Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN KANKER KOLON


DI INSTALASI BEDAH SENTRAL RSUP DR. SARDJITO
Tugas Mandiri
Stase Keperawatan Medikal Bedah Tahap Profesi
Program Studi Ilmu Keperawatan
Disusun oleh :
Arie Oc!"i!ni
#$%&'()*'%KU%&&+)#
PROGRA, STUDI IL,U KEPERAWATAN
-AKULTAS KEDOKTERAN
UNI.ERSITAS GADJAH ,ADA
/OG/AKARTA
0#&*
1
KANKER KOLON
A. DE-INISI
Karsinoma atau kanker kolon ialah keganasan tumbuh lambat yang paling
sering ditemukan daerah kolon terutama pada sekum, desendens bawah, dan kolon
sigmoid. Prognosa optimistik tanda dan ge!ala awal biasanya tidak ada. "Susan
Martin Tu#ker, 1$$%&.
Kanker kolon adalah tumbuhya sel'sel ganas di permukaan dalam usus besar
"kolon& atau rektum. (okasi tersering timbulnya kanker kolon adalah di bagian
sekum, asendens, dan kolon sigmoid, salah satu penatalaksanaannya adalah
dengan membuat kolostomi untuk mengeluarkan produksi fe#es. Kanker #olon
adalah penyebab kedua kematian di )merika Serikat setelah kanker paru'paru
")*S 1$$%&.
Penyakit ini termasuk penyakit yang mematikan karena penyakit ini sering
tidak diketahui sampai tingkat yang lebih parah. Pembedahan adalah satu'satunya
#ara untuk mengubah kanker kolon.
B. ETIOLOGI
Penyebab !elas kanker usus besar belum diketahui se#ara pasti, namun
makanan merupakan faktor yang penting dalam ke!adian kanker tersebut. +aitu
berkorelasi dengan faktor makanan yang mengandung kolesterol dan lemak
hewan tinggi, kadar serat yang rendah, serta adanya interaksi antara bakteri di
dalam usus besar dengan asam empedu dan makanan, selain itu dapat !uga
dipengaruhi oleh minuman yang beralkohol, khususnya bir.
,aktor resiko telah teridentifikasi. ,aktor resiko untuk kanker kolon-
' .sia lebih dari /0 tahun
' 1iwayat polip rektal atau polip kolon
' )danya polip adematosa atau adenoma 2illus
' 1iwayat keluarga dengan kanker kolon atau poliposis dalam keluarga
3
' 1iwayat penyakit usus inflamasi kronis
' 4iet tinggi lemak, protein, daging dan rendah serat.
1. PATO-ISIOLOGI
Kanker kolon dan rektum terutama ber!enis histopatologis "$56&
adenokarsinoma "mun#ul dari lapisan epitel dalam usus7endotel&. Mun#ulnya
tumor biasanya dimulai sebagai polip !inak, yang kemudian dapat men!adi ganas
dan menyusup, serta merusak !aringan normal dan meluas ke dalam struktur
sekitarnya. Tumor dapat berupa masa polipoid, besar, tumbuh ke dalam lumen,
dan dengan #epat meluas ke sekitar usus sebagai striktura annular "mirip #in#in&.
(esi annular lebih sering ter!adi pada rektosigmoid, sedangkan lesi polipoid yang
datar lebih sering ter!adi pada sekum dan kolon asendens.
Tumor dapat menyebar melalui -
' Infiltrasi langsung ke struktur yang berdekatan, seperti ke dalam
kandung kemih "2esika urinaria&.
' Penyebaran lewat pembuluh limfe limfogen ke kelen!ar limfe
perikolon dan mesokolon.
' Melalui aliran darah, hematogen biasanya ke hati karena kolon
mengalirkan darah balik ke sistem portal.
Stadium pada pasien kanker kolon menurut Syamsu 8idyat "11$9& diantaranya-
' Stadium I bila keberadaan sel'sel kanker masih sebatas pada lapisan
dinding usus besar "lapisan mukosa&.
' Stadium II ter!adi saat sel'sel kanker sudah masuk ke !aringan otot di
bawah lapisan mukosa.
' Pada stadium III sel kanker sudah menyebar ke sebagian kelen!ar
limfe yang banyak terdapat di sekitar usus.
' Stadium I: ter!adi saat sel'sel kanker sudah menyerang seluruh
kelen!ar limfe atau bahkan ke organ'organ lain.
;
D. TANDA DAN GEJALA
<e!ala sangat ditentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit, dan fungsi
segmen usus tempat kanker berlokasi. <e!ala paling menon!ol adalah perubahan
kebiasaan defekasi. Pasase darah dalam feses ge!ala paling umum kedua. <e!ala
dapat !uga anemia yang tidak diketahui penyebabnya, anoreksi, atau penurunan
berat badan dan keletihan.
<e!ala yang sering dihubungkan dengan lesi sebelah kanan adalah nyeri
dangkal abdomen dan melena "feses hitam, seperti ter&. <e!ala yang sering
dihubungkan dengan lesi sebelah kiri adalah yang berhubungan dengan obstruksi
"nyeri abdomen dan kram, penipisan feses, konstipasi dan distensi& serta adanya
darah merah segar dalam feses. <e!ala yang dihubungkan dengan lesi rektal
adalah e2akuasi feses yang tidak lengkap setelah defekasi, konstipasi dan diare
bergantian, serta feses berdarah.
Keluhan utama bagi penderita kanker kolon-
' Perdarahan peranum disertai peningkatan frekuensi defekasi atau diare
selama minimal = minggu "semua umur&
' Perdarahan peranum tanpa ge!ala anal "di atas =0 tahun&
' Massa teraba pada fossa ilia#a dektra "semua umur&
' Massa intra luminal di dalam rektum
' Tanda 'tanda obstruksi mekanik usus " Ileus >bstruksi &
' Setiap penderita dengan anemia defisiensi ,e "8b ? 11 gr 6 pada pria dan
8b ? 10 gr 6 pada wanita pas#a menopause&.
E. KO,PLIKASI
Komplikasi pada pasien dengan kanker kolon yaitu-
o Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan obstruksi usus parsial atau
lengkap.
/
o Metastase ke organ sekitar, melalui hematogen, limfogen dan
penyebaran langsung.
o Pertumbuhan dan ulserasi dapat !uga menyerang pembuluh darah
sekitar kolon yang menyebabkan hemorragi.
o Perforasi usus dapat ter!adi dan mengakibatkan pembentukan abses.
o Peritonitis dan atau sepsis dapat menimbulkan syok.
o Pembentukan abses
Pembentukan fistula pada urinari bladder atau 2agina. Biasanya tumor
menyerang pembuluh darah dan sekitarnya yang menyebabkan pendarahan.
Tumor tumbuh ke dalam usus besar dan se#ara berangsur'angsur membantu usus
besar dan pada akhirnya tidak bisa sama sekali. Perluasan tumor melebihi perut
dan mungkin menekan pada organ yang berada disekitanya "uterus, urinary
bladder dan ureter& dan penyebab ge!ala'ge!ala tersebut tertutupi oleh kanker.
-. PE,ERIKSAAN KHUSUS DAN PENUNJANG
o @ndoskopi- Pemeriksaan endoskopi perlu diker!akan, baik sigmoidoskopi
maupun kolonoskopi. <ambaran yang khas karsinoma atau ulkus akan
dapat dilihat dengan !elas pada endoskopi, dan untuk menegakkan
diagnosis perlu dilakukan biopsi.
o 1adiologi- Pemeriksaan radiologi yang dapat diker!akan antara lain adalah
foto dada dan foto kolon "barium enema&.
o Pemeriksaan dengan enema barium mungkin dapat memper!elas keadaan
tumor dan mengidentifikasikan letaknya. Tes ini mungkin menggambarkan
adanya kebuntuan pada isi perut, dimana ter!adi pengurangan ukuran
tumor pada lumen. (uka yang ke#il kemungkinan tidak teridentifikasi
5
dengan tes ini. @nema barium se#ara umum dilakukan setelah
sigmoidos#opy dan #olonos#opy.
o Computer Tomografi "*T& membantu memper!elas adanya massa dan luas
dari penyakit. *hest A'ray dan li2er s#an mungkin dapat menemukan
tempat yang !auh yang sudah metastasis.
o Pemeriksaan foto dada berguna selain untuk melihat ada tidaknya
metastasis kanker pada paru !uga bisa digunakan untuk persiapan tindakan
pembedahan. Pada foto kolon dapat dapat terlihat suatu filling defect pada
suatu tempat atau suatu striktura.
o .ltrasonografi ".S<&. Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi ada
tidaknya metastasis kanker kelen!ar getah bening di abdomen dan di hati.
o 8istopatologi- selain melakukan endoskopi sebaiknya dilakukan biopsi di
beberapa tempat untuk pemeriksaan histopatologis guna menegakkan
diagnosis. <ambaran histopatologi karsinoma kolorektal ialah
adenokarsinoma, dan perlu ditentukan differensiasi sel.
o (aboratorium. Tidak ada petanda yang khas untuk karsinoma kolorektal,
walaupun demikian setiap pasien yang mengalami perdarahan perlu
diperiksa 8b. Tumor marker "petanda tumor& yang biasa dipakai adalah
*@). Kadar *@) lebih dari 5 mgB ml biasanya ditemukan karsinoma
kolorektal yang sudah lan!ut. Berdasarkan penelitian, *@) tidak bisa
digunakan untuk mendeteksi se#ara dini karsinoma kolorektal, sebab
ditemukan titer lebih dari 5 mgBml hanya pada sepertiga kasus stadium III.
Pasien dengan buang air besar lendir berdarah, perlu diperiksa tin!anya
se#ara bakteriologis terhadap shigella dan !uga amoeba.
o S#an "misalnya, M11. *C- gallium& dan ultrasound- 4ilakukan untuk
tu!uan diagnostik, identifikasi metastatik, dan e2aluasi respons pada
pengobatan.
=
o Biopsi "aspirasi, eksisi, !arum&- 4ilakukan untuk diagnostik banding dan
menggambarkan pengobatan dan dapat dilakukan melalui sum'sum tulang,
kulit, organ dan sebagainya.
o Dumlah darah lengkap dengan diferensial dan trombosit- 4apat
menun!ukkan anemia, perubahan pada sel darah merah dan sel darah putih-
trombosit meningkat atau berkurang.
o Sinar A dada- Menyelidiki penyakit paru metastatik atau primer.
G. PENATALAKSANAAN
1& Penatalaksanaan medis
Pasien dengan ge!ala obstruksi usus diobati dengan #airan I: dan
pengisapan nasogastrik. )pabila ter!adi perdarahan yang #ukup bermakna
terapi komponen darah dapat diberikan.
Pengobatan medis untuk kanker kolorektal paling sering dalam bentuk
pendukung atau terapi a!u2an. Terapi a!u2an biasanya diberikan selain
pengobatan bedah. Pilihan men#akup kemoterapi, terapi radiasi dan atau
imunoterapi.
Kemoterapi yang diberikan ialah 5'flurourasil "5',.&. Belakangan ini
sering dikombinasi dengan leuko2orin yang dapat meningkatkan efektifitas
terapi. Bahkan ada yang memberikan ; ma#am kombinasi yaitu- 5',.,
le2amisol, dan leu2o#orin. 4ari hasil penelitian, setelah dilakukan
pembedahan sebaiknya dilakukan radiasi dan kemoterapi
3& Penatalaksanaan bedah
Pembedahan adalah tindakan primer untuk kebanyakan kanker kolon dan
rektal, pembedahan dapat bersifat kuratif atau paliatif. Kanker yang terbatas
pada satu sisi dapat diangkat dengan kolonoskop. Kolostomi laparoskopik
dengan polipektomi merupakan suatu prosedur yang baru dikembangkan
untuk meminimalkan luasnya pembedahan pada beberapa kasus.
(aparoskop digunakan sebagai pedoman dalam membuat keputusan
dikolon, massa tumor kemudian di eksisi.
9
1eseksi usus diindikasikan untuk kebanyakan lesi kelas ) dan semua
kelas B serta lesi *. Pembedahan kadang dian!urkan untuk mengatasi
kanker kolon kelas 4. Tu!uan pembedahan dalam situasi ini adalah paliatif.
)pabila tumor sudah menyebar dan men#akup struktur 2ital sekitar, operasi
tidak dapat dilakukan. Tipe pembedahan tergantung dari lokasi dan ukuran
tumor.
Prosedur pembedahan pilihan adalah sebagai berikut.
o 1eseksi segmental dengan anastomosis "pengangkatan tumor dan
porsi usus pada sisi pertumbuhan, pembuluh darah dan nodus
limfatik&
o 1eseksi abominoperineal dengan kolostomi sigmoid permanen
"pengangkatan tumor dan porsi sigmoid dan semua rektum serta
sfingter anal&
o Kolostomi sementara diikuti dengan reseksi segmental dan
anastomosis serta reanastomosis lan!ut dari kolostomi
o Kolostomi permanen atau iliostomy "untuk menyembuhkan lesi
obstruksi yang tidak dapat direseksi&
;& 4ifersi 2ekal untuk kanker kolon dan rektum
Berkenaan dengan tehnik perbaikan melalui pembedahan, kolostomi
dilakukan pada kurang dari sepertiga pasien kanker kolorektal. Kolostomi adalah
pembuatan lubang "stoma& pada kolon se#ara bedah. Stoma ini dapat berfungsi
sebagai difersi sementara atau permanen. Ini memungkinkan drainase atau
e2akuasi isi kolon keluar tubuh. Konsistensi drainase dihubungkan dengan
penempatan kolostomi yang ditentukan oleh lokasi tumor dan luasnya in2asi pada
!aringan sekitar.
/& Penatalaksanaan Keperawatan
o 4ukungan adaptasi dan kemandirian.
%
o Meningkatkan kenyamanan.
o Mempertahankan fungsi fisiologis optimal.
o Men#egah komplikasi.
o Memberikan informasi tentang prosesB kondisi penyakit, prognosis, dan
kebutuhan pengobatan.
5& Penatalaksanaan 4iet
o *ukup mengkonsumsi serat, seperti sayur'sayuran dan buah'buahan.
Serat dapat melan#arkan pen#emaan dan buang air besar sehingga
berfungsi menghilangkan kotoran dan Eat yang tidak berguna di usus,
karena kotoran yang terlalu lama mengendap di usus akan men!adi
ra#un yang memi#u sel kanker.
o Ka#ang'ka#angan "lima porsi setiap hari&
o Menghindari makanan yang mengandung lemak !enuh dan kolesterol
tinggi terutama yang terdapat pada daging hewan.
o Menghindari makanan yang diawetkan dan pewarna sintetik, karena hal
tersebut dapat memi#u sel karsinogen B sel kanker.
o Menghindari minuman beralkohol dan rokok yang berlebihan.
o Melaksanakan akti2itas fisik atau olahraga se#ara teratur.
SIG,OIDEKTO,I
1eseksi tumor pada kolon sigmoid dapat dilaksanakan dengan melakukan
ligasi dan pemotongan #abang sigmoid dan #abang hemoroidalis superior dari
arteri mesenterika inferior. .mumnya tumor kolon sigmoid dilakukan reseksi
diatas refleksi peritoneum dilan!utkan anastomosis antara kolon des#enden dan
$
rektosigmoid setinggi promontorium. .ntuk menghindari tension anastomosis
dilakukan pembebasan pada fleksura lienalis.
1eseksi anterior
1eseksi anterior diindikasikan untuk reseksi tumor pada rektosigmoid.
1eseksi anterior dilakukan dengan memotong sigmoid dan proksimal rektum
dengan melakukan ligasi dan memotong a. mesenterika inferior. Pada reseksi
anterior dilakukan penyambungan antara kolon desenden dengan re#tum di atas
peritoneal refle#tion.
(ow reseksi anterior.
Indikasi pembedahan untuk reseksi tumor pada proksimal rektum. Seperti
tindakan reseksi anterior, pada low reseksi anterior penyambungan antara kolon
desenden dengan rektum dilakukan dibawah peritoneal refle#tion.
Te2ni2 o3er!si
o Setelah penderita diberi narkose dengan endotrakeal, posisi telentang.
o 4ilakukan desinfeksi lapangan pembedahan dengan larutan antiseptik,
kemudian dipersempit dengan linen steril.
o 4ibuat insisi mediana mulai 3 !ari atas umbilikus sampai symfisis pubis.
Insisi diperdalam sampai tampak peritoneum dan peritoneum dibuka
se#ara ta!am.
o (esi pada kolon sigmoid dan rektum diinspeksi dan dipalpasi untuk
menilai dapat tidaknya dilakukan pengangkatan tumor. Dika lesi diprediksi
ganas, palpasi kelen!ar limfe mesosigmoid dan hepar untuk melihat
metastase "dilakukan staging tumor&.
o 4engan menggunakan kasa besar, usus halus disisihkan agar ekspose dari
kolon des#enden dan kolon sigmoid tampak !elas.
o Peritoneum dibebaskan dari sigmoid pada kedua sisi dan terus dibebaskan
kebawah. Identifikasi dan isolasi ureter kanan ' kiri dan pembuluh darah
o2arium dan spermatika.
10
o (ipatan peritonum anterior rektum dibebaskan dan dipisahkan sampai
dasar buli'3 atau ser2iks
o 1ektum dibebaskan dari sisi anterior dan posterior dengan melakukan
diseksi mesorektal. 4iusahakan rektum dan mesorektum dalam keadaan
utuh. ).hemoroidalis medius diikat dan dipotong untuk menambah
mobilitas rektum.
o ). mesenterika inferior diikat dan dipotong pada u!ungnya.
o 1ektum pada distal tumor dan sigmoid pada proksimal tumor dipotong
sesuai kaidah onkologi.
o Pastikan segmen proksimal #ukup longgar dan tidak tegang pada saat
anastomose. Bila terdapat ketegangan sisi lateral kolon desenden sampai
fleksura lienalis dibebaskan untuk menambah mobilitas kolon desenden.
o 4ilakukan penyambungan kolon desenden dengan rektum se#ara end to
end.
o Perdarahan dirawat dan dilakukan peritonealisasi. Pada low reseksi
anterior dian!urkan memasang re#tal tube retroperitoneal untuk beberapa
hari.
o (uka operasi ditutup lapis demi lapis.
o Spesimen tumor kolon diperiksakan se#ara patologi anatomi.
Ko43li2!si O3er!si
o Kebo#oran dari anastomosis, peritonitis, sepsis
o Perdarahan
o *edera ureter
o *edera pleksus saraf otonom pada pel2is.
Pro5nosis
Prognosis tergantung pada !enis penyakit yang mendasarinya. Pada
karsinoma sigmoid atau rektum prognosis tergantung pada stadium, !enis patologi
dari tumor, komplikasi yang ditimbulkan dan penyakit lain yang mendasari
"underlying disease&.
,or!li!s
11
)ngka kematian pada operasi kanker kolon sigmoid berkisar ;,$ 6 sBd %,1 6
Per!6!!n P!sc! Be7!h
o Pertahankan masa gastrik tube 1'; hari
o 4iet peroral diberikan segera setelah saluran pen#ernaan berfungsi, dimulai
dengan diet #air dan bertahap diberikan makanan lunak dan padat
o Mobilisasi sedini mungkin
o Kontrol rasa sakit seminimal mungkin
-ollo68u3
.ntuk kasus karsinoma kolon sigmoid F rektum bagian atas-
o Pemeriksaan fisik termasuk #olok dubur setiap ; bulan dalam 3 tahun
pertama, setiap = bulan dalam ; tahun berikutnya.
o Pemeriksaan kadar *@) setiap ; bulan untuk 3 tahun pertama dan setiap =
bulan untuk ; tahun berikutnya.
o Kolonoskopi 1 tahun pas#a operasi, diulang 1 tahun berikutnya bila
ditemukan abnomalitas atau ; tahun berikutnya bila ditemukan normal.
o Pemeriksaan lainnya seperti *T s#an, pemeriksaan fungsi li2er dan Bone s#an
dilakukan bila ada indikasi.
o Pemeriksaan 1o. thoraks setiap tahun.
DIAGNOSA KEPERAWATAN /ANG ,UNGKIN ,UN1UL
Preo3er!i9:
Kurang pengetahuan tentang penyakit dan pilihan pengobatan
berhubungan dengan kurang paparan sumber informasi
*emas b.d perubahan status kesehatan dan prosedur pengobatan.
P!sc!o3er!i9:
Gyeri akut berhubungan dengan agen in!uri "insisi pembedahan&
1esiko infeksi berhubungan dengan tindakan in2asif, insisi post
pembedahan
13
A. PEREN1ANAAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN 1! 1olon
NO
DP
D: KEP%,ASALAH
KOLABORASI
REN1ANA KEPERAWATAN RASIONAL
TUJUAN INTER.ENSI
1. *emas b.d perubahan status
kesehatan dan prosedur
pengobatan.
NO1 l!;els:
a. Klien dapat mengontrol
ke#emasannya.
b. Klien dapat mengatasi
#emas.
Ouco4es:
1. 4apat mengidentifikasi dan
mem2erbalisasikan tanda'
tanda #emas.
3. 4apat mengindentifikasi,
2erbalisasi dan
mendemonstrasikan teknik
untuk mengontrol
ke#emasan.
;. Klien menun!ukkan
ekspresi wa!ah dan bahasa
tubuh pada tingkat
penurunan distress.
/. TT: tetap stabil.
1. Ka!i tingkat #emas dan reaksi
tubuh terhadap #emas.
3. <unakan teknik sentuhan dan
mendengar terapeutik.
;. )n!urkan klien untuk
menggunakan kata'kata
positip "merubah main'set&
misal Hke#emasan tidak akan
membunuhkuI, Haku dapat
melakukannyaI,dll.
/. Ka!i metode masa lalu klien
dalam mengontrol
ke#emasan.
Ke#emasan merupakan
respon psikologi dan
physi#al yang normal
pada setiap indi2idu
terhadap setiap ke!adian
baik internal maupun
eksternal.
4apat menurunkan
ke#emasan.
Terapi kognitif yang
berfokus terhadap
merubah perilaku dan
perasaan dapat merubah
main set seseorang.
Merubah pernyataan
negati2e men!adi positip
dapat menurunkan
ke#emasan.
Metode masa lalu klien
dapat digunakan lagi
dalam menurunkan
ke#emasan
1;
3. Kurang pengetahuan tentang
penyakit, prosedur
pengobatan b.d tidak
mengenal sumber'sumber
informasi.
NO1 l!;els:
a. Proses penyakit
b. Perilaku hidup sehat
Ouco4es:
1. Klien dapat men!elaskan
tentang penyakitnya dan
mengerti tentang prosedur
pengobatan.
3. Klien dapat berperilaku
hidup sehat.
1. Ka!i kesiapanFkemampuan
klien untuk bela!ar dan
tingkat pengetahuan klien.
3. Ka!i
pengetahuanFketrampilan
klien sebelumnya tentang
penyakitFpengaruhnya
terhadap keinginan bela!ar
;. Berikan materi yang paling
penting pada klien
/. Identifikasi sumber dukungan
utamaFperhatikan
kemampuan klien untuk
bela!ar F mendukung
perubahan perilaku yang
diperlukan
5. Ka!i keinginan keluarga
untuk mendukung perubahan
perilaku klien
Proses bela!ar
tergantung pada situasi
tertentu, interaksi so#ial,
nilai budaya dan
lingkungan
Informasi baru diserap
melalui asumsi dan fakta
sebelumnya dan bisa
mempengaruhi proses
transformasi
Informasi akan lebih
mengena apabila
di!elaskan dari konsep
yang sederhana ke yang
komplek
4ukungan keluarga
diperlukan untuk
mendukung perubahan
perilaku
1/
;. Gyeri akut b.d in!ury fisik
"in#ise post pembedahan,
terapi yang diberikan&
NO1 l!;els:
a. *ontrol nyeri, pain le2el,
#omfort pain
b. Gyeri - disrupti2e effe#ts
Ouco4es:
1. Klien mengatakan nyeri
yang dirasakan berkurang.
3. Klien dapat
mendeskripsikan
bagaimana mengontrol
nyeri
;. Klien mengatakan
kebutuhan istirahat dapat
terpenuhi
/. Klien dapat menerapkan
metode non farmakologik
untuk mengontrol nyeri
=. @2aluasi hasil pembela!arn
klien lewat demonstrasi F
menyebutkan kembali materi
yang dia!arkan.
1. Identifikasi nyeri yang
dirasakan klien "P, J, 1, S,
T&
3. Pantau tanda'tanda 2ital.
;. Berikan tindakan
kenyamanan.
/. )!arkan teknik non
farmakologik "relaksasi,
fantasi, dll& untuk
menurunkan nyeri.
5. Ka!i pengalaman klien
masa lalu dalam mengatasi
nyeri.
=. Berikan analgetik sesuai
indikasi
Menyediakan data dasar
untuk memantau
perubahan dan
menge2aluasi inter2ensi.
Memberikan dukungan
menurunkan ketegangan
otot, meningkatkan
relaksasi, menfokuskan
ulang perhatian,
meningkatkan rasa
#ontrol diri dan
kemampuan koping.
Inter2ensi farmakologik
adalah titik managemen
inter2ensi.
15
/. 1esiko infeksi b.d prosedur
in2asi2e "infuse& dan luka
in#isi post pembedahan.
NO1 l!;els -
a. Status imun.
b. Knowledge - kontrol
infeksi
#. *ontrol resiko
Ouco4es:
1. Klien bebas dari tanda'
tanda infeksi
3. Klien mampu men!elaskan
tandaFge!ala infeksi
;. mendemonstrasikan
perilaku seperti #u#i
tangan, oral #are dan
perineal #are.
1. >bser2asiFmelaporkan
tandaFge!ala infeksi, spt
kemerahan, hangat, dan
peningkatan suhu badan
3. Ka!i suhu klien, netropeni
setiap / !am, laporkan !ika
temperature lebih dari ;%K *
;. Menggunakan thermometer
untuk mengka!i suhu
/. *atat dan laporkan nilai
laboratorium
5. Ka!i warna kulit,
kelembaban kulit, tekstur
dan turgor lakukan
dokumentasi yang tepat
>nset infeksi dengan
system imun diakti2asi
F tanda infeksi mun#ul
Klien dengan netropeni
tidak memproduksi
#ukup respon inflamasi
karena itu panas
biasanya merupakan
satu'satunya tanda
Fsering
Gilai suhu memiliki
konsekuensi yang
penting terhadap
pengobatan yang tepat
Gilai lab berkorelasi dgn
riwayat klien F
pemeriksaan fisik utk
memberikan pandangan
menyeluruh
4apat men#egah
kerusakan kulit, kulit
yang utuh merupakan
pertahanan pertama
1=
pada setiap perubahan
=. 4ukung untuk konsumsi
diet seimbang, penekanan
pada protein untuk
pembentukan system imun
terhadap
mikroorganisme
,ungsi imun
dipengaruhi oleh intake
protein
19
D!9!r Pus!2!
Brunner F Suddarth, 3003, Buku )!ar Keperawatan Medikal Bedah, edisi %
2olume 3, @<*, Dakarta
Gorth )meri#an Gursing 4iagnosis )sso#iation. 3001. Nursing Diagnosis :
Definition and Classification 2001-2002. G)G4) International.
Philadelphia.
Dohnson, M. Maas, M and Moorhead, S. 1$$$. Nursing Outcomes
Classifications (NOC). Se#ond @dition. I>L) >ut#omes Pro!e#t.
Mosby'+ear Book, In#. St.(ouis, Missouri.
M#*loskey, D.* and Bule#hek, <.M. 1$$=. Nursing Interention
Classifications (NIC). Se#ond @dition. I>L) Inter2entions Pro!e#t.
Mosby'+ear Book, In#. St.(ouis, Missouri.
Pri#e, Syl2ia ) and Lillson, (orraine M, 1$$=, Patofisiologi- Konsep Klinis
Proses'Proses penyakit, @disi empat, @<*, Dakarta
1%