Anda di halaman 1dari 38

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Salah satu pekerjaan di bidang kedokteran gigi yang banyak membutuhkan
beragam material cetak adalah pada tindakan klinik restoratif. Kepuasan pasien
terhadap hasil tindakan restorasi terutama ditentukan penilaian estetik oleh pasien
serta harga yang terjangkau. Hal ini tentunya sangat tergantung pada kualitas
bahan yang akan digunakan oleh dokter gigi yang bersangkutan (Baum, 1997)
Namun demikian, banyaknya jenis bahan yang tersedia dipasaran dapat
menjadi kesulitan tersendiri bagi dokter gigi, terlebih setelah dihadapkan pada
pertimbangan ekonomis yang disesuaikan dengan kemampuan pasien (Baum,
1997)
Selain masalah tersebut diatas, keahlian seorang dokter gigi dalam
memanipulasi bahan tentunya sangat mempengaruhi hasil akhir dari perawatan
yang dilakukannya. Untuk hal ini tentu saja menuntut pengetahuan yang lengkap
serta mendalam dari dokter gigi yang bersangkutan terhadap berbagai sifat
spesifik dari bahan yang dimanipulasinya (Baum, 1997)
Berikut dalam makalah ini, akan kami bahas mengenai bahan restorasi
dengan jenis, sifat, komposisi, serta aplikasinya dalam kedokteran gigi.












2


1.2 Learning Objectives
1. Anatomi dan Morfologi Gigi 44 dan 46
2. Resin Komposit
2.1.Jenis/Klasifikasi Resin Komposit
2.2.Sifat Resin Komposit
2.3.Komposisi Resin Komposit
2.4.Manipulasi Resin Komposit
2.5.Mekanisme Bonding pada Gigi
2.6.Aplikasi Resin Komposit pada Kedokteran Gigi
3. Amalgam
3.1.Jenis/Klasifikasi Amalgam
3.2.Sifat Amalgam
3.3.Komposisi Amalgam
3.4.Manipulasi Amalgam
3.5.Mekanisme Amalgamasi
3.6.Aplikasi Amalgam pada Kedokteran Gigi
4. Glass Ionomer Cement (GIC)
4.1.Jenis/Klasifikasi GIC
4.2.Sifat GIC
4.3.Komposisi GIC
4.4.Manipulasi GIC
4.5.Mekanisme Adhesi pada Gigi
4.6.Aplikasi GIC pada Kedokteran Gigi
5. Dental Cement
5.1.Jenis/Klasifikasi Dental Cement
5.2.Sifat Dental Cement
5.3.Komposisi Dental Cement
5.4.Manipulasi Dental Cement




3


BAB 2
PEMBAHASAN

2.1. Anatomi dan Morfologi 44 dan 46
2.1.1. Gigi 44
A. Aspek bukal
a. Middle developmental lobe berkembang baik
b. Bukal ridge besar
c. Developmental depression terlihat disepanjang bukal lobe
d. Mesioa slope lebih pendek daripada distal slope
B. Aspek lingual
a. Lingual cusp tip lebih pendek, sehingga terlihat oklusalnya
b. Mesial marginal groove terpisah dengan mesial marginal ridge
C. Espek proksimal
a. Teradapat mesiolingual groove
b. CEJ pada sisi distal lebih datar
D. Aspek oklusal
a. Terlihat mesiolingal groove
b. Bentuknya seperti permata
1

2.1.2. Gigi 46
2.1. Aspek bukal
a. lebih besar mesiodistal daripada cervicoinsisal
b. Sisi bukal terbagi menjadi tiga bagian yang dibagi oleh mesiobukal
groove dan distobukal groove
c. Mesiobukal groove berakhir pada bukal pit
2.2. Aspek lingual
a. Lebih besar daripada bukal cusp
b. Terdapat lingual groove yang membagi mesiolingual cusp dan
distolingual cusp
2.3. Aspek proksimal
a. Sisi mesial lebih sedikit konkaf
b. Mesiomarginal ridge lebih tinggi daripada distomarginal ridge
4


2.4. Aspek oklusal
a. Pada sisi bukal terlihat dua groove
b. Berntuknya lebih persegi dibandingkan molar 1 rahang atas.
1

2.2. Resin Komposit
Istilah komposit mengacu pada kombinasiantara2 material atau lebih yang
akan menghasilkan sifat yang lebih baik dari masing-masing konstituennya. Resin
komposit adalah suatu bahan matriks resin yang didalamnya ditambahkan pasi
anorganik (quartz, partikel silika koloidal) sedemikian rupa sehingga sifat
matriksnya ditingkatkan.
2.2.1. Jenis/Klasifikasi Resin Komposit
Resin komposit diklasifikasikan atas duat bagian yaitu menurut ukuran
filler dan cara aktivasi.
A. Berdasarkan ukuran filler
a. Resin komposit tradisional/konvensional/makrofiller
Terdiri dari partikel filler kaca dengan ukuran rata-rata 1-15m, berat
filler 70-80% dengan jenis partikel quartz (radiolusen). Jenis ini
berkembanga pada zaman 70-an dan mengalami modifikasi. Resin
komposit makrofiller lebih tahan abrasi daripada resin akrilik tanpa
bahan pengisi, namun permukaannya kasar.
b. Resin komposit mikrofiller
Diperkenalkan pada akhir tahun 1970 dengan ukuran partikel 0.04-
0.2m dan berat filler 50-60%. Partikel yang digunakan adalah
amorphous silica atau sillica coloidal. Premukaannya serupa dengan
tambahalan resin akrilik tanpa bahan pengisi, lebih estetis namun lebih
cepat aus, karena silika koloidal cenderung menggumpal dengan
ukuran 0,04-0,4m. Kekuatan kompresif dan tensilnya lebih tinggi
daripada resin komposit konvensional
c. Resin komposit mikrohibrid/fine particle
Jenis resin komposit ini memiliki ukuran partikel sekitar 0.4-3m
dengan berat filler 70-90%. Bahan pengisi yang digunakan adalah
ground glass atauquatrz. Jenis ini digunakan untuk memperoleh
kehalusan permukaan komposit berbahan pengisi mikro dengan tetap
5


mempertahankan/meningkatkan sifat mekani dan fisik komposit
tradisional.
d. Resin komposit hybrid
Dengan berat filler 77-84%, dan partike pengisinya adalah gabungan
dari karofiller dan mikrofiller. Sifat fisik dan mekanik terletak antara
resin komposit konvensional dan mikrohibrid. Permukaannya halus
dan kekuatannya cukup baik. Oelh karena itu sering digunakan untuk
tambalan gigi anterior dan posterior.
2
B. Berdasarkan cara aktivasi
a. Aktivasi decara khemis
Produk ini terdiri dari dua pasta, satu yang mengandung bensoyl
peroxide (BP) initiator dan yang satu lagi mengantung aktivator
aromatic amine tertier. Sewaktu aktivasi, rantai OOputus, dan
elektron terbelah diantara kedua molekul. Saat aktivasi, amine akan
bereaksi dengan BP dan membentuk radikal bebas dan polimerisasi
dimulai.
b. Aktivasi mempergunakan cahaya
Diformulasikan untuk sinar UV membentuk radikal bebas. Pada masa
kini, komposit yang mempergunakan curing UV berganti menjadi
sinar tampak biru. Komposit ini menggunakan aktivasi sinar yang
terdiri dari pasta tunggal yang diletakkan di dalam syringe tahan
cahaya. Pasta ini mengandung photosensitizes Chomporquinone (CQ)
dengan panjang gelombang 400-500 nm dan amine yang akn
menginisiasi pembentukan radikal bebas. Jika terkontaminasi dengan
cahaya biru(panjang gelombang 468nm) maka akan memproduksi
fase eksitasi dari photosensitizer, dimana akan bereaksi dengan amine
untuk membentuk radikal babas dan terjadilah polimerisasi lanjutan.
2

2.2.2. Sifat Resin Komposit
Sama halnya dengan bahan restorasi kedokteran gigi yang lain, resin
komposit juga memiliki sifat. Ada beberapa sifat sifat yang terdapat pada
resin komposit, antara lain:
6


A. Sifat fisik
Secara fisik resin komposit memiliki nilai estetik yang baik sehingga
nyaman digunakan pada gigi anterior. Selain itu juga kekuatan, waktu
pengerasa dan karakteristik permukaan juga menjadi pertimbangan dalam
penggunaan bahan ini. Sifat-sifat fisik tersebut diantaranya:
a. Warna
Resin komposit resisten terhadap perubahan warna yang disebabkan
oleh oksidasi tetapi sensitive pada penodaan. Stabilitas warna resin
komposit dipengaruhi oleh pencelupan berbagai noda seperti kopi, teh,
jus anggur, arak dan minyak wijen.
Perubahan warna bisa juga terjadi dengan oksidasi dan akibat dari
penggantian air dalam polimer matriks. Untuk mencocokan dengan
warna gigi, komposit kedokteran gigi harus memiliki warna visual
(shading) dan translusensi yang dapat menyerupai struktur gigi.
Translusensi atau opasitas dibuat untuk menyesuaikan dengan warna
email dan dentin.
b. Strength
Tensile dan compressive strength resin komposit ini lebih rendah dari
amalgam, hal ini memungkinkan bahan ini digunakan untuk
pembuatan restorasi pada pembuatan insisal. Nilai kekuatan dari
masing-masing jenis bahan resin komposit berbeda.
c. Setting

Dari aspek klinis setting komposit ini terjadi selama 20-60 detik
sedikitnya waktu yang diperlukan setelah penyinaran. Pencampuran
dan setting bahan dengan light cured dalam beberapa detik setelah
aplikasi sinar. Sedangkan pada bahan yang diaktifkan secara kimia
memerlukan setting time 30 detik selama pengadukan.
Apabila resin komposit telah mengeras tidak dapat dicarving dengan
instrument yang tajam tetapi dengan menggunakan abrasive rotary.
3


7


B. Sifat mekanis
Sifat mekanis pada bahan restorasi resin komposit merupakan faktor
yang penting terhadap kemampuan bahan ini bertahan pada kavitas. Sifat ini
juga harus menjamin bahan tambalan berfungsi secara efektif, aman dan
tahan untuk jangka waktu tertentu.
a. Adhesi
Sifat-sifat yang mendukung bahan resin komposit diantaranya yaitu :
Adhesi terjadi apabila dua subtansi yang berbeda melekat sewaktu
berkontak disebabkan adanya gaya tarik menarik yang timbul antara
kedua benda tersebut.
Resin komposit tidak berikatan secara kimia dengan email. Adhesi
diperoleh dengan dua cara. Pertama dengan menciptakan ikatan fisik
antara resin dengan jaringan gigi melalui etsa. Pengetsaan pada email
menyebabkan terbentuknya porositas tersebut sehingga tercipta retensi
mekanis yang cukup baik. Kedua dengan penggunaan lapisan yang
diaplikasikan antara dentin dan resin komposit dengan maksud
menciptakan ikatan antara dentin dengan resin komposit tersebut
(dentin bonding agent).
b. Kekuatan dan keausan
Kekuatan kompresif dan kekuatan tensil resin komposit lebih unggul
dibandingkan resin akrilik. Kekuatan tensil komposit dan daya tahan
terhadap fraktur memungkinkannya digunakan bahan restorasi ini
untuk penumpatan sudut insisal. Akan tetapi memiliki derajat keausan
yang sangat tinggi, karena resin matriks yang lunak lebih cepat hilang
sehingga akhirnya filler lepas.
3
C. Sifat khemis
Resin gigi menjadi padat bila berpolimerisasi. Polimerisasi adalah
serangkaian reaksi kimia dimana molekul makro, atau polimer dibentuk dari
sejumlah molekul molekul yang disebut monomer. Inti molekul yang
terbentuk dalam system ini dapat berbentuk apapun, tetapi gugus metrakilat
ditemukan pada ujung ujung rantai atau pada ujung ujung rantai
8


percabangan. Salah satu metakrilat multifungsional yang pertama kali
digunakan dalam kedokteran gigi adalah resin Bowen (Bis-GMA) .
Resin ini dapat digambarkan sebagai suatu ester aromatik dari metakrilat,
yang tersintesa dari resin epoksi (etilen glikol dari Bis-fenol A) dan metal
metakrilat. Karena Bis-GMA mempunyai struktur sentral yang kaku (2
cincin) dan dua gugus OH, Bis-GMA murni menjadi amat kental. Untuk
mengurangi kekentalannya, suatu dimetakrilat berviskositas rendah seperti
trietilen glikol dimetakrilat (TEDGMA) ditambahkan.
3
D. Kelebihan
Resin komposit cukup kuat untuk digunakan pada tambalan gigi posterior
dan resin komposit juga tidak berbahaya seperti amalgam yang dapat
menyebabkan toksisitas merkuri kepada pasien. Selain itu, warnanya yang
sewarna gigi menyebabkan resin komposit digunakan untuk tujuan estetik.
4
E. Kekurangan
Walaupun warna resin komposit sewarna gigi, tapi bahan ini dapat
berubah warna selama pemakaian. Selain itu dapat juga terjadi pengerutan.
Pengerutan biasanya akan terjadi dan menyebabkan perubahan warna pada
marginal tambalan. Komposit dengan filler berukuran kecil dapat
dipergunakan sehingga 9 tahun, lebih lekas rusak dibandingkan dengan
tambalan amalgam.
4
2.2.3. Komposisi Resin Komposit
A. Matriks resin organik
1. Aromatik dan aliphatic dimetacrilate, seperti bisphenol A glycidil
metacrylate (BIS-GMA), akan meningkatkan viskositas
2. UDMA (urethane dimetacrylate)
3. TEGDMA (triethyleneglycol dimetacrilate), akan menurunkan
viskositas
4. Monomer: siloranes
i. Menurunkan shrinkage dan internal stress
ii. Meningkatkan durabilitas

9


B. Filler anorganik
1. Glasses(aluminium, barium, strontium, zinc, zirconium)
2. Quartz (SIO
2
)
3. Alternatif filler, seperti silika.
Penambahan partikel filler ke dalam matriks akan memperbaiki sifat
resin komposit seperti sifat mekanis; kekakuan, kekerasan dan
resistensi abrasi, selain itu dapat mengurangkan penyerapan cairan
dan koefisien ekspansi termal.
C. Coupling agent(3-methacryloxypropyltrimethoxysilane)
Melapiska partikel filler dengan coulpng agent seperti vinyl silane,
berguna untuk memperkuat ikatan antara filler dan matriks. Coupling
agent memperkuat ikatan dengan beraksi secara kimia dengan keduanya.
Fungsi dari coupling agent:
1. Memperbaiki sifat fisik dan mekanis dari resin
2. Mencegah cairan dari penetrasi ke dalam filler-resin
D. Bahan penghambat polimerisasi
Monomer dimetakrilat dapat berpolimerisasi selam penyimpanan, maka
dibutuhkan bahan penghambat (inhibitor) hidroquinone. Bahan yang
paling sering digunakan adalah monomethil ether hydroquinon.
E. Penyerapan UV
Untuk meminimalkan perubahan warna karena proses oksidasi.
Camhphorquinone dan 9-fluorenone sering digunakan sebagai penyerap
UV.
F. Opacifiers
Untuk memastikan resin komposit terlihat di dalam sinar-X. bahan yang
sering dipergunakan adlah titanium dioksida dan alumunium dioksida.
G. Pigmen warna
Agar warna resin komposit menyerupai warna gigi asli. Zat warna yang
biasa digunakan adalah ferric oxide, cadmium black, dll.
5




10


2.2.4. Manipulasi Resin Komposit
A. Etching dan bonding
Untuk membentuk ikatan antara composite dan struktur gigi maka gigi
harus dietsa
Dengan menggunakan bonding agent, enamel dan dentin pada kavitas
preparasi dietsa dengan asam selama 30 detik yang mengandung 10%-
15% / 34%-37% gel / cairan asam fosfat. Asam tersebut kemudian
dibasuh dengan air dan permukaannya dikeringakan dengan aliran
udara
Permukaan gigi yang sudah dietsa tampak kusam
Pada saat yang sama, bonding agent mempenetrasi permukaan enamel
dan dentin yang teretsa dan menyebabkan retensi mikromekanik pada
restorasi
Single paste composite ( light cured)
Menggunakan 1 pasta composite
Harus dicegah adanya under curing karena akan menghasilkan
tambalan yang keras hanya pada kulit luarnya sedangkan bagian
dalamnya tetap lunak
Under curing dapat terjadi bila sumber cahaya diletakkan tidak cukup
dekat pada permukaan bahan yang hendak dipolomerisasi
Bahan yang lebih gelap mengabsorbsi warna lebih banyak sehingga
membutuhkan waktu curing yang lebih lama.
Monomer yang tersisa dapat menyebabkan iritasi jaringan
Itensitas pemajanan serta jarak pemanjanan perlu diperhatikan
Two paste composite / dual cured composite ( self cured )
Kedua pasta hendaknya dicampur dengan baik dan dengan
perbandingan yang benar ( biasanya dalam volume yang serupa )
Sebaiknya jangan menggunakan spatel yang terbuat dari stanless steel
karena spatel ini tidak sepenuhnya tahan terhadap abrasi
Cegah terjadinya kontaminasi oleh suatu pasta terhadap pasta lainnya
Sedapat mungkin cegah terperangkapnya udara dalam adonan sewaktu
pencampuran
11


Pada beberapa bahan, dapat ditambahkan tins / zat pewarna selam
proses pencampuran sehingga memungkinkan diperolehnya warna
komposit yang sesuai dengan warna gigi asli
Bahan yang sudah diadon hendanknya tanpa menunggu lebih lama
langung dimasukkan ke dalam kavitas
Monomer yang tersisa dapat menyebabkan iritasi jaringan
Itensitas pemajanan serta jarak pemanjanan perlu diperhatikan
Proteksi pulpa
Sebelum komposit dimasukkan ke dalam kavitas, pulpa harus
dilindungi dengan liner (Ca (OH)2) atau glass ionomer, hybrid
ionomer, compomer base
B. Penumpatan
Peletakkan komposit pada kavitas preparasi dapat dengan berbagai cara :
Diletakkan menggunakan instrumen plastik / instrumen dengan
disposeable elastometric tips yang tidak melekat oada komposit
Diletakkan dalam tip platik jarum suntik kemudian diinjeksikan pada
cavitas preparasi
C. Finishing dan polishing
Untuk mengurangi menggunakan : diamond, carbide finishing bur,
finishing disk, strips alumina
Untuk finishing akhir : abrasive - impregnated rubber rolary
instrument, disk / rubber cup dengan berbagai paste polishing
Finishing ditunjukkan dengan area basah dan pelicin ater soluable
Finishing akhir dari composite light cured dimulai segera setelah light
curing.
6


2.2.5. Mekanisme Bonding pada Gigi
Bonding adalah proses mendapatkan ikatan antara email dan bahan
restorasi berbahan resin mencakup melakukan etsa email sehingga terjadi
kelarutan pada tempat tertentu dengan mikroporus. Teknik etsa asam untuk
membersihkan debris dan membuka enamel agar larut sehingga komposit dapat
dengan mudah membasahi bagian gigi sampai ke mikroporus. Email teretsa
12


memiliki energi permukaan yang tinggi, tidak seperti enamel yang normal dan
memungkinkan resin dengan begitu mudah membasahi permukaan serta
menembus sampai kedalam mikroporus. Begitu resin menembus kedalam
mikroporus tersebut, bahan akan terpolimerisasi untuk membentuk ikatan
mekanik terhadap email.
7

2.2.6. Aplikasi Resin Komposit pada Kedokteran Gigi
a. Bahan tambalan pada gigi anterior dan posterior ( direct atau inlay )
b. Sebagai veneer mahkota logam dan jembatan ( prostodontic resin )
c. Sebagai pasak
d. Sebagai semen pada orthodontic bracket,Maryland bridge,ceramic
crown,inlay onlay
e. Fit dari fissure sealant
f. Memperbaiki restorasi porselen yang rusak.
7


2.3. Amalgam
Amalgam adalah campuran alloy padat dengan merkuri cair. Alloy ini dapat
berupa timah, tembaga, perak dan kadang-kadang zinc, indium, palladium, dan
selenium. Fungsi dari amalgam itu sendiri ialah sebagai bahan tumpatan pada gigi.
2.3.1. Jenis/Klasifikasi Amalgam
Amalgam dapat diklasifikasikan atas beberapa jenis yaitu :
Berdasarkan jumlah metal alloy, yaitu:
a. Alloy binary, contohnya : silver-tin
b. Alloy tertinary, contohnya : silver-tin-copper
c. Alloy quartenary, contohnya : silver-tin-copper-indium
Berdasarkan ukuran alloy, yaitu:
a. Microcut, dengan ukuran 10 30 m.
b. Macrocut, dengan ukuran lebih besar dari 30 m.
Berdasarkan bentuk partikel alloy, yaitu:
a. Alloy lathe-cut
Alloy ini memiliki bentuk yang tidak teratur, seperti yang terlihat
pada Gambar 1
13






Gambar 1. Partikel alloy amalgam lathe-cut (100x) 10
b. Alloy spherical
Alloy spherical dibentuk melalui proses atomisasi. Dimana cairan
alloy diatomisasi menjadi tetesan logam yang berbentuk ulat kecil.
Alloy ini tidak teratur berbentuk bulat sempurna tetapi dapat juga
berbentuk persegi. Tergantung pada teknik atomisasi dan
pemadatan yang digunakan.


Gambar 2. Partikel alloy amalgam spherical (500x)
10
14



c. Alloy spheroidal
Alloy spheroidal juga dibentuk melalui proses atomisasi.
Berdasarkan kandungan alloy ,yaitu :
a. Zink - containing alloy : mengandung lebih dari 0,01 % zink
b. Zink free alloy : mengandung kurang dari 0,01 % zink
Berdasarkan kandungan tembaga ,yaitu :
a. Low copper alloy : mengandung silver ( 68-70 % ),tin (27-26
%),copper ( 4-5 % ) dan zink (0-1 % )
b. High copper alloy : mengandung silver (40-70 %),tin ( 22-
30% ),copper ( 13-30 % ) dan zink ( 0-1 % )
Alloy ini dapat dikalsifikasikan menjadi dua :
1. Admixed/disperse/blended alloy
Alloy ini merupakan campuran spherical alloy dengan
lathe cut dengan komposisi yang berbeda yaitu high
copper spherical alloy dengan low copper lathe cut
alloy.komposisi keseluruhan nya yaitu
Terdiri atas silver ( 69 % ) tin ( 17 % ) copper (13 % ) zink
( (1 % )
2. Single composition atau Unicom position alloy tiap
partikel dari alloy ini memiliki komposisi yang
sama.komposisi keseluruhan terdiri atas silver ( 40-60 % )
tin ( 22- 30 % ) copper ( 13-30 % ) zink ( 0-4 % ).
7


2.3.2. Sifat Amalgam
A. Sifat Fisik
1. Creep
Merupakan regangan atau deformasi yang bergantung pada waktu,
yang disebabkan oleh tekanan. Proses perubahan ini dapat
menyebabkan restorasi amalgam meluas keluar dari preparasi kavitas,
sehingga membuat restorasi mudah meluas keluar mengalami
kerusakan tepi.
15


Amalgam yang kandungan tembaganya rendah lebih rentan
mengalami kerusakan di bagian tepi dibandingkan amalgam yang
tinggi kandungan tembaganya.
2. Stabilitas Dimensional
Idealnya amalgam harus mengeras tanpa terjadi perubahan pada
dimensinya dan tetap stabil. Faktor yang dapat mempengaruhi
perubahan dimensi:
Komposisi alloy : semakin banyak jumlah silver dalam amalgam,
maka akan lebih besar pula ekspansi yang terjadi. Semakin besar
jumlah tin, maka kontraksi akan lebih besar.
Rasio merkuri/alloy : makin banyak merkuri, semakin besar tingkat
ekspansi.
Waktu triturasi : semakin lama waktu triturasi, maka ekspansi akan
lebih kecil.
3. Difusi Termal
Difusi termal amalgam 40 kali lebih besar dari dentin, koefisien
ekspansi termal amalgam 3 kali lebih besar dari dentin yang
mengakibatkan mikrolekage dan karies sekunder.
4. Abrasi
Prosses abrasi yang terjadi saat mastikasi makanan, berefek pada
hilangnya sebuah substansi atau zat, biasa disebut wear. Mastikasi
melibatkan pemberian tekanan pada tumpatan yang mengakibatkan
kerusakan dan terbentuknya pecahan atau puing amalgam.
B. Sifat Mekanik Amalgam
1. Kekuatan
Faktor yang mempengaruhi kekuatan amalgam:
Rasio merkuri/alloy : Jika merkuri digunakan terlalu sedikit, maka
partikel alloy tidak akan terbasahi secara sempurna sehingga bagian
restorasi alloy tidak akan bereaksi dengan merkuri, menyisakan
peningkatan lokal porositas dan membuat amalgam menjadi lebih
rapuh.
16


Komposisi alloy : amalgam yang tinggi tembaga dengan tipe
dispersi lebih kuat dibanding alloy dengan komposisi konvensional.
Porositas : dapat dikurangi dengan triturasi yang tepat dan teknik
triturasi yang baik.
C. Sifat Kimia Amalgam
1. Reaksi elektrokimia sel galvanik
Korosi galvanik terjadi ketika dua atau lebih alloy berkontak dalam
larutan elektrolik, dalam hal ini saliva. Besarmya arus galvanik
dipengaruhi oleh usia restorasi, perbedaan potensial korosi sebelum
berkontak dan daerah permukaan. Semakin lama usia restorasi
amalgam dengan tumpatan lainnya, semakin kecil arus galvanik yang
dihasilkan.
2. Korosi
Reaksi elektrokimia yang akan menghasilkan degradasi struktur dan
properti mekanis. Banyak korosi amalgam terjadi pada bagian pit dan
servikal.
3. Tarnish
Reaksi elektrokimia yang tidak larut, adherent, serta permukaan film
yang terlihat dapat menyebabkan tarnish. Penyebab tarnish atau
diskolorasi yang paling terkenal adalah campuran perak dan temabga
sulfida, karena reaksi dengan sulfur dalam makanan dan minuman.
D. Sifat Biologi
1. Alergi
Secara khas respon alergi mewakili antigen dengan reaksi antibodi
yang ditandai dengan rasa gatal,ruam, bersin, kesulitan bernapas,
pembengkakan mewakili efek samping fisiologis yang paling
mungkin terjadi pada amalgam gigi, tetapi reaksi ini terjadi oleh
kurang dari 1 populasi yang dirawat.
2. Toksisitas
Merkuri adalah elemen yang beracun. Merkuri larut dalam lemak dan
sewaktu-waktu dapat terhirup oleh paru-paru yang mana akan
teroksidasi menjadi Mg
2+
. Lalu akan di transportasikan dari paru-paru
17


ke sel darah merah kejaringan lain termasuk SSP. Merkuri dengan
mudah menjadi senyawa metil merkuri, melewati barrier darah-otak
dan juga plasentas kepada janin dan berefek pada bayi yang nakan
dilahirkan.
8


2.3.3. Komposisi Amalgam
Komposisi bahan restorasi dental amalgam terdiri dari perak, timah,
tembaga, merkuri, platinum, dan seng. Unsur-unsur kandungan bahan
restorasi amalgam tersebut memiliki dungsinya masing-masing dimana
sebagian diantaranyanakan saling mengatasi kelemahan yang ditimbulkan
logam lain, jika logam yang dikombinasikan dengan tepat.
Alloy Persentase (%)
Silver 65 (max)
Tin 29 (max)
Copper 6 (max)
Zinc 2 (max)
Mercury 3 (max)
palladium 0,5
Fungsi dari masing-masing bahan restorasi :
a. Silver
Menurunkan creep
Meningkatkan strength
Meningkatkan setting ekspansi
Meningkatkan reaksi terhadap tarnis
b. Tin
Mengurangi strength dan hardness
Mengendalikan reaksi antara perak dan merkuri
Mengurangi resistensi terhadap korosi dan tarnis
c. Copper
Meningkatkan ekspansi saat pengerasan
Meningkatkan strength dan hardness.
6

18



2.3.4. Manipulasi Amalgam
Pemanipulasian amalgam terdiri dari mixing, triturasi, kondensasi,
triming dan karving serta polishing.
1. Mixing
Pemanipulasian dental amalgam dilakukan dengan mencampurkan
merkuri dengan alloy amalgam disebut dengan amalgamasi.
2. Triturasi
Dapat dilakukan dengan dua cara:
Secara Manual (Hand Mixing)
Triturasi dilakukan karena adanya suatu selubung tipis oksida pada
alloy yang akan menghambat berkontaknya merkuri dengan alloy.
Oksida tersebut dapat dihilangkan dengan jalan mengabrasi
permukaan partikel alloy. Hal ini biasanya dilakukan di dalam
mortar dan pengaduknya dengan pestle. Perbandingan alloy dengan
merkuri adalah 1:1.
Menggunkan Amalgamator (Mechanical Mixing)
Mechanical amalgamator adalah alat yang digunakan untuk
triturasi yang bekerja secara otomatis. Prinsipnya sama dengan
mortar dan pestle tetapi dengan menggunakan kapsul.
3. Kondensasi
Kondensasi adonan dental amalgam di dalam kavitas gigi dilakukan
dengan menggunakan amalgam stopper. Dengan kondensasi
diharapkan partikel amalgam tetap rapat satu sama lain dan masuk ke
segala arah dalam kavitas sehingga terdapat kepadatan dental
amalgam. Dengan demikian kekuatan akan bertambah, flow dan
pengerutan akan berkurang. Kondensasi juga bertujuan untuk
menghilangkan merkuri yang berlebihan.
4. Pengukiran dan Pemolesan
Pengukiran restorasi amalgam sesuai dengan anatomi gigi setelah
dental amalgam ditempatkan dalam kavitas, biasanya dilakukan
dengan menggunakan berbagai alat secara manual seperti burnisher.
19


Pemolesan pada amalgam umumnya paling sedikit 24 jam setelah
penambalan. Tetapi jika high copper amalgam dengan kekuatan yang
tinggi digunakan, pemolesan dapat dilakukan pada kunjungan
pertama.
Umumnya permukaan amalgam dibentuk kembali dengan
menggunakan green stones, finishing bur, atau abrasive disk. Bentuk
permukaan dan tepi amalgam diperiksa agar benar-benar licin dan
sama dengan gigi. Selanjutnya digunakan bahan poles seperti
pumice/silux pada rubber abrasive points. Tahap akhir untuk
mengkilapkan digunakan pasta abrasive yang baik. Pemolesan selalu
dilakukan dalam keadaan basah, karena memoles dalam keadaan
kering, memungkinkan dental amalgam jadi panas sehingga dapat
merusak pulpa.
8

2.3.5. Mekanisme Amalgamasi
Amalgamasi merupakan proses pencampuran merkuri dalam bentuk
cairan dengan satu atau beberapa logam atau logam campur untuk membentuk
amalgam.
1. Low copper alloy
Amalgamasi terjadi ketika merkuri berkontak dengan permukaan partikel
campur Hg-Sn. Jika bubuk ditraturasi, perak dan timah di bagian luar
partikel akan larut menjadi merkuri pada saat bersamaan, merkuri
berdifusi ke partikel alloy. Urutannya :
Pelarutan dari perak dan timah menjadi mercuri
Prespitasi dari kristal-kristal
1
dalam merkuri
Konsumsi dari merkuri yang masih bersisa melalui pertumbuhan
butiran
1
dan

2

Partikel alloy dikelilingi dan diikat bersama-sama kristal
1
dan

2

Reaksi : partikel alloy ( +

) + Hg ->
1
+

2
+ Partikel alloy yang
terkonsumsi

20


2. High copper alloy
Ada 2 macam bubuk alloy, yaitu :
a. Alloy gabungan, yaitu alloy perak-tembaga (Ag-Cu)
Bila merkuri bereaksi dengan bubuk gabungan, perak akan larut
kedalam merkuri dari Alloy Ag-Cu dan perak timah akan larut dalam
merkuri dari Ag-Sn. Timah berdifusi ke permukaan partikel alloy Ag-
Cu dan bereaksi dengan pase tembaga untuk membentuk fase
(Cu
6
Sn
5
). Lapisan-lapisan Kristal terbentuk di sekitar partikel alloy
Ag-Cu yang tidak dikonsumsi dan juga mengandung Kristal
1.
Fase

1
terbentuk bersamaan dengan fase dan mengelilingi partikel
reaksiam alloy Ag-Cu dan Ag-Sn.
Reaksi : partikel alloy ( +

) +Ag-Cu eutentic + Hg ->
1
+


+
Partikel alloy dari kedua tipe yang tidak digunakan
b. Alloy komposisi tunggal
Yaitu perak 60%, timah 27%, tembaga 13-30%. Prosesnya perak dan
timah dari faseAg-Sn akan larut dalam mercury, tembaga juga dalam
jumlah kecil. Kristal
1
akan terbentuk, Kristal ditemukan sebagai
anyaman Kristal batang pada permukaan partikel alloy. Juga tersebar
dalam matriks.
Reaksi : partikel alloy Ag-Sn-Cu + Hg ->
1
+


+ Partikel alloy dari
kedua tipe yang tidak terkonsumsi
5

2.3.6. Aplikasi Amalgam pada Kedokteran Gigi
Sebagai bahan restorasi permanen pada kavitas klas I,II dan V dimana
factor estetis bukanlah suatu hal yang penting
Dapat dikombinasikan dengan pin retentifuntuk menempatkan mahkota
Dipergunakan dalam pembuatan dye
Sebagai bahan pengisian saluran akar retrograde
5


2.4. Glass Ionomer Cement (GIC)
GIC adalah bahan restorative gigi yang sering digunakan dalam kedokteran
gigi untuk mengisi gigi dan luting cement. Materi ini didasarkan pada reaksi
21


serbuk kaca silikat dan asam polialkenoat. Material kedokteran gigi ini
diperkenalkan pada tahun 1972 untuk digunakan sebagai bahan restorative untuk
gigi anterior.

2.4.1. Jenis/Klasifikasi GIC
Pada umumnya, GIC diklasifikasikan menjadi 5 tipe dasar, yaitu :
a. Conventional Glass Ionomer Cement
b. Resin-Modified Glass Ionomer Cement
c. Hybrid Glass Ionomer Cement
d. Tri-Cure Glass Ionomer Cement
e. Metal-reinforced Glass Ionomer
7

Menurut Wilson&Kent (1998), terdapat 3 macam GIC, yaitu :
a. GIC tipe 1 (Luting Cement), digunakan untuk menyemenkan mahkota,
inlay, onlay, bridge.
b. GIC tipe 2 (Restorative Cement), digunakan untuk tumpatan estetika.
c. GIC tipe 3(Lining Cement), digunakan sebagai material pelapikan
dibawah semua material restorative.

2.4.2. Sifat GIC
A. Sifat Biologi
GIC melepaskan fluoride ke email gigi yang dapat menghambat
terjadinya karies lanjutan. GIC juga bersifat biokompatibel. GIC
menghasilkan reaksi dengan pulpa lebih besar dari ZOE namun lebih
sedikit dari Zinc Phosphate Cement. Glass ionomer yang digunakan
sebagai luting agent memiliki rasio P/L lebih rendah dan dapat
menimbulkan bahaya lebih besar ketimbang dengan restorasi glass
ionomer karena semen yang dibuat dengan rasio P/L rendah memiliki
pH rendah dalam waktu lebih lama. Untuk penggunaan GI, Lebih baik
menempatkan sebuah lapisan tipis protektif liner, seperti Ca(OH)
2
,
0,55 mm dari ruang pulpa terutama pada preparasi yang dalam.


22


B. Sifat Fisik
a. Film Thickness (ketebalan Semu)
Ketebalan GIC sekitar 22-24 m sehingga cocok untuk digunakan
sebagai sementasi.
b. Setting Time (Waktu Pengerasan)
GIC membutuhkan waktu 6-8 menit dimulai saat pencampuran
bubuk dan cairannya (mixing). Setting time dapat diperlambat
ketika semen dicampur dalam mixing slab yang dingin, tapi hal ini
dapat berefek tidak baik pada kekuatannya.
C. Sifat Mekanik
a. Compressive Strength (Kekuatan Kompresi)
Kekuatan kompresi (Compressive Strength) GIC berkisar antara
90-230 Mpa dan lebih besar daripada zinc phosphate cement.
Nikali kekuatan tariknya (Tensile Strength) hampir sama dengan
zinc phosphate yaitu sebesar 4,2-5,3 MPa. Tidak seperti zinc
polyacrilate, GIC lebih brittle. Elastic Modulusnya sebesar 3.5-6,4
GPa sehingga GIC tidak terlalu kaku dan lebih peka terhadap
peubahan bentuk elastis dibandingkan zinc phosphate.
b. Bond Strength (Kekuatan Ikat)
Kekuatan GIC untuk berikatan dengan dentin adalah 1-3 MPa.
Kekuatan ikat GIC lebih rendah dari pada Zinc Polyacrilate
Cement mungkin karena sensitivitas GIC terhadap kelembaban
pada saat pengerasan.
7
2.4.3. Komposisi GIC
Komposisi GIC terdiri dari :
1. Liquid
Cairan Poliakrilik dengan konsentrasi antara 40-50%
2. Powder
acid-soluble calcium fluoroaluminosilikat glass.Silica 41,9%, Alumina
28,6%, Alumunium Fluoride 1,6%, Calcium Fluoride 15,7%, Sodium
Fluoride (,3%Alumunium Phosphate 3,8%
7

23


2.4.4. Manipulasi GIC
Prosedur pengadukannya bubuk dicampurkan ke dalam cairan dan
diaduk dengancepat selama 30-60 detik tergantung produk dan konsistensi
adonan yang didapat. sepertisemua semen lain, sifat semen ionomer kaca tipe
I sangat dipengaruhi oleh faktor manipulasi. rasio bubuk yang dianjurkan
tergantung merknya, tetapi umumnya berkisar antara 1,25-1,5 gram bubuk per 1 ml
cairan.Retensi tuangan dapat diperbaiki jika permukaan bagian dalamnya
dibersihkan,sepertiyang dijelaskan untuk semen polikarboksilat.penyemenan
harus dilakukan sebelum semenkehilangan kilapnya.seperti seng fosfat
,ionomer kaca menjadi rapuh(mudah patah)begitumengeras.setelah mengeras
,kelebihan semen dapat dibuang dengan cara mencungkil ataumematahkan
semen menjauh dari tepi restorasi. Kelebihan semen perlu dijaga agar
tidak melekat ke permukaan gigi atau protesa.semen ini sangat peka terhadap
kontaminasi air selama pengerasan.karena itu tepi restorasi harus dilapisi untuk
melindungi semen darikontak yang terlalu dini dengan cairan. Dalam
manipulasi GIC, hal lain yang perlu diperhatikan (Anusavice, 2004)
adalah perbandingan powder/liquid , biasanya berkisar 1,3-1,35 :1,
pencampuran harus cepat, gigiseabaiknya diisolasi dahulu agar tidak lembab,
untuk proteksi pulpa sebaiknya menggunakan calcium hydroxide bila ketebalan
dentin <0,5 mm, kemudian varnish digunakan untuk melindungi semen
dari keadaan yang lembab setelah semen selesai diaplikasikan.
7

2.4.5. Mekanisme Adhesi pada Gigi
Mekanisme adhesi adalah kemampuan berikatab GICdengan struktur gigi
yang belum dapat dilerengkan dengan jelas. Meskipun demikian, sepertinya
tidak di ragukan bahwa perekatan ini terutama melibatkan proses kelasi dari
gugu karboksit dari poliasam dengan kalsium dari kristal apatit email dan
dentin. Meskinpun ini berlaku untuk semen polikarboksilat. Mekanisme adhesi
dari GIC juga setara karena keduanya berdasarkan pada poliasam ikatan
dengan email selalulebih besar daripada ikatan dengan dentin karena adanya
kandungan anorganik dari email yang lebih banyak dan homogennya lebih
besar apabiladilihat dari sudut pandang morfologi.
8
24


2.4.6. Aplikasi GIC pada Kedokteran Gigi
untuk lutting dan perlekatan braket
sbg orthondontic bracket adhesive
restorasi untuk gigi sulung
digunakan untuk lamination
8


2.5. Dental Cement
2.5.1. Jenis/Klasifikasi Dental Cement
Semen gigi yang digunakan sebagai bahan tambal yang mempunyai
kekuatan yang rendah dibandingkan resin komposit dan amalgam, akan tetapi
dapat digunakan untuk daerah yang mendapat sedikit tekanan. Beberapa semen
gigi dipasok dalam 2 komponen, yaitu bubuk dan cairan. Bubuk merupakan
formula dasar yang terdiri atas kaca atau oksida logam, sedangkan cairan
merupakan larutan asam. Berdasarkan semen dengan reaksi asam dibagi
menjadi 2:
A. Bahan Dasar Zinc Oxide
1. Semen Zinc Oxide Eugenol
Semen ini biasanya dikemas dalam bentuk bubuk dan cairan atau
kadang-kadang sebagai 2 jenis pasta. Tersedia berbagai jenis formula
Zinc Oxide Eugenol untuk restorasi sementara dan jangka menengah,
pelapis kavitas, basis penahan panas, dan semen perekat sementara
serta permanen, pH-nya 7 saat dimasukkan ke dalam gigi.
Fungsi:
1. Sebagai bahan perekat restorasi sementara dan permanen.
2. Sebagai basis dan pelapis.
3. Sebagai bahan pengisi saluran akar pada perawatan pulpotomi.
Klasifikasi:
1. Tipe 1 digunakan untuk semen sementara.
2. Tipe 2 digunakan untuk semen permanen dari restorasi atau alat-
alat yang dibuat diluar mulut.
3. Tipe 3 digunakan untuk restorasi sementara dan basis penahan
panas.
25


4. Tipe 4 digunakan untuk pelapis kavitas.
2. Semen Zinc Phosphate
Kegunaan Utama : Bahan perekat untuk restorasi dan peralatan
ortodontik.
Kegunaan Sekunder : Restorasi jangka menengah dan basis
penahan panas.
Fungsi:
1. Sebagai bahan tambalan sementara.
2. Sebagai bahan basis dan pelapis.
3. Sebagai bahan perekat inlay, jembatan dan pasak inti.
3. Semen Zinc Polycarboxylate
Kegunaan utama : Bahan perekat untuk restorasi dan basis
penahan panas.
Kegunaan sekunder : Bahan perekat untuk peralatan ortodontik dan
restorasi jangka menengah.
Fungsi:
1. Sebagai semen crown dan bridge.
2. Sebagai onlay dan inlay.
3. Sebagai semen ortodontik band dan bracket.
4. Dasar atau lining material under composite, amalgam atau
ionomer kaca.
5. Sebagai material tambal sementara.

B. Dapat membentuk bahan kaca
1. Semen Silikat
Penggunaan semen silikat telah sangat berkurang dengan munculnya
komposit berbasis resin untuk restorasi gigi anterior dan kemudian
berkembangnya semen ionomer kaca. Semen silikat dibuat dengan
mencampur powder yang terbuat dari alumino-fluoro-silikat glass dengan
liquid 37% asam fosfat. Secara kimia asam melarutkan dan
menggabungkan sebagian kaca.
Kegunaan Utama : Restorasi gigi anterior.
26


Kegunaan Sekunder :Restorasi jangka menengah dan bahan perekat
untuk peralatan ortodontik.
2. Ionomer kaca
Ionomer kaca adalah nama generik dari sekelompok bahan yang
menggunakan bubuk kaca silikat dan larutan asam poliakrilat. Bahan ini
mendapat namanya dari formulanya yaitu suatu bubuk kaca dan asam
ionomer yang mengandung gugus karboksil. Ini juga disebut dengan
semen polialkanoat. Awalnya semen ini jarang dirancang untuk
tambahan estetik pada gigi anterior dan dianjurkan untuk penambalan
gigi dengan preparasi kelas III dan V.
Ada 3 tipe semen ionomer kaca berdasarkan formulanya dan potensi
penggunaan:
a. Tipe 1 yaitu untuk bahan perekat.
b. Tipe 2 yaitu untuk bahan restorasi.
c. Tipe 3 yaitu untuk basis atau pelapis.
9


2.5.2. Sifat Dental Cement
A. Semen Zinc Oxide Eugenol
Sifat Fisik : Ukuran partikel akan mempengaruhi kekuatan. Rasio
antara bubuk dan cairan akan mempengaruhi kecepatan
pengerasan, sehingga semakin tinggi rasionya maka
semakin cepat pengerasannya.
Sifat Mekanis : Kekuatan dari semen Zinc Oxide Eugenol tidak tinggi,
hanya berkisar antara 3-55 MPa.
Sifat Kimia : Komponen utama dari semen ini adalah oksida seng dan
eugenol. ukuran partikel sangat berpengaruh pada
kecepatan pengerasannya. Ukuran partikel dari semen
Zinc Oxide Eugenol lebih kecil akan lebih cepat
mengeras dibanding semen dari partikel yang lebih
besar.
Sifat Biologis : Memberikan perlindungan terhadap pulpa dan memiliki
daya anti bakteri.
10
27


Kelebihan:
Memiliki daya anti-bakteri.
Kemampuan semen dalam meminimalkan kebocoran mikro.
Memberikan perlindungan terhadap pulpa.
Kekurangan:
Mempunyai potensi iritasi terhadap jaringan, kurang kuat dan kurang
tahan abrasi.
Mudah larut dalam cairan mulut.
11


B. Semen Zinc Phosphate
Sifat Fisik : Isolator panas yang baik, daya larut relatif rendah di
dalam air, tingkat keasaman cukup tinggi,
compressive strength tinggi, dan iritatif terhadap
pulpa.
Sifat Mekanik : Memiliki compressive strength sampai 104 MPa,
diametral tensile strength 5,5 MPa, modulus
elastisitasnya 13,7 MPa.
Sifat Kimia : Karena adanya asam fosfor maka keasaman semen ini
cukup tinggi terutama pada saat pertama kali
diletakkan pada gigi.
Sifat Biologis : Semen ini dapat larut dalam cairan mulut.
10
Kelebihan:
Manipulasi mudah.
Memiliki kekuatan yang tinggi.
Kekurangan:
Dapat menyebabkan iritasi pulpa.
Tidak bersifat bakteriostatik.
Adhesi terhadap strukturnya kurang baik.
11


C. Semen Polikarboksilat
Sifat Fisik : memiliki daya viskositas yang sedang, tidak tinggi dan
tidak rendah. Memiliki kekuatan yang tidak tinggi.
28


Sifat Mekanik : compressive strength semen ini berkisar 55 MPa,
lebih rendah daripada semen zinc phosphate.
Namun tensile strength sedikit lebih tinggi.
Sifat Kimia : daya larut semen di dalam air memang rendah, tetapi
jika terkena asam organik dengan pH 4,5 atau
kurang, daya larutnya meningkat sangat besar.
Sifat Biologis : semen ini dapat mengiritasi pulpa.
10
Kelebihan:
Memiliki waktu pengerasan lebih cepat dibandingkan dengan zinc
phosphate.
Kekurangan:
Tidak sekaku semen zinc phosphate.
Modulus elastisitas kurang dari semen fosfat.
11

D. Semen Silikat
Sifat Fisik : Semen silikat relatif kuat menahan tekanan
kompresi tetapi lemah di dalam menahan tekanan
tarik.
10
Sifat Mekanik : Tekanan kompresi dalam waktu 24 jam yaitu
sekitar 180 MPa atau 26.000 Psi. Kekuatan tarik
garis tengah 3,5 MPa dan kekerasannya 70 KHN.
3
Sifat Kimia : Daya larut semen di dalam air memang rendah,
namun mudah larut terhadap asam yang terdapat
dalam plak yang melekat diatasnya.
1
Sifat Biologis : pH semen silikat <3 pada saat dimasukkan ke
dalam kavitas, dan tetap berada di bawah 7 bahkan
setelah 1 bulan.
Kelebihan:
Warnanya sesuai dengan warna gigi dan cocok digunakan untuk restorasi
gigi anterior.
Kekurangan:
Kekuatan tensilenya kerang baik.
29


Mudah larut terhadap asam yang tedapat dalam plak yang melekat
diatasnya.
11


E. Semen Ionomer Kaca
Sifat Fisik : Sifat lain dari monomer kaca sangat menonjol dari
penggunaan semen ionomer kaca sebagai bahan
restorasi adalah kekuatannya terhadap fraktur,
semen ionomer kaca tipe II jauh lebih inferior
dibandingkan komposit.
Sifat Mekanik : Kekuatan terhadap fraktur dari bahan tambal
dibandingkan amalgam yaitu komposit posterior
0,83-1,3, semen ionomer kaca tipe II-A 0,29 dan
semen ionomer kaca tipe II-B 0,11. Semakin tinggi
nilainya, maka semakin besar kekerasannya.
Sifat Kimia : Ketika bubuk dan cairan dicampur untuk
membentuk pasta, permukaan partikel kaca akan
terpajan asam.
Sifat Biologis : Mempunyai sifat anti-karies yang sama dengan
semen silikat.
9
Kelebihan:
Tahan terhadap penyerapan air dan kelarutan dalam air.
Kemampuan berikatan dengan email dan dentin.
Memiliki estetika yang baik.
Kompresinya tinggi.
Bersifat adhesi dan tidak iritatif.
Kekurangan:
Tidak dapat menahan tekanan kunyah yang besar.
Tidak tahan terhadap keausan.
Kekerasan kurang baik.
11


2.5.3. Komposisi Dental Cement
1. Zinc phosphate cement
30


Komposisi %
Powder
ZnO
MgO
SiO
Bi203
Misc. BaO, Ba,S04, CaO
Powder
90.2
8.2
1.4
0.1
0.1
Liquid
H3P0, (free acid) 38.2
H3P04 (combined with 16.2
(A1 and Zn)
Hz0 36.0
Liquid
38.2
16.2
A1 2.5 Zn 7.1
36.0

2. Zinc oxide eugenol







Kandungan utama bubuk semen ini adalah zinc oksida.
White rosin : untuk mengurangi kerapuhan semen
Zinc stearate : utuk meningkatkan kekuatan semen
Eugenol untuk olive oil : cairan yang berfungsi sebagai plasticizer
Komposisi Weight (9'0)
Powder
Zinc oxide
White rosin
Zinc stearate
Zinc acetate

69.0
29.3
1 .O
0.7

Liquid
Eugenol
Olive oil


85.0
15.0
31


Semen zinc oxide non eugenol : berfungsi mengandung aromathic oil dan
zinc oxide
3. Zinc polycarboxilate cement
Adalah sistem bubuk cairan. Cairannya adalah larutan air dari asam
poliakrilat atau kopolimer dari asam akrilik dengan asam karboksilat lain
yang tidak jenuh. Bubuknya mengandung zinc oksida dengan sejumlah
oksida magnesium juga mengandung stannous flourida yang mengubah
pengerasan untuk memperbaiki sifat manipulasi. Semen ini digunakan untuk
sementasi akhir restorasi mahkota dan bridge.
4. Semen silikat
Campuran dari powder silica (SiO
2
), alumina (Al
2
O
3
), senyawa fluoride,
garam kalsium dengan liquid phosphoric.
5. Semen silikofosfat
Bubuk :
1. Alumina silicate glasss
2. Zinc oxide
3. Magnesium oxide
Liquid :
1. Asam fosfat
2. Air
3. Seng dan aluminium salt
12


2.5.4. Manipulasi Dental Cement
Zinc Phosphat
1. Pada umumnya tidak dilakukan alat ukur untuk penimbangan
powder dan liquid, karena kekentalan yang diinginkan bisa
bervariasi menurut kebutuhan klinisnya, meskipun demikian harus
diusahakan agar diperoleh perbandingan powder dan liquid yang
konsisten untuk tujuan pemakaian tertentu. Harus dihindari adonan
yang terlalu encer karena selain mempengaruhi kekuatan semen,
juga mempunyai pH yang rendah serta lebih mudah larut.
32


2. Pencampuran dimulai dengan mencanpur sedikit bubuk ke dalam
cairan dengan menggunakan alas aduk yang dingin akan
memperpanjang waktu kerja dan pengerasan. Powder ditambahkan
liquid sedikit demi sedikit dalam waktu 1 hingga 1,5 menit.
3. Kemudian diaduk dengan gerakan memutar dengan menggunakan
spatel.
4. Hasil akhir semen yang telah set adalah heterogen terdiri dari inti
paartikel zinc oksida yang tidak bereaksi yang dikelilingi oleh
lapisan zinc phosphate. Selama setting dapat terjadi :
a. Pengeluaran panas, karena reaksi bersifat eksotermis
b. Pengerutan /kontraksi
5. Semakin kental adonan semakin kuat hasil campuran maka untuk
keperluan cavity lining hendaknya digunakan adonan yang kental.
Untuk tujuan penyemenan dibutuhkan adonan yang encer sehingga
memungkinkan semen mengalir sewaktu restorasi dipasangkan
Zinc Oxide Eugenol
Semen ini dicampur dengan cara menambahkan sejumlah powder ke
dalam liquid hingga diperoleh konsistensi kental. Perbandingan jumlah
powder : liquid berkisar 4:1 atau 6:1 akan menghasilkan semen dengan
sifat-sifat yang dikehendaki dan agar didapat adonan berbentuk dempul.
Pencampuran dapat dilakukan pada glass slab tipis dan menggunakan
spatula logam yang tahan karat.
Zinc polycarboxilate
a. Cara manipulasi untuk basis
1. Perbandingan rasio powder dan liquid disesuaikan dengan petunjuk
pabrik atau 3:2 . semen harus dicampur pada permukaan yang
tidak menyerap cairaan.
2. Cairan tidak boleh dikeluarkan sebelum pengadukan karena bila
kontak dengan udara akan terjadi penguapan air sehingga
menaikkan viskositas.
3. Bubuk dicampur cepat dalam waktu 30-40 detik dengan spatula
semen dan diaduk dengan putaran melawan jarum jam. Lebih baik
33


mengggunakan glass plate daripada paper pad karena dapat
didinginkan guna memperlambat waktu setting.
4. Setelah terbentuk adonan yang tidak cair, tidak padat, dan
mengkilap, tempatkan adonan yang menggunakan explorer pada
tumpatan yang telah diberi semen zinc eugenol sebagai subbasis.
Untuk mencegah semen melekat ke instrument diberi bubuk kering
bukan alcohol. Untuk membentuk semen pada cavitas digunakan
stopper semen.
b. Cara manipulasi untuk penyemenan
1. Perbandingan powder : liquid mengikuti petunjuk pabrik, berkisar
1,5:1
2. Pencampuran secepat mungkin 30 detik sampai homogen dan
terlihat pasta cukup kental, camuran semen tampak berkilau.
3. Bila selama pencampuran terlihat buram berbenang-benang oleh
karena terlalu cepat setting atau perbandingan yang tidak tepat.
4. Aplikasikan pada restorasi segera
5. Tekan restorasi sampai kelebihan semen keluar
6. Buang segera kelebihan semen
7. Bersihkan segera instrument yang dipakai
8. Waktu pengerasan; 2,5 5 menit
Semen silikat
1. Pencampuran cepat dan sekental mungkin dengan glass slab dingin
dan spatula logam dan plastic, dengan tujuan dapat memperlambat
waktu setting. Rasio yang digunakan 1,6 gr/0,4 ml.
2. Kemudian bubuk dimasukkan ke dalam cairan dalam waktu 1 menit,
diaduk sampai konsistensi dempul.
3. Setelah pencampuran akan terjadi setting :
a. Terbentuk gel silica hidrat
b. Terjadi reaksi asam basa, pengerasan 24 jam
4. Waktu setting tergantung komponen bahan, untuk partikel yang lebih
halus maka setting time-nya lebih cepat. Apabila waktu pencampuran
34


lama, hilangnya air dari cairan, dan ratio p/l rendah, maka terjadi
setting lambat,
Semen silikofosfat
Proses pemanipulasian semen silikofosfat sama dengan semen silica dan
semen phosphate.
a. Pemanipulasian manual
1. Rasio bubuk dan cairan adalah 2,2 gr : 1 ml.
2. Tempat pencampuran bubuk dengan cairan menggunakan glass
slab yang tebal dan dingin, juga menggunakan spatula bahan
plastic.
3. Pengadukan dilakukan dengan teknik memutar (circular) selama 1
menit.
4. Kemudian bubuk dicampurkan ke dalam cairan sedikit untum
mendapatkan konsistensi yang diinginkan.
b. Pemanipulasian mekanis
1. Dengan menggunakan alat amalgamator
2. Bahan yang tersedia dalam bentuk bubuk dan cairan dalam satu
wadah terpisah dengan sekat.
3. Sekat dapat hancur dengan adanya tekanan dari amalgamator
4. Waktu pencampuran disesuaikan dengan keinginan konsistensi
yang ingin didapat.
Semen ionomer kaca modifikasi resin
Diawali dengan polimerisasi gugus-gugus metakrilat untuk
mengakomodasi bahan-bahan yang mampu berpolmerisasi, kandungan air
sedikit.
4




35


BAB 3
KESIMPULAN

Resin komposit termasuk bahan tumpatan langsung yang sewarna dengan
gigi.
Resin komposit digunakan untuk menggantikan struktur gigi yang hilang
serta memodifikasi warna dan kontur gigi, serta menambah estetis.
Resin komposit terdapat 4 jenis yaitu: komposit tradisioal, komposit bahan
pengisi, resi kmposit berbahan pengisi partikel
Resin kpmposi memliki sifat fisik yaitu: warana, strength, dan setting
Sifat mekanis resin komposi yaitu adhesi, kekuatan dan kehausan
Kelebihan dari resin komposit : Warna resni komposit sewarna dengan gigi,
memiliki nilai estetik,yang tinggi
Jenis amalgam yaitu : berdasarkan kandungan tembanga, berdasarkan
kandungan seng, berdasaran bentuk partikel alloy dan bedasarkan jumlah
alloy
Berdasarkan kandungan tembaga yaitu: low capper alloys dan high capper
alloy
Berdasarkan kandungan seng yaitu : zinc, containing alloy dan zin,free
alloy
Berdasarkan bentuk partikel yaitu: latle cut alloy dan spherical alloy
Berdasarkan jumlah alloy yaitu : binary alloy, ternary alloy dan guarteary
alloy
Sifat fisik amalgam yaitu : creep, stabilias demesional dan defusi termal
Sifat kimia amalgam yaitu: reaksi elektrokimia, korosi
Sifat biolgi amalgam alergi dan toksisitas
Sifat mekanis dari amalgam yaitu: kekuatan
Kelebihan dari amalgam adalah tahan lama, kekuata terhadap tekanan
kunyah paling baik
Kekurangan dari amalgam adalah:tidaj estetik, tidak bersifat adhesi terhadap
jaringan gigi, dan sensitif terhadap rasa panas dan dingin setelah tumpatan
36


Cara manipulasi amalgam terdapat 5 tahap yaitu : proportioming, triturasi,
kondensasi, termming dan carving, polishing
GIC mempunyai 3 tipe yaitu : tipe 1 (lutting), tipe II (restorative) dan tipe
III (lining or base)
Mekanisme adhesi adalah kempuan untuk berikatan GIC dengan struktur
gigi
Cement kedokteran gigi adalah
Jenis cement kedokteran gigi yaitu : oksidasienqeunol, seng fotfat dan
polikarboksilat
Kelebihan cement kedokteran gigi : kemampuan berikatan dengan dentin
dan enamel, tidak irisitas, estetik, dll
Kekurangan cement kedoteran gigi yaitu : tidak tahan terhadap kunyah yang
besar, kekerasan kurang baik, dapat larut dalam air dan asam














37


DAFTAR PUSTAKA
1. Marybath-Balogh. Dental Embiology, Histology, and
Anatomy.2006.Elseiver.P: 248-31
2. J.Mount.2
nd
ed.2005
3. Craig RG, Powers JM, Wataha JC.2000. Dental Materials Properties and
Manipulation. 7
th
ed. Missouri : Mosby, Inc
4. Mc Cabe, JF. 2009. Applied dental Materials 7
th
ed. Oxford : Blackwell
Scientific publications.
5. http://repository.usu.ac.id
6. Anusavice, K.J. 2004. Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi Edisi 10.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
7. R. G. Craig,J. W. Fower. Restorative Dental Material Craigs. Mosby Inc :
USA. 2002.
8. Annusavice, Kenneth J.Philips. 2003. Buku Ajar Ilmu Bahan Keddoktran
Gigi. Jakarta : EGC.
9. Annusavice, Kenneth J. Phillips: Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi.
Ed:11.2003. hal: 444-469
10. Syafiar L, Rusfian, Sumadhi S, Yudhit A, Adhiana\ ID. Bahan Ajar Ilmu
Material dan Teknologi Kedokteran Gigi. Ed: 1. Medan: USU Press.2011
11. Indah pratiwi, Didiph. Restorasi Direct. Scribd
12. Powers J.M, Sakaguchi R.L. Craigs Restorative Dental Materials, 12
th
ed.
Mosby. St. Louis. 2006
13.









38