Anda di halaman 1dari 19

Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
limpahan kenikmatan kesehatan baik jasmani maupun rohani sehingga pada kesempatan
ini penulis dapat menyelesaikan penyusunan tugas referat yang berjudul Teori
Pemberian Steroid Untuk Pematangan Paru Janin. Penulis mengharapkan saran dan
kritik yang dapat membangun dari berbagai pihak agar dikesempatan yang akan datang
penulis dapat membuatnya lebih baik lagi.
Pada kesempatan ini penulis menguapkan terima kasih sebesar ! besarnya kepada
dr. "uslih Perangin#angin$ Sp. %& serta berbagai pihak yang telah membantu penulis
dalam menyelesaikan penulisan refrat ini. 'eferat ini dibuat untuk perbaikan ujian
%bstetri penulis.
Semoga refrat ini dapat bermanfaat untuk kita semua.
"edan$ "ei ()*+
Penulis
*
DAFTAR ISI
Judul
,alaman
-ata Pengantar..............................................................................................................*
.aftar /si.......................................................................................................................(
0A0 / Pendahuluan......................................................................................................1
0A0 // Pembahasan
A. Patofisiologi Pematangan Paru Janin.......................................................................+
0. -ortikosteroid...........................................................................................................2
3. Penggunaan kortikosteroid saat antenatal..............................................................**
0A0 /// -esimpulan
-esimpulan.................................................................................................................*4
.aftarPustaka .............................................................................................................*5
(
BAB I
PENDAHULUAN
Pemberian terapi kortikosteroid antenatal pada 6anita yang memiliki resiko tinggi
untuk persalinan preterm telah direkomendasikan oleh beberapa ahli karena
kortikosteroid antenatal dihubungkan dengan penurunan insiden terjadinya sindroma
ga6at nafas janin 7'.S8$ kematian neonatal dan hemoragik intra9entrikuler 7/:,8.
.ibuktikan dengan meta analisis 3ohrane pada perobaan dengan pengambilan sample
aak dengan *4 6anita hamil yang menunjukkan bah6a terapi kortikosteroid antenatal
menurunkan resiko terjadinya sindroma ga6at nafas janin$ kematian neonatal dan
hemoragik intra9entrikuler
Stalker S$())+
Terapi kortikosteroid pada 6anita hamil yang melahirkan seara prematur
pertama kali diperkenalkan pada tahun *52( untuk meningkatkan pematangan paru janin.
"eta#analisis baru#baru ini berkesimpulan bah6a pemberian kortikosteroid terutama
untuk mengantipasi kelahiran preterm yang dihubungkan dengan berkurangnya insiden
kematian neonatal$ '.S$ /:,$ dan ;<3.
;/,$*55+
Penggunaan kortikosteroid dalam kehamilan tidak menunjukkan peningkatan
insiden infeksi maternal maupun fetal$ baik pada kasus dengan prematur ruptur membran
maupun tidak.
Stalker S$())+
Pada sebuah karya ilmiah penting$ =iggins dan ,o6ie memperlihatkan bah6a
pemberian terapi kortikosteroid antenatal pada 6anita yang mempunyai risiko melahirkan
prematur mengurangi insiden sindrom ga6at nafas 7'.S8 dan kematian anak. <fisiensi
terapi kortikosteroid antenatal belakangan ini telah dikonfirmasikan dengan lebih dari
selusin perobaan dengan memakai plasebo sebagai kontrol seara aak.
"eneguel J> et al$())1
-onsensus konferensi pengobatan kortikosteroid antenatal tahun *55+
menguatkan penelitian a6al =iggins dan ,o6ie tentang pemberian glukokortikoid
antenatal pada ibu yang berisiko untuk terjadinya kelahiran preterm dan telah menjadi
per6atan rutin di Amerika Serikat.
;/,$*55+?.udley .J et al$())1
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Patofisiologi Pematangan Paru anin
Paru terdiri dari +) tipe sel yang berbeda. Sel yang melapisi al9eoli terutama
terdiri dari ( tipe sel$ yaitu penumosit tipe / dan tipe //. Tipe / sebagai sel utama al9eoli
merupakan epitel yang tipis melapisi dinding al9eoli dan berkontak erat dengan sel
endotel kapiler$ yang memungkinkan pertukaran gas bisa terjadi. Sel tipe //$ yang lebih
keil dari tipe / terletak di sudut#sudut al9eoli$ berbentuk kuboid dan mengandung
lamelar inclusion spesifik bila dilihat diba6ah mikroskop elektron. 0adan lamelar adalah
tempat penyimpanan surfaktan intraseluler. .engan analisa biokemik ternyata badan
lamelar mengandung surfaktan sejenis phospholipid.
3unningham >& et al$ ())*? Jobe A,$ Soll '>$ ())+
Sel tipe // menangkap prekusor pembentuk phospholipid dan protein. Sintesa terjadi
dalam retikulum endoplasma. Setelah dimodifikasi dalam aparatus golgi$ komponen
surfaktan diba6a dan disimpan dalam badan lamelar. 0adan lamelar ini disekresikan
dengan ara eksositosis dan dibuka diluar sel membentuk tubular mielin. .ari sini
dihasilkan surfaktan monolayer$ yang diabsorbsi ke air ! li@uid interfae. .engan
mikroskop elektron tubular mielin terlihat seperti kisi ! kisi berbentuk tabung segi empat.
Selain itu sel tipe // juga berfungsi untuk proliferasi sebagai respon terhadap trauma.
+
Setelah mengalami trauma$ sel tipe / terkelupas dari dinding al9eoli dan sel tipe //
berproliferasi untuk memperbaiki dinding al9eoli$ kemudian berkembang menjadi sel tipe
/.
Serudji J$ Sulin .$ ())+

3lements7*5A28 menemukan suatu bahan yang menurunkan tegangan permukaan
terdapat dalam ekstraks ! ekstraks salin dari bahan uian paru. Sifat ! sifat permukaan
aktif dari al9eoli dapat dihubungkan dengan komponen ! komponen suatu kompleks
lipoprotein$ yaitu$ surfaktan.
3unningham >& et al$ ())*? Jobe A,$ Soll '>$ ())+
Sistem surfaktan paru merupakan suatu kompleks dari protein dan phospholipid
yang dapat menurunkan tegangan permukaan pada al9eoli. Penurunan tegangan
permukaan ini mempengaruhi stabilitas al9eoli selama respirasi normal. Surfaktan adalah
kompleks antara lipid dan protein$ dimana 5) B adalah lipid$ dan *) B protein. 4) B dari
lipid 7phospholipid8 dari surfaktan terutama terdiri dari phosphatidilholines 7leitin8.
.ipalmitoylphosphatidyl holine 7.PP38 merupakan komponen utama surfaktan paru
yang berjumlah hampir A)B di antara glyerophospholipid dari surfaktan.
Phosphatidylglyerol adalah komponen permukaan aktif surfaktan terbanyak kedua$ yaitu
4#*AB. Phosphatidylglyerol dapat mengurangi tegangan permukaan di al9eoli$tapi
seara tepatnya belum diketahui. Pembentukan lapisan phospholipids dipermudah oleh
protein dalam surfaktan. 0ahan ini mengandung tiga protein unik yaitu SP#A$ SP#0$ dan
SP#3. SP#A adalah suatu glikoprotein besar dan menyerupai kolagen dalam strukturnya.
SP#A ini diperkirakan mempunyai beberapa fungsi$ termasuk mengatur umpan balik
pengambilan surfaktan oleh sel al9eolus epitel tipe // yang mensekresinya. Sintesa SP#A
A
diketahui dapat ditingkatkan dengan pengobatan jaringan paru janin yli A"P
7analog8$ epidermal gro6th fator$ dan triiodothyronine. SP#0 dan SP#3 adalah protein
yang lebih keil yang memfasilitasi pembentukan lapisan phospholipids.
3unningham >& et al$ ())*?
Jobe A,$ Soll '>$ ())+
Sel al9eoli tipe // yang menghasilkan surfaktan dapat menegah kolapsnya al9eoli
pada saat akhir ekspirasi sehingga bayi dapat bernafas dengan usaha nafas yang minimal.
.alam kehidupan lebih lanjut$ pada saat al9eolus ditandai dengan suatu interface air ke
jaringan$ badan ! badan lamelar utuh disapu ke dalam airan amnion dengan gerakan !
gerakan semaam pernafasan yaituC pernafasan janin. &ambaran surfaktan dalam airan
amnion menunjukkan mulainya pematangan fungsional paru ! paru.
3unningham >& et al$ ())*
Perkembangan surfaktan pada jaringan paru# rongga udara$ menegah al9eoli
kolaps selama ekspirasi dan membuat al9eoli terbuka lebih mudah pada inspirasi
berikutnya. Pada bayi dengan paru# paru yang masih imatur tidak mempunyai surfaktan
dalam jumlah yang ukup pada saat lahir sehingga al9eolus akan kolaps pada saat akhir
ekspirasi dan tidak mampu berkembang kembali pada saat inspirasi$ sehingga pada 6aktu
inspirasi butuh usaha besar. -olapsnya al9eolus karena kurangnya surfaktan akan
menimbulkan sesak nafas pada 00= yang dikenal respiratory distress syndrome.
<9ery dan "ead 7*5A58 pertama kali menunjukkan bah6a respiratory distress
syndrome disebabkan oleh defisiensi biosintesis surfaktan dalam paru#paru janin dan
neonatus. .efisiensi surfaktan paru dengan struktur dan fungsi yang imatur dari paru
dapat menimbulkan gangguan.
3unningham >& et al$ ())*
Pengurangan pengembangan paru#paru berperanan penting pada hipo9entilasi
al9eolus$ dan 9entilasi# perfusi yang tidak seimbang. ,ipoksemia dapat menyebabkan
asidosis metabolik$ dan keduanya dapat menyebabkan 9asokonstriksi pulmonal dan
hipoksemia yang menganggu.
Jobe A,$ Soll '>$ ())+
Seara makroskopik$ paru#paru tampak ber6arna kemerahan. Paru#paru pada bayi
ini butuh tekanan terbuka yang lebih tinggi untuk mengembangkan paru#paru. Seara
mikroskopik tampak atelektasis difus pada rongga udara bagian distal dengan distensi
pada saluran nafas bagian distal dan area perilimphatik. Atelektasis yang progresif
dengan barotrauma atau 9olutrauma dan keraunan oksigen menimbulkan kerusakan sel
D
epitel pada saluran nafas bagian distal$ sehingga menimbulkan eksudat matriks fibrin.
Stalker
S$ ())+

-ekurangan surfaktan menimbulkan atelektasis yang progresif $ kolaps al9eolar$
berkurangnya pengembangan paru$ udem paru$ dan pengurangan kapasitas yang sangat
besar untuk pertukaran udara. Situasi ini membuat epat lelah$ penurunan usaha bernafas$
hipoksia$ sianosis$ asidosis$ dan berakhir pada kematian.
Arias >$ *551
B. Korti!osteroi"
Pengobatan kortikosteroid pada 6anita hamil yang melahirkan prematur
diperkenalkan pertama kali pada tahun *52( untuk meningkatkan maturitas paru# paru
janin. -onsensus konferensi pengobatan kortikosteroid antenatal tahun *55+ menguatkan
penelitian a6al =iggins dan ,o6ie tentang pemberian gkukokortikoid antenatal pada ibu
yang berisiko untuk terjadinya kelahiran preterm telah menjadi pera6atan rutin di
Amerika Serikat. 0aru#baru ini meta#analisis berkesimpulan bah6a pemberian
kortikosteroid diutamakan untuk mengantisipasi kelahiran preterm yang dihubungkan
dengan berkurangnya insiden kematian neonatal$ '.S$ /:,$ ;<3.
;/,$*55+?.udley .J et al$())1
a. Dasar Ilmia# Penggunaan Korti!osteroi"
$. Farma!o!ineti!
-adar steroid yang beredar dalam sirkulasi ibu dan janin setelah pemberian
steroid telah diteliti. 'egimen asli yang digunakan =iggins adalah suatu suspensi
betametason fosfat D mg dengan betametason asetat D mg yang diberikan dalam ( dosis
dengan jarak (+ jam. 3ampuran ini memberikan peningkatan konsentrasi glikokortikoid
yang epat dan berkelanjutan. -adar maksimum betamatason serum ditemukan pada ibu
* jam dan pada janin *#( jam setelah pemberian. 0etamatason mempunyai 6aktu paruh
sekitar D jam dan tidak dapat dideteksi +4 jam setelah dosis terakhir. Waktu paruh diduga
lebih panjang pada sirkulasi janin 7*( jam8. -onsentrasi dalam tali pusat lebih rendah
seara konsisten kadarnya dibanding kadarnya dalam darah ibu 7rasio talipusat Cdarah
ibu C)$128 dan betametason tidak terdeteksi lagi pada janin yang dilahirkan E +) jam
setelah pemberian steroid terakhir pada ibu.
.udley .J et al$())1
2
Semua steroid sintetik mempunyai afinitas yang lebih besar terhadap reseptor
yang munul seara alami dibanding kortisol. Ternyata betametason mempunyai afinitas
A$+ kali lipat dan deksametason 2$* kali lipat lebih tinggi. Perbandingan pemberian
betametason fosfatFasetat *( mg setiap *( jam$ deksametason D mg setiap *( jam$ dengan
*)) mg hidrokortison setiap 4 jam menunjukkan bah6a hidrokortison$ diukur setelah 4
jam sebagian besar sudah hilang 7cleared8. Sebaliknya betametason dan deksametason
masih terdeteksi. "asa kerja peningkatan akti9itas kortikosteroid G 1( jam untuk
hidrokortison$ D) jam untuk deksametason$ dan 2( jam untuk betametason. Ternyata
6aktu total pengaruh steroid pada jaringan target adalah lebih lama dibanding jangka
6aktu pendeteksian kadar plasma oleh karena pelepasan yang lambat steroid dari
reseptornya.
.udley .J et al$())1
-arena kerjanya yang dapat diterima$ regimen betametason tampak lebih disukai
daripada deksametason. .eksametason mempunyai nilai punak yang lebih tinggi dan
9ariasi kadar sirkulasi lebih signifikan. Setelah pemberian betametason$ konsentrasi
punak dari steroid yang tak terikat adalah sama dengan kadar yang munul setelah lahir
pada janin prematur yang tidak diterapi yang kemudian berkembang menjadi '.S.
Penekanan adrenal diukur sampai 2( jam setelah pemberian betametason$ ini lebih sedikit
daripada stressed sick newborns. -arena itu betametason prenatal dapat dibandingkan
dengan respon stress fisiologik yang dialami oleh neonatus.
.udley .J et al$())1
0etametason dan deksametason hanya sedikit berbeda dalam hal kadar sirkulasi
glukokortikoid aktif pada janin. 0etametason kadar punaknya lebih rendah tapi
peningkatan akti9itasnya lebih lama. ,al ini meramalkan efektifitas yang sama pada
kedua regimen. -linis tidak terdapat kerugian seara teoritis untuk berpindah# pindah
regimen ke yang lain. /njeksi langsung ke janin tidak mempunyai keuntungan karena obat
ini dapat dengan epat berpindah melalui plasenta dalam bentuk aktifnya.
.udley .J et al$())1
%. Meta%olisme "an E!s!resi
,anya sedikit proporsi kortikosteroid yang diekskresikan melalui ginjal$ dan
learane ginjal tidak meningkatkan selama kehamilan. Tempat utama untuk learane
betametason adalah hati ibu. Suatu mekanisme yang mungkin untuk peningkatan
learane pada 6anita hamil adalah metabolisme betametason oleh unit plasenta janin.
4
Penelitian yang mendukung teori ini termasuk adalah gradian plasma transplasental yang
rendah$ metabolisme in9itro betametason dalam system human plasenta in9itro$ tidak
adanya peningkatan dalam metabolisme hepatik intrinsik dari betametason$ dan tidak ada
bukti peningkatan ekskresi ginjal.
.udley .J et al$())1

&. Me!anisme Ker'a
$. Pengaru# se&ara fisiologi
<fek fisiologi glukokortikoid pada perkembangan paru adalah meningkatkan
surfaktan paru. Penelitian#penelitian a6al yang dilakukan terhadap kelini dan domba
menunjukkan bah6a glukokortikoid merangsang pembentukan struktur paru dan mulai
timbul produksi surfaktan paru. Seara histologi dapat diamati sebagai pendataran epitel$
penipisan septum al9eolus$ peningkatan differensiasi sel. Selain dari efek terhadap
surfaktan $ glukokortikoid meningkatkan compliance paru dan 9olume maksimal paru.
Pemberian glukokortikoid janin juga mengurangi kebooran protein dari pembuluh
pulmoner ke ruang udara dan meningkatkan clearance airan paru sebelum kelahiran.
,ay
WW$())*? .udley .J et al$())1? 3unningham >& et al$ ())*
(. Pengaru# se&ara %io!imia
"ekanisme betametason atau kortikosteroid lainnya yang terbaru untuk
menurunkan frekuensi respiratory distress syndrome$ melibatkan induksi protein yang
mengatur sistem biokimia dengan sel tipe // pada paru janin yang memproduksi
surfaktan.
.udley .J et al$())1? 3unningham >& et al$ ())*
Pada sel#sel paru janin manusia yang dikultur$ pemberian deksametason
meningkatkan kandungan protein surfaktan A$ 0$ 3$ .$ sambil merangsang aktifitas
semua enHim penting untuk biosintesis fosfolipid. -arena itu$ konsentrasi fosfatidilkolin
yang larut meningkat. Pada gilirannya hal ini merangsang perkembangan badan ! badan
lamelar$ yang kemudian disekresikan ke dalam lumen ruang udara. &lukokortikoid
mempunyai efek# efek tambahan yang membantu pernapasan$ dengan ara meningkatkan
aktifitas enHim anti oksidan dan menginduksi protein yang terlibat dalam clearance
airan paru. "asing#masing efek ini menunjukkan suatu sisi dari pematangan paru janin
5
dan berlanjut dengan memfasilitasi transisi dalam pernapasan setelah kelahiran.
.udley .J et
al$())1? 3unningham >& et al$ ())*
). Pengaru# ter#a"a* 'aringan lain
%bser9asi klinis terhadap efek multisistem terapi steroid terhadap bayi baru lahir
konsisten dengan data yang didapat dari penelitian he6an. 0eberapa penelitian
menunjukkan bah6a kortikosteroid membantu perkembangan hati$ usus$ kulit$ glandula
adrenal$ ginjal$ dan jantung janin. 3ontoh#ontoh ini menggambarkan efek global steroid
terhadap transisi perkembangan mayor dan menyediakan suatu dasar ilmiah untuk
penggunaan terapi steroid antenatal untuk memperepat fase perkembangan pada janin
manusia sebelum kelahiran preterm.
.udley .J et al$())1
". Ti*e !orti!osteroi"
.eksametason dan betametason merupakan kortikosteroid yang lebih banyak
digunakan untuk terapi antenatal$ tapi hidrokortison tidak menunjukkan keuntungan yang
sama. .ua komponen ini identik dalam aktifitas biologi dan dengan mudah mele6ati
plasenta dalam akti9itas biologinya. "ereka sama sekali tanpa aktifitas
mineralokortikoid$ seara relatif lemah dalam aktifitas imunosupresif$ dan mempunyai
durasi yang lebih lama daripada kortisol dan metilprednisolon. "ereka juga
kortikosteroid antenatal yang paling luas diteliti untuk peningkatan maturitas janin.
;/,$ *55+

-omposisi kimia kedua obat ini hanya berbeda pada deksametason mempunyai
suatu kelompok metil di posisi *D dalam konfigurasi alfa$ sedangkan betametason
mempunyai metil di posisi beta.
.udley .J et al$())1
=iggins dan ,o6ie meggunakan suspensi betametason pada penelitian mereka
karena kortikosteroid fluorinasi mele6ati plasenta dari ibu ke janin dan menapai le9el
darah janin lebih kurang 1)B dari le9el darah ibu$ dan juga karena garam asetat
merupakan larutan yang bebas.
0etametason dan deksametason adalah seara struktur fluorinasi
kortikosteroidnya mirip$ dan mempunyai potensi genomik yang sama. 0etametason
seara signifikan mengurangi kematian$ sedangkan deksametason tidak. Pada penelitian
retrospektif 0aud dkk dilaporkan bah6a deksametason dihubungkan dengan peningkatan
*)
kualitatif periventricular leukomalacia, dimana betametason seara signifikan
mengurangi periventricular leukomalacia.
0etametason adalah rangsangan yang lebih poten untuk pematangan paru$ efek
kemudian dari perkembangan saraf pada tikus kurang dibandingkan deksametason. Pada
manusia efek 9ariabilitas denyut jantung janin pada betametason kurang dibanding
deksametason$ tapi perbedaan ini tidak dijumpai pada penelitian lain. Peningkatan
periventricular leukomalacia yang dihubungkan dengan deksametason antenatal
merupakan hasil dari bahan penga6et sulfit yang terkandung dalam produk itu. Sulfit
dapat merusak sel neural in 9itro. Jadi disimpulkan bah6a betametason dan
deksametason tidaklah sama $dan betametason merupakan obat pilihan untuk pengobatan
kortikosteroid antenatal.
Jobe A, et al$ ())+
Ta%el $. +lu!o!orti!oi" Relatif, A!tifitas Mineralo!orti!oi" "an Dosis E-ui.alent
Pa"a Steroi" A"renal Natural "an Sinteti!
+lu!o!orti!oi" Per!iraan "osis
e-ui.alent / mg 0
Potensi Relatif Anti
inflamasi
/+lu!o!orti!oi" 0
Potensi Relatif
Mineralo!orti!oi"

-ortison (A ).4 (
,idrokortison () * (
Prednison A + *
Prednisolon A + *
Triamsinolon + A )
"etilprednisolon + A )
.eksametason ).2A ()#1) )
0etametason ).DA#).2A ()#1) )
.ari "erer 0".Assesment and /ndution of >etal Pulmonary "aturity./n "aternal >etal "ediine +rd ed
W0 Saunders 3ompany Philadelphia$ p.+AD. ())*
1. Penggunaan !orti!osteroi" saat antenatal
Pemberian kortikosteroid saat antenatal pada 6anita hamil dengan resiko
kelahiran preterm adalah merupakan salah satu terapi yang paling efektif dan penting.
Pemberian kortikosteroid ini dapat memperbaiki fungsi paru janin dan melindungi janin
dari kematian dini.
;e6nham JP et al$ ())(
a. In"i!asi
0eberapa indikasi penggunaan kortikosteroid saat antenatal pada usia kehamilan
(+ ! 1+ minggu C
**
Persalinan preterm
Perdarahan antepartum 7,AP8
Premature ruptur of the membran 7P'%"8
-etika usia kehamilan bertambah$ 6anita hamil yang dira6at sebaiknya diberikan
kortikosteroid untuk menegah peningkatan insiden RDS.
Stalker S$ ())+
%. Kontrain"i!asi
Satu ! satunya kontraindikasi penggunaan steroid antenatal adalah infeksi uterin
yang terbukti seara klinis. The British National ormulary menyatakan bah6a terapi
kortikosteroid merupakan kontraindikasi untuk infeksi sistemik. Pada 6anita dengan
kelahiran preterm yang mungkin menderita infeksi intra uterin subklinis$ anjuran
pemberian steroid pada masa kehamilannya masih dipertanyakan. "ereka meneliti *D5
bayi yang mendapat steroid dengan korioamnionitis histologi ditemukan pada e9aluasi
patologi post partum terhadap 1A4 bayi dengan korioamnionitis histologi tanpa terapi
steroid antenatal. Terdapat peningkatan sepsis neonatus yang tidak bermakna 7*4$1 B 9s
*+ B8. "ereka menyimpulkan bah6a pengobatan steroid antenatal pada 6anita dengan
infeksi intra uterin subklinis bukan merupakan kontraindikasi.
.udley .J et al$ ())1?Stalker S$ ())+
&. Dosis "an &ara *em%erian
.osis yang digunakan adalah untuk deksametason D mg intramuskular + kali
dengan inter9al *( jam. Untuk betametason *( mg intramuskular ( kali berjarak (+ jam.
Untuk kedua obat ini$ suatu dosis pengobatan menghabiskan 6aktu +4 jam. .osis yang
lebih tinggi atau lebih sering tidak meningkatkan keuntungan terapi kortikosteroid dan
mungkin meningkatkan kerugian dari efeknya.
;/,$ *55+? .udley .J et al? 3unningham >& et al$ ())*? "upanemunda ', et al$ *552?
"artin J;$ ())1
=iggins dan ,o6ie 7*52(8 melakukan studi random dengan pemberian
betametason *( mg intramuskuler$ ( kali berjarak (+ jam$ menghasilkan pengurangan
signifikan insiden respiratory distress syndrome dan penurunan angka kematian perinatal
yang dilahirkan sebelum 1+ minggu. <fek ini hanya terjadi bila kelahiran lebih dari (+
jam dan sebelum 2 hari setelah pemberian terapi glukokortikoid.
"erer 0"$ ())+? Arias >$ *551
*(
Pasien ra6at jalan yang diberikan deksametason oral juga telah dipertimbangkan
pada pasien yang ra6at jalan yang mempunyai risiko melahirkan prematur.
.eksametason digunakan sebagai obat oral dengan absorpsi yang baik. Pada sebuah
penelitian yang membandingkan pemberian deksametason antenatal seara intamuskular
dan oral pada *2) pasien yang kemudian dihentikan karena terdapat peningkatan yang
signifikan neonatal sepsis 7*).*B oral 9s *.(B im8 dan /:, 7*).*B oral 9s (.+B im8.
Tidak ada penjelasan efek buruk pada janin pada pemakaian deksametason oral ini.
"ereka menyimpulkan bah6a deksametason oral sebaiknya tidak diberikan pada yang
sudah mendapatkan intramuskular. -euntungan klinis pemberian steroid intra9ena belum
diteliti pada kehamilan manusia.
Jobe A,$ ())+
". 2a!tu *em%erian
Terdapat bukti kuat keuntungan pada neonatal pada pengobatan kortikosteroid
antenatal dimulai (+ jam dan paling lambat sampai 2 hari setelah pengobatan. >akta ini
peraya bah6a berkurangnya kematian$ '.S$ dan /:, bahkan pengobatan yang dia6ali
kurang dari (+ jam pertama kelahiran. 0aik seara klinik dan fakta in9itro peraya bah6a
efek biologi kortikosteroid berlangsung sampai 2 hari dari a6al pengobatan.
-euntungan klinis melebihi 2 hari setelah terapi kortikosteroid antenatal tidak
mempunyai data yang adekuat. Juga keuntungan atau risiko pengulangan pemberian
terapi setelah 2 hari belum diketahui.
;/,$ *55+? <9oy 3"$ ()))
Pada analisis sekunder berdasarkan inter9al 6aktu antara pemberian dan
kelahiran$ bayi yang dilahirkan antara +4 jam dan 2 hari setelah pemberian pengobatan
glukokortikoid menunjukkan keuntungan yang paling besar 7odds ratio )$1A 8. %dds ratio
untuk bayi yang dilahirkan keil (+ jam ! +4 jam pemberian pengobatan 7)$48 atau lebih
2 hari 7)$D18 mengindikasikan potensi keendrungan efek menguntungkan tetapi tidak
menapai angka statistik yang bermakna.
3ro6ley P$ *552? .udley .J$())1
=iggins dan ,o6ie menatat bah6a frekuensi ga6at pernapasan akan meningkat
kalau bayi dilahirkan antara 2#(* hari setelah terapi dengan betametason dibandingkan
*1
dibandingkan frekuensi ga6at pernapasan pada bayi yang dilahirkan * hingga 2 hari
setelah terapi itu selesai.
*2$(A
=ebih lanjut$ 0ro6n dkk 7*5258 menemukan pada janin
domba bah6a peningkatan kadar surfaktan akan turun kembali kepada nilai sebelum
terapi dalam 6aktu 4 hingga *) hari. -arena itu$ jika akan digunakan senya6a ini$ terapi
ulang harus dipertimbangkan kalau persalinan bayi belum terjadi dalam 6aktu 2 hari
sejak terapi pertama$ dan bila risiko persalinan dini masih terdapat.
(2
.ua penelitian besar
menunjukkan pengurangan '.S setelah pemberian steroid antenatal. =iggins dan ,o6ie
menemukan bah6a pengobatan betametason antenatal mengurangi insiden '.S 1) B$
dari *A$D B menjadi *) B 7PI)$)(8 pada 4A1 bayi. Ada D) B pengurangan $ dari (1$2 B
menjadi 4$4 B7pI)$))*8$ pada subgroup yang melahirkan di atas (+ jam $ tetapi kurang 2
hari setelah pengobatan. .i Amerika Serikat$ pada sebuah uji random multisenter
menggunakan deksametason$ insiden '.S berkurang dari *D$* B menjadi *)$* B pada
janin tunggal yang diberi glukokortikoid antenatal.
.udley .J$())1
!ompliance paru pada bayi yang menerima kortikosteroid antenatal dosis tunggal
tapi dilahirkan setelah 2 hari pengobatan tidak berbeda dengan bayi yang tidak mendapat
pengobatan$ yang meyakini bah6a perbaikan compliance paru adalah phenomen yang
dibatasi 6aktu dimana jika persalinan preterm tidak terjadi $ maka pool surfaktan ini
menghilang. -apasitas residual fungsional pada bayi yang dilahirkan setelah dosis
berulang tapi dengan pengobatan yang optimal ditemukan lebih tinggi daripada bayi
yang tidak mendapat pengobatan. Penelitian pada binatang telah diperlihatkan bah6a
struktur histologi berubah dengan meningkatnya 9olume rongga udara setelah pemberian
kortikosteroid antenatal.
<9oy 3" et al$ ()))
e. Umur !e#amilan saat *em%erian tera*i
0erdasarkan usia kehamilan$ ,o6ie dan =iggins menunjukkan bah6a efek terapi
yang paling baik pada janin antara usia kehamilan 1)#1( minggu. Pengurangan insiden
'.S yang signifikan pada bayi adalah usia kehamilan diba6ah 1) minggu dan antara
usia kehamilan 1(#1+ minggu. Setelah 1+ minggu pengobatan hanya memberikan
pengaruh yang sedikit pada outome pernapasan bayi yang baru lahir.
Arias >$ *551
Untuk bayi yang lahir pada usia kehamilan (5#1+ minggu$ pengobatan dengan
kortikosteroid antenatal jelas mengurangi insiden '.S dan mortalitas. Untuk neonatus
*+
yang lahir pada minggu ke (+#(4 minggu usia kehamilan$ kortikosteroid antenatal tidak
jelas menurunkan angka '.S$ tetapi terapi ini berhubungan dengan penurunan derajat
berat '.S$ insiden /:,$ dan mortalitas. Sedikit bukti yang mendukung pemakaian
kortikosteroid antenatal sebelum usia kehamilan (+ minggu meskipun baru terdapat
sedikit al9eoli yang sederhana pada usia kehamilan ini. Penggunaan kortikosteroid
antenatal tidak dianjurkan sebelum usia kehamilan menapai (+ minggu atau sesudah 1+
minggu.
;/,$*55+? "artin J;$ ())1
Pada semua janin yang berisiko kelahiran preterm dipertimbangkan untuk
pemberian pengobatan antenatal dengan kortikosteroid pada usia kehamilan antara (+#1+
minggu.
;/,$*55+
;ational /nstitute of ,ealth 7;/,8$ Amerian 3ollege of %bstetriians and
&yneologist 7A3%&8$ dan 'oyal 3ollege of "ediine telah memberikan seluruh
pengobatan dengan kortikosteroid antenatal yang telah direkomendasikan terhadap
6anita yang mempunyai risiko melahirkan prematur pada a6al 1+ minggu usia
kehamilan.
;/,$*55+?

Arias >$*551? &uinn .A et al$ ())*
Pada semua janin yang berisiko kelahiran preterm dipertimbangkan untuk
pemberian pengobatan antenatal dengan kortikosteroid pada usia kehamilan antara (+#1+
minggu.
;/,$*55+

f. Keuntungan "an Kerugian Pem%erian Korti!osteroi" saat antenatal
*. "euntun#an $an#ka pendek pada bayi
Pengobatan kortikosteroid antenatal pada bayi prematur pada banyak penelitian
seara random telah mengurangi mortalitas neonatal dan insiden '.S. Apabila
dikombinasi dengan pengobatan surfaktan post natal$ angka kematian semakin lebih
rendah. Pada meta#analisis menunjukkan pengurangan insiden '.S dengan odds rasio
).A 75AB 3l ).+#).D8 dan pengurangan mortalitas neonatal dengan odds rasio ).D 75AB 3l
).A#).48. .ata ini signifikan tidak hanya seara statistik$ tapi seara klinis juga
menunjang. Perbaikan stabilitas sirkulasi dan berkurangnya kebutuhan oksigen dan
bantuan 9entilasi merupakan keuntungan tambahan pada penelitian tersebut.
;/,$ *55+?

"eneguel
J> et al$ ())1
*A
Perbandingan apgar sore pada menit pertama dan kelima$ bayi baru lahir yang
mendapat kortikosteroid antenatal seara signifikan mempunyai apgar sore pada menit
pertama lebih besar daripada bayi yang tidak mendapat kortikosteroid antenatal. Apgar
sore yang tinggi ini mungkin karena stabilnya kardio9askular dan respirasi pada
neonatus prematur yang mendapat kortikosteroid antenatal. Penelitian pada binatang
menunjukkan efek kortikosteroid pada mekanisme adaptasi pada kehidupan ekstra uterin.
Stein dkk mendemostrasikan pada anak domba prematur bah6a kortikosteroid
memperbaiki 9entilasi$ sirkulasi$ dan fungsi metabolik dengan meningkatkan aktifitas
adenil siklase miokardium.
-ortikosteroid juga meningkatkan resptor adrenergik pada dinding pembuluh
darah dan miokardium$ yang berpengaruh terhadap stabilnya kardiosirkulasi pada saat
lahir. ,al ini berpengaruh seara tidak langsung dengan berkurangnya frekuensi '.S.
"eneguel J> et al$ ())1

%. "euntun#an $an#ka pan$an# pada bayi
0eberapa studi pada penelitian random telah mengikuti perkembangan bayi
selama *( tahun . Peningkatan kelangsungan hidup pada pengobatan pada bayi tidak
menghasilkan dampak yang merugikan pada jangka panjang.
;/,$ *55+
1. "eru#ian $an#ka pendek pada bayi
'isiko pada janin dan neonatus setelah pemberian glukokortikoid antenatal
munul lebih jarang dan re9ersibel. .alam meta#analisis 3ro6ley7*5458 tidak ada bukti
yang meyakinkan akan adanya efek samping yang signifikan
. "erer 0"$ ())+
&. "eru#ian $an#ka pan$an# pada bayi
'isiko jangka panjang dari pemberian preparat glukokortikoid pada bayi yang
berhasil diselamatkan masih belum diketahui. Penelitian yang dia6ali pada tahun *52)#
an$ yang telah mengikuti perkembangan anak#anak yang telah diobati kortikosteroid
antenatal sampai berumur *( tahun$ menunjukkan bah6a tidak ada efek yang merugikan
pada daerah motor skill$ bahasa$ kognisi$ memori$ konsentrasi.
'. "eru#ian $an#ka pendek dan $an#ka pan$an# pada ibu
-erugian jangka pendek dan panjang pada ibu belum pernah dilaporkan.
*D

BAB III
KESIMPULAN
*. Terapi kortikosteroid antenatal yang diberikan untuk pematangan paru dapat
mengurangi angka kematian '.S pada bayi preterm.
(. -euntungan paling luas pemberian kortikosteroid antenatal bila diberikan pada
kehamilan antara (+#1+ minggu usia kehamilan$ dan tidak dibatasi oleh jenis
kelamin dan ras.
1. Pemberian kortikosteroid antenatal memberikan keuntungan jangka pendek untuk
janin melebihi risiko jangka pendek untuk janin dan ibu.
+. -ortikosteroid akan optimal memperbaiki outcome bayi bila diberikan antara (+
jam sampai 2 hari setelah pemberian
A. Dru# of choice untuk kortikosteroid ini adalah betametason.
D. -arena kurangnya data ilmiah dari penelitian mengenai efekti9itas dan keamanan
pengulangan kortikosteroid$ seharusnya penggunaannya tidak diberikan seara
rutin

*2
DAFTAR PUSTAKA
Arias >C Preterm =abor$ /n Pratial &uide to ,igh#'isk Pregnany and .eli9ery. "osby
Jear 0ook$ /n$ *551? 2*#55.
3ro6ley PC Pre9ention of 'espiratory .istress Syndrome$ /n Preterm =abor. 3hurhill
=i9ingstone /n$ *552? 1*5 ! 1(2
3uningham >&$ "adonald P3$ &ant ;> Preterm 0irthC /n Williams %bstetri (*
st
<d.
The " &ra6#,ill 3ompanies$;e6 Jork$())*? D45 ! 2*4.
.udley .J$ Waters TP$ ;athanielsH PWC 3urrent Status of Single#3ourse Antenatal
Steroid Therapy. 3linial %bsteri and &yneology. 7+D8 7*8$ ())1$ l1(#*+5.
<9oy 3"$ 0o6ling S$ Williamson -$ 3ollins J$ Tolaymat =$ "aner J. Timing of
Antenatal 3ortiosteroid and ;eonatal Pulmonary "ehanis. Am. J. %bstet. &yneol.
()))? *41 7+8C 4+A ! 55.
JohnWiley K Sons$ =td. .ifferent ortiosteroids and regimens for aelerating fetal lung
maturation for 6omen at risk of preterm birth. .isipline of %bstetris and &ynaeology$
The Uni9ersity of Adelaide. ())+
J %bstet &yneol /ndia. ><TA= =U;& "ATU'/TJ :ol. AA$ ;o. 1 C "ayFJune ())A Pg
(*A#(*2
>renh ;P$ ,agan '$ <9an S>. 'epeated Antenatal 3ortiosteroidC SiHe at 0irth and
Subse@uent .e9elopment. Am J %bstet Syneol *555? *4) 7*8. **+ ! *(*.
*4
&uinn .A C 'epeat 3ourses of Antenatal 3ortiosteroidsC The 3ontro9ersy 3ontinues.
Am J %bstet &yneol$ ())+? :ol *5). ;o.1. A4D ! 2.
Walter de &ruyter J. Perinat. "ed. 'eommendations and guidelines for perinatal
pratie &uideline for the use of antenatal ortiosteroids for fetal maturation. ;e6 Jork
1D 7())48 *5*!*5D
Stalker S. Antenatal 3ortiosteroids to Pre9ent 'espiratory .istress Syndrome. A9ailable
from httpCFF666.'og.org.ukFresouresFpubliFantenatal 3ortiosteroid ;o. 2. ())+.
*5