Anda di halaman 1dari 9

UPAYA-UPAYA HUKUM

Upaya hukum adalah upaya yang diberikan oleh undang-undang kepada seseorang atau
badan hukum untuk dalam hal tertentu melawan putusan Hakim. Upaya hukum merupakan suatu
tahapan dalam proses beracara di Pengadilan untuk memperbaiki putusan, yaitu langkah-langkah
apa yang dapat dilakukan oleh para pihak manakala ia tidak puas terhadap putusan pengadilan.
Dalam hukum perdata dikenal dua macam upaya hukum yaitu upaya hukum biasa dan upaya
hukum luar biasa. Perbedaan antara keduanya antara lain bahwa pada azasnya upaya hukum
biasa mengangguhkan eksekusi, sedangkan upaya hukum luar biasa tidak menangguhkan
eksekusi.
Upaya hukum biasa antara lain :
1. Verzet (Perlawanan terhadap putusan verstek)
2. Banding
3. Kasasi
4. Prorogasi
Sedangkan upaya hukum luar biasa adalah :
1. Peninjauan Kembali
2. Denderverzet (Perlawanan pihak ketiga terhadap sita eksekutorial)

Upaya Hukum Biasa
1. Verzet
Adalah upaya hukum terhadap putusan verstek, yaitu putusan yang dijatuhkan
dalam kasus tidak hadirnya tergugat di persidangan walau sudah dipanggil secara patut.
Perlawanan (verzet) terhadap putusan verstek mengandung arti bahwa tergugat berusaha
melawan putusan verstek / tergugat mengajukan perlawanan terhadap putusan verstek.
Tujuannya, agar terhadap putusan itu di lakukan pemeriksaan ulang secara menyeluruh
sesuai dengan proses pemeriksaan kontradiktor dengan permohonan agar
putusan verstek di batalkan, sekaligus supaya gugatan penggugat ditolak.
Dalam proses pemeriksaan perlawanan atau verzet, terdapat beberapa landasan
hukum yang harus dipenuhi, antara lain : Perlawanan (verzet) harus diajukan kepada
Pengadilan Negeri yang menjatuhkan putusan verstek; Diajukan oleh tergugat sendiri
atau kuasanya; Disampaikan kepada PN yang menjatuhkan putusan verstek dalam
dengan batas tenggang waktu yang ditentukan pasal 129 ayat (2) HIR; Ditujukan kepada
putusan verstek tanpa menarik pihak lain, selain daripada penggugat semula.
2. Banding
Banding merupakan salah satu upaya hukum biasa yang dapat diminta oleh salah
satu atau kedua belah pihak yang berperkara terhadap suatu putusan Pengadilan
Negeri. Para pihak mengajukan banding bila merasa tidak puas dengan isi putusan
Pengadilan Negeri kepada Pengadilan Tinggi melalui Pengadilan Negeri dimana
putusan tersebut dijatuhkan.
Pada dasarnya, terhadap setiap putusan akhir pengadilan Negeri dapat dimintakan
banding kecuali UU menentukan lain. Akan tetapi, ada juga putusan pengadilan
negeri yang tidak bisa di banding, yaitu berupa :
Putusan sela
Putusan perdamaian
Penetapan
Urutan banding menurut pasal 21 UU No 4/2004 jo. pasal 9 UU No 20/1947
mencabut ketentuan pasal 188-194 HIR, yaitu:
ada pernyataan ingin banding
panitera membuat akta banding
dicatat dalam register induk perkara
pernyataan banding harus sudah diterima oleh terbanding paling lama 14
hari sesudah pernyataan banding tersebut dibuat.
pembanding dapat membuat memori banding, terbanding dapat
mengajukan kontra memori banding.
Dalam tingkat banding, pihak yang mengajukan banding boleh membuat memori
banding, namun memori banding tersebut tidak merupakan suatu kewajiban. Memori
banding diperlukan untuk menentukan kasus bagi hakim. Selanjutnya, dalam tingkat
banding, hakim tidak boleh mengabulkan lebih dari yang dituntut. Berarti hakim
harus membiarkan putusan hakim tingkat pertama sepanjang tidak dibantah dalam
tingkat banding.
Permohonan banding dapat diajukan dalam waktu 14 (empat belas) hari setelah
putusan diucapkan, atau setelah diberitahukan, dalam hal putusan tersebut diucapkan
diluar hadir. Terhadap permohonan banding yang diajukan melampaui tenggang
waktu tersebut diatas, tetap dapat diterima dan dicatat dengan membuat surat
keterangan Panitera, bahwa permohonan banding telah lampau.
Pernyataan banding dapat diterima, apabila panjar biaya perkara banding yang
ditentukan dalam SKUM oleh Pengadilan tingkat Pertama, telah dibayar lunas.
Apabila panjar biaya banding yang telah dibayar lunas, maka Pengadilan wajib
membuat akta pernyataan banding, dan mencatat permohonan banding tersebut dalam
Register Induk Perkara Perdata dan Register Banding.
Permohonan banding dalam waktu 7 (tujuh) hari harus telah disampaikan kepada
lawannya. Tanggal penerimaan memori dan kontra memori banding harus dicatat, dan
salinannya disampaikan kepada masing-masing lawannya, dengan membuat relas
pemberitahuan/ penyerahannya.
Sebelum berkas perkara dikirim ke pengadilan tinggi harus diberikan kesempatan
kepada kedua belah untuk mempelajari/memeriksa berkas perkara (inzage)
dan dituangkan dalam Relaas. Dan dalam waktu 30 hari sejak permohonan banding
diajukan, berkas banding berupa berkas A dan B harus sudah dikirim ke Pengadilan
Tinggi.
Pencabutan permohonan banding diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri yang
ditandatangani oleh pembanding (harus diketahui oleh prinsipal apabila permohonan
banding diajukan oleh kuasanya) dengan menyertakan akta panitera. Pencabutan
permohonan banding harus segera dikirim oleh Panitera ke Pengadilan Tinggi disertai
akta pencabutan yang ditandatangani oleh Panitera.
3. Kasasi
Kasasi merupakan salah satu upaya hukum biasa yang dapat diminta oleh salah
satu atau kedua belah pihak yang berperkara terhadap suatu putusan Pengadilan
Tinggi. Para pihak dapat mengajukan kasasi bila merasa tidak puas dengan isi
putusan Pengadilan Tinggi kepada Mahkamah Agung.
Kasasi berasal dari perkataan casser yang berarti memecahkan atau
membatalkan, sehingga bila suatu permohonan kasasi terhadap putusan pengadilan
dibawahnya diterima oleh Mahkamah Agung, maka berarti putusan tersebut
dibatalkan oleh Mahkamah Agung karena dianggap mengandung kesalahan dalam
penerapan hukumnya.
Pemeriksaan kasasi hanya meliputi seluruh putusan hakim yang mengenai hukum,
jadi tidak dilakukan pemeriksaan ulang mengenai duduk perkaranya sehingga
pemeriksaaan tingkat kasasi tidak boleh/dapat dianggap sebagai pemeriksaan tinggak
ketiga.
Alasan mengajukan kasasi menurut pasal 30 UU No. 14/1985 antara lain :
Tidak berwenang atau melampaui batas kewewenang
Salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku.
Lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan
perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya
putusan yang bersangkutan.

Permohonan kasasi harus sedah disampaikan dalam jangka waktu 14 hari setelah
putusan atau penetepan pengadilan yang dimaksud diberitahukan kepada Pemohon
(pasal 46 ayat(1) UU No. 14/1985), bila tidak terpenuhi maka permohonan kasasi
tidak dapat diterima.
Prosedur dalam mengajukan kasasi sendiri yaitu permohonan kasasi disampaikan
oleh pihak yang berhak baik secara tertulis atau lisan kepada Panitera Pengadilan
Negeri yang memutus perkara tersebut dengan melunasi biaya kasasi. Pengadilan
Negeri akan mencatat permohonan kasasi dalam buku daftar, dan hari itu juga
membuat akta permohonan kasasi yang dilampirkan pada berkas paling lambat 7 hari
setelah permohonan kasasi didaftarkan panitera Pengadilan Negeri memberitahukan
secara tertulis kepada pihak lawan. Dalam tenggang waktu 14 hari setelah
permohonan kasasi dicatat dalam buku daftar pemohon kasasi wajib membuat
memori kasasi yang berisi alasan-alasan permohonan kasasi. Panitera Pengadilan
Negeri menyampaikan salinan memori kasasi pada lawan paling lambat 30 hari.
Pihak lawan berhak mengajukan kontra memori kasais dalam tenggang waktu 14 hari
sejak tanggal diterimanya salinan memori kasasi. Setelah menerima memori dan
kontra memori kasasi dalam jangka waktu 30 hari Panitera Pengadilan Negeri harus
mengirimkan semua berkas kepada Mahkamah Agung.

4. Prorogasi
Adalah upaya hukum berdasarkan suatu persetujuan bersama antara kedua belah
pihak dengan menggunakan suatu akta, untuk mengajukan perkara tersebut kepada
pengadilan yang sesungguhnya tidak berwenang memeriksa perkara tersebut, yaitu
kepada pengadilan tingkat banding atau pengadilan tinggi. Dalam hal prorogasi,
pengadilan tinggi bertindak sebagai badan peradilan pada tingkat pertama. Oleh
karena itu pengadilan tinggi yang memeriksa dalam prorogasi itu memeriksa dan
memutus dalam tingkat pertama dan terakhir, sehingga putusannya hanya dapat
dimintakan kasasi. Pengaturan mengenai prorogasi terdapat dalam pasal 324 pasal
326 Rv.






Upaya Hukum Luar Biasa

1. Peninjauan Kembali

Peninjauan Kembali, dahulu dikenal dengan istilah herziening, adalah Upaya
Hukum Istimewa., yang bermaksud hendak merubah putusan yang tidak dapat
dirubah lagi. Disinilah letak ke-istimewaaannya dimana upaya peninjauan kembali
bermaksud merubah isi suatu putusan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap.
Karena melalui lembaga PK terhadap putusan Pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap, kecuali putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum,
terpidana atau ahli warisnya dapat mengajukan Permintaan Peninjauan Kembali
kepada Mahkamah Agung melalui Ketua Pengadilan Negeri yang memutus dalam
tingkat pertama. Permohonan peninjauan kembali dapat diajukan secara lisan maupun
tulisan. Kemudian, Pengadilan Negeri yang bersangkutan akan memberitahukan
secepatnya dengan memberikan atau mengirimkan salinan permohonan peninjauan
kembali tersebut kepada pihak lawan dari pemohon. Permohonan Peninjauan
Kembali dalam perkara perdata diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung No. 1
Tahun 1982 yang merupakan penyempurnaan dari Peraturan Mahkamah Agung No. 1
Tahun 1980.
Permohonan PK hanya dapat dilakukan berdasarkan alasan-alasan :
Apabila putusan didasarkan kebohongan atau tipu muslihat pihak lawan
yang diketahui setelah perkara diputus, atau didasarkan pada bukti-bukti
yang kemudian oleh hakim pidana dinyatakan palsu
Apabila setelah perkara diputus, ditemukan surat-surat bukti yang bersifat
menentukan, yang pada waktu perkara diperiksa tidak ditemukan (novum),
Apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut /lebih daripada
yang dituntut
Apabila mengenai sesuatu bagian dari tuntutan belum diputuskan tanpa
dipertimbangkan sebab-sebabnya
Apabila terhadap perkara yang mana telah diberikan putusan yang
bertentangan satu sama lain
Apabila dalam suatu putusan terdapat suatu kekhilapan hakim/suatu
kekeliruan yang nyata.

Akibat hukum yang timbul sehubungan dengan putusan MA dalam perkara PK:
Dalam hal MA mengabulkan permohonan PK, maka putusan yang
dimohonkan PK dibatalkan, selanjutnya MA memeriksa dan memutus sendiri
perkara itu,
MA akan menolak permohonan PK jika permohonan itu tidak beralasan

2. Denderverzet (Perlawanan pihak ketiga terhadap sita eksekutorial)
Pada dasarnya suatu putusan itu hanyalah mengikat para pihak yang berperkara
dan tidak mengikat pihak ketiga (pasal 1917 BW). Namun apabila pihak ketiga
merasa hak-hak nya dirugikan oleh suatu putusan, maka ia dapat mengajukann
perlawanan terhadap putusan tersebut. Perlawanan ini diajukan kepada hakim yang
menjatuhkan putusan dan dilakukan dengan menggugat para pihak yang bersangkutan
secara biasa. Perlawanan pihak ketiga ini dapat dilakukan terhadap :
Sita jaminan, ketika proses persidangan masih berlangsung
Sita eksekutorial, terhadap putusan yang telah berkekuatan tetap.
Di dalam pasal 195 (6), (7) dan pasal 207-208 HIR, mengatur tentang
perlawanan/bantahan terhadap sita eksekutorial. Sedangkan perlawanan/bantahan
terhadap sita jaminan tidak diatur dalam HIR.
Pihak ketiga dapat mengajukan perlawanan secara lisan maupun tertulis.
Perlawanan tidak menangguhkan eksekusi oleh karena itu perlawanan tidak boleh
diajukan terlambat, bila terlambat akan tidak berhasil dan dinyatakan tidak dapat
diterima. Eksekusi terhadap upaya hukum luar biasa tidak dapat ditangguhkan tetapi
bisa diminta untuk dihentikan dengan permohonan.
Pihak ketiga yang akan melakukan perlawanan terhadap suatu putusan tidaklah
cukup hanya mempunyai kepentingan saja, tetapi harus benar-benar telah dirugikan
hak-haknya. . Selain itu, harus juaga dibuktikan mengenai adanya permohonan dari
pihak ketiga tersebut.
























RESUME MENGENAI UPAYA-UPAYA HUKUM

Hukum Acara Perdata



Tommy Andryan
NPM : 110110120087



FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2014