Anda di halaman 1dari 10

SEJARAH KONFLIK

Genosida yang terjadi di Rwanda merupakan sebuah gambaran nyata


bagaimana kecemburuan sosial dapat membawa dampak yang sangat mengerikan
terhadap kehidupan manusia. Dimulai dengan kedatangan suku Tutsi yang
kemudian mendominasi suku Hutu dari segi perekonomian dimana Tutsi menjadi
suku dari para orang-orang ningrat sementara Hutu menjadi masyarakat kelas
bawah di negerinya sendiri. Kesenjangan sosial diantara kedua suku semakin
parah saat masa penjajahan Belgia yang tetap mempertahankan sistem sosial
seperti itu.
Pemerintah kolonial menganggap bila suku Tutsi lebih menyerupai
mereka dari segi penampilan fisik dan menempatkan mereka pada posisi-posisi di
pemerintahan. Sedangkan Hutu semakin menjadi suku yang terpinggirkan di
tanahnya dengan di tempatkan pada pekerjaan-pekerjaan kerah biru. Diskriminasi
yang terjadi tidak hanya diterapkan pada sektor pemerintahan namun juga
terhadap sektor pendidikan. Oleh pemerintah, suku Hutu dilarang untuk
memperoleh pendidikan tinggi dengan tujuan menutup kesempatan mereka untuk
meraih pekerjaan yang lebih baik sehingga pada akhirnya mereka tetap akan
menjadi warga negara kelas bawah di Rwanda. Tidak berhenti di situ, pemerintah
Belgia bahkan menerapkan kebijakan penerapan kartu indentitas penduduk pada
tahun 1993 dimana dalam kartu tersebut wajib dicantumkan kesukuan pemiliknya.
Secara nyata, pemerintah kolonial memang sengaja menggunakan politik devide
et impera untuk menyebar perpecahan diantara kedua suku.
Diskriminasi yang dilakukan oleh Belgia kemudian menimbulkan
ketidakstabilan dalam negeri. Suku Hutu berusaha untuk melepaskan diri dari
tekanan diskriminasi yang menghimpit mereka sehingga muncullah perjuangan
untuk meraih kemerdekaan. Perjuangan ini juga didorong oleh keberhasilan
Kongo, sebagai negara tetangga Rwanda, dalam memperoleh kemerdekaannya.
Akhirnya di tahun 1959, demi meredakan kekacauan yang terjadi
pemerintah Belgia mengganti hampir setengah suku Tutsi yang duduk di
pemerintahan dengan suku Hutu. Partai politik Hutu pun terbentuk dengan nama
Permehutu (Parti du Mouvement et de I`emancipation des Bahutu) dimana pada
tahun 1961 partai ini berhasil memenangi pemilu.
Gregoir Kayibanda menjabat sebagai presiden. Rezim yang baru
terbentuk itu menggunakan sistem sentralisme dalam menjalankan
pemerintahannya. Kekuasaan yang dimiliki oleh rezim digunakan untuk
membalas dendam terhadap suku Tutsi. Diskriminasi yang dialami oleh Hutu
semasa pemerintahan Tutsi menjadi justifikasi bagi mereka dalam melakukan
tindakan kekerasan terhadap suku Tutsi dan genosida kecil-kecilan terhadap Tutsi
pun mulai terjadi. Di samping itu, sistem sentralisasi yang digunakan menjadikan
pemerintahan Kayibanda bersifat otoriter. Ia melakukan pemaksaan dalam
menjalankan kebijakan-kebijakannya.
Pada tahun 1973 terjadi pemindahan kekuasaan kepada kelompok militer
Hutu dimana Juvenal Habyarimana berhasil melakukan kudeta terhadap
Kayibanda. Rwanda pun berubah menjadi negara dengan sistem monopartai di
tahun 1975 dengan partai MRND (Mouvement Revolutionnaire National Parle
Development) sebagai partai tunggal yang berkuasa
1
. Namun di bawah kekuasaan
Habyarimana nasib suku Tutsi tidak jauh berbeda justru mereka semakin
tersingkirkan di Rwanda sehingga membuat mereka terpaksa mengungsi ke
negara-negara tetangga. Dengan kondisi seperti itu, suku Tutsi di bawah pimpinan

1
Konflik Rwanda, diakses dari http://hartantowae.blogspot.com/2012/02/konflik-rwanda.html,
pada 20 Oktober 2013
Paul Kagame membentuk RPF (Rwanda Patriotic Front) di tahun 1990
2
dan
menyerang Rwanda sehingga pecahlah konflik antara pemerintah Rwanda dengan
RPF.
Tujuan dari serangan RPF adalah supaya pemerintah memberikan porsi
kursi pemerintahan bagi suku Tutsi juga. Tuntutan mereka terimplementasi dalam
Arusha Accords yang lalu ditolak oleh Hutu ekstrimis
3
. Keadaan semakin
terpuruk dengan tewasnya Presiden Juvenal Habyarimana ketika pesawat yang
ditumpangi olehnya ditembak jatuh sehingga menewaskan sang presiden. Suku
Hutu kemudian menuduh bila suku Tutsi merupakan pelakunya sehingga
memberikan celah bagi kelompok militan Hutu untuk melaksanakan aksinya.
Belakangan diketahui bahwasannya pelaku penembakan tersebut tidak dilakukan
oleh Tutsi melainkan oleh orang-orang Hutu sendiri yang tidak menghendaki
adanya perjanjian perdamaian.
Dengan sandi lets cut the tall trees mereka lalu mulai membantai suku
Tutsi sebagai bentuk pembalasan dendam terhadap diskriminasi sosial yang
terjadi di Rwanda selama masa pra kemerdekaan. Pada peristiwa tersebut bukan
hanya orang-orang dari suku Tutsi saja yang dibantai tetapi juga suku Hutu
moderat serta yang tidak bisa menunjukkan KTP mereka karena secara fisik kedua
suku tersebut sulit untuk dibedakan. Sebanyak 800.000 orang diperkirakan
menjadi korban dalam peristiwa ini.



2
Tentang Konflik Rwanda, diakses dari http://sejarah.kompasiana.com/2012/08/26/tentang-
konflik-rwanda-488087.html, pada 20 Oktober 2013
3
Idem.
ANALISIS KONFLIK
Konflik yang terjadi di Rwanda merupakan konflik etnis yang
dikategorikan ke dalam konflik intrastate. Fredrick Barth mendefinisikan etnis
sebagai himpunan manusia yang terbentuk atas dasar persaman ras, agama, asal-
usul, bangsa, maupun kombinasi dari hal-hal tersebut yang mana mereka terikat
pada sistem nilai dan budaya
4
. Sehubungan dengan konflik internal atau
intrastate, Edward Azar mengemukakan sejumlah penyebab
5
:
1. Ketidakharmonisan hubungan antara pemerintah dengan kelompok
identitas (suku, agama, budaya) dimana pemerintah demi
kepentingannya cenderung mengeliminasi kelompok tersebut. Hal
ini kemudian mendorong kelompok identitas tersebut untuk
melakukan perlawanan.
2. Kegagalan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar
kemanusiaan sehingga menyebabkan terjadinya kemiskinan diantara
rakyat namun surplus di kalangan pemerintah.
3. Pengabaian aspirasi politik rakyat sebagai hasil dari pemerintahan
yang otoriter. Pemerintah menggunakan otoritas mereka untuk
memegang kendali atas masyarakat.
4. Adanya international linkages yakni ketergantungan yang terjadi
antara negara dengan sistem ekonomi global. Dalam hal ini
pemerintah mengeluarkan kebijakan yang lebih memihak asing.

4
Ardiana, Riyan 2011, Pengertian Etnis/Suku, Ras, dan Penduduk, diakses dari
http://id.shvoong.com/law-and-politics/politics/2243203-pengertian-etnis-suku-ras-dan/, pada
21 Oktober 2013
5
Teori Konflik, diakses dari http://iwansmile.wordpress.com/teori-konflik-2/, pada 21 Oktober
2013
Konflik yang terjadi di Rwanda dapat dijelaskan menggunakan teori
kebutuhan manusia yang berhubungan dengan teori transformasi konflik.
Berdasarkan teori kebutuhan manusia, konflik timbul ketika kebutuhan dasar
manusia tidak terpenuhi sehingga menimbulkan rasa ketidakamanan terhadap
individu maupun kelompok masyarakat tertentu. Kebutuhan dasar yang dimaksud
meliputi kebutuhan secara fisik, mental, dan sosial. Sedangkan teori transformasi
konflik berasumsi bila ketidakadilan dan ketidaksetaraan baik dalam bidang
sosial, budaya, dan ekonomi merupakan sebab timbulnya konflik.
Ketidakharmonisan antara pemerintah dengan kelompok identitas sudah
terjadi sejak masa kolonialisme yakni suku Tutsi terhadap Hutu. Demi menjaga
supaya suku Hutu tetap menjadi warga negara kelas bawah, pemerintah mencoba
mengeliminasi mereka. Eliminasi yang dilakukan oleh pemerintah menebarkan
perasaan tidak aman dikalangan suku tersebut. Mereka diperlakukan dengan
diskriminatif dan disingkirkan dengan pemberlakuan sistem stratifikasi sosial
yang ekstrim sehingga menutup akses mereka terhadap pendidikan. Padahal tanpa
pendidikan yang baik mereka tidak dapat memiliki kesempatan untuk
mendapatkan pekerjaan yang baik pula. Hal ini kemudian berujung pada
permasalahan ekonomi dan menjadi sebuah lingkaran yang menjebak suku Hutu
di dalamnya. Tekanan yang diterima oleh suku Hutu akibat ketidakadilan ini lalu
menjadi bom waktu yang menumbuhkan rasa dendam dan menimbulkan
perlawanan. Oleh sebab itu ketika suku Hutu berhasil meraih kursi
kepemimpinan, situasi menjadi terbalik. Suku Tutsi mereka pandang sebagai
sebuah ancaman yang harus disingkirkan keberadaannya sehingga terjadilah
genosida terhadap Tutsi.

PENYELESAIAN KONFLIK
Dalam mencapai perdamaian, teori kebutuhan manusia dan teori
transformasi konflik memiliki fokus yang berbeda namun saling berkaitan.
Pertama diawali dengan teori kebutuhan manusia yang berfokus pada tindakan
membantu pihak-pihak yang berkonflik dalam menentukan pilihan-pilihan guna
memenuhi kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi. Teori transformasi konflik
lebih berfokus kepada perubahan struktur yang menyebabkan ketidaksetaraan dan
ketidakadilan, meningkatkan hubungan antara pihak-pihak yang berkonflik, serta
mengembangkan segala hal yang menunjang adanya keadilan, perdamaian, dan
rekonsiliasi
6
.
Upaya rekonsiliasi secara demokratis antara suku Tutsi dan Hutu pun
telah dilakukan sejak masa Presiden Juvenal Habyarimana. Habyarimana berusaha
untuk menyatukan kedua pihak yang bertikai dimana rencana ini tertuang dalam
Arusha Accord pada 1993. Sayangnya proses demokrasi tersebut berlangsung saat
dimana lembaga yang mengatur kehidupan sipil belum cukup mapan dan
diperburuk dengan adanya elite politik yang justru merasa terancam dengan
adanya demokratisasi dalam bentuk pembagian kekuasaan dengan Tutsi. Upaya
rekonsiliasi Habyarimana pun semakin sulit ketika kondisi ekonomi Rwanda
semakin menurun. Ekstrimis Hutu pun menyatakan ketidaksetujuan mereka
dengan langkah yang diambil Habyarimana untuk menghapus sistem
pemerintahan satu suku di Rwanda hingga terjadilah genosida pada tahun 1994.
Berkaitan dengan konflik di Rwanda, PBB membentuk pasukan United
Nations Assistance Mission for Rwanda atau UNAMIR. UNAMIR dibentuk
berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB 872 (1993) pada 5 Oktober 1993

6
Tentang Konflik Rwanda, diakses dari http://sejarah.kompasiana.com/2012/08/26/tentang-
konflik-rwanda-488087.html, pada 20 Oktober 2013
dengan misi menjaga perdamaian di Rwanda. Dalam menjalankan mandatnya,
UNAMIR mempunyai beberapa tahap dalam proses intervensinya
7
:
1. Pertama, setelah mendapat otorisasi formal dari Dewan Keamanan
PBB dilakukan pengiriman tim yang terdiri dari personil militer,
personil sipil dan polisi sipil.
2. Kedua, selama 90 hari melakukan demobilisasi dan integrasi
angkatan bersenjata dan polisi nasional.
3. Ketiga, integrasi angkatan bersenjata akan dituntaskan dengan
mengurangi jumlah militer. Pada tahap akhir pelaksanaan misi PBB
tersebut dikurangi kekuatannya.
Misi UNAMIR dianggap gagal karena tidak dapat mencegah terjadinya
genosida. Namun kegagalan tersebut tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada
pihak pasukan perdamaian karena pasukan ini memiliki keterbatasan mandat yang
menyebabkan adanya keterbatasan personil serta persenjataan. Mereka bahkan
turut menjadi objek penyerangan militan Hutu.
Genosida baru berakhir setelah pada tahun 1994 RPF berhasil menduduki
Kigali, ibu kota Rwanda. Tanggal 17 Juli 1994, RPF pun berhasil mengalahkan
pemerintah Rwanda dan mengakhiri perang etnis tersebut. Selanjutnya
berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB No. S/RES/955 tahun 1994
dibentuklah ICTR (International Criminal Tribunal for Rwanda) di Arusha,
Tanzania. Tujuan pembentukan ICTR adalah untuk menuntut serta mengadili
orang-orang yang bertanggung jawab atas genosida dan kejahatan berat lain yang
melanggar hukum humaniter internasional di Rwanda. Sebanyak 55 kasus berhasil
diselesaikan oleh ICTR dimana terdapat 9 kasus naik banding dan 8 dibebaskan.

7
Konflik Rwanda, diakses dari http://hartantowae.blogspot.com/2012/02/konflik-rwanda.html,
pada 20 Oktober 2013
20 kasus masih dalam proses, 2 kasus dialihkan kepada yurisdiksi nasional, 2
terdakwa meninggal sebelum keputusan pengadilan keluar, dan 1 yang sedang
menanti proses pengadilan
8
.

DEMOKRASI DI RWANDA PASCA KONFLIK
Pasca berakhirnya konflik, Paul Kagame sebagai pemimpin RFP terpilih
menjadi presiden dengan perolehan suara mencapai 95%
9
. Di bawah
pemerintahannya, Rwanda melakukan banyak renovasi. Sistem peradilan
tradisional partisipatif diberlakukan guna mempercepat persidangan orang-orang
yang dituduh berpartisipasi dalam genosida meskipun dalam perjalanannya
peradilan ini mengalami banyak hambatan. Pemerintah juga menerbitkan
kebijakan khusus bagi para perempuan Rwanda dengan melibatkan 30% suara dan
kedudukan wanita dalam lembaga pemerintahan. Hak-hak perempuan dalam
bidang hukum dan warisan pun turut diperjuangkan untuk masuk ke dalam
konstitusi sehingga kini perempuan Rwanda memiliki hak-hak yang sebelumnya
tidak mereka miliki. Dengan perubahan-perubahan yang dilakukannya, secara
umum Paul Kagame dapat membawa Rwanda dalam kondisi yang lebih baik
pasca genosida yang mengacaukan negeri tersebut.

KESIMPULAN


8
Tentang Konflik Rwanda, diakses dari http://sejarah.kompasiana.com/2012/08/26/tentang-
konflik-rwanda-488087.html, pada 20 Oktober 2013
9
Mustaqim, Hendra Andika 2010, Kagame Diunggulkan pada Pemilu Rwanda, diakses dari
http://andikahendramustaqim.blogspot.com/2010/08/kagame-diunggulkan-pada-pemilu-
rwanda.html, pada 21 Oktober 2013
TABEL
ANALISIS RWANDA
ELEMEN
AKTOR &
TINDAKAN
GLOBAL -
REGIONAL Kongo yang berhasil
memperoleh kemerdekaan.
STATE Kekuasaan satu suku,
melakukan genosida terhadap
Tutsi.
KELOMPOK Permehutu (mewakili Hutu
dlm pemerintahan), MRND
(partai tunggal dlm
pemerintahan Habyarimana),
RFP (front yg dibentuk untuk
melawan pemerintahan Hutu)
ELITE Gregoir Kayibanda
(otoriter, sistem pemerintahan
sentralisme, diskriminasi
etnis Tutsi), Juvenal
Habyarimana
(mengupayakan perdamaian
melalui Arusha Accord), Paul
Kagame (memperjuangkan
hak-hak Tutsi, melawan
pemerintahan Hutu)
INCOMPA-
BILITIES
Kekuasaan, pengakuan dalam
masayarakat.
PENDE-
KATAN

Basic needs
TYPOLOGY

Intrastate conflict
CAUSES Structural (weak state,
ethnic geography), Political
(discrimination political
institution, inter-group
politics, exclusionary national
ideology), Economic
(poverty, discriminatory
economic system), Cultural
(problematic group histories)
CONFLICT
RESOLU-
TION
UNAMIR sebagai pasukan
perdamaian yang dikirim oleh
PBB untuk menjaga
keamanan di Rwanda,
pembentukan ICTR, pemilu
tahun 2002 dengan Paul
Kagame sbg presiden terpilih.
HASIL Berhasil.

DAFTAR PUSTAKA

_______.Konflik Rwanda, diakses dari
http://hartantowae.blogspot.com/2012/02/konflik-rwanda.html, pada 20
Oktober 2013

_______.Tentang Konflik Rwanda, diakses dari
http://sejarah.kompasiana.com/2012/08/26/tentang-konflik-rwanda-
488087.html, pada 20 Oktober 2013

Ardiana, Riyan 2011, Pengertian Etnis/Suku, Ras, dan Penduduk, diakses dari
http://id.shvoong.com/law-and-politics/politics/2243203-pengertian-
etnis-suku-ras-dan/, pada 21 Oktober 2013

_______.Teori Konflik, diakses dari http://iwansmile.wordpress.com/teori-
konflik-2/, pada 21 Oktober 2013

Mustaqim, Hendra Andika 2010, Kagame Diunggulkan pada Pemilu Rwanda,
diakses dari
http://andikahendramustaqim.blogspot.com/2010/08/kagame-
diunggulkan-pada-pemilu-rwanda.html, pada 21 Oktober 2013

Wallensteen, Peter. 2002. Understanding Conflict Resolution: War, Peace and the
Global System. Sage Publications: London.

Mwakikagile, Godfrey. 2013. Civil Wars in Rwanda and Burundi: Conflict
Resolution in Africa. New Africa Press: Pretoria.