Anda di halaman 1dari 30

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA UNTUK

MENYELESAIKAN OPERASI HITUNG PECAHAN MELALUI


TUGAS DAN LATIHAN PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA
BAGI SISWA KELAS V SD NEGERI 1 ANDAPRAJA TAHUN
PELAJARAN 2013/2014

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Oleh :
ELIN KURAESIN, S.Pd.SD
NIP. 195909041979122006

SD NEGERI 1 ANDAPRAJA
UPTD PENDIDIKAN KECAMATAN RAJADESA
2014
1

LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN


Laporan Penelitian Tindakan Kelas

Judul Laporan

Upaya

Meningkatkan

Kemampuan

Siswa

Untuk

Menyelesaikan Operasi Hitung Pecahan Melalui Tugas Dan


Latihan Pada Pembelajaran Matematika Bagi Siswa Kelas V SD
Negeri 1 Andapraja Tahun Pelajaran 2013/2014
Nama

: ELIN KURAESIN, S.Pd.SD

NIP

: 195909041979122006

Pangkat / Golongan

: Pembina / 4A

Jabatan

: Guru Kelas 5

Unit Kerja

: SD NEGERI 1 ANDAPRAJA UPTD KECAMATAN


RAJADESA KABUPATEN CIAMIS JAWA BARAT

Tanggal pelaksanaan mata pelajaran Matematika :


Siklus I, hari Rabu 12Februari2014
Siklus II, hari Kamis06 Maret 2014

Mengetahui
Kepala SD Negeri 1 Andapraja

Tatang S, A.Ma.Pd
NIP. 195408091977031004

Upaya Meningkatkan Kemampuan Siswa Untuk Menyelesaikan Operasi Hitung


Pecahan Melalui Tugas Dan Latihan Pada Pembelajaran Matematika Bagi Siswa
Kelas V SD Negeri 1 Andapraja
Tahun Pelajaran 2013/2014.
Elin Kuraesin

ABSTRAK
Adapun tujuan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui
peningkatan aktivitas dan kemampuansiswaUntuk Menyelesaikan Operasi Hitung
Pecahan Melalui Tugas Dan Latihan Pada Pembelajaran Matematika Bagi Siswa
Kelas V SD Negeri 1 Andapraja. Penelitian dilaksanakan selama 2 bulan yaitu bulan
Februari2014 sampai dengan bulan Maret2014. Penelitian dilakukan pada waktu itu
karena
materi
yang
berhubungan
dengan
permasalahan
tentang
kemampuanmenyelesaikanoperasihitungpecahanmelaluitugasdanlatihanpadapembelaj
aranMatematika. Yang menjadi subyek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa
kelas V SD Negeri 1 Andapraja, UPTD Pendidikan Kecamatan Rajadesa, Kabupaten
Ciamis, dengan jumlah siswa 14 yang terdiri dari 7 laki-laki dan 7 perempuan.
Prosedur peneilitian yang digunakan yaitu prosedur jenis penelitian tindakan kelas
yang dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahapan, yatu
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Analisis data kualitatif model
pembelajaran dianalisis menggunakan analisis deskritif kualitatif dengan
membandingkan siklus I dan siklus ke II sedangkan data yang berupa angka
(kuantitatif) dari hasil belajar siswa dianalisis menggunakan deskriptif komparatif
yaitu membandingkan nilai tes kondisi awal, nilai siklus I dan nilai tes siklus II
kemudian difleksi. Hasil penelitian melalui Metode tugasdanlatihan dapat
meningkatkan proses belajar siswa kelas V SD Negeri 1 Andapraja UPTD Pendidikan
Kecamatan Rajadesa Kabupaten Ciamis dari siklus I ke siklus II dalam aktivitas
proses pembelajaran. Nilai yang diperoleh adalah pada tes awal nilai rata-rata 60,7 ,
pembelajaran siklus I naik dengan nilai rata-rata 71,78 dan pembelajaran siklus II
mengalami kenaikan dengan nilai rata-rata 79,64 , ini membuktikan bahwa
pembelajaran mengalami peningkatan
Kata Kunci : Pecahan decimal, Metode tugasdanlatihan

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan penelitian ini
dengan judul : Upaya Meningkatkan Kemampuan Siswa Untuk Menyelesaikan
Operasi Hitung Pecahan Melalui Tugas Dan Latihan Pada Pembelajaran Matematika
Bagi Siswa Kelas V SD Negeri 1 AndaprajaTahun Pelajaran 2013/2014.
Dalam menyelesaikan laporan ini penulis mengalami kesulitan dan hambatan,
serta berbagai dorongan dari berbagai pihak akhirnya penulis dapat menyelesaikan
laporan ini dengan baik.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu menyelesaikan tugas ini.
Penulis menyadari bahwa didalam penyusunan penelitian ini, belumlah
sempurna dan masih banyak kekurangannya, maka untuk itu penulis mengharapkan
saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan dimasa yang akan datang.
Penulis berharap semoga laporan penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya dan bagi pembaca umumnya amiin.

Andapraja, 16Februari2014

Penulis

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
negara Republik Indonesia tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha
esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab untuk mengemban fungsi tersebut
pemerintah menyelenggarakan suatu sistem Pendidikan Nasional sebagaimana
tercantum dalam undang-undang nomor 20 tahun2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional.
Pendidikan

Nasional

harus

mampu

menjamin

pemerataan

kesempatan

pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi serta efisiensi manajemen pendidikan.


pemerataan kesempatan pendidikan diwujudkan dalam program wajib belajar 9
tahun. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia
Indonesia seutuhnya melalui olah hati, olah piker, olah rasa, dan olahraga agar
memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global. Peningkatan relevansi
pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan
kebutuhan berbasis potensi sumber daya alam Indonesia. Peningkatan efisiensi
manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah
dan

pembaharuan

pengolahan

pendidikan

secara

terencana

terarah

dan

berkesinambungan.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tingkat pendidikan dasar dan
menengah di kembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar
kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat
oleh BSNP. Struktur kurikulum standar SD/MI meliputi substansi pembelajaran yang
ditempuh dalam suatu jenjang pendidikan selama 6 tahun, mulai kelas I sampai
dengan kelas VI. struktur kurikulum SD/MI disusun berdasarkan standar kompetensi
lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran.
Mata pelajaran Matematika di dalam struktur kurikulum SD/MI alokasi waktu 6
jam pelajaran perminggu di kelas IV, V dan VI bertujuan untuk memiliki kemampuan
berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif. Matematika adalah suatu alat
6

untuk mengembangkan cara berfikir sehingga matematika sangat dibutuhkan dalam


memecahkan masalah di kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya pelajaran matematika
harus sudah diberikan sejak dini kepada anak yaitu sejak anak duduk dibangku
sekolah dasar.
Kouba, dkk dalam Idris Harta (2002 : 461) mengatakan bahwa para siswa
mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita, dan yang memerlukan
beberapa operasi hitung. Berdasarkan data siswa kelas V SD Negeri 1 Andapraja kec.
Rajadesa Kab. Ciamis Semester 2 tahun pelajaran 2013/2014 menunjukkan sekitar
50% siswanya belum data menyelesaikan operasi hitung pecahan dengan baik yang
ditunjukan dengan hasil belajar siswa pada soal operasi hitung pecahan matematika
rata-rata nilai hanya 60,7.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti berusaha memberikan alternatif solusi dalam
meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada operasi hitung pecahan yaitu
dengan melalui metode tugas dan latihan.
1. Identifikasi Masalah
Yang dimaksud dengan identifikasi masalah secara sederhana dapat penulis
rumuskan yaitu proses mencari dan menentukan akar permasalahan yang dihadapi
dalam pembelajaran, dengan cara merefleksi diri yaitu mengingat-ingat kembali /
merenungkan kegiatan dalam pembelajaran, yang telah dilaksanakan, khususnya
dalam pembelajaran Matematika tentang operasi hitung perkalian pembagian pecahan
desimal.
1. Rendahnya tingkat penguasaan siswa antara pecahan dan decimal.
2. Kurangnya pemahaman siswa cara mendapatkan koma dalam perkalian
decimal.
3. Siswa masih mengalami kesulitan dalam membagi decimal.
2. Analisis Masalah
Yang dimaksud dengan analisis masalah, secara sederhana dapat penulis
rumuskan yaitu proses mencari dan menentukan faktor penyebab munculnya
permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran, dengan cara merefleksi diri yaitu
mengingat-ingat kembali / merenungkan kejadian-kejadian dalam pembelajaran yang
telah dilaksanakan, khususnya dalam pembelajaran Matematika tentang perkalian
pembagian pecahan decimal. Dari berbagai penyebab yang ditemukan, di tentukan
penyebab yang paling dominan terhadap munculnya akar masalah untuk dicari dan
ditentukan langkah langkah tindakannya.
7

1. Guru kurang memperhatikan hasil pekerjaan secara individu saat kegiatan


belajar mengajar.
2. Guru kurang memberikan kesempatan untuk melakukan latihan dalam
pembelajaran sehingga anak kurang bergairah.
3. Guru kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan hasil uraian diatas, maka permasalahan dalam peneletian ini adalah :
Apakah tugas dan latihan pada pembelajaran matematika dapat meningkatkan
kemampuan siswa dalam menyelesaikan operasi hitung pecahan ?.
C. Tujuan Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini bertujuan :
1. Untuk mengetahui efektifitas metode tugas dan latihan dalam meningkatkan
kemampuan siswa menyelesaikan operasi hitung pecahan.
2. Untuk mengetahui hasil belajara siswa dengan metode tugas dan latihan untuk
menyelesaikan operasi hitung pecahan.
3. Untuk mengetahui aktivitas belajar siswa dengan metode tugas dan latihan
dalam menyelesaikan operasi hitung pecahan.

D. Manfaat Penelitian
Dalam buku Penelitian Tindakan Kelas karangan Dr. I.G.A.K. Wardhani, dkk.
yang diterbitkan pusat penerbitan universitas terbuka 2004 halaman : 116 sampai 122,
diuraikan bahwa manfaat penelitian tindakan kelas terbagi 3 bagian, yaitu :
1. Manfaat PTK bagi guru sebagai peneliti adalah sebagai berikut
a.

Untuk memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya karena

sasaran PTK adalah perbaikan pembelajaran.


b.

Guru dapat berkembang secara profesional karena dapat

menunjukkan bahwa ia mampu menilai dan memperbaiki pembelajaran


yang dikelolanya.
c.

PTK membuat guru lebih percaya diri. jika PTK mampu

membuat guru lebih berkembang sebagai pekerja profesional, maka


sebagai konsekuensinya PTK juga mampu membuat guru lebih percaya
diri.
d.

Guru

mendapat

kesempatan

untuk

berperan

mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sendiri.


8

aktif

2. Manfaat PTK Bagi Pembelajaran Siswa


Dengan adanya PTK kesalahan dalam proses pembelajaran akan dapat dianalisis
dan diperbaiki, sehingga kesalahan tersebut tidak akan berlanjut. Sebaliknya jika
kesalahan dalam proses pembelajaran dibiarkan berlarut-larut, maka guru akan tetap
mengajar dengan cara yang sama sehingga hasil belajar siswa pun tetap sama, bahkan
mungkin menurun. Dengan demikian ada hubungan timbal balik antara pembelajaran
dan perbaikan dengan hasil belajar siswa. Di samping meningkatkan hasil belajar
siswa,PTK yang dilaksanakan guru juga dapat menjadi model bagi siswa. Guru yang
terampil melaksanakan PTK akan selalu kritis terhadap hasil belajar siswa, sehingga
siswa merasa mendapat perhatian khusus dari guru.
Sikap kritis ini dapat menjadi model bagi siswa untuk selalu menyikapi kinerja
nya dengan melakukan analisis seperti yang dilakukan oleh gurunya. Meskipun siswa
tidak paham dan mungkin tidak tahu bahwa guru sedang melakukan PTK disamping
mengajar tetapi perilaku guru yang juga berperan sebagai peneliti dapat menjadi
model yang bagus bagi para siswa sehingga diharapkan para siswa, juga dapat
berperan sebagai peneliti bagi hasil belajar nya sendiri.
3. Manfaat PTK Bagi Sekolah
sebagaimana yang diamanatkan oleh Hargreaves (dalam Hopkins, 1993), sekolah
yang berhasil mendorong terjadinya inovasi diri para guru telah berhasil pula
meningkatkan kualitas pendidikan untuk para siswa. Dalam Hopkins, 1993, halaman
218 menunjukkan betapa eratnya hubungan perkembangan sekolah dengan
perkembangan kemampuan guru sekolah tidak akan berkembang atau hanya sedikit
sekali berkembang tanpa berkembangnya kemampuan guru, demikian pula
sebaliknya guru tidak akan berkembang tanpa berkembangnya sekolah.
Lebih khususnya lagi tujuan penelitian yang dilakukan penulis pada mata
pelajaran Matematika (eksak) adalah :
a. Bagi guru yang sekaligus berfungsi sebagai peneliti adalah dalam usaha
meningkatkan profesionalisme dan mengembangkan pengetahuan serta
keterampilan dalam refleksi diri demi perbaikan pembelajaran di dalam kelas,
baik itu mata pelajaran eksak maupun non eksak
b. Siswa sebagai penerima informasi terkadang hanya dijadikan sebagai objek
dalam pembelajaran. Padahal siswa seharusnya menjadi subjek dalam
pembelajaran. Sehingga siswa akan merasa nyaman, tenang, semangat, dan
9

termotivasi dalam kegiatan pembelajaran yang berlangsung, baik di dalam


kelas maupun di luar kelas.

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Operasi Hitung Pecahan
HakikatBelajar
1. Pengertian belajar
Bentuk-bentuk belajar mempunyai kaitan dengan proses untuk memperoleh hasil
belajar. Oleh sebab mengajar merupakan serangkaian upaya untuk memberi
kemudahan bagi siswa agar terjadi proses belajar.
Belajar pada dasarnya merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang
terjadi dari adanya interaksi antara seorang dengan lingkungannya (Muhammad Ali,
1989 : 62).
Berdasarkan pernyataan diatas bahwa proses belajar itu terdiri dari tiga unsur
penting yang mempengaruhi terhadap keberhasilan nya yaitu :
a.

Pengalaman belajar yang dimiliki sebelum melakukan proses belajar

tertentu.
b.

Situasi lingkungan yang memberi rangsangan untuk terjadinya proses

belajar.
c.

respon atau reaksi seseorang terhadap rangsangan tersebut.

d.

Rangsangan yang disajikan dalam proses pengajaran disesuaikan

dengan bentuk bentuk belajar tertentu diantaranya belajar konsep dan


prinsip juga belajar pemecahan masalah.
2. Pengertian Belajar Konsep
konsep adalah hasil pengumpulan tentang sesuatu hal yang berdasarkan atas
adanya ciri-ciri yang sama pada hal tersebut. Konsep adakalanya berkaitan dengan
suatu objek, suatu peristiwa, atau berkaitan dengan manusia.
Adapun yang dimaksud dengan prinsip ialah suatu pernyataan yang menjelaskan
tentang hubungan antara dua konsep atau lebih. Istilah prinsip kadang kadang disebut
juga dengan aturan atau generalisasi. Contoh konsep adalah bilangan prima, bilangan
rasional.
10

Bentuk belajar yang lain adalah belajar pemecahan masalah belajar pemecahan
masalah dapat berlangsung dalam proses belajar berkaitan dengan ilmu-ilmu
kealaman, maupun dalam Matematika. Keberhasilan belajar pemecahan masalah
memiliki nilai transfer yang cukup tinggi serta memiliki tingkat retensi yakni dapat
diingat dalam jangka waktu lama oleh siswa.
Oleh sebab itu, belajar pemecahan masalah menekankan pada kegiatan belajar
siswa

yang

bersifat

optimal

dalam

upaya

menemukan

jawaban

atau

pemecahanterhadap suatu permasalahan. Dengan demikian diharapkan siswa pun


menguasai prosedur melakukan penemuan ilmiah, dan mampu melakukan proses
berfikir analitis.
Mata PelajaranMatematika di SD
Belajar Matematika itu didasarkan pula pada tujuan agar siswa dapat
menggunakan Matematika dan pola pikir Matematikadalam kehidupan sehari-hari
dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.
1. Perkalian dan pembagian pecahan desimal
Perkalian 2 bilangan desimal
Contoh :
0.6 x 0.3 = 0.18
Cara :
0.6
0.3 x
0.18
Keterangan :
Pada bilangan 0.6 banyak angka dibelakang koma adalah satu angka
sedangkan pada 0.3 banyak angka dibelakang koma adalah satu angka.
Sehingga banyak angka dibelakang koma semua ada dua angka. Sehingga
pada jawaban kita tentukan letak koma dua angka dari belakang.
Perkalian tiga bilangan desimal secara berturut-turut
Contoh :
0.5 x 0.2 x 0.6 = 0.060
Cara :
Langkah 1

Langkah 2

0.5

0.10

0.2 x

0.6 x
11

0.10

0.060

Pembagian bilangan desimal


a.

Pembagian suatu bilangan desimal dengan bilangan desimal


3 : 0.2 = 15
Cara :
3 : 0.2 = 3 : 2/10 = 3 x 10/2
= 30/2 = 15

b.

Pembagian bilangan dua desimal dengan bilangan desimal yang lain.


Contoh :
0.6 : 0.2 : 0.5 = 6
Cara :
0.6 : 0.2 : 0.5 = 6/10 : 2/10 : 5/10
= 6/10 x 10/2 x 10/5
= 6/10 x 100/10
= 600/100 = 6

B. Metode Tugas dan Latihan


Metode Mengajar
Pengertian Metode Mengajar
A.A. Gede Agung (1999 : 1) mengatakan metode berasal dari kata methodos.
Secara etimologis metodos berasal dari kata metha artinya dilalui dan thodos artinya
jalan. Metode adalah jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan.
Metode merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam proses belajar
mengajar. Di dalam dunia pendidikan terdapat berbagai jenis metode yang dapat
dimanfaatkan untuk mencapai tujuan di dalam kegiatan belajar mengajar.
Metode mengajar adalah kegiaran guru untuk mencapai tujuan tertentu
(Nasution, 1982 : 43). Dalam proses pembelajaran guru melaksanakan kegiatan yang
telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendapat tersebut
juga didukung oleh Syaiful Bahri Djamalah dan Aswan Zain (1995 : 53) yang
mengatakan bahwa metode mengajar adalah strategi pengajaran sebagai alat untuk
mencapai tujuan yang diharapkan.
Menurut Nana Sudjana (1989 : 76) metode mengajar adalah cara yang
dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat
berlangsungnya pelajaran Guru dan siswa mengadakan hubungan pada saat

12

pembelajaran. Hendaknya guru menggunakan cara-cara yang tepat supaya terjadi


hubungan yang kondusif sehingga tujuan tercapai.
Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa metode mengajar
adalah suatu cara yang harus ditempuh atau dilalui di dalam menyampaikan suatu
materi untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditetapkan. Proses belajar
mengajar merupakan interaksi yang dilakukan antara guru dengan peserta didik
dalam suatu situasi pendidikan atau pengajaran untuk mewujudkan tujuan yang
ditetapkan. Wujud interaksi pengajaran melalui beberapa pendekatan menghendaki
adanya pertimbangan yang kuat atas keunikan dan keragaman peserta didik. Seorang
guru sudah barang tentu dituntut kemampuannya untuk menggunakan berbagai
metode mengajar secara bervariasi. Metode mengajar merupakan cara-cara yang
ditempuh guru unuk menciptakan situasi pengajaran yang benar-benar menyenangkan
dan mendukung bagi kelancaran proses belajar dan tercapainya prestasi belajar anak
yang memuaskan.
Jenis-Jenis Metode Mengajar
Jenis-jenis metode mengajar menurut Syaiful Bahri Jamarah dan Aswan Zain
(1995 : 93) adalah 1) Metode Proyek yaitu metode pengajaran yang bertitik tolak dari
suatu masalah dan dipecahkan secara keseluruhan dan bermakna, 2) metode
eksprimen yaitu cara penyajian pelajaran melalui percobaan, 3) metode tugas, yaitu
cara penyajian pelajaran melalui percobaan, 4) metode diskusi yaitu memberian
pertanyaan problematic kepada siswa untuk dibahas dan dipecahkan bersama, 5)
metode sosiodrama yang dilakukan dengan cara mendramatisasikan tingkah laku
dalam hubungannya dengan masalah sosial, 6) metode demonstrasi yaitu cara
penyajian pelajaran dengan cara meragakan kepada siswa tentang suatu proses
disertai penjelasan lisan, 7) metode problem solving dimana siswa mencari jalan
keluar dari suatu masalah, 8) metode karyawisata dengan mengajak siswa meninjau
obyek tertentu, 9) metode tanya jawab dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab,
10) metode latihan yang digunakan untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu,
11)

metode

ceramah

yang

digunakan

untuk

menyampaikan

keterangan/informasi/uraian tentang sesuatu secara lisan.


Nana Sudjana (1987 : 76) menambahkan lagi 5 jenis metode mengajar yaitu 1)
metode simulasi yang dilakukan melalui perbuatan yang bersifat pura-pura, 2) metode
survai masyarakat yaitu cara memperoleh informasi dengan jalan observasi dan
komunikasi langsung, 3) metode piersource person (manusia sumber) yaitu dengan
mendatangkan orang luar yang mempunyai keahlian sumber, 4) metode sistem regu
13

yaitu cara mengajar dimana sebuah kelompok siswa diajar oleh 2 orang guru atau
lebih, 5) metode kerja kelompok yaitu guru memberikan tugas kepada siswa untuk
dikerjakan secara berkelompok.
Diantara sekian banyak metode mengajar yang dikenal guru, ada 10 metode
mengajar yaitu metode ceramah, Tanya jawab, diskusi, kerja kelompok pemberian
tugas, demonstrasi, ekperimen, simulasi, inkuiri dan metode pengajaran unit/
pembelajaran teroadu (Mulyani Sumantri dan Johan Permana, 1998/1999 : 134).
Dari beberapa jenis metode tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan
pendidikan akan dapat tercapai dengan baik sangatlah tergantung pada tepat tidaknya
guru tersebut menggunakan metode pada mata pelajaran tertentu. Tujuan-tujuan
pendidikan pembelajaran dan jenis mata pelajaran menentukan metode apa sebaiknya
digunakan. Setiap mata pelajaran tertentu mempunyai metode tertentu sesuai dengan
kekhususan mata pelajaran tersebut. Oleh sebab itu guru hendaknya dapat
menentukan metode apa yang paling efisien bagi pelajarannya sehingga tujuan
pengajaran tercapai secara baik
Perlu diketahui bahwa tidak ada satupun metode yang dapat dianggap lebih
sempurna dari pada yang lain. Masing-masing metode memunyai keunggulan dan
kekurangannya. Karena itu dalam proses pembelajaran dapat digunakan lebih dari
satu metode. Dalam penelitian ini metode yang dikaji dibatasi hanya pada metode
tugas dan latihan.
Metode Tugas dan Latihan
1. Metode Tugas
Metode ini sangat cocok diberikan untuk mengimbangi bahan pelajaran yang
sangat banyak sementara waktu sedikit.
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (1995 : 96) mengatakan bahwa
metode tugas adalah cara penyajian bahan dimana guru memberikan tugas
tertentu agar bisa melakukan kegiatan belajar. Masalah tugas yang dilakukan
oleh siswa dapat dilakukan di dalam kelas, halaman sekolah di perpustakaan, di
bengkel, di Laboratorium, di rumah siswa atau dimana saja asal tugas itu dapat
dikerjakan.
Tugas tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi jauh lebih luas dari itu.
Tugas merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individual maupun secara
berkelompok
Tugas yang dapat diberikan kepada anak didik ada berbagai jenis, karena itu
tugas sangat banyak macamnya, tergantung pada tujuan yang akan dicapai, seperti
14

tugas meneliti, menyusun laporan (lisan/tulisan), tugas di laboratorium dan lainlain. Menurut Nana Sudjana (1987 : 81) mengatakan ada beberapa langkahlangkah yang harus diikuti dalam penggunaan metode tugas yaitu :
a. Fase Pemberian Tugas
Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbang-kan
1.

Tujuan yang akan dicapai

2.

Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa

yang ditugaskan tersebt


3.

Sesuai dengan kemampuan siswa

4.

Ada petunjuk/sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa

5.

Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut

b. Langkah Pelaksanaan Tugas


1.

Diberikan bimbingan/pengawasan oleh guru

2.

Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja

3.

Diusahakan / dikerjakan oleh siswa sendiri tidak menyuruh

orang lain
4.

Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh

dengan baik dan sistematik


c. Mempertanggungjawabkan tugas
Hal yang harus dikerjakan adalah :
1.

Laporan siswa baik lisan/tertulis dari apad yang telah

dikerjakannya
2.

Ada Tanya jawab/diskusi kelas

3.

Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun non

tes atau cara lainnya.


Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (1995 : 98) mengatakan
metode tugas mempunyai kelebihan dan kekurangan adalah sebagai berikut :
1. Kelebihannya :
a. Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar individual/
kelompok
b. Dapat mengembangkan kemandirian siswa di luar penugasan guru
c. Dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa
d. Dapat mengembangkan kreativitas siswa
2. Kekuranganya
15

a. Siswa sulit dikontrol apakah benar ia yang mengerjakan tugas ataukah


orang lain
b. Khusus untuk tugas kelompok yang aktif mengerjakan dan
menyelesaian adalah anggota tertentu saja. Sedangkan anggota lainnya
tidak berpartisipasi dengan baik
c. Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan
individu siswa
d. Sering memberikan tugas yang monoton dapat menimbulkan
kebosanan siswa
Melihat kelebihan dan kekurangan dari metode tugas tersebut, bila dikaitkan
dengan

hasil belajar siswa sangatlah mendukung. Dengan metode tugas akan

bisa membangkitkan semangat belajar siswa, mandiri, bertanggung jawab dan


penuh kreatif, hal ini akan bisa memcapai hasil belajar yang baik. Menurut
Mulyani Sumantri dan Johar Permana (1998/1999 :151) mengatakan metode
tugas mempunyai kekuatan dan keterbatasan, yaitu sebagai berikut.
1. Kekuatan metode tugas :
a. Membuat peserta didik aktif belajar
b. Merangsang peserta didik belajar lebih banyak, baik dekat dengan
guru maupun pada saat jauh dari guru di dalam sekolah maupun di luar
sekolah
c. Mengembangkan kemandirian peserta didik
d. Lebih memperdalam, memperkaya atau memperluas pandangan
tentang apa yang dipelajari
e. Membina kebiasaan peserta didik untuk mencari mengolah sendiri
informasi dan komunikasi
f. Membuat peserta didik dan bergairah belajar karena dapat dilakukan
dengan bervariasi
g. Membina tanggung jawab dan disiplin siswa
h. Mengembangkan kreativitas peserta didik
2. Keterbatasan metode tugas
a. Sulit mengontrol peserta didik apakah belajar sendiri atau dikerjakan
orang lain
b. Sulit memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu
peserta didik
c. Tugas yang monoton dapat membosankan peserta didik
16

d. Tugas yang banyak sering dapat membuat beban dan keluhan peserda
didik
e. Tugas kelompok dikerjakan oleh orang tertentu atau peserta didik yang
rajin dan pintar.
Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari penggunaan
metode penugasan adalah untuk merangsang anak untuk aktif belajar baik secara
individual maupun kelompok
Setelah Tanya jawab atau ceramah diketahui bahan-bahan yang perlu
mendapatkan penekanan dan harus dikuasai peserta didik oleh karena itu guru
memberikan tugas dengan alasan agar peserta didik dapat belajar sendiri atau
berkelompok mencari pengayaan atau sebagai tindak lanjut dari kegiatan
sebelumnya. Metode penugasan menjadi salah satu cara penyampaian pengajaran
untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban-jawaban atau tugas yang
diberikan guru.
2. Metode Latihan
Metode latihan yang disebut juga metode training, merupakan suatu cara
mengajar

yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga

sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu,


metode ini dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan,
kesempatan dan keterampilan.
Sebagai suatu metode yang diakui banyak mempunyai kelebihan, juga tidak
dapat disangkal bahwa metode latihan mempunyai beberapa kelemahan.
Maka dari itu, guru yang ingin mempergunakan metode latihan ini kiranya
tidak salah bila memahami karakteritik metode ini
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (1995 : 108) mengatakan
kelebihan dan kekurangan metode latihan adalah sebagai berikut :
a. Kelebihan Metode Latihan
1.

Untuk memperoleh kecakapan motoris seperti menulis,

melafalkan huruf, kata-kata atau kalimat, membuat alat-alat dan


terampil menggunakan alat olahraga
2.

Untuk memperoleh kecakapan mental, seperti dalam perkalian

menjumlahkan, pengurangan, pembagian, tanda-tanda dll.


3.

Untuk memperoleh kecakapan dalam bentuk asosiasi yang

dibuat, seperti hubungan huruf-huruf dalam ejaan, penggunaan symbol


membaca peta dan sebagainya
17

4.

Pembentukan kebiasaan yang dilakukan dan menambah

ketepatan serta kecepatan pelaksanaan


5.

Pemanfaatan kebiasaan-kebiasaan yang tidak memerlukan

konsentrasi dalam pelaksanaannya


6.

Pembentukan kebiasaan-kebiasaan membuat gerakan-gerakan

yang komplek, rumit, menjadi lebih otomatis


b. Kelemahan Metode Latihan
1.

Menghambat bakat dan inisiatif siswa karena siswa lebih

banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan jauh dari pengertian


2.

Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan

3.

Kadang-kadang latihan yang dilaksanakan secara berulang-

ulang merupakan hal yang monoton, mudah dan membosankan


4.

Membentuk kebiasaan yang kaku, karena bersifat otomatis

5.

Dapat menimbulkan verbalisme

Melihat kelebihan dan kekurangan dari metode latihan tersebut , bila dikaitkan
dengan keaktifan dan hasil belajar siswa sangatlah mendukung. Dengan metode
latihan akan tertanam kebiasaan-kebiasaan yang baik pada diri siswa.
3. Penerapan Metode Tugas dan Latihan
Penggunaan metode tugas biasanya diberikan pada saat guru selesai
memberikan materi pelajaran kepada siswa, ada kalanya timbul suatu persoalan/
masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan hanya penjelasan secara lisan
melalui ceramah. Untuk itu guru perlu menggunakan metode tugas sebagai jalan
keluarnya baik tugas-tugas individu maupun tugas kelompok, sehingga siswa
dapat melakukan kegiatan belajar dengan baik.
C. KerangkaPemikiran
Kerangka berpikir merupakan konsep alur pikir penulis dalam melakukan
penelitianberdasarkan kajian secara keilmuan, maka di susun kerangka berfikir, yaitu
meningkatkan kualitas pembelajaran Matenatika tentang operasi hitung pecahan di
kelas V SDNegeri 1 Andapraja kecamatan Rajadesa kabupaten Ciamis melalui tugas
dan latihan.
a. Metode tugas dan latihan yang merupakan dua diantara sekian banyak metode
yang ada sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar Matematika untuk
menghindari kekurangan waktu dalam proses belajar mengajar.

18

b. Melalui metode tugas dan latihan siswa akan dapat lebih memahami suatu
proses, karena siswa dirangsang untuk aktif belajar baik secara individual
maupun kelompok. Dengan aktif belajar sendiri akan dapat tertanam
kebiasaan-kebiasaan positif baik dalam ketangkasan, ketetapan, kesempatan
dan keterampilan, sehingga berpengaruh pada peningkatan hasil belajar.
Masalah kesulitan guru dalam pembelajaran dengan tujuan untuk meningkatkan
hasil belajar siswa pada pembelajaran Matematika dengan menggunakan metode
tugas dan latihan pada materi operasi hitung pecahan dikelas VSDNegeri 1 Andapraja
kecamatan Rajadesa kabupaten Ciamis, akan diatasi dengan melakukan penelitian
tindakan kelas (PTK).
Dalam penelitian ini guru bertindak sebagai peneliti melakukan kegiatan reflektif
dan berdaur, sehingga guru benar benar memiliki kemampuan yang optimal dalam :
1. Menyusun rencana pembelajaran dengan materi operasi hitung pecahan.
2. Membuat indikator keberhasilan belajar siswa .
3. Membuat instrumen untuk mengukur keberhasilan belajar siswa .
4. Menggunakan metode yang relevan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
5. Mengelola pembelajaran melalui tugas dan latihan.
Dengan kompetensi yang dimiliki oleh guru secara optimal di harapkan hasil
belajar siswa kelas VSD Negeri 1 Andapraja kecamatan Rajadesa kabupaten Ciamis
dalam pembelajaran Matematika tentang operasi hitung pecahan dapat meningkat
dengan baik.
D. Hipotesis Tindakan
Menurut Ruseffendi (1994:21),Hipotesis adalah penjelasan tempat yg sementara
tentang tingkah laku fenomena atau kejadian yang akan terjadibisa mengenai kejadian
yang sedang berjalan. Bertolak dari pendapat tersebut hipotesis tindakan yang
ditetapkan dalam penelitian ini adalah Metode tugas dan latihan dapat meningkatkan
hasil belajar siswadalam pembelajaran Matematika tentang operasi hitung pecahan di
kelas VSDNegeri 1 Andapraja kecamatan Rajadesa kabupaten Ciamis dapat
meningkat.

19

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Setting dan Subjek Penelitian
Penulis memilih tempat penelitian adalah SD Negeri 1 Andapraja yang berada
diwilayah Dusun Pasirjaya Desa Andapraja Kec Rajadesa Kab Ciamis dan merupakan
salah satu sekolah yang berada di wilayah kerja UPTD pendidikan Kec Rajadesa
dinas pendidikan kab ciamis. Sekolah ini mempunyai 6 ruang belajar, 1 ruang kepala
sekolah dan guru, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang gudang, serta memiliki fasilitas 1
mushola.
Secara geografis SD Negeri 1 Andapraja berada ditengah pemukiman penduduk
dan berada diantara jalan Raya Rancah Panawangan beberapa hal tersebut menjadi
faktor pendukung bagi pengembangan potensi sekolah tempat penulis melakukan
penelitian.
Yang dijadikan subjek dalam penelitian ini dilaksanakan di kelas V SD Negeri 1
Andapraja Kec. Rajadesa Kab. Ciamis, subjek penelitian ini komposisinya antara
putra dan putri sebanding jumlah keseluruhan adalah 14 siswa, terdiri dari 7 putra dan
7 putri.
Waktu penelitian dilaksanakan dari tanggal 12 februari 2014 sampai 06 maret
2014.
Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan dengan jadwal sebagai berikut:
Tabel Kegiatan persiklus.
20

Siklu

Pertemua

n
1

I
2
1

SD/Kelas

Hari/Tanggal

Waktu

SD N 1 ANDAPRAJA /

Rabu, 12 februari

07.15

V
SD N 1 ANDAPRAJA /

2014
Rabu, 12 februari

07.50
07.50

V
SD N 1 ANDAPRAJA /

2014

08.25
08.25

V
SD N 1 ANDAPRAJA /

II
2

Kamis, 6 maret 2014


Kamis, 6 maret 2014

09.00
09.00
09.35

Jadwal dan fokus penelitian pembelajaran matematika


N

Waktu

o
1
2

Rabu, 12
februari 2014
Kamis, 6 maret
2014

Siklu

Fokus penelitian

s
1
2

Penguasaan siswa terhadap soal perkalian dan


pembagian pecahan desimal
Penguasaan siswa terhadap soal perkalian dan
pembagian pecahan desimal

B. Prosedur pelaksanaan
Prosedur yang ditempuh dalam pelaksanaan pembelajaran Matematika dengan
melalui :
a.

Mengajukan pertanyaan tentang materi sebelumnya

b.

Menjelaskan materi pembelajaran disertai contoh yang jelas

c.

Membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menentukan hasil

hitung perkalian dan pembagian pecahan desimal


d.

Menyimpulkan cara termudah dalam menentukan hasil

e.

Memberikan tugas pekerjaan rumah kepada siswa

Seuai dengan masalah yang dihadapi yaitu penguasaan siswa terhadap materi
pembelajaran masih rendah dan siswa kurang aktif dalam belajar. Sejalan dengan
kegiatan yang menjadi fokus dalam pembelajaran Matematika adalah pemberian
penggunaan contoh dan latihan. Maka setiap siswa diupayakan untuk memahami
contoh dalam mengerjakan latihan soal, sehingga pada akhirnya setiap siswa mampu
menjawab soal-soal dengan benar.

21

C. Metode Pengumpulan Data


1. Tehnik Pengumpulan Data.
Tehnik pengumpulan data yang dilakukan ada cara yaitu; test unjuk kerja,
observasi, dan wawancara.
a. Test unjuk kerja.
Test adalah ujian tertulis, lisan, atau wawancara untuk mengetahui
pengetahuan, kemampuan, bakat, dan kepribadian seseorang (KBBI, 2001 :
1186).
Yang dimaksud test unjuk kerja dalam penelitian ini yaitu siswa diberi
tugas secara tertulis maupun praktik.

Test unjuk kerja dilakukan untuk

mengatahui kemampuan setelah siswa mengikuti proses pembelajaran pada


setiap siklus.
b. Observasi
Hal yang diamati dalam penelitian ini antara lain kondisi dan partisipasi
siswa saat mengikuti proses pembelajaran dan nilai yang diperoleh siswa.
Selain siswa juga guru terutama persiapan dan kemampuan guru dalam
membelajarkan bahannya.
c. Wawancara
Wawancara dilakukan oleh peneliti kepada siswa untuk meneliti
bagaimana minat dan pengalaman siswa saat mengikuti pembelajaran.
Wawancara juga dilakukan dengan pengamat (kolaborator) untuk dimintai
pendapat atau informasi tentang proses pembelajaran dan minat siswa selama
mengikuti pembelajaran.
2.

Alat Pengumpulan Data


Alat atau instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data terdiri atas

beberapa instrumen yaitu :


Butir soal tes unjuk kerja.
Berupa test kemampuan awal tentang materi penjumlahan bilangan pecahan.
Soal test di akhir setiap siklus untuk mengetahui kemampuan penguasaan bahan
tersebut setelah diberi tindakan
Lembar observasi
Berupa lembar refleksi siswa dan

lembar pengamatan pengamat yang

digunakan untuk mengamati proses kegiatan pembelajaran.


Pedoman wawancara

22

Pedoman wawancara berupa pertanyaan-pertanyaan untuk wawancara


dengan siswa dan pengamat mengenai proses pembelajaran yang telah
berlangsung.
3.

Validasi Data.
Validasi data yang berupa proses pembelajaran dilakukan melalui observasi

dan wawancara kepada siswa dan pengamat (kolaborator) dengan menggunakan


berbagai instrumen. Dengan demikian validasi proses pembelajaran diperoleh
melalui triangulasi sumber dan triangulasi metode.

D. Metode Analisis Data


Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah analisis data hasil belajar. Hasil
belajar dianalisis dengan analisis deskriptif komparatif yaitu membandingkan hasil
kemampuan awal dengan nilai kemampuan setelah mengetahui test pada siklus 1
maupun siklus 2. Analisis data hasil observasi dan wawancara.
Hasil observasi dan wawancara dianalisis dengan deskriptif kualitatif
berdasarkan hasil observasi dan refleksi terhadap pembelajaran,untuk mengetahui
tingkat keaktifan siswa secara klasikal.
E. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dari penelitian tindakan kelas ini adalah: 75% dari jumlah
siswa telah lulus KKM dengan KKM 66.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Setting dan Subjek Penelitian
Setelah penulis melaksanakan observasi pada program penelitian pembelajaran
yang ditempuh dalam dua siklus maka diperoleh data sebagai berikut.
Data hasil observasi terhadap kemampuan dan motifasi siswa dalam
mengajukan pertanyaan materi terhadap pelajaran Matematika yang diajarkan,
menunjukan :
Rekapitulasi nilai tes akhir sebelum penelitian pembelajaran dan setelah
penelitian pembelajaran mata pelajaran Matematika kelas V SD Negeri 1 Andapraja
No

Nama

Nilai

Nilai

tes Nilai

tesakhir

akhir

akhir

23

tes Keterangan

sebelum

siklus I

siklus II

penelitian
1

Adit

70

80

90

Cece

60

65

75

Devi

70

75

80

Empat

60

65

70

Vera

70

80

85

Nuri

70

75

80

Reza

60

70

80

Sursih

50

70

75

Sindi

50

70

80

10

Wildan

60

70

85

11

Wiwin

55

70

80

12

Hadis

50

70

75

13

Abdul

65

75

80

14

Toni

60

70

80

Jumlah

850

1005

1115

Rata - rata

60.71

71.78

79.64

Rekap nilai hasil pembelajaran Matematika sebelum penelitian


No

Nilai

Frekuensi

Nilai

* Prosentase

Frekuensi

(%)

50

150

21.4%

55

55

7.14%

60

300

35.74%

65

65

7.14%

70

280

28.6%

Jumlah

14

850

100%

24

Dari data diatas nilai rata-rata pembelajaran Matematika sebelum penelitian


adalah 850/14 = 60.71.
Rekap nilai hasil pembelajaran Matematikasiklus I
No

Nilai

Frekuensi

Nilai

* Prosentase

Frekuensi

(%)

65

130

14.28%

70

140

50%

75

225

21.4%

80

160

14.28%

Jumlah

14

1005

100%

Dari data diatas nilai pembelajaran Matematika siklus Iadalah 1005/14=71.78


Rekap nilai pembelajaran Matematikasiklus II
No

Nilai

Frekuensi

Nilai

* Prosentase (%)

Frekuensi
1

70

70

7.14%

75

225

21.4%

80

560

50%

85

170

14.28%

90

90

7.14%

Jumlah

14

1115

100%

Dari data diatas nilai rata-rata pembelajaran Matematika siklus II adalah


1115/14 = 79.64
B. Hasil Penelitian
Data temuan diatas menunjukan, bahwa melalui program perbaikan
pembelajaran diperoleh hasil yang positif dimana tingkat kemajuan siswa dari siklus
ke siklus mengalami peningkatan yang berarti.
Sedangkan mata pelajaran Matematika sebelum perbaikan dengan nilai rata-rata
60.71, perbaikan siklus I dengan nilai rata-rata 71.78, dan perbaikan siklus II naik
dengan nilai rata-rata 79.64. dari hasil diskusi dengan teman sejawat maka perbaikan
pembelajaran mengalami kemajuan.
25

Dengan demikian, program penelitian pembelajaran memiliki pengaruh yang


sangat besar terhadap peningkatan kemampuan siswa dalam menguasai materi
pelajaran Matematika, serta menumbuhkan kemampuan dan motivasi bertanya siswa
dengan redaksi dan isi yang relevan dengan materi yang diajarkan.
Keberhasilan tersebut dapat dicapai melalui pelaksanaan program perbaikan
pembelajaran yang difokuskan pada titik lemah yang menyebabkan ketidakmampuan
siswa.

C. Pembahasan dari setiap siklus


Pada setiap siklus disajikan data hasil observasi aktivitas-aktivitas perbaikan
pembelajaran yang dilakukan, hasil belajar siswa sesuai dengan hasil tes formatif,
deskripsi pelaksanaan tiap-tiap aktivitas, dan deskripsi hasil belajar siswa.
1. Siklus I
Secara

umum

dapat

dikatakan

bahwa

pelaksanaan

perbaikan

pembelajaran berjalan dengan cukup baik, dengan nilai rata-rata dan prestasi
belajar siswa cukup, dengan nilai 71,78 (dalam skala 1-100). Hasil belajar
siswa dalam perbaikan pembelajaran matematika di kelas V SDN 1
Andapraja Kec. Rajadesa Kab. Ciamis siklus I dengan rata-rata 71,78
dengan prosentase ketuntasan 85,7 %
2. Siklus II
Hasil belajar siswa dalam perbaikan pembelajaran matematika di Kelas V
SDN 1 Andapraja Kec. Rajadesa Kab. Ciamis siklus II dengan rata-rata 79,64
dan prosentase ketuntasan 100 %
Dari data kualitas pelaksanaan perbaikan pembelajaran dan hasil tes formatif
siswa yang ditemukan dalam penelitian di Kelas V SD Negeri 1 Andapraja, dapat
dikatakan bahwa pelaksanaan perbaikan pembelajaran meningkat dan karena itu
prestasi belajar siswa juga meningkat. Pelaksanaan perbaiakan pembelajaran berjalan
dengan cukup baik, prestasi belajar siswa meningkat dari kurang (nilai 60,71)
sebelum perbaikan pembelajaran, menjadi cukup (nilai 71,78) pada perbaikan siklus I
dan baik (nilai 79,64) pada siklus II.

26

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil pengolahan dan analisis data selama melakukan kegiatan mengajar di
SD Negeri 1 Andapraja dalam dua kali pertemuan maka dari hasil perbaikan
pembelajaran yang telah dilaksanakan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
Pada program perbaikan pembelajaran Matematika
a.

Menjelaskan materi dengan memberikan contoh-contoh dengan cara :

Memberikan contoh-contoh secara jelas dan singkat


Pemberian acuan
Pemusatan kearah jawaban yang diminta
Pemindahan giliran menjawab
Pemberian waktu berfikir
Pemberian tuntunan
b.

Pemberian latihan-latihan mengerjakan soal-soal dengan cara :

Memberikan soal dari yang mudah ke yang sukar


Pemberian tugas secara bergiliran kedepan kelas
27

Pengerjaan individual
Hasil latihan dinilai
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa program penelitian pembelajaran
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan siswa dengan menguasai
materi pembelajaran Matematika hal ini akan tercapai apabila program perbaikan
difokuskan pada masalah yang terjadi dalam proses pembelajaran sebelumnya.
B. Saran-saran
1. Saran bagi siswa, agar siswa dapat mengikuti dalam proses pembelajaran lebih
aktif dengan suasana yang menyenangkan tanpa rasa takut atau tekanan serta
dapat menumbuhkan kerjasama antara siswa dengan kelompoknya.
2. Saran bagi guru, memberikan bekal dan solusi pemecahan agar dapat
menerapkan dan mengembangkan dalam memilih serta menerapkan metode
pembelajaran inovatif di kelas yang menjadi tanggung jawab profesional
sebagai guru.
3. Saran bagi sekolah, memberikan berbagai alternatif tindakan pembelajaran
dalam mengembangkan metode pembelajaran melalui penelitian tindakan
kelas.

DAFTAR PUSTAKA
A.Syukur, Ghazali. 2002. Metode Pengajaran Sastra dengan Strategi Kooperatif.
Magelang: Indonesia Tera.
Chsplin.J.P. 2000. Dictionary of Psychologiy. New York: Dell Publishing Co, Inc.
Keraf, Gorys. 1993. Kompetensi Ende Flores: Nusa Indah.
Lie Anita. 2002. Cooperative Learning: Mempraktekan Cooperative Learning di
Ruang-ruang Kelas. Jakarta: Grasindo.
Nuriadi. 2008. Teknik jitu Menjadi Pembaca Terampil. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sunardi. 2005. Implementasi Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)
dalam pembelajaran Menulis Pantun. Jurnal Pendidikan. Vol 2. No 2. Juni
2005.Semarang: LPMP Jawa Tengah
Suprijono Agus. 2009. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Susilo. 2007. Penelitian Tindakan Kelas.Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.

28

Suwarno. Mulyadi. 2013. Pendagogi Khusus Bidang Studi Sekolah Dasar. UMS:
Panitia Sertifikasai Guru Rayon 41 Surakarta.

LAMPIRAN - LAMPIRAN
1. Rencanapembelajaran
2. Instrument penelitian
3. Hasilkerjasiswa
4. Fotokegiatan

29

30