Anda di halaman 1dari 26

AKUNTANSI SYARIAH

MAKALAH
APLIKASI PAJAK DAN ZAKAT






Disusun Oleh :
Parli Nando Siagian : 12.10.3.133
Neli Renata Mendrofa : 11.10.0.116
Rindi Sartika : 10.10.1.130
Reza Armi Tanjung : 1010.0.089



Fakultas Ekonomi
Program Studi Akuntansi
Universitas Riau Kepulauan
2013
2

Kata Pengantar

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmatNya lah makalah ini dapat kami selesaikan. Terima kasih juga kepada
Bapak Dosen mata kuliah Akuntansi Syariah atas tugas yang diberikan sehingga
banyak sekali pembelajaran yang kami dapatkan. Terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini yang
membantu dalam menyiapkan bahan dan memberikan informasi.
Makalah ini dibuat dengan tujuan memperdalam ilmu akuntanis syariah
dimana mahasiswa di harapkan dapat memahami konsep zakat dan pajak dalam
kehidupan sehari-hari.
Makalah ini di buat dalam proses belajar dan memungkinkan adanya banyak
kelemahan dan kekurangan. Kami sebagai penulis mengharapkan saran dan kritik
dari para pembaca sekalian demi perbaikan di masa yang akan
datang.Keterbatasan info dan data mungkin ada dalam makalah ini kami
mengharapkan masukan dari semua pihak. Semoga makalah ini memberikan
manfaat bagi para pembacanya.


Batam,11 Januari 2014
Penulis















3

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR.............................................2
BAB :PENDAHULUAN..................................4
A. Latar Belakang.........................4
B. Rumusan Masalah ...............................4
C. Tujuan..........4

BAB II : PEMBAHASAN...................6
II.A.I Pengertian Pajak.................................................................................5
II.A.2 Fungsi Pajak bagi Negara...............................................................5-6
II.A.2 Pengertian Zakat ..............................................................................7
II.A.3 Kedudukan Zakat Dalam Islam......................................................7-8
II.A.4 Tujuan-tujuan syari dibalik kewajiban zakat..............................8-16
II.A.5 Perbedaan antara pajak dan zakat .............................................16-17
II.B Pajak dalam Perspektif Hukum Islam ..........................................17-19
II.C Aplikasi Pajak dan zakat Dalam Kehidupan Sehari- hari.............19-24

BAB III : PENUTUP....................................................................................25
A. Kesimpulan..........................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................26





4

BAB I
PENDAHULUAN

I.A Latar Belakang
Dalam melaksanakan pembangunan pemerintah membutuhkan dana untuk
pemenuhan hal-hal yang dibutuhkan, dana tersebut diambil oleh pemerintah
melalui pajak yang diambil dari masyarakat sehingga pajak ini menjadi salah
satu kewajiban masyarakat. Namun di sisi lain, selain adanya kewajiban untuk
membayar pajak, masyarakat yang beragama Islam mempunyai kewajiban lain
yang harus ditunaikan yaitu membayar zakat.
Kedudukan zakat penting dalam kehidupan manusia karena merupakan
bentuk pelaksanaan interaksi manusia sebagai makhluk sosial dan juga
mendorong manusia untuk berusaha mendapatkan harta benda sehingga dapat
menunaikan kewajibannya berzakat sebagai bukti pelaksanaan rukun Islam.
Zakat dan pajak merupakan dua hal yang penting dan tidak dapat
dipungkiri keberadaannya dalam kehidupan masyarakat sehingga timbul
permasalahan mengenai hal mana yang harus lebih diutamakan.
Oleh karena itu, penyusun akan mencoba memaparkan lebih jauh lagi
mengenai zakat dan pajak ini dalam makalah kami yang berjudul Aplikasi
zakat dan pajak.
I.2 Rumusan Masalah
Dengan melihat latar belakang yang telah di paparkan sebelumnya, maka
ada beberapa hal yang akan di bahas dalam makalah ini, diantaranya:
1. Apa pengertian Pajak dan fungsi nya bagi negara ?
2. Apa pengertian zakat, kedudukan dan tujuan nya?
3. Bagaimana pajak dalam perspektif islam?
4. Bagaimana aplikasi zakat dan pajak dalam kehidupan sehari-hari?


I.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, antara lain:
1. Mengetahui pengertian pajak dan fungsi nya bagi negara.
2. Mengetahui pengertian zakat, kedudukan dan tujuannya.
3. Mengetahui pajak dalam perspektif islam.
4. Mengetahui aplikasi zakat dan pajak dalam kehidupan sehari-hari.



5

BAB II
PEMBAHASAN

II.A Pengertian Pajak dan Fungsinya
II.A.I Pengertian Pajak
Pajak adalah iuran rakyat kepada Kas Negara berdasarkan undang-undang
(yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontra prestasi) yang
langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran
umum. Definisi tersebut kemudian dikoreksinya yang berbunyi sebagai berikut:
Pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada Kas Negara untuk
membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk public saving yang
merupakan sumber utama untuk membiayai public investment.
II.A.2 Fungsi Pajak bagi Negara
Pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan
bernegara, khususnya di dalam pelaksanaan pembangunan karena pajak
merupakan sumber pendapatan negara untuk membiayai semua pengeluaran
termasuk pengeluaran pembangunan. Berdasarkan hal diatas maka pajak
mempunyai beberapa fungsi, yaitu:
Fungsi anggaran (budgetair)
Sebagai sumber pendapatan negara, pajak berfungsi untuk membiayai
pengeluaran-pengeluaran negara. Untuk menjalankan tugas-tugas rutin negara dan
melaksanakan pembangunan, negara membutuhkan biaya. Biaya ini dapat
diperoleh dari penerimaan pajak. Dewasa ini pajak digunakan untuk pembiayaan
rutin seperti belanja pegawai, belanja barang, pemeliharaan, dan lain sebagainya.
Untuk pembiayaan pembangunan, uang dikeluarkan dari tabungan pemerintah,
yakni penerimaan dalam negeri dikurangi pengeluaran rutin. Tabungan
pemerintah ini dari tahun ke tahun harus ditingkatkan sesuai kebutuhan
pembiayaan pembangunan yang semakin meningkat dan ini terutama diharapkan
dari sektor pajak.
Fungsi mengatur (regulerend)
6

Pemerintah bisa mengatur pertumbuhan ekonomi melalui kebijaksanaan pajak.
Dengan fungsi mengatur, pajak bisa digunakan sebagai alat untuk mencapai
tujuan. Contohnya dalam rangka menggiring penanaman modal, baik dalam
negeri maupun luar negeri, diberikan berbagai macam fasilitas keringanan pajak.
Dalam rangka melindungi produksi dalam negeri, pemerintah menetapkan bea
masuk yang tinggi untuk produk luar negeri.
Fungsi stabilitas
Dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk menjalankan kebijakan
yang berhubungan dengan stabilitas harga sehingga inflasi dapat dikendalikan,
Hal ini bisa dilakukan antara lain dengan jalan mengatur peredaran uang di
masyarakat, pemungutan pajak, penggunaan pajak yang efektif dan efisien.
Fungsi redistribusi pendapatan
Pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan untuk membiayai
semua kepentingan umum, termasuk juga untuk membiayai pembangunan
sehingga dapat membuka kesempatan kerja, yang pada akhirnya akan dapat
meningkatkan pendapatan masyarakat

II.A.2 Pengertian Zakat
Zakat (Bahasa Arab: ; transliterasi: Zakah) adalah jumlah harta
tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan
kepada golongan yang berhak menerimanya (fakir miskin dan sebagainya)
menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syarak. Zakat merupakan rukun
ketiga dari Rukun Islam. Zakat dari segi prakteknya adalah kegiatan bagi-bagi
yang diwajibkan bagi umat islam. Zakat berbeda dengan gratifikasi. Gratifikasi
adalah kegiatan bagi-bagi yang tidak diperkenankan oleh negara atau ketentuan
pemerintah.
Zakat merupakan sarana untuk membantu dalam memenuhi hajat hidup para fakir
miskin yang merupakan kelompok mayoritas sebagian besar negara di
dunia.Memberikan dukungan kekuatan bagi kaum Muslimin dan mengangkat
eksistensi mereka. Ini bisa dilihat dalam kelompok penerima zakat, salah satunya
adalah mujahidin fi sabilillah.

7

II.A.3 Kedudukan Zakat Dalam Islam

Kedudukan dan arti penting zakat dapat dilihat dari beberapa hal berikut:

1. Zakat adalah rukun Islam yang ketiga dan salah satu pilar bangunannya yang
agung berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu
anhuma bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallambersabda:



Islam dibangun di atas lima perkara: syahadat bahwa tidak ada Rabb yang haq
selain Allh dan bahwa Muhammad adalah utusan Allh, menegakkan shalat,
menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan dan haji ke Baitullah bagi siapa yang
mampu [Muttafaqun alaihi]

2. Allh Azza wa Jalla menyandingkan perintah menunaikan zakat dengan
perintah melaksanakan shalat di dua puluh delapan tempat dalam al-Qur`n.[1] Ini
menunjukkan betapa urgen dan tinggi kedudukannya dalam Islam. Kemudian
penyebutan kata shalat dalam banyak ayat di al-Qur`n terkadang disandingkan
dengan iman dan terkadang dengan zakat. Terkadang ketiga-tiganya disandingkan
dengan amal shalih adalah urutan yang logis. Iman yang merupakan perbuatan
hati adalah dasar, sedangkan amal shalih yang merupakan amal perbuatan anggota
tubuh menjadi bukti kebenaran iman. Amal perbuatan pertama yang dituntut dari
seorang mukmin adalah shalat yang merupakan ibadah badaniyah (ibadah dengan
gerakan badan) kemudian zakat yang merupakan ibadah harta. Oleh karena itu,
setelah ajakan kepada iman didahulukan ajakan shalat dan zakat sebelum rukun-
rukun Islam lainnya. Ini berdasarkan hadits Ibnu Abbs Radhiyallahu anhuma
dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallamsaat beliau Shallallahu alaihi wa sallam
mengutus Mudz Radhiyallahu anhu ke Yaman, beliau bersabda kepadanya:



Sesungguhnya kamu akan datang kepada suatu kaum dari ahli kitab, ajaklah
mereka kepada syahadat bahwa tidak ada Rabb yang haq selain Allh dan bahwa
aku adalah utusan Allh, bila mereka mematuhi ajakanmu, maka katakanlah
kepada mereka bahwa Allh mewajibkan atas mereka shalat lima waktu dalam
sehari semalam, bila mereka mematuhi ajakanmu maka katakan kepada mereka
bahwa Allh mewajibkan sedekah yang diambil dari orang-orang kaya dari
8

mereka dan diberikan kepada orang-orang miskin dari mereka [2]

Nabi Shallallahu alaihi wa sallamhanya menyebutkan shalat dan zakat (dalam
hadits di atas) karena besarnya perhatian terhadap keduanya dan keduanya
didahulukan sbelumnya selainnya dalam berdakwah kepada Islam. Juga dalam
rangka mengikuti prinsip at-tadarruj (bertahap fase demi fase) dalam menjelaskan
kewajiban-kewajiban Islam.[3]

Dan masih banyak lagi dalil-dalil dari al-Quran maupun al-hadits yang
menunjukkan kedudukan zakat yang tinggi dalam Islam.

II.A.4 Tujuan-tujuan syari dibalik kewajiban zakat

Islam telah menetapkan zakat sebagai kewajiban dan menjadikannya
sebagai salah satu rukunnya serta memposisikannya pada kedudukan tinggi lagi
mulia. Karena dalam pelaksanaan dan penerapannya mengandung tujuan-tujuan
syar'i (maqshid syariat) yang agung yang mendatangkan kebaikan dunia dan
akhirat, baik bagi si kaya maupun si miskin. Di antara tujuan-tujuan tersebut
adalah :

1. Membuktikan Penghambaan Diri Kepada Allh Azza wa Jalla Dengan
MenjalankanPerintah-Nya.Banyak dalil yang memerintahkan agar kaum
Muslimin melaksanakan kewajiban agung ini, sebagaimana Allh Azza wa Jalla
firmankan dalam banyak ayat, diantaranya :


Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang
ruku'. [al-Baqarah/2:43]

Allh Azza wa Jalla juga menjelaskan bahwa menunaikan zakat merupakan sifat
kaum Mukminin yang taat. Allh Azza wa Jalla berfirman :



Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allh ialah orang-orang yang beriman
kepada Allh dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan
9

tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allh, maka merekalah orang-orang
yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. [at-
Taubah/9:18]

Seorang mukmin menghambakan diri kepada Allh Azza wa Jalla dengan
menjalankan perintah-Nya melalui pelaksanaan kewajiban zakat sesuai dengan
ketentuan yang telah ditetapkan syariat.

Zakat bukan pajak. Zakat adalah ketaatan dan ibadah kepada Allh Azza wa Jalla
yang dilakukan oleh seorang Mukmin demi meraih pahala dan balasan di sisi
Allh Azza wa Jalla . Allh Subhanahu wa Taala berfirman :





Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan
shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [al-
Baqarah/2:277].Juga firman-Nya.




Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang
Mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (al-
Quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang
mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allh dan hari
Kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala
yang besar. [an-Nisa`/4:162]

2. Mensyukuri Nikmat Allh Dengan Menunaikan Zakat Harta Yang Telah Allh
Azza wa Jalla Limpahkan Sebagai Karunia Kepada Manusia.
Allh Azza wa Jalla berfirman :
10






Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."
[Ibrhim/14:7]

Mensyukuri nikmat adalah kewajiban seorang muslim, dengannya nikmat akan
langgeng dan bertambah. Imam as-Subki rahimahullah mengatakan, Diantara
makna yang terkandung dalam zakat adalah mensyukuri nikmat Allh Subhanahu
wa Taala . Ini berlaku umum pada seluruh taklief (beban) agama, baik yang
berkaitan dengan harta maupun badan, karena Allh Azza wa Jalla telah
memberikan nikmat kepada manusia pada badan dan harta. Mereka wajib
mensyukuri nikmat-nikmat tersebut, mensyukuri nikmat badan dan nikmat harta.
Hanya saja, meski sudah kita tahu itu merupakan wujud syukur atas nikmat badan
atau nikmat harta, namun terkadang kita masih bimbang. Zakat masuk kategori
ini. [5]

Membayar zakat adalah pengakuan terhadap kemurahan Allh, mensyukuri-Nya
dan menggunakan nikmat tersebut dalam keridhaan dan ketaatan kepada Allh
Azza wa Jalla .

3. Menyucikan Orang Yang Menunaikan Zakat Dari Dosa-Dosa.
Allh Azza wa Jalla berfirman :





Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan
dan mensucikan mereka dan doakanlah mereka. Sesungguhnya doa kamu itu
(menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allh Maha mendengar lagi Maha
mengetahui. [at-Taubah/9:103].

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, Sesungguhnya kewajiban membayar
11

zakat dalam ayat di atas berkaitan dengan hikmah pembersihan dari dosa-
dosa.[6]

Ada juga hadits yang menegaskan makna di atas, sebagaimana dalam hadits
Muadz bin Jabal Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam
bersabda:





Sedekah itu bisa memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan
api.[HR. Ahmad 5/231 dan at-tirmidzi no. 2616 dan dishahihkan al-Albani dalam
Shahih Sunan at-Tirmidzi]

Ayat di atas mengumpulkan banyak tujuan dan hikmah syar'i yang terkandung
dalam kewajiban zakat. Tujuan-tujuan dan hikmah-hikmah itu terangkum dalam
dua kata yang muhkam yaitu, Dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka.

4. Membersihkan Orang Yang Menunaikannya Dari Sifat Bakhil.
Al-Ksni rahimahullah mengatakan, Sesungguhnya zakat membersihkan jiwa
orang yang menunaikannya dari kotoran dosa dan menghiasi akhlaknya dengan
sifat dermawan dan pemurah. Juga membuang kekikiran dan kebakhilan, karena
tabiat jiwa sangat menyukai harta benda. Zakat dapat membiasakan orang menjadi
pemurah, melatih menunaikan amanat dan menyampaikan hak-hak kepada
pemiliknya. Semua itu terkandung dalam firman Allh Azza wa Jalla :





Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan
dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka.[7]

Kikir adalah penyakit yang dibenci dan tercela. Sifat ini menjadikan manusia
berupaya untuk selalu mewujudkan ambisinya, egois, cinta hidup di dunia dan
12

suka menumpuk harta. Sifat ini akan menumbuhkan sikap monopoli terhadap
semua. Tentang hakikat ini, Allh Azza wa Jalla berfirman :




Dan manusia itu sangat kikir. [al-Isr`/17:100]

Allh Azza wa Jalla berfirman :



Walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. [an-Nis`/4:128]


Sifat kikir ini merupakan faktor terbesar yang menyebabkan manusia sangat
tergantung kepada dunia dan berpaling dari akhirat. Sifat ini menjadi sebab
kesengsaraan. Nabi Shallallahu alaihi wa sallambersabda :





Sengsara hamba dinar, sengsara hamba dirham, sengsara hamba khamishah ! Bila
dia diberi maka dia rela, bila tidak maka dia murka, sengsara dan tersungkurlah
dia, bila dia tertusuk duri maka dia tidak akan mencabutnya. [8]

Cinta dunia dan harta adalah salah satu sumber dosa dan kesalahan. Bila
seseorang terselamatkan darinya dan terlindungi dari sifat kikir maka dia akan
sukses, sebagaimana firman Allh Azza wa Jalla yang artinya, Dan siapa yang
dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung. [al-
Hasyr/59:9]

Allh Azza wa Jalla berfirman tentang orang-orang yang kikir lagi bakhil,



13




Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allh berikan
kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi
mereka. sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka
bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. [Ali
Imrn/3:180]

al-Fakhrurrazi rahimahullah berkata, Kecintaan mendalam terhadap harta bisa
melalaikan jiwa dari kecintaan kepada Allh dan persiapan menghadapi
kehidupan akhirat. Hikmah Allh Azza wa Jalla menuntut agr pemilik harta
mengeluarkan sebagian harta yang dipegangnya; Agar apa yang dikeluarkan itu
menjadi alat penghancur ketamakan terhadap harta, pencegah agar jiwa tidak
berpaling kepada harta secara total dan sebagai pengingat agar jiwa sadar bahwa
kebahagiaan manusia tidak bisa tercapai dengan sibuk menumpuk harta. Akan
tetapi kebahagian itu akan terwujud dengan menginfakkan harta untuk mencari
ridha Allh Azza wa Jalla . Kewajiban zakat adalah terapi tepat dan suatu
keharusan untuk melenyapkan kecintaan kepada dunia dari hati. Allh Azza wa
Jalla mewajibkan zakat untuk hikmah mulia ini. Inilah yang dimaksud oleh
firman-Nya, yang artinya, Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan
zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk
mereka. Yakni membersihkan dan mensucikan mereka dari sikap berlebih-
lebihan dalam menuntut dunia. [9]

5.Membersihkan Harta Yang Dizakati.
Karena harta yang masih ada keterkaitan dengan hak orang lain berarti masih
kotor dan keruh. Jika hak-hak orang itu sudah ditunaikan berarti harta itu telah
dibersihkan. Permasalahan ini diisyaratkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa
sallamsaat beliau n menjelaskan alasan kenapa zakat tidak boleh diberikan kepada
keluarga beliau Shallallahu alaihi wa sallam ? Yaitu karena zakat adalah kotoran
harta manusia.

6. Membersihkan Hati Orang Miskin Dari Hasad Dan Iri Hati Terhadap Orang
Kaya.Bila orang fakir melihat orang disekitarnya hidup senang dengan harta yang
melimpah sementara dia sendiri harus memikul derita kemiskinan, bisa jadi
kondisi ini menjadi sebab timbulnya rasa hasad, dengki, permusuhan dan
kebencian dalam hati orang miskin kepada orang kaya. Rasa-rasa ini tentu
melemahkan hubungan antar sesama Muslim, bahkan berpotensi memutus tali
persaudaraan.

14

Hasad, dengki dan kebencian adalah penyakit berbahaya yang mengancam
masyarakat dan mengguncang pondasinya. Islam berupaya untuk mengatasinya
dengan menjelaskan bahayanya dan dengan pensyariatan kewajiban zakat. Ini
adalah metode praktis yang efektif untuk mengatasi penyakit-penyakit tersebut
dan untuk menyebarkan rasa cinta dan belas kasih di antara anggota masyarakat.
[10]

Orang yang menunaikannya akan dilipatgandakan kebaikannya dan ditinggikan
derajatnya. Ini termasuk tujuan syar'i yang penting. Allh Azza wa Jalla
berfirman.





"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan
hartanya di jalan Allh adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan
tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allh melipat gandakan (ganjaran)
bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allh Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha
mengetahui. [al-Baqarah/2:261]

7. Menghibur Dan Membantu Orang Miskin.
Al-Ksni rahimahullah berkata, Pembayaran zakat termasuk bantuan kepada
orang lemah dan pertolongan kepada orang yang membutuhkan. Zakat membuat
orang lemah menjadi mampu dan kuat untuk melaksanakan tauhid dan ibadah
yang Allh wajibkan, sementara sarana menuju pelaksanaan kewajiban adalah
wajib. [11]

8. Pertumbuhan Harta Yang Dizakati.
Telah diketahui bersama bahwa di antara makna zakat dalam bahasa Arab adalah
pertumbuhan. Kemudian syariat telah menetapkan makna ini dan menetapkannya
pada kewajiban zakat. Allh Azza wa Jalla berfirman :





Allh memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah dan Allh tidak menyukai
15

setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa. (al-
Baqarah/2:276). Yakni menumbuhkan dan memperbanyak. [12]

Juga firman-Nya, yang artinya, "Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka
Allh akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rizki yang sebaik-baiknya.
(Saba`/34:39). Yakni Allh menggantinya di dunia dengan yang semisalnya dan
di akhirat dengan pahala dan balasan. [13]

Nabi Shallallahu alaihi wa sallambersabda :



Tidak ada satu hari di mana manusia mendapatkan waktu pagi kecuali ada dua
malaikat turun, salah satu dari keduanya berkata, Ya Allh berikanlah pengganti
kepada orang yang berinfak. Sedangkan yang lainnya berkata, Ya Allh
berikanlah kebinasaan kepada orang yang menahan. [Muttafaqun alaihi]

Nabi Shallallahu alaihi wa sallamjuga bersabda :



Sedekah tidak mengurangi harta. [HR Muslim]


9. Mewujudkan Solidaritas Dan Kesetiakawanan Sosial.
Zakat adalah bagian utama dari rangkaian solidaritas sosial yang berpijak kepada
penyediaan kebutuhan dasar kehidupan. Kebutuhan dasar kehidupan itu berupa
makanan, sandang, tempat tinggal (papan), terbayarnya hutang-hutang,
memulangkan orang-orang yang tidak bisa pulang ke negara mereka,
membebaskan hamba sahaya dan bentuk-bentuk solidaritas lainnya yang
ditetapkan dalam Islam. Nabi Shallallahu alaihi wa sallambersabda :




16


Perumpamaan orang-orang mukmin dalam sikap saling menyayangi, mengasihi
dan melindungi adalah seperti jasad yang satu, bila ada satu anggota jasad yang
sakit maka anggota lainnya akan ikut merasakannya dengan tidak tidur dan
demam. [HR Muslim]

10. Menumbuhkan Perekonomian Islam.
Zakat mempunyai pengaruh positif yang sangat signifikan dalam mendorong
gerak roda perekonomian Islam dan mengembangkannya. Karena pertumbuhan
harta individu pembayar zakat memberikan kekuatan dan kemajuan bagi ekonomi
masyarakat. Sebagaimana juga zakat dapat menghalangi penumpukan harta di
tangan orang-orang kaya saja. Allh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya,
"Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dan apa yang dilarangnya
bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allh. Sesungguhnya Allh
amat keras hukumanNya. [al-Hasyr/59:7]

Keberadaan uang di tangan kebanyakan anggota masyarakat mendorong
pemiliknya untuk membeli keperluan hidup, sehingga daya beli terhadap barang
meningkat. Keadaan ini dapat meningkatkan produksi yang menyerap tenaga
kerja dan membunuh pengangguran. [14]

11. Dakwah Kepada Allh Azza wa Jalla .
Di antara tujuan mendasar zakat adalah berdakwah kepada Allh dan
menyebarkan agama serta menutup hajat fakir-miskin. Semua ini mendorong
mereka untuk lebih lapang dada dalam menerima agama dan menaati Allh Azza
wa Jalla .



II.A.5 Perbedaan antara pajak dan zakat.
Pertama, zakat merupakan manifestasi ketaatan ummat terhadap perintah Allah
SWT dan Rasulullah SAW sedangkan pajak merupakan ketaatan seorang
warganegara kepada ulil amrinya (pemimpinnya).

Kedua, zakat telah ditentukan kadarnya di dalam Al Quran dan Hadits,
sedangkan pajak dibentuk oleh hukum negara.

17

Ketiga, zakat hanya dikeluarkan oleh kaum muslimin sedangkan pajak
dikeluarkan oleh setiap warganegara tanpa memandang apa agama dan
keyakinannya.

Keempat, zakat berlaku bagi setiap muslim yang telah mencapai nishab tanpa
memandang di negara mana ia tinggal, sedangkan pajak hanya berlaku dalam
batas garis teritorial suatu negara saja.

Kelima, zakat adalah suatu ibadah yang wajib di dahului oleh niat sedangkan
pajak tidak memakai niat. Dan sesungguhnya masih banyak lagi hal-hal yang
membedakan antara zakat dan pajak.

II.B Pajak dalam Perspektif Hukum Islam
Ulama berbeda pendapat terkait apakah ada kewajiban kaum muslim atas
harta selain zakat. Mayoritas fuqaha berpendapat bahwa zakat adalah satu-satunya
kewajiban kaum muslim atas harta. Barang siapa telah menunaikan zakat, maka
bersihlah hartanya dan bebaslah kewajibannya. Dasarnya adalah berbagai hadis
Rasulullah.Di sisi lain ada pendapat ulama bahwa dalam harta kekayaan ada
kewajiban lain selain zakat. Dalilnya adalah QS Al-Baqarah: 177; Al-Anam: 141;
Al-Maun: 4-7; Al-Maidah: 2; Al-Isra: 26; An-Nisa: 36; al-Balad: 11-18, dan
lain-lain. Jalan tengah dari dua perbedaan pendapat ini adalah bahwa kewajiban
atas harta yang wajib adalah zakat, namun jika datang kondisi yang menghendaki
adanya keperluan tambahan (darurah), maka aka nada kewajiban tambahan lain
berupa pajak (dharibah). Pendapat ini misalnya dikemukakan oleh Qadhi Abu
Bakar Ibn al-Aarabi, Imam Malik, Imam Qurtubi, Imam Syatibi, Mahmud Syaltut,
dan lain-lain
Diperbolehkannya memungut pajak menurut para ulama tersebut di atas, alasan
utamanya adalah untuk kemaslahatan umat, karena dana pemerintah tidak
mencukupi untuk membiayai berbagai pengeluaran, yang jika pengeluaran itu
tidak dibiayai, maka akan timbul kemadaratan. Sedangkan mencegah
kemudaratan adalah juga suatu kewajiban. Sebagaimana kaidah ushul fiqh:
Ma layatimmul wajib illa bihi fahuwa wajib
18

Oleh karena itu pajak tidak boleh dipungut dengan cara paksa dan kekuasaan
semata, melainkan karena ada kewajiban kaum muslimin yang dipikulkan kepada
Negara, seperti member rasa aman, pengobatan dan pendidikan dengan
pengeluaran seperti nafkah untuk para tentara, gaji pegawai, hakim, dan lain
sebagainya. Oleh karena itu, pajak memang merupakan kewajiban warga Negara
dalam sebuah Negara muslim, tetapi Negara berkewajiban pula untuk memenuhi
dua kondisi (syarat):
penerimaan hasl-hasl pajak harus dipandang sebagai amanah dan
dibelanjakan secara jujur dan efisien untuk merealisasikan tujuan-tujuan
pajak.
Pemerintah harus mendistribusikan beban pajak secara merata di antara
mereka yang wajib membayarnya.
Para ulama yang mendukung diperbolehkannya memungut pajak menekankan
bahwa yang mereka maksud adalah sistem perpajakan yang adil, yang selaras
dengan spirit Islam. Menurut mereka, sistem perpajakan yang adil adalah apabila
memenuhi tiga criteria:
Pajak dikenakan untuk membiayai pengekuaran yang benar-benar
diperlukan untuk merealisasikan maqasid Syariah.
Beban pajak tidak boleh terlalu kaku dihadapkan pada kemampuan rakyat
untuk menanggung dan didistribusikan secara merata terhadap semua
orang yang mampu membayar.
Dana pajak yang terkumpul dibelanjakan secara jujur bagi tujuan yang
karenanya pajak diwajibkan.

Dalam istilah bahasa Arab, pajak dikenal dengan nama Adh-Dharibah,yang
artinya adalah beban. Ia disebut beban karena merupakan kewajiban tambahan
atas harta setelah zakat, sehingga dalam pelaksanaannya akan dirasakan sebagai
sebuah beban. Secara bahasa maupun tradisi, dharibah dalam penggunaannya
memang mempunyai banyak arti, namun para ulama memakai ungkapan dharibah
19

untuk menyebut harta yang dipungut sebagai kewajiban dan menjadi salah satu
sumber pendapatan negara. Sedangkan kharaj adalah berbeda dengan dharibah,
karena kharaj adalah pajak yang obyeknya adalah tanah (taklukan) dan subyeknya
adalah non-muslim. Sementara jizyah obyeknya adalah jiwa (an-nafs) dan
subyeknya adalah juga non-muslim.
Selain itu, Negara juga mendapatkan sumber pendapatan sekunder, yaitu dari
denda-denda (kafarat), hibah, hadiah, dan lain-lain yang diterima secara tidak
tetap.
Dalam konteks Indonesia, payung hukum bagi Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak
untuk tidak tebang pilih dalam menerapakan aturan perpajakan pada berbasis
syariah di Indonesia telah terbit, yaitu Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 25
Tahun 2009 dengan tajuk Pajak Penghasilan (PPh) Atas Bidang Usaha Berbasis
Syariah. Maka mulai tahun ini, penghasilan yang di dapat dari usaha maupun
transaksi berbasis syariah baik oleh wajib pajak (WP) pribadi maupun badan
bakal dikenakan PP. Penerbitan PP PPh
Syariah ini merupakan bentuk aturan pelaksana yang diamanatkan Pasal 31D UU
Nomor 36 Tahun 2008 tentang PPh
II.C Aplikasi Pajak dan zakat Dalam Kehidupan Sehari- hari.
Kewajiban mengeluarkan zakat ini didasarkan pada Al-Quran surat Al
Baqarah: 267 yang menentukan bahwa setiap pekerjaan yang halal yang
mendatangkan penghasilan, setelah dihitung selama satu tahun hasilnya mencapai
nisab (senilai 85 gram emas) maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5%
(sumber: Badan Amil Zakat Nasional).
Mengenai proses hingga zakat mengurangi pembayaran pajak (dalam hal ini pajak
penghasilan), hal ini sudah diatur sejak adanya UU No. 38 Tahun 1999 tentang
Pengelolaan Zakat (UU 38/1999), dan kemudian lebih dipertegas oleh UU
Zakat yang terbaru yang menggantikan UU 38/1999 yaitu UU No. 23 Tahun
2011 tentang Pengelolaan Zakat (UU 23/2011).
20

Latar belakang dari pengurangan ini dijelaskan dalam penjelasan Pasal 14 ayat
(3) UU 38/1999 bahwa pengurangan zakat dari laba/pendapatan sisa kena pajak
adalah dimaksudkan agar wajib pajak tidak terkena beban ganda, yakni kewajiban
membayar zakat dan pajak. Ketentuan ini masih diatur dalam UU yang terbaru
yakni dalam Pasal 22 UU 23/2011:
Zakat yang dibayarkan oleh muzaki kepada BAZNAS atau LAZ dikurangkan dari
penghasilan kena pajak.
Hal ini ditegaskan pula dalam ketentuan perpajakan sejak adanya UU No. 17
Tahun 2000 tentang Perubahan Ketiga atas UU No. 7 Tahun 1983 tentang
Pajak Penghasilan, yakni diatur dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a nomor 1 yang
berbunyi:
Yang tidak termasuk sebagai Objek Pajak adalah: bantuan sumbangan,
termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat
yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah dan para penerima zakat yang
berhak.
Dalam ketentuan pasal tersebut baru diatur secara eksplisit bahwa yang tidak
termasuk objek pajak adalah zakat. Sedangkan, pengurangan pajak atas kewajiban
pembayaran sumbangan untuk agama lain belum diatur ketika itu. Hal ini
memang berpotensi menimbulkan kecemburuan dari agama lain yang juga diakui
di Indonesia.
Dengan dikeluarkannya UU No. 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat
atas UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (UU Pajak
Penghasilan) pasal tersebut mengalami perubahan sehingga berbunyi:
Yang dikecualikan dari objek pajak adalah:bantuan atau sumbangan, termasuk
zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk
atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima zakat yang
berhak atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama
yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk
21

atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima sumbangan yang
berhak, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Pemerintah.
Ketentuan serupa ditegaskan pula dalam Pasal 9 ayat (1) UU Pajak
Penghasilan.
Selain itu, Pasal 1 ayat (1) PP No. 60 Tahun 2010 tentang Zakat atau
Sumbangan Keagamaan yang Sifatnya Wajib yang Boleh Dikurangkan dari
Penghasilan Bruto juga menentukan:
Zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib yang dapat dikurangkan
dari penghasilan bruto meliputi:
a) zakat atas penghasilan yang dibayarkan oleh Wajib Pajak orang pribadi
pemeluk agama Islam dan/atau oleh Wajib Pajak badan dalam negeri yang
dimiliki oleh pemeluk agama Islam kepada badan amil zakat atau lembaga amil
zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah; atau
b) sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi Wajib Pajak orang pribadi
pemeluk agama selain agama Islam dan/atau oleh Wajib Pajak badan dalam
negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama selain agama Islam, yang diakui di
Indonesia yang dibayarkan kepada lembaga keagamaan yang dibentuk atau
disahkan oleh Pemerintah.
Sedangkan, badan/Lembaga yang ditetapkan sebagai penerima zakat atau
sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib yang dapat dikurangkan dari
penghasilan bruto diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor
PER-15/PJ/2012 yang berlaku sejak tanggal 11 Juni 2012 yang sebelumnya
diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. PER- 33/PJ/2011, yang
di antaranya adalah: Badan Amil Zakat Nasional, LAZ Dompet Dhuafa
Republika, LAZ Yayasan Rumah Zakat Indonesia, Lembaga Sumbangan Agama
Kristen Indonesia (LEMSAKTI), dan Badan Dharma Dana Nasional Yayasan
Adikara Dharma Parisad (BDDN YADP) - yang keseluruhannya saat ini
22

berjumlah 21 badan/lembaga. Karena semua peraturan yang telah disebutkan di
atas telah berlaku efektif, maka ketentuan pengecualian zakat atau sumbangan
wajib keagamaan dari objek pajak sudah berlaku efektif di Indonesia.
Mekanisme pengurangan zakat dari penghasilan bruto ini dapat kita temui dalam
Peraturan Dirjen Pajak No. PER-6/PJ/2011 Tahun 2011 tentang
Pelaksanaan Pembayaran dan Pembuatan Bukti Pembayaran atas Zakat
atau Sumbangan Keagamaan yang Sifatnya Wajib yang Dapat Dikurangkan
dari Penghasilan Bruto sebagai berikut:

Pasal 2
(1). Wajib Pajak yang melakukan pengurangan zakat atau sumbangan
keagamaan yang sifatnya wajib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1,
wajib melampirkan fotokopi bukti pembayaran pada Surat
Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak
dilakukannya pengurangan zakat atau sumbangan keagamaan yang
sifatnya wajib.
(2). Bukti pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) :
a dapat berupa bukti pembayaran secara langsung atau melalui
transfer rekening bank, atau pembayaran melalui Anjungan Tunai
Mandiri (ATM), dan
b paling sedikit memuat:
1) Nama lengkap Wajib Pajak dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
pembayar;
2) Jumlah pembayaran;
3) Tanggal pembayaran;
23

4) Nama badan amil zakat; lembaga amil zakat; atau lembaga
keagamaan yang dibentuk atau disahkan Pemerintah; dan
5) Tanda tangan petugas badan amil zakat; lembaga amil zakat; atau
lembaga keagamaan, yang dibentuk atau disahkan Pemerintah, di bukti
pembayaran, apabila pembayaran secara langsung; atau
6) Validasi petugas bank pada bukti pembayaran apabila pembayaran
melalui transfer rekening bank.

Pasal 3
Zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib tidak dapat
dikurangkan dari penghasilan bruto apabila :
a tidak dibayarkan oleh Wajib Pajak kepada badan amil zakat;
lembaga amil zakat; atau lembaga keagamaan, yang dibentuk atau
disahkan Pemerintah; dan/atau
b bukti pembayarannya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2).
Pasal 4
(1). Pengurangan zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya
wajib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dilaporkan dalam Surat
Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak yang
bersangkutan dalam Tahun Pajak dibayarkan zakat atau sumbangan
keagamaan yang sifatnya wajib tersebut.
(2). Dalam Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan,
zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib sebagaimana ayat
(1) dilaporkan untuk menentukan penghasilan neto.
24


Lebih jauh mengenai pelaporan pengurangan zakat atas penghasilan bisa Anda
simak dalam salah satu artikel dari Kanwil DJP Jakarta Khusus.
Jadi, sesuai uraian di atas, pemberian zakat memang dapat mengurangi pajak,
karena zakat dikecualikan dari objek pajak. Pengurangan pajak ini juga berlaku
atas sumbangan wajib keagamaan bagi pemeluk agama lain yang diakui di
Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan
oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima sumbangan yang berhak, yang
ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. Dan
peraturan perundang-undangan yang telah disebutkan di atas telah berlaku efektif
di Indonesia, demikian pula dengan mekanisme yang telah diaturnya.















25

BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN

Pemberian zakat memang dapat mengurangi pajak, karena zakat
dikecualikan dari objek pajak. Pengurangan pajak ini juga berlaku atas
sumbangan wajib keagamaan bagi pemeluk agama lain yang diakui di Indonesia,
yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh
pemerintah dan yang diterima oleh penerima sumbangan yang berhak, yang
ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. Dan
peraturan perundang-undangan yang telah disebutkan di atas telah berlaku efektif
di Indonesia, demikian pula dengan mekanisme yang telah diaturnya.















26

DAFTAR PUSTAKA
1. Lubis, Ibrahim, 1995, Ekonomi Islam, Jakarta: Kalam Mulia.
2. Yusuf, Ali Anwar 2005, Afeksi Islam, Bandung: Tafakur.
3. Tjahjono, Ahmad 2005, Perpajakan, Yogyakarta: Unit Penerbit
dan Pencetak Akademi Manajemen Perusahaan YKPN.
4. http://id.wikipedia.org/wiki/Zakat
5. http://almanhaj.or.id/content/3335/slash/0/zakat-dalam-islam-
kedudukan-dan-tujuan-tujuan-syarinya/
6. http://www.syariahonline.com/v2/zakat/2538-perhitungan-a-
pembayaran-zakat-penghasilan.html
7. http://id.wikipedia.org/wiki/Zakat