Anda di halaman 1dari 28

PENDAHULUAN

Sindroma croup adalah sindrom klinis yang ditandai dengan suara serak, batuk
menggonggong, stridor inspirasi, dengan atau tanpa adanya stres pernapasan. Gejala yang dapat
ditimbulkan bisa dari yang bersifat ringan, sedang, atau bahkan bisa dengan gejala yang cukup
parah biasanya terjadi memburuk pada malam hari. Penyakit ini sering terjadi pada anak.
Croup berasal dari bahasa Anglo-Saxon yang berarti tangisan keras. Penyakit ini pertama
kali dikenal pada tahun !"#$.
Croup sindrom ini terjadi sekitar !%& dari anak-anak, dan biasanya terpapar antara usia '
bulan dan %-' tahun. Penyakit ini terdapat sekitar %& dari penerimaan rumah sakit dalam suatu
populasi. (alam kasus yang jarang, mungkin terjadi pada anak-anak berumur ) bulan dan yang
tertua sekitar usia !% tahun. Perbandingan anak laki-laki dan perempuan yang menderita
penyakit ini adalah %*& anak laki-laki lebih sering daripada perempuan, dan ada peningkatan
pre+alensi di musim gugur.
,stilah lain untuk croup ini adalah laringitis akut yang menunjukkan lokasi inflamasi,
yang jika meluas sampai trakea disebut laringotrakeitis, dan jika terjadi sampai ke bronkus
digunakan istilah laringotrakeobronkitis.
Sindrom croup atau laringotrakeobronkitis akut disebabkan oleh +irus yang menyerang
saluran respiratori atas. Penyakit ini dapat menimbulkan obstruksi saluran respiratori. -bstruksi
yang terjadi dapat bersifat ringan hingga berat.
Croup sindrom terbanyak disebabkan oleh +irus yang menyerang saluran respiratori atas.
.irus yang paling sering menyebabkan sindroma croup ini biasanya adalah Para-influen/a tipe !
+irus 01P,.-!2 '*&, 1P,.-#, ) dan 3, influen/a A dan +irus 4, adeno+irus, 5espiratory
Syncytial .irus 05S.2 dan campak +irus. Selain dapat disebabkan oleh +irus, croup sindrom ini
dapat pula disebabkan oleh suatu bakteri. 4akteri yang dapat menimbulkan penyakit ini antara
lain Corynebacterium diphtheriae, Staphylococcus aureus , Streptococcus pneumoniae ,
Hemophilus influenzae , dan Catarrhalis Moraxella.
Sifat penyakit ini adalah self-limited, tetapi kadang-kadang cenderung menjadi berat
bahkan fatal. Sebelum kortikosteroid digunakan secara luas, )*& kasus croup sindrom harus
dira6at d 5umah Sakit dan !,7& memerlukan intubasi endotrakea. Akan tetapi, setelah
kortikosteroid telah digunakan secara luas, kasus croup yang memerlukan pera6atan di 5umah
Sakit menurun drastis, dan intubasi endotrakea jarang dilakukan.
(i Alberta, lebih dari '*& anak didiagnosis croup derajat ringan, 3& 0satu dari !7* anak2
memerlukan pera6atan di 5umah Sakit dan 3& 0satu dari 3%** anak2 harus dilakukan intubasi.
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
1.1 DEFINISI
Croup adalah terminologi umum yang mencakup suatu grup penyakit heterogen yang
mengenai laring, infra8subglotis, trakea dan bronkus. 9arakteristik sindrom croup adalah batuk
yang menggonggong, suara serak, stridor inspirasi, dengan atau tanpa adanya obstruksi jalan
napas
!
.
1.2 KLASIFIKASI
Secara umum Croup Sindrom diklasifikasikan ke dalam dua kelompok, yaitu
!
:
A. .iral Croup
(itandai dengan gejala-gejala prodromal infeksi pernafasan: gejala obstruksi saluran
pernafasan berlangsung selama )-% hari. 4eberapa penulis menyebutkan kelompok ini
sebagai ;aringotrakeobronkitis
4. Spasmodic Croup
Spasmodic croup, batuk hebat, terdapat faktor atopik, tanpa gejala prodromal, anak tiba-
tiba bisa mendapatkan obstruksi saluran pernapasan, biasanya pada malam hari sebelum
menjelang tidur, serangan terjadi sebentar kemudian kembali normal.
Selain klasifikasi secara umum, juga terdapat klasifikasi berdasarkan derajat keparahan batuk
atau derajat kega6atan, dikelompokkan menjadi 3 kategori
!
:
!. Ringan: (itandai dengan batuk menggonggong keras yang kadang-kadang muncul, Stridor
yang tidak dapat terdengar saat pasien istirahat8tidak berakti+itas atau tidak ada kegiatan dan
teradapat retraksi dada ringan.
#. Moderat/Sedang: (itandai dengan batuk menggonggong yang sering timbul, stridor yang
lebih mudah didengar ketika pasien beristirahat atau tidak akti+itas, retraksi dinding dada
yang sedikit terlihat, tetapi tidak ada ga6at napas 0repiratory distress2.
). Berat: (itandai dengan batuk menggonggong yang sering timbul, stridor inspirasi yang
terdengar jelas ketika pasien beristirahat, akan tetapi, lebih, dan kadang-kadang disertai
dengan stridor ekspirasi, retraksi dinding dada, dan ga6at napas.
3. aga! na"a# $engan%a$: 4atuk kadang-kadang tidak jelas, terdengar stridor 0kadang
sangat jelas ketika pasien beristirahat2, gangguan kesadaran dan letargi
1.& EPIDEMI'L'I
Sindrom Croup biasanya terjadi pada anak usia ' bulan-' tahun, dengan puncaknya pada
usia !-# tahun. Akan tetapi, croup juga dapat terjadi pada anak berusia ) bulan dan di atas !%
tahun meskipun angka pre+alensi untuk kejadian ini cukup kecil.
Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan, dengan
rasio ):#. Angka kejadiannya meningkat pada musim dingin dan musim gugur pada negara-
negara sub-tropis sedangkan pada negara tropis seperti indonesia angka kejadian cukup tinggi
pada musim hujan, tetapi penyakit ini tetap dapat terjadi sepanjang tahun. Pasien croup
merupakan !%& dari seluruh pasien dengan infeksi respiratori yang berkunjung ke dokter.
9ekambuhan sering terjadi pada usia )-' tahun dan berkurang sejalan dengan
pematangan struktur anatomi saluran pernapasan atas. 1ampir !%& pasien sindrom croup
mempunyai keluarga dengan ri6ayat penyakit yang sama
!
.
1.( ETI'L'I
.irus penyebab tersering sindrom croup 0sekitar '*& kasus2 adalah 1uman
Parainfluen/a +irus type ! 01P,.-!2, 1P,.-#, ), dan 3, +irus influen/a A dan 4, Adeno+irus,
5espiratory Syncytial +irus 05S.2, dan +irus campak. <eskipun jarang, pernah juga ditmukan
<ycoplasma pneumonia.
!
1.) PAT'ENESIS
Seperti infeksi respiratori pada umumnya, infeksi +irus pada laringotrakeitis,
laringotrakeobronkitis, dan laringotrakeobronkopneumonia dimulai dari nasofaring dan
menyebar ke epitelium trakea dan laring. Peradangan difus, eritema, dan edema yang terjadi pada
dinding trakea menyebabkan terganggunya mobilitas pita suara serta area subglotis mengalami
iritasi. 1al ini menyebabkan suara pasien menjadi serak 0parau2. Aliran udara yang mele6ati
saluran respiratori atas mengalami turbulensi sehingga menimbulkan stridor, diikuti dengan
retraksi dinding dada 0selama inspirasi2. Pergerakan dinding dada dan abdomen yang tidak
teratur menyebabkan pasien kelelahan serta mengalami hipoksia dan hiperkapnea. Pada keadaan
ini dapat terjadi gagal napas atau bahkan henti napas.
!

1.* MANIFESTASI KLINIS
<anifestasi klinis biasanya didahului dengan demam yang tidak begitu tinggi selama !#
= 7# jam, hidung berair, nyeri menelan, dan batuk ringan. 9ondisi ini akan berkembang menjadi
batuk nyaring, suara menjadi parau dan kasar. Gejala sistemik yang menyertai sperti demam,
malaise. 4ila keadaan berat daapt terjadi sesak napas, stridor inspiratorik yang berat, retraksi,
dan anak tampak gelisah, dan akan bertambah berat pada malam hari. Gejala puncak terjadi pada
#3 jam pertama hingga 3$ jam. 4iasanya perbaikan akan tampak dalam 6aktu satu minggu.
Anak akan sering menangis, re6el, dan akan merasa nyaman jika duduk di tempat tidur atau
digendong
!
.
Perbandingan antara +iral croup 0laringotrakeobronkitis2 dan spasmodic croup
0spasmodic cough2 dapat dilihat pada tabel diba6ah ini
!
:
>abel perbandingan antara Viral croup dan Spasmodic croup
9arakteristik Viral Croup Spasmodic Croup
?sia ' bulan = ' tahun ' bulan = ' tahun
Gejala prodromal Ada >idak jelas
Stridor Ada Ada
4atuk Sepanjang 6aktu >erutama malam hari
(emam Ada 0tinggi2 4isa ada, tidak tinggi
;ama sakit #-7 hari #-3 jam
5i6ayat keluarga >idak ada Ada
Predisposisi asma >idak ada Ada
1.+ DIAN'SIS
(iagnosis klinis ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang timbul. Pada pemeriksaan
fisik ditemukan suara serak, hidung berair, peradangan faring, dan frekuensi napas yang sedikit
meningkat. 9ondisi pasien ber+ariasi sesuai dengan derajat stres pernapasan yang diderita.
Pemeriksaan langsung area laring pada pasien croup tidak terlalu diperlukan. Akan tetapi,
bila diduga terdapat epiglotitis 0serangan akut, ga6at napas8respiratory distress, disfagia,
drooling2, maka pemeriksaan tersebut sangat diperlukan.
Sistem paling sering digunakan untuk mengklasifikasikan beratnya @roup adalah Skor
Aestley.
9riteria Bilai
5etraksi >idak ada *
5ingan !
Sedang #
4erat )
<asuknya udara Bormal *
4erkurang !
Sangat berkurang #
Srtidor inspirasi >idak ada *
Gelisah !
,stirahat dengan stetoskop #
,stirahat tanpa stetoskop 3
Sianosis >idak ada *
Gelisah 3
,stirahat %
(erajat 9esadaran Sadar *
Gelisah, cemas #
Penurunan kesadaran %
Skor *-! adalah ringan, skor #-7 sedang dan skor $ atau lebih adalah berat.
1., PEMERIKSAAN PENUNJAN
Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium dan radiologis tidak perlu
dilakukan karena diagnosis biasanya dapat ditegakkan hanya dengan anamnesis, gejala klinis,
dan pemeriksaan fisik.
4ila ditemukan peningkatan leukosit C#*.***8mm
)
yang didominasi P<B, kemungkinan
telah terjadi superinfeksi, misalnya epiglotitis.
1.,.1 Pe$eri-#aan Radio!ogi# dan .T/S%an
>anda menara terlihat pada radiografi anteroposterior jaringan lunak leher. 9on+ekti+itas
lateral normal trakea subglottic hilang, dan penyempitan lumen subglottic menghasilkan
konfigurasi . terbalik di daerah ini. >itik dari . terbalik pada tingkat margin inferior pita suara
yang benar. Penyempitan dari lumen subglottic mengubah tampilan radiografi dari kolom udara
trakea, yang menyerupai atap bernada tajam atau menara gereja.
Gambaran Sindrom Croup foto anterior-posterior
Gambaran Sindrom Croup foto lateral
Pada pemeriksaan radiologis leher posisi poserior-anterior ditemukan gambaran udara
steeple sign 0seperti menara2 yang menunjukkan adanya penyempitan kolumna subglotis. Akan
tetapi, gambaran radiologis seperti ini hanya dijumpai pada %*& kasus saja.
<elalui pemeriksaan radiologis, croup dapat dibedakan dengan berbagai diagnosis
bandingnya. Gambaran foto jaringan lunak 0intensitas rendah2 saluran napas atas dapat dijumpai
sebagai berikut:
!. Pada trakeitis bakterial, tampak gambaran membran trakea yang compang-camping.
#. Pada epiglotitis, tampak gambaran epiglotitis yang menebal.
). Pada abses retrofaringeal, tampak gambaran posterior faring yang menonjol.
Pada pemeriksaan @> scan dapat lebih jelas menggambarkan penyebab obstruksi pada
pasien dengan keadaan klinis yang lebih berat, seperti adanya stridor sejak usia di ba6ah ' bulan
atau stridor pada saat akti+itas. Selain itu, pemeriksaan ini juga dilakukan bila pada gambaran
radiologis dicurigai adanya massa
#
.
1.0 TATALAKSANA
>atalaksana utama bagi pasien croup adalah mengatasi obstruksi jalan napas. Sebagian
besar pasien croup tidak perlu dira6at 5S, melainkan cukup dira6at dirumah. Pasien dira6at di
5S bila dijumpai salah satu dari gejala-gejala berikut: anak berusia di ba6ah ' bulan, terdengar
stridor progresif, stridor terdengar ketika sedang beristirahat, terdapat gejala ga6at napas,
hipoksemia, gelisah, sianosis, gangguan kesadaran, demam tinggi, anak tampak toksik, dan tidak
ada respons terhadap terapi
!,%
.
1.0.1 Tera"i in1a!a#i
Sejak abad ke-!", terapi uap telah digunakan untuk mengatasi obstruksi jalan napas pada
sindrom croup. Pemakaian uap dingin lebih baik daripada uap panas, karena kulit akan melepuh
akibat paparan uap panas. ?ap dingin akan melembabkan saluran respiratori, akan inflamasi,
mengencerkan lender pada saluran respiratori, sekaligus memberikan efek yang nyaman dan
menenangkan bagi anak.
<eskipun terapi uap ini dapat menjadi pilihan yang praktis pada sindrom croup,
kelembaban yang ditimbulkan oleh terapi uap dapat pula memperberat keadaan pada dengan
bronkospasme yang disertai dengan mengi, seperti laringotrakeobronkitis atau pneumonia. Saat
ini beberapa pusat kesehatan tidak merekomendasikan penggunaan terapi uap.
4erdasarkan tiga penelitian yang menggunakan air dingin tersaturasi 0coldater fog2
tidak ada bukti yang menunjukkan bah6a penggunaannya untuk mengobati croup
menguntungkan. Gina dkk.melakukan penelitian 5@> dengan memberikan terapi oksigen
lembab 0humidifiedoxygen2 pada pasien croup derajat sedang di ?G(. 1asil penelitian
menunjukkan bah6a tidak ada perbedaan perbaikan klinis antara kelompok yang diberi terapi
oksigen lembab dan yang tidak diberikan.
1.0.2 E"ine2rin
Sindrom croup biasanya cukup diatasi dengan terapi uap saja, tetapi kadang-kadang
membutuhkan farmakoterapi. Bebulisasi epinefrin telah digunakan untuk mengatasi sindrom
croup selama hampir )* tahun, dan pengobatan dengan epinefrin ini menyebabkan trakeostomi
hampir tidak diperlukan.
Bebulisasi epinefrin sebaiknya juga diberikan kepada anak dengan sindrom croup
sedang-berat yang disertai dengan stridor saat istirahat dan membutuhkan intubasi, serta pada
anak dengan retraksi dan stridor yang tidak mengalami perbaikan setelah diberikan terapi uap
dingin.
Bebulisasi epinefrin akan menurunkan permeabilitas +ascular epitel bronkus dan trakea,
memperbaiki edema mukosa laring, dan meningkatkan laju udara pernapasan. Pada penelitian
dengan metode double blind, efek terapi nebulisasi epinefrin ini timbul dalam 6aktu )* menit
dan bertahan selama dua jam. Dpinefrin yang dapat digunakan antara lain adalah sebagai berikut:
!. !acemic epinephrine 0campuran !:! isomer d dan l epinefrin2, dengan dosis *,% ml larutan
racemic epinephrine #,#%& yang telah dilarutkan dalam ) ml salin normal. ;arutan
tersebut diberikan melalui nebulizer selama #* menit.
#. "-epinephrine !:!*** sebanyak % mlE diberikan melalui nebulizer# Dfek terapi terjadi
dalam dua jam
!acemic epinephrine merupakan pilihan utama, efek terapinya lebih besar, dan mempunyai
sedikit efek terhadap kardio+askular seperti takikardi dan hipertensi.
Bebulisasi epinefrin masih dapat diberikan pada pasien dengan takikardi dan kelainan
jantung seperti >etralogy Fallot.
1.0.& Korti-o#teroid
9ortikosteroid mengurangi edema pada mukosa laring melalui mekanisme anti radang.
?ji klinik menunjukkan adanya perbaikan pada pasien laringotrakeitis ringan-sedang yang
diobati dengan steroid oral atau parenteral dibandingkan dengan plasebo.
1.0.( De-#a$eta#on
(eksametason diberikan dengan dosis *,' mg8kg44 per oral8antimuskular sebanyak satu
kali, dan dapat diulang dalam '-#3 jam. Dfek klinis akan tampak #-) jam setelah pengobatan.
>idak ada penelitian yang menyokong keuntungan penambahan dosis. 9euntungan pemakaian
kortikosteroid adalah sebagai berikut:
<engurangi rata-rata tindakan intubasi
<engurangi rata-rata lama ra6at inap
<enurunkan hari pera6atan dan derajat penyakit.
Selain deksametason, dapat juga diberikan prednisone atau prednisolon dengan dosis !-#
mg8kg44 0D32. 4erdasarkan dua penelitian meta-analisis 0#3 5@>2 tentang pemakaian
kortikosteroid sistemik, dengan pemberian kortikosteroid ' dan !# jam, tetapi tidak sampai #3
jam, disimpulkan bah6a tidak ada pengaruh dari kortikosteroid sistemik.
1.0.) B3de#onid
Bebulisasi budesonid dipakai sejak tahun !""*. >ingkat efektifitasnya adalah D# bila
dibandingkan dengan plasebo. ;arutan #-3 mg budesonid 0# ml2 diberikan melalui nebulizer dan
dapat diulang pada !# dan 3$ jam pertama. Dfek terapi nebulisasi budesonid terjadi dalam )*
menit, sedangkan kortikosteroid sistemik terjadi dalam satu jam.
Pemberian terapi ini mungkin akan lebih bermanfaat pada pasien dengan gejala muntah
dan ga6at napas 0respiratory distress2 yang hebat. 4udesonid dan epinefrin dapat digunakan
secara bersamaan. Sebagian besar kasus pemakaian budesonid tidak lebih baik daripada
deksametason oral.
9ortikosteroid tidak diberikan pada anak dengan +arisela dan >4 0kecuali pada anak
yang sedang mendapat -A>2. Pemakaian kortikosteroid dalam jangka 6aktu lama 0!
mg8kg448hari selama delapan hari2 dapat meningkatkan infeksi Candida albicans.
1.0.* Int34a#i endotra-ea!
,ntubasi endotrakeal dilakukan pada pasien sindrom croup yang berat, yang tidak
responsi+e terapi lain. ,ntubasi endotrakeal rnerupakan terapi alternati+e selain trakeostomi
untuk mengatasi obstruksi jalan napas. ,ndikasi melakukan intubasi endotrakeal adalah adanya
hiperkarbia dan ancaman gagal napas. Selain itu, intubasi juga diperlukan bila terdapat
peningkatan stridor, peningkatan frekuensi napas, peningkatan frekuensi nadi, retraksi dinding
dada, sianosis, letargi, atau penurunan kesadaran. ,ntubasi hanya dibutuhkan untuk jangka 6aktu
yang singkat, yaitu hingga edema laring hilang8teratasi
!,%
.
1.0.+ Ko$4ina#i '-#igen/He!i3$
9ombinasi oksigen dan helium 01eliox2 digunakan oleh beberapa sentra untuk mengatasi
sindrom croup. 1elium bersifat inert, tidak beracun, serta mempunyai densitas dan +iskositas
yang rendah. 1al ini sangat membantu mengurangi obstruksi jalan napas, yaitu dengan
meningkatkan aliran gas dan mengurangi kerja otot-otot respiratorius. 4ila helium
dikombinasikan dengan oksigen, maka oksigenasi darah akan meningkat.
(engan terapi oksigen-helium ini, pasien sindrom croup beratakan merasa nyaman dan
kemungkinan besar tidak memerlukan tindakan intubasi. Dfek klinis pemberian kombinasi
oksigen-helium hampir sama dengan pemberian nebulisasi epinefrin.
1.0., Anti4ioti-
Pemberian antibiotik tidak diperlukan pada pasien sindrom croup, kecuali pasien dengan
laringotrakeobronkitis atau laringotrakeopneumonitis yang disertai infeksi bakteri. Pasien
diberikan terapi empiris sambil menunggu hasil kultur. >erapi a6al dapat menggunakan
sefalosporin generasi ke-# atau ke-). Pemberian sedati+e dan dekongestan oral tidak dianjurkan
pada pasien sindrom croup.
(iba6ah ini merupakan Algoritma penatalaksanaan sindrom Croup, sebagai berikut
!
:
CROUP
(iagnosis banding
Aspirasi benda asing
Dpiglotitis
-bstruksi jalan napas yang
mengancam ji6a
Sianosis
Penurunan kesadaran
>,(A9 GA
-# !**& dengan sungkup muka dan nebulisasi
adrenalin 0%ml2 !:!***
,ntubasi anak sesegera mungkin oleh seorang
yang berpengalaman
1ubungi pusat rujukan pelayanan kesehatan anak
Croup derajat ringan
4atuk menggonggong
>anpa retraksi dada
>anpa sianosis
Croup derajat sedang
Stridor saat istirahat
>erdapat retraksi
dinding dada minimal
<ampu berinteraksi
Croup derajat berat
Stridor menetap saat
istirahat
>rakeal tug dan
retraksi dinding dada
terlihat jelas
Apatis dan gelisah
Pulsus paradoksus
Ddukasi orang tua
Pertimbangkan
kortikosteroid dosis
tunggal 0oral2
Periksa kemampuan
orang tua dan
kemampuan dalam
menyediakan transport
(,P?;ABG9AB
9ortikosteroid
deksametason *,!%-*,)*
mg8kg atau Prednison !-#
mg8kg 0oral2 atau
nebulisasi 4udesonide #
mg jika kortikosteroid oral
tidak berpengaruh
-4SD5.AS, C 3 HA<
<inimal handling
-# 3 lpm dan nebulisasi
adrenalin dan
kortikosteroid sistemik
0dosis sama dengan
croup derajat sedang2
,ntubasi
5AAA> 5S
<embaik
(ipulangkan bila tidak
ada stridor saat istirahat
Ddukasi orang tua pasien
>idakmembaik
D+aluasiulang
5a6at
1ubungikonsulen
D+aluasi diagnosis
5a6at8obser+asi di ,G(
?langi pemberian
kortikosteroid oral8!# jam
Ddukasi ortu pasien
Sediakan penjelasan
tertulis untuk dokter umum
yang akan follo6 up
Bebulisasi adrenalin 0dosis
sama2 dan kortikosteroid
sistemik 0dosis sama2
Persiapkan pelayanan untuk
tindakan darurat
Pertimbangkan intubasi
D+aluasi diagnosis
Perbaikan
Sebagian
Ko$"!i-a#i
Pada !%& kasus dilaporkan terjadi komplikasi, misalnya otitis media, dehidrasi, dan
pneumonia 0jarang terjadi2. Sebagian kecil pasien memerlukan tindakan intubasi. Gagal jantung
dan gagal napas dapat terjadi pada pasien yang pera6atan dan pengobatannya tidak adekuat
#
.
Progno#i#
Sindrom croup biasanya bersifat self-limited dengan prognosis yang baik
#
.
BAB II
LAP'RAN KASUS
2.1 IDENTIFIKASI PASIEN
Bama : 5
?mur : 3 tahun 7 bulan
Henis 9elamin : ;aki-laki
<5 : 7"7%""
2.2 ANAMNESIS
Seorang pasien laki-laki berumur 3 tahun 7 bulan masuk ke bangsal anak 5S. (r.<.(jamil
Padang tanggal ! September #*!# dengan :
Ke!31an Uta$a
Sesak nafas sejak I !% jam yang lalu
Ri5a6at Pen6a-it Se-arang
(emam sejak # hari yang lalu, tingi, terus menerus, tidak menggigil, tidak berkeringat,
tidak disertai kejang
Sesak nafas sejak I!% jam yang lalu, berbunyi mengorok, tidak berbunyi menciut, tidak
dipengaruhi cuaca, makanan, dn akti+itas
Byeri menelan sejak I!% jam yang lalu
Anak lebih suka duduk atau setengah duduk sejak I!% jam yang lalu
Suara serak sejak I!* jam yang lalu
4atuk menggongggong tidk ada, pilek tidak ada
9ebiruan tidak ada
<ual dan muntah tidak ada
5i6ayat kontak dengan penderita batuk-batuk lama tidak ada
5i6ayat kontak dengan unggas mati tidak ada
4uang air kecil jumlah dan 6arna biasa
4uang air besar 6arna dan konsistensi biasa
Anak dirujuk dari 5S?( <. Jein Painan dengan keterangan suspek difteri dan telah
diberi terapi oksigen # liter8menit nasal, ,.F( 9aen ,4 !* tetes8menit makro, ceftriaxon
%** mg, dexamethason ',% mg intra+enaE anak telah dilakukan pemeriksaan rontgrn
thoraks AP di 5S?( <. Jein
Ri5a6at Pen6a-it Da13!3
Anak tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya
Ri5a6at Pen6a-it Ke!3arga
>idak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini
Ri5a6at Pe-er7aan8 #o#ia!8 e-ono$i8 -e7i5aan dan -e4ia#aan
Anak tunggal, lahir sectio caesaria atas indikasi ibu hipertensi dan panggul sempit, cukup
bulan, berat badan lahir )*** gram, panjang badan lupa, langsung menangis
5i6ayat imunisasi dasar tidak lengkap
5i6ayat pertumbuhan dan perkembangan dalam batas normal
1igien dan sanitasi lingkungan cukup baik
,bu tamat S<A, bekerja sebagai ibu rumah tangga, ayah tamat S<P, 6iras6asta dengan
penghasilan #.***.*** rupiah perbulan
Ri5a6at I$3ni#a#i
4@G : tidak ada
(P> : tidak ada
Polio : umur # bulan, ) bulan
1epatitis 4 : tidak ada
@ampak : " bulan
9esan : ,munisasi dasar tidak lengkap
Ri5a6at T3$431 Ke$4ang
Perumbuhan Gigi Pertama : ' bulan
Psikomotor :
tengkurap : ) bulan
duduk : ' bulan
berdiri : !* bulan
berjalan : !) bulan
bicara : !% bulan
perkembangan mental:
isap jempol 0-2, gigit kuku 0-2, mengompol 0-2, aktif sekali 0-2, apati 0-2, ketakutan 0-2, pergaulan
jelek 0-2
kesan : pertmbuhan dan perkembangan baik
Ri5a6at Ma-anan
AS, : tidak ada
Susu formula : * = # tahun
4ubur Susu : 3 = $ bulan
Basi tim : $ = !* bulan
Basi lunak : !* = !# bulan
Basi biasa : ! tahun = sekarang 0 # = ) x8hari, ikan )-3 x8minggu, telur )-3 x8 minggu,
sayur tiap hari2
9esan : makanan kualitas kurang, kuantitas cukup
Ri5a6at Per3$a1an dan Ling-3ngan
5umah permanen
Sumber air minum dari air sumur
Hamban di dalam rumah
Pekarangan cukup luas
Sampah dibakar
9esan higiene dan sanitasi lingkungan cukup baik
2.& PEMERIKSAAN FISIK
9eadaan umum : sakit berat 9esadaran : sadar
>ekanan darah : !!*8$* mm1g Frekuensi nafas : %3 x8menit
Badi : !)*x8menit Suhu : )7,"K@
4erat badan : !) kg >inggi badan : "$ cm
Sianosis : >idak ada Ddema : >idak ada
Anemis : >idak ada ,kterik : >idak ada
Stat3# i9i :
448? : $),$7&
>48? : "$,3"&
448>4 : $',$7&
9esan : Gi/i kurang
Pe$eri-#aan Si#te$i- :
9ulit : >eraba hangat
9epala : 4entuk bulat simetris,
5ambut hitam tidak mudah dicabut
<ata :9onjungti+a tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor L #mm8#mm,
5efleks cahaya M8M normal
>elinga : >idak ditemukan kelainan
1idung : napas cuping hidung ada
>enggorok : >onsil >
!
->
!
, tidak hiperemis, detritus tidak ada, faring tidak hiperemis,
pseudomembran tidak ada
<ulut : <ukosa mulut dan bibir basah
;eher : tidak ditemukan kelainan
9G4 : >idak teraba pembesaran 9G4
(ada :
Paru :
,nspeksi : simetris, retraksi 0M2 di epigastrium, interkostal, dan suprasternal
Palpasi : Fremitus sama kiri dan kanan.
Perkusi : Sonor.
Auskultasi : 4ronkial, stridor inspirasi dan ekspirasi 0M2, rhonki basah halus nyaring
di kedua lapangan paru, 6hee/ing tidak ada
Hantung :
,nspeksi : ,ktus tidak terlihat
Palpasi : ,ktus teraba ! jari medial linea midcla+icularis sinistra 5,@ .
Perkusi : 4atas jantung atas: 5,@ ,,, kanan: ;S(, kiri: ! jari medial ;<@S 5,@ .
Auskultasi : ,rama jantung teratur, bising tidak ada.
Perut :
,nspeksi : (istensi tidak ada
Palpasi : supel, hepar dan lien tidak teraba
Perkusi : >impani
Auskultasi : 4ising usus 0M2 normal
Punggung : >idak ditemukan kelainan
Alat 9elamin : >idak ditemukan kelainan
Anus : colok dubur tidak dilakukan
Dkstremitas : Akral hangat, refilling kapiler baik,
5efleks fisiologis M8M, 5efleks Patologis-8-
2.( PEMERIKSAAN LAB'RAT'RIUM
(arah:
1b : !#,# gr8dl
;eukosit : 7.3** 8mm
)
1itung jenis : *8*8*83"8)'8!
?rin :
5eduksi 0-2
Sedimen : leukosit 0-2, eritrosit 0-2
Albumin 0-2
4ilirubin 0-2
?robilinogen 0-2
2.) DIAN'SIS KERJA
Suspek @roup (isease
4ronkopneumoni
Gi/i 9urang
2.+ DIAN'SIS BANDIN
Dpiglotitis
Aspirasi 4enda Asing
2., REN.ANA PEMERIKSAAN
AG(
G(5
5ontgen ;eher AP8;ateral
9ultur darah
9onsultasi bagian >1>
2.0 TERAPI
-ksigen # liter8menit nasal
,.F( 9aDn ,4 $% cc8kg448hari N !3 tetes8i makro
Sementara puasa
@eftriaxon !x! gram intra+ena
Paracetamol !)* mg 0> O )$,%
*
@2
2.1; F'LL'< UP
1 Se"te$4er 2;12
>abel skor Aestley
Kriteria Ni!ai Pa#ien
Retra-#i :
>idak ada
5ingan
Sedang
berat
*
!
#
) &
Ma#3-n6a 3dara:
Bomal
4erkurang
Sangat berkurang
*
!
#
1
Stridor in#"ira#i:
tidak ada
gelisah
istirahat dengan stetoskop
istirahat tanpa stetoskop
*
!
#
3 (
Siano#i#:
>idak ada
Gelisah
,stirahat
Dera7at -e#adaran:
Sadar
Gelisah, cemas
Penurunan kesadaran
*
3
%
(
Tota! 1(
Ke#i$"3!an #-or .ro3" 1( =, > .ro3" 4erat
>erapi : nebulisasi adrenalin ! : !*** % ml
1asil AG( :
p1 : 7,#!
p@-# : 3% mm1g
p-# : 7# mm1g
1@-)- : !7,' mmol8;
4D : -"7
S-# : $$&
9esan :
asidosis respiratorik akut
asidosis metabolik
hipoksemia
>erapi :
4eri oksigen ) liter8menit nasal
Dlektrolit :
Ba : !)) mmol8; 0hiponatremi2
9 : 3,3 mmol8; 0normal2
G(5 : !7* mg8dl 0normal2
9esan rontgen >horaks AP sementara :
- >ampak gambaran udara yang menyempit pada subglotis 0steeple sign2
- Pulmo : tampak infiltrat perihiler dan parakardial di kedua lapangan paru
- @or : dalam batas normal
- Sinus dan diafragma baik
9esan : sesuai dengan laringitis, bronkpneumonia
1asil konsultasi bagian >1> :
Saat ini tidak ditemukan tanda-tanda obstruksi jalan nafas dan kega6atdaruratan di bidang >1>-
9;.
Saat ini tidak ada tatalaksana khusus di bidang >1>-9;.
1 Se"te$4er 2;128 "3-3! 2;.;; <IB
Follo6 up setelah nebulisasi
S8
- Anak masih sesak nafas, berkurang dari sebelumnya
- 9ebiruan tidak ada
- (emam masih ada, tidak tinggi
- 9ejang tidak ada
- Suara masih serak
- Byeri menelan masih ada
- <ual dan muntah tidak ada
- 4uang air kecil biasa
-8
9? : sakit berat, sadar, nadi : !)* x8menit, nafas : 3' x8menit, >: )7,"
Bafas cuping hidung 0M2
<ata : konjungti+a tidak anemis, sklera tidak ikterik
>horaks : retraksi epigastrium dan intercostal 0M2
@or : irama teratur, bising tidak ada
Pulmo : stridor 0M2
5honki M8M, 6hee/ing -8-
Abdomen : distensi 0-2, bising usus 0M2 normal
Dkstremitas : akral hangat, refilling kapiler baik
9esan :
perbaikan minimal
>erapi :
dexamethason *,' mg8kg44 ,. N 7,$ mg ,.
1 Se"te$4er 2;128 "3-3! 22.;; <IB
S8 sesak nafas bertambah dibanding sebelumnya
9ebiruan tidak ada
(emam tidak ada
9ejang tidak ada
Byeri menelan masih ada
<untah tidak ada
4A9 biasa
-8 9? : sakit berat
Badi : !#* x8 menit
Bafas : 3$ x8menit
Suhu : )7 @
Bafas cuping hidung 0M2
<ata : konjungti+a tidak anemis, sklera tidak ikterik
>horaks : retraksi 0M2 di epigastrium dan intercostal
@or : irama teratur, bising 0-2
Pulmo : bronkial, rhonki M8M, stridor 0M2, 6hee/ing -8-
Abdomen : distensi 0-2, bissing usus 0M2 normal
Dkstremitas : akral hangat, refilling kapiler baik
9esan :
Perburukan
>erapi :
Bebulisasi adrenalin !:!*** % ml
2 Se"te$4er 2;128 ;*.;; <IB
S8 sesak nafas masih ada, berkurang dari sebelumnya
9ebiruan tidak ada
(emam tidak ada
9ejang tidak ada
<ual dan muntah tidak ada
4A9 biasa
-8 9? : sakit berat, sadar
Badi : !*$ x8menit
Bafas : 3* x8menit
Suhu : )7,# @
<ata : konjungti+a tidak anemis, sklera tidak ikterik
>horaks : retraksi 0M2 di epigastrium
@or : irama teratur, bising 0-2
Pulmo : bronkial, stridor ada 0berkurang2, rhonki M8M, 6hee/ing -8-
Abdomen : distensi 0-2, bising usus 0M2 normal
Dkstremitas : akral hangat, refilling kapiler baik
9esan :
Perbaikan
4alance @airan 8 !# jam
p.o -
p.e %** cc
,A; !"%
?rin )** cc
4alance M% cc
(iuresis !," cc kg448jam
Skor Aestley
5etraksi ringan : #
Air Dntry : *
Stridor inspirasi terdengar dengan stetoskop : #
Sianosis : tidak ada : *
(erajat kesadaran : sadar : *
>otal : 3
9esan : croup sedang 0perbaikan dari sebelumnya2
>erapi:
-ksigen ) liter8menit
,.F( 9aDn ,4 !3 tetes8menit makro
@eftriaxon ! x ! gr ,.
(examethason ) x ),% mg ,.
Paracetamol !)* mg 0> O )$,% @2
@oba minum $ x #% cc
2 Se"te$4er 2;128 "3-3! ;,.;; <IB
S8 demam tidak ada
Sesak nafas masih ada
9ebiruan tidak ada
<untah tidak ada
4A9 ada, jumlah dan 6arna biasa
-8 9? : sakit berat, sadar
Badi : !** x8menit
Bafas : 3* x8menit
Suhu : )7,* @
Bafas cuping hidung tidak ada
<ata : konjungti+a tidak anemis, sklera tidak ikterik
>horaks : retraksi 0M2 di epigastrium
@or : irama teratur, bising tidak ada
Pulmo : bronkial, stridor tidak ada, rhonki M8M, 6hee/ing -8-
Abdomen : distensi 0-2, bising usus 0M2 normal
Dkstremitas : akral hangat, refilling kapiler baik
9esan:
Perbaikan
-bser+asi takipneu
>erapi :
-ksigen ) liter8menit nasal
,.F( 9aDn ,4 !3 tetes8menit makro
@eftriaxon ! x ! gr ,.
(examethason ) x ),% mg ,.
Paracetamol !)* mg 0> O )$,% @2
@oba minum $ x #% cc
& Se"te$4er 2;12
S8 demam tidak ada
Sesak nafas masih ada, berkurang
9ebiruan tidak ada
<untah tidak ada
4A9 ada, jumlah dan 6arna biasa
-8 9? : sakit berat, sadar
Badi : !*# x8menit
Bafas : )' x8menit
Suhu : )7,# @
Bafas cuping hidung tidak ada
<ata : konjungti+a tidak anemis, sklera tidak ikterik
>horaks : retraksi 0M2 di epigastrium
@or : irama teratur, bising tidak ada
Pulmo : bronkial, stridor tidak ada, rhonki M8M, 6hee/ing -8-
Abdomen : distensi 0-2, bising usus 0M2 normal
Dkstremitas : akral hangat, refilling kapiler baik
9esan:
Perbaikan
>erapi :
-ksigen ) liter8menit nasal
,.F( 9aDn ,4 !3 tetes8menit makro
@eftriaxon ! x ! gr ,.
(examethason ) x ),% mg ,.
Paracetamol !)* mg 0> O )$,% @2
@oba minum $ x #% cc
BAB III
DISKUSI
>elah dira6at seorang pasien lak-laki, berusia 3 tahun 7 bulan di bangsal anak 5S?P (5. <
(jamil Padang, dengan diagnosis saat masuk Suspek @roup disease. Pasien datang dengan
keluhan utama sesak nafas sejka !% jam uang lalu. Pasien telah mengalami demam sejak # hari
yang lalu, tingi, terus menerus, tidak menggigil, tidak berkeringat, tidak disertai kejang. Sesak
nafas sejak I!% jam yang lalu, berbunyi mengorok, tidak berbunyi menciut, tidak dipengaruhi
cuaca, makanan, dan akti+itas. Pasien juga mengalami nyeri menelan sejak I!% jam yang lalu.
pasien lebih suka duduk atau setengah duduk sejak I!% jam yang lalu. Suara serak sejak I!* jam
yang lalu. 4atuk menggongggong tidk ada, pilek tidak ada. Pasiein dirujuk dari 5S?( <. Jein
Painan dengan keterangan suspek difteri dan telah diberi terapi oksigen # liter8menit nasal, ,.F(
9aen ,4 !* tetes8menit makro, ceftriaxon %** mg, dexamethason ',% mg intra+enadan telah
dilakukan pemeriksaan rontgen thoraks AP di 5S?( <. Jein
Pada pemeriksaan fisik ditemukan pasien tampak sakit berat dengan tekanan darah
!!*8$* mm1g, nafas sesak %3x8menit, nadi !)*x8menit, suhu )7,"K@. Pada pasien ditemukan
adanya nafas cuping hidung, retraksi dinding dada di epigastrium, interkosta dan suprasternal.
(itemukan pula stridor inspirasi dan ekspirasi serta rhonki basah halus nyaring di kedua
lapangan paru.
(ari keseluruhan anamnesis, pemeriksaan fisik dan labor rutin maka pasien didiagnosis
sebagai suspek @roup (isease, kemudian direncanakan pemeriksaan foto rontgen leher. (ari
hasil rontgen tersebut didapatkan gambaran steeple sign yang memperkuat diagnosis. Pasien juga
didiagnosis bronkopneumoni dengan adanya rhonki basah halus nyaring di kedua lapangan paru
dan gi/i kurang sehubungan dengan 448>4 pasien yang kurang dari "*&.
Pada pasien diberikan tatalaksana a6al dengan pemberian oksigen # liter8menit nasal,
,.F( 9aDn ,4 $% cc8kg448hari, ceftriaxon ! x ! gram ,. dan P@> !)* mg. (ari penialaian
skor Aestley didapatkan skor !3 yang membuat pasien dikategorikan @roup berat. (engan
keadaan pasien yang sesak dilakukan nebulisasi adrenalin !:!*** % ml. post nebulisasi perbaikan
hanya minimal, kemudian diberikan dexamethason *,' mg8kg44. 9arena kemudian masih
terjadi perburukan kembali dilakukan nebulisasi adrenalin. Pada ra6atan hari ke-# keadaan terus
membaik, terapi masih dilanjutkan, dan pasien telah dicoba untuk mulai minum.
Pasien didiagnosis (4( karena adanya demam tinggi mendadak yang terus menerus
selama ) hari kemudian turun dan demam kembali hingga saat ini. (itemukan adanya
manifestasi perdarahan berupa ptekie pada tangan, hepar teraba membesar !8)-!83, nadi lemah
dan cepat disertai tekanan nadi menurun 0P#* mm1g2, tekanan darah menurun 0tekanan sistolik
P $* mm1g2 disertai kulit yang teraba dingin. (ari pemeriksaan laboratorium didapatkan
trombositopenia dengan jumlah trombosit #".***8mm
)
dan hemokonsentrasi. (ikatakan (erajat
,,, karena ditemukan tanda kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lembut, tekanan nadi
menurun 0P #* mm1g2 disertai kulit dingin.
Pasien diberikan cairan 5; #* cc8kg 448jam sehingga cairan harus masuk !!) tetes. Pada
pasien dipasang # $V line. Pada pemeriksaan fisik dan laboratorium setengah jam setelah syok
ditemukan akral teraba hangat, nadi teraba kuat, tekanan nadi )* mm1g. 1al ini menunjukkan
syok teratasi.
>erapi yang diberikan selanjutnya adalah ,.F( 5; %# tetes8menit, <; !3** kkal8hari,
paracetamol jika suhu O )$,%
*
@, dan banyak minum. Pada pemantauan #3 jam pertama ra6atan
ditemukan >( "*8'* mm1g, nadi !#*x8menit, nafas )3x8menit, 1b !*,# g8dl, 1t )*&, trombosit
)).***8mm
)
0penurunan 1t dan peningkatan trombosit dari sebelumnya2. 1al ini menunjukkan
hemodinamik pasien stabil sehingga cairan yang diberikan terakhir adalah 5; % ml8kg448jam.
Pada follo6 up terakhir cairan yang diberikan diturunkan menjadi ) ml8kg448jam.