Anda di halaman 1dari 13

Teori Pembuktian Dan Alat-Alat Bukti Dalam Hukum Acara

Perdata
A. Teori Pembuktian
Pokok bahasan mengenai pembuktian mengundang perbedaan pendapat diantara ahli
hukum dalam mengklasifikasikannya apakah termasuk kedalam hukum perdata atau hukum
acara perdata.
Prof. Subekti, S.H. mantan ketua MA dan guru besar hukum perdata pada
Universitas ndonesiaberpendapat bah!a sebenarnya soal pembuktian ini lebih tepat
diklasifikasikan sebagai hukum acara perdata "procesrecht# dan tidak pada tempatnya
di masukkan dalam $.%., yang pada asasnya hanya mengatur hal&hal yang termasuk
hukum materil.
Akan tetapi memang ada suatu pendapat, bah!a hukum acara itu dapat dibagi lagi dalam
hukum acara materil dan hukum acara formil. Peraturan tentang alat&alat pembuktian, termasuk
dalam pembagian yang pertama "hukum acara perdata#, yang dapat 'uga dimasukkan kedalam
kitab undang&undang tentang hukum perdata materil. Pendapat ini rupanya yang dianut oleh
pembuat undang&undang pada !aktu $.%. dilahirkan. Untuk bangsa ndonesia perihal
pembuktian ini telah dimasukkan dalam H..(., yang memuat hukum acara yang berlaku di
Pengadilan )egeri.
Hukum positif tentang pembuktian "pokok bahasan makalah ini# yang berlaku saat ini di
( terserak dalam H( dan (bg baik yang materiil maupun yang formil. Serta dalam $% buku
* yang isinya hanya hukum pembuktian materiil.
$. Pengertian Pembuktian+Membuktikan
Membuktikan menurut Prof. ,r. Sudikno Mertokusumo, S.H., guru besar -H&U.M
mengandung beberapa pengertian/
0. Membuktikan dalam arti logis atau ilmiah
Membuktikan berarti memberikan kepastian mutlak, karena berlaku bagi setiap orang dan tidak
memungkinkan adanya bukti la!an.
1. Membuktikan dalam arti konvensionil
Membuktikan berarti memberikan kepastian yang nisbi+relatif sifatnya yang mempunyai
tingkatan&tingkatan/
kepastian yang didasarkan atas perasaan belaka+bersifat instuitif "conviction intime#
kepastian yang didasarkan atas pertimbangan akal "conviction raisonnee#
2. Membuktikan dalam hukum acara mempunyai arti yuridis
,idalam ilmu hukum tidak dimungkinkan adanya pembuktian yang logis dan mutlak yang
berlaku bagi setiap orang serta menutup segala kemungkinan adanya bukti la!an.
Akan tetapi merupakan pembuktian konvensionil yang bersifat khusus. Pembuktian dalam arti
yuridis ini hanya berlaku bagi pihak&pihak yang beperkara atau yang memperoleh hak dari
mereka. ,engan demikian pembuktian dalam arti yuridis tidak menu'u kepada kebenaran
mutlak.
Ada kemungkinan bah!a pengakuan, kesaksian atau surat&surat itu tidak benar atau palsu
atau dipalsukan. Maka hal ini dimungkinkan adanya bukti la!an.
Pembuktian secara yuridis tidak lain adalah pembuktian 3historis4 yang mencoba
menetapkan apa yang telah ter'adi secara konkreto. $aik pembuktian yang yuridis maupun yang
ilmiah, maka membuktikan pada hakekatnya berarti mempertimbangkan secara logis mengapa
peristi!a&peristi!a tertentu dianggap benar.
Membuktikan dalam arti yuridis tidak lain berarti memberikan dasar&dasar yang cukup
kepada hakim yang memeriksa perkara yang bersangkutan guna memberikan kepastian tentang
kebenaran peristi!a yang dia'ukan.
$erbeda dengan a5as yang terdapat pada hukum acara pidana, dimana seseorang tidak
boleh dipersalahkan telah melakukan tindak pidana, kecuali apabila berdasarkan buki&bukti yang
sah hakim memperoleh keyakinan tentang kesalahan terdak!a, dalam hukum acara perdata
untuk memenangkan seseorang, tidak perlu adanya keyakinan hakim.
6ang penting adalah adanya alat&alat bukti yang sah, dan berdasarkan alat&alat bukti
tersebut hakim akan mengambil keputusan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah.
,engan perkataan lain, dalam hukum acara perdata, cukup dengan kebenaran formil sa'a.
7. Prinsip&Prinsip Pembuktian
,alam suatu proses perdata, salah satu tugas hakim adalah untuk menyelidiki apakah
suatu hubungan hukum yang men'adi dasar gugatan benar&benar ada atau tidak.
Adanya hubungan hukum inilah yang harus terbukti apabila penggugat mengiginkan
kemenangan dalam suatu perkara. Apabila penggugat tidak berhasil membuktikan dalil&dalilnya
yang men'adi dasar gugatannya, maka gugatannya akan ditolak, sedangkan apabila berhasil,
maka gugatannya akan dikabulkan.
Tidak semua dalil yang men'adi dasar gugatan harus dibuktikan kebenarannya, untuk
dalil&dalil yang tidak disangkal, apabila diakui sepenuhnya oleh pihak la!an, maka tidak perlu
dibuktikan lagi. $eberapa hal+keadaan yang tidak harus dibuktikan antara lain /
0. hal&hal+keadaan&keadaan yang telah diakui
1. hal&hal+keadaan&keadaan yang tidak disangkal
2. hal&hal+keadaan&keadaan yang telah diketahui oleh khalayak ramai "notoire feiten+fakta
notoir#. Atau hal&hal yang secara kebetulan telah diketahui sendiri oleh hakim.
Merupakan fakta notoir, bah!a pada hari Minggu semua kantor pemerintah tutup, dan
bah!a harga tanah di 'akarta lebih mahal dari di desa.
,alam soal pembuktian tidak selalu pihak penggugat sa'a yang harus membuktikan
dalilnya. Hakim yang memeriksa perkara itu yang akan menentukan siapa diantara pihak&pihak
yang berperkara yang akan di!a'ibkan memberikan bukti, apakah pihak penggugat atau
sebaliknya pihak tergugat. Secara ringkas disimpulkan bah!a hakim sendiri yang menentukan
pihak yang mana yang akan memikul beban pembuktian. ,idalam soal men'atuhkan beban
pembuktian, hakim harus bertindak arif dan bi'aksana, serta tidak boleh berat sebelah. Semua
peristi!a dan keadaan yang konkrit harus diperhatikan dengan seksama olehnya.
Sebagai pedoman, di'elaskan oleh pasal 089: $%, bah!a/ "Barang siapa mengajukan
peristiwa-peristiwa atas mana dia mendasarkan suatu hak, diwajibkan membuktikan peristiwa-
pristiwa itu; sebaliknya barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa guna pembantahan hak
orang lain, diwajibkan juga membuktikan peristiwa-peristiwa itu"
,. Teori&Teori Tentang Penilaian Pembuktian
Sekalipun untuk peristi!a yang disengketakan itu telah dia'ukan pembuktian, namun
pembuktian itu masih harus dinilai.
$erhubung dengan menilai pembuktian, hakim dapat bertindak bebas ;contoh/ hakim
tidak !a'ib mempercayai satu orang saksi sa'a, yang berarti hakim bebas menilai kesaksiannya
"ps. 0<81 H(, 2=> (bg, 0>=8 $%#? atau diikat oleh undang&undang ;contoh/ terhadap akta yang
merupakan alat bukti tertulis, hakim terikat dalam penilaiannya "ps. 09: H(, 18: (bg, 08<=
$%#?.
Terdapat 2 "tiga# teori yang men'elaskan tentang sampai berapa 'auhkah
hukum positif dapat mengikat hakim atau para pihak dalam pembuktian peristi!a didalam
sidang, yaitu /
0. Teori Pembuktian $ebas.
Teori ini tidak menghendaki adanya ketentuan&ketentuan yang mengikat hakim,
sehingga penilaian pembuktian seberapa dapat diserahkan kepada hakim. Teori ini dikehendaki
'umhur+pendapat umum karena akan memberikan kelonggaran !e!enang kepada hakim dalam
mencari kebenaran.
1. Teori Pembuktian )egatif
Teori ini hanya menghendaki ketentuan&ketentuan yang mengatur larangan&larangan
kepada hakim untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pembuktian. @adi hakim
disini dilarang dengan pengecualian "ps. 09> H(, 2=9 (bg, 0>=: $%#
2. Teori Pembuktian Positif
,isamping adanya larangan, teori ini menghendaki adanya perintah kepada hakim.
,isini hakim di!a'ibkan, tetapi dengan syarat "ps. 09: H(, 18: (bg, 08<= $%#.
A. Teori&Teori Tentang $eban Pembuktian
Seperti telah diuraikan sekilas diatas, maka pembuktian dilakukan oleh para pihak bukan
oleh hakim. Hakimlah yang memerintahkan kepada para pihak untuk menga'ukan alat&alat
buktinya.
,alam ilmu pengetahuan terdapat beberapa teori tentang beban pembuktian yang men'adi
pedoman bagi hakim, antara lain/
0. Teori pembuktian yang bersifat menguatkan belaka "bloot affirmatief#
Menurut teori ini siapa yang mengemukakan sesuatu harus membuktikannya dan bukan
yang mengingkari atau yang menyangkalnya. Teori ini telah ditinggalkan.
1. Teori hukum subyektif
Menurut teori ini suatu proses perdata itu selalu merupakan pelaksanaan hukum
subyektif atau bertu'uan mempertahankan hukum subyektif, dan siapa yang mengemukakan atau
mempunyai suatu hak harus membuktikannya.
2. Teori hukum obyektif
Menurut teori ini, menga'ukan gugatan hak atau gugatan berarti bah!a penggugat minta
kepada hakim agar hakim menerapkan ketentuan&ketentuan hukum obyektif terhadap pristi!a
yang dia'ukan. Bleh karena itu penggugat harus membuktikan kebenaran daripada peristi!a
yang dia'ukan dan kemudian mencari hukum obyektifnya untuk diterapkan pada peristi!a itu.
C. Teori hukum publik
Menurut teori ini maka mencari kebenaran suatu pristi!a dalam peradilan merupakan
kepentingan publik. Bleh karena itu hakim harus diberi !e!enang yang lebih besar untuk
mencari kebenaran. ,isamping itu para pihak ada ke!a'iban yang sifatnya hukum publik, untuk
membuktikan dengan segala macam alat bukti. De!a'iban ini harus disertai sanksi pidana.
:. Teori hukum acara
Asas audi et alteram partem atau 'uga asas kedudukkan prosesuil yang sama daripada
para pihak dimuka hakim merupakan asas pembagian beban pembuktian menurut teori ini.
Hakim harus membagi beban pembuktian berdasarkan kesamaan kedudukkan para pihak,
sehingga kemungkinan menang antara para pihak adalah sama.
-. Alat&Alat $ukti
Menurut M. 6ahya Harahap, S.H., dalam bukunya Hukum Acara Perdata menyatakan
bah!a alat bukti "bewijsmiddel# adalah suatu hal berupa bentuk dan 'enis yang dapat membantu
dalam hal memberi keterangan dan pen'elasan tentang sebuah masalah perkara untuk membantu
penilaian hakim di dalam pengadilan. @adi, para pihak yang berperkara hanya dapat
membuktikan kebenaran dalil gugat dan dalil bantahan maupun fakta&fakta yang mereka
kemukakan dengan 'enis atau bentuk alat bukti tertentu. Hukum pembuktian yang berlaku di
ndonesia sampai saat ini masih berpegang kepada 'enis dan alat bukti tertentu sa'a.
Sebelum kami membahas sesuai dengan tema sub&bab kali ini, kami ingin memaparkan
terlebih dahulu perbedaan alat bukti dalam perkara pidana dan perdata. Tidak sama 'enis ataupun
bentuk alat bukti yang diakui dalam perkara pidana dan perdata. Mengenai alat bukti yang diakui
dalam acara perdata diatur dalam undang&undang Perdata Pasal 0899 DUH Perdata, Pasal 09C
H( sedangkan dalam acara pidana diatur dalam Pasal 08C DUHAP. Untuk lebih 'elasnya agar
dapat membandingkan antar alat bukti perdata dan pidana sebagai berikut/
Alat Bukti Hukum Acara Perdata
(Pasal 164 HIR, 1866 B!
Alat Bukti Hukum Acara Pidana
Pasal 184 "#HAP
0. Tulisan+Surat
1. Saksi&saksi
2. Persangkaan
C. Pengakuan
:. Sumpah
0. Det. Saksi
1. Det. Ahli
2. Surat
C. Petun'uk
:. Det. Terdak!a
Untuk itu, disini kami akan men'elaskan satu persatu alat bukti Hukum Acara Perdata
yang tercantum dalam Pasal 0899 $.%, sebagai berikut /
a# Alat $ukti Tertulis "Surat#.
Brang yang melakukan hubungan hukum perdata, tentulah dengan senga'a ataupun tidak
membuat alat bukti berbentuk tulisan dengan maksud agar kelak dapat digunakan atau di'adikan
bukti kalau se!aktu&!aktu dibutuhkan. Sebagai contoh/ se!a menye!a, 'ual beli tanah dengan
menggunakan akta, 'ual beli menggunakan kuitansi, dan lain sebagainya. Sebelum kami
membahas secara mendalam, perlulah dilihat bentuk kerangka surat atau alat bukti tertulis
diba!ah ini/
Akta adalah surat yang diberi tanda tangan, yang memuat peristi!a&peristi!a yang
men'adi dasar daripada suatu hak atau perikatan dan dibuat di depan ataupun oleh pega!ai
umum atau pe'abat pembuat akta tanah itu sendiri, yang dibuat se'ak pemula dengan senga'a
untuk pembuktian. Unsur paling penting terkait dengan pembuktian adalah tanda tangan. $arang
siapa yang telah menandatangani suatu surat dianggap mengetahui isinya dan bertanggung
'a!ab. Syarat penandatanganan dapat kita lihat pada pasal 08<C $.%..
Akta autentik adalah akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan undang&undang oleh
atau dihadapan pe'abat yang ber!enang untuk itu ditempat akta dibuatE "ps. 0898 DUH Perdata#.
,ari pen'elasan pasal diatas dapat disimpulkan bah!a akta otentik dibuat oleh atau
dihadapan pe'abat yang ber!enang yang disebut pe'abat umum. Apabila yang membuatnya
pe'abat yang tidak cakap F tidak ber!enang atau bentuknya cacat maka menurut Pasal 089>
DUH Perdata / akta tersebut tidak sah atau tidak memenuhi syarat formil sebagai akta otentikG
namun akta yang demikian mempunyai nilai kekuatan sebagai akta diba!ah tangan.
Sedangkan akta dibawah tangan ialah akta yang senga'a dibuat untuk pembuktian oleh
para pihak tanpa bantuan dari seorang pe'abat. @adi semata&mata dibuat antara para pihak yang
berkepentingan.
Akta diba!ah tangan dirumuskan dalam Pasal 08<C DUH Perdata, yang mana menurut
pasal diatas, akta diba!ah tangan ialah /
0# Tulisan atau akta yang ditandatangani diba!ah tangan.
1# Tidak dibuat atau ditandatangani pihak yang ber!enang.
Secara khusus ada akta diba!ah tangan yang bersifat partai yang dibuat oleh paling sedikit dua
pihak.
Akta pengakuan sepihak ialah akta yang bukan termasuk dalam akta diba!ah tangan
yang bersifat partai, tetapi merupakan surat pengakuan sepihak dari tergugat. Bleh karena
bentuknya adalah akta pengakuan sepihak maka penilaian dan penerapannya tunduk pada
ketentuan Pasal 08<8 DUH Perdata. ,engan demikian harus memenuhi syarat /
a. Seluruh isi akta harus ditulis dengan tulisan tangan si pembuat dan si penandatanganG
b. Atau paling tidak, pengakuan tentang 'umlah atau ob'ek barang yang disebut didalamnya,
ditulis tangan sendiri oleh pembuat dan penanda tangan.
Selan'utnya ada penambahan alat bukti tertulis yang sifatnya melengkapi namun
membutuhkan bukti otentik atau butuh alat bukti aslinya, diantaranya adalah alat bukti salinan,
alat bukti kutipan dan alat bukti fotokopi. )amun kembali ditegaskan kesemuanya alat bukti
pelengkap tersebut membutuhkan penun'ukan barang aslinya.
b# Desaksian
Desaksian adalah kepastian yang diberikan kepada hakim dipersidangan tentang
peristi!a yang dipersengketakan dengan 'alan pemberitahuan secara lisan dan pribadi oleh orang
yang bukan salah satu pihak dalam perkara, yang dipanggil dalam persidangan. @adi keterangan
yang diberikan oleh seorang saksi haruslah ke'adian yang telah ia alami sendiri, sedangkan
pendapat atau dugaan yang diperoleh secara berfikir tidaklah termasuk dalam suatu kesaksian.
Penerapan pembuktian dengan saksi ditegaskan dalam Pasal 08>: DUH Perdata yang
berbunyipembuktian dengan saksi-saksi diperkenankan dalam segala hal yang tidak
dikecualikan oleh undang-undang. @adi prinsipnya, alat bukti saksi men'angkau semua bidang
dan 'enis sengketa perdata, kecuali apabila UU sendiri menentukan sengketa hanya dapat
dibuktikan dengan akta, barulah alat bukti saksi tidak dapat diterapkan.
Alat bukti saksi yang dia'ukan pada pihak menurut Pasal 010 ayat "0# H( merupakan
ke!a'iban para pihak pihak yang berperkara. Akan tetapi apabila pihak yang berkepentingan
tidak mampu menghadirkan secara sukarela, meskipun telah berupaya dengan segala daya,
sedang saksi yang bersangkutan sangat relevan, menurut Pasal 02> ayat "0# H( hakim dapat
menghadirkannya sesuai dengan tugas dan ke!enangannya, yang apabila tidak dilaksanakan
merupakan tindakan unproesional conduct!
Saksi yang tidak datang diatur dalam Pasal 02>&0C1 H(, di mana saksi yang tidak
datang, para pihak dapat meminta Pengadilan )egeri untuk menghadirkannya meskipun secara
paksa "*ide Pasal 0C0 ayat "1# H(#. Syarat&syarat alat bukti saksi adalah sebagai berikut/
0# Brang yang 7akap
Brang yang cakap adalah orang yang tidak dilarang men'adi saksi menurut Pasal 0C: H(,
Pasal 0<1 ($. dan Pasal 0>=> DUH Perdata antara lain, pertama keluarga sedarah dan semenda
dari salah satu pihak menurut garis lurus, kedua suami atau istri dari salah satu pihak meskipun
sudah bercerai "*ide Putusan MA )o.0C= D+Sip+0><C. Akan tetapi mereka dalam perkara
tertentu dapat men'adi saksi dalam perkara sebagaimana diatur dalam Pasal 0C: ayat "1# H( dan
Pasal 0>0= ayat "1# DUH Perdata. "etigaanak&anak yang belum cukup berumur 0: "lima belas#
tahun "*ide Pasal 0C: ke&2 H( dan Pasal 0>01 DUH Perdata#, keempat orang gila meskipun
terkadang terang ingatannya "*ide Pasal 0>01 DUH Perdata#, kelima orang yang selama proses
perkara sidang berlangsung dimasukkan dalam tahanan atas perintah hakim "*ide Pasal 0>01
DUH Perdata#.
1# Deterangan ,isampaikan di Sidang Pengadilan
Alat bukti saksi disampaikan dan diberikan di depan sidang pengadilan, sebagaimana
ditegaskan dalam Pasal 0CC H(, Pasal 0<0 ($. dan Pasal 0>=: DUH Perdata. Menurut
ketentuan tersebut keterangan yang sah sebagai alat bukti adalah keterangan yang disampaikan di
depan persidangan.
2# ,iperiksa Satu Persatu
Syarat ini diatur dalam Pasal 0CC ayat "0# H( dan Pasal 0<0 ayat "0# ($.. Menurut
ketentuan ini, terdapat beberapa prinsip yang harus dipenuhi agar keterangan saksi yang
diberikan sah sebagai alat bukti. Hal ini dilakukan dengan cara, pertama menghadirkan saksi
dalam persidangan satu per satu, kedua memeriksa identitas saksi "*ide Pasal 0CC ayat "1#
H(#, ketiga menanyakan hubungan saksi dengan para pihak yang berperkara.
C# Mengucapkan Sumpah
Syarat formil yang dianggap sangat penting ialah mengucapkan sumpah di depan
persidangan, yang berisi pernyataan bah!a akan menerangkan apa yang sebenarnya atau #oir
dire, yakni berkata benar. Pengucapan sumpah oleh saksi dalam persidangan, diatur dalam Pasal
0C< H(, Pasal 0<: ($., dan Pasal 0>00 DUH Perdata, yang merupakan ke!a'iban saksi untuk
bersumpah+ber'an'i menurut agamanya untuk menerangkan yang sebenarnya, dan diberikan
sebelum memberikan keterangan yang disebut dengan $istim Promisoris!
:# Deterangan Saksi Tidak Sah Sebagai Alat $ukti
Menurut Pasal 09> H( dan Pasal 0>=: DUH Perdata, keterangan seorang saksi sa'a tidak
dapat dipercaya, sehingga minimal dua orang saksi %unus testis nullus testis& harus dipenuhi atau
ditambah alat bukti lain.
9# Deterangan $erdasarkan Alasan dan Sumber Pengetahuan
Deterangan berdasarkan alasan dan sumber pengetahuan diatur dalam Pasal 0<0 ayat "0#
H( dan Pasal 0>=< ayat "0# DUH Perdata. Menurut ketentuan ini keterangan yang diberikan
saksi harus memiliki landasan pengetahuan dan alasan serta saksi 'uga harus melihat, mendengar
dan mengalami sendiri.
<# Saling Persesuaian
Saling persesuaian diatur dalam Pasal 0<= H( dan Pasal 0>=8 DUH Perdata. ,alam
ketentuan ini ditegaskan bah!a, keterangan saksi yang bernilai sebagai alat bukti, hanya terbatas
pada keterangan yang saling bersesuain atau mutual conirmity antara yang satu dengan yang
lain. Artinya antara keterangan saksi yang satu dengan yang lain atau antara keterangan saksi
dengan alat bukti yang lain, terdapat kecocokan, sehingga mampu memberi dan membentuk
suatu kesimpulan yang utuh tentang persiti!a atau fakta yang disengketakan.
c# Persangkaan
Menurut Prof. Subekti, S.H., persangkaan adalah suatu kesimpulan yang diambil dari
suatu peristi!a yang sudah terang dan nyata. Hal ini se'alan dengan pengertian yang termaktub
dalam pasal 0>0: DUH Perdata 3Persangkaan adalah kesimpulan yang oleh undang&undang atau
oleh hakim ditarik dari satu peristi!a yang diketahui umum ke arah suatu peristi!a yang tidak
diketahui umum4. Persangkaan dapat dibagi men'adi dua macam sebagaimana berikut/
0# Persangkaan Undang&undang "wattelijk #ermoeden#.
Persangkaan undang&undang adalah suatu peristi!a yang oleh undang&undang disimpulkan
terbuktinya peristi!a lain. Misalnya dalam hal pembayaran se!a maka dengan adanya bukti
pembayaran selama tiga kali berturut&turut membuktikan bah!a angsuran sebelumnya telah
dibayar.
1# Persangkaan Hakim "rechtelijk #ermoeden#
6aitu suatu peristi!a yang oleh hakim disimpulkan membuktikan peristi!a lain. Misalnya
perkara perceraian yang dia'ukan dengan alasan perselisihan yang terus menerus. Alasan ini
dibantah tergugat dan penggugat tidak dapat membuktikannya. Penggugat hanya menga'ukan
saksi yang menerangkan bah!a antara penggugat dan tergugat telah berpisah tempat tinggal dan
hidup sendiri&sendiri selama bertahun&tahun. ,ari keterangan saksi hakim menyimpulkan bah!a
telah ter'adi perselisihan terus menerus karena tidak mungkin keduanya dalam keadaan rukun
hidup berpisah dan hidup sendiri&sendiri selama bertahun&tahun.
d# Pengakuan
Pengakuan %bekentenis, conession& adalah alat bukti yang berupa pernyataan atau
keterangan yang dikemukakan salah satu pihak kepada pihak lain dalam proses pemeriksaan,
yang dilakukan di muka hakim atau dalam sidang pengadilan. Pengakuan tersebut berisi
keterangan bah!a apa yang didalilkan pihak la!an benar sebagian atau seluruhnya "*ide Pasal
0>12 DUH Perdata dan Pasal 0<C H(#.
Secara umum hal&hal yang dapat diakui oleh para pihak yang bersengketa adalah segala
hal yang berkenaan dengan pokok perkara yang disengketakan. Tergugat dapat mengakui semua
dalil gugatan yang dikemukakan penggugat atau sebaliknya penggugat dapat mengakui segala
hal dalil bantahan yang dia'ukan tergugat. Pengakuan tersebut dapat berupa, pertama pengakuan
yang berkenaan dengan hak, kedua pengakuan mengenai fakta atau peristi!a hukum.
Halu yang ber!enang memberi pengakuan menurut Pasal 0>1: DUH Perdata yang
ber!enang memberi pengakuan adalah sebagai berikut/
0# dilakukan principal "pelaku# sendiri yakni penggugat atau tergugat "*ide Pasal 0<C H(#G
1# kuasa hukum penggugat atau tergugat.
Demudian bentuk pengakuannya, berdasarkan pendekatan analog dengan ketentuan Pasal
0><1 DUH Perdata, bentuk pengakuan dapat berupa tertulis dan lisan di depan persidangan
dengan cara tegas%e'pressis #erbis&, diam&diam dengan tidak menga'ukan bantahan atau
sangkalan dan menga'ukan bantahan tanpa alasan dan dasar hukum.
e# Sumpah
Sumpah sebagai alat bukti ialah suatu keterangan atau pernyataan yang dikuatkan atas
nama Tuhan, dengan tu'uan agar orang yang memberi keterangan tersebut takut akan murka
Tuhan bilamana ia berbohong. Sumpah tersebut diikrarkan dengan lisan diucapkan di muka
hakim dalam persidangan dilaksanakan di hadapan pihak la!an dikarenakan tidak adanya alat
bukti lain.
Sedangkan Soedikno berpendapat bah!a 3Sumpah pada umumnya adalah suatu
pernyataan yang hikmat yang diberikan atau diucapkan pada !aktu memberi 'an'i atau
keterangan dengan mengingat akan sifat maha kuasa dari pada Tuhan, dan percaya bah!a siapa
yang memberi keterangan atau 'an'i yang tidak benar akan dihukum oleh&)ya4.
Menurut UU ada dua macam bentuk sumpah, yaitu sumpah yang 3menentukan4
"decissoire eed# dan 3tambahan4 "supletoir eed#. Sumpah yang 3menentukan4 "decissoire eed#
adalah sumpah yang diperintahkan oleh salah satu pihak yang berperkara kepada pihak lawan
dengan maksud untuk mengakhiri perkara yang sedang diperiksa oleh hakim! @ika pihak la!an
mengangkat sumpah yang perumusannya disusun sendiri oleh pihak yang memerintahkan
pengangkatan sumpah itu, ia akan dimenangkan, sebaliknya, 'ika ia tidak berani dan menolak
pengangkatan sumpah itu, ia akan dikalahkan. Pihak yang diperintahkan mengangkat sumpah,
mempunyai hak untuk 3mengembalikan4 perintah itu, artinya meminta kepada pihak la!annya
sendiri mengangkat sumpah itu. Tentu sa'a perumusan sumpah yang dikembalikan itu sebaliknya
dari perumusan semula. Misalnya, 'ika rumusan yang semula berbunyi / 3Saya bersumpah bah!a
sungguh&sungguh Saya telah menyerahkan barang4 perumusan sumpah yang dikembalikan akan
berbunyi 3Saya bersumpah bah!a sungguh&sungguh Saya tidak menerima barang4. @ika sumpah
dikembalikan, maka pihak yang semula memerintahkan pengangkatan sumpah itu, akan
dimenangkan oleh hakim apabila ia mengangkat sumpah itu. Sebaliknya ia akan dikalahkan
apabila dia menolak pengangkatan sumpah itu.
@ika suatu pihak yang berperkara hendak memerintahkan pengangkatan suatu sumpah
yang menentukan, hakim harus mempertimbangkan dahulu apakah ia dapat mengi5inkan
perintah mengangkat sumpah itu. Untuk itu hakim memeriksa apakah hal yang disebutkan dalam
perumusan sumpah itu sungguh&sungguh mengenai suatu perbuatan yang telah dilakukan sendiri
oleh pihak yang mengangkat sumpah atau suatu peristi!a yang telah dilihat sendiri oleh pihak
itu. Selan'utnya harus dipertimbangkan apakah sungguh&sungguh dengan terbuktinya hal yang
disumpahkan itu nanti perselisihan antara kedua pihak yang berperkara itu dapat diakhiri,
sehingga dapat dikatakan bah!a sumpah itu sungguh&sungguh 3menentukan4 'alannya perkara.
Suatu 3sumpah tambahan4, adalah suatu sumpah yang diperintahkan oleh hakim pada salah satu
pihak yang beperkara apabila hakim itu barpendapat bahwa didalam suatu perkara sudah
terdapat suatu (permulaan pembuktian, yang perlu ditambah dengan penyumpahan, karena
dipandang kurang memuaskan untuk menjatuhkan putusan atas dasar bukti-bukti yang terdapat
itu! Hakim, leluasa apakah ia akan memerintahkan suatu sumpah tambahan atau tidak dan
apakah suatu hal sudah merupakan permulaan pembuktian.
Untuk lebih 'elasnya kami membuatkan table tentang perbedaan antar kedua macam
sumpah iniG
$um%a&
Decissoir Suppletoir
0. ,iminta oleh salah satu pihak kepada pihak
la!an
1. Alat bukti kuat yang menentukan keputusanG
2. ,apat dikembalikanG
C. ,ilakukan dalam tiap keadaan.
0. ,iminta oleh hakim "atas perintah hakim
kepada salah satu pihak#G
1. Merupakan alat bukti tambahanG
2. Tidak dapat dikembalikanG
C. Hanya dilakukan apabila telah ada bukti
permulaan bukti.
,ikenal 'uga dalam Hukum Acara Perdata sumpah aestimatoir "penaksiran# yang
diangkat oleh salah satu pihak atas perintah hakim untuk mengucapkan sumpah dalam rangka
menentukan 'umlah kerugian yang diderita atau mengenai suatu harga barang tertentu yang
disengketakan.