Anda di halaman 1dari 27

1

MAKALAH TUTORIAL
SKENARIO II

PENDEKATAN MASALAH KESEHATAN
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Tutorial
Blok Manajemen Kesehatan Gigi Masyarakat



Disusun oleh :
Kelompok tutorial VI


Pembimbing : drg. Erna Sulistyani, M.Kes




FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
2013
2

DAFTAR ANGGOTA KELOMPOK

Pembimbing : drg. Erna Sulistyani, M.Kes

Ketua : Nugraheni Tri Rahayu (111610101057)
Scriber Meja : Dewi Martinda H. (111610101073)
Scriber Papan : Lita Damafitra (111610101054)

Anggota :
1. Maharja Jathi P. (111610101027)
2. Vanda Ayu Kartika H. (111610101050)
3. Dian Fajariani (111610101061)
4. Anugerah Nur Yuhyi (111610101063)
5. Fitria Krisnawati (111610101064)
6. Tiara Fortuna B.B. (111610101067)
7. Khamda Rizki Dhamas (111610101069)
8. Sheila Dian P. (111610101071)
9. Nurbaetty Rochmah (111610101074)
10. Deo Agusta R.P. (111610101083)











3

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tutorial skenario II pada blok Manajemen Kesehatan Gigi
Masyarakat pada minggu kedua dengan judul Pendekatan Masalah Kesehatan.
Makalah ini disusun untuk memenuhi hasil diskusi tutorial kelompok VI pada
skenario kedua.
Penulisan makalah ini semuanya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak,
oleh karena itu penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada :
1. drg. Erna Sulistyani, M.Kes, selaku tutor pembimbing yang telah membimbing
jalannya diskusi tutorial kelompok VI Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Jember dan yang telah memberi masukan yang membantu, bagi pengembangan
ilmu yang telah didapatkan.
2. Teman-teman kelompok tutorial VI dan semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan laporan ini.
Dalam penyusunan laporan ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi
perbaikanperbaikan di masa mendatang demi kesempurnaan laporan ini. Semoga
laporan ini dapat berguna bagi kita semua.



Jember, 16 Mei 2013



Tim Penyusun




4

DAFTAR ISI

Cover ................................................................................................................... 1
Daftar Anggota Kelompok ................................................................................. 2
Kata Pengantar ................................................................................................... 3
Daftar Isi ............................................................................................................. 4
Skenario .............................................................................................................. 5
Step 1 ................................................................................................................... 6
Step 2 ................................................................................................................... 7
Step 3 ................................................................................................................... 7
Step 4 ................................................................................................................... 9
Step 5 ................................................................................................................... 10
Step 7 ................................................................................................................... 11
Kesimpulan ......................................................................................................... 25
Daftar Pustaka .................................................................................................... 27
















5

SKENARIO II
PENDEKATAN MASALAH KESEHATAN

Tingkat ekonomi masyarakat Kecamatan Rejo Agung tergolong menengah
keatas. Pelayanan kesehatan yang diberikan puskesmas sudah memadai, termasuk
sarana pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Dokter gigi yang bertugas disana
sering menemukan pasien dengan tingkat karies yang tinggi, bahkan pada usia
remaja banyak pasien yang sudah kehilangan gigi cukup banyak. Pola makan
masyarakat Rejo Agung cenderung menyukai makanan yang siap saji, yang
banyak mengandung karbohidrat. Untuk mengetahui masalah kesehatan gigi yang
ada dan menyelesaikannya drg. tersebut menggunakan pendekatan masalah
kesehatan. Apakah pendekatan masalah kesehatan yang tepat untuk kasus di atas?



















6

STEP 1

1. Pendekatan (approach) :
Suatu upaya memecahkan masalah
Suatu metode atau cara
Proses
Konsep atau cara berpikir
2. Masalah kesehatan :
Keadaan kesehatan yang tidak sesuai dengan harapan
Masalah :
Dampak
Sesuatu yang tidak disukai
Sesuatu yang salah
Sesuatu yang tidak wajar
Gangguan
Sesuatu yang mengenai individu dan butuh penyelesaian
Suatu keadaan dimana timbul dikarenakan adanya penyebab
Kenyataan yang berbeda dari harapan
Sehat adalah suatu keadaan dimana seseorang merasa aman, nyaman
tidak hanya fisik tetapi juga mental dan sosial.
3. Puskesmas :
Tempat untuk mendapatkan pencegahan atau pengobatan dari suatu
masalah kesehatan
Unit pelayanan kesehatan yang biasanya terdapat di desa atau
kecamatan
Pelayanan kesehatan untuk pembangunan kesehatan
4. Karbohidrat :
Unsure rantai carbon yang dikonsumsi oleh makhluk hidup untuk
sumber energy
Polisakarida, disakarida, monosakarida
7

STEP 2

1. Bagaiman kriteria masyarakat yang tergolong menengah ke atas?
2. Apakah ada hubungan makanan siap saji dengan tingkat karies tinggi?
3. Apakah hubungan tingkat ekonomi dengan tingkat karies?
4. Faktor apa yang menyebabkan tingkat karies tinggi, sedangkan pelayanan
kesehatan memadai?
5. Bagaimana cara mengatasi masalah kesehatan oleh dokter gigi?

STEP 3

1. Kriteria masyarakat yang tergolong menengah ke atas :
Pendapatan atau penghasilan tetap dan dapat memenuhi kebutuhan
sehari-hari
Dapat memenuhi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier
2. Hubungan makanan siap saji dengan tingkat karies tinggi :
Makanan cepat saji adalah makanan dengan penyajian cepat dengan
bahan pengawet
Contoh makanan cepat saji : Mie instan, soda, roti + selai + meses
Makanan cepat saji yang ada hubungan dengan tingkat karies adalah
soda, roti + selai + meses
Makanan cepat saji yang tidak ada hubungan dengan tingkat karies
adalah junk food
3. Hubungan tingkat ekonomi dengan tingkat karies :
Tingkat ekonomi menengah ke atas sibuk dengan pekerjaan
makan makanan cepat saji kurang menjaga kesehatan mulut
4. Faktor yang menyebabkan tingkat karies tinggi :
Masyarakat Kecamatan Rejo Agung malas untuk menjaga kebersihan
mulut dan malas ke Puskesmas
8

Kurangnya pengetahuan masyarakat Kecamatan Rejo Agung terhadap
kebersihan rongga mulut
Pelayanan kesehatan yang kurang memberikan sosialisasi untuk
masyarakat Kecamatan Rejo Agung
Pola hidup atau gaya hidup dan pola makan masyarakat Kecamatan
Rejo Agung yang tidak terkontrol
Tingkat kesadaran masyarakat Kecamatan Rejo Agung rendah
5. A. Identifikasi masalah
B. Cara berpikir
C. Mencari penyebab
D. Langkah penyelesaian masalah



















9

STEP 4

Mapping



























Masalah Kesehatan
Identifikasi Masalah
Macam-macam
Pendekatan Masalah Kesehatan
Mencari Penyebab
Tindakan Penyelesaian
10

STEP 5
Learning Objective

1. Mampu menjelaskan cara identifikasi masalah kesehatan.
2. Mampu menjelaskan macam-macam pendekatan masalah kesehatan.
3. Mampu menjelaskan pendekatan masalah kesehatan yang sesuai skenario.
























11

STEP 7

1. Identifikasi Masalah Kesehatan
Dalam rangka meningkatkan kinerja dan mutu perencanaan
program kesehatan diperlukan proses perencanaan yang akan
menghasilkan suatu rencana yang menyeluruh (komprehensif dan
holistik). Langkah-langkah perencanaan yang dilakukan adalah analisis
situasi, identifikasi masalah dan menetapkan prioritas, menetapkan tujuan,
melakukan analisis untuk memilih alternatif kegiatan terbaik, dan
menyusun rencana operasional.
Masalah dalam perencanaan kesehatan tidak terbatas pada masalah
gangguan kesehatan saja, akan tetapi meliputi semua faktor yang
mempengaruhi kesehatan penduduk (lingkungan, perilaku, kependudukan,
dan pelayan kesehatan). Menurut definisi, masalah adalah terdapatnya
kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Oleh sebab itu, cara
perumusan masalah yang baik adalah kalau perumusan masalah tersebut
jelas menyatakan adanya kesenjangan. Kesenjangan tersebut dikemukakan
secara kualitatif dan dapat pula secara kuantitatif.
Identifikasi dan dan prioritas masalah kesehatan merupakan bagian
dari proses perencanaan harus dilaksanakan dengan baik dan melibatkan
seluruh unsur terkait, termasuk masyarakat. Sehingga masalah yang
ditetapkan untuk ditanggulangi betul-betul merupakan masalah dari
masyarakat, sehingga dalam pelaksanaan kegiatan untuk menanggulangi
masalah kesehatan yang ada, masyarakat dapat berperan aktif didalamnya.
Perencanaan pada hakikatnya adalah suatu bentuk rancangan
pemecahan masalah. Oleh sebab itu langkah awal dalam perencanaan
kesehatan adalah mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan. Sumber
masalah kesehatan masyarakat dapat diperoleh dari berbagai cara antara
lain :
a. Laporan-laporan kegiatan dari program-program kesehatan yang ada
12

b. Surveilans epidemiologi atau pemantauan penyebaran penyakit
c. Survey kesehatan yang khusus diadakan untuk memperoleh masukan
perencanaan kesehatan
d. Hasil kunjungan lapangan supervisi.
Dalam menemukan masalah kesehatan diperlukan ukuran-ukuran.
Ukuran-ukuran yang paling lazim dipakai adalah angka kematian
(mortalitas) dan angka kesakitan (morbiditas). Masalah kesehatan harus
diukur karena terbatasnya sumber daya yang tersedia sehingga sumber
daya yang ada betul-betul dipergunakan untuk mengatasi masalah
kesehatan yang penting dan memang bisa diatasi.
Ada 3 cara pendekatan yang dilakukan dalam
mengidentifikasi masalah kesehatan, yakni:
1) Pendekatan Logis
Secara logis, identifikasi masalah kesehatan dilakukan dengan
mengukur mortalitas, morbiditas dan cacat yang timbul dari penyakit-
penyakit yang ada dalam masyarakat.

2) Pendekatan Pragmatis
Pada umumnya setiap orang ingin bebas dari rasa sakit dan rasa tidak
aman yang ditimbulkan penyakit/kecelakaan. Dengan demikian ukuran
pragmatis suatu masalah gangguan kesehatan adalah gambaran upaya
masyarakat untuk memperoleh pengobatan, misalnya jumlah orang
yang datang berobat ke suatu fasilitas kesehatan.

3) Pendekatan Politis
Dalam pendekatan ini, masalah kesehatan diukur atas dasar
pendapat orang-orang penting dalam suatu masyarakat (pemerintah
atau tokoh-tokoh masyarakat).

2. Macam-macam Pendekatan Masalah Kesehatan
13


A. Pendekatan Bloom
Paradigma hidup sehat H. L Bloom menjelaskan 4 faktor utama
yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan individu /masyarakat.
Keempat factor tersebut merupakan factor determinan (penentu)
timbulnya masalah kesehatan pada seorang individu atau kelompok
masyarakat.











Keempat faktor tersebut terdiri dari faktor perilaku individu atau
kelompok masyarakat, faktor lingkungan (sosial ekonomi, politik,
fisik), faktor pelayanan kesehatan (jenis, cakupan dan kualitasnya) dan
faktor genetic (keturunan). Keempat faktor tersebut berinterakis secara
dinamis yang mempengaruhi kesehatan perorangan dan derajat
kesehatan kelompok masyarakat. Diantara keempat faktor tersebut,
factor perilaku manusia merupakan factor determinan yang paling
besar dan paling sukar ditanggulangi, disusul dengan faktor
lingkungan.

Faktor genetik
Genetik
Lingkungan
Masalah
kesehatan
Perilaku
Masyarakat
Pelayanan
Kesehatan
14

Faktor ini paling kecil pengaruhnya terhadap kesehatan perorangan
atau masyarakat . Pengaruhnya pada status kesehatan perorangan
terjadi secara evolutif dan paling sukar dideteksi. Faktor genetic
perlu mendapat perhatian di bidang pencegahan penyakit. Misalnya
: seorang anak lahir dari orang tua penderita DM akan mempunyai
resiko lebih tinggi dibandingkan anak yang lahir bukan dari
penderita DM. Untuk upaya pencegahan , anak yang lahir dari
penderita DM harus diberi tahu dan selalu mewaspadai factor
genetic yang diturunkan dari orangtuanya. Oleh karenanya ia harus
selalu mengatur dietnya, teratur berolah raga dan upaya
pencegahan lainnya sehingga tidak ada peluang factor genetiknya
berkembang menjadi factor resiko terjadinya DM pada dirinya.Jadi
dapat diumpamakan , genetic adalah peluru (bullet) tubuh manusia
adalah pistol (senjata), dan lingkungan/perilaku manusia adalah
pelatuknya (trigger)

Faktor pelayanan kesehatan
Ketersediaannya sarana pelayanan, tenaga kesehatan, dn pelayanan
kesehatan yang berkualitas akan berpengaruh pada derajat
kesehatan masyarakat. Pengetahuan dan ketrampilan petugas
kesehatan yang diimbangi dengan kelengkapn saran dan prasarana
serta dana akan menjamin kualitas pelayanan kesehatan. Pelayanan
seperti ini akan mampu mengurangi atau mengatasi masalah
kesehatan yang berkembang di suatu wilayah atau kelompok
masyarakat.

Faktor perilaku masyarakat.
Faktor ini terutama di Negara berkembang paling besar
pengaruhnya terhadap munulnya gangguan kesehatan atau masalah
kesehatan di masyarakat. Tersedianya jasa pelayanan kesehatan
(health service) tanpa disertai perubahan perilaku (peran serta)
15

masyarakat akan mengakibatkan masalah kesehatan tetap potensial
berkembang di masyarakat.
Faktor lingkungan.
Lingkungan yang terkendali, akibat sikap hidup dan perilaku
masyarakat yang baik akan dapat menekan berkembangnya
masalah kesehatan. Untuk menganalisis program kesehatan di
lapangan H.L Blum dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi
dan mengelompokkan masalah sesuai dengan factor-faktor yang
berpengaruh pada status kesehatan masyarakat

B. Pendekatan Wheel










Merupakan pendekatan lain untuk menjelaskan hubungan antara
manusia dan lingkungan. Roda terdiri daripada satu pusat (pejamu atau
manusia) yang memiliki susunan genetik sebagai intinya. Disekitar
pejamu terdapat lingkungan yang dibagi secara skematis ke dalam 3
sektor yaitu lingkungan biologi, sosial dan fisik. Besarnya komponen-
kompenen dari roda tergantung kepada masalah penyakit tertentu yang
menjadi perhatian kita. Untuk penyakit-peyakit bawaan (herediter) inti
genetik relatif lebih besar. Untuk kondisi tertentu seperti campak, inti
16

genetik relatif kurang penting oleh karena keadaan kekebalan dan
sektor biologi lingkungan yang paling berperanan.
Pada model roda, mendorong pemisahan perincian faktor pejamu
dan lingkungan, yaitu suatu perbedaan yang berguna untuk analisa
epidemiologi.
Unsur Penyebab (agent), terdiri daripada:
Unsur penyebab biologis
Unsur penyebab nutrisi
Unsur penyebab kimiawi
Unsur penyebab fisika
Unsur penyebab psikis
Unsur Pejamu (host)
Manusia sebagai makhluk biologis, mempunyai sifat biologis:
umur, jenis kelamin, ras, keturunan, bentuk anatomis tubuh, fungsi
fisiologis, keadaan imunitas, status gizi, status kesehatan secara umum.
Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai: adat, kebiasaan,
agama, hubungan keluarga, hubungan masyarakat, kebiasaan hidup
Unsur Lingkungan (Environment)
Unsur lingkungan memegang peranan yang cukup penting dalam
menentukan proses terjadinya interaksi antara pejamu dan agent dlaam
proses terjadinya penyakit, secara garis besar, unsur lingkungan dapat
dibagi 3:
1. Lingkungan Biologis : Segala flora dan fauna yang ada disekitar
manusia, yaitu: microorganisme yang patogen dan yang tidak patogen,
berbagai binatang dan tumbuhan yang dapat mempengaruhi kehidupan
manusia, fauna sekitar manusia yang berfungsi sebagai vektor penyakit
tertentu terutama penyakit menular.
2. Lingkungan Fisik : Udara, keadaan cuaca, geografis dan
geologis, air, unsur kimiawi lainnya, radiasi.
17

3. Lingkungan Sosial : Semua bentuk kehidupan sosial budaya,
ekonomi, politik, sistem organisasi, serta institusi/ peraturan yang
berlaku, pekerjaan, urbanisasi, bencana alam, perkembangan ekonomi.

Sama seperti model jaring jaring penyebab, model roda
memberikan penekanan akan perlunya mengidentifikasi faktor
etiologis multiplle suatu penyakit tanpa menitik beratkan pada agen
penyakit. Contoh : binatang yang menjadi pembawa (reservoir) virus
rabies lebih diperhatikan daripada virus rabies itu sendiri. Model roda
memberikan batasan yang jelas faktor penjamu dengan faktor
lingkungan, batasan ini tidak terlalu jelas dalam model jaring- jaring
penyebab kesehatan lainnya.

C. Pendekatan Segitiga Epidemiologi
Model segitiga epidemiologi menggambarkan kejadian suatu
penyakit yang ditentukan oleh tiga faktor utama yaitu host, agent, dan
environment.
Host atau pejamu adalah manusia yang mudah terkena atau
rentan (susceptible) terhadap suatu bibit penyakit (virus, bakteri,
parasit, jamur, dsb) yang dapat menyebabkan ia sakit. Contoh :
Penyakit campak mempunyai kecenderungan untuk menyerang
anak-anak, khususnya anak dibawah umur lima tahun. Kekebalan
terhadap campak memang sudah dibawa sejak lahir, tetapi mulai
menurun sejak usia 9 bulan. Kondisi ini menyababkan bayi
sebelum berumur 9 bulan perlu diberikan imunisasi untuk lebih
meningkatkan kekebalan tubuhnya terhadap virus campak.
Agent adalah faktor yang menjadi bibit penyakit yang menjadi
penyebab suatu penyakit. Penyebab penyakit ada yang bersifat
biologis, fisik, kimia, dan sosiopsikologis.
18

Contoh :
Yang bersifat biologis : kuman mikrobakterium tuberkulosa
menyebabkan penyakit TBC paru-paru. HIV menjadi penyebab
AIDS.
Yang bersifat fisik : sinar ultra violet dapat meningkatkan
resiko host terkena tumor kulit.
Yang bersifat kimia : nikotin dalam rokok menyebabkan
kanker paru-paru.
Yang bersifat sosio-psikologis : suasana kerja sehari-hari yang
selalu menegangkan akan berpengaruh pada kesehatan jiwa
karyawan.
Environment atau lingkungan adalah situasi atau kondisi di luar
host atau agent yang memudahkan interkasi antara keduanya.
Faktor ini juga dapat menjadi resiko timbulnya gangguan penyakit
pada host karena lingkungan memberikan peluang agent untuk
berkembang (breeding). Lingkungan dapat dibedakan menjadi
lingkungan biologis, fisik, kimia, dan sosial ekonomi.
Contoh :
Lingkungan biologi : di suatu wilayah (lagoon) akan
memudahkan nyamuk anopheles berkembang. Lingkungan
seperti ini akan memudahkan terjadinya penularan penyalit
malaria.
Lingkungan kimia : lysol yang dipakai membersihkan kotoran
penderita Cholera akan melemahkan kuman vibrio cholera
sehingga penularannya dapat dibatasi.
Lingkungan sosial : situasi rumah yang padat hunian (banyak
anggota keluarga) akan memudahkan penularan penyakit
scabies di antara penghuninya.
Lingkungan fisik : sinar ultra violet akan memudahkan
timbulnya kanker kulit.
19

Untuk menggambarkan interaksi antara faktor-faktor egen, pejamu
dan lingkungan, John Gordon menganalogikan sebagai timbangan
pengumpil (pengungkit) dengan lingkungan sebagai titik tumpunya.
Pada dasarnya selalu terjadi hubungan dan pengaruh timbal balik
antara faktor-faktor pejamu, agen dan lingkungan, yang berusaha
mencapai suatu keadaan keseimbangan. Perubahan dari keseimbangan
dapat dilihat dari contoh-contoh berikut ini.

Gambar segitiga epidemologi :

1.

Keterangan :
A: Agent
H: Host
E: Environment

Timbangan tersebut menggambarkan tercapainya keseimbangan,
sehingga baik agent maupun host tidak ada yang dirugikan dan pada
keadaan ini tedapat suasana hidup berdampingan secara damai antara
agent dan host.

2.







E
A

H

E
H

A


20



Keadaan tersebut menggambarkan peningkatan dari kemampuan
agent untuk menginfeksi serta menimbulkan penyakit pada manusia.

3.








Keadaan tersebut menggambarkan peningkatan peningkatan
proporsi kerentanan dari populasi manusia, misalnya karena
menurunnya imunitas dari host itu sendiri. Misalnnya pada saat musim
pancaroba, seringkali imunitas manusia itu menurun sehingga lebih
rentan terserang berbagai penyakit. Sehingga walaupun jumlah agent
normal namun dapat pula terjadi penyakit bila imunitas host sendiri
mengalami penurunan.

4.







E
A

H

E
H

A


21


Perubahan lingkungan dapat pula menyebabkan pergeseran titik
tumpu ke arah host sehingga menggambarkan bahwa perubahan
lingkungan tersebut merangsang penyebaran agen yang menyebabkan
peningkatan kemampuan agen untuk menginfeksi. Misalnya pada
suatu desa tertentu pada awalnya memiliki sumber air yang bersih,
tetapi kemudian terjadi banjir yang membawa berbagai macam
mikroorganisme penyebab penyakit sehingga mengkontaminasi air
minum di desa tersebut, maka terjangkitlah wabah penyakit pada desa
tersebut oleh karena air minum yang sudah terkontaminasi.

5.








Disamping itu, perubahan lingkungan dapat pula menyebabkan
perubahan kerentanan pejamu (host), sehingga terjadi pergeseran titik
tumpu ke arah agent. Keadaan ini terjadi misalnya pada perkembangan
daerah industri yang pesat menyebabkan konsentrasi zat-zat pencemar
di udara meningkatkan kerentanan (memudahkan terserang penyakit)
pada manusia, terutama infeksi saluran pernafasan.

D. Pendekatan Jaring-jaring Sebab Akibat
Merupakan salah satu dari 3 konsep dasar epidemiologi (segitiga
epidemiologi, jaring-jaring sebab akibat, roda) yang memberikan
E
A

H


22

gambaran tentang hubungan sebab akibat yang berperan dalam
terjadinya penyakit dan masalah kesehatan lainnya.
Pada model jaring-jaring sebab akibat terdapat berbagai macam
sebab; sesuatu penyakit tidak bergantung pada satu sebab yang berdiri
sendiri melainkan sebagai akibat dari serangkaian proses sebab dan
akibat.
Menurut model ini perubahan dari salah satu faktor akan mengubah
keseimbangan antara mereka, yang berakibat bertambah atau
berkurangnya penyakit yang bersangkutan. Dengan demikian
timbulnya penyakit dapat dicegah atau dihentikan dengan cara
memotong rantai pada berbagai titik.
Dengan model jaringan sebab akibat hendaknya ditunjukkan bahwa
pengetahuan yang lengkap mengenai mekanisme-mekanisme
terjadinya penyakit tidaklah diperuntukkan bagi usaha-usaha
pemberantasan yang efektif. Oleh karena banyaknya interaksi-interaksi
ekologis maka seringkali kita dapat mengubah penyebaran penyakit
dengan mengubah aspek-aspek tertentu dari interaksi manusia dengan
lingkungan hidupnya tanpa intervensi langsung pada penyebab
penyakit.
Kekurangan dari model ini, peneliti tidak dapat mengidentifikasi /
sulit menentukan penyebab utama. Namun dapat dilakukan
pencegahan dari berbagai arah. Sedangkan, kelebihan dari model ini,
peneliti dapat mengetahui dan mengidentifikasi faktor-faktor apa saja
yang berperan dalam timbulnya suatu penyakit / masalah kesehatan
lainnya.
Berikut ini contoh pendekatan jaring-jaring sebab akibat :


23



















3. Pendekatan Masalah yang Sesuai dengan Skenario
Pendekatan yang sesuai untuk skenario adalah pendekatan
H.L.Blum. Dikemukakan ada 4 faktor yang berperan, seperti halnya
dengan konsep kedua, tetapi disini lebih diperjelas besarnya peranan
masing-masing faktor. Secara berurut, makin besar, keempat faktor itu
adalah :
1) Faktor lingkungan
2) Faktor hereditas
3) Faktor pelayanan kesehatan
4) Faktor perilaku masyarakat (Gaya hidup)

KEMISKINAN
PENDIDIKAN
RENDAH
PRODUKSI
BAHAN
MAKANAN
RENDAH
DAYA BELI
RENDAH
FASILITAS
KESEHATAN
KURANG
PENGETAHUAN
GIZI RENDAH
KONSUMSI
MAKANAN TDK
MEMADAI
KESEHATAN
KURANG
PENYAKIT
KURANG
GIZI
DAYA TAHAN
TUBUH &
PENYERAPAN GIZI
TERGANGGU
24

Di dalam skenario terdapat adanya 4 faktor yang berperan tersebut,
antara lain :
1) Faktor lingkungan
Faktor lingkungan yang berperan disini adalah lingkungan sosial
ekonomi, ditemukan bahwa tingkat ekonomi masyarakat tergolong
menengah ke atas, hal ini menjadi faktor pendukung dari kebiasaan
mengkonsumsi makanan cepat saji yang dilakukan oleh masyarakat.
2) Faktor hereditas
Dokter gigi sering menemukan pasien dengan tingkat karies yang
tinggi, bahkan pada usia remaja banyak pasien sudah kehilangan gigi
cukup banyak. Hal ini menunjukkan adanya faktor hereditas yang
berperan, yaitu gigi yang rentan terhadap karies.
3) Faktor pelayanan kesehatan
Pelayanan kesehatan telah memadai, namun mungkin kurang adanya
promosi dari pihak puskesmas serta tidak adanya waktu dari
masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan tersebut,
ditambah lagi dengan tingkat kesadaran masyarakat yang rendah
terhadap pentingnya menjaga kesehatan terutama kesehatan gigi dan
mulut.
5) Faktor perilaku masyarakat (Gaya hidup)
Ditemukan gaya hidup masyarakat yang cenderung menyukai makanan
yang siap saji, yang banyak mengandung karbohidrat. Dan hal inilah
juga yang menjadi faktor pemicu timbulnya karies.





25

KESIMPULAN

1. Identifikasi masalah kesehatan dapat diperoleh dari :
a. Laporan-laporan kegiatan dari program-program kesehatan yang ada
b. Surveilans epidemiologi atau pemantauan penyebaran penyakit
c. Survey kesehatan yang khusus diadakan untuk memperoleh masukan
perencanaan kesehatan
d. Hasil kunjungan lapangan supervisi.
Ada tiga cara pendekatan yang dilakukan dalam mengidentifikasi
masalah kesehatan, yakni pendekatan logis, pendekatan pragmatis dan
pendekatan politis.
Pendekatan identifikasi masalah kesehatan yang cocok untuk skenario
adalah pendekatan logis karena secara logis, identifikasi masalah
kesehatan dilakukan dengan mengukur mortalitas, morbiditas dan cacat
yang timbul dari penyakit-penyakit yang ada dalam masyarakat. Pada
skenario, dokter gigi mengukur karies gigi.

2. Macam-macam pendekatan masalah kesehatan, yakni :
a. Pendekatan Bloom
H. L Bloom menjelaskan 4 faktor utama yang dapat mempengaruhi
derajat kesehatan individu /masyarakat. Keempat faktor tersebut terdiri
dari faktor perilaku individu atau kelompok masyarakat, faktor
lingkungan (sosial ekonomi, politik, fisik), faktor pelayanan kesehatan
(jenis, cakupan dan kualitasnya) dan faktor genetic (keturunan).
b. Pendekatan Wheel
Merupakan pendekatan lain untuk menjelaskan hubungan antara
manusia dan lingkungan. Roda terdiri daripada satu pusat (pejamu atau
manusia) yang memiliki susunan genetik sebagai intinya. Disekitar
pejamu terdapat lingkungan yang dibagi secara skematis ke dalam 3
sektor yaitu lingkungan biologi, sosial dan fisik.
26

c. Pendekatan Segitiga Epidemiologi
Model segitiga epidemiologi menggambarkan kejadian suatu penyakit
yang ditentukan oleh tiga faktor utama yaitu host, agent, dan
environment.
d. Pendekatan Jaring-jaring Sebab-Akibat
Merupakan salah satu dari 3 konsep dasar epidemiologi (segitiga
epidemiologi, jaring-jaring sebab akibat, roda) yang memberikan
gambaran tentang hubungan sebab akibat yang berperan dalam
terjadinya penyakit dan masalah kesehatan lainnya.

3. Pendekatan yang sesuai untuk skenario adalah pendekatan H.L.Blum.
Dimana dikemukakan ada 4 faktor yang berperan, yakni :
a. Faktor lingkungan
Lingkungan sosial ekonomi tingkat ekonomi masyarakat menengah
ke atas kebiasaan mengkonsumsi makanan cepat saji
b. Faktor hereditas
Ditemukan pasien dengan tingkat karies yang tinggi banyak pasien
usia remaja sudah kehilangan gigi faktor hereditas (gigi yang rentan
terhadap karies)
c. Faktor pelayanan kesehatan
Kurang adanya promosi dari pihak puskesmas tidak adanya waktu
dari masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan tingkat
kesadaran masyarakat yang rendah terhadap OH
d. Faktor perilaku masyarakat (Gaya hidup)
Ditemukan gaya hidup masyarakat yang cenderung menyukai makanan
yang siap saji banyak mengandung karbohidrat faktor pemicu
timbulnya karies.



27

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Azrul, DR. MPH. 1988. Administrasi Kesehatan. Jakarta : Bina Rupa
Aksara
Heru, Subari, dkk. 2004. Manajemen epidemiologi. Yogyakarta : Media Pressindo
Kusnopranoto, Haryono. 1986. Kesehatan lingkungan. Jakarta: Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
Maidin, Alimin, dr.MPH. 2010. Perencanaan dan Evaluasi Kesehatan Standar
Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Kota Padang. Padang : Dinas
Kesehatan Kota Padang
Muninjaya, Gde. 2004. Manajemen Kesehatan : Edisi 2. Jakarta : EGC
Notoatmodjo, Prof. Dr. Soekidjo. 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan
Masyarakat. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta
Reinke A, William. 1994. Perencanaan Kesehatan Untuk Meningkatkan
Efektifitas Manajemen. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press