite),
karbonat otavite, dan oksida kadmium. Mineral-mineral tersebut terbentuk berasosiasi dengan
bijih sfalerit dan oksidanya, atau diperoleh dari debu sisa pengolahan dan lumpur elektrolitik.
Kadmium mempunyai titik didih rendah dan mudah terkonsentrasi ketika memasuki atmosfir.
Air dapat juga tercemar apabila dimasuki oleh sedimen dan limbah pertambangan
mengandung Cd, sementara ketika bercampur dengan asap akan membentuk pencemaran
terhadap udara.
Di Jepang telah terjadi keracunan oleh Cd, yang menyebabkan penyakit lumbago yang
berlanjut ke arah kerusakan tulang dengan akibat melunak dan retaknya tulang (O’Neill,
1994). Organ tubuh yang menjadi sasaran keracunan Cd adalah ginjal dan hati, apabila
kandungan mencapai 200 µg Cd/gram (berat basah) dalam cortex ginjal yang akan
mengakibatkan kegagalan ginjal dan berakhir pada kematian. Korban terutama terjadi pada
wanita pasca menopause yang kekurangan gizi, kekurangan vitamin D dan kalsium.
Penimbunan Cd dalam tubuh mengalami peningkatan sesuai usia yaitu paruh-umur dalam
tubuh pada kisaran 20 – 30 tahun.
BAB III
ANALISIS

3.1 Analisis Limbah P.T. Freeport Indonesia


Sumbangan Freeport terhadap bangkrutnya kondisi alam dan lingkungan sangatlah
besar. Menurut perhitungan WALHI pada tahun 2001, total limbah batuan yang dihasilkan
PT. Freeport Indonesia mencapai 1.4 milyar ton. Masih ditambah lagi, buangan limbah
tambang (tailing) ke sungai Ajkwa sebesar 536 juta ton. Total limbah batuan dan tailing PT
Freeport mencapai hampir 2 milyar ton lebih.
Freeport tidak memenuhi perintah membangun bendungan penampungan tailing yang
sesuai dengan standar teknis legal untuk bendungan, namun masih menggunakan tanggul
(levee) yang tidak cukup kuat. Selain itu Freeport mengandalkan izin yang cacat hukum dari
pegawai pemerintah setempat untuk menggunakan sistem sungai dataran tinggi untuk
memindahkan tailing.
Berdasarkan analisis citra LANDSAT TM tahun 2002 yang dilakukan oleh tim
WALHI, limbah tambang (tailing) Freeport tersebar seluas 35,000 ha lebih di DAS Ajkwa.
Limbah tambang masih menyebar seluas 85,000 hektar di wilayah muara laut, yang jika
keduanya dijumlahkan setara dengan Jabodetabek. Total sebaran tailing bahkan lebih luas
dari pada luas area Blok A (Grasberg) yang saat ini sedang berproduksi. Peningkatan
produksi selama 5 tahun hingga 250,000 ton bijih perhari dapat diduga memperluas sebaran
tailing, baik di sungai maupun muara sungai. Freeport tidak lagi menyebutkan Ajkwa
sebagai sungai, tetapi sebagai wilayah tempatan tailing yang “disetujui” oleh Pemerintah
Republik Indonesia. Freeport bahkan menyebutkan Sungai Ajkwa sebagai sarana
transportasi dan pengolahan tailing hal mana sebetulnya bertentangan dengan hukum di
Indonesia.
Freeport mencemari sistem sungai dan lingkungan muara sungai, yang melanggar
standar baku mutu air sepanjang tahun 2004 hingga 2006. Dan yang tidak kalah parah adalah
membuang Air Asam Batuan (Acid Rock Drainage) tanpa memiliki surat izin limbah bahan
berbahaya beracun. Buangan Air Asam Batuan sudah sampai pada tingkatan yang melanggar
standar limbah cair industri, membahayakan air tanah, dan gagal membangun pos-pos
pemantauan seperti yang telah diperintahkan.
Kandungan logam berat tembaga (Cu) yang melampaui ambang batas yang
diperkenankan. Kandungan tembaga terlarut dalam efluent air limbah Freeport yang
dilepaskan ke sungai maupun ke Muara S. Ajkwa 2 kali lipat dari ambang yang
diperkenankan. Sementara itu untuk kandungan padatan tersuspensi (Total Suspended Solid)
yang dibuang 25 kali lipat dari yang diperkenankan.
Sistem pembuangan limbah Freeport mengancam mata rantai makanan yang terindikasi
kewat kandungan logam berat yaitu selenium (Se), timbal (Pb), arsenik (As), seng (Zn),
mangan (Mn), dan tembaga (Cu) pada sejumlah spesies kunci yaitu: burung raja udang,
maleo, dan kausari serta sejumlah mamalia yang kadangkala dikonsumsi penduduk setempat.
Sistem pembuangan limbah Freeport menghancurkan habitat muara sungai Ajkwa secara
signifikan. Hal ini diindikasikan oleh peningkatan kekeruhan muara dan tersumbatnya aliran
ke muara. Dalam jangka panjang wilayah muara seluas 21 sampai 63 Km persegi akan rusak.

3.2 Dampak Pencemaran Limbah P.T. Freeport Indonesia


Limbah tailing Freeport yang mengandung logam berat ini pun sudah menghilangkan
35% total populasi ikan, kepiting, dan kerang yang hidup di Muara. Sementara itu 30-90%
dari total spesies yang ada di Muara terancam terkontaminasi racun dan punah.
Sedimentasi yang terjadi di Muara mengancam wilayah Taman Nasional Lorentz
terutama di daerah pesisir. Ancaman pokok selain limbah adalah kontaminasi logam berat
pada tumbuhan bakau dan spesies-spesies yanga da di pesisir Taman Nasional Lorentz.
Kawasan ADA (Ajkwa Deposition Area) seluas 230 km persegi yang telah mengalami
kematian tumbuhan akibat tailing takkan pernah bisa kembali ke komposisi spesies semula
meski pembuangan tailing berhenti. Diperlukan intervensi teknologi irigasi yang rumit dan
asupan pupuk, kompos atau tanah subur yang lar biasa banyaknya untuk bisa membuat
kawasan ini bisa ditanami kembali.

3.3 Upaya Penanganan Limbah berdasarkan Strategi Pengelolaan Lingkungan Hidup


Sesuai dengan maksud dari strategi pengelolaan kualitas lingkungan adalah cara untuk
menentukan kualitas lingkungan yang lebih baik, maka ada 5 cara yang dapat dilakukan :
1. Tata letak lokasi ruang
2. Teknologi, menerapkan teknologi bersih
3. Sistem Pengelolaan limbah
4. Pengelolaan Media Lingkungan
5. Perubahan Baku Mutu
Berikut ini akan dibahas kelimanya....

3.3.1 Tata Letak Lokasi


Pertama, tata letak lokasi ruang. Dilihat dari lokasi penambangan utama P.T. Freeport
Indonesia Blok A Grassberg yang berada di ketinggian 4200 m di permukaan laut. Lokasi
penambangan P.T. Freeport Indonesia adalah berupa gunung cadas yang kaya akan mineral
tambang. Tetapi, dilihat dari ketinggiannya yang berada 4200 meter di atas permukaan laut,
lokasi penambangan ini tentu saja merupakan kawasan yang ditopang oleh ekosistem di
bawahnya. Jadi, apabila kawasan ini terganggu maka akan merusak keseimbangan ekosistem
yang berada di bawahnya. Jadi seharusnya, apabila akan dilakukan penambangan di lokasi
penambangan P.T. Freeport Indonesia yang sekarang maka harus dilakukan studi mengenai
dampak kerusakan lingkungan yang akan terjadi yang dilakukan secara komprehensif dan
mendalam. Jelas, hal ini tidak dilakukan oleh P.T. Freeport maupun oleh Pemerintah
Indonesia yang dalam hal ini sebagai pemilik wilayah.

3.3.2 Penerapan Teknologi Bersih


Kedua, penerapan teknologi bersih dalam penambangan. Tentu sangat sulit menerapkan
teknologi bersih dalam kasus P.T. Freeport. Karena untuk menghasilkan 1 gram emas di
Grassberg, yang merupakan wilayah paling produktif, dihasilkan kurang lebih 1.73 ton
limbah batuan dan 650 kg tailing. Bisa dibayangkan, jika Grasberg mampu menghasilkan 234
kg emas setiap hari, maka akan dihasilkan kurang lebih 15 ribu ton tailing per hari. Jika
dihitung dalam waktu satu tahun mencapai lebih dari 55 juta ton tailing dari satu lokasi saja.
Sejak tahun 1995, jumlah batuan limbah yang telah dibuang sebanyak 420 juta ton. Di akhir
masa tambang, jumlah total limbah batuan adalah 4 milyar ton. Di akhir
masa tambang ketinggian tumpukan limbah batuan adalah 500 meter.
Diperkirakan, tambang Grasberg harus membuang 2,8 milyar ton batuan
penutup hingga penambangan berakhir tahun 2041.
Melakukan efisiensi konversi bahan dalam kegiatan pertambangan merupakan hal yang
hamper mustahil dilakukan karena pada dasarnya, kegiatan pertambangan adalah kegiatan
eksploitasi sumber daya alam besar-besaran. Dalam kasus P.T. Freeport, yang dapat
dilakukan hanyalah meyimpan lapisan tanah atas (top soil) hasil pengupasan yang dilakukan
untuk mendapatkan mineral tambang (ore) di bawahnya untuk menutup kembali dan
penghijauan lokasi pertambangan yang sudah tidak produktif lagi nantinya.

3.3.3 Sistem Pengelolaan Limbah


Sistem pengelolaan limbah yang dilakukan P.T. Freeport Indonesia saat ini adalah limbah
batuan akan disimpan pada ketinggian 4200 m di sekitar Grassberg. Total ketinggian limbah
batuan akan mencapai lebih dari 200 meter pada tahun 2025. Sementara limbah tambang
secara sengaja dan terbuka akan dibuang ke Sungai Ajkwa yang dengan tegas disebutkan
sebagai wilayah penempatan tailing sebelum mengalir ke laut Arafura.
Tempat penyimpanan limbah batuan dilakukan di Danau Wanagon. Danau Wanagon
bukanlah danau seperti dalam bayangan umum. Wanagon lebih tepat disebut basin (kubangan
air besar) yang terbentuk dari air hujan. Sejak PT Freeport Indonesia (FI) menambang
mineral di Grasberg tahun 1992, Wanagon dipilih sebagai lokasi pembuangan batuan penutup
(overburden) yang menutupi mineralnya (ore).
Penggunaan Danau Wanagon menjadi tempat penimbunan limbah batuan telah merupakan
pencemaran air dan merubah fungsi danau yang menjadi sumber air bagi masyarakat
sekitarnya, seperti dari Desa Banti/Waa. P.T. Freeport dan pemerintah Indonesia telah
melanggar peraturan yang terkait dengan pembuangan limbah tersebut ke Danau Wanagon,
diantaranya adalah :
1. UU no. 4 tahun 1982 yang telah dirubah menjadi UU no. 23 tahun
1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
2. PP no. 20 tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air.
3. PP no. 18 tahun 1994 jo PP no. 85 tahun 1999 tentang Pengelolaan
Limbah B3. Dari penjelasan di atas jelas dikatakan bahwa limbah
batuan Grasberg merupakan limbah B3 karena mengandung
logam berat. Dalam pasal 3 menyatakan "Setiap orang yang
melakukan usaha dan/atau kegiatan yang menghasilkan limbah
B3 dilarang membuang limbah B3 yang dihasilkannya itu secara
langsung ke dalam media lingkungan bidup tanpa pengolahan
terlebih dahulu" dan pasal 29 ayat 2 menyatakan bahwa "Tempat
penyimpanan limbah B3 sebagaimana dimaksud paa ayat 1 wajib
memenuhi syarat : a). lokasi tempat penyimpanan yang bebas
banjir, tidak rawan bencana, dan di luar kawasan lindung serta
sesuai dengan rencana tata ruang. B). rancangan bangunan
disesuaikan dengan jumlah, karakteristik limbah B3 dan upaya
pengendalian pencemaran lingkungan".
4. Kemudian berdasarkan PP 18 tahun 1994 jo PP 85 tahun 1999
jelas pembuangan limbah batuan yang merupakan limbah B3
secara langsung ke Danau Wanagon merupakan pelanggaran
hukum.
Selain itu, penggunaan Sungai Ajkwa sebagai wilayah penempatan tailing sebelum mengalir
ke laut Arafura adalah permasalahan lainnya. Freeport tidak lagi menyebutkan Ajkwa
sebagai sungai, tetapi sebagai wilayah tempatan tailing yang “disetujui” oleh Pemerintah
Republik Indonesia. Freeport bahkan menyebutkan Sungai Ajkwa sebagai sarana
transportasi dan pengolahan tailing hal mana sebetulnya bertentangan dengan hukum di
Indonesia.

3.3.4 Pengelolaan Media Lingkungan


Pengelolaan media lingkungan agar media lingkungan mempunyai daya dukung lebih tinggi
tidak dilakukan oleh P.T. Freeport. Penggunaan Sungai Ajkwa sebagai ADA (Ajkwa
Deposition Area) untuk mengalirkan limbah tailing sebelum dialirkan ke Laut Arafura dan
menumpuk limbah batuan (overburden) di Danau Wanagon adalah contohnya. Tanpa
melakukan modifikasi media lingkungan dan bahkan tanpa pengolahan sedikitpun, P.T.
Freeport membuang begitu saja limbah-limbah tersebut.
Sekarang, sangat sulit dan hampir tidak mungkin untuk mengembalikan Sungai Ajkwa dan
Danau Wanagon ke fungsi ekologis seperti sediakala. Proses Sedimentasi yang terjadi di
sepanjang DAS Ajkwa dan tumpukan limbah batuan yang berada di Danau Wanagon suddah
terlalu parah. Bahkan, di Danau Wanagon saat ini yang tersisa hanyalah batuan dan pasir.
Tidak tersisa sedikitpun pemandangan yang menunjukkan kalau tadinya Wanagon adalah
suatu tempat yang mempunyai fungsi ekologis sebagai danau.

3.3.5 Perubahan Baku Mutu


Melakukan perubahan baku mutu yang dilakukan apabila daya dukung lingkungan yang ada
tidak dapat mencerna bahan-bahan luar atau limbah yang masuk ke dalam lingkungan
tersebut. Cara ini sudah tidak mungkin dilakukan pada kasus P.T. Freeport yang sudah
sedimikian rupa. Kandungan tembaga (Cu) serta TSS (Total Suspended Solids) yang ada
sudah jauh melebihi batas yang diperbolehkan. Di bawah ini terdapat tabel yang
menggambarkan parameter pencemar di Sungai Ajkwa.

Sungai Ajkwa Bagian Bawah (Lower Ajkwa River) mengandung 28 hingga 42
mikrogram
per liter (µg/L) tembaga larut (dissolved copper), dua kali lipat melebihi batas legal
untuk air
tawar si Indonesia yaitu 20 µg/L, dan jauh melampaui acuan untuk air tawar yang
diterapkan pemerintah Australia, yaitu 5,5 µg/L. Lebih jauh ke hilir, kandungan
tembaga
larut pada air tawar sebelum Muara Ajkwa juga melanggar batas dengan 22 – 25 µg/L
dan bisa mencapai 60 µg/L.

Untuk kondisi air laut di Muara Ajkwa Bagian Bawah, standar ASEAN dan Indonesia
untuk tembaga larut adalah 8 µg/L, dan acuan pemerintah Australia adalah 1,3 µg/L.
Pencemaran Freeport-Rio Tinto di daerah ini juga melebihi batas legal: kandungan
tembaga larut mencapai rata-rata 16 µg/L dengan rentang tertinggi 36 µg/L.
Batas legal total padatan tersuspensi (total suspended solids, TSS) dalam air tawar
adalah 50 mg/L.
Sedangkan tailing yang mencemari sungai-sungai di dataran tinggi memiliki tingkat
TSS mencapai
ratusan ribu mg/L. Tigapuluh kilometer masuk ke dataran rendah Daerah Pengendapan
Ajkwa,
tingkat TSS di Sungai Ajkwa bagian Bawah mencapai seratus kali lipat dari batas legal.
Lebih jauh
ke hilir dari ADA, di Muara Ajkwa bagian bawah, TSS mencapai 1.300 mg/L, 25 kali
lipat
melampaui batas. Mutu air di perairan hutan bakau di Muara Ajkwa juga 10 kali lipat
melampaui
batas legal untuk TSS di lingkungan air laut (80 mg/L), dengan TSS rata-rata 900
mg/L.
Demi mencegah kerusakan lingkungan yang lebih parah di masa datang, sekali lagi
Walhi meminta pemerintah untuk melaksanakan pengambilan sampel secara berkala dan
cermat, daripada mengandalkan laporan dari perusahaan. Pemerintah juga harus menerbitkan
semua informasi lingkungan pada masyarakat sesuai Undang-undang Lingkungan Hidup
(1997). Mengkaji ulang peraturan pajak dan royalti demi meningkatkan
keuntungan bagi komunitas yang terkena dampak, propinsi Papua, demi
mengurangi beban kerusakan lingkngan sejauh ini.
Membentuk Panel Independen untuk memetakan sejumlah skenario bagi masa depan
Freeport, termasuk tanggal penutupan, pengolahan (processing) dan pengelolaan limbah.
Kemudian pemerintah harus menyewa konsultan independen untuk mengkaji setiap skenario
dari segi sosial dan teknis secara rinci dan independen. Kajian ini kemudian harus digunakan
sebagai dasar untuk pembahasan mengenai masa depan tambang oleh penduduk lokal dan
pihak berkepentingan lainnya.