Anda di halaman 1dari 20

Seminar Nasional

Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan


Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014


1


ISLAMISASI
FILSAFAT ILMU PERENCANAAN
DALAM TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


Uton Rustan Harun
1
, Ernawati Hendrakusumah
2

1
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik
Universitas Islam Bandung

2
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik
Universitas Islam Bandung

E-mail
1
: rustanuton2@gmail.com
E-mail
2
: erkoes18@gmail.com


ABSTRAK

Paradigma ilmu Perencanaan Kota pada dasarnya berada pada proses involusi ilmu, yang pada
awal kelahirannya berada dilingkungan disiplin ilmu rekayasa (asas ilmu pengetahuan alam
natural sciences) ke arah social science. Perubahan ini terjadi sejak label teknik planologi diubah
menjadi perencanaan kota dan wilayah, yang kemudian hidup dan berkembang dalam habitat
ilmu-ilmu sosial (asas-asas ilmu pengetahuan sosial social sciences). Sejalan dengan itu pula
pandangan bahwa filsafat ilmu pengetahuan adalah mother of sciences telah dideformasikan
menjadi pluralistik ilmu-ilmu pengetahuan. Persoalannya adalah karena ilmu perencanaan hidup
dan berkembang dalam habitat ilmu-ilmu sosial, maka perlu mendeformasikan diri dalam kons-
telasi hazanah ilmu pengetahuan secara keseluruhan, di mana dan mau ke mana ilmu penge-
tahuan perencanaan ini akan dibawa (unfinite finite nebulas sciences, cogito ergo sum) atau
dikembalikan pada lingkungan disiplin ilmu rekayasa (engineering science).

Kata kunci: ilmu rekayasa, ilmu sosial, ilmu perencanaan


1. PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada paruh ahir abad 20 sangat cepat
dibandingkan dengan awal abad renaissance yang penuh dengan romantica-humanismenya,
yang sering juga sejalan dengan abad ke-emasan Islam. Kecepatan perkembangan ipteknya
paralel dengan kecepatan pertumbuhan penduduk yang eksponensial. Paradigma ilmu sebagai
suatu prose pemantapan ilmu pengetahuan, menggali jawaban terhadap pertanyaan mengapa
ilmu pengetahuan itu ada. Apa hakikat ilmu pengetahuan itu?. Dan jawabannya hanya dapat
ditemukan dari sumber ilmu pengetahuan itu sendiri yang dinamakan filsafat. Pengetahuan
filsafat ahirnya dapat dianggap sebagai mother of sciences, dan apabila ilmu pengetrahuan
Seminar Nasional
Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014


2

itu tidak menemukan filsafat ilmunya, maka ilmu pengetahuan itu akan menjadi tumpukan fosil
dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan.
Lima puluh lima tahun pendidikan ilmu pengetahuan merencana di Indonesia, cukup tua untuk
dapat dikatakan sebagai suatu ilmu pengetahuan yang dibutuhkan. Paradigma-nya cukup
lengkap berkembang merambah pada semua bidang ilmu pengetahuan terapan. Tapi sayangnya
rumusan filsafat ilmu-nya sendiri sangat lambat, malahan hampir tidak ada ada orang yang peduli
terhadap pentingnya filsafat ilmu perencanaan. Hal ini merupakan gejala umum cabang ilmu
pengetahuan rekayasa (engineering) atau teknologi tidak pernah mempedulikan ada atau tidak
adanya filsafat ilmu engineering. Karena engineering produk ilmu pengetahuan yang
berpandangan positivisme, pragmatisme menyelesaikan masalah, tidak mempersoalkan
mengapa masalah itu harus diselesaikan. Karena itu pula maka rongsokan teknologi lebih banyak
dijumpai daripada rongsokan ilmu pengetahuannya sendiri.
Judul Islamisasi Filsafat ilmu Perencanaan dalam Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota dipilih
menjadi tema dalam rangka Milad Unisba ke 58 atau Program Studi Teknik Perencanaan Wilayah
dan Kota ke 43 ini, khusus untuk mengingatkan kembali para alumni dan civitas akademia dalam
rangka mempertahankan eksistensi ilmu pengetahuannya. Filsafat Ilmu Perencanaan yang
harus ditemukan agar memiliki jati dirinya baik untuk masa dewasa kini maupun masa depan
dalam membangun bangsa dan negara. Judul Islamisasi Filsafat Ilmu Perencanaan dipilih
dengan latar belakang, antara lain:
1. Kurang difahaminya bahwa salah satu misi pendidikan adalah delivery ilmu pengetahuan.
Disiplin ilmu merencana atau merancang (planning sciences), adalah suatu disiplin ilmu
pengetahuan yang keberadaannya berawal dari ilmu pengetahuan rekayasa/teknologi hunian
(human settlement) bergeser ke ilmu-ilmu sosial.
2. Keberadaannya dalam ilmu-ilmu sosial selalu dipetanyakan apa landasan filsafat ilmunya ?.
Sedangkan dalam ilmu rekayasa, hal ini jarang diperdebatkan karena bukan das ichnya
tetapi das solennya, atau menitik beratkan hasilnya daripada artinya. Pengetahuan teknik
merencana menjadi ilmu rekayasa, memerlukan landasan filsafat yang jelas yang menjadi
landasan paradigma ilmunya.
3. Globalisasi dewasa ini, membawa Perguruan Tingi menghadapi tantangan berat dalam
mengejar ketertinggalannya dibidang ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi Barat
yang melekat didalamnya membawa nilai-nilai tertentu. Hampir tidak ada local indegenous
wisdom yang mampu bertahan terhadap gelombang nilai globalisasi ini. Karena itu landasan
Seminar Nasional
Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014


3

Islamisasi Ilmu Pengetahuan menjadi sangat penting dalam menemukan kembali jati diri
bangsa dan negara, termasuk harga diri umat Islam.
2. SEKILAS TENTANG PLANNING SCIENCES DI INDONESIA
Ilmu pengetahuan merancang atau merencana adalah ilmu pengetahuan teknik, yang sedang
mencari bentuk eksistensi dan landasan filsafat-nya. Apabila dilihat dari terminologi sistematika-
nya ilmu pengetahuan harus memiliki ontologi, epistomologi dan axiologi yang jelas (Yuyun,
1996), dan ilmu-ilmu aqliyah seperti ilmu pengetahuan merancang atau ilmu-ilmu pengetahuan
teknik lainnya sering mengalami kesulitan untuk mendudukkan eksistensinya dalam filsafat ilmu
pengetahuan manusia itu sendiri. Planning sciences modern
1
diyakini, berkembang sejalan
dengan munculnya konsep pembangunan kota baru yang digagas Howard (1898) pada masa
tumbuhnya Revolusi Industri di Inggris. Konsep pembangunan kota baru Howard yang kemudian
dikenal sebagai The Garden City Concept, yang merupakan perwujudan filosof Aristotles dimana
kota harus dirancang untuk dapat mewadahi berbagai fungsi sosial dalam memenuhi kebutuhan
hidup manusia, sehingga manusia tidak kehilangan nilai kemanusiaannya dan ikatannya dengan
lingkungan alam. Menurut Prof. Djoko Suyarto (1995), planning sciences (mungkin yang lebih
tepat planning arts, atau planning practices) di Indonesia berkaitan erat dengan perencanaan
kota, yang dapat dibagi kedalam tiga generasi yaitu generasi sebelum Perang Dunia II, generasi
awal kemerdekaan (1950an) dan generasi Pembangunan Jangka Panjang Tahapan I PJPT I
Orde Baru. Pada generasi pertama yaitu tahun 30an, perencanaan kota dimaksudkan untuk
merancang kota-kota sebagai ibu kota administrasi pemerintahan dengan status kotapraja
(gementee). Pada generasi kedua, perencanaan kota lebih ditujukan pada peremajaan kawasan-
kawasan perkotaan yang rusak akibat Perang Dunia II. Sedangkan pada generasi ketiga, peren-
canaan kota bertujuan untuk merencana kota secara komprehensif dalam bentuk Master Plan
Kota.
Meskipun praktek-praktek membangun kota telah dilaksanakan beberapa abad sebelumnya
seperti membangun Kota Batavia, atau Kota Bengkulu oleh Inggris, namun kota-kota lainnya oleh
raja-raja di seluruh pelosok Nusantara dalam membangun kompleks istana dan kawasan ibu
negeri, sebelum penjajahan Belanda, pembangunannya tidak dianggap sebagai urban planning
sciences modern (Waworoentoe, 1986; Soegijanto, 1990). Ilmu pengetahuan merencana kota
abad modern berorientasi pada penyediaan permukiman masal untuk para buruh pekerja industri

1
Praktek merencana atau merancang sebetulnya telah lama dilakukan manusia, sejalan dengan perkembangan
peradaban permukiman manusia itu sendiri (Childe, 1954 : The Culture of Cities).
Seminar Nasional
Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014


4

yang menekankan pada keterkaitan antara penduduk, tempat tinggal dan tempat kerja (Folk
Place Work). Metode perencanaannya mengacu pada pandangan Patric Geddes, bahwa
perencanaan adalah suatu proses dari analisis, dan analisis yang baik harus didasarkan pada
data yang akurat. Metode Geddes ini kemudian dikenal dengan Data-Analisa-Rencana, yang
dilaksanakan dalam menyusun Rencana-Rencana Induk (Master Plan) kota-kota di Eropah
setelah Perang Dunia I. Metode ini dikembangkan sebagai kritik terhadap para seniman
perencana kota (arsitek) yang lebih menitik beratkan perencanaannya pada idealisme estetika
penataan ruang kota saja (utopian planning).
Perencanaan kota yang lebih berfihak kepada kepentingan masyarakat banyak, menjadikan
praktek-praktek perencanaan harus dilaksanakan oleh Pemerintah (planning in public-domain).
Meskipun wujud akhir dari suatu perencanaan kota adalah rekayasa lingkungan fisik kota, tetapi
pendekatannya harus mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan kota seperti sosial-budaya,
ekonomi, hukum, administrasi, politik, teknik, sumberdaya alam dan lingkungan, secara kompre-
hensif. Dari suatu disiplin ilmu perencanaan fisik (physical planning) yang bersifat komprehensif
sebagai pedoman untuk merekayasa suatu tempat permukiman perkotaan, kemudian metodologi
perencanaan ini merambah ke praktek-praktek perencanaan dalam disiplin ilmu yang lain seperti
pembangunan ekonomi (economic development planning), sosial, pendidikan, administrasi dan
lain-lainnya. Dengan makin kompleknya persoalan perencanaan dan makin kuatnya peranan
Pemerintah dalam pembangunan, maka proses perencanaan kemudian dilembagakan menjadi
bagian dalam struktur birokrasi Pemerintah dengan bentuk Dewan Perancangan Nasional
(Depernas; 1954), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas, 1962) di tingkat
Pusat sampai dengan Bappeda dan Bapemko (1971) di Pemerintahan tingkat II. Perencanaan
dianggap sebagai alat untuk mencapai tujuan pembangunan dengan memanfaatkan potensi
sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan kapital yang ada yang memberikan kepastian
dalam setiap tahapan kegiatannya, kemudian diterima sebagai suatu ilmu pengetahuan oleh
disiplin ilmu pengetahuan lainnya.
Salah satu prinsip perencanaan (planning principle) dalam utopian planning - memadukan
keinginan ideal dimasa yang datang dengan kemampuan proses tahapan pencapaiannya yang
dipengaruhi ruang dan waktu. Planning bukan hanya menarik skenario linier masa yang akan
datang berdasarkan apa yang telah terjadi masa lampau dan masa kini, tetapi menggabungkan
kemampuan merekayasa kondisi untuk mencapai keinginan ideal dimasa yang akan datang.
Dalam pekerjaan yang disebut planning di sini jelas berbagai ilmu pengetahuan yang ada
Seminar Nasional
Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014


5

memberikan kontribusi yang besar terhadap baik tidaknya atau berhasil tidaknya suatu karya
yang disebut planning (Faludi, 1997 menyebutnya Theory In Planning).
Tetapi juga sebaliknya ilmu pengetahuan sosial, ekonomi, administrasi, pemerintahan, usaha
kecil sampai dengan multi corporasi, memerlukan jasa ilmu pengetahuan perencanaan dalam
mencapai tujuannya. Pertumbuhan ekonomi negara perlu direncanakan, peningkatan sosial
kebudayaan perlu direncanakan, mencapai administrasi yang efisien dan efektif, perlu diren-
canakan, membuat usaha agar hidup dan berkembang perlu direncanaka dlsb. Ilmu Perencanaan
dibutuhkan sebagai upaya yang strategis harus dilakukan oleh bidang-bidang disiplin ilmu
pengatahuan yang lain.

3. PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI YANG DIHADAPI
PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA
Indonesia menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberi penafsiran
bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dalam masyarakat muslim dewasa ini,
bukanlah ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah diciptakan sendiri oleh umat Islam, tetapi
merupakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimasukan dan ditransfer ke dalam kehidupan
umat. Peran dan eksistensi perguruan tinggi Islam dipertaruhkan dalam mengejar dan mewas-
padai transfer ilmu pengetahuan dan teknologi ini. Apakah benar penafsiran ini ? Bukankah pada
awal perkembangan Islam, para cendekiawan muslim banyak memberi kontribusi yang besar
terhadap kemajuan ilmu pengetahuan (karena kecerdasannya memahami hukum-hukum
sunatullah) dan peradaban manusia ?
Mungkin peradaban manusia baru beberapa ribu tahun yang lalu saja mencatat dengan cermat
apa yang disebut dengan tanda-tanda keteraturan jagad raya dalam bentuk keteraturan bilangan
yang ditulis dengan simbol-simbol tertentu yang kemudian kita kenal dengan lambang-lambanga
aljabar. Kemudian keteraturan tersebut dicatat sebagai hukum alam dan diukur dalam kesepa-
katan-kesepakatan manusia yang kemudian menjadi matematika. Keteraturan yang menjadi
hukum dan keterukuran yang menjadi kepastian tersebut, kemudian melahirkan penomena
pemahaman yang disebut logika. Sedangkan manusia itu sendiri pasti tidak akan pernah mampu
untuk merubah keteraturan-keteraturan jagad raya yang sengaja diciptakan oleh Sang Maha
Penciptanya (QS 3:190). Mungkin akal manusia mampu mengukur jaraknya satu planet yang
namanya bumi dengan planet-planet lain, atau mengukur jaraknya satu gugus bima sakti dengan
gugus bintang-bintang tata surya yang lain (nebula) atau menghitung kapan melintasnya komet
Seminar Nasional
Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014


6

ke dalam gugus tata surya bumi, karena kemajuan teknologi yang dikembangkan berdasarkan
ilmu pengetahuan manusia.
Allahu Akbar, Allah Maha Besar yang telah memberikan hidayah membukakan akal manusia
untuk membuktikan adanya kebesaran Allah Yang Maha Agung (ayat-ayat kauniyah), sehingga
membawa kepada kesadaran yang mendalam bahwa ilmu pengetahuan yang telah dibukakan-
Nya, baik melalui wahyu transdenstal maupun inspirasi akal, hanyalah setetes air dalam lautan
ilmu pengetahuan Allah yang maha luas (QS 31:27), Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Allah
Maha Besar.

Nabi Muhamad yang telah diperintahkan Allah untuk antara lain selalu iqra, mampu membaca
yang tidak hanya oleh mata, atas tanda-tanda keteraturan jagad raya yang telah diciptakan-Nya
sebagai salah satu tanda kekuasaan-Nya atas bumi, mahluk manusia dan seisi alam jagad raya
ini (QS 2: 29). Implementasi iqra para pengikut nabi Muhamad inilah yang pada tujuh dekade
pertama yang membawa pertumbuhan kemajuan Islam dan peradabannya
2
. Quran dan hadits
telah dibumikan melalui kiprah mujadid dan mujtahid para pengikutnya, yaitu ketelitiannya dalam
membaca dan meneliti hukum-hukum alam dan karenanya menjadi para mujahid atau para pem-
baharu dalam memperbaiki kehidupan sehari-hari umat yang membawa kemajuan peradaban
Islam.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, baik untuk menjelaskan penomena kehidupan sehari-
hari maupun prospek ilmu tersebut dalam meneropong kehidupan manusia masa yang akan
datang, tetapi tentu saja tidak pernah sempurna, adanya human error yang dapat diterima,
difahami dan karena itu pula kita menyadari secara mendalam adanya faktor kekuasaan Allah
yang menentukannya yang Maha Sempurna (QS 27:60-64). Kemajuan kepastian ilmu
pengetahuan dalam ketidak pastian, dan ada keyakinan adanya ketidak pastian dalam kepastian
Allah SWT.
Barangkali kesadaran yang paling mendasar inilah yang kemudian memberikan dorongan kita
sekalian untuk memahami lebih lanjut tentang hubungan antara pandangan hidup seseorang
dengan realitas hidup yang dihadapinya kita bersama-sama memahami bahwa ilmu pengetahuan

2
Herman Suwardi (1997) membagi pertumbuhan kemajuan Islam dan peradabannya kedalam tiga gelombang
yaitu gelombang I, 7 abad yang pertama, sebagai kemajuan Islam, kemudian gelombang II, yaitu 7 abad kedua,
sebagai kemunduran Islam dan gelombang III, yaitu 7 abad ketiga, sebagai renaissance Islam atau menuju
kebersinarannya kembali Islam.
Seminar Nasional
Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014


7

dan teknologi yang dikembangkan akal manusia selalu berada dalam frame atau format
kekuasaan Ilmu Pengetahuan Yang Maha luas yang dimiliki Allah SWT. Sikap yang mutlak
kepadaNya-lah yang mengembalikan perkembangan ilmu pengetahuan yang kita tekuni ini,
hanyalah sebatas teori-teori yang relatif dalam konteks ke absolutan keberadaan Allah SWT
semata. Mudah-mudahan pemahaman ini memberikan tempat untuk refleksi diri dalam
kesadaran kita yang paling mendalam atas kekuasaan Allah SWT dengan demikian terpancarlah
apa yang disebut Islam rahlatan lil alamin.
Iqra
3
, membaca dan mengkaji kembali atau me-reinterpretasikan kembali teknologi masal masa
lampau, menggunakan tenaga kerja ribuan orang (masal), dilakukan dalam dimensi waktu yang
panjang dengan koordinasi yang dilandasi kharisma kekuasaan sang penguasa seperti raja, king,
pharaoh, firaun dan lain sebagainya ke masa kini. Dalam perspektif perkembangan waktu yang
sangat teratur, perkembangan kemajuan teknologi tidaklah linier, tidak berkesinambungan,
terputus-putus dan penelusurannnya sering menemukan missing link (rantai yang putus) yang
diungkapkan dengan adanya phenomena perubahan antar peradaban. Alfin Tofler, 1998
menyebutnya sebagai gelombang yang membagi pertumbuhan peradaban manusia dalam tiga
gelombang, yaitu Gelombang I peradaban abad pertanian, pada waktu dimulainya peradaban
berdasarkan kemampuan manusia untuk bercocok tanam, Gelombang II peradaban abad
industrialisasi, yaitu terjadinya revolusi industri dan Gelombang III peradaban abad Tekno
InfoCom (teknologi informasi dan komunikasi) atau sekarang disebut dengan abad cyberspace.
Masyakat dan bangsa yang tidak memiliki daya cipta dan karsa-karya yang baik, akan selalu
menghadapi cultural shock gelombang perubahan peradaban ini, dan para penemu-inventor
iptek selalu berdiri di depan dalam memimpin perubahan peradaban dunia.
Dunia Islam membelengu diri pada pemikiran-pemikiran masa silam yang mendasarkan etika-
moral-nya pada peradaban pertanian. Uzlah modernisasi pemikiran Islam di Indonesia dalam
menghadapi tantangan zaman terbelengu oleh cap sekularisasi, sempalan atau bidah yang
kontroversial, sehingga tidak menghasilkan karsa-karya produktif yang maju. Eksistensi etika
kemanusiaan dalam memandu waktu dan ruang, menjadi apologi ketertinggalannya dalam
mengejar laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mungkin sekali peluang ajaran
Islam dapat berperan dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang universal yang menjadi

3
Perintah untuk selalu membaca - iqra - dan membaca tanda, hukum alam bukan saja dianjurkan oleh nabi
Muhammad kepada para pengikutnya, para filusuf ilmu pengetahuan-pun sejak Cupernicus, Newton sampai ke
Einstein sekalipun selalu menganjurkan para pengikut pengaggumnya untuk selalu membaca dan meneliti kembali
hukum-hukum alam yang telah dikemukakan para penemunya.
Seminar Nasional
Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014


8

rambu-rambu laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini, seperti apa yang di
perankan fatwa para kyai
4
dalam menanggapi berbagai persoalan kemajuan peradaban dan
teknologi. Tetapi hal tersebut tidaklah harus dijadikan kendala dalam mendorong kreativitas karsa
dan karya melewati batas-batas yang telah ditentukan.
4. GLOBALISASI ADALAH TRANSFER TEKNOLOGI DALAM MASYARAKAT
ISLAM

Dewasa ini teknologi memainkan peranan penting dalam kehidupan sehari-hari manusia.
Kemajuan masyarakat modern hampir tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan kemajuan
teknologinya. Teknologi telah melahirkan gaya hidup modernitas, merubah cara pandang dan
sistem nilai masyarakat. Apabila pada awalnya inovasi teknologi bersifat netral dan bebas kontek,
sehingga kemajuan teknologi dapat bekerja melintasi batas-batas sosial, kultural dan geo-politik,
maka justru dewasa ini teknologi mampu merekayasa pola kehidupan sehari-hari masyarakat
sesuai dengan bagaimana teknologi itu diterapkan. Selama puluhan tahun, kemajuan teknologi
Barat, telah diterima umat Islam di negara-negara berkembang. Gagasan transfer teknologi telah
diterima tanpa sikap kritis sebagai suatu keharusan proses modernisasi masyarakat.
Teknologi tidak netral dan tidak lagi bebas nilai. Langdon Winner, seorang pengamat teknologi
yang merintis lahirnya politik teknologi, menjelaskan bahwa muatan politik dapat dikemas dalam
melahirkan teknologi. Contoh klasik yang ditunjukkan oleh Winner, adalah bagaimana Jembatan
Long Island di New York dirancang oleh Robert Moses sedemikian rendah sehingga bis kota
yang menjadi moda angkutan umum kelas bawah kulit hitam dan hispanik, tidak dapat memasuki
daerah tersebut. Suatu bentuk rasialisme yang terselubung yang diterjemahkan ke dalam
teknologi pembangunan suatu jembatan. Sebagai karya manusia yang memiliki sistem nilai,
sosial budaya, politik dan kepentingan tertentu, iptek dapat menjadi alat yang efektif bagi
hegemoni ideologi dan kepentingan tersebut.
Transfer teknologi kedalam masyarakat, perlu dikaji secara serius terutama dampak penggunaan
teknologi terhadap socio-cultural. Transfer teknologi tidak dapat dianggap netral ketika masya-
rakat berinteraksi dengan teknologi tersebut, dimana transfer teknologi berubah menjadi
determinisme kultural teknologi. Peringatan perlunya kewaspadaan terhadap determinisme

4
H.orikoshi (1987) membedakan istilah kiayi dan ulama karena fungsi formalnya dimana kyai lebih cenderung
berperan pada tataran kultural nilai-nilai normatif agama sedangkan ulama lebih memerankan fungsi administratif
ulil albab.
Seminar Nasional
Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014


9

teknologi telah dilontarkan oleh beberapa pemikir seperti Merrit Roe Smith, Leo Marx, David
Nobel dan Andrew Feenberg karena konsep transfer teknologi ini cenderung memaksakan
bekerjanya sistem teknologi pada masyarakat yang menghasilkan dampak sosial, ekonomi dan
budaya yang serius. Pemahaman keterkaitan antara sistem sosial dan sistem teknologi tersebut,
Hughes menyebutkan bahwa bekerjanya suatu teknologi dengan baik adalah hasil dari interaksi
yang baik antara sistem sosial dan sistem teknologi. Sedangkan Trevor Pinch dan John Law
menyebutnya sebagai konstruksi sosial teknologi (social construction of technology) yaitu harus
difahami bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai produk sosial karena ia dihasilkan
melalui negosiasi dan interaksi yang terjadi dalam suatu sistem sosial. Konstruksi sosial teknologi
bukanlah linier seperti yang dianut dalam determinisme teknologi sendiri, melainkan jauh lebih
kompleks dan sangat beragam mengikuti keberagaman sistem sosial yang ada.
Dalam konteks tersebut, peranan perguruan tinggi di negara-negara berkembang tidaklah seperti
yang terjadi di negara maju yaitu sebagai inovation factory, knowledge provider, research based
university, atau penyumbang pemenang Nobel, tetapi lebih bersifat sebagai terminal transfer of
technology atau malah hanya menjadi retailer kemajuan IPTEK.

5. KOMPETENSI PERGURUAN TINGGI BERBASIS KOMUNITAS - UNIVERSITY
BASED COMMUNITY
Peran perguruan tinggi sebagai terminal transfer teknologi, mengharuskan perguruan tinggi
mampu memahami perkembangan kemajuan teknologi secara seksama dan dilain fihak
memahami secara mendalam latar belakang sosio-kultural masyarakat dimana transfer teknologi
itu terjadi. Memahami latarbelakang sosio-kultural tidak lain memahami perkembangan sistem
nilai masyarakat yang dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang yang menghasilkan kategorikal
masyarakat seperti tradisonal, transisional dan modern, atau masyarakat desa masyarakat
pinggiran dan masyarakat kota (Sayogo, 1983) atau kelompok santri/kiayi, kelompok abangan
dan priyayi (Geertz, 1954), masyarakat Islam fundamentalist, masyarakat Islam dualistis dan
masyarakat Islam sekuler (Rumadi, 2003). Merancang perguruan tinggi berbasis komunitas,
perlu menjelaskan dahulu apa dasar sistem nilai yang dimilikinya, dengan demikian pengelola
perguruan tinggi memiliki posisi yang jelas dalam mendorong mengembangkan anak didiknya,
dan tidak memaksakan secara dogmatis sistem pendidikannya tanpa mempertimbangkan calon
didiknya.

Seminar Nasional
Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014


10

Memahami kehidupan sosial-budaya umat Islam di Jawa Barat, umumnya di Indonesia, tidak
terlepas dari dua pandangan cara berfikir umat Islam, yaitu jabariayah dan qadariyah dimana
Agama Islam masuk ke dalam kehidupan masyarakat suku bangsa di Indonesia lewat pusat
perdagangan di Samudre Pasai (Aceh).
Jabariyah adalah faham yang menyatakan adanya jabr Tuhan, yaitu kekuasaan pengendalian
Tuhan atas segala gerak perbuatan manusia dan seluruh alam ciptaan-Nya dan menafikan
adanya kehendak pada diri manusia. Energi kekuatan manusia tidak lain dari manifestasi tenaga
Tuhan dan ia sama sekali majbur, atau berada dalam jabar (pengendalian) Tuhan. Keberadaan
manusia dan garis hidup setiap manusia, secara terperinci telah digariskan atau ditentukan Tuhan
sejak alam kadim (masa silam yang tak bermula). Hanya Allah SWT satu-satunya yang secara
hakiki memiliki kehendak, kekuasaan dan perbuatan, sedangkan selain-Nya tidak memilikinya
5
.
Lawan dari faham jabariyah disebut faham qadariyah, bahwa kehendak Tuhan itu hanya dalam
arti menciptakan, menggerakan dan memeliharanya dalam hukum-hukum yang tertib dan tetap
yang disebut hukum alam (sunatullah). Manusia memiliki kebebasan kemauan (free will) dan
garis hidupnya ditentukan oleh kemampuannya menentukan pilihan-pilahan yang telah diberikan
Allah SWT yaitu pilihan yang baik atau pilihan yang buruk, sejauh yang dimungkinkan oleh
hukum-hukum yang diciptakan-Nya. Ihtiar adalah fardlu kipayah dimana manusia wajib
menentukan sendiri nasib dirinya. Secara ektreem biner, dapat dikatakan bahwa faham jabariyah
yang cenderung pasif-fatalistik dan qadariyah dimana manusia bebas menentukan nasibnya.
Masyarakat bangsa Indonesia, khususnya suku-suku bangsa, dewasa ini bukanlah termasuk
masyarakat yang berfikir Aristotalian, yang hanya mengenal cara berfikir principle of excluded
middle (Rumadi, 2003), yaitu suatu suatu prinsip berfikir dimana tidak mungkin sesuatu terjadinya
di tengah-tengah. Prinsip ini memandang segala seuatu hanya dalam dua sisi yang ekstreem,
misalnya benar atau salah, Barat atau Timur, modern atau tradisional, halal atau haram, masuk
neraka atau surga. Logika ini berpengaruh kuat pada munculnya faham jabariah dan qadariah,
bahwa nasib manusia telah ditetapkan Allah SWT (jabariyah), atau nasib manusia itu ditentukan
oleh perbuatan manusia itu sendiri (qadariyah). Lutfi Zadeh, seorang fisikawan Iran, menolak
logika Aristotalian ini yang membagi dunia dalam dua posisi biner atau bipolar. Di dunia ini tidak
ada pembagian yang benar-benar dualistik. Dalam realitasnya, suatu pernyataan itu bisa benar
dan salah sekaligus. Karena itu tidak ada ruang seorang muslim Indonesia, yang teguh pendirian

5
Sifat kanaah masyarakat Sunda dinyatakan dalam sair (sinom): eling-eling mangka eling, rumingkang dibumi
alam, raga tanpa pangawasa, darma wawayangan bae.
Seminar Nasional
Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014


11

pada hanya jabariyah atau hanya qadariyah. Batas-batas antara jabariyah dan qadaryah,
semakin memudar dan pandangannya tidak selalu either or, tetapi saat tertentu you are both
qadariyah and jabariyah. Rumadi (2003) memahami mengapa ada adagium bahwa Indonesia
bukan negara sekuler dan bukan juga negara religious. Karena pandangan Zadeh itulah maka
Tuhan tidak akan merubah nasib suatu masyarakat apabila masyarakat itu tidak merubahnya
menjadi kokoh dalam pandangan umat islam yang dualistik.
Kekeliruan menerapkan fungsi pendidikan nasional dalam mencerdaskan kehidupan bangsa
agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa dan berahlak mulia, khususnya melalui link and
match pendidikan tinggi, telah mengorbankan substansi pendidikan itu sendiri. Pendidikan
adalah proses mencerdaskan bangsa. Mutu pendidikan telah terperangkap dalam ukuran-ukuran
seberapa besar lulusan dapat diserap lapangan kerja atau lama tunggu kerja. Sedangkan dewasa
ini lapangan kerja, telah banyak mengandalkan investasi kapital asing, yang menjadikan harga
tenaga manusia hanya sebagai sekrup dalam mekanisme industri kapital. Pendidikan tinggi
hanya sebagai tempat penyiapan dan penyalur tenaga kerja terampil bagi kegunaan investasi
transfer teknologi pada berbagai industri substitusi impor. Dan mekanisme sistem pendidikannya
hanyalah menyaring calon-calon mahasiswa yang sudah unggul, lewat Sipenmaru. Setiap tahun
perguruan tingi negeri tidak lebih dari dari 8 % mampu menyerap lulusan SMU
6
, dan lainnya
diserap oleh perguruan tinggi swasta yang mekanisme sistem pendidikannya tidak jauh berbeda
dengan pola link and match. Misi lembaga pendidikan tinggi telah tergadaikan ke dalam bisnis
tenaga kerja.
Perguruan tinggi tidak mampu lagi untuk berperan mencerdaskan kehidupan bangsa dan
membangun karakter bangsa (national character building). Pilihan kebijakan pendidikan tinggi
yang menekankan pada link and match oleh Pemerintah beberapa waktu yang lalu, banyak
disebabkan oleh minimnya dana pendidikan yang mampu disediakan Pemerintah untuk mencer-
daskan bangsa. Para lulusannya tidak mandiri dalam menciptakan lapangan kerjanya untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam mencapai kondisi lepas landas menuju
negara industri. Penyiapan sarana dan prasarana pendidikan yang sangat terbatas terutama
untuk penelitian-penelitian basic sciences, tidak membuka minat penjelajahan (science explorer
and discovery) dan keinginan tahu anak didik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan

6
Lulusan Tahun Pelajaran 2003 yang lalu SMU/SMK se Jawa Barat, berjumlah 202.878 siswa, tidal lulus UAN
12.341, melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi sekitar 60.864 sedangkan yang diterima di pertguruan
tinggi negri (ITB, UNPAD, IPB, UPI) hanya 17.707 orang dan sisanya di PTS.
Seminar Nasional
Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014


12

teknologi. Hal ini mengakibatkan masyarakat salah memaknai lembaga pendidikan yang
dianggap hanya sebagai alat untuk memperoleh ijazah atau sertifikat sebagai paspor untuk dapat
kerja. Makin celaka lagi anak didik hanya mengejar untuk mendapat ijazah yang berakibat pada
proses pendidikan disiasati untuk memperoleh ijazah dengan cepat, apapun caranya
7
. Menyiasati
terbatasnya Pemerintah menyediakan sarana dan prasarana penelitian dasar dan orientasi
produk lulusannya, sebetulnya penomena tersebut dapat merupakan peluang yang sangat baik
untuk perguruan tinggi Islam melakukan berbagai penelitian dasar yang ditinggalkan
masyarakat propan dan hedonism.

6. PEMBAHARUAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM
Mutazilah, berpandangan positip kritis, janganlah selalu dianggap sebagai suatu pembang-
kangan terhadap kemapanan teologi Islam atau sekularisme, tetapi harus dipandang sebagai
upaya pembaharuan atau perbaikan karena adanya sesuatu kemandekan dalam Islam. Misalnya
beberapa kemandekan cara berfikir aqliyah umat, dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang diakibatkan oleh problematik sosial-kultural dan kemandekan ijtihad umat Islam
dalam mengembangkan ilmu-ilmu pengetahuan, perlu adanya mutazilah teknologi. Keterting-
galan umat Islam Indonesia yang melahirkan cap masyarakat yang gagap teknologi, mengemas
propaganda konsumerisme hedonistik, karena memang teknologi yang melekat dalam barang-
barang impor yang dikonsumsinya sebagai imported built-in consumption, bukan hasil inovasi
umat sendiri.
Selama ini, pendidikan Islam sering diartikan secara sempit hanya sebagai proses pembelajaran
terhadap doktrinal Islam agar ajaran-ajaran tersebut menjadi pedoman hidup (Said Aqil, 2003).
Demikian pula pendidikan tinggi Islam, masih terfokus pada pemunculan aspek simboliknya
termasuk kedalamnya penjabarkan retroika simbol-simbol filsafat abstrak, tafsir, syariah, etika
sampai fiqh (proses kontemplasi ilmiah yang bersifat deduktif), daripada penekanan pada
signifikansi substansinya. Dan yang sangat mengecewakan adalah banyak lembaga-lembaga
pendidikan yang menjual label Islam, tanpa memberikan ruang yang cukup untuk pendidikan
Islam yang mengakibatkan perilaku dan perbuatan anak-anak didiknya tidak Islami. Sedangkan
perguruan tinggi lain yang berbasis teknologi berawal pada kemampuan logika akal (aqliyah)

7
Karena itu banyak muncul lembaga-lembaga pendidikan tinggi, yang menyiasati besarnya perminataan akan
pasar ijazah ini yang didirikan tidak dengan visi dan misi yang jelas.
Seminar Nasional
Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014


13

dalam menyelesaikan masalah-masalah kehidupan yang profan keduniawian, kemudian men-
cari pembenaran teori ilmiah yang bersifat induktif (theory of reality). Meskipun dalam pendidikan
Islam muncul golongan mutazilah yang menggunakan logika dan filsafat dalam menjelaskan isi
kandungan al Quran dan sunnah nabi Muhammad saw, tetapi metodologinya tetap bersifat
deduktif. Proses metodologi induktif yang berawal dari coba-coba dan uji coba empririk, memang
sering tidak diawali dengan epistomologi filsafat dan etika yang mendalam.
Dari dua metodologi berfikir yang berlainan arah ini maka sering memunculkan dikhotomi
pendidikan di Indonesia yaitu pendidikan Islam atau sekolah Islam dan pendidikan umum atau
sekolah umum, yang perkembangan selanjutnya melahirkan kesenjangan bentuk pendidikan
yang tidak menguntungkan bagi sistem pendidikan nasional kita. Demo penggalangan masa pro-
kontra dalam menyikapi keluarnya Undang-Undang Pendidikan Nasional beberapa waktu yang
lalu bukan hanya dipicu antara perbedaan meletakan pendidikan agama sebagai tanggung jawab
sistem pendidikan nasional atau hak asasi manusia (religion free), tetapi juga oleh perbedaan
dasar pemikiran pendidikan Islam dan pendidikan umum.
Kesenjangan bentuk pendidikan umum dan pendidikan Islam tersebut, secara garis besar di
sebabkan oleh :
Pertama, dilihat dari segi substansi dan arah pendidikannya yang berbeda sangat dimungkinkan
untuk terjadinya ketertinggalan berfikir deduktif dengan nalar yang kuat yang perlu selalu
dibantu oleh karsa dan karya yang kuat
8
. Sedangkan berfikir induktif, cara-cara menyele-
saikan kehidupan yang profan yang telah memiliki karsa dan karya yang kuat untuk
melahirkan pembenaran dan hakekat pembenaran itu sendiri bagi kehidupan manusia. Dua
arah perjalanan cara berfikir ilmiah yang berlawanan, dimana perguruan tinggi Islam berawal
dari sumber konsep dan filsafat kemudian menurunkannya kedalam bidang disiplin ilmu
wujudiah atau realitas, sedangkan kemajauan teknologi adalah akumulasi kecermatan
manusia dalam menyelesaikan permasalahan realitas kehidupan profan yang kemudian
mencari pembenarannya melalui filsafat ilmu. Hambatan proses induktif, mencari bukti
empirik perguruan tinggi Islam mungkin lebih berat dibandingkan dengan proses induktif
rasional yang dilakukan perguruan tinggi berbasis teknologi. Hambatan yang paling jelas
terlihat adalah dimensi etika dan moral yang dipakai sebagai awal acuan pertama harus tetap

8
Seperti satire yang menyebutkan bahwa bangsa Indonesia dalam menyelesaikan masalah lebih banyak mem
perdebatkan dahulu pembentukan kelembagaannya dalam mengatasi masalah, daripada menyelesaikan subjek
permasalahannya sendiri.
Seminar Nasional
Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014


14

kafah dipertahankan
9
yang dianut Perguruan Tinggi Islam katimbang Perguruan Tinggi atau
Institut berbasis teknologi yang malah mengesampingkan nilai-nilai moral malah menafikan
eksistensi keabsolutan Tuhan
10

Kedua, dilihat dari sejarah perkembangan pendidikan Islam dan Umum sejak zaman pemerin-
tahan kolonial Belanda, pendidikan yang berlabelkan Islam selalu termarginalkan (Azyumardi
Azra, 2003). Sejarah pendidikan Islam di Indonesia adalah sejarah keterpinggiran dan
marjinalisasi pendidikan. Pendidikan Islam yang terpusat pada pesantren, dayah dan lainnya
merupakan bentuk uzlah dari kekuasaan kolonial bahkan merupakan bentuk perlawanan
silent opposition. Sebagai kontras, pada saat yang sama pendidikan missionaris berkembang
pesat, yang selain didukung gereja, juga secara langsung maupun tidak langsung juga
mendapat berbagai bantuan fasilitas dari pemerintah kolonial Belanda. Perkembangannya
adalah lembaga-lembaga Pendidikan Umum dan Kristen memiliki mutu pendidikan dan
manajemen yang lebih baik. Pertumbuhan dan perkembangan ini sering melahirkan mitos-
mitos negatif tentang pendidikan Islam seperti tidak bermutu, tidak dikelola secara
profesional, tidak menarik, tidak modern, malah dicap melahirkan ortodoxism dan talibanism.

Ketiga, kecenderungan baru pendidikan Islam di Indonesia ini dalam menghadapi tantangan
zaman dengan bentuk-bentuk pendidikan plus, terpadu atau unggulan di sebut sebagai very
late starter oleh Prof. Azyumardi Azra. Artinya ada prospek baru untuk mengintegrasikan
pendidikan Islam yang bersifat deduktif dengan pendidikan umum yang bersifat teori of
reality kedalam suatu sistem pendidikan dan pengajaran. Meskipun dikuatirkan akan
hilangnya ciri pendidikan Islam yang bercirikan melahirkan insan yang berahlaq mulia,
memerlukan keteladanan, kontak tatap muka dan waktu yang intens. Ciri pendidikan dan
pengajaran pasantren yang bersifat intens ini diterjemahkan dalam bentuk boarding school
yang dewasa ini terkendala oleh ruang, tempat dan waktu. Jumlah penduduk yang makin
tinggi menyebabkan tingkat kepadatan ruang dan tempat per-kapita makin sempit.
Meningkatnya perburuan waktu mengejar kehidupan duniawi makin pendeknya waktu untuk
upaya-upaya pencerahan diri atau atau makin hilangnya waktu untuk relaxation (leisure
time). Terjebak pada mitos time is money dunia kapitalistik.


9
meskipun harus terjadi pergeseran-pergeseran nilai karena penyesuaian dengan kontektual
10
value free dalam pengembangan ilmu bio-teknologi; rekayasa genetik; clonning; sebagai akibat filsafat aku ada
karena aku berfikir
Seminar Nasional
Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014


15

Karsa adalah energi jiwa yang mendorong manusia untuk berkehendak, sedangkan karya adalah
hasil perbuatan pekerjaan manusia. Dalam kontek pendangan Prof. Herman Soewardi, karsa
yang keberadaannya erat dengan rasa merupakan tolok ukur perbedaan kemajuan manusia.
Karsa orang-orang Barat didorong oleh kemampuan nalar akal yang kuat yang cenderung
bertabiat buruk, sedangkan karsa orang muslim dekat dengan rasa kalbu (qalb) yang cenderung
bersifat pasif fatalism, yang tidak mendorong berkembangnya kemampuan rekayasa manusia
(teknologi).

7. ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN
Milad Fakultas Teknik Unisba yang ke 40 ini, dapat dipakai sebagai momentum untuk mengkaji
kembali visi, misi dan peran Fakultas Teknik Unisba dimasa yang akan datang serta mengeva-
luasi manajemen sistem pendidikan dan pengajarannya agar menjadi perguruan tinggi Islam
yang terkemuka. Revitalisasi pendidikan tinggi Islam menurut Dr. Hamid Hasan Bilgrami (1989)
bukan sekedar menyelenggarakan pendidikan tinggi untuk melatih otak, membicarakan kebe-
naran tingkat tinggi atau memberikan gelar-gelar tingkat tinggi, tetapi harus melahirkan orang-
orang yang berpengetahuan tinggi, yang disinari oleh nilai-nilai luhur Islami. Perguruan Tinggi
Islam harus mampu menumbuhkan sikap tamil (menyerahkan diri kepada Islam dengan sepenuh
hati), sikap tazim (menghormati kebesaran Islam) dan adab (menghargai dan merujuk kepada
nilai-nilai Islam) sebagai manifestasi pembentukan manusia seutuhnya yang memiliki jasmani
dan ruhani.
Disadari atau tidak pendidikan Islam di beberapa fakultas di Unisba baru merupakan awal dari
proses Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang lebih bersifat attachement Islam ke dalam disiplin
ilmu. Artinya pendidikan dan pengajaran Islam di Unisba bukan diturunkan dari al Quran (ayat-
ayat Quraniyah) menjadi ilmu-ilmu pengetahuan, tetapi lebih bersifat usaha mengokulasikan
Islam ke dalam ilmu pengetahuan yang ada dan telah berkembang. Misalnya fakultas teknik yang
pada awal pendiriannya bersubjek pada teknik pembangunan masyarakat menurut Islam,
kemudian menjadi planologi desa (ilmu merencana desa), kemudian perencana wilayah dan kota
yang berorientasi kepada kurikulum pendidikan planologi ITB, sebagai pembina, dengan upaya
menempelkan ajaran-ajaran Islam ke dalamnya. Kedalaman pembahasan Islam dalam ilmu
pengetahuannya dapat dilihat dari penomena dangkalnya pembahasan ilmu-ilmu al Quran dalam
Seminar Nasional
Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014


16

tugas penelitiannya
11
. Skripsi tugas ahirnya hanya cukup ditempeli ayat-ayat al Quran sebagai
penghias sampul skripsi. Padahal visi dan misi pendiriannya adalah bagaimana membangun
masyarakat yang Islami secara teknis, yang diturunkan dari ilmu-ilmu al Quran. Memang ilmu
pengetahuan (Pranggono, 2003) diturunkan kepada manusia melalui dua cara yaitu diberikan
langsung ke dalam kalbu manusia (al-ulumul naqliyah) yang harus dicari melalui belajar dari alam
(ayat-ayat kauniyah) dan yang harus dicarikan dari al Quran (ayat-ayat Quraniyah) untuk dija-
barkan kedalam alam empirik. Dalam metodologi ilmu pengetahuan yang menggunakan cara
berfikir principle of excluded middle, metode deducio-verificatio dan intuition deduction
(Descrates) sangat sulit untuk digabungkan. Sama sulitnya menggabungkan pendekatan makro
dan mikro.
Kendala penggabungan ilmu hukum dengan syariah bukan saja hanya kesulitan teknis admi-
nistrasi dalam menggabungkan ilmu pengetahuan Barat dengan al Quran, tetapi juga belum
terjadinya asimilasi hukum-hukum formal (hukum Hindia Belanda) dengan syariah Islam yang
diturunkan dari al Quran dan Hadits. Demikian juga dengan kendala yang dihadapi oleh fakultas-
fakultas lain seperti Ilmu Syariah Muamalah dengan ilmu ekonomi, atau Psikologi pendidikan
dengan Usuluddin dan penerapan ilmu-ilmu Al Quran dalam disiplin ilmu-ilmu yang lainnya.
Mudah-mudahan hal ini hanyalah kesulitan awal Islamisasi ilmu pengetahuan dalam menuju
kepada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Islam, dan bukan sebatas Islam sebagai
tumbuhan okulasi pada batang ilmu pengetahuan dan teknologi yang lain.
8. AL QURAN SUMBER ILMU-ILMU PENGETAHUAN
Berfikir deduktif atau menurunkan/menjabarkan jenis ilmu pengetahuan secara sederhana seperti
yang diajarkan nabi Muhammad saw melalui iqra
12
dimulai dari pengkayaan wacana dan
penghayatan bagaimana Quran ayat demi ayat diturunkan kepada nabi Muhamnad saw,
kemudian memahami kontektualnya kapan, di mana dan dalam kondisisi bagaimana ayat itu
diturunkan, adalah merupakan bagian-bagian penting dalam membuat tafsir dan membumikan

11
Saya sangat menghargai upaya ir Bambang Pranggono MBA untuk meletakan proses Islamisasi pendidikan
planologi melalui penerapan mata kuliah Islam Disiplin Ilmu dan pembimbingan Tugas Ahir, sehingga ayat-
ayat al Quraniyah lebih terhayati secara lebih baik dalam menyusun tugas penelitiannya.
12
iqra yang ditafsirkan tidak hanya membaca sebagai lawan kata menulis tetapi memahami, mengkaji, menelusuri
dan mengerti
Seminar Nasional
Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014


17

Quran
13
. Dalam kontek hirarki filsafat ilmu pengetahuan, Al Quran
14
telah mengisyaratkan pola
metodologi deduktif yaitu dengan diawali dengan filsafat sebagai realitas transenden, untuk
menemukenali esensi hidup dan peran manusia secara hakiki. Kemudian esensi dan hakikat
kehidupan ini menurunkan etika sosial kemasyarakatan yang menjadi rambu-rambu nilai
kemanusiaan universal. Dengan rambu-rambu value-system ini kemudian diturunkan ilmu-ilmu
hukum (syariah), psikologi yang berkaitan dengan komponen-komponen kejiwaan, ilmu kese-
hatan dan kedokteran jasmaniah, ilmu hayat (bios biologi). Perkembangan berikutnya adalah
ilmu fisiko-kemis yaitu ilmu pengetahuan pertanian dan ilmu lingkungan.
Menurut Zubair (2002) tata jenjang
15
hirarki dalam struktur realitas manusia mencari kebenaran,
meliputi empat taraf: fisiko-kemis, bios atau hidup jasmaniah, psikis atau hidup kejiwaan,
humanity atau kemanusiaan, dan realitas transenden
16
. Demikian pula dengan ilmu pengetahuan
rekayasa, sejalan dengan hierarhi struktur realitasnya, mulai dari adanya pengetahuan tentang
lingkungan atau fisiko-kemis, kemudian rekayasa lingkungan untuk kehidupan manusia (human
settlement), rekayasa kesehatan jasmaniah dan rohaniah, etika dan rekayasa humanity menuju
realitastransenden kebenaran yang diterjemahkan kedalam filsafat ilmu pengetahuan. Prof.
Herman Suwardi (1996) mengemukakan bahwa filsafat modern baru lahir pada abad 17 setelah
proses asimilasi filsafat
17
selesai dan Descartes di Prancis serta Bacon di Inggris, mengkonstruk-
sikan metafisika dalam tataran filsafat logika. Cara berfikir intuition-deduction yang terkandunng
dalam pernyataan cogito, ergo sum (kalau saya berfikir, maka saya ada) memberikan dasar-
dasar berfikir filsafat ilmu yang sistematis melalui kesangsian. Subjek yang berfikir menjadi titik
pangkal untuk filsafatnya. Descartes telah memanusiakan manusia yaitu dengan cara menja-
dikan manusia sebagai titik tolak, subjek pemikiran. Fikiran tentang kebenaran manusia bukan
selalu didasarkan atas kekuasaan di luar manusia. Manusia berfikir merupakan pusat dunianya.

13
Seperti apa yang dikemukakan oleh Qurais Sihab,1992 dengan pemahaman membumikan al Quran yaitu
menangkap pesan-pesan al Quran dan memasyarakatkannya, bagaimana memahami dan melaksanakan
petunjuk-petunjuknya..
14
Al Suyuti (1993) menurunkan Ulumul Quran kedalam bidang-bidang ilmu pengetahuan yang diperluas,
meskipun tidak sependapat dengan al Zarqoni, seperti ilmu kedokteran, ilmu ukur, matematikan, astronomi dan
lain sebagainya tanpa memberikan hierarhinya (lihat Zainuddin, 1997; Menelusuri ilmu-ilmu Al Quran,
Fakultas Syariah Unisba ).
15
Sistematika proses mencari landasan filosofis ilmu-ilmu empirik seperti teknologi, bersifat pendekatan induktif
16
Zubair, Achmad Charris, 2002 Dimensi Etika dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia, LESFI, Yogyakarta.
17
Kritik-kritik filsafat ilmu pengetahuan Barat terjadi pada periode abad 14, faham-faham determinisme absolut,
probabilisme, empirisme ralisionalitik, Averonisme dan idelisme dibahas, dikritik, dipertahankan diperbaiki dan
di asimilasikan sampai filsafat telah mendapat kehidupan yang mandiri, 8 abad setelah islam yang dibawa nabi
Muhamad adalah agama Islam yang membawa misi untuk membimbing manusia di alam modern( Herman
Soewardi, 1996, 60-328).
Seminar Nasional
Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014


18

Descartes telah memberi suatu epistomologi baru yang membuat filsafat suatu ilmu yang berdiri
sendiri. Pengaruhnya sangat besar dalam kebebasan perkembangan ilmu pengetahuan
matematika, ilmu alam, fisika dan kedokteran. Sedangkan ilmu pengetahuan merekayasa itu
sendiri, hanya sebagai suatu alat, eksistensinya dibatasi dalam selang kepastian dan keterba-
tasannya (finite deterministik).
Perkembangan kemajuan teknologi pada ahir abad 20 ini, dalam paradoxi dengan norma etika
dan kearifan lingkungan. Polemik iman taqwa dan akal budi, menjadi pembahasan ulang filsafat
ilmu pengetahuan modern awal (abad 17) dan ahir abad revolusi industri (ahir abad 20). Norma
etika kemanusian telah dianggap nilai yang relatif tunduk pada waktu dan ruang (time and space).
Karena itu kemajuan teknologi menafikan eksistensi etika kemanusiaan yang absolut, seperti
yang makin berkembangnya teknologi peperangan yang mampu melahirkan senjata pembunuh
masal. Demikian pula munculnya pandangan kearifan lingkungan yang disebabkan oleh bukti-
bukti nyata kerusakan bumi dan lingkungannya karena perbuatan manusia dengan penerapan
kemajuan teknologinya (QS 30:41) disepakati sebagai pengendalian sendiri (self regulation).
Kesepakatan global ekolabeling production ini sering dipakai negara-negara maju, masyarakat
yang sudah kaya dan memiliki mesin kapital yang tidak terbatas, dipakai sebagai alat untuk
mempertahankan kemapanannya dalam menikmati sumberdaya alam yang dilimpahkan Allah
SWT dimuka bumi ini. Sebenarnya umat Islam menyepakati ekolabeling adalah sebagai amal
ibadah melaksanakan perintah Allah untuk tidak membuat kerusakan dibumi ini (QS 30 : 41).
Dalam konteks yang lain dimana ilmu-ilmu aqliyah dan naqliyah secara simulan dikembangkan
dalam suatu pendidikan tinggi Islam. Ilmu-ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk kehidupan
kemanusiaan didunia, dimasukan kedalam ilmu-ilmu fardu kifayah dan ilmu-ilmu yang akan
menjadi sumber pengembangan ilmu pengetahuan yang diperlukan manusia dimasukan kedalam
ilmu-ilmu fardu ayn (Pranggono, 2003). Penyelengara pendidikan tinggi harus mampu mengelola
pengintegrasian pengembangan ilmu fardu kifayah dan pendalaman ilmu fardu ayn secara baik.
Kegagalan mengintegrasikan adalah awal dari proses sekularisasi agama.

9. PENUTUP
Pembukaan suatu Program Studi di suatu Perguruan Tinggi dewasa ini lebih berorientasi pada
permintaan pasar daripada bertujuan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi itu
sendiri. Limapuluh lima tahun yang lalu Pendidikan Teknik Planologi atau Teknik Perencanaan
Seminar Nasional
Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014


19

Wilayah dan Kota didirikan atas dasar kebutuhan Kementrian Pekerjaan Umum dalam rangka
menata kembali pertumbuhan wilayah dan kota-kota di Indonesia yang rusak akibat revolusi
kemerdekaan Indonesia. Sampai awal tahun 70an program pendidikan Teknik Planologi menitik
beratkan pada keterampilan teknik merencana pembangunan kota, tetapi kemudian pada
pertengahan tahun 70an, orientasi pendidikannya lebih menitik beratkan pada perluasan
wawasan yang lebih luas dan komprehensif daripada pelatihan keterampilan tekniknya. Di sinilah
mulai tumbuhnya paradigma ilmu yang mulai menggerus jati diri seorang Perencana Kota yang
teknokrat. Pengetahuan Teknik Merencananya belum menjadi suatu Ilmu Pengetahuan yang
universal teruji, telah dihadapkan pada polemik pengambilan keputusan merencana yang ber-
sumber dari ilmu-ilmu pengetahuan sosial.
Dalam upaya mencari Filsafat Ilmu Perencanaan yang menjadi landasan pengembangan ilmu
bagi Program Pendidikan PWK ada beberapa hal yang perlu di perhatikan, antara lain yaitu:
1. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang dihadapi Perguruan Tinggi Islam,
2. Globalisasi adalah transfer teknologi dalam masyarakat Islam yang harus dilandasi dengan
pandangan Islam yang kafah,
3. Kompetensi Perguruan Tinggi atas dasar kondisi sosio-kultural - University Based Community.
4. Pembaharuan Pemikiran Pendidikan Islam di lingkungan Universitas Islam Bandung
5. Islamisasi Ilmu Pengetahuan Perencanaan harus merupakan derivasi Ilmu-ilmu Pengetahuan
Al-Quran.



DAFTAR PUSTAKA
Baiquni, Achmad, 1994 Al Quran, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Dana Bhakti Wakaf,
Yogyakarta
Bisri, Cik Hasan, 2003 Model Penelitian Fiqh, Paradigma Penelitian Fiqh dan Fiqh Penelitian
Lembaga Penelitian IAIN Sunan Gunung Jati dan Forum Bandung Circle, Bandung
Geertz, Clifford, 1983 Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa Pustaka Jaya, Jakarta
Gulsyani, Mahdi, 1988 Filsafat Sains Menurut Al Quran Mizan, Bandung
Madjid, Nurcholish, 1987 Islam Kemodernan dan KeIndonesiaan Mizan, Bandung
Pranggono, Bambang, 2003 Upaya Islamisai Disiplin Ilmu di Fakultas Teknik Unisba makalah
Diskusi Panel dan Saresehan 30 Tahun Fakultas Teknik Unisba, Bandung
Seminar Nasional
Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014


20

Qardhawi, Yusuf, 1998 Al Quran berbicara tentang Akal dan Ilmu Penegetahuan Gema Insani
Press, Jakarta.
Sevilla, Consuelo G, et.al, 1993 Pengantar Metode Penelitian, UI-Press, Jakarta.
Shihab, M. Quraish, 1994 Membumikan Al Quran Mizan, Bandung
Soewardi, Herman, 1996 Nalar, Kontemplasi dan Realita, Program Pascasarjana Universitas
Padjadjaran, Bandung
Sulfikar, Amir, 2003 Masalah Teknologi di Dunia Ketiga, Koran Pikiran Rakyat, 24 Juli 2003.
Suriasumantri, Jujun S., 1986 Ilmu dalam Perspektif Moral, Sosial dan Politik PT Gramedia,
Jakarta.
--------------, 1996 Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar harapan, Jakarta.
Suyarto, Djoko, 1995 Kota Baru : Suatu Tantangan dan Prospek dalam Penbangunan Perkotaan
di Indonesia Orasi Ilmiah dalam rangka 35 tahun Pendidikan Planologi di Indonesia, ITB,
Bandung
Wallace, Walter L., 1994 Metode Logika Ilmu Sosial, Bumi Aksara, Jakarta.
Zainuddin, H.Moh, 1997 Menelusuri Ilmu-ilmu Al Quran Fakultas Syariah, Universitas Islam
Bandung.
Zubair, A Charris, 2002 Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia LESFI,
Yogyakarta.