Anda di halaman 1dari 287

1

1

2

NOTA PEMBIMBING

Prof. Dr. H. Soetarno, DEA Dr. H. M. Muinudinillah Basri, MA

Dosen Program Magister Pemikiran Islam Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta

Nota Dinas Hal : Tesis Saudara Wawan Kardiyanto Kepada Yth. Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Setelah membaca, meneliti, mengoreksi dan mengadakan perbaikan-perbaikan seperlunya terhadap tesis saudara,

Nama

:

Wawan Kardiyanto

NIM

:

O 000 060 115

Program

:

Magister Pemikiran Islam

Konsentrasi

: Pemikiran Islam

Judul

: Konsep Kesenian Profetik dan Implementasinya dalam Pendidikan

Islam Dengan ini kami menilai bahwa tesis tersebut dapat disetujui untuk diajukan dalam sidang ujian

Tesis pada Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Pembimbing I

Prof. Dr. H. Soetarno, DEA

Surakarta,

September 2010

Pembimbing II

Dr. H. M. Muinudinillah Basri, MA PENGESAHAN

3

PERNYATAAN KEASLIAN TESIS

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama

: Wawan Kardiyanto

:

NIM

: O 000 060 0115

NIRM

Program Studi

- : Magister Pemikiran Islam

Konsentrasi

: Pemikiran Islam

Judul

: Konsep Kesenian Profetik dan Implementasi- nya dalam Pendidikan Islam

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang saya serahkan ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, kecuali kutipan-kutipan dan ringkasan-ringkasan yang semuanya telah saya jelaskan sumbernya. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa tesis ini hasil jiplakan, maka gelar dan ijazah yang diberikan oleh universitas batal saya terima.

Surakarta,

September 2010

Penulis,

Wawan Kardiyanto

4

MOTTO

4 MOTTO Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

5

PERSEMBAHAN

Karya ini aku persembahkan buat khosanah Ilmu Pengetahuan dan perkembangan peradaban manusia

6

ABSTRAK

Penelitian yang bertema konsep kesenian profetik dan implementasinya dalam pendidikan

Islam ini didasarkan atas latar belakang maraknya kreasi seni yang dipengaruhi oleh konsep dan

atau teori seni untuk seni (L’art pour L’art) yang condong menampilkan kreasi seni bebas nilai

yang cenderung menegasikan nilai-nilai etika, estetika dan kebenaran. Penelitian ini mencoba

menggagas konsep seni profetik yang akan lebih memberi manfaat dan tujuan jelas ke mana seni

harus dibawa, yaitu tetap bersinergi dengan kepentingan etika, estetika dan kebenaran.

Kalangan

agamawan

maupun

sosial

mencoba

mencari

pendasaran

ontologis,

epistemologis maupun axiologis. Pendasaran ini berangkat dari misi profetis agama-agama yang

juga mempunyai kepedulian terhadap tegaknya etika, estetika dan kebenaran. Misi profetis agama

merupakan gerakan profetis melalui teologi yang menjadi ideologi revolusioner yang selalu

mengusung perubahan peradaban. Disinilah gerakan etika profetik dalam agama-agama membumi

menjadi implementasi sosial termasuk di dalamnya seni. Penelitian ini juga untuk mengetahui dan

memahami praksis seni profetik dalam pendidikan Islam. Islam sebagai rahmatan lil alamin tentu

tidak menutup mata dalam ikut serta ber-fastabiqul khairat mengembangkan kemajuan peradaban

lewat kesenian dan pendidikan.

Penelitian ini, menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan

pendekatan metode

analisa Heuristik; yaitu mencari pemahaman baru dengan melakukan pendeskripsian, refleksi

kritik dan penyimpulan terhadap kesenian dan gagasan seni profetik.

Kesimpulan penelitian ini adalah kesenian profetik sebagai sebuah konsep yang positif

terhadap perkembangan paradigma berkesenian terbukti diperlukan untuk dikembangkan sebagai

konsep tujuan dan nilai berkesenian. Penelitian ini juga membuat resep teoritis implementasi seni

profetik dalam pendidikan Islam. Seni profetik dalam pendidikan Islam adalah sesuatu yang mesti

dipentingkan sebagai tawaran kreativitas metode syiar. Seni yang Islami dan profetis akan

membuat kehidupan umat menjadi lebih indah dalam syariat Islam yang telah ditentukan.

Kata Kunci : Seni, Seni Profetik, Seni Islam, Pendidikan Islam,

7

ABSTRAC

The research based on the background of art creation glowing that was influenced by the art concept for art itself (L’art pour L’art) the art concept for art show free value, aesthetic sense and truth more. The research tried to think about the prophetic art concept that would give advantage and clear purpose where the art has been brought, is must proportionally with action value, aesthetic sense and truth. The religion and social figure tried to look for the answer in debating of the art value. This was based on the regions prophetic missions that have attention to maintain action value, aesthetic sense and truth. The regions prophetic mission is prophetic action via theology that becomes ideology of revolusioner that always raise the movement of civilization. This is the prophetic ethic movement, unite to the social implementation, including art. The research knew and also understands the prophetic art practice in Islam education. Islam as rahmatan lil alamin that brings love, affection for universe of course care and join in maintaining truth, goodness, development of culture via art and education. The research used literature method with Heuristic analysis method approach, is new understanding by doing description, reflection critic and make conclusion in agreement and opinion of prophetic art. In conclusion the research to make prophetic art as a positive concept to moving as goal concept and art value. Furthermore the research to make receipt of prophetic art implementation theoretically in Islam education. Prophetic art in Islam education is something that’s very

8

important as the creativity of propagation method. Islam and prophetic art would make our environment more beautiful as in Moslem law.

Key Word: Art, Prophetic Art, Islamic Art, Islamic Study

9

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena hanya dengan

rahmat dan hidayah penulis dapat menyelesaikan penelitian tesis berjudul: Konsep Kesenian

Profetik dan Implementasinya dalam

Pendidikan Islam ini. Shalawat dan salam dipersembahkan

kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing umat manusia dari kebodohan menuju

kepada nur dan pengetahuan serta membawa umat manusia menuju kesempurnaan akhlak.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan tesis ini tidak dapat penulis lakukan

sendiri tanpa melibatkan pihak lain yang terkait. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih

kepada

berbagai

pihak

yang

telah

terselesaikannya tugas ini.

memberikan

bantuan

moril

maupun

materiil

untuk

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktur Program Pascasarjana Universitas

Muhammadiyah Surakarta, Ketua Program beserta sekretaris dan staf Magister Pemikiran Islam

UMS yang memberikan pelayanan yang dibutuhkan dalam rangka proses akademik maupun

administrasi. Kepala dan Staf Perpustakaan Pusat maupun Perpustakaan Pascasarjana UMS yang

telah banyak memberikan kemudahan dan membantu dalam pencarian literatur yang berhubungan

dengan penelitian penulis.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Rektor ISI Surakarta, Dekan Fakultas Seni

Pertunjukan, Kepala Jurusan Pedalangan beserta stafnya

yang telah memberikan ijin belajar dan

membantu kelancaran studi lanjut saya di UMS Surakarta.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. H. Soetarno, DEA dan Dr. H. M.

Muinudinillah Basri, MA. selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan masukan-masukan

baik yang terkait dengan metodologi maupun materi penelitian, membimbing mengarahkan

penulis dalam proses penyusunan tesis ini beserta seluruh dosen Program Magister Pemikiran

Islam yang telah dengan sabar memberikan khosanah ilmu dan kebijaksanaannya.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua tercinta yang telah berjasa

besar memberikan dorongan moril sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini, dan

10

Istriku tercinta beserta anak-anakku tersayang yang telah mendampingi dan menjadi motivator

utama dan pertama dalam penyelesaian penulisan tesis ini.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat baik dari pihak

keluarga maupun teman sejawat yang tidak mungkin penulis sebutkan satu per satu di sini yang

telah memberikan bantuan baik moril maupun materiil sehingga penulis dapat menyelesaikan studi

dan karya ilmiah ini. Semoga segala amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT, dengan balasan

yang lebih baik dan berlipat ganda.

Akhirnya

semoga

tesis

ini

dapat

menjadi

sumbangan

bagi

perkembangan

wacana

keilmuan, dan semoga kita semua memiliki etika sosial yang mulia diridhai oleh Allah SWT. Amin

ya Rabbal ‘Alamin.

Surakarta,

September 2010

Penulis,

Wawan Kardiyanto

11

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

 

i

HALAMAN NOTA PEMBIMBING

 

ii

HALAMAN PERSETUJUAN

iii

HALAMAN KEASLIAN PERNYATAAN TESIS

 

iv

HALAMAN MOTTO

 

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

 

vi

ABSTRAK

vii

KATA PENGANTAR

 

x

DAFTAR ISI

xii

BAB I

PENDAHULUAN

 

1

A. Latar Belakang Masalah

 

1

B. Perumusan Masalah

9

C. Tujuan dan Kegunaan

10

D. Tinjauan Pustaka

 

11

E. Kerangka Teori

22

F. Metode penelitian

34

G. Sistematika Pembahasan

 

36

BAB II

FILSAFAT,

SENI

DAN

AGAMA

SERTA

PENDIDIKAN

DALAM

PERSPEKTIF ISLAM

 

37

A. Hubungan Filsafat, Seni (Estetika) dan Agama

 

37

B. Seni dalam Perspektif Islam: Skala Normatif-Yuridis

 

75

C. Refleksi Qur’an dan Hadits tentang Seni dan

 

90

D. Pendidikan Islam Profetik dalam Realitas Historis

 

126

BAB III

PANDANGAN PEMIKIR MENGENAI SENI BERTUJUAN SEBAGAI

PIJAKAN SENI PROFETIK

 

134

A.

Estetika dalam Pandangan Ismail Raji’ al-Faruqi

 

134

12

 

C. Konsepsi Hegel (1770 - 1831) mengenai Keindahan

 

163

D. Perspektif Leo Tolstoy (1828-1910) mengenai Seni

165

E. Pandangan Sayyed Hosein Nasr mengenai Seni Islam

169

BAB IV

KONSEP

SENI

PROFETIK

DAN

IMPLEMENTASI

DALAM

PENDIDIKAN ISLAM

 

176

A. Pergulatan Nilai dan Fungsi Seni

176

B. Persoalan Seni dan Kesenian Islam

 

183

C. Ilmu Sosial Profetik (ISP) dan Maklumat Sastra Profetik Kuntowidjojo

……………………………………………

 

193

D. Teologi Profetik Suhermanto Ja’far ………………………

 

204

E. Gagasan Seni Profetik, Peluang dan Tantangan

218

F. Pendidikan dan Kesenian Islam Berparadigma Profetik

228

G. Implementasi Seni Profetik dalam Pendidikan Islam……

265

BAB V

PENUTUP

268

A. Kesimpulan

 

268

B. Implikasi Penelitian

 

270

C. Saran-Saran

 

271

DAFTAR PUSTAKA

13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perdebatan masalah pornografi dan rencana akan disahkannya RUU

Pornografi menjadi UU Pornografi di bulan Juni 2006 telah menjadi wacana

yang cukup menarik akhir-akhir ini di negeri Indonesia yang berpenduduk,

berbudaya

dan

beragama

heterogen

walaupun

mayoritas

penduduknya

beragama Islam. Salah satu isu yang mencuat seiring munculnya wacana

RUU Pornografi, adalah dikhawatirkan UU tersebut akan memberangus

naturalitas budaya bangsa yang heterogen dan kreativitas karya seni yang

membentuk warna kebudayaan bangsa.

Persoalan pro-kontra RUU Pornografi ini perlu ditelisik kembali titik

temu dan benang merahnya yang mesti kembali kita bedah dan renungi

bersama, yaitu apakah tujuan sebenarnya RUU Pornografi dan juga apakah

sebenarnya

tujuan

sebuah

karya

seni

kebudayaan yang baik dan adiluhung?

yang

dapat

membentuk

sebuah

Ridwan Pinat, dalam artikelnya yang berjudul “Men of Ideas” sebuah

resensi

buku

Brian

Magee,

1982,

Men

of

Ideas:

Some

Creators

of

Contemporary

Philosophy,

Oxford

:

Oxford

paperback,

yang

mana

di

dalamnya membicarakan kupasan-kupasan filsafat yang dilakukan oleh para

filosof dan tokoh penulis buku, salah satunya tentang filsafat kesenian yang

berisi tujuan dan nilai karya seni, penulis gunakan sebagai sumber narasi

1

14

dalam memaparkan latar belakang masalah tulisan ini (R.Pinat@cwcom.net,

apakabar@radix.net).

Pinat

memaparkan, Murdoch salah satu filosof yang terlibat dalam

dialog menyatakan bahwa sebenarnya kesenian bisa dianggap satu tehnik

disiplin untuk membangkitkan emosi-emosi tertentu, termasuk emosi-emosi

yang merangsang sensasi khayalan dan sensasi fisik. Sebagian besar wajah

kesenian abad ini, kata Murdoch, dikaitkan dengan sex, dengan berbagai

fantasi yang tidak baik. Yang ia maksudkan dengan fantasi tidak baik itu

adalah fantasi yang mengundang imaji pornografis, menimbulkan bentuk-

bentuk pemanjaan diri sendiri dan yang biasanya menghasilkan berbagai nilai

yang salah seperti pemujaan pada kekuasaan, status dan kekayaan.

Fantasi

negatif

tersebut

membuat

sementara

filosof

berbalik

memusuhi

seni,

demikian

pula

agamawan.

Bahkan

melalui

salah

satu

bukunya yang berjudul 'The Fire and The Sun', Irish Murdoch secara khusus

berbicara tentang sikap permusuhan Plato terhadap seni, padahal Plato sendiri

dalam karya-karyanya justru sering menggunakan bentuk-bentuk seni. Atau

seperti dikatakan Bryan Magee, jelas terlihat banyak bentuk seni dalam

karya-karya Plato.

Lantas kenapa Plato, sebagaimana

yang dinilai oleh

Murdoch, bukan hanya bapak filsafat, melainkan juga seorang filosof terbaik,

justru mengambil sikap bermusuhan terhadap seni.

Bertitik tolak dari pertanyaan itulah Murdoch kemudian berangkat

menguraikan

teorinya

mengenai

pandangan

filsafat

terhadap

kesenian.

Sebagai seorang pakar teori politik, kata Murdoch, Plato takut terhadap

15

kekuatan emosional yang irrasional dalam seni. Kekuatan untuk menyebarkan

berbagai kebohongan yang menarik atau kebenaran-kebenaran subversif.

Plato menyepakati sensor yang keras serta pembasmian para pengarang lakon

sandiwara. Plato dalam ini lebih sepakat pada agama, dan ia merasa bahwa

seni memusuhi agama dan filsafat. Seni menurut Plato merupakan suatu

pengganti yang egoistis bagi disiplin agama. Kenyataan bahwa karya Plato

sendiri merupakan karya seni yang besar adalah dalam pengertian bahwa ia

sendiri

secara

teoritis

tidak

mengakuinya.

Dikatakannya,

terdapat

pertengkaran yang sudah berlangsung lama antara filsafat dengan puisi. Dan

kita harus ingat, tutur Murdoch, pada masa Plato filsafat baru saja muncul

atau lahir dari berbagai bentuk puisi dan spekulasi teologis. Filsafat memang

mengalami

kemajuan

dengan

membatasi

dirinya

sebagai

sesuatu

yang

tersendiri. Pada masa Plato, filsafat memisahkan diri dari kesusastraan. Pada

abad ketujuh belas memisahkan diri ilmu alam. Pada abad kedua puluh

memisahkan diri dari psikologi.

Menurut Murdoch, Plato berpendapat seni adalah usaha meniru, tetapi

peniruan yang buruk. Murdoch berpendapat, memang benar bahwa lebih

banyak seni yang buruk daripada seni yang bagus di sekitar kita. Ironisnya

orang justru lebih menyukai seni yang buruk itu daripada yang baik. Plato

berkeyakinan bahwa seni pada hakikatnya adalah fantasi pribadi, suatu

bentuk

perayaan

terhadap

hal-hal

tanpa

nilai

penyelewengan dari hal-hal yang baik.

atau

suatu

bentuk

16

Murdoch

mengatakan

bahwa

Plato

menilai

seni

sebagai

usaha

penjiplakan yang remeh terhadap obyek tertentu tanpa mengandung arti

penting

umum.

Pendapat

Plato

ini

menurut

Murdoch

tidaklah

secara

keseluruhan berbeda dengan pandangan Sigmund Freud. Freud menilai seni

sebagai fantasi seorang seniman yang berbicara langsung kepada fantasi

penikmat karya seninya. Seni dalam pandangan Freud adalah satu bentuk

hiburan pribadi, satu jembatan untuk memperoleh kepuasan yang tidak

sempat didapat dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, kata Murdoch, kita

bisa menyaksikan bagaimana sebuah cerita menegangkan atau film yang

sentimental dengan mudah bisa merangsang fantasi pribadi para pembaca

atau penonton. Pornografi adalah contoh yang ekstrim dari seni tersebut.

Bryan

Maggee

dalam

dialognya

mempertanyakan,

apakah

kritik

semacam itu hanya berlaku untuk seni yang buruk. Bagaimana halnya dengan

seni yang baik? Menjawab pertanyaan ini, Irish Murdoch mengatakan bahwa

seorang penikmat seni bisa saja menggunakan hasil seni untuk melayani

tujuannya sendiri, dan hanya seni yang bagus sanggup menolak tujuan-tujuan

yang tidak baik dengan lebih berhasil. Maksudnya seseorang mungkin saja

mengunjungi

satu

galeri

hanya

untuk

menyaksikan

citra

(image)

yang

pornografis, padahal karya seni yang dipamerkan di sana barangkali tidak

semuanya bisa menimbulkan citra pornografis. Kemungkinan suatu karya

seni ditafsirkan secara tidak baik bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi.

Murdoch secara tegas menolak pornografi. Ditandaskannya bahwa pornografi

mendatangkan akibat yang benar-benar merusak dan memerosotkan nilai

17

seni, dan disayangkannya pula bahwa lebih banyak orang justru menyukai,

seperti yang dikatakannya sendiri, karya seni picisan itu.

Karya seni bagaimana yang dinilai baik oleh Murdoch? Saya kira,

katanya

menerangkan,

karya

seni

yang

baik

adalah

karya

seni

yang

mengandung

imajinasi,

bukan

fantasi.

Karya

itu

hendaknya

mampu

mematahkan kebiasaan kita untuk berfantasi, dan sekaligus mendorong kita

berusaha untuk mendapatkan pandangan yang benar tentang hidup dan

kehidupan. Kita seringkali tidak berhasil melihat kenyataan dunia yang luas

ini, karena pandangan kita dibutakan oleh obsesi, kekhawatiran, rasa iri,

kejengkelan dan ketakutan. Kita membangun dunia kecil kita untuk diri kita

sendiri, dan kita terkungkung di dalamnya.

Seni yang bagus, karya seni yang besar, kata filosof wanita itu pula,

adalah karya seni yang bersifat membebaskan, yang memungkinkan kita

untuk melihat dan mendapatkan kesenangan dari sesuatu yang bukan melulu

kepuasan kita akan diri kita sendiri. Karya sastra yang baik, tambah Murdoch,

adalah karya sastra yang sanggup mendorong serta memuaskan rasa ingin

tahu kita, yang mampu membuat kita menaruh perhatian kepada orang lain

serta masalah-masalah lain, yang sanggup membuat kita bertenggang rasa dan

lapang dada. (R.Pinat@cwcom.net, apakabar@radix.net).

Beberapa

ulasan para filosof tersebut

kalau kita

mengembalikan

kesenian menuju tujuan dasarnya menurut falsafahnya, yakni kesenian yang

baik selalu menghasilkan estetika yang baik

pula, dan puncak estetika

Platonis adalah keindahan mutlak, yaitu keindahan Tuhan. Kecenderungan

18

kesenian

mengarah

kepada

hal

yang

positif

memang

sangat

terasa

diungkapkan para bapak-bapak filosof kuno di Yunani. Selebihnya kalau ada

estetika Platonis yang menuju keindahan Tuhan, Plato juga menyebut watak

dan hukum yang indah. Aristoteles mengatakan, keindahan itu adalah sesuatu

yang menyenangkan dan baik. Plotinus bicara tentang ilmu dan kebajikan

yang indah. Kemudian orang Yunani membincangkan tentang buah pikiran

dan adat kebiasaan yang indah. Dalam pengertian yang luas, keindahan itu

tidak hanya terbatas pada seni atau alam, tetapi juga pada moral dan

intelektual. Moral yang indah tentulah moral yang baik dan intelek yang

indah adalah intelek yang benar. Jadi tentu kita sepakat Bagus, Baik dan

Benar adalah serangkai nilai positif yang relasinya selalu bersifat holistik

dalam keharmonisan. (Gazalba, 1988: 118).

Menurut Sidi Gazalba “bagus” merupakan bagian dari aspek kesenian

dan estetika, “baik” dalam ranah etika dan “benar” lebih condong mengarah

kepada Ilmu dan Agama. Tetapi semuanya itu menurut Sidi dalam filsafat

pengetahuannya, Agama pada dasarnya melingkupi ketiga-tiganya baik itu

bagus, baik dan benar secara holistik dan komprehensif.

Kita perlu menelisik kembali makna-makna kesenian yang positif

tersebut yang saat ini terasa sudah tercerabut dari karya-karya seni dan

bahkan dalam wacana filsafat seni. Selayaknya agama dan juga filsafat yang

mempunyai arah dan tujuannya yang jelas dan pasti, konsep seni dalam

filsafat seni

mestinya juga

dapat

dikuak

dan

didapati arah

dan

tujuan

berkesenian

yang mencerahkan. Visi

dan misi seni

perlu dikembalikan

19

kepada jalannya yang “lurus dan benar”. Konsep Kesenian Profetik yang akan

penulis tawarkan tentu akan lebih mewarnai dan menguatkan arah tujuan

kesenian dan filsafat seni yang telah dirumuskan oleh para filosof dan pemikir

seni abad kuno Yunani-Romawi.

Kesenian dalam pendidikan sangat erat hubungannya. Karya seni

sering

dijadikan

alat

untuk

mendidik

siswa

dalam

pengenalan

tentang

keindahan. Pendidikan Islam yang berlandaskan pada konsep filsafat Islam

mengajarkan bahwa konsep pengetahuan di dalam Islam tidak mengenal

batas-batas parsial ataupun dualisme pengetahuan yang memisahkan ilmu-

ilmu agama dan ilmu-ilmu dunia. Bagi Islam semua ilmu pengetahuan itu

satu dengan lainnya memiliki hubungan sinergisitas yang sangat erat dan

tidak bisa dipisah-pisahkan secara mutlak. Sehingga apa yang dirumuskan

Sidi Gazalba di atas bahwa Kesenian, Etika, Agama dan Ilmu mempunyai

relasi sinergisitas yang tidak terpisahkan adalah benar adanya bagi konsep

pendidikan Islam.

Pendidikan Islam, adalah suatu pendidikan yang melatih perasaan

murid-murid dengan cara begitu rupa sehingga dalam sikap hidup, tindakan,

keputusan,

dan

pendekatan

mereka

terhadap

segala

jenis

pengetahuan,

mereka dipengaruhi sekali oleh nilai spritual dan sangat sadar akan nilai etis

Islam (Husain dan Ashraf, 1986 : 2), atau "Pendidikan Islam mengantarkan

manusia pada perilaku dan perbuatan manusia yang berpedoman pada syariat

Allah (Nahlawi, 1995 : 26).

20

Pendidikan Islam bukan sekedar "transfer of knowledge" ataupun

"transfer of training",

tetapi

lebih merupakan suatu sistem yang ditata di

atas pondasi keimanan dan kesalehan; suatu sistem yang terkait secara

langsung dengan Tuhan (Achwan, 1991 : 50). Pendidikan Islam suatu

kegiatan yang mengarahkan dengan sengaja perkembangan seseorang sesuai

atau sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Pendidikan merupakan sistem untuk meningkatkan kualitas hidup

manusia dalam segala aspek kehidupan. Dalam sejarah umat manusia, hampir

tidak ada kelompok manusia yang tidak menggunakan pendidikan sebagai

alat pembudayaan dan peningkatan kualitasnya. Pendidikan dibutuhkan untuk

menyiapkan anak manusia demi menunjang perannya di masa datang. Upaya

pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa memiliki hubungan yang

signifikan dengan rekayasa bangsa tersebut di masa mendatang. Dengan

demikian, "pendidikan merupakan sarana terbaik untuk menciptakan suatu

generasi baru pemuda-pemudi yang tidak akan kehilangan ikatan dengan

tradisi

mereka

sendiri

tapi

juga

sekaligus

tidak

menjadi

bodoh

secara

intelektual atau terbelakang dalam pendidikan mereka atau tidak menyadari

adanya perkembangan-perkembangan di setiap cabang pengetahuan manusia"

(Conference Book,London,1978 : 15-17).

Pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan

martabat manusia yang berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan selalu

berkembang, dan selalu dihadapkan pada perubahan zaman. Untuk itu, mau

tidak mau pendidikan harus didesain mengikuti irama perubahan tersebut,

21

apabila

pendidikan

tidak

didesain

mengikuti

irama

perubahan,

maka

pendidikan

akan

ketinggalan

dengan

lajunya

perkembangan

zaman

itu

sendiri.

Filosofi pendidikan Islam searah dengan seni yaitu hasil ungkapan

akal dan budi manusia dengan segala prosesnya. Seni merupakan ekspresi

jiwa seseorang. Hasil ekpresi jiwa tersebut berkembang menjadi bagian dari

budaya manusia. Seni identik dengan keindahan. Keindahan yang hakiki

identik

dengan

kebenaran.

Keduanya

memiliki

nilai

yang

sama

yaitu

keabadian. Benda-benda yang diolah secara kreatif oleh tangan-tangan halus

sehingga muncul sifat-sifat keindahan dalam pandangan manusia secara

umum, itulah sebagai karya seni.

Seni yang lepas dari nilai-nilai ketuhanan

tidak akan abadi karena ukurannya adalah

hawa nafsu bukan akal dan budi.

Seni mempunyai daya tarik yang selalu bertambah

bagi orang-orang yang

kematangan jiwanya terus bertambah. Di sinilah arti penting mengungkapkan

gagasan orisinil konsep Kesenian Profetik ke dalam wacana Filsafat Kesenian

dan implementasinya dalam Pendidikan Agama Islam.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di muka, ada 3 permasalahan

yang perlu dibahas.

1. Bagaimana paradigma berkesenian kontemporer?

2. Apakah

gagasan

seni

profetik

dimungkinkan

untuk

eksistensi seni dalam peradaban manusia?

ikut

mewarnai

22

3.

Bagaimana

implementasi

pendidikan Agama Islam?

C. Tujuan dan Kegunaan

gagasan

kesenian

profetik

ini

di

dalam

Dalam penelitian ini ada 2 tujuan yang ingin dicapai.

1. Melakukan kajian dan analisis falsafati di bidang filsafat kesenian, filsafat

Islam kontemporer dan menggagas kajian baru konsep kesenian profetik

dan implementasinya dalam pendidikan Islam.

2. Secara

teoritis

penelitian

ini

diharapkan

dapat

membuktikan

bahwa

penerapan

wacana

konsep

kesenian

profetik

dalam

wacana

filsafat

kesenian

dan

implementasinya

dalam

pendidikan

Islam

dapat

dikembangkan.

Penelitian ini ada 2 kegunaan yang ingin dicapai.

1. Lebih memperkaya dan menghasilkan wawasan baru cara berkesenian, dan

juga

secara langsung maupun

tidak langsung dapat

mengembangkan

wacana alternatif pengetahuan baru di bidang pendidikan.

2. Secara praktis penelitian ini diniatkan untuk menjawab keingintahuan

peneliti terhadap nuansa baru bagaimana kita dapat berkesenian dengan

bagus, baik dan benar sesuai dengan tujuan dan cita-cita luhur berkesenian

dalam filsafat seni yang telah dirumuskan oleh filosof-filosof pada abad

Yunani dan Romawi kuno.

23

D. Tinjauan Pustaka

Konsep atau gagasan, apalagi teori tentang seni profetik adalah sesuatu

ide yang dapat penulis katakan baru. Sebab, belum penulis dapatkan referensi

konsep maupun teoritisnya di lapangan pustaka. Untuk itu beberapa tinjauan

pustaka yang dapat diketengahkan di sini hanya sumber-sumber second,

maksudnya bukan sumber utama

yang penulis gunakan untuk melandasi ide

pemikiran tentang kesenian profetik. Beberapa sumber tersebut adalah sebagai

berikut.

Konsep

Kuntowidjojo

tentang

Ilmu

Sosial

Profetik

dalam

bukunya Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi. Bandung: Mizan.

1991). Kuntowidjojo dalam buku tersebut mengetengahkan sebuah tawaran

baru berupa gagasan konsep tentang Ilmu Sosial Profetik (ISP). Ilmu Sosial

Profetik

menurut

Kunto

tidak

hanya

menolak

klaim

bebas

nilai

dalam

positivisme tapi lebih jauh juga mengharuskan ilmu sosial untuk secara sadar

memiliki pijakan nilai sebagai tujuannya. Ilmu Sosial Profetik tidak hanya

berhenti pada usaha menjelaskan dan memahami realitas apa adanya tapi lebih

dari

itu

mentransformasikannya

menuju

cita-cita

yang

diidamkan

masyarakatnya. Ilmu Sosial Profetik kemudian merumuskan tiga nilai penting

sebagai pijakan yang sekaligus menjadi unsur-unsur yang akan membentuk

karakter

paradigmatiknya,

yaitu

humanisasi,

liberasi

dan

transendensi.

Beberapa

ciri

pokok

Sosiologi

profetik

adalah

sebagai

berikut

(http://agsasman3yk.wordpress.com/2010/05/15/sosiologi-profetik/ ):

24

a. Sosiologi profetik memiliki tiga nilai penting sebagai landasannya yaitu

humanisasi,

liberasi

dan

transendensi.

Ketiga

nilai

ini

di

samping

berfungsi kritik juga akan memberi arah, bidang atau lapangan penelitian.

b. Secara

epistemologis,

sosiologi

profetik

berpendirian

bahwa

sumber

pengetahuan itu ada tiga, yaitu realitas empiris, rasio dan wahyu. Ini

bertentangan dengan positivisme yang memandang wahyu sebagai bagian

dari mitos.

c. Secara metodologis sosiologi profetik jelas berdiri dalam posisi yang

berhadap-hadapan dengan positivisme. Sosiologi profetik menolak klaim-

klaim positivis seperti klaim bebas nilai dan klaim bahwa yang sah sebagai

sumber pengetahuan adalah fakta-fakta yang terindera. Sosiologi profetik

juga menolak kecenderungan ilmu sosial yang hanya menjelaskan atau

memahami realitas lalu memaafkannya. Sosiologi profetik tidak hanya

memahami tapi juga punya cita-cita transformatif (liberasi, humanisasi dan

transendensi). Dalam pengertian ini sosiologi profetik lebih dekat dengan

metodologi sosiologi kritik (teori kritik). Melalui liberasi dan humanisasi

sosiologi profetik selaras dengan kepentingan emansipatoris sosiologi

kritik. Bedanya sosiologi profetik juga mengusung transendensi sebagai

salah satu nilai tujuannya dan menjadi dasar dari liberasi dan humanisasi.

d. Sosiologi

profetik

memiliki

keberpihakan

etis

bahwa

kesadaran

(superstructure) menentukan basis material (structure).

25

Konsep Ilmu Sosial Profetik ini sangat dimungkinkan untuk kemudian

dikembangkan

paradigmanya

ke

seluruh cabang ilmu

pengetahuan yang

berwacana profetik, seperti salah satunya gagasan kesenian profetik.

Buku Kuntowidjojo. 2006. Maklumat Sastra Profetik. Yogyakarta:

Grafindo Litera Media. Maklumat sastra profetik adalah kelanjutan aplikasi

konsep Kuntowidjojo dalam Ilmu Sosial Profetiknya. Sebagai penggagas

paradigma

sosial

profetik Kuntowidjojo

secara konsisten

mengumumkan

bahwa karya-karya sastranya ia maklumatkan sebagai sebuah karya sastra

profetik.

Kuntowidjojo menyatakan bahwa Sastra Profetik mempunyai kaidah-

kaidah yang memberi dasar kegiatannya, sebab ia tidak saja menyerap,

mengekspresikan, tapi juga memberi arah realitas.

Kaidah-kaidah Sastra

Profetiknya adalah; strukturalisme transendental, sastra sebagai ibadah, dan

keterkaitan antar kesadaran.

Sastra Profetik adalah juga sastra dialektik,

artinya sastra yang berhadap-hadapan dengan realitas, melakukan penilaian

dan kritik sosial-budaya secara beradab. Oleh karena itu, Sastra Profetik

adalah sastra yang terlibat dalam sejarah kemanusiaan. la tidak mungkin

menjadi sastra yang terpencil dari realitas. Akan tetapi, sastra hanya bisa

berfungsi sepenuhnya bila ia sanggup memandang realitas dari suatu-jarak,

karena

itulah

lahir

ungkapan,

"sastra

lebih

luas

dari

realitas",

"sastra

membawa manusia keluar dari belenggu realitas", atau "sastra membangun

realitasnya sendiri". la adalah renungan tentang realitas. Realitas sastra adalah

realitas simbolis bukan realitas aktual dan realitas historis. Melalui simbol

26

itulah sastra memberi arah dan melakukan kritik atas realitas. Namun, Sastra

Profetik tidak bisa memberi arah serta melakukan kritik terhadap realitas

sendirian saja, tapi sebagai bagian dari collective intelligence. Dengan caranya

sendiri Sastra Profetik diharapkan menjadi arus intelektual terhormat, menjadi

sistem simbol yang fungsional, bukan sekadar trivialitas rutin sehari-hari dan

biasa-biasa saja (Kuntowidjojo, 2006 : 1-2).

Kuntowidjojo, ketika memaklumatkan karya-karya sastranya sebagai

sastra profetik secara tidak langsung dia menyatakan bahwa karya seninya

adalah sebuah kesenian profetik, sebab sastra adalah salah satu dari bagian

karya seni. Berdasarkan argumentasi ini, maka penulis ingin mengeneralisasi

gagasan sastra profetiknya menjadi konsep Kesenian Profetik di mana semua

karya seni bisa dibuat dan disebut sebagai karya seni profetik dengan kriteria

tertentu.

Buku Sidi Gazalba, 1988, Islam dan Kesenian, Relevansi Islam dan

Seni Budaya Karya Manusia, Pustaka Alhusna, Jakarta. Sidi Gazalba

dalam konsep Filsafat Islam menyatakan bahwa kedudukan seni dalam Islam

adalah dibagian wilayah kebudayaan, sedangkan kebudayaan sendiri bagian

dari Dien Islam. Dien Islam itu sempurna. Yang sempurna mengandung nilai

3B (Benar, Baik dan Bagus). Benar ada di wilayah ilmu dan agama (pen.

Islam), Baik di wilayah etika dan Bagus di wilayah estetika (seni). Sesuatu

yang benar akan sempurna kalau ia juga baik dan bagus. Dan sesuatu yang

bagus akan sempurna, kalau ia juga benar dan baik. Sesuatu dikatakan benar

kalau

sesuatu

itu

sesuai

dengan

obyeknya.

Sesuatu

itu

baik,

kalau

ia

27

mengandung nilai etik, dan sesuatu itu bagus, kalau ia mengandung nilai

estetis (Gazalba, 1988: 118). Sayangnya konsep ini masih mengandung hirarki

bahwa 3B ini kedudukan yang tertinggi adalah Benar (di atas) dan Baik

(bawah sebelah kanan) dan Bagus (bawah sebelah kiri) membentuk segitiga.

Bagi penulis konsep 3B ini seharusnya tidak mengandung hirarki, tetapi

bersifat holistik, saling bersinergi dan bertauhid.

Berdasar konsep tersebut, yang penulis sepakati darinya adalah bahwa

seni mesti mempunyai wajah bermakna dan bertujuan yang bagus/indah, baik

dan benar. Seni tidak bebas nilai.

moral.

Seni Islam syarat dengan nilai, etika atau

Apa itu seni Islam? Gazalba menyatakan bahwa definisi Seni Islam

adalah ciptaan bentuk yang mengandung nilai estetik yang berpadu dengan

nilai etik Islam. Dengan demikian seni Islam sebagai karya dilahirkan oleh

akhlaq Islamiyah dan dinilai dengan akhlaq Islamiyah juga. Akhlaq adalah

sikap rohaniah yang melahirkan laku perbuatan manusia terhadap Allah,

manusia dengan manusia, terhadap diri sendiri dan makhluk lain yang sesuai

dengan suruhan dan larangan serta petunjuk Alqur’an dan hadits (Gazalba,

1988 : 122).

Seni Islam adalah seni yang melahirkan karya-karya seni yang bersifat

baik dan positif yang sesuai dengan etika dan akhlaq Islam. Seni Islam tidak

mentolerir seni yang negatif, maksudnya yang mengandung nilai-nilai amoral,

asusila,

kekerasan,

pornografi,

pornoaksi,

fitnah,

ketidakbenaran,

28

ketidakadilan, dan sebagainya. Demikian pula, seni Islam tidak sepaham

dengan seni untuk seni semata yang menyatakan seni adalah bebas nilai.

Buku

A.

Khudori

Soleh,

2004,

Wacana

Baru

Filsafat

Islam,

Pustaka Pelajar, Yogjakarta. Buku Khudori, Wacana Baru Filsafat Islam

khususnya dalam bab pemikiran M. Iqbal (1877-1938 M) halaman 299-315,

penulis jadikan salah satu pijakan untuk melandasi gagasan kesenian profetik

yaitu konsep pemikiran Iqbal mengenai seni dan keindahan yang mengikuti

arus konsep seni fungsional.

Teori

estetika

ekspresi

dibagi

menjadi

dua,

yaitu

teori

estetika

subyektif dan teori estetika obyektif. Teori estetika subyektif diamini oleh

beberapa filosof; Freud, Robert Vischer, Lipps, Volkelt, Schiller, Herbert

Spencer, Karl Groos, Konkad Lange dan Croce. Menurut kelompok ini, meski

dengan sedikit perbedaan sudut pandang, apa yang disebut keindahan sangat

ditentukan oleh pihak penanggap, subyek yang melihat, karena pengaruh

emosi, empati atau yang lain terhadap sebuah obyek. Kebalikannya adalah

teori estetika obyektif yang menyatakan

bahwa keindahan terletak pada

kualitas obyek, ada pada tenaga kehidupannya sendiri, lepas dari pengaruh

subyek

yang menanggap.

Teori ini antara

lain diberikan oleh

Plotinus.

Menurutnya,

dunia ini indah

karena

merupakan ekspresi kehidupan ruh

universal, dan semua makhluk hidup adalah indah karena ia mengekspresikan

kehidupannya sendiri (Syarif, 1993:101-102, The Liang Gie, 1996:49).

Menurut Syarif (Syarif, 1993:99),

teori estetika Iqbal masuk dalam

kategori teori estetika obyektif, sebab bagi Iqbal, keindahan adalah kualitas

29

benda (obyek) yang diciptakan oleh ekspresi “ego-ego” mereka sendiri. Untuk

memperoleh keindahan, ego tidak berhutang pada jiwa penanggap, subyek,

melainkan pada tenaga kehidupannya sendiri. Perbedaannya dengan Plotinus

terletak pada konsep tentang kehidupannya. Menurut Plotinus, hidup pada

dasarnya bersifat rasional, sedang bagi Iqbal, kehidupan bersifat sukarela,

sehingga harus ada kreativitas untuk menjadi bermakna. Karena itu bagi Iqbal,

dunia bukan sesuatu yang hanya dilihat atau dikenal lewat konsep-konsep

tetapi sesuatu yang harus dibentuk lagi lewat tindakan-tindakan nyata (Iqbal,

1981:158).

Gagasan

Iqbal

dalam

pemikiran

filsafat

disebut

sebagai

estetika

vitalisme, yakni keindahan merupakan ekspresi ego-ego dalam kerangka

prinsip-prinsip universal dari suatu dorongan hidup yang berdenyut di balik

kehidupan, sehingga harus juga memberikan kehidupan baru atau memberikan

semangat hidup bagi lingkungannya (Mudhaffir, 1988:100, Bagus, 1996:1159,

Tim Rosda, 1995:365-5). Lebih jauh Iqbal menginginkan bahwa ego-ego

tersebut harus mampu memberikan “hal baru” dalam kehidupan. Dengan

mencontoh sifat-sifat Tuhan dalam penyempurnaan kualitas dirinya, manusia

harus mampu menjadi manusia terbaik seperti yang dikehendaki Tuhan. Di

sinilah hakekat pribadi dan kebanggaan manusia di hadapan Tuhan (Iqbal,

1987:8).

Iqbal menolak konsep dan gerakan seni anti-fungsionalisme seperti

konsep atau gerakan “seni untuk seni” (L’art pour L’art) yang dipelopori

kaum romantisme; Flaubert, Gauter, Baudelaire, Walter Peter, Oscar Wilde,

30

Pushkin dan Edgar Allan Poe yang menyatakan bahwa seni tidak mempunyai

tujuan di luar dirinya, karena ia adalah tujuan itu sendiri (Syarif, 1993:114-

115). Iqbal juga menolak konsep “bentuk untuk bentuk” yang berasal dari

membedakan kandungan dan bentuk seni yang menyatakan bahwa kandungan

seni

tidak

mempunyai

nilai

menimbulkan efek artistik.

estetika,

tetapi

hanya

sekedar

alat

untuk

Apa yang disampaikan lewat seni, baik atau

buruk, benar atau salah, sesuai dengan hukum atau tidak, tidak menjadi

masalah

dan

tidak

berpengaruh

pada

nilai

seni;

yang

penting

adalah

bagaimana penyampaiannya, pada bentuknya (Soleh, 2004:307).

Bagi Iqbal,

seni tanpa kandungan emosi, kemauan dan gagasan-gagasan tidak lebih dari

api yang telah padam. Sesuai dengan konsep-konsep tentang kepribadian,

kemauan adalah sumber utama dalam pandangan seni Iqbal, sehingga seluruh

isi seni—sensasi, perasaan, sentimen, ide-ide, ideal-ideal—harus muncul dari

sumber ini. Seni tidak sekedar gagasan intelektual atau bentuk-bentuk estetika

melainkan

pemikiran

yang

dibumbui

emosi

dan

mampu

menggetarkan

manusia. Tegasnya, dalam pandangan Iqbal, seni adalah ekspresi-diri sang

seniman (Syarif, 1993:133).

Gagasan seni Iqbal yang mengikuti faham fungsional seni tentunya

juga mempunyai kriteria fungsional seni, beberapa kriteria fungsional seni

Iqbal adalah; Seni harus menciptakan kerinduan pada hidup abadi, seni harus

membina manusia, dan seni harus membuat kemajuan sosial.

Disebutkan

dalam fungsi seni Iqbal yang ketiga, yaitu seni harus membuat kemajuan

sosial, Iqbal menyatakan bahwa seorang seniman adalah mata bangsa, bahkan

31

ia adalah nurani terdalam suatu bangsa. Dengan kekuatan kenabian, seniman

dapat meninggikan bangsa dan mengantarkannya ke arah kebesaran demi

kebesaran

yang

lebih

tinggi.

Apa

nilai

karya

seni

jika

tidak

dapat

membangkitkan badai emosional dalam masyarakat? (Syarif, 1993:128).

Buku,

Muhammad

Iqbal,

1966,

Pembangunan

Kembali

Alam

Pikiran Islam (The Reconstruction of Religious Thought In Islam), alih

bahasa Osman Raliby, Jakarta: Bulan Bintang. Etika Profetik Iqbal yang

menjadi landasan konsep Ilmu Sosial Profetik Kuntowidjojo wajib penulis

paparkan sebagai pijakan utama gagasan kesenian profetik di samping konsep

Ilmu Sosial Profetiknya Kuntowidjojo.

Iqbal memaknai etika kenabian (profetik) sebagai etika transformatif.

Iqbal menceritakan kata-kata Abdul Quddus, seorang mistikus Islam dari

Ganggah,

Muhammad dari

jaziratul

Arab

telah

mi’raj

ke langit

yang

setinggi-tingginya dan kembali. Demi Allah, aku bersumpah bahwa jika

sekiranya aku sampai mencapai titik itu, pastilah aku sekali-kali tidak hendak

kembali lagi”, ujarnya. Sang mistikus tampaknya tidak memiliki kesadaran

sosial. Baginya keasyikan dan keterlenaan dalam pengalaman mistis adalah

tujuan, sehingga ia tidak hendak kembali dan melihat realitas, menghadapi

kenyataan. Nabi bukanlah seorang mistikus. Nabi adalah seorang manusia

pilihan yang sadar sepenuhnya dengan tanggung jawab sosial. Kembalinya

sang

Nabi

adalah

kreatif.

Sehebat

apapun

pengalaman

spiritual

yang

dijalaninya, seorang nabi tidak pernah terlena. Ia kembali memasuki lintasan

ruang

dan

waktu

sejarah,

hidup

dan

berhadapan

dengan

realitas

sosial

32

kemanusiaan dan melakukan kerja-kerja transformatif. Seorang nabi datang

dengan membawa cita-cita perubahan dan semangat revolusioner (Iqbal, 1996

: 145). Inilah yang disebut etika profetik.

Keneth

Boulding,

seorang

filosof

dan

ekonom

besar

AS,

mempopulerkan istilah agama profetik dan agama kependetaan. Pada mulanya

agama-agama besar seperti Islam, Yahudi

dan Kristen

bersifat

profetik,

menggerakkan

perubahan-perubahan

besar.

Agama

menjadi

kekuatan

transformatif. Tapi kemudian, setelah melembaga, agama lalu menjadi rutin,

dan bahkan menjadi kekuatan konservatif, bersifat kependetaan.

Etika profetik seperti inilah yang mendasari lahirnya Ilmu Sosial

Profetik Kuntowidjojo. Ilmu Sosial Profetik dimunculkan sebagai alternatif

kreatif di tengah konstelasi ilmu-ilmu sosial yang cenderung positivistis dan

hanya berhenti pada usaha untuk menjelaskan atau memahami realitas untuk

kemudian

memaafkannya.

Ilmu

sosial

seyogyanya

menjadi

kekuatan

intelektual dan moral. Karenanya, ilmu sosial seharusnya tidak berhenti hanya

menjelaskan realitas atau fenomena sosial apa adanya, namun lebih dari itu,

melakukan tugas transformasi. Jadi, tujuannya lebih pada usaha untuk proses

transformasi sosial. Ilmu sosial tidak boleh tinggal diam, value neutral, tapi

berpihak. Dengan semangat inilah Ilmu Sosial Profetik digulirkan. Ilmu Sosial

Profetik ingin tampil sebagai ilmu sosial yang tidak hanya menjelaskan

realitas sosial dan mentransformasikannya, tapi sekaligus memberi petunjuk

ke arah mana transformasi itu dilakukan dan untuk tujuan apa. Ilmu Sosial

Profetik tidak sekedar merubah demi perubahan itu sendiri tapi merubah

33

berdasarkan cita-cita etik dan profetik tertentu (Kuntowidjojo, 1991 : 288-

289). Kesenian yang termasuk bagian dari ilmu sosial tidak kalah pentingnya

untuk mengambil bagian dalam merubah masyarakat dunia ke arah yang

positif; kebenaran, kebaikan, keadilan, kesejahteraan, kebahagiaan dengan

cara-cara yang indah. Seni profetik seperti itulah yang saat ini menjadi

 

gagasan penulis.

E.

Kerangka Teori

Pemakaian teori dalam penelitian kualitatif agak berbeda dengan jenis

penelitian kuantitatif. Kerangka teoretis dalam penelitian kualitatif ini semata-

mata bukan untuk menguji maupun membuktikan teori, tetapi sebagai alat untuk

memaknakan realitas dan data yang tengah dihadapi dan dikaji agar mampu

menganalisis dengan penuh kritik (Strauss, 1990: 23).

Penulis

dengan

pendekatan

multidisipliner

mencoba

mengetengahkan

beberapa teori yang diharapkan dapat membangun gagasan (konsep) baru atau

memodifikasi teori berdasarkan pada data yang telah dikumpulkan dan dianalisis.

Beberapa kerangka teori yang penulis ketengahkan mencakup: teori induk Parsons

mengenai sistem sosial (social system), teori aksi (action theory), dan teori

fungsional. Pemakaian teori-teori di atas dengan pertimbangan bahwa satu dengan

lainnya

saling

melengkapi

atau

menunjukkan

misalnya

hubungan

menunjang.

Komplementasi

itu

dapat

sistem

kebudayaan

(dari

sistem

Parsons)

sebagai sistem symbol kreasi seni, yang relasinya bersifat horizontal sebagai

perilaku manusia yang telah membudaya di dalamnya adalah hasil tindakan aktif-

34

kreatif atau aksi manusia atau individu sebagai aktor (seniman). Oleh karena itu

tindakan

aktif

kreatif

akan

dimaknakan

dengan

teori

aksi

(action

theory).

Kesatuan sistem hubungan sosial (dalam hal ini kesenian dan pendidikan Islam)

ini menjadi semacam sistem “ritual” dalam sinergisitas karya seni dengan sistem

diluarnya, dan sekaligus berfungsi sebagai suatu sistem yang dapat meningkatkan

kesadaran

akan

nilai

dan

makna

tujuan

seni,

dan

dapat

mempertahankan

keseimbangannya (fungsionalisme struktural).

a. Teori Sistem

Berdasarkan ide yang diketengahkannya dalam The Social System (Parsons,

1951),

Parsons

menerangkan

seluruh

pengertian

perilaku

manusia

(sistem

bertindak) merupakan sistem yang hidup, sehingga terdapat sistem-sistem yang

saling tergantung yaitu sistem kebudayaan (cultural system), sistem sosial (social

system),

sistem

kepribadian

(personality),

dan

(behavioural

organism).

Masing-masing

sistim

sistem

organisme

perilaku

itu

mampu

memperlakukan

sebagai sistim yang mempunyai prasyarat fungsional sistim bertindak (action

system). Istilah Parsons yang terkenal menggunakan skema AGIL, yaitu empat

fungsi primer yang dapat dirangkaikan dengan seluruh sistem yang hidup. Sistem

organisme perilaku memenuhi kebutuhan yang bersifat penyesuaian (Adaptation),

diberi singkatan A; sistem kepribadian memenuhi kebutuhan pencapaian tujuan

(Goal attainment), disingkat G; sistem sosial adalah sumber integrasi (Inter

gration), disingkat I; dan sistem kebudayaan mempertahankan pola-pola yang ada

dalam sistem (Latent pattern-maintenance), disingkat L (Ritzer, 1996: 99-100).

35

Berangkat dari teori Parsons yang cukup kompleks ini, maka sebagaimana

sistem yang lain, sistem kebudayaan yang secara konseptual ditegaskan sebagai

sistem simbol, empat kebutuhan fungsional (AGIL) itu harus terpenuhi juga.

Dalam sistem kebudayaan kebutuhan adaptation dipenuhi melalui sub-sistem

simbol kognitif (Cognitive symbolization) yang bentuk kongkritnya berwujud

ilmu pengetahuan atau dasar perilaku kognitif; goal attainment melalui simbol

ekspresif

(expressive

symbolization),

bentuk

kongkritnya

berupa

perbuatan

ekspresif dalam karya seni dan komunikasi simbolik yang lain; integration

dipenuhi

melalui

beberapa

simbol

moral

(Moral

symbolization),

bentuk

kongkritnya berupa ketentuan normatif dalam etika, adat sopan-santun atau tata-

krama pergaulan; dan latent pattern-maintenance diselesaikan melalui simbol

konstitutif

(Constitutive

symbolization)

yang

bentuk

kongkritnya

berupa

kepercayaan atau dasar dan inti perilaku berkesenian. (Waters, 1994: 142-151;

Bachtiar, 1985: 66).

Prinsip

karya

seni

dengan

konsepnya

yang

disebut

living

form

dan

expressive oleh Langer (1953: 40-46), merupakan ekspresi pengalaman manusia

berupa bentuk simbolis, berisi perasaan, dan betul-betul komunikatif. Sudiarja

(1983: 69-81) ketika membahas teorinya Langer, mengemukakan bahwa makna

simbol

ekspresif

(seni)

sebagai

suatu

abstraksi,

merupakan

bentuk

kreasi,

memiliki vitalitas artistik yang utuh. Berbagai macam bentuk simbol seni tidak

hanya menyampaikan "makna" atau meaning untuk dimengerti, tetapi lebih

sebagai suatu "pesan" atau import untuk diresapkan. Pengertian "makna" kadang-

kadang hanya diartikan sebagai suatu persoalan atau masalah yang hanya dapat

36

"dimengerti" atau "tidak dimengerti" saja, seperti misalnya dalam bahasa. Tetapi

pengertian "pesan" harus ditangkap secara lebih dalam dan luas, terutama dalam

memahami "pesan" terhadap simbol ekspresif atau seni, orang biasanya dapat

tersentuh secara mendalam dari hakikat "pesan" itu.

b. Teori Aksi

Fenomena proses inkulturasi yang terjadi di daerah ini adanya hasil tindakan

aktif-kreatif atau aksi manusia atau individu sebagai aktor. Untuk memaknakan

gejala

itu,

dipahami

dengan

teori

aksi

atau

tindakan

(action

theory)

yang

dikembangkan oleh Parsons dengan mengikuti karya Weber (Ritzer, 1985: 52-58).

Menurut Parsons dengan mengemukakan konsep voluntarism, yaitu kesukarelaan

individu atau aktor melakukan tindakan (volunteering/or action) dalam arti

menetapkan cara atau alat dari sejumlah alternatif yang tersedia, dalam rangka

mencapai tujuan (Waters, 1994: 40-42). Aktor dalam hal ini seniman, adalah

pelaku aktif dan kreatif, serta mempunyai kemampuan menilai dan memilih dari

alternatif tindakannya. Seniman yang kebanyakan mempunyai kebebasan, pasti

masih juga dibatasi oleh kondisi, norma, dan nilai-nilai serta situasi penting

lainnya dalam berkarya, seperti kondisi situasional lingkungan budaya, tradisi,

agama,

tetapi dibalik itu aktor adalah manusia aktif, kreatif dan evaluatif.

Beberapa asumsi dasar tindakan aktif, kreatif dan evaluatif ini menurut Parsons

(Ritzer, 1980: 92) antara lain:

1. Tindakan manusia atau aksi muncul dari kesadarannya sendiri sebagai subyek,

dan dari situasi eksternal dalam posisinya sebagai obyek.

37

2.

Sebagai subyek manusia bertindak atau berperilaku untuk mencapai tujuan-

tujuan tertentu. Jadi tindakan manusia atau aksi bukan tanpa tujuan.

 

3.

Dalam bertindak, manusia menggunakan cara, tehnik, prosedur / metode, serta

instrumen yang diperkirakan cocok untuk mencapai tujuan tersebut.

 

4.

Kelangsungan tindakan manusia hanya dibatasi oleh kondisi yang tak dapat

diubah dengan sendirinya atau circumstances.

 

5.

Manusia memilih, menilai dan mengevaluasi terhadap tindakan yang akan,

sedang dan yang telah dilakukannya.

 

6.

Ukuran-ukuran, aturan-aturan atau prinsip-prinsip moral diharapkan timbul

pada saat pengambilan keputusan.

 

7.

Studi antar hubungan sosial memerlukan pemakaian tehnik penemuan yang

bersifat

subyektif

seperti

metode

verstehen,

imajinasi,

sympathetic

reconstruction atau seakan-akan mengalami sendiri (vicarious experience).

c.

Teori Fungsional

 

Kesadaran religiusitas atau persoalan agama dan masyarakat tak luput

dari pembicaraan kaum fungsionalis. Parsons (1967), termasuk pengikut

fungsionalis,

memandang

sumbangan

agama

terhadap

kebudayaan

berdasarkan

arti

pentingnya,

yaitu

sesuatu

yang

mentransendensikan

pengalaman (referensi transendental); sesuatu yang berada di luar dunia

empiris (O'Dea, 1995: 7). Berdasarkan pandangan seperti itu, maka fenomena

kesadaran religiusitas dalam realitas sosial ini dipahami dengan konsep

fungsional

dari

kerangka

teori

fungsionalisme

struktural.

Teori

ini

38

memandang bahwa masyarakat

sebagai suatu sistem

sosial, terdiri dari

bagian-bagian yang satu dengan lainnya saling berkaitan dan saling menyatu

dalam keseimbangan (equilibrium). Perubahan dari salah satu bagian akan

mempengaruhi kondisi sistem keseluruhan (Ritzer, 1980: 25-30). Dalam hal

ini agama termasuk “ritual” seniman berkarya seni di dalamnya sebagai salah

satu bentuk perilaku manusia yang telah terlembaga, adalah bagian dari

keseluruhan sistem sosial/ dan berfungsi bagi masyarakat khususnya sebagai

pengintegrasi. Maka persoalan kesadaran religiusitas yang ada dalam realitas

sosial ini, dari pandangan fungsionalis akan muncul pertanyaan, bagaimana

fungsi lembaga agama dapat meningkatkan kesadaran religiusitas seniman,

sehingga dapat memelihara atau mempertahankan keseimbangan seluruh

sistem

sosial?

Dengan

konsep

fungsi

yang

biasa

dipakai

dalam

teori

fungsionalisme struktural, maka pertanyaan "fungsional" itu jawabannya

adalah, aksioma teori ini ialah segala sesuatu yang tidak berfungsi (disfungsi)

akan lenyap dengan sendirinya. Karena kesadaran religiusitas yang ada sejak

dulu sampai sekarang masih cukup tinggi, maka dapat dikatakan bahwa

agama mempunyai fungsi, atau bahkan memerankan sejumlah fungsi.

Berdasarkan ketiga teori yakni; teori sistem, teori aksi dan teori

fungsional, kita dapat memahami bahwa kesenian dengan karya seninya layak

mempunyai nilai-nilai, makna dan tujuan berkesenian. Seni untuk seni yang

bebas nilai ditepis dalam teori-teori tersebut. Di samping beberapa teori

tersebut berpijak dari beberapa konsep seperti Seni untuk masyarakat, konsep

seni

Islam

Sidi

Gazalba,

Ilmu

Sosial

Profetik

dan

Sastra

Profetiknya

39

Kuntowidjojo yang dilandasi etika profetik Iqbal, serta gerakan teologi

profetik, penulis dengan optimis menyatakan bahwa gagasan Seni Profetik

dan implementasinya dalam pendidikan Islam ini sangat relevan untuk digali

dan dikembangkan.

Karya seni untuk masyarakat dalam kritik seni pada umumnya disebut

tendenszkunst, yaitu “seni berpihak” atau seni bertendensi atau juga l’art

engagee (seni berisi). Seni untuk masyarakat ini sering dipertentangkan atau

berseberangan dengan l’art pour l’art atau “seni untuk seni” (Ratna, 2007 :

360).

Sebagai

medium

komunikasi,

mengandung

tujuan.

Komunikasi

yang

semua

bentuk

ekspresi

jelas

bermakna

ditunjukkan

melalui

relevansinya dalam menghubungkan antara pengirim dan penerima, penulis

dan pembaca, subyek dan obyek. Perbedaannya, seberapa jauh tujuan-tujuan

tersebut dapat dikategorikan sebagai memiliki tendensi tertentu, sehingga

mendominasi

nilai-nilai

estetikanya.

Dengan

menunjuk

bahasa

sebagai

medium komunikasi utama, maka justru dalam bahasalah terkandung tujuan-

tujuan tersebut sebab bahasa telah mewakili jamannya, bukan semata-mata

pengarangnya.

Dengan

mempertimbangkan

bahwa

karya

seni

mesti

bermanfaat,

maka

pada

dasarnya

semua

karya

seni

mesti

mengandung

tendensi tertentu. Dengan kata lain, tidak ada karya seni yang diciptakan

semata-mata demi kepentingan karya seni itu sendiri (Ratna, 2007 : 361).

Menurut Kutha Ratna, pada dasarnya seni untuk seni tidak berbeda

dengan seni untuk masyarakat, dengan syarat karya seni itu ditujukan untuk

40

keseluruhan

individu,

yaitu

para

seniman

itu

sendiri,

termasuk

para

partisipannya, bukan pengarang secara individual. Masalah yang dihindarkan

dalam pemahaman seni untuk seni adalah karya yang semata-mata dipahami

oleh pengarangnya. Hasil kreativitas seperti ini jelas tidak berfungsi untuk

menopang perkembangan kebudayaan secara keseluruhan. Bahkan sebaliknya

aktivitas tersebut cenderung dianggap sebagai suatu kemunduran, sebab sama

sekali tidak memiliki relevansi untuk kepentingan masyarakat. Artinya, seni

sebenarnya tidaklah bebas nilai. (Ratna, 2007 : 363).

Ilmu

Sosial

Profetik

Kuntowidjojo,

seperti

konsep

seni

untuk

masyarakat, tidak hanya menolak klaim bebas nilai dalam positivisme tapi

lebih jauh juga mengharuskan ilmu sosial (termasuk di sini seni) untuk secara

sadar memiliki pijakan nilai sebagai tujuannya. Ilmu Sosial Profetik dan juga

seni profetik tidak hanya berhenti pada usaha menjelaskan dan memahami

realitas apa adanya tapi lebih dari itu mentransformasikannya menuju cita-cita

yang

diidamkan

masyarakatnya.

Kongkretnya,

Kuntowidjojo

seorang

budayawan

sekaligus

seniman

--tepatnya

sastrawan—dalam

pesan

yang

disebutnya “Maklumat Sastra Profetik” menyatakan bahwa karya seninya

yang berbentuk sastra ia nyatakan sebagai Sastra Profetik. Secara tidak

langsung

dia

mengetengahkan

kesenian

profetik

dalam

karya

sastranya

walaupun secara langsung dia belum memunculkan konsep kesenian profetik

secara konsepsi dan teoritis. Kuntowidjojo hanya membahas karya seninya

yang berupa sastra, ia sebut sebagai sastra profetik.

41

Bersama ini saya kirimkan naskah “Maklumat Sastra Profetik” meskipun terlalu panjang untuk format majalah. Karena itu, mohon jangan merasa di-fait accompli dan dipaksakan pemuatannya. Anggap saja kiriman ini sebagai pemberitahuan bahwa saya sudah menulisnya. Semua itu saya kerjakan karena saya terlanjur dikabarkan – terutama lewat Horison sebagai penganjur Sastra Profetik. Dan, saya merasa “berdosa” kalau tidak saya kirim ke Horison terlebih dahulu. Sekali lagi, jangan segan-segan untuk tidak memuat. Mohon berita lewat telepon 0274-881- XXX, terutama selepas pukul 08.00 malam. (Imron, 2005 : 178-192).

Karya

“Maklumat

Sastra

Propetik”

nya,

barangkali

karya

Kuntowidjojo

yang

terakhir

kepada

Redaksi

Horison

dengan

tanggal

1

Februari 2005. Karena tiga minggu kemudian, Kuntowidjojo wafat. Karangan

yang

berisi

maklumat

Kuntowidjojo

yang

berjudul

“Maklumat

Sastra

Profetik” itu ternyata dimuat dalam Horison No. 5 terbitan bulan Mei 2005

bersama dengan tulisan-tulisan lain “obituari” tentang Kuntowidjojo. Tulisan

itu dimuat tentu bukan karena penulisnya meninggal, tetapi memang karena

penting

agar

orang

bisa

lebih

memahami

kesastrawanan

Kuntowidjojo,

lengkap dengan argumentasinya. Sekali lagi, “Maklumat Sastra Propetik”

Kuntowidjojo

secara tidak

langsung telah

menyumbangkan

gagasan dan

konsepsi kesenian profetik.

Selebihnya

Kuntowidjojo

merumuskan

kaidah

sastra

propetiknya

sebagai berikut:

Sastra Profetik mempunyai kaidah-kaidah yang memberi dasar kegiatannya, sebab ia tidak saja menyerap, mengekspresikan, tapi juga memberi arah realitas. Sastra Profetik adalah juga sastra dialektik, artinya sastra yang berhadap-hadapan dengan realitas, melakukan penilaian dan kritik sosial-budaya secara beradab. Oleh karena itu, Sastra Profetik adalah sastra yang terlibat dalam sejarah kemanusiaan. la tidak mungkin menjadi sastra yang terpencil dari realitas. Akan tetapi, sastra hanya bisa berfungsi sepenuhnya bila ia sanggup memandang realitas dari suatu-jarak, karena itulah lahir ungkapan, "sastra lebih luas dari realitas", "sastra membawa manusia keluar dari belenggu realitas", atau "sastra membangun

42

realitasnya sendiri". la adalah renungan tentang realitas. Realitas sastra adalah realitas simbolis bukan realitas aktual dan realitas historis. Melalui simbol itulah sastra memberi arah dan melakukan kritik atas realitas. Namun, Sastra Profetik tidak bisa memberi arah serta melakukan kritik terhadap realitas sendirian saja, tapi sebagai bagian dari collective intelligence. Dengan caranya sendiri Sastra Profetik diharapkan menjadi arus intelektual terhormat, menjadi sistem simbol yang fungsional, bukan sekadar trivialitas rutin sehari-hari dan biasa-biasa saja. (Kuntowidjojo, 2006 : 2)

Rumusan yang lain yaitu mengenai “Etika Profetik” Kuntowidjojo

menyatakan bahwa Sastra Profetik adalah sastra demokratis. la tidak otoriter

dengan memilih satu premis, tema, teknik, dan gaya (style), baik yang bersifat

pribadi

maupun

yang

baku.

Dahulu,

di

negeri-negeri

yang

terpengaruh

Komunisme menurutnya sastra memilih realisme sosialis dengan agresif, dan

berusaha memadukan aliran lain, ada bureaucratization of the imaginative.

Keinginan Sastra Profetik hanya sebatas bidang etika, itu pun dengan sukarela,

tidak memaksa.

Etika itu disebut "profetik" karena ingin meniru perbuatan Nabi, Sang

Prophet. Asal-usulnya etika profetik Kuntowidjojo adalah berpijak pada etika

profetiknya

Muhammad

Iqbal

yang

terdapat

dalam

bukunya

berjudul

Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam” mengutip ungkapan

seorang sufi yang mengagumi Nabi dalam peristiwa Isra'-Mi'raj. Meskipun

Nabi telah mencapai tempat paling tinggi yang menjadi dambaan ahli mistik,

tapi kembali ke dunia juga untuk menunaikan tugas-tugas kerasulannya.

Demikianlah, gagasan Kuntowidjojo dalam karya sastranya tersebut

perlu

ditindaklanjuti

dengan

memperluas

kasanahnya

di

dalam

konsep

43

berkesenian,

yakni

konsep

Kesenian

Profetik,

inilah

yang

penulis

coba

ketengahkan.

Pendidikan

merupakan

bagian

vital

dalam

kehidupan

manusia.

Pendidikan

(terutama

Islam)

dengan

berbagai

coraknya-

berorientasi

memberikan

bekal

kepada

manusia

(peserta

didik)

untuk

mencapai

kebahagiaan

dunia dan akhirat.

Oleh karena itu,

semestinya

pendidikan

(Islam) selalu diperbaharui konsep dan aktualisasinya dalam rangka merespon

perkembangan zaman yang selalu dinamis dan temporal, agar peserta didik

dalam pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada kebahagiaan hidup

setelah mati (eskatologis); tetapi kebahagiaan hidup di dunia juga bisa diraih.

Dalam kenyataannya, di kalangan dunia Islam telah muncul berbagai isu

mengenai krisis pendidikan dan problem lain yang amat mendesak untuk

dipecahkan (Syed Sajjad Husein & Syed Ali Ashraf, 1986). Lebih dari itu,

Isma’il Raji Al-Faruqi mensinyalir bahwa didapati krisis yang terburuk dalam

hal pendidikan di kalangan dunia Islam. Inilah yang menuntut agar selalu

dilakukan pembaharuan (modernisasi) dalam hal pendidikan dan segala hal

yang terkait dengan kehidupan umat Islam (Faruqi, 1988 : 7).

Pada persoalan kurikulum keilmuan misalnya, selama ini pendidikan

Islam

masih

sering

hanya

dimaknai

secara

parsial

dan

tidak

integral

(mencakup berbagai aspek kehidupan), sehingga peran pendidikan Islam di

era

global

sering

dipertanyakan.

Masih

terdapat

pemahaman

dikotomis

keilmuan dalam pendidikan Islam. Pendidikan Islam sering hanya difahami

sebagai pemindahan pengetahuan (knowledge) dan nilai-nilai (values) ajaran

44

Islam yang tertuang dalam teks-teks agama, sedangkan ilmu-ilmu sosial

(social sciences guestiswissenchaften) dan ilmu-ilmu alam (nature sciences/

naturwissenchaften) dianggap pengetahuan yang umum (sekular). Padahal

Islam

tidak

pernah

mendikotomikan

(memisahkan

dengan

tanpa

saling

terkait)

antara

ilmu-ilmu

agama

dan

umum.

Semua

ilmu

dalam

Islam

dianggap

penting

asalkan

berguna

bagi

demikian juga kebudayaan dan kesenian.

kemaslahatan

umat

manusia,

Pendidikan Seni Islam menurut Sidi Gazalba juga memiliki ranah

yang penting di dalam wacana keilmuan, bahkan estetika/seni menjadi salah

satu unsur dari nilai kebijaksanaan universal sejajar dengan ilmu, agama dan

etika (Gazalba, 1988:65). Namun perlu diakui hingga saat ini kebanyakan

ulama

masih

berpendapat

negatif

terhadap

kesenian

ini.

Hal

ini

perlu

diluruskan

kebenarannya bagaimana sebenarnya

konsep pendidikan seni

dalam Islam.

Tujuan

pendidikan

dalam

Islam

menurut

Naquib Al-attas,

harus

mewujudkan manusia yang baik, yaitu manusia universal (Al-Insan Al-

Kamil).

Insan

kamil

yang

dimaksud

adalah

manusia

yang

bercirikan:

pertama;

manusia

yang

seimbang,

memiliki

keterpaduan

dua

dimensi

kepribadian; a) dimensi isoterik vertikal yang intinya tunduk dan patuh

kepada Allah dan b) dimensi eksoterik, dialektikal, horisontal, membawa misi

keselamatan bagi lingkungan sosial alamnya. Kedua; manusia seimbang

dalam kualitas pikir, zikir dan amalnya (Achmadi, 1992: 130). Maka untuk

menghasilkan

manusia

seimbang

bercirikan

tersebut

merupakan

suatu

45

keniscayaan adanya

upaya maksimal

dalam mengkondisikan

lebih dulu

paradigma pendidikan yang terpadu termasuk di dalamnya kesenian dan

implementasinya dalam pendidikan Islam.

F. Metode Penelitian

Untuk

mengetahui

dan

meneliti

kelayakan

gagasan

baru

konsep

kesenian prophetik dalam wacana filsafat kesenian, peneliti menggunakan

metode kualitatif dengan lebih banyak melakukan kajian pustaka.

Obyek

penelitian, sumber data, metode pengumpulan data, dan teknik analisis data

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Obyek Penelitian

Obyek dalam penelitian ini adalah konsep-konsep tentang ilmu kesenian,

yaitu seni, estetika, filsafat seni, Filsafat Islam, pendidikan Islam dan multi

disiplin ilmu yang melingkupinya.

2. Sumber Data dan metode pengumpulannya

Penelitian ini menggunakan data pustaka yang diklasifikasikan dalam dua

kategori, yaitu: sumber data primer dan sumber data sekunder.

Sumber

data primer adalah daftar pustaka yang secara langsung membahas konsep-

konsep ilmu kesenian, ilmu keislaman dan data sekunder adalah daftar

pustaka yang secara tidak langsung melingkupi wacana kesenian dan

keislaman yang bersifat berwujud multi disipliner.

46

3. Teknik Analisis Data

Penulisan tesis ini ditulis dengan menggunakan kajian literatur atau

kepustakaan yang bersifat deskriptif komparatif dengan sudut pandang

filsafat

kesenian

dan

filsafat

pendidikan

Islam.

Data

yang

dipakai

bersumber dari buku-buku, majalah-majalah, artikel-artikel, dan tulisan-

tulisan yang berkaitan dengan tema bahasan.

Metode yang digunakan adalah metode Heuristik, yaitu metode

untuk

mencari

pemahaman

baru.

Metode

heuristik

diterapkan

untuk

menemukan sesuatu yang baru setelah melakukan penyimpulan dan kritik

terhadap objek material dalam penelitian. Metode heuristik penting untuk

menemukan suatu hal baru dalam mendekati objek material penelitian. Di

samping

itu,

metode

heuristik

perlu

untuk melakukan

refleksi

kritis

terhadap konsepsi seorang filosof (Kaelan, 2005: 254; Bakker & Zubair,

1990).

G. Sistematika Pembahasan

Untuk menjawab permasalahan yang timbul dalam penulisan tesis ini

biar terarah perlu penulis kemukakan sistematika penulisan yang didahului

dengan :

1. Bab pertama, pendahuluan sebagai landasan penulisan ilmiah, yang berisi

tentang latar belakang masalah, pokok permasalahan, tinjauan pustaka

yang menggambarkan penelitian-penelitian senada yang telah dilakukan,

47

tujuan dan kegunaan penelitian, metode penelitian, dan kerangka teori

dan beberapa konsep sebagai dasar dalam pemecahan masalah.

2. Bab kedua, Filsafat, Seni dan Agama serta Pendidikan dalam Perspektif

Islam, yang membahas tentang filsafat, filsafat seni, estetika, pendidikan

Islam beserta wacana hubungan kesenian dengan agama pada umumnya

dan Islam pada khususnya.

3. Bab ketiga, Pandangan mengenai Seni Bertujuan Sebagai Pijakan Seni

Profetik,

yang

membahas

tentang

beberapa

pemikiran

tokoh-tokoh

muslim non muslim tentang konsep seni dan estetika. Mereka antara lain;

Ismail Raji’ al-Faruqi, Rumi, Hegel, Plato dan Sayyed Hosein Nasr.

4. Bab

keempat,

Konsep

Seni

Profetik

dan

Implementasinya

dalam

Pendidikan Islam, merupakan pokok pembahasan dan analisis gagasan

kesenian profetik yang meliputi pembahasan pergulatan nilai dan tujuan

seni, persoalan seni dan seni Islam, teologi profetik, Ilmu sosial profetik

dan maklumat sastra profetik kuntowidjojo, Peluang dan Tantangan

Pengembangan

Gagasan

pendidikan Islam.

Seni

Profetik

dan

implentasinya

dalam

5. Bab ke lima tentang kesimpulan-kesimpulan yang telah didapat dari hasil

pembahasan serta beberapa saran yang diharapkan akan terwujud dalam

wacana kesenian yang bermakna dan bernilai tinggi dan luhur yaitu

gagasan atau konsep kesenian profetik ini serta implementasinya dalam

pendidikan Islam.

48

BAB II

FILSAFAT, SENI DAN AGAMA SERTA PENDIDIKAN

DALAM PERSPEKTIF ISLAM

A. Hubungan Filsafat, Seni (Estetika) dan Agama

1. Pengertian Filsafat Seni dan Estetika

Filsafat seni maupun estetika adalah salah satu ilmu bagian dari

filsafat. Apa bedanya filsafat seni estetika? Mengapa harus ada filsafat

seni, tidak cukup estetika saja? Untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan

pengetahuan sejarah permulaan timbulnya pemikiran seni di belahan dunia

Barat. Kaum pemikir seni mula-mula berasal dari Yunani Purba, sekitar

500-300 tahun SM. Mereka adalah filosof umum, seperti Socrates, Plato,

Aristoteles,

Plotinus,

St

Agustinus

(di

zaman

kemudian).

Mereka

membicarakan seni dalam kaitannya dengan filsafat mereka tentang apa

yang disebut 'keindahan'. Pembahasan tentang seni masih dihubungkan

dengan pembahasan tentang keindahan. Inilah sebabnya pengetahuan ini

disebut filsafat keindahan, termasuk di dalamnya keindahan alam dan

keindahan karya seni (Sumardjo, 1983:24).

Seni atau art aslinya berarti teknik, pertukangan, ketrampilan, yang

dalam bahasa Yunani kuno sering disebut sebagai techne. Arti demikian

juga berlaku dalam budaya Indonesia kuno. Baru pada pertengahan abad

ke-17, di Eropa dibedakan antara keindahan umum (termasuk alam) dan

keindahan karya seni atau benda seni. Inilah sebabnya lalu muncul istilah

36

49

fine arts atau high arts (seni halus dan seni tinggi), yang dibedakan dengan

karya-karya seni pertukangan (craft). Seni, sejak itu, dikategorikan sebagai

artefact atau benda bikinan manusia. Pada dasarnya artefak itu dapat

dikategorikan menjadi tiga golongan, yakni benda-benda yang berguna

tetapi tidak indah, kedua, benda-benda yang berguna dan indah, serta

ketiga benda-benda yang indah tapi tak ada kegunaan praktisnya. Artefak

jenis ketiga itulah yang dibicarakan dalam estetika (Sumardjo, ibid).

Istilah estetika sendiri baru muncul tahun 1750 oleh seorang filosof

minor bemama A.G.Baumgarten (1714-1762). Istilah ini dipungut dari

bahasa Yunani kuno, aistheton. yang berarti "kemampuan melihat lewat

"penginderaan".

Baumgarten

menamakan

seni

itu

sebagai

termasuk.

pengetahuan sensoris, yang dibedakan dengan logika yang dinamakannya

pengetahuan intelektual. Tujuan estetika adalah keindahan, sedang tujuan

logika adalah kebenaran (Sumardjo, 1983:25).

Sejak itu istilah 'estetika' dipakai dalam bahasan filsafat mengenai

benda-benda seni. Tetapi karena karya seni tidak selalu 'indah' seperti

dipersoalkan dalam estetika, maka diperlukan suatu bidang khusus yang

benar-benar menjawab tentang apa hakekat seni atau arts itu. Dan lahirlah

apa yang dinamakan 'filsafat seni'. Jadi, perbedaan antara estetika dan

filsafat seni hanya dalam obyek materialnya saja. Estetika mempersoalkan

hakekat

keindahan

alam

dan

karya

seni,

sedang

filsafat

seni

mempersoalkan hanya karya seni atau benda seni atau artefak yang disebut

seni (Sumardjo, ibid).

50

Menurut Sumardjo, ciri-ciri karya seni adalah; yang pertama,

mengekspresikan

gagasan

dan

perasaan,

sedangkan

alam

tidak

mengandung makna ekspresi semacam itu. Kedua, dalam karya seni, orang

dapat bertanya: "apa yang ingin dikatakan karya ini?" atau apa maksud

karya ini?. Tetapi kita tak pernah bertanya serupa ketika menyaksikan

keindahan matahari terbenam di pantai, atau menyaksikan bentuk awan

senja, derasnya air terjun, gemurahnya suara ombak. Jadi, karya seni selalu

membawa makna tertentu dalam dirinya, ada usaha komunikasi seni

dengan

orang

lain.

Dalam

keindahan

alamiah

hal

itu

tak

terjadi.

Kecantikan seorang wanita kita nikmati sebagai indah begitu saja. Tetapi

dalam karya seni, seorang wanita tua atau buruk rupa dapat menjadi indah.

Sedangkan wanita cantik justru tidak indah dalam seni yang gagal, Ketiga,

seni dapat meniru alam, tetapi alam tidak mungkin meniru artefak seni.

Keempat, dalam alam kita dapat menerima keindahannya tanpa

kepentingan praktis-pragmatis dalam hidup ini. Inilah keindahan tanpa

pamrih (disinterestedness), sedang dalam karya seni kita masih dapat

menjumpai

karya-karya

itu

sebagai

indah

dan

berguna

sekaligus.

Keindahan alamiah itu gratis, tanpa pamrih kegunaan apa pun. Keindahan

seni, karena punya makna, dapat membawa nilai-nilai lain di samping nilai

keindahan (Sumardjo, 1983:26). Dengan demikian cukuplah dikatakan

bahwa estetika merupakan pengetahuan tentang keindahan alam dan seni.

Sedang

filsafat

seni

hanya

membahas karya seni.

merupakan

bagian

estetika

yang

khusus

51

Pertanyaan lain yang cukup menarik adalah, apakah setiap karya

seni itu mesti indah? Bukankah banyak karya seni yang merangsang

munculnya

perasaan-perasaan

tidak

indah,

seperti

mengganggu,

menyakitkan, provokatif, mengecewakan, tidak menenteramkan, persoalan

ini muncul pada para pemikir seni sejak abad 18 di Eropa, dan lebih-lebih

lagi dalam karya-karya seni kontemporer Barat. Pernyataan bahwa saya

menyukai

lukisan

itu

karena

sangat

membingungkan

atau

novel

itu

sungguh getir, menunjukkan hadirnya ketidakindahan dalam seni.

Kenyataan di atas (bahwa seni tidak harus indah) nampaknya

paradoks,

namun

bagaimana

pun

salah

satu

aspek

dari

seni

selalu

menghadirkan

keindahan.

Kalau

tidak

demikian

mengapa

disukai?

Keindahan seni yang tidak indah terletak pada bentuk ungkapannya yang

artistik. Nilai-nilai kualitas obyeknya mungkin saja getir, tetapi ia harus

diungkapkan dalam bentuk yang mengandung kualitas keindahan. Ada

keteraturan,

struktur, kosmos di dalam wujudnya.

Ini sesuai dengan

ucapan Melvin Rader, bahwa keindahan itu dihasilkan oleh hakekat yang

diungkapkan

atau

oleh