Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Kejahatan korporasi (corporate crime) merupakan salah satu wacana yang
timbul dengan semakin majunya kegiatan perekenomian dan teknologi. Corporate
crime bukanlah kasus baru, melainkan kasus lama yang senantiasa berganti
kemasan. Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa perkembangan zaman serta
kemajuan peradaban dan teknologi turut disertai dengan perkembangan tindak
kejahatan berserta kompleksitasnya. Di sisi lain, ketentuan Hukum idana yang
berlaku di !ndonesia belum dapat menjangkaunya dan senantiasa ketinggalan untuk
merumuskannya. Tindak pidana (crime) dapat diidenti"ikasi dengan timbulnya kerugian
(harm), yang kemudian mengakibatkan lahirnya pertanggungjawaban pidana atau
criminal liability.
#
$alah satu kasus dari kejahatan korporasi yang saat ini berkembang adalah
dalam bidang pengelolaan lingkungan hidup. %danya perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup di !ndonesia bertujuan untuk melindungi wilayah
&egara Kesatuan 'epublik !ndonesia dari pencemaran atau kerusakan lingkungan
hidup. $elain itu juga menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan manusia,
menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan kelestarian ekosistem
serta pelestarian "ungsi lingkungan dalam rangka pembangunan berkelanjutan
agar terpenuhinya keadilan bagi generasi masa kini dan generasi masa depan.
$aat ini hukum lingkungan telah berkembang dengan pesat, bukan saja
dalam hubungannya dengan "ungsi hukum sebagai perlindungan, pengendalian
dan kepastian hukum bagi masyarakat (social control) dengan peran agent of
#
(ismar &asution, )Kejahatan Korporasi dan ertanggungjawabannya* (+n,line), tersedia di
http-..bismar. wordpress.com./001.#/./2, diunduh /3 +ktober /0#2.
#
stability, tetapi lebih menonjol lagi sebagai sarana pembangunan (a tool of social
engineering) dengan peran sebagai agent of development atau agent of change.
$ebagai disiplin ilmu hukum yang sedang berkembang, sebagian besar materi
hukum lingkungan merupakan bagian dari hukum administrasi (administratief
recht). Dari substansi hukum menimbulkan pembidangan dalam hukum
lingkungan administrasi, hukum lingkungan keperdataan dan hukum lingkungan
kepidanaan.
/
ersoalan lingkungan menjadi semakin kompleks, tidak hanya bersi"at
praktis, konseptual, dan ekonomi saja, tetapi juga merupakan masalah etika, baik
sosial maupun bisnis. +leh karenanya, diperlukan pengaturan dalam bentuk
hukum demi menjamin kepastian hukum. Hukum pidana yang ada tidak hanya
melindungi alam, "lora dan "auna, tetapi juga masa depan kemanusiaan yang
kemungkinan menderita akibat degradasi lingkungan hidup.
Dikarenakan materi bidang lingkungan sangat luas (meliputi sumber daya
manusia, sumber daya alam hayati, sumber daya alam non hayati dan sumber daya
buatan) tidak mungkin diatur secara lengkap dalam satu undang,undang, tetapi
memerlukan seperangkat peraturan perundang,undangan dengan arah yang
serupa. +leh karena itu si"at 445H adalah mengatur ketentuan,ketentuan pokok
pengelolaan lingkungan hidup yang memuat asas,asas dan prinsip pokok,
sehingga ber"ungsi sebagai )social* (umbrella act) bagi penyusun peraturan
perundang,undangan lainnya yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan bagi
penyesuaian peraturan perundang,undangan yang telah ada.
/
!ndriati %marini, )ertanggungjawaban idana Korporasi Dalam 4ndang,4ndang engelolaan
5ingkungan Hidup (445H)* (+n,line), tersedia di http-..www.google.com.url678http-..
jurnal.ump.ac.id.inde9.php.H4K4:.article.download./;<./</=sa84=ei8Hw;w4e3K%>r9r?e@
9>AgA%=Bed80A(s?@j%(=usg8%@?jA&C(<nw"TDoln+gtDbaT>%9T3>HC:g, diunduh /3
+ktober /0#2.
/
I.2. Rumusan Masalah
(agaimana pengontrolan atau pengawasan yang dilakukan melalui jalur
hukum dapat berlaku e"ekti" bagi korporasi yang diduga melakukan tindak pidana
lingkungan hidup di !ndonesia 6
Kemudian jika dalam pengawasan tersebut, ditemukan adanya kegiatan
yang dilakukan untuk dan atas nama suatu korporasi, yang terbukti mengakibatkan
kerugian bagi lingkungan hidup, bagaimanakah pertanggungjawaban hukumnya
terhadap korporasi tersebut 6
2
BAB II
PEMBAHASAN
II.1. Definisi !r"!rasi
Korporasi adalah suatu bentuk organisasi dengan tujuan tertentu yang
bergerak dalam bidang ekonomi atau bisnis. $ebuah korporasi menurut hukum
perdata adalah suatu legal person (rechtspersoon), yang merupakan suatu badan
hukum dan memiliki si"at sebagai legal personality. %rtinya, dapat melakukan
perbuatan hukum serupa halnya dengan manusia (natuurlijke persoon). Korporasi
sebagai badan hukum sudah tentu memiliki identitas hukum tersendiri. !dentitas
hukum suatu korporasi atau perusahaan terpisah dari identitas hukum para
pemegang sahamnya, direksi, maupun organ,organ lainnya. Dalam kaidah hukum
perdata (civil law), jelas ditetapkan bahwa suatu korporasi atau badan hukum
merupakan subjek hukum perdata dapat melakukan akti"itas jual beli, dapat
membuat perjanjian atau kontrak dengan pihak lain, serta dapat menuntut dan
dituntut di engadilan dalam hubungan keperdataan. ara pemegang saham
menikmati keuntungan yang diperoleh dari konsep tanggung jawab terbatas, dan
kegiatan korporasi berlangsung terus,menerus, dalam arti bahwa keberadaannya
tidak akan berubah meskipun ada penambahan anggota,anggota baru atau
berhentinya atau meninggalnya anggota,anggota yang ada.
II.2. e#ahatan !r"!rasi
(lackEs 5aw Dictionary menyebutkan kejahatan korporasi atau corporate
crime adalah any criminal offense committed by and hence chargeable to a
corporation because of activities of its officers or employees (e.g., price fixing,
toxic waste dumping), often referred to as white collar crime.
2

2
(ismar, p. Cit.
>
Kejahatan korporasi adalah tindak pidana yang dilakukan oleh dan oleh
karena itu dapat dibebankan pada suatu korporasi karena akti"itas,akti"itas
pegawai atau karyawannya (seperti penetapan harga, pembuangan limbah), sering
juga disebut sebagai )kejahatan kerah putih*.
$ally. %. $impson yang mengutip pendapat Fohn (raithwaite menyatakan
kejahatan korporasi adalah )conduct of a corporation, or employees acting on
behalf of a corporation, which is proscribed and punishable by law). $impson
menyatakan bahwa ada tiga ide pokok dari de"inisi (raithwaite mengenai
kejahatan korporasi. ertama, tindakan ilegal dari korporasi dan agen,agennya
berbeda dengan perilaku kriminal kelas sosio,ekonomi bawah dalam hal prosedur
administrasi. Karenanya, yang digolongkan kejahatan korporasi tidak hanya
tindakan kejahatan atas hukum pidana, tetapi juga pelanggaran atas hukum
perdata dan administrasi. Kedua, baik korporasi (sebagai )subyek hukum
perorangan )legal persons)) dan perwakilannya termasuk sebagai pelaku
kejahatan (as illegal actors), dimana dalam praktek yudisialnya, bergantung pada
antara lain kejahatan yang dilakukan, aturan dan kualitas pembuktian dan
penuntutan. Ketiga, motiBasi kejahatan yang dilakukan korporasi bukan bertujuan
untuk keuntungan pribadi, melainkan pada pemenuhan kebutuhan dan pencapaian
keuntungan organisasional. Tidak menutup kemungkinan moti" tersebut ditopang
pula oleh norma operasional (internal) dan sub,kultur organisasional.
>
Kitab 4ndang,4ndang Hukum idana !ndonesia memang hanya
menetapkan bahwa yang menjadi subjek tindak pidana adalah orang persorangan
(legal persoon). embuat undang,undang dalam merumuskan delik harus
memperhitungkan bahwa manusia melakukan tindakan di dalam atau melalui
organisasi yang dalam hukum keperdataan maupun di luarnya (misalnya dalam
hukum administrasi) muncul sebagai satu kesatuan dan karena itu diakui serta
mendapat perlakuan sebagai badan hukum atau korporasi. (erdasarkan K4H,
>
ibid.
G
pembuat undang,undang akan merujuk pada pengurus atau komisaris korporasi
jika mereka berhadapan dengan situasi seperti itu. $ehingga, jika K4H !ndonesia
saat ini tidak bisa dijadikan sebagai landasan untuk pertanggungjawaban pidana
oleh korporasi, namun hanya dimungkinkan pertanggungjawaban oleh pengurus
korporasi.
Di (elanda sendiri, sebagai tempat asal K4H !ndonesia, pada tanggal /2
Funi #1<3 korporasi diresmikan sebagai subjek hukum pidana dan ketentuan ini
dimasukkan ke dalam asal G# K4H (elanda ($r.), yang isinya menyatakan
antara lain - Tindak pidana dapat dilakukan baik oleh perorangan maupun
korporasi, jika suatu tindak pidana dilakukan oleh korporasi, penuntutan pidana
dapat dijalankan dan sanksi pidana maupun tindakan yang disediakan dalam
perundang,undangan sepanjang berkenaan dengan korporasi, dapat dijatuhkan.
Dalam hal ini, pengenaan sanksi dapat dilakukan terhadap korporasi sendiri, atau
mereka yang secara "aktual memberikan perintah untuk melakukan tindak pidana
yang dimaksud, termasuk mereka yang secara "aktual memimpin pelaksanaan
tindak pidana dimaksud, atau korporasi atau mereka yang dimaksud di atas
bersama,sama secara tanggung renteng.
Di &egara %merika $erikat sanksi pidana dipergunakan pada urutan
terakhir sekali, yaitu sebagai )ultimum remedium*. Kebijakan penegakan hukum
seperti ini bisa dipahami mengingat tingginya kesadaran hukum dari masyarakat
maupun pihak pengusaha di &egara maju tersebut. :ereka yang berpendapat
bahwa sanksi pidana penjara dapat dijatuhkan terhadap badan hukum disebabkan
karena perkembangan dalam ilmu hukum pidana bahwa tidak hanya orang
seorang atau kelompok orang (seperti dalam asal GG K4Hidana) saja yang
dapat dijatuhi sanksi pidana, tetapi berkembang menjadi badan hukum atau
korporasi juga dapat dijatuhi sanksi pidana penjara melalui pengurus, direktur
atau karyawan dari badan hukum itu (fysiek daderschap). Hanya saja dalam
praktek penegakan hukumnya tidak mudah, ada beberapa hambatan, contohnya
3
dalam bidang lingkungan hidup adalah kesulitan dalam hal pembuktian,
mengingat dalam menyelesaikan kasus,kasus pencemaran melibatkan banyak
dimensi, seperti kepro"esionalan aparatnya (melibatkan para ahli lingkungan)
yang dimulai dari awal penyelidikan hingga akhir perkaranya, dan biaya serta
waktu yang tidak sedikit.
Konsep pertanggungjawaban pidana oleh korporasi sebagai pribadi
(corporate criminal liability) merupakan hal yang masih mengundang perdebatan.
(anyak pihak yang tidak mendukung pandangan bahwa suatu korporasi yang
wujudnya semu dapat melakukan suatu tindak kejahatan serta memiliki criminal
intent yang melahirkan pertanggungjawaban pidana. Disamping itu, mustahil
untuk dapat menghadirkan di korporasi dengan "isik yang sebenarnya dalam ruang
engadilan dan duduk di kursi Terdakwa guna menjalani proses peradilan.
G
:eskipun K4H !ndonesia saat ini tidak mengikutsertakan korporasi
sebagai subyek hukum yang dapat dibebankan pertanggungjawaban pidana,
namun korporasi mulai diposisikan sebagai subyek hukum pidana dengan
ditetapkannya 4ndang,4ndang &o. <.Drt.#1GG tentang engusutan, enuntutan
dan eradilan Tindak idana Hkonomi.
Di !ndonesia, salah satu peraturan yang mempidanakan kejahatan
korporasi adalah 4ndang,4ndang &omor /2 Tahun #11< tentang 5ingkungan
Hidup. Hal ini dapat dilihat dari isi asal >3 (##) yang mengadopsi doktrin
vicarious liability yang dipakai di %merika $erikat. :enurut doktrin ini, apabila
pekerja suatu korporasi melakukan suatu tindak pidana dalam lingkup
pekerjaannya dan dengan maksud menguntungkan korporasi, tanggung jawab
pidananya dapat dibebankan kepada korporasi. !ni bertujuan mencegah
perusahaan melindungi diri dan melepas tanggung jawab dengan melimpahkannya
pada para pekerjanya. %jaran vicarious liability biasanya berlaku dalam hukum
G
ibid.
<
perdata tentang perbuatan melawan hukum (the law of tort), yang kemudian
diterapkan pada hukum pidana.
3
:eskipun tidak digariskan secara jelas seperti dalam K4H (elanda,
berdasarkan sistem hukum pidana di !ndonesia pada saat ini terdapat 2 bentuk
pertanggungjawaban pidana dalam kejahatan korporasi berdasarkan regulasi yang
sudah ada, yaitu dibebankan pada korporasi itu sendiri, seperti diatur dalam asal
3G ayat # dan / 4ndang,4ndang &o. 2;./00> tentang Falan. Kemudian dapat pula
dibebankan kepada organ atau pengurus korporasi yang melakukan perbuatan atau
mereka yang bertindak sebagai pemimpin dalam melakukan tindak pindana,
seperti yang diatur dalam asal /0 ayat / 4ndang,4ndang &o. 2#.#111 tentang
Tindak idana Korupsi dan 4ndang,4ndang &o. 2#./00> tentang erikanan.
Kemudian kemungkinan berikutnya adalah dapat dibebankan baik kepada
pengurus korporasi sebagai pemberi perintah atau pemimpin dan juga dibebankan
kepada korporasi, contohnya seperti dalam asal /0 ayat # 4ndang,4ndang &o.
2#.#111.
ada umumnya tindak pidana hanya dapat dilakukan oleh manusia atau
orang pribadi. +leh karena itu hukum pidana selama ini hanya mengenal orang
seorang atau kelompok orang sebagai subyek hukum, yaitu sebagai pelaku dari
suatu tindak pidana. Hal ini bisa dilihat dalam perumusan pasal,pasal K4H yang
dimulai dengan kata )barangsiapa* yang secara umum mengacu kepada orang
atau manusia.
Dangan adanya kejahatan korporasi menunjukkan realitas bahwa korporasi
semakin memegang peranan yang penting dalam kehidupan masyarakat.
Keraguan pada masa lalu untuk menempatkan korporasi sebagai subyek hukum
pidana yang dapat melakukan tindak pidana dan sekaligus dapat dipertanggung
jawabkan sdalam hukum pidana, sudah bergeser. Keberadaan korporasi dalam
kehidupan bermasyarakat dan bernegara, seperti dikatakan oleh !. $. $usanto,
3
%miruddin %. Dajaan !mami, dkk, !sas "ubsidiaritas # $edudukan dan %mplementasi dalam
&enegakan 'ukum (ingkungan, (,$5 @H 4&%D dan (estari, /001), hal. G/.
;
telah memberikan sumbangan yang besar baik berupa pajak maupun deBisa,
sehingga korporasi nampak sangat positi". &amun di sisi lain kita juga
menyaksikan perilaku negati" yang ditunjukkan oleh korporasi seperti
pencemaran, pengurasan sumber daya alam yang terbatas, persaingan curang,
manipulasi pajak, eksploitasi terhadap buruh, produk,produk yang
membahayakan kesehatan pemakainya serta penipuan terhadap konsumen.
Diantara perilaku,perilaku seperti inilah yang kemudian oleh pakar disebut
sebagai kejahatan atau tindak pidana korporasi.
<
Kejahatan korporasi merupakan kejahatan yang serius, bahkan lebih serius
ketimbang kejahatan perampokan dan penipuan. Hal ini disebabkan karena dalam
kejahatan perampokan dan penipuan, korban yang terkena terbatas pada korban
yang berhadapan langsung dengan pelaku, atau dengan kata lain bahwa pelaku
yang terkena kejahatan tersebut adalah tertentu dan terbatas si"atnya. Dampak
kejahatannya tidak mesti mengambil orang,orang (masyarakat) tertentu sebagai
korban. Kejahatan korporasi juga menimbulkan kerugian, akan tetapi jumlah
kerugian yang diderita oleh korban tidak terbatas dan tidak dapat dihitung secara
pasti. (ahkan dalam kejahatan korporasi banyak hal,hal yang merugikan tanpa
dapat disangka dan diduga, seperti polusi udara, pencemaran lingkungan dan lain,
lain.
Keberadaan (eksistensi) korporasi sebagai subjek hukum (pidana) itu
ditentukan dan didasarkan atas kekuatan peraturan perundang,undangan, suatu
karya yang diciptakan oleh hukum sebagai pendukung hak dan kewajiban dalam
lalu lintas hukum, sehingga sungguh tidak masuk akal jika korporasi hanya dapat
melakukan tindakan yang melulu sesuai dengan aturan undang,undang (hukum)
yang berlaku. :anusia sendiri sebagai subjek hukum alamiah (natuurlijke
persoon) dalam beberapa hal juga melakukan pelanggaran hukum apalagi badan
hukum (korporasi) yang seperti diketahui berorientasi pada pro"it
<
!. $. $usanto, $ejahatan $orporasi, ($emarang- (adan enerbit 4niBersitas Diponegoro,
#11G), hal. #
1
(laba.keuntungan), maka adalah mustahil dalam akti"itas kegiatannya yang
mengutamakan keuntungan itu tidak pernah melakukan pelanggaran hukum.
ermasalahan hukum pidana dalam menghadapi kejahatan korporasi
disebabkan karena perbuatan pidana korporasi itu selalu dilakukan secara rahasia,
sukar untuk diketahui dan dideteksi dan bahkan sering kali para korbanpun tidak
mengetahui kerugian yang sebenarnya dialaminya. Hanya sedikit kasus,kasus
tindak pidana korporasi yang diungkapkan untuk diajukan ke engadilan, maka
menuntut pertanggungjawaban korporasi akan memberikan e"ek pencegahan yang
lebih besar ketimbang meminta pertanggungjawaban dari pengurusnya. Tentunya
tidak menutup kemungkinan untuk secara bersama juga menuntut orang yang
langsung bertanggung jawab atas perbuatan korporasi tersebut.
Direksi dan pejabat,pejabat korporasi lainnya bisa dikenakan penjatuhan
pertanggungjawaban pidana jika mereka bertindak sendiri,sendiri atau bersama,
sama dengan orang lain untuk - i) melegalkan suatu kegiatan atau suatu kelalaian
yang menjadi tindak kejahatan, ii) mengetahui atau seharusnya mengetahui bahwa
kegiatan atau kelalaian itu merupakan tindak pidana, iii) mengetahui bahwa
tindakan itu dilakukan atau akan dilakukan, dan iB) tidak atau gagal mengambil
langkah yang memungkinkan untuk mencegah dilakukannya tindakan itu, maka
mereka dapat dipidana atau dibebankan tanggung jawab.
;
:enurut $te"anus
Hariyanto, yang dijatuhi hukuman pidana adalah perusahaannya. Fika pengurus
atau pimpinan juga ikut dipidana maka persoalannya sudah menjadi personal
crime. %dapun sanksi pidananya adalah denda, tidak termasuk penjara. %gar
indiBidu,indiBidu yang dianggap bertanggung jawab atas pencemaran lingkungan
hidup dapat dipidana, maka indiBidu,indiBidu tersebut harus didakwa bukan
hanya korporasi. Dalam hukum pidana ada asas kulpabilitas, sehingga harus
dibuktikan bahwa seseorang bisa dipidana apabila memang terbukti bersalah.
;
(ismar, p. Cit..
#0
%rtinya tidak bisa secara otomatis sanksi pidana dialihkan dari corporate crime
menjadi personal crime.
1
II.$. Analisis Penegakan Hukum Dalam %in&ak Pi&ana Lingkungan
!ndonesia sebagai &egara hukum, diharuskan mengatur segala permasalahan
berdasarkan norma hukum yang berlaku. Hukum lingkungan mengatur hubungan
hukum antara unsur,unsurnya sehingga dalam pengelolaan lingkungan hidup
berorientasi pada pelestarian "ungsi dari lingkungan untuk kepentingan generasi masa
kini dan generasi masa depan. Hukum dalam bentuk peraturan perundang,undangan
mengikat kepada masyarakat dan ditaatinya karena hukum (peraturan perundang,
undangan) dibuat oleh pejabat yang berwenang atau memang masyarakat
mengakuinya karena hukum tersebut dinilai sebagai suatu hukum yang hidup di
dalam masyarakat itu. Hukum lingkungan dipahami berdasarkan ajaran,ajaran hukum
pada umumnya, namun harus juga memperhatikan metode pendekatan dalam
pengelolaan lingkungan hidup, menggunakan metode utuh menyeluruh
(Komprehensi",integral) dengan selalu mengutamakan keselarasan dan kelestarian.
Tanggung jawab &egara terhadap perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup baik sumber daya manusia, sumber daya alam dan sumber daya
buatan harus didukung oleh berbagai peraturan dan peran serta berbagai pihak
yang berkepentingan baik pemerintah, pemerintah daerah, korporasi dan
masyarakat dengan sudut pandang bahwa setiap orang berhak mendapatkan
lingkungan hidup yang baik dan sehat.
Dalam rumusan pengertian lingkungan haruslah juga dipandang bahwa
manusia termasuk di dalamnya sebagai bagian dari lingkungan serta setiap
perilakunya akan mempengaruhi alam. Kegiatan usaha yang dilakukan oleh
korporasi sebagai legal person (rechtspersoon), yang merupakan suatu badan
1
Hko $asmito, *Tindak idana Dan Tanggung Fawab Korporasi Di (idang 5ingkungan Hidup*,
http-..apps.um,surabaya.ac.id.jurnal."iles.disk#.#.umsurabaya,#1#/,ekosasmito,2G,#,tindakp,.pd",
diunduh /3 +ktober /0#2
##
hukum dan memiliki si"at sebagai legal personality memberikan dampak positi"
bagi pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat, namun dapat juga
memberikan dampak negati", apabila kegiatan yang dilakukan berdampak besar
dan penting terhadap lingkungan apabila kegiatan usaha tersebut menimbulkan
pencemaran atau perusakan lingkungan.
Hukum lingkungan yang mencakup penaatan dan penegakan hukum
(compliance and enforcement), meliputi bidang hukum administrasi &egara,
bidang hukum perdata dan bidang hukum pidana. $uatu kegiatan usaha yang
dilakukan oleh korporasi harus menempuh proses penaatan hukum dengan
mengajukan berbagai macam persyaratan perizinan untuk mengkaji layak
tidaknya suatu kegiatan usaha dilakukan. ada prinsipnya setiap kegiatan usaha
akan memberikan dampak terhadap lingkungan sekitar, namun besar kecilnya
dampak tergantung jenis kegiatan usaha, dan sebagaian besar kegiatan usaha di
bidang pengelolaan lingkungan yang meman"aatkan dan atau mengeksploitasi
unsur,unsur dalam lingkungan memiliki dampak besar dan penting terhadap
lingkungan.
encemaran atau perusakan lingkungan yang dilakukan oleh korporasi
merupakan salah satu unsur bagi pemberlakuan proses penegakan hukum
lingkungan yang mempunyai arti tindakan represi". Dalam hukum lingkungan
dikenal salah satu asas subsidiaritas yang mengedepankan upaya hukum lain
sebelum memberlakukan hukum pidana yaitu penegakan hukum administrasi
&egara, hukum perdata dan penyelesaian sengketa di luar engadilan. Hal ini
berarti bahwa sanksi pidana baru diterapkan apabila sanksi administrasi dan.atau
sanksi perdata tidak berhasil untuk menanggulangi masalah atau mencegah suatu
perbuatan anti sosial dalam masyarakat. Kebijakan penegakan hukum tersebut
umumnya dapat diterapkan di &egara,&egara maju mengingat tingginya
kesadaran hukum dari masyarakat maupun pihak pengusahanya. $ementara di
&egara,&egara berkembang, seperti halnya di !ndonesia, merupakan hal yang
#/
sering kita jumpai di mana masyarakat di dalam upaya memenuhi kebutuhan
sehari,hari sering mengabaikan kelestarian lingkungan alam sekitarnya. Demikian
pula dengan para pengusaha atau badan hukum yang bergerak di bidang industri,
sehingga limbah industri mereka buang ke dalam sungai. Dan enerapan asas
ultimum remedium dibatasi hanya berlaku bagi tindak pidana "ormil tertentu yang
juga diatur dalam norma, yaitu pemidanaan terhadap pelanggaran baku mutu air
limbah, emisi, dan gangguan.
#0

(erdasarkan asal 1< 4ndang,4ndang &o. 2/ Tahun /001 tindak pidana
lingkungan dikategorikan sebagai kejahatan, sehingga dalam tanggung jawab
pidananya dapat dibebankan kepada organ yang ada dalam korporasi. !ni
bertujuan mencegah perusahaan melindungi diri dan melepas tanggung jawab
dengan melimpahkannya pada para pekerjanya. Dan dalam asal ##3,#/0 yang
pada intinya menyatakan bahwa apabila tindak pidana lingkungan hidup
dilakukan oleh, untuk, atau atas nama badan usaha, tuntutan pidana dan sanksi
pidana dijatuhkan kepada badan usaha dan.atau orang yang memberi perintah
untuk melakukan tindak pidana tersebut atau orang yang bertindak sebagai
pemimpin kegiatan dalam tindak pidana tersebut.
%danya 4ndang,4ndang &o. 2/ Tahun /001 tersebut membuka peluang
sebesar,besarnya bagi pencemaran atau perusakan lingkungan yang berdampak
besar kepada lingkungan untuk mengedepankan penegakan hukum pidana sebagai
pilihan utama (premium remedium) apabila pencemaran atau perusakan tidak
terkait dengan pelanggaran baku mutu air limbah, emisi, dan gangguan karena
undang,undang ini juga mengkategorikannya baku mutu air limbah, emisi, dan
gangguan sebagai pelanggaran dan bukan sebagai kejahatan lingkungan.
ada prinsipnya penegakan hukum lingkungan administrasi, perdata dan
pidana dapat diterapkan secara bersama,sama, dikarenakan tujuan dari masing,
masing berbeda. enegakan hukum administrasi ditujukan untuk pencabutan izin
#0
:aret riyatna, )enerapan Tindak idana 5ingkungan (agi Korporasi Dalam enegakan
Hukum 5ingkungan Di !ndonesia*, (aw )eview Iol. J! &o. 2 (:aret /0#/)- hal. 23#.
#2
agar suatu kegiatan usaha tidak secara terus menerus melakukan pencemaran,
penegakan hukum perdata ditujukan untuk ganti kerugian dan pemulihan
lingkungan dan penegakan hukum pidana ditujukan untuk memberikan e"ek jera
dan presedence kepada korporasi lainnya agar tidak melakukan pencemaran atau
perusakan lingkungan.
%pabila dikaji lebih lanjut penegakan hukum lingkungan dapat dikategorikan
apabila suatu kegiatan usaha melakukan pencemaran atau perusakan lingkungan.
encemaran yang dide"inisikan masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat,
energi, dan.atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia
sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan dimana
pencemarannya masih dapat dipulihkan dapat diterapkan asas ultimum remedium
dengan penyelesaian melalui penegakan hukum administrasi berkaitan dengan izin
dan hukum perdata untuk memberikan ganti kerugian dan pemulihan lingkungan dan
dimungkinkan menyelesaikan sengketa dengan mekanisme di luar engadilan
(negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau arbitrase). &amun disisi lain apabila pencemaran
sudah dikategorikan pencemaran berat yang telah merusak "ungsi lingkungan,
penerapan asas ultimum remedium dapat dikesampingkan, dan penegakan hukum
lingkungan administrasi, perdata dan pidana dapat diterapkan secara bersama,sama
(simultan).
Dalam tindak pidana lingkungan bagi korporasi, adanya 4ndang,4ndang
&o. 2/ Tahun /001 tentang erlindungan dan engelolaan 5ingkungan Hidup
mengatur hal,hal antara lain -
#. %pabila tindak pidana lingkungan hidup dilakukan oleh, untuk, atau atas nama
badan usaha, tuntutan pidana dan sanksi pidana dijatuhkan kepada -
a. (adan usahaK dan.atau
b. +rang yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau
orang yang bertindak sebagai pemimpin kegiatan dalam tindak pidana
tersebut.
#>
/. %pabila tindak pidana lingkungan hidup dilakukan oleh orang, yang
berdasarkan hubungan kerja atau berdasarkan hubungan lain yang bertindak
dalam lingkup kerja badan usaha, sanksi pidana dijatuhkan terhadap pemberi
perintah atau pemimpin dalam tindak pidana tersebut tanpa memperhatikan
tindak pidana tersebut dilakukan secara sendiri atau bersama,sama.
2. Fika tuntutan pidana diajukan kepada pemberi perintah atau pemimpin tindak
pidana, ancaman pidana yang dijatuhkan berupa pidana penjara dan denda
diperberat dengan sepertiga.
>. Terhadap tindak pidana badan hukum, sanksi pidana dijatuhkan kepada badan
usaha yang diwakili oleh pengurus yang berwenang mewakili di dalam dan di
luar engadilan sesuai dengan peraturan perundang,undangan selaku pelaku
"ungsional.
G. (adan usaha dapat dikenakan pidana tambahan atau tindakan tata tertib berupa -
a. erampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana.
b. enutupan seluruh atau sebagian tempat usaha dan.atau kegiatan.
c. erbaikan akibat tindak pidanaK
d. ewajiban mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hakK dan.atau
e. enempatan perusahaan di bawah pengampuan paling lama 2 (tiga) tahun.
$anksi bagi tindak pidana lingkungan secara jelas telah diatur dalam
4ndang,4ndang &o. 2/ Tahun /001. Hal yang memberikan perbedaan dengan
sanksi pidana biasa pada tindak pidana lingkungan terdapat pada pidana tambahan
dan pengkajian lebih lanjut antara lain -
#. erampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana belum terdapat
pengaturan lebih tegas mengenai man"aat dan peruntukan perampasan
keuntungan yang dimaksud.
/. enutupan seluruh atau sebagian tempat usaha dan.atau kegiatan sebenarnya
dapat juga dijatuhkan melalui sanksi administrasi yaitu pencabutan izin usaha
melalui engadilan Tata 4saha &egara.
#G
2. erbaikan akibat tindak pidana masih belum dapat dide"inisikan secara jelas
mengingat perbaikan akibat tindak pidana khususnya bagi kerusakan
lingkungan menjadi tidak terukur dan dapat menjadi tumpang tindih dengan
kewajiban pemulihan lingkungan pada penegakan hukum perdata.
>. ewajiban mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak cukup sulit
dide"inisikan, dikarenakan dalam pencemaran berat atau perusakan lingkungan
cenderung "ungsi lingkungan akan sulit untuk dipulihkan ke keadaan semula.
G. enempatan perusahaan di bawah pengampuan paling lama 2 (tiga) tahun
dalam pelaksanaannya diperlukan manager lingkungan yang bertugas
mengembalikan "ungsi manajemen lingkungan korporasi sebagaimana sebelum
terjadi pencemaran atau perusakan, pada dasarnya sanksi tambahan ini
ditujukan untuk tetap menjaga keberlangsungan kegiatan korporasi, namun
bentuk dan pengaturannya belum secara tegas dan diatur dalam peraturan
perundang,undangan.
ada kenyataannya banyak perusahaan atau badan hukum yang bergerak
di bidang industri tidak mengolah limbahnya sebagaimana seharusnya sehingga
menyebabkan pencemaran lingkungan. Lalaupun telah banyak usaha,usaha yang
dilakukan emerintah, seperti rogram 5angit (iru, rogram Kali (ersih
(rokasih) dan sebagainya, namun pencemaran masih berjalan terus. Dalam
rangka menanggulangi masalah pencemaran, terdapat beberapa hal yang
dilakukan diantaranya campur tangan emerintah dengan mengeluarkan
peraturan,peraturan, bahkan emerintah dapat menerapkan pajak subsidi untuk
pengelolaan lingkungan, juga dapat diterapkan standar kualitas lingkungan, tari",
tari" limbah dan sebagainya.
%gar pengontrolan atau pengawasan melalui jalur hukum yang dilakukan
terhadap korporasi yang diduga melakukan pencemaran dapat berlaku secara
e"ekti", maka hukum dalam akti"itasnya ditegakkan dengan dukungan sanksi, baik
sanksi administrasi, sanksi perdata, sanksi pidana, serta tindakan tata tertib.
#3
Keempat bentuk sanksi ini diatur dalam pasal,pasal 4ndang,4ndang &omor /2
Tahun #11< tentang engelolaan 5ingkungan Hidup.
$elama ini sanksi pidana yang banyak dijatuhkan terhadap badan hukum
yang mencemari atau merusak lingkungan hidup adalah sanksi pidana denda. Dan
lebih mendahulukan penerapan sanksi administrasi dan sanksi perdata. %pabila
kedua sanksi tersebut tidak berhasil, barulah kemudian digunakan sanksi pidana
karena si"atnya hanya sebagai sanksi subsider. %kan tetapi, dalam menerapkan
sanksi administrasi dan sanksi perdata pada kasus pencemaran lingkungan hidup
masih memiliki beberapa kelemahan diantaranya -
a. ada umumnya proses perkara perdata relati" memerlukan waktu yang cukup
lama, karena kemungkinan pihak pencemar akan mengulur,ulur waktu sidang
atau waktu pelaksanaan eksekusi dengan cara mengajukan banding atau kasasi,
sementara pencemaran terus juga berlangsung dengan segala macam akibatnya.
b. Fangka waktu pemulihan sulit dilakukan dengan segera, dan memerlukan
waktu yang cukup lama.
c. Dengan tidak menerapkan sanksi pidana, tidak menutup kemungkinan
pencemar atau pencemar lain yang potensial untuk tidak melakukan
pencemaran, dengan kata lain )deterre effect* (e"ek pencegahan) dari sanksi,
sanksi lain tidak dapat diharapkan dengan baik.
d. enerapan sanksi administrati" dapat mengakibatkan penutupan perusahaan
industri yang membawa akibat pula kepada pekerja, pengangguran akan
menjadi bertambah, dapat menimbulkan kejahatan dan kerawanan sosial
ekonomi lainnya.
%da beberapa beberapa "aktor yang mempengaruhi pihak Kepolisian lebih
sering menindak aksi,aksi kejahatan konBensional yang secara nyata dan "aktual
dan terdapat dalam akti"itas sehari,hari masyarakat dibandingkan dengan
menindak kejahatan korporasi. ertama, kejahatan,kejahatan yang dilaporkan oleh
masyarakat hanyalah kejahatan,kejahatan konBensional. %ktiBitas aparat
#<
Kepolisian sebagian besar didasarkan atas laporan anggota masyarakat, sehingga
kejahatan yang ditangani oleh Kepolisian juga turut bersi"at konBensional. Kedua,
pandangan masyarakat cenderung melihat kejahatan korporasi atau kejahatan
kerah putih bukan sebagai hal,hal yang sangat berbahaya, dan juga turut
dipengaruhi. Ketiga, pandangan serta landasan hukum menyangkut siapa yang
diakui sebagai subjek hukum pidana dalam hukum pidana !ndonesia. Keempat,
tujuan dari pemidanaan kejahatan korporasi lebih kepada adanya perbaikan dan
ganti rugi, berbeda dengan pemidanaan kejahatan lain yang konBensional yang
bertujuan untuk menangkap dan menghukum. Kelima, pengetahuan aparat
penegak hukum menyangkut kejahatan korporasi masih sangat minim, sehingga
terkadang terkesan enggan untuk menindak lanjutinya secara hukum dan
kejahatan korporasi sering melibatkan tokoh,tokoh masyarakat dengan status
sosial yang tinggi. Hal ini dinilai dapat mempengaruhi proses penegakan hukum.
Dalam tindak pidana lingkungan ini, kerugian dan kerusakan lingkungan
hidup tidak hanya yang bersi"at nyata (actual harm), tetapi juga bersi"at ancaman
kerusakan potensial, baik terhadap lingkungan hidup maupun kesehatan umum.
Disebabkan kerusakan maupun kesehatan umum seringkali tidak seketika timbul
dan tidak mudah dikuali"ikasi. +lek karenanya, generic crime yang relati" berat
sebaiknya dirumuskan sebagai tindak pidana materiil. &amun untuk tindak pidana
yang bersi"at khusus (specific crimes) yang melekat pada hukum administrasi dan
lebih ringan, bisa dilakukan perumusan yang bersi"at "ormil tanpa harus
menunggu pembuktian dari akibat yang terjadi.
#;
BAB III
PENU%UP
III.1. esim"ulan
Korporasi adalah suatu organisasi dengan tujuan tertentu yang bergerak
dalam bidang ekonomi atau bisnis, sehingga kejahatan korporasi disebut sebagai
kejahatan yang bersi"at organisatoris, yaitu suatu kejahatan yang terjadi dalam
#1
konteks hubungan,hubungan yang kompleks dan harapan,harapan diantara dewan
direksi, eksekuti" dan manejer disuatu pihak dan diantara kantor pusat, bagian,
bagian dan cabang,cabang pada pihak lain.
Kejahatan korporasi merupakan kejahatan yang besar dan sangat
berbahaya sekaligus merugikan kehidupan masyarakat, kendatipun di pihak lain ia
juga memberi keman"aatan bagi kehidupan masyarakat dan &egara. Dikatakan
)besar*, oleh karena kompleksnya komponen,komponen yang bekerja dalam satu
kesatuan korporasi, sehingga metode pendekatan yang dilakukan terhadap
korporasi tidak bisa lagi dengan menggunakan metode pendekatan tradisional
yang selama ini berlaku dan dikenal dengan metode pendekatan terhadap
kejahatan konBensional.
Dari hasil,hasil penelitian tentang kejahatan korporasi atau badan hukum,
menunjukkan bahwa pelanggaran hukum yang dilakukan oleh korporasi dapat
digolongkan ke dalam enam jenis - yaitu pelanggaran hukum administrasi,
pencemaran lingkungan, "inansial, perburuhan, manu"akturing dan persaingan
dagang yang tidak "air.
ertanggungjawaban pidana korporasi dalam pengelolaan lingkungan
hidup di !ndonesia berdasarkan 4ndang,4ndang &o. /2 Tahun #11< adalah
memberikan sanksi pidana terhadap badan hukum yang melakukan pencemaran
berupa kurungan penjara atau denda.
Dalam pengontrolan atau pengawasan yang dilakukan oleh jalur hukum
terhadap korporasi yang diduga melakukan pencemaran lingkungan dapat berlaku
e"ekti", jika hukum dalam akti"itasnya ditegakkan dengan dukungan sanksi, baik
sanksi administrasi, sanksi perdata, sanksi pidana, serta tindakan tata tertib.
Keempat bentuk sanksi ini diatur dalam pasal,pasal 4ndang,4ndang &omor /2
Tahun #11< tentang engelolaan 5ingkungan Hidup.
Kemudian jika dalam pengawasan tersebut, ditemukan kegiatan atau
akti"itas yang dilakukan untuk dan atas nama suatu korporasi, yang terbukti
/0
mengakibatkan kerugian bagi lingkungan hidup, pertanggungjawaban hukum
terhadap korporasi tersebut berlaku kepada mereka yang memberi perintah atau
yang menjadi pemimpin dalam perbuatan tersebut. ertanggungjawaban pidana
dari pimpinan korporasi dan atau pemberi perintah, keduanya dapat dikenakan
hukuman secara berbarengan. Hukuman tersebut bukan karena perbuatan "isik
atau nyatanya, tetapi berdasarkan "ungsi yang diembannya di dalam suatu
perusahaan. ada tanggung jawab korporasi, yang dijatuhi hukuman pidana
adalah perusahaannya dengan sanksi pidana denda, tidak termasuk penjara.
%pabila indiBidu,indiBidu dianggap bertanggung jawab atas pencemaran
lingkungan hidup, maka untuk dapat dipidana indiBidu,indiBidu tersebut harus
didakwa. Dalam hal ini tidak bisa secara otomatis sanksi pidana dialihkan dari
corporate crime menjadi personal crime.
III.2. Saran
Dengan pertimbangan dampak yang dapat ditimbulkan oleh kejahatan
korporasi baik bagi masyarakat, perekonomian, pemerintahan dan aspek,aspek
lainnya yang berbahaya, bahkan lebih serius dibandingkan dengan dampak yang
ditimbulkan oleh bentuk,bentuk kejahatan yang konBensional, maka harus ada
konsistensi dan landasan yang solid dalam hukum untuk dapat membebankan
pertanggungjawaban pidana kepada korporasi.
4ntuk tindak pidana korporasi dalam bidang lingkungan, saat ini harus
lebih die"ekti"kan sanksinya, dengan tujuan untuk mendidik masyarakat
sehubungan dengan kesalahan moral yang berkaitan dengan perilaku yang
dilarang, dan mencegah atau menghalangi pelaku potensial agar tidak melakukan
perilaku yang tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Dengan
demikian tindak pidana lingkungan sepenuhnya tergantung pada hukum lain.
Kondisi ini dianggap wajar, namun mengingat pentingnya lingkungan hidup yang
baik dan sehat dan kedudukannya sebagai tindak pidana ekonomi serta
/#
kompleksitas kepentingan yang dilindungi baik yang bersi"at antroposentris
maupun ekosentris, maka ketentuan khusus (specific crime) perlu dilengkapi
dengan pengaturan yang bersi"at umum dan mandiri terlepas dari hukum lain.
$elain itu, diperlukan perhatian studi yang lebih mendalam, baik di
kalangan akademis, pro"esional maupun aparat penegak hukum, guna membangun
suatu kerangka teoritis bagi pertanggungjawaban pidana korporasi. Hal ini
hendaknya diimbangi pula dengan upaya peningkatan kualitas dan kemampuan
para penegak hukum yang akan menerapkannya. :ereka harus mampu dan kreati"
untuk melakukan terobosan,terobosan hukum.
DA'%AR PUS%AA
%marini, !ndriati. )ertanggungjawaban idana Korporasi Dalam 4ndang,4ndang
engelolaan 5ingkungan Hidup (445H)* (+n,line). Tersedia di
http-..www.google.com.url6
78http-..jurnal.ump.ac.id.inde9.php.H4K4:.article.download./;<./</=sa84=
//
ei8Hw;w4e3K%>r9r?e@9>AgA%=Bed80A(s?@j%(=usg8%@?jA&C(<nw"
TDoln+gtDbaT>%9T3>HC:g, diunduh /3 +ktober /0#2.
!mami, %miruddin %. Dajaan, dkk. !sas "ubsidiaritas # $edudukan dan %mplementasi
dalam &enegakan 'ukum (ingkungan, (andung- ,$5 @H,4&%D dan
(estari, /001.
&asution, (ismar. )Kejahatan Korporasi dan ertanggungjawabannya* (+n,line).
Tersedia di http-..bismar. wordpress.com./001.#/./2, diunduh /3 +ktober /0#2.
riyatna, :aret. )enerapan Tindak idana 5ingkungan (agi Korporasi Dalam
enegakan Hukum 5ingkungan Di !ndonesia*. (aw )eview. Iol. J! &o. 2
(:aret /0#/).
$asmito, Hko. *Tindak idana Dan Tanggung Fawab Korporasi Di (idang 5ingkungan
Hidup* (+n,line). Tersedia di http-..apps.um,surabaya.ac.id. jurnal."iles.disk#.#.
umsurabaya,#1#/,ekosasmito,2G,#,tindakp,.pd", diunduh /3 +ktober /0#2.
$ulaiman, %bdullah. *etode &enulisan %lmu 'ukum. Aet. Keempat. Fakarta- Dayasan
endidikan dan engembangan $umber Daya :anusia (D$D:), /0#/.
$usanto, !. $. $ejahatan $orporasi. $emarang- (adan enerbit 4niBersitas
Diponegoro, #11G.
/2