Anda di halaman 1dari 6

Denyut Nadi

Dasar Teori
Nadi perifer adalah gelombang yang berjalan dalam
pembuluh darah arteri akibat keluarnya sejumlah darah yang
dipompakan oleh ventrikel kiri (stroke volume) ke arah dinding
aorta. Dinding aorta mengalami disternsi setiap kali terjadi stroke
volume sehingga menimbulkan gelombang denyut yang berjalan
dengan cepat dalam pembuluh arteri (Murtiati et all, 2010).
Denyut arteri adalah suatu gelombang yang teraba pada
arteri bila darah dipompa keluar jantung. Denyut ini mudah diraba di
suatu tempat di mana arteri melintasi sebuah tulang yang terletak
dekat permukaan. Seperti misalnya: arteri radialis di sebelah depan
pergelangan tangan, arteri temporalis di atas tulang temporal, atau
arteri dorsalis pedis di belokan mata kaki. Yang teraba bukan darah
yang dipompa oleh jantung masuk ke dalam aorta melainkan
gelombang tekanan yang dialihkan dari aorta dan merambat lebih
cepat daripada darah itu sendiri (Evelyn, 2006).
Ada 2 faktor yang bertanggung jawab bagi kelangsungan
denyutan yang dapat dirasakan, yaitu:
1. Pemberian darah secara berkala dengan selang waktu pendek
dari jantung ke aorta, yang tekanannya berganti-ganti naik turun
dalam pembuluh darah. Bila darah mengalir tetap dari jantung ke
aorta, tekanan tetap, sehingga tidak ada denyutan.
2. Elastisitas dinding arteri yang memungkinkannya meneruskan
aliran darah dan aliran balik. Bila dinding tidak elastis, seperti
dinding sebuah gelas, masih tetap ada pergantian tekanan tinggi
rendah dalam sistol dan diastol ventrikel, namun dinding
tersebut tidak dapat melanjutkan aliran dan mengembalikan
aliran sehingga denyut pun tidak dapat dirasakan.
Setiap kontraksi dan relaksasi ventrikel kiri akan
mnyebabkan perubahan tekanan pada arterinya yang ditunjukkan
dengan membesar mengecilnya arteri, disebut juga denyut nadi.
Denyut nadi dapat dipakai sebagai tolok ukur kondisi
jantung. Jadi, penting untuk diketahui. Denyut nadi adalah frekuensi
irama denyut/detak jantung yang dapat dipalpasi (diraba) di
permukaan kulit pada tempat-tempat tertentu. Frekuensi denyut nadi
pada umumnya sama dengan frekuensi denyut/detak jantung.
Normalnya denyut nadi sama dengan kecepatan denyut jantung.
Kecepatan denyut nadi normal pada orang dewasa adalah 60 100
kali per menit.
Kecepatan normal denyut nadi (jumlah debaran setiap
menit):

Pada bayi yang baru lahir 140
Selama tahun pertama 120
Selama tahun kedua 110
Pada umur 5 tahun 96 100
Pada umur 10 tahun 80 90
Pada orang dewasa 60 80 (Evelyn, 2006).
Denyut Nadi yang Perlu Diketahui
a. Nadi Basal (nadi saat baru bangun tidur, sebelum bangkit dari
tidur)
b. Nadi Istirahat (nadi waktu tidak bekerja)
c. Nadi Latihan (nadi saat latihan fisik)
d. Nadi Pemulihan (nadi setelah selesai latihan fisik).
Tempat Meraba Denyut Nadi
Ada beberapa tempat yang dapat digunakan mengukur
denyut nadi, antara lain radialis, temporalis, karotid, brachialis,
femoralis, popliteal, tibia posterior, dan pedal. Kecepatan denytu
nadi normal pada orang dewasa adalah 60 100 kali/ menit. Denyut
nadi dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, aktivitas, status kesehatan,
obat-obatan, kondisi emosional (stress), dan lain-lain (Murtiati et all,
2010).
Denyut nadi dapat dipalpasi pada beberapa tempat, misalnya:
a. Di pergelangan tangan bagian depan sebelah atas pangkal ibu jari
tangan (arteri radialis).
b. Di leher sebelah kiri/kanan depan otot sterno cleido mastoideus
(arteri carolis).
c. Di dada sebelah kiri, tepat di apex jantung (arteri temperalis)
d. Di pelipis
Hal-hal yang Dapat Diperiksa pada Denyut Nadi
a. Frekuensinya
b. Isinya
c. Iramanya (teratur/tidak teratur)
Frekuensi nadi akan meningkat bila kerja jantung meningkat.
Bila kita berlatih, maka dengan sendirinya frekuensi denyut nadi
akan semakin cepat sampai batas tertentu sesuai dengan beratnya
latihan yang dilakukan.
Setelah latihan selesai, frekuensi nadi akan turun lagi.
Orang yang terlatih, nadi istirahatnya lebih lambat dibandingkan
dengan orang yang tidak terlatih.

Cara Menghitung Denyut Nadi
Penghitungan denyut nadi secara manual dpt dilakukan dengan cara:
a. Nadi dihitung selama 6 detik; hasilnya dikalikan 10 atau
b. Nadi dihitung selama 10 detik; hasilnya dikalikan 6 atau
c. Nadi dihitung selama 15 detik; hasilnya dikalikan 4 atau
d. Nadi dihitung selama 30 detik; hasilnya dikalikan 2.
Pada orang dewasa normal, denyut nadi saat istirahat
berkisar antara 60 - 80 denyut setiap menit. Penghitungan denyut
nadi juga dapat dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut
Pulse-Monitor atau Pulse-Meter, yaitu alat elektronik yang
dapat digunakan untuk mengukur frekuensi nadi setiap menit.
Panjang Denyut Nadi
Istilah panjang digunakan untuk menjelaskan bahwa denyut
nadi tipe ini dibagi menjadi 3 bagian, yaitu: bagian pertama adalah
awal denyut, bagian kedua adalah puncak denyut dan bagian ketiga
adalah akhir denyut.
Denyut nadi pendek (short pulse) apabila denyut tidak
mampu mengisi ruangan di bawah tiga jari yang digunakan untuk
memeriksa dan biasanya terasa hanya pada satu posisi jari
saja.Denyut ini seringkali menunjukkan kekurangan Chi.
Denyut nadi panjang (long pulse) adalah lawan dari denyut
nadi pendek. Denyut ini terasa pada posisi bagian pertama dan
bagian ketiga; di mana hal itu, apabila terjadi terus-menerus dan
terasa makin dekat dengan tangan atau akan naik ke siku. Apabila
denyut ini mempunyai kecepatan dan kekuatan normal, maka hal ini
menunjukkan bahwa pasien sehat. Akan tetapi jika disertai dengan
denyut nadi liat dan denyut nadi ketat maka menunjukkan kondisi
kelebihan.
Irama Denyut Nadi
Istilah irama digunakan untuk menjelaskan bahwa denyut
nadi dibagi menjadi 3 bagian, yaitu: bagian pertama adalah tarik
nafas dan buang nafas yang pertama kali, bagian kedua adalah tarik
nafas dan buang nafas yang kedua kali dan bagian ketiga adalah
tarik nafas dan buang nafas yang ketiga kali.
Denyut nadi tersimpul (knotted pulse) adalah lambat, denyut
tidak teratur dan ketukannya terputus-putus. Denyut ini
menunjukkan bahwa dingin menghambat chi dan darah, yang
mungkin memberi indikasi kekurangan chi, kurang darah, atau Jing.
Denyut ini seringkali menunjuk bahwa jantung tidak mampu
mengatur darah dengan baik, dan makin banyak interupsi pada
irama, menunjuk makin parah kondisi.
Denyut nadi terburu-buru (hurried pulse) adalah denyut
cepat dengan irama yang meloncat-loncat tidak teratur. Hal ini
merupakan pertanda bahwa panas menyerang chi dan darah.
Denyut terputus-putus (intermittent pulse) biasanya
mempunyai irama meloncat lebih dari dua kali denyut, tetapi
mempunyai pola tetap dan diasosiasikan dengan organ jantung, yang
mengalami ketidakharmonisan, atau dapat juga menunjukkan organ-
organ lain yang terlalu lelah.
Denyut nadi tersimpul, denyut nadi terburu-buru dan denyut
nadi terputus-putus seringkali terkait dengan jenis kelamin, dan
dalam banyak kasus tidak berhubungan dengan ketidak harmonisan
dalam tubuh.
Denyut nadi moderat (moderate pulse) adalah suatu denyut
nadi yang bagus atau sempurna, kondisi badan sehat dan terjadi
keseimbangan yang sempurna - normal pada kedalaman, kecepatan,
kekuatan dan lebar denyut nadi. Kondisi ini sangat jarang terjadi,
karena dalam banyak hal, denyut nadi juga dipengaruh oleh faktor
usia.

Metodologi
Praktikum mengenai denyut nadi dilakukan pada hari kamis
tanggal 24 Maret 2011 di Laboratorium Fisiologi UNJ. Alat yang
digunakan adalah penghitung waktu yaitu dapat berupa jam.
Praktikum ini dilakukan terhadap b objek penelitian (OP).
Langkah kerja yang dilakukan adalah meminta OP untuk
duduk dengan tenang. Kemudian memegang pergelangan tangan OP
untuk menentukan letak arteri radialis dengan tepat. Untuk meraba
arteri digunakan dua atau tiga jari tangan selain jempol dan
kelingking. Menekan dengan lembut hingga jari kita dapat
merasakan denyut nadi. Selama pengukuran, beberapa karakteristik
denyut nadi seperti kecepatan denyut nadi per menit, keteraturan
irama denyut dan kekuatan denyut harus diperhatikan. Latihan
diulangi sampai diperoleh hasil yang sama, dan hasil pengukuran
dicatat. Lalu meminta OP untuk berolahraga selama 10 menit dan
selanjutnya melakukan pengukuran denyut nadi dengan cara yang
sama seperti diatas untuk mendapatkan data denyut nadi setelah
beraktivitas.

Pembahasan
Dari tabel hasil pengukuran denyut nadi di atas ternyata
setiap OP memiliki kecepatan, irama, dan kekuatan yang berbeda.
Cara pengukuran denyut nadi dengan merasakan denyutan yang
terjadi pada arteri radialis di pergelangan tangan dengan
menggunakan jari telunjuk dan jari tengah selama satu menit.
Pengukuran dengan cara ini tidak menggunakan jari kelingking dan
ibu jari karena pada ibu jari dan kelingking terdapat perpanjangan
arteri sehingga jika kita melakukan pengukuran dengan ibu jari atau
kelingking tidak akurat, bisa saja denyutan yang terasa pada ibu jari
atau kelingking berasal dari ibu jari dan kelingking tersebut bukan
dari arteri radialis.
Pada pengukuran denyut nadi dalam kondisi istirahat, OP
diminta untuk duduk dengan tenang, tujuannya adalah agar OP pada
saat diukur denyut nadinya benar-benar dalam keadan istirahat total.
Secara umum dari hasil pengukuran kecepatan denyut nadi istirahat
dapat dikelompokan menjadi 3 kelompok yaitu:
1. Kecepatan rendah (54-71) terdiri dari satu OP yaitu Noor Andryan
I.
2. Kecepatan sedang (72-89) terdiri dari lima OP yaitu Dwi Atri
H.U.H, Rosid Marwanto, Dwi Lusi R., Sintia Sundari, dan Anis
Rahmawati.
3. Kecepatan tinggi (90-107) terdiri dari dua OP yaitu Veny
Wuryaningrum dan Yunita kurniasih.
Pada pengukuran kecepatan denyut nadi setelah beraktivitas
lari selama 10 menit secara umum dapat dikelompokan menjadi 3
kelompok yaitu:
1. Kecepatan rendah (68-92) terdiri dari satu OP yaitu Noor Andryan
I.
2. Kecepatan sedang (93-117) terdiri dari tiga OP yaitu Dwi Atri
H.U.H, Rosid Marwanto, dan Sintia Sundari.
3. Kecepatan tinggi (118-142) terdiri dari empat OP yaitu Dwi Lusi
R,.Veny Wurtaningrum, Anis Rahmawati dan Yunita kurniasih.
Kecepatan denyut nadi paling rendah baik sebelum maupun
sesudah beraktivitas lari selama 10 menit adalah Noor Andryan I.
Sedangkan kenaikan denyut nadi tertinggi terjadi pada Anis
Rahmawati, kecepatan denyut nadi istirahat hanya 87, tetapi setelah
melakukan aktivitas berlari kecepatan denyut nadinya mencapai
137. Namun denyut nadi paling cepat adalah Yunita kurniasih yang
mencapai 141, hal ini dapat terjadi karena OP tersebut kemungkinan
tidak terbiasa untuk melakukan banyak kerja dengan beban fisik
yang besar, sehingga ketika OP tersebut melakukan aktivitas lari
selama 10 menit, tubuh merasa kerja berat, dan kecepatan denyut
nadinya semakin tinggi. Dari data di atas juga diketahui bahwa OP
laki-laki memiliki kecepatan denyut jantung yang lebih rendah,
karena secara umum laki-laki lebih terbiasa melakukan aktivitas
yang melibatkan fisik.
Sedangkan untuk irama denyut nadi istirahat semua OP
teratur, teratur di sini maksudnya adalah iramanya konstan (stabil,
tidak berubah-ubah). Setelah melakukan aktivitas irama denyut nadi
berubah mengalami peningkatan, tetapi hal tersebut tidak terjadi
pada satu OP yaitu Noor Andryan I, hal ini terjadi karena OP
tersebut sering melakukan olahraga, sehingga aktivitas olahraga
berupa lari selama 10 menit sebelum melakukan percobaan tidak
mempengaruhi irama denyut nadi, karena fisiologi tubuhnya sudah
beradaptasi dengan kebiasaan aktivitasnya berolahraga, sedangkan
pada OP yang lain terjadi perubahan irama denyut nadi karena
reaksi fisiologi dalam tubuh akibat aktivitas lari selama 10 menit.
Pada saat beraktivitas terjadi peningkatan metabolisme sel-
sel otot, sehingga aliran darah meningkat untuk memindahkan zat-
zat makanan dari darah yang dibutuhkan jaringan otot sehingga
curah jantung akan meningkat untuk mensuplai kebutuhan zat
makanan melalui peningkatan aliran darah. Peningkatan curah
jantung akan meningkatkan frekuensi denyut jantung yang akan
meningkatkan denyut nadi pada akhirnya.
Kekuatan denyut nadi pada semua OP terjadi peningkatan,
karena setiap OP diamati oleh pengamat yang berbeda, sehingga
hasil pengamatan tersebut lebih bersifat subjektif, tidak seperti
pengukuran kecepatan denyut nadi yang lebih objektif. Peningkatan
kekuatan denyut nadi tersebut karena kecepatan aliran darah dalam
tubuh juga meningkat.
Perbedaan kecepatan denyut nadi baik saat istirahat maupun
setelah beraktivitas dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:
usia, jenis kelamin, aktivitas atau pekerjaan, makanan, obat-obatan,
dan kondisi emosional. Faktor lain yang meyebabkan perbedaan
frekuensi denyut nadi dalam praktikum dapat diakibatkan kesalahan
dan ketidaktelitian pengukuran pada saat praktikum.

Kesimpulan
1. Tempat pengukuran denyut nadi yaitu pada arteri radialis di
pergelangan tangan.
2. Irama dan kekuatan denyut nadi lebih teratur saat istirahat.
3. Cara mengukur denyut nadi dengan merasakan denyutan yang
terjadi pada arteri radialis di pergelangan tangan dengan
menggunakan jari telunjuk dan jari tengah.
4. Faktor yang mempengaruhi denyut nadi yaitu jenis kelamin dan
kebiasaan beraktivitas.
5. Denyut nadi istirahat terendah adalah 54 pada OP Noor Andryan I,
sedangkan denyut nadi tertinggi setelah beraktivitas lari selama 10
menit adalah 141 pada OP Yunita Kurniasih.