Anda di halaman 1dari 22

RINOSINUSITIS PADA ANAK

REFRAT
Diajukan Oleh:
Sita Ardilla Rinandyta, S.Ked J !! !"! !"
#u$lih Setia Ardi %ahyana, S.Ked J !! !&! !'(
Dhi)a$ *and+k+ ,i-i$+n+, S.Ked J !! !&! !(.
Ar/ian *er/+ni, S.Ked J !! !&! !(0
Anni$aa Ri12iyana, S.Ked J !! !&! !0
Pe)-i)-in3
dr. #ade Jeren, S/.T*T
KEPANITERAAN K4INIK I4#U PEN5AKIT T*T
RSUD DR. *ARDJONO S. PONORO6O
FAKU4TAS KEDOKTERAN
UNI7ERSITAS #U*A##ADI5A* SURAKARTA
.!8'

TU6AS REFRAT
RINOSINUSITIS PADA ANAK

5an3 Diajukan Oleh :
Sita Ardilla Rinandyta, S.Ked J !! !"! !"
#u$lih Setia Ardi %ahyana, S.Ked J !! !&! !'(
Dhi)a$ *and+k+ ,i-i$+n+, S.Ked J !! !&! !(.
Ar/ian *er/+ni, S.Ked J !! !&! !(0
Anni$aa Ri12iyana, S.Ked J !! !&! !0
Telah di$etujui dan di$ahkan +leh 9a3ian Pr+3ra) Pendidikan Pr+:e$i
Fakulta$ Ked+kteran Uni;er$ita$ #uha))adiyah Surakarta.
Pada hari , tan33al #ei .!8'.
Pe)-i)-in3:
Na)a : dr. #ade Jeren, S/.T*T < =
Di/re$enta$ikan di hada/an:
Na)a : dr. #ade Jeren, S/.T*T < =
Ka-a3. Pr+:e$i D+kter FK U#S
Na)a : dr. De>i Nirla>ati < =
9A9 I
PENDA*U4UAN
A. 4atar 9elakan3
Rinosinusitis didefinisikan sebagai inflamasi gejala kondisi mukosa
rongga hidung dan sinus paranasal, cairan dalam sinus ini, dan / atau yang
mendasari tulang. Istilah "sinusitis" telah digantikan oleh "rinosinusitis"
karena bukti bahwa mukosa hidung hampir universal terlibat dalam proses
penyakit (Ramadan, !""#. Rinosinusitis adalah penyakit yang sangat umum
di seluruh dunia dan khususnya terjadi pada penduduk $merika %erikat
(Ramadan, !""#. Rinosinusitis merupakan masalah yang umum terjadi pada
anak&anak dengan infeksi saluran napas atas. 'erdasarkan penelitian terhadap
anak&anak usia "&( tahun dengan gejala&gejala saluran napas atas yang
menetap, ).*+ diantaranya terdapat kriteria klinis dari rinosinusitis akut (,"!
hari mengalami kongesti hidung, sekret atau batuk#, sedangkan rinosinusitis
kronik ditemukan pada ")+ anak&anak yang mempunyai gejala saluran napas
atas selama kurang lebih " minggu (-oachanukoon et al., !"#.
.ata dari ./-0/% RI tahun !!* menyebutkan bahwa penyakit hidung
dan sinus berada pada urutan ke&( dari (! pola penyakit peringkat utama atau
sekitar "!.1"2 penderita rawat jalan di rumah sakit. .ata dari .ivisi Rinologi
.epartemen 343 R%56 7anuari&$gustus !!( menyebutkan jumlah pasien
rinologi pada kurun waktu tersebut adalah 8*( pasien, 9)+ diantaranya adalah
sinusitis. .ari jumlah tersebut *!+ mempunyai indikasi operasi bedah sinus
endoskopik fungsional ($rivalagan dan Rambe, !"*#.
Istilah rinitis, sinusitis, atau bronkitis sering digunakan secara terpisah
berdasarkan gejala yang ditujukan oleh pasien. -ada prakteknya, secara klinis
ketiga penyakit tersebut seringkali muncul secara bersamaan. %elain itu, sulit
membedakan ketiganya dengan hanya berdasarkan klinis (.aulay et al.,
!!1#. -ada tahun "))9, American Academy of Otolaryngology-Head and
Neck Surgery mengusulkan untuk mengganti terminologi sinusitis dengan
rinosinusitis (0entjono, !!8#. -ara ahli akhirnya menggunakan terminologi
rinosinusitis atau bahkan rinosinobronkitis dengan mempertimbangkan bahwa
manifestasi inlfamasi antara saluran respiratori atas (hidung, sinus, laring,
trakea# dan saluran respiratori bawah (bronkus# merupakan satu kesatuan yang
disebut united airway disease (.aulay et al., !!1#. %elain itu, alasan lain
yang dikemukakan oleh para ahli adalah "# membran mukosa hidung dan
sinus secara embriologis berhubungan satu sama lain (contiguous#, #
sebagian besar penderita sinusitis juga menderita rinitis, jarang sinusitis tanpa
disertai rinitis, *# gejala pilek, buntu hidung dan berkurangnya penciuman
ditemukan baik pada sinusitis maupun rinitis, dan 8# foto 53 scan dari
penderita common cold menunjukkan inflamasi mukosa yang melapisi hidung
dan sinus paranasal secara simultan (0entjono, !!8#.
:ejala pada anak&anak terbatas dan bisa sangat mirip dengan gejala flu
atau alergi pada umumnya. 'atuk dan sekret hidung mungkin satu&satunya
gejala terdapat pada anak&anak. %ebuah indeks kecurigaan yang tinggi
diperlukan untuk membuat diagnosis rinosinusitis pada anak&anak. 6ayoritas
dari mereka yaitu anak yang butuh perlakuan secara medis. 4anya beberapa
yang akan memerlukan intervensi bedah ketika pengobatan medis gagal.
0omplikasi rinosinusitis, meskipun jarang, dapat membawa angka morbiditas
dan mortalitas (Ramadan, !""#.
:ejala klinis pada anak&anak termasuk $R% (Acute Rhinosinusitis# hidung
mampet, lendir hidung yang berwarna, dan batuk dengan resultan gangguan
tidur. ;yeri wajah/kepala terdapat pada anak remaja. $R% didefinisikan
sebagai gejala yang berlangsung hingga 8 minggu, subakut adalah ketika
gejala antara 8 minggu dan " minggu, dan 5R% (Chronic Rhinosinusitis#
adalah ketika gejala telah hadir untuk lebih dari " minggu (Ramadan, !""<
$rivalagan dan Rambe, !"*#.
9. Ru)u$an #a$alah
'erdasarkan latar belakang masalah di atas, diperoleh suatu masalah
sebagai berikut= bagaimana yang dimaksud dengan rinosinusitis pada anak>
%. Tujuan
6engetahui dan menambah wawasan tentang rinosinusitis pada anak dan
mengetahui pemeriksaan apa saja yang dapat membantu menegakkan
diagnosis rinosinusitis pada anak serta penatalaksanaannya.
D. #an:aat
6akalah ini dapat memberikan informasi yang detail mengenai
rinosinusitis pada anak, sehingga dapat membantu dalam penegakan diagnosis
dan penatalaksanaan rinosinusitis pada anak.
9A9 II
TINJAUAN PUSTAKA
A. De:ini$i
Rinosinusitis adalah penyakit peradangan mukosa yang melapisi hidung
dan sinus paranasalis dan masalah umum pada anak&anak dengan infeksi
saluran pernapasan atas (-oachanukoon et al., !"#. Rinosinusitis merupakan
terminologi dari rhinitis dan sinusitis. Rhinitis adalah radang pada mukosa
hidung. .iagnosis rhinitis biasanya dibuat berdasarkan adanya keluhan rinore,
hidung tersumbat, dan bersin&bersin, atau hidung gatal. %inusitis didefinisikan
sebagai inflamasi pada sekurang&kurangnya satu sinus paranasal (.aulay et
al., !!1< 6ardiraharjo, !!)#. :ejala sinusitis bervariasi mulai dari yang
ringan sampai berat. -asien anak dengan sinusitis biasanya datang dengan
keluhan batuk kronik, post nasal drip, dan sakit kepala (.aulay et al., !!1<
Rinaldi et al., !!9#. Rinosinusitis ini merupakan inflamasi yang sering
ditemukan dan akan terus meningkat prevalensinya. Rinosinusitis
diklasifikasikan dalam * kriteria, yaitu rinosinusitis akut, rinosinusitis subakut
dan rinosinusitis kronik Ari!alagan et al, "#$%&.
$da delapan (empat pasang# sinus paranasal pada manusia, terletak pada
masing&masing sisi hidung, yang terdiri dari sinus frontal kanan dan kiri, sinus
etmoid kanan dan kiri (anterior dan posterior#, sinus maksila kanan dan kiri
(antrum 4ighmore#, dan sinus sphenoid kanan dan kiri (.aulay et al., !!1<
Rinaldi et al., !!9#. %eluruh rongga sinus dilapisi mukosa yang merupakan
lanjutan dari mukosa hidung, berisi udara, dan bermuara ke rongga hidung
melalui ostium masing&masing. -ada masa anak dan remaja, lapisan mukosa
ini sering mengalami infeksi dan inflamasi, sehingga meningkatkan angka
kesakitan, tetapi jarang meninmbulkan komplikasi yang memerlukan
pengobatan seumur hidup. %inus paranasal berfungsi untuk resonansi suara,
humidifikasi udara, dan meringankan kepala (.aulay et al., !!1#.
9. E/ide)i+l+3i
%inus etmoid dan sinus maksila telah terbentuk sempurna sejak lahir.
%inus sphenoid mengalami penumatisasi pada usia ( tahun, sedangkan sinus
frontal terbentuk pada usia 2 tahun, tetapi belum berkembang sempurna
hingga masa remaja. %ejak awal kehidupan, anak sudah merupakan faktor
predisposisi rinosinusitis paranasal. -ada anak yang lebih muda, sinus etmoid
dan sinus maksila sering terlibat, selain itu kejadian rinosinusitis akut sedikit
lebih banyak daripada IR$&atas atau adenoiditis. -ada anak yang lebih tua,
sinus sphenoid dan frontal lebih sering terlibat dan rhinitis alergik lebih sering
terjadi. 0ejadian rinosinusitis, berturut&turut pada bayi, anak usia (&) tahun,
dan remaja, masing&masing adalah "+, (+, dan "(+. Rhinitis alergik
merupakan faktor predisposisi pertama terjadinya rinosinusitis paranasal,
sedangkan IR$&atas lainnya merupakan faktor predisposisi kedua (.aulay et
al., !!1#.
%. Eti+l+3i
". Infeksi virus = ?irus penyebab tersering adalah corona!irus, rhino!irus,
!irus influen'a A, dan respiratory syncytial !irus RS(& (Ramadan, !""<
.aulay et al., !!1#.
. Infeksi bakteri
a. -atogen akut dan subakut
"# Streptococcus pneumonia, !&*!+.
# Haemophillus influen'a, "(&!+.
*# )ora*ella catharallis, "(&!+, tidak sering yang dijumpai pada
dewasa.
8# Streptococcus pyogenes (beta&hemolitik#, (+.
(Ramadan, !""< .aulay et al., !!1##
b. -atogen kronis
-opulasi bakteri pathogen pada rinosinusitis tidak diketahui dengan
pasti. Rinosinusitis kronis umumnya disebabkan oleh infeksi berbagai
mikroba. 4asil kultur yang paling sering dijumpai adalah
Streptococcus -haemolyticus, Staphylococcus aureus,
Staphylococcus koagulase&negatif, Haemophillus influen'a nontipe
(lebih sering daripada rinosinusitis akut#, )ora*ella catharallis,
bakteri anaerob, (+eptostreptococcus pre!otella, 'akteroides, dan
spesies @usobakterium#, dan -seudomonas (paling sering ditemukan
pada kelompok pasien yang memakai bermacam&macam antibiotik dan
kelompok dengan imunodefisiensi# (Ramadan, !""< .aulay et al.,
!!1#.
*. 4ipertrofi adenoid (.aulay et al., !!1#.
D. Fakt+r Predi$/+$i$i
". IR$&atas virus
Infeksi respiratori akut&atas virus dijumpai pada "!&"(+ anak berusia
diatas ) tahun. Infeksi ini merupakan faktor predisposisi utama
rinosinusitis (4amilos dan .yckewics, !"!#.
. Rinitis alergik
-enyakit ini merupakan faktor predisposisi kedua rinosinusitis.
/osiniofilia menyebabkan peningkatan ma,or -asic protein, sangat toksik
terhadap mukosa, dan mengganggu klirens mukosiliar. Aji alergi
direkomendasikan untuk semua kasus tanpa perbaikan gejala, terutama
pada anak dengan riwayat alergi keluarga dan memiliki gejala atopi pada
kulit (.aulay et al., !!1#.
*. 0elainan anatomi
0elainan anatomi pada dinding lateral nasal merupakan faktor
predisposisi sinosinusitis. 0onka bulosa dan pembesaran konka medius
dapat menyebabkan penutupan 0B6. 0ompleks ostio meatal (0B6#
terdiri dari saluran&saluran sempit dan terbuka yang dapat tertutup oleh
kelainan anatomi, pembengkakan mukosa, sekresi, polip, dan berbagai
faktor lain (%ingh, !"!< .aulay et al., !!1#. %el 4aller dan sel
infraorbital dapat menyebabkan penyempitan ostium sinus maksila dan
merupakan predisposisi rinosinusitis maksila. .eviasi septum pada daerah
konka media menyebabkan lateralisasi turbin medius dan penutupan
0B6. ?ariasi kelainan anatomi yang lainnya ialah agger nasi, hipoplasia
sinus maksila, dan bula etmoid, yang sangat besar (.aulay et al., !!1<
%ingh, !"!#.
8. .efisiensi imun
.efisiensi imun dijumpai pada !,(+ populasi anak. 6aturitas respons
imun humoral mendekati dewasa sejak anak berusia 2 tahun, dan prevalens
rinosinusitis kronis akan berkurang sejak usia ini. %epertiga dari pasien
rinosinusitis yang menetap mungkin menderita defisiensi imun, terutama
jika terdapat riwayat sering mengalami infeksi bakterial berulang bila
antibiotik dihentikan. .efisiensi imun umunya lebih sering terjadi daripada
fibrosis kistik atau kerusakan silia. Cang tersering ditemukan adalah
penurunan jumlah subklas Ig: dan antibody selektif. 6anifestasi kelainan
imun yang paling sering dijumpai adalah IR$&atas berulang (.aulay et al.,
!!1#.
$nak dengan defisiensi imun biasanya memiliki gejala rinosinusitis
yang lebih berat. $pabila tidak terdapat perbaikan setelah ditatalaksana
medis secara agresif, anak harus dipertimbangkan memiliki defisiensi
imun. /valuasi dini kadar Ig total dan subkelas Ig: dilakukan ketika
timbul respons terhadap pemberian vaksin -neumokokus, tetanus toksoid,
dan difteri (4amilos dan .yckewics, !"!#.
(. $sma
$pabila fungsi nasal terganggu, post nasal drip akan meningkat.
Rinosinusitis kronis dijumpai pada 1!+ penyandang asma. Infeksi
respiratori akut&atas virus merupakan faktor pencetus serangan asma.
-engobatan rinosinusitis kronis akan menormalkan uji fungsi paru,
sehingga mengurangi penggunaan bronkodilator jangka panjang pada
penyandang asma (.aulay et al., !!1#.
9. -enyakit Refluks :astroesofagus
Refluks gastroesofagus menyebabkan iritasi mukosa, sehingga terjadi
inflamasi pada ostium tuba /ustachius atau ostium sinus (4amilos dan
.yckewics, !"!#.
2. $lergi fungus
6asa polipoid akibat perubahan mukosa sinus akibat alergi fungus
biasanya unilateral. %ekret nasal dan sinus akibat alergi fungus berupa
mukus seperti selai kacang. -emeriksaan histologis pada sekret sinus
ditemukan kelompok eosinofil dan 0ristal Charcot-.eyden. @ungus yang
sering menyebabkan alergi berasal dari genus $spergillus sinus (.aulay et
al., !!1#.
E. Kla$i:ika$i Rin+$inu$iti$
'erdasarkan lamanya gejala, terdapat banyak versi mengenai pembagian
rinosinusitis. %ecara mudah dalam klinis dikategorikan akut atau kronik. /he
Consensus +anel for +ediatric Rhinosinusitis yang terdiri dari para ahli di
/ropa dan A%, membaginya menjadi beberapa kategori= Rinosinusitis akut,
yaitu infeksi sinus dengan resolusi dan gejala yang komplit dalam waktu "
minggu. Rinosinusitis akut dapat dikategorikan menjadi se!ere atau nonse!ere
berdasarkan gejala klinis yang timbul. American Academy of +ediatrics ($$-
!!"# membagi kelompok ini menjadi akut dan sub&akut. $kut apabila gejala
kurang dari *! hari dan sub&akut bila gealanya antara *!&)! hari (" minggu#.
Rinosinusitis kronik, yaitu infeksi sinus dengan gejala yang ringan&sedang
yang menetap lebih dari " minggu. Rinosinusitis akut berulang, yaitu
beberapa episode akut dengan diselingi masa sembuh diantara episode.
%ebaliknya jika diantara episode pasien tidak pernah sembuh benar maka
dikategorikan sebagai eksaserbasi akut rinosinusitis kronik sinus (.aulay et
al., !!1#.
F. Pat+:i$i+l+3i
0egagalan transport mukus dan menurunnya ventilasi sinus merupakan
faktor utama berkembangnya sinusitis. -atofisiologi rinosinusitis digambarkan
sebagai lingkaran tetutup, dimulai dengan inflamasi mukosa hidung
khususnya kompleks ostiomeatal (0B6# (0entjono, !!8#. -ada keadaan
normal, sinus paranasal berada dalam keadaan steril. 6ukosa sinus paranasal
berasal dari mukosa nasal dan berlanjut menjadi mukosa nasofaring. -ada
mukosa nasal dan nasofaring banyak dijumpai koloni bakteri berdensitas
rendah (hipodens#, sehingga mukosa sinus paranasal selalu terkontaminasi
bakteri dari daerah sekitarnya. 0ontaminasi hanya bersifat sementara karena
akan segera dibersihkan oleh apparatus mukosiliar normal (.aulay et al.,
!!1#.
0ompleks ostiomeatal (0B6# merupakan struktur anatomi yang penting,
terletak di dalam meatus medius, dan telah terbentuk sejak lahir meskipun
besarnya belum mencapai ukuran maksimal. 0ompleks ini dibentuk oleh
infundibulum etmoid, bula etmoid, resesus frontal, prosesus unsinatus, dan
hiatus semilunaris. Rinosinusitis pada anak tidak terjadi secara primer akibat
penyumbatan 0B6, sehingga terjadi rinosinusitis maksila dan rinosinusitis
frontal kronis. -ada keadaan normal, pergerakan metakronus mukosa normal
mengarah ke ostium alamiah sinus, tetapi aliran kea rah nasofaring dapat
terhalang oleh inflamasi mukosa. Inflamasi terjadi secara sekunder akibat
IR$&atas virus, alergi nasal, atau respons tubuh terhadap keduanya.
$kibatnya, terjadi rinosinusitis kronis pada anak (.aulay et al., !!1#.
%ecara skematik patofisiologi rinosinusitis sebagai berikut= "# Inflamasi
mukosa hidung menyebabkan pembengkakan (udem# dan eksudasi dan terjadi
obstruksi (blokade# ostium sinus dengan gangguan ventilasi dan drainase,
reasorbsi oksigen yang ada di rongga sinus terjadi hipoksia (oksigen menurun,
p4 menurun, tekanan negatif# yang mengakibatkan permeabilitas kapiler
meningkat, sekresi kelenjar meningkat kemudian terjadi transudasi,
peningkatan eksudasi serous, penurunan fungsi silia kemudian retensi sekresi
di sinus. %ebagian besar kasus rinosinusitis disebabkan karena inflamasi akibat
dari colds (infeksi virus# dan rinitis alergi. Infeksi virus yang menyerang
hidung dan sinus paranasal menyebabkan udem mukosa dengan tingkat
keparahan yang berbeda. %elain jenis virus, keparahan udem mukosa
bergantung pada kerentanan individu. Infeksi virus influen'a A dan RS(
biasanya menimbulkan udem berat. Adem mukosa akan menyebabkan
obstruksi ostium sinus sehingga sekresi sinus normal menjadi terjebak (sinus
stasis#. -ada keadaan ini ventilasi dan drainase sinus masih mungkin dapat
kembali normal, baik secara spontan atau efek dari obat&obat yang diberikan
sehingga terjadi kesembuhan. $pabila obstruksi ostium sinus tidak segera
diatasi (obstruksi total# maka dapat terjadi pertumbuhan bakteri sekunder pada
mukosa dan cairan sinus paranasal. %ekitar !,(+ & (+ dari rinosinusitis virus
(R%?# pada dewasa berkembang menjadi rinosinusitis akut bakterial,
sedangkan pada hanya sekitar ( + & "!+ saja. -eneliti lain mengatakan,
infeksi saluran napas atas akut yang disertai komplikasi rinosinusitis akut
bakterial tidak lebih dari "*+. # 'akteri yang paling sering dijumpai pada
rinosinusitis akut dewasa adalah Streptococcus pneumoniae dan Haemaphilus
influen'ae, sedangkan pada anak 0ranhamella )ora*ella& catarrhalis.
'akteri ini kebanyakan ditemukan di saluran napas atas, dan umumnya tidak
menjadi patogen kecuali bila lingkungan disekitarnya menjadi kondusif untuk
pertumbuhannya. -ada saat respons inflamasi terus berlanjutdan respons
bakteri mengambil alih, lingkungan sinus berubah ke keadaan yang lebih
anaerobik. @lora bakteri menjadi semakin banyak (polimikrobial# dengan
masuknya kuman anaerob, Streptococcus pyogenes microaero-philic
streptococci&, dan Staphylococcus aureus. -erubahan lingkungan bakteri ini
dapat menyebabkan peningkatan organisme yang resisten dan menurunkan
efektivitas antibiotik akibat ketidakmampuan antibiotik mencapai sinus. *#
Infeksi menyebabkan *!+ mukosa kolumnar bersilia mengalami perubahan
metaplastik menjadi mucus sekreting goblet cells, sehingga efusi sinus makin
meningkat (0entjono, !!8#.
6. 6ejala Klini$
-ilek, hidung tersumbat, pernapasan mulut, hidung dan suara mendengkur
yang umum pada anak&anak dan sering terjadi sebagai akibat infeksi berulang
saluran pernapasan atas (pilek#, hipertropi adenoid dan/atau lapisan alergi
hidung (rinitis# . 0arena gejala yang tumpang tindih dan tanda&tanda yang
umum, dan bisa terjadi bersamaan, bisa sulit untuk memilah mana kondisi
yang sebenarnya (0entjono, !!8#.
*. Dia3n+$i$
". $namnesis
.iagnosis rinosinusitis ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Rhinitis ditandai oleh
adanya rinore, hidung tersumbat, bersin&bersin, atau gatal. %ebagian besar
literature atau consensus ahli menyetujui bahwa penegakan diagnosis
sinusitis akut didasarkan atas gejala klinis. :ejala yang sering dikeluhkan
berupa nyeri pada wajah, hidung tersumbat, ingus purulen, atau post nasal
drip, hiposmia/anosmia, dan demam. %elain itu juga pasien dapat
mengeluhkan sakit kepala, mulut berbau, kelelahan, sakit pada gigi, batuk,
dan sakit pada telinga. Ingus yang purulen di dalam rongga hidung dapat
meninmbulkan post nasal drip yang pada anak seringkali bermanifestasi
sebagai batuk berdehem. 0eluhan batuk produktif juga dikaitkan dengan
penjalaran infeksi atau peradangan ke saluran respiratori di bawahnya. -us
kental akan mengalir ke bawah menuju paru, dan merupakan rangsangan
pada bronkus sehingga memperberat serangan asma. :ejala klinis dapat
berupa gejala respiratori atas yang persisten atau yang berat (.aulay et al.,
!!1#.
3abel ". :ejala dan tanda rinosinusitis pada anak
Rhinosinusitis $kut Non-se!ere Rinosinusitis $kut Se!ere
Rinore
0ongesti hidung
'atuk
%akit kepala, nyeri wajah,
iritabilitas
3idak demam atau sub febris
Rinore purulen (kental, keruh,
opaD#
0ongesti hidung
;yeri wajah atau sakit kepala
/dema periorbital
.emam tinggi ( *) #
. -emeriksaan fisik =
a. rinoskopi anterior = rinosinusitis akut = mukosa edem dan hiperemis,
pembengkakan dan kemerahan di daerah kantus medius
b. rinoskopi posterior
c. naso&endoskopi
*. -emeriksaan penunjang = foto polos atau 53&%can
a. -emeriksaan radiologis
-edoman atau literatur sebagian besar sepakat untuk tidak
menggunakan foto radiologi sinus paranasal polos sebagai dasar
penegakan diagnosis sinusitis. $$- !!" juga sepakat dengan
menyatakan bahwa radiologi tidak diperlukan untuk mengkonfirmasi
diagnosis klinis sinusitis pada anak kurang dari 9 tahun. @oto radiologis
baku untuk diagnosis adalah=
"# Eaters (occipitomental# untuk melihat sinus frontalis dan maksilaris
# 5aldwell (postero anterior# untuk melihat sinus frontalis dan etmoid
*# Fateral untuk melihat sinus sphenoid dan adenoid.
:ambaran yang sugestif untuk mengkonfirmasi sinusitis adalah
perkabutan komplit (complete opacification#, penebalan mukosa
sedikitnya 8 mm, atau adanya air fluid le!el. -emeriksaan radiologis
paru yang dilakukan biasanya normal atau didapatkan corakan
bronchial yang meningkat bergantung pada luas dan lamanya sakit.
-emeriksaan 53 scan dilakukan untuk anak yang akan menjalani
pengobatan bedah, untuk mengetahui anatomi sinus secara mendasar,
sebagai pemandu untuk pengobatan bedah dan memperoleh informasi
komplikasi yang terjadi pada sinus. -emeriksaan A%: dapat
menunjukkan adanya cairan dalam rongga sinus dan penebalan mukosa,
namun pada kepustakaan sangat jarang disebutkan peranannya.
b. -emeriksaan mikrobiologi
'ahan pemeriksaan yang berasal dari sekret di rongga hidung akan
dapat menemukan bermacam&macam bakteri yang merupakan flora
normal hidung dan kuman pathogen. Bleh sebab itu, pemeriksaan baku
emas adalah specimen yang didapat dari pungsi atau aspirasi sinus
maksilaris, namun hal ini tidak rutin dikerjakan pada anak karena
memerlukan anestesi umum. %inusitis bakterial akut ditegakkan bila
didapatkan koloni bakteri G A/mF. -ada kepustakaan disebutkan
bahwa indikasi pemeriksaan ini adalah bila respons terhadap
pengobatan medik kurang atau tidak ada, penderita dengan
imunokompromais, atau jika penyakit sinusitis mengancam hidup
pasien.
-emeriksaan lain yaitu pemeriksaan transiluminasi. -emeriksaan ini
dilakukan untuk mengetahui adanya cairan di sinus yang sakit, yang
akan terlihat suram, bila dibandingkan dengan sinus yang normal.
-emeriksaan ini dilakukan pada ruangan gelap dan transiluminator
diletakkan di mulut atau dagu (sinus maksila#, di bawah medial aspect
of the supraor-ital ridge area (sinus frontal#.
Rinoskopi yang dilakukan dapat menemukan adanya mukosa konka
yang hiperemis dan edema yang dilihat dengan menggunakan rinoskopi
anterior, sedangkan pada rinoskopi posterior terkadang tampak adanya
post nasal drip. %inuskopi dilakukan untuk mengetahui atau melihat
secara langsung mukosa sinus dan membedakan derajat kelainan sinus.
-emeriksaan uji fungsi paru dilakukan pada pasien dengan dasar alergi
atau asma, untuk mengetahui fungsi paru dan hasil pengobatan.
I. Tatalak$ana
". 6edikamentosa
3atalaksana medis yang maksimal meliputi ketepatan pemberian
antibiotik, irigasi nasal dengan salin, steroid topikal, dan dekongestan.
a. $ntibiotik pada rinosinusitis akut
-emberian antibiotik merupakan pengobatan medis utama
rinosinusitis pada anak. -engobatan diberikan selama "!&"8 hari atau
satu minggu setelah perbaikan gejala. 0arena meningkatnya prevalensi
bakteri yang resisten terhadap beta&laktam di masyarakat, antibiotik
sebaiknya diberikan berdasarkan etiologi infeksi, dan harus didukung
oleh anamnesis dan pemeriksaan fisis dengan sangat hati&hati.
Rinosinusitis akut tanpa komplikasi pada anak menunjukkan
perbaikan setelah pengobatan dengan amoksisilin. -engobatan ini
merupakan pengobatan lini pertama rinosinusitis anak, karena secara
umum amoksisilin efektif, aman, dapat ditoleransi, murah, dan
berspektrum sempit. $nak yang alergi penisilin (hanya reaksi alergi,
bukan hipersensitivitas tipe "# diberikan sefalosporin generasi kedua
atau ketiga. %elain itu dapat juga digunakan trimetoprim&
sulfametoksaHol (2!&1!+ gejala biasanya membaik dengan obat ini
dalam &* hari# (6angunkusumo, !!2#.
b. 3erapi tambahan pada rinosinusitis akut
/fikasi irigasi sinus dengan salin pada pengobatan rinosinusitis akut
dan kronis telah dapat dibuktikan. 3ujuan pengobatan rinosinusitis
adalah untuk meningkatkan pergerakan mukosiliar dan vasokonstriksi.
6ekanisme ini akan membuang sekret, mengurangi jumlah bakteri, dan
membebaskan alergen di sekitar lingkungan hidung.
%teroid nasal sangat berguna untuk anak dengan rinitis alergik.
.ilaporkan bahwa )!+ penyandang akan menunjukkan perbaikan
gejala termasuk kongesti nasal. $bsorpsi melalui mukosa nasal ke
aliran darah sistemik sangat minimal. %upresi aksis hipofisis dan
glaukoma dilaporkan hanya terjadi pada dewasa. 'eberapa steroid nasal
sedang diteliti keamanannya pada anak usia muda. -emilihan obat harus
dilakukan dengan sangat hati&hati.
/fektivitas dekongestan nasal bevariasi. .ekongestan topikal dapat
memperbaiki keadaan dan memberikan rasa nyaman. ?asodilatasi
re-ound dapat dicegah dengan memberikan dekongestan nasal selama
8&( hari pertama pengobatan medis. /fektivitas mukolitik sangan
bervariasi. 4ingga saat ini belum ada studi kontrol yang dilakukan
untuk mengetahui efektivitasnya. $ntihistamin kebanyakan digunakan
pada anak dengan atopik. -emberian imunoterapi akan efektif bila
alergen spesifiknya diketahui (.aulay et al., !!1#.
. 3indakan bedah
a. $denoidektomi
%ecara bermakna, terdapat gejala tumpang tindih antara adenoiditis
dengan rinosinusitis kronis. $denoid rentan terhadap infeksi dan
sumber obstruksi. .engan hanya melakukan adenoidektomi,
penyembuhan gejala mencapai lebih dari (!+.
b. 3indakan bedah sinus dengan fungsional endoskopi
3indakan bedah merupakan pilihan pengobatan terakhir pada
rinosinusitis anak. 3eknik atraumatik dengan pemeliharaan mukosa
sangat penting. 0ebanyakan tindakan bedah berupa pengangkatan
unsinatus, etmoidektomi anterior, dan antrostomi maksila. 0eberhasilan
tindakan bedah mencapai lebih dari 1!+. $pabila tindakan bedah
dilakukan bersamaan dengan adenoidektomi, keberhasilan pengobatan
akan lebih besar.
-rosedur kedua adalah pembersihan rongga dan pengangkatan debris
&* minggu setelah tindakan bedah. 3indakan ini tidak rutin dilakukan
dan tidak ada data yang menyokong keharusan prosedur ini dilakukan.
-encucian sinus maksilaris dan pemberian antibiotik intravena tidak
dilakukan secara universal. -asien membutuhkan nasal toilet pasca
operasi dan pengobatan kondisi medis yang terkait. 0husus untuk
pasien fibrosis kistik dibutuhkan tindakan bedah sinus untuk
meningkatkan efektivitas irigasi (.aulay et al., !!1#.
J. Pen?e3ahan
;asal toilet yang dilakukan sebaik mungkin dengan menggunakan irigasi
salin, mungkin merupakan suatu cara untuk mencegah eksaserbasi
rinosinusitis akut dan kronis. -engendalian maksimal kondisi terkait dan
pasien dianjurkan untuk mengindari pajanan iritan dari lingkungan seperti
asap rokok (.aulay et al., !!1#.
K. K+)/lika$i
". 0eterlibatan orbital
-emeriksaan 53&scan dengan kontras dapat membantu menentukan
keterlibatan orbital, yaitu untuk menentukan sejauh mana orbital terlibat
dan mengidentifikasi adanya pengumpulan cairan berupa gambaran cincin
yang khas (typical ring-enhancing fluid# tanda adanya abses subperiosteal.
0lasifikasi, tanda, dan gejala keterlibatan orbital yaitu=
a. %elulitis preseptal< kelopak mata bengkak, eritema, dan pergerakan bola
mata normal.
b. %elulitis orbital< proptosis dan kemosis.
c. $bses periorbital< proptosis dengan pergeseran bola mata kea rah
inverolateral dan pergerakan otot ekstraokular berkurang.
d. $bses orbital, proptosis yang berat, gangguan penglihatan, bola mata
menetap, dan anak sangat toksik.
3rombosis sinus kavernosus ditandai dengan demam tinggi dan gejala
bilateral. Rinosinusitis dengan keterkibatan orbital berpotensi mendapat
pengobatan seumur hidup dan sangat beresiko mendapat pengobatan tidak
teratur. Rinosinusitis dengan keterlibatan orbital memerlukan antibiotik
intravena, dan bila mungkin dilakukan pemeriksaan endoskopi atau
tindakan operasi. 0onsultasi dini dengan spesialis mata sangat dianjurkan
untuk memantau penglihatan (.aulay et al., !!1#.
. 0eterlibatan intrakranial
0eterlibatan intrakranial dapat terjadi akibat penyebaran langsung dari
rinosinusitis sfenoidal. $bses subdural merupakan manifestasi yang sering
terjadi, dan lobus frontalis sering terlihat. 6eningitis juga mungkin dapat
terjadi. -emeriksaan 53&scan dengan kontras dilakukan untuk mendeteksi
pengumpulan cairan berupa cincin (.aulay et al., !!1#.
4. Pr+3n+$i$
-rognosis rinosinusitis akut umumnya baik. -enanganan rinosinusitis
kronis sangat sulit, tetapi dengan tatalaksana optimal kondisi terkait dan
tatalaksana medis secara menyeluruh, maka prognosis menjadi baik. 3indakan
operasi sangat jarang dibutuhkan (.aulay et al., !!1#.
9A9 III
KESI#PU4AN DAN SARAN
A. Ke$i)/ulan
'erdasarkan penjelasan di atas dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai
berikut =
". Rinosinusitis merupakan inflamasi mukosa rongga hidung dan sinus
paranasal, cairan dalam sinus ini, dan/atau yang mendasari tulang. Istilah
"sinusitis" telah digantikan oleh "rinosinusitis" karena bukti bahwa
mukosa hidung hampir universal terlibat dalam proses penyakit.
. Rinosinusitis merupakan masalah yang umum terjadi pada anak&anak
dengan infeksi saluran napas atas. -enyebab tersering rinosinusitis pada
anak adalah infeksi virus, dan diikuti infeksi bakteri serta hipertrofi
adenoid.
*. -ada anamnesis didapatkan keluhan rinitis seperti adanya rinore, hidung
tersumbat, bersin&bersin, atau gatal, serta gejala yang sering dikeluhkan
pada sinusitis berupa nyeri pada wajah, hidung tersumbat, ingus purulen,
atau post nasal drip, hiposmia/anosmia, dan demam. %elain itu juga
pasien dapat mengeluhkan sakit kepala, mulut berbau, kelelahan, sakit
pada gigi, batuk, dan sakit pada telinga.
8. -emeriksaan rinoskopi anterior pada rinosinusitis akut ditemukan
mukosa edem dan hiperemis, pembengkakan dan kemerahan di daerah
kantus medius.
(. -enatalaksanaan rinosinusitis pada anak dapat bersifat konservatif
maupun operatif, yang bertujuan untuk meningkatkan pergerakan
mukosiliar dan vasokonstriksi, sehingga diharapkan dapat membuang
sekret, mengurangi jumlah bakteri, dan membebaskan alergen di sekitar
lingkungan hidung.
9. Rinosinusitis akut umumnya memiliki prognosis yang lebih baik
daripada rinosinusitis kronis, namun dengan tatalaksana optimal kondisi
terkait dan tatalaksana medis secara menyeluruh, maka prognosis
menjadi baik. 3indakan operasi sangat jarang dibutuhkan.
9. Saran
'erdasarkan penjelasan di atas juga penulis memberikan saran antara lain =
". :ejala rinosinusitis pada anak dapat berupa kelainan respiratori atas
yang bersifat persisten atau berat yang dapat terjadi secara bersamaan,
sehingga memerlukan pemeriksaan yang lebih teliti dan penanganan
dini yang komprehensif.
. -erlu dilakukan pemeriksaan penunjang seperti 53&scan untuk
menyingkirkan dan mencegah adanya komplikasi orbital dan
intrakranial.
DAFTAR PUSTAKA
$rivalagan -., Rambe $., !"*. 3he -icture Bf 5hronic Rhinosinusitis in R%A-
4aji $dam 6alik in Cear !"". 1 2 3urnal 45-6S6. ?olume " ;o. ".
(https=//entuk.org/entIpatients/noseIconditions/rhinosinusitisIchildren# di
akses ( 6ei !"*.
.aulay 6 Ridwan, .alimunthe Eisman, 0aswandani ;astiti. !!1. Rinosinusitis,
dalam= 'uku $jar Respirologi $nak. I.$I= 7akarta. pp *!*&"(.
4amilos F.., .yckewics %6. !"!. Rhinitis and sinusitis. 7ournal of $llergy and
5linical Immunology. ?ol "(.
0entjono E.$., !!8. Rinosinusitis 7 1tiologi dan +atofisiologi. 'agian/%6@
llmu 0esehatan 343 @akultas 0edokteran Aniversitas $irlangga/R%A .r.
%oetomo %urabaya.
6angunkusumo /., %oetjipto .., !!2. %inusitis. .alam= 0uku A,ar 8lmu
5esehatan /elinga Hidung /enggorok 5epala dan .eher. @0 AI= 7akarta.
6ardiraharjo ;., !!). -erbedaan 3ekanan 3elinga 3engah -enderita
Rinosinusitis 0ronis .ibanding Brang ;ormal. 6alang= Aniversitas
6uhammadiyah 6alang. /esis
-oachanukoon B., ;anthapisal %., 5haumrattanakul A. !". -ediatric acute and
chronic rhinosinusitis= comparison of clinical characteristics and outcome of
treatment. Asian +ac 3 Allergy 8mmunol !". pp ("&"89.
Ramadan 44. !"". 5hronic Rhinosinusitis in 5hildren. .epartment of
Btolaryngology, Eest ?irginia Aniversity, -.B. 'oJ )!!, 6organtown, E?
9(!9, A%$. 8nternational 3ournal of +ediatrics.
Rinaldi, Fubis 4.6., .aulay R.6., -anggabean :., !!9. %inusitis pada $nak.
Sari +ediatri. ?ol. 2=88&1.
%ingh I., %herstha $., :autam .., Bjasvini, !"!. 5hronic Rinosinusitis and ;asal
-olyposis in ;epal. Clinical Rhinology7 An 8nternational 3ournal. ?ol. *=12&
)".